bab i pendahuluan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Perkembangan fisik di Kota Malang dalam beberapa tahun terakhir mengalami
perkembangan yang pesat. Perkembangan yang pesat ini tentunya juga membawa
masalah baru. Salah satu masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Malang adalah
masalah permukiman. Masyarakat kota yang memiliki pendapatan yang rendah, sulit
untuk mendapatkan permukiman yang layak karena mahalnya biaya yang harus
dikeluarkan.
Salah
satu
dampaknya
adalah
tumbuhnya
kawasan
kumuh.
(Republika,2015)
Sesuai dengan SK Walikota Malang Nomor 188.45/86/35.73.112/2015, pada
tahun 2015 luas kawasan kumuh di Kota Malang mencapai 608,6 hektar sedangkan
luas Kota Malang adalah 11.606 hektar. Sehingga jika dipersentasekan, luas kawasan
kumuh di Kota Malang adalah 5,53%. Kawasan kumuh di Kota Malang tersebar di 29
dari 57 kelurahan yang ada.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
No. 2/PRT/M/2016 terdapat sembilan belas kriteria yang membuat suatu kawasan
disebut kumuh. Kriteria-kriteria tersebut dikelompokkan menjadi tujuh aspek, yaitu
kondisi bangunan, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan,
pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan proteksi kebakaran.
Kawasan kumuh dapat dengan mudah kita jumpai di bantaran sungai, sempadan
jalur kereta api dan di bawah jalan layang. Tempat-tempat tersebut pada dasarnya
bukanlah merupakan kawasan yang diperuntukkan sebagai kawasan hunian.
Penggunaan kawasan tersebut sebagai kawasan hunian menyebabkan timbulnya
berbagai masalah baik sosial maupun kesehatan.
Upaya revitalisasi permukiman kumuh sudah tertuang di salah satu program
pemerintah pusat yang dikenal dengan Program 100-0-100 melalui Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PU-PR). Kementerian PU-PR
1
2
menargetkan 100% pelayanan air minum, 0% kawasan kumuh dan 100% sanitasi layak
untuk semua wilayah kota di Indonesia. Program ini ditargetkan dapat tercapai pada
tahun 2019 di seluruh Indonesia.
Sebagai tahap awal, maka diperlukan pengumpulan data baseline permukiman
kumuh. Data baseline merupakan data yang disusun berdasarkan pada pengumpulan
data kekumuhan tingkat rumah tangga dan tingkat kawasan lingkungan di beberapa
lokasi yang telah ditetapkan. Pendataan ini merupakan suatu pemetaan yang bersifat
partisipatif yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat yaitu melalui
kelompok masyarakat Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Sesuai dengan data awal yang
dibutuhkan, KOTAKU melakukan pemetaan dengan menggunakan dua formulir
khusus. Formulir tersebut yaitu formulir untuk pengumpulan data kekumuhan rumah
tangga dan formulir pengumpulan data kekumuhan kawasan lingkungan. Kedua
formulir tersebut dibuat berdasarkan kriteria dan indikator yang telah ditetapkan oleh
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berupa isian singkat mengenai
kualitas permukiman yang dicetak pada kertas.
Terkait dengan pelaksanaan proses pendataan tersebut, formulir kertas yang
digunakan rentan terhadap kerusakan atau kehilangan. Selain itu, formulir tersebut
tidak memiliki informasi spasial apapun. Oleh sebab itu, diperlukan suatu metode baru
agar proses pendataan tetap dapat berjalan dengan baik tanpa takut formulir hilang
atau rusak. Kemudian formulir dapat mengakomodasi informasi yang lebih lengkap
dan isinya dapat dipantau dari waktu ke waktu. Solusi dari permasalahan ini adalah
dengan sistem pendataan menggunakan Open Data Kit (ODK).
Sistem Open Data Kit (ODK) merupakan perangkat lunak yang berjalan pada
Sistem Operasi Android. ODK adalah suatu sistem yang terdiri atas formulir digital
berbasis ODK dan server data yang disebut ODK Aggregate. Formulir digital berbasis
ODK yang berjalan pada smartphone memungkinkan pengumpulan data secara online,
berisikan informasi umum berupa data tekstual. Kemudian Formulir ODK juga
mampu untuk melampirkan foto, video serta lokasi pendataan dalam bentuk koordinat.
