NILAI-NILAI MORAL DALAM NOVEL DI BAWAH TELAPAK KAKIMU

advertisement
NILAI-NILAI MORAL DALAM NOVEL DI BAWAH TELAPAK KAKIMU
KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY
Heru Yulanda Hendrika1 , Marsis2 , Dainur Putri2
1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia
2) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Bung Hatta
Email: [email protected]
ABSTRACT
This study aimed to describe the moral values that reflected the behavior and character of the
characters in the novel Di Bawah Telapak Kakimu by Taufiqurrahman Al-Azizy. The theory used
in the search for moral values in accordance with that proposed Bertens (2011). The research is a
qualitative study using descriptive methods. Data taken from the behavior of self and experience
figures. This study focused on the figure of moral values. Moral values of the characters in the
novel Di Bawah Telapak Kakimu includes, aspect of conscience, freedom and responsibility
aspects, aspects of rights and obligations, and aspects of the value of the norm. From every aspect
of the moral values that dominate are aspects of rights and obligations. Because it is a trip that
Dimas main character in the novel illustrates many aspects of the moral values of rights and
obligations. He tried to defend their right to the land of rice fields and its obligations to protect his
mother from a variety of problems. Based on the results of data analysis can be concluded that the
four moral values of mutual support in the continuity of such stories, character Mak Ijah, Dimas
and Sriwiji illustrates aspects of conscience, Pak Atmojo stirred his heart and feel responsible for
solving the problems Mak Ijah with Pak Haris describe moral values from the aspect of freedom
and responsibility. Dimas attitude which has always respected the orders and keeping his mother
describe the moral values of the aspect of rights and obligations. The characteristic of Nugroho and
Pak Haris that are not good in his behavior towards Mak Ijah and Dimas describe the moral values
of the aspect of values and norms.
Keywords: moral values, character, novel
Sastra
PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan suatu wujud
imajinatif yang menggambarkan masyarakat
dengan segala macam segi kehidupannya
sebagai
titik
pengarang.
tolok
proses
kreativitas
juga
mampu
menjadi
wadah
penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan
dirasakan oleh pengarang tentang kehidupan
manusia
termasuk
masyarakat
yang
diungkapkan melalui bahasa yang khas.
Sebagai karya kreatif, sastra
Secara garis besar, ada empat persoalan
mampu melahirkan suatu kreasi yang indah
hidup manusia yaitu hubungan manusia
dan berusaha menyalurkan keindahan itu.
dengan dirinya sendiri, hubungan manusia
1
dengan sesama, hubungan manusia dengan
Nilai moral dalam sastra biasanya
lingkungan alam, dan hubungan manusia
dimaksudkan sebagai suatu sarana yang
dengan Tuhan (Nurgiyantoro, 2010:324).
berhubungan dengan ajaran moral tertentu
Karya sastra memiliki beberapa nilai,
yaitu nilai estetika, moral, dan nilai- nilai
yang bersifat konsepsional. Ketiga nilai
tersebut
sesungguhnya
tidak
dapat
melalui cerita, sikap dan tingkah laku tokoh
yang dapat diambil dan ditafsirkan lewat
cerita yang bersangkutan oleh pembacanya
(Kenny dalam Ahadiat, 2007:108).
dipisahkan sama sekali. Sesuatu yang estetis
Salah satu novel yang membahas moral
adalah sesuatu yang memiliki nilai-I nilai
adalah novel Di Bawah Telapak Kakimu
moral. Moral bukan saja semacam sopan
karya Taufiqurrahman Al-Azizy. Novel ini
santun atau pun etika belaka. Ia adalah nilai
menceritakan sebuah kisah betapa harta dapat
yang berpangkal dari nilai-nilai tentang
memutuskan
kemanusiaan, yaitu nilai baik atau buruk
persaudaraan yang dipersatukan oleh Sang
yang universal. Demikian juga tentang nilai
Pencipta. Betapa kebenaran dan kesesatan
yang bersifat konsepsoinal itu. Dasarnya juga
terjalin dalam kemelut kisah persaudaraan,
nilai tentang keindahan yang sekaligus
kekeluargaan, persahabatan, dan cinta yang
merangkum nilai tentang moral.
