JST Kesehatan, Oktober 2012, Vol. 2 No. 4: 372

advertisement
JST Kesehatan, Oktober 2012, Vol. 2 No. 4: 372 – 381
ISSN 2252-5416
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERESEPAN OBAT UNTUK
PENYAKIT ISPA NON PNEUMONIA DAN DIARE NON SPESIFIK
DI PUSKESMAS KOTA MAKASSAR TAHUN 2012
Factors Related to Medicine Prescribing for Non Pneumonial Upper Respiratory Infection
(URI) and Non Specifik Diarrhea in Public Health Centres Makassar in 2012
Fahmiani1, A. Arsunan Arsin1, Nurhaedar Jafar2
1
Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin
2
Bagian Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin
(E-mail: [email protected])
ABSTRAK
Pengobatan merupakan salah satu upaya terapi yang dilakukan oleh dokter atau paramedis
terhadap pasien. Peresepan obat untuk tujuan pengobatan harus didasarkan pada prinsip bahwa
secara medis akan memberikan manfaat dan aman bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran penggunaan obat dan faktor yang berhubungan dengan peresepan obat
untuk penyakit ISPA Non Pneumonia dan Diare Non Spesifik di Puskesmas Kota Makassar.
Desain Penelitian ini adalah Cross Sectional Study. Jumlah Sampel 116 orang tenaga kesehatan
dengan metode Exhaustive Sampling. Analisis uji statistik bivariat dengan chi square dan
multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan tenaga kesehatan (p=0.000),
masa kerja (p=0.000), hasil diagnosa (p=0.000) dan sikap terhadap pedoman pengobatan
(p=0.000) berhubungan dengan peresepan obat untuk penyakit ISPA Non Pneumonia. Tenaga
kesehatan (p=0.000), masa kerja (p=0.000), hasil diagnosa (p=0.000) dan sikap terhadap pedoman
pengobatan (p=0.000) berhubungan dengan peresepan obat untuk penyakit Diare Non Spesifik.
Hasil uji multivariat logistik regresi menunjukkan bahwa sikap terhadap pedoman pengobatan
merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap peresepan obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia (wald=21.470, p=0.000) dan masa kerja tenaga kesehatan merupakan faktor yang
paling berpengaruh terhadap peresepan obat untuk penyakit Diare Non Spesifik (wald=14.101,
p=0.000). Studi ini diharapkan bahwa pola peresepan yang rasional menjadi salah satu upaya
dalam pengobatan kepada pasien dan pedoman pengobatan dasar di Puskesmas menjadi rujukan
terapi bagi tenaga kesehatan.
Kata kunci: Pedoman Pengobatan, Peresepan
ABSTRACT
This study aims to find out the description of medicine and use the medicine factors related to
medicine prescribing for Non pneumonia URI and non specific diarrhea in Public Health centres in
Makassar city. The research used a cross sectional study design. the samples were of 116 health
workers obtained with by exhaustive sampling. The analysis was conducted by using bivariate
statistical test with chi-square and multivariate analysis with logistic regression.The Results reveal
that medicine prescribing for non pneumonia URI related to health workers (p = 0.000), length of
service (p = 0.000), diagnosis result (p = 0.000) and attitude towards treatment guideline (p =
0.000). Medicine prescribing for non specific diarrhea is related to Health workers (p = 0.000),
length service (p = 0.000), diagnosis result (p = 0.000) and attitude toward treatment guideline (p =
0.000). The Results of multivariate test with regression logistic reveal that attitude toward treatment
guideline is the most influential factor in the medicine prescribing for non pneumonia URI (wald =
21.470, p = 0.000) while the length of service of health workers is the most influential factor in the
medicine prescribing for non-specific diarrhea (wald = 14.101, p=0.000). This research is hoped that
372
Pedoman Pengobatan, Peresepan
ISSN 2252-5416
prescribing patter rationally become one effort in treat of patients and basic treatment guidelines in
public health centres become reference therapy for health works.
Keywords: Treatment Guidelines, Prescribing
item obat dan prosentase peresepan
antibiotik pada ISPA Non Pneumonia dan
Diare Non Spesifik sebesar 82,73% dan
85.51% (Dinkes Prov. Sulsel, 2011).
