kecerdasan spiritual pada perwira tinggi tni yang akan menghadapi

advertisement
KECERDASAN SPIRITUAL PADA PERWIRA TINGGI TNI YANG AKAN MENGHADAPI
PENSIUN
BUDI WAHYU SATRIA
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ABSTRAKSI
Masa pensiun bagi sebagian individu merupakan hal ditakuti dikarenakan akan
berkurangnya berbagai segi kemampuan yang biasa dimiliki, dalam hal ini Monk dkk,(2002),
mengatakan suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaan fisik
pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa awal. Selama orang melewati
setiap tahapan perkembangannya dari mulai bayi hingga dewasa akan selalu terjadi perubahanperubahan pada cara berfikir mereka dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi, hal ini
menyangkut pula bagaimana inidividu mengatasi masalahnya dalam hal memasuki masa
pensiunnya, salah satu diantaranya adalah memperkuat kecerdasan spiritual individu itu sendiri.
Penelitian ini menggunakan wawancara bersifat terbuka dan terstuktur, dalam
penelitian ini peneliti juga mengunakan observasi berstruktur dan non-partisipan. Subjek dalam
penelitian ini adalah seorang PATI TNI AL yang berusia 55 tahun dan akan memasuki masa
pensiun serta berada dalam tahapan perkembangan yakni periode dewasa madya (Middle
Adulthood/Middle Age). Periode ini berkisar antara usia 40-60 tahun (Riyanti, Prabowa &
Puspitawati, 1996). Dalam usia 55-60 tahun inilah seseorang biasanya akan memasuki masa
pensiun. Monk dkk,(2002), mengatakan suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang
mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa
awal. Selama orang melewati setiap tahapan perkembangannya dari mulai bayi hingga dewasa
akan selalu terjadi perubahan-perubahan pada cara berfikir mereka dalam mengatasi masalah
yang mereka hadapi, hal ini menyangkut pula bagaimana inidividu mengatasi masalahnya dalam
hal memasuki masa pensiunnya, salah satu diantaranya adalah memperkuat kecerdasan spiritual
individu itu sendiri, Danah Zohar dan Ian Marshall (dalam Agustian,2003) mendefinisikan
kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu
kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas
dan kaya. Yaitu kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna di bandingkan dengan yang lain.
Hasil penelitian ini antara lain berhubungan dengan perubahan-perubahan saat akan
memasuki pensiun, gambaran kecerdasan spiritual, faktor faktor yang mempengaruhi dan
proses perkembangan spiritualnya. Subjek juga memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi meski
telah memasuki masa pensiun yaitu dari sikap ramah tamah, kedekatan, keingintahuan,
kreatifitas, konstruksi, penguasaan diri, dan religinya. Karena subjek memiliki minat untuk
bersosialisasi membuat subjek menjadi orang yang tetap mampu membuka diri dan beradaptasi
untuk lingkungan baru termasuk orang-orangnya dan aktivitasnya. Selain itu dihasilkan pula
faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual yaitu subjek sejak dulu memang selalu
ingin melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupannya, dan ini tidak berubah meskipun subjek
sekarang telah pensiun. Ini disebabkan oleh kedekatannya dengan Allah SWT.
Kata Kunci
: Kecerdasan Spiritual, Pensiun.
PENDAHULUAN
Karir dalam kehidupan manusia merupakan salah satu tujuan dalam hidup yang harus di
gapai bagi sebagian orang guna memenuhi segala harapan-harapan yang ingin di gapai guna
memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri yang layak atau ideal, oleh karena itu tidak
sedikit manusia yang rela menghabiskan seluruh waktunya guna mencapai tingkatan tertinggi
dalam dunia karir atau pekerjaannya, hal seperti ini sudah tidak asing lagi kita temui di
keseharian hidup kita apalagi di Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia dimana roda
perekonomiannya sangat cepat dalam perputarannya.
Berbicara tentang karir tidak akan luput dari yang namanya istilah pensiun juga, Hal ini
dikarenakan manusia memiliki masa dimana manusia itu sudah dianggap tidak terlalu mampu
untuk lebih berproduktif lagi di dalam dunia pekerjaannya, sehingga masa pensiun pun akan
menjumpai setiap manusia yang berkerja baik di instansi sipil, perusahaan swasta atau di dinas
pemerintahan.
Masa pensiun di dunia ini berbeda-beda waktunya, sedang di Indonesia umumnya masa
pensiun jatuhnya diantara usia 55 hingga 60 tahun, namun semua itu tergantung dari instansi
yang menaunginya masih tetap membutuhkan individu yang bersangkutan atau tidaknya.
Salah satu dinas pemerintahan yang ada di Negara Indonesia adalah TNI (Tentara
Nasional Indonesia). TNI merupakan salah satu lembaga pemerintahan yang bergerak di bidang
pertahanan Negara dimana fungsinya menjaga stabilitas keamanan Negara dari gangguangangguan yang dirasa dapat membahayakan kesatuan Negara Indonesia pada khususnya.
Vieira dkk, (1990), mengatakan bahwa angkatan bersenjata sendiri mengorganisasikan
program pelatihan yang berbeda untuk menyiapkan dan melatih para anggotanya yang akan
segera pensiun. Para anggota yang menjalankan kewajiban pekerjaan untuk menempatkan
personel dalam posisi yang cocok sesudah para anggota pensiun.
Usia pensiun seseorang yang dalam masalah pekerjaannya akan memasuki masa
pensiun, berada dalam tahapan perkembangan yakni, periode dewasa madya (Middle
Adulthood/Middle Age). Periode ini berkisar antara usia 40-60 tahun (Riyanti, Prabowa &
Puspitawati, 1996). Dalam usia 55-60 tahun inilah seseorang biasanya akan memasuki masa
pensiun.
