gambaran pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksualitas

advertisement
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HUBUNGAN
SEKSUALITAS SELAMA MASA KEHAMILAN
Rachel Dwi Wilujeng*
*Akademi Kebidanan Griya Husada, Jl. Dukuh Pakis Baru II no.110 Surabaya
Email : [email protected]
ABSTRAK
Pendahulaun: Hubungan seksual aman dilakukan bila kehamilan dalam kondisi normal dan sehat
(Hartuti, 2010). Dari hasil survey awal yang dilakukan di RB Bunda Medika-Taman Sepanjang,
Sidoarjo terhadap 15 orang ibu hamil didapatkan hasil sebanyak 8 (53,3%) orang tidak melakukan
hubungan seksual dan berpengetahuan rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi
pengetahuan Ibu hamil tentang hubungan seksual selama masa kehamilan di RB. Bunda Medika Taman Sepanjang, Sidoarjo. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan
menggunakan populasi sebanyak 125 orang ibu hamil dan sampel sebanyak 56 orang ibu hamil dipilih
secara accidental sampling. ). Hasil penelitian dibuat tabel frekuensi kemudian ditabulasi silang dan
ditarik kesimpulan. Hasil: Hasil penelitian didapatkan mayoritas ibu hamil berpengetahuan kurang
(76,79%) dan mayoritas ibu hamil melakukan hubungan seksual (67,86%). Dilakukan tabulasi silang
dan didapatkan hasil mayoritas ibu hamil dengan pengetahuan baik dan sedang melakukan hubungan
seksual (100%) dibandingkan ibu hamil dengan pengetahuan kurang (41,86%) tidak melakukan
hubungan seksualitas selama kehamilan.. Diskusi: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas ibu hamil
dengan pengetahuan baik dan sedang melakukan hubungan seksual dibandingkan . ibu hamil dengan
pengetahuan kurang (41,86%) tidak melakukan hubungan seksualitas selama kehamilan. Sehingga
diharapkan adanya komunikasi, keterbukaan, dukungan dan pengertian diantara pasangan suami istri
serta komunikasi dengan petugas kesehatan untuk memperoleh infomasi tentang cara dan posisi
hubungan seksual selama kehamilan sehingga kebutuhan psikologis suami istri terpenuhi.
Kata Kunci : Pengetahuan, Hubungan Seksualitas
PENDAHULUAN
Kehamilan adalah masa dengan banyak
perubahan bagi sepasang suami istri, tak
terkecuali dengan hubungan seksual. Pada
masa ini ibu hamil dan pasangan mungkin
mengalami perubahan emosi dan perasaan
berbeda pada masa-masa itu, bahkan tidak
jarang menjadi labil sehingga komunikaasi
merupakan hal yang terpenting untuk
dilakukan sejak kehamlan muda. Berhubungan
seks di masa kehamilan memicu banyak
pertanyaan,
meskipun
secara
medis
berhubungan selama hamil tidak menjadi
masalah selama kehamilan tersebut dalam
kondisi aman (Hartuti, 2010:30)
Banyak pasangan suami istri yang takut
melakukan hubungan seksual saat istrinya
hamil. Mitos-mitos yang beredar di
masyarakat mengenai hubungan seksual saat
hamil dan ketidaknyamanan dari istri yang
membuat pasangan suami istri enggan bahkan
takut untuk melakukan hubungan seksual.
Beberapa mitos yang beredar di masyarakat
mengenai hubungan seksual saat hamil dan
fakta yang benar antara lain; mitos bahwa
melakukan
hubungan
seksual
akan
menyebabkan keguguran dan melukai janin.
Faktanya pada kehamilan normal, hubungan
seksual tidak akan menyebabkan keguguran
atau melukai janin, karena janin berada dalam
kantong ketuban yang kuat. Selain itu, lendir
produktif yang melapisi mulut rahim juga
menjadi sawar apabila ada kuman yang masuk;
mitos bahwa orgasme akan menyebabkan
keguguran atau kelahiran prematur. Faktanya
orgasme memang akan membuat perut
berkontraksi karena adanya pengaruh dari
hormon prostaglandin di dalam cairan semen.
