LAPORAN PRAKTIKUM BSN 2 Disusun oleh: Rizka

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM BSN 2
Disusun oleh:
Rizka Choirunnisa
220110120114
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2012
Laporan Praktikum I
PEMERIKSAAN GLUKOSA PUASA & TES TOLERANSI GLUKOSA
I. Tujuan Praktikum :
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa akan dapat menjelaskan perubahan kadar glukosa
darah sebagai dampak dari asupan karbohidrat sederhana.
II. Alat yang diperlukan :
1. Gelas ukur
2. Cairan untuk diminum :
Air gula (75 gram gula dilarutkan dalam 300 ml air minum)\
3. Alat pemeriksaan kadar gula darah
4. Kertas dan ballpoint untuk mencatat
III. Tata Kerja Praktikum :
A. Pemeriksaan Glukosa Puasa dan 2 jam Post Pandrial
1. Diet 3 hari cukup karbohidrat
2. Puasa 12-14jam sebelum pemeriksaan
3. Periksa kadar glukosa puasanya
4. Naracoba dipersilahkan makan berat (contoh : nasi)
5. Setelah 2 jam naracoba diperiksa lagi kadar glukosanya
B. Tes Toleransi Glukosa
1. Diet 3 hari cukup karbohidrat
2. Puasa 12-14 jam kemudian diperiksa gula darah puasanya
3. Minum Air gula (75 gram gula dilarutkan dalam 300 ml air minum) selama 5 menit
4. Gula darah diperiksa kembali setelah30 menit, 1 jam dan setelah 2 jam
IV. Hasil Praktikum
A. Pemeriksaan Glukosa Puasa dan 2 jam PP
Glukosa Puasa
: 74 mg/dL
Glukosa 2 jam PP
: 90 mg/dL
B. Tes Toleransi Glukosa
Glukosa Puasa : 88
Glukosa 5’
: 91 mg/dL
Glukosa 30’
: 190 mg/dL
Glukosa 60’
: 119 mg/dL
Glukosa 120’ : 91 mg/dL
V. Landasan Teori
Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang
digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu
hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga
dekstrosa, terutama pada industri pangan.
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat
glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan
ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi
untuk sel-sel tubuh.
Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari:
4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada
level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan.
Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol yang disebabkan oleh
gagalnya pengaturan gula darah.
Tes glukosa darah puasa adalah pengukuran tingkat glukosa darah seseorang setelah
orang tersebut tidak makan selama 8 sampai 12 jam (biasanya semalam). Tes ini digunakan
untuk mendiagnosis pra-diabetes dan diabetes. Tes ini juga digunakan untuk memantau
pasien diabetes.
Tes toleransi glukosa adalah tes darah yang dilakukan untuk membuat diagnosis
diabetes mellitus. Tes ini juga dapat dilakukan untuk keperluan lain seperti untuk
mendiagnosa hipoglikemia (gula darah rendah) atau sindrom malabsorpsi di mana gula tidak
diserap dengan baik melalui usus ke dalam aliran darah
Beberapa pemeriksaan glukosa darah, yaitu :
1. glukosa sewaktu (random)
Tes ini mengukur glukosa dalam darah yang diambil kapan saja, tanpa memperhatikan
waktu makan.
2. glukosa puasa
Tes ini menggunakan contoh darah yang diambil saat kita tidak makan atau minum apa
pun (kecuali air putih) selama sedikitnya delapan jam.
3. glukosa 2 jam post prandial (setelah makan)
Kadar glukosa darah memuncak pada sekitar satu jam setelah makan, kemudian menurun
seiring dengan oksidasi atau pengubahan glukosa menjadi bentuk simpanan bahan bakar oleh
jaringan. Dua jam setelah makan, kadar kembali ke rentang puasa(antara 80 sampai 100
mg/dL). Penurunan glukosa darah ini menyebabkan pankreas menurunkan sekresi insulinnya,
dan kadar insulin serum turun. Hati berespon terhadap sinyal hormon ini dengan memulai
degradasi simpanan glikogen dan melepaskan glukosa kedalam aliran darah. Apabila makan
lagi beberapa jam kemudian, kita kembali ke keadaan kenyang. Namun, apabila terus
berpuasa selama 12 jam, kita masuk ke status basal(juga dikenal sebagai keadaan pascaabsorptif). Seorang umumnya dianggap berada dalam keadaan basal setelah berpuasa
semalam. Pada saat ini, kadar insulin serum rendah dan glukagon meningkat

Kelompok data diabetes nasional mengusulkan kriteria sebagai berikut untuk membuat
diagnosa diabetes melitus yaitu :
 Seseorang dikatakan diabetes jika hasil pemeriksaan pada saat puasa 126 mg/dl
atau lebih, dan hasil pemeriksaan 2 jam setelah makan (post prandial) 180 mg/dl
atau lebih.
 Hasil glukosa darah sewaktu pada diabetes mencapai 140 – 200 mg/dl atau lebih.

