agency cost

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Penunjukan manajer oleh pemegang saham untuk mengelola perusahaan
dalam kenyataannya seringkali menghadapi masalah dikarenakan tujuan
perusahaan berbenturan dengan tujuan pribadi manajer. Manajer mempunyai
kewajiban untuk memaksimumkan kesejahteraan para pemegang saham, namun
disisi lain manajer juga mempunyai kepentingan untuk memaksimumkan
kesejahteraan mereka. Penyatuan kepentingan pihak-pihak ini seringkali
menimbulkan masalah yang disebut dengan masalah keagenan (agency problem).
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa konflik keagenan disebabkan
antara lain oleh pembuatan keputusan aktivitas pencarian dana (financing
decision) dan pembuatan keputusan bagaimana dana tersebut diinvestasikan. Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pemegang saham untuk mengurangi
kekhawatiran atas sumber daya perusahaan yang berada di bawah kendali
manajemen. Salah satu cara yang lazim digunakan adalah melalui struktur
kepemilikan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan kepemilikan manajerial
dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme corporate governance utama
yang membantu mengendalikan masalah keagenan.
Cara lain yang dapat digunakan oleh pemegang saham adalah dengan
kebijakan untuk membagikan sejumlah laba yang diperoleh perusahaan dalam
bentuk dividen. Kebijakan dividen bukan ditentukan oleh manajemen tetapi oleh
2
pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sehingga besar
kecilnya dividen yang dibagikan sangat tergantung pada keinginan pemegang
saham. Bhattacharya (1979) dalam Widanaputra (2007: 28) menyatakan bahwa
pemegang saham memiliki kecenderungan untuk lebih menyukai dividen yang
dibagikan dalam jumlah yang relatif besar, karena memiliki tingkat kepastian
yang tinggi dibandingkan masih ditahan dalam bentuk laba ditahan. Selain itu
dividen yang relatif tinggi menyebabkan jumlah dana yang dikendalikan oleh
manajemen menjadi relatif kecil.
Pembagian dividen yang tinggi kurang disukai oleh manajemen karena
akan mengurangi utilitas manajemen yang disebabkan oleh semakin kecil dana
yang berada dalam pengendaliannya. Hal ini sesuai dengan residual theory of
cash dividend yang dikemukan oleh Karen (2003) dalam Widanaputra (2007:22)
menyatakan bahwa kelebihan kas yang ada seharusnya dibagikan dalam bentuk
dividen, tetapi manajemen tidak suka membagikan laba yang diperoleh dalam
bentuk dividen dan lebih suka untuk diperlakukan sebagai laba ditahan, kecuali
manajemen tahu bahwa dana tersebut tidak memberikan net present value (NPV)
yang positif pada tambahan investasi. Laba ditahan dapat dipergunakan untuk
reinvestasi atau membayar utang perusahaan. Timbulnya konflik keagenan ini
memaksa pihak prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap manajemen
dengan tujuan meminimalkan kecurangan-kecurangan (moral hazard) yang dapat
dilakukan oleh pihak manajemen. Untuk mengurangi kesempatan pihak agen
melakukan tindakan yang merugikan prinsipal, Jensen dan Meckling (1976)
mengidentifikasikan ada dua cara yaitu
investor melakukan pengawasan
3
(monitoring) dan manajer sendiri melakukan pembatasan atas tindakantindakannya (bonding). Pada satu sisi, kedua kegiatan tersebut akan mengurangi
kesempatan penyimpangan oleh manajer sehingga nilai perusahaan meningkat
sedangkan pada sisi lain keduanya akan memunculkan biaya sehingga akan
mengurangi nilai perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa
calon investor akan mengantisipasi adanya kedua biaya tersebut ditambah dengan
kerugian yang masih muncul meskipun sudah ada monitoring dan bonding yang
disebut residual loss.
Menurut Jensen dan Meckling (1976) cara lain dalam menengahi
permasalahan agensi adalah dengan meningkatkan utang. Argumen tersebut
didukung oleh pernyataan bahwa dengan meningkatnya utang akan semakin kecil
porsi saham yang akan dijual perusahaan dan semakin besar hutang perusahaan
maka semakin kecil dana menganggur yang dapat dipakai perusahaan untuk
pengeluaran-pengeluaran yang kurang perlu. Semakin besar utang maka
perusahaan harus mencadangkan lebih banyak kas untuk membayar bunga serta
pokok pinjaman. Dalam hal ini adanya utang akan dapat mengendalikan
penggunaan free cash flow secara berlebihan oleh manajemen. Menurut Jansen
(1986) mekanisme untuk mengurangi free cash flow ini dikelompokan sebagai
bonding, yaitu suatu mekanisme yang dipakai manajer untuk membuktikan bahwa
mereka tidak akan menghamburkan dana perusahaan dan mereka berani
mengambil risiko kehilangan pekerjaan jika tidak bisa mengelola perusahaan
dengan serius. Disisi pemegang saham, kebijakan peningkatan utang dapat
mengurangi pengawasan terhadap manajemen karena pihak ketiga yang
4
meminjamkan dana (bondholder) akan melakukan pengawasan terhadap
manajemen agar pinjamannya tidak disalahgunakan.
Konflik antara manajemen dan pemegang saham yang berhubungan
dengan keputusan keuangan seperti kebijakan dividen dan leverage telah diteliti
oleh beberapa peneliti diantaranya Dewenter dan Warter (1998) meneliti tentang
konflik antara manajemen dan pemegang saham atas kebijakan dividen untuk
perusahaan di USA dan Jepang. Crutchley dan Hensen (1989) meneliti penerapan
teori keagenan dalam menjelaskan pengaruh kepemilikan manajerial, leverage,
dan kebijakan dividen pada peningkatan utilitas manajemen. Hasil dari penelitian
Crutchley dan Hensen (1989) adalah mendukung teori keagenan tentang
bagaimana para manajer memaksimalkan utilitas melalui kepemilikan saham,
tingkat leverage, dan pembayaran dividen. Schooley et al. (1994) meneliti tentang
kebijakan dividen dan kepemilikan saham sebagai alat untuk menurunkan kos
keagenan. Temuan empiris dari penelitian Schooley et al. (1994) adalah
kepemilikan saham dan kebijakan dividen berhubungan negatif dengan kos
keagenan. Sponholtz (2005) dalam Widanaputra (2007: 3) menyatakan bahwa
dividen dapat dijadikan alat untuk meminimalkan jumlah free cash flow untuk
manajemen. Sponholtz menguji asimetri informasi yang terjadi antara manajemen
dan pemegang saham atas pembagian dividen dengan menggunakan teori sinyal.
Berdasarkan studi empiris tersebut, penelitian ini bermaksud untuk
meneliti kos keagenan yang dijelaskan melalui kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, kebijakan dividen dan leverage dengan memilih
5
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai objek
penelitian.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun pokok permasalahan yang akan diteliti apakah kepemilikan
manajerial,
kepemilikan
institusional,
kebijakan
dividen
dan
leverage
berpengaruh pada kos keagenan (agency cost)?
1.2
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang disampaikan, maka
yang menjadi tujuan penelitian adalah untuk menguji dan membuktikan secara
empiris pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan
dividen dan leverage pada kos keagenan (agency cost).
1.2.2
Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pihak-pihak yang
berkepentingan, adapun manfaat yang diharapkan antara lain:
1) Kegunaan teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan di bidang akuntansi
khususnya mengenai kos keagenan serta menambah pengetahuan mengenai
pasar modal. Selain itu, dapat menjadi acuan bagi mahasiswa yang akan
melakukan penelitian pada bidang yang sama.
2) Kegunaan praktis
Penelitian mengenai kos keagenan sangat penting dipahami oleh praktisi
untuk membantu pengambilan keputusan dalam menilai suatu perusahaan dan
menentukan keputusan investasi.
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Teori keagenan
Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa hubungan agensi muncul
satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk
memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan
keputusan kepada agen tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). McColgan (2001)
menyatakan bahwa dalam Teori keagenan (agency theory) terdapat suatu
karakteristik hubungan keagenan yang dapat didefinisikan sebagai suatu kontrak
dimana satu pihak (prinsipal) mempekerjakan pihak lain (agen) untuk melakukan
beberapa pekerjaan atas nama prinsipal. Manajemen merupakan pihak yang
dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang
saham. Untuk itu manajemen diberikan sebagian kekuasaan untuk membuat
keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu,
manajemen wajib mempertanggungjawabkan semua upayanya kepada pemegang
saham. Karena unit analisis dalam teori keagenan adalah kontrak yang melandasi
hubungan antara prinsipal dan agen, maka fokus dari teori ini adalah pada
penentuan kontrak yang paling efisien yang mendasari hubungan antara prinsipal
dan agen. Untuk memotivasi agen maka prinsipal merancang suatu kontrak agar
dapat mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak
keagenan. Kontrak yang efisien adalah kontrak yang memenuhi dua faktor, yaitu:
7
1) Agen dan pinsipal memiliki informasi yang simetris artinya baik agen maupun
prinsipal memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama sehingga tidak
terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan untuk keuntungan
dirinya sendiri
2) Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil yang
berarti agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang
diterimanya.
Pada kenyataannya informasi simetris itu tidak pernah terjadi, karena manajer
berada didalam perusahaan sehingga manajer mempunyai banyak informasi
mengenai perusahaan, sedangkan prinsipal sangat jarang atau bahkan tidak pernah
datang ke perusahaan sehingga informasi yang diperoleh sangat sedikit. Hal ini
menyebabkan kontrak efisien tidak pernah terlaksana sehingga hubungan agen
dan prinsipal selalu dilandasi oleh asimetri informasi. Agen sebagai pengendali
perusahaan pasti memiliki informasi yang lebih baik dan lebih banyak
dibandingkan dengan prinsipal. Di samping itu, karena verifikasi sangat sulit
dilakukan, maka tindakan agen pun sangat sulit untuk diamati. Dengan demikian,
membuka peluang agen untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri dengan
melakukan tindakan yang tidak semestinya atau sering disebut dysfunctional
behaviour, dimana tindakan ini dapat merugikan prinsipal, baik memanfaatkan
aset perusahaan untuk kepentingan pribadi, maupun perekayasaan kinerja
perusahaan.
