9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komunikasi 2.1.1. Pengertian

advertisement
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Komunikasi
2.1.1. Pengertian Komunikasi
Sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dahulu peneliti akan uraikan
pengertian komunikasi. Menurut Onong Uchjana Effendy, hakikat komunikasi
adalah proses pernyataan antar manusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau
perasaan seseorang kepada orang lain dengan mengunakan bahasa sebagai alat
penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan
(message),
orang
yang
menyampaikan
pesan
disebut
komunikator
(Communicator), sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama
komunikan
(Communicate).
Untuk tegasnya,
komunikasi
berarti
proses
penyampain pesan oleh komunikator kepada komunikan, jika dianalisis pesan
komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the message),
kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan,
lambang adalah bahasa.2
Dalam komunikasi ada tiga unsur penting yang selalu hadir dalam setiap
komunikasi, yaitu sumber informasi (receiver), Saluran (media), dan penerima
2.Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung,
2003, ha 28
10
informasi (audience). Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antar
manusia baik individu maupun kelompok.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian
dari kehidupan manusia itu sendiri. Sementara itu, untuk menjalin rasa
kemanusiaan yang akrab diperlukan saling pengertian sesama anggota
masyarakat. Untuk keberhasilan suatu komunikasi kita harus mengetahui dan
mempelajari unsur-unsur yang diperlukan dalam proses komunikasi adalah
sumber (pembicaraan), pesan (message), saluran (channel, media) dan penerima
(receiver,audience)3
Istilah dalam proses komunikasi terdapat paling sedikitnya 3 unsur pokok,
yaitu sebagai berikut : Sumber (source) adalah komunikator yang menyampaikan
pesan, pesan (message) merupakan suatu hal yang disampaikan kepada penerima
pesan, tujuan (destination) yaitu penerima pesan yang disebut komunikan.
Komunikasi adalah interaksi antar komunikator (penyebar pesan) dengan
komunikan (penerima pesan). Komunikasi yang efektif, yaitu bagaimana antara
penyebar dan penerima pesan dapat menimbulkan suatu pengertian yang sama
tentang suatu pesan (efek).4
Para ahli komunikasi memberikan batasan-batasan pengertian dan definisi
komunikasi antara lain:5
3
H.A Widjaja, Komunikasi & Hubungan Masyarakat, Bumi Aksara, Jakarta, 2008, hal. 1
Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2007, Hal 19
5
----------------, Komunikasi & Hubungan Masyarakat, Bumi Aksara, Jakarta, 2008, Hal 8
4
11
1. James. A. F. Stoner, dalam bukunya yang berjudul : Manajemen,
menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang
berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.
2. John R. Schemerhorn cs. Dalam bukunya yang berjudul: Managing
Organizational Behavior, menyatakan bahwa komunikasi itu dapat
diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima
simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka.
3. Wiliam F. Glueck, dalam bukunya yang berjudul: Manajemen,
menyatakan bahwa komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian utama,
yakni :
a. Interpersonal Communications, komunikasi antar pribadi yaitu proses
pertukaran serta pemindahan pengertian antara 2 orang atau lebih di
dalam suatu kelompok kecil manusia.
b. Organizational communications, yaitu dimana pembicara secara
sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian
kepada orang banyak di dalam organisasi dan kepada pribadi pribadi
dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan
4. James. A. F. Stoner, dalam bukunya yang berjudul : Manajemen,
menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang
berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.
5. John R. Schemerhorn cs. dalam bukunya yang berjudul: Managing
Organizational Behavior, menyatakan bahwa komunikasi itu dapat
12
diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima
simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka.
6. Wiliam F. Glueck, dalam bukunya yang berjudul: Manajemen,
menyatakan bahwa komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian utama,
yakni :
a. Interpersonal Communications, komunikasi antar pribadi yaitu proses
pertukaran serta pemindahan pengertian antara 2 orang atau lebih di
dalam suatu kelompok kecil manusia.
b. Organizational communications, yaitu dimana pembicara secara
sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian
kepada orang banyak di dalam organisasi dan kepada pribadi pribadi
dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan
2.1.2. Fungsi Komunikasi
Apabila komunikasi dipandang dari arti luas, tidak hanya diartikan sebagai
pertukaran berita dan pesan tetapi sebagai kegiatan individu dan kelompok
mengenai tukar menukar data, fakta dan ide maka fungsinya dalam setiap
sistem sosial adalah sebagai berikut:6
1. Sebagai informasi; pengumpulan, penyimpanan, pemprosesan penyebaran
berita, data, gambar, fakta dan pesan opini dan komentar yang dibutuhkan
agar dapat dimengerti dan beraksi secara jelas terhadap kondisi lingkungan
dan orang lain agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
6
---------------, Komunikasi & Hubungan Masyarakat, Bumi Aksara, Jakarta, 2008, hal 9.
13
2. Sosialisasi (Pemasyarakatan); Penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang
memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat
yang efektif sehingga ia sadar akan fungsi sosialnya dan dapat aktif di
dalam masyarakat.
3. Motivasi; menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka panjang maupun
jangka
panjang,
mendorong
orang
menentukan
pilihannya
dan
keinginannya, mendorong kegiatan individu dan kelompok berdasarkan
tujuan bersama yang akan dikejar.
4. Perdebatan dan diskusi; menyediakan dan saling menukar fakta yang
diperlukan
untuk
memungkinkan
persetujuan
atau
menyelesaikan
perbedaan pendapat mengenai masalah publik, menyediakan bukti-bukti
yang relevan yang diperlukan untuk kepentingan umum sadar masyarakat
lebih melibatkan diri dalam masalah yang menyangkut kepentingan
bersama di tingkat nasional dan lokal.
5. Pendidikan;
pengalihan
ilmu
pengetahuan
sehingga
mendorong
perkembangan intelektual, pembentuk watak dan pendidikan keterampilan
dan kemahiran yang diperlukan pada semua bidang kehidupan.
6. Memajukan kebudayaan; penyebaran hasil kebudayaan dan seni dengan
maksud melestarikan warisan masa lalu, perkembangan kebudayaan
dengan memperluas horizon seseorang, membangun imajinasi dan
mendorong kreativitas dan kebutuhan estetikanya.
14
7. Hiburan; penyebarluasan sinyal, symbol, suara dan image dari drama, tari,
kesenian, kesusasteraan, musik, olah raga, permainan dan lain-lain untuk
rekreasi, kesenangan kelompok dan individu.
