II - 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Studi

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Studi Kelayakan
Studi Kelayakan merupakan salah satu tahapan yang cukup penting dari rangkaian
pelaksanaan kegiatan. Studi Kelayakan ini semakin dirasakan penting dimana
sumber daya alam, sumber daya manusia (SDM) maupun dana semakin terbatas.
Pada awalnya, studi kelayakan dilakukan atas permintaan penyandang dana,
donatur atau investor. Aspek yang dikajipun hanya aspek finansial saja, namun
semakin tingginya kesadaran akan aspek teknis, lingkungan maupun keadilan
(equity), maka aspek yang dikaji makin komprehensif bahwa studi kelayakan
proyek pada dasarnya diperlukan sebagai alat bantu bagi proses pengambilan
keputusan.
Maksud dari studi kelayakan proyek ialah untuk mengkaji tingkat kelayakan suatu
proyek yang akan dilaksanakan, dilakukan agar sumber daya yang terbatas dapat
dialokasikan secara efisien dan efektif. Adapun tujuannya adalah dengan
terbatasnya sumber–sumber daya yang tersedia pemilihan antara berbagai macam
proyek dapat dilakukan, sehingga hanya proyek–proyek yang benar–benar layak
saja yang terpilih, sehingga pengalokasian sumber daya dapat dilakukan pada
proyek–proyek yang mempunyai tingkat kelayakan yang tinggi. Bahwa kesalahan
dalam memilih proyek dapat mengakibatkan pengorbanan dari pada sumber daya
yang makin langka dan terbatas, sehingga alokasi sumber daya dapat ditempatkan
pada proyek yang mendatangkan kemanfaatan paling tinggi dan kerugian paling
kecil.
Studi kelayakan proyek adalah suatu kegiatan penelitian atau studi yang dilakukan
secara komprehensif dari berbagai aspek dalam usaha mengkaji tingkat kelayakan
dari suatu proyek. Kegiatan penelitian ini merupakan salah satu tahapan awal dari
serangkaian kegiatan pelaksanaan proyek. Hasil dari suatu studi kelayakan adalah
rekomendasi mengenai perlu tidaknya proyek yang dikaji untuk dilanjutkan pada
tahap yang lebih lanjut.
II - 1
Lingkup aspek yang ditinjau dalam suatu studi kelayakan secara umum meliputi :
1.
Aspek Kajian Teknis
Aspek kajian teknis dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan dari proyek
dimaksud dari segi teknis. Kajian ini pada dasarnya usaha untuk menjawab
apakah proyek tersebut cukup andal, aman dan dapat dipertanggungjawabkan.
Aspek–aspek teknis yang ditinjau meliputi aspek rekayasa, operasional dan
perawatan yang diperlukan kemudian hari.
2.
Aspek Kajian Ekonomis
Dalam kajian ekonomis, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang
kepentingan masyarakat luas atau kepentingan pemerintah. Dalam kajian
ekonomis ini yang diperhatikan adalah apakah proyek dimaksud akan memberi
sumbangan atau mempunyai peranan yang positif dalam pembangunan ekonomi
secara keseluruhan dan memberikan peranan yang cukup besar sehingga alokasi
dana yang ditempatkan pada proyek dimaksud cukup bermanfaat bagi
kepentingan masyarakat luas. Hal mendasar yang menjadi patokan dalam kajian
ekonomi adalah apakah alokasi dana yang diperlukan untuk proyek cukup efektif
dan efesien penggunaannya ditinjau dari manfaat yang akan dirasakan oleh
masyarakat secara luas dalam kurun waktu yang ditinjau.
Terdapat beberapa kesulitan yang melekat pada proyek-proyek publik yang harus
dipertimbangkan dalam melakukan kajian ekonomi teknik dan mengambil
keputusan ekonomi terhadap proyek-proyek tersebut, antara lain:
a. Tak terdapat standar laba yang dapat digunakan sebagai ukuran dari
efektifitas keuangan. Kebanyakan proyek publik dimaksudkan sebagai
nirlaba.
b. Dampak keuangan dari banyak manfaat proyek-proyek publik sulit
dikuantifikasikan.
c. Hanya terdapat sedikit atau sama sekali tidak ada hubungan antara proyek
dan publik, sebagai pemilik proyek.