Dalam perkembangannya, terdapat suatu kecenderungan timbulnya masalah
keagenan yang muncul sebagai akibat dari kemustahilan tercapainya perikatan
8
secara sempurna bagi pihak agen dan prinsipal. Dimana munculnya masalah
keagenan dijelaskan dalam beberapa faktor, sebagai berikut:
1) Moral hazard (MH)
Hal ini umumnya terjadi pada perusahaan besar (kompleksitas yang
tinggi), dimana manajer cenderung untuk memanfaatkan insentif yang
sesuai dengan kepentingannya atau berdasarkan keahliannya untuk
bayaran yang diterima dari perusahaan dan kemungkinan hal tersebut tidak
termasuk dalam kontrak.
2) Penahanan laba (Earning Retention)
Masalah ini berkisar pada kecenderungan untuk melakukan investasi yang
berlebihan oleh pihak manajemen melalui peningkatan dana pertumbuhan
dengan tujuan untuk memperbesar kekuasaan, prestise, atau memperbesar
kemampuan untuk mendominasi dewan komisaris, maupun penghargaan
bagi dirinya, namun dapat menghancurkan kesejahteraan prinsipal.
3) Horizon waktu
Konflik ini muncul sebagai akibat dari kondisi arus kas, dimana prinsipal
lebih menekankan pada arus kas untuk masa depan yang kondisinya belum
pasti, sedangkan manajemen cenderung menekankan kepada hal-hal yang
berkaitan dengan pekerjaan mereka.
4) Penghindaran risiko manajerial
9
Masalah ini muncul ketika ada batasan diversifikasi portofolio yang
berhubungan dengan pendapatan manajerial atas kinerja yang dicapainya,
sehingga manajer akan berusaha meminimalkan risiko saham perusahaan
dari keputusan investasi yang meningkatkan risikonya. Misalnya
manajemen lebih senang dengan pendanaan ekuitas dan berusaha
menghindari pendanaan
yang
berasal dari
utang,
karena
dapat
memperkecil beban dengan tidak adanya beban bunga.
Dalam teori keagenan secara umum dibahas dua hal (Mahadwartha, 2002)
yaitu: (1) positive agency memfokuskan pembahasan mengenai hubungan antara
pihak agen dengan principal. (2) principal agent research membahas cakupan
yang lebih luas yaitu mengenai semua hubungan atau konflik kepentingan antara
satu pihak dengan pihak lainnya dimana pihak yang satu tidak melaksanakan
instruksi atau perintah pihak kedua.
Menurut Sartono (2001: 10) yang dimaksud dengan konflik antar kelompok
atau agency theory merupakan konflik yang timbul antara pemilik dan manajer
perusahaan dimana ada kecenderungan manajer lebih mementingkan tujuan
individu daripada tujuan perusahaan. Menurut Husnan dan Pudjiastuti (2002: 12)
masalah keagenan sering terjadi pada perusahaan yang berbentuk Perseroan
Terbatas (PT) yang sering kali terjadi pemisahan antara pengelola perusahaan
(pihak manajemen) dengan pemilik perusahaan (pemegang saham). Disamping
itu, untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas tanggung jawab hanya
terbatas pada modal yang disetorkan, artinya apabila perusahaan mengalami
kebangkrutan, maka modal (ekuitas) yang telah disetorkan oleh pemilik
10
perusahaan mungkin sekali akan hilang, tetapi harta kekayaan pribadi tidak akan
diikutsertakan
untuk
menutup
kerugian
tersebut.
Dengan
demikian
memungkinkan masalah-masalah keagenan (agency problems).
Aplikasi teori keagenan dapat terwujud dalam kontrak kerja yang akan
mengatur proporsi hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan tetap
memperhitungkan kemanfaatan secara keseluruhan. Kontrak kerja merupakan
seperangkat aturan yang mengatur mengenai mekanisme bagi hasil, baik yang
berupa keuntungan, return maupun resiko-resiko yang disetujui oleh prinsipal dan
agen. Kontrak kerja akan menjadi optimal bila kontrak dapat fairness yaitu
mampu menyeimbangkan antara prinsipal dan agen yang secara matematis
memperlihatkan pelaksanaan kewajiban yang optimal oleh agen dan pemberian
imbalan khusus yang memuaskan dari prinsipal ke agen. Inti dari teori keagenan
adalah pendesainan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan
prinsipal dan agen dalam hal terjadi konflik kepentingan (Scott, 1997). Menurut
Eisenhard (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 (tiga) buah asumsi yaitu:
1) Asumsi tentang sifat manusia
Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat
untuk mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas
(bounded rationality), dan tidak menyukai resiko (risk aversion).
2) Asumsi tentang keorganisasian
Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi,
efisiensi sebagai kriteria produktivitas, dan adanya asumsi asimetris antara
prinsipal dan agen.
11
3) Asumsi tentang informasi.
Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang
komoditi yang bisa diperjual belikan.
Baik prinsipal maupun agen, keduanya mempunyai bargaining position.
Prinsipal sebagai pemilik modal mempunyai hak akses pada informasi internal
perusahaan,
sedangkan agen
yang menjalankan
operasional perusahaan
mempunyai informasi tentang operasi dan kinerja perusahaan secara riil dan
menyeluruh, namun agen tidak mempunyai wewenang mutlak dalam pengambilan
keputusan, apalagi keputusan yang bersifat strategis, jangka panjang dan global.
Hal ini disebabkan untuk keputusan-keputusan tersebut tetap menjadi wewenang
dari prinsipal selaku pemilik perusahaan.
Dalam konsep teori keagenan, manajemen sebagai agen semestinya on behalf
the best interest of the shareholders, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan
manajemen hanya mementingkan kepentingannya sendiri untuk memaksimalkan
utililitas.
Manajemen
bisa
melakukan
tindakan-tindakan
yang
tidak
menguntungkan perusahaan secara keseluruhan yang dalam jangka panjang bisa
merugikan kepentingan perusahaan. Bahkan untuk mencapai kepentingannya
sendiri, manajemen bisa bertindak menggunakan akuntansi sebagai alat untuk
melakukan rekayasa. Perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen inilah
disebut dengan masalah keagenan (agency problem) yang salah satunya
disebabkan oleh adanya informasi asimetri.
Informasi asimetri yaitu informasi yang tidak seimbang yang disebabkan
karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen.
12
Dalam hal ini prinsipal seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam
mengukur tingkat hasil yang diperoleh dari usaha agen, namun ternyata informasi
tentang ukuran keberhasilan yang diperoleh oleh prinsipal tidak seluruhnya
disajikan oleh agen. Akibatnya informasi yang diperoleh prinsipal kurang lengkap
sehingga tetap tidak dapat menjelaskan kinerja agen yang sesungguhnya dalam
mengelola kekayaan prinsipal yang dipercayakan kepada agen.
Akibatnya adanya informasi yang tidak seimbang (asimetri) ini, dapat
menimbulkan 2 (dua) permasalahan yang disebabkan adanya kesulitan prisipal
untuk memonitor dan melakukan kontrol terhadap tindakan-tindakan agen. Jensen
dan Meckling (1976) menyatakan permasalahan tersebut adalah :
1) Moral Hazard
Yaitu permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal yang
telah disepakati bersama dalam kontrak kerja.
2) Adverse Selection
Yaitu suatu keadaan dimana prinsipal tidak dapat mengetahui apakah suatu
keputusan yang diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas informasi yang
telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah kelalaian dalam tugas.
2.2
Struktur kepemilikan
Struktur kepemilikan (ownership structure) adalah persentase saham yang
dimiliki oleh pihak insider shareholder dan pihak outsider shareholder. Pihak
insider yaitu pemegang saham yang berada dijajaran direktur dan komisaris. Pada
pihak outsider yaitu pihak institusi, individu dan lain-lain. Menurut Hanafi (2004)
semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan semakin meningkat
13
pengawasan pihak eksternal pada perusahaan. Pemegang saham sebagai pemilik
modal dapat dibedakan menjadi 3 (tiga):
1) Manajerial ownership/internal ownership adalah pemegang saham yang
merupakan pihak internal perusahaan yang ikut aktif dalam kegiatan
operasional perusahaan.
2) Eksternal ownership adalah pemegang saham perorangan yang tidak aktif
dalam kegiatan operasional perusahaan di luar pihak internal perusahaan.
3) Institusional
ownership
adalah
pemegang
saham
berbentuk
instansi/pemerintah yang tidak aktif dalam kegiatan operasional perusahaan.
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan kepemilikan manajerial dan
kepemilikan institusional adalah dua mekanisme corporate governance utama
yang membantu mengendalikan masalah keagenan. Menurut Jensen (1993),
kepemilikan saham manajerial dapat membantu penyatuan kepentingan antara
pemegang saham dengan manajer, semakin meningkat proporsi kepemilikan
saham manajerial akan semakin baik kinerja perusahaan.
Institusi adalah pengambil keputusan profesional
yang mengetahui
bagaimana mengukur kinerja perusahaan dan cara untuk mengawasi pihak
manajemen. Kepemilikan institusi akan memiliki pengaruh pada biaya keagenan
dan konsekuensinya berdampak pada kebijakan pembayaran dividen. Bila dividen
berfungsi sebagai cara bagi manajer untuk memberikan penanda mengenai
komitmen manajemen pada penciptaan nilai di masa yang akan datang, maka
tidak perlu membayar dividen dalam jumlah besar, dimana komitmen kepada nilai
pemegang saham akan dijamin melalui kepemilikan institusi.
14
Manajer yang memiliki saham perusahaan berarti manajer tersebut sekaligus
adalah pemegang saham. Kepemilikan saham perusahaan oleh manajer disebut
kepemilikan
manajerial.
Manajer
yang
memiliki
saham
perusahaan
menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan sebagai pemegang saham.
Sementara dalam perusahaan tanpa kepemilikan manajerial, manajer bukan
pemegang saham kemungkinan akan mementingkan kepentingannya sendiri.
