Komunikasi Organisasi - Universitas Mercu Buana

advertisement
Modul ke:
Komunikasi Organisasi
Peranan Jaringan dalam Komunikasi
Organisasi
Fakultas
FIKOM
Program Studi
PUBLIC
RELATIONS
www.mercubuana.ac.id
Reddy Anggara, S.Ikom., M.Ikom
A. Peranan Jaringan dalam Komunikasi Organisasi
• Dalam pencapaian tujuan suatu organisasi perlu ada
suatu proses komunikasi yang dapat mentransfer
pesan-pesan dari pemberi pesan ke penerima pesan.
• Proses komunikasi memungkinkan anggota organisasi
bertukar informasi dengan menggunakan suatu
bahasa atau simbol-simbol yang biasa (umum)
digunakan.
• Di samping itu, komunikasi membantu
menghubungkan sekelompok anggota dalam
organisasi yang terpisah dari anggota lain.
beberapa kegiatan keorganisasian yang berkaitan
dengan pertukaran informasi :
• Menetapkan Tujuan
• Membuat & Melaksanakan Keputusan
• Mengukur Hasil
• Merekrut & Mengembangkan Karyawan
• Berurusan dengan Publik
• Melakukan Negosiasi
• Berinteraksi dengan peraturan yang ada
7 peranan jaringan komunikasi yang bisa diidentifikasi.
Tujuh peran tersebut yaitu:
1. Klik
1. Sebuah kelompok individu yang paling sedikit separuh dari kontaknya
merupakan hubungan dengan anggota lainnya.
2. individu-individu harus mampu melakukan kontak satu dengan lainnya
bahkan dengan cara tidak langsung.
3. mereka labih cenderung lebih suka melakukan komunikasi tatap muka
meskipun harus menempuh jarak tertentu. (tidak berlaku bila kita
berkomunikasi dengan orang yang tidak disukai)
2. Penyendiri (isolate/loners)
Mereka hanya melakukan sedikit atau sama sekali tidak mengadakan kontak
dengan kelompok lainnya.
3. Jembatan (bridge)
Seorang anggota klik yang memiliki sejumlah kontak yang menonjol dalam kontak
antar kelompok, juga menjalin kontak dengan anggota klik lain. Sebuah jembatan
berlaku sebagai pengontak langsung antara 2 kelompok pegawai.
4. Jembatan (bridge)
Seorang anggota klik yang memiliki sejumlah kontak yang menonjol dalam
kontak antar kelompok, juga menjalin kontak dengan anggota klik lain.
• Penghubung (liason)
1. Orang yang mengaitkan 2 klik atau lebih tetapi ia bukan anggota salah 1
kelompok yang dihubungkan tersebut.
2. Penghubung mengaitkan satuan-satuan organisasi bersama-sama dan
menggambarkan orang-orang yang bertindak sebagai penyaring
informasi dalam organisasi.
5. Penjaga gawang (gate keepers)
Orang yang secara strategis ditempatkan dalam jaringan agar dapat melakukan
pengendalian (penyaringan) atas pesan apa yang boleh disampaikan pada
anggota klik atau pesan mana yang sebaiknya tidak disampaikan pada anggota
klik.
6. Pemimpin pendapat (opinion leader)
1. Orang tanpa jabatan formal dalam semua sistem sosial yang
membimbing pendapat dan mempengaruhi orang-orang dalam
keputusan mereka.
2. Mereka merupakan orang-orang yang mengikuti permasalahan dan
mempercayai orang-orang lainnya untuk mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi.
7. Kosmopolit
1. Individu yang melakukan kontak dengan dunia luar, dengan individuindividu di luar organisasi.
2. Kosmopolit menghubungkan para anggota dengan orang-orang dan
peristiwa-peristiwa diluar batas-batas struktur organisasi.
3. Anggota organisasi yang aktif keluar biasanya lebih menyukai peran ini.
Mereka memiliki kontak dengan sumber-sumber di luar organisasi dan
bertindak sebagai saluran bagi gagasan baru yang akan diadopsi
organisasi.
B. Mengelola Komunikasi dalam Organisasi
memaksimumkan manfaat dan meminimkan
biaya, manajer perlu memperhatikan berbagai
hal berikut:
• Mengurangi Jumlah Pesan
• Memberi Instruksi yang jelas
• Mendelegasikan Tanggungjawab
• Melatih Para Penulis dan Pembicara
C. Meningkatkan Keterampilan Komunikasi
keterampilan khusus yang diperlukan adalah:
• Membaca
• Mendengarkan
• Membuat atau melakukan percakapan yang menarik
• Melakukan wawancara
• Berhubungan dengan kelompok-kelompok kecil
• Berpidato dan melakukan presentasi
• Menulis surat, memo, dan laporan
D. Faktor Penghambat Keberhasilan Komunikasi
Banyak faktot yang dapat menghambat komunikasi. Ig. Wursanto
(1999) mengemukakan enam hambatan dalam komunikasi:
1. Rintangan yang bersifat teknis antara lain kurangnya sarana
dan prasarana yang diperlukan oleh organisasi, kondisi fisik
yang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi, penguasaan
teknik dan metode berkomunikasi yang tidak memadai.
2. Rintangan perilaku seperti pandangan apriori, prasangka yang
didasarkan pada emosi, suasana otoriter, ketidakmauan untuk
berubah, dan sifat yang egosentris.
3. Rintangan bahasa. Bahasa menunjukkan intelektualitas
seseorang, sehingga sebagian orang mempergunakan bahasa
yang tinggi, misalnya bahasa/istilah asing tanpa menghiraukan
kemampuan orang yang diajak berbicara. Hal itu dapat
menimbulkan salah pengertian.
4. Rintangan struktur. Rintangan yang disebabkan perbedaan
tingkat dan pekerjaan.
5. Kadang-kadang seorang bawahan merasa malu atau takut
(sungkanisme) apabila berhubungan dengan pimpinan yang
menyebabkan komunikasi tidak dapat berjalah sesuai yang
diharapkan.
6. Rintangan jarak atau rintangan geografis. Komunikasi lebih
mudah apabila terjadi interaksi di suatu tempat yang tidak
berjauhan.
7. Rintangan latar belakang. Setiap orang mempunyai latar
belakang berbeda-beda (latar belakang sosial & pendidikan).
Perbedaan itu dapat menimbulkan suatu gap dalam proses
komunikasi.
Untuk menghindari rintangan struktur dapat melalui cara:
1. Pimpinan harus lebih terbuka (supel dan mau bergaul dengan
bawahan, mengadakan open house kepada bawahan secara kontinu
dan merata.
2. Harus ada keberanian pada diri sendiri. Bawahan harus mempunyai
pandangan bahwa pimpinan juga manusia, sesama umat Tuhan,
hanya berbeda tingkat kedudukannya dalam jenjang struktur
organisasi.
3. Hubungan jangan terlalu formal. Hubungan antara atasan dan
bawahan yang terlalu formal akan membuat suasana menjadi kaku.
Dalam rangka pembinaan dan peningkatan moral (semangat kerja)
pegawai, hubungan yang terlalu formal kurang dapat diterapkan.
4. Sebaliknya hubungan yang bersifat informal akan lebih berhasil,
karena hubungan informal lebih bersifat hubungan dari hati ke hati,
sehingga lebih bersifat familier.
Terima Kasih
Reddy Anggara, S.Ikom., M.Ikom
Download