II - 2
d. Sering kali terdapat pengaruh politik yang kuat setiap kali dana
masyarakat digunakan. Apabila keputusan terhadap suatu proyek publik
dibuat oleh pejabat terpilih yang tidak lama lagi akan mengadakan
pemilihan kembali, manfaat dan biaya langsung yang ditekankan, sering
kali dengan hanya sedikit atau tanpa pertimbangan terhadap konsekuensi
jangka panjang yang lebih penting.
e. Motif laba yang biasa berguna sebagai perangsang untuk mendorong kerja
yang efektif menjadi tidak ada, yang bukanlah dengan maksud
menunjukkan bahwa setiap proyek publik tidak efektif atau para manager
dan karyawannya tidak dapat diharapkan bekerja secara efisien. Tetapi
laba langsung yang merupakan perangsang dalam perusahaan swasta
dianggap
mengakibatkan
dampak
yang
menguntungkan
terhadap
efektifitas proyek sektor swasta.
f. Proyek-proyek publik biasanya jauh lebih banyak terkena pembatasanpembatasan resmi dibandingkan proyek-proyek swasta. Sebagai contoh,
daerah operasi untuk perusahaan air minum yang dimiliki oleh pemerintah
kota mungkin dibatasi sehingga air hanya dapat dijual dalam batas kota,
tanpa memandang apakah pasar untuk kelebihan kapasitas terdapat di luar
batas kota atau tidak.
g. Kemampuan badan-badan pemerintahan untuk mendapatkan modal sangat
lebih terbatas dibandingkan dengan perusahaan swasta.
h. Tingkat bunga yang wajar untuk mendiskonto manfaat-manfaat dan biayabiaya suatu proyek publik sering kali kontroversial dan secara politis
sensitif. Jelas, tingkat bunga yang lebih rendah sangat membantu proyekproyek jangka panjang yang mempunyai manfaat sosial dan/atau keuangan
utama di masa depan, sedangkan tingkat bunga yang tinggi mendorong
tinjauan jangka pendek yang di sini keputusan terutama berdasarkan
investasi awal dan manfaat yang bersifat segera.
3.
Aspek Kajian Lingkungan
Kajian
lingkungan
bermanfaat
untuk
mengetahui
keberadaan
ataupun
implementasi proyek akan berdampak terhadap lingkungan di sekitarnya, dampak
II - 3
yang mungkin timbul dapat diketahui intensitasnya dan usaha yang dilakukan
untuk mencegah, memperkecil ataupun mengelola dampak. Aspek lingkungan
yang dikaji meliputi lingkungan flora, fauna, sosial dan kemasyarakatan.
4.
Aspek Kajian Manajerial dan Administratif
Aspek kajian manajerial dan administratif dikaji dalam usaha untuk mengetahui
apakah SDM, sistem dan mekanisme yang direncanakan cukup mampu mengelola
proyek tersebut, dimulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, operasional
maupun pemeliharaan. Dilakukan kajian menyeluruh terhadap kemampuan staf
proyek untuk menjalankan administrasi pengelolaan proyek dari awal sampai
akhir. Sedangkan manajemen lebih ditekankan pada hal–hal yang berkaitan
dengan : mekanisme kerja, gaya manajemen dan kualifikasi sumber daya manusia
yang terlibat.
2.1.1.
Dasar Pertimbangan Keputusan di Dalam Proyek
Di dalam suatu negara yang sedang membangun selalu dibutuhkan kegiatankegiatan pembangunan seperti proyek yang merupakan unit operasional
pembangunan yang paling kecil. Dengan adanya proyek tersebut, pendapatan
suatu negara diharapkan dapat meningkat, disamping investasi kegiatan proyek
diharapkan dapat mengurangi perbedaan (disparitas) pendapatan masyarakat
(Pudjosumarto,1985).
Untuk mengambil keputusan apakah investasi/proyek dapat diterima atau ditolak,
biasanya berdasarkan pada besarnya keuntungan dan biaya yang dikeluarkan,
dimana keuntungan harus lebih besar daripada biayanya. Walaupun sebenarnya
semua biaya dan keuntungan yang akan diperoleh dari periode ke periode (dari
tahun ke tahun) tersebut harus disesuaikan (di-adjust) dengan nilai pada saat ini
(at present worth).
Dari pandangan pemerintah, keputusan tidak didasarkan atas segi profitabilitas /
ekonomis dari suatu proyek saja, melainkan juga dari aspek sosial, misalnya
apabila dihitung secara ekonomis tidak menguntungkan bahkan rugi, namun
II - 4
karena proyek tersebut mempunyai manfaat atau dampak positif terhadap keadaan
sosial budaya dan politik, proyek harus tetap dibiayai dan dijalankan.
Suatu karakteristik penting dari proyek sektor publik adalah banyak dari proyek
seperti itu yang mempunyai kegunaan dan tujuan ganda. Salah satu contoh adalah
pembangunan embung sebagai penampung air sungai. Proyek ini kiranya
mempunyai banyak kegunaan: (1) membantu pengaturan banjir, (2) menyediakan
air untuk irigasi, (3) menyediakan air baku, (4) menyediakan fasilitas rekreasi, dan
lain lain.