berbalut sengketa.
sebuah
ikatan
suci
tali
Salah satu bentuk karya sastra prosa
Demikianlah peristiwa yang terjadi
adalah novel. Novel merupakan fiksi naratif
antara dua keluarga yang masih memiliki
modern yang berkembang pada pertengahan
pertalian darah. Mak Ijah dan Dimas
abad ke-18. Novel menciptakan ilusi dari
anaknya,
realitas aktual kehidupan manusia secara
bersengketa dengan Haris kakak Mak Ijah
imajinatif sesuai dengan dunia nyata yang
dan keluarganya. Sengketa itu disebabkan
dialami manusia itu sendiri (Atmazaki,
karena
2007:40).
umumnya). Mak Ijah dan Haris sering kali
Novel biasanya mengandung pesan
atau amanat yang hendak disampaikan
pengarang kepada pembaca. Amanat itu
dapat berupa pesan agama, kritik sosial atau
pesan
moral.
Moral
merupakan
suatu
dirumuskan
oleh
pada
konsep
hakikatnya
yang
masyarakat,
menentukan kebaikan dan keburukan.
telah
untuk
harus
persoalan
menghadapi
sawah
kenyataan
(tanah
pada
memicu konflik, mempertinggi emosi. Haris
menganggap bahwa sawah itu adalah sawah
yang telah diberikan kepadanya, sedangkan
Mak
Ijah
pun
menganggap
demikian.
Dengan kecurangan keluarga Haris secara
zahir akhirnya bisa memenangkan sengketa
itu, tetapi mereka lupa bahwa di atas langit
masih ada langit dan semua langit tunduk
kepada-Nya. Mak Ijah yang miskin dan janda
2
sering menjadi buah bibir oleh tetangganya.
Ajaran-ajaran
kebenaran
yang
Salah satu bentuk prosa fiksi adalah
telah
novel. Menurut Atmazaki (2005:40), kata
disampaikan Ilyas, ayah Dimas almarhum,
“novel” berasal dari bahasa Italia yaitu
telah menguatkan keimanan jiwa Dimas.
“novella” yang berarti sesuatu yang baru dan
Dimas dan Emaknya memang kalah dalam
kecil.
soal sawah tetapi mereka tak pernah kalah
dihadapan Yang Maha Memiliki segalanya
(Al-Azizy,2013).
Lain pula dengan Ahadiat (2007:25)
mengatakan
pengungkapan
bahwa
novel
merupakan
dari
fragmen
kehidupan
Alasan memilih novel Di Bawah
manusia (dalam jangka waktu yang lebih
Telapak Kakimu karya Taufiqurrahman Al-
panjang) yakni terjadi konflik-konflik yang
Azizy untuk
diteliti
akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan
menceritakan
bagaimana
seseorang
dapat
karena
novel
ini
dengan
harta
memutuskan
tali
persaudaraan dan membuat pemicu konflik di
dalam keluarganya. Taufiqurrahman AlAzizy menggambarkan bahwa seseorang
yang
berbuat
kejahatan
pasti
akan
mendapatkan penyesalaan di akhir hidupnya
dan orang yang bersabar dan mengalah akan
mendapatkan
hasil
yang
terbaik
yang
diberikan oleh Sang Maha Pencipta.
sastra novel, menurut Semi (1988:35) terdiri
atas struktur luar (ekstrinsik) dan struktur
dalam (intrinsik). Struktur luar adalah segala
macam unsur yang berada diluar suatu karya
sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran
karya
sastra
tersebut. Misalnya: faktor
sosial,ekonomi, kebudayaan, sosio-politik,
masyarakat. Struktur dalam adalah unsur-
Karya sastra secara umum dapat dibagi
atas tiga yaitu puisi, fiksi dan drama.