8. Integrasi; menyediakan bagi bangsa, kelompok, dan individu kesempatan
untuk memperoleh berbagai pesan yang mereka perlukan agar mereka
dapat saling kenal dan mengerti dan menghargai kondisi pandangan dan
keinginan orang lain.
2.1.3. Tujuan Komunikasi
Tujuan dari berkomunikasi menurut Onong Uchjana Effendy adalah sebagai
berikut:7
1. Perubahan sikap (to Change the attitude) yang artinya adalah suatu proses
kegiatan dalam memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan
tujuan agar masyarakat akan berubah sikapnya contoh: Memberikan
informasi-infomasi mengenai cara berlalu lintas yang baik tujuannya adalah
supaya masyarakat mengikuti peraturan dalam berlalu lintas dan sikap
masyarakat akan positif terhadap peraturan atau tata tertib lalu lintas.
2. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion), yang artinya
adalah memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan
akhir agar masyarakat mau merubah pendapat dan persepsinya terhadap
tujuan informasi yang disampaikan. Contoh: Dalam informasi mengenai
pemilu, terutama informasi mengenai kebijakan pemerintah yang biasanya
7
Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, Bandung : Remaja Rosdakarya. 2004, 55
15
selalu mendapat tantangan dari masyarakat maka harus disertai
penyampaian informasi yang lengkap supaya pendapat masyarakat dapat
terbentuk untuk mendukung kebijakan tersebut.
3. Mengubah perilaku (to change the behaviour), yang artinya adalah kegiatan
memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan supaya
masyarakat akan berubah prilakunya. Contoh: Kegiatan memberikan
informasi mengenai tata tertib berlalu lintas tujuannya adalah supaya
masyarakat mengikuti peraturan tata tertib lalu lintas jika berkendaraan di
jalan dan perilaku masyarkat akan positif terhadap tata tertib dalam berlalu
lintas atau mengikuti peraturan berlalu lintas.
4. Mengubah masyarakat (to change the society), yang artinya adalah
memberikan berbagai informasi pada masyarakat tujuan akhirnya supaya
masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi itu
disampaikan. Misalnya supaya masyarakat ikut serta dalam pilihan suara
pada pemilu atau ikut serta dalam berprilaku sehat dan sebagainya.
Untuk lebih memahami tujuan komunikasi, berikut adalah pendapat lain
mengenai komunikasi yang dikemukakan oleh Ruslan.8
1. Apakah kita ingin menjelaskan sesuatu pada orang lain. Maksudnya
apakah kita menginginkan orang lain untuk mengerti dan memahami
apa yang kita maksud.
2. Apakah kita ingin agar orang lain menerima dan mendukung gagasan
kita, dalam hal ini tentu cara penyampaiannya akan berbeda dengan
8
Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relations & Komunikasi. Jakarta PT Raja Grafindo
Persada 2003, 11
16
cara yang dilakukan untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan
saja.
3. Apakah kita ingin agar orang lain mengerjakan sesuatu agar mereka
mau bertindak.
17
2.1.4. Proses Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Effendi, pada proses komunikasi dapat
dikategorikan dengan peninjauan dari dua perspektif, yaitu:
1. Proses Komunikasi dalam Perspetif Psikologis
Proses komunikasi ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan
ketika komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada
komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses, yaitu pengemasan isi
pesan dan lambang. Isi pesan pada umumnya adalah pikiran, sedangkan
lambang umum adalah bahasa. Kemudian pesan tersebut ditransmisikan
kepada komunikan. Apabila komunikan mengerti isi pesan atau pikiran
komunikator, maka komunikasi terjadi. Sebaliknya bila komunikan tida
mengerti, maka komunikasipun tidak terjadi.
2. Proses Komunikasi dalam Prespektif Mekanistik
Pada proses komunikaso ini dapat diklasifikasikan secara dua tahap,
sebagai berikut :
a. Komunikasi Secara Primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian
pikiran
atau
perasaan
seseorang
kepada
orang
lain
dengan
menggunakan lambang (simbol) sebagai media atau saluran adapun
lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah
bahasa, isyarat, gambar, warna dan lain-lain yang secara langsung
dapat menterjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada
komunikan. Pada proses komunikasi secara primer adalah bahasa yang
18
paling banyak digunakan, sebab bahasa mampu menterjemahkan
pikiran seseorang kepada orang lain dalam bentuk ide, gagasan,
informasi atau opini.
b. Proses komunikasi secara sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaiam
pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat
atau sarana sebagai media pertama. Proses komunikasi secara sekunder
ini dalam menjangkau sasarannya dengan menggunakan media massa
yang mempunyai sirkulasi yang luas dan memiliki gaya keserempakan,
misalnya surat kabar, televisi, siaran radio, film, leaflet, brosur dan
lain-lain.
c. Proses Komunikasi Secara Linear
Istilah linear mengandung makna luas. Dalam konteks komunikasi,
proses secara linear adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Komunikasi
linear ini berlangsung baik dalam situasi komunikasi (face-to-face
communication)
maupun
dalam
situasi
bermedia
(mediated
communication). Proses komunikasi linear umumnya berlangsung
pada komunikasi bermedia, kecuali komunikasi melalui telepon,
karena komunikasi ini hampir tidak pernah berlangsung linear,
melainkan dialogis atau tanya jawab dalam bentuk percakapan.
d. Proses komunikasi secara sirkular
19
Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan dengan proses
sirkular itu adalah terjadinya feed back atau umpan balik yaitu
terjadinya arus dari komunikan ke komunikator. Oleh karena itu ada
kalanya feed back tersebut mengalir dari komunikan ke komunikator
itu adalah respon atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang
diterima dari komunikator.
Konsep umpan balik ini dalam proses komunikasi amat penting
karena itu berhasil atau gagal, dengan kata lain apakah umpan balik
itu positif atau negatif.
2.1.4. Unsur-unsur Komunikasi
Menurut Chalarles E Redifeld.
“Administrative communication can be best regarded as a form of social or
human communications in which there are these five elements: a
communications (a speaer, sender, issuer), whi transmits (says, send, issues),
Message (order, respons, suggestions), to acommunicate (addresser, respond,
audience) to influence the behaviour of the communicate as seen in his
repsonse (replay rection)”
Jadi menurut kutipan di atas, lima unsur komunikasi adalah :
1. Komunikator (Communicator), yaitu memberi berita, yang dalam hal
ini adalah orang yang berbicara, pengirim berita atau yang
memberitakan.
20
2. Menyampaikan berita, dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara
mengatakan, mengirim atau menyiarkan.