Pengembangan proyek semacam ini untuk mencapai lebih dari satu tujuan harus
memastikan bahwa nilai ekonomis keseluruhan yang lebih besar akan tercapai.
Karena pembangunan embung mencakup jumlah modal yang sangat besar dan
penggunaan suatu sumber daya alam yang sangat berharga—sungai—nampaknya
proyek tidak dapat dibenarkan (justified) kecuali proyek memberikan manfaatmanfaat ganda. Tipe situasi semacam ini biasanya diinginkan, tetapi, pada waktu
yang lama, proyek ini menimbulkan masalah ekonomi dan manajerial sehubungan
dengan tumpang tindihnya pemanfaatan fasilitas dan kemungkinan timbulnya
benturan kepentingan antara beberapa pemanfaatan dan badan pemerintah yang
terlibat.
Masalah-masalah dasar yang sering timbul dalam mengevaluasi proyek-proyek
publik dapat diilustrasikan dengan kembali menelaah embung seperti yang
dibangun untuk menyediakan banyak kegunaan, kenyataan bahwa satu embung
akan melayani seluruhnya mengakibatkan paling tidak tiga masalah dasar.
1. Yang pertama adalah alokasi biaya embung untuk masing-masing kegunaan.
2. Masalah dasar kedua adalah benturan kepentingan di antara beberapa fungsi
proyek.
Misalkan
keputusan
mengenai
ketinggian
air
yang
perlu
dipertahankan di balik embung. Untuk memenuhi fungsi yang pertama—
pengendalian banjir, reservoir harus dipertahankan pada tingkat hampir
kosong untuk menyediakan kapasitas penampungan terbesar selama bulanbulan basah di musim hujan. Ketinggian air yang lebih rendah akan secara
II - 5
langsung bertentangan dengan fungsi air baku yang dapat dimaksimumkan
dengan selalu mempertahankan setinggi mungkin ketinggian air di balik
embung. Lebih lanjut, pemaksimuman manfaat memerlukan dipertahankannya
ketinggian air sepanjang tahun. Jadi benturan kepentingan timbul antara
bermacam-macam fungsi dan keputusan kompromi harus ditetapkan.
Keputusan-keputusan tersebut akan langsung mempengaruhi besaran manfaat
yang dihasilkan proyek itu.
3. Masalah ketiga dengan proyek publik serba guna adalah kepekaan politis.
Karena setiap fungsi yang berbeda, atau bahkan proyeknya sendiri, kiranya
akan didukung atau ditentang oleh beberapa segmen masyarakat dan oleh
bermacam-macam kelompok kepentingan yang dapat terpengaruh olehnya,
sering kali proyek semacam ini tak terelakkan lagi menjadi isu politik.
Pertentangan ini sering kali mempunyai efek terhadap alokasi-alokasi biaya
dan dengan demikian terhadap ekonomi keseluruhan dari proyek.
2.1.2.
Biaya Proyek
Biaya merupakan hal pokok dalam studi kelayakan. Misalkan biaya pemeliharaan
periodik untuk jangka waktu 20 tahun atau lebih, merupakan bagian dari
pembiayaan taksiran tersebut. Hal ini menandakan bahwa pemeliharaan pada
hakekatnya bukan merupakan bagian terpisah dari pembangunannya.
Sekalipun biaya-biaya tersebut masih merupakan taksiran, tetapi angka-angka
yang dikemukakan diharapkan hanya berbeda 10% di atas atau di bawah angka
sebenarnya. Batas ketelitian ini menyebabkan perencanaan ini dibarengi dengan
penyelidikan teknis di lapangan. Besarnya biaya konstruksi dan pemeliharaan
memang sangat peka terhadap perubahan keadaan lapangan, keadaan lalu lintas,
jenis angkutan, standar desain, keadaan topografi, jenis tanah dan lain-lainnya.
Pudjosumarto, (1985) dalam buku Evaluasi Proyek yang dihitung sebagai biaya
atau pengeluaran proyek (project expenditures) yaitu biaya-biaya (costs) atau
ongkos-ongkos yang akan dikeluarkan pada masa yang akan datang (future costs)
II - 6
untuk memperoleh penghasilan-penghasilan yang akan datang pula (future
returns), biaya- biaya tersebut dapat berupa :
a.
Biaya angsuran hutang dan bunga
Pengeluaran hutang dan bunga akan dimasukan dalam biaya ekonomis
tergantung apakah terdapat beban sosial yang dianggap harus ditanggung
masyarakat sehubungan dengan angsuran pembiayaan suatu proyek atau
tidak. Biaya proyek atau biaya investasi dapat diperhitungkan pada waktu:
1.