Atmazaki
Unsur-unsur yang membangun karya
keagamaan, dan tata nilai yang dianut
KERANGKA TEORETIS
Menurut
jalan hidup antara para pelakunya.
(2005:38),
fiksi
merupakan salah satu genre sastra yang
unsur yang membentuk karya sastra tersebut
seperti penokohan atau perwatakan, tema,
alur (plot), pusat pengisahan, latar, dan gaya
bahasa.
diciptakan dengan mengandalkan pemaparan
Penokohan termasuk ke dalam unsur
tentang seseorang atau suatu peristiwa, yang
instrinsik yang terdapat dalam karya sastra.
berarti
Istilah penokohan dapat menunjuk pada
khayalan
suatu
atau
pernyataan
pikiran
berdasarkan
semata.
Namun
tokoh dan perwatakan tokoh. Menurut Semi
demikian, tidak berarti bahwa tidak ada
(1988:36), tokoh dan perwatakan tokoh
bagian-bagian tertentu dalam karya fiksi
merupakan suatu struktur pula. Ia memiliki
yang persis sama dengan realitas faktual.
fisik dan mental yang secara bersama-sama
3
membentuk segala tindakan dan totalitas
perilaku
yang
menurut
bersangkutan.
Nurgiyantoro
mengemukakan
(character)
bahwa
dapat
Kebebasan adalah keadaan manusia
Sedangkan
yang tidak terikat pada suatu norma atau
(2010:165),
aturan serta nilai-nilai yang ada di sekitarnya
tokoh
dipahami
cerita
sebagai
untuk melakukan tindakan sesuai dengan
keinginannya.
Bertens
(2011:125)
seseorang yang ditampilkan dalam teks cerita
menyatakan bahwa kebebasan manusia akan
naratif (juga drama) yang oleh pembaca
bermakna apabila manusia tersebut dapat
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan
hidup tanpa ada yang mengikatnya baik
kecendrungan tertentu sebagaimana yang
secara fisik maupun psikis.
diekspresikan lewat kata-kata dan ditunjukan
dalam tindakan.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak
terlepas dari hak dan kewajiban baik
Amanat atau pesan moral dalam sastra
terhadap sesama manusia maupun terhadap
biasanya mencerminkan pandangan hidup
diri sendiri. Hak adalah kewenangan setiap
pengarang tentang nilai-nilai kebenaran, hal
manusia
itulah yang ingin disampaikan pengarang
memiliki sesuatu. Hak juga merupakan
kepada pembaca. Menurut Semi (1988:27),
patokan
amanat atau pesan moral yang hendak
kelompok yang satu terhadap kelompok yang
disampaikan pengarang harus dicari oleh
lain atau terhadap masyarakat (Bertens,
pembaca atau penonton. Pengarang pasti
2011:190).
menyampaikan amanat dalam karyanya.
Moral
dalam
karya
sastra
untuk
yang
mempertahankan
dibuat
seseorang
dan
atau
Nilai merupakan sesuatu yang menarik
yang
bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang
diperoleh pembaca lewat sastra selalu dalam
menyenangkan, sesuatu yang disukai dan
pengertian yang baik.
Bertens
diinginkan, singkatnya adalah sesuatu yang
(2011:7), pengertian moralitas adalah sifat
baik (Bertens,2011:149). Norma, menurut
moral atau keseluruhan asas dan nilai yang
Bertens (2011:158), adalah aturan atau
berkenan dengan baik dan buruk.
kaidah yang
Menurut
Bertens (2011:56) menyatakan bahwa
hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan
bahwa
manusia
memiliki
dipakai sebagai tolak ukur
untuk menilai sesuatu.
