BAB II LANDASAN TEORI A. Internal Locus Of Control 1

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Internal Locus Of Control
1. Definisi Internal Locus of Control
Locus of control adalah tingkat di mana individu yakin bahwa
mereka adalah penentu nasib mereka sendiri (Robbins et al., 2007).
Konsep
tentang Locus
of
control (pusat
kendali)
pertama
kali
dikemukakan oleh Rotter (1966), seorang ahli teori pembelajaran
sosial. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian
(personility), yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap
mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri (Schultz, 2011). Locus
dalam kamus psikologi makna umumnya adalah suatu tempat, titik,
wilayah, bidang atau arena tertentu. Sedangkan control bermakna kendali
yang menganggap salah satu tujuan dasar psikologi mengontrol/
mengendalikan perilaku. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa menurut
kamus psikologi locus of control adalah istilah umum dalam psikologi
sosial yang digunakan untuk mengacu pada sumber kontrol perilaku
seseorang (Raber, 2010).
Aspek utama sistem Rotter (1966) adalah kepercayaan kita tentang
sumber kontrol penguatan diri. Seseorang memperlihatkan bahwa terdapat
perbedaan-perbedaan individual dalam persepsi kejadian tertentu selama
penguatan. Riset Rotter menunjukkan bahwa beberapa orang percaya
penguatan adalah bergantung pada perilakunya sendiri, dan beberapa
orang lainnya beranggapan bahwa penguatan dikontrol oleh kekuatankekuatan luar (Schultz, 2011). Maka berdasarkan hasil riset Rotter tersebut
Locus of control terbagi menjadi dua dimensi yaitu internal locus of
control dan external locus of control.
a.
Internal locus of control adalah individu-individu yang yakin bahwa
mereka merupakan pemegang kendali atas apa yang terjadi pada diri
mereka (Robbins et al., 2007). Jadi Orang yang cenderung memiliki
internal locus of control lebih berorientasi pada keberhasilan karena
mereka menganggap perilaku mereka dapat menghasilkan efek positif
dan juga mereka lebih cenderung tergolong ke dalam high-achiever
(Feist,2009).
b.
External locus of control adalah individu-individu yang yakin bahwa
apapun yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatankekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan (Robbins et al.,
2007).
Orang-orang
orientasi-eksternal,
atau
yang
cenderung
memiliki external locus of control, berpikir bahwa penerimaannya
atas penguatan berada di tangan orang lain, baik takdir atau
keberuntungan, orang-orang orientasi-eksternal merasa yakin bahwa
mereka tidaklah begitu berdaya berhubungan dengan kekuatankekuatan luar tersebut (Schultz, 2011).
Locus of control akan memiliki pengaruh besar pada perilaku.
Orang-orang
yang
cenderung
memiliki
external
locus
of
control percaya bahwa perilaku atau kemampuannya sendiri tidak
akan membuat perbedaan apapun dalam penguatan yang mereka
terima, tidak akan melihat nilai dalam melakukan usaha untuk
memperbaiki situasinya. Mereka memiliki kepercayaan kecil tentang
kemungkinan pengontrolan kehidupannya sendiri di masa sekarang
dan akan datang.
Sedangkan orang-orang yang terorientasi secara internal
percaya bahwa mereka cenderung memiliki kontrol yang kuat atas
kehidupannya sendiri. Mereka menunjukkan usaha pada tingkat tinggi
dan menempatkan nilai yang lebih tinggi dalam skill dan prestasi
personalnya. Selain itu, orang-orang yang memiliki internal locus of
control
lebih siap untuk mengambil tanggung jawab terhadap
tindakan-tindakannya daripada orang-orang dengan external locus of
control (Schultz, 2011).
2. Karakteristik Internal dan External Locus of Control
Rotter (1966) dalam schunk (2012) menjelaskan bahwa internal
locus of control dan external mewakili dua ujung kontinum, bukan secara
terpisah. Tidak satu pun individu yang benar-benar internal ataupun
eksternal, melainkan berupa kecenderungan. Oleh karena itu tidak terdapat
aspek yang benar-benar menyatakan internal locus of control ataupun
external, melainkan secara keseluruhan yakni aspek locus of control.
Aspek locus of control yang terdiri dari item-item yang berjumlah
seimbang, mampu menggolongkan individu untuk lebih cenderung pada
tipe internal ataupun tipe eksternal. Setiap dimensi locus of control
mempunyai karakteristik yang khas. Perbedaan karateristik antara internal
locus of control dengan external locus of control sebagai berikut :
a. Internal locus of control memiliki ciri-ciri, yaitu:
1) Suka bekerja keras.
