PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA

advertisement
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
Mei W, Ary Nurmalasari, Mina Rahmawati A
Program Studi Diploma III Analis Kesehatan STIKes Muhammadiyah Ciamis
ABSTRACT
Pulmonary Tuberculosis disease is a chronic infectious disease that attacks the various organs of
the lungs caused by Mycobacterium tuberculosis. Tackling tuberculosis with Medication Anti
Tuberkulosis (OAT) which consists of INH, rifampin, pirazinamid, and ethambutol with the
directly observed treatment shortcurse (DOTS) method. The use of new drugs such as antibiotics
can cause changes in body metabolism, and the presence of chronic disease causes a person
becomes more susceptible to systemic yeast infection. The broad spectrum antibiotic use in the
long term will be more vulnerable to infectious diseases due to vitamin deficiencies resulting from
the death of the beneficial bacteria that produce vitamin B12 and vitamin K by the antibiotics
consumed. The most common causes of systemic mycosis are Candida sp and Aspergillus sp.
This study aims to know the description of the examination of Candida sp and Aspergillus sp
fungus systemic pulmonary mycosis causes on Pulmonary Tuberculosis patients with the end-stage
treatment in the sixth month. This study is descriptive. The samples used were sputum of
pulmonary tuberculosis patients who underwent the end-stage treatment in the sixth month as
many as 30 people. Samples were examined at the Parasitology laboratory of STIKes
Muhammadiyah Ciamis.The result of the research on sputum of pulmonary tuberculosis patients
who undergo the end-stage treatment in the sixth month in RSUD Ciamis with breeding method
obtained positive result that 16 of 30 people (53,4%) were infected by Candida sp, 9 of 30 people
(30%) by Aspergillus sp, and 5 of 30 people (16.6%) were infected by both.
Keywoard
: Pulmonary tuberculosis, Candida sp,Aspergillus sp,systemic pulmonary
mycosis.
INTISARI
Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi kronis yang menyerang berbagai organ
paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penanggulangan tuberkulosis
menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang terdiri dari INH, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol dengan metode directly observed treatment shortcurse (DOTS). Penggunaan obatobatan baru seperti antibiotik dapat menyebabkan perubahan metabolisme tubuh, dan adanya
penyakit kronis menyebabkan seseorang lebih rentan terhadap infeksi jamur sistemik.Penggunaan
antibiotik spektrum luas dalam jangka panjang akan lebih rentan terkena penyakit infeksi, karena
kekurangan vitamin akibat dari terbunuhnya bakteri menguntungkan yang memproduksi vitamin
B12 dan vitamin K oleh antibiotik yang dikonsumsi. Jamur penyebab mikosis sistemik terbanyak
adalah Candida sp dan Aspergillus sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
pemeriksaan jamur Candida sp dan Aspergillus sp penyebab mikosis sistemik paru pada pasien
Tuberkulosis Paru (TB Paru) dengan pengobatan tahap akhir bulan keenam. Penelitian ini
bersifat deskriptif. Sampel yang digunakan yaitu sputum dari pasien tuberkulosis paru yang
menjalani pengobatan tahap akhir bulan keenam sebanyak 30 orang. Sampel diperiksa di
Laboratorium parasitologi STIKes Muhammadiyah Ciamis. Hasil penelitian pada sputum pasien
tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan tahap akhir bulan keenam di RSUD Ciamis dengan
metode pembiakan didapatkan hasil positif yang terinfeksi jamur Candida sp 16 dari 30 orang
(53,4%), Aspergillus sp 9 dari 30 orang (30%), dan yang terinfeksi keduanya 5 dari 30 orang
(16,6%).
Kata kunci
: Tuberculosis paru,Candida sp,Aspergillus sp,Mikosis sistemik paru.
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
Pendahuluan
Penggunaan antibiotik spektrum
Penyakit
tuberkulosis
paru
merupakan penyakit infeksi kronis yang
menyerang berbagai organ paru-paru yang
disebabkan
oleh
Mycobacterium
tuberculosis. WHO menyatakan 22 negara
dengan beban TB tertinggi di dunia 50%nya berasal dari negara-negara Afrika dan
luas dalam jangka panjang akan lebih
rentan terkena penyakit infeksi, karena
kekurangan
vitamin
akibat
dari
terbunuhnya bakteri menguntungkan yang
memproduksi vitamin B12 dan vitamin K
oleh
antibiotik
yang
dikonsumsi
(Misnadiarly, 2014).