3. Berita-berita yang disampaikan (Message). Dapat dalam bentuk
perintah, laporan atau saran.
4. Komunikan (Communicate), yaitu orang yang dituju, pihak penjawab
atau para pengunjung. Dengan kata lain orang yang menerima berita.
5. Tanggapan atau reaksi (response), dalam bentuk jawaban atau reaksi.
Kelima unsur komunikasi tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan
bulat, dalam arti apabila satu unsur tidak ada maka komunikasi tidak akan
terjadi. Dengan demikian masing-masing unsur saling berhubungan dan ada
saling ketergantungan.
2.2. Komunikasi Kelompok
2.2.1 Definisi Komunikasi Kelompok
Komunikasi merupakan suatu bidang yang sangat penting dalam
organisasi. Komunikasi dalam kelompok adalah suatu proses sekumpulan orang
yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai
tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai
bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga,
kelompok diskusi, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu
keputusan. Padakomunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi,
21
karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi
komunikasi kelompok.9
Ada beberapa Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya,
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994)
mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggotaanggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan
kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggotaanggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati
kita.Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik
komunikasinya :
a.
Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan
meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling
tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang
kita tampakkan dalam suasana pribadi saja). Meluas, artinya sedikit
sekali
kendala
yang
menentukan
rentangan
dan
cara
berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat
dangkal dan terbatas.
b.
Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan
daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
c.
Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan
kelompok sekunder formal.
9
Risnawati, Ilmu Komunikasi, Graha Ilmu, Jakarta 2009. Hal 119
22
d.
Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan
kelompok sekunder nonpersonal.
e.
Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan
kelompok sekunder instrumental.
2.2.2. Fungsi Komunikasi Dalam Kelompok
Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya
fungsi-fungsi yang akan dilaksanakan, tindakan komunikasi dalam kelompok
melibatkan empat fungsi, yaitu:10
1. Fungsi Sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara
dan memantapkan hubungan sosial diantara para anggotanya seperti
bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada
anggotanya melakukan aktivitas yang informal, santai dan menghibur.
2. Fungsi Pendidikan dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal
maupun informal berkerja untuk mencapai dan memperuat pengetahuan.
Melalui fungsim pendidikan dalam kelompok aan sesuai dengan yang
diharapkan atau tidak, tergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi
baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta
frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. fungsi pendidikan ini
akan sangat efektif jika setiap anggota kelompok membewa pengetahuan
yang berguna bagi anggota kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang
disumbangkan masing-masing anggota, mustahil fungsi eduasi ini akan
tercapai.
10
H.M Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Kencana, Jakarta, 2006, hal 274
23
3. Fungsi Persuasif. Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok
berupaya mempersuasikan anggota lainnya supaya melakuan atau tida
melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam
suatu kelompo, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota
lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif terlalu bertentangan dengan
nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha
mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konfik, denga demikian
malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
4. Fungsi pemecah masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan
alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya, sedangkan
pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan
anatar dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahan masalah menghasilkan
materi atau baham untuk membuat keputusan..
5. Fungsi Terapi, Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok
lainnya, karena kelompok terapi memilii tujuan. Objek dari kelompok
terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnya.
Tentunya, induvidu tersebut harus dengan anggota kelompok lainnya guna
mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalah membantu dirinya
sendiri, bukan membantu kelompo mencapai konsensus.
24
2.3. Interakasi Kelompok
2.3.1. Tahapan Pembentukan Kelompok
Bagi sebuah kelompok yang akan berkembang dari satu tahap ketahapan
lain, kelompok tersebut harus memiliki pemahaman umum mengenai
hubungan antarpersonal dan aspek-aspek tugas proses kelompok bila tidak
diperoleh kesepakatan pada setiap tahap sebelum mengikuti tahapan lain
sering terjadi kemunduran sesudahnya. Yang terutama penting diingat adalah
bahwa kelompok dan tim harus melalui setiap tahapan. Bila tidak, mereka
sering tertahan di tempat yang seharusnya menjadi tempat pencapaian tujuan
mereka. Pembentukan kelompok tersebut melali tahapan-tahapan berikut:11
1. Tahapan Pembentukan
Pada tahapan ini, tidak mengherankan bila perhatian para anggota
tercurah pada masalah keanggotaannya dalam kelompok, menjadi
disukai dan diterima oleh kelompok. Fungsi tugas adalah untuk
memastikan bahwa anggota tim diorientasikan kepada perkerjaan
yang harus dilaksanakan – mengapa mereka berada dalam tim
tersebut, apa yang seharusnya mereka kerjakan dan bagaimana mereka
mengerjakannya.
2. Tahapan Gangguan
Setelah anggota tim mulai menyesuaikan diri dan merasa cocok satu
sama lainnya, tahapan berikutnya adalah menentukan siapa yang
11
R. Wayne Pace & Don F. Faules, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006,
, hal 315-317
25
mengendalikan apa pengaruh orang tersebut terhadap kelompok.
Perasaan berbeda mengenai otoritas, peraturan dan kepemimpinan
mencuat kepermukaan dalam bentuk konflik antarpersona. Tim gagal
berkerja dengan arah yang menyatu, klik-klik mulai tumbuh, dan
konflik meningkat. Ini merupakan tahap krisis dalam perkembangan
kelompok, dan beberapa diantaranya dapat menjadi berantahkan.
Konflik yang tidak terselesikan cenderung menghambat kelompok
untuk menjadi tim yang berfungsi dengan lancar.
3. Tahapan Penormaan
Seiring dengan diatasinya perbedaan-perbedaan dan tim memiliki
struktur, para individu mulai merasakan makns kepaduan dan muncul
kegembiraan bercampu haru karena telah berhasil menyelesaikan
konflik. Anggota tim mulai ikut serta dalam kerja sama yang
membangun dan konflik mulai dipandang sebagai suatu kebutuhan
untuk melihat suatu masalah dari semua segi. Para anggota mulai
berbagi gagasan dan perasaan, saling memberi umpan balik satu sama
lainnya,
meneliti
tindakan-tindakan
yang
berkaitan
dengan
penyelesaian tugas, serta berbagi informasi-fungsi tugas utama.