2) Memiliki inisiatif yang tinggi.
3) Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
4) Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
5) Selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika
ingin berhasil.
b. External locus of Control memiliki ciri-ciri, yaitu:
1) Kurang memiliki inisiatif.
2) Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha
dan kesuksesan.
3) Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor
luarlah yang mengontrol.
4) Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.
3.
Pengaruh dari Karakteristik Internal dan External Locus of Control
Terhadap Perilaku
Terdapat perbedaan karakteristik antara internal locus of control
dengan external locus of control ini akan memunculkan pengaruh yang
berbeda pada tingkah laku. Pada individu yang cenderung memiliki
internal locus of control, faktor kemampuan dan usaha terlihat dominan.
Oleh karena itu, apabila individu dengan internal locus of control
mengalami kagagalan, maka mereka akan menyalahkan dirinya sendiri
karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan,
mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa
pengaruh terhadap tindakan selanjutnya pada masa yang akan datang,
yakni mereka yakin akan mencapai keberhasilan apabila berusaha keras
dengan segala kemampuannya. Jadi kesimpulannya orang-orang yang
cenderung memiliki internal locus of control memiliki kewenangan penuh
atas hidup mereka (Schultz, 2011).
Sedangkan individu yang cenderung memiliki external locus of
control melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor kesukaran dan
nasib, kemampuan dan tindakan mereka sendiri tidak banyak berpengaruh
terhadap penguat yang mereka terima. Ketika merasa yakin bahwa mereka
tak berdaya berhadapan dengan kekuatan- kekuatan dari luar,
mereka
akan memberikan usaha minimal untuk mengubah atau memperbaiki
situasi mereka (Schultz, 2011). Oleh karena itu, apabila mereka
mengalami kegagalan, maka mereka cenderung menyalahkan lingkungan
sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal tersebut tentunya berpengaruh
terhadap tindakan di masa datang. Mereka merasa tidak mampu atas
usahanya sehingga mereka tidak mempunyai harapan untuk memperbaiki
kegagalan tersebut (Robbins et al., 2007).
4.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Internal Locus of Control
Pharse dalam Schunk (2012) berpendapat bahwa terdapat beberapa
faktor yang memengaruhi terbentuknya locus of control, antara lain:
a.
Faktor keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk bersosialisasi.
Kedekatan dan pola asuh orang tua terhadap anak akan memengaruhi
pembentukan kepribadian anak. Sikap orang tua yang memberi
dukungan, kebebasan, dan lebih demokratis terhadap anak akan
membentuk kepribadian anak cenderung ke arah internal locus of
control.
b.
Faktor sosial
Setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat memiliki status sosial
ekonomi yang berbeda-beda. Individu yang berasal dari status sosial
ekonomi menengh ke atas cenderung memiliki kepribadian internal
locus of control. Hal tersebut disebabkan dengan status sosial
menengah ke atas lebih percaya diri dalam melakukakn kontrol atas
hidupnya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang memengaruhi internal locus of control adalah
faktor keluarga dan sosial.
c. Faktor Gender
Berbagai penelitian telah melaporkan adanya perbedaan internal locus
of control dan external locus of control pada pria dan wanita. Pharse
(1984) Menyebutkan bahwa antara subjek pria dan wanita, diperoleh
hasil yang berbeda. Pada pria cenderung pada internal locus of control
sedangkan pada wanita cenderung pada external locus of control.
B. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil (product)
menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau
proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan
belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada
individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang
menjadi
hasil
belajar.
Jadi
hasil
belajar
adalah
perubahan
yang
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya (Purwanto,
2013).
Jihad dan Haris (2013) menyebutkan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu
sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam
kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan
tujuan belajar. peserta didik yang berhasil dalam belajar adalah peserta didik
yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.
Keberhasilan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada
individu yang belajar, bukan saja perubahan mengenai pengetahuan, tetapi
juga pengetahuan untuk membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian,
penguasaan, dan penghargaan dalam diri individu yang belajar. Prinsipprinsip keberhasilan belajar yaitu: a) perubahan dalam belajar terjadi secara
sadar, b) perubahan dalam belajar mempunyai tujuan, c) perubahan belajar
secara positif, d) perubahan dalam belajar bersifat kontinu, e) perubahan
dalam belajar bersifat permanen (langgeng) (supardi, 2015)
Dengan demikian menurut Benjamin S Bloom tiga ranah (domain)
keberhasilan belajar adalah tahap pencapaian actual yang ditampilkan, yaitu
meliputi aspek kognitif, afektif maupun psikomotor dan dapat dilihat dalam
bentuk kebiasaan, sikap, juga penghargaan (Jihad dan Haris, 2013).