Asia serta Amerika. Hampir semua negara
Infeksi jamur pada paru ditemui sebagai
ASEAN masuk kedalam kategori 22
infeksi nosokomial. Kejadian diakibatkan
negara tersebut kecuali Singapura dan
meningkatnya penggunaan obat antibiotik
Malaysia. Dari seluruh kasus di dunia,
spektrum luas, penggunaan obat steroid
India menyumbang 30%, China 15%, dan
serta penggunaan obat sitostatik maupun
Indonesia 10% (Widoyono, 2011).
radio terapi, pasien immunocompromise
Di
Indonesia,
TB
merupakan
masalah utama kesehatan masyarakat.
Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan
ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan
China dengan jumlah pasien 10% dari total
jumlah pasien TB di dunia (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
(Darmanto, 2009).
Di Indonesia belum banyak dokter
yang tertarik mempelajari jamur, sebagai
penyebab penyakit
paru,
pemeriksaan
jamur tidak pernah diminta sehingga
banyak
laboratorium
yang
belum
menyediakan fasilitas pemeriksaan jamur.
Agar
bidang
pemeriksaan
jamur
Penanggulangan TB menggunakan
bekembang dengan baik, pengetahuan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang terdiri
tentang keadaan pasien perlu dimiliki oleh
dari INH, rifampisin, pirazinamid, dan
ahli
etambutol
dokternya harus mengetahui tentang jamur
dengan
metode
directly
observed treatment shortcurse (DOTS).
Penggunaan
obat-obatan
baru
seperti
mikrobiologi
klinik,
sedangkan
penyebab penyakit (Darmanto, 2009).
Faktor
predisposisi
lain
dari
antibiotik dapat menyebabkan perubahan
meningkatnya infeksi jamur antara lain
metabolisme tubuh, dan adanya penyakit
penyakit kronik yang berat termasuk
kronis
lebih
penyakit keganasan dan meningkatnya
rentan terhadap infeksi jamur sistemik
penyakit immunocompromise seperti AIDS
menyebabkan
seseorang
(Widoyono, 2011; Irianto, 2013).
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
(Acquired Immune Deficiency Syndrome)
(Tanjung & Keliat, 2007).
menyatakan
Kebanyakan jamur patogen pada
manusia,
merupakan
Sebagaimana
saprofit
di
bahwa
ayat
:
Al-Qur’an
“Hai
manusia,
sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh
lingkungan. Menyebabkan infeksi bila
bagi
spora di udara, bebas terhirup masuk paru
dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
atau sinus atau bila hifa spora masuk
orang-orang yang beriman” (QS Yunus :
melalui kulit atau kornea (Nasronudin,
57)
2011).
Berdasarkan ayat yang dijelaskan diatas
Faktor
(yang
berada)
mempengaruhi
bahwa ada penyakit di dalam dada yang
seseorang lebih rentan terhadap infeksi
salah satu organnya adalah paru-paru.
oleh
Paru-paru merupakan organ yang diserang
jamur
yang
penyakit-penyakit
sistemik
adalah
adanya
penyakit kronis yang melemahkan seperti
pada
kanker, diabetes, leukimia, dan TBC.
merupakan penyakit infeksi kronik. Untuk
Penggunaan obat obatan baru seperti
menyembuhkan pasien TB paru digunakan
antibiotik dan hormon, yang menyebabkan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
perubahan metabolisme tubuh. Luka yang
Menurut penelitian di India pada tahun
disebabkan
vitamin,
2002 sampai 2003 dengan kultur sputum
iradiasi, paru, atau faktor faktor lain yang
pasien yang positif tuberkulosis paru
dapat memungkinkan masuknya jamur ke
kronik dan telah mendapatkan pengobatan,
jaringan dalam (Irianto, 2013).
didapatkan bahwa dari 500 pasien yang
oleh
kekurangan
Infeksi jamur sistemik bagian dari
penyakit
TB
Paru.
TB
Paru
dijumpai 200 pasien yang menderita
infeksi pada leukimia, tumor padat, dan
infeksi jamur (Thristy & Siregar, 2016).
transplantasi organ.