Pensiun adalah seorang yang sudah tidak bekerja lagi karena usianya sudah lanjut dan
harus diberhentikan (wikipedia, 2007). Seseorang dimana yang setiap harinya mengerjakan
suatu pekerjaan suatu saat akan memasuki masa istirahat, dimana tidak lagi melakukan aktivitas
pekerjaan yang biasanya dilakukan. Kualitas kerja, ketrampilan kerja, kekuatan dan kecepatan
mereka berkurang dan mundur sejalan dengan usia.
Pada saat masa pensiun itu benar-benar tiba, bagaimanapun juga masa itu nampak
kurang diinginkan dari masa sebelumnya. Orang usia madya merasa bahwa tunjangan pensiun
mereka tidak mencukupi untuk memungkinkan mereka hidup sesuai dengan rencana dan
harapan mereka (Hurlock, 1997). Hal tersebut juga memungkinkan berpengaruh pada para
anggota TNI yang akan memasuki masa pensiun. Selain merasa bahwa tunjangan pesiun
mereka tidak mencukupi hal lain yang membuat anggota TNI memungkinkan mengalami hal baru
yang dianggap tidak nyaman dalam kesehariannya yang menyangkut status kewibawaan jabatan
yang biasa ditemui dalam dunia pekerjaannya kini tidak ditemui lagi, hal ini dikarenakan
pengaruh hirarki dalam tubuh TNI sangat kuat.
Sesorang yang menjadi seorang anggota TNI harus menjalani banyak tugas-tugas yang
harus diembannnya guna mencapai jabatan yang lebih tinggi, semakin tinggi jabatan yang
diembannya maka semakin besar pula pengaruh jabatan yang dimiliki seorang anggota TNI
tersebut dan semakin kuat pula pengaruh hirarki yang dimilikinya terhadap bawahannya sesama
anggota TNI atau sipil.
Monk dkk,(2002), mengatakan suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang
mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa
awal. Selama orang melewati setiap tahapan perkembangannya dari mulai bayi hingga dewasa
akan selalu terjadi perubahan-perubahan pada cara berfikir mereka dalam mengatasi masalah
yang mereka hadapi, hal ini menyangkut pula bagaimana inidividu mengatasi masalahnya dalam
hal memasuki masa pensiunnya, salah satu diantaranya adalah memperkuat kecerdasan spiritual
individu itu sendiri, Danah Zohar dan Ian Marshall (dalam Agustian,2003) mendefinisikan
kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu
kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas
dan kaya. Yaitu kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna di bandingkan dengan yang lain.
Dalam Sukidi, (2004) kecerdasan spritual (SQ) mengambil tempat diseputar jiwa, hati
(yang merupakan wilayah spirit), yang karenanya dikenal sebagai the soul s intelligence.
Kecerdasan jiwa, hati yang menjadi hakikat sejati kecerdasan spiritual.
Kuatnya pengaruh hirarki dalam tubuh TNI yang berkaitan dalam hal jabatan dan
pengalaman tugas-tugas yang dijalani yang menyangkut tahapan-tahapan jabatan yang di
embannya memungkinkan akan mempengaruhi masa dimana anggota TNI tersebut akan
memasuki masa pensiunnya apalagi jika anggota TNI tersebut telah mencapai jabatan yang
semakin tinggi atau telah mencapai jabatan menjadi seorang Perwira Tinggi (PATI) TNI dimana
pada saat-saat memasuki masa pensiun tersebut mulai perlahan pengaruh-pengaruh yang kuat
tadi tersebut akan mulai berkurang sehubungan dengan akan hilangnya segala atribut TNI yang
dimiliki semasa jaya di dalam tubuh TNI itu sendiri.
Hal yang dapat memungkinkan untuk mensinambungkan antara tuntutan dunia dan
tuntutan akhirat seorang, sehingga individu tersebut memungkinkan tidak banyak mengalami
suatu masalah yang berarti dalam hal memamsuki masa dimana dirinya sudah tidak terlalu
dianggap produktif di dalam dunia pekerjaannya yang dikarenakan individu tersebut telah
memiliki pandangan yang jelas tentang apa yang akan di hadapi dan dapat memaknai dari
kenyataan yang harus diterimanya berkaitan dengan kecerdasan spiritual seseorang dimana
kecerdasan spiritual seorang akan mempengaruhi segala hal yang menyangkut keduniaan
menjadi sesuatu yang menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas
dan kaya dan hidup seseorang akan menjadi lebih bermakna dibandingkan sesuatu yang lainnya.
Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti ingin mengetahui perubahan-perubahan yang
terjadi pada PATI TNI yang akan menhghadapi pensiun, gambaran kecerdasan spiritual, faktorfaktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual dan proses perkembangan kecerdasan spiritual
pada perwira tinggi TNI yang akan pensiun.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kecerdasan Spiritual
1. Pengertian Kecerdasan Spiritual
Menurut Zohar dan Marshall (2001), kecerdasan spiritual adalah kemampuan yang
bertumpu pada bagian dalam diri yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa
sadar. Inilah kecerdasan yang individu gunakan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai
yang ada, melainkan juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
Menurut Abdullah (2004), bahwa kondisi spiritual seseorang itu dipengaruhi terhadap
kemudahan dia dalam menjalani kehidupan. Jika spiritualnya baik, maka ia menjadi orang
yang paling cerdas dalam kehidupan. Untuk itu yang terbaik bagi kita adalah memperbaiki
hubungan kita kepada Allah, yaitu menguatkan sandaran vertical kita dengan cara
memperbesar takwa dan menyempurnakan tawakal serta memurnikan pengabdian kita
kepada-Nya.
