31 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1

advertisement
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai Juwet yang memiliki luas
4105 Ha yang berada di 11 desa dalam 3 kecamatan yang meliputi :
Tabel 3.1 Luas Desa Tiap Kecamatan
Kecamatan
Gedangsari
Nglipar
Patuk
Desa
Sampang
Watugajah
Mertelu
Tegalrejo
Hargomulyo
Ngalang
Pilangrejo
Kedungpoh
Pengkol
Nglegi
Terbah
Luas (Ha)
61
256
770
40
1047
1064
93
22
297
335
120
Luas (%)
1,49
6,23
18,77
0,97
25,5
25,91
2,26
0,53
7,24
8,16
2,94
Model batasan wilayah berupa Daerah Aliran Sungai merupakan model
batasan yang paling sesuai saat ini dalam mengkaji suatu ekosistem lingkungan
dan mencari arahan penanganan yang timbul. Alasan pemilihan DAS Juwet
sebagai tempat penelitian adalah karena wilayah ini mempunyai karakteristik
lahan yang sangat bervariatif dan masih belum mendapat perhatian untuk
dilakukan konservasi lahan.
2. Waktu Penelitian
Waktu pembuatan proposal penelitian dilakukan selama 6 bulan dan
penelitian untuk pengambilan data primer maupun sekunder dilakukan selama 6
Bulan bertempat di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Gedangsari, Nglipar dan
Patuk.
31
32
Tabel 3.2 Jadwal Waktu Penelitian
Kegiatan
Juli –
Jan –
Juli –
Jan –
Jan –
Des ‘13
Juni ‘14
Des ‘14
Des ‘15
Mar ‘16
Penyusunan Proposal
Penyusunan Instrumen Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Penulisan Laporan Hasil Penelitian
B. Metode Penelitian
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan deskriptif spasial,
dengan satuan lahan sebagai satuan analisis. Penelitian deskriptif adalah penelitian
yang lebih mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan
sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun
kadang-kadang memberikan interpretasi atau analisis (Tika, 1997: 6). Spasial/
keruangan adalah suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan
eksistensi ruang sebagai penekanan. Cara pandang spasial inilah yang
mengharuskan penggunaan peta sebagai visualisasi hasil kajiannya.
Metode yang digunakan dalam pengambilan datanya adalah metode survei
yang didukung oleh data-data sekunder. Metode survei adalah suatu metode
penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah besar data berupa
variabel, unit atau individu dalam waktu yang bersamaan (Tika, 1997: 9). Metode
survei digunakan untuk mengetahui keadaan dilapangan sebagai pembaharuan
data sekunder dan untuk mendapatkan data dilapangan yang tidak diperoleh dalam
data sekunder
Analisis data spasial fungsi kawasan dan kemampuan lahan menggunakan
satuan analisis berupa satuan lahan. Satuan lahan digunakan untuk menganalisis
data-data spasial penentu fungsi kawasan dan kemampuan lahan yang kemudian
diwujudkan dalam bentuk peta fungsi kawasan dan peta kemampuan lahan.
Sebaran fungsi kawasan dan kemampuan lahan kemudian di hubungkan dengan
33
data spasial faktor-faktor fisik lahan kemudian digunakan untuk keperluan
evaluasi kesesuaian fungsi kawasan dan kemampuan lahan dengan penggunaan
lahan dan konservasi.
C. Sumber Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau
objek yang diteliti atau ada hubungannya dengan yang diteliti. (Tika, 1997: 67)
Dalam penelitian ini data primer diperoleh melalui observasi lapangan yang
berupa: data keadaan penggunaan lahan, ketebalan tanah, batuan permukaan,
kemiringan lereng, pemanfaatan lahan dan ketinggian.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah lebih dahulu dikumpulkan dan
dilaporkan oleh orang atau instansi diluar diri peneliti sendiri, walaupun data yang
dikumpulkan itu sebenarnya data yang asli (Tika, 1997: 67) Dalam penelitian ini
data sekunder yang diperlukan adalah:
1.
Data penggunaan lahan diperoleh dari Peta Rupabumi Digital Indonesia
skala 1 : 25.000 Tahun 2001 yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL
yang kemudian akan dilakukan pengecekkan dilapangan.
2.
Kemiringan lereng berupa citra DEM SRTM liputan Yogyakarta tahun
2008 yang dikeluarkan oleh CGIAR-CSI.
3.
Data formasi batuan dalam Peta Geologi Lembar Surakarta - Giritontro
skala 1 : 100.000 tahun 1992 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi.
4.
Data jenis tanah dalam peta tematik skala 1 : 100.000 yang diperoleh dari
BAPPEDA Kabupaten Gunungkidul.