Investasi dikeluarkan.
Artinya cara perhitungan yang timbul pada proyek-proyek yang
investasinya tidak terikat pada suatu proyek tertentu misalnya tidak
terikat pada proyek A. Dana investasi yang tersedia kemungkinan masih
dapat digunakan untuk proyek-proyek yang menguntungkan bagi
masyarakat.
2.
Pinjaman untuk investasi dilunasi beserta bunganya.
Artinya cara perhitungan yang akan timbul jika suatu proyek dibiayai
dengan pinjaman atau kredit terikat. Kredit tersebut hanya diberikan
untuk suatu proyek tertentu dan akan dibatalkan bila proyek tersebut
tidak dilaksanakan. Di dalam hal ini beban sosial (social cost) yang
diperhitungkan bukan jumlah investasi, tetapi jumlah angsuran mulai
dilakukan dan bunga mulai harus dibayar.
Jadi social opportunity cost dari pelaksanaan investasi dalam proyek
dibebankan pada waktu pembiayaan dilunasi pada saat yang akan datang,
bukan pada saat dilaksanakan kegiatan proyek tersebut.
b.
Penyusutan (depreciation)
Penyusutan merupakan pengalokasian biaya investasi suatu proyek pada
setiap tahun sepanjang umur ekonomis proyek untuk menjamin agar angka
biaya operasi yang dimasukan dalam neraca rugi/laba tahunan dapat
II - 7
mencerminkan adanya biaya modal yang dipergunakan. Secara singkat
dikatakan bahwa dalam rangka analisis benefit cost tersebut, perlakuan
terhadap penyusutan berbeda peranannya dibandingkan peranan di dalam
neraca rugi/laba. Dalam hal ini, perlakuannya dalam neraca, dari pada
dipotong dari penerimaan proyek sebagai biaya, maka penyusutan bersama
laba dimasukan cash flow atau benefit tahunan bersih dari pada proyek.
Perlakuan ini yang menyebabkan perbedaan perhitungan di dalam penyusutan
secara akuntansi perusahaan.
c.
Biaya konstruksi dan peralatan
Dalam hal ini perlu dihindari adanya double-counting, artinya jika biayabiaya tersebut telah dibebankan pada saat dikeluarkannya investasi, maka
waktu pelunasannya nanti tidak boleh dimasukan sebagai biaya lagi. Di dalam
hubungannya dengan ini, yang dimaksudkan:
1.
Peralatan adalah termasuk segala peralatan yang dipergunakan di dalam
mengerjakan proyek tersebut. Jika nilai peralatan tersebut terdapat
barang yang harus diimpor, maka perlu diperhatikan untuk menerapkan
atau tidak menerapkan shadow price dan devisa.
2.
Bahan-bahan adalah segala bahan yang diperlukan di dalam kegiatan
proyek. Harga yang digunakan untuk menilai bahan-bahan tersebut
adalah harga yang berlaku. Akan tetapi barang-barang tersebut dianggap
relevan adalah dengan memakai “border price“. Untuk bahan-bahan
impor dipakai harga c.i.f. (cost, insurance and freight). Sedangkan untuk
bahan-bahan ekspor dipakai harga f.o.b. (free on board). Selanjutnya
segala macam pajak tidak langsung, seperti bea masuk dan lainnya,
hendaknya dikurangkan terlebih dahulu, karena ini tidak termasuk dalam
real resources cost dari pada bahan-bahan tersebut.
3.
Tenaga kerja (yang berhubungan dengan gaji dan upah), yaitu tenaga
kerja yang digunakan untuk mengerjakan suatu proyek. Mengenai tenaga
kerja ini perlu dibedakan dalam tenaga kerja tak terlatih (unskilled
II - 8
labour) dan tenaga terlatih (skilled labour), artinya kalau terdapat biaya
latihan yang dikeluarkan merupakan economic cost. Biasanya di negara
yang sedang berkembang, mengenai pembayaran gaji dan upah tidak
mencerminkan nilai yang sebenarnya atau kadang-kadang lebih besar
dari pada social opportunity cost, sehingga perlu adanya shadow pricing.
d.
Biaya tanah
Biaya ini dihitung jika tanah yang digunakan untuk proyek tersebut
merupakan tanah yang memberikan hasil, seperti misalnya tanah sawah, tanah
perkebunan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini yang dihitung adalah net
present value dan pengorbanan produksi (production foregone). Dan untuk
menilai output tanah tersebut digunakan harga pasar (market price).
e.
