BAB II - Perpustakaan Universitas Mercu Buana

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi Sebagai Interaksi Simbolik
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata
Latin communis yang berarti ―
sama‖, communico, communication atau communi
care yang berarti ―
membuat sama‖ (to make common), istilah communis paling
sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata
Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu
makna, atau suatu pesan dianut secara sama.1 Komunikasi (communication) adalah
proses sosial dimana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk
menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka.2
Komunikasi adalah suatu interaksi, proses simbolik yang menghendaki
orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama,
melalui pertukaran informasi, untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain,
serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.3
Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada
suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku. Definisi
ini dikembangkan menjadi, komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau
lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya,
yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian dan mendalam.4
1
Deddy Mulyana, dalam buku ‘Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, 2011:46.
Richard West, Lynn H Turner. Pengantar Teori Komunikasi edisi Ketiga, Jakarta2008:5.
3
LukiatiKomala,IlmuKomunikasiPerspektif,ProsesDanKonteks,Bandung,2009,Hal73
4
Ibid, Hal 73
2
9
http://digilib.mercubuana.ac.id/
10
Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang merupakan ciri khas
manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Menurut
teoretisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi
manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Mereka tertarik pada cara manusia
menggunakan simbol-simbol
yang merepresentasikan apa
yang
mereka
maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yang di
timbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap prilaku pihak – pihak yang
terlibat dalam interaksi sosial. Penganut interaksionisme simbol berpandangan,
prilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia
di sekeliling mereka, jadi tidak mengakui bahwa prilaku itu di pelajari atau di
tentukan, sebagaimana dianut teori behavioristik atau teori struktural. Alih-alih,
prilaku dipilih sebagai hal yang layak dilakukan berdasarkan cara individu
mendefinisikan situasi yang ada.5
Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia
darisudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia
harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan
mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orag lain yang
menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain,
situasi, objek dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku
mereka. Perilaku mereka tidak dapat digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan
impuls, tuntutan budaya atau tuntutan peran. Manusia bertindak hanyalah
berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka.
5
Deddy Mulyana, 2010, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Ketujuh, Remaja Rosda Karya,
Bandung, hlm 71
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
Tidak mengherankan bila frase-frase ―
definisi situasi‖ , ―
realitas terletak pada
mata yang melihat‖ dan ―
bila manusia mendefinisikan situasi sebagai riil, situasi
tersebut riil dalam konsekuensinya‖ sering dihubungkan dengan interaksionisme
simbolik.
2.2. Interaksionisme Simbolik
Para ilmuan pragmatis percaya bahwa realitas bersifat dinamis. Keyakinan
ontologis yang berbeda dibandingkan ilmu terkemuka lainnya. Mereka
mencetuskan pemikiran mengenai munculnya sturktur sosial dan mereka
bersikeras bahwa makna diciptakan dalam suatu interaksi6.
Awal perkembangan interaksi simbolik di bedakan menjadi dua aliran
yaitu aliran / mahzab Chicago yang di pelopori oleh Herbert Blumer. Blumer
meyakini bahwa studi manusia tidak dapat di selenggarakan di dalam cara yang
sama dari ketika tentang benda mati. Tradisi Chicago melihat orang-orang yang
kreatif inovatif dalam situasi yang tidak bisa di ramalkan. Masyarakat dan diri di
pandang sebagai proses yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah
untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial. Tradisi / mahzab yang kedua,
aliran / mahzab lowa mengambil lebih dari satu pendekatan ilmiah. Manford
Kuhn dan Carl Dipan, para pemimpinnya percaya konsep interaksionis itu dapat
diterapkan. Kuhn berargumentasi bahwa metode sasaran jadilah lebih penuh
keberhasilan di bandingkan ―
yang lembut‖ metode yang di pekerjakan oleh
Blumer7.
6
7
Richard West dan Lynn H Turner. Pengantar teori Komumikasi. Salemba Humanika Jakarta 2008
Ibid
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
a. Aliran Chicago
George Herbert pada umumnya di pandang sebagai pemula dari pegerakan
dan pekerjaannya yang pasti membentuk mazhab Chicago. Blumer
merupakan pemikir terkemuka. Menemukan istilah interksionisme
simbolik. Blumer mangacu pada label ini sebagai suatu sedikit banyaknya
pembentukan kata baru liar yang di dalam suatu jalan tanpa persiapan.
Ketiga konsep dalam teori blumer menangkap di dalam jabatan pekerjaan
terbaik yang di kenalnya masyarakat diri dan pikiran.
Diri mempunyai dua segi, masing-masing melayani satu fungsi penting.
Menjadi bagian dari yang menuruti kata hati, tak tersusun, tak diarahkan,
tak dapat di ramalkan. Menurut blume, objek terdiri dari tiga fisik (barang),
sosial (orang-orang), abstrak (gagasan). Orang-orang menggambarkan
objek dengan cara yang berbeda tergantung bagaimana mereka
membiarkan ke arah tersebut.
b. Aliran lowa
Kuhn adalah pengembang dari teori simbolik sebelumnya. Kuhn
memelihara dasar prinsip sebelumnya akan tetapi tidak mengambil
langkah-langkah pada teori yang konservatif. Seperti yang digunakan oleh
blumer. Indevidu ini memiliki empat kualitas. Pertama, Mereka adalah
orang-orang untuk siapa indevidu secara emosional dan secara psikologis
di lakukan. Kedua, Mereka menyediakan orang yang kosakata umum,
pusat konsep dan kategori. Ketiga, Mereka menyediakan indevidu dengan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
13
perbedaan dasar antara orang lain dan diri pribadi. Keempat, Orang lain
melakukan komunikasi wawancara yang terus menerus menopang konsep
diri dari individu itu.
Interaksi simbolik telah menyatukan studi bagaimana kelompok
mengkoordinir tindakan mereka, bagaimana kenyataan di bangun ,
bagaimana diri di ciptakan, bagaimana struktur sosial besar mendapatkan
dan di bentuk dan bagaimana publik dapat di pengaruhi. Jadi pada
dasarnya, interaksi simbolik berakal dan berfokus pada hakekat manusia
adalah makhluk rasional. Setiap
manusia terlibat relasi dengan
sesamanya.
2.3. Interaksionisme Simbolik Mead
Menurut littlejohn, interaksi simbolik mengandung inti premis tentang
komunikasi
dan masyarakat (core of common primises about communication
and society) (littlejhon, 1996:159). Interaksi simbolik mempelajari sifat interaksi
yang merupakan kegiatan dinamis manusia. Kontras dengan pendekatan struktural
yang
memfokuskan
diri
pada
indevidu
dan
cici-ciri
kepribadiannya.
Ataubagaimana struktur sosial membentuk perilaku tertentu indevidu8.
Perspektif interaksi simbolik di bawah payung perspektif yang lebih
besar,yaitu perspektif fenomenologis atau perspektif interpretatif. Maurice
natanson (dalam mulyana. 2006:59). Mengakui bahwa George herbert mead di
pengaruhi perspektif fenomenologis ini.
8
Deddy Mulyana dan Solatun. Metode Penelitian Komunikasi. PT. Remaja Rosda Karya Bandung 2013 hal
93
http://digilib.mercubuana.ac.id/
14
Teori interaksi simbolik ini tidak dapat d lepaskan dari pemikiran george
herbert mead (1863-1931). Mead di lahirkan di hadley, satu kota kecil di
massachusetts. Amerika serikat. Karir mead berawal saat ia menjadi seorang
profesor di kampus Oberlin, Ohio, Amerika serikat. Kemudian Mead
berpindah-pindah mengajar dari satu kampus ke kampus lain, sampai akhir nya ia
di undang untuk pindah di universitas Michigan ke universitas Chicago oleh jhon
Dewey, di Chicago inilah mead sebagai seseorang yang memiliki pemikiran yang
orisinal dan membuat catatan konstribusi kepada ilmu sosial dengan meluncurkan
―
the theoretical perspektif‖ yang pada perkembangannya menjadi cikal bakal
―
Teori Interaksi Simbolik‖9.