Penelitian Demsetz dan Lehn (1985), Crutchley dan Hansen (1989),
menyimpulkan bahwa level kepemilikan manajerial yang lebih tinggi dapat
digunakan untuk mengurangi masalah keagenan.
Masalah keagenan akan semakin kecil apabila manajemen juga sebagai
pemegang saham (owner manager). Dalam kondisi seperti ini owner manager
tidak terlalu terbebani dengan kewajiban untuk mengatur laba (yang bersifat
moral hazard) karena laba ataupun rugi akan memiliki dampak yang relatif sama
antara manajemen dan pemegang saham. Ang et al. (1999) menemukan bahwa
terdapat hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya keagenan yang
diukur dari pemanfaatan aktiva dan beban operasi. Penelitian Singh et al. (2003)
menganalisis hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya keagenan pada
perusahaan-perusahaan besar yang sudah go public. Hasil penelitian Singh et al.
(2003) mendukung penelitian Ang et al. (1999) yang menyatakan bahwa semakin
tinggi kepemilikan manajerial secara positif dan signifikan mempengaruhi
efisiensi pemanfaatan aktiva perusahaan.
2.3
Kebijakan dividen
15
Kebijakan dividen menyangkut keputusan apakah laba yang dibayarkan
sebagai dividen atau ditahan untuk reinvestasi dalam perusahaan. Kebijakan
dividen menimbulkan kontroversi karena bila dividen ditingkatkan, arus kas untuk
investor akan meningkat yang akan menguntungkan investor, sedangkan alasan
lainnya yaitu bila dividen ditingkatkan, laba ditahan yang direinvestasi dan
pertumbuhan masa depan akan menurun sehingga merugikan investor. Kebijakan
dividen dikatakan optimal apabila mampu menyeimbangkan kedua hal tersebut
dan memaksimalkan harga saham. Persentase dari pendapatan yang akan
dibayarkan kepada pemegang saham sebagai cash dividend disebut dividend
payout ratio (Riyanto, 2001: 266). Secara umum suatu perusahaan harus
menetapkan kebijakan dividen yang nantinya dapat memaksimalkan kemakmuran
pemegang saham. Apabila perusahaan tidak memiliki kesempatan berinvestasi
yang menguntungkan, maka sebaiknya kelebihan dana tersebut didistribusikan
kepada pemegang saham perusahaan. Pembayaran dividen dalam jumlah sekecil
apapun masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Menurut Sundjaja dan
Barlian (2003) ada 3 (tiga) jenis kebijakan dividen yaitu:
1) Kebijakan dividen rasio pembayaran konstan
Kebijakan dividen yang didasarkan dengan persentase tertentu dari
pendapatan yang dibayarkan kepada pemilik setiap periode.
2) Kebijakan dividen yang teratur
Kebijakan dividen yang didasarkan atas pembayaran dividen dengan
rupiah yang tetap dalam setiap periode. Seringkali kebijakan dividen
teratur digunakan dengan memakai target rasio pembayaran dividen.
16
3) Kebijakan dividen yang rendah yang teratur dan ditambah ekstra
Kebijakan dividen yang didasarkan pembayaran dividen rendah yang
teratur, ditambah dengan dividen ekstra jika ada jaminan pendapatan.
2.3.1
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan antara
lain sebagai berikut (Riyanto, 2001:268):
1) Posisi likuiditas perusahaan
Makin kuatnya posisi likuiditas perusahaan berarti makin besar
kemampuannya untuk membayar dividen. Jadi dapat dikatakan bahwa
makin kuat likuiditas perusahaan maka makin tinggi dividend payout
ratio-nya.
2) Kebutuhan dana untuk membayar utang
Apabila perusahaan menetapkan pelunasan utangnya akan diambil dari
laba ditahan berarti perusahaan harus menahan sebagian besar laba dari
pendapatannya untuk keperluan tersebut, ini berarti bahwa hanya
sebagian kecil saja dari pendapatan atau earning dapat dibayarkan
sebagai dividen. Dengan kata lain perusahaan harus menetapkan
dividend payout ratio yang rendah.
3) Tingkat pertumbuhan perusahaan
Makin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, makin besar kesempatan
dana yang dibutuhkan, makin besar kesempatan untuk memperoleh
keuntungan dan makin besar bagian dari pendapatan yang ditahan dalam
17
perusahaan yang berarti makin rendah dividen payout ratio-nya. Apabila
perusahaan telah mencapai tingkat pertumbuhan sedemikian rupa
sehingga perusahaan telah well established, dimana kebutuhan dananya
dapat dipenuhi dengan dana yang berasal dari pasar modal atau sumber
dana ekstern lainnya, maka keadaannya akan berbeda. Dalam hal ini
perusahaan dapat menetapkan dividend payout ratio yang tinggi.
4) Pengawasan terhadap perusahaan
Ada perusahaan yang mempunyai kebijakan hanya membiayai
ekspansinya dengan dana yang berasal dari sumber intern saja.
Kebijakan tersebut dijalankan atas dasar pertimbangan bahwa kalau
ekspansi dibiayai dengan dana yang berasal dari hasil penjualan saham
baru akan melemahkan kontrol dari kelompok dominan didalam
perusahaan, demikian pula kalau membiayai ekspansi utang akan
memperbesar risiko finansialnya. Mempercayakan pada pembelanjaan
intern
dalam
rangka
usaha
mempertahankan
kontrol
terhadap
perusahaan, berarti mengurangi dividen payout ratio-nya.
2.3.2 Teori struktur modal
Menurut Arifin (2005: 92), teori struktur modal berkaitan dengan kos
keagenan (agency cost) sebenarnya hanya merujuk pada teori keagenan yang
dikembangkan oleh Jensen dan Meckling (1976). Teori keagenan menganggap
manajer tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Oleh
karena itu perlu ada mekanisme agar manajer mau bertindak sesuai dengan
18
kepentingan pemegang saham. Salah satu mekanisme yang diusulkan oleh Jensen
dan Meckling (1976) adalah dengan menambah porsi utang.
Menambah utang dapat mengurangi masalah keagenan karena dua alasan.
Pertama, dengan meningkatnya utang maka akan semakin kecil porsi saham yang
harus dijual perusahaan. Semakin kecil nilai saham yang beredar maka semakin
kecil masalah keagenan yang timbul antara manajer dan pemegang saham. Kedua,
dengan semakin besar utang perusahaan maka semakin kecil dana “menganggur”
yang dapat dipakai manajer untuk pengeluaran-pengeluaran yang kurang perlu.
Semakin besar utang maka perusahaan harus mencadangkan lebih banyak kas
untuk membayar bunga dari utang tersebut dan juga untuk mengangsur pokok
utang. Mekanisme untuk mengurangi free cash flows ini oleh Jensen (1986)
dikelompokkan sebagai mekanisme bonding, suatu mekanisme yang dipakai oleh
manajer untuk membuktikan bahwa mereka tidak akan menghamburkan dana
perusahaan dan mereka berani mengambil resiko kehilangan pekerjaan jika tidak
bisa mengelola perusahaaan dengan serius.
2.4 Leverage
Menurut Sawir (2004: 10) leverage keuangan adalah penggunaan sumber
dana yang menimbulkan beban tetap keuangan. Beban tetap keuangan yaitu bunga
yang harus dibayar tanpa memperdulikan tingkat laba perusahaan. Adapun rasio
pengelolaan utang dibagi menjadi tiga yaitu :
1) Rasio utang adalah rasio total utang terhadap total aktiva. Rasio ini
digunakan untuk menghitung persentase total dana yang disediakan oleh
kreditur.
19
2) Rasio kemampuan membayar bunga atau Time Interest Earned (TIE)
adalah rasio laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap beban
bunga. Rasio ini mengukur kemampuan untuk membayar beban bunga
tahunan.
3) Rasio kemampuan membayarkan beban tetap adalah rasio yang lebih
luas cakupannya daripada rasio TIE karena mencakup kewajiban lease
jangka panjang tahunan perusahaan. Rasio ini hampir sama dengan rasio
kemampuan mambayar bunga.
Leverage keuangan menyiratkan dua hal penting yaitu
1) Dengan menaikan dana melalui utang, pemilik dapat mampertahankan
pengendalian atas perusahaan dengan investasi terbatas.
2) Kreditur mensyaratkan adanya ekuitas atau dana yang disediakan oleh
pemilik sebagai margin pengaman. Jika pemilik hanya menyediakan
sebagaian kecil dari pembiayaan total maka risiko perusahaan dipikul
terutama oleh krediturnya
2.5
Kos keagenan (Agency Cost)
Banyak masalah yang sering muncul berkaitan dengan masalah keagenan.
Hubungan keagenan terjadi ketika terjadi kontrak antara dua pihak yang
menunjukkan bahwa suatu pihak (prinsipal) memberikan tugas kepada orang lain
(agen) untuk melakukan suatu pekerjaan. Dalam kondisi seperti ini agen memiliki
kecenderungan untuk berperilaku tertentu dengan mengutamakan kepentingannya
20
sendiri. Untuk itu prinsipal harus memiliki mekanisme pemantauan agar dapat
mengendalikan perilaku agen sesuai dengan aturan yang ditentukan. Salah satu
cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan insentif kompensasi dan
melakukan monitoring, misalnya membayar auditor untuk mengaudit laporan
keuangan perusahaan. Biaya yang dikeluarkan untuk auditor tersebut disebut
dengan kos keagenan. Menurut Jensen dan Meckling (1976) terdapat tiga macam
kos keagenan (agency cost), diantaranya adalah
1) Bonding cost
Kos ini ditanggung oleh perusahaan yang timbul akibat tindakan manajer
untuk memberi jaminan kepada pemilik bahwa manajer tidak melakukan
tindakan yang merugikan perusahaan. Contoh: kelancaran dalam
membayar bunga utang, penyelenggaraan sistem akuntansi yang baik
sehingga mampu menghasilkan laporan keuangan yang sesuai dengan
kebutuhan prinsipal.
