ANALISIS RISIKO EKOLOGIS

advertisement
1
ANALISIS RISIKO EKOLOGIS
(diabstraksikan oleh: soemarno, pm.pslp.ppsub
2010)
Kata EKOLOGI berasal dari bahasa Yunani, oikos = rumah atau
ilmu tentang makhluk hidup dan tempat hidupnya; logos = ilmu.
EKOLOGI =
ilmu pengetahuan rumahnya atau ilmu tentang rumah
tangga makhluk hidup,
ilmu yang mengkaji tentang hubungan antara
organisme dan lingkungannya; mempelajari hubungan antara tumbuhan,
binatang dan manusia dengan lingkungan hidupnya, bagaimana
kehidupannya dan mengapa mereka ada di situ. Secara harfiah, ekologi
adalah pengkajian hubungan organisme-organisme atau kelompok
organisme terhadap lingkungannya
. apa yang ada, apa yang terjadi
di alam, tidak melakukan percobaan.
Menurut Odum dan Cox (1971), ekologi adalah suatu studi yang
mempelajari struktur dan fungsi ekosistem atau alam dimana manusia
adalah bagian dari alam. Struktur mencirikan keadaan sistem tersebut.
Fungsi menggambarkan hubungan sebab akibatnya. Jadi pokok utama
ekologi adalah
ilmu dasar yang berkaitan dengan berbagai ilmu
pengetahuan yang relevan dengan kehidupan (peradaban).
Seorang yang belajar ekologi sebenarnya bertanya tentang
berbagai hal berikut ini:
1. Bagaimana suatu species beradaptasi dalam habitatnya?
2. Bagaimana alam bekerja ?
3. Apa yang mereka perlukan dari habitatnya ?
4. Bagaimana mereka itu untuk dapat dimanfaatkan guna
kelangsungan hidupnya ?
5. Bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya akan unsur hara
(materi) dan energi ?
6. Bagaimana individu-individu dalam spesies berinteraksi dengan
species lainnya itu diatur dan berfungsi sebagai populasi ?
Ekologi merupakan disiplin ilmu baru dari biologi yang merupakan
mata rantai fisik dan proses biologi serta bentuk-bentuk yang
menjembatani antara ilmu alam dan ilmu sosial.
Hubungan Ekologi dengan Ilmu Lain
Ekologi dan ekonomi mempunyai banyak persamaan dan
perbedaan. Dalam ekologi , yang dipakai dalam transaksi adalah materi,
energi dan informasi. Manusia tidak cukup memperhatikan materi, energi
dan sudut kepentingan manusia. Dalam kehidupan modern, arus uang-lah
yang lebih penting, tetapi bukan satu-satunya masukan untuk mengambil
2
keputusan dalam permasalahan LH. Faktor lainnya adalah ekonomi,
teknologi, politik, dan sosial budaya. Ekologi adalah salah satu komponen
dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup yang harus ditinjau bersama
dengan komponen lain untuk mendapatkan keputusan yang seimbang.
Dalam hal ini, EKOLOGI-lah yang menjadi titik pusat perhatian.
KONSEP EKOSISTE M
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh
hubungan timbal-balik antara makhluk hidup
dengan
lingkungannya; terbentuk oleh komponen hidup dan tak hidup di
suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang
teratur.
Unsur-unsur dalam ekosistem tidak secara tersendiri,
terintegrasi sebagai komponen yang berkaitan dalam suatu
kesatuan. Pendekatan ekositem/holistik, hubungan fungsional
antara komponen yang mengikat dalam kesatuan yang teratur.
Suatu ekosistem diatur dan dikendalikan secara alamiah.
Mempunyai daya kemampuan yang optimal dalam keadaan berimbang.
Terdapat interaksi antara seluruh unsur-unsur lingkungan yang saling
mempengaruhi dan bersifat timbal-balik. Interaksi terjadi antara :
komponen2 biotis dgn abiotis
sesama komponen biotis
sesama
komponen abiotis. Setiap ekositem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh
faktor-faktor tempat, waktu dan masing-masing perbedaan dari ekositem itu
sendiri sebagai pencerminan sifat-sifat yang khas.
Keterkaitan dan ketergantungan dalam ekosistem dapat dipelajari
dalam :
Siklus / daur hidrologi
Siklus mineral / biogeokimia
Aliran energi
Rantai dan jaring makanan
Makhluk hidup dan lingkungannya.
Kelentingan Lingkungan
Kelentingan
merupakan
sifat
suatu
ekosistem
yang
memungkinkannya kembali kepada stabilitas / keseimbangan
semula, bahkan untuk menyerap dan memanfaatkan gangguan
yang menimbulkan dinamika / perubahan kecil. Sifat ini
menunjukkan kemampuan suatu sistem untuk pulih setelah ia
terkena gangguan.
3
Daya Dukung Lingkungan
Batas teratas dari pertumbuhan suatu populasi diatas mana jumlah
populasi itu tidak lagi dapat didukung oleh sarana, sumber daya dan
lingkungan yang ada.
Jumlah individu yang dapat didukung oleh suatu habitat (pengertian
dalam ilmu pengetahuan margasatwa).
Sumber: www.blogger.com/feeds/2533972858.../default ; diakses 2/10/2010
PERANAN VEGETASI DALAM EKOSISTEM
Sebagai perubah terbesar dari lingkungan, berfungsi sebagai
perlindungan yang dapat mengurangi radiasi matahari, mengurangi
temperatur ekstrim, dll.
Sebagai sumber hara mineral.
Sebagai pengikat energi untuk ekosistem.
Pengelolaan Lingkungan
Usaha secara sadar untuk memelihara dan atau memperbaiki mutu
lingkungan agar kebutuhan dasar terpenuhi.
Kelenturan dalam
pengelolaan lingkungan tidak memberikan akomodasi/tempat pada
adaptasi yang buruk/tidak sehat . Bersifat lentur, untuk mendapatkan mutu
lingkungan yang baik memperbesar manfaat lingkungan dan atau
memperkecil risiko lingkungan.
4
Pembalakan Liar Mengancam Terjadinya Bencana Ekologi Di
Sulawesi Tenggara
(Free Bumi, Senin, 23 Februari 2009, diposkan o l e h M I D W A N )
Aktivitas pembalakan hutan secara tidak terkendali di wilayah Sulawesi
Tenggara semakin meresahkan dan beresiko sangat besar. Hadirnya
perusahaan HPH yang beroperasi di wilayah Kecamatan Asera-Wiwirano
Kabupaten Konawe Utara telah berdampak pada kerusakan hutan yang
semakin sporadis. Dengan berbekal izin HPH, telah dilakukan penebangan
kayu di dalam areal konsesinya, dan diduga juga tetapi telah merambah
kawasan hutan hingga ke luar areal. Bukan saja hanya banjir bandang,
ancaman terjadinya bencana ekologis di daerah itu makin terbuka lebar.
Sumber: http://midwancoy.blogspot.com/2009_02_01_archive.html; diakses 2/10/2010
Sumber: http://midwancoy.blogspot.com/2009_02_01_archive.html ; diakses 2/10/2010
5
Sumber: http://midwancoy.blogspot.com/2009_02_01_archive.html ; diakses
25/12/2010
Mengapa hutan sangat penting bagi kehidupan?
Hutan merupakan sumber daya alam yang mengandung berbagai
spesies tumbuhan dan hewan, hutan juga merupakan tumpuan dan
harapan bagi setiap mahkluk hidup yang ada di bumi saat ini, karena hutan
memberikan banyak manfaat yang dapat diambil. Manfaat yang banyak ini
telah mendorong manusia untuk mengeksploitasi hutan secara berlebihan
untuk kepentingan manusia baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Apa
yang terjadi? Sumberdaya hutan telah mengalami degradasi fungsi secara
drastis dimana hutan tidak lagi berfungsi secara maksimal, seperti fungsi
hidrologis, pengaturan iklim mikro, serta habitat satwa liar, dan spesiesspesies tanaman.
Eksploitasi yang berlebihan oleh manusia telah membuat hutan dan
lahan rusak. Berdasarkan data yang ada di Dephut dan juga didasarkan
pada pemantauan satelit Citra Lansat, baik oleh Indonesia maupun
Belanda, tingkat kerusakan hutan yang terjadi setiap tahunnya rata-rata
1,188 juta hektar/tahun.
Mengingat manfaat dan fungsi penting hutan, maka diperlukan
upaya pelestarian hutan dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi.
Mengambil kebijakan untuk penyelamatan hutan, merupakan hal yang
utama yang harus dilakukan bukan malah untuk menambah konversi areal
hutan khususnya di Indonesia.
6
Sumber: sauddaniel.wordpress.com/tag/iklim/ ; diakses 22/10/2010
Kerusakan Hutan di Singkawang
By admin on October 21st, 2009
Sumber: akcayanews.com/%3Fp%3D73
Kerusakan hutan di daerah hulu Sedau, Singkawang Selatan semakin parah, Minggu
(18/10). Kerusakan hutan bisa mengakibatkan banjir di daerah hilir sungai yakni di
kelurahan Sedau, Singkawang Selatan. [Foto kiriman Agus Sutomo]
7
RISIKO EKOLOGIS
Beragam permasalahan dalam lingkup sistem sosial, proses sosial,
dan relasi sosial telah memunculkan tiga macam risiko ekologis, yaitu:
1. Risiko fisik-ekologis (physical-ecological risk), yaitu aneka risiko
kerusakan fisik pada manusia dan lingkungannya;
2. Risiko mental (mental risk), yaitu aneka risiko kerusakan mental
akibat perlakuan buruk pada tatanan psikis;
3. Risiko sosial (social risk), yaitu aneka risiko yang menggiring
pada rusaknya bangunan dan lingkungan sosial (eco-social).
Resiko fisik-ekologis berupa kerusakan arsitektur homo humanus
dan oikos, yang dapat disebabkan oleh proses alam (seperti gempa,
tsunami, letusan gunung) atau yang diakibatkan oleh kegiatan manusia
(man made risks). Banjir banding merupakan kejadian yang paling sering
menimbulkan kerusakan fisik-ekologis. Aneka risiko biologis yang
diproduksi melalui aneka makanan, sayuran, hewan ternak, buah-buahan
yang menciptakan aneka penyakit kanker, tumor ganas, syaraf, kulit
disebabkan oleh intervensi proses artifisial-kimiawi terhadap proses alam
yang melampaui batas. Misalnya, risiko akibat penggunaan zat kimia dalam
proses reproduksi hewan atau tanaman, atau zat kimia (seperti formalin
dan boraks) pada makanan hyper-artificiality.
Estimasi Debit Banjir
Kategori: | 18 December 2006 | 9:29 am |
Banyak cara yang dapat dipakai untuk membuat estimasi debit banjir, dan
ini tergantung pada data yang tersedia. Bilamana tidak tersedia debit banjir,
debit banjir dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus-rumus
empiris. Metode perkiraan debit banjir dapat dikelompokkan atas dasar
kelompok data hidrologi sbb.:
8
Metode Perkiraan Debit Banjir
Sumber: mayong.staff.ugm.ac.id/site/%3Fp...id%3D109
PENGELOLAAN DAS vs. RISIKO BANJIR
Pengelolaan lahan dan air untuk penanggulangan banjir atau
kekeringan di suatu DAS sebagai daerah tangkapan air (Watershed
9
Management) harus mempertimbangkan aspek sumberdaya lahan,
hidrologi dan iklim. Dengan mempertimbangkan ketiga aspek tersebut,
dam parit (channel reservoir) dapat dibangun untuk menanggulangi
kekurangan air di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Pengelolaan
air secara terpadu dilakukan dengan menyimpan air yang berlebihan pada
musim penghujan untuk dapat didistribusikan ke lahan pertanian pada
musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik
biofisik daerah tangkapan air di daerah Damit dan pengaruhnya terhadap
produksi dan pemanfaatan air, mempelajari manfaat dam parit untuk
mengurangi resiko banjir di musim hujan dan manfaatnya bagi peningkatan
produktifitas lahan di musim kemarau.
Sumber: www.bpdas-jeneberang.net/htmlfol...itis.htm ; diakses 12/6/2010
FAKTOR PENYEBAB LAHAN KRITIS
- Perambahan hutan
- Penebangan liar (illegal logging)
- Kebakaran hutan
- Pemanfaatan sumberdaya hutan yang tidak berazaskan kelestarian
- Penataan zonasi kawasan belum berjalan
- Pola pengelolaan lahan tidak konservatif
- Pengalihan status lahan (berbagai kepentingan), dll.
RISIKO LAHAN KRITIS
Daya resap tanah terhadap air menurun sehingga kandungan air
tanah berkurang yang mengakibatkan kekeringan pada waktu musim
kemarau.