5.
Data curah hujan tahun 2001-2011 diperoleh dari DPU Kabupaten
Gunungkidul.
34
D. Populasi dan Teknik Sampling
1. Populasi
Populasi adalah himpunan individu atau obyek yang banyaknya terbatas
atau tidak terbatas (Tika, 1997: 32). Maksud terbatas dalam hal ini adalah suatu
obyek atau individu yang dapat diukur atau diketahui dengan jelas jumlah maupun
batasnya. Sedangkan tidak terbatas adalah suatu individu maupun obyek yang
sulit diketahui jumlahnya walaupun batas wilayahnya diketahui. Dalam penelitian
ini yang dijadikan populasi adalah seluruh satuan lahan di Daerah Aliran Sungai
Juwet. Penentuan satuan lahan di Daerah Aliran Sungai Juwet ditentukan dengan
melakukan tumpangsusun (overlay) dari peta geologi, peta tanah, peta
penggunaan lahan, dan peta lereng. Dipilihnya satuan lahan sebagai satuan
analisis dan pemetaan karena setiap satuan lahan mencerminkan adanya pengaruh
sifat batuan, tanahnya, lereng dan penggunaan lahannya.
2. Teknik Sampling
Sampel merupakan sebagian dari objek atau individu-individu yang
mewakili suatu populasi (Tika, 1997: 33). Teknik pengambilan atau penentuan
sampel dilakukan dengan purposif sampling. Tika (1997: 53 - 54) menyatakan,
purposif sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dipilih secara cermat
dengan mengambil orang atau objek penelitian yang selektif dan mempunyai ciriciri yang spesifik.
Dalam penelitian ini diperoleh variasi karakteristik macam tanah,
kemiringan lereng dan penggunaan lahan tiap satuan lahan. Dari keseluruhan
jumlah satuan lahan tersebut kemudian dilakukan survei pada satuan lahan yang
memiliki kesamaan morfologi luar, sifat tanah, dan hasil deskripsi dilapangan.
Sampel yang di ambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 20 dari 58 satuan
lahan dengan mempertimbangkan kesamaan macam tanah dan kemiringan
lerengnya
35
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah upaya-upaya yang digunakan oleh
peneliti dalam mengumpulkan data. Beberapa teknik yang digunakan peneliti
dalam mengumpulkan data sebagai berikut:
1. Observasi Lapangan
Observasi lapangan atau pengamatan langsung dilapangan adalah cara dan
teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada obyek penelitian (Tika,
1997: 67). Tujuannya adalah mencari data-data yang diperlukan sekaligus untuk
mengecek kebenaran atas data-data yang telah didapatkan dengan keadaan
sesungguhnya di lapangan, diantaranya untuk mengetahui karakteristik fisik
daerah penelitian, pengambilan sampel tanah untuk analisis fisik tanah,
pengukuran
kemiringan
lereng,
pengamatan
pengelolaan
tanaman,
dan
penggunaan lahan.
2. Analisis Data Sekunder
Dalam
penelitian
ini
analisis
data
sekunder
digunakan
untuk
mengumpulkan data dengan menelaah segala bentuk catatan atau literatur yang
terkait dalam penelitian, termasuk di dalamnya peta. Data yang dikumpulkan
berupa data sekunder seperti peta tanah, peta penggunaan lahan, peta geologi, dan
data catatan kejadian hujan di Kabupaten Gunungkidul.
F. Validitas Data
Suatu penelitian dituntut untuk menghasilkan data yang valid. Untuk
memperoleh hasil penelitian yang valid perlu dilakukan teknik triangulasi.
Triangulasi adalah suatu metode untuk mengumpulkan data dengan cara
menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dengan maksud untuk
memperoleh tingkat kebenaran yang tinggi (Yunus, 2010: 409). Bentuk
triangulasi data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan triangulasi
sumber yang berupa data dari peta yang sudah ada seperti peta RBI, peta tanah,
peta topografi, peta kemiringan lereng, peta geologi. Dari data tersebut kemudian
36
dilakukan pengecekan di lapangan berdasarkan data yang sudah diperoleh
sebelumnya seperti dilakukan pengecekan peta tanah dengan membuat lubang
untuk mengetahui profil tanah pada lokasi yang telah ditentukan untuk diketahui
kebenarannya dilapangan apakah sama dengan yang ada pada peta.
G. Teknik Analisis Data
Menurut Sofyan Effendi, Analisis data adalah proses penyederhanaan data
kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan (1987: 263). Jadi
teknik analisis data adalah proses penyederhanaan data dengan mengurutkan data
kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga lebih mudah di baca dan
diinterpretasikan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data sekunder
sebagai dasar analisis penelitian.