Infeksi umumnya
Penelitian terhadap bilasan bronkus pada
akibat paparan dari sumber lingkungan dan
bekas penderita tuberkulosis paru di RS
aktivasi flora jamur akibat penyakit yang
Haji Adam Malik Medan didapatkan 11
menyertai maupun akibat dari intervensi
dari 40 orang kultur jamur positif dan 29
diagnostik dan terapi (Nasronudin, 2011).
tidak ditemukan kultur jamur positif
Perlu diperhatikan bahwa jamur
yang
menyebabkan
mikosis
sistemik
sangat berbahaya karena gejalanya mirip
dengan tuberkulosis atau penyakit lain
(Irianto, 2013).
(Thristy & Siregar,2016).
Penyakit infeksi jamur sistemik
paru yang umumnya didapati dengan
defisiensi
diantaranya
sistem
pertahanan
tubuh,
Histoplasmosis,
Kriptokokosis, Aspergillosis, Kandidosis,
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
Mukormikosis, dan Nekardosis (Tanjung
Short-course) sampai dengan bulan juni
& Keliat, 2007).
2016 ada 201 orang. Sedangkan yang
Kolonisasi
Aspergillus
sp
disebabkan oleh rongga yang telah ada
sebelumya
akibat
misalnya
dari
penyakit
TBC,
lain
sedang mengalami pengobatan di RSUD
Ciamis yaitu sebanyak 177 orang (Laporan
tahunan RSUD Ciamis, 2016).
sarkoidosis,
Dari latar belakang tersebut maka
histoplasmosis. Di Indonesia kolonisasi
peneliti akan
Aspergillus sp ini berhubungan dengan
jamur pada pasien tuberkulosis paru
kavitas yang disebabkan oleh TBC (Staff
dengan pengobatan tahap akhir bulan
pengajar FKUI, 2008).
keenam.
Proporsi
Indonesia
pasien
TB
mengalami
paru
di
2003 dari 7% menjadi 13%. Indikator ini
cenderung menurun dari tahun 2003
sampai tahun 2014. Pada tahun 2015
indikator ini kembali meningkat menjadi
14%. Angka notifikasi kasus BTA positif
maupun kasus yang menunjukan pola yang
tidak jauh berbeda, dari 138 per 100.000
penduduk pada tahun 2012 menjadi 125
pemeriksaan
Metode Penelitian
peningkatan
signifikan dari tahun 1999 sampai dengan
melakukan
Penelitian
metode
penelitian
penelitian
yang
menggambarkan
ini
menggunakan
deskriptif
yaitu
dilakukan
untuk
keberadaan
jamur
Candida sp dan Aspergillus sp penyebab
mikosis sistemik paru pada penderita
tuberkulosis yang mengalami pengobatan
tahap akhir bulan keenam di RSUD
Kabupaten Ciamis.
per 100.000 penduduk pada tahun 2015.
Populasi pada penelitian ini adalah
Jawa barat memiliki peringkat ke 11 dalam
semua pasien tuberkulosis paru yang
penemuan kasus TB dengan nilai CNR
sedang menjalani pengobatan di RSUD
131 (Info datin, 2016).
Ciamis periode bulan Januari – November
Kasus
Tuberkulosis
paru
di
Kabupaten Ciamis menurut data yang
diperoleh dari rekam medis RSUD Ciamis
banyaknya pasien TBC yang dirawat inap
sampai dengan juni 2016 sebanyak 336
orang. Berdasarkan daftar kunjungan poli
DOTS (Directly Observered Treatment
2016 berjumlah 177 orang. Sampel adalah
pasien tuberkulosis yang sedang menjalani
pengobatan pada tahap akhir bulan keenam
di RSUD Ciamis. Dikarenakan jumlah
data pasien yang menjalani pengobatan
tuberkulosis tahap akhir bulan keenam
tidak pasti maka peneliti menentukan
sampel sebanyak 30 sampel, sesuai dengan
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
jumlah minimal sampel. (Abdurahman,
sputum. Lalu sputum diampung pada pot
2011)
yang
plastik steril. (Annisa, 2010) ,2) Dahak
digunakan adalah insidental yaitu teknik
ditanam pada media Sabouraud Dextrose
pengumpulan sampel secara kebetulan ada
Agar dengan ditotolkan pada bagian
pada saat waktu penelitian
tertentu. ,3) Media diberi label dan nomer
Teknik
pengumpulan
sampel ,4) Media diinkubasi selama 7 hari
Alat dan Bahan
sambil diamati pertumbuhannya setiap hari
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
,5) Koloni yang dicurigai mempunyai
adalah
:Autoklaf,Sterilisator,Gelas
pertumbuhan seperti kapas berwarna putih
Kimia,Pipet
tetes,Cawan
petri,Batang
keabuan, hijau, hitam kecoklatan jika
Pengaduk,NeracaAnalitik,deck glass dan
dewasa untuk Aspergillus sp dan koloni
objek
Lampu
bulat tepian halus dan rata untuk Candida
spirtus,Ose spatula steril,pot plastik,Korek
sp (Staff pengajar FKUI, 2007). c.