Istilah ‖interaksionisme simbolik‖ di cetuskan oleh herbert blumer pada
tahun 1937. Namun . ide-ide dasar perspektif ini tampak mengerucut pada ide-ide
herbert mead yang tidak lain adalah guru dari herbert blumer ketika ia belajar di
universitas Chicago. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila sebagian
kalangan sosiolog kemudian mencoba untuk melacak akar dari perspektif ini
melalui pemikiran-pemikiran yang telah mempengaruhi karya-karya mead.
―
Mind, self and society‖ merupakan karya george herbert mead yang
terkenal (mead 1934 dalam west-turner, 2008: 96). Dalam buku tersebut
memfokuskan pada tiga tema konsep dan asumsi yang di butuhkan untuk
menyusun diskusi mengenai interaksi simbolik. Tiga tema konsep pemikiran
george herbert mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain: (1) pentingnya
makna bagi perilaku manusia, (2) pentingnya konsep mengenai diri. (3) hubungan
9
Everet Rogers. A History Of Communication Study. The Free Press. Hal 166
http://digilib.mercubuana.ac.id/
15
antara indevidu mengenai masyarakat.
Tema pertama pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya
membentuk makna pada perilaku manusia, yang dalam interaksi simbolik tidak
bisa di lepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada
artinya, sampai pada akhirnya konstruksi
melalui proses interaksi
secara interpretatif oleh indevidu
untuk menciptakan makna yang dapat di sepakati secara
bersama.jelasnya,mereka tidak dapat berkomunikasi tanpa berbagi makna untuk
menafsirkan kejadian-kejadian di sekitarnya jelasnya,mereka tidak dapat
berkomunikasi tanpa berbagi makna dari simbol-simbol yang di gunakan dalam
institusi-institusi tersebut (west & turner,2008:97-98).
Dalam morrisan & wardhani, (2009:146), blumer mengajukan tiga premis:
premis pertama, Bahwa human act taward people or things on the basis of the
meanings they assign to those people or things. Maksud nya manusia bertindak
atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya di landasi atas
pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut.
Premis kedua blumer adalah meaning arises out of the social interaction
that people have with each other. Pemaknaan muncul dari interaksi sosial yang di
pertukarkan di antara mereka. Mereka bukan muncul
atau melekat pada sesuatu
atau objek secara alamiah. Makna ini bisa muncul `dari sananya `. makna berasal
dari hasil proses negoisasi melalui penggunaan bahasa (language) dalam
perspektif interaksionisme simbolik.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
16
Di sini blumer menegaskan tentang pentingnya penamaan dalam proses
pemaknaan. Sementara itu mead juga meyakini bahwa penamaan simbolik ini
adalah dasar bagi msyarakat manusiawi (human society).
Premis ketiga blumer adalah an indeviduals interpretation of symbols is
modified by his or her own thought proces. Interaksionisme simbolik
menggambarkan proses berfikir sebagai perbincangan dengan diri sendiri. Proses
berfikir ini sendiri bersifat refleksif. Kita perlu untuk dapat berkomunikasi secara
simbolik. Bahasa pada dasarnya ibarat software yang dapat menggerakkan pikiran
kita.
Menurut mead hanya apabila kita memiliki simbol-simbol yang bermakna,
kita berkomunikasi dalam arti yang sesungguhnya. Komunikasi melibatkan tidak
hanya proses verbal yang di ucapkan dan di dengar, tetapi juga proses non verbal.
Proses non verbal meliputi seperti isyarat, pakaian, artefak, diam, temporalitas,
dan ciri paralinguistik. Bagi mead tidak boleh di remehkan dalam komunikasi
manusia.
Melalui interaksi atau komunikasi orang-orang dapat bertukar makna, nilai
dan pengalaman dengan menggunakan simbol dan tanda. Mead membedakan
simbol signifikan (significant symbols) yang merupakan bagian dari dunia makna
manusia dengan tanda alamiah (naturah signs) yang merupakan bagian dari dunia
fisik. Yang pertama di gunakan secara spontan dan tidak di sengaja dalam
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
merespon stimuli10.
Manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi
simbol-simbol. Kemampuan itu di perlukan untuk komunikasi antar pribadi dan
pikiran subjektif. Manusia di anggap sebagai aktor yang sadar dan reflektif yang
menyatukan objek-objek di ketahui melalui
self indication. Self indication
adalah proses komunikasi yang sedang berjalan dimana indevidu mengetahui
sesuatu, menilainya, memberi makna dan memutuskan untuk bertindak
berdasarkan makna itu11.
Perspektif interaksi simbolik berada di bawah payung perspektif yang
lebih besar. Yaitu persektif fenomenologis atau perspektif interpretatif. Maurice
Natanson (dalam Mulyana, 2006: 59) mengakui bahwa george Herbert mead di
pengaruhi representasi fenomenologis ini.Teori interaksi simbolik tidak bisa di
lepaskan dari pemikiran george herbert mead (1863-1931). Mead di lahirkan di
hadley. Satu kota kecil di massachusetts, amerika serikat , karier mead berawal
daat ia menjadi seseorang profesor di kampus Oberlin, Ohio, Amerika
serikat.kemudian mead berpindah-pindah mengajar dari satu kampus ke kampus
lain, sampai akhirnya ia di undang untuk pindah dari universitas michigan ke
universitas chicago oleh jhon dewey. Di chicago ini lah mead sebagai seseorang
yang memiliki pemikiran yang orisinal dan membuat catatan kontribusi kepada
ilmu sosial dengan meluncurkan ―
the theoretical perspektif‖ yang pada
10
11
Deddy Mulyana. Metodologi Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. 2006 : hal 80
Basrowi Sukidin. Metode Penelitian Kualitatif Perspektf Mikro. Insan Cendekia. 2002 hal 122
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
perkembangan menjadi cikal bakal ―te
ori interaksi simbolik‖12.
Istilah ―
interaksionisme simbolik‖ di cetuskan oleh herbert blumer pada
tahun 1937. Namun, ide-ide dasar perspektif ini tampak mengerucut pada ide-ide
herbert mead yang tidak lain adalah guru dari herbert blumer ketika ia belajar di
universitas chicago. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila sebagian
kalangan sosiologi kemudian mencoba untuk melacak akar dari perspektif ini
melalui pemikiran-pemikiran yang telah mempengaruhi karya-karya mead13.
―
Mind Self and Society‖ merupakan karya george herbert mead yang
terkenal (Mead 1934dalam West-Turner, 2008: 96). Dalam buku tersebut
memfokuskan tentang tiga tema konsep dan asumsiyang di butuhkan untuk
menyusun diskusi mengenai teori interaksi simbolik. Tiga tema konsep pemikiran
george herbert mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain: (1) pentingnya
makna bagi perilaku manusia, (2) pentingnya konsep mengenai diri. (3) hubungan
antara indevidu dan masyarakat. Tema pertama pada interaksi simbolik berfokus
pada pentingnya bentuk makna bagi perilaku manusia, yang dalam teori interaksi
simbolik tidak bisa di lepaskan dari proses komunikasi karena awalnya makna itu
tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konsruksi secara interpretatif oleh
indevidu melalui proses interaksi untuk menciptakan makna yang dapat di
sepakati secara bersama. Jelasnya, mereka tidak dapat berkomunikasi tanpa
berbagi makna dari simbol-simbol yang di gunakan dalam yang di gunakan
dalam . institusi-institusi tersebut (West & Turner, 2008:97-98).
12
13
Everett Rogers.A History of Communication Study. New york:The Free press. Hal.166
Ibid
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
Dalam Morrisan & Wardhani, (2009:146), blumer mengajukan tiga premis:
premis pertama, bahwa human act toward peope or things on the basis of the
meanings they assign to those people or things. Maksudnya manusia bertindak
atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya di landasi atas
pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut.
Premis kedua blumer adalah meaning arises out of the social interaction
that people have with each other. Pemaknaan muncul dari interaksi sosial yang di
pertukarkan di antara mereka. Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu
atau suatu objek secara alamiah. Makna tidak bisa muncul ―
dari sananya‖ makna
berasal dari hasil proses negoisasi melalui penggunaan bahasa (language) dalam
perspektif interaksionisme simbolik.Di sini blumer menegaskan tentang
pentingnya penanaman dalam proses pemaknaan. Sementara itu mead juga
meyakini bahwa penanaman simbolik ini adalah dasar bagi masyarakat manusiawi
(human society).