Data yang tersimpan pada ODK dapat langsung dikirim ke ODK Aggregate sehingga
petugas survei tidak perlu lagi merasa khawatir akan adanya data yang rusak dan
hilang. Sementara itu data yang sudah terkumpul di ODK Aggregate dapat diolah
sebagai lembar kerja digital dan dapat disajikan ke dalam sebuah peta interaktif secara
3
online. Peta interaktif tersebut akan menampilkan informasi parameter-parameter
kekumuhan pada suatu wilayah. Peta tersebut dapat digunakan untuk memonitor
jalannya pendataan serta dapat dijadikan landasan untuk membuat suatu kebijakan
tertentu.
Saat ini, terdapat beberapa komponen perangkat lunak untuk membuat peta
interaktif di web. Salah satu komponen perangkat lunak tersebut adalah Openlayers 3.
Openlayers 3 merupakan perangkat lunak yang relatif mudah digunakan dan bersifat
tidak berbayar sehingga memudahkan pengguna untuk melakukan personalisasi
tampilan web yang diinginkan.
Melalui kegiatan aplikatif ini, penulis hanya akan membuat sebuah sistem
pengumpulan data baseline pada tingkat rumah tangga menggunakan ODK dan
kemudian menyajikan data baseline permukiman kumuh Kota Malang berupa peta
interaktif pada sebuah halaman web menggunakan OpenLayers 3.
I.2
Cakupan Kegiatan
Cakupan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan sistem pengumpulan data baseline pada tingkat rumah tangga
menggunakan Sistem Open Data Kit (ODK). Sistem dinyatakan berhasil jika
formulir digital berbasis ODK mampu merekam data dan dapat mengirimkan
data-data tersebut ke server ODK Aggregate.
2. Pengambilan sampel dilakukan melalui pengumpulkan data kekumuhan pada
rumah tangga
langsung di Kota Malang dengan menggunakan sistem
pengumpulan data rumah tangga berbasis ODK.
3. Peta yang dibuat adalah peta interaktif yang ditampilkan pada halaman web
menggunakan Openlayers 3. Peta tersebut menyajikan data baseline
permukiman kumuh Kota Malang.
4. Peta yang ditampilkan melalui halaman web hanya untuk menyajikan data,
tidak untuk menambahkan dan atau mengunduh data.
4
I.3
Tujuan
Tujuan kegiatan aplikatif ini adalah sebagai berikut ini :
1. Membuat sistem pengumpulan data baseline pada tingkat rumah tangga
menggunakan Sistem Open Data Kit (ODK).
2. Mengumpulkan data kekumuhan rumah tangga menggunakan sistem
pengumpulan data baseline pada tingkat rumah tangga berbasis ODK.
3. Menyajikan data kekumuhan Kota Malang dalam bentuk peta interaktif
berbasis web menggunakan Openlayers 3.
I.4
Manfaat
Manfaat dari pembuatan peta interaktif tingkat kekumuhan di Kota Malang
berbasis web adalah sebagai berikut :
1. Peta interaktif ini dapat digunakan sebagai media informasi untuk
mengetahui kualitas permukiman, air, dan sanitasi di kawasan pada tingkat
RT dan Kelurahan.
2. Pemanfaatan ODK menjadikan pekerjaan pengumpulan data menjadi lebih
efisien daripada menggunakan formulir kertas.
I.5
I.5.1
Landasan Teori
Permukiman Kumuh
Definisi permukiman kumuh dapat ditinjau dari dua kata penyusunnya, yaitu
permukiman dan kumuh. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4
Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman , Permukiman didefinisikan sebagai
bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan
perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan. Permukiman memiliki satuan terkecil yang kemudian disebut sebagai
satuan lingkungan permukiman. Menurut Undang-Undang yang sama, satuan
lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan
ukuran dengan penataan tanah dan ruangan, prasarana dan sarana lingkungan yang
berstruktur. Kemudian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kumuh didefinisikan
5
sebagai cemar yang mengarah pada pencemaran yang terjadi pada suatu wilayah atau
kampung.
Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi pemukiman kumuh. Definisi
permukiman kumuh menurut Budiharjo (1997) adalah lingkungan hunian yang
memiliki kualitas hunian yang tidak layak huni. Pemukiman kumuh memiliki ciri ciri
melekat padanya, yaitu memiliki kepadatan bangunan yang sangat tinggi meskipun
terletak dalam luasan area yang sangat terbatas, memiliki kualitas bangunan yang
rendah serta rawan penyakit sosial dan penyakit lingkungan yang dapat
membahayakan para penghuni didalamnya.
Menurut organisasi PBB yang menangani masalah tempat tinggal manusia,
rumah tangga kumuh adalah “Sekelompok orang yang hidup di bawah atap yang sama
di daerah perkotaan yang memiliki kekurangan satu atau lebih hal-hal berikut ini :
1.
Rumah tahan lama yang bersifat permanen yang dapat melindungi
penghuni rumah dari kondisi iklim yang ekstrim.
2.
Ruang hidup yang cukup, yang mensyaratkan tidak lebih dari tiga orang
yang menempati ruangan yang sama.
3.
Akses mudah ke air yang aman dalam jumlah yang cukup dengan harga
yang terjangkau
4.
Akses ke fasilitas sanitasi yang memadai dalam bentuk toilet pribadi atau
umum bersama oleh sejumlah orang dengan jumlah yang wajar.
5.
Kepastian terhadap penguasaan lahan dan bangunan hunian untuk
mencegah penggusuran paksa”. (UN-HABITAT, 2006)
Menurut Kurniasih (2007) pemetaan kumuh merupakan kegiatan pendataan,
penggambaran, dan dokumentasi kondisi kawasan permukiman kumuh. Kegiatankegiatan tersebut bertujuan untuk melihat secara detil gambaran pemukiman kumuh
yang sebenarnya termasuk perkembangan serta perubahan yang ada terhadap
kependudukanya.
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pemerintah
pusat mengeluarkan kebijakan untuk mengentaskan seluruh permukiman kumuh yang
ada di seluruh Indonesia. Kementerian Pekerjaan Umum mencetuskan program untuk
mengentaskan permukiman kumuh yang disebut Program 100-0-100. Menurut
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2014) program 100-0-100
6
memiliki target pencapaian akses air minum 100%, mengurangi kawasan kumuh
hingga 0%, dan menyediakan akses sanitasi layak 100% untuk masyarakat Indonesia
pada akhir tahun 2019. Tahap awal dari program ini adalah dengan melakukan
pendataan 100-0-100 di lokasi-lokasi yang sudah ditetapkan dalam Program
Peningkatan Kualitas Permukiman (P2KP). Hasil dari pendataan ini adalah data
baseline yang digunakan sebagai tolak ukur untuk pencapaian target program 100-0100 pada tahun 2019.
I.5.2
Peta Berbasis Web
Kraak dan Brown (2001) menyebutkan bahwa peta berbasis web dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis peta. Jenis peta tersebut adalah peta statis dan
dinamis. Kemudian masing-masing jenis peta tersebut diklasifikasikan lagi menjadi
view only dan interaktif.