Anggota kelompok mulai merasa cocok dengan segala sesuatu yang
terjadi disekitarnya. Muncul suatu ketebukaan yang berkenaan dengan
pekerjaan, bahkan sesekali diselingi gurauan. Kelompok yang ada
dalam tahapan ini merasakan suatu kepuasan yang besat melalui
interaksi dengan anggota lainnya dan berkembang menjadi sesuatu
26
yang disebut a happy circle atau kelompok yang memiliki keterikatan
moral serta tingkat interaksi yang tinggi. Sayangnya, rasa kepaduan
ini seringkali menghambat kelompok dan menghalanginya untuk maju
ke tahap selanjutnya.
4. Tahapan Pelaksanaan
Dalam kelompok kerja, yang sesungguhnya, hal-hal yang berkaitan
dengan hubungan antarpersona dan pekerjaan, dilakukan bersamasama dan secara serentak. Meskipun kadang-kadang kita memisahkan
kedua hal tersebut untuk mempermudah, kelompok-kelompok
organisasi menangani masalah antarpersona dan masalah perkerjaan
seakan-akan keduanya persis sama, namun kemampuamm untuk
mengenali beberapa perbedaannya, memungkinkan para anggota
menangkap hal-hal yang sulit, yang dapat menghambat tim tersebut.
2.3.2. Peranan Anggota Kelompok
Benne dan Shearts (1948) memperkenalkan dan menggolongkan peranan
fungsional yang dilakukan oleh anggota kelompo ke dalam tiga kategori
besar:12
1. Peranan Tugas
Tindak tanduk seperti menawaran gagasan mengemukakan metode
rencana, meminta informasi dan pendapat mendorong orang untuk
maju, dan menangani kegiatan-kegiatan sesuai dengan prosedur,
12
------------------------, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal 319-320
27
seperti membagi makalah atau mencatat gagasan-gagasan, semua ini
merupakan andil untuk memperlancar berfungsinya kelompok. Jenis
prilaku ini membantu pelaksanaan pekerjaan.
2. Peranan Pemeliharan
Sikap-sikap seperti memberi pujian, menunjukkan kehangatan dan
dukungan,
menengahi
perbedaan,
mendengarkan
orang
lain,
menerima keputusan kelompok, menyelipkan humor agar kelompok
menjadi santai, dan menghimabu anggota tim yang cenderung untuk
diam untuk berbicara, juga memberi andil pada kelancaran fungsi tim.
Jenis prilaku ini menjaga keutuhan tim.
3. Peranan Menggangu
Sikap-sikap seperrti menentag atau menghambat anggota kelompo
yang
menunjukan
otoritas,
menyerang
kedudukan
seseorang,
menentang gagasan kelompok secara mati-matian dan dengan alasan
pribadi,
memaksakan
superioritas
untuk
mengendalikan
dan
mengganggu orang lain, menggunakan bujukan untuk mendukung
anggota tim lainnya, memperolok-olokan dan berkelakar secara kasar
dan tidak sopan, dan mengesampingkan subjek yang sedang dibahas
untuk menghindari komitmen menggambarkan cara-cara untuk
menghambat kemajuan tim. Jenis perilaku ini menghalangi kelompo
menyelesaikan tugasnya dan mengurangi minat anggota kelompok
untuk tetap bersatu.
28
2.3.3. Konflik Dalam Kelompok
Peranan
perorangan
dan
norma-norma
serta
status
kelompok
mempengaruhi cara pandang anggota tim berkomunikasi dengan sesama
rekannya. Selanjutnya, kebanyakan anggota tim berkesempatan untuk berkerja
sama dan bersaing satu sama lainnya. suatu situasi yang membatasi
penghargaan sehingga seseorang anggota kelompok memperoleh kelompok
dan anggota-anggota yang lain tidak memperolehnya, suasana ini disebut
persaingan yang pada akhirnya akan menciptakan konflik dalam kelompok.
Konflik dalam kelompok dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:13
1. Pengaruh Persaingan dalam Cara Kerja Kelompok
Bila anggota tim memandang peranan mereka sebagai kompetitif, mereka
cenderung kurang mendengaran apa yang dikatakan anggota lainnya,
kurang memahami apa yang sebenarnya dikatakan, kurang tertarik pada
prestasi tinggi, lebih jarang saling tolong satu sama lainnya, lebih sulit
mengkoordinasikan usaha-usaha tim mereka, cenderung kurang efisiensi,
dan cenderung menurun kualitas kerjanya. Selanjutnya, mungkin mereka
lebih menyukai kelompok tempat mereka berkerja atau mereka saling
tidak menyukai secara pribadi.
2. Pengaruh Kerjasama Dalam Cara Kerja Kelompok
Bila anggota tim memandang peranan mereka sebagai kooperatif mereka
cenderung menunjukkan koordinasi yang baik dalam usaha-usaha
mereka. Andil setiap kelompok lebih beranekaragam dengan subdivisi
13
_________________, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal 321-323
29
kegiatan yang lebih banyak. Anggota kelompok cenderung lebih penuh
perhatian, pemahaman bersama terhadap informasi meningkatkan dan
lebih banyak menghasilkan nilai bersama terhadap informasi tim yang
koorperatif cenderung menunjukan orientasi yang lebih jelas dan lebih
teratur dengan titik berat pada prestasi. Komunikasi terlihat lebih ramah,
dan kelompok serta produknya dinilai lebih menyenangkan.
Tidak semua perkerjaan menuntut tingkat persaingan dan koorperasi
yang sama, beberapa jenis pekerjaan memerlukan kinerja kreatif yang
dapat menerima rangsangan kuat dari persaingan; pekerjaan lainnya
memerlukan kerja sama yang cermat dan lengkap dari setiap anggota tim
aga behasil. Keseimbangan ideal antara persaingan dan kerjasama adalah
hal yang berlangsung terus-menerus dan berkaitan langsung dengan jenis
pekerjaan yang dilaksanakan. Bagimana juga, persaingan dan kerjasama
memiliki pengaruh yang berbeda pada kerja tim. Tampaknya, persaingan
lebih mudaj memicu konflik dalam kelompok.
2.3.4. Proses Penyelesaian Konflik
Proses yang diikuti kelompok dalam memecahkan masalah mempengaruhi
kualitas solusinya. Ada bebarapa tahap yang disepakati secara umum; tahap-tahap
ini harus dilalui oleh setiap kelompok pemecahan-masalah agar mencakup isu-isu
30
utama yang terlibat dalam pencarian solusi masalah tersebut. Tahap-tahap ini
sebagai berikut:14
1.
Kenali dan terangkan dengan jelas keberadaan suatu masalah
2.
Carilah cara untuk menanggapi masalah tersebut
3.
Pilihlah solusi/gagasan yang paling berguna atau efektif
4.