Dalam
penelitian
ini
data
yang
diperoleh
diorganisasikan
dan
dikategorikan menurut satuan lahan. Persebaran satuan lahan dalam daerah
penelitian diperoleh dengan menumpangsusunkan (overlay) Peta Tanah, Peta
Geologi, Peta Kemiringan Lereng dan Peta Penggunaan Lahan. Setiap satuan
lahan dilakukan pengenalan sifat dan karakteristik lingkungan fisik dengan
menggunakan data primer dan sekunder untuk penentuan fungsi kawasan dan
kesesuaiannya dengan penggunaan lahan dan konservasi yang ada.
Berikut ini adalah contoh penyusunan dan cara pembacaan karakteristik
lahan dalam suatu satuan lahan.
Qvjb – Li – IV – Kb
Satuan lahan
Penggunaan lahan
Contoh
- Kebun
Lereng
- Kelas IV
Jenis tanah
- Litosol
Batuan
- Qvjb
37
1. Fungsi Kawasan dan Kemampuan Lahan
A. Fungsi Kawasan
Fungsi kawasan suatu wilayah dilakukan dengan pemberian scoring dari
tiga parameter yaitu jenis tanah, lereng, dan intensitas hujan melalui pendekatan
satuan lahan. Satuan lahan digunakan karena karakteristik satuan lahan
berpengaruh terhadap arahan konservasi yang akan direkomendasikan.
1. Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng menunjuk pada topografi suatu daerah yang memiliki
karakteristik yang berbeda-beda sehingga perlu mendapat perlakuan yang berbeda
pula. Berikut table klasifikasi dan skoring tiap faktor penentu yang telah
dikeluarkan oleh SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No.
683/Kpts/Um/8/1981 :
Tabel 3.3 Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Kelerengan Lapangan
Kelas
Kelerengan (%)
Klasifikasi
Nilai Skor
I
II
III
IV
V
0–8
8 – 15
15 – 25
25 – 40
> 40
Datar
Landai
Agak Curam
Curam
Sangat Curam
20
40
60
80
100
2. Jenis Tanah
Jenis tanah diperoleh dari pengolahan peta tematik jenis tanah Kebupaten
Gunungkidul skala 1 : 100.000. Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Jenis Tanah
Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi akan ditunjukkan pada tabel 3.4
3. Intensitas Hujan
Intensitas hujan rata-rata harian diperoleh dari
Rata-rata curah hujan
tahunan dibagi Rata-rata hari hujan tahunan. Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor
Intensitas Hujan Harian akan ditunjukkan pada tabel 3.5
38
Tabel 3.4 Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Jenis Tanah Menurut Kepekaannya
Terhadap Erosi
Kelas
I
II
III
IV
V
Kelerengan (%)
Aluvial,Glei,
Planosol,Hidromerf,
Laterik air tanah
Latosol
Brown forest soil,
non calcic brown
mediteran.
Andosol,Laterit,
Grumusol,Podsol,
Podsolic.
Regosol,Litosol,
Organosol,Rensina.
Klasifikasi
Nilai Skor
Tidak peka
15
Kurang peka
30
Agak peka
45
Peka
Sangat peka
60
75
Tabel 3.5 Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Intensitas Hujan Harian
Kelas
I
II
III
IV
V
Intensitas Hujan
(mm/hari)
0 – 13,6
13,6 – 20,7
20,7 – 27,7
27,7 – 34,8
> 34,8
Klasifikasi
Nilai Skor
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
10
20
30
40
50
Untuk menentukan fungsi kawasan tiap satuan lahan dilakukan teknik
skoring. Teknik scoring adalah memberikan nilai (score) terhadap masalah
dengan
menggunakan ukuran (parameter) tertentu. Menurut Pedoman
Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan & Konservasi tahun 1980, fungsi kawasan
diklasifikasikan pada tabel 3.6
39
Tabel 3.6 Penentuan Fungsi Kawasan
Kelas
I
II
III
IV
Fungsi Kawasan
Lindung
Penyangga
Produksi Tanaman Tahunan
Produksi Tanaman Semusim dan Permukiman
Skor / Nilai
> 175
125 – 174
< 124 + lereng > 8%
< 124 + lereng < 8%
Hasil scoring dari tiap satuan lahan kemudian di buat kedalam Peta Fungsi
Kawasan untuk mengetahui sebaran tiap fungsi kawasan dalam DAS Juwet.
B. Kemampuan Lahan
Kemampuan lahan diklasifikasikan dalam 8 kelas kemampuan lahan.
