Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016

advertisement
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
PENGARUH PENGAWASAN DAN KOMUNIKASI TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA DINAS
PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
KOTA MEDAN
Salman Farisi
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
e-mail : [email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine the effect of supervision of the work performance of employees at the office of
Housing and the city of Medan, to determine the effect of communication on work performance of employees at the
office of Housing and the city of Medan, to determine the effect of supervision and communication simultaneously on
job performance of employees at Department of Housing and Settlement of Medan.
The population in this study are all permanent employees Department of Housing and Settlement of Medan
which amounted to 79 people. The sample in this study amounted to 79 people. Data collection techniques that writers
use in this study is a list of statements (questioner). Data analysis technique used in this study Classical Assumption
Test, Regression Test, t Test, F and coefficient of determination.
Based on the results of research partially known no effect on achievement monitoring significant work at the
Department of Housing and the city of Medan. Likewise, there is the effect that the partial communication of the
achievements of the significant work at the Department of Housing and the city of Medan. From the test results it is
concluded that simultaneous surveillance and communications have a significant effect on job performance.
Keywords: Control, Communications, and job performance
PENDAHULUAN
Didalam perusahaan terdapat hal yang tidak bisa dipisahkan oleh perusahaan itu sendiri, yaitu pegawai
memegang peranan penting dalam menjalankan semua kegiatan yang ada didalam perusahaan. Pentingnya peran
pegawai bagi kelangsungan sebuah organisasi atau perusahaan adalah untuk melakukan, menjalankan, serta
melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab yang dia pegang. Karena pegawai harus mampu memberikan
kontribusi terhadap perusahaan tempat dia bekerja. Agar semua yang mereka kerjakan bisa mendapatkan hasil yang
maksimal baik dari segi kualitas, kuantitas dan efesiensi waktu kinerja yang baik, dan kinerja guru yang baik juga
berpengaruh pada prestasi kerja pegawai. Prestasi kerja memainkan peranan penting bagi peningkatan kemajuan
atau perubahan ke arah yang lebih baik untuk pencapaian tujuan perusahaan. Dengan demikian pada hakekatnya
prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi, sesuai
dengan wewenang atau tanggung jawabnya masing-masing dalam rangkai mencapai tujuan organisasi.
Menurut
Sutrisno (2012, hal. 150) menyatakan prestasi kerja itu sebagai hasil upaya seseorang yang ditentukan oleh
kemampuan karakteristik pribadinya serta persepsi terhadap perannya dalam pekerjaan itu. Pada umumnya prestasi
kerja seseorang tenaga kerja antara lain dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan,pengalaman dan kesanggupan
tenaga kerja yang bersangkutan.Menurut Badriyah (2015) Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang
dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan
kesungguhan serta waktu. Menurut Rao (1992) prestasi kerja adalah sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa
orang-orang pada tiap tingkatan mengerjakan tugas-tugas menurut cara yang di inginkan oleh para atasan mereka.
Untuk meningkatkan sumber daya manusia diperlukan juga komunikasi antara pemimpin dan bawahannya.
SePengaruh dengan hal tersebut, maka setiap perusahaan harus dapat menopang tercapainya tujuan perusahaan
secara efektif dan efisien.Komunikasi adalah penyampaian informasi dari pengirim kepada penerima, dan informasi itu
di pahami oleh penerima. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa ingin berPengaruh dengan manusia lainnya,
ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini
memaksa manusia perlu berkomunikasi. berPengaruh satu sama lain baik secara individu maupun kelompok dalam
kehidupan sehari-hari.
147
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
LANDASAN TEORI
Prestasi Kerja
Organisasi adalah kumpulan orang yang memiliki kompetensi yang berbeda-beda, yang saling tergantung
satu dengan lainnya, yang berusaha untuk mewujudkan kepentingan bersama mereka dengan memanfaatkan sumber
daya. Pada dasarnya tujuan bersama yang ingin di wujudkan oleh organisasi adalah mencari keuntungan. Oleh
karena itu, diperlukan pegawai-pegawai yang mempunyai prestasi kerja yang tinggi.
Menurut Badriyah (2015) Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan
tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta
waktu.