Terjadinya arus permukaan tanah pada waktu musim hujan yang
mengakibatkan bahaya banjir dan longsor.
Menurunnya kesuburan tanah, dan daya dukung lahan serta
keanekaragaman hayati
10
Sumber: ristyz.blogspot.com/2009_06_01_a...ive.html ; diakses 2/10/2010
Sumber: ristyz.blogspot.com/2009_06_01_a...ive.html ; diakses 2/10/2010
Beragam penelitian dilakukan untuk mengkaji karakteristik biofisik
DAS yang berpengaruh terhadap produksi air dan pemanfaatannya,
informasi tentang manfaat dam parit dalam mengurangi volume debit
puncak dan perlambatan waktu respon di musim penghujan, dan manfaat
dam parit dalam penyediaan air bagi pertanian dan domestik, untuk
meningkatkan luas areal tanam, peningkatan produktivitas lahan dan
ketersediaan air baku bagi keperluan rumah tangga di musim kemarau.
11
Sumber: ristyz.blogspot.com/2009_06_01_a...ive.html ; diakses 2/10/2010
Kejadian banjir dan kekeringan dalam suatu wilayah (DAS) terjadi
akibat fenomena iklim yaitu distribusi curah hujan cenderung terjadi
dalam waktu yang singkat dengan intensitas tinggi, atau periode
kemarau yang terjadi lebih panjang dari normalnya. Secara umum
penyebab banjir dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu:
masukan (hujan) dan sistem DAS. Masukan (hujan) meliputi faktor
intensitas, lama dan distribusi hujan, sedangkan sistem DAS
meliputi faktor topografi, jenis tanah, penggunaan lahan dan sistem
transfer hujan dalam DAS. Tingginya frekuensi hujan dengan
jumlah yang besar dalam waktu relatif singkat di musim penghujan,
disertai perubahan penggunaan lahan menuju makin luasnya
pemukaan kedap (impermeable) menyebabkan hanya sebagian
kecil curah hujan yang dapat diserap dan ditampung oleh tanah
melalui intersepsi maupun infiltrasi sebagai cadangan air dimusim
kemarau. Dampaknya air hujan yang di transfer menjadi aliran
permukaan meningkat, sehingga terjadi banjir dengan besaran
(magnitude) yang makin meningkat. Kondisi ini akan diperburuk
apabila periode tanah sudah dalam keadaan jenuh akibat hujan
sebelumnya. Banjir terjadi saat debit aliran sungai menjadi sangat
tinggi, sehingga melampaui kapasitas daya tampung sungai.
Akibatnya bagian air yang tidak tertampung melimpas melampaui
badan/bibir/tanggul sungai dan pada akhirnya akan menggenangi
daerah sekitar aliran yang lebih rendah.
12
Sumber: ristyz.blogspot.com/2009_06_01_a...ive.html ; diakses 2/10/2010
Keberadaan tanggul sungai untuk mengendalikan resiko banjir
akibat debit aliran air sungai, secara langsung dan tidak langsung juga
mempengaruhi keseimbangan ekosistem setempat. Apabila curah hujan
tinggi, dan aliran air dari daerah hulu DAS meningkat, maka tidak menutup
kemungkinan tanggul akan jebol. Seperti yang terjadi di daerah bendungan
Damit yang sudah tiga kali mengalami jebolnya tanggul akibat debit air
yang melebihi kapasitas, dan kali terakhir peristiwa jebolnya tanggul ini
terjadi pada tahun januari 2008 dan sedang dalam tahap perbaikan.
Pemanfaatan daerah tangkapan air di Damit sebagian besar adalah untuk
perairan irigasi sawah dan perkebunan petani setempat. Menurut data hasil
korespondensi praktikan dengan masyarakat di daerah Damit, apabila
keadaan air bendungan sedang naik, airnya keruh dan lebih dimanfaatkan
menjadi potensi irigasi. Sebaliknya, dalam keadaan kemarau air
bendungan menjadi jernih karena pasokan air di daerah Damit hanya
berasal dari gunung. Oleh karena itu, pada saat kemarau, penduduk
daerah Damit memanfaatkan air bendungan untuk dikonsumsi, dan tidak
memaksimalkan untuk irigasi sawah. Irigasi sawah pada saat kemarau
hanya diupayakan pada intensitas air hujan yang turun.
Risiko Sosial
Risiko sosial berupa kerusakan bangunan sosial, sebagai akibat
dari faktor-faktor eksternal kondisi alam, teknologi, industri. Resiko fisik
kecelakaan (lalu lintas jalan, pesawat terbang, kecelakaan laut),
bencana (banjir, longsor, kebakaran hutan, kekeringan) menciptakan pula
13
secara bersamaan risiko sosial, berupa tumbuhnya aneka penyakit sosial :
ketakpedulian, ketakacuhan, indisipliner, fatalitas, selfishness, egoisme dan
immoralitas. Risiko sosial paling besar sebagai akibat dari berbagai risiko
fisik lainnya adalah mulai terkikisnya rasa sosial itu sendiri, yang
menciptakan masyarakat tanpa rasa, kepekaan, kebersamaan dan
tanggung jawab sosial asocial.
GOTONG ROYONG DI KECAMATAN ANGKOLA SELATAN
Kamis, 4 Juni 2009 08:44:30 - oleh : gengbeng
Sumber: www.tapselkab.go.id/01/index.php...6id%3D49 ; diakses 2/10/2010
Untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat dalam
pembangunan daerah berdasarkan semangat kebersamaan dan
kekeluargaan menuju pada penguatan interaksi sosial, dilaksanakan
kegiatan gotong royong di kecamatan Angkola Selatan. Kegiatan yang
dilaksanakan kurang lebih oleh 130 orang pada tanggal 02 Juni 2009
di Desa Napa, mengerjakan jalan keliling Desa Napa sepanjang
kurang lebih 600 m dengan lebar 2 meter. Melihat kondisi saat ini yang
masih jalan tanah, diharapkan dengan kegiatan gotong royong
dimaksud dapat ditingkatkan sampai dengan pembatuan jalan.
Pembangunanan yang murni swadaya masyarakat ini diperkirakan
setara dengan nilai pembangunan lebih kurang 35 Juta rupiah. Dalam
kegiatan ini, Unsur Muspika Kecamatan Angkola Selatan, antara lain
Danramil 19 Kecamatan Angkola Selatan,Ka Pospol dan Camat
Angkola Selatan beserta Staf, juga turun langsung ke lokasi
bergotong-royong bersama masyarakat Desa Napa.
14
Risiko Mental
Risiko mental berupa hancurnya bangunan psyche, berupa
perkembangan aneka bentuk abnormalitas, penyimpangan (deviance) atau
kerusakan psikis lainnya, baik yang disebabkan faktor eksternal maupun
internal. Pembiaran berbagai bentuk kelainan psikis (seksual, kekerasan,
kriminalitas) dengan membiarkan berbagai risikonya telah menciptakan
manusia-manusia yang kehilangan rasa kemanusiaannya sendiri, yaitu
manusia yang tanpa perasaan, rasa malu, empati, simpati dan tanggung
jawab. Kerusakan parah ekosistem mental disebabkan pembiaran aneka
risiko mental dari berbagai tindakan sosial, misalnya pembiaran kekerasan,
korupsi, seks bebas dalam waktu yang lama inhuman condition.
Tiga macam risiko ekologis tersebut di atas menciptakan sebuah
kondisi ruang kehidupan yang sarat ancaman, ketakutan, dan paranoia.
Kondisi sarat risiko ini tidak dapat dibiarkan terus membiak dan berlipat
ganda secara eksponensial, yang dapat menggiring pada kerusakan total
fisik, mental dan sosial. Tidak saja diperlukan pikiran-pikiran reflexive
dalam mengantisipasi, mengurangi atau mengatasi dampak-dampak risiko,
tetapi juga diperlukan renungan-renungan reflective melalui sentuhan halus
kemanusiaan dalam mencari pemecahan-pemecahan lebih fundamental di
balik aneka risiko yang dihadapi masyarakat.
Resiko Ekologis vs. Pembangunan Ekonomi
Perubahan fungsi hutan untuk pembangunan ekonomi dapat
mendatangkan keuntungan dan manfaat ekonomi, serta mengakibatkab
beragam kerugian. Selain kerusakan fungsi hutan, ternyata juga
berdampak pada menurunya populasi satwa liar, bahkan terjadi kepunahan
secara lokal pada spesies tertentu di beberapa daerah. Salah satu dampak
yang nyata dari konversi hutan menjadi lahan perkebunan Sawit, di
beberapa wilayah adalah puluhan gajah mengamuk di lahan perkebunan
masyarakat dan pedesaan. Beberapa ekor Harimau turun ke kampung
meresahkan masyarakat desa, serta di beberapa daerah lainnya telah
terasa bahwa pada saat musim kemarau persediaan air tanah sangat
sedikit, namun saat musim penghujan terjadi banjir bandang yang ternyata
juga membawa bencana bagi manusia, di Kalimantan puluhan orangutan
terpaksa turun ke desa-desa karena makanan di habitatnya telah menjadi
perkebunan sawit, di Sulawesi beberapa daerah selalu mengalami
bencana banjir saat musim penghujan.
15
Dalam valuasi ekonomi memang diuntungkan adanya alih fungsi
hutan untuk sebuah perkebunan, selain menyedot lapangan pekerjaan juga
menghasilkan uang untuk devisa Negara. Namun apabila dihitung biaya
eksternalitas ekologisnya ternyata ada banyak kerugian, dimana valuasi
matematis tidak pernah menghitung seberapa besar dampak ekologis yang
terjadi akibat konversi hutan tersebut. Tanah menjadi lebih kritis, hilangnya
kawasan resapan air, hilangnya keragaman jenis biota baik flora maupun
fauna.
HUTAN INDONESIA
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang
terdiri dari 17.504 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke.
Sejumlah besar (lebih dari 10.000 buah) dari pulau-pulau tersebut adalah
merupakan pulau-pulau berukuran kecil, memiliki keanekaragaman
tumbuhan, hewan jasad renik yang tinggi. Hal ini terjadi karena keadaan
alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu
tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama.
Sumber: irwantoforester.wordpress.com/20...donesia/ ; diakses 2/8/2010
Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya
yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing
menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat
didalamnya. Sebagian besar hutan-hutan di Indonesia termasuk dalam
Hutan Hujan Tropis, yang merupakan masyarakat hutan yang kompleks,
terdapat pohon dari berbagai ukuran. Di dalam kanopi iklim mikro berbeda
dengan keadaan sekitarnya; cahaya lebih sedikit, kelembaban sangat
tinggi, dan temperatur lebih rendah. Pohon-pohon kecil berkembang dalam
naungan pohon yang lebih besar, di dalam iklim mikro inilah terjadi
16
pertumbuhan. Di dalam lingkungan pohon-pohon dengan iklim mikro dari
kanopi berkembang juga tumbuhan yang lain seperti pemanjat, epifit,
tumbuhan pencekik, parasit dan saprofit. Pohon-pohon dan banyak
tumbuhan lain berakar menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah.
Daun-daun yang gugur, ranting, cabang, dan bagian lainnya tersedia
menjadi nutrisi untuk sejumlah inang hewan invertebrata, seperti rayap juga
untuk jamur dan bakteri. Unsur hara dikembalikan ke tanah lewat
pembusukan dari bagian yang gugur dan dengan pencucian daun-daun
oleh air hujan. Ini merupakan ciri hutan hujan tropis persediaan unsur hara
total sebagian besar terdapat dalam tumbuhan; relatif kecil disimpan dalam
tanah.
Keanekaragaman hayati yang sangat tinggi merupakan suatu
koleksi yang unik dan mempunyai potensi genetik yang besar pula. Namun
hutan yang merupakan sumberdaya alam ini telah mengalami banyak
perubahan dan sangat rentan terhadap kerusakan. Sebagai salah satu
sumber devisa negara, hutan telah dieksploitasi secara besar-besaran
untuk diambil kayunya. Ekploitasi ini menyebabkan berkurangnya luasan
hutan dengan sangat cepat. Keadaan semakin diperburuk dengan adanya
konversi lahan hutan secara besar-besaran untuk lahan pertambangan,
pemukiman, perindustrian, pertanian, perkebunan, peternakan serta
kebakaran hutan yang selalu terjadi di sepanjang tahun.
Sumber: irwantoforester.wordpress.com/20...donesia/ ; diakses 12/7/2010
Risiko dan dampak dari eksploitasi ini adalah terjadinya banjir pada
musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Dengan demikian
jelas terlihat bahwa fungsi hutan sebagai pengatur tata air telah terganggu
dan telah mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada
didalamnya.
17
Hutan sebagai ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan
kuantitasnya dengan cara pendekatan konservasi dalam pengelolaan
ekosistem. Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan
mempertimbangkan kehadiran keseluruhan fungsinya. Pengelolaan hutan
yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan
kerusakan hutan.