Sementara Khavari (2000), menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah fakultas dari
dimensi non material kita-ruh manusia. Inilah intan yang belum terasah yang semua manusia
memilikinya. Individu harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosok sehingga berkilap
dengan tekad yang besar dan kecerdasan lainnya (kecerdasan intelegensi & kecerdasan
emosi), kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan diturunkan. Akan tetapi, kemampuannya
untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas.
Dengan nada yang sama Zuhri (dalam Nggermanto, 2001) memberikan definisi
kecerdasan spiritual yang menarik. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia yang
digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Potensi kecerdasan spiritual setiap orang
sangat besar, dan tidak dibatasi oleh faktor keturunan, lingkungan, atau materi lainnya.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual
adalah suatu bentuk dimensi non material dan merupakan kemampuan untuk
mengkonfigurasi kehidupan walaupun elemennya baru yang yang dapat menghasilkan karya
kreatif dalam berbagai bidang kehidupan dan merupakan kemampuan manusia yang
digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan.
2. Aspek Kecerdasan Spiritual
Menurut Zohar dan Marshall (2001) kecerdasan spiritual mengandung beberapa aspek
yang merupakan cirri dari kecerdasan spiritual yang tinggi, yaitu : sikap ramah-tamah,
kedekatan, keingintahuan, kreatifitas, konstruksi, penguasaan diri, dan religius.
a. Sikap ramah-tamah, yaitu adanya minat bersosialisasi, menyesuaikan diri dengan
kelompok, dan menikmati berbagai aktifitas kelompok.
b. Kedekatan yaitu kebutuhan untuk memberikan cinta atau merasa dicintai.
c. Keingintahuan, yaitu dorongan untuk menyelidik, tertarik dengan berbagai hal.
d. Kreatifitas, yaitu membuat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
e. Konstruksi, yaitu memiliki perasaan batiniah yang kaya, menekankan pada kontrol
diri, harga diri.
f. Penegasan diri yaitu berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat dan untuk
kepentingan transpersonal.
g. Religius, yaitu berkaitan dengan penemuan makna dan nilai dalam segala aktifitas.
B.
Pensiun
1. Pengertian Pensiun
Menurut Aiken (dalam Afiatry, 2003) pensiun adalah proses yang menyebabkan
penarikan dari pekerjaan dan menerima pemunduran dari tugas atau peran.
Dwidjosoesastro (dalam Afiatry, 2003) berpendapat bahwa pensiun adalah
pemberhentian yang dilakukan oleh pejabat yang berwenang kepada pegawai
dilingkungannya, karena sudah mencapai usia lanjut sehingga tidak lagi mampu bekerja
dengan sempurna.
Menurut Turner & Helms (1983) pensiun adalah suatu tahap kehidupan dengan
tuntutan perilaku sendiri yang mana membutuhkan suatu aspek kesepian mental dalam
menghadapi perubahan sosial dan ekonomi berupa pendapatan yang jauh berkurang bila
dibandingkan semasa masih bekerja atau sebagai pejabat, serta membutuhkan penerimaan
diri yang baik, bahwa masa ini benar-benar datang dari mereka yang bekerja sehingga tidak
menimbulkan depresi dan frustasi serta stress pada diri individu.
Maka dapat disimpulkan pula, pensiun adalah proses penarikan atau pemberhentian
dari pekerjaan dan menerima pemunduran dari tugas atau peran yang dikarenakan sudah
mencapai usia lanjut sehingga tidak lagi mampu bekerja dengan sempurna yang dilakukan
oleh pejabat kepada pegawai dilingkungannya.
2. Tipe KepribadianTerhadap Menjelang Masa Pensiun.
Menurut Reichard, Livson, dan Peterson (dalam Widyastomo, 1987) mengemukakan
adanya lima tipe kepribadian sehubungan dengan adanya masa pensiun ini, yaitu:
a. Orang yang matang (Mature Men).
Mereka menerima dan menikmati masa tua sebaik mungkin, merasa hidupnya
menguntung. Dalam masa persiapan pensiun, mereka mampu mendapatkan kepuasan
dalam hubungan personal dan dalam aktivitas sehari-hari yang dilakukan.
b. Orang yang bersikap pasif (Rocking-Chair Men).
Mereka menerima masa persiapan pensiun sebagai masa untuk bersantai dan tidak
melakukan aktivitas kerja lagi. Individu memandang masa tua sebagai kesempatan untuk
bebas dari tanggung jawab dan menyalurkan kebutuhan-kebutuhan pasif mereka.
c. Orang yang mempunyai defence kuat (The Armored Men).
Mereka menekan kecemasan karena datangnya masa tua dan dapat menyesuaikan diri
dengan baik terhadap masa pensiun dengan cara mempertahankan aktivitas yang tinggi.
Mereka mempunyai sistem pertahanan yang kuat berfungsi dengan baik untuk menekan
perasaan cemas karena datangnya masa tua.
d. Orang yang kecewa (The Angry Men).
Mereka tidak mampu untuk menerima dirinya yang beranjak tua. Perasaannya
didominasi oleh dendam karena gagal untuk mencapai tujuan atau kesuksesan hidup
dalam masa tua ini dan biasanya mereka menyalahkan orang lain atas kegagalannya ini.
e. Orang yang membenci dirinya sendiri (The Self Haters).
Mereka juga menyesali kegagalan dan kekecewaan sebagaimana tipe kepribadian The
Angry Men , tetapi mereka menyalahkan diri sendiri atas kegagalan itu. Ciri-ciri yang
biasa tampil pada tipe kepribadian ini adalah depresi yang disertai oleh parasaan
inadekuat dan ketidak-berartian.
C. Perwira Tinggi TNI
1. Pengertian Perwira Tinggi TNI
Menurut Poerwadarminta (1987) Perwira anggota tentara yang berpangkat di atas
bintara, atau pangkat ketentaraan yang di atas bintara dimana perwira tinggi merupakan
tingkatan ketentaraan yang tinggi kedudukannya (jendral, letnan jendral, mayor jendral).