Namun kontraksi ini berbeda dengan kontraksi
menjelang persalinan dan kontraksi ini tidak
berbahaya untuk kehamilan normal; Mitos
bahwa hubungan seksual akan mengganggu
kenyamanan “tidur” bayi. Fakta sebenarnya
janin menikmati “goyangan lembut” saat
pasangan suami istri melakukan hubungan
seksual. Janin tidak dapat melihat, mengerti
dan merasakan apa yang terjadi. Jadi gerakan
janin yang dirasakan itu adalah gerakan yang
wajar; mitos bahwa hungan seksual akan
menyebabkan infeksi pada janin. Faktanya
44
selama kehamilan itu normal dan dari pihak
suami maupun istri tidak menderita penyakit
infeksi seperti gonorea atau sifilis, hubungan
seksual tidak akan menyebabkan infeksi pada
janin. Selain itu juga, janin dilindungi oleh
cairan ketuban yang berfungsi sebagai
pelindung (Rahmawati, 2010)
Sebuah pengkajian menemukan bahwa
sebanyak 54% Ibu hamil mengalami
penurunan libido pada trimester pertama
(Murkoff, H 2006: 307). Penelitian lain
menyebutkan bahwa 80% ibu hamil
merasakan dorongan dan reaksi seksualnya
meningkat pada trimester kedua (Danarti, D
2010:70). Pada satu kelompok wanita, hanya
21% yang tidak mengalami atau sedikit
mengalami
kenikmatan
seks
sebelum
kehamilan. Presentasi wanita yang tidak
mengalami kenikmatan seksual ini meningkat
menjadi 41% pada minggu ke 12 kehamilan
dan 59% saat memasuki bulan kesembilan.
Penelitian yang sama menunjukkan bahwa
pada minggu ke 12 kehamilan, kira-kira 1 dari
10 pasangan sama sekali tidak melakukan
hubungan
seksual
memasuki
bulan
kesembilan, sepertiganya menjalani pantang
seksual (Murkoff, H 2006:308).
Berdasarkan survei awal yang dilakukan
peneliti terhadap 15 orang Ibu hamil tanggal
22 Agustus 2013 di RB Bunda Medika
diketahui bahwa 7 orang (46,6%) mengatakan
melakukan hubungan seksual. Dari 7 orang
yang mengatakan melakukan hubungan
seksual
diketahui
3
orang
(20%)
berpengetahuan tinggi dan 4 orang (26,6%)
berpengetahuan sedang. Dan sisanya lagi
sebanyak 8 orang (53,3%) mengatakan tidak
melakukan hubungan seksual. Dari 8 orang
yang mengatakan tidak melakukan hubungan
seksual didapatkan semuanya berpengetahuan
rendah. Dari hasil survey awal di atas
didapatkan bahwa sebagian besar ibu hamil (8
orang) tidak melakukan hubungan seksual dan
setelah diberi kuesioner ternyata pengetahuan
mereka tentang hubungan seksual masih
rendah.
Masalah seksual sampai saat ini masih
dianggap tabu. Namun seksual merupakan
sebuah kebutuhan. Apabila salah satu
kebutuhan tidak terpenuhi akan menyebabkan
gangguan psikologis baik pada ibu hamil
maupun pasangannya. Atau bahkan dapat
menyebabkan keretakan hubungan rumah
tangga. Gangguan psikologis pada ibu hamil
akan menyebabkan gangguan pertumbuhan
dan perkembangan janin. Faktor yang
mempengaruhi hubungan seksual selama
kehamilan ada 2 yaitu faktor medis dan non
medis. Menurut factor medis, selama
kehamilan itu normal tidak ada halangan untuk
melakukan hubungan seksual. Hubungan
seksual dilarang atau ditunda apabila ada
riwayat keguguran, riwayat melahirkan
premature, perdarahan saat melakukan
hubungan seksual, pecahnya air ketuban, dan
ada penyakit infeksi baik pada suami maupun
istri. Sedangakan faktor non medis adalah
umur, pendidikan, dan paritas. Semakin tua
umur Ibu, semakin matang proses berpikirnya.
Pendidikan yang tinggi mempengaruhi proses
penyampaian pendapat atau keluhan dan
penerimaan nasehat dari petugas kesehatan.