Kadar glukosa darah puasa normalnya berkisar 70 – 120 mg/dl dan glukosa 2 jam setelah
makan normalnya berkisar 80 – 140 mg/dl.
VI. Kesimpulan :
Data yang dihasilkan pada praktikum ini ketika tidak ada asupan glukosa ke dalam
tubuh karena puasa terjadi penurunan hormon insulin dan peningkatan hormon glukagon. Di
hati, glikogen akan diubah menjadi glukosa melalui proses glikogenolisis. Glukosa tersebut
nantinya akan dioksidasi di jaringan, seperti otak dan sel darah merah. Jika puasa terus
berlanjut, hati tidak hanya menghasilkan glukosa melalui proses glikogenolisis, teteapi juga
dengan glukogenesis. Glukogenesis merupakan proses menghasilkan glukosa dari senyawa
non karbohidrat seperti laktat, gliserol dan asam amino. Saat asam amino diubah menjadi
glukosa, unsur nitrogennya akan berubah menjadi urea.
Data dalam praktikum ini menunjukkan bahwa saat puasa kadar glukosa dalam darah
74mg/dL dan 88mg/dL (naracoba I&II), berdasarkan sumber angka ini normal karena kadar
glukosa darah saat puasa setelah puasa semalam adalah 70-120 mg/dL. Selain itu, glukosa 2
jam PP pada naracoba pertama adalah 90mg/dL, ini juga terbilang normal karena kadar
glukosa darah saat 2 jam setelah makan yaitu berkisar 80-140mg/dL. Sedangkan pada
naracoba kedua, 5 menit setelah meminum cairan gula sederhana kadar glukosa darh naik
menjadi 91, dan 30 menit setelah meminum cairan glukosa sederhana meningkat menjadi 190
mg/dL, hal ini wajar karena berarti glukosa yang diminum langsung menaikkan kadar
glukosa darah. Lalu 60 menit menurun menjadi 119mg/dL, ini disebabkan aktivitas yang
dilakukan membuat glukosa yang dipakai oleh tubuh mengeluarkan energi untuk aktifitas
tersebut. Selanjutnya pada menit ke 120, kadar glukosa menurun lagi menjadi 91 kembali ke
awal, sesuai dengan sumber yang menyatakan bahwa 2 jam setelah makan kembali rentang
puasa antara 80-100 mg/dL, hal ini menyebabkan pankreas menurunkan sekresi insulinnya
dan kadar insulin serum turun. Hati berespon terhadap sinyal hormon ini dengan memulai
degradasi simpanan glikogen dan melepaskan glukosa ke dalam aliran darah.
Laporan Praktikum II
PENGARUH AKTIVITAS PADA KADAR GLUKOSA DARAH
I. Tujuan Praktikum :
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa akan dapat menjelaskan perubahan kadar glukosa
darah sebagai dampak dari aktifitas fisik.
II. Alat yang Diperlukan :
1. Stopwatch
2. Alat pemeriksaankadar gula darah
3. Kertas dan ballpoint untuk mencatat
III. Tata Kerja Praktikum :
1. Mintalah orang percobaan untukn relax, periksa glukosa darah sewaktu
2. Mintalah orang percobaan untuk naik-turun tangga dengan kecepatan 60x/menit
selama 12 menit tanpa istirahat
3. Peiksa glukosa darah segera setelah aktivitas, menit ke-30, menit ke-60, dan menit ke120 setelah melakukan aktivitas.
IV. Hasil Praktikum
Glukosa istirahat/sewaktu
: 95 mg/dL
Glukosa 1’ pasca-latihan
: 86 mg/dL
Glukosa 30’ pasca-latihan
: 106 mg/dL
Glukosa 50’ pasca-latihan
: 96 mg/dL
Glukosa 120’ pasca-latihan
: 84 mg/dL
V. Landasan Teori
Simpanan glikogen dalam hati dan otot relative sedikit dari segi kuantitas namun tetap
penting. Glikogen hati digunakan untuk mempertahankan kadar glukosa darah diantara waktu
makan. Dengan demikian, ukuran simpanan glikogen ini berfluktuasi pada siang hari.
Glikogen otot memasok energy untuk kontraksi otot selama olahraga. Latihan memiliki
peranan yang sangat penting dalam mengendalikan kadar gula dalam darah, dimana saat
melakukan latihan fisik terjadi peningkatan pemakaian glukosa oleh otot yang aktif sehingga
secara langsung dapat menyebabkan penurunan glukosa darah.
Hal yang berpengaruh pada perubahan kadar glukosa yaitu :
 Berat badan
 Aktivitas sebelumnya
 Usia
Pengaruh latihan fisik terhadap glukosa darah
1. Latihan Fisik Intensitas Rendah Terhadap Glukosa Darah
Latihan dengan intensitas rendah selama 40 menit tidak terjadi penurunan kadar gula
secara signifikan. Pada latihan fisik intensitas rendah dalam keadaan puasa, glukosa yang
digunakan awalnya disuplai oleh asam lemak, sehingga asam laktat yang meningkat lebih
sedikit. Namun apabila lipolisis dihambat oleh respon insulin setelah makan atau
mengonsumsi karbohidrat selama latihan fisik, glukosa menjadi energi yang utama.
2. Latihan Fisik Intensitas Sedang Terhadap Glukosa Darah
Latihan fisik yang berdurasi lebih dari 20 menit, glukosa merupakan sumber energi yang
dominan. Latihan dengan intensitas sedang dapat menurunkan kadar glukosa darah.
Penurunan kadar glukosa darah ini berhubungan dengan peningkatan glukosa transporter
karena simulasi oleh hormon insulin.
3. Latihan Fisik Intensitas Tinggi Terhadap Glukosa Darah
Latihan fisik dengan intensitas tinggi produksi ATP didominasi oleh sistem ATP-PC
sehingga kadar glukosa darah relatif konstan. Bila aktivitas lebih dari 20 menit produksi ATP
didominasi oleh glikolisis anaerob. Glikolisis anaerob sumber utamanya adalah glikogen atau
glukosa, sehingga glukosa darah akan menurun. Pada aktvitas intensitas tinggi lebih dari 45
detik produksi ATP berasal dari kombinasi ATP-PC, glikolisis anaerob, dan sistem aerobik.
VI. Kesimpulan :
Dari praktikum diatas didapatkan bahwa sebelum lari kadar glukosa sewaktu
berjumlah 95mg/dL. Dan setelah berlari selama 1 menit turun menjadi 86mg/dL, hal ini
menunjukkan glukosa sudah dipakai oleh sel-sel dalam tubuh ketika berlari. Setelah berlari
selama 30 menit, kadar glukosa darah meningkat menjadi 106mg/dL, ini menunjukkan bahwa
tubuh sudah bertoleransi untuk menyeimbangkan glukosa. Dan menit ke 60 dan menit ke 120
kadar glukosa darah menurun lagi menjadi 96mg/dL dan 84mg/dL, hal tersebut disebabkan
karena tubuh dipakai untuk melakukan aktifitas lainnya sesudah lari tadi dan untuk
menyuplai sel-sel yang memerlukan glukosa lebih.
Laporan Praktikum III
PENGARUH BERBAGAI PENUTUP TERHADAP PENGUAPAN
I. Tujuan Praktikum :
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa akan dapat mendemonstrasikan pengaruh lemak
terhadap kehilangan panas
II. Alat yang Diperlukan :
1. Thermometer air
2. Gelas dengan ukuran 200 ml 3 buah
3. Minyak goreng 100 ml
4. Kain wool untuk penutup gelas
5. Kain tipis dari katun penutup gelas
6. Panci berisi air dan kompor untuk memasak air
III. Tata Kerja Praktikum
1. Panaskan 500 ml air hingga mendidih
2. Masukkan kedalam ketiga gelas masing-masing smapi berisi 2/3 bagian
3. Gelas I ditutup dengan kain tipis dari katun
Gelas II ditutup dengan kain wool
Gelas III ditambah dengan minyak goreng 50 ml
4. Ukur suhu masing-masing gelas setiap15 menit selama 1 jam dan catatlah hasilnya
IV. Hasil Praktikum
Suhu Awal : 52oC
Gelas I menghasilkan :
¼ jam I
: 43oC
¼ jam II
: 37oC
¼ jam III
: 34,5oC
¼ jam IV
: 32oC
Gelas II menghasilkan :
¼ jam I
: 40oC
¼ jam II
: 36,5oC
¼ jam III
: 33,5oC