Untuk menentukan kelas setiap lahan menggunakan beberapa parameter menurut
Arsyad (2010: 318) yaitu: Kecuraman lereng, Erosi, Kedalaman tanah, Tekstur
tanah, Permeabilitas, Drainase, dan Faktor-faktor khusus (kerikil, batuan kecil,
batuan lepas, batuan tersingkap, dan ancaman banjir/genangan).
Dari hasil pengambilan data dilapangan kemudian diklasifikasikan
menurut parameter-parameter tersebut diatas untuk menentukan kelas kemampuan
lahannya. Untuk menghubungkan antara kelas kemampuan lahan dengan
parameter diperoleh dari kriteria-kriteria dalam tiap kelas kemampuan lahan yang
dihubungkan kedalam beberapa parameter. Pengklasifikasian ini dilakukan pada
tiap satuan lahan dengan metode matching / mencocokkan sifat dan karakteristik
lahan yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan kriteria klasifikasi lahan untuk
mengetahui kemampuan lahannya. Proses penentuan kelas kemampuan lahan
didasari dengan sifat dasar dan karakteristik terendah dari hasil pengukuran
dilapangan. Berikut tabel Kriteria Klasifikasi Kemampuan Lahan menurut faktor
penghambatnya menurut Arsyad (2010: 346) :
40
Tabel 3.7 Kriteria Klasifikasi Kemampuan Lahan
Kelas
Faktor Penghambat
Kemampuan
Lereng Kepekaan Kedalaman Drainase Kerikil/ Ancaman
Lahan
(%)
Erosi
Tanah
Batuan
Banjir
I
A
KE1, KE2
k0
d1
b0
o0
II
B
KE3
k1
d2
b0
o1
III
C
KE4, KE5
k2
d3
b1
o2
IV
D
KE6
k3
d4
b2
o3
V
A
*
*
d5
b3
o4
VI
E
*
*
**
*
**
VII
F
*
*
**
*
**
VIII
G
*
*
d0
b4
*
Keterangan: * : dapat memiliki beragam sifat ** : tidak berlaku
Dari hasil matching pada tiap satuan lahan kemudian dibuat kedalam Peta
Kemampuan Lahan DAS Juwet untuk mengetahui sebaran kemampuan lahan
pada tiap satuan lahan.
2. Kesesuaian Penggunaan Lahan
A. Kesesuaian Penggunaan Lahan dengan Fungsi Kawasan
Kesesuaian fungsi kawasan dilakukan dengan menumpangsusunkan
(overlay) antara peta Fungsi Kawasan dan peta penggunaan lahan. Dari hasil
tumpang susun ini akan dihasilkan peta analisis yang memvisualkan sebaran
penggunaan lahan yang sesuai maupun tidak sesuai dengan fungsi kawasannya.
Data jenis penggunaan lahan aktual diperoleh dari peta penggunaan lahan
dan hasil cek di lapangan. Evaluasi kecocokan penggunaan lahan aktual dengan
fungsi kawasan lahan dilakukan dengan cara tumpangsusun peta penggunaan
lahan dengan peta fungsi kawasan lahan. Dari evaluasi ini dapat diketahui satuan
lahan yang penggunaan lahan aktualnya tidak cocok dengan fungsi kawasan
41
lahan, yang selanjutnya satuan lahan tersebut perlu dilakukan
arahan fungsi
pemanfaatan lahan. Penilaian kesesuaian antara penggunaan lahan aktual terhadap
fungsi kawasan lahan DAS Juwet dapat dilihat pada tabel 3.8
Tabel 3.8 Matrik Penilaian Kecocokan Penggunaan Lahan Aktual dengan Fungsi
Kawasan Lahan.