Hasil
belajar sangat
(instruksional),
dan
berhubungan dengan
pengalamam
(proses)
tujuan pengajaran
belajar-mengajar.
Dapat
digambarkan dalam Gambar 2.1.
Tujuan Instruksional
(a)
Pengalaman
belajar (proses
belajarmengajar)
(c )
(b)
Hasil
belaja
r
Gambar 2.1 Hubungan tiga unsur proses belajar mengajar
(Sudjana, 2005)
Garis (a) menunjukkan hubungan antara tujuan instruksional dengan
pengalaman belajar, garis (b) menunjukkan hubungan pengalaman belajar
mengajar dengan hasil belajar , dan garis (c) menunjukan hubungan tujuan
instruksional dengan hasil belajar. Dari Gambar 2.1 di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa hasil belajar berasal dari hasil kegiatan penilaian
(ditunjukkan garis (c)) yang melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional
yaitu berupa perubahan tingkah laku telah dapat dicapai atau dikuasai oleh
peserta didik setelah mereka menempuh pengalaman belajar (Sudjana, 2005).
2. Macam-Macam Hasil Belajar
Hasil belajar ini berkaitan dengan adanya perubahan dalam sikap dan
tingkah lakunya, aspek perubahan itu mengacu kepada tujuan pengajaran
yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor (Purwanto, 2013).
Macam-macam hasil belajar meliputi
a. Pemahaman konsep (aspek kognitif)
Pemahaman menurut Bloom diartikan sebagai kemampuan untuk
menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman
menurut Blomm ini adalah seberapa besar peserta didik mampu
menerima, menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh
pendididk kepada peserta didik, atau sejauh mana peserta didik
memahami serta mengerti apa yang dibaca, yang dilihat, yang dialami,
atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung
yang ia lakukan. (Susanto, 2014). Aspek kognitif berkenaan dengan
hasil belajar intelektual meliputi enam aspek, yaitu pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua
aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek
berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi (Jihad dan Haris, 2013).
b. Keterampilan proses (aspek psikomotor)
Keterampilan proses merupakan keterampilan yang mengarah
kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan sosial mendasar
sebagai penggerak kemampuan lebih tinggi dalam diri individu peserta
didik. Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar,
dan perbuatan secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu hasil
tertentu, termasuk kreativitasnya (Susanto, 2014). Aspek psikomotor
terdiri dari lima aspek, yaitu menirukan, manipufasi, keseksamaan,
artikulasi dan naturalisasi (Jihad dan Haris, 2013)
c. Sikap peserta didik (aspek afektif)
Sikap peserta didik disini tidak hanya merupakan aspek mental
semata, melainkan mencakup pula aspek respons fisik. Jadi, sikap ini
harus ada kekompakan antara mental dan fisik secara serempak
(Susanto, 2014). Aspek afektif terdiri dari lima aspek, yaitu menerima
atau memperhatikan, merespon, penghargaan, mengorganisasikan,
mempribadi (mewatak) (Jihad dan Haris, 2013).
3. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah
a. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri
peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor
internal ini meliputi kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar,
ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan
(Susanto, 2014). Selain itu ada juga yang mengklasifikasikan faktor
internal dari sudut faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran
orang dewasa yaitu faktor fisiologi dan faktor psikologi (Basleman
dan Mappa, 2011).
b. Faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi
hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat (Susanto, 2014).
4. Penilaian Hasil Belajar
Untuk mengetahui tingkat prestasi atau keberhasilan belajar yang
dicapai oleh peserta didik digunakan dua acuan, yaitu penilaian acuan
norma dan penilaian acuan patokan.
a. Penilaian Acuan Norma (PAN)
Penilaian acuan norma adalah penilaian prestasi dan hasil belajar
peserta didik yang diacukan kepada rata-rata kelompoknya. Untuk itu
norma atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat
keberhasilan peserta didik dibandingkan dengan rata-rata kelasnya.