2) Monitoring cost
Kos yang ditanggung oleh perusahaan yang timbul akibat tindakan
prinsipal untuk mengawasi aktivitas dan perilaku manajer. Contoh:
membayar auditor untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan dan
premi asuransi untuk melindungi asset perusahaan.
3) Residual loss
Kos yang ditanggung oleh perusahaan yang timbul akibat adanya
perbedaan antara keputusan yang diambil oleh agen dengan keputusan
yang seharusnya memberikan manfaat maksimal pada prinsipal. Contoh:
21
memanfaatkan fasilitas perusahaan secara berlebihan seperti pengeluaran
untuk perjalanan dinas dan akomodasi kelas satu, mobil dinas mewah
atau dengan kata lain biaya yang dikeluarkan tidak untuk kepentingan
perusahaan.
Menurut Sartono (2001:12) dalam usaha meminumkan masalah keagenan
atau konflik antarkelompok dalam perusahaan maka diperlukan biaya yang
disebut dengan kos keagenan (agency cost) dan tercermin dalam empat alternatif,
yaitu:
1) Pengeluaran untuk monitoring seperti halnya biaya untuk pemeriksaan
akuntansi dan prosedur pengendalian intern.
2) Pengeluaran insentif sebagai kompensasi untuk manajemen atas prestasi
yang konsisten.
3) Fidelity bond adalah kontrak antara perusahaan dengan pihak ketiga di
mana pihak ketiga (bonding company) setuju untuk membayar
perusahaan jika manajer berbuat tidak jujur sehingga menimbulkan
kerugian bagi perusahaan.
4) Golden parachutes dan Poison pill dapat digunakan pula untuk
mengurangi konflik antara manajemen dengan pemegang saham. Golden
Parachutes adalah suatu kontrak antara manajemen dengan pemegang
saham yang menjamin bahwa manajemen akan mendapat kompensasi
sejumlah tertentu apabila perusahaan dibeli oleh perusahaan lain atau
terjadi perubahan pengendalian perusahaan. Sedangkan Poison pill
adalah usaha pemegang saham untuk menjaga agar perusahaan tidak
22
diambil-alih oleh perusahaan lain. Usaha ini dapat dilakukan dengan
mengeluarkan hak penjualan saham
pada harga
tertentu
atau
mengeluarkan obligasi disertai dengan hak menjual obligasi pada harga
tertentu.
2.6 Mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan
Arifin (2002:60) menyatakan mekanisme untuk mengurangi masalah agensi
adalah sebagai berikut:
1). Mekanisme kontrol dengan monitoring
Ada beberapa mekanisme untuk mengurangi kos keagenan. Berikut
mekanisme-mekanisme kontrol dengan monitoring yang dapat dipakai
untuk mengurangi masalah keagenan:
(1) Pembentukan dewan komisaris
Pembentukan dewan komisaris adalah salah satu mekanisme yang
banyak dipakai untuk memonitor manajer. Namun penelitian Mace
(1986) menemukan bahwa pengawasan dewan komisaris terhadap
manajemen pada umumnya tidak efektif. Ini terjadi karena proses
pemilihan dewan komisaris yang kurang demokratis dimana kandidat
dewan komisaris sering dipilih oleh manajemen sehingga setelah
terpilih tidak berani mengkritik manajemen. Namun jika dewan
didominasi oleh anggota dari luar (independent board of director)
maka monotoring dewan komisaris terhadap manajer menjadi lebih
efektif seperti yang ditemukan oleh Weisbach (1988)
(2) Pasar corporate control
23
Manne (1965) menyatakan bahwa adanya pasar untuk corporate
control dimana perusahaan yang menurun nilainya akibat adanya
masalah keagenan akan diambil alih oleh perusahaan lain,
merupakan mekanisme yang lebih bagus sehingga masalah agensi
dapat dikurangi. Jensen dan Ruback (1983) menemukan bahwa nilai
gabungan antara perusahaan yang mengakusisi dan yang diakuisisi
meningkat setelah adanya akuisisi.
(3) Pemegang saham besar
Model pengurangan masalah keagenan yang dibuat Jensen dan
Meckling (1976) mengasumsikan bahwa pemegang saham terdiri
dari investor-investor kecil. Oleh karena itu biaya monitoring
terhadap manajemen oleh para investor tersebut akan sangat besar
sehingga mereka akan cenderung tidak melakukan monitoring.
(4) Kepemilikan terkonsentrasi
Kepemilikan dikatakan lebih terkonsentrasi jika untuk mencapai
kontrol dominasi atau mayoritas dibutuhkan penggabungan lebih
sedikit investor.
(5) Pasar manajer
Fama (1980) menyatakan bahwa masalah keagenan akan berkurang
dengan sendirinya karena manajer akan dicatat kinerjanya oleh pasar
manajer, baik yang ada dalam perusahaan sendiri maupun yang
berasal dari luar perusahaan.
2). Mekanisme kontrol dengan peningkatan kepemilikan manajer
24
Ketika kepemilikan saham oleh manajer perusahaan meningkat, maka
mereka berinisiatif untuk menginvestasikannya pada proyek-proyek
yang memiliki net present value yang positif dan mengurangi konsumsi
untuk kepentingan pribadinya. Insentif kepemilikan dapat memberikan
manajer dan pemegang saham untung maupun rugi secara bersamasama.
3). Mekanisme kontrol dengan bonding
Jensen (1986) melihat masalah keagenan dari sudut keterbatasan uang
yang dapat digunakan manajer untuk kegiatan ‘konsumtif’. Dana
tersebut adalah free cash flows yaitu kelebihan dana yang ada dalam
perusahaan setelah semua proyek yang menghasilkan net present value
positif dilaksanakan. Jika kos keagenan ingin dikurangi maka free cash
flows harus dikurangi terlebih dahulu. Dengan kata lain manajer harus
menunjukan kepada pemegang saham bahwa dia telah melakukan upaya
menahan diri (bonding) untuk tidak menciptakan peluang melakukan
penyimpangan-penyimpangan.
25
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1
Rerangka Berpikir
Kos keagenan (agency cost) merupakan biaya yang timbul akibat konflik
kepentingan antara manajer dan pemegang saham, upaya untuk meminimalisasi
kos tersebut adalah dengan melakukan beberapa alternatif: (1) meningkatkan
kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajemen (insider ownership)
sehingga dapat mensejajarkan kepentingan pemilik dengan manajer (Jensen dan
Meckling, 1976) (2) meningkatkan kepemilikan institusional atau institusional
investor sebagai pihak yang memonitor agen. Jadi dengan adanya kepemilikan
institusi seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan
oleh institusi lain dalam suatu perusahaan akan mendorong peningkatan
pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen. (3) meningkatkan
dividend payout ratio (DPR) sehingga tidak tersedia banyak free cash flow dan
manajemen terpaksa mencari pendanaan dari luar untuk membiayai investasinya
(Jensen, 1986) (4) meningkatkan pendanaan dari utang. Dengan pendanaan utang
maka perusahaan harus melakukan pembayaran periodik atas bunga dan pokok
pinjaman. Hal ini dapat menurunkan excess cash flow yang ada dalam perusahaan
sehingga menurunkan kemungkinan pemborosan yang dilakukan oleh manajemen
(Jensen, 1986)
Besar kecilnya jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat
mengindikasikan adanya kesamaan (congruance) kepentingan antara manajemen
26
dengan pemegang saham. Perusahaan dengan jumlah kepemilikan saham
manajerial yang besar seharusnya mempunyai konflik keagenan yang rendah dan
biaya keagenan yang rendah pula. Konflik keagenan yang rendah dapat
direfleksikan dari tingginya tingkat perputaran aktiva perusahaan dan rendahnya
beban operasi terhadap penjualan (discreationary managerial).
Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5%)
mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen. Semakin besar
kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan.
Dengan
demikian
proporsi
kepemilikan
institusional
bertindak
sebagai
pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan manajemen.
Kebijakan dividen juga perlu diperhatikan dalam mengendalikan tindakan
manajer. Pembagian dividen akan membuat pemegang saham mempunyai
tambahan return selain dari capital gain. Dividen juga membuat pemegang saham
mempunyai kepastian pendapatan dan mengurangi agency cost of equity karena
tindakan perquisites yang dilakukan manajemen terhadap cash flow perusahaan
seiring dengan menurunnya biaya monitoring karena pemegang saham yakin
bahwa kebijakan manajemen akan menguntungkan dirinya (Mahadwartha dan
Jogiyanto, 2002).
Pendanaan utang akan mengurangi konflik antara pemegang saham dengan
manajemen. Menambah utang dapat mengurangi masalah keagenan karena dua
alasan. Pertama, dengan meningkatnya utang maka akan semakin kecil porsi
saham yang harus dijual perusahaan. Semakin kecil nilai saham yang beredar
maka semakin kecil masalah agensi yang timbul antara manajer dan pemegang
27
saham. Kedua, dengan semakin besar utang perusahaan maka semakin kecil dana
“menganggur” yang dapat dipakai manajer untuk pengeluaran-pengeluaran yang
kurang perlu. Semakin besar utang maka perusahaan harus mencadangkan lebih
banyak kas untuk membayar bunga dari utang tersebut dan juga untuk
mengangsur pokok utang.
Berdasarkan keadaan tersebut maka pada penelitian ini akan mengkaji
pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen
dan leverage pada kos keagenan. Dalam hal ini kos keagenan diukur selling and
general administrative (SGA) dan yang selanjutnya dianalisis dengan regresi
linear berganda. Rerangka Berpikir dalam penelitian ini dapat disajikan pada
Gambar 3.1.