Fungsi Kawasan
1
Permukiman
TC
TC
Budidaya
Tanaman
Tahunan
TC
2
Perkebunan/ Kebun
TC
C
C
C
3
Sawah
TC
TC
TC
C
4
Semak Belukar
TC
TC
*
*
5
Sungai
*
*
*
*
6
Tegalan/ Ladang
TC
TC
TC
C
No
Penggunaan Lahan
Lindung Penyangga
Budidaya
Tanaman
Semusim
C
Keterangan : C : cocok; TC = tidak cocok; * tidak dinilai kecocokannya (Sumber :
Modifikasi dari Luntungan dalam Muryono, 2008: 41)
B. Kesesuaiaan Kemampuan Lahan dengan Penggunaan Lahan
Kesesuaian kemampuan lahan dilakukan dengan menumpangsusunkan
peta kemampuan lahan dengan penggunaan lahan. Dari hasil tumpangsusun
kemudian diperoleh data analisis berupa penggunaan lahan yang sesuai dan tidak
sesuai dengan kemampuan lahan.Data penggunaan lahan diperoleh dari survei/cek
lapangan yang kemudian data yang diperoleh digunakan untuk mengevaluasi base
map yang diperoleh dari peta RBI. Evaluasi kemudian dilakukan untuk
mencocokan antara kemampuan lahan dengan penggunaan lahan yang ada. Dari
evaluasi ini kemudian diperoleh lahan yang sesuai maupun tidak sesuai dengan
kemampuan lahannya. Kemudian yang tidak sesuai tersebut dilakukan arahan
penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahannya.Setelah dilakukan
pengklasifikasian setiap satuan lahan kedalam kelas kemampuan lahan kemudian
dihubungkan dengan intensitas dan macam penggunaan lahan yang sesuai sebagai
arahan penggunaan lahan seperti dalam tabel 3.9
42
Tabel 3.9 Skema Hubungan antara Kelas Kemampuan Lahan dengan Intensitas
dan Macam Penggunaan Lahan (Arsyad, 2010: 319)
dan pilihan penggunaan berkurang
Hambatan meningkat, Kesesuaian
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
C. Kesesuaian Penggunaan Lahan dengan Fungsi Kawasan dan Kemampuan
Lahan
Dari fungsi kawasan dan kemampuan lahan kemudian dilakukan
penyelarasan untuk menentukan penggunaan lahan yang sesuai dengan keduanya.
Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih sesuai dan baik untuk
arahan penggunaan lahan.
Berikut matriks yang coba dibuat untuk menyelaraskan antara fungsi
kawasan dengan kemampuan lahan untuk arahan penggunaan lahan dalam tabel
3.10
Garapan
sangat intensif
Garapan
intensif
Garapan
sedang
Garapan
terbatas
Pengembalaan
intensif
Pengembalaan
sedang
Hutan
produksi
terbatas
Pengembalaan
terbatas
Cagar
alam/Hutan
Kelas Kemampuan
Lahan
Intensitas dan Pilihan Penggunaan Meningkat
43
Tabel 3.10 Matriks Arahan Penggunaan Lahan
Kelas Kemampuan
Lahan
Kelas Kemampuan
Lahan I
Kelas Kemampuan
Lahan II
Kelas Kemampuan
Lahan III
Kelas Kemampuan
Lahan IV
Fungsi Kawasan
Kawasan Budidaya
Tanaman Semusim dan
Permukiman
Kawasan Budidaya
Tanaman Tahunan
Kawasan Budidaya
Tanaman Semusim dan
Permukiman
Kawasan Budidaya
Tanaman Tahunan
Kawasan Budidaya
Tanaman Semusim dan
Permukiman
Kawasan Budidaya
Tanaman Tahunan
Kawasan Penyangga
Kawasan Lindung
Kawasan Penyangga
Kelas Kemampuan
Lahan V
Kawasan Lindung
Kawasan Penyangga
Kelas Kemampuan
Lahan VI
Kawasan Lindung
Kawasan Penyangga
Kelas Kemampuan
Lahan VII
Kawasan Lindung
Arahan Penggunaan
Lahan
Permukiman,Perkebunan/
Kebun,Sawah,Tegalan/
Ladang
Perkebunan/ Kebun
Permukiman,Perkebunan/
Kebun,Sawah,Tegalan/
Ladang
Perkebunan/ Kebun
Permukiman,Perkebunan/
Kebun,Sawah,Tegalan/
Ladang
Perkebunan/ Kebun
Kawasan Hutan Produksi
Terbatas, Kawasan Hutan
Produksi Konversi,
Kawasan Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
Konversi, Kawasan
Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
Terbatas, Kawasan Hutan
Produksi Konversi,
Kawasan Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
Konversi, Kawasan
Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
Terbatas, Kawasan Hutan
Produksi Konversi,
Kawasan Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
Konversi, Kawasan
Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
Terbatas, Kawasan Hutan
Produksi Konversi,
Kawasan Hutan Lindung
Kawasan Hutan Produksi
44
Konversi, Kawasan
Hutan Lindung
Kawasan Penyangga
Kawasan Hutan Lindung,
Kawasan Hutan Produksi
Terbatas + Konservasi
Kelas Kemampuan
Lahan VIII
Kawasan Lindung
Kawasan Hutan Lindung,
Kawasan Hutan Produksi
Konversi + Konservasi
Sumber : Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) Departemen
Kehutanan menurut SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan Arsyad
(2010: 324 - 329)
3. Arahan Konservasi Lahan
Konservasi lahan dilakukan dengan mengacu dari data yang diolah yang
menunjukan ketidaksesuaiaan antara penggunaan lahan dengan fungsi kawasan
dan kemampuan lahannya. Arahan konservasi lahan ini dilakukan secara normatif
dan tidak mutlak serta didasarkan pada kondisi fisik setiap satuan lahan dan belum
mempertimbangkan faktor sosial ekonomi dan kepemilikan lahan secara rinci
dilapangan.