Atas dasar itu akan diperoleh kategori prestasi peserta didik, yakni di
atas rata-rata kelas, sekitar rata-rata kelas, dan di bawah rata-rata
kelas.
b. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian acuan patokan prestasi belajar peserta didik adalah penilaian
yang diacukan kepada tujuan intruksional yang harus dikuasai peserta
didik.
Dengan
demikian
derajat
keberhasilan
peserta
didik
dibandingkan dengan tujuan yang seharusnya dicapai, bukan
dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya. Sehingga hanya didapati
dua kelompok hasil belajar, yaitu kelompok berhasil dan kelompok
tidak berhasil belajar (Supardi, 2015).
5. Hasil Belajar Mata Kuliah Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir
Mata kuliah Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir mempelajari
tentang bagaimana memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dan bayi
baru lahir dengan tepat sesuai dengan kebutuhan. Mata kuliah ini merupakan
aplikasi lebih lanjut dari mata kuliah asuhan kebidanan kehamilan. Ruang
lingkup mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk
memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam persalinan dan bayi segera
setelah lahir dengan pendekatan manajemen kebidanan didasari konsepkonsep, sikap dan keterampilan serta hasil evidence based (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2010).
Pokok bahasan mata kuliah Asuhan Kebidanann Persalinan dan Bayi
Baru Lahir ini diantaranya mempelajari tentang :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Perubahan fisiologi dan psikologi dalam persalinan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan.
Kebutuhan dasar ibu bersalin sesuai dengan kala persalinan.
Konsep dasar asuhan persalinan.
Penyulit dan komplikasi persalinan.
Asuhan pada ibu bersalin.
g. Adaptasi bayi segera setelah lahir.
h. Asuhan bayi baru lahir dalam 2 jam pertama.
i. Pendokumentasian asuhan persalinan dan bayi baru lahir
(Depkes RI, 2011).
Dengan mata kuliah Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir yang
mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor dapat memberikan
keterampilan dan rasa caring kepada peserta didik dalam memberikan asuhan
kebidanan pada ibu bersalin normal dan bayi baru lahir sesuai dengan Asuhan
Persalinan Normal 58 langkah dengan baik dan tepat. Berdasarkan hal
tersebut peserta didik dapat berpikir kritis, sistematis dan komprehensif dalam
mengaplikasikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dan bayi baru lahir
dengan pendekatan proses kebidanan sebagai dasar pemecahan masalah,
sehingga nantinya peserta didik kompeten dalam memberikan asuhan
kebidanan pada ibu bersalin dan bayi baru lahir dengan menggunakan mutu
pelayanan yang baik (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010).
Di samping itu, setelah peserta didik menguasai mata kuliah Askeb
Persalinan dan Bayi Baru Lahir, peserta didik akan memiliki bekal
pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk memenuhi salah satu kompetensi
bidan yang wajib dimiliki seorang bidan, yaitu kompetensi bidan yang ke-4
asuhan selama proses persalinan dan kelahiran dan kompetensi bidan yang
ke-6 asuhan kebidanan pada bayi baru lahir. Kompetensi asuhan persalinan
dan asuhan pada bayi baru lahir tersebut dibentuk dari pengetahuan dasar,
pengetahuan tambahan, keterampilan dasar dan keterampilan tambahan
mengenai persalinan dan asuhan bayi baru lahir yang didapatkan saat kuliah
pada mata kuliah Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir tersebut.
Pada kurikulum inti pendidikan DIII Kebidanan penilaian mata kuliah
Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir yang digunakan dalam bentuk
penugasan, ujian tulis, lisan dan penampilan klinik (praktikum) (Depkes RI,
2011). Program studi DIII Kebidanan FK UNS menggunakan sistem
penilaian PAP (Penilaian Acuan Patokan), yaitu
penilaian yang derajat
keberhasilan peserta didik dibandingkan dengan tujuan yang seharusnya
dicapai dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70, bukan
dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya seperti pada Penilaian Acuan
Norma atau PAN untuk mengukur penguasaan peserta didik pada tiap mata
kuliah termasuk mata kuliah Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
Pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan tes harian, penugasan, ujian
kompetensi dasar (UKD) dan praktikum.
C. Hubungan Internal Locus of Control dengan Hasil Belajar Mahasiswa
Pencapaian hasil belajar yang memuaskan tidak lepas dari adanya
dorongan atau motivasi terutama dari dalam diri sendiri, seberapa jauh dorongan
untuk mencapai prestasi atau hasil belajar yang optimal. Sehingga motivasi akan
menentukan intensitas usaha belajar bagi para peserta didik. Jadi dengan motivasi
yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik (Soemarsono, 2007).