Agency Theory
Masalah
% KM
Kepemilikan
Manajerial
% KI
Kepemilikan
Institusional
%
DPR
Kebijakan Dividen
% Lev
Leverage
Gambar 3.1 Rerangka Berpikir
Kos
Keagenan
%
SGA
28
Keterangan:
KM: Kepemilikan Manajerial
KI:
Kepemilikan Institusional
DPR: Dividend Payout Ratio
Lev: Leverage
SGA: Selling and General Administrative
Gambar 3.1 menunjukkan bahwa, terdapat beberapa alternatif yang dapat
digunakan untuk mengurangi agency costs, antara lain: (1) mensejajarkan
kepentingan manajemen dengan pemegang saham dengan mengikutsertakan
manajer untuk memiliki saham perusahaan tersebut (insider ownership), (2)
meningkatkan kepemilikan institusional, (3) meningkatkan dividend payout ratio,
dan (4) meningkatkan pendanaan dari utang. Lebih lanjut Jensen & Meckling
(1976) menunjukkan bahwa struktur kepemilikan, keputusan pendanaan dan
kebijakan dividen dapat digunakan untuk mengurangi agency costs yang
bersumber pada masalah keagenan (agency conflict).
3.2
Konsep Penelitian
Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori keagenan (agency theory).
Ada 2 (dua) asumsi yang seharusnya dipenuhi dalam teori keagenan. Ketika salah
satu asumsi tidak terpenuhi maka akan menimbulkan konflik. Konflik keagenan
terjadi akibat perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan dengan
manajernya. Disatu sisi, pemilik menginginkan manajer bekerja keras untuk
memaksimumkan utilitas pemilik. Namun disisi lain, manajer juga cenderung
berusaha keras untuk memaksimumkan kepentingannya sendiri. Menurut
pendekatan keagenan, struktur kepemilikan, kebijakan dividen dan leverage
29
merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik kepentingan antara
manajer dan pemegang saham.
Berdasarkan rerangka berpikir yang telah dijelaskan sebelumnya, kemudian
disusun konsep penelitian yang menjelaskan hubungan antar variabel dalam
penelitian ini. Konsep penelitian ini merupakan hubungan logis dari landasan teori
dan kajian empiris yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Konsep
tersebut dapat disajikan dalam Gambar 3.2.
Kepemilikan
Manajerial
H1
Kajian Teoritis :
1. Agency Theory
Kepemilikan
Institusional
Kajian Empiris :
H2
Kos
Keagenan
Kebijakan
Dividen
H3
Leverage
H4
1. Crutchley dan
Hansen (1989)
2. Dewenter K.L., dan
Warter V.A (1998)
3. Faizal (2005)
4. Haryono (2005)
5. Jansen & Meckling
(1976)
6. Mahadwartha (2002)
7. Widanaputra &
Ratnadi (2008)
8. Widanaputra (2007)
Gambar 3.2 Konsep Penelitian
3.3
Hipotesis Penelitian
3.3.1
Hubungan kepemilikan manajerial dengan kos keagenan
Menurut Jensen (1993), hipotesis pemusatan kepentingan (convergence of
interest hypothesis) menyatakan bahwa kepemilikan saham manajerial dapat
membantu penyatuan kepentingan antara pemegang saham dengan manajer,
semakin meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial maka semakin baik
30
kinerja perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh kepemilikan manajerial
terhadap biaya keagenan (agency costs) juga dilakukan oleh Crutchley dan
Hansen (1989), menyimpulkan bahwa level kepemilikan manajerial yang lebih
tinggi dapat digunakan untuk mengurangi masalah keagenan. Sebaliknya
penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005) diperoleh hasil yang berbeda. Faisal
(2005) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara kepemilikan
manajerial dengan biaya keagenan (agency costs). Hal ini mengindikasikan bahwa
hubungan kepemilikan manajerial dengan biaya keagenan (agency costs) gagal
sebagai mekanisme untuk meningkatkan nilai perusahaan. Kesimpulan lain yang
didapat melalui penelitian Faisal yaitu semakin tinggi kepemilikan manajerial
justru meningkatkan diskresi manajerial. Faisal (2005) menunjukkan bahwa
semakin tinggi kepemilikan manajerial semakin tinggi biaya keagenan (agency
costs) yang diukur dengan beban operasi.
Besar kecilnya jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat
mengindikasikan adanya kesamaan (congruance) kepentingan antara manajemen
dengan pemegang saham. Perusahaan dengan jumlah kepemilikan saham yang
besar seharusnya mempunyai konflik keagenan yang rendah dan biaya keagenan
yang rendah pula. Konflik keagenan yang rendah dapat direfleksikan dari
tingginya tingkat perputaran aktiva perusahaan dan rendahnya beban operasi
terhadap penjualan (discreationary managerial). Dengan demikian hipotesisnya:
H1 : Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif pada kos keagenan (agency
costs) .
31
3.3 2. Hubungan kepemilikan institusional dengan kos kegenan
Kepemilikan institusional umumnya bertindak sebagai pihak yang memonitor
perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh kepemilikan institusional terhadap
agency costs dilakukan oleh Crutchley et al. (1999). Crutchley menyatakan bahwa
kepemilikan oleh institusional juga dapat menurunkan agency costs, karena
dengan adanya monitoring yang efektif oleh pihak institusional menyebabkan
penggunaan utang menurun. Hal ini karena peranan utang sebagai salah satu alat
monitoring sudah diambil alih oleh kepemilikan institusional. Dengan demikian
kepemilikan institusional dapat mengurangi agency cost of debt.
Moh’d et al. (1998) dalam Nuridha (2006) menyatakan bahwa distribusi
saham antara pemegang saham dari luar yaitu investor institusional dan
shareholders dispersion dapat mengurangi agency costs. Adanya kepemilikan
institusional seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan
kepemilikan oleh institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasan yang
lebih optimal terhadap kinerja manajemen.
Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005) diperoleh hasil
yang berbeda. Faisal (2005) menyatakan bahwa hubungan antara kepemilikan
institusional dengan biaya keagenan (agency costs) adalah negatif. Masih
berdasarkan hasil penelitian Faisal (2005) bahwa hal ini mengindikasikan
kepemilikan institusional belum efektif sebagai alat memonitor manajemen dalam
meningkatkan nilai perusahaan. Berdasarkan penjelasan diatas maka hipotesis
yang diajukan adalah:
32
H2 : Kepemilikan institusional berpengaruh negatif pada kos keagenan (agency
costs).
3.3.2
Hubungan antara kebijakan dividen dengan kos keagenan
Keputusan pembagian dividen ditentukan oleh pemegang saham melalui
RUPS memberikan konsekuensi bahwa besar kecilnya dividen dapat dijadikan
alat bagi pemegang saham untuk mengendalikan manajemen. Hubungan
keagenan antara pemilik perusahaan dengan manajemen menciptakan kesempatan
bagi manajemen untuk mengejar tujuan pribadinya disamping memaksimalkan
kesejahteraan pemilik. Penelitian mengenai hubungan kebijakan dividen dengan
kos keagenan dilakukan oleh Schooley et al. (1994) yang menyatakan bahwa
kebijakan dividen dan manajerial digunakan untuk menurunkan kos keagenan.
Mereka menguji kebijakan dividen dan kepemilikan saham sebagai suatu yang
saling berhubungan untuk mengurangi kos keagenan. Dengan memberikan
kepemilikan saham bagi manajemen mungkin dapat mengurangi kos keagenan.
Pembayaran dividen menyebabkan jumlah dana yang dikelola oleh perusahaan
menjadi semakin kecil, demikian juga dengan memberikan kepemilikan saham
menyebabkan manajemen mungkin tidak akan melakukan manipulasi karena
disamping sebagai manajemen dia juga berposisi sebagai pemilik perusahaan.
Kedua kondisi tersebut akan dapat mengurangi besarnya kos keagenan. Untuk
menguji dampak dari kedua variabel tersebut, Schooley et al. (1994)
menggunakan 235 perusahaan yang terdapat pada thirty-two digit SIC kelompok
industri pada tahun 1980. Sampel perusahaan besar memiliki rata-rata total aset
sebesar $ 2.504 juta. Kepemilikan saham untuk CEO mulai dari 0 sampai 30,5%.
33
Hasilnya sesuai dengan hipotesis bahwa kebijakan dividen dan kepemilikan
saham berhubungan negatif dengan kos keagenan, kecuali dummy dari tipe
industri sebagai variabel kontrol. Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat
disusun hipotesis sebagai berikut:
H3 : Kebijakan dividen berpengaruh negatif pada kos keagenan (agency costs).
3.3.3
Hubungan antara leverage dengan kos keagenan
Kecenderungan para manajer untuk melakukan aktivitas hanya untuk
kepentingannya sendiri juga timbul karena para pemegang saham tidak mungkin
dapat mengawasi seluruh aktivitas yang dilakukan oleh manajer. Untuk
mengurangi konflik keagenan (agency conflict) ini, para pemegang saham harus
mengeluarkan biaya-biaya yang disebut dengan kos keagenan (agency cost). Kos
keagenan terdiri dari seluruh biaya yang membebani pemegang saham untuk
mendorong manajer agar berusaha memaksimumkan harga saham perusahaan
daripada hanya bertindak untuk kepentingan pribadi saja. Penelitian mengenai
pengaruh leverage terhadap agency costs dilakukan oleh Widanaputra & Ratnadi
menyatakan bahwa leverage mempunyai pengaruh negatif terhadap kos keagenan
(agency cost) tingkat kepercayaan 95%, leverage berpengaruh negatif dan
signifikan secara statistis terhadap kos keagenan (agency cost) pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil ini juga membuktikan teori
Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa dengan pengurangan free
cash flow melalui peningkatan utang dapat mengurangi masalah agensi antara
pemegang saham dengan manajemen. Hal itu terjadi karena jumlah dana yang
“menganggur” semakin kecil yang akan mengurangi pengawasan terhadap dana
34
tersebut. Menurut Jensen dan Meckling (1976) untuk menengahi permasalahan
agensi adalah dengan meningkatkan utang. Argumen tersebut didukung oleh
pernyataan bahwa dengan meningkatnya utang akan semakin kecil porsi saham
yang akan dijual perusahaan dan semakin besar utang perusahaan maka semakin
kecil dana menganggur yang dapat dipakai perusahaan untuk pengeluaranpengeluaran yang kurang perlu. Semakin besar utang maka perusahaan harus
mencadangkan lebih banyak kas untuk membayar bunga serta pokok pinjaman.