Menurut Poerwadarminta (1987) TNI merupakan pasukan dari pada orang-orang yang
berperang atau kesatuan alat Negara yang terlatih untuk berperang.
Maka dapat disimpulkan pula, Perwira Tinggi TNI adalah orang-orang yang merupakan alat
kesatuan Negara yang terlatih yang berpangkat di atas bintara perwira tinggi dan merupakan
tingkatan ketentaraan yang tinggi kedudukannya.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yag berbentuk
studi kasus dengan menggunakan triangulasi data, pengamat, teori dan metode. Subjek dalam
penelitian ini berjumlah satu orang Perwira Tinggi TNI.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
dengan pedoman umum dan observasi non participant.
HASIL DAN ANALISIS
A. Gambaran dan hasil analisis kasus
Hasil Wawancara
a. Subjek
1) Pelaksanaan Wawancara
a). Wawancara ke-1
Hari / Tanggal
: Sabtu, 30 Juli 2007
Waktu
: 11.13 13.20 WIB
Tempat
: Rumah Jabatan Subjek
Aspek Gambaran Kecerdasan Spiritual
1. Sikap Ramah Tamah
a. Adanya Minat Bersosialisasi
Dengan pensiun, ternyata tidak merubah minat subjek untuk
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Subjek menyadari sepenuhnya
bahwa dirinya adalah manusia yang memang membutuhkan
bersosialisasi dengan dasar alasan bahwa kodrat manusia dari Tuhan
YME adalah makhluk sosial .
Jelas punya. Kita kan manusia, makhluk sosial sesuai dengan
kodarat dari ALLAH SWT. Ya pasti ingin dong yang namanya
bersosialisasi. Kalau manusia sudah tidak punya minat untuk
bersosialisasi, nah itu sesuatu yang perlu dikhawatirkan .
b. Dapat Menyesuaikan Diri dengan Kelompok
Subjek meskipun memiliki komunitas baru, tapi subjek ternyata dapat
beradaptasi dengan cukup mudah dan cepat. Faktor yang menyebabkan
subjek mudah beradaptasi dengan orang-orangnya, lingkungannya,
maupun aktivitasnya mungkin karena komunitas baru yang dipilihnyapun
disesuaikan dengan kondisi diri subjek, ini merupakan keyakinan subjek
dari apa yang Tuhan berikan kepada subjek.
Sekali lagi saya tegaskan, komunitas saya yang sekarang adalah
komunitas yang sesuai dengan kondisi diri yang ALLAH SWT berikan
kepada saya sekarang. Jadi baik orang-orangnya, lingkungannya,
maupun aktivitasnya, semuanya dapat saya ikuti dengan baik
c. Dapat Menikmati berbagai Aktifitas Kelompok
Subjek untuk dapat menikmati berbagai aktifitas kelompok,
diperlukan sikap dapat menerima rahmat dan karunia Allah yang maha
pemurah, sehingga apa yang di berikan Allah akan diterima dengan rasa
mensyukuri.
..Demikian pula dalam berbagai aktifitas berupa kegiatan individu
maupun kelompok, harus didasari dengan mensyukuri nikmat yang di
berikan oleh yang maha kuasa, karena apabila hal itu tidak dihayati,
niscaya apapun rizqi yang didapat dan diberikan Allah tidak akan dapat
dinikmati .
b). Significant Other
1) Pelaksanaan wawancara
a)
Wawancara ke 1
Hari / Tanggal
Waktu
Tempat
2) Hasil Wawancara
: Senin / 6 Agustus 2007
: 18.30 20.00 WIB
: Rumah Significant Other
Aspek Gambaran Kecerdasan Spiritual
1. Sikap Ramah Tamah
a. Adanya Minat Bersosialisasi
F melihat bahwa dengan adanya pensiun, ternyata tidak merubah
minat subjek untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Subjek
menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah manusia yang memang
membutuhkan bersosialisasi.
Yaa bapak memang selalu menjaga sikap ramah tamahnya dengan
siapapun
selagi
masih
saling
hormat
menghormatidalam
bersosialisasinya .
b. Dapat Menyesuaikan Diri dengan Kelompok
Subjek meskipun memiliki komunitas baru, tapi subjek ternyata dapat
beradaptasi dengan cukup mudah dan cepat.hal itulah yang F lihat,
Faktor yang menyebabkan subjek mudah beradaptasi dengan orangorangnya, lingkungannya, maupun aktivitasnya mungkin karena
komunitas baru yang dipilihnya pun disesuaikan dengan kondisi diri
subjek.
Yaa bapak memang sangat mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, ya mungkin karena bapak tidak suka pilah-pilih orang .
c. Dapat Menikmati berbagai Aktifitas Kelompok
F Mengatakan bahwa Subjek sudah sangat siap dalam masa
pensiunnya salah satunya hal yang diperlukan adalah sikap dapat
menerima rahmat dan karunia Allah yang maha pemurah, sehingga apa
yang di berikan Allah akan diterima dengan rasa mensyukuri.
Bapak dalam menikmati aktifitas dalam kelompoknya adalah
dengan jalan selalu mensyukuri dengan apa yang ada dan apa yang
dimiliki bapak .
B. Pembahasan
Perubahan dalam Menghadapi Masa Persiapan Pensiun
Berdasarkan data yang diperoleh maka bahwa subjek merasakan perubahan
baik aktivitas maupun fasilitas. Berubah dari penuh kegiatan menjadi tidak berkegiatan,
termasuk ditariknya fasilitas yang selama ini diberikan kepada subjek., Maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat kecocokan antara data yang diperoleh dari subjek dengan
teori yang dikemukan oleh Turner dan Helms (dalam Widyastomo, 1987) yang
mengatakan bahwa ada 5 perubahan yang terjadi pada karyawan dalam menghadapi
masa persiapan pensiun, yaitu:
a. Berkurangnya sumber-sumber keuangan (loss finance).