Pelaksanaan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah untuk masing-masing
kawasan harus mempertimbangkan karakteristik fisik pada masing-masing satuan
lahan. Berikut beberapa teknik konservasi tanah yang dapat digunakan dengan
mempertimbangkan karakteristik lahannya
Tabel 3.11 Upaya Konservasi Tanah secara Vegetatif
Teknik konservasi
tanah
Penghutanan kembali
Wanatani
Strip rumput
Karakteristik lahan
Penghutanan kembali biasanya dilakukan pada
lahan-lahan kritis yang diakibatkan oleh bencana
alam misalnya kebakaran, erosi, abrasi, tanah
longsor,
dan
aktifitas
manusia
seperti
pertambangan, perladangan berpindah, dan
penebangan hutan.
Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng
curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat
erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan
apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami
tanaman semusim.
Teknik konservasi dengan strip rumput sangat
efektif untuk lahan dengan lereng di bawah 20%
45
biasanya menggunakan rumput yang didatangkan
dari luar areal lahan, yang dikelola dan sengaja
ditanam secara strip menurut garis kontur untuk
mengurangi aliran permukaan.
Barisan sisa tanaman
Untuk daerah berlereng biasanya ditumpuk
mengikuti garis kontur. Penumpukan ini dapat
megurangi erosi dan menahan laju aliran
permukaan.
Tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah adalah tanaman yang biasa
ditanam pada lahan kering dan dapat menutup
seluruh permukaan tanah
Penerapan pola tanaman Pola tanam adalah sistem pengaturan waktu tanam
dan jenis tanaman sesuai dengan iklim, kesesuaian
tanah dengan jenis tanaman, luas lahan,
ketersediaan tenaga, modal, dan pemasaran. Pola
tanam berfungsi meningkatkan intensitas penutupan
tanah dan mengurangi terjadinya erosi.
Pergiliran tanaman
Pergantian tanaman ada yang dilakukan secara
intensif dimana setelah panen tanaman pertama
kemudian langsung ditanami tanaman kedua dan
ada pula yang dibatasi periode bera. Daerah yang
memiliki musim kering <4 bulan sangat baik untuk
menerapkan sistem ini.
Tumpang sari
Sistem tumpang sari sebagian besar dikelola pada
pertanian lahan kering yang hanya menggantungkan
air hujan sebagai sumber air utama. Sistem
tumpang sari adalah salah satu usaha konservasi
tanah yang efektif dalam memanfaatkan luas lahan.
Tumpang gilir
Pada sistem ini, tanaman kedua ditanam menjelang
panen tanaman musim pertama. Sistem ini
diterapkan
untuk
mempertinggi
intensitas
penggunaan lahan. Penanaman tanaman kedua
sebelum tanaman pertama dipanen dimaksudkan
untuk mempercepat penanamannya dan masih
mendapatkan air hujan yang cukup untuk
pertumbuhan dan produksinya.
Sumber : Monograf Balai Penelitian Tanah Departemen Pertanian
(Subagyono, dkk, 2003: 7)
Tabel 3.12 Upaya Konservasi Tanah secara Mekanik
Teknik konservasi
tanah
Teras bangku
Karakteristik lahan
Tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan
>40% karena bidang olah akan menjadi sempit.
Tidak cocok pada lahan usaha yang menggunakan
46
mesin pertanian. Tidak cocok pada tanah
dangkal(<60cm).
Teras guludan
Teras guludan cocok untuk kemiringan lahan antara
10% – 40%. Pada tanah yang permeabilitasnya
tinggi, guludan dapat dibuat tepat menurut arah
garis
kontur,
sedangkan
tanah
yang
permeabilitasnya rendah guludan dibuat miring
terhadap kontur.
Teras kredit
Kemiringan 5% – 40%, permeabilitas tinggi, dapat
diterapkan pada tanah dangkal (40cm) namun tidak
disarankan apabila terlalu dangkal.
Teras individu
Tidak perlu searah kontur, kedalaman tanah 10cm –
30cm, ukurannya berkisar antara 50cm – 100cm.
Rorak
Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong
lereng, jarak horizontal berkisar antara 20m pada
lereng yang landai dan agak miring sampai 10m
pada lereng yang lebih curam.
Barisan batu
Dibuat mengikuti kontur dan dapat diterapkan pada
tanah-tanah berbatu, sehingga barisan batu ini juga
bisa digunakan untuk memperluas bidang olah.