Mekanisme untuk mengurangi Free cash flow ini oleh Jensen (1986)
dikelompokan sebagai bonding, yaitu suatu mekanisme yang dipakai manajer
untuk membuktikan bahwa mereka tidak akan menghamburkan dana perusahaan
dan mereka berani mengambil risiko kehilangan pekerjaan jika tidak bisa
mengelola perusahaan dengan serius. Disisi pemegang saham, kebijakan
peningkatan utang dapat mengurangi pengawasan terhadap manajemen karena
pihak ketiga yang meminjamkan dana (bondholder) akan melakukan pengawasan
terhadap manajemen agar pinjamannya tidak disalah gunakan. Dalam penelitiaan
ini kebijakan utang diproksikan dengan leverage. Leverage mengukur nilai dana
yang dibiayai dari pinjaman pihak ketiga. Sehingga hubungan leverage dengan
kos keagenan adalah negatif yang berarti semakin tinggi leverage akan dapat
menurunkan kos keagenan. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:
H4 : Leverage berpengaruh negatif pada kos keagenan (agency costs).
35
BAB IV
METODA PENELITIAN
4.1
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian menjelaskan rencana dari struktur riset yang
mengarahkan proses dan hasil penelitian sedapat mungkin menjadi valid, objektif,
efisien, dan efektif. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan latar belakang masalah,
tujuan, manfaat, kajian pustaka, dan hipotesis penelitian. Tahapan selanjutnya
yang harus dilakukan dalam penelitian ini adalah mempersiapkan data penelitian
dan menguji hipotesis sehingga dapat ditarik kesimpulan sesuai dengan hasil yang
diperoleh.
Penelitian ini menggunakan jenis data sekunder yang diperoleh dengan
mengakses website www.idx.co.id dan Indonesian Capital Market Directory
(ICMD). Berdasarkan hipotesis yang diajukan, diidentifikasi dua jenis variabel
dalam penelitian ini, yang pertama adalah variabel independen yaitu aliran
kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen, dan
leverage, kedua adalah variabel dependen yaitu kos keagenan.
4.2
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Bursa Efek Indonesia (selanjutnya disingkat
menjadi - BEI) dengan alamat komplek perkantoran Jl. Jenderal Sudirman Kav.
52-53 Jakarta 12190, data diperoleh dengan mengakses melalui website
www.idx.co.id. Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2004 sampai
36
dengan tahun 2008. Pemilihan sampel tahun 2004 sampai dengan 2008 agar
penelitian ini mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang terbaru.
4.3
Penentuan sumber data
4.3.1
Jenis data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data
dalam bentuk angka-angka, dapat dinyatakan dan dapat diukur dengan satuan
hitung (Sugiyono, 2009). Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data laporan
keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
yang membagikan dividen yaitu dari tahun 2004 sampai tahun 2008.
4.3.2
Sumber data
Penelitian ini menggunakan data sekunder eksternal, yaitu data yang
diperoleh dari penelitian secara tidak langsung melalui perantara, seperti orang
lain atau dokumen, Sugiyono (2009). Data sekunder eksternal dalam penelitian ini
adalah laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2004
sampai dengan 2008.
Pemilihan perusahaan manufaktur dipilih karena populasi perusahaan
manufaktur adalah paling banyak diantara jenis perusahaan lainya sehingga hasil
yang akan didapat nantinya akan mencerminkan karakteristik populasi di Bursa
Efek Indonesia selain itu minimnya aturan atau regulasi dari pemerintah atas
kebijakan-kebijakan ekonomi pada perusahaan manufaktur.
37
4.3.3
Metoda Penentuan Sampel
Metode penentuan
sampel dalam
penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan tipe nonprobability sampling yaitu dengan pendekatan purposive
sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2009: 218). Pertimbangan tertentu dalam
penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini:
1) Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan
mempublikasikan Laporan Keuangan Tahunan (LKT) selama periode
pengamatan yaitu 2004 - 2008.
2) Membagikan dividen selama lima tahun sesuai dengan tahun pengamatan.
Dividen yang dibagikan tersebut merupakan suatu indikasi bahwa
pemegang saham memang lebih menyukai laba dibagi dalam bentuk
dividen dibandingkan laba ditahan.
3) Mempunyai kepemilikan manajerial atau kepemilikan institusional dari
tahun 2004 sampai tahun 2008
Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 61 pengamatan dengan proses
pemilihan sampel seperti pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Proses pemilihan sampel penelitian
Keterangan
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2004
sampai 2008
Perusahaan manufaktur yang tidak membagikan dividen dari tahun
2004 sampai tahun 2008
Jumlah
Pengamatan
725
(475)
38
Perusahaan manufaktur yang membagikan dividen dari tahun 2004
sampai tahun 2008
250
Perusahaan manufaktur yang tidak mempunyai kepemilikan
manajerial atau kepemilikan institusional dari tahun 2004 sampai
(185)
tahun 2008
Perusahaan yang datanya outlier
(4)
Perusahaan sampel penelitian
61
Berdasarkan informasi pada Tabel 4.1, maka jumlah sampel dalam penelitian
ini sebanyak 61 pengamatan. Dari 725 perusahaan yang mengeluarkan Laporan
Keuangan Tahunan (LKT) selama tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 terdapat
250 perusahaan manufaktur yang membagikan dividen dari tahun 2004 sampai
tahun 2008. Terdapat 185 perusahaan selama tahun 2004 sampai dengan 2008
yang tidak mempunyai kepemilikan manajerial atau kepemilikan institusional dari
tahun 2004 sampai tahun 2008. Terdapat 4 perusahaan dikategorikan outlier
karena memiliki Z score di atas +3 dan di bawah -3 atau dengan kata lain makin
besar Z scorenya maka makin jauh data tersebut dari simpangannya. Hal ini
disebabkan oleh rasio leverage dan dividend payout ratio (DPR) perusahaan
tersebut besar.
4.4
Variabel Penelitian
4.4.1 Identifikasi Variabel
Variabel dependent (terikat) menurut Sugiyono (2009: 39), merupakan
variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel
bebas. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel terikat adalah kos keagenan
39
yang diukur dengan beban operasi (selling and general administrative/SGA)
adalah variabel terikat dalam penelitian ini.
Variabel independent (bebas) merupakan variabel yang mempengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono,
2009:39). Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah kepemilikan
manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen dan leverage.
4.4.2 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel adalah suatu definisi yang diberikan kepada
variabel, dengan tujuan memberikan arti atau menspesifikasikannya. Dalam
penelitian ini definisi operasional yang dimaksud adalah sebagai berikut ini.
1) Variabel terikat yaitu sebagai berikut ini.
Kos keagenan disimbolkan dengan (Y) diukur dengan selling and general
administrative/SGA. SGA merupakan proksi dari operating expense.
Variabel ini mengukur biaya keagenan berdasarkan selling and general
administrative, yaitu rasio beban operasi terhadap total penjualan. Beban
operasi merefleksikan diskresi manajerial dalam membelanjakan sumber
daya perusahaan. Semakin tinggi beban diskresi manajerial maka semakin
tinggi biaya keagenan yang terjadi.
2) Variabel bebas yaitu sebagai berikut ini.
(1)
Kepemilikan manajerial (KM) adalah persentase saham yang
dimiliki oleh eksekutif dan direktur disimbolkan dengan (X1).
(2)
Kepemilikan institusional (KI) adalah persentase saham yang
dimiliki oleh pemegang saham disimbolkan dengan (X2).
40
(3)
Kebijakan dividen dalam penelitian ini diukur dengan mengunakan
dividend payout ratio (DPR) yang dihitung dengan membandingkan
dividen per lembar saham dengan laba per lembar saham
disimbolkan dengan (X3)
(4)
Leverage (Lev) diukur dengan membagi total utang dengan total
aktiva disimbolkan dengan (X4). Utang perusahaan merupakan salah
satu mekanisme untuk menyatukan kepentingan manajer dengan
pemegang saham, utang memberikan sinyal tentang status kondisi
keuangan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya.
4.5
Analisis Data
4.5.1
Uji asumsi klasik
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi linear
berganda. Sebelum model regresi digunakan untuk menguji hipotesis, maka
terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik. Tujuan pengujian ini untuk
mengetahui keberartian hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen sehingga hasil analisis dapat diinterpretasikan dengan lebih akurat,
efisien, dan terbatas dari kelemahan-kelemahan yang terjadi karena masih adanya
gejala-gejala asumsi klasik. Dalam penelitian ini, teknik analisis data dilakukan
dengan bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Menurut
Ghozali (2006) uji asumsi klasik yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Uji Normalitas
Asumsi klasik yang pertama diuji adalah normalitas yang bertujuan
untuk menguji apakah pada model regresi, variabel pengganggu atau
41
residual mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang
baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Pengujian
normalitas data dilakukan dengan uji analisis grafik normal
probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data
sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal.
Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan
ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal tersebut. Jika
distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data
sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antarvariabel bebas. Multikolinearitas
dapat dilihat dari nilai tolerance atau variance inflation factor (VIF).
Jika ada tolerance lebih dari 10% atau VIF kurang dari 10 maka
dikatakan tidak ada multikolinearitas.
3) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model
regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada perioda
t dengan kesalahan pada perioda t-1. Untuk mengetahui ada tidaknya
autokorelasi, maka digunakan metoda Durbin Watson (Dw Test). Jika
nilai Dw test sudah ada, maka nilai tersebut dibandingkan dengan
nilai tabel dengan menggunakan tingkat keyakinan sebesar 95%. Nilai
42
tabel umumnya dapat digunakan untuk jumlah pengamatan sebanyak
15 sampai dengan 100 (Gujarati, 2003: 216).
1) Bila dU < dw < (4-dU), maka tidak terjadi autokorelasi.
2) Bila d w < d1, maka terjadi autokorelasi positif.
3) Bila d w > (4-d t), maka terjadi autokorelasi negatif.
4) Bila d1 < dw < d U atau (4-d U) < dw < (4-dt), maka tidak dapat
ditarik kesimpulan mengenai ada tidaknya autokorelasi.