¼ jam IV
: 31,5oC
Gelas III menghasilkan :
¼ jam I
: 39oC
¼ jam II
: 35,5oC
¼ jam III
: 33oC
¼ jam IV
: 31,5oC
V. Landasan Teori :
Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair
(contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Proses ini adalah kebalikan
dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat dilihat dari lenyapnya cairan secara berangsurangsur ketika terpapar pada gas dengan volume signifikan.
Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup untuk lepas dari cairan. Bila
tidak cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat. Ketika molekul-molekul saling
bertumbukan mereka saling bertukar energi dalam berbagai derajat, tergantung bagaimana
mereka bertumbukan. Terkadang transfer energi ini begitu berat sebelah, sehingga salah satu
molekul mendapatkan energi yang cukup buat menembus titik didih cairan. Bila ini terjadi di
dekat permukaan cairan molekul tersebut dapat terbang ke dalam gas dan "menguap"
Ada cairan yang kelihatannya tidak menguap pada suhu tertentu di dalam gas tertentu
(contohnya minyak makan pada suhu kamar). Cairan seperti ini memiliki molekul-molekul
yang cenderung tidak menghantar energi satu sama lain dalam pola yang cukup buat memberi
satu molekul "kecepatan lepas" - energi panas - yang diperlukan untuk berubah menjadi uap.
Namun cairan seperti ini sebenarnya menguap, hanya saja prosesnya jauh lebih lambat dan
karena itu lebih tak terlihat
Penguapan adalah bagian esensial dari siklus air. Uap air di udara akan berkumpul
menjadi awan. Karena pengaruh suhu, partikel uap air yang berukuran kecil dapat bergabung
(berkondensasi) menjadi butiran air dan turun hujan. Siklus air terjadi terus menerus. Energi
surya menggerakkan penguapan air dari samudera, danau, embun dan sumber air lainnya.
Lemak
Lemak adalah sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur
karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang
larut di dalam lemak (contohnya A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, fosfolipid,
glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain.
Fungsi Lemak :
Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak memenuhi fungsi dasar bagi manusia, yaitu:
Menjadi cadangan energi dalam bentuk sel lemak. 1 gram lemak menghasilkan 39.06
kjoule atau 9,3 kcal.
1. Lemak mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang
berkaitan dengan karbohidrat dan protein demi menjalankan aliran air, ion dan
molekul lain, keluar dan masuk ke dalam sel.
2. Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada
prostaglandin dan steroid hormon dan kelenjar empedu.
3. Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berguna untuk proses biologis
4. Berfungsi sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi
tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat
panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Orang dengan tubuh gemuk mempunyai
bantalan lemak yang tebal di dalam kulitnya, sehingga semakin gemuk orang maka ia tahan
terhadap dingin. Dari uraian tersebut kita tahu bahwa lemak menghambat penguapan.
VI. Kesimpulan
Hasil praktikum menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan suhu yang
dipengaruhi berbagai penutup. Diantara ketiga gelas yang penurunan suhunya lebih lambat
dari yang lain yaitu pada gelas III yang diisi oleh minyak goreng. Hal ini disebakan karena
minyak sulit larut dalam air dan salah satu fungsi lemak dalam tubuh mecegah penguapan
(sesuai dengan teori diatas). Panas pada gelas II yang ditutupi kain wool penurunan suuhunya
lebih lambat dibandingkan dengan gelas I yang ditutupi kain katun Karena kain wool lebih
tebal sehingga penguapan dalam proses penurunan suhu.
Laporan Praktikum IV
PENGARUH CAIRAN HIPOTONIS, ISOTONIS, DAN HIPERTONIS TERHADAP
JARINGAN TUBUH
I. Tujuan Praktikum :
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa akan dapat menjelaskan perubahan yang terjadi
pada sel akibat adanya cairan hipotonis, isotonis, dan cairan hipertonis yang berada di
lingkungan sel.
II. Alat yang Diperlukan
1. Tabung reaksi 3 buah
2. Berbagai cairan dengan kekuatanyang berbeda terdiri dari :
Cairan hipotonis
: NaCl 0,45%
Cairan isotonis
: NaCl 0,9%
Cairan hipertonis
: NaCl 3%
III. Tata Kerja Praktikum
1. Siapkan 3 buah tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan 2 ml NaCl 0,45%,
NaCl 0,9% dan NaCl 3%
2. Mintalah salah satu mahasiswa untuk secara sukarela diambil darah vena sejumlah 3
ml
3. Masukan darah volunteer kedalam tabung reaksi yang sudah berisi cairan tadi
4. Kocok campuran tadi secara perlahan-lahan
5. Perhatikan perubahan apa yang terjadi pada ketiga tabung reaksi tersebut
6. Jelaskan mengapa dan bagaimana terjadinya perubaha tersebut
IV. Hasil Praktikum
 Campuran darah dengan cairan NaCl 0,45% menghasilkan :
Cairan darahnya menjadi warna merah pekat (gelap) dan paling banyak menghasilkan
endapan berwarna hitam
Kesimpulan : Termasuk kedalam cairan hipotonis karena larutan NaCl yang tidak lebih pekat
dari NaCl 0,9% termasuk kedalam larutan hipotonik. Endapan dihasilkan karena sel
menggembung dan air masuk kedalam sel, warna menjadi pekat akibat endapan tersebut.
 Campuran darah dengan cairan NaCl 0,9% menghasilkan :
Cairan darahnya menjadi berwarna sedikit gelap dan hanya terjadi sedikit sekali endapan
(normal)
Kesimpulan : Termasuk kedalam cairan isotonis karena cairan sel darah merah mempunyai
tekanan osmotik yang sama dengan NaCl 0,9%. Dengan kata lain, cairan sel darah merah
isotonis dengan larutan NaCl 0,9%. Jika sel darah merah dimasukan kedalam larutan NaCl
0,9%, air yang masuk dan yang keluar dari dinding sel akan setimbang.
 Campuran darah dengan cairan NaCl 3% menghasilkan :
Cairan darahnya berwarna merah cerah dan menjadi encer
Kesimpulan : Termasuk kedalam cairan hipertonis karena berdasarkan teori, cairan NaCl
yang lebih pekat dari NaCl 0,9% termasuk kedalam larutan hipertonis. Larutan menjadi encer
karena air dari dalam sel keluar dan sel menjadi mengkerut, dan warna merah cerah
dihasilkan akibat larutan yang lebih cair dari semula.
Landasan Teori :
Sel darah merah, eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi
membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah dalam hewan bertulang belakang.
Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat
oksigen
Sel-sel darah akan membengkak dan pecah bila dimasukkan ke dalam larutan
hipotonis dan akan mengkerut bila dimasukkan kedalam cairan hipertonis. Sedangkan dalam
larutan isotonis sel-sel darah tidak mengalami perubahan apapun.
Osmosis adalah pergerakan molekul pelarut dari pelarut ke dalam larutan, atau dari
larutan yang lebih encer ke larutan yang lebih pekat melalui membran semipermeabel.
Osmosis dibagi menjadi 3 jenis :