Biaya modal kerja
Modal kerja adalah modal yang digunakan dan terikat dalam suatu proyek.
Dalam hal ini modal kerja tersebut sudah tidak dapat digunakan untuk tujuan
investasi yang lainnya. Dalam perhitungannya modal ini dimasukan sebagai
biaya tahun pertama proyek tersebut berjalan.
f.
Biaya bunga masa konstruksi
Misalkan terdapat social opportunity cost dari pada investasi dianggap terdiri
dari arus pelunasan hutang beserta bunganya selama waktu yang akan datang,
maka pembayaran bunga selama masa konstruksi perlu diperhitungkan dalam
biaya ekonomis.
g.
Biaya operasi dan pemeliharaan
Biaya ini merupakan biaya yang harus dikeluarkan secara rutin dalam setiap
tahunnya selama proyek mempunyai umur ekonomis. Di dalam hal ini
meliputi:
1.
Bahan baku (misalnya untuk bidang industri dan pertanian).
2.
Bahan bakar (seperti solar dan bahan lainnya).
3.
Air (water), listrik (power) dan telekomunikasi (telecommunication)
II - 9
4.
Gaji dan upah atau tunjangan karyawan.
5.
Biaya lainnya, seperti jasa konsultan, keperluan kantor (office supplies)
dan sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan proyek.
h.
Biaya pembaharuan atau penggantian
Biaya ini merupakan tambahan biaya-biaya yang diperlukan selama proyek
tersebut berjalan. Misalnya dalam jangka waktu 40 tahun, pada setiap 10
tahun sekali proyek tersebut memerlukan pembaharuan atau penggantian
terhadap peralatan tertentu.
i.
Biaya Tenggelam (Sunk costs)
Sunk costs merupakan biaya yang telah dikeluarkan pada masa lalu sebelum
kegiatan proyek dilaksanakan. Jadi biaya tenggelam merupakan semua biaya
yang dikeluarkan sebelum diambil keputusan untuk melaksanakan proyek. Di
dalam analisa proyek biaya tenggelam ini tidak dihitung dan tidak
mempengaruhi pemilihan proyek. Yang dihitung di dalam analisis proyek
adalah biaya-biaya proyek (project costs) yang digunakan di masa yang akan
datang.
j.
Biaya Studi Kelayakan (Feasibility Studies)
Biaya yang akan dimasukan di dalam kegiatan ini:
1.
Biaya Perencanaan Awal (Pleminary design cost).
Biaya untuk studi kelayakan, yang termasuk dalam perencanaan awal,
tidak diperhitungkan di dalam biaya investasi suatu proyek, karena biaya
studi kelayakan merupakan biaya tenggelam.
2.
Biaya Perencanaan Akhir (Final design cost)
Biaya yang dikeluarkan untuk membuat perencanaan akhir dibiayai
dengan penyediaan kredit (supplier credit), maka nilai yang dimasukkan
dalam biaya proyek adalah besarnya angsuran kredit.
II - 10
k.
Biaya Tidak Terukur (intangible cost)
Intangible cost merupakan hal-hal nyata, akan tetapi sulit diperhitungkan
dalam nilai uang, namun mencerminkan nilai-nilai yang sebenarnya. Bentuk
biaya
ini
dapat
dimisalkan
seperti
adanya
polusi
udara,
polusi
suara/kebisingan, pemandangan yang kurang nyaman dan lain sebagainya.
l.
Biaya tak terduga (Contingencies)
Contingencies merupakan biaya-biaya yang harus ditambahkan pada biaya
konstruksi karena adanya perubahan atau adanya kesalahan di dalam
perhitungan (adanya underestimates), contohnya:
1.
Adanya pengaruh inflasi dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan
jasa yang dipakai dalam suatu proyek.
2.
Adanya pekerjaan-pekerjaan yang lebih sukar dari perkiraan semula,
sehingga memerlukan waktu lembur dan tambahan biaya.
2.1.3.
Keuntungan dan Kerugian Proyek
Pembangunan Embung membawa berbagai macam keuntungan untuk masyarakat,
baik yang menggunakan langsung maupun tidak langsung menggunakan. Bentuk
keuntungan (benefits) dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:
1.
Keuntungan langsung (direct benefits)
2.
Keuntungan tidak langsung (indirect benefits)
Baik keuntungan langsung maupun keuntungan tidak langsung, asal semuanya
bisa dinyatakan dengan nilai uang, sebenarnya sama saja. Penggolongan tersebut
hanya dipakai untuk membedakan keuntungan yang langsung didapat dari adanya
embung itu sendiri dengan keuntungan yang didapat dari lain-lain bidang
(transportasi, perkebunan, industri, dan lain-lain).