SELAMATKAN HUTAN DI BANTEN
BANTEN KURING
Banten was not built in a day (Blog 0009)
SELASA, 06 JANUARI 2009
Sumber: bantenkuring.blogspot.com/2009/01/selamatkan-...
Propinsi Banten memiliki hutan tropis yang luas, namun bersamaan dengan
peningkatan jumlah penduduk kualitas dan kuantitas hutan terus mengalami
penurunan. Dari sekitar 250 ribu hektar hutan yang ada di Banten, 90 ribu hektar
atau 36 persen di antaranya dalam kondisi rusak parah. Tekanan terhadap
ekosistem hutan di bagian utara Banten jauh lebih besar dibandingkan bagian
selatan. Bagian utara Banten yang meliputi Kota dan kabupaten Tangerang,
Kabupaten Serang dan Kota Cilegon memiliki tingkat kepadatan penduduk yang
sangat tinggi, sehingga eksploitasi sumberdaya alam termasuk hutan, berlangsung
cepat dan boros.
Tak dapat dipungkiri, keberadaan kawasan industri dan pemukiman yang
terkonsentrasi di bagian utara menyebabkan degradasi kualitas lingkungan sulit
dihindari. Idealnya setiap industri harus berwawasan lingkungan, bahkan perlu
memenuhi standar manajemen lingkungan seperti ISO 14000. Namun kenyataan
di lapangan kepentingan ekonomi selalu mengalahkan kepentingan ekologi, makin
pesat pembangunan berlangsung makin banyak komponen lingkungan yang
dikorbankan, termasuk hutan.
18
Di bagian selatan Banten, yang meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang,
kerusakan hutan tidak separah di bagian utara. Namun eksploitasi terus
berlangsung, sebagai gambaran di kawasan hutan Gunung Halimun dan Gunung
Kendeng, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak yang berbatasan dengan
Kabupaten Bogor, jawa Barat, areal yang tertutup vegetasi hutan tinggal 75-80
persen, dengan kata lain 20-25 persen areal hutan sudah gundul. Sementara di
perbatasan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, seperti di Gunung
Karang (meliputi perbatasan wilayah Kecamatan Ciomas, Keduhejo, Pandeglang
dan Cadasari) 60 persen areal hutan gundul dan di Gunung Aseupan (perbatasan
wilayah Kecamatan Menes, Mandalawangi, Jiput dan Padarincang) 45 persen
gundul. Sedangkan di kawasan hutan Gunung Pulosari, perbatasan antara
Kecamatan Mandalawangi dan Saketi, Kabupaten Pandeglang 65 persen gundul.
Eksploitasi ternyata tidak hanya terjadi di hutan pegunungan, tetapi juga di
kawasan hutan lainnya, seperti hutan yang ada di sekitar daerah aliran sungai
(DAS) Ci Danau, Ci Beureum, Ci Simeut, Ci Ujung, Ci Baliung, Ci Banten, Ci
Bogor, Ci Durian, Ci Manceuri dan Cisadane. Begitu pula di hutan pantai, baik
pantai barat, pantai selatan dan pantai utara, bahkan di Taman Nasional Ujung
Kulon, Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang juga terjadi perusakan dan
penjarahan hutan.
Keruskan hutan juga terjadi di kawasan cagar alam Rawa Dano, Kecamatan
Mancak Kabupaten Serang. Sebagai akibat tekanan penduduk, perambahan dan
pengelolaan lahan ilegal di cagar alam seluas 2.500 hektar tersebut sangat
berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan, antara lain dengan
melorotnya debit air dari 2.000 liter per detik menjadi hanya 200 liter per detik.
Dampaknya berbagai kawasan industri di Kota Cilegon mengalami krisis air.
Secara umum eksplotasi hutan menimbulkan terganggunya berbagai fungsi hutan
yang sangat sulit untuk dipulihkan kembali.
Multi Fungsi Hutan
Hutan memiliki multi fungsi, mulai dari fungsi klimatologis, hidrologis, sosiologis,
biologis, dan ekonomis. Fungsi klimatologis hutan erat kaitannya dengan unsurunsur iklim seperti hujan, suhu, kelembaban, angin dan sinar matahari. Seluruh
hutan yang ada di Banten berperan sebagai 'paru-paru' seluruh ekosistem Propinsi
Banten. Sulit dibayangkan, jika seorang manusia mengalami kerusakan paru-paru,
maka kehidupannya mengalami banyak gangguan. Begitu pula suatu ekosistem
seluas Propinsi Banten, jika hutannya mengalami kerusakan, maka ekosistem
itupun menjadi 'sakit'. Jika pohon di hutan terus ditebangi, maka 'sakit' yang
diderita ekosistem semakin parah.
Gejala-gejala ekosistem yang 'sakit' antara lain, pemasukan dan pengeluaran
(siklus) air tidak terkendali, suhu dan kelembaban meningkat, sinar matahari dan
angin kurang termanfaatkan dan tidak terarah. Sinar matahari yang mengenai
pohon-pohonan atau vegetasi hutan, maka energinya akan dimanfaatkan dalam
proses fotosintesis, sehingga terbentuk karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman,
termasuk untuk proses terbentuknya kayu. Selain itu, dalam proses fotosintesis
itupun, gas karbondioksida (CO2) yang merupakan polutan di udara diserap oleh
daun pohon-pohonan, dan dari proses tersebut dikeluarkan oksigen (O2) yang
sangat dibutuhkan untuk pernafasan manusia. Hal inilah yang dimaksud bahwa
hutan di Banten merupakan paru-parunya ekosistem Banten.
Sulit dibayangkan, bagaimana kondisi paru-paru dan kesehatan masyarakat
perkotaan seperti yang ada di Cilegon, Serang dan Tangerang, yang atmosfirnya
penuh dengan gas CO2, CO, SOx, NOx dan polutan lainnya sebagai buangan dari
19
asap kendaraan bermotor, rumah tangga dan pabrik. Sedangkan di sisi lainnya,
kawasan hijau di kota-kota tersebut sangat terbatas, bahkan pohon-pohonan di
pinggir jalan makin banyak yang ditebangi.
Fungsi hidrologis hutan berhubungan dengan siklus air. Ekosistem hutan memiliki
tajuk yang berlapis, mulai dari pohon-pohon berukuran raksasa sampai perdu dan
rumput yang menutupi tanah, selain itu daun-daun yang berguguran menjadi
serasah dan humus yang juga menutupi tanah. Sistem tajuk berlapis tersebut
dapat mengurangi energi kinetik yang berasal dari tetesan atau jatuhan air hujan,
sehingga tidak merusak tanah dan tidak menimbulkan erosi.
Pada lahan yang tidak bervegetasi seperti hutan yang gundul, maka ketika hujan
datang tetesannya langsung mengenai butiran tanah sehingga dapat menimbulkan
erosi. Aliran permukaan yang membawa butiran tanah tersebut akhirnya masuk ke
badan sungai dan menimbulkan pendangkalan. Jika curah hujan tinggi maka
badan sungai tidak dapat menampungnya, terjadilah luapan air atau banjir, baik di
bagian hulu maupun bagian hilir DAS. Kawasan bervegetasi sebenarnya
merupakan daerah resapan air, sehingga air yang dialirkan ke sungai sesuai
dengan kapasitas sungai dan tidak menimbulkan banjir. Pada musim kemarau di
kawasan ini cadangan air masih tersedia, meskipun debit air yang masuk sungai
menurun. Sebaliknya pada kawasan yang tidak bervegetasi, seperti hutan gundul,
ketika musim kemarau tiba tidak ada lagi cadangan air, sungaipun menjadi kering
kerontang.
Kawasan hutan di sekitar Gunung Karang menjadi hulu beberapa sungai yang
mengalir ke bagian barat, utara, timur dan selatan Banten, seperti Ci Lamer, Ci
Ujung, Ci Asem, Ci Bogor dan Ci Banten. Setiap penebangan pohon di Gunung
Karang berdampak langsung terhadap penyusutan debit air di musim kemarau
untuk DAS tersebut, sebaliknya pada musim hujan berdampak langsung terhadap
kejadian banjir di sekitar DAS tersebut. Posisi kota Serang dan Pandeglang
dengan Gunung Karang identik dengan posisi kota Jakarta dengan kawasan
Puncak. Dengan kata lain, jika penebangan pohon dan kerusakan hutan di sekitar
Gunung Karang tidak terkendali, maka kota Serang dan Pandeglang siap-siap
terkena banjir bandang, sebagaimana Kota Jakarta selalu menerima banjir kiriman
dari Bogor, sebagai akibat penggundulan kawasan Puncak. Kondisi saat ini, areal
bervegetasi di kawasan Gunung Karang hanya tersisa 40 persen.
Fungsi sosiologis hutan berkaitan dengan kehidupan masyarakat sekitar hutan.
Masyarakat sekitar hutan harus meningkat kesejahteraannya, namun jika cara
yang ditempuh melalui eksploitasi hutan secara habis-habisan, seperti penebangan
kayu, penjarahan hasil hutan dan lahan, maka yang terjadi hanyalah pemiskinan
masyarakat sekitar hutan. Dalam hal ini perlu dikembangkan pengelolaan sekitar
kawasan hutan yang berkelanjutan, bagaimana agar sumberdaya hutan tersebut
bisa awet. Konsep agroforestry merupakan langkah yang tepat jika diterapkan
dengan penuh tanggungjawab. Dalam hal ini petani di sekitar hutan diwajibkan
untuk menanam pohon yang disela-selanya dibudidayakan tanaman pangan dan
hortikultura.
Pengembangan konsep hulu-hilir di setiap DAS juga merupakan langkah yang
baik, yaitu supaya masyarakat di sekitar hulu tidak menebang pohon, maka
masyarakat pengguna air dan hasil sumberdaya alam di hilir harus memberikan
kompensasi kepada pemilik lahan yang ada di hulu. Bagaimanapun sangat tidak
efektif jika masyarakat di hulu dilarang menebang pohon, sementara kebutuhan
ekonominya dibiarkan tidak tercukupi.
Fungsi biologis hutan kaitannya dengan hutan sebagai bank plasma nuftah atau
sebagai cadangan genetik. Hutan menyimpan beragam flora dan fauna yang
sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti plasma nuftah untuk tanaman
obat, buah-buahan, sayuran, pangan, hias, industri dan energi. Di hutan tersimpan
20
plasma nuftah tanaman energi seperti jarak, yang dapat digunakan untuk substitusi
BBM melalui aplikasi biodiesel. Berbagai plasma nuftah tanaman industri seperti
industri kayu, kertas, getah (karet), residu (mentol, terpentin), minyak (cengkeh,
kayu putih), farmasi dan kosmetik ada di hutan. Selain itu, hutan pun menyimpan
plasma nuftah hewan ternak dan peliharaan, seperti berbagai jenis burung, reptil,
mamalia dan sebagainya.
Fungsi ekonomis hutan berhubungan dengan pemanfaatan hutan untuk
memperoleh nilai tambah ekonomi, seperti pemanfaatan kayu. Berdasarkan data
dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Propinsi Banten, dalam
setahun jumlah pohon yang ditebang di areal hutan dan non-hutan di Banten
mencapai 5-6 juta pohon. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kayu yang
mencapai 750 ribu
1 juta kubik. Reboisasi dan penghijauan yang dilakukan
hanya mencapai 4 juta pohon per tahun, maka terjadi penyusutan jumlah pohon
antara 1-2 juta pohon per tahun. Hal tersebut sangat tidak kondusif bagi kondisi
lingkungan Propinsi Banten, bahkan bagi Planet Bumi secara keseluruhan. Setiap
penyusutan vegetasi hutan tropis, termasuk yang ada di Banten, akan berpengaruh
terhadap kondisi iklim di seluruh Planet Bumi, antara lain memberikan kotribusi
terhadap pemanasan global.
Revitalisasi
Sumberdaya hutan di Propinsi Banten harus direvitalisasi, begitu juga kebijakan
dan strategi pengelolaan hutan. Upaya yang harus ditempuh Pemerintah Daerah
(Pemda) dan masyarakat, adalah penerapan teknik silvikultur (perbaikan kualitas
tegakan), pengelolaan aspek ekologi (biodiversity), konservasi tanah dan air,
pencegahan bahaya kebakaran hutan, serta penelitian dan pengembangan
(Litbang) kehutanan. Litbang kehutanan di Propinsi Banten, beberapa perguruan
tinggi yang ada di Tangerang, Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak perlu
diikutsertakan. Perguruan tinggi tersebut diharapkan dapat menyelenggarakan
kajian kehutanan yang spesifik untuk kawasan masing-masing. Selain itu, melalui
program pengabdian masyarakat atau kuliah kerja nyata (KKN) berupaya
melakukan pendampingan terhadap masyarakat di sekitar hutan.