Hipotonis = larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah daripada
pelarutnya

Isotonis = larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama dengan pelarutnya

Hipertonis = larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih tinggi dibandingkan
pelarutnya
Contoh osmosis dalam kehidupan sehari-hari ialah pada sel darah merah. Cairan sel
darahmerah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan NaCl 0,9%. Dengan kata lain,
cairan sel darah merah isotonis dengan larutan NaCl 0,9%. Jika sel darah merah dimasukan
kedalam larutan NaCl 0,9%, air yang masuk dan yang keluar dari dinding sel akan setimbang.
Akan tetapi, jika sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl yang lebih pekat dari
0,9%, air akan keluar dari dalam sel dan sel akan mengkerut. Larutan yang demikian
dikatakan hipertonis. Sebaliknya, jika sel darah merah dimasukka kedalam larutan NaCl yang
lebih encer dari 0,9%, maka air akan masuk kedalam sel dan sel akan menggembung dan
pecah (plasmolisis). Larutan itu dikatakan hipotonik.
Perbedaan larutan hipotonis, isotonis & Hipertonis

Larutan Hipotonis
Larutan hipotonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih rendah dibandingkan dengan
larutan yang lain. Bahasa mudahnya, suatu larutan memiliki kadar garam yang lebih rendah
dan yang lainnya lebih banyak. Jika ada larutan hipotonis yang dicampur dengan larutan yang
lainnya maka akan terjadi perpindahan kompartemen larutan dari yang hipotonis ke larutan
yang lainnya sampai mencapai keseimbangan konsentrasi. Contoh larutan hipotonis adalah
setengah normal saline (1/2 NS).
Turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serum darah, sehingga
menyebabkna air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel
memperbesar volume sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel.
Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel – sel darah merah. Peristiwa demikian
disebut Hemolisa.

Larutan Isotonis
Suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah, sehingga
tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan dikatakan isotonis (ekuivalen
dengan larutan 0,9% NaCl ). Larutan isotonis mempunyai komposisi yang sama dengan
cairan tubuh, dan mempunyai tekanan osmotik yang sama. Agar tidak terjadi pertukaran

Larutan Hipertonis
Turun Larutan hipertonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih tinggi dari larutan yang
lainnya. Karena kadar garam yang lebih tinggi dibandingkan dengan larutan yang lainnya.
Jika larutan hipertonis ini dicampurkan dengan larutan lainnya (atau dipisahkan dengan
membran semipermeabel) maka akan terjadi perpindahan cairan menuju larutan hipertonis
sampai terjadi keseimbangan konsentrasi larutan. Sebagai contoh, larutan dekstrosa 5%
dalam normal saline memiliki sifat hipertonis karena konsentrasi larutan tersebut lebih tinggi
dibandingkan konsentrasi larutan dalam darah pasien.
Titik beku larutan hipertonis besar, yaitu tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah,
sehingga menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermeabel
dan mengakibatkan terjadinya penciutan sel – sel darah merah. Peristiwa demikian
disebut Plasmolisa. Bahan pembantu mengatur tonisitas adalah : NaCl, Glukosa, Sukrosa,
KNO3 dan NaNO3.
Kesimpulan Akhir :
Sel darah merah yang digunakan dalam praktikum ini menunjukkan hasil yang
berbeda ketika dicampurkan dengan NaCl yang berbeda konsentrasinya yang berpengaruh
terhadap perubahan keperkatan serta warna pada darah. Hal ini berarti menjelaskan bahwa
konsentrasi larutan sangat berpengaruh terhadap proses osmosis.
Laporan Praktikum V
PERHITUNGAN ANGKA KECUKUPAN GIZI
Kasus :

Ny.I (33 tahun sedang hamil usia kehamilan 11 minggu, TB 150cm, BB 56kg, hitunglah
dengan menggunakan tabel AKG :
1. Berapa IMT nya dan berapa penambahan berat badan seharusnya ?
2. Kebutuhan energi
3. Kebutuhan protein
4. Kebutuhan lemak
Penyelesaian :
1. BB/ TB2
56/1.52 = 56/2.25
= 24.9 (normal)
maka bertambah 11.5-16 Kg
2. Kebutuhan Energi
= 1800 kkal + 180 kkal (T1) = 1980 kkal
3. Kebutuhan Protein
= 56 + 17 = 73 gr/hari
4. Kebutuhan Lemak
= 25% - 30% dari total kebutuhan energi,
= 25% x 1980 = 495 : 9 = 55 sampai 30% x 1980 = 594 : 9 = 66 gr/hari