Berkurangnya sumber keuangan ini merupakan dampak langsung dari tidak
bekerjanya seseorang. Sebagai contoh, di Indonesia berdasarkan UU No.11 tahun 1969,
besarnya uang pensiun maksimum adalah 75 % dari gaji pokok yang terakhir
diterimanya. Bagi sejumlah orang, bisa berakibat pada berubahnya pola hidup atau gaya
hidup individu maupun keluarganya. Disini masalahnya apakah individu sudah
mempersiapkan aktivitas atau usaha tertentu yang dapat mengkompesir kekurangan
tersebut atau harus ada perubahan dalam gaya hidup agar pendapat saat ini bisa sesuai.
Hal ini dapat dilihat dari data subjek yaitu yang mana subjek mengatakan bahwa terjadi
perubahan dalam hal keuangan namun tetap mensyukuri kepada Tuhan YME.
b. Berkurangnya harga diri (loss of self esteem).
Penelitian menunjukkan bahwa pada individu yang masih bekerja memiliki derajat
esteem yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang pensiun (Keith,
Dobson, Goudy & Powers, dalam Wiyastomo, 1987). Hal-hal yang terpengaruh bila
terjadi penurunan harga diri adalah:
1). Rasa ketergolongan (feeling of belonging) yaitu perasaan diterima, diakui dan
dihargai oleh kelompoknya (keluarga, masyarakat, pekerjaan).
2). Rasa keberdayaan (feeling of competence). Setelah pensiun, mungkin individu
mengalami perasaan tidak mampu atau berdaya terhadap tugas-tugas yang biasa
dilakukan sebelumnya.
3). Rasa kebergunaan diri (feeling of worthwhile). Perasaan ini berpengaruh dalam
menggambarkan keadaan diri sebagai bermakna atau tidak dalam keseluruhan
kehidupannya. Perasaan ini dipengaruhi oleh penerimaan dan penghargaan orang
lain terhadap diri dan bagaimana individu memandang dirinya sendiri.
Mengenai berkurangnya harga diri pada diri subjek dapat dilihat dari data yang
didapat dari subjek yaitu kehilangan tugas yang berarti dirasa wajar dikarnakan
berkurangnya rutinitas tugas dan penghargan yang pernah ada dengan cara
mengikhlaskan hanya kepada Tuhan YME, dan Significant other juga mengatakan
hal serupa yaitu perubahan dalam hal dihargai hanya merupakan efek dari apa yang
status yang pernah dimiliki.
c. Berkurangnya kontak sosial yang berorientasi pada pekerjaan (loss of work-oriented
social contact).
Hubungan dengan teman sejawat maupun bawahan biasanya berkurang karena saat
ini individu bukan lagi pejabat dilingkungan pekerjaan tersebut. Padahal mungkin sekali
bahwa individu tersebut mendapat keuntungan atau penghargaan dari lingkungan
pekerjaan atas dasar kedudukkannya terdahulu. Hal ini nampak dari banyaknya
pensiunan yang mencari aktivitas baru pada lingkungan baru, mengenai rasa
berkurangnya kontak sosial yang berorientasi pada pekerjaan dapat dilihat dari data yang
diperoleh dari subjek yaitu tidak ada rasa untuk menutup diri baik dari subjek maupun
keluarga,karena bahwa semua sudah diatur oleh Tuhan sehingga menjadi ikhlas dengan
semua yang terjadi dan mempertimbangkan dengan dasar ridho dari Tuhan YME.
Kehilangan tugas yang berarti (loss of meaningfull task)
Pekerjaan yang dilakukan dahulu mungkin merupakan pekerjaan yang menimbulkan
kepuasan dan keberartian diri. Dengan memasuki masa pensiun, segala atribut mesti
ditanggalkan, begitu pula dengan pekerjaan yang menimbulkan kepuasaan tersebut.
Gejala ini jelas terlihat pada individu yang sangat terlibat dan dalam posisi manajerial,
sedangkan bagi pekerjaan rutin dan membosankan, perasaan ini mungkin tidak terlalu
dirasakan. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu subjek
merasakan kehilangan tugas yang berarti dirasa wajar dikarnakan berkurangnya rutinitas
tugas dan penghargan yang pernah ada dengan cara mengikhlaskan hanya kepada
Tuhan YME.
e. Kehilangan kelompok referensi (loss of reference group)
Individu terkadang mengidentifikasikan diri dengan kelompok sosial yang
dibanggakannya atau yang berarti bagi dirinya, misal kelompok bisnis atau profesi.
Kelompok ini bisa menjadi sumber bagi evaluasi diri serta menggali nilai dan tujuan.
Mengenai hal kehilangan kelompok referensi dapat dilihat dari data yang diperoleh dari
subjek rasa kehilangan dari pengakuan lingkungan yang dibanggakan memang semakin
menghilang namun tetap dapat menjaga komunikasi dengan lingkungan yang baru
dengan cara mengikhlaskan semua dan meyakini bahwa semua sudah diatur oleh
Tuhan, begitu juga significant others mengatakan hal serupa yaitu significant others
melihat bahwa subjek merasakan kehilangan dari kelompok sosial
yang
dibanggakannya dikarenakan akan pensiun dan subjek juga tetap menjaga komunikasi
dengan lingkungan yang barunya.