Keyakinan utama dalam sebagian besar teori motivasi mencerminkan
pemikiran mengenai locus of control (setiap orang mengontrol aspek-aspek
penting dalam kehidupan mereka (Schunk, 2012). Locus of control secara harfiah
berarti pusat kendali yang merupakan sebuah ciri kepribadian yang menentukan
cara atau arah seseorang bertingkah laku. Pusat kendali seseorang berbeda ada
yang
cenderung
internal dan eksternal. Masing-masing kecendeungan akan
menentukan arah yang berbeda bagi yang bersangkutan dalam merespon
keberhasilan dan kegagalan. Mengalami kegagalan orang yang cenderung internal
locus of control akan berusaha meningkatkan motivasi dan usaha belajarnya,
sedangkan orang yang cenderung external locus of control mungkin hanya akan
bersedih dan justru kehilangan motivasi belajar karena merasa bahwa segala
usahanya tidak membuahkan hasil seperti diharapkan (Supartiknya, 2012).
Selama proses pendidikan peserta didik dituntut aktif agar usaha mencari
pengetahuan itu mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam hubungannya dengan
hasil belajar yang maksimal, internal locus of control sebagai pusat kendali
bertindak seseorang merupakan faktor penentu bagaimana seorang peserta didik
berperilaku untuk berusaha dalam mencapai keberhasilan dalam belajar. Internal
locus of control ini lebih berorientasi pada keberhasilan karena mereka
menganggap perilaku mereka dapat menghasilkan efek positif dan juga mereka
lebih cenderung tergolong ke dalam high-achiever (Feist, 2009). Dorongan dalam
diri peserta didik menggerakkan dan mengarahkan perilakunya, termasuk
didalamnya perilaku untuk belajar, dengan demikian peserta didik akan bergerak
dan mengarah pada hal yang menjadikan motivasi itu terealisasi. Jadi, ketika
peserta didik memandang pentingnya suatu usaha, maka kebiasaan belajar peserta
didik menjadi lebih baik sehingga prestasi belajarnya akan meningkat. Oleh
karena itu, internal locus of control peserta didik merupakan faktor yang dapat
memengaruhi hasil belajar. Lebih jelasnya hubungan internal locus of control
dengan hasil belajar digambarkan dalam bagan dibawah ini :
Internal locus of control
Meningkatkan pencapaian
hasil belajar mata kuliah
Askeb Persalinan dan Bayi
Baru Lahir
Yakin bahwa mereka sendiri
pemegang kendali atas
keberhasilan
1. Mengembangkan
usaha belajar
2. Ulet
3. Gigih mengerjakan
tugas akademik
1.
Gambar 2.2 Hubungan internal locus of control dengan hasil belajar
D. Kerangka Konsep
Pencapaian hasil belajar di pengaruhi oleh faktor internal juga eksternal.
Proses belajar yang terjadi dalam diri peserta didik berlangsung dengan baik
terutama jika faktor internalnya mendukung, salah satunya motivasi peserta didik
untuk mencapai prestasi atau hasil belajar yang optimal. Dalam konteks proses
belajar locus of control merupakan faktor penentu peserta didik berperilaku
apakah peserta didik cenderung memiliki internal locus of control (diri mereka
sendiri sebagai pengendali perilaku, seperti kerja keras) atau external locus of
control (faktor luar sebagai pengendali seperti faktor keberuntungan dan nasib).
Internal locus of control sebagai pusat kendali bertindak seseorang lebih
berorientasi pada keberhasilan karena mereka menganggap perilaku mereka dapat
menghasilkan efek positif dan juga mereka lebih cenderung tergolong ke
dalam high-achiever (Feist, 2009).
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Fisiologi
1. Keluarga
1. Kondisi fisik
2. Sekolah
2. Kesehatan
3. Masyarakat
Psikologi
1. Kecerdasan
2. Motivasi belajar
3. Minat
4. Ketekunan sikap
Hasil Belajar
5. Kebiasaan belajar
6. Perhatian
Psikologi
Locus of control
Internal locus of control
1. Internal locus of control
2. External locus of control
Keterangan:
: Tidak diteliti
: Diteliti
Gambar 2.3 Kerangka konsep
E. Hipotesis
Terdapat hubungan antara Internal locus of control dengan hasil belajar
mata kuliah Askeb Persalinan dan Bayi Baru Lahir pada mahasiswa
kebidanan.
Download