Premis ketiga blumer adalah an indeviduals interpretation of syimbols is
modified by his or her own thought process. Interaksionisme simbolik
menggambarkan proses berfikir sebagai perbincangan dengan diri sendiri. Proses
berfikir ini sendiri bersifat refleksif. Kita perlu untuk dapat berkomunikasi secara
simbolik. Bahasa pada dasarnya ibarat software yang dapat menggerakan pikiran
kita.Menurut mead, hanya apabila kita memiliki simbol-simbol yang bermakna,
kita berkomunikasi dalam arti yang sesungguhnya. Komunikasi melibatkan tidak
hanya proses verbal yang di ucapkan dan di dengar, tetapi juga proses non verbal,.
Proses non verbal meliputi seperti isyarat, pakaian, artefak, diam, temporalitas,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
dan ciri paralinguistik, bagi mead tidak boleh diremehkan dalam komunikasi
manusia.
Melalui interaksi atau komunikasi orang-orang dapat bertukar makna, nilai
dan pengalaman dengan menggunakan simbol dan tanda. Mead membedakan
simbol signifikan (significant symbols) yang merupakan bagian dari dunia makna
manusia dengan tanda alamiah (Natural Signs) yang merupakan bagian dari dunia
fisik. Yang pertama di gunakan secara spontan dan tidak di sengaja dalam
merespon stimuli14.
Manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan manipulasi
simbol-simbol. Kemampuan di perlukan untuk komunikasi antar pribadi dan
pikiran subjektif. Manusia di anggap sebagai aktor yang sadar dan reflektif yang
menyatukan objek-objek yang di ketahuinya melalui self indication,self indication
adalah proses komunikasi yang sedang berjalan dimana indevidu mengetahui
sesuatu, menilainya, memberi makna dan memutuskan untuk bertindak
berdasarkan makna itu15.
Menurut blumer (1969:537-538) dengan melakukan interaksi simbolik
seseorang mencoba menginterpretasikan makna tindakan orang lain,membuat
definisi situasi, kemudian bertindak atas dasar makna atau definisi situasi
tersebut.melalui interaksi simbolik, indevidu juga memberikan indikasi atau sinyal
tentang tindakan apa yang di harapkan dari mitra interaksinya.
Selain simbol dan tindakan mead juga percaya bahwa manusia harus
14
15
Deddy Mulyana.Metodologi Kualitatif.PT.Remaja Rosdakarya.2006: Hal.80
Basrowi sukidin.Metode Penelitian Kualitatif Persepektif Mikro,Insan Cendekia,2002:Hal.122
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain dan ini mampu
membuat kita menciptakan setting interior bagi masyarakat yang kita lihat
beroprasi di luar diri kita. Mead menyatakan bahwa keduanya mempunyai
hubungan timbal balik.pikiran melibatkan proses berfikir yang mengarah pada
penyelesaian masalah.dunia nyata penuh dengan masalah dan memungkinkan
orang beroperasi lebih efektif dalam kehidupan.
Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya konsep diri
yang ia namakan ―
I‖ dan ―
Me‖. Mead menyatakan, ―
diri pada dasarnya adalah
proses sosial yang berlangsung dalam dua fase yang dapat di bedakan‖. Diri
sebagai manusia sebagai subjek dan ―
I‖ dan diri seseorang manusia sebagai objek
adalah ―
Me‖. ―
I‖ adalah aspek diri yang bersifat non-reflektif yang merupakan
respon terhadap suatu perilaku spontan tanpa adanya pertimbangan. Dan, ketika di
dalam aksi dan reaksi terhadap suatu pertimbangan ataupun pemikiran, maka pada
saat itu ―
I‖ berubah menjadi ―Me
‖.
Menurut Ritzer & Goodman, mead mengemukakan seseorang menjadi
―
Me‖. Maka ia bertindak berdasarkan pertimbangan terhadap norma-norma
generalized other, serta harapan-harapan orang lain. Adapun ―
I‖ adalah ketika
terdapat ruang spontanitas, sehingga muncul tingkah laku spontan dan kreativitas
di luar harapan dan norma yang ada. Dengan kata lain, ―
Me‖ adalah penerima atas
orang lain yang di generalisasikan.
Selain dengan konsep-konsep dasar sebelumnya yan lebih menekankan pada
pentingnya indevidu dan interaksi. Perspektif ketiga mead mengenai masyarakat
di lihat sebagai sebuah proses dimana indevidu-indevidu saling berinteraksi secara
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
terus menerus. Blumer sendiri menegaskan bahwa masyarakat terbentuk dari
aktor-aktor sosial yang saling berinteraksi dan dari tindakan mereka dalam
hubungan dengan yang lain.
2.4
Perspektif Fenomenologi
Perspektif fenomenologi adalah sudut pandang penelitian folklor dari sisi
fenomena yang ada. Realitas menjadi dasar penelitian. Fenomenologi memang
wawasan filosofi (epistemologis), artinya bagaimana data folklor harus di
dasarkan realitas itu sendiri, namun demikian, yang di sebut fenomena folklor
lebih dari kasat mata. Jika bertumpu pada Husserl (muhadjir.2000:17) objek ilmu
itu tidak terbatas pada yang empirik (sensual), melahirkan mencakup fenomena
persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan, bahkan transendental.
Pernyataan demikian jelas terdapat pula pada fenomena folklor. Folklor
tidak hanya mengangkat hal-hal empirik, melaikan memuat aspek psikologis dan
transendental. Sejalan dengan hal ini Aminuddin (1990:109) menyebutkan bahwa
perspektif fenomenologi ada tiga arah.
Pertama : fenomenologi eideik dari kata eidos artinya murni. Dalam sastra
perspektif ini di kembangkan oleh Ingarden, inti dari eidik adalah pemaknaan
fenomena di tentukan oleh gejala utama, penandaan (pemilihan gejala),
penyaringan (reduksi), dan penggambaran inti gejala (refleksi). Jika pengertian ini
di terapkan dalam bidang folklor, tampaknya merupakan cermin dari langkah
paparan etnografik folklor.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
Kedua : fenomenologi transendal, artinya keberadaan realitas sebagai
―
objek‖ secara tegas lebih di tekankan. Kesadaran aktif atau cogito dalam
menangkap dan merekondisi isi kesadaran terhadap suatu gejala (coqitotum) tidak
pernah ada dalam kekosongan total. Kesadaran terhadap sutu gejala di landasi
oleh arahan yang memilih bangun struktur tertentu.
Ketiga : fenomenologi eksistensial, artinya penentuan pengertian dari suatu
gejala semata-mata bersifat individual. Dalam konteks ini keberadaan itu mengacu
―
teori bergantung pada‖. Manusia ada sebagaimana dirinya sendiri, menemukan
dan menjadi sesuatu atas pilihan dan kreasinya sendiri. Sertre (1968:5) misalnya,
filsuf yang sering dituduh mengabaikan ilmu pengetahuan menyatakan. . .what is
true of the objek is also true of the idea. If the object must have a determined
quantity and quality, so must the idea. Dalam fenomenologi eksistensial, refleksi
individual menjadi ―
guru‖ bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan
kebenaran.16
2.5
Fungsi Komunikasi kelompok
Menurut Kartini Kartono (1985:101), fungsi kelompok adalah :
a. Kelompok merupakan wadah dan ruang psikologis kepada semua
anggotanya sehingga merasa memiliki terhadap kelompoknya.
b. Munculnya kader yang menunjukan loyalitas dan kesetiakawanan sosial.
c. Memberikan rasa aman pada semua anggotanya.
d. Adanya
penghargaan
melalui
status
dan
16
peran
masing-masing
Suwardi Endaswara. Metodologi Penelitian Folklor Konsep Teori Dan Aplikasi. Yogyakarta :
Media Pressindo, 2009. Hal 91-92
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
anggotanya.
e. Ada satu tujuan ideal tertentu dari kelompok.
f. Kelompok dapat berperan sebagai wahana untuk mencapai tujuan.
g. Anggota kelompok sebagai individu merasa sebagai organ dari
kelompok.
