Menolak Full Day School Menteri Pendidikan

advertisement
Menolak Full Day School Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Baru
Muhamad Iksan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru menjabat 13 hari sudah
membuat gebrakan baru, Menteri Muhadjir Effendy dalam keterangan
tertulisnya pada hari Selasa (9 Agustus 2016), menyatakan: "Merujuk
arahan Presiden Joko Widodo, kami akan memastikan bahwa memperkuat
pendidikan karakter peserta didik menjadi rujukan dalam menentukan
sistem belajar mengajar di sekolah.”
Lebih lanjut, ia mengulang keinginan Presiden agar kondisi ideal
pendidikan di Indonesia memenuhi dua aspek pendidikan yaitu: pertama,
pendidikan karakter dan kedua, pendidikan umum. Agar pendidikan
karakter tercapai maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan
mengkaji penerapan belajar mengajar dengan sistem full day school.
Menteri Muhadjir akan membatalkan tersebut jika masyarakat
keberatan dan mencari pendekatan lain.
Pemahaman publik akan full day school adalah anak selaku peserta didik
berada di sekolah lebih lama dari yang sekarang ini dijalani. Respon publik
lebih banyak yang menolak rencana ini. Misalnya, Bupati Purwakarta
Dedi Mulyadi yang menilai kebijakan ini sarat akan bias perkotaan.
Suara dari daerah juga hampir serupa menolak rencana kebijakan
Menteri Pendidikan yang baru ini, dan tidak luput suara dari netizen yang
kami cuplik tulisan Ioanes Rakhmat tentang gebrakan full day school
yang menghancurkan.
Perlu pula kiranya pihak yang mendukung rancangan ini disebutkan di
sini, hal ini datang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Wapres
menambahkan perlunya “proyek” percontohan terlebih dahulu sebelum
diberlakukan secara nasional. Menteri Muhadjir menyebut sekolah-sekolah
swasta sudah terlebih dahulu memberlakukan full day school ini.
Dengan demikian, rancangan full day school ini secara de facto sudah
berlangsung. Kebijakan Menteri baru yang menggebrak ini hanya
memberikan legalitas dalam bentuk peraturan dan keputusan Menteri
saja, agar de jure menjadi sah dan berlaku.
Melalui editorial ini, kami mengulang kembali apa makna demokrasi buat
kandidat Presiden nomor dua – Bapak Joko Widodo- pada kampanye
Pemilu Presiden 2014 lalu. "Demokrasi menurut kami adalah mendengar
suara rakyat dan melaksanakannya," buka Joko Widodo. Untuk itu, sebagai
bagian dari suara rakyat (voice of the people), kami menyatakan dengan
tegas menolak rancangan kebijakan full day school.
Tidak ada kebijakan yang sempurna, justru dengan memilih demokrasi
kita memiliki peluang kuat untuk meminimalisasi dampak yang tak
terlihat (what is unseen) dari suatu kebijakan atau rancangan kebijakan.
Karena full day school ini masih sebatas wacana, maka akan sangat baik
dan momentumnya pas untuk kita berikan tanggapan berupa kritik.
Beberapa kritik dari kami: pertama, konsep full day school seperti apa
yang ditawarkan Kementerian belum jelas, karena pemahaman publik
dengan serta-merta memahaminya sebagai: (i). jumlah pelajaran
meningkat, (ii). waktu bermain siswa yang berkurang, (iii). uang sekolah
yang pasti akan naik (khususnya sekolah swasta). Tanpa kejelasan dan
penjelasan, konsep full day school ini mengulang nasib kebijakan lain
yang gagal mencapai tujuannya. Semisal tujuan sertifikasi guru agar guru
bertambah kemampuan mengajarnya tidak tercapai.
Kedua, Menteri Muhadjir menyatakan "Dengan sistem full day school ini
secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi
'liar' di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari
kerja." Pernyataan ini pada hemat kami sangat keliru dan menyesatkan.
Apakah memang sekarang ini anak didik menjadi ‘liar’ di luar jam belajar?
Memang masih terdengar sayup-sayup siswa yang saling tawuran – bila
dianggap tawuran adalah bentuk ‘keliaran’- namun sudah sangat jarang
terjadi.
Ketiga, pemerintah hendaknya tidak lupa bahwa peran serta masyarakat
dalam hal kehadiran orang tua dan wali murid dalam proses mendukung
belajar mengajar jangan dikurangi dan diserahkan sepenuhnya kepada
sekolah dan negara. Rancangan full day school terkesan meninggalkan
orang tua dan wali murid, karena waktu parenting di rumah jelas akan
berkurang.
Pendidikan buat generasi penerus memang bukan topik yang sederhana.
Misalnya, pendidikan karakter tidak mudah dirumuskan dalam bentuk
pembelajaran dan pengajaran di kelas.
Bahkan Kurikulum 2013 yang diberlakukan secara bertahap oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya, dianggap bisa memperbaiki
kekurangan pendidikan karakter dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Kami belum menemukan bukti empiri
Kurikulum 2013 memperbaiki karakter peserta didik ketimbang KTSP.
Suara Kebebasan menanggap pemerintah melalui Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan bekerja membenahi sektor pendidikan
Indonesia melalui prioritas kerja. Dan pada hemat kami, prioritas saat ini
adalah pelibatan nyata siswa dan orang tua siswa (wali murid) sebagai
“pelaku pendidikan” yang bebas memilih sekolah yang diinginkannya.
Salah satu tulisan yang kami pernah angkat mengenai hal ini adalah opini
Anggita Ludmila tentang bagaimana gagasan libertarian memaknai
pendidikan melalui school choice.
Download