View Only
Peta Statis
Interaktif
Peta berbasis web
View Only
Peta Dinamis
Interaktif
Gambar I. 1 Klasifikasi peta berbasis web (sumber : Kraak dan Brown, 2001)
Menurut Kraak dan Brown (2001), klasifikasi peta web dikelompokkan menjadi
empat, yaitu sebagai berikut ini:
1. Peta Statis View Only, peta ini biasanya hanya berupa peta digital yang
berasal dari pemindaian peta kertas atau peta analog. Peta ini juga dapat
diperoleh dari digitasi peta. Kemudian peta digital tersebut dimasukan ke
dalam web dengan bentuk raster image (*.png;*.jpg). Peta tersebut
dikatakan view only, karena pengguna hanya dapat melihat peta tersebut
tanpa memiliki kontrol apapun terhadap peta tersebut. (Kraak dan Brown,
2001)
7
2. Peta Statis Interaktif, peta ini juga berasal dari hasil pemindaian peta analog
yang kemudian di masukkan ke dalam web dalam bentuk raster. Namun,
pengguna peta memiliki kontrol terhadap peta. Pengguna dapat melakukan
perbesasarn dan penggeseran terhadap peta tersebut. (Kraak dan Brown,
2001)
3. Peta Dinamis View Only. Berbeda dengan peta statis, peta dinamis
merupakan peta yang dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman
web. Pada peta dinamis view only pengguna peta dapat melakukan
perbesaran dan penggeseran pada peta tersebut. (Kraak dan Brown, 2001)
4. Peta Dinamis Interaktif. Peta ini juga dibuat dengan menggunakan bahasa
pemrograman web. Namun, yang membedakannya dengan peta dinamis
view only adalah peta ini memungkinkan pengguna melakukan melakukan
pencarian lokasi. (Kraak dan Brown, 2001)
I.5.3
Kartografi
Menurut Asosiasi Kartografi Internasional, kartografi didefinisikan sebagai
“Cartography is the discipline dealing with the art, science and technology of making
and using maps. “ (ICA, 2011)
I.5.3.1. Kartografi Digital. Menurut Soendjojo dan Riqqi (2012) kartografi digital
merupakan ilmu kartografi yang berkembang karena perkembangan teknologi
informasi. Kartografi digital menggunakan komputer dalam proses pembuatanya,
sehinggga pekerjaan pembuatan peta menjadi lebih mudah. Kegiatan kartografi seperti
proyeksi peta, hitungan transformasi koordinat, pengaturan grid dan gratikul dan
pemberian warna dapat dilakukan melalui komputer. Selain mempermudah dalam
pembuatan peta, penggunaan komputer juga bermanfaat dalam memperhitungkan
bagaimana mengatur data agar proses pemutakhiran data menjadi lebih mudah.
Kartografi Digital menghasilkan dua produk baru selain fungsi dasar kartografi, yaitu:
a.
Basis data digital merupakan media penyimpan informasi geografis sebagai
pengganti pencetak peta;
b.
Visualisasi kartografis pada sejumlah media yang berbeda merupakan fungsi
pelayanan selain pencetakan peta.
8
I.5.3.2. Simbolisasi Kartografi. Bertin (1983) dalam Kraak dan Ormeling, (2013)
menyatakan bahwa terdapat enam variable visual, yaitu ukuran, nilai, tekstur, warna,
orientasi dan bentuk.
Gambar I. 2 Variabel Visual (sumber: Bertin,1983)
Menurut Kraak dan Ormeling (2011), bentuk simbol dalam kartografi dibedakan
menjadi :
1.
Berdasarkan bentuknya, simbol kartografi dibedakan menjadi tiga:
a. Simbol titik mencerminkan data bersifat non dimensi.
b. Simbol garis biasanya digunakan untuk menggambarkan jalan
c. Simbol luasan mencerminkan data yang berbentuk area yang memiliki
luasan.
2.
Berdasarkan jenisnya, simbol kartografi dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.
Simbol piktorial merupakan simbol yang kenampakannya mirip dengan
wujud objek yang diwakilinya,
b.
Simbol geometrik merupakan simbol yang tidak memiliki kemiripan dengan
objek yang diwakilinya
c.
Simbol huruf atau angka merupakan simbol yang menggunakan huruf
pertama dari objek yang diwakilinya.
9
I.5.4
Visualisasi Tematik
Manurut BIG, peta tematik adalah peta yang menyajikan tema tertentu dan
untuk kepentingan tertentu (land status, penduduk, transportasi dll) dengan
menggunakan peta rupabumi yang telah disederhanakan sebagai dasar untuk
meletakan informasi tematiknya.
Gambar I. 3 Teknik Visualisasi Pemetaan Tematik (sumber: Harvested, 1993)
Peta tematik dalam visualisasinya menggunakan teknik-teknik tertentu yang
bertujuan agar informasi disajikan pada peta dapat mudah dimengerti oleh pengguna
peta. Menurut Harvested (1993) dalam Slocum (2005) terdapat empat teknik
visualisasi pemetaan tematik, yaitu Choropleth, Isopleth, Proportional Symbol, Dot.