2. Kecerdasan Spiritual
Berdasarkan data yang diperoleh dari subjek maka subjek memilki kecerdasan
spiritual yang tinggi, hal ini sesuai dengan teori yang tersebut dikemukakan oleh Zohar
dan Marshall (2001) bahwa kecerdasan spiritual mengandung beberapa aspek yang
merupakan ciri dari kecerdasan spiritual yang tinggi, yaitu : sikap ramah-tamah,
kedekatan, keingintahuan, kreatifitas, konstruksi, penguasaan diri, dan religius.
h. Sikap ramah-tamah, yaitu adanya minat bersosialisasi, menyesuaikan diri dengan
kelompok, dan menikmati berbagai aktifitas kelompok. Hal ini dapat dilihat dari data
yang diperoleh dari subjek yaitu subjek merasa masih berminat untuk bersosialisasi
dengan komunitas atau kelompok yang baru atasa dasar keyakinan bahwa kodrat
manusia yang diberikan ALLAH SWT adalah makhluk sosial kemudian significant
others juga mengatakan serupa yaitu subjek selalu berusaha untuk mencari
komunitas yang baru.
i. Kedekatan yaitu kebutuhan untuk memberikan cinta atau merasa dicintai. Hal ini
dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu subjek pada masa pensiun
membuat subjek memiliki banyak waktu untuk berbagi untuk keluarga yang tadinya
tidak ada, ini merupakan rasa tanggung jawab dan rasa syukurnya kepada Tuhan
YME. Keingintahuan, yaitu dorongan untuk menyelidik, tertarik dengan berbagai
hal.Hai ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu subjek tetap tertarik
pada hal-hal baru di lingkungan sekitar subjek kemudian significant others juga
mengatakan hal serupa yaitu subjek memang tertarik pada hal-hal baru.
j. Kreatifitas, yaitu membuat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.Hal ini dapat
dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu Subjek hanya mampu menghasilkan
ide dan benda baru karena terbatasnya kemampuan, namun tetap berkreatif dalam
hidupnya atas dasar meyakini keratif merupakan salah satu sifat Tuhan.
k. Konstruksi, yaitu memiliki perasaan batiniah yang kaya, menekankan pada kontrol
diri, harga diri, Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu subjek
semakin mnedekatkan diri dengan Allah SWT dan menjadi lebih baik dalam hal
mengkontrol dirinya dan significant others juga mengatakan hal serupa yaitu
significant other melihat bahwa subjek semakin memantapkan dirinya dengan
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
l. Penegasan diri yaitu berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat dan untuk
kepentingan transpersonal.Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek
yaitu rasa pengabdian diri subjek terhadap masyarakat tidak berkurang meski telah
memasuki masa pensiun. Yang biasa menjadi tugasnya, sekarangpun sebisanya
masih dia lakukan untuk beramal sholeh, kemudian significant others juga
mengatakan hal serupa yaitu significant other melihat bahwa subjek cenderung
menjadi lebih sering melakukan kegiatan yang sifatnya lingkungan sosial dan
bentuknya beramal.
m. Religius, yaitu berkaitan dengan penemuan makna dan nilai dalam segala aktifitas.
Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu mampu menerima
apabila mendapat kejadian yang buruk sekalipun dengan dilandasi oleh keyakinan
bahwa seperti apa yang tertulis di dalam Al-Quran kemudian significant others juga
mengatakan hal serupa yaitu subjek memaknai segala kejadian yang ada dalam
kesehariannya dengan keikhlasan kepada Allah SWT.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Spiritual
Berdasarkan data yang diperoleh dari Subjek maka Subjek memilki kesesuaian
dengan teori dalam hal faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual subjek di
masa sekarangnya,kesesuain teori mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
kecerdasan spiritual tersebut dikemukakan Zohar dan Marshall (2001) bahwa ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual, diantaranya adalah : Motif,
kesadaran diri, dan disiplin.
a.
Motif, sebagian orang menyebutnya niat atau tujuan hidup; adalah energi jiwa
yang sangat besar. Motif menggerakkan potensi dari permukaan atau lapisan
ego. Melalui motif itulah seseorang bertindak. Dengan demikian motif yang baik
seseorang akan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi.Hal ini dapat dilihat dari
data yang diperoleh dari subjek yaitu subjek merasa adanya hubungan yang erat
antara motif yang dimilikinya dalam hidup dengan pendekatan diri terhadap Allah
SWT, Hal serupa dikatakan oleh significant others yaitu melihat bahwa subjek
tetap memiliki motivasi untuk hidup walau sudah memasuki tahap pensiun.
b.
Memiliki kesadaran diri, bahwa ada kekuatan lain Yang Maha Besar selain
ALLAH SWT sehingga akan membuat diri selalu berusaha untuk bertindak
dengan baik dan benar. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek
yaitu Subjek tetap ingin merasa ingin melakukan hal-hal yang benar dan baik,
kemudian significant others juga mengatakan hal serupa yaitu sejak dulu, subjek
memang suka melakukan hal-hal yang baik dan benar
c.
Disiplin, disiplin dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu
subjek tetap berusaha untuk selalu disiplin dalam segala hal, significant others
juga mengatakan hal serupa yaitu significant others tetap merasakan
kedisiplinan dari diri subjek.
Sedangkan menurut Abdullah (2004), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kecerdasan spiritual diantaranya adalah menyempurnakan rasa takwa serta memurnikan
pengabdian kepada-Nya dengan cara : Meluruskan niat, berdoa sebelum melangkah,
menjaga keimanan dan kebersihan hati.
a.
Meluruskan niat, sesungguhnya niat seseorang itu berpengaruh terhadap
langkah yang akan ditempuh selanjutnya. Niat yang benar akan mendatangkan
kesudahan yang baik ketika semuanya dilakukan diatas aturan yang benar,
sementara niat yang buruk akan mendatangkan kesudahan yang buruk, dan
orang tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali sesuai dengan apa yang
diniatkan. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu dalam
mengambil langkah-langkah apa yang akan ditempuh harus berdasarkan untuk
kebaikan dan selalu meminta perlindungan dari Allah, sehingga apapun hasilnya
kita sandarkan kepada Allah, kemudian significant others juga mengatkan hal
serupa yaitu bahwa subjek menjalani aktifitas keseharian setiap langkah yang
dijalankan harus disertai keyakinan bahwa yang dilakukan adalah ibadah,
dengan demikian kita melakukannya dengan sungguh-sungguh.
b.