Semakin tinggi pendidikan Ibu, semakin
mudah bagi petugas kesehatan dalam
menyampaikan nasehat atau KIE. Pendidikan
juga berpengaruh pada pengetahuan yang
dimiliki Ibu. Semakin tinggi pendidikan Ibu,
semakin banyak pengetahuan yang diperoleh
Ibu. Paritas adalah wanita dengan jumlah anak
yang pernah dikandung dan dilahirkan. Hal ini
berkaitan dengan pengalaman seseorang ibu
hamil.
Dari hasil survey di atas didapatkan bahwa
pengetahuan Ibu tentang hubungan seksual
selama masa kehamilan masih rendah oleh
karena itu perlu dilakukan
penelitian
pengetahuan Ibu hamil tentang hubungan
seksual selama masa kehamilan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian deskriptif, dilakukan pengambilan
data pada bulan Agustus 2013 sampai bulan
Januari 2014. Populasinya Semua Ibu hamil yang
memeriksakan kehamilannya di RB. Bunda
Medika, Taman Sepanjang-Sidoarjo sebanyak
125 orang Periode 11 September – 15 November
2013 sebanyak ± 125 pasien Ibu hamil.
Menggunakan
Non
Probability
Sampling
(Accidental sampling) sehingga besar sampel
menjadi sebanyak 56 orang. Instrumen yang
dipakai dalam penelitian ini melalui data primer
yaitu dengan menggunakan kuesioner. Variable
dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu
hamil tentang hubungan seksualitas selama masa
kehamilan dan hubungan seksualitas selama masa
kehamilan.
HASIL PENELITIAN
45
Distribusi Frekuensi Umur Ibu Hamil di
Seksual Selama Kehamilan di RB Bunda
RB Bunda Medika Taman Sepanjang Sidoarjo
Medika Taman Sepanjang Sidoarjo Periode
Periode
September-November
2013
September-November
2013
menunjukan
menunjukan bahwa dari 56 orang ibu hamil,
bahwa dari 56 orang ibu hamil, sebagian besar
mayoritas ibu hamil berumur 20-35 tahun yaitu
berpengetahuan kurang yaitu 43 orang
sebanyak 45 orang (80,36%).
(76,79%).
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu
Distribusi Frekuensi Hubungan Seksual
Hamil di RB Bunda Medika Taman Sepanjang
Selama Kehamilan di RB Bunda Medika
Sidoarjo Periode September-November 2013
Taman
Sepanjang
Sidoarjo
Periode
menunjukan bahwa dari 56 orang ibu hamil
September-November
2013
menunjukan
sebagian besar pendidikannya adalah sedang
bahwa dari 56 orang ibu hamil mayoritas
yaitu sebanyak 48 orang (85,71%).
melakukan hubungan seksualitas selama
Distribusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil
kehamilan yaitu sebanyak 38 orang (67,86%).
di RB Bunda Medika Taman Sepanjang
Dari data Tingkat Pengetahuan Ibu
Sidoarjo Periode September-November 2013
Hamil tentang Hubungan Seksual Selama
menunjukan bahwa dari 56 orang ibu hamil
Kehamilan dan Frekuensi Hubungan Seksual
sebagian besar adalah multigravida yaitu 42
Selama Kehamilan yang diperoleh dari
orang (75%)
pengumpulan data responden, dilakukan
Distribusi
Frekuensi
Tingkat
tabulasi silang seperti pada tabel 1.
Pengetahuan Ibu Hamil tentang Hubungan
Tabel 1 Tabulasi Silang Pengetahuan Ibu Hamil dengan Hubungan Seksual Selama Kehamilan di RB
Bunda Medika Taman Sepanjang Sidoarjo Periode September-November 2013
Hubungan Seksualitas Selama Kehamilan
Melakukan
Tidak Melakukan
Pengetahuan
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
Baik
Sedang
Kurang
4
9
25
100
100
58,14
Sumber: Data primer diolah oleh peneliti.
Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa
mayoritas ibu hamil dengan pengetahuan baik
dan sedang melakukan hubungan seksual
(100%) dibandingkan ibu hamil dengan
pengetahuan kurang (41,86%) tidak melakukan
hubungan seksualitas selama kehamilan
PEMBAHASAN
Kehamilan adalah masa dengan
banyak perubahan bagi sepasang suami istri,
tak terkecuali dengan hubungan seksual. Pada
masa ini Ibu hamil dan pasangan mungkin
mengalami perubahan emosi dan perasaan
berbeda pada masa-masa itu, bahkan tidak
jarang menjadi labil sehingga komunikaasi
merupakan hal yang terpenting untuk
dilakukan
sejak
kehamilan
muda.
Berhubungan seks di masa kehamilan memicu
banyak pertanyaan, meskipun secara medis
berhubungan selama hamil tidak menjadi
masalah selama kehamilan tersebut dalam
kondisi aman (Hartuti, 2010:30). Banyak
pasangan suami istri yang takut melakukan
0
0
18
0
0
41,86
4
9
43
100
100
100
hubungan seksual saat istrinya hamil. Mitosmitos yang beredar di masyarakat mengenai
hubungan seksual saat hamil serta perubahan
fisik dan psikologis selama kehamilan
membuat pasangan suami istri takut
berhubungan seksual.
Dari hasil penelitian di Berdasarkan
RB Bunda tabel 5.6 dapat
Medika Taman Sepanjang Sidoarjo pada bulan
Periode September-November 2013 ditemukan
sebanyak 56 orang ibu hamil. Dari 56 orang
ibu hamil didapatkan mayoritas ibu hamil
memiliki pengetahuan kurang dan mayoritas
ibu hamil melakukan hubungan seksual selama
kehamilan. Setelah dilakukan tabulasi silang
antar pengetahuan ibu hamil dengan hubungan
seksual
selama
kehamilan
didapatkan
mayoritas ibu hamil dengan pengetahuan baik
dan sedang melakukan hubungan seksual
dibandingkan ibu hamil dengan pengetahuan
kurang tidak melakukan hubungan seksualitas
selama kehamilan. Dari data tersebut diketahui
bahwa ibu hamil dengan pengetahuan baik dan
sedang semuanya melakukan hubungan
seksualitas selama kehamilan. Ibu hamil
46
dengan pengetahuan yang baik akan
melakukan hubungan seksual secara wajar
karena mereka tahu bahwa hubungan seksual
selama kehamilan itu boleh dilakukan selama
kehamilan mereka normal. Dari data di atas
juga diketahui bahwa mayoritas ibu hamil
yang berpengetahuan kurang melakukan
hubungan seksual selama kehamilan. Menurut
Notoatmodjo.
S
(2010),
pengalaman
merupakan sumber pengetahuan. Pengalaman
yang dimaksud disini adalah pengalaman
hamil. Ibu dengan paritas multigravida
mempunyai
pengalaman
bagaimana
kehamilannya yang dulu termasuk dengan
hubungan seksualnya selama kehamilannya
dulu. Berdasarkan penelitian, mayoritas ibu
hamil di RB Bunda Medika adalah
multigravida yaitu sebanyak. Jika pada
kehamilannya yang dulu ibu melakukan
hubungan seksual maka untuk kehamilan yang
sekarang ibu juga akan melakukan hubungan
seksual. Umur ibu hamil juga mempengaruhi
hubungan seksual selama kehamilan. Semakin
matang umur ibu maka cara berfikir dan
pandangan ibu tentang hubungan seksual juga
lebih baik. Umur 20-35 tahun adalah umur
seorang wanita untuk reproduksi. Dan pada
umur 20-35 tahun tingkat berfikirnya lebih
baik daripada umur < 20 tahun.
Namun dari ibu hamil yang
berpengetahuan kurang juga ada yang tidak
melakukan hungan seksual selama kehamilan.