Choropleth, Menurut Soendjojo dan Riqqi (2012) peta choropleth adalah peta
yang menampilkan data kuantitatif. Peta choropleth dapat menunjukkan kepadatan,
persentase dan nilai. Warna berurutan pada peta ini mewakili peningkatan atau
penurunan nilai-nilai positif atau negatif data; biasanya, setiap warna juga mewakili
rentang nilai. Peta choropleth menyajikan ringkasan distribusi kuantitatif dengan basis
deliminasi area. Data kuantitaif yang diberikan merupakan besaran suatu data yang
berkaitan dengan deliminasi area tertentu, misalnya batas administrasi. Contoh peta
chorolpleth ditampilkan pada Gambar I.4.
10
Gambar I. 4 Contoh Peta Choropleth (sumber: Kraak dan Ormeling, 2013)
Isopleth. Menurut Kraak and Ormeling, (2013) isopleth merupakan peta yang
dibuat dengan menghubungkan titik-titik yang memiliki nilai yang sama menggunakan
suatu garis. Nilai -nilai tersebut bisa terdiri atas kuantitas, densitas dan intensitas. Peta
isopleth biasanya dipertegas dengan memberikan pewarnaan dan bayangan pada nilainilai yang sesuai. Peta tersebut dibuat dengan menggunakan interpolasi sehingga
sedikit menyulitkan dalam proses pembuatan. Peta isopleth dapat digunakan untuk
memetakan suhu,tekanan udara, iklim dan lainya. Contoh peta isopleth ditampilkan
pada Gambar I.5.
Gambar I. 5 Contoh Peta Isopleth (sumber: Kraak dan Ormeling, 2013)
Proportional Symbol. Menurut Jenny dkk. (2009), peta simbol proporsional
merupakan peta yang digunakan untuk menggambarkan data numerik. Umumnya
simbol yang digunakan adalah kotak atau lingkaran dengan luas yang sebanding
11
dengan nilai data yang dimiliki. Simbol ditempatkan pada setiap titik pusat pada
masing-masing area pemetaan. Pembaca peta akan lebih mudah memahami isi peta
dengan menggunakan gradasi simbol dengan legenda yang tepat. Peta simbol
proporsional umumnya digunakan untuk menggambarkan jumlah penduduk pada
suatu negara. Contoh peta simbol proporsional terdapat pada Gambar I.6
Gambar I. 6 Contoh Peta Simbol Proporsional (sumber:
http://tmapsuite.artisfacta.ch/prop.php)
Dot. Menurut Kraak dan Ormeling (2013) peta dot adalah peta simbol
proporsional yang lebih spesifik. Peta dot menampilkan data titik melalui simbolsimbol yang menunjukkan jumlah yang sama. Simbol ditempatkan sedemikian rupa
pada lokasi fenomena tersebut terjadi. Contoh Peta Dot ditampilkan pada Gambar I.7.
Gambar I. 7 Contoh Peta Dot (sumber: Kraak dan Ormeling, 2013)
12
I.5.5
Halaman Web
Halaman web merupakan kumpulan dari beberapa komponen yang saling
berkait satu sama lainya. Komponen-komponen tersebut yaitu World Wide Web
(WWW), Hyper Text Markup Language (HTML), Javascript (Js) dan Cascading Style
Sheet (CSS). Menurut Yuhefizar (2008) , World Wide Web (WWW) merupakan salah
satu layanan internet yang dapat menampilkan berbagai informasi di internet.
Informasi yang dimaksudkan dapat berupa gambar, text, suara dan video. WWW
memungkinkan untuk menghubungkan suatu dokumen dengan dokumen lainya
melalui suatu tautan. Seluruh informasi tersebut ditampilkan melalui halaman web
atau dikenal sebagai web page yang dapat diakses melalui perangkat lunak peramban
web.
Suatu halaman web disusun dengan menggunakan suatu bahasa markup web
yang disebut Hyper Text Markup Language (HTML). Menurut Shelly dkk. (2009),
HTML merupakan suatu bahasa markup yang digunakan untuk membuat suatu
dokumen pada WWW. HTML menggunakan kumpulan instruksi spesial yang disebut
sebagai tag. Tag berfungsi untuk membuat struktur halaman web serta mengatur
tatanan dari suatu halaman web agar dapat ditampilkan pada peramban.