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi kerja seorang pegawai menurut Byar dan Rue dalam Edy Sutrisno
(2012) ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi kerja, yaitu:
1) Faktor individu yang dimaksud adalah :
a) Usaha (effort) yang menunjukkan sejumlah sinergi fisik dan mental yang digunakan dalam
menyelenggarakan gerakan tugas.
b) Abbilities, yaitu sifat-sifat personal yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas.
c) Role/Task perception, yaitu segala perilaku dan aktivitas yang dirasa perlu oleh individu untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan.
2) Faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi kerja adalah: Kondisi fisik, Peralatan, Waktu, Material,
Pendidikan, Supervisi, Desain Organisasi, Pelatihan dan Keberuntungan.
Pengawasan
Pengawasan merupakan suatu usaha untuk menjaga suatu tindakan sesuai dengan yang seharusnya
dilakukan. Dalam pelaksanaannya pengawasan merupakan suatu proses pengamatan dari seluruh kegiatan
organisasi/perusahaan untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan, Pengawasan bertujuan agar hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara berdaya guna
(efisien) dan berhasil guna (efektif), sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Handoko
(2012) bahwa Pengawasan merupakan suatu proses untuk menjamin tujuan-tujuan organisasi dan manajeman
tercapai. Ini berkenan dengan cara-cara membuat kegiatan-kegiatan sesuai dengan yang direncanakan.Menurut
Yuniarsih (2013) menyatakan "pengawasan adalah suatu proses untuk mengukur kesesuaian dan kelancaran
pelaksanaan kegiatan, serta ketercapaian hasil berdasarkan rencana yang sudah ditetapkan".Adapun Handoko
(2012) telah mengemukakan prosedur untuk penetapan sistem pengawasan. Pendekatannya terdiri atas lima langkah
dasar yang dapat diterapkan untuk semua tipe kegiatan pengawasan yaitu : merumuskan hasil yang diinginkan,
menetapkan petunjuk, menetapkan standar penunjuk dan hasil, mentapkan jaringan informasi dan umpan balik,
menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi.
Dari beberapa menurut ahli diatas tentang pengawasan seperti yang telah dijelaskan di atas maka dapat
diambil kesimpulan bahwa pengawasan merupakan suatu proses untuk mengetahui, mengoreksi, mengevaluasi serta
mengarahkan kegiatan-kegiatan agar rencana yang telah ditetapkan tidak menyimpang dari apa yang sudah
direncanakan sebelumnya. Jadi pengawasan dapat dianggap juga sebagai suatu kegiatan untuk mengoreksi adanya
penyimpangan atau kekeliruan, karena pengawasan sangat perlu dilakukan. Kekeliruan tersebut yaitu berupa
anggapan bahwa pengawasan adalah suatu kegiatan untuk mencari kesalahan dan kelemahan pegawai. Dan apabila
terjadi suatu penyimpangan ataupun kesalahan maka dengan segera dapat diketahui penyebabnya lalu dilakukanlah
perbaikan agar pegawai tersebut tidak melakukan kesalahan lagi.
Pengawasan didalam suatu perusahaan merupakan salah satu faktor penting, karena dengan adanya
pengawasan, maka perusahaan dapat mencapai tujuan. Pengawasan semakin diperlukan oleh setiap organisasi.
Menurut Handoko (2012) yaitu:
1) Perubahan lingkungan organisasi
2) Peningkatan kompleksitas organisasi
3) Kesalahan-kesalahan
4) Kebutuhan manajer untuk mendelegasikan wewenang
148
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
Komunikasi
Komunikasi merupakan peralatan (tool) manajemen yang dirancang untuk mencapai tujuan dan tidak dinilai
atas dasar hasil akhir dalam komunikasi itu sendiri. Komunikasi, sebagai suatu proses dengan mana orang-orang
bermaksud memberikan pengertian-pengertian melalui pengiringan berita secara simbolis, dapat menghubungkan
para anggota berbagai satuan organisasi yang berbeda dan bidang yang berbeda pula, sehingga sering disebut rantai
pertukaran informasi. Menurut Handoko (2012) Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk
gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan lebih dari sekedar
kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga ekspresi wajah, intonasi, titik putus vokal dan sebagainya.
Dan perpindahan yang efektif memerlukan tidak hanya transmisi data, tetapi bahwa seseorang mengirimkan berita
dan menerimanya sangat tergantung pada keterampilan-keterampilan tertentu (membaca, menulis, mendengar,
berbicara dan lain-lain) untuk membuat sukses pertukaran informasi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka komunikasi dapat diartikan sebagai proses pemindahan suatu
informasi, ide, pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut dapat
menginterprestasikan sesuai dengan tujuan yang dimaksud.