Nilai moral tidak terpisah dari nilai-
kesadaran.
nilai lainnya. Dengan kata lain, bahwa moral
Kesadaran tersebut dimaksudkan sebagai
adalah nilai-nilai dan norma-norma yang
kesanggupan
mengenal
menjadi pegangan hidup bagi seseorang atau
dirinya sendiri, sebagai tanda ia berefleksi
suatu kelompok dalam mengatur tingkah
dengan diri dan lingkungannya.
lakunya.
manusia
untuk
4
Nilai merupakan sesuatu yang menarik
Taufiqurrahman Al-Azizy, hal ini dilakukan
bagi kita, sesuatu yang dicari, sesuatu yang
untuk memperoleh pemahaman yang lebih
menyenangkan, sesuatu yang disukai dan
jelas mengenai isi novel yang akan diteliti;
diinginkan ( Bertens, 2011:149). Nilai baik
(2) mencatat isi novel yang berkaitan dengan
merupakan penilaian baik terhadap perbuatan
nilai moral; (3) mengelompokkan data yang
seseorang yang mendatangkan rahmat dan
telah
memberikan perasaan senang atau bahagia
terkumpul dimasukkan ke dalam tabel.
(Bertens,2011:149).
(4)
data
yang
telah
Teknik pengujian keabsahan data hasil
Nilai buruk merupakan penilaian buruk
terhadap
terkumpul;
perbuatan
seseorang
yang
penelitian yang digunakan adalah teknik
ketekunan pengamatan. Data-data yang telah
bertentangan dengan norma-norma yang ada
ditemukan
dimasyarakat, dapat berupa perilaku tercela
berikut: (1) mendeskripsikan nilai moral
(Bertens,2011:150).
setiap tokoh dalam novel Di Bawah Telapak
menggunakan
sebagai
mengonversi peristiwa berdasarkan nilai
Jenis penelitian ini adalah penelitian
dengan
dianalisis
Kakimu karya Taufiqurrahman Al-Azizy, (2)
METODOLOGI PENELITIAN
kualitatif
kemudian
moral, (3) mencari butir-butir moral dalam
metode
diri dan pengalaman tokoh-tokoh yang
deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah
meliputi hati nurani, kebebasan dan tanggung
nilai moral tokoh-tokoh yang meliputi hati
jawab, hak dan kewajiban, dan nilai dan
nurani, kebebasan dan tanggung jawab, hak
norma, (4) membuat kesimpulan penelitian
dan kewajiban, serta nilai dan norma dalam
berdasarkan analisis moral.
novel Di Bawah Telapak Kakimu karya
Taufiqurrahman Al-Azizy. Sedangkan objek
penelitiannya
adalah
novel
Di
HASIL PENELITIAN
Bawah
Data yang diperoleh dalam penelitian
Telapak Kakimu karya Taufiqurrahman Al-
ini berupa rangkaian peristiwa yang dialami
Azizy yang terbit pada tahun 2013 dengan
oleh tokoh sebanyak 32 data.
tebal 268 halaman. Instrumen penelitian
adalah peneliti sendiri menjadi pelaksana
dalam mengumpulkan data sehingga peneliti
pengumpulan
data
yang
dilakukan adalah sebagai berikut : (1)
membaca selanjutnya memahami novel Di
Bawah
Telapak
Peristiwa pada data 1 tersebut terjadi di
sebuah
melaporkan hasil penelitiannya.
Teknik
Tokoh Dimas
Kakimu
karya
pematangan sawah, Dimas sedang
memikirkan permasalahan yang terjadi pada
keluarganya, tetapi Dimas menggunakan hati
nuraninya di dalam permasalahan tersebut,
hal ini tergambar pada kutipan berikut.