Buatlah keputusan mengenai gagasan mana yang akan dilaksanakan,
dan lanjutkan dengan mengambil langkah khusus yang diperlukan
untuk menyelesaikan konflik.
Tahapan-tahapan tersebut biasanya dipandang sebagai tahapan besar
dalam pemecahan masalah; namun bila dihadapkan interaksi produktif dan solusi
pokok, masih diperlukan beberapa tahap-antara. Meskipun sebagian dari tahap
antara ini tampak nyata, tahapan tersebut seringkali diabaikan sehingga
menggagalkan usaha tim untuk memperoleh solusi yang baik dan dapat
dilaksanakan.
2.4. Pola Komunikasi
Meskipun
semua
anggota
dalam
kelompok
harus
melakukan
komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuannya, pendekatan
yang dipakai antara satu organisasi dengan organisasi yang lain bervariasi atau
berbeda-beda. Untuk organisasi berskala kecil mungkin pengaturannya tidak
sulit sedangkan untuk organisasi besar yang memiliki ribuan anggota maka
14
_____________________, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, Hal
323-324.
31
penyampaian informasi kepada mereka merupakan perkerjaan yang cukup
rumit.
Pola komunikasi adalah proses yang dirancang unuk mewakili
kenyataan
keterpautannya
unsur-unsur
yang
dicakup
berserta
keberlangsunganya, guna memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis
(Effendy, 1989). Pola komunikasi terdiri atas tiga macam, yaitu :
1. Pola komunikasi satu arah
Proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan baik
menggunakan media maupun tanpa media, tanpa adanya umpan balik
dari komunikan dalam hal ini komunikan bertinda sebagai pendengar
saja.
2. Pola komunikasi dua arah atau timbal balik (Two way traffic
communication) Komunikator dan komunikan menjadi saling tukar
fungsi dalam menjalani fungsi mereka, komunikator pada tahap
pertama menjadi komunikan dan pada tahap berikutnya saling
bergantian fungsi. Namun pada hakekatnya yang memulai percakapan
adalah komunikator utama, komunikator utama mempunyai tujuan
tertentu melalui proses komunikasi tersebut, prosesnya dialogis, serta
umpan bali secara langsung (Siahaan, 1991)
3. Pola Komunikasi Multi arah
Pola komunikasi terjadi dalam suatu kelompok yang lebih banya di
mana komunikator dan komunikan akan saling bertukar pikiran secara
dialogis.
32
Untuk itu, menentuan suatu pola komunikasi yang tepat dalam suatu
organisasi merupakan suatu keharusan. Terdapat dua macam jaringan
organisasi, yaitu :
1. Jaringan Komunikasi Formal
Wayne Pace dan Faules (2001) mengemukakan bahwa dalam
organisasi, terdapat empat jenis informasi dalam organisasi, terdapat
empat jenis arus informasi dalam organisasi, yaitu komunikasi ke
bawah (downward communication). Komunikasi ke atas (upward
communication). Komunikasi horizontal (horizontal communication)
dan komunikasi lintas saluran.15
a) Komunikasi ke Bawah (Downward Commucation)
Komunikasi ke bawah menunjukkan arus pesan yang mengalir dari
atasan atau para pimpinan kepada bawahannya. Komunikasi
kebawah untuk menyampaikan tujuan, merubah sikap, membentuk
pendapat, mengurangi ketakutan, dan kecurigaan yang timbul
karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang
informasi dan mepersiapkan anggota organisasi untu menyesuaikan
diri dengan perubahan.
Katz & Kahn menyatakan ada lima jenis informasi yang
biasa dikomunikasikan dari atasan ke bawahan:16
1.
Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan
pekerjaan
15
____________________, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal
184
16
____________________, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006 hal 185
33
2.
Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik
organisasi
3.
Informasi mengenai kinerja pegawai, dan
4.
Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas
(sense of mission)
Secara umum komunikasi ke bawah dapat diklasifikasikan atas
lima tipe, yaitu :
a. Instruksi tugas
Instruksi tugas atau pekerjaan yaitu pesan yang disampaikan
kepada bawahan mengenai apa yang diharapkan dilakukan mereka
dan bagaimana melakukannya. Instruksi tugas yang tepat dan
langsung cenderung dihubungkan dengan tugas yang sederhana yang
hanya menghendaki keterampilan dan pengalaman yang mininal.
Instruksi yang lebih umum biasanya digunakan bagi tugas-tugas
yang kompleks, dimana karyawan diharapkan menggunakan
pertimbangan, keterampilan, dan pengalamannya.
b.
Rasional
Rasional pekerjaan adalah pesan yang menjelaskan mengenai
tujuan aktivitas dan bagaimana kaitan aktivitas itu dengan aktivitas
lain dalam organisasi atau objektif organisasi. Kualitas dan kuantitas
dari komunikasi rasional ditentukan oleh filosofi dan asumsi pimpinan
mengenai bawahannya.
34
c. Ideologi
Pesan mengenai ideologi ini adalah merupakan perluasan dari
pesan rasional. Pesan rasional penekanannya ada pada penjelasan
tugas dan kaitannya dengan perspektif organisasi. Sedangkan pada
pesan ideologi sebaliknya mencari sokongan dan antusias dari anggota
organisasi guna memperkuat loyalitas, moral dan motivasi.
d. Informasi
Pesan informasi dimaksudan untuk memperkenalkan bawahan
dengan praktek-praktek organisasi, peraturan-peraturan organisasi,
keuntungan, kebiasaan dan data lain yang tidak berhubungan dengan
instruksi rasional.
e.
Balikan
Balikan adalah pesan yang berisi informasi mengenai ketepatan
individu dalam melakukan perkerjaannya. Salah satu bentuk sederhana
dari balikan ini adalah pembayaran gaji tetapo dapat juga berupa
kritikan atau peringatan terhadap pegawai.
Hasil studi Tomplin (Pace, 2001) mengenai komunikasi ke bawah
ini menyimpulkan bahwa:
1. Kebanyakan tidak menerima banyak informasi dari organisasinya
2. Kebutuhan informasi yang utama bagi karyawan mencakup
informasi yang banyak berhubungan dengan pekerjaannya dan
informasi tentang pembuatan keputusan.
35
3. Sumber-sumber informasi yang terbaik adalah orang yang terdekat
dengan karyawan yang paling buruk adalah orang yang paling jauh
dengan
mereka.
Kebutuhan
yang
terbesar
adalah
untuk
mendapatkan lebih banyak informasi yang berhubungan dengan
perkerjaan, langsung dari supervisor dan informasi mengenai
organisasi dari pimpinan tingkat atas.