Berdoa sebelum melangkah, jika kita ingin mendapatkan kemudahan, kita harus
berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan agar dihindarkan dari segala keburukan,
serta ditolong dan dimudahkan dalam meraih apa yang kita inginkan. Atau
dengan kata lain kita diberi keselamatan diawal dan kesudahannya, dan orang
yang tidak mau meminta kepada Tuhan akan dibenci oleh-Nya, karena hal itu
menunjukkan keangkuhan diri kita. Padahal sebenarnya diri kita sangat lemah.
Sementara itu kalau seorang hamba mau berdoa kepada-Nya maka dia akan
dicintai-Nya. Karena dengan meminta kepada Tuhan berarti mengakui bahwa
dirinya lemah dan Tuhanlah Yang Maha Kuat. Hal ini dapat dilihat dari data yang
diperoleh dari subjek yaitu bahwa subjek dengan niat dan doa yang dimiliki
subjek maka kemudahan dan pertolongan akan selalu mengiringinya, significant
c.
others juga mengatakan hal serupa yaitu membenarkan dengan doa, kita wajib
memohon kepada Allah dalam setiap langkah perbuatan yang kita lakukan.
Menjaga keimanan dan kebersihan hati, salah satu indikator bahwa seseorang
memiliki kecerdasan spiritual yang baik adalah apabila dirinya memiliki keimanan
yang kokoh, serta hatinya bersih dari segala macam penyakit hati (seperti iri,
dengki, sombong, dll) termasuk pula bersih dari semua keinginan yang buruk.
Maka untuk menuju kepuncak spiritual, seseorang ditunut untuk meneguhkan
keimanan yang ada didalam dada serta seniantiasa membersihkan dan menjaga
kebersihannya. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari subjek yaitu
subjek meyakini dirinya bukanlah manusia yang sempurna oleh karena itu untuk
menjaga keimanan dilakukan dengan banyak belajar dalam kehidupannya dan
yang diyakini adalah tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dari Allah SWT
serta tetap selalu menjaga kebersihan hati, significant others juga mengatakan
hal serupa yaitu subjek tetap menjaga keimanannya dengan jalan menjaga
keimanan dan kebersihan hati yang subjek miliki dengan selalu berusaha
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Perubahan-perubahan dalam Menghadapi Masa Pensiun
Subjek merasakan perubahan yang besar, baik aktivitas maupun fasilitas. Berubah dari
penuh kegiatan menjadi tidak berkegiatan, termasuk ditariknya fasilitas yang selama ini
diberikan kepada subjek, namun subjek dapat mensyukuri dari semua kenyataan yang
diterimanya kepada Tuhan YME.
Menurunnya status ekonomi, mempengaruhi gaya hidup subjek. Karena pensiun, secara
otomatis gaji yang didapat subjek juga menurun. Hal ini membuat subjek harus merubah
gaya hidup keluarganya. Namun, subjek berhasil memberikan pengertian pada keluarganya
hingga semua perubahan tersebut menjadi hal yang wajar dan harus dapat menikhlaskan
semua kepada Tuhan YME.
Dalam penghargaan yang didapat dari lingkungan sekitar, subjek masih terus
mendapatkannya meski telah memasuki masa pensiun. Ini disebabkan karena subjek masih
tetap membantu orang-orang disekitarnya meski terbatas pada kemampuannya yang
sekarang, namun subjek tetap menjaga hubungan ukhuwah islamiahnya serta meyakini
rahmat manusia sebgai makhluk sosial yang ditentukan oleh Tuhan YME.
Berkurangnya kontak sosial secara otomatis, karena berubahnya komunitas subjek,
sehingga membuat subjek menjadi lebih ikhlas dalam meyakini kenyataan yang
diterimanyadan meyakini semua hal tersebut merupakan kehendak dari tuhan YME.
2. Kecerdasan Spiritual
Subjek memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi meski telah memasuki masa pensiun
yaitu dari sikap ramah tamah, kedekatan, keingintahuan, kreatifitas, konstruksi, penguasaan
diri, dan religinya. Karena subjek memiliki minat untuk bersosialisasi membuat subjek
menjadi orang yang tetap mampu membuka diri dan beradaptasi untuk lingkungan baru
termasuk orang-orangnya dan aktivitasnya dengan
landasan rasa syukur, tanggung jawab, dan terus berbuat amal sholeh dan mendekatkan diri
dengan Tuhan YME..
Pensiun membuat subjek memiliki banyak sekali waktu luang dan menjadikan subjek
dapat berbagi, peduli dan memberikan perhatian pada keluarga dan orang terdekatnya, hal
ini dikarena subjek meyakini bahwa perhatian yang diberikan tersebut merupakan tanggung
jawab kepada Tuhan YME dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhiratnya kelak.
Kemampuan subjek menurun dalam fisik dan mental, menjadikan subjek tetap dapat
membuat ide dan benda baru namun terbatas hanya dengan kemampuannya, hal yang
mempengaruhi subjek tatap berkreastifitas adalah atas dasar subjek ingin tetap menjalani
salah satu sifat yang dimiliki oleh Tuhan YME yaitu kreatifitas yang kemudian subjek menjadi
lebih bisa mendekatkan diri dengan Allah SWT dan menjadi ikhlas dalam menerima segala
kejadian yang ada di kehidupannya.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Spiritual
Subjek sejak dulu memang selalu ingin melakukan hal-hal yang baik dalam
kehidupannya, dan ini tidak berubah meskipun subjek sekarang telah pensiun. Ini
disebabkan oleh kedekatannya dengan Allah SWT.