5
“Matanya menerawang, pikiranya melayanglayang. Sungguh ia tak mengharap dendam
ini terus terjadi, apalagi terhadap kerabat
sendiri. Bagaimanapun juga, Nugroho adalah
kakak sepupunya sendiri. Ayah Nugroho dan
emaknya adalah kakak adik, saudara
kandung. Dendam semestinya tak terjadi
pada orang-orang yang masih memiliki
pertalian darah. Terlebih zaman ini bukan
masa lalu dan agama selalu mengajarkan
agar hati tak pernah diliputi dendam dan sakit
hati”
(Al-Azizy, 2013 : 15-16).
Pada data tersebut terlihat tokoh Dimas
sangat memikirkan permasalahan yang telah
terjadi
pada
keluarganya
dan
keluarga
Pada data tersebut telihat kegelisahan
dan ketakutan yang telah terjadi pada diri
Mak Ijah, dan Mak Ijah mengatakan kepada
Dimas anaknya hati Emak sekarang sedang
diamuk
selalu berpegang teguh pada ajaran Islam
kalau hati tidak boleh diliputi rasa dendam.
Jadi data ini dogolongkan pada aspek hati
nurani.
Tokoh Mak Ijah
Peristiwa pada data 5 ini terjadi di
sebuah rumah Mak Ijah, karena kegelisahan
terjadi pada dirinya, membuat Mak Ijah ingin
menjenguk kakaknya yang sedang sakit
walaupun perselisihan terjadi di antara kedua
keluarga tersebut tetapi Mak Ijah masih
Mak
ketakutan,
bukan
memikirkan
keadaan
Pakdemu,
begitulah Mak Ijah sangat memikirkan
keadaan kakaknya. Jadi pada data ini
digolongkan pada aspek hati nurani.
Tokoh Pak Atmojo
Peristiwa pada data 2 tersebut terjadi di
rumah Pak Haris, di mana Kepala Desa Pak
Atmojo sedang memperhatikan keaslian pada
sertifikat tersebut, apakah sertifikat itu milik
Mak Ijah, ia sangat kasihan melihat keadaan
Mak Ijah dan hati nuraninya berkata seperti
itu, hal ini tergambar pada kutipan berikut.
“Berkali-kali ia membaca sertifikat itu
seakan-akan hendak memastikan bahwa
nama yang tertera dalam sertifikat tersebut
bukan nama Kang Haris, melainkan nama
Mak Ijah, entah kenapa hati kecil kepala desa
merasa kasihan kepada Mak Ijah dan
membayangkan bahwa sertifikat itu atas
nama Mak Ijah” (Al-Azizi, 2013 : 81).
Pada data tersebut terlihat Pak Atmojo
memiliki hati nurani, hal ini tergambar pada
kutipan berikut.
dan
masalah sawah yang Emak gelisahkan tetapi
Pamannya. Ia tidak mengharapkan dendam
pada keluarga Pamannya tersebut dan Dimas
gelisah
seorang kepala desa yang sedang bingung
dalam memecahkan masalah perselisihan di
“Aku ingin menjenguk Pakdemu Le,
bolehkah aku menjenguknya. Sudah dari tadi
perasaannya diamuk kegelisahan begitu rupa,
bukan hanya karena ia memikirkan soal
sawah itu. Sepertinya ada sesuatu yang akan
terjadi atau sudah terjadi dan hal itu membuat
Mak Ijah tampak begitu takut dan cemas”
(Al-Azizi, 2013:147).
antara kedua keluarga tersebut. Tetapi di
dalam hati kecilnya Pak Atmojo sangat
kasihan terhadap keluarga Mak Ijah yang
tidak
mempunyai
apa-apa
sedangkan
kakaknya memiliki segalanya. Jadi data ini
digolongkan pada aspek hati nurani.
6
Tokoh Nugroho
Peristiwa pada data 26 ini terjadi di
halaman rumah Pak Haris, Nugroho dengan
sikap buruknya mencaci-maki Mak Ijah
dengan perkataan kasar, hal ini tergambar
pada kutipan berikut.