2.6
Karakteristik Komunikasi Kelompok
Menurut Sherif dalam (Nazsir dan Sunny, 2004:9), karakteristik dari
kelompok adalah :
a. Anggota memiliki motivasi yang sama, dan ini mendorong mereka
berinteraksi dalam mencapai tujuan.
b. Kelompok terdiri atau memiliki struktur, status, peran yang semua itu
terjadi karena perubahan kebutuhan.
c. Organisasi di dalam kelompok yang sifatnya tegas akan mempermudah
memberikan ciri kepada kelompok tersebut
d. Adanya norma yang tegas dari kelompok tersebut.
Menurut Van Zandem 1984 (dalam Nazsir dan Sunny, 2004:9),
menampilkan ciri-ciri kelompok sebagai berikut :
a. Kelompok itu memiliki ciri tertentu yang dibatasi oleh lokasi geografis,
faham politik, agama dan lainnya.
b. Kelompok itu memiliki tujuan yang jelas.
c. Umumnya anggota menyadari bahwa keanggotaannya dalam kelompok
itu berbeda dengan kelompok lain.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
2.6.1
Karakteristik Unik Komunikasi Kelompok
a. Kepribadian Kelompok
Kelompok memiliki kepribadian kelompok sendiri, berbeda dengan
kepribadian individu para anggotanya. Anda di rumah di kenal pendiam,
erbicara seperlunya saja. Namun, setelah berada di dalam kelompok anda
menjadi orang yang suka berbicara, mencurahkan isi hati dengan penuh
gairah.
b. Norma Kelompok
Norma dalam kelompok mengidentifikasikan anggota kelompok itu
berperilaku. Misalnya, tentang cara-cara untuk pertimbangan kelompok
adalah benar. Sebagai contoh, bagaimana cara santri di Pondok Pesantren
Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, bergaul dan berperilaku
secara Islam, sesuai ajaran yang benar, yang di kembangkan oleh Ustad
Abu Bakar Ba`asyir.
Tiap kelompok menetapkan sistem nilai dari konsep perilaku
normatif mereka sendiri. Norma kelompok ini akan menjadi norma individu.
Pengembangan norma dalam suatu kelompok di gunakan untuk mengatur
perilaku kelompok. Norma ini berlaku bagi anggota kelompok secara
individu, maupun secara keseluruhan.
Napier dan Gershenfeld mengemukakan bahwa para anggota
kelompok akan menerima norma kelompok apabila :
a. Anggota kelompok menginginkan keanggotaan yang kontinyu dalam
kelompok
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
b. Pentingnya keanggotaan kelompok.
c. Kelompok bersifat kohesif, yakni anggotanya berhubungan sangat erat,
terikat satu sama lain, dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan
anggota-anggotanya.
d. Keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok semakin penting.
e. Pelanggaran
kelompok
di
hukum
dengan
reaksi
negatif
dari
kelompok.( Joseph A. DeVito, 1997:304.).
Para anggota dalam kelompok akan berinteraksi satu sama lain.
Interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tidak berbeda dengan interaksi
sosial yang terjadi di dalam sistem sosial. Interaksi sosial tersebut dapat
membawa akibat menyatukan atau memecah belah keutuhan kelompok. Di
dalam kehidupan kelompok, aspek komunikasi antarpribadi mempunyai
peran yang dominan. Komunikasi itu di katakan efektif bila anggota mampu
memberikan informasi kepada kelompok mengenai suatu program secara
selektif, atau mengurangi kesimpangsiuran informasi.
Efektifitas kelompok dapat dilihat dari aspek produtifitas, moral, dan
kepuasan para angotanya. Produtifitas kelompok dapat dilihat dari
keberhasilan mencapai tujuan kelompok. Moral dapat di amati dari
semangat dan sikap para angggotanya. Kepuasaan anggota kelompok dapat
dilihat dari keberhasilan anggotanya dalam mencapai tujuan pribadinya.
c. Kohesivitas Kelompok
Hosivitas merupakan kekuatan yang saling tarik menarik di antara
anggota-anggota
kelompok,
ibaratnya,
sepiring
http://digilib.mercubuana.ac.id/
nasi
di
antara
27
butir-butirnya saling melekat.
Faktor –faktor yang menetukan kohesivitas kelompok,antara lain:
1. Perilaku normatif yang kuatketika individu diidentifikasikan ke
dalam kelompok yang diikuti.
2. Lamanya menjadi anggota kelompok. Semakin lama seseorang
menjadi anggota kelompok akan memperlihatkan sifat kooferatifdan
solidaritas yang tinggi.
d. Pemenuhan Tujuan
Individu memiliki tujuan yang pararel dengan tujuan kelompoknya. Oleh
karena itu, anggota-anggota kelompok berusaha untuk mencapai
keberhasilan tujuan kelompok dan menghindari kegagalan tujuan
kelompok.17
2.7
Komunikasi Kelompok
Gagasan pemikiran dari sekelompok orang akan lebih berkualitas dari pada
gagasan anda sendiri.Kita sering menjumpai kelompok-kelopok studi (study club )
di kampus. Hal merupakan salah satu dari komunikasi kelompok (group
comunication ). Dalam membatasi ukuran kelompok, banyak ahli yg belum
sepakat tentang keanggotannya. Sebagian dari mereka menyebut sebagai
kelompok kecil ( small group ). Kelompok
kecil bisa diartikan sebagai
sekumpulan individu. Dengan jumlah anggota yang kecil memungkinkan semua
anggota bisa berkomunikasi secara relatif mudah, baik sebagai sumber atau
penerima informasi. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan
17
Wiryanto. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo. 2004. Hal : 44 - 50
http://digilib.mercubuana.ac.id/
28
tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka.
Kebanyakan
kelompok
kecil
mengembangkan
norma-norma
yang
mengidentifikasikan apa yang diinginkan bagi semua anggotannya.18
2.7.1 Pengertian Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok kecil ( small group communication )
merupakan proses komunikasi antara tiga orang atau lebih yang berlangsung
secara tatap muka. Dalam kelompok tersebut anggota berinteraksi satu sama
lain. Tipe komunikasi ini oleh banyak kalangan di nilai sebagai
pengembangan dari komunikasi antarpribadi. Trenholm dan jensen (1995:26 )
mengatakan bahwa komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara
tatapmuka, biasanya bersifat spontan dan informal.Peserta satu sama lain
menerima umpan balik secara maksimal, peserta komunikasi berperan secara
fleksibel sebagai pengirim dan penerima. Setelah orang ketiga bergabung di
dalam interaksi tersebut, berakhirlah komunikasi antarpribadi, dan berubah
menjadi komunikasi kelompok kecil.19
Menurut Michael
Burgoon (1978:
224
)
mendefinisikan
komunikasi kelompok adalah interaksi secara tatap muka antara tiga orang
atau lebih, dengan tujuan
yang telah diketahui,
seperti
berbagi
informasi,menjadi diri,pemecahan masalah yang mana anggota-anggotanya
dapat mengingat karakteristik anggota-anggotanya yang lain secara tepat.20
Komunikasi kelompok besar sebagai kebalikan dari komunikasi
kelompok kecil yaitu ditujukan kepada efeksi komunikan, prosesnya
18
19
20
Wiryanto2008, Pengantar Ilmu Komunikasi, Cetakan keempat, Grasindo, Jakarta, Hal 44
Ibid, Hal 45
Wiryanto, 2008, Pengantar Ilmu Komunikasi, Cetakan keempat, Grasindo, Jakarta, Hal 46
http://digilib.mercubuana.ac.id/
29
berlangsung secara linear contoh komunikasi kelompok besar misalnya rapat
raksasa di sebuah lapangan. Jika komunikasi kelompok besar bersifat
heterogen sedangakan komunikasi kelompok kecil bersifat homogen.21
2.7.2 Keikutsertaan Individu Dalam Kelompok
Keikutsertaan individu menjadi anggota kelompok di sebabkan
alasan-alasan, sebagai berikut:
1. Perhatian dan keikutsertaan individu di tumbuhkan oleh solideritas
kelompok.
2. Perubahan sikap akan lebih mudah terjadi apabila individu berada dalam
satu kelompok, selanjutnya keputusan-keputusan kelompok akan lebih
mudah di terima dan di laksanakan apabila individu terlibat dalam
pengambilan keputusan.
3. Kepercayaan besar yang di berikan kelompok. Jaringan komunikasi
kelompok merupakan perangkat hubungan yang menunjukkan lingkaran
pergaulan antara individu satu dengan yang lainnya, atau anggota
anggota kelompok dalam membicarakan isu-isu tertentu. Hubungan di
antara individu-individu dan klik-klik (Clique) mengenai isu-isu dapat di
telusuri dari pertanyaan ―
siapa berinteraksi dengan siapa?‖ Indevidu
berdiskusi mengenai isu-isu tersebut?
Keberhasilan komunikasi kelompok di sebabkan oleh keterbukaan
anggota menanggapi,anggota dengan senang hati menerima informasi,
kemauan anggota merasakan apa yang di rasakan anggota lain, situasi
21
Onong Uchjana, 2003, Ilmu, teori dan Fisafat, Bandung, Hal 77
http://digilib.mercubuana.ac.id/
30
kelompok yang mendukung komunikasi berlangsung efektif, perasaan
positif terhadap diri anggota kelompok,dorongan terhadap orang lain agar
lebih aktif berpartisipasi, dan kesetaraan, yakni bahwa semua anggota
kelompok memiliki gagasan yang penting untuk di sumbangkan kepada
kelompok.
2.7.3 Komunikasi Kelompok Verbal
Komunikasi
verbal
adalah
komunikasi
yang
menggunakan
simbol-simbol atau kata-kata baik yang dinyatakan secara oral atau lisan
maupun tulisan.22 Tinjauan mengenai komunikasi verbal yaitu :
a. Bahasa Sebagai Suatu Simbol
Bahasa bisa dibayangkan sebagai suatu kode atau system simbol yang
digunakan untuk membentuk pesan—pesan vebal. Dapat didefinisikan
bahasa sebagai suatu system produktif yang terdiri atas simbol-simbol
yang cepat lenyap, bermakna bebas serta dipancarkan secara cultural.
pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat
berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap. Disini gorys keraf
lebih menekankan definisi bahasa terhadap dua inti pokok bahasan, yaitu
bahwa bahasa dinyatakan dengan simbol yang dihasilkan oleh alat ucap
dan fungsinya alat komunikasi. Secara sederhana, Gorys keraf
sebenarnya telah mampu menemukan sebuah kenyataan bahwa memang
22
Muhammad, Arni. Komunikasi Organisasi. (Jakarta :Bumi Aksara.2007) Hal 95
http://digilib.mercubuana.ac.id/
31
pada dasarnya inti pokok bahasa adalah komunikasi, komunikasi tanpa
bahasa ibarat kehilangan ruh.
Menurut Dedy Mulyana bahwa sebenarnya bahasa adalah
seperangkat
simbol
dengan
aturan
untuk
mengkombinasikan
simbol-simbol tersebut yang digunakan dan dapat dipahami dalam suatu
komunitas.
b. Bahasa Sebagai Institusi Sosial
Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang diracang, dimodifikasi dan
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kultur atau subkultur yang
terus menerus berubah. Karenanya bahasa dari budaya satu dengan
budaya lainnya berbeda. Subkultur adalah kultur-kultur dalam sebuah
kultur yang lebih besar. Ini dapat didasarkan atas agama, wilayah
geografis, pekerjaan, orientasi afektif, suku bangsa, kebangsaan, kondisi
hidup, minat, kebutuhan dan sebagainya.
Setiap individu menjadi anggota dari beberapa subkultur. Tingkat
kepentingan afiliasi dengan subkultur tertentu berbeda-beda pada setiap
orang, konteks, waktu dan situasi. Karena minta yang sama merupakan
sebuah kultur, maka istilah subbahasa pun muncul.
2.7.4 Komunikasi Kelompok Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan
dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang menggunakan
gerak tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
32
muka, kedekatan jarak dan sentuhan. Meskipun komunikasi verbal dan non
verbal berbeda dalam banyak hal namun kedua bentuk itu seringkali bekerja
sama atau dengan kata lain komunikasi non verbal ini mempunyai fungsi
tertentu dalam proses komunikasi verbal. Fungsi utamanya adalah sebagai
pengulangan,
pelengkap,
pengganti,
memberikan
penekanan
dan
memperdayakan.23
a. Fungsi komunikasi Nonverbal
Komunikasi Nonverbal dapat menjalankan sejumlah fungsi penting,
yaitu:
1)
24
Untuk Menekankan
Kita menggunakan komunikasi nonverbal untuk menonjolkan atau
menekankan beberapa bagaian dari pesan nonverbal. Misalnya saja,
tersenyum untuk menekkankan kata atau ungkapan teretntu, atau
memukulkan tangan ke meja untuk menekankan suatu hal tertentu.
2)
Untuk melengkapi
Kita juga menggunakan komunikasi nonverbal untuk memperkuat
warna atau sikap umum yang dikomunikasikan oleh pesan verbal.
Misalnya tersenyum ketika menceritakan kisah lucu.
3)
Untuk Menunjukan Kontradiksi
Kita juga dapat secara sengaja mempertahankan pesan verbal dengan
pesan nonverbal. Untuk mendeteksi apakah pernyataan yang keluar
dari lisan seseorang benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang
23
Ibid Hal 130-133
Deddy Mulyana, 2010, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Ketujuh, Remaja Rosda
Karya, Bandung, Hal 349-350
24
http://digilib.mercubuana.ac.id/
33
paling dalam. Misalnya, berkata rilex atau tenang menghadapi
sesuatu, namun bahasa tubuh justru menterjemahkan sebaliknya
dengan isyarat nonverbal suara dan tangan gemetar.
4)
Untuk Mengatur
Gerak – gerik nonverbal dapat mengendalikan atau mengisyaratkan
keinginan anda untuk mengatur arus pesan verbal. Misalnya
mengerutkan bibir, mencondongkan badan ke depan, atau membuat
gerakan tangan untuk menunjukan bahwa anda ingin mengatakan
sesuatu, hal ini merupakan contoh dari fungsi mengatur arus verbal.
5)
Untuk Mengulangi
Di Amerika orang bisa menggunakan komunikasi nonverbal sebagai
bentuk pengulangan atau penegasan terhadap suatu pernyataan.
Seperti contoh
kita bisa menggelengkan kepala ketika menyatakan
suatu ketidak setujuan, atau ketika kita menggunakan tangan untuk
menunjukan suatu arah jalan bila ada orang yang bertanya.
6)
Untuk Menggantikan
Komunikasi non verbal juga berfungsi sebagai pengganti suatu
ungkapan makna pesan yang tidak bisa terjemahkan dengan
kata-kata. Seperti contoh kalau bertemu dengan teman lama kita
maka hal yang pertama kita lakukan adalah tesenyum lebar, sambil
mengembangkan kedua tangan untuk menyambut dirinya. Atau bila
ada sekumpulan orang yang berisik dan mengganggu disekitar kita,
maka kita cenderung meletakan jari telunjuk di mulut kita sambil
http://digilib.mercubuana.ac.id/
34
mengeluarkan bunyi mendesis sebagai tanda untuk menyuruh orang
untuk diam.
2.8
Komunitas
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari berbagai lingkungan,
umumnya memiliki keterkaitan dan habitat yang sama.Dalam komunitas manusia,
individu-individu di dalamnya memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya ,
preferensi, kebutuhan , resiko, kegemaran dan
sejumlah kondisi lain yang
serupa.komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berasal dari
―
kesamaan‖, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti ―sama,
publik, dibagi oleh semua atau banyak‖. Menurut Crow dan Allan, komunitas
dapat terbagi menjadi 3 komponen :
a. Berdasarkan lokasi atau tempat
Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana
sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis. Dan saling
mengenal satu sama lain sehingga tercipta interaksi dan memberikan
kontribusi bagi lingkungannya,
b. Berdasarkan minat
Sekelompok orang yang menderikan suatu komunitas karena mempunyai
ketertarikan dan minat yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras, hobi
maupun berdasarkan kelainan seksual. Komunitas berdasarkan minat memiliki
jumlah terbesar karena melingkupi berbagai ospek, contoh komunitas motor
tua klasik dapat berpartisipasi diberbagai kegiatan bersama misalkan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
35
mengadakan touring di berbagai tempat.
c. Berdasarkan komuni
Komuni dapat berarti
ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu
sendiri.