Menurut
Standar
Pengobatan
Dasar di Puskesmas untuk penyakit
ISPA Non Pneumonia hanya diperlukan
pengobatan
simtomatis
untuk
menghilangkan gejala yang mengganggu,
Parasetamol 500 mg 3 x sehari untuk
menghilangkan nyeri dan demam, untuk
anak dengan dosis parasetamol adalah
10mg/kgBB/kali 3-4 kali sehari serta
penggunaan antibiotik hanya diberikan
bila terjadi infeksi sekunder. Demikian
pula dengan dasar pengobatan untuk
penyakit Diare Non Spesifik adalah
dengan rehidrasi dan memperbaiki
keseimbangan cairan dan elektrolit.
Dengan Demikian penatalaksanaan ISPA
Non Pneumonia dan Diare Non Spesifik
tidak dianjurkan adanya penggunaan
antibiotik tetapi lebih dianjurkan pasien
istirahat dan banyak minum (Depkes,
2007).
Dari kedua hal di atas, terlihat
bahwa masalah penggunaan obat yang
tidak rasional masih cukup menonjol di
pusat pelayanan kesehatan primer,
Disamping berakibat pada pemborosan
biaya, ketidakrasionalan penggunaan obat
juga meningkatkan risiko terjadinya efek
samping, dampak lainnya berupa
ketergantungan
pasien
terhadap
pemberian antibiotik (akibat persepsi
yang keliru), yang selanjutnya secara luas
akan meningkatkan risiko terjadinya
resistensi bakteri akibat penggunaan
antibiotik yang tidak tepat pada populasi
(Depkes, 2006). Bertolak dari uraian
tersebut, maka sangat penting untuk
mengetahui faktor yang berhubungan
dengan peresepan obat untuk penyakit
ISPA Non Pneumonia dan Diare Non
Spesifik.
PENDAHULUAN
Penggunaan obat rasional yang
didefinisikan oleh WHO (1985) adalah
menggunakan obat secara aman dan
efektif, di mana obat harus tersedia
dengan harga yang wajar dan dengan
penyimpanan yang baik. Obat haruslah
sesuai dengan penyakit oleh karena itu
diagnosis yang ditegakkan harus tepat,
patofisiologi
penyakit,
keterkaitan
farmakologi obat dengan patifisiologi
penyakit, dosis yang diberikan dan waktu
pemberian yang tepat, serta evaluasi
terhadap efektifitas dan toksisitas obat
tersebut, ada tidaknya kontra indikasi
serta biaya yang harus dikeluarkan oleh
pasien
yang
disesuaikan
dengan
kemampuan pasien tersebut. Sejak tahun
1985, WHO berupaya meningkatkan
penggunaan obat rasional salah satunya
adalah
pengembangan
indikator
penggunaan obat melalui indikator
peresepan bahwa rerata jumlah obat
dalam tiap resep untuk diagnosa penyakit
tunggal adalah 1,6-1,8 item obat (WHO,
1993).
Penggunaan obat rasional dalam
pelayanan kesehatan di Indonesia masih
merupakan
masalah.
Penggunaan
polifarmasi dimana seorang pasien rata
rata mendapatkan 3,5 obat, lebih dari
50% menerima 4 atau lebih obat untuk
setiap lembar resepnya, penggunaan
antibiotik yang berlebihan (43%), waktu
konsultasi yang singkat dengan rata rata
berkisar hanya 3 menit saja serta
miskinnya compliance pasien merupakan
pola umum yang terjadi pada penggunaan
obat tidak rasional di Indonesi (Depkes,
2005).
Dari hasil laporan monitoring
indikator peresepan di Puskesmas Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota Provinsi
Sulawesi Selatan tahun 2010 untuk
jumlah item obat per resep rata rata 4
373
Fahmiani
ISSN 2252-5416
SPSS. Dilakukan analisis univariat untuk
mengetahui karakteristik responden.
Analisis Bivariat untuk melihat besar
risiko variabel independen terhadap
variabel dependen dan menggunakan uji
Chi Square. Analisis multivariat untuk
mengetahui variabel independen yang
paling berpengaruh pada peresepan obat
dengan menggunakan uji regresi logistik
berganda.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di
Puskesmas Kota Makassar. Jenis
penelitian yang digunakan adalah
observasional
dengan menggunakan
desain Cross Sectional study.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini
adalah
tenaga
kesehatan
yang
melaksanakan peresepan obat di poli
rawat jalan Puskesmas. Sampel dalam
penelitian ini adalah 116 tenaga
kesehatan dengan metode penarikan
sampel Exhaustive sampling.