“Sewaktu Mak Ijah sedang memaki-maki di
hadapan Nugroho, dan tubuh Mak Ijah
sekonyong-konyong. Nugroho menyeruak
dan langsung mendorong tubuh Mak Ijah
hingga Mak Ijah terjengkang. Orang-orang di
sekitarnya menatap kaget, terperanjat namun
diam melihat pemandangan itu. Nugroho
berdiri dihadapan Mak Ijah dengan berkacak
pinggang dan bibirnya menghujani Mak Ijah
dengan kata-kata yang kasar”
(AlAzizi, 2013 : 41-42).
harga dua kali lipat, hal ini tergambar pada
kutipan berikut.
“Ayahnya berkata” Nunggroho sebaiknya
kamu jual saja sawah tersebut kepada , orang
kaya itu, agar sawah tersebut tidak menjadi
permasalahan antara keluarga kita dan
keluarga Mak Ijah, kamu jual saja secepatnya
Nak” (Al-Azizy, 2013:142)
Pada data tersebut terlihat, kecurangan
yang dilakukan oleh Pak Haris agar sawah
tersebut tidak menjadi permasalahan dengan
keluarga Mak Ijah, Pak Haris mengatakan
kepada anaknya agar sawah tersebut dijual
semuanya kepada orang kaya tersebut. Jadi
data ini digolongkan pada aspek nilai dan
norma.
Pada data tersebut terlihat, seorang
pemuda yang bernama Nugroho anak dari
Tokoh Sriwiji
Pak Haris kakaknya Mak Ijah, perilaku dan
Peristiwa pada data 31 ini terjadi di
tindakannya tidak mencerminkan seseorang
perbukitan, di mana Sriwiji melihat Dimas
yang mempunyai pendidikan tinggi dimana
yang sedang duduk termenung, Sriwiji ingin
Nugroho yang dengan keras perilakunya
mengatakan kepada Dimas tentang kejadian
menghujam dengan kata-kata kasar dan
yang dilakukan oleh Mak Ijah terhadap
mendorong tubuh Mak Ijah sampai terjatuh.
keluarga Pak Haris, hal ini tergambar pada
Jadi pada data ini digolongkan pada aspek
kutipan berikut.
nilai dan norma.
Nugroho agar sawah tersebut dijual saja
“Setelah berbasa-basi alakadarnya, Sriwiji
yang memilih duduk agak jauh dari Dimas
berkata, “Aku tidak ingin menyakiti hatimu,
tetapi bila aku tak mengatakannya aku
semakin mencemaskan Mak Ijah. Dimas aku
kasihan pada Emakmu. Kenapa Emakmu
selalu mengungkit-ungkit masalah sawah itu
seakan-akan mencari dukungan. Namun rasarasanya sangat memalukan bila orang tua
kini menjad bahan pergunjingan banyak
tetangga” (Al-Azizy, 2013:62).
kepada saudagar yang kaya raya dimana
Pada data tersebut terlihat, Sriwiji yang
saudagar tersebut akan membayarnya dengan
sangat kasihan terhadap keluarga Mak Ijah
Tokoh Pak Haris
Peristiwa pada data 30 ini terjadi di
rumah Pak Haris, di mana Pak Haris dengan
kecurangannya mengatakan kepada anaknya
terutama Mak Ijah yang sering menjadi buah
7
bibir oleh warga, Sriwiji mengatakan kepada
yang
Dimas agar mengingatkan kepada Emaknya
mendapatkan kembali sawah tersebut dan
agar menyelesaikan permasalahan tersebut.