2.9
Komunitas Motor Indonesia
Terkadang susah ketika kita mencoba membedakan sebuah komunitas dan
club motor. MemaError! No bookmark name given.ng, komunitas motor tidak
jauh beda dengan club motor, sama-sama tidak melakukan kegiatan yang anarkis,
rusuh, dan tawuran. Hanya saja, dari sisi safety riding, komunitas motor berbeda
jelas dan lebih cenderung ke kegiatan touring atau memposisikan visi-misi atas
kesepakatan membernya. Dan mereka tidak berpatokan pada satu merk pabrikan
motor, dan atau tipe motor tertentu. Berikut adalah ciri dari komunitas motor:
komunitas atau dalam bahasa Inggrisnya Community terdiri dari beberapa merk
motor dan atau tipe motor, bebas dengan berbagai macam aliran.
2.10 Remaja
Masa remaja menurut Mappiare, berlangsung antara umur 12-21 tahun bagi
wanita. Sedangkan 13-22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu usia 12-13 tahun sampai 17-18 tahun adalah remaja
awal dan usia 17-18 tahun sampai dengan 21-22 tahun adalah remaja aktif.25
Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa
25
Gunarsa, dan Gunarsa. Y, Psikologi Anak dan Remaja, BPK. Gunung Mulia: Jakarta, 2003,
59.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
36
Latin adolescence yang artinya ―
tumbuh untuk mencapai kematangan‖. Remaja
juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Menurut
Shaw dan Costanzo, transformasi intelektual dari cara berpikir remaja saat ini,
memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintegrasikan dirinya
ke
dalam masyarakat dewasa, tetapi juga merupakan karakteristik yang paling
menonjol dari semua periode perkembangan.26
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak
termasuk golongan anak-anak, tetapi juga dapat diterima secara penuh untuk
masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa.
Oleh karena itu, remaja sering dikenal dengan fase ―
mencari jati diri‖ atau fase
―
topan dan badai‖. Menurut Monks, remaja masih belum mampu menguasai dan
memfungsikan secara maksimalkan fungsi fisik maupun psikis dirinya sendiri.
Namun yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa fase remaja merupakan fase
perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari
aspek kognitif, emosi maupun fisik.27
2.11
Konsep Keselamatan Berkendara
2.11.1 Keselamatan Berkendara
Aturan dasar berkendara dijelaskan dalam Undang-Undang Republik
Indonesia No. 22 tahun 2009 pada Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 1
ayat 8 yang menyebutkan bahwa “Kendaraan Bermotor adalah setiap
Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain
26
S. W. Sarwono, Psikologi Remaja, Cetakan ke-13, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2010,
72.
27
Sarwono, op.cit., 75.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
37
Kendaraan yang berjalan di atas rel.”
Definisi sepeda motor disebutkan juga pada Pasal 1 ayat 20 UU No.22
tahun 2009 bahwa “Sepeda motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua
dengan atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping
atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah.”
Kemudian
undang-undang
tersebut
menyebutkan
tentang
perlunya
perlengkapan kendaraan bermotor yang dituang di Bab IV pasal 57 ayat 1 dan 2,
yaitu:
1.
Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan wajib
dilengkapi dengan perlengkapan Kendaraan Bermotor.
2.
Perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Sepeda
Motor berupa helm standar nasional Indonesia.”
Definisi keselamatan berkendara atau dalam istilah asing safety riding adalah
suatu usaha yang dilakukan dalam meminimalisir tingkat bahaya dan
memaksimalkan keamanan dalam berkendara, demi menciptakan suatu kondisi,
yang mana kita berada pada titik tidak membahayakan pengendara lain dan
menyadari kemungkinan bahaya yang dapat terjadi di sekitar kita serta
pemahaman akan pencegahan dan penanggulangannya.
Implementasi dari pengertian di atas yaitu bahwa disaat kita mengendarai
kendaraan, maka haruslah tercipta suatu landasan pemikiran yang mementingkan
dan sangat mengutamakan keselamatan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang
lain. Untuk itu, berangkat dari dasar pemikiran keselamatan tersebut, maka para
pengendara haruslah menyadari arti dan pentingnya keselamatan, hal ini bisa
http://digilib.mercubuana.ac.id/
38
dicontohkan dengan meningkatnya angka kecelakaan di jalan raya dan berbagai
kejadian kecelakaan yang terjadi disebabkan dari berbagai macam kasus.
Walaupun terasa sangat sulit untuk menumbuhkannya, namun pemikiran
yang mengutamakan keselamatan tersebut haruslah merupakan kesadaran dari diri
sendiri yang terbentuk dan dibangun dari dalam hati dan bertekad untuk
melaksanakan segala aktivitas yang mendasar pada safety riding. Bila dasar
pemikiran safety riding (safety minded) telah masing-masing dimiliki, maka
dengan mudah setiap hal yang berkaitan dengan Safety riding dapat kita terapkan
dimulai dari diri sendiri dan memulainya dari hal-hal yang kecil, karena kesadaran
betapa pentingnya suatu keselamatan diri.
2.12 Prinsip- Prinsip Interaksi Simbolik
George
Ritzer
meringkaskan
teori
interaksi
simbolik
ke
dalam
prinsip-prinsip, sebagai berikut :
a. Manusia tidak seperti hewan lebih rendah, diberkahi dengan kemampuan
berfikir
b. Kemampuan berfikir itu di bentuk oleh interaksi sosial
c. Dalam interaksi sosial orang belajar makna dan simbol yang
memungkinkan mereka menerapkan kemampuan khas mereka sebagai
manusia, yakni berfikir
d. Makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan atau
(action) dan interaksi yang khas manusia
e. Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang
mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
39
mereka dalam situasi
f.
Orang mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini karena antara
lain, kemampuan mereka berinteraksi dengan diri sendiri yang
memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai
keuntungan dan kerugian relatif dan kemudian memilih salah satunya
g. Pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin menjalin ini membentuk
kelompok masyarakat.28
George Herbert Mead dipandang sebagai pembangun paham interaksi
simbolis ini. Ia mengajarkan bahwa makna muncul sebagai hasil interaksi di antara
manusia baik secara verbal maupun non verbal. Melalui aksi dan respon yang
terjadi, kita memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan, dan karenanya
kita dapat memahami suatu peristiwa dengan cara-cara tertentu. Menurut paham
ini, masyarakat muncul dari percakapan yang saling berkaitan diantara individu.
29
Teori ini berpandangan bahwa kenyataan sosial didasarkan kepada definisi
dan penilaian subjektif individu. Struktur sosial merupakan definisi bersama yang
dimiliki individu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk yang cocok, yang
menghubungkannya satu sama lain. Tindakan-tindakan individu dan juga pola
interaksinya dibimbing oleh definisi bersama yang sedemikian itu dan
dikonstruksikan melalui proses interaksi. Mead adalah pemikir yang sangat
penting dalam sejarah interaksionisme simbolik. Interaksi simbolik didasarkan
pada ide-ide mengenai diri dan hubungannya dengan masyarakat.
28
Deddy Mulyana, 2010, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Ketujuh, Remaja Rosda
Karya, Bandung, hlm 73
29
Morissan. Teori Komunikasi, individu hingga massa. Kencana, Jakarta:2013 hal 110-111
http://digilib.mercubuana.ac.id/
40
Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi
simbolik antara lain: pentingnya makna bagi perilaku manusia, pentingnya konsep
mengenai diri, hubungan antara individu dengan masyarakat. Tema pertama pada
interaksi simbolik berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku
manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses
komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di
konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk
menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan
tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer dalam West-Turner 30 dimana
asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang
diberikan orang lain kepada mereka,
2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3. Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya ‖Konsep diri‖
atau ‖Self-Concept‖. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada
pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada
interaksi sosial dengan orang lainnya. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan :
1. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan
orang lain,
2. Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku.