Saluran pengelak
Dibuat searah kontur dengan ukuran saluran yang
ditentukan oleh jumlah aliran permukaan yang akan
dialirkan.
Saluran teras
Pada teras bangku terletak dekat perpotongan antara
bidang olah dan tampingan teras, sedangkan pada
teras guludan terletak tepat diatas guludan.
Saluran pembuangan air
Dibuat searah lereng atau berdasarkan cekungan
alami. Pada lahan dengan kemiringan >15% harus
dilengkapi dengan bangunan terjunan yang
berfungsi mengurangi kecepatan aliran air.
Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat
Departemen Pertanian (Dariah, dkk, 2004: 103)
Pada hakikatnya konservasi lahan yang dilakukan merupakan upaya-upaya
pengembalian produktifitas lahan dan pengawetan tanah (konservasi tanah), yang
dilakukan dengan cara vegetatif maupun secara mekanik. Arahan konservasi lahan
dalam penelitian ini menggunakan pedoman dari rekomendasi rehabilitasi lahan
dan konservasi tanah pada setiap fungsi kawasan seperti yang telah tercantum
dalam Tabel 2.1 Bab II. Selain itu untuk memutuskan arahan konservasi yang
tepat untuk tiap satuan lahannya diperlukan pertimbangan dari analisis
karakteristik fisiknya seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3.11 dan Tabel 3.12
47
Kelas Kemampuan Lahan
Kelas Kemampuan Lahan I
Kelas Kemampuan Lahan II
Kelas Kemampuan Lahan III
Kelas Kemampuan Lahan IV
Kelas Kemampuan Lahan V
Kelas Kemampuan Lahan VI
Kelas Kemampuan Lahan VII
Kelas Kemampuan Lahan VIII
Penggunaan Lahan
Permukiman
Perkebunan/ Kebun
Sawah
Semak Belukar
Sungai
Tegalan/ Ladang
Fungsi Kawasan
Kawasan Lindung
Kawasan Penyangga
Kawasan Budidaya Tahunan
Kawasan Budidaya Musiman
Tidak Sesuai
Dilakukan arahan
konservasi
Sesuai
Tidak dilakukan arahan
konservasi
Mekanik
Vegetatif
Gambar 3.1 Diagram penentuan arahan konservasi menurut fungsi kawasan dan
kemampuan lahannya
Pada penelitian ini arahan konservasi dilakukan dengan pendekatan
karakteristik satuan lahan. Arahan konservasi lahan dikelompokkan berdasarkan
kesesuaian penggunaan lahan terhadap fungsi kawasan dan kemampuan lahan.
Berikut ini adalah simbol arahan konservasi yang akan diaplikasikan di setiap
satuan lahan pada peta arahan konservasi tanah agar mudah dalam membaca dan
memahami :
Arahan Konservasi = ( FK/ KL,FP )
PL ( AV+ AM )
48
Keterangan :
FK : Fungsi kawasan lahan yang meliputi :
KL
: Kawasan Lindung
KP
: Kawasan Penyangga
KBTT : Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan
KBTS : Kawasan Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman
KL : Kelas kemampuan lahan yang meliputi :
I
: Kelas kemampuan lahan I
II
: Kelas kemampuan lahan II
III
: Kelas kemampuan lahan III
IV
: Kelas kemampuan lahan IV
V
: Kelas kemampuan lahan V
VI
: Kelas kemampuan lahan VI
VII
: Kelas kemampuan lahan VII
VIII
: Kelas kemampuan lahan VIII
FP : Faktor Pembatas
e
: Faktor pembatas erosi
w
: Faktor pembatas drainase
s
: Faktor pembatas perakaran
c
: Faktor pembatas iklim
PL : Penggunaan lahan aktual yang meliputi :
Pmk
: Permukiman
Sw
: Sawah
Kb
: Perkebunan/Kebun
Sb
: Semak Belukar
Tg
: Tegalan/Ladang
Ht
: Hutan
AV : Arahan konservasi secara vegetatif yang meliputi :
r
: Reboisasi
hr
: Hutan rakyat
wt
: Wanatani (agroforestry)
kb
: Perkebunan
49
AM : Arahan konservasi secara mekanik yang meliputi :
spa
: Saluran pembuangan air
tg
: Teras guludan
tb
: Teras bangku
sd
: Saluran air drainase
H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan penjelasan mengenai proses kegiatan yang
dilakukan selama melakukan penelitian dari awal sampai akhir. Dalam penelitian
mengenai DAS Juwet ini tahap-tahap penelitian yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
1. Persiapan
Pada tahap persiapan ini meliputi beberapa tahap yaitu berupa penentuan
obyek penelitian, dalam arti daerah penelitian maupun dalam arti topik penelitian.