HASIL PENELITIAN
Karateristik Responden
Tabel 1 menunjukkan bahwa
karateristik responden di Puskesmas Kota
Makassar yang menjadi sampel pada
penelitian, berdasarkan hasil analisis
univariat menunjukkan bahwa lebih
banyak pada jenis kelamin perempuan,
yaitu sebanyak 78,4% dari pada laki laki
sebanyak 21,6%. Status Kepegawaian
lebih banyak pada Pegawai negeri sipil
(PNS), yaitu 97,4% dan paling sedikit
Pegawai Tidak Tetap (PTT), yaitu 2,6%.
Tenaga kesehatan sebagai responden
lebih banyak jenis Dokter, yaitu 69,0%
dan paling sedikit dari Perawat, yaitu
31,0%. Tenaga kesehatan dengan masa
kerja yang lama paling banyak, yaitu
55,2% dan paling sedikit tenaga
kesehatan dengan masa kerja singkat,
yaitu 44,8%.
Pengumpulan Data
Pengumpulan
data
dilakukan
dengan memverifikasi tenaga kesehatan
yang menulis resep dan hasil diagnosa
melalui register pasien kemudian
melakukan wawancara langsung dengan
responden dan berpedoman pada
kuesioner yang telah tersedia berdasarkan
daftar variabel penelitian yang telah
disusun. Data rekam medis pasien
digunakan sebagai data sekunder untuk
melengkapi data penelitian.
Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan komputer dalam program
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Sampel di Puskesmas Kota Makassar Tahun 2012
Variabel
Jenis Kelamin
Laki Laki
Perempuan
Status Kepegawaian
PNS
PTT
Tenaga Kesehatan
Dokter
Perawat
Masa kerja
Lama
Singkat
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2012
N
%
25
91
21,6
78,4
113
3
97,4
2,6
80
36
69,0
31,0
64
52
116
55,2
44,8
100.0
374
Pedoman Pengobatan, Peresepan
ISSN 2252-5416
Tabel 2 menunjukkan bahwa
peresepan obat rasional untuk penyakit
ISPA Non Pneumonia yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan masih rendah,
yaitu 35,3% kemudian peresepan obat
rasional untuk penyakit Diare Non
Spesifik yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan masih rendah, yaitu 44,8%.
Distribusi sampel berdasarkan hasil
diagnosa untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia paling banyak pada diagnosa
jelas, yaitu 80,2% kemudian untuk hasil
diagnosa penyakit Diare Non Spesifik
paling banyak untuk diagnosa jelas, yaitu
82,8%. Berdasarkan sikap responden
terhadap pedoman pengobatan, sikap
responden yang positif masih rendah,
yaitu 33,6%, kemudian sikap responden
terhadap penggunaan obat rasional
dengan sikap positif lebih tinggi, yaitu
80,2% dan sikap yang negatif lebih
rendah, yaitu 19,8%. Hasil penelitian
juga ini menunjukkan bahwa distribusi
responden berdasarkan ketersediaan obat
cukup tersedia paling banyak, yaitu
80,2%.
Analisis Bivariat
Tabel 3 analisis hubungan tenaga
kesehatan (p=0,000),
masa
kerja
(p=0,000), hasil diagnosa (p=0,000) dan
sikap terhadap pedoman pengobatan
(p=0,000) dengan peresepan obat untuk
penyakit ISPA Non Pneumonia dalam uji
statistic Chi-Square menunjukkan bahwa
ada hubungan yang bermakna (p<0,05).
Hubungan sikap terhadap penggunaan
obat rasional (p=0,340), ketersediaan
obat (p=0,223) dengan peresepan obat
untuk penyakit ISPA Non Pneumonia
tidak menunjukkan hubungan yang
bermakna dalam uji Chi-Suare (p>0,05).
Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Peresepan Obat, Hasil Diagnosa, Sikap
terhadap Pedoman pengobatan dan Sikap terhadap Penggunaan Obat Rasional di
Puskesmas Kota Makassar Tahun 2012
Variabel
Peresepan ISPA Non Pneumonia
Rasional
Tidak Rasional
Peresepan Diare Non Spesifik
Rasional
Tidak Rasional
Hasil Diagnosa ISPA Non Pneumonia
Jelas
Tidak Jelas
Hasil Diagnosa Diare Non Spesifik
Jelas
Tidak Jelas
Sikap terhadap Pedoman Pengobatan
Positif
Negatif
Sikap terhadap POR
Positif
Negatif
Ketersediaan Obat
Cukup tersedia
Kurang tersedia
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2012
375
P
%
41
75
35,3
64,7
52
64
44,8
55,2
93
23
80,2
19,8
96
20
82.8
17,2
39
77
33,6
66,4
93
23
80,2
19,8
93
23
116
80,2
19,8
100,0
Fahmiani
ISSN 2252-5416
Tabel 3. Hubungan variabel dengan peresepan obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia di Puskesmas Kota Makassar Tahun 2012
Variabel
Peresepan obat
Rasional
Tidak rasional
n
%
n
%
Jumlah
n
P
%
0.00
0
Tenaga Kesehatan
Dokter
Perawat
40
1
50.0
2,8
40
35
50,0
97,2
80
36
100,0
100,0
0.00
0
Masa Kerja
Lama
Singkat
Hasil Diagnosa
Jelas
Tidak Jelas
Sikap Terhadap
Pedoman Pengobatan
Positif
Negatif
Sikap terhadap POR
Positif
Negatif
10
31
15,6
59,6
54
21
84,4
40,4
64
52
100,0
100,0
40
1
43,0
4,3
53
22
57,0
95,7
93
23
100,0
100,0
33
8
84,6
10,4
6
69
15,4
89,6
39
77
100,0
100,0
35
6
37,6
26,1
58
17
62,4
73,9
93
23
100,0
100,0
0.00
0
0,34
0
0,22
3
Ketersediaan Obat
Cukup tersedia
Kurang tersedia
0.00
0
30
11
32,3
47,8
63
12
67,7
52,2
93
23
100,0
100,0
Sumber: Data Primer, 2012.
Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil
analisis hubungan tenaga kesehatan
(p=0,000), masa kerja (p=0,000), hasil
diagnosa (p=0,000) dan sikap terhadap
pedoman pengobatan (p=0,000) dengan
peresepan obat untuk penyakit Diare Non
Spesifik dalam uji statistik Chi-Square
menunjukkan hubungan yang bermakna
(p<0,05). Hubungan sikap terhadap
penggunaan obat rasional (p=0,1000) dan
ketersediaan obat (p=0,246) dengan
peresepan untuk penyakit Diare Non
Spesifik tidak menunjukkan hubungan
yang bermakna dalam uji Chi-Square
(p>0,05).
Analisis Multivariat
Tabel 5 berdasarkan hasil analisis
bivariat, semua variabel diikutkan dalam
uji regresi logistik dan diketahui variabel
yang paling berpengaruh terhadap
peresepan obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia adalah sikap terhadap
pedoman pengobatan dengan nilai
Wald=21.470 (p=0.000) dan variabel
yang paling berpengaruh terhadap
peresepan obat untuk penyakit Diare Non
spesifik adalah masa kerja tenaga
kesehatan dengan nilai Wald=14.101
(p=0.000).
376
Pedoman Pengobatan, Peresepan
ISSN 2252-5416
Tabel 4 Hubungan variabel dengan peresepan obat untuk penyakit Diare Non
Spesifik di Puskesmas Kota Makassar Tahun 2012
Peresepan obat
Jumlah
P
Tidak
Variabel
Rasional
rasional
n
%
n
%
n
%
Tenaga Kesehatan
0.000
Dokter
47
58.8 33
41,3 80
100,0
Perawat
5
13,9 31
86,1 36
100,0
Masa Kerja
Lama
9
14,1 55
85,9 64
100,0
0.000
Singkat
43
82,7
9
17,3 52
100,0
Hasil Diagnosa
0.000
Jelas
47
49,0 49
51,0 96
100,0
Tidak Jelas
5
25,0 15
75,0 20
100,0
Sikap Terhadap Pedoman
Pengobatan
0.000
Positif
39
100
0
0
39
100,0
Negatif
13
16,9 64
83,1 77
100,0
0.1000
Sikap terhadap POR
Positif
42
45,2 51
54,8 93
100,0
Negatif
10
43,5 13
56,5 23
100,0
0,246
Ketersediaan Obat
Cukup tersedia
Kurang tersedia
39
13
41,9
56,5
54
10
58,1
43,5
93
23
100,0
100,0
Sumber: Data Primer, 2012.
Tabel 5
Model Regresi Berganda Logistik Faktor yang Berhubungan dengan Peresepan
obat untuk penyakit ISPA Non Pneumonia dan Diare Non Spesifik di
Puskesmas Kota Makassar 2012
95% C.I.for
EXP(B)
Variabel
B
ISPA Non
Pneumonia
Step 1a
Step 2a
Diare Non Spesifik
Wald
Sig.
Nakes
MasaKerja
DiagIspa
SikapPP
Constant
Nakes
MasaKerja
Sikap PP
Constant
1,708 4,284
-1,289 3,795
,184
‘034
2,830 21,294
-2,691 4,847
1,674 4,356
-1,247 4,051
2,838 21,470
-2,521 10,209
,038
,051
Nakes
-1,979
MasaKerja
3,797
3,917 14,101
377
Exp(B)
Lower
Upper
,855
,000
,028
,037
,044
,000
,001
5,518
,276
1,202
16,947
,068
5,335
,288
17,077
,080
1,095
,075
,168
5,094
27,808
1,008
1,008
56,383
1,107
,085
5,142
25,704
,968
56,717
,051
,138
,019
1,012
,000 50,229
6,503
387,937
Fahmiani
ISSN 2252-5416
DiagDiare
Sikap PP
Constant
18,658
22,167
17,724
,000
,000
,999 1,2688
,997
,000
,000
,999
,000 .
,000 .
,000
Sumber: Data Primer, 2012.
tidak rasional yang dilakukan oleh
perawat cukup tinggi sebesar 86,1%.
Hasil analisis hubungan tenaga
kesehatan dengan peresepan obat untuk
penyakit ISPA Non Pneumonia dan Diare
Non Spesifik dengan uji statistik ChiSquare di peroleh nilai p sebesar
0,000(P<0,05), hal ini menunjukaan
bahwa ada hubungan yang bermakna dan
antara
tenaga
kesehatan
dengan
peresepan obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia dan Diare Non Spesifik.
Berdasarkan hasil penelitian ini, di
dapatkan informasi bahwa pelayanan
pengobatan (Kuratif) di Puskesmas
umumnya dilakukan oleh tenaga medik
(dokter)
dan
tenaga
paramedik
(perawat/bidan)
padahal
yang
mempunyai kompetensi untuk menulis
resep adalah dokter dan perawat/bidan
melakukan pelayanan pengobatan dan
penulisan resep kepada pasien dengan
asuhan keperawatan. Beberapa alasan
bahwa pelayanan pengobatan
dapat
dilakukan oleh tenaga perawat/bidan
karena kunjungan pasien lebih banyak
dari tenaga medik yang melayani
kemudian dokter puskesmas melakukan
tugas tugas lain misalnya tugas
manajerial,
rapat
koordinasi
dan
mengikuti pelatihan (Maharatu, 2009).
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa peresepan obat tidak rasional
umumnya dilakukan oleh tenaga dokter
dan hampir semua perawat/bidan sebagai
responden melakukan peresepan tidak
rasional untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia dan Diare Non spesifik.
Dalam pelayanan pengobatan peresepan
obat yang tidak rasional umumnya tidak
disadari oleh para dokter. Hal ini
mengingat bahwa hampir setiap dokter
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian pada
37 Puskesmas dalam wilayah Kota
Makassar dengan 116 responden tenaga
kesehatan di peroleh hasil dari buku
kunjungan, rekam medik dan buku
pedoman pengobatan, ditemukan bahwa
35,3% responden tidak meresepkan
antibiotik untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia sehingga peresepan tersebut
rasional sedangkan paling banyak, yaitu
64,7% responden meresepkan antibiotik
sehingga peresepan tersebut tidak
rasional untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia. Demikian juga dengan
44,8% responden tidak meresepkan
antibiotik untuk penyakit Diare Non
spesifik sehingga peresepan tersebut
rasional sedangkan paling banyak, yaitu
55,2% responden meresepkan antibiotik
sehingga peresepan tersebut tidak
rasional untuk Diare Non spesifik. Dari
hasil penelitian tersebut, tidak sesuai
dalam Standar Pengobatan Dasar di
Puskesmas dan Penatalaksanaan ISPA
Non Pneumonia dan Diare Non Spesifik
karena
tidak
dianjurkan
adanya
penggunaan antibiotik tetapi lebih
dianjurkan pasien istirahat dan banyak
minum (Depkes, 2007).
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa peresepan obat rasional hanya
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan
dokter sebanyak 50,0% dan peresepan
obat tidak rasional lebih banyak
dilaksanakan oleh perawat, yaitu sebesar
97,2% untuk diagnosa penyakit ISPA
Non Pneumonia demikian pula untuk
peresepan obat rasional untuk penyakit
Diare Non Spesifik dengan tenaga
kesehatan
dokter
sebesar
58.8%
dibandingkan dengan peresepan obat
378
Pedoman Pengobatan, Peresepan
ISSN 2252-5416
selalu mengatakan bahwa pengobatan
adalah seni, oleh sebab itu setiap dokter
berhak menentukan jenis obat yang
paling sesuai untuk pasiennya. Hal ini
bukannya keliru, tetapi jika tidak
dilandasi dengan alasan ilmiah yang
dapat diterima akan menjurus ke
pemakaian obat yang tidak rasional
(Kemenkes, 2011).
Demikian pula dengan pelayanan
pengobatan yang
dilakukan oleh
perawat/bidan cenderung menimbulkan
risiko terjadinya penggunaan obat yang
tidak rasional. Hal ini mudah difahami
karena perawat/bidan memang tidak
memiliki kemampuan atau kompetensi
yang diperlukan dalam pelayanan
pengobatan karena perawat/bidan tidak di
didik untuk mengobati (not to cure) tetapi
untuk merawat (to care) dan mereka
lebih mengandalkan pengalaman pribadi
atau meniru suatu pengobatan dari dokter
yang tidak mereka pahami sehingga no
drugs needed, over prescribing dan there
is pills in every ills terjadi pada
pengobatan yang
dilakukan oleh
Perawat/Bidan (Quick J, 1997).
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa untuk diagnosa penyakit ISPA
Non Pneumonia peresepan obat yang
tidak rasional dengan masa kerja yang
lama lebih tinggi sebesar 84,4%
dibandingkan dengan peresepan tidak
rasional dengan masa kerja singkat lebih
rendah sebesar 40,4%, kemudian untuk
diagnosa penyakit Diare Non Spesifik
peresepan obat tidak rasional dengan
masa kerja lama lebih tinggi sebesar
85,9% kemudian peresepan obat rasional
dengan masa kerja singkat lebih tinggi
sebesar 82,7%. Hasil analisis hubungan
antara masa kerja dengan peresepan obat
untuk penyakit ISPA Non Pneumonia
dan Diare Non Spesifik dengan uji
statistic Chi-square diperoleh nilai p
sebesar 0.000 (P<0,05). Hal ini
menunjukkan bahwa ada hubungan yang
bermakna antara masa kerja dengan
peresepan obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia dan Diare Non Spesifik.
Berdasarkan
hasil
penelitian
ini,
diperoleh hasil yang sangat signifikan
bahwa masa kerja mempengaruhi
peresepan obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia dan Diare Non spesifik.
Dari gambaran di atas, ternyata
masa kerja yang lama lebih banyak
berpengaruh pada peresepan obat tidak
rasional, fenomena ini kemungkinan
disebabkan oleh telah terbiasanya atau
pengalaman pribadi yang dimiliki tenaga
kesehatan sudah cukup lama dalam
pemberian
obat
pada
pelayanan
pengobatan dengan pola yang sama tanpa
ada keluhan atau peristiwa yang
merugikan pasien namun dengan
bertambahnya pengalaman klinik dari
tenaga kesehatan, maka kemampuan atau
keterampilan untuk mendiagnosis dan
menetapkan bentuk terapi juga meningkat
namun disisi lain pada saat yang
bersamaan, kemampuan ilmiah akibat
terbatasnya informasi yang dapat diakses
serta kinerja klinik akibat hanya
mengandalkan pengalaman, yang sering
tidak dapat
dipertanggungjawabkan
secara ilmiah akan menurun secara
bermakna (signifikan). Sedangkan tenaga
kesehatan yang memiliki masa kerja
singkat masih ada sikap hati hati dalam
memberikan obat serta lebih sering
sharing dengan tenaga tehnis kefarmasian
di Puskesmas sebagai mitra kerja dalam
pelayanan pengobatan terhadap Pasien
(Joenes, 2006).
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hubungan yang secara statistik
bermakna p sebesar 0.000 (p<0,05)
antara hasil Diagnosa dengan peresepan
obat untuk penyakit ISPA Non
Pneumonia dan Diare Non Spesifik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di
dapatkan informasi tenaga kesehatan
yang menulis resep telah memahami
kode diagnosa ISPA Pneumonia namun
masih ada yang belum bisa membedakan
antara gejala dengan diagnosa suatu
penyakit terutama oleh Perawat/Bidan,
misalnya keberagaman hasil diagnosa
yang merupakan salah satu dari gejala
suatu penyakit suatu contoh untuk
penyakit ISPA (1302) hanya dituliskan
379
Fahmiani
ISSN 2252-5416
gejala dalam hasil diagnosisnya seperti
batuk, pilek, demam/batuk, pusing/batuk,
sehingga tidak jelas dan tidak sesuai
dengan pedoman pengobatan.
Berdasarkan
hasil
penelitian,
ternyata diperoleh informasi bahwa hasil
diagnosa untuk penyakit Diare Non
spesifik lebih mudah diketahui oleh
tenaga kesehatan dan berdasarkan ciri
khas dari kasus Diare dapat disimpulkan
lebih mudah dan cepat oleh tenaga
kesehatan
yang
melaksanakan
pengobatan namun belum memahami
kode diagnosa Diare Non Spesifik untuk
ditulis dalam register pasien. Sikap
terhadap pedoman pengobatan dengan
hasil penelitian ini menunjukkan dari
hasil wawancara terhadap 116 responden
bahwa peresepan obat rasional dengan
sikap
positif
terhadap
pedoman
pengobatan sebesar 84.6%, kemudian
peresepan obat tidak rasional dengan
sikap
negatif
terhadap
pedoman
pengobatan lebih tinggi sebesar 89,6%
untuk penyakit ISPA Non Pneumonia.
Kemudian Hasil penelitian ini juga secara
signifikan
menunjukkan
bahwa
peresepan obat rasional dengan sikap
positif terhadap pedoman pengobatan
lebih tinggil sebesar 100% dan peresepan
obat tidak rasional dengan sikap negatif
terhadap pedoman pengobatan mencapai
83.1% untuk penyakit Diare Non
spesifik.
Kedua hasil tersebut diatas
dianalisis bersama sama dengan uji
statistik Chi-Square) nilai p sebesar 0.000
(p<0,05) menunjukkan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara sikap
terhadap pedoman pengobatan dengan
peresepan obat untuk ISPA Non
pneumonia dan Diare Non Spesifik. Dari
hasil penelitian ini didapatkan informasi
bahwa lebih banyak tenaga kesehatan
memiliki sikap negatif
terhadap
pedoman pengobatan, sehingga terjadi
peresepan yang tidak rasional. Fenomena
ini bisa saja terjadi karena adanya
penolakan oleh para dokter terhadap
suatu
pedoman
yang
pada
penyusunannya mereka tidak dilibatkan
(Notoatmojo, 2007) atau berbagai alasan
lain karena persepsi yang keliru terhadap
pedoman pengobatan dan buku pedoman
pengobatan belum pernah dilihat dan
diketahui oleh tenaga kesehatan di
Puskesmas. Sikap terhadap penggunaan
obat rasional dan ketersediaan obat tidak
menunjukkan hasil yang signifikan
dengan peresepan obat untuk Penyakit
ISPA Non Pneumonia dan Diare Non
Spesifik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan ditemukan bahwa tenaga
kesehatan, masa kerja, hasil diagnosa,
sikap terhadap pedoman pengobatan
berhubungan dengan peresepan obat
untuk penyakit ISPA Non Pneumonia
dan Diare Non Spesifik. Sikap terhadap
penggunaan
obat
rasional
dan
ketersediaan obat tidak berhubungan
dengan peresepan untuk penyakit ISPA
Non Pneumonia dan Diare Non Spesifik.
Sikap terhadap pedoman pengobatan
merupakan
variabel
yang
paling
berpengaruh pada peresepan obat ISPA
Non Pneumonia dan Masa kerja
merupakan variabel yang berpengaruh
pada peresepan Diare Non Spesifik. Studi
ini diharapkan bahwa pola peresepan
yang rasional menjadi salah satu upaya
dalam pengobatan kepada pasien dan
pedoman pengobatan dasar di Puskesmas
menjadi rujukan terapi bagi tenaga
kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes,
RI.
(2005).
Pedoman
Pengelolaan Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan, Jakarