REVIEW KUIS PRAKTIKUM REPRODUKSI TERNAK “Fertilisasi”

advertisement
REVIEW KUIS PRAKTIKUM REPRODUKSI TERNAK
“Fertilisasi”
Bayu Sulistyo
Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Jalan Raya Bandung-Sumedang KM 21.
Fertilisasi merupakan sebuah poses penyatuan dua sel gamet yaitu sel gamet
betina dan sel gamet jantan ( Spermatozoa dan Ovum). Fertilisasi sendiri merupakan
proses ganda yaitu proses embriologik sebagai proses pengaktifan sel telur oleh sperma,
tanpa adanya rangsangan ini ovum tidak akan memulai membelah diri dan tentunya
tentunya tidak akan ada proses embriologik. Proses yang kedua adalah proses genetik,
pada proses ini adalah terjadi pemasukan faktor-faktor hereditas dari masing-masing sel
gamet jantan dan betina. Praktikum kali ini adalah membahas mengenai fertilisasi pada
mencit. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui proses embriologik mencit betina
melalui pengamatan mikroskop. Metode praktikum yang dipakai adalah metode
“Flushing” yaitu metode pembilasan dengan menggunakan pembilas NaCl Fisiologis.
Mencit betina yang sudah dibuahi kemudian mengalami perkembangan embrio
dibius oleh ether lalu dilakukan pembedahan dengan cara membuka ruang abdomen lalu
mengisolasi uterus, tuba falopii, serta ovarium. Pembilasan dilakukan dengan cara
menyuntikan NaCl fisiologis ke dalam cornua uteri lalu cairan NaCl fisiologis di tambung
pada kaca arloji dan selanjutnya diamati di mikroskop cahaya objektif 5, 10, 20, dan 40x.
Di harapkan dengan metode pembilasan sel-sel embrio dapat terbilas dan dapat diamati.
Tempat fertilisasi sendiri berada di bagian bawah ampula tuba falopii. Proses pembuahan
tidak terjadi secara mudah, karena spermatozoa harus melalui rintangan sel-sel yang
melindungi ovum. Selubung ovum dilindungi oleh zoba pellucida yang masih diselubungi
oleh sel-sel granulosa yang disebut sel cumulus, Selain itu sperma harus menjalani
perubahan-perubahan fisiologik yang disebut kapasitasi sebelum dapat mengaktifkan
ovum. Tahapan sperma untuk memasuki ovum pertama-tama sperma harus melewati selsel granulosa atau cumulus, kemudian sesudah melewati sel tersebut sperma harus
melewati zona pellucida dan yang terakhir adalah melewati membran vitellinum.
Sekian banyak sperma yang diejakulasikan oleh jantan hanya satu saja yang dapat
membuahi sel telur. Setelah penembusan selubung ovum maka dapat terjadi pembentukan
pronucleus dari masing-masing sel gamet. Pada fase puncak tertentu pronuclei jantan dan
betina mengadakan peleburan hal ini lah yang disebut dengan singami. Setelah peleburan
inti sel dari masing-masing sel tidak terlihat ini disebabkan karena telah dimualinya
proses pembelahan sel pertama, dan mulai terlihat chromosom dari masing-masing sel
dan membetuk satu kelompok sel pada tahap ini disebut dengan profase mitosis pertama
yang selanjutnya membelah menjadi dua anakan sel dan memiliki masing-masing
chromosom diploid yang berasal dari sel sperma dan sel ovum.
DAFTAR PUSTAKA
Mozes R. Toelihere.1977.Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Bandung : Angkasa.
Siti Darodjah Rasad.2013. Modul Reproduksi Ternak. Sumedang : Fakultas Peternakan
Universititas Padjadjaran.
Download