Tema terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara
30
Herbert Blumer dalam West-Turnerhttp://eric-harramain.blogspot.com
http://ericharramain.blogspot.com/ (1969) (2008: 99)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
41
kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa
norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada
akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam
sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan
mengenai
keteraturan
dan
perubahan
dalam
proses
sosial.
Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah:
a. Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses Budaya
dan sosial,
b. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Rangkuman dari hal-hal yang telah dibahas sebelumnya mengenai tiga tema
konsep pemikiran George Herbert Mead yang berkaitan dengan interaksi simbolik,
dan tujuh asumsi-asumsi karya Herbert Blumer31 adalah sebagai berikut, Tiga tema
konsep pemikiran Mead:
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia
a. Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan
orang lain terhadap mereka.
b. Makna yang diciptakan dalam interaksi antar manusia.
c. Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
2. Pentingnya konsep diri
a. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan
orang lain.
31
Herbert Blumer, Op.cit, 69
http://digilib.mercubuana.ac.id/
42
b. Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat
a. Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan
sosial.
b. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Karya tunggal Mead yang amat penting dalam hal ini terdapat dalam
bukunya yang berjudul Mind, Self dan Society. Mead mengambil tiga konsep
kritis yang diperlukan dan saling mempengaruhi satu sama lain untuk menyusun
sebuah teori interaksionisme simbolik. Dengan demikian, pikiran manusia (mind),
dan interaksi sosial (diri/self) digunakan untuk menginterpretasikan dan
memediasi masyarakat (society).
1.
Pikiran (Mind)
Pikiran, yang didefinisikan Mead sebagai proses percakapan seseorang
dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan di dalam diri individu, pikiran adalah
fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan
merupakan bagian integral dari proses sosial. Proses sosial mendahului pikiran,
proses sosial bukanlah produk dari pikiran. Jadi pikiran juga didefinisikan secara
fungsional ketimbang secara substantif. Karakteristik istimewa dari pikiran adalah
kemampuan individu untuk memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu
respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan. Itulah yang kita
namakan pikiran.
Melakukan sesuatu berarti memberi respon terorganisir tertentu, dan bila
seseorang mempunyai respon itu dalam dirinya, ia mempunyai apa yang kita sebut
http://digilib.mercubuana.ac.id/
43
pikiran. Dengan demikian pikiran dapat dibedakan dari konsep logis lain seperti
konsep ingatan dalam karya Mead melalui kemampuannya menanggapi
komunitas secara menyeluruh dan mengembangkan tanggapan terorganisir. Mead
juga melihat pikiran secara pragmatis. Yakni, pikiran melibatkan proses berpikir
yang mengarah pada penyelesaian masalah.
2.
Diri (Self)
Banyak pemikiran Mead pada umumnya, dan khususnya tentang pikiran,
melibatkan gagasannya mengenai konsep diri. Pada dasarnya diri adalah
kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek. Diri adalah
kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek. Diri mensyaratkan
proses sosial yakni komunikasi antar manusia. Diri muncul dan berkembang
melalui aktivitas dan antara hubungan sosial. Menurut Mead adalah mustahil
membayangkan diri yang muncul dalam ketiadaan pengalaman sosial. Tetapi,
segera setelah diri berkembang, ada kemungkinan baginya untuk terus ada tanpa
kontak sosial.
Diri berhubungan secara dialektis dengan pikiran. Artinya, di satu pihak
Mead menyatakan bahwa tubuh bukanlah diri dan baru akan menjadi diri bila
pikiran telah berkembang. Di lain pihak, diri dan refleksitas adalah penting bagi
perkembangan pikiran. Memang mustahil untuk memisahkan pikiran dan diri
karena diri adalah proses mental. Tetapi, meskipun kita membayangkannya
sebagai proses mental, diri adalah sebuah proses sosial. Dalam pembahasan
mengenai diri, Mead menolak gagasan yang meletakkannya dalam kesadaran dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
44
sebaliknya meletakkannya dalam pengalaman sosial dan proses sosial. Dengan
cara ini Mead mencoba memberikan arti behavioristis tentang diri. Diri adalah di
mana orang memberikan tanggapan terhadap apa yang ia tujukan kepada orang
lain dan dimana tanggapannya sendiri menjadi bagian dari tindakannya, di mana
ia tidak hanya mendengarkan dirinya sendiri, tetapi juga merespon dirinya sendiri,
berbicara dan menjawab dirinya sendiri sebagaimana orang lain menjawab kepada
dirinya, sehingga kita mempunyai perilaku di mana individu menjadi objek untuk
dirinya sendiri. Karena itu diri adalah aspek lain dari proses sosial menyeluruh di
mana individu adalah bagiannya.
Mekanisme umum untuk mengembangkan diri adalah refleksivitas atau
kemampuan menempatkan diri secara tak sadar ke dalam tempat orang lain dan
bertindak seperti mereka bertindak. Akibatnya, orang mampu memeriksa diri
sendiri sebagaimana orang lain memeriksa diri mereka sendiri. Seperti dikatakan
Mead :
―
Dengan cara merefleksikan, dengan mengembalikan pengalaman individu pada
dirinya sendiri keseluruhan proses sosial menghasilkan pengalaman individu yang
terlibat di dalamnya; dengan cara demikian, individu bisa menerima sikap orang
lain terhadap dirinya, individu secara sadar mampu menyesuaikan dirinya sendiri
terhadap proses sosial dan mampu mengubah proses yang dihasilkan dalam
tindakan sosial tertentu dilihatn dari sudut penyesuaian dirinya terhadap tindakan
sosial itu‖ Diri juga memungkinkan orang berperan dalam percakapan dengan
orang lain. Artinya, seseorang menyadari apa yang dikatakannya dan akibatnya
mampu menyimak apa yang sedang dikatakan dan menentukan apa yang akan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
45
dikatakan selanjutnya.
Untuk mempunyai diri, individu harus mampu mencapai keadaan ―
di luar
dirinya sendiri‖ sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu menjadi
objek bagi dirinya sendiri. Untuk berbuat demikian, individu pada dasarnya harus
menempatkan dirinya sendiri dalam bidang pengalaman yang sama dengan orang
lain. Tiap orang adalah bagian penting dari situasi yang dialami bersama dan tiap
orang harus memperhatikan diri sendiri agar mampu bertindak rasional dalam
situasi tertentu. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba memeriksa diri
sendiri secara impersonal, objektif, dan tanpa emosi. Tetapi, orang tidak dapat
mengalami diri sendiri secara langsung. Mereka hanya dapat melakukannya
secara tak langsung melalui penempatan diri mereka sendiri dari sudut pandang
orang lain itu. Dari sudut pandang demikian orang memandang dirinya sendiri
dapat menjadi individu khusus atau menjadi kelompok sosial sebagai satu
kesatuan. Seperti dikatakan Mead, hanya dengan mengambil peran orang lainlah
kita mampu kembali ke diri kita sendiri.
3.
Masyarakat (Society)
Pada tingkat paling umum, Mead menggunakan istilah masyarakat (society)
yang berarti proses sosial tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri.
Masyarakat penting perannya dalam membentuk pikiran dan diri. Di tingkat lain,
menurut Mead, masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir
yang diambil alih oleh individu dalam bentuk ―
aku‖ (me). Menurut pengertian
individual ini masyarakat mempengaruhi mereka, memberi mereka kemampuan
melalui kritik diri, untuk mengendalikan diri mereka sendiri. Sumbangan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
46
terpenting Mead tentang masyarakat, terletak dalam pemikirannya mengenai
pikiran dan diri. Pada tingkat kemasyarakatan yang lebih khusus, Mead
mempunyai sejumlah pemikiran tentang pranata sosial (social institutions).