Api, Mikroskop, Iluminary air flow .Bahan
Pemeriksaan
yang digunakan dalam penelitian ini
Sabouraud Dextrose Agar :1) Lakukan
adalah
secara aseptis ,2) Ambil sedikit koloni di
dextrose
glass,Erlenmeyer
Sampel
sputum,
,
Sabouraud
agar,aquadest,KOH
10%,
Lactophenol Cotton Blue (LPCB)
mikroskopis
dari
media
dalam biakan media Sabouraud Dextrose
Agar simpan di objek glass ,3) Tambahkan
1 tetes Lactophenol Cotton blue ,4) Tutup
Prosedur Penelitian
Pemeriksaan langsung dengan KOH10%
:1) Dahak disiapkan ,2) Pijarkan ose pada
lampu spirtus ,3) Ambil sedikit sampel
menggunakan ose ,4) Letakan sampel pada
tetesan KOH 10% yang ada di objek glass
lalu tutup dengan cover glass ,5) Periksa
dibawah mikroskop 10x dan 40x (Robin
graham, 2011) .
b. Pengambilan sampel dan penanaman
sampel pada media Sabouraud Dextrose
Agar :1) Dahak yang diambil sputum pagi
sebelum makan pagi. Terlebih dahulu
pasien berkumur sebelum mengeluarkan
dengan cover glass ,
5) Periksa di bawah mikroskop dengan
perbesaran 10x dan 40x (Ellis, 2007)
Hasil Penelitian
Penelitian telah dilakukan terhadap
30 sampel sputum yang berasal dari pasien
tuberkulosis
paru
yang
menjalani
pengobatan tahap akhir bulan keenam di
RSUD Ciamis dengan data pada tabel di
bawah ini.
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
Tabel 1 Hasil pengamatan langsung
dengan KOH 10%
No
Sa
mp
el
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Pemeriksaan
langsung
dengan
KOH 10%
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Pemeriksaan
langsung dengan
KOH 10%
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Berdasarkan data pada tabel 1
semua sampel menunjukan hasil negatif (
tidak ditemukan jamur Candida sp dan
Aspergillus sp ). Untuk lebih memastikan
bahwa sampel tersebut negatif maka
peneliti melakukan penanaman pada media
SDA dan di dapatkan hasil sebagai berikut
:
Tabel 2 Hasil pengamatan pada
biakan Media SDA secara Makroskopis
dan Mikroskopis.
No
Sa
mp
el
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Bentuk
Koloni
Warna
Koloni
Candida sp
Aspergillus sp
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas
Koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas dan
koloni
bulat
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas dan
koloni
bulat,
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
keabua
n
Putih
Negatif (-)
Positif (+)
Positif (-)
Negatif (-)
Putih
keabua
n
Putih
keabua
n
Putih
Negatif (-)
Positif (+)
Negatif (-)
Positif (+)
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
keabua
n
Putih
Negatif (-)
Positif (+)
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
keabua
n dan
putih
Positif (+)
Positif (+)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
kehiija
uan
dan
putih
Positif (+)
Positif (+)
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus dan
koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepiian
halus dan
koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas dan
koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
seperti
kapas
Koloni
seperti
kapas
Koloni
seperti
kapas
Koloni
bulat,
tepian
halus
Koloni
bulat,
tepian
halus
terinfeksi
Putih
kehijau
an
Putih
Negatif (-)
Positif (+)
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
jamur
Candida
sp
dan
Aspergillus sp sebanyak 5 dari 30 orang.