Pengetahuan ibu hamil yang kurang ini dapat
disebabkan karena pendidikan ibu hamil yang
masih rendah. Hasil penelitian menujukkan
bahwa sebagian besar pendidikan ibu hamil
adalah rendah. Apabila pengetahuan ibu hamil
tentang hubungan seksualitas kurang maka
ibu tidak melakukan hubungan seksual selama
kehamilan. Ibu tidak tahu bahwa sebenarnya
hubungan
seksual
selama
kehamilan
diperbolehkan jika kehamilan ibu sehat dan
normal. Dikatakan sehat dan normal jika ibu
tidak ada riwayat keguguran, riwayat
melahirkan prematur, penyakit infeksi
menular seksual, plasenta previa, incompeten
servix, kehamilan kembar dan perdarahan
setelah berhubungan (Hartuti, 2010 dan
Suryoprajogo, N 2008). Karena ketidaktahuan
tersebut kemudian muncul ketakutan dan
kekhawatiran untuk melakukan hubungan
seksual. Selain itu, mitos-mitos yang beredar
juga menjadi pemicu ketakutan ibu untuk
melakukan hubungan seksual. Perubahan fisik
dan psikologis yang dirasakan saat trimester
awal juga bisa menjadi pemicu untuk tidak
melakukan hubungan seksualitas selama
kehamilan. Pada trimester awal ibu merasa
lemas, mual muntah, merasa bahwa dirinya
gendut dan jelek, payudara yang nyeri saat
disentuh membuat ibu enggan berhubungan
seksual.
Masalah seksual sampai saat ini masih
dianggap tabu. Namun seksual merupakan
sebuah kebutuhan. Hubungan seksual tidak
hanya untuk kesenangan semata tetapi juga
salah satu usaha untuk menjalin kedekatan
fisik dan psikologis antara istri dengan suami.
Bila hubungan seksual sudah tidak wajar maka
bisa dipastikan akan terjadi gangguan
psikologis baik bagi ibu sendiri maupun pada
pasangannya. Sangat berbahaya apabila ibu
hamil mengalami gangguan psikologis, karena
akan berakibat pada kondisi kehamilannya
dimana janin yang dikandung dapat
mengalami
gangguan
perkembangan.
Hubungan seksual yang tidak wajar juga dapat
menyebabkan keretakan hubungan rumah
tangga.
Oleh karena itu keterbukaan dan komunikasi
antara suami dan ibu hamil sangatlah penting.
Membicarakan kapan waktu yang tepat untuk
melakukan hubungan seksual. Karena
hubungan seksual selama kehamilan sangat
berbeda dengan hubungan seksual sebelum
hamil. Selama hamil, ibu banyak mengalami
perubahan fisik dan psikologis. Terkadang ibu
merasa tidak nyaman dengan perubahan itu.
Dalam hal ini suami mempunyai peran yang
besar. Memberikan dukungan, pengertian dan
perhatian pada istri akan membantu ibu dalam
beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang
dialami selama kehamilan. Istri dan suami
dapat berdiskusi tentang ketidaknyaman atau
keluhan-keluhan lain yang dirasakan dan
secara bersama-sama mencari solusi yang
tepat. Diskusi dengan pasangan diperlukan
untuk menumbuhkan rasa simpatik. Apabila
hubungan seksual tidak bisa dilakukan,
pasangan dapat melakukan hal-hal berikut:
menciptakan suasana romantis mungkin bisa
dengan makan malam berdua, dan mandi
bersama, tidur bersama dan saling memijat
atau mengurut punggung dan pinggang ibu
hamil. Ini menguntungkan bagi Ibu hamil
apalagi jika usia kehamilan sudah memasuki
trimester III, karena pada trimester III ibu akan
mengalami nyeri pinggang dimana karena
47
usapan melalui mengurut atau menggosok
pinggang atau punggung akan memproduksi
hormon endorfin. Hormon endorfin adalah
bahan pereda nyeri alami yang diproduksi di
hipotalamus dan hipofisis. Hipotalamus akan
merangsang hipofisis untuk mengeluarkan
endorfin saat tubuh merasakan nyeri atau sakit
karena hormon endorfin mempunyai manfaat
mengatur produksi hormon pertumbuhan dan
seks, mengendalikan rasa nyeri serta sakit
yang menetap, mengendalikan perasaan stres,
serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh
(Nolan, M 2003). Selain itu komunikasi
dengan pasangan, komunikasi dengan petugas
kesehatan juga sangat penting. Dari petugas
kesehatan, ibu dan suami bisa mendapatkan
informasi mengenai kondisi kehamilannya saat
ini dan informasi mengenai hubungan seksul
selama
kehamilan.
