1 ANALISIS IMPLEMENTASI STRATEGI ADVOKASI, KOMUNIKASI

advertisement
ANALISIS IMPLEMENTASI STRATEGI ADVOKASI, KOMUNIKASI DAN
MOBILISASI SOSIAL (AKMS) DALAM PENGENDALIAN TUBERKULOSIS DI
WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN
Jesica Salindeho*, Ardiansa A.T Tucunan*, Franckie R.R Maramis*
*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado
ABSTRAK
Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis, secara global penyakit Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan utama.
Pengendalian tuberkulosis terus dilakukan, dimana Indonesia mengeluarkan Strategi Nasional
Pedoman Pengendalian TB dengan 8 Rencana Aksi Nasinal. Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi
Sosial (AKMS) telah menjadi salah satu strategi dalam Penanggulangan TB di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi strategi AKMS dalam Pengendalian
Tuberkulosis di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Selatan. Jenis penelitian
yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penentuan informan dengan teknik purposive
sampling. Data berupa informasi dikumpulkan dengan wawancara mendalam yang menggunakan
pedoman wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data kemudian disajikan
dalam bentuk uraian singkat, melakukan pemeriksaan keabsahan data dan penafsiran data,
selanjutnya menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa strategi komunikasi
dalam penyebaran informasi mengenai TB kepada masyarakat oleh petugas kesehatan, berupa
penyuluhan atau pun komunikasi antar personal (khusunya pada pasien TB) sudah berjalan
dengan baik. Tetapi untuk advokasi kepada pemerintah, LSM dan mobilisasi sosial kepada
masyarakat umum dan media massa masih belum dilakukan. Disarankan agar Puskesmas dan
Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Selatan mengadakan pembuatan buku pedoman AKMS,
melakukan kerjasama dengan seluruh fasilitas kesehatan, melibatkan masyarakat dan media
massa dalam kegiatan pengendalian TB.
Kata kunci: Tuberkulosis, Advokasi, Komunikasi, Mobilisasi Sosial, Wilayah Kerja Dinas
Kesehatan Kabupaten Minhasa Selatan
ABSTRACT
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis, globally
Tuberkulosis is still a major health problem. Control of tuberculosis disease continues to be
undertaken, where Indonesia issued a National Strategy of TB Control Guideline with 8 Plan of
Action, Advocacy, Communication and Social Mobilization (AKMS) has become one of the
strategies in TB Control in Indonesia. This study aims to analyze the implementation of AKMS
strategy in control of Tuberculosis in the working area of South Minahasa District Health Office.
The type of research is qualitative research. Determination of informant with purposive sampling
technique. The data collected by the information in the form of in-depth interviews using interview
guide. The data analysis was done by reducing the data is then presented in the form of a brief
descriptin, inspection data validity and interpretation of data, and then draw conclusions. The
results of research showed that the communication strategy in disseminating information to the
public about Tuberculosis disease by health workers, in the form of counseling or inter-personal
communication (especially in TB patients) are already well underway. But for advocacy to the
government, NGOs and social mobilization to the general public and mass media still has not been
done. Suggestions for health centers and South Minahasa District Health Office held a guidebook
AKMS manufacture, cooperating with all health facilities, involving the public and the mass media
in tuberculosis control activities.
Keyword: Tuberculosis, Advocacy, Communication, Social Mobilization, The Working Area of
South Minahasa District Health Office
kuman
PENDAHULUAN
Penyakit
Tuberkulosis
(TB)
Mycobacterium
tuberculosis.
adalah
Sebagian besar kuman TB menyerang
penyakit menular yang disebabkan oleh
paru, tetapi dapat juga menyerang organ
1
tubuh lainnya. Selain itu, TB juga dapat
sebelumnya. Untuk mencapai target
menyerang pada anak-anak dan orang
yang
dewasa. Pada tahun 2014, diperkirakan
tersebut, maka disusun 8 Rencana Aksi
ada 9,6 juta kasus baru TB di dunia, 5,4
Nasional
juta
penderita
penderita
laki-laki,
perempuan
penderita
yaitu:
nasional
Public-Private
Mix
juta
untuk TB, Programmatic Management
1
juta
of Drug Resistance TB, Kolaborasi TB-
dan
anak-anak.
(Global
HIV,
Penguatan
Laboratorium,
Pengembangan Sumber Daya Manusia,
Indonesia sebagai salah satu negara
dengan
strategi
3,2
Tuberkulosis Report 2015)
berkembang
ditetapkan
wilayah
Pengutan
yang
Logistik,
Advokasi
Komunikasi dan Mobilisasi Sosial, dan
terbagi atas 34 provinsi. Pada tahun
Informasi Strategis TB.