4. Informasi dari pimpinan yang paling atas lebih rendah kualitasnya
daripada sumber penting lainnya.
Pesoalan komunikasi yang sering muncul pada tingkatan ini adalah
persoalan relevansi isi pesan dan informasi dimana pesan dan
informasi
tersebut
telah
mengalami
distrorsi,
gangguan,
penyaringan (filtering) ataupun arti pesan yang telah dilebihlebihkan (exaggeration), serta waktu (timing) penyampaian yang
tidak tepat.
b) Komunikasi ke Atas (Upward Communication)
Yang dimaksud dengan komunikasi ke atas adalah pesan yang
mengalir dari bawahan kepada atasan atau dari tingkat yang lebih
rendah kepada tingkat yang lebih tinggi ke semua karyawan dalam
suatu organisasi kecuali yang berada pada tingkatan yang paling
atas mungkin berkomunikasi ke atas.
Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk memberikan balikan,
memberikan saran dan mengajukan pertanyaan. Komunikasi ini
mempunyai
efek
pada
penyempurnaan.
Dapat
dikatakan,
36
komunikasi pada tingkatan ini merupakan sarana atau mekanisme
umpan balik (feedback) dari bawahan kepada atasan.
Komunikasi ke atas mempunyai beberapa fungsi dan dianggap
penting karena beberapa alasan, yaitu :
1. Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk
pembuatan
keputusan
oleh
mereka
yang
mengarahkan
organisasi dan mengawal kegiatan orang-orang lain.
2. Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan
bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan
seberapa baik bawahan menerima apa yang dikatakan kepada
mereka.
3. Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan
dan keluh kesah muncul ke permukaan sehingga penyelia tahu
apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan
operasi-operasi sebenarnya.
4. Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas
kepada organisasi dengan memberikan kesempatan kepada
pegawai
5. Komunikasi ke atas mengizinkan pemyelia untuk menentukan
apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran
informasi ke bawah.
37
6. Komunikasi ke atas membantu pegawai mengalami masalah
perkerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan
pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut.
Hal-hal yang seharusnya disampaikan oleh karyawan kepada
atasannya seperti yang disebutkan di atas tindakan selalu menjadi
kenyataan. Banyak kesulitan untuk mendapatkan informasi
tersebut. Sharma (Muhammad, 2005 : 118) mengatakan bahwa
kesulitan itu mungkin disebabkan oleh beberapa hal diantaranya
adalah sebagai berikut :17
1.
Kecenderungan karyawan untuk menyembunyikan perasaan
dan pikirannya. Hasil studi memperlihatkan bahwa karyawan
merasa bahwa mereka akan mendapatan kesukaran bila
menyatakan apa yang sebenarnya menurut pikiran mereka.
Karena itu cara yang terbaik adalah mengikuti saja apa yang
disampaikan pimpinannya
2.
Perasaan karyawan bahwa pimpinan tidak tertarik kepada
masalah mereka. Karyawan sering melaporkan bahawa
pimpinan mereka tidak prihatin terhadap masalah-masalah
mereka. Pimpinan dapat saja tidak berespons terhadap masalah
karyawan dan bahkan menahan beberapa komunikasi ke atas,
17
___________________, Komunikasi Organisasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal 191.
38
karena akan membuat pimpinan kurang baik menurut
pandangan atasan yang lebih tinggi.
3.
Kurang reward atau penghargaan terhadap karyawan yang
berkomunikasi ke atas. Seringkali pimpinan tidak memberikan
penghargaan yang nyata kepada karyawan untuk memelihara
keterbukaan komunikasi ke atas.
4.
Perasaan karyawan bahwa pimpinan tidak dapat menerima dan
berespons terhadap apa yang dikatakan oleh karyawan.
Pimpinan terlalu sibuk untuk mendengarkan atau karyawan
susah untuk menemuinya.
Kombinasi dari perasaan-perasaan dan kepercayan karyawan
tersebut menjadikan penghalang yang kuat untuk menyatakan ideide, pendapat-pendapat atau informasi oleh bawahan kepada atasan.
1. Komunikasi Horizontal (Horizontal Communication)
Komunikasi Horizontal adalah pertukaran pesan diantara orangorang yang sama tingkatan otoritasnya dalam organisasi. Pesan
yang mengalir menurut fungsi dalam organisasi diarahkan secara
horizontal. Pesan ini biasanya berhubungan dengan tugas-tugas
atau tujuan kemanusiaan, seperti koordinasi, pemecahan masalah,
menyelesaikan konflik, dan saling memberikan informasi.
Komunikasi horizontal mempunyai tujuan tertentu diantaranya
adalah sebagai berikut:
39
1. Mengkoordinasikan tugas-tugas. Kepala-kepala bagian dalam
suatu organisasi kadang-kadang perlu mengadakan rapat atau
pertemuan untuk mendiskusikan bagaimana tiap-tiap bagian
memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan organisasi.
2. Saling membagi informasi untuk perencanaan dan aktifitasaktifitas. Ide dari banyak orang biasanya akan lebih baik.
Dalam merancang suatu program latihan atau program
hubungan dengan masyarakat, anggota-anggota dari bagian
perlu saling membagi informasi untuk membuat perencanaan
apa yang akan mereka lakukan.
3. Memecahkan masalah yang timbul diantara orang-orang yang
berada dalam tingkat yang sama. Dengan adanya keterlibatan
dalam memecahkan masalah akan menambah kepercayaan dan
moral dari karyawan.
4. Menyelesaikan konflik diantara anggota yang ada dalam
bagian organisasi dan juga anatar bagian dengan bagian
lainnya. penyelesaian konflik ini penting bagi perkembangan
sosial dan emosional dari anggota dan juga akan menciptakan
iklim organisasi yang baik.
5. Menjamin pemahaman yang sama. Bila perubahan dalam watu
organisasi diusulkan, maka perlu ada pemahaman yang sama
antara unit-unit organisasi atau anggota unit dengan unit
40
lainnya mengadakan rapat untuk mencari kesepakatan terhadap
perubahan tersebut.
6. Mengembangkan sokongan interpersonal. Karena sebagian
besar waktu kerja karyawan berinteraksi dengan temannya
maka mereka memperoleh sokongan hubungan interpersonal
dari temannya. Hal ini akan memperkuat hubungan di anatara
sesama karyawan dan akan membantu kekompakkan dalam
kerja kelompok. Interaksi ini akan mengembangkan rasa sosial
dan emosional karyawan.