Berdasarkan hasil penelitian pada
sputum pasien tuberkulosis paru yang
menjalani pengobatan tahap akhir bulan
Putih
keabua
n
Putih
Negatif (-)
Positif (+)
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
dan
putih
kehijau
an
Positif (+)
Positif (+)
Putih
dan
putih
kehijau
an
Positif (+)
keenam di RSUD Ciamis didapatkan hasil
positif yang terifeksi jamur Candida sp 16
dari 30 (53,4%), Aspergillus sp 9 dari 30
(30%), dan yang terinfeksi keduanya 5 dari
30 (16,6%).
Pembahasan
Positif (+)
Jumlah pasien tuberkulosis paru
yang menjalani pengobatan tahap akhir
bulan keenam di RSUD Ciamis sebanyak
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
keabua
n dan
putih
Positif (+)
Positif (+)
Putih
kehijau
an
Putih
keabua
n
Putih
keabua
n
Putih
Negatif (-)
Positif (+)
Negatif(-)
Positif (+)
Negatif (-)
Positif (+)
Positif (+)
Negatif (-)
Putih
Positif (+)
Negatif (-)
33 orang. 2 orang tidak memenuhi kriteria
inklusi karena tidak dapat mengeluarkan
dahaknya, dan 1 orang menolak, dan yang
memenuhi kriteria inklusi dan bersedia
dijadikan sampel sebanyak 30 orang.
Hasil
pemeriksaan
30
sampel
sputum pasien tuberkulosis paru yang
menjalani pengobatan tahap akhir bulan
keenam dengan metode pembiakan pada
media sabouraud dextrose agar ditemukan
adanya jamur Candida sp sebanyak 16 dari
30
orang
(53,4%)
,
Aspergillus
sp
sebanyak 9 dari 30 orang (30%) dan yang
terinfeksi keduanya sebanyak 5 dari 30
Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil
positif terinfeksi Candida sp sebanyak 16
dari 30 orang, terinfeksi Aspergillus sp
sebanyak 9 dari 30 orang, dan yang
orang (16,6%).
Hasil
penelitian
sebelumnya
dengan judul “pemeriksaan jamur pada
bilasan bronkus pada penderita bekas
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
tuberkulosis paru di RS Haji Adam Malik
mengeleluarkan sputum di tempat tertutup
Medan” didapatkan hasil sebagai berikut :
sehingga memungkinkan banyak kotoran
Dari 40 orang bekas penderita
tuberkulosis
paru
yang
dicurigai
yang adapada dinding ikut masuk. Wadah
sampel sputum pasien mungkin saja tidak
mengalami infeksi jamur paru didapatkan
langsung
ditutup
pada
hasil 11 orang (27,5%) dengan hasil kultur
mengeluarkan sputum.
saat
telah
bilasan bronkus positif jamur dengan 7
Meskipun pada hasil pemeriksaan
dari 11 orang (63,6%) jamur Candida sp, 3
langsung menggunakan KOH 10% negatif,
dari 11 orang (27,3%) jamur Aspergillus
dengan menggunakan kultur media jamur
fumingatus dan 1 dari 11orang (9,1%)
akan mudah diidentifikasi karena berfungsi
Aspergillus niger.
untuk
Pemeriksaan
pertama
yang
dilakukan
pemeriksaan
langsung
menumbuhkan
jamur
sehingga
jamur akan mudah diidentifikasi. Kultur
merupakan
gold
standar
dalam
menggunakan KOH 10%. KOH 10%
pemeriksaan jamur, dengan menggunakan
bertujuan
media kultur untuk menumbuhkan jamur,
untuk
melarutkan
sputum
sehingga dapat terlihat elemen jamur, dan
dan
memperbanyak
jamur
juga berguna untuk membersihkan debris
diidentifikasi (Gandjar, 2014).