Keuntungan suatu proyek terdiri dari keuntungan langsung dan tidak langsung,
selain itu dikenal juga keuntungan yang tidak terukur (intangible benefit).
(Pudjosumarto, 1985).
II - 11
a.
Keuntungan Langsung
Keuntungan langsung merupakan manfaat langsung dan nampak jelas dari
hasil adanya suatu proyek. Manfaat ini bisa berupa:
a. Adanya kenaikan dari nilai output fisik dari kegiatan yang ditanganani
proyek.
b. Kenaikan nilai dari pada output yang disebabkan karena adanya
perbaikan kualitas.
c. Kenaikan nilai output karena adanya perubahan bentuk
d. Penurunan biaya yang disebabkan oleh adanya mekanisasi.
e. Penurunan biaya yang disebabkan oleh penurunan biaya pengangkutan.
f. Penurunan biaya yang disebabkan terhindar dari adanya kerugian, seperti
kerusakan dan lain sebagainya.
b.
Keuntungan Tidak Langsung (Indirect Benefits)
Indirect Benefits adalah merupakan manfaat yang secara tidak langsung
ditimbulkan oleh adanya kejadian proyek . Manfaat ini biasanya akan
dirasakan oleh orang yang ada di luar proyek itu. Keuntungan tidak langsung
ini bisa berupa:
c.
1.
Adanya efek multiplier (multiplier effects) dari suatu proyek
2.
Adanya skala ekonomis yang lebih besar.
Keuntungan Tidak Terukur (Intangible Benefits)
Intangible benefits yang dimaksud adalah suatu manfaat yang secara tak
langsung bisa dinikmati oleh masyarakat, tetapi rupanya sulit untuk dinilai
dalam bentuk uang. Jenis manfaat ini seperti berikut ini: (Pudjosumarto,
1985)
1.
Adanya perbaikan lingkungan (environments change)
2.
Bertambahnya pemandangan baru di suatu tempat, seperti tempat
rekreasi.
3.
Terciptanya distribusi pendapatan.
4.
Dan peningkatan pertahanan nasional.
II - 12
2.2.
2.2.1.
Umur Proyek
Umur Ekonomis
Sebagai ukuran umum dapat diambil suatu periode (jangka waktu) yang kira-kira
sama dengan umur ekonomis dari pada proyek. Yang dimaksudkan dengan umur
ekonomis suatu aset ialah jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut dapat
meminimumkan biaya tahunan dari padanya (Pudjosumarto, 1985).
2.2.2.
1.
Umur Teknis
Untuk proyek-proyek yang mempunyai investasi modal yang besar sekali,
lebih mudah untuk menggunakan umur teknis dari pada unsur-unsur pokok
investasi. Di dalam hal ini perlu diingat bahwa untuk proyek-proyek tertentu
umur teknis dari pada unsur-unsur pokok investasi adalah lama, tetapi umur
ekonomisnya dapat jauh lebih pendek karena absolescence (ketinggalan
jaman karena penemuan teknologi baru yang lebih efisien). Keadaan ini
banyak terdapat dalam proyek-proyek industri dan pengangkutan, tetapi
jarang terdapat dalam proyek-proyek pertanian.
2.
Pada bangunan penampung (reservoir), umur teknis dapat ditentukan oleh
berapa lama waktu pencapaian elevasi tampungan mati (dead storage) akibat
sedimentasi. Dalam penentuan umur teknis dengan analisis dead storage ini
diperlukan data observasi sedimentasi yang terjadi di titik lokasi reservoir.
3.
Metode probabilitas resiko (risk of failure) kejadian debit banjir rencana
periode ulang terlampaui dalam kurun waktu umur proyek.(VT. Chow,
1988)
1⎞
⎛
P(Q ≥ QT ) = 1 − ⎜1 − ⎟
T⎠
⎝
N
............................... Rumus 2. 1
P(Q≥QT) = Peluang kejadian QT terlampaui selama kurun waktu umur proyek /
resiko kehancuran konstruksi
T
= Periode ulang banjir rencana (tahun)
N
= Umur proyek (tahun)
II - 13
2.3.
Peramalan Debit Banjir
Tahapan dalam peramalan debit banjir adalah sebagai berikut :
a.
Uji abnormalitas data curah hujan dengan menggunakan uji Out-Liers (VT.
Chow, 1988) untuk mengetahui batas nilai minimum dan maksimum data
yang wajar.
b.
Melakukan uji konsistensi data curah hujan stasiun penakar hujan dengan
menggunakan metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) untuk
mengetahui adanya penyimpangan data hujan, sehingga dapat disimpulkan
apakah data tersebut layak dipakai dalam analisa hidrologi atau tidak.
c.