Komunikasi horizontal sangat penting untuk koordinasi
perkerjaan antara bagian-bagian dalam organisasi. Akan tetapi itu
sendiri mungkin menghalangi komunikasi horizontal. Kahn dan
Katz mengatakan bahwa organisasi yang lebih otoliter mengontrol
dengan ketat komunikasi horizontal ini. keterbatasan informasi
menambah kekuasaan bagi pimpinan untuk berkuasa. Dengan
meningkatkan
keterbatasan
komunikasi
horizontal
bawahan
menjadi tergantung kepada informasi yang disampaikan secara
vertikal. Pemerintahan yang otoriter adalah contoh yang ekstrem
yang mengontrol komunikasi horizontal.
Sebaliknya dapat pula dilihat bahwa apabila komunikasi
horizontal terlalu berkembang serta tidak terkontrol. Bila
karyawan tidak mengajukan pertanyaan dalam pelaksaan tugasnya
dan tidak dan tidak ada pula masalah yang akan dipecahkannya
41
maka pembicaraan mereka sambil berkerja tidaklah menyangkut
hal-hal formal lagi, tetapi sudah beralih kepada pembicaraan yang
tidak relevan dengan tugas-tugasnya.
2.
Komunikasi Lintas Saluran
Komunikasi
lintas
saluran
ini
terjadi
bila
karyawan
berkomunikasi dengan yang lain tanpa memperhatikan posisi
berkomunikasi dengan yang lainnya tanpa memperhatian posisi
mereka dalam organisasi, maka pengarahan arus informasi bersifat
informal atau pribadi. Informasi ini mengalir ke atas ke bawah atau
secara horizontal tanpa memperhatikan hubungan posisi, kalaupun
ada
mungkin
sedikit.
Karena
komunikasi
informal
ini
menyebabkan informasi pribadi muncul dari interaksi diantara
orang-orang dan mengalir keseluruh organisasi tanpa dapat
diperkirakan. Jaringan komunikasi lebih dikenal dengan desasdesus (grapervine) atau kabar angin. Dalam istilah komunikasi
grapervine dikatakan sebagai motode untuk menyampaikan rahasia
dari orang ke orang, yang tidak dapat diperoleh melalui jaringan
komunikasi formal.
Walaupun grapervine membawa informasi yang formal tetapi
ada manfaatnya bagi organisasi. Grapervine memberikan balikan
kepada pimpinan mengenai setimen karyawan. Grapervine dapat
membantu menerjemahkan pengarahan pimpinan dalam bahasa
yang lebih mudah dipahami oleh karyawan.
42
3. Jaringan Komunikasi Informal
Dalam jaringan komunikasi informal orang-orang yang ada
dalam suatu organisasi baik secara jenjang hirari, pangkat dan
kedudukan/jabatan dapat berkomunikasi secara leluasa. Namun
jenis komunikasi ini karena sifatnya yang umum, informasi yang
diperoleh seringali kurang akurat dan tidak dapat dipertangung
jawabkan kebenarannya karena biasanya lebih bersifat pribadi.
Di dalam jaringan komunikasi informal ini, tentunya ada
berbagai macam informasi yang mengalir. Namun ada dua tipe
informasi paling utama atau paling sering menjadi pembicaraan
utama dalam komunikasi informal dalam suatu organisasi, yakni
gosip dan rumor.
Pola jaringan komunikasi informal sangat penting bagi
organisasi namun bila proses pelaksanaannya tidak efektif bisa
memberikan kerugian seperti dari sisi individual sering membuat
frutasi atau menjengkelkan pihak tertentu khususnya tentang
keterbatasan untuk masuk ke dalam proses pengambilan keputusan.
Dimana banyak jalur yang harus dimasuki/dilewati sebelum
langsung ke pengambilan keputusan. Dari sisi perusahaan
kemungkinan munculnya distorsi atau ganguan penyampaian
informasi ke level lebih tinggi, karena setiap keterkaitan (link)
dalam jalur komunikasi dapat mengambaran suatu kemungkinan
munculnya kesalah pahaman.
43
2.4.1. Struktur Jaringan Komunikasi
Struktur hirarki yang ketat, jarak fisik yang jauh dari pekerjaannya,
perbedaan yang besar dalam kompetensinya dan berbagai tugas khusus yang
harus diselesaikan, maka organisasi harus menciptakan sejumlah jaringan
komunikasi yang beragam (Baird, 1977. Kreps, 1990). Jaringan disini adalah
saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain.
Struktur jaringan komunikasi dapat dibagi ke dalam lima strukur berikut:18
1. Struktur Lingkaran
Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya
sama. Mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk
mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan
dua anggota lain yang terdekat.
Gambar.1. Struktur Lingkaran
2. Struktur Roda
Struktur roda memiliki pemimpin yang jelas, yaitu posisinya di pusat
pemimpin merupakan satu-satunya orang yang dapat mengirim dan
menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang
18
Wiryanto, Penghantar ilmu Komunikasi, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta 2004, hal 6062.
44
anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya
harus disampaikan melalui pemimpinnya.
Gambar.2. Struktur Roda
3. Struktur Y
Strutur Y relatif kurang tersentralisasi dibandingkan struktur roda,
tetapi lebih tersentralisasi dibandingan pola lainnya. pola struktur
Y juga terdaspat pemimpin yang jelas (orang ketiga dari bawah ),
satu angota lain berperan sebagai pemimpin kedua (orang dari
bawah). Anggota ini dapat mengirimkan dan menerima pesan dari
dua orang lainnya. komunikasi ketiga anggota lainnya hanya
dengan satu orang lainnya.
Gambar.3. Struktur Y
45
4. Struktur Rantai
Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran, akan tetapi anggota
yang dibagi ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja.
dalam terpusat juga terdapat di sini. Yang berada di posisi tangah lebih
berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada diposisi lain.
Gambar.4.
Struktur Rantai
5. Struktur Semua Saluran
Struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan strutur
lingkaran, dalam arti semua anggota adalah sama, dan semuanya juga
memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi anggota lainnya.
akan tetapi dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa
berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. pola ini memungkinkan
adanya partisipasi anggota secara maksimal.
Gambar.5. Struktur Semua Saluran
46
2.5. Hambatan Komunikasi Komunitas
Tidaklah mudah untuk melakukan komunikasi secara efektif. Bahkan
beberapa ahli komunikasi menyatakan bahwa mungkinlah seseorang
melakukan komunikasi yang sebenar-benarnya efektif. Ada banyak hambatan
yang bisa merusak komunikasi. Berikut ini adalah beberapa hal yang
merupakan hambatan komunikasi yang harus menjadi perhatian bagi
komunikator kalau ingin komunikasinya sukses.