Ada dua tinjauan faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu faktor dari pihak sender atau disebut pula
komunikator, dan faktor dari pihak receiver atau komunikan.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan asosiatif. Populasi dalam
penelitian ini adalah pada Pegawai Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan yang berjumlah 79 Pegawai.
Jumlah sampel sebagai Responden adalah 79 Pegawai. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah angket (Questioner) dan wawancara (interview). Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini
menggunakan Uji Asumsi Klasik, Regresi Linier Berganda, Uji t, Uji F dan Koefisien Determinasi.
HASIL PENELITIAN
1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas Data
Hipotesis memerlukan uji asumsi klasik, karena model analisis yang dipakai adalah regresi linier berganda
(Juliandi, 2013)
Gambar 1. PP Plot Uji Normalitas
Berdasarkan Gambar 1 di atas, hasil pengujian normalitas data dengan menggunakan gambar PP Plot
terlihat titik-titik data untuk variabel pengawasan,komunikasi dan prestasi kerja yang menyebar berhimpit berada di
sekitar garis diagonal sehingga data telah berdistribusi secara normal. Oleh karena itu, berdasarkan uji normalitas, jika
data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengkuti arah garis diagonal maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas. (Juliandi, 2013, hal. 174) Untuk menguatkan hasil pengujian, dilakukan juga uji kolmogrof smirnov test
seperti yang tertera di tabel 4.10 dibawah :
149
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
Tabel 1. Uji Normalitas Menggunakan Uji Kolmogrov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
PENGAWASA
N
KOMUNIKASI
N
Normal Parametersa
79
26.1013
3.54312
.116
.116
-.084
1.028
.241
79
25.8734
3.71886
.107
.107
-.091
.948
.330
PRESTASI
KERJA
79
28.1013
2.99827
.094
.083
-.094
.837
.486
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Test distribution is Normal.
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Versi 16.0
Berdasarkan Tabel 1 hasil uji normalitas data mengunakan uji kolmogrov-smirnov terlihat semua variabel
memiliki nilai sig > 0.05 sehingga dapat disimpulkan data tersebut normal.
b. Uji Multikolinearitas
Digunakan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi yang kuat diantara variabel
independen. Apabila terdapat korelasi antar variabel bebas, maka terjadi multikolinearitas, demikian juga sebaliknya.
Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan melihat VIF (Variance Inflasi Factor) antar variabel independen dan nilai
tolerance. Batasan yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance < 0,10 atau
sama dengan VIF > 10.
Tabel 2. Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Collinearity Statistics
Model
1
Tolerance
VIF
.818
1.222
(Constant)
PENGAWASAN
KOMUNIKASI
.818
1.222
a. Dependent Variable: PRESTASI KERJA
Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa angka Variance Inflation Factor (VIF) lebih kecil dari 10
antara lain adalah Pengawasan dan komunikasi sebesar 1,222 < 10 maka model dikatakan terbebas dari
multikolinieritas, koefisien korelasi dari variabel pengawasan 0,818 dan komunikasi 0,818 maka terjadi asumsi korelasi
yang sangat kuat antar variabel bebas sehingga terjadi multikolinieritas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksaman varian dari
residual suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain
tetap, maka disebut homokedastisitas sebaliknya jika varian berbeda maka disebut heterokedastisitas. Ada tidaknya
heterokedastisitas dapat diketahui dengan melalui grafik scatterplot antar nilai prediksi variabel independen dengan
nilai residualnya. Dasar analisis yang dapat digunakan untuk menentukan heterokedastisitas adalah :
1) Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang melebar
kemudian menyempit), maka telah terjadi heterokedastisitas.
150
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
2) Jika tidak ada pola yang jelas seperti titik - titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak
terjadi heterokedastisitas.
Gambar 2. Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan gambar 2 di atas, gambar Scatterplot menunjukkan bahwa titik-titik yang dihasilkan menyebar
secara acak dan tidak membentuk suatu pola atau trend garis tertentu. Gambar 4.2 di atas juga menunjukkan bahwa
sebaran data ada di sekitar titik nol. Dari hasil pengujian ini menunjukkan bahwa model regresi ini bebas dari masalah
heteroskedastisitas, dengan perkataan lain: variabel-variabel yang akan diuji dalam penelitian ini bersifat
homoskedastisitas.