Untuk menyelamatkan hutan yang tersisa di Propinsi Banten, bukan hanya menjadi
tanggung jawab Pemda semata, tetapi juga seluruh komponen masyarakat, seperti
lembaga pendidikan (dasar-menengah-tinggi), LSM, Ormas, Orsospol, pengusaha,
media massa, dan sebagainya. Pada tahun 1970-an di Propinsi Jawa Barat pernah
ada Gerakan Gandrung Tatangkalan (Rakgantang), alangkah baiknya jika di
Propinsi Banten dilaksanakan langkah serupa.
Setelah Kota Serang menjadi kota otonom, rencana induk pengembangan (RIP)
harus memperhatikan pengembangan hutan kota. Kota Serang perlu memiliki
ruang terbuka dan hijau (RTH) minimal 20 persen dari luas kota, kalau bisa dibuat
Kebun Raya Serang, sebagaimana Kebun Raya Bogor. Reboisasi dan penghijauan
harus dilakukan di seluruh wilayah Propinsi Banten, jika tidak maka Banten akan
mengalami desertikasi atau penggurunan. Seluruh masyarakat Banten tidak ada
yang mau kalau nanti harus tinggal di sebuah gurun yang bernama 'Gurun Banten'.
Salah satu hal yang sangat penting dan tidak pernah menjadi
perhitungan dalam Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah
hilangnya oksigen yang diproduksi oleh bebagai macam jenis flora di dalam
hutan melalui proses fotosintesis.
21
Photosynthesis
Photosynthesis produces all of the oxygen in the atmosphere. The
fundamental task of photosynthesis is to make it possible for cells to
convert carbon dioxide and water into carbohydrates with energy absorbed
from the sun. In green plants, chlorophyll molecules collect light energy
and funnel it to a reaction center.
Sumber: www.forestinfo.org/discover/energy.htm ; diakses 12/10/2010
Sumber: wiki.openthinklabs.com/science-c...tang-bio; diakses 12/10/2010
Respiration is the reverse of photosynthesis. In respiration, glucose is consumed,
with energy, water and carbon dioxide produced. We breath in the oxygen produced
by healthy growing tree and we breath out (respire) carbon dioxide and water.
22
A chemical can be part of a living thing at one moment and part of the non-living
environment a moment later. Chemicals move in and out of living organisms and are
used again and again. Some of the carbon atoms forming a protein molecule in your
arm may have once been a part of a chicken liver, the hide of a dinosaur, or even a
limestone formation. The kinds and amounts of chemicals in an ecosystem regulate
the activities of the plants and thus the animals in that system. Maybe you have some
atoms from Einstein or a redwood tree.
FOTOSINTESIS
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan,
alga, dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai
(nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua
makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam
fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi
kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian
besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang
menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya)
disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara
asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2
diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi.
Sumber: x-3smanix.blogspot.com/2009_01_0...ive.html ; diakses 12/6/2010
Tumbuhan bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat mensintesis makanan
langsung. dari senyawa anorganik. Tumbuhan menggunakan karbon
23
dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan
sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari
fotosintesis. Perhatikan persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa
berikut ini:
6H2O + 6CO2 + cahaya
C6H12O6 (glukosa) + 6O2
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti
selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini
berlangsung melalui respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun
tumbuhan. Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasi seluler
berkebalikan dengan persamaan di atas. Pada respirasi, gula (glukosa) dan
senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon
dioksida, air, dan energi kimia.
Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil.
Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat
dalam organel yang disebut kloroplas. klorofil menyerap cahaya yang akan
digunakan dalam fotosintesis. Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan
yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian besar energi
dihasilkan di daun. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil
yang mengandung setengah juta kloroplas setiap milimeter perseginya.
Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan yang transparan,
menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis.
Permukaan daun biasanya dilapisi oleh kutikula dari lilin yang bersifat anti air
untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari ataupun penguapan
air yang berlebihan.
Sumber: ellerbruch.nmu.edu/.../teabbott/p4/page1.html ; diakses 12/7/2010
24
Pendugaan Risiko Ekologis (PRE) =
Ecological Risk Assessment (ERA)
Ecological risk assessment is the appraisal of potential adverse
effects of exposure to contaminants on flora and fauna (plants and
animals).
Ecological risk assessment : Process for analyzing and evaluating the
possibility of adverse ecological effects caused by environmental pollutants.
An ERA evaluates the potential adverse effects that human
activities have on the living organisms that make up ecosystems. The risk
assessment process provides a way to develop, organize and present
scientific information so that it is relevant to environmental decisions. When
conducted for a particular place such as a watershed, the ERA process can
be used to identify vulnerable and valued resources, prioritize data
collection activity, and link human activities to their potential effects. ERA
results provide a basis for comparing different management options,
enabling decision-makers and the public to make better informed decisions
about the management of ecological resources.
The framework for ERA is described in the Framework for Ecological Risk
Assessment. The framework consists of three phases (problem
formulation, analysis, and risk characterization) with analysis consisting of
the following two parts: characterization of exposure and characterization
of effects.
25
A basic framework for conducting Ecological Risk Assessment (adapted from
US EPA1998):
Sumber: www.environment.gov.au/ssd/resea...isk.html ; diakses 2/4/2010
Problem formulation involves identifying goals and assessment
endpoints, preparing a conceptual model, and developing an analysis plan.
An assessment endpoint is an explicit expression of the environmental
value (species, ecological resource, or habitat type) that is to be protected.
Assessment endpoints relate to statutory mandates (protection of the
environment), but must be specific enough to guide the development of the
risk assessment study design at a particular site. Useful assessment
endpoints define both the valued ecological resource and a characteristic of
the resource to protect (reproductive success, production per unit area,
areal extent). The conceptual model describes a series of working
hypotheses of how the exposures might affect the ecological components
of an environment.
Sentry Scan
Automated Vulnerability Assessment
Essant provides an easy to deploy and user friendly solution to
continuously assess your risk exposure. Using our automated services is
like having a highly skilled security team constantly probing your network
to discover vulnerabilities. Identified vulnerabilities are rated and reported
together with the recommended remedy. The process of correcting
26
identified vulnerabilities is supported by workflow tools for delegating
remediation tasks to appropriate administrators. The results can also be
compared over time, to monitor trends in risk exposure.
In contrast to manual penetration testing, automated vulnerability
scanning is typically performed very frequently. This is important as new
vulnerabilities are discovered much earlier and your risk exposure is
minimised.
Sumber: www.sentry-scan.co.uk/services.html ; diakses 12/10/2010
The ecosystem or ecosystem components potentially at risk and the
relationships between assessment and measures of effects and exposure
scenarios also are described in the conceptual model. Measures of effects
are changes in attributes of assessment endpoints or their surrogates in
response to the stressors to which they were exposed. Two additional
types of measures are used since data other than those used to evaluated
responses (i.e., measures of effects) is often required for an ERA:
measures of exposures (which include the stressor and source
measurements) and measures of ecosystems and receptor characteristics
(which include water quality conditions, soil parameters, and habitat
measures). The analysis plan specifies the data required to evaluate the
impacts to the assessment endpoints and the methods that will be used to
analyze the data.
ECOSYSTEM CHARACTERISTICS
27
There are two major sets of challenges to the adoption and implementation of
EAF (The ecosystem approach to fisheries). The first set is rather familiar to all
fisheries managers as it is at the origin of the conventional management
failure. It relates to the adjustment of fishing capacity to the resources'
productivity and its implications in terms of use rights and resource allocation.
The problems and the potential solutions are well known and thoroughly dealt
with elsewhere in the literature. We shall not dwell on them here. The second
set is "new", at least to the fisheries arena, or has recently got a new and
higher level of priority in policy, the media and with a growing fraction of
society at large. It relates to ecosystem issues of key relevance to EAF such as:
(1) the characteristics of ecosystems, their complexity, structure, functioning,
natural variability and boundaries, and (2) their modification and degradation
by fisheries and other land- and sea-based economic activities. Both are further
elaborated below.
An ecosystem is a very complex entity with many interactive components. It
can be defined as "a system of complex interactions of populations between
themselves and with their environment" or as "the joint functioning and
interaction of these two compartments (populations and environment) in a
functional unit of variable size".
In this review, and in EAF, we will consider "populations" as including people,
and especially people involved in fisheries, with their technology and
institutions
Simplified diagram of an ecosystem and its components
Sumber: www.fao.org/DOCREP/006/Y4773E/y4...3e04.htm
28
The description of the fishers' interaction within the ecosystem requires
identification of four main ecosystem compartments:
(1) a biotic compartment, including target fish resources, associated and
dependent species and the living habitat (seagrass, algal beds, corals);
(2) an abiotic compartment, characterized by its topography, bottom types,
water quality and local weather/climate;
(3) a fishery compartment, in which harvesting and processing activities take
place, with a strong technological character, and
(4) an institutional compartment, comprising laws, regulations and
organizations needed for fisheries governance.
Humans are part of the biotic component of the ecosystem from which they
draw resources, food, services and livelihood as well as part of the fishery
component which they drive.
These components interact and are affected by: (i) non-fishing activities; (ii) the
global climate; (iii) other ecosystems, usually adjacent, with which they
exchange matter and information; and (iv) the socio-economic environment as
reflected in the market, relevant policies and societal values.
The analysis phase involves creation of profiles to evaluate the
exposure of ecological receptors to stressors and the relationships between
stressor levels and ecological effects. Risk characterization is the process
of estimating risk through integration of exposure and stressor- response
profiles.
The framework for ERA is conceptually similar to the approach used
for human health risk assessments, but is distinctive in its emphasis in
three areas. First, ERA can consider effects beyond the individual or
species level and may examine a variety of assessment endpoints, an
entire population, community, or ecosystem. Second, the ecological values
to be protected are selected from a wide range of possibilities based on
both scientific and policy considerations. Finally, ERAs consider
nonchemical stressors to the environment, such as loss of wildlife habitat.
ERA includes the following three general phases: (1) problem formulation,
(2) analysis, and (3) risk characterization.
The Ecological Risk Assessment process
Ecological Risk Assessment is the term ascribed to the method(s) for
determining risk posed by a stressor (contaminant or perceived threat) to the
survival and health of ecosystems. Under these procedures risk is defined as
the probability that an adverse effect will occur as a result of ecosystem
exposure to a particular concentration of the stressor. Hence risk is
determined by measuring two components:
the consequences (also measured as effects)of an adverse event; and
the likelihood or probability of the event occurring (exposure).
29
Using these criteria, risk is quantified as the probability of an adverse event, or
the likelihood of exposure multiplied by the consequences or effects of that
exposure (Prisk = Pexposure x Peffects).
Hence, the aim of Ecological Risk Assessment is to estimate the probability of
adverse events from identified environmental stressors. Traditionally,
Ecological Risk Assessment has been used to investigate the effects of the
release of particular chemical pollutants (toxicants) into the receiving
environment . However, Ecological Risk Assessment is now applied more
broadly to assess the relative impact potential of multiple threats against
measured and/or predicted impacts on environmental values (appropriate &
measurable monitoring endpoints).
The systematic steps for performing Ecological Risk Assessment are applied to
an identified stressor. Here it is important to emphasise the iterative nature of
risk assessment in that results are updated periodically based on inclusion of
new data and/or monitoring information. Further, risk-reduction strategies are
developed from improved understanding of both the risks posed by specific
stressors and of the processes contributing to them. In this context Ecological
Risk Assessment plays an important role in best-practice natural resource
management based on adaptive management principles.
The Superfund Ecological Risk ssessment Process
EPA recently developed new guidance for conducting ERAs within
the Superfund Program. This guidance combines scientific methods and
stakeholder input into the process for assessing site risks. ERAs conducted
specifically for the Superfund Program refer to a qualitative and/or
quantitative appraisal of the actual or potential impacts of contaminants
from a hazardous waste site on plants and animals other than humans and
domesticated species. A risk does not exist unless an exposure has the
ability to cause one or more adverse effects, and that exposure co-occurs
with or contacts an ecological component long enough and at a sufficient
intensity to elicit the identified adverse effect.
The goal of the ERA process in the Superfund Program is to provide
risk information that will assist risk managers at Superfund sites to make
informed decisions regarding releases of hazardous substances. The
specific objectives of the process are as follows:
(1) to identify and characterize the current and potential threats to
the environment from a hazardous substance release; and
(2) to identify cleanup levels that would protect those natural
resources from risk.
The ERA process for Superfund is composed of the eight steps
summarized below.