untuk
(kotoran seperti sisa sisa makanan) pada
Pemantapan mutu pada penelitian
sampel sputum yang dapat menyerupai
ini dimulai dari pengambilan sputum
elemen jamur. Pada pemeriksaan ini
pasien
didapatkan
karena
pengobatan tahap akhir bulan keenam,
dipengaruhi beberapa faktor diantaranya
sputum ditampung pada wadah steril dan
spora yang ada pada sampel belum terlalu
mulut wadah lebar. Selanjutnya dilakukan
banyak dan banyaknya kotoran yang ada
pemeriksaan
pada sampel sehingga menutupi spora
menggunakan
pada
menyebabkan
sediaan langsung dengan menggunakan
pemeriksaan dengan menggunakan KOH
KOH 10% dilakukan di illuminary air flow
10% menjadi negatif (Robert, 2002).
dengan lampu sinar UV dan api dari lampu
sampel,
hasil
negatif
sehingga
Hasil pemeriksaan menggunakan
KOH 10% negatif juga dapat dipengaruhi
tuberkulosis
yang
menjalani
langsung
KOH
10%.
dengan
Pembuatan
spirtus. Penanaman pada media SDA juga
dilakukan dengan cara yang sama.
karena tidak diawasinya pasien pada saat
Pembuatan media dilakukan secara
pengeluaran sputum. Pada penelitian ini
aseptis
dengan
mensterilkan
cawan
pasien dibiarkan mengeluarkan sampel
menggunakan sterilisator, dan penuangan
sputum sendiri. Sebagian pasien ada yang
media yang dilakukan di illuminary air
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
flow
untuk
menghindari
kontaminasi.
Kandidosis. Jamur ini dapat membentuk
Pengamatan makroskopis koloni jamur
kolonisasi di dalam paru dan menjadi
dilakukan setiap hari selama satu minggu.
patogen yang dapat berlanjut menjadi
Pengamatan mikroskopis jamur dari koloni
infeksi. Pada sampel juga ditemukan jamur
mengunakan
Aspergillus sp sebanyak 30%. Jamur
LPCB
untuk
melihat
morfologi jamur dari koloni. Pelaporan
Aspergillus
hasil
dengan
aspergillosis. Jamur ini akan membentuk
mengirim pesan kepada pasien sesuai
kolonisasi di paru dan dari paru dapat
dengan identitas dan nomer handphone
menyebar ke organ lain melalui darah.
pemeriksaan
dilakukan
pasien.
sp
Hasil
Pemeriksaan jamur pada penelitian
penyebab
yang
penyakit
didapatkan
dalam
penelitian ini sebanyak 53,4% ditemukan
ini juga menggunakan kontrol negatif dan
jamur
kontrol positif untuk menjaga keakuratan
Pertumbuhan
hasil penelitian bahwa jamur yang tumbuh
dipengaruhi
adalah jamur yang akan diteliti bukan
diantaranya adanya penyakit infeksi lain
jamur
negatif
dan pengaruh umur. Selain penyakit
menggunakan media sabouraud dextrose
tuberkulosis pasien yang positif terdapat
agar yang diinkubasi selama 7 hari. Pada
Candida sp mengalami penyakit infeksi
kontrol negatif tidak terjadi pertumbuhan
lain seperti demam berdarah. Penurunan
jamur maka media layak digunakan.
daya tahan tubuh yang disebabkan oleh
kontaminan.
Kontrol
Kontrol positif menggunakan strain
Candida
penyakit
sp
pada
jamur
oleh
infeksi
sampel.
Candida
beberapa
lain
dan
sp
faktor
infeksi
murni dari jamur yang ditanam pada media
tuberkulosis menyebabkan jamur ini dapat
sabouraud dextrose agar yang hasilnya
tumbuh.
ditumbuhi koloni bulat tepian berwarna
mempengaruhi pertumbuhan jamur ini.
putih halus untuk jamur Candida sp.
Sebagian besar pasien yang mengalami
Kontrol untuk jamur Aspergillus sp hanya
infeksi Candida sp merupakan lansia.
menggunakan kontrol negatif jika pada
Seiring dengan pertambahan usia fungsi
kontrol negatif tidak terdapat pertumbuhan
daya
maka koloni yang tumbuh pada sampel
kemampuan immunitas tubuh melawan
bukan jamur kontaminan.
infeksi menurun, sehingga meningkatkan
Berdasarkan
hasil
Pengaruh
tahan
tubuh
umur
juga
menurun,
dapat
dan
penelitian
resiko terkena penyakit infeksi. Hal ini
banyak ditemukan jamur Candida sp pada
menyebabkan Candida sp yang merupakan
sampel yakni sebanyak 53,4%. Jamur
floranormal disaluran napas dan akan
Candida sp dapat menyebabkan penyakit
menjadi patogen pada penderita yang
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
memiliki daya tahan tubuh yang lemah,
pasien
semakin
menurun.