2. Model Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel
terikat. Berdasarkan tabel 3 tersebut diperoleh regresi linier berganda sebagai berikut :
Tabel 3. Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Unstandardized Coefficients
Model
B
Std. Error
(Constant)
10.199
2.011
PENGAWASAN
.525
.073
KOMUNIKASI
a. Dependent Variable: PRESTASI KERJA
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Versi 16.0
.162
.070
1
Y= 10.199 + 0.525 + 0.162
Interpretasi dari persamaan regresi linier berganda adalah:
a. Jika segala sesuatu pada konstanta dianggap nol maka nilai prestasi kerja adalah sebesar 10.199
b. Jika terjadi peningkatan pengawasan sebesar 100%, maka prestasi kerja akan meningkat sebesar 52,5%.
c. Jika terjadi peningkatan komunikasi sebesar 100%, maka prestasi kerja akan meningkat sebesar 16,2%
3. Pengujian Hipotesis
a. Uji Secara Parsial (Uji t)
Menurut Ghozali (2011:98) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
penjelas /independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel independen. Menurut Ghozali (2011), uji t
dilakukan dengan membandingkan signifikansi t hitung dengan t tabel dengan ketentuan
151
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
Tabel 4. Hasil Uji t Statistik
Coefficientsa
1
Model
t hitung
(Constant)
5.071
PENGAWASAN
7.152
1.664
.000
2.320
1.664
.023
KOMUNIKASI
a. Dependent Variable: PRESTASI KERJA
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Versi 16.0
t tabel
Sig.
.000
Berdasarkan tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa:
Pengaruh pengawasan terhadap prestasi kerja
Pengujian signifikan dengan kriteria pengambilan keputusan:
Terima H0 (tolak H1), apabila t hitung < ttabel atau Sig > a 5%.
Tolak H0 (terima H1), apabila t hitung >t tabel atau Sig < a 5 %
thitung sebesar 7,152 sedangkan ttabel sebesar 1,991 dan signifikan sebesar 0,000, sehingga thitung 7,152 > ttabel 1,991
dan signifikan 0,000 < 0,05, maka H1 diterima dan H0 ditolak, yang menyatakan pengawasan berpengaruh positif
secara parsial terhadap kinerja pegawai sudah tepat dan dapat digunakan.
2) Pengaruh komunikasi terhadap prestasi kerja
Pengujian signifikan dengan kriteria pengambilan keputusan:
Terima H0 (tolak H2), apabila t hitung < ttabel atau Sig > a 5%.
Tolak H0 (terima H2), apabila t hitung >t tabel atau Sig < a 5 %
thitung sebesar 2,320 sedangkan ttabel sebesar 1,991 dan signifikan sebesar 0,023, sehingga thitung 2,320 > ttabel 1,991
dan signifikan 0,023 < 0,05, maka H2 diterima dan H0 ditolak, yang menyatakan komunikasi berpengaruh secara
parsial terhadap kinerja pegawai sudah tepat dan dapat digunakan.
1)
b. Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Tabel 5. Uji F_statistik
ANOVAb
Model
1
F
Regression
43.181
Sig.
.000a
Residual
Total
a. Predictors: (Constant), KOMUNIKASI, PENGAWASAN
b. Dependent Variable: PRESTASI KERJA
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Versi 16.0
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa Fhitung sebesar 43.181 sedangkan Ftabel sebesar 2,72 yang
dapat dilihat pada α = 0,05. Probabilitas siginifikan jauh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,000 < 0,05, maka model regresi
dapat dikatakan bahwa semakin komunikasi dan pengawasan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap prestasi kerja dapat di terima dan digunakan.
c. Koefisien Determinasi
Analisis koefisien determinasi ini bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel dependen.Dari pengolahan data angket dengan menggunakan alat bantu aplikasi
Software SPSS 16.0 for Windows maka diperoleh hasil seperti tabel di bawah ini
152
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
Tabel 6. Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
1
.729a
.532
.520
a. Predictors: (Constant), KOMUNIKASI, PENGAWASAN
b. Dependent Variable: PRESTASI KERJA
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Versi 16.0
Berdasarkan tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa angka R Square 0,532 yang dapat disebut koefisien
determinasi. Hal tersebut bahwa 53,2 % tingkat pengawasan dan komunikasi yang dilakukan pegawai dinas
perumahan dan permukiman Kota Medan mampu mempengaruhi prestasi kerja. Sisanya, sebesar 46,8% prestasi
kerja dipengaruhi oleh faktor lain selain pengawasan dan komunikasi.