30
Step 1: Screening Level - Problem Formulation and Ecological
Effects Evaluation
A problem formulation and ecological effects evaluation is part of
this initial step. Though site-specific data will be limited, the following
information should be available upon the completion of this step:
Description of the environmental setting, including habitat types,
observed species and species likely to be present based on
habitat types documented, and threatened, rare, and
endangered species;
Description of contaminants known or suspected to exist at the
site and the maximum concentrations present in each medium;
Contaminant fate and transport mechanisms that might exist;
Mechanisms of ecotoxicity associated with contaminants and
categories of receptors that may be affected;
Complete exposure pathways that might exist; and
Screening ecotoxicity values equivalent to chronic No
Observable Adverse Effects Levels (NOAELs) based on
conservative assumptions.
METHODOLOGICAL APPROACH
The trust of the study is the evaluation of ecological impacts of the proposed
DHPU as part of the augmentation of the existing refinery of BRPL. The expected
outcome of such an evaluation is the identification of ecological resources within
the area that could be at risk, prediction and evaluation of impacts that may occur
and the mitigation of ecological impacts through the incorporation of the
appropriate measures to avoid, ameliorate and compensate the associated
impacts of the project. Ecological assessment is thus aimed to provide a
scientifically defensible rational for decision-making and better environmental
management. The methodological approach adopted for this study conforms to
standard practices being adopted worldwide for ecological impact assessment. A
broad framework of procedures followed for this study is presented below.
31
Sumber: oldwww.wii.gov.in/eianew/eia/cas...atus.htm
Step 2: Screening Level - Preliminary Exposure Estimate and
Risk Calculations
In the second step, risk is estimated by comparing maximum
documented exposure concentrations with the ecotoxicity screening values
developed in Step 1. Based on the outcome, the risk manager will decide
either that the screening-level ERA is adequate to determine that ecological
threats are negligible, or the process should continue to the more detailed
ERA outlined in steps 3 through 7 below.
32
Risk Calculation
The Curve Model
The curve model is used to describe the risk to wildlife that forage over the contaminated
site. The model is based off of grids or areas of sampling in the site map. If the organisms
are sessile, then the model reduces to the spatially distinct risk quotient calculation.
Freshman and Menzie (1996) present the entire derivation and an adapted step by step
progression is presented below. It is recommended that the calculations be conducted using
a computer spreadsheet and a linked graph.
a)
b)
c)
d)
e)
f)
Plot the first data point as the highest environmental concentration for a site (c1)
by its associated area (a1).
Plot the next data point as the average concentration for the two highest
contaminated areas (c1 + c2)/2 versus the associated area (a1 + a2).
Plot additional data points by progressively including lesser contaminated areas
until the entire site is included.
Add to the graph horizontal lines that represent the ECx values appropriate for
the particular land use and the species involved.
Plot the foraging area of the organism as a vertical line.
Compare the intersection of the area line to the line representing the average
environmental concentration. If this intersection is below the horizontal line
representing the ECx , then the risk is low. If the intersection is above the ECx
line, then the risk is above the cut-off limit for effects.
Curve Exposure Model. Site 1 exceeds the EC20. Site 2, with a slightly
different average concentration curve is now below the EC20 when it
crosses the size of the foraging area.
Sumber: www.env.gov.bc.ca/epd/remediatio...ter8.htm
An additional use of this approach is that it can be used to estimate clean up goals. A
clean up would ensure that the intersection of the concentration curve is below the
ECx value for the proposed land use. As sites or concentrations are proposed for
33
clean-up, the model can be computed to examine the intersection of the foraging area
with the ECx value. Decisions can then be made to clean up sites with a few very
contaminated areas versus sites that are not as contaminated by are of a larger
surface area.
Step 3: Problem Formulation
Step 3, Problem Formulation, refines the screening-level problem
formulation and, with input from stakeholders and other involved parties,
expands on the ecological issues that are of concern at the particular site.
The results of the screening assessment and additional site-specific
information are used to determine the scope and goals of the baseline ERA
and form the basis of the conceptual model, which is completed in Step 4.
A conceptual model describes a series of working hypotheses of how an
exposure might affect the ecological components of an environment.
Step 4: Study Design and Data Quality Objective Process
Step 4 completes the conceptual model, which was initiated in Step
3, by developing the measure of effect. The conceptual model is then used
as the basis to develop the study design and data quality objectives
(DQOs). The end products of Step 4 are the Work Plan (WP) and the
Sampling and Analysis Plan (SAP). The WP documents the decisions and
evaluations made during problem formulation and identifies additional
research tasks needed to fully evaluate the risks to ecological resources.
The SAP provides a detailed description of sampling and data-gathering
procedures, as well as a description of the steps required to achieve the
study objectives.
Step 5: Verification of Field Sampling Design
In this step, the sampling plan, exposure pathways, and measures
of effects, are evaluated to verify that the SAP is appropriate for the site.
Step 6: Site Investigation and Data Analysis
Step 6, Site Investigation and Data Analysis, involves the collection
of information to characterize exposures and ecological effects at the site.
While much of the data for characterizing potential ecological effects will
have been collected during the problem formulation stage, the site
investigation provides evidence of existing ecological impacts and
additional exposure- effects information response information. Both the site
investigation and data analysis should be conducted according to the WP
and SAP developed in Step 4.
34
Step 7: Risk Characterization
The Risk Characterization step integrates the results of the
exposure profile and exposure-effects information (or stressor-response
analysis), and is the final phase of the risk assessment process. Risk
characterization includes two major components, risk estimation and risk
description. Risk estimation involves integrating exposure profiles with the
exposure-effects information and summarizing the associated uncertainties.
Risk descriptions provide information important for interpreting the risk
results and, in the Superfund Program, identifies a threshold for adverse
effects on the assessment endpoints.
Risk Characterization
Describe the interpretation of the data and analysis. If a risk quotient suggests
that there might be risk to a receptor of concern (RQ>1), but that receptor is
observed on-site without obvious signs of toxicant-induced stress (or the
bioassay data suggest that it can survive in 100% site soil or water), give
preference to the observed effects over the RQ estimation in your conclusion of
risk. Include, at a minimum, a discussion of the following questions:
a) Which species are most likely to be at risk?
b) For which portion of a year is risk likely to occur?
c) Is the risk even over the entire area or are there "hot spots" of high risk?
d) How do the pollutants move from the site of release to the plants or
animals of concern (surface water run-off, groundwater movement,
foodchain uptake from soil, etc.)?
e) What is known about the ecology or biology of a species that appears to be
at risk that may mitigate this risk?
f) What is known about the ecology, biology or behavior of the species that
appears to be at risk that may enhance this risk?
g) Are some of the life stages of the organism put at more risk than others?
h) Should some of the species be of more concern because they create
habitat or are a food source for a critical species of concern?
i) Where are data lacking for making an adequate risk estimation?
For each contaminant-receptor combination, provide a qualitative estimate of
risk in the following format:
Contaminant Receptor of
Risk
of
Concern
Quotient
Concern
(Endpoint)
Site
Observations
(none, few,
many, toxic,
healthy)
Bioassay
Results
Risk
Characterization
(low, medium, high)
35
Step 8: Risk Management
The risk assessment should have established whether a risk is
present and defined a range or magnitude of that risk. With this information,
a site risk manager must integrate the risk assessment results with other
considerations to make and justify risk management decisions. Other
considerations in making risk management decisions include existing
background levels of contamination, available cleanup technologies, and
costs of alternative actions and remedy selections.
Uncertainty Estimate
Uncertainty exits in every risk estimation, due to natural variability in
environmental processes, sampling methods, and analytical techniques. The
following items must be included in the risk assessment report:
1.
analytical detection limits
2.
analytical precision
3.
4.
5.
6.
the range of any values used in dietary estimations (e.g.,
body weights, food consumption rates etc.)
representativeness of test species
environmental or ecological effects that may confound the
site-specific observations (e.g., a cold late spring, reducing the
amount of vegetation present; a hot dry summer so all grass has
dried up and appears "dead", etc.)
assumptions for the BAF, BCF determinations
7.
range of quotients, minimum, maximum as well as the
mode for the quotients in a spatially heterogenous site
8.
uncertainties associated with the use of the quotient
method
9.
uncertainties associated with the spatial and temporal
distribution of the assessment endpoints.
Ecological Risk Management Decisions at Superfund Sites
In October 1999 the Agency published Ecological Risk Assessment
and Risk Management Principles for Superfund Sites. This final guidance
36
intends to help Superfund risk managers from all regions make consistent
ecological risk management decisions based on sound science, and to
communicate site risks to the public. It provides risk managers with six
principles to consider when making ecological risk management decisions.
The guidance specifically declares that all ERAs should be performed
according to the eight-step process described in Ecological Risk
Assessment Guidance for Superfund: Process for Designing and
Conducting Ecological Risk Assessments and summarized above.
The Risk Management Principles supplement the ERA guidance
and will help remedial project managers and on-scene coordinators in
planning ERAs of appropriate scope and complexity and in identifying
response alternatives that are protective of the environment. By adhering to
these principles, risk managers will be able to present a clear rationale for
their ecological risk management actions as presented to the public in the
proposed plan and the Record of Decision steps of the Superfund response
process. In addition, the guidance provides a question and answer section
to help guide risk managers and assessors through the eight-step ERA
process.
The guidance asks risk mangers to adhere to the six principles
summarized below when scoping ecological risk assessments and when
making ecological risk management decisions.
Principle 1: Superfund's Goal is to Reduce Ecological Risks to
Levels that will Result in the Recovery and Maintenance of
Healthy Local Populations and Communities of Biota
Superfund risk managers and risk assessors should select
assessment endpoints and measures that (1) are ecologically relevant to
the site and (2) include species that are exposed to and sensitive to siterelated contaminants.
Principle 2: Coordinate with Federal, Tribal, and State Natural
Resource Trustees
EPA recognizes that its response action may not lead to complete
recovery of the ecosystem and that additional restoration activities by
Natural Resource Trustees may be needed to bring natural resources back
to their baseline condition within an acceptable timeframe. It is important
that EPA and Trustees coordinate both EPA investigations of risk and
Trustee investigations of resource injuries in order to make efficient use of
Federal and State resources.
Principle 3: Use Site-specific Ecological Risk Data to Support
Cleanup Decisions
Site-specific data should be collected and used, wherever practical,
to determine whether or not site releases present unacceptable risks and to
37
develop quantitative cleanup levels that are protective. Site-specific data
includes plant and animal tissue residue data, bioavailability factors, and
population- or community-level effect studies.
Principle 4: Characterize Site Risks
When evaluating ecological risks and the potential for response
alternatives to achieve acceptable levels of protection, Superfund risk
managers should characterize risk in terms of (1) magnitude, (2) severity,
(3) distribution, and (4) the potential for recovery of the affected receptors.
Principle 5: Communicate Risks to the Public
Clearly communicate to the public the scientific basis and ecological
relevance of the assessment endpoints used in the site risk assessment.
Risk Communication
The information generated during this risk assessment should be compiled
into a report. Include all the worksheets from this guide and all maps,
photos, and other attachments that were requested. The final section of the
report should summarize the risk assessment by clearly stating the current
and proposed use of the site, the ecological setting, the plant and animal
species of concern, and the probable risk from all current or potential
contaminants. Discussion of potential management or remediation
alternatives is optional.
Principle 6: Remediate Unacceptable Ecological Risks
Superfund's goal is to eliminate unacceptable risks due to any
release or threatened release. Contaminated media that may affect the
ability of local populations of plants or animals to recover and maintain
themselves in a healthy state at or near the site should be remediated to an
acceptable level.
Contaminated Sites Remediation Framework (CSRF) Environment Canada
The Contaminated Sites Remediation Framework (CSRF) ties in with the overall
effort of Environment Canada (EC) to reduce risk to human health and the
environment.
It incorporates components of other technical resources and should be used together
with such documents. Risk Based Corrective Action (RBCA) is suggested as an
alternative method for dealing with contaminated sites. Based on a "Listing" approach
proposed by the CSRF, nearly 900 EC potentially contaminated sites have been
identified across Canada.
38
An action plan for implementing the framework, calls for a more accurate inventory of
EC's sites, a funding protocol and a thorough comprehension of the roles and
responsibilities of the people involved in the process. This TAB outlines the main
components of the CSRF.
CONTAMINATED SITES REMEDIATION FRAMEWORK: CSRF
Components of the CSRF include:
Site Assessment.
Identification of risks to the environment and human health.
Evaluation of different remediation/risks management options.
Selection of a remediation technology or risk management option.
Completion of an environmental assessment of the proposed clean-up technology.
Implementation of a remediation or site management strategy.
Post remediation monitoring.
The basic components of CSRF are similar to the following six phases of the National
Guideline for Decommissioning Industrial Sites (CCME/WM-TRE013E, March 1991) which
is applicable to contaminated sites in general.
Phase I
Site Information Assessment.
Phase II Reconnaissance Testing Program.