Kedisiplinan dalam melakukan pekerjaannya, membuat subjek menjadi orang yang
disiplin dalam hampir segala hal. Bahkan kedisiplinan subjek diterapkan juga pada seluruh
anggota keluarganya.
Ketakwaan yang dimiliki subjek tidak hanya sebatas berdoa pada Allah SWT, namun
juga berdoa dan berniat baik setiap akan melakukan sesuatu, menjaga keimanan dan
kebersihan hati yang subjek miliki dengan selalu berusaha menjalankan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya.
B. Saran
Berdasarkan proses dan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi Subjek
Sehubungan dengan keadaan subjek untuk memasuki masa pensiun maka diharapkan
subjek tetap dapat memaksimalkan diri dalam hal kecerdasan spiritual, hal ini dikarenakan agar
subjek lebih bisa memaknai masa pensiunnya di kemudian hari menjadi siap dan tidak
menjadikannya suatu masalah yang berarti terutama dalam hal psikologisnya.
2. Bagi PATI TNI
Kepada para PATI (Perwira Tinggi) TNI agar dapat mempersiapkan masa pensiun dengan
sesuatu yang dapat menimbulkan ketenangan baik secara batin maupun jiwa individu yang
bersangkutan salah satu jalan menuju ketenangan itu dapat melalui mempertajam kecerdasan
spiritual dirinya guna menghilangkan kekhawatiran individu yang akan menghadapi masa
pensiun khususnya seorang PATI TNI.
3. Bagi Keluaga Subjek
Diharapkan kepada kelurga yang memiliki hubungan emosional dan menjaga agar subjek
tetap mengasah spiritualnya agar subjek dapat selalu memberikan dan mempertahankan
keharmonisan dalam kehidupannya sehingga subjek merasa tidak menjadi masalah yang berarti
dalam masa purna tugasnya dalam mengemban sebagai PATI TNI.
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Berhubung pada penelitian ini subjeknya merupakan seorang PATI TNI mka disarankan
untuk pengambilan penelitian yang masih menyangkut seorang TNI dengan tingkatan pangkat
TNI yang lainnya serta diikutsertakan sebagai subjek penelitian dan dapat dibandingkan
hasilnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M.U. (2004). Meledakkan IESQ dengan langkah takwa & tawakal. Jakarta : Zikrul.
Afiatry, D. (2003). Efektivitas pelatihan pra-purnabakti dalam mengurangi kecemasan karyawan
menjelang masa pensiun. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma.
Agustian, A.G. (2003). ESQ : Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual.
Cetakan Kesepuluh. Jakarta : Arga.
Agustian, A.G. (2003). Rahasia sukses membangkitkan ESQ power. Jakarta : Arga.
Creswell, J.W. (2003). Research design: Qualitative and quantitative approaches. Thousand
Oaks: Sage Publication.
Danandjaja, J. (1994). Antropologi psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Dinas Penerangan Angkatan Laut (2007). Buku pedoman TNI AL.( Tidak diterbitkan).
Hurlock, E.B. (1997). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.
Alih Bahasa: Istiwidayanti & Soejarwo. Jakarta : Erlangga.
Kartono, K. (1981). Patologi sosial gangguan-gangguan kejiwaan. Jakarta: Rajawali Pers
Khavari, K. (2000). Spiritual intelligence. Ontario : White Mountain Publication.
Marshall, C & Rossman,G.B. (1989). Designing qualitative research. London : Sage Publication.
Moleong, L.J. (1996). Metodologi penelitian kualitatif . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Monks, P.J, Knoers, A.M.P & Haditono, S.R. (2002). Psikologi perkembangan. Yogyakarta :
Gajah Mada University Press.
Nashori, S & Mucharam, R.D. (2002). Mengembangkan kreativitas : Dalam perspektif psikologi
islami. Yogyakarta : Menara Kudus.
Nawawi, H. (2005). Metode kualitatif. Cetakan kesebelas. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Nggermanto, A. (2001). Quantum quetiont (kecerdasan kuantum) : Cara praktis melejitkan IE,
EQ, SQ yang harmonis. Bandung : Nuansa.
Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta: Lembaga
pengembangan sarana pengukuran dan pendidikan psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi
Universita Indonesia.
Poerdarminta, W.J.S. (1987). Kamus umum bahsa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Suharsono. (2004). Akselerasi inteligensi : Optimalkan IQ, EQ, SQ. Jakarta : Inisiasi Press.
Sukidi. (2004). Rahasia sukses hidup bahagia kecerdasan spiritual : Mengapa SQ lebih penting
daripada IQ dan EQ. Cetakan Kedua. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Turner & Helms. (1983). Life span development. Second Edition. Orlondo: Hardcourt Brace
College.
Turner & Helms. (1987). The deppression of widowhood. British Journal of Psychiatry. Edisi 7.
Hal 83.
Viera, W.E, Parkinson, C.N, & Rustomji, M.K. (1990). Masa pensiun yang bahagia. Jakarta.:
Binarupa Aksara.
Widyastomo, B. (1987). Kebahagian perkawinan dalam masa pensiun: studi deskriptif
berdasarkan skala ramsay pada suami istri. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok: Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia.
Widyawati, Y. ( 2004). Pengaruh kelebihan berat badan terhadap citra tubuh pada pria dan
wanita. Skripsi (tidak diterbitkan). Depok: Fakultas psikologi Gunadarma.
Wikipedia (2007). http : // www.wikipedia.com/pensiun/.htm.
Zohar, D. & Marshall, I. (2001). SQ : Memanfaatkan kecerdasan spiritual dalam berfikir
integralistik dan holistik untuk memaknai kehidupan. Jakarta : Mizan.
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.
Download