Jika nilai Dw-test berada pada daerah ragu-ragu maka dapat dilakukan
Runs-test untuk memastikan ada tidaknya autokorelasi. Jika tingkat
signifikansi Runs-test > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak
terjadi autokorelasi.
4) Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu observasi ke
observasi lain. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan meregresikan
nilai absolut residual dengan variabel independennya. Ada tidaknya
heteroskedastisitas
dapat
diketahui
dengan
melihat
tingkat
signifikansinya terhadap  5%.
4.5.2
Analisis regresi linear berganda
Teknik analisis data yang dipergunakan untuk memecahkan masalah dalam
penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda. Adapun model regresi
linear berganda dengan menggunakan persamaan berikut (Ghozali, 2006):
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e .................................... (1)
43
Keterangan :
Y
α
β1,β2, β3,β4
X1
X2
X3
X4
e
= kos keagenan (agency cost)
= konstanta
= koefisien regresi
= kepemilikan manajerial
= kepemiikan institusional
= kebijakan dividen
= leverage
= error
Analisis regresi berganda (Multivariate Regression) merupakan suatu model
dimana variabel terikat tergantung pada dua atau lebih variabel bebas. Analisis ini
digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independen) terhadap
variabel terikat (dependen). Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel bebas secara individual dalam menerangkan variasi
variabel terikat. Tujuan dari uji t adalah untuk menguji koefisien regresi secara
individual.
4.5.3
Pengujian hipotesis
Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi berganda
disimpulkan berdasarkan nilai t hitung dan tingkat signifikansi (Pvalue). Hipotesis
dinyatakan diterima apabila thitung lebih besar daripada ttabel atau Pvalue < 0,05,
artinya variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen secara
statistis signifikan.
44
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1
Statistik Deskriptif
Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia sebagai sampel penelitian. Berdasarkan kriteria sampel dan
prosedur penyampelan yang telah dilakukan dan dijelaskan pada Bab IV,
diperoleh 22 perusahaan sebagai sampel penelitian dengan 61 pengamatan tahun.
Data yang digunakan untuk perhitungan masing-masing variabel diambil dari
laporan keuangan perusahaan. Hasil perhitungan kos keagenan, leverage,
kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan dividen masing-masing
perusahaan disajikan pada Lampiran 4. Statistik deskriptif masing-masing
variabel disajikan pada Tabel 5.1 berikut ini.
Tabel 5.1 Statistik Deskriptif
Variabel
Minimum Maksimum
Kos Keagenan
0,0290
Leverage
0,0550
Kepemilikan Manajerial
0,0010
Kepemilikan Institusional
0,1290
Dividen
0,01
Sumber: data diolah (Lampiran 5)
0,3070
0,8250
0,2580
0,8650
92,31
Rata-Rata
0,110246
0,457385
0,053800
0,571277
29,5197
Deviasi
Standar
0,0675104
0,1978254
0,0820650
0,1918224
19,77251
Tabel 5.1 menunjukkan nilai rata-rata dan deviasi standar dari masingmasing variabel. Kos keagenan memiliki rata-rata sebesar 0,110246 dengan
deviasi standar sebesar 0,0675104. Leverage memiliki rata-rata sebesar 0,457385
dengan deviasi standar sebesar 0,1978254. Kepemilikan manajerial memiliki ratarata sebesar 0,053800 dengan deviasi standar sebesar 0,0820650. Kepemilikan
45
institusional memiliki rata-rata sebesar 0,571277 dengan deviasi standar sebesar
0,1918224. Dividen memiliki rata-rata sebesar 29,5197 dengan deviasi standar
sebesar 19,77251. Berdasarkan dari Table 5.1 menunjukkan bahwa secara
keseluruhan nilai deviasi standar tidak ada yang melebihi dua kali nilai rata-rata.
Hal tersebut menandakan bahwa sebaran data sudah baik.
5.2
Pengujian Asumsi Klasik
5.2.1
Uji normalitas
Uji normalitas yang bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi,
variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi normal atau tidak. Model
regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Sampel
yang digunakan dalam analisis terdiri atas 61 pengamatan. Pengujian normalitas
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan tingkat signifikansi 0,947.
Angka ini lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual
berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 5.2
Tabel 5.2 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N
Normal
Parameters(a,b)
Most Extreme
Differences
Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Sumber: data diolah (Lampiran 6)
Unstandardized
Residual
65
,0000000
,05684950
,065
,054
-,065
,524
,947
46
5.2.2
Uji multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antarvariabel bebas. Hasil uji multikolinearitas dapat
dilihat dari nilai tolerance dan variance inflaction factor (VIF). Berdasarkan hasil
pengujian yang ditunjukkan pada Lampiran 7, nilai tolerance variabel bebas tidak
kurang dari 10% atau 0,1 dan nilai variance inflation factor (VIF) semuanya
kurang dari 10 yang berarti tidak ada multikolinearitas antarvariabel independen.
Hasil uji multikoliniearitas dapat dilihat pada Tabel 5.3
Tabel 5.3 Hasil Uji Multikolinearitas
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1 (Constant)
Leverage
Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan Institusional
Dividen
Sumber: data diolah (Lampiran 7)
5.2.3
0,976
0,912
0,895
0,933
1,024
1,097
1,117
1,072
Uji autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi
linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada perioda t dengan kesalahan
pada perioda t-1. Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai Durbin-Watson yang
diperoleh adalah sebesar 0,823. Nilai tersebut terletak di bawah d L sebesar 1,44.
Ini berarti model regresi mengandung autokorelsi negatif sehingga harus
dilakukan tindakan perbaikan. Tindakan perbaikan dalam penelitian ini dilakukan
dengan memasukan Lag Y dalam persamaan regresi. Hal ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa pengaruh variabel independen (X) pada variabel dependen
47
(Y) tidak terjadi pada perioda yang sama sehingga ada rentang waktu yang
menyebabkan terjadinya autokorelasi.
Hasil pengujian autokorelasi setelah perbaikan menunjukkan nilai dW sebesar
1,945 yang berada diantara du (1,73) dan 4-du (2,27). Berdasarkan hasil pengujian
dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah autokorelasi sehingga model
regresi dapat dilanjutkan. Hasil pengujian autokorelasi dapat dilihat pada Tabel
5.4
Tabel 5.4 Hasil Uji Autokorelasi Setelah Perbaikan
Model
R
R Square
1
,497(a)
,247
Sumber: data diolah (Lampiran 8)
5.2.4
Adjusted Std. Error of the
Durbin-Watson
R Square
Estimate
,178
,0494761
1,945
Uji heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Pengujian heteroskedastisitas pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan uji Glejser. Hasil pengujian menunjukkan seluruh variabel bebas
tidak berpengaruh pada nilai absolut residual. Terlihat dari nilai signifikansi
masing-masing variabel dalam persamaan regresi di atas 0,05, hal ini berarti data
bebas dari heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada
Tabel 5.5
48
Tabel 5.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Unstandardized Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
T
B
Std. Error
Beta
1 (Constant)
,056
,069
,817
Leverage
,041
,078
,070 ,530
Kepemilikan Manajerial
-,191
,195
-,133 -,980
Kepemilikan Institusional
,024
,085
,040 ,282
Dividen
,000
,000
-,064 -,460
Lag Y
-,175
,224
-,105 -,784
Sumber: data diolah (Lampiran 9)
5.3
Sig
,417
,598
,332
,779
,648
,436
Pengujian Hipotesis
Hipotesis penelitian ini menguji pengaruh leverage, kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, dan dividen pada kos keagenan. Sebagaimana yang
telah dijelaskan pada bab metoda penelitian, hipotesis dalam penelitian ini diuji
dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil pengujian hipotesis
dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 5.6 berikut ini.
Tabel 5.6 Hasil Pengujian Hipotesis
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
T
Sig.
Std.
B
Beta
Error
(Constant)
,173
,029
5,954 ,000
Leverage
-,063
,033
-,227 -1,933 ,058
Kepemilikan Manajerial
-,216
,083
-,314 -2,613 ,012
Kepemilikan Institusional
-,003
,036
-,011 -,086 ,932
Dividen
-0,0000903
,000
-,065 -,525 ,602
Sumber: data diolah (Lampiran 10)
Model
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa nilai adjusted R2 adalah 0,178. Ini berarti
bahwa varian dari variabel bebas yaitu leverage, kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, dan dividen mampu menjelaskan varian variabel terikat
49
(kos keagenan) sebesar 17,8 persen, sedangkan sisanya sebesar 82,2 persen
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model.
Hasil pada Tabel 5.6 dapat dijelaskan bahwa nilai signifikansi dibawah 0,05
menunjukkan variabel independen berpengaruh pada kos keagenan (agency cost),
sedangkan apabila nilai signifikansi diatas 0,05 berarti variabel independen tidak
berpengaruh pada kos keagenan (agency cost). Nilai koefisien kepemilikan
manajerial sebesar -0,216 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,012 lebih kecil
dari 0,05 artinya variabel kepemilikan manajerial berpengaruh negatif pada kos
keagenan. Nilai koefisien kepemilikan institusional sebesar -0,003 dengan tingkat
signifikansi sebesar 0,932 lebih besar dari 0,05 artinya variabel kepemilikan
institusional tidak berpengaruh pada kos keagenan. Nilai koefisien leverage
sebesar -0,063 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,058 lebih besar dari 0,05
artinya variabel leverage tidak berpengaruh pada kos keagenan. Nilai koefisien
dividen sebesar -0,00009 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,602 lebih besar
dari 0,05 artinya variabel dividen tidak berpengaruh pada kos keagenan.
50
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Pada Kos Keagenan
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif pada kos keagenan. Hasil ini mendukung hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini. Hasil ini mendukung temuan Widanaputra dan
Ratnadi (2006), Crutchley dan Hansen (1989), Bathala et al. (1994), Ang et al.
(1999) serta penelitian yang dilakukan oleh Demsetz dan Lehn (1989)
menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh pada kos keagenan.