Penyusun halaman web selanjutnya adalah JavaScript. Menurut Sunyoto
(2007), JavaScript merupakan bahasa scripting yang didesain untuk menambah
interatif suatu web. Bahasa scripting yang digunakan pada JavaScript merupakan
bahasa pemrograman yang ringan. JavaScript berisi baris kode yang biasanya
disisipkan pada halaman HTML. JavaScript dapat digunakan untuk menampilkan data
spasial pada halaman web, salah satunya adalah OpenLayers 3. OpenLayers 3
merupakan JavaScript murni yang digunakan untuk menampilkan peta pada suatu
peramban web tanpa bergantung pada server. OpenLayers bersifat tidak berbayar dan
dibangun oleh komunitas Open Source.
Kemudian penyusun halaman web yang terakhir adalah CSS. Menurut
(Powers, 2009), CSS merupakan bahasa pemrograman yang berfungsi untuk mengatur
tata letak suatu halaman web. CSS memungkinkan untuk mengatur jenis tulisan,
gambar, garis dan lainya. Sebenarnya HTML dapat melakukan hal tersebut, namun
CSS memberikan akurasi yang lebih sehingga lebih mudah digunakan oleh pengguna
serta menghindarkan pemula dari kesalahan.
13
I.5.6
Pengumpulan Data dengan Perangkat Piranti Bergerak
Menurut Chaudhri dkk. (2012), pengumpulan data menggunakan perangkat
bergerak
merupakan
suatu
sistem
yang
memungkinkan
seseorang
untuk
mengumpulkan dan mendistribusikan data menggunakan smartphone. Seseorang
dapat memasukan data secara manual pada smartphone. Kelebihan metode ini adalah
memungkinkan untuk menyertakan gambar, foto, video, serta data lokasi berupa
koordinat. Dengan demikian pendataan menjadi lebih mudah dan efisien waktu,
tenaga, dan biaya. Data tersebut juga dapat disajikan dalam berbagai bentuk misalnya
peta, table, dan berbagai diagram. Salah satu contoh aplikasi mobile data collection
yaitu Open Data Kit (ODK) dari Google.
I.5.7
Open Data Kit
Menurut Hartung dkk. (2010), ODK merupakan project yang mulai dirintis
oleh Google.org pada tahun 2008 dan bersifat Open Source. ODK adalah suatu
modular toolkit yang memiliki kemampuan ganda yakni melakukan akuisisi dan
mengirimkan data serta informasi. ODK mendukung beberapa tipe data, yaitu teks,
lokasi dalam bentuk koordinat, gambar, audio, video dan barcode.
Menurut Open Data Kit (2016), ODK mebutuhkan tiga peralatan untuk dapat
berjalan yaitu formulir survey, perangkat lunak yang berjalan pada sistem Android
untuk mengisi formulir dan tempat penyimpanan hasil survei.
Peralatan pertama adalah formulir survey. Menurut Open Data Kit (2016),
Formulir survey yang digunakan dapat dibangun dengan menggunakan ODK Build
atau XLSForm. ODK Build memungkinkan pengguna untuk membuat formulir secara
langsung menggunakan aplikasi web. Sementara itu, XLSForm memungkinkan
pengguna untuk membuat formulir dengan menggunakan aplikasi Ms. Excel.
Peralatan kedua adalah perangkat lunak yang dapat mengisi formulir digital.
Menurut Open Data Kit (2016), aplikasi ODK Collect yang berjalan pada sistem
operasi android dapat digunakan untuk menyimpan data text, numerik, lokasi,
14
mutimedia dan barcode. Aplikasi ODK Collet dapat berjalan tanpa menggunakan
jaringan internet.
Peralatan ketiga adalah server ODK Aggregate, Menurut Open Data Kit
(2016), ODK Aggregate dibangun dengan menggunakan App Engine Google. ODK
Aggregate memiliki fungsi untuk menyediakan formulir kosong yang dapat diakses
dengan aplikasi ODK Collect, menampilkan data yang telah diperoleh dikumpulkan
dalam bentuk peta sederhana, mengekspor data dan mempublikasikan data yang telah
dikumpulkan ke dalam sistem lainya seperti Google fushion Table dan Google
Spreadsheets.
Download