PEMBAHASAN
1. Pengaruh Pengawasan Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Medan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa pengawasan berpengaruh signifikan terhadap
prestasi kerja. Semakin bertambah pengawasan semakin bertambah prestasi kerja pegawai pada dinas perumahan
dan permukiman Kota Medan. ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Indra Fatria (2008) bahwa
pengawasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi kerja. Mangkunegara (2013) menyatakan prestasi
kerja sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Bertambahnya prestasi kerja itu tercipta dari
sudut pandang pengawasan yang dilakukan atasan. Tingkat prestasi kerja mereka peroleh didasarkan pada harapan
dengan keadaan yang mereka terima.
2. Pengaruh Komunikasi Terhadap Prestasi Kerja Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Medan.
Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa Komunikasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja. Hal
ini berarti jika semakin bertambahnya komunikasi maka semakin meningkat prestasi kerja yang diterima dinas
perumahan dan permukiman Kota Medan. Menurut Mangkunegara (2013) mengemukakan bahwa komunikasi adalah
pemindahan informasi dan pemahaman dari seseorang kepada orang lain. Prestasi kerja dapat tercapai dan berhasil
jika komunikasi pegawai dengan atasan berjalan dengan baik. Penelitian terdahulu yang dilakukan Rebecca Helga
(2005) bahwa ada pengaruh yang signifikan anatara komunikasi dengan prestasi kerja pegawai, hal ini berarti
semakin baik dan lancar komunikasi yang ada di perusahaan berdampak pada semakin tinggi prestasi kerja pegawai
tersebut.
3. Pengaruh Pengawasan Dan Komunikasi Terhadap Prestasi Kerja Pada Dinas Perumahan dan Permukiman
Kota Medan.
Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin bertambahnya pengawasan dan komunikasi
secara simultan maka semakin meningkatkan prestasi kerja. Prestasi kerja di dinas perumahan dan permukiman kota
medan berasal dari pengawasan yang baik dilakukan oleh atasan dan komunikasi yang baik terhadap atasan kepada
para pwgawai dinas perumahan dan permukiman Kota Medan.Penelitian terdahulu yang dilakukan Herawati Saragih
(2008) menyimpulkan bahwa pengawasan dan komunikasi secara bersama-sama mempunya pengaruh positif dan
signifikan terhadap prestasi kerja pegawai.
KESIMPULAN
1. Hasil penelitian ini diketahui bahwa adanya pengaruh variabel Pengawasan terhadap prestasi kerja pegawai
secara signifikan pada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan.
2. Hasil penelitian ini diketahui bahwa adanya pengaruh variabel komunikasi terhadap prestasi kerja pegawai
secara signifikan pada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan.
3. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa ada pengaruh pengawasan dan komunikasi secara bersama-sama
secara signifikan pada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan. Hal ini berarti apabila pengawasan dan
komunikasi berjalan dengan sesuai dengan prosedur perusahaan, maka prestasi kerja pegawai akan semakin
meningkat.
153
Jurnal Ilmiah Maksitek Vol.I No. 1, 2016
DAFTAR PUSTAKA
Juliandi, Azuar (2013) Metodeologi Penelitian Kuantitatif, Bandung : Citapustaka Media Perintis.
Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu (2013) Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Sutrisno, Edy (2012) Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Kencana Prenadia Media Group.
Handoko, (2012) Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : BPFE-YOGYAKARTA.
Sugiyono (2010) Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta
Sugiyono (2008) Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta
Yuniarsih, Tjutju (2013) Sumber Daya Manusia Teori, Aplikasi dan Isu penelitian. Bandung : Alfabeta
Suwatno (2013) Sumber Daya Manusia Teori, Aplikasi dan Isu penelitian. Bandung : Alfabeta
Purwanto, Djoko (2003) Komunikasi Bisnis, Jakata : Erlangga
Badriyah, Mila (2015) Manajemen Sumber Daya Manusia, Bandung : Pustaka
154
Download