Mak
Jadi data ini tergolong pada aspek hati
warganya tentang permasalahan yang terjadi
nurani.
pada keluarganya dan kakak kandungnya
Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa tokoh-tokoh dalam novel
Bawah
Ijah
Telapak
Kakimu
karya
Taufiqurrahman Al-Azizy memiliki nilai
moral yang meliputi hati nurani, kebebasan
dan tanggung jawab, hak dan kewajiban,
mengharapkan
mengatakan
kepada
agar
seluruh
Selanjutnya, kewajiban Dimas sebagai
seorang anak yang tidak mau melihat
Emaknya tersakiti
membantu
dan Dimas selalu
Emaknya
baik
dalam
kebingungan maupun dalam penderitaan
yang terjadi pada diri Emaknya.
serta nilai dan norma. Pertama dari segi hati
nurani
ingin
yaitu Pak Haris.
SIMPULAN
Di
selalu
Keempat nilai dan norma, pada aspek
yaitu tokoh Dimas dan Mak Ijah
tersebut mendukung jalannya sebuah cerita.
dalam novel ini yang selalu menggunakan
Hal ini terlihat pada tokoh Dimas yang selalu
nilai moral di dalam hidupnya, walaupun
bersikap baik kepada keluarga Pak Haris
keluarga Mak Ijah dengan keluarga Pak
walaupun keluarga pamannya tersebut tidak
Haris sedang mengalami perselisihan tentang
menyukainya. Di sisi yang berbeda dengan
masalah sawah tetapi Mak Ijah dan Dimas
sikap Dimas yaitu sikap dan perbuatan
tetap selalu berusaha menjaga moral dalam
Nugroho kakak sepupunya yaitu anak dari
hidupnya. Sama halnya dengan tokoh Sriwiji
Pak Haris. Sikap dan perbuatannya tidak
yang memiliki rasa kasihan dan kepedulian
sesuai
terhadap masalah yang dihadapi oleh Mak
dijalaninya. Nugroho dan Pak Haris ayahnya
Ijah.
dan
dengan bersikap kasar kepada Mak Ijah dan
tanggung jawab di mana terdapat beberapa
Dimas di dalam perselisihan memperebutkan
tokoh yang menggunakan aspek moral
sawah dan itu semua dilihat oleh para
tersebut yaitu Mak Ijah yang selalu ingin
masyarakat yang ada di sekitar kejadian
mencari titik penyelesaian tentang perebutan
tersebut.
Kedua
dari
segi
kebebasan
sawah dengan kakak kandungnya selanjutnya
di sisi aspek tanggung jawab Pak Atmojo
selaku Kepala Desa bertanggung jawab di
dengan
pendidikan
yang
telah
UCAPAN TERIMA KASIH
Di
dalam
penyelesaian
penulisan
dalam pemecahan masalah yang terjadi di
artikel ini tidak terlepas dari berbagai
antara keluarga Mak Ijah dan Pak Haris.
pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini
Ketiga dari sisi hak dan kewajiban, Mak Ijah
penulis dengan segala kerendahan hati
8
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.
Marsis, M. Pd. Dan Ibu Dra. Dainur Putri,
M.
Pd.
selaku
pembimbing
I
dan
pembimbing II yang banyak memberikan
saran,
nasihat,
motivasi,
dan
telah
menyediakan waktu luang yang banyak
untuk penulis, mulai dari awal penyelesaian
proposal sampai selesai penulisan artikel.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Azizy, Taufiqurrahman. 2013. Di Bawah
Telapak Kakimu. Yogyakarta: Nusa
Creativa.
Atmazaki. 2007. Ilmu Sastra Teori dan
Terapan. Padang: Universitas Negeri
Padang Press.
Ahadiat, Endut. 2007. Teori dan Apresiasi
Kesustraan. Padang: Bung Hatta
University Press.
Bertens, K. 2011. Etika. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Fajri, Desmal. 2009. Pendidikan Agama
Islam. Padang: Bung Hatta University
Press.
Nurgiyantoro,
Burhan.
2010.
Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Moleong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian
Kualitatif.
Bandung:
Remaja
Rosdakarya.
Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra.
Padang: Angkasa Raya.
9
Download