2014 angka prevalensi TB di Indonesia
Advokasi,
Komunikasi
dan
ditemukkaan sebanyak 324.539 kasus,
Mobilisasi Sosial (AKMS) telah menjadi
sedangkan ditahun 2015 mengalami
salah
peningkatan menjadi 330.910 kasus.
Penanggulangan TB yang merupakan
Provinsi dengan CNR semua kasus
bagian
tuberkulosis tertinggi pada tahun 2015
Penanggulangan TB tahun 2010-2014.
yaitu Sulawesi Utara dengan jumlah
Hingga saat ini, banyak hal yang telah
kasus 238/100.000 penduduk. (Profil
diterapkan dan dikembangkan terkait
Kesehatan Indonesia)
dengan AKMS. Penyebaran informasi
Pengendalian
tuberkulosis
terus
satu
dari
strategi
dalam
Rencana
Strategis
melalui media cetak dan elektronik,
dilakukan, dimana pada tahun 2010
kampanye
nasional,
pengembangan
Indonesia telah mengeluarkan Strategi
kapasitas bagi tim TB di tingkat Provinsi
Nasional Pedoman Pengendalian TB
dan Kabupaten/Kota telah dilakukan
dengan tema “Terobosan menuju Akses
untuk menunjang kemajuan program TB
Universal”. Hal ini disusun berdasarkan
dalam mencapai target global.
kebijakan pembangunan nasional 2010-
Berdasarkan hasil survei data awal
2014, rencana strategi Kementerian
di wilayah kerja Dinas Kesehatan
Kesehatan 2010-2014 dan strategi global
Kabupaten Minahasa Selatan didapatkan
dan regional. Selain itu, strategi ini
bahwa
mempunyai visi “Menuju Masyarakat
melaksanakan secara optimal tentang
Bebas Masalah TB, Sehat, Mandiri dan
strategi
Berkeadilan”
mobilisasi
serta
bertujuan
mempertahankan
pengendalian
untuk
kontinuitas
TB
pada
Puskesmas
advokasi,
pngendalian
periode
2
sosial
TB,
yang
komunikasi
(AKMS)
yaitu
belum
dan
dalam
Puskesmas
Amurang
Timur
dan
“Kami belum melakukan advokasi ke
Puskesmas
Ongkaw.
LSM, hanya sebatas pertemuan untuk
penyuluhan.
Tapi
kalau
melakukan
METODE PENELITIAN
advokasi untuk membantu Puskesmas
Penelitian ini merupakan penelitian
dalam pengendalian TB, kami belum
kualitatif. Penentuan informan pada
laksanakan” (Informan C).
penelitian
ini
menggunakan
teknik
Dari
pernyataan
diatas
dapat
purposive sampling, dengan jumlah
dianalisis bahwa upaya advokasi oleh
informan sebanyak 4 orang. Peneliti
kedua Puskesmas kepada LSM belum
menggunakan alat instrumen berupa
berjalan dengan optimal.
daftar pertanyaan wawancara, alat tulis
dikarenakan puskesmas berfokus pada
menulis dan perekam suara. Data berupa
program kerja yang ada di Puskesmas,
informasi
dikumpulkan
sehingga upaya advokasi kepada LSM
melakukan
observasi,
dengan
wawancara
Hal ini
belum dilaksanakan
mendalam dan dokumentasi. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan
2.
analisis
Bagaimana bentuk komunikasi yang
data
berupa
reduksi
data,
Komunikasi
penyajian data, keabsahan data dan
dilakukan dengan masyarakat umum?
penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil wawancara diuraikan
sebagai berikut:
HASIL DAN PEMBAHASAN
“Kalau kami lebih sering komunikasi
Berdasarkan wawancara mendalam yang
kelompok dengan masyarakat biasanya
dilakukan oleh peneliti diperoleh hasil
itu pada saat posyandu. Kalau yang
dan pembahasan sebagai berikut:
interpersonal biasanya dengan pasien
1. Advokasi
atau masyarakat yang baru melakukan
Bagaimana
upaya
advokasi
yang
dilakukan
kepada
LSM
dalam
pemeriksaan sputum. Kalau dengan
media
massa
kami
belum
ada”
pengendalian TB?
(Informan B).
Berdasarkan hasil wawancara diuraikan
“Dari puskesmas biasanya kami ada
sebagai berikut:
komunikasi
“Kami belum buat yang seperti itu, ya
posyandu, di PKK, Lansia dan Sekolah-
paling hanya sebatas apa saja yang ada.
sekolah.