Menghitung curah hujan rerata daerah harian maksimum untuk menyusun
suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir.
Karena data cuma menggunakan satu stasiun curah hujan maka digunakan
data curah hujan maksimum rata-rata tiap tahunnya.
d.
Menghitung peluang curah hujan rencana untuk mengetahui besarnya curah
hujan terbesar tahunan dengan peluang tertentu menggunakan distribusi
Normal, Log Normal 2 parameter, Log Normal 3 parameter, Gumbel
(Extreme Value Type I), Frechet (Extreme Value Type II), Pearson III dan
Log Pearson III. Dari hasil perhitungan dilakukan uji frekuensi dengan
mengambil nilai delta maksimum terkecil dari berbagai distribusi tersebut
terhadap distribusi empiris (weibull).
e.
Melakukan uji kesesuaian distribusi terpilih untuk mengetahui kebenaran
suatu hipotesa dengan menggunakan uji Kolmogorof-Smirnov (K-S) dan uji
Chi Square ( χ2). Jika kedua uji distribusi frekuensi tersebut diterima, maka
besarnya curah hujan rencana tersebut juga dapat diterima.
f.
Analisa distribusi hujan jam-jaman untuk menghitung hidrograf banjir
rancangan dengan hidrograf satuan tertentu.
g.
Menentukan koefisien limpasan berdasarkan kondisi dan karakteristik DAS.
h.
Menghitung curah hujan netto jam-jaman untuk memperoleh besarnya curah
hujan total yang menghasilkan limpasan langsung (direct run-off), yang
terdiri dari limpasan permukaan dan limpasan bawah permukaan.
i.
Menghitung debit banjir rencana (rancangan) untuk mendapatkan debit
maksimum yang mungkin terjadi pada suatu daerah dengan peluang
II - 14
kejadian tertentu menggunakan hidrograf satuan sintetik metode, Nakayasu
dan Snyder.
2.3.1.
Uji Abnormalitas Data Curah Hujan
Uji Outliers Data
Data curah hujan maksimum tahunan yang diperoleh sebelum dilakukan analisis
distribusi harus dilakukan dulu uji abnormalitas. Uji ini digunakan untuk
mengetahui apakah data maksimum dan minimum dari rangkaian data yang ada
layak digunakan atau tidak (VT. Chow,1988). Adapun langkah perhitungannya
sebagi berikut :
1. Data diurutkan dari besar ke kecil atau sebaliknya (X)
2. Menghitung harga Y=Log X
3. Menghitung Y rerata
4. Menghitung Standar Deviasi Sy
5. Menentukan harga Kn sesuai jumlah data
Tabel 2. 1 Nilai Kn untuk uji Outlier
Sumber : VT. Chow, 1988
II - 15
6. Menghitung batas atas dan batas bawah harga abnormalitas data
YH = Y + Kn ⋅ S y
............................... Rumus 2. 2
XH = 10 YH
............................... Rumus 2. 3
YL = Y − Kn ⋅ S y
............................... Rumus 2. 4
X L = 10
YL
............................... Rumus 2. 5
7. Menentukan data yang dapat dipakai atau tidak dapat dipakai sesuai
dengan batas atas dan batas bawah abnormalitas data.
2.3.2.
Uji Konsistensi Data Curah Hujan
Uji Kosistensi Data Metode RAPS
Sebelum data hujan ini dipakai terlebih dahulu harus melewati pengujian untuk
kekonsistenan data tersebut. Metode yang digunakan adalah metode RAPS
(Rescaled Adjusted Partial Sums) (Buishand,1982).
Uji konsistensi dilakukan terhadap data curah hujan tahunan dengan tujuan untuk
mengetahui adanya penyimpangan data hujan, sehingga dapat disimpulkan apakah
data tersebut layak dipakai dalam analisa hidrologi atau tidak.
Pengujian konsistensi dengan menggunakan data dari stasiun itu sendiri yaitu
pengujian dengan komulatif penyimpangan terhadap nilai rata-rata dibagi dengan
akar komulatif rerata penyimpangan kuadrat terhadap nilai reratanya, lebih jelas
lagi bisa dilihat pada rumus di bawah:
S
∗
0
= 0
II - 16
............................... Rumus 2. 6
k
S = ∑( Yi −Y)
∗
k
............................... Rumus 2. 7
i =1
dengan k = 1,2,3,...,n
S
S ∗k
=
Dy
∗∗
k
∑ (Y
n
D 2y =
i =1
i
−Y
)
............................... Rumus 2. 8
2
............................... Rumus 2. 9
n
nilai statistik Q dan R
∗∗
Q = maks ⏐ S k ⏐ untuk 0 ≤ k ≤ n ............................... Rumus 2. 10
∗∗
R = maks S k - min
S∗∗
k ............................... Rumus 2. 11
Dengan melihat nilai statistik di atas maka dapat dicari nilai Q/√n dan R/√n. Hasil
yang didapat dibandingkan dengan nilai Q/√n syarat dan R/√n syarat, jika lebih
kecil maka data masih dalam batasan konsisten.