Adanya
sehingga presentase pertumbuhan Candida
defisiensi insulin dan akan mengganggu
sp pada penelitian ini sangat tinggi
dan menguragi fungsi fagositosis sel dalam
(Fatmah, 2007).
mekanisme pertahanan. Kadar glukosa
Jamur Aspergillus sp merupakan
yang tinggi dalam jangka waktu lama akan
jamur kelompok kapang oportunis patogen
menyebabkan perubahan patologis di paru
yang dapat menginfeksi manusia. Hasil
dan
penelitian menunjukan ditemukan jamur
melawan infeksi. Hal ini menyebabkan
Aspergillus sp sebanyak 30% pada sampel.
kedua jamur ini dapat tumbuh karena
Hal ini dikarenakan jamur ini akan
semakin menurunnya daya tahan tubuh
menginfeksi
pasien
pada
penderita
dengan
kelainan menahun seperti tuberkulosis.
Faktor
lain
yang
mempengaruhi
yang
pertahanan
makin
melemah
tubuh
akibat
penyakit diabetes ini (Susilawati, 2016).
mempengaruhi
Jamur
Candida
sp
merupakan
tumbuhnnya jamur ini adalah aktivitas
jamur berbentuk sel ragi atau sel bulat
sehari
dengan
hari
pasien.
Berdasarkan
tunas
maupun
tanpa
tunas.
pengamatan dan pengakuan pasien, pasien
Candida sp merupakan flora normal dalam
yang positif terinfeksi jamur Aspergillus sp
saluran pernapasan, koloni nya akan
adalah perokok. Kebiasaan merokok dapat
meningkat pada penderita yang mendapat
meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
pengobatan antibiotik berspektrum luas
Jamur Aspergillus sp yang terdapat di
seperti pengobatan tuberkulosis (Tanjung
udara
& Keliat, 2007).
akan
mudah
terhirup
dan
menyebabkan infeksi akibat dari kebiasaan
merokok.
Kelainan
paru-paru
Penggunaan
antibiotik
dalam
berupa
jangka waktu lama merupakan faktor yang
rongga di dalam paru yang disebabkan
menyebabkan jamur - jamur ini tumbuh.
oleh penyakit tuberkulosis dan kebiasaan
Antibiotik
merokok
kekurangan vitamin B12 dan vitamik K
menambah
resiko
mudah
terpapar jamur ini (Romlah, 2015).
menyebabkan
tubuh
yang dihasilkan oleh bakteri baik yang
Pada penelitian ini juga didapatkan
terbunuh dengan penggunaan antibiotik
hasil sebanyak 16,6 % di temukan kedua
dalam jangka waktu lama sehingga sistem
jamur yaitu Candida sp dan Aspergillus sp.
kekebalan tubuh menurun dan jamur
Keadaan pasien yang ditemukan kedua
mudah tumbuh dan menjadi patogen
jamur ini sedang di rawat inap dengan
(Misnadiarly, 2014).
riwayat
penyakit
diabetes.
Penyakit
Pada penelitian ini menggunakan
diabetes menyebabkan daya tahan tubuh
sampel sputum pada pasien tuberkulosis
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
paru yang menjalani pengobatan tahap
karena ada faktor predisposisi berupa
akhir bulan keenam di RSUD Ciamis
penyakit lain diantaranya diabetes. Infeksi
sebanyak 30 sampel. Cara pengambilan
ini terjadi setelah inhalasi jamur, kemudian
sampel
terjaditrombosis pada pembuluh darah
sputum
dengan
menampung
sputum pada pot sputum yang telah diberi
paru dan infark (Tanjung & Keliat, 2007).
identitas sebelumnya. Kemudian sampel
diperiksa
di
Laboratorium.
Hasil penelitian yang menunjukan
Seluruh
adanya pertumbuhan jamur Aspergillus sp
tahapan pemeriksaan dilakukan secara
dan Candida sp pada sputum pasien
aseptis dan di Iluminary air flow dengan
tuberkulosis yang menjalani tahap akhir
menggunakan lampu UV dan api untuk
bulan
mengurangi resiko kontaminan (Nana,
penelitian ini peneliti hanya menggunakan
2008).
kontrol negatif untuk jamur Aspergillus sp,
Pada hari pertama koloni mulai
tidak
keenam.