Phase III Detailed Testing Program.
Phase IV Development of Remediation Plan.
Phase V Implementation of the Site Remediation Plan.
Phase VI Confirmatory Sampling and Completion of Report.
1. Phase I. Site Information Assessment
The purpose of Phase I is to gather available information about a site, and then
conduct a historical review of activities in order to evaluate the site for
contamination. The following sources of historical information (not exhaustive) can
be consulted:
a.
b.
c.
d.
Published reports (e.g. geological reports, ground water reports, soil surveys).
Topographical, soil and flood plain maps.
Discussions with informed people.
Aerial photos and historical maps to locate landfills, waste sites, dumps, fuel
storage tanks, etc.
e. Past/present operations on the site, and/or on the adjacent property, etc.
f. Archived Information.
Note: To ensure regulatory agreement and determine the need for public participation, the
appropriate regulatory agency should be consulted at this stage, on proposed future actions.
2.
Phase II - Reconnaissance Testing Program
In this phase, a Field Survey (FS) and, if necessary, a Site Investigation (SI) are used to
characterize the contamination and site conditions to enable a remedial plan to be
considered.
2.1 Field Survey (FS)
The objective of a FS is to determine the presence, type and concentration
of contaminants in samples of surface and subsurface soil. Samples of
surface water and ground water must be collected at sites adjacent to water
bodies, or where ground water contamination is suspected. Refer to CCME-
39
48E, 1993 and CCME, EPC-NCS62E, 1993, for information on sampling
protocols and techniques.
Contaminant concentrations of the samples are then compared to CCME
and/or provincial criteria/guidelines. To determine potential risks to the
environment and human health, a Screening Assessment (SA) must also be
conducted to determine potential migration pathways for the contaminant(s),
and potential receptors such as: streams, lakes, schools, drinking water
wells, endangered species, etc. must be identified.
2.2. Site Investigation (SI)
A SI must be conducted, after a FS, if additional site data are required in
order to decide on a cost effective remediation or risk management plan.
The site is further characterized during a SI, by using boreholes, test pits,
electromagnetic survey (EMS), ground penetrating radar (GPR) and/or other
investigative technologies in order to define the contaminant, delineate the
extent of contamination, describe the sites' subsurface geology and
hydrogeology, characterize the soil, etc.
3.
Phase III - Detailed Testing Program
Detailed testing is done if the results of phase II are not conclusive enough to enable
the formulation of a remediation/risk management plan. The investigative procedures
and protocol of phase II are used to collect a greater number of samples and a smaller
suite of chemicals are analyzed. Additional investigative technologies, such as
computer modeling may be used to further characterize the site.
4.
Phase IV - Development of Remediation Plans
The two basic approaches recommended by the CCME, towards the development of
remediation goals are, criteria-based and site-specific risk assessment. The former
approach directly adopts the CCME Interim Canadian Environmental Quality Criteria for
Contaminated Sites. The latter characterizes potential risks, hazards and exposures of
receptors to contaminants at a particular site.
Data collected during the site characterization stage are used to select either a site
remediation technology or a risk management plan. Where a risk management plan is
opted for, the plan can vary from the building of a containment system to installing
monitoring wells. For sites that need remediation, a performance-oriented approach
should be preferred over specifying a particular remediation technology. This action
enables Environment Canada, subject to the approval of specialists in the department,
to explore new technologies which could be more efficient, less expensive and yet meet
CCME criteria or site-specific criteria. However, if there is an immediate threat to an
environmentally sensitive area or the spread of contamination is to be avoided, the
selection of a specific remediation technology is recommended. Health and safety
issues should be reviewed by an appropriate regulatory agency before the
implementation of remediation efforts.
5.
Phase V . Implementation of Site Remediation Plans
When funds are allocated for site restoration, the site's manager and representatives of
the contracting agency should supervise the project and ensure that the chosen
technology is properly applied by consultants and/or contractors. A health and safety
plan should be in place prior to the commencement of any work.
6.
Phase VI. Confirmatory Sampling and Completion Reporting
40
After the site is restored, there is need for long term monitoring to determine the
effectiveness of the remediation/risk management plan. A completion report is prepared
for submission to the appropriate regulatory agency.
RISK-BASED CORRECTIVE ACTION (RBCA)
RBCA is an alternative method for determining the extent and urgency of problems at
contaminated sites and for identifying necessary and appropriate corrective action. RBCA is
efficient and less expensive for the following reasons:
a. It minimizes and/or eliminates the expense of adopting site specific plans and
applying similar inspection and reporting standards to all sites. This is achieved on
the one hand by limiting site specific plans to high-risk sites and on the other hand
by establishing generic goals, criteria and initial response that are applicable to low
risk sites. Most sites are considered as low-risk, thus the need for constant
supervision by regulators and the frequency and content of reporting by owners
and operators are reduced or eliminated.
b. The five stages of RBCA are not arbitrarily applied to every site. Two initial stages
are used at the onset and the others are applied only when necessary.
It has been demonstrated that RBCA is a scientifically sound and effective way of restoring a
large number of sites which require immediate action.
Sumber: www.on.ec.gc.ca/pollution/ecnpd/...4-e.html.
Contaminated Sites Remediation Framework
Phased Approach to Contaminated Site Management
41
PHASED APPROACH
A thorough site assessment and investigation will enable site managers to
make informed decisions about remediation. To save time and minimize cost, a
phased approach can be used to narrow down the scope of the investigation
by utilizing screening techniques.
EC (Environment Canada) must remediate sites across Canada to levels
consistent with the CCME (Canadian Council of Ministers of the Environment )
criteria. If provincial standards are more stringent, then provincial criteria must
be used.
In the absence of CCME criteria for specific contaminants, clean-up criteria
acceptable to federal and provincial regulatory agencies must be developed
after a risk assessment is conducted.
Risk Assessment Fundamentals
Risk assessment (RA) is a technique by which the actual or potential
adverse effects of contaminants on plants, animals, or ecosystem
integrity can be assessed in a systematic fashion.
Sumber: contamsites.landcareresearch.co.nz/risk_asses...
42
Bencana Ekologi Sebagai Dampak Perubahan Iklim Global dan Upaya
Peredaman Risiko
Pemanasan global menjadi isu utama di dunia, merupakan
tantangan yang harus dihadapi oleh di dunia di abad 21, hal ini berdampak
pada terjadinya kenaikan suhu di bumi, yang mengakibatkan hilangnya
keseimbangan dalam siklus bumi, kenaikan suhu permukaan dan
perubahan musim yang tidak dapat diprediksi. Perubahan iklim berdampak
pada terjadinya bencana alam dimana-mana mulai dari badai topan, badai
siklon tropis, banjir, endemic, kekeringan, El Nino, kelaparan, tsunami dan
berbagai bencana lainnya yang mengakibatkan hilangnya fungsi ekosistem
yang berdampak pada terjadinya bencana ekologis. Bencana terjadi akibat
adanya faktor-faktor ancaman (hazard) berupa fenomena alam akibat
pemanasan global dan adanya kerentanan (vulnerability) di dalam suatu
masyarakat dalam menerima risiko bencana, untuk itulah perlu dilakukan
upaya-upaya peredaman risiko bencana (disaster risk reduction) yang
merupakan suatu kegiatan manajemen bencana untuk mengurangi risiko
bencana dari dampak perubahan iklim global mulai dari sebelum bencana
terjadi (mitigasi dan kesiaapsiagaan), saat terjadi bencana (emergency
response) dan setelah terjadi bencana (recovery and rencana strategis).
GLOBAL WARMING HAZARD
The current pace of carbon dioxide increase is higher than it has been in the
past decade. This increase exists because of the irreversible momentum of
warmer temperatures feeding a compromised existing ecological situation.
Today green house gas content of the atmosphere is increasing at 2 ppm in
heavy pollution years and 1.7 ppm in good years. The ubiquity of the air and
oceans as they influence life and economies around the world, and the
relentless rationale of everyone maximizing their own best interests at the cost
of degrading the commonwealth exacerbates these recent increases in carbon
dioxide. Through destabilizing the natural greenhouse effect on Earth, pollution
from fossil fuels has changed the weather, melted glaciers, flooded arctic
coastal areas, and thawed permafrost across Siberia, Alaska and Canada,
thereby altering the chemistry and biology of the Arctic Ocean.
The present momentum is due to an unprecedented immediacy and prolonged
rise in CO2 over the past 200 years. The fossil record does not reveal a
precipitous rise in the rate of CO2 accumulation since middle of the Wisconsin
Ice Age, 20,000 years ago. No human civilization has ever encountered either
the levels or the brisk rate of accumulation of greenhouse gasses in the seas
and the air. The principal causes of this rapid increase in pollution are from
combustion of fossil fuels for electricity and transportation in industrial
countries and deforestation worldwide. The loss of vegetation to absorb the
increased emissions of greenhouse gases exacerbates the thermal capacity of
43
the air and the oceans to retain additional radiation and release it over time as
heat (The Challenges for Tomorrow, J. V. Siry, Nov 14, 2005 ).
Two intersecting loops of the carbon cycle.
44
Pemanasan global telah terjadi semenjak abad 20, mulai dari awal
revolosi industri di negara-negara eropa, pemanasan global memberikan
dampak terhadap perubahan iklim global sebagai akibat dari efek rumah
kaca dan pemenuhan emisi gas CO2 di udara yang dapat mengakibatkan
perubahan kondisi suhu golobal dan mempengaruhi kondisi siklus
metereologi dan geologi, yang mengakibatakan bencana alam dimana
kondisi terjadinya bencana memiliki hubungan dengan pemanasan global
dan kenaikan muka air laut oleh karena adanya penambahan masa air laut
akibat pencairan es di kutub yang ditimbulkan setiap tahunnya, terjadinya
El Nino, banjir akibat faktor cuaca yang tidak menentu dan sering juga
berbarengan dengan bencana longsor, badai tropis, dan badai siklon.
Risiko bencana yang dapat ditimbulkan berupa hilangnya keberfungsiaan
masyarakat, korban, kerugian material, kerusakan fisik dan kerusakan
lingkungan. Dalam dua dekade ini telah terjadi pertumbuhan penduduk di
dunia yang sangat pesat, kebutuhan akan pemenuhan hidupnya
mengakibatkan bertambahnya pasokan emisi gas dan efek rumah kaca di
bumi yang tidak seimbang dengan daya tampung wilayahnya, kondisi ini
akan terjadi dari tahun ke tahun yang menjadi permasalahan serius bagi
dunia sebagai dampak perubahan iklim. Bencana ekologis akan terjadi
apabila keseimbangan antara makluk hidup dan tempat tinggalnya tidak
terpenuhi, sehingga menjadi suatu ancaman (hazard) yang dapat
mengakibatkan risiko bencana apabila ada kerentanan (vulnerability) di
dalam suatu lingkungan masyarakat dalam menerima ancaman. Selain itu
juga pemanasan global terjadi akibat dari kegiatan ekploitasi secara besarbesaran terhadap sumberdaya alam yang menjadi bagian dari siklus
keseimbangan alam.
Dampak pemanasan global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi,
dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan
model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai
dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai,
pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian
Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di
Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil.
Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah
yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya
lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan
semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih
panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan
cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang
menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban
tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih
45
jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca,
sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan
tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih
banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar,
di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air).
Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata,
sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di
seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir
ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap
dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari
sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang
berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari
penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang
terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca
menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Sumber: firmansyah11.wordpress.com/2008/...agian-3/ ; diakses 3/8/2010
Dalam konferensi internasional tentang pemanasan global di
Jepang tahun 2005 telah menghasilkan Kyoto Protokol yang menjadi
landasan dan kerangka kerja bagi seluruh negara-negara di dunia untuk
menekan laju pemanasan global dan perubahan iklim. Akhir-akhir ini
bencana sering terjadi dimana-mana mulai dari tsunami, gempa, badai,
46
banjir, longsor, erupsi gunungapi, kekeringan dan lainnya, hal ini harus
menjadi suatu pemikiran bersama dalam mengatasinya dan menyelesaikan
permasalahan ini. Bencana yang selalu terjadi silih berganti tanpa
mengenal waktu dan wilayah, kondisi alam yang tidak seimbang dan
perubahan siklus iklim yang tedak sesuai mengakibatkan bencana tidak
dapat diprediksi secara pasti, hilangnya keseimbangan lingkungan akibat
kerusakan alam yang tidak stabil menjadi sesuatu yang harus diatasi oleh
semua pihak yang ada. Bencana menjadi semakin meluas di mana-mana
sehingga pentingnya tindakan yang dilakukan secara konprehensif untuk
mengurangi risiko bencana dan risiko perubahan iklim. Manajemen
bencana dan rencana aksi pengurangan risiko bencana antara lain
(1) mitigasi;
(2) manajemen kesiapsiagaan dan manajemen krisis;
(3) kedaruratan (emergency response); dan
(4) pemulihan dan rencana aksi.