Kami juga hanya fokus di dalam puskes
biasanya dengan pasien atau anggoata
saja.” (Informan B).
keluarga dengan masyarakat yang masih
kelompok,
Kalau
yang
itu
di
saat
interpersonal
sementara pemeriksaan atau yang sudah
3
terlihat gejalanya. Kalau yang media
kesehatan dalam melibatkan masyarakat
massa, kami belum ada” (Informan C).
umum.
Dari hasil wawancara diatas dapat
dianalisis bahwa upaya komunikasi di
KESIMPULAN
Puskesmas
1. Upaya
Ongkaw
sudah
berjalan
advokasi
kepada
LSM,
dengan baik. Hal ini dapat dilihat
organisasi masyarakat dan tokoh
melalui penyuluhan kelompok yang
masyarakat belum berjalan dengan
dilakukan
maksimal. Dimana, advokasi tersebut
diberbagai
tempat,
tidak
hanya pada posyandu di masing-masing
telah
ada
dalam
program
atau
wilayah kerja puskesmas.
rencana yang ada di Dinas Kesehatan
dan Puskesmas, tetapi hal tersebut
3. Mobilisasi Sosial
belum dilaksanakan.
Sejauh manakah partisipasi kader?
2. Penyebaran informasi mengenai TB
Berdasarkan hasil wawancara diuraikan
kepada masyarakat sudah berjalan
sebagai berikut:
dengan
“Kalau Kader disini tidak ada. Soalnya
penyebaran informasi dilakukan oleh
baru ada di dua Puskesmas dan disini
petugas
belum ada. Ya,
tergantung
penyuluhan atau pun komunikasi
kesadaran masyarakat. Memang sampai
antar personal (khusunya pada pasien
sekarang
TB).
masih
semua
kurang
masyarakat
baik.
Sebagian
besar
kesehatan,
Materi
yang
berupa
disampaikan
punya keterlibatan” (Informan C).
selama
“Kader ada, tapi sudah tidak terlalu
mengenai apa itu penyakit TB,
aktif. Mereka sudah tidak ada dana, jadi
bagaimana cara pencegahannya, serta
hanya
cara pengobatan.
langsung
ke
puskesmas-
penyuluhan
antara
lain
puskesmas. Kalau dulu kan mereka ada
3. Kegiatan mobilisasi sosial dalam
dana transportasi. Kalau masyarakat
melibatkan masyarakat umum belum
sendiri belum ada.” (Informan B)
berjalan secara optimal. Kurangnya
Dari
pernyataan
diatas
dapat
tenaga
dianalisis bahwa mobilisasi sosial pada
masyarakat
umum
untuk
sebagai kader di masing-masing belum
1.
baik.
Hal
masing-masing
ikut
SARAN
dengan
di
puskesmas.
berpatisipasi dalam pengendalian TB,
berjalan
kader
ini
Puskesmas harus menyusun strategi
tertentu dalam upaya
dikarenakan kurangnya upaya petugas
kepada
LSM
dan
advokasi
Pemerintah
Kabupaten Minahasa Selatan.
4
2.
3.
Puskesmas
harus
mengadakan
Rencana
pelatihan kader kepada masyarakat
Advokasi
serta melakukan follow up kepada
Mobilisasi Sosial Pengendalian
kader yang sudah tidak aktif dalaam
Tuberkulosis Indonesia Tahun
bertugas.
2011-2014.
Puskesmas
perlu
melakukan
berbagai
kegiatan
penyuluhan,
seminar
di
ataupum
berbagai
Dan
Jakarta:
2010.
Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
yang
Rineka Cipta
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
2011.
Tuberkulosis:Pedoman
Diagnosis
DAFTAR PUSTAKA
Kesehatan
Indonesia.
Komunikasi
Notoatmodjo.
dilaksanakan oleh warga setempat.
Kementerian
Nasional
Kementerian Kesehatan RI
instansi
kegiatan
Aksi
2011.
Dan
Republik
Penatalaksanaan Di Indonesia.
Pedoman
Jakarta
Penanggulangan Tuberkulosis.
Pusat Data Dan Informasi Kementerian
Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kesehatan Republik Indonesia.
RI
2015.
Kementerian
Kesehatan
Republik
Indonesia.
2015.
Profil
Kesehatan
Indonesia
2014.
Tuberkulosis.
Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI
Saryono dan Mekar Dwi Anggraeni.
2011.
Metodologi
Penelitian
Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kualitatif
Dalam
RI
Kesehatan.
Yogjkarta:
Muha
Organization.
2015.
Kementerian
Kesehatan
Republik
Indonesia.
2016.
Profil
Kesehatan
Indonesia
2015.
Bidang
Medik
World
Health
Global
Tuberculosis
Report
Jakarta: Kementerian Kesehatan
2015. France: World Health
RI
Organization
Kementerian
Kesehatan
Republik
Indonesia Ditjen PP&PL. 2011.
5
Download