Secara luas, Mead mendefinisikan pranata sebagai ―
tanggapan bersama dalam
komunitas‖ atau ―
kebiasaan hidup komunitas‖. Secara lebih khusus, ia
mengatakan bahwa, keseluruhan tindakan komunitas tertuju pada individu
berdasarkan keadaan tertentu menurut cara yang sama, berdasarkan keadaan itu
pula, terdapat respon yang sama dipihak komunitas. Proses ini disebut
―
pembentukan pranata‖. Pendidikan adalah proses internalisasi kebiasaan bersama
komunitas ke dalam diri aktor.
Pendidikan adalah proses yang esensial karena menurut pandangan Mead,
aktor tidak mempunyai diri dan belum menjadi anggota komunitas sesungguhnya
sehingga mereka tidak mampu menanggapi diri mereka sendiri seperti yang
dilakukan komunitas yang lebih luas. Untuk berbuat demikian, aktor harus
menginternalisasikan sikap bersama komunitas. Namun, Mead dengan hati-hati
mengemukakan bahwa pranata tak selalu menghancurkan individualitas atau
melumpuhkan kreativitas. Mead mengakui adanya pranata sosial yang ―
menindas,
stereotip, ultrakonservatif‖ yakni, yang dengan kekakuan, ketidaklenturan, dan
ketidakprogesifannya menghancurkan atau melenyapkan individualitas. Menurut
Mead, pranata sosial seharusnya hanya menetapkan apa yang sebaiknya dilakukan
individu dalam pengertian yang sangat luas dan umum saja, dan seharusnya
menyediakan ruang yang cukup bagi individualitas dan kreativitas. Di sini Mead
http://digilib.mercubuana.ac.id/
47
menunjukkan konsep pranata sosial yang sangat modern, baik sebagai pemaksa
individu maupun sebagai yang memungkinkan mereka untuk menjadi individu
yang kreatif.
Tujuh asumsi karya Herbert Blumer32:
1. Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang
diberikan orang lain pada mereka,
2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3. Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif,
4. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan
orang lain,
5. Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku,
6. Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses Budaya dan
sosial, Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial
7. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
2.12.1 Fungsi Simbol dan komunikasi
Bagi Cooley dan Mead, diri muncul karena komunikasi. Tanpa bahasa, diri
tidak akan berkembang. Manusia unik karena mereka memiliki kemampuan
memanipulasi
simbol-simbol
berdasarkan
kesadaran.
Mead
menekankan
pentingnya komunikasi, khususnya melalui mekanisme isyarat vokal (bahasa),
meskipun teorinya bersifat umum. Isyarat vokallah yang potensial menjadi
seperangkat simbol membentuk bahasa. Simbol adalah suatu rangakaian yang
32
Herbert Blumer dalam West-Turnerhttp://eric-harramain.blogspot.com
http://ericharramain.blogspot.com/ (1969) (2008: 99)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
48
mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respon manusia
terhadap simbol adalah dalam pengertian makna dan nilainya, alih-alih dalam
pengertian stimulasi fisik dari alat-alat indranya. Suatu simbol disebut signifikan
atau memiliki makna bila simbol itu membangkitkan pada individu yang
menyampaikannya respons yang sama seperti yang juga muncul pada individu
yang dituju.
Menurut Mead, hanya apabila kita memiliki simbol-simbol yang bermakna,
kita berkomunikasi dalam arti yang sesungguhnya. Ringkasnya, dalam pandangan
Mead isyarat yang dikuasai manusia berfungsi bagi manusia itu untuk membuat
penyesuaian yang mungkin diantara individu-individu yang terlihat dalam setiap
tindakan sosial dengan merujuk pada objek atau objek-objek yang berkaitan dengan
tindakan tersebut.33
2.12.2
Implikasi Interaksi Simbolik
Implikasi dari teori interaksi simbolik dapat dijelaskan dari beberapa teori atau
ilmu dan metodologi berikut ini, antara lain Teori sosiologikal modern (Modern
Sociological Theory) menurut Francis Abraham 1982 34 dalam Soeprapto 2007,
dimana teori ini menjabarkan interaksi simbolik sebagai perspektif yang bersifat
sosial-psikologis. Teori sosiologikal modern menekankan pada struktur sosial,
bentuk konkret dari perilaku individu, bersifat dugaan, pembentukan sifat-sifat
batin, dan menekankan pada interaksi simbolik yang memfokuskan diri pada
hakekat interaksi. Teori sosiologikal modern juga mengamati pola-pola yang
33
Deddy Mulyana, 2010, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Ketujuh, Remaja Rosda
Karya, Bandung, hlm 77
34
M. Francis Abraham (1982), Modern Sociological Theory (An Introduction). Dalam buku Oxford:
Oxford University Press. (Chapter 8. Simbolic Interacsionism 2007).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
49
dinamis dari suatu tindakan yang dilakukan oleh hubungan sosial, dan menjadikan
interaksi itu sebagai unit utama analisis, serta meletakkan sikap-sikap dari individu
yang diamati sebagai latar belakang analisis.
Perspektif interaksional (Interactionist perspective) merupakan salah satu
implikasi lain dari interaksi simbolik, dimana dalam mempelajari interaksi sosial
yang ada perlu digunakan pendekatan tertentu, yang lebih kita kenal sebagai
perspektif interaksional. Perspektif ini menekankan pada pendekatan untuk
mempelajari lebih jauh dari interaksi sosial masyarakat, dan mengacu dari
penggunaan simbol-simbol yang pada akhirnya akan dimaknai secara kesepakan
bersama oleh masyarakat dalam interaksi sosial mereka.
Konsep definisi situasi (the definition of the situation) merupakan implikasi
dari konsep interaksi simbolik mengenai interaksi sosial. Konsep definisi situasi
merupakan perbaikan dari pandangan yang mengatakan bahwa interaksi manusia
merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus) secara
langsung. Konsep definisi situasi mengganggap bahwa setiap individu dalam
memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan dari luar, maka perilaku dari
individu tersebut didahului dari suatu tahap pertimbangan-pertimbangan tertentu,
dimana rangsangan dari luar tidak ‖langsung ditelan mentah-mentah‖, tetapi perlu
dilakukan proses selektif atau proses penafsiran situasi yang pada akhirnya individu
tersebut akan memberi makna terhadap rangsangan yang diterimanya.
Konstruksi sosial (Social construction) merupakan implikasi berikutnya dari
interaksi simbolik yang merupakan buah karya Alfred Schutz, Peter Berger, dan
Thomas Luckmann, dimana konstruksi sosial melihat individu yang melakukan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
50
proses
komunikasi
untuk
menafsirkan
peristiwa
dan
membagi
penafsiran-penafsiran tersebut dengan orang lain, dan realitas dibangun secara
sosial melalui komunikasi.
Teori peran (Role Theory) merupakan implikasi selanjutnya dari interaksi
simbolik menurut pandangan Mead. Dimana salah satu aktivitas paling penting
yang dilakukan manusia setelah proses pemikiran (thought) adalah pengambilan
peran (role taking). Teori peran menekankan pada kemampuan individu secara
simbolik dalam menempatkan diri diantara individu lainnya ditengah interaksi
sosial masyarakat.
Teori diri (Self theory) dalam sudut pandang konsep diri, merupakan bentuk
kepedulian dari Ron Harrě, dimana diri dikonstruksikan oleh sebuah teori pribadi
artinya, individu dalam belajar untuk memahami diri dengan menggunakan sebuah
teori yang mendefinisikannya, sehingga pemikiran seseorang tentang diri sebagai
person merupakan sebuah konsep yang diturunkan dari gagasan-gagasan tentang
person hood yang diungkapkan melalui proses komunikasi.
Teori dramatisme (Dramatism theory) merupakan implikasi yang terakhir
yang akan dipaparkan oleh penulis, dimana teori dramatisme ini merupakan teori
komunikasi yang dipengaruhi oleh interaksi simbolik. Teori ini memfokuskan pada
diri dalam suatu peristiwa yang ada dengan menggunakan simbol komunikasi.
Dramatisme memandang manusia sebagai tokoh yang sedang memainkan peran
mereka, dan proses komunikasi atau penggunaan pesan dianggap sebagai perilaku
yang pada akhirnya membentuk cerita tertentu.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download