Pengamatan
terhadap
permasalahan-permasalahan
yang
ada,
kemudian
dilanjutkan dengan studi literatur yang berkaitan dengan obyek penelitian, dan
survey ketersediaan data. Obyek penelitian yang digunakan adalah DAS dan
permasalahan yang ada adalah longsor, pertambangan bahan galian C, dan
perubahan penggunaan lahan.
2. Penyusunan Proposal Penelitian
Tahap ini merupaka tindak lanjut dari tahap persiapan, yaitu berupa
kegiatan merumusan permasalahan, tujuan, dan manfaat dari penelitian kedalam
sebuah proposal penelitian. Selain itu juga mengkaji teori-teori pendukung untuk
menfokuskan masalah penelitian. Masalah yang akan dikaji adalah fungsi
kawasan, kemampuan lahan, dan arahan konservasi yang bertujuan untuk
memperbaiki penggunaan lahan yang tidak sesuai selain untuk mengurangi resiko
bencana juga untuk memperbaiki wilayah tersebut agar terjaga kelestariannya.
50
3. Penyusunan Instrumen
Tahapan ini adalah tahapan sebelum melakukan pengumpulan data,
dengan cara membuat instrumen penelitian, termasuk pembuatan peta satuan
lahan tentatif dan penentuan lokasi sampel. Satuan unit yang digunakan dalam
penelitian ini adalah satuan lahan sehingga dibutuhkan beberapa data dalam
penyusunannya. Data yang dibutuhkan adalah jenis tanah, kelerengan, curah
hujan, struktur batuan, dan penggunaan lahan aktual.
4. Pengumpulan Data
Pada tahap ini beberapa kegiatan dilakukan yaitu pengumpulan data
sekunder, pengumpulan data primer, melakukan pengamatan serta pengukuran
karakteristik lahan pada setiap satuan lahan. Data primer yang dikumpulkan
adalah data penggunaan lahan aktual, keadaan wilayah, kelerengan, drainase, dan
potensi banjir. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber antara lain literatur,
penelitian sebelumnya yang memiliki kemiripan, Keputusan Presiden, Undangundang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah, Data curah
hujan dari DPU, dan beberapa halaman website dari internet.
5. Analisis Data
Pada tahap ini data dan informasi yang telah terkumpul baik dari observasi
dan pengukuran lapangan, maupun data pendukung lainnya disusun ataupun
diorganisir , kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis yang telah
ditentukan sebelumnya secara cermat dan teliti untuk mendapatkan hasil
penelitian. Sebelum menganalisis hasil penelitian dilakukan penyusunan satuan
lahan yang menjadi unit penelitian. Untuk menyusun satuan lahan diperlukan
beberapa data yaitu data geologi, jenis tanah, kelerengan, dan penggunaan lahan
yang kemudian dioverlay menggunakan software ArcGIS 10. Setelah mempunyai
data satuan lahan kemudian dilakukan penyusunan data fungsi kawasan dan
kemampuan lahan yang diperoleh dari analisis data primer dan sekunder. Hasil
dari penyusunan data fungsi kawasan dan kemampuan lahan selanjutnya akan
dioverlay dengan data penggunaan lahan aktual yang diperoleh dari pengamatan
51
di lapangan. Hasil overlay fungsi kawasan dan kemampuan lahan dengan
penggunaan lahan akan menghasilkan kesesuaian dan ketidaksesuaian yang
selanjutnya akan diarahkan ke konservasi.
6. Penyusunan Laporan Penelitian
Tahapan terakhir dari penelitian ini adalah penulisan laporan hasil
penelitian. Laporan disajikan dalam bentuk deskriptif spasial dengan dilengkapi
atau disajikan dalam bentuk tulisan, tabel, gambar, dan peta yang merupakan hasil
dari penelitian. Sumber data jenis tanah, geologi, kelerengan, dan penggunaan
lahan dikonversi menjadi peta dasar untuk menyusun peta satuan lahan. Tahap
selanjutnya adalah menyusun hasil analisis data primer dengan data sekunder
untuk menentukan hasil pengklasifikasian yang berupa data fungsi kawasan dan
kemampuan lahan. Setelah memiliki data fungsi kawasan dan kemampuan lahan
kemudian akan dilakukan analisis kesesuaian dengan penggunaan lahan yang
diperoleh dari
pengamatan dilapangan
yang kemudian akan
diketahui
ketidaksesuaiannya. Analisis kesesuaian tersebut akan menjadi tolak ukur dalam
pengarahan konservasi.
Download