Tabel 2. 2 Nilai Statistik Q/√n dan R/√n
Tabel N ilai Q/n
n
10
20
30
40
10 0
0. 5
90%
1.05
1.10
1.12
1.14
1.17
1.22
0 .5
dan R/n
Q/n0 .5
95%
1.1 4
1.2 2
1.2 4
1.2 7
1.2 9
1.3 6
99%
1 .2 9
1 .4 2
1 .4 8
1 .5 2
1 .5 5
1 .6 3
S umber : Sr i Har t o, 19 93 : 1 68
2.3.3.
Analisis Frekuensi Curah Hujan
II - 17
90 %
1 .21
1 .34
1 .40
1 .44
1 .50
1 .62
R/n0 .5
9 5%
1 .28
1 .43
1 .50
1 .55
1 .62
1 .75
99%
1.38
1.60
1.70
1.78
1.85
2.00
Untuk menghitung debit banjir rancangan dari data curah hujan (rainfall runoff
method), harus dihitung terlebih dahulu besarnya curah hujan rancangan (RT).
Karena data curah hujan yang mewakili hanya dari satu stasiun hujan (point
rainfall), maka data tersebut dapat dianggap sebagai hujan wilayah (area rainfall).
Perhitungan analisis frekuensi dalam pekerjaan ini ditujukan untuk menghitung
curah hujan rencana yang nantinya digunakan untuk menghitung tinggi muka air
banjir rencana. Tinggi muka air banjir rencana ini berpengaruh dalam menentukan
tinggi embung. Ada 7 metode analisis frekuensi yang dipergunakan dalam kajian
ini yaitu distribusi Normal, Log Normal 2 Parameter, Log Normal 3 Parameter,
Gumbel, Frechet, Pearson III dan Log Pearson III. Metode dipilih berdasarkan
penyimpangan absolut |Dmax| yang terkecil.
Untuk memperkirakan besarnya debit banjir dengan kala ulang tertentu, terlebih
dahulu data-data hujan didekatkan dengan suatu sebaran distribusi, agar dalam
memperkiraan besarnya debit banjir tidak sampai jauh melenceng dari kenyataan
banjir yang terjadi. Adapun rumus-rumus yang dipakai dalam penentuan distribusi
tersebut antara lain :
n
∑( X - X )
2
i=1
S=
n-1
S
Cv =
n
(
)
3
............................... Rumus 2. 14
i =1
(n - 1) × (n - 2) × S
3
n
(
)
n2 × ∑ Xi- X
Ck =
............................... Rumus 2. 13
X
n × ∑ Xi - X
Cs =
............................... Rumus 2. 12
4
............................... Rumus 2. 15
i =1
(n - 1) × (n - 2) × (n - 3) × S
4
dimana :
II - 18
S
= standar deviasi
Cv
= koefisien keragaman
Cs
= koefisien kemencengan
Ck
= koefisien kurtosis
Penentuan distribusi teoritis terpilih untuk dilanjutkan pada uji data selanjutnya
adalah berdasarkan perbedaan (differences) maksimum masing-masing distribusi
teoritis terhadap distribusi empiris (weibull) dan dipilih lagi yang terkecil dari
perbedaan maksimum tadi.
2.3.3.1.
Distribusi Normal
Persamaan umum Distribusi Normal (Soewarno, 1995) adalah :
n
∑X
X=
∑ (X
i =1
i=1
............................... Rumus 2. 16
n
n
S=
i
i
−X
)
2
............................... Rumus 2. 17
n −1
X = X + t ⋅S
............................... Rumus 2. 18
X−X
S
............................... Rumus 2. 19
t =
dimana :
X
= data hujan harian maksimum tahunan (mm)
X
= rata-rata hujan harian maksimum tahunan (mm)
S
= standard deviasi dari rangkaian data (mm)
t
= faktor frekuensi dari Distribusi Normal
P'(X≤x) = peluang kumulatif sebagai fungsi t (interpolasi dari tabel kurva Normal)
P'(X≥x) = 1 - P'(X≤x)
Tabel 2. 3 Wilayah Luas Di Bawah Kurva Normal
II - 19
Download