Penelitian Widanaputra dan Ratnadi (2006), menyimpulkan bahwa kos keagenan
(agency cost) pada perusahaan yang dikelola oleh manajer pemilik lebih kecil
dibandingkan dengan perusahaan yang dikelola oleh manajer non pemilik. Crutchley
dan Hensen (1989) meneliti penerapan teori keagenan dalam menjelaskan
pengaruh kepemilikan manajerial, leverage, dan kebijakan dividen pada
peningkatan utilitas manajemen. Hasil dari penelitian Crutchley dan Hensen
(1989) adalah mendukung teori keagenan tentang bagaimana para manajer
memaksimalkan utilitas melalui kepemilikan saham, tingkat leverage, dan
pembayaran dividen. Bathala et al. (1994) menyimpulkan bahwa kepemilikan
manajerial yang lebih tinggi dapat digunakan untuk mengurangi masalah
keagenan. Schooley et al. (1994) meneliti tentang kebijakan dividen dan
kepemilikan saham sebagai alat untuk menurunkan kos keagenan. Penelitian Ang
et al. (1999) memberikan bukti terhadap hubungan antara struktur kepemilikan
51
dengan biaya keagenan yang diukur dari pemanfaatan aktiva dan beban operasi.
Mereka
melakukan
survei
pada
perusahaan-perusahaan
kecil
dengan
menghubungkan ukuran absolut dan relatif dari biaya keagenan. Hasilnya
menyatakan bahwa biaya keagenan pada perusahaan dengan manajemen yang
berasal dari luar (outsider) relatif lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan
manajemen sendiri (owner managed). Penelitian mereka juga menunjukkan
bahwa efisiensi pemanfaatan aktiva dan beban operasi pada perusahaan kecil
dipengaruhi oleh kepemilikan manajerial dalam perusahaan. Penelitian Singh et
al. (2003) menganalisis hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya
keagenan pada perusahaan-perusahaan besar yang sudah go public. Hasil
penelitian Singh et al. mendukung penelitian Ang et al. yang menyatakan bahwa
semakin
tinggi
kepemilikan
manajerial
secara
positif
dan
signifikan
mempengaruhi efisiensi pemanfaatan aktiva perusahaan. Demsetz dan Lehn
(1985) menyimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan digunakan perusahaan
untuk menghilangkan masalah keagenan.
Penelitian ini tidak mendukung temuan Faisal (2005) yang menemukan
bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap biaya
keagenan (agency costs). Faisal (2005) menyatakan bahwa terdapat hubungan
yang negatif antara kepemilikan manajerial dengan biaya keagenan (agency
costs). Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan kepemilikan manajerial dengan
biaya keagenan (agency costs) gagal sebagai mekanisme untuk meningkatkan
nilai perusahaan. Kesimpulan lain yang didapat melalui penelitian Faisal yaitu
semakin tinggi kepemilikan manajerial justru meningkatkan diskresi manajerial.
52
Faisal (2005) menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial
semakin tinggi biaya keagenan (agency costs) yang diukur dengan beban operasi.
6.2 Pengaruh Kepemilikan Institusional Pada Kos Keagenan
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak
berpengaruh pada kos keagenan. Hasil ini tidak mendukung hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini. Hasil ini mendukung temuan Crutchley et al.
(1999). Crutchley menyatakan bahwa kepemilikan oleh institusional juga dapat
menurunkan biaya keagenan (agency costs), karena dengan adanya monitoring
yang efektif oleh pihak institusional menyebabkan penggunaan utang menurun.
Hal ini karena peranan utang sebagai salah satu alat monitoring sudah diambil alih
oleh kepemilikan institusional. Dengan demikian kepemilikan institusional dapat
mengurangi agency cost of debt.
Moh’d et al. (1998) menyatakan bahwa distribusi saham antara pemegang
saham dari luar yaitu investor institusional dan shareholders dispersion dapat
mengurangi biaya keagenan (agency costs). Adanya kepemilikan institusional
seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan oleh
institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal
terhadap kinerja manajemen.
Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005) diperoleh hasil yang
berbeda. Faisal (2005) menyatakan bahwa hubungan antara kepemilikan
institusional dengan biaya keagenan (agency costs) adalah negatif. Masih
berdasarkan hasil penelitian Faisal (2005) bahwa hal ini mengindikasikan
53
kepemilikan institusional belum efektif sebagai alat memonitor manajemen dalam
meningkatkan nilai perusahaan.
6.3 Pengaruh Kebijakan Dividen Pada Kos Keagenan
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak
berpengaruh pada kos keagenan. Hasil ini mendukung penelitian Widanaputra dan
Ratnadi (2006), yang menyatakan bahwa Kebijakan Deviden tidak berpengaruh
secara statistik pada kos keagenan (agency cost) dengan tingkat keyakinan 95%.
Hasil ini bertentangan dengan hasil penelitian Schooley et al. (1994) dan
Faizal (2004). Schooley et al. (1994) yang menyatakan kebijakan dividen
berpengaruh negatif dengan kos keagenan. Perbedaan hasil ini mungkin
disebabkan pada sampel perusahaan yang diteliti sedang mengalami pertumbuhan
sehingga diperlukan banyak dana untuk membiayai investasi. Megginson (1997)
dalam Zaenal Arifin (2005:104) menjelaskan bahwa faktor pembayaran dividen
sangat ditentukan salah satunya dari kebutuhan dana investasi. Dalam hal ini
pemegang saham tidak terlalu mempermasalahkan besarnya pembagian dividen
karena pemegang saham beranggapan dana yang mereka tanamkan memang
benar-benar digunakan untuk investasi. Dapat disimpulkan bahwa kebijakan
dividen belum dapat menjelaskan adanya masalah agensi pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
6.4 Pengaruh Leverage Pada Kos Keagenan
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh
pada kos keagenan (agency cost) dengan nilai signifikansi sebesar 0.058. Hasil ini
tidak mendukung hasil penelitian Faizal (2004)
yang menyatakan leverage
54
berpengaruh negatif terhadap kos keagenan (agency cost). Hasil ini juga tidak
dapat membuktikan teori dari Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan
bahwa dengan pengurangan free cash flow melalui peningkatan utang dapat
mengurangi masalah keagenan antara pemegang saham dengan manajemen.
Dengan jumlah dana yang “menganggur” semakin kecil maka akan mengurangi
pengawasan terhadap dana tersebut. Alasan lain dari penurunan kos keagenan
dikarenakan pengawasan terhadap manajemen semakin berkurang karena pihak
ketiga (debtholder) akan ikut mengawasi manajemen atas dana yang dipinjamkan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh pada kos
keagenan mungkin disebabkan oleh pengawasan dari debtholder tidak cukup
efektif. Hal ini menyebabkan keberadaan leverage dalam perusahaan tidak secara
efektif mampu menurunkan kos keagenan (agency cost).
55
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan, landasan teori, hipotesis, dan hasil
pengujian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Kepemilikan manajerial berpengaruh pada kos keagenan (agency cost).
Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial maka
akan membantu penyatuan kepentingan antara manajer dengan pemegang
saham sehingga manajer dapat merasakan langsung manfaat dari
keputusan yang diambil dan juga ikut menanggung kerugian yang timbul
akibat konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah.
2) Kepemilikan institusional tidak berpengaruh pada kos keagenan (agency
cost). Hal ini menunjukan bahwa pengawasan dari pemegang saham
institusi tidak secara efektif mampu mengurangi kos keagenan. Perusahaan
masih mengeluarkan biaya untuk melakukan pengawasan secara internal
sehingga kos keagenan yang dikeluarkan masih tinggi.
3) Kebijakan dividen tidak berpengaruh pada kos keagenan (agency cost).
Hal ini menunjukan bahwa pada sampel perusahaan yg diteliti besaran
dividen yg dibagikan relatif fluktuatif & cenderung kecil. Disamping itu
keputusan pembagian dividen lebih ditentukan oleh pemegang saham
mayoritas karena umumnya karakteristik struktur kepemilikan saham di
Indonesia terkonsentrasi dimana kepemilikan perusahaan terbagi menjadi
dua kelompok, yaitu controlling dan minority shareholders yang dapat
56
saja
menimbulkan
terjadinya
ketidakselarasan
kepentingan
yang
disebabkan oleh keputusan-keputusan yang diambil pemegang saham
mayoritas dapat merugikan kepentingan pemegang saham minoritas. Hal
ini bisa menimbulkan ketidakpuasan bagi pemegang saham minoritas
sehingga pengawasan masih secara intensif harus dilakukan. Dapat
disimpulkan bahwa kebijakan dividen belum dapat menjelaskan adanya
masalah agensi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
4) Leverage tidak berpengaruh pada kos keagenan (agency cost). Hal ini
menunjukan bahwa pengawasan prinsipal terhadap manajemen tidak
berkurang walaupun pihak ketiga (debtholder) akan ikut mengawasi
manajemen atas dana yang dipinjamkan, hal ini berarti secara konsisten
pihak prinsipal akan tetap mengawasi manajemen walaupun ada pihak
ketiga yang mengawasinya sehingga biaya yang ditimbulkan akibat
pengawasan yang dilakukan oleh prinsipal tidak dipengaruhi oleh adanya
pengawasan dari pihak ketiga.
7.2 Keterbatasan dan Saran
Penelitian ini memiliki keterbatasan sebagai berikut.
1) Penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2004 sampai 2008 dan
membagikan dividen selama tahun pengamatan. Penelitian selanjutnya
disarankan memperpanjang periode waktu yang diteliti.
57
2) Penelitian ini hanya memasukkan perusahaan yang membagikan dividen
selama tahun pengamatan. Hal ini dikarenakan untuk memperoleh
jumlah sampel yang mencukupi. Apabila sampelnya mencukupi
penelitian
selanjutnya
dapat
menggunakan
perusahaan
yang
membagikan dividen berturut-turut selama tahun pengamatan. Penelitian
ini hanya memasukkan perusahaan yang mempunyai kepemilikan
manajerial serta kepemilikan institusional. Penelitian selanjutnya dapat
menambahkan variabel komite audit sebagai bagian dari penerapan
Good Corporate Governance (GCG) yang mungkin berpengaruh
terhadap kos keagenan.
Download