Perubahan Iklim dan Bencana Ekologis
Perubahan iklim global diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi
gas CO2 di atmosfer bumi sebagai efek rumah kaca (greenhouse),
kegiatan industri, pemanfaatan sumberdaya minyak bumi dan batubara,
serta kebakaran hutan sebagai penyumbang emisi gas CO2 terbesar di
dunia yang mengakibatkan perubahan pada lingkungan dan tataguna lahan
(landuse), karena adanya ketidakseimbangan antara energi yang diterima
dengan energi yang dilepaskan ke udara dan terjadi perubahan tatanan
pada atmosfir sehingga dapat mempengaruhi siklus menjadi tidak
seimbang di alam, akibatnya terjadi perubahan temperature yang sangat
signifikan di atmosfer. Pemanasan global berdampak pada perubahan iklim
di dunia menjadi tidak stabil, apabila pemananasan global terus bertambah
setiap tahunnya dapat menimbulkan dampak yang sangat besar
terhadap percepatan ancaman yang seperti badai siklon tropis, air pasang
dan banjir, kenaikan temperature ekstrim, tsunami, kekeringan dan El Nino
yang dapat menimbulkan risiko bencana pada sistem ekologis.
Bencana ekologis merupakan fenomena alam yang terjadi akibat
adanya perubahan tatanan ekologi yang mengalami ganguan atas
beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia, makluk hidup
dan kondisi alam. Alam sebagai tempat tinggal dan segala sesuatu yang
memberikan keseimbangan lingkungan, bencana ekologi sering terjadi
akibat akumulasi krisis ekologi yang disebabkan oleh ketidakadilan dan
gagalnya pengurusan alam yang mengakibatkan kolapsnya tata kehidupan
manusia, kondisi ini juga dipercepat dengan dampak yang dilakukan oleh
kegiatan manusia dalam mengelola lingkungan sehingga mempengaruhi
pemanasan global di bumi yang berujung pada terjadinya bencanabencana dimana-mana, pengaruhuh utama dari pemanasan global
47
terhadap terjadinya bencana adalah perubahan suhu udara yang semakin
meningkat sehingga mengakibatkan perubahan musim yang tidak
seimbang dan memicu percepatan siklus geologi dan metereologi.
Meningkatnya suhu udara dari waktu ke waktu rata-rata pertahun
mencapai 1,4
5,8 derajat celcius hingga tahun 2100 yang dapat
mempengaruhi kenaikan muka air laut mencapai 88 meter, pemanasan
suhu global di udara memberi dampak terhadap keseimbangan energi
dalam suatu wilayah hingga mengaklibatkan kekeringan berkapanjangan,
menurunnya produktifitas pertanian, rusaknya suatu ekosistem dan tatanan
kehidupan manusia dalam jangka panjang. Badai siklon tropis merupakan
fenomena badai yang terjadi akibat system tekanan udara rendah pada
daerah tropis yang menjadi sebuah ancaman (hazard) yang dapat
menimbulkan bencana, badai siklon tropis dapat menghancurkan wilayah
yang dilewatinya memiliki diameter antara 20 150 kilometer, dan dapat
mengakibatkan banjir akibat naiknya masa air dilaut dan di daratan yang
terbawa oleh angin dengan kekuatan yang tinggi. Beberapa tahun terakhir
banjir merupakan fenomena yang biasa terjadi di berbagai negara ada
yang diakibatkan oleh rusaknya fungsi hutan sebagai pengatur siklus air,
tata kelola lahan yang tidak baik, kondisi morfologi dan adanya air pasang
laut, yang tidak mengenal batas wilayah dan waktu, hal ini dipengaruhi juga
dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dimana musim hujan tidak lagi
pada siklusnya, siklus hidrologi menjadi tidak seimbang antara evaporasi,
prefipitasi, infiltrasi dan daya dukung lahan terhadap air permukaan, kondisi
musim yang tidak stabil diakibatkan oleh adanya perubahan iklim global di
bumi sehingga sulit untuk di prediksi secara pasti. Jumlah populasi yang
sangat tinggi menjadi faktor-faktor penentu terjadinya bencana, perlu di
ingat bahwa sustu ancaman (hazard) akan menjadi bencana apabila
menimbulkan dampak yang sangat besar dan luas, yang mempengaruhi
kehidupan dan penghidupan masyarakat serta aset-aset kehidupan yang
ada meliputi manusia, fisik (infrastruktur), ekonomi, sosial budaya dan
sumberdaya alam.
Dampak yang terbesar akibat dari perubahan iklim di dunia adanya
bencana El Nino, merupakan bencana kekeringan yang terjadi yang terjadi
akibat meningkatnya suhu dari rata-rata suhu normalnya sehingga terjadi
perubahan musim yang sangat signifikan, hal ini berdampak pada kondisi
lahan dan mempengaruhi produktifitas pertanian untuk menghasilkan dapat
berdampak pada rusaknya satu ekosistem, tatanank kehidupan manusia,
dan kerusakan ekologi. Selain itu dapat mempengaruhi ketersediaan
sumberdaya air baik yang ada di permukaan maupun yang ada di bawah
permukaan, menjadi fenomena sosial ketika banyak terjadi kekeringan,
berkurangnya daya tahan pangan dan hilangnya keberfungsiaan lahan.
Bencana ekologi terjadi akibat adanya akumulasi dari seluruh rangkaian
proses yang di akibatkan oleh pemanasan global di dunia.
48
Upaya Peredaman Risiko Bencana
Bencana (disaster) merupakan fenomena yang terjadi akibat
kolektifitas atas komponen ancaman (hazard) yaitu berbagai isu-isu
pemanasan global yang mempengaruhi kondisi alam dan lingkungan, serta
bagaimana tingkat kerentanan (vulnerability) suatu komunitas memiliki nilai
yang sangat tinggi sehingga ada hubungan antara tiga faktor diatas untuk
menjadi suatu bencana (Paripurno, 2000). Dalam konfrensi dunia tentang
pengurangan risiko bencana di jepang (World Confrence on Disaster
Reduction, Kobe, Japan 2005), dengan mengacu pada United Framework
Convention on Climate Changes (UNFCCC) bencana dan perubahan iklim
menjadi isu utama karena memliki hubungan atas terjadinya berbagai
bencana di dunia dan menghasilkan rencana aksi Hyogo (Hyogo
Framework for Action 2005 - 20015), dari hasil konfrensi ini, pengurangan
risiko bencana diimplementasikan sampai ke tingkat komunitas dimana
setiap negara didorong untuk memiliki rencana aksi sebagai upaya
peredaman risiko bencana. Selain itu upaya-upaya peredaman risiko
bencana telah dilakukan dengan adanya Kyoto Protokol tahun 2005,
sebagai kerangka kerja untuk setiap Negara-negara di dunian melakukan
rencana aksi pengurangan perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan
untuk mengurangi dunia dari pemanasan global yang dapat mengakibatkan
bencana ekologis.
Bencana ekologis menjadi ancaman bagi setiap negara sehingga
perlu adanya tindakan preventif dalam mereduksi risiko bencana yang akan
ditimbulkan, perubahan iklim dalam waktu yang sangat lama tidak terbatas
pada aspek-aspek iklim dan lingkungan, pengurangan emisi gas CO2 di
udara menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan pengurangan dampak
pemanasan global di dunia. Pencegahan dan pengelolaan lingkungan
harus dimulai secara dini untuk menilai risiko dan kondisi alam yang tidak
stabil terhadap ancaman bencana ekologis.
Pengurangan risiko bencana meliputi tahapan sebelum bencana,
saat bencana dan setelah bencana, pada tahapan sebelum bencana
manajemen risiko dapat dilakukan dengan melakukan upaya-upaya
pencegahan atau mitigasi, merupakan upaya terpadu yang dilakukan untuk
meminimalkan risiko bencana, mitigasi dapat dilakukan denganpenilaian
risiko bencana berdasarkan atas analisa ancaman (hazard) yang
diakibatkan perubahan iklim global, mengenal ancaman untuk mengetahui
faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya bencana, khususnya bencana
ekologis, dari faktor-faktor di atas kemudian dilakukan penilaian terhadap
kerentanan (vulnerability) dalam suatu komunitas untuk menerima dampak
ancaman sehingga dapat mengetahui tingkat risiko bencana. Mitigasi dapat
dilakukan dengan melakukan du pendekatan antara lain pendekatan
structural yang mengacu pada infrastruktur yang mendukung pengurangan
pengaruh pemanasan global dan risiko bencana, serta pendekatan non
49
structural dengan pendekatan masyarakat sebagai perancang dan
perencana suatu tindakan mitigasi bencana. Ancaman adalah sesuatu
yang dapat mengkibatkan terjadinya bencana baik secara alamiah (natural
disaster) maupun akibat ulah manusia itu sendiri (man-made disaster).
Atas penilaian risiko bencana dapat dijadikan tolak ukur suatu rencana
strategis dalam membangun suatu kesiapsiagaan dalam satu komunitas
untuk menghadapi risiko bencana, sistem peringatan dini harus dimiliki
sebagai tanda yang dapat memberikan informasi adanya ancaman risiko
bencana. Risiko bencana merupakan hubungan antara komponenkomponen ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability) dan kemampuan
(capacity) dalam mengelola ancaman. Jika dilihat hubungannya risiko
bencana dapat dirumuskan
RI = Hazard x Vulnerability/Capacity
Dimana : RI = Risiko Bencana
H = Hazard
V = Vulnerability
C = Capacity
Semakin tinggi nilai ancaman dan nilai kerentanan maka risiko
bencana semakin tinggi, untuk mengurangi risiko bencana perlu melakukan
peningkatan nilai kerentanan (vulnerability) menjadi kapasitas (capacity)
dengan melakukan penguatan kapasitas di dalam masyarakat dalam
mengelola lingkungan, mengenal ancaman, mengetahui dampak yang
dapat ditimbulkan oleh faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya
bencana dalam lingkungan (disaster ecology).
Upaya kesiapsiagaan dapat dilakukan dengan melakukan suatu
rencana aksi yang diimplementasikan dalam suatu kegiatan yang bertujuan
untuk pengurangan risiko bencana. Rencana aksi harus meliputi upayaupaya yang dilakukan untuk pengurangan laju perubahan iklim di setiap
negara, meliputi 3 isu yang harus di perhatikan : (1) pengurangan risiko
bencana; (2) perubahan iklim global dan (3) pembangunan berkelanjutan,
yang menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan dalam mengelola
ancaman bencana alam (natural disaster). Saat terjadinya bencana di
suatu wilayah perlu dilakukan penanganan cepat (emergency response)
untuk memberi jaminan keselamatan, kesehatan dan hak-hak dasar
kepada seluruh komponen yang terlanda tanpa terkecuali, dalam masa
krisis pemulihan cepat terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat
harus dilakukan secara terencana dan terpadu sehingga dapat ditangani
dengan cepat. Proses pemulihan (recovery) menjadi bagian dari upaya
peredaman risiko bencana dimana dalam perencanaan suatu program
pemulihan harus memiliki unsur-unsur terhadap pengurangan risiko
50
bencana, berguna bagi keberlanjutan dan pembangunan berkelanjutan
aman dari risiko bencana.
Perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global di dunia
memberikan dampak terhadap terjadinya bencana-bencana alam yang
merupakan bencana ekologis, dimana terjadi hilangnya keseimbangan
ekologi seperti badai siklon tropis, air pasang dan banjir, kenaikan
temperature ekstrim, endemic, tsunami, kekeringan dan El Nino. Hal ini
berdampak pada kondisi lingkungan disekitarnya. Bencana merupakan
akumulasi dari faktor-faktor alam yang telah mengalami ganguan
keseimbangan dimana ada suatu kerentanan (vulnerability) pada suatu
wilayah yang terkena dampak sehingga menurunnya daya tangkal
masyarakat dalam menerima risiko bencana, seringkali bencana yang
terjadi silih berganti dalam satu waktu yang sama (bencana kembar).
Upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan melakukan
tahapan manajemen bencana yang meliputi pencegahan dan mitigasi;
kesiapsiagaan; manajemen emergensi, pemulihan dan rencana aksi yang
dapat berimplikasi terhadap pengurangan risiko bencana.
Upaya peredaman risiko bencana merupakan upaya terpadu dan
terencana yang dilakukan dalam manajemen bencana sehingga dapat
diimplementasikan ke dalam pengeloalaan lingkungan yang berbasis
pengurangan risiko bencana, dengan mengurangi efek pemanasan global
yang saling berhubungan antara pengurangan risiko bencana,
pengurangan global warming dan pembangunan berkelanjutan (sustainable
development).