petugas
kesehatan
diharapkan mampu memberikan KIE tentang
hubungan seksualitas selama kehamilan. KIE
yang diberikan misalnya tentang posisi
hubungan seksual selama kehamilan. Posisi
hubungan
seksual
selama
kehamilan
hendaknya tidak merugikan sebelah pihak oleh
karena itu komunikasi dengan pasangan sangat
diperlukan karena hubungan seks tidak hanya
dilakukan oleh satu pihak namun melibatkan
kedua belah pihak. Dukungan dan pengertian
dari suami diperlukan untuk menciptakan
kerjasama dalam melakukan hubungan seksual
misalnya saat melakukan forplay (pemanasan)
hendaknya tidak terburu-buru. Selain itu juga
petugas kesehatan diharapkan mampu
memberikan pelayanan dan asuhan yang
melibatkan aspek hubungan seksual. Karena
hubungan seksual merupakan suatu kebutuhan
yang penting dalam suatu hubungan rumah
tangga.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Mayoritas ibu hamil dengan pengetahuan
baik dan sedang melakukan hubungan seksual
dibandingkan ibu hamil dengan pengetahuan
kurang tidak melakukan hubungan seksualitas
selama kehamilan..
Saran
Melalui penelitian ini diharapkan tenaga
kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan
dalam memberikan KIE tentang hubungan
seksual selama kehamilan pada masyrakat
khususnya pada ibu hamil dan suami.
Sedangkan bagi pasangan suami istri,
Diharapkan mampu berkomunikasi dan
terbuka baik dengan pasangan, keluarga
maupun dengan petugas kesehatan meengenai
hubungan seksual selama kehamilan
DAFTAR PUSATAKA
Budijanto, D dan Prajoga, 2007. Metode
Penelitian. Surabaya: Unit Penelitian
dan Pengabdian Masyarkat Politeknik
Kesehatan Surabaya.
Danarti, D. 2010. 145 Questions & Answer
Pregnancy
and
Childbirth.
Yogyakarta: Sigma.
Geniofam, 2010. 99 Tips Mempersiapkan dan
Menjaga Kehamilan. Yogyakarta:
Leutika.
Hartuti, 2010. Panduan Ibu Hamil,
Melahirkan, dan Merawat Bayi.
Jakarta: UBA Press.
Hidayat, AA. 2010. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika
Hidayati, R 2008. Asuhan Keperawatan Pada
Kehamilan Fisiologis dan Patologis.
Jakarta: Salemba Medika.
Khasanah. 2010. http://www.bidanku/ Seks
Selama Kehamilan Amankah.com.
Diakses pada tanggal 2 Agustus 2013
pukul 09.00 WIB.
Murkoff, H dkk 2006. Kehamilan: Apa Yang
Anda Hadapi Bulan Per Bulan.
Jakarta: Arcan.
Nazir, M 2010. Metode Penelitian. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Nolan, M 2003. Kehamilan dan Melahirkan.
Jakarta: Arcan.
Notoatmodjo, S 2002. Metode Penelitian
Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S 2007. Promosi Kesehatan dan
Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S 2010. Metode Penelitian
Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Prawirohardjo, S 2007. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: YBP-SP.
Rahmawati,
2010.
http://www.ibudankeluarga/Mitos dan
Fakta
Hubungan
Seks
Saat
Hamil.com. Diakses pada tanggal 2
Agustus 2013 pukul 08.00 WIB.
Sabella, R 2010. Panduan Kehamilan dan
Persalinan
Yang
Sehat
dan
48
Menyenangkan. Yogyakarta: Galmas
Publisher.
Sulistyawati, A 2009. Asuhan kebidanan pada
Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba
Medika.
Suryoprajogo, N 2008. Kama Sutra For
Pregnancy.
Yogyakarta:
Golden
Books.
Wawan, A dan Dewi, M 2010. Teori
Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku
Manusia.
Yogyakarta:
Medical Book.
Westheimer, RK 2002. Mengkreasi Kehamilan
dan Menjaga Kasih Sayang Bersama
Dr. Ruth. Jakarta: PT Raja Grafindo
49
Download