1. Gangguan
Ada dua jenis gangguan terhadap jalannya komunikasi yang menurut
sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai gangguan mekanik dan gannguan
semantik.
a. Gangguan Mekanik
Yang dimaksudkan dengan gangguan mekanik ialah gangguan yang
disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.
b. Gangguan Semantik
Gangguan jenis ini bersangkutan dengan pesan komunikasi yang
pengertiannya menjadi rusak. Gangguan semantik tersaring ke dalam
pesan melalui penggunaan bahasa. Lebih banyak kekacauan
mengenai pengertian suatu istilah atau konsep terdapat pada
komunikator, akan lebih banyak gangguan semantik dalam pesannya.
Gangguan semantik terjadi dalam salah pengertian.
2. Kepentingan
47
Kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau
menghayati suatu pesan. Orang akan hanya memperhatikan perangsang
yang ada hubungannya dengan kepentingannya.
3. Motivasi Terpendam
Motivasi akan mendorong sesorang berbuat sesuatu yang sesuai benar
dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya.
Kebutuhan dan kekurangan seseorang berbeda dengan orang lainnya,
dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat, sehingga karenanya
motivasi itu berbeda dalam intensitasnya. Demikian pula intensitas
tanggapan sesorang terhadap suatu komunikasi.
4. Prasangka
Prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi
suatu kegitan komunikasi oleh karena orang yang mempunyai prasangka
belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang
hendak melancarkan komunikasi.
5. Pesan
Komunikasi dalam kehidupan manusia terasa sangat penting, karena
dengan komunikasi dapat menjembatani segala bentuk ide yang akan
disampaikan seseorang. Dalam setiap melakukan komunikasi unsur
penting diantaranya adalah pesan, karena pesan yang disampaikan
melalui media yang tepat, bahasa yang dimengerti, kata-kata yang
sederhana dan sesuai dengan maksud, serta tujuan pesan itu akan
disampaikan dan mudah dicerna oleh komunikan.
48
Adapun pesan menurut Onong Effendy dalam bukunya Human
Relations dan Public Relations, menyatakan pesan adalah :
”Suatu komponen dalam proses komunikasi berupa paduan dari
pikiran dan perasaan seseorang dengan menggunakan lambang,
bahasa/lambang-lambang lainnya kepada orang lain”.(Effendy,
1993:224)
Sedangkan berbicara maka “pembicara” (komunikator) itulah
pesan, ketika menulis surat maka ”tulisan surat” itulah yang dinamakan
pesan.
Selain hal tersebut diatas, pesan juga dapat dilihat dari segi
bentuknya. Menurut A.W.Widjaja dan M.Arisyk Wahab dalam
bukunya Strategi Public Relations, terdapat dua sifat pesan yaitu :19
1. Informatif.
Yaitu untuk memberikan keterangan fakta dan data kemudian
komunikan mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri, dalam
situasi tertentu pesan informatif tentu lebih berhasil dibandingkan
persuasif.
2. Persuasif.
Yaitu berisikan bujukan yakni membangkitkan pengertian dan
kesadaran manusia bahwa apa yang akan disampaikan akan
memberikan sikap perubahan. Tetapi berubahnya atas kehendak
sendiri. Jadi perubahan seperti ini bukan terasa dipaksakan akan tetapi
19
AW. Widjaja & M. Arisyk Wahab, Stategi Public Relations, Jakarta, 2000 hal: 215
49
diterima dengan keterbukaan dari penerima. (Widjaja dan Wahab,
2000:219)
Terhadap suatu pesan yang ingin dikomunikasikan mempunyai
kemampuan untuk meramalkan efek yang timbul pada komunikan.
Maka tidaklah mengherankan apabila dalam setiap melaksanakan
penyampaian pesan tidak terlepas dari keinginan untuk mejadikan
pesan itu diterima oleh komunikan. Tetapi untuk menjadikan pesan itu
dapat di terima maka harus memperhatikan berbagai macam kondisi
cara penyampaian dan memenuhi syarat dari suatu pesan.
Wilbur Scrahman menampilkan apa yang disebut “The
Condition of Succes In Communication” yakni kondisi yang harus
dipenuhi jika menginginkan agar suatu pesan membangkitkan
tanggapan yang dikehendaki seperti yang dikutip oleh Effendy.
Kondisi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :20
“Pesan harus dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat menarik
perhatian komunikan, pesan harus menggunakan lambang-lambang
tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan
komunikan,
sehingga
sama-sama
mengerti,
pesan
harus
membangkitkan kebutuhan pribadi dan menyarankan beberapa cara
untuk memperoleh kebutuhan tersebut, pesan harus menyarankan
suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi
20
Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, Bandung : Remaja Rosdakarya. 2004: Hal: 41
50
kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakan untuk
memberikan tanggapan yang dikehendaki”.
Dalam menciptakan pengertian yang baik dan tepat antara
komunikator dan komunikan, pesan harus disampaikan sebaik
mungkin. Sedikitnya ada empat pesan menurut S.M Siahaan dalam
bukunya “Komunikasi Pemahaman dan Penerapan” yaitu :
1. Pesan harus cukup jelas (clear), bahasa yang mudah dipahami,
tidak berbeli-belit, tanpa denotasi yang menyimpang dan tuntas.
2. Pesan itu mengadung kebenaran yang mudah diuji (Corect),
berdasarkan fakta, tidak mengada-ngada dan tidak diragukan.
3. Pesan
itu
nyata
(Concret)
dapat
dipertanggungjawabkan
berdasarkan data dan fakta yang ada, tidak sekedar isu/kabar
angin.
4. Pesan itu lengkap (Complete) dan disusun
secara sistematis, diantaranya:
a.
Pesan itu menarik dan meyakinkan (Convincing) menarik
karena bertautan dengan dirinya sendiri, menarik dan
meyakinkan karena logis.
b.
Pesan itu disampaikan dengan sopan (Courtesy) harus
diperhitungkan kadar kebiasaan, kepribadian, pola hidup
dan nilai-nilai komunikasi, nilai etis sangat menentukan
sekali bagaimana orang bisa terbuka.
51
Nilai
pesan
sangat
mantap
(concisten)
artinya
tidak
mengandung pertentangan antara bagian pesan yang lain, konsisten
ini sangat penting untuk meyakinkan komunikan akan beberapa
pesan yang disampaikan.
Download