Sumber: https:/.../bsi/981-BSI.html ; diakses 12/9/2010
51
DAFTAR PUSTAKA
Andersen MC, Thompson B & Boykin K. 2004. Spatial risk assessment
across large landscapes with varied land use: lessons from a
conservation assessment of military lands. Risk Analysis 24, 1231
1242.
AS/NZS. 2004a. Risk management. AS/NZS 4360:2004, Standards
Australia International, Sydney.
AS/NZS. 2004b. Risk management guidelines companion to AS/NZS
4360:2004. HB 436:2004, Standards Australia International,
Sydney.
Aspinall R. dan Pearson D. 2000. Integrated geographical assessment of
environmental condition in water catchments: Linking landscape
ecology, environmental modelling and GIS, Journal of
Environmental Management 59, 299 319.
Bayliss B, Brennan K, Eliot I, Finlayson C.M, Hall R, House T, Pidgeon R,
Walden D. & Waterman P. 1997. Vulnerability assessment of
predicted climate change and sea level rise in the Alligator Rivers
Region, Northern Territory Australia. Supervising Scientist
Report 123, Supervising Scientist, Canberra.
Bayliss P, van Dam R, Boyden J. & Walden D. 2006. Ecological risk
assessment of Magela floodplain to differentiate mining and nonmining impacts. In eriss research summary 2004 2005. eds Evans
KG, Rovis-Hermann J, Webb A & Jones DR, Supervising Scientist
Report 189, Supervising Scientist, Darwin NT.
Bayliss P. & Walden D. 2003. An ecological risk assessment of the major
weeds on the Magela Creek floodplain, Kakadu National Park.
Internal report 439, June, Supervising Scientist, Darwin.
Unpublished paper.
Bayliss P., Camilleri C., Hogan A., Walden D., Boyden J. & Begg G. 2003.
Uncertainty analysis of data, linking conceptual models to on-site
management and communications. Discussion series on ARRTC
Key Knowledge Needs: Powerpoint presentation and accompanying
notes. Presentation for eriss Planning Workshop. Internal report
435, June, Supervising Scientist, Darwin. Unpublished paper.
Begg G.W, van Dam R.A, Lowry J.B, Finlayson C.M & Walden D.J. 2001.
Inventory and risk assessment of water dependent ecosystems in
the Daly basin, Northern Territory, Australia. Supervising Scientist
Report 162, Supervising Scientist, Darwin NT.
Billington K. 2005. The River Murray and Lower Lakes Catchment Risk
Assessment Project for Water Quality-Concepts and Methods.
Environmental Protection Authority, South Australia.
52
Burgman M.A. 2001. Flaws in subjective assessments of ecological risks
and means of correcting them. Australian Journal of Environmental
Management 8 (4), 219 226.
Burgman M.A. 2005. Risks and decisions for conservation and
environmental management. Cambridge University Press,
Cambridge, UK
Cain J. 2001. Planning improvements in natural resources management.
Guidelines for using Bayesian networks to support the planning and
management of development programmes in the water sector and
beyond. Natural Environment Research Council, Centre for Ecology
and Hydrology (CEH) Wallingford, UK.
CCME (1996) A Framework for Ecological Risk Assessment : General
Guidance. Winnipeg, Manitoba
Davison D. and Deere D. 2004. Risk assessment in water supply. National
Water Surveillance Conference, Dhaka, 4 6 July.
Deere D. & Davidson P. 2005. The Ps and Qs of risk assessment. Water
March 2005.
Diamond J.M. & Serveiss V.B. 2001. Identifying Sources of Stress to Native
Aquatic Fauna Using a Watershed Ecological Risk Assessment
Framework. Environmental Science & Technology 35, 4711-4718.
Eliot I, Finlayson C.M. & Waterman P. 1999. Predicted climate change, sea
level rise and wetland management in the Australian wet-dry
tropics. Wetlands Ecology and Management 7, 63-81.
Environment Canada (1993) A Framework for Ecological Risk Assessment
at Contaminated Sites in Canada. Environment Canada, Hull,
Quebec.
Environment Canada (1994. A Framework for Ecological Risk Assessment
at Contaminated Sites in Canada: Review and Recommendations.
1994. Scientific Series No. 199. Ottawa.
Ferdinands K. 2006. Assessing the relative risk of para grass invasion in
the Magela Creek wetlands. Unpublished consultancy report to the
Supervising Scientist Division, Darwin, NT.
Finlayson C.M. & Bayliss P. 2003. Conceptual model of ecosystem
processes and pathways for pollutant/propagule transport in the
environment of the Alligator Rivers Region 2003
Finlayson C.M. & Bayliss. P. 2003. Conceptual model of ecosystem
processes and pathways for pollutant/propagule transport in the
environment of the Alligator Rivers Region. Discussion Paper
prepared for the 11th meeting of ARRTC, 17 19 February 2003.
Finlayson C.M. & Spiers A.G. (eds) 1999. Techniques for enhanced
wetland inventory and monitoring. Supervising Scientist Report 147,
Supervising Scientist, Canberra.
53
Freites, C. 2005. Perceived Changein Risk of Natural Disasters caused by
Global Warming. International Science Journal Climate Reserch,
Volume 1, 2005, pp 34-38.
Glicken J. 2000. Getting stakeholder participation right : a discussion of
participatory processes and pitfalls. Environmental Science and
Policy 3, 305-310.
Gordon S.I. & Majumder S. 2000. Empirical stressor-response relationships
for prospective risk analysis. Environmental Toxicology and
Chemistry 19, 1106-112.
Hart B, Burgman M, Webb A, Allison G, Chapman M, Duivenvoorden L,
Feehan P, Grace M, Lund M, Pollino C, Carey J & McCrae A. 2005.
Ecological risk management framework for the irrigation industry.
Report to National Program for Sustainable Irrigation (NPSI), Water
Studies Centre, Monash University, Clayton, Australia.
Hart B.T. 2004. Environmental risks associated with new irrigation schemes
in Northern Australia. Ecological Management and Restoration 5,
107-111.
Hayes E.H. & Landis W.G. 2004. Regional Ecological Risk Assessment of
a Near Shore Environment: Cherry point, WA. Human and
Ecological Risk Assessment 10, 299-325.
Helmer, M. and Hilhorst,D. 2006. Natural Disasters and Climate Change.
Journal of Disasters, Volume 30, Number 1, Mar 2006, pp 1-4.
Hession W.C., Storm D.E., Haan C.T., Burks S.L. & Matlock M.D. 1996. A
Watershed-Level Ecological Risk Assessment Methodology. Water
Resources Bulletin 32, 1039-1054.
Hogsett WE, Weber JE, Tingey D, Herstrom A, Lee EH & Laurence JA
1997. An Approach for Characterizing Tropospheric Ozone Risk to
Forests. Environmental Management 21, 105-120.
Iles M 2004. Water quality objectives for Magela Creek revised November
2004. Internal Report 489, December, Supervising Scientist,
Darwin. Unpublished paper.
Jonatan, A, 2001.Public Healt Risk Assesment Linked to Climaic and
Ecologycal Change. Journal Human and Ecological Risk
Assesment, Volume 7, Number 5, September Oktober 2001, pp
373-385 (13)
Landis, W.G. and Yu, M.H. (1995) Introduction to Environmental Toxicology
and Chemistry. Lewis Publishers, Boca Raton, FL.
McDonald T.L & McDonald L.L. 2002. A new ecological risk assessment
procedure using resource selection models and geographic
information systems. Wildlife Society Bulletin 30, 1015-1021.
Millenium Ecosystem Assessment. 2003. Ecosystems and human well
being
a framework for assessment. World Resources Institute,
USA.
54
Moares R, Landis W.G. & Molander S. 2002. Regional risk assessment of a
Brazilian rain forest reserve. Human and Ecological Risk
Assessment 8, 1179-1803.
OECD 2003. OECD Environmental indicators: Development, measurement
and use. Reference Paper. OECD Environment Directorate,
Environmental Performance and Information Division, Paris, France.
Pascoe G.A. 1993. Wetland risk assessment. Environmental Toxicology
and Chemistry 12, 2293-2307.
Petty A.M. 2008. Landscape as process: An exploration of social and
physical aspects of ecology and change in the Alligator Rivers
Region, Northern Australia. PhD Thesis, University of California,
Davis.
Preston B.L & Shackelford J. 2002. Multiple stressor effects on benthic
biodiversity of Chesapeake Bay: implications for ecological risk
assessment. Ecotoxicology 11, 85-99.
Riethmuller N, Camilleri C, Franklin N, Hogan A.C, King A, Koch A, Markich
S.J, Turley C & van Dam R. 2003. Ecotoxicological testing protocols
for Australian tropical freshwater ecosystems. Supervising Scientist
Report 173, Supervising Scientist, Darwin NT.
Rouget M, Richardson, D.M, Nel J.L & Van Wilgen B.W. 2002.
Commercially important trees as invasive aliens-towards spatially
explicit risk assessment at a national scale. Biological Invasions 4,
397-412.
Schipper, L and Pelling, M. 2006. Disaster Risk, Climate Change and
International Development: Scope for, and Challenges to,
Integration. Journal of Disasters, Volume 30, Number 1, Maret
2006, pp 19-38.
Serveiss V.B. 2001. Applying ecological risk principles to watershed
assessment and management. Environmental Management 29,
145-154.
Solomon K.R., Baker D.B., Richards R.P., Dixon K.R, Klaine S.J, La Point
T.W, Kendall R.J, Weisskopf C.P, Giddings J.M, Giesy J.P, Hall,
L.W & Williams W.M. 1996. Ecological risk assessment of atrazine
in North American surface waters. Environmental Toxicology and
Chemistry 15, 31-76.
Suter, G.W. 1993. Ecological Risk Assessment. Lewis Publishers, Boca
Raton, FL.
Thomas Mitchell, 2007. An Operational Framework for Mainstreaming
Disaster Risk. The ISME Journal, Volume 1, September 2007, pp
567-584.
US EPA (U.S. Environmental Protection Agency). 1998. Guidelines for
Ecological
Risk
Assessment.
EPA/630/R-95/002F.
Risk
Assessment Forum, Washington, DC, USA.
55
US EPA (U.S. Environmental Protection Agency). 2003. Framework for
Cumulative
Risk
Assessment.
EPA/630/P-02/001F.
Risk
Assessment Forum, Washington, DC, USA.
Van Aalst and Marteen, K. 2006. The Impacts of Climate Changes on The
Risk Natural Disaster. Journal of Disaster, Volume 30, Number 1,
Maret 2006, pp 5-18 (14).
van Dam R, Bartolo R & Bayliss P. 2006. Ecological risk assessments of
key threats to Australia s tropical rivers: Overview, proposed
framework and methodologies for the Tropical Rivers Inventory and
Assessment Project. Report to Land & Water Australia, June 2006
van Dam R, Bartolo R. & Bayliss P. 2006. Ecological risk assessments of
key threats to Australia's tropical rivers. Overview, proposed
framework and methodologies for the Tropical Rivers Inventory and
Assessment Project. [Tropical Rivers Inventory and Assessment
Project, Sub Project 2].
van Dam R, Finlayson C.M. & Bayliss P. 2004. Progress on the
development of a conceptual model of contaminant pathways from
Ranger uranium mine. Internal Report 474, June, Supervising
Scientist, Darwin. Unpublished paper.
van Dam R.A., Finlayson C.M. & Humphrey C.L. 1999. Wetland risk
assessment: a framework and methods for predicting and assessing
change in ecological character. In Techniques for enhanced wetland
inventory, assessment and monitoring. eds CM Finlayson & AG
Spiers, Supervising Scientist Report 147, Supervising Scientist,
Darwin, 83-118.
van Dam R.A., Humphrey C.L. & Martin P. 2002. Mining in the Alligator
Rivers Region, northern Australia: Assessing potential and actual
impacts on ecosystem and human health. Toxicology 181/182, 505
515.
van Dam R.A., Walden D.J. & Begg G.W. 2002. A preliminary risk
assessment of cane toads in Kakadu National Park. Supervising
Scientist Report 164, Supervising Scientist, Darwin.
van Leeuwen C.J. 1995. General introduction. In Risk assessment of
chemicals: An introduction, eds CJ van Leeuwen & JLM Hermens,
Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, Netherlands, 1 17.
Walker R, Landis W. & Brown. P. 2001. Developing a regional ecological
risk assessment: a case study of a Tasmanian agricultural
catchment. Human and Ecological Risk Assessment 7, 417-439.
Wiegers JK, Feder HM, Mortensen LS, Shaw DG, Wilson VJ & Landis WG
1998. A regional multiple-stressor rank-based ecological risk
assessment for the Fjord of Port Valdez, Alaska. Human and
Ecological Risk Assessment 4, 1125-1173.
Download