Bayi O (usia 12 bulan) dengan BB 10kg, TB 65cm masih mendapatkan ASI, hitunglah
kebutuhan :
1. Kalori
2. Protein
3. Karbohidrat
4. Lemak
Penyelesaian :
1. Kalori
 BB bayi x 100
= 10 x 100 = 1000 kkal
BB bayi x 120
= 10 x 120 = 1200 kkal
2. Protein
 BB bayi x 1,5 : 4
= 10 x 1.5 : 4 = 3.75 gr/hr
 BB bayi x 2 : 4
= 10 x 2 : 4 = 5 gr/hr
3. Karbohidrat
 1200 x 50%
= 600 : 4 = 150gr
4. Lemak
 20% x 1200
= 240 : 4 = 60gr
Rencangan Diet untuk ibu hamil dan bayi
Waktu
Jenis Makanan
1 porsi nasi (100 gram)
1 butir telur ayam negeri (55 gram)
1 mangkuk buncis (100 gram)
Pagi
1 buah pisang (50 gram)
1 gelas susu sapi (200 cc)
5 buah kue kering (50 gram)
2/3 gelas santan (80 gram)
5 buah kue kering (50 gram)
1 potong daging sapi (35 gram)
1 buah apel (85 gram)
Siang
1 potong tahu (110 gram)
2 sendok makan madu (30 gram)
1mangkuk w ortel (100 gram)
3 potong roti (70 gram )
1 buah jambu biji (100 gram)
1 potong kelapa (15 gram)
1 potong ayam (40 gram)
4 sendok susu skim (20 gram)
2 sendok teh minyak kelapa (10 gram)
Sore/Malam
1 potong singkong (210 gram)
1 piring jagung (125 gram)
1 mangkuk kangkung (100 gram)
2 buah salak (65 gram)
Waktu
Jenis Makanan
Susu
Pagi (06.00-10.00)
Nasi Tim
Susu/Makanan Selingan
Bubur saring
Siang (12.00-16.00)
Susu
Makanan Selingan
Malam (18.00-20.00)
Nasi Tim
Susu
Landasan Teori :
•
IMT normal  18,5-25  tambah : 11,5-16 kg
•
IMT underweight  < 18,5  tambah : 12,5-18 kg
•
IMT overweight/ob  >25  tambah : 7-11,5 kg
Kenaikan berat badan disebabkan oleh :
•
berat badan janin  3,5-4 kg
•
plasenta  0,5-1 kg
•
cairan amnion  1 kg
•
buah dada  0,5 kg
•
ikhterus  1 kg
•
penambahan volume darah  1,5 kg
•
lemak tubuh  > 2,5 kg
•
penambahan jaringan otot & cairan  2-3,5 kg
Pengertian Gizi Seimbang
Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat –zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip
keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB)ideal.
Prinsip Gizi Seimbang divisualisasi sesuai dengan budaya dan pola makan setempat. Di
Indonesia dalam bentuk tumpeng dengan nampannya yang untuk selanjutnya akan disebut
sebagai “Tumpeng Gizi Seimbang” (TGS). TGS dirancang untuk membantu setiap orang
memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang tepat, sesuai dengan berbagai kebutuhan
menurut usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai keadaan kesehatan
(hamil, menyusui, aktivitas fisik, sakit).
Tumpeng Gizi Seimbang (TGS) menggambarkan 4 prinsip Gizi Seimbang: Aneka ragam
sesuai kebutuhan, kebersihan, aktivitas fisik, dan memantau berat badan ideal.TGS terdiri
atas beberapa potongan tumpeng: satu potongan besar, dua potongan sedang, dua potongan
kecil, dan di puncak terdapat potongan terkecil. Luasnya potongan TGS menunjukkan porsi
makanan yang harus dikonsumsi setiap orang per hari. TGS yang terdiri atas potonganpotongan itu dialasi oleh air putih. Artinya, air putih merupakan bagian terbesar dan zat gizi
esensial bagi kehidupan untuk hidup sehat dan aktif.
Kalori
Selama hamil, ibu membutuhkan tambahan energi/kalori untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin, juga plasenta, jaringan payudara, cadangan lemak, serta untuk
perubahan metabolisme yang terjadi. Di trimester II dan III, kebutuhan kalori tambahan ini
berkisar 300 kalori per hari dibanding saat tidak hamil. Berdasarkan perhitungan, pada akhir
kehamilan dibutuhkan sekitar 80.000 kalori lebih banyak dari kebutuhan kalori sebelum
hamil.
Protein
Kebutuhan protein bagi wanita hamil adalah sekitar 60 gram. Artinya, wanita hamil
butuh protein 10-15 gram lebih tinggi dari kebutuhan wanita yang tidak hamil. Protein
tersebut dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru, maupun plasenta dan janin. Protein juga
dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel.
Lemak
Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan lemak
sebagai sumber kalori utama. Lemak merupakan sumber tenaga yang vital dan untuk
pertumbuhan jaringan plasenta. Pada kehamilan yang normal, kadar lemak dalam aliran darah
akan meningkat pada akhir trimester III. Tubuh wanita hamil juga menyimpan lemak yang
akan mendukung persiapannya untuk menyusui setelah bayi lahir.
Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama untuk tambahan kalori yang dibutuhkan
selama kehamilan. Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan
membutuhkan karbohidrat sebagai sumber kalori utama. Pilihan yang dianjurkan adalah
karbohidrat kompleks seperti roti, serealia, nasi dan pasta. Selain mengandung vitamin dan
mineral, karbohidrat kompleks juga meningkatkan asupan serat yang dianjurkan selama
hamil untuk mencegah terjadinya konstipasi atau sulit buang air besar dan wasir.
Vitamin dan mineral
Wanita hamil juga membutuhkan lebih banyak vitamin dan mineral dibanding
sebelum hamil. Ini perlu untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin serta
proses diferensiasi sel. Tambahan zat gizi lain yang penting juga dibutuhkan untuk membantu
proses metabolisme energi seperti vitamin B1, vitamin B2, niasin, dan asam pantotenat.
Vitamin B6 dan B12 diperlukan untuk membentuk DNA dan sel-sel darah merah, sedangkan
Vitamin B6 juga berperan penting dalam metabolisme asam amino.
Kebutuhan vitamin A dan C juga meningkat selama hamil. Begitu juga kebutuhan
mineral, terutama magnesium dan zat besi. Magnesium dibutuhkan untuk mendukung
pertumbuhan dari jaringan lunak. Sedangkan zat besi dibutuhkan untuk membentuk sel darah
merah dan sangat penting untuk pertumbuhan dan metabolisme energi, disamping untuk
meminimalkan peluang terjadinya anemia. Kebutuhan zat besi menjadi dua kali lipat
dibandingkan sebelum hamil.
Perhitungan Kebutuhan Gizi Ibu Hamil:
•
Kebutuhan energi :
– Metode harrist benedict
– Penambahan kalori  + 180 kkal …. Trimester 1
+ 300 kkal …. T2 & T3
•
Kebutuhan protein :
– 1 gr/kg BB/ hari
– Penambahan protein  + 17 gram…. T1-T3
•
Kebutuhan lemak :
– 25-30% dari total kebutuhan energi
Perhitungan Kebutuhan Gizi Bayi Usia 0-1tahun
•
Kalori: 100-120 per kilogram berat badan.
Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya: 8 x 100 /120 = 800/960 kkal
•
Protein: 1,5-2 gram per kilogram berat badan
Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya 8 x 1,5/2 = 12/16 : 4 = 3/4
gram
•
Karbohidrat: 50-60 persen dari total kebutuhan kalori sehari
Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 50%-nya = 400 : 4 = 100 gram
•
Lemak: 20 persen dari total kalori
Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 20%-nya = 160 : 40 = 40 gram
Dampak KekuranganGizi
Kekurangan asupan gizi pada trimester I dikaitkan dengan tingginya kejadian
bayi lahir prematur, kematian janin, dan kelainan pada sistem saraf pusat bayi.
Sedangkan kekurangan energi terjadi pada trimester II dan III dapat menghambat
pertumbuhan janin atau tak berkembang sesuai usia kehamilannya. Contoh
konkretnya adalah kekurangan zat besi yang terbilang paling sering dialami saat
hamil. Gangguan ini membuat ibu mengalami anemia alias kekurangan sel darah
merah. Kekurangan asam folat juga dapat menyebabkan anemia, selain kelainan
bawaan pada bayi, dan keguguran.
Padahal, tak sulit memperoleh tambahan zat besi dan asam folat ini. Selain
dari suplemen, juga dari bahan makanan yang disantapnya. Namun ibu hamil tak
dianjurkan mengonsumsi suplemen multivitamin karena kelebihan vitamin A dan D
dosis tinggi dalam tubuh justru dapat menimbulkan penumpukan yang berefek
negatif. Suplemen dalam bentuk jejamuan juga tidak dianjurkan jika kebersihan dan
keamanan bahannya tidak terjamin.
Kesimpulan
Jika ibu hamil kekurangan gizi pada saat kehamilannya, maka bayi yang
dikandungnya akan mengalami bayi lahir prematur, kematian janin, dan kelainan pada sistem
saraf pusat bayi. Namun, bila ibu hamil mengonsumsi makanan terlalu banyak, maka akan
terjadi obesitas. Oleh karena itu, ibu hamil diharapkan memakan makanan sesuai dengan
porsi gizi yang dianjurkan. Sesuai dengan hasil praktikum diatas, Ny.I seharusnya menambah
berat badan sebesar 11,5-16 kg, dan kebutuhan energi Ny.I sebesar 1980kkal, kebutuhan
protein sebesar 73gram, dan kebutuhan lemak sebesar495-594 gram.
Balita merupakan masa ketika awal pertumbuhan. Pada masa balita, diperlukan pula
gizi yang seimbang sesuai dengan usianya. Jika kekurangan gizi, maka akan tergolong gizi
buruk. Namun, jika kelebihan akan terjadi obesitas yang akan mempengaruhi kerja jantung.
Laporan Praktikum VI
ANTROPOMETRI
Antropometri yaitu pengukuran individu manusia untuk mengetahui variasi fisik
manusia. Metode antropometri menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai alat untuk
menentukan status gizi manusia.
Antropometri adalah pengukuran:

Variasi diimensi fisik

Proporsi tubuh

Komposisi kasar ttubuh
Pengukuran antropometri dapat dilakukan:

Satu kali

Secara serial
INDEKS ANTROPOMETRI
Indeks antropometri adalah bentuk penyajian parameter antropometri (berat badan dan tinggi
badan) yang dikaitkan dengan variabel umur atau merupakan kombinasi antara keduanya
(BB/U, TB/U dan BB/TB).Indeks-indeks ini digunakan sebagai indikator status gizi karena
nilai-nilainya digunakan dalam penentuan status gizi seseorang/anak.
Antropometri dapat dibagi menjadi 2 yaitu,
1. Antropometri Statis (struktural)
Pengukuran manusia pada posisi diam, dan linier pada permukaan tubuh.
1. Antropometri Dinamis (fungsional)
Yang dimaksud dengan antropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri
fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang
mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya.
Hal-hal yang memengaruhi dimensi antropometri manusia adalah sebagai berikut,

Umur
Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk
pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang setelah 60 tahun.

Jenis kelamin
Pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian dada dan
pinggul.

Rumpun dan Suku Bangsa

Sosial ekonomi dan konsumsi gizi yang diperoleh
Kondisi ekonomi dan gizi juga berpengaruh terhadap ukuran antropometri meskipun
juga bergantung pada kegiatan yang dilakukan.

Pekerjaan, aktivitas sehari-hari juga berpengaruh

Kondisi waktu pengukuran
1. Cara pengukuran berat badan anak adalah :
1. Lepas pakaian yang tebal.
2. Berdirilah diatas timbangan
3. Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada timbangan.
2. Tinggi Badan ( Panjang badan)
Seperti halnya berat badan, tinggi badan juga dapat diperkirakan berdasarkan rumus dari
Behram (1992), yaitu :
a. Perkiraan panjang lahir : 50 cm
b. Perkiraan panjang badan usia 1 tahun = 1,5 Panjang Badan Lahir
c. Perkiraan panjang badan usia 4 tahun = 2 x panjang badan lahir
d. Perkiraan panjang badan usia 6 tahun = 1,5 x panjang badan usia 1 tahun
e. Usia 13 tahun = 3 x panjang badan lahir
f. Dewasa = 3,5 x panjang badan lahir atau 2 x panjang badan 2 tahun
Cara pengukuran tinggi badan anak adalah :
1. Tinggi badan diukur dengan posisi berdiri tegak, sehingga tumit rapat, sedangkan bokong,
punggung dan bagian belakang kepala berada dalam satu garis vertikal dan menempel pada
alat pengukur.
2. Tentukan bagian atas kepala dan bagian kaki menggunakan sebilah papan dengan posisi
horizontal dengan bagian kaki, lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.
3. Lingkar kepala
Secara normal, pertambahan ukuran lingkar pada setiap tahap relatif konstan dan tidak
dipengaruhi oleh factor ras, bangsa dan letak geografis. Saat lahir, ukuran lingkar kepala
normalnya adalah 34-35 cm. Kemudian akan bertambah sebesar + 0,5 cm/bulan pada bulan
pertama atau menjadi + 44 cm. Pada 6 bulan pertama ini, pertumbuhan kepala paling cepat
dibandingkan dengan tahap berikutnya, kemudian tahun-tahun pertama lingkar kepala
bertambah tidak lebih dari 5 cm/tahun, setelah itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala hanya
bertambah + 10 cm
Adapun cara pengukuran lingkar kepala adalah :
a. Siapkan pita pengukur (meteran)
b. Lingkarkan pita pengukur pada daerah glabella (frontalis) atau supra orbita bagian anterior
menuju oksiput pada bagian posterior. Kemudian tentukan hasilnya
4. Lingkar Lengan Atas (Lila)
Pertambahan lingkar lengan atas ini relatif lambat. Saat lahir, lingkar lengan atas
sekitar 11 cm dan pada tahun pertama, lingkar lengan atas menjadi 16 cm. Selanjutnya
ukuran tersebut tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.
Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan otot yang
tidak berpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan berguna untuk menilai keadaan gizi dan
pertumbuhan anak prasekolah.
Cara pengukuran lingkar lengan atas sebagai berikut :
a. Tentukan lokasi lengan yang diukur. Pengukuran dilakukan pada lengan bagian kiri, yaitu
pertengahan pangkal lengan dan siku. Pemilihan lengan kiri tersebut dengan pertimbangan
bahwa aktivitas lengan kiri lebih pasif dibandingkan dengan lengan kanan sehingga
ukurannya lebih stabil.
b. Lingkarkan alar pengukur pada lengan bagian atas seperti pada gambar ( dapat digunakan
pita pengukur). Hindari penekanan pada lengan yang diukur saat pengukuran.
c. Tentukan besar lingkar lengan sesuai dengan angka yang tertera pada pita pengukur
5. Lingkar Dada
Sebagaimana lingkar lengan atas, pengukuran lingkar dada jarangdilakukan.
Pengukurannya dilakukan pada saat bernapas biasa ( mid respirasi ) pada tulang Xifoidius(
insicura substernalis).
Cara pengukuran lingkar dada adalah :
a. Siapkan pita pengukur
b. Lingkarkan pita pengukur pada daerah dada
c. Catat hasil pengukuran
Keunggulan metode antropometri::
1. Prosedur sederhana, aman, non-invasif
2. Tidak butuh ttenaga ahli
3. Obyektif
4. Ekonomis
5. Mudah dimengerti awam
6. Hasil dapat digradasi denganjjelas
Standar IMT :
•
IMT normal  18,5-25  tambah : 11,5-16 kg
•
IMT underweight  < 18,5  tambah : 12,5-18 kg
•
IMT overweight/ob  >25  tambah : 7-11,5 kg
Hasil Antropometri:
Lingkar lengan
: Kanan 24cm
Kiri 25 cm
Lemak Lengan
: Kanan = 25,5 ; 25,5 ; 25,5 mm
Kiri = 24 ; 23,5 ; 24 mm
Skapula
: 23 , 23 , 23
Pinggang
: 26 , 26 , 26
IMT =
= 24 (normal)
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian diatas, naracoba yang diukur termasuk kedalam kategori
normal.
Daftar Pustaka
Purba, Michael. 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XII Semester I. Jakarta:Erlangga
www.dinkes.jogjaprov.go.id/gizi/index.php/home/baca/24/Sejarah-danPengertian-Gizi-Seimbang
www.id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah
www.eprints.undip.ac.id/32605/1/402_Faradhilla_Arinisa_G2C007027.pdf
www.id.wikipedia.org/wiki/Penguapan
www.id.wikipedia.org/wiki/Sel_darah_merah
www.anakunhas.com/2011/06/penjelasan-pengukuran-lila-lingkar-lenganatas.html
www.ebookbrowse.com/gdoc.php?id=301660397&url=61106f4add6ba6611bd5
dbda9ba84fd0
www.ut.ac.id/html/suplemen/peki4422/bag%205.htm
www.suyatno.blog.undip.ac.id/files/2009/11/anthropometri-gizi.pdf
www.labkesehatan.blogspot.com/2010/03/tes-toleransi-glukosa-oral-ttgo.html
www.digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdl-suyonog0c2-5283-1bab1.pdf
Download