Kelemahan
diawasinya
pasien
pada
dalam
saat
tumbuh. Hal ini dilihat dari tumbuhnya
pengeluaran sampel sputum, dan hanya
koloni kecil pada masing masing media,
meneliti dua spesies jamur saja, karena
pertumbuhan
masih ada jamur lain yang dapat tumbuh
koloni
diamati
setiap
harinya. Koloni kecil terus bertumbuh dan
membesar. Koloni Candida sp yang
berbentuk bulat dengan tepian halus pada
hari terakhir membesar dan koloni bulat
yang menyatu ketika koloni sudah tua
dengan
warna
koloni
putih.
Koloni
Aspergillus sp pada hari pertama tumbuh
koloni
kapas
putih
yag
tipis,
lalu
membesar kan koloni kapas semakim
membesar berwarna putih keabuan ketika
koloni sudah tua (Ellis, 2008)
Pada penelitian ini juga ditemukan
jamur lain yaitu Absidia sp Rhizopus sp.
Bentuk koloni dari jamur ini koloni
berwarna putih dan merambat diseluruh
permukaan, berkapas dan berbulu. Jamur
in
termasuk
jamur
penyebab
mukormikosis. Infeksi jamur ini terjadi
seperti Rhizopus sp dan Absidia sp.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada
sputum pasien tuberkulosis paru yang
menjalani pengobatan tahap akhir bulan
keenam di RSUD Ciamis didapatkan hasil
positif yang terifeksi jamur Candida sp 16
dari 30 orang (53,4%), Aspergillus sp 9
dari 30 orang (30%), dan yang terinfeksi
keduanya 5 dari 30 orang (16,6%).
Ucapan Terima Kasih
Sumber
dana
penelitian
ini
menggunakan dana hibah dari LPPM
STIKes Muhammadiyah Ciamis. Pada
kesempatan
ini peneliti
mengucapkan
terimakasih sebanyak-banyaknya kepada
Ketua STIKes Muhammadiyah Ciamis,
Mei Widiati : PEMERIKSAAN JAMUR Candida sp dan Aspergillus sp PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD CIAMIS
Ketua LPPM STIKes Muhammadiyah
Ciamis dan Ketua Program Studi D3
Analis Kesehatan STIKes Muhammadiyah
Ciamis.
Daftar Pustaka
Al-Quran. Surat Yunus, ayat 57.
Bandung : CV Penerbit Dipenegoro
Abdurahman, M. & Somantri, A.
(2011) Dasar-dasar Metode Statistika Untuk
Penelitian. Bandung : CV Pustaka Utama.
Annisa, H.G (2012) Karakteteristik
klinis dan laboratorium mikologi pada
pasien tersangka mikosis paru di Rumah
sakit Persahabatan. Skripsi, Universitas
Indonesia.
Darmanto, djojodibroto. (2007)
Respirologi (respiratory medicine). Jakarta :
EGC.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. (2008) Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta :
Departemen Kesehtan Republik Indonesia.
Ellis,
David.,
dkk.
(2007)
Descriptions of medical fungi. Adelaide :
University of Adelaide.
Gandjar, Indrawati, dkk. (2014)
Mikologi : Dasar dan terapan edisi revisi.
Jakarta : Yayasan obor Indonesia
Graham,
Robin
dkk.
(2011)
Dermatology Lecture notes . United States :
Wiley Blackwell
Harr R, Robert. (2002)
laboratorium klinis. Jakarta : EGC
Ilmu
Irianto, koes. (2013) Mikrobiologi
menguak dunia mikroorganisme jilid 2.
Bandung : Yrama widya.
Jawetz, Melnick. & Adelberg.
(2008) Mikrobiologi kesehatan. Jakarta:
Salemba medika.
Mifftahurrahmah,
Nur.(2013)
Manual Laboratorium Mikrobiologi. Jakarta
: EGC.
Misnadiarly.(2014)
Mikrobiologi
untuk klinik dan laboratorium. Jakarta : PT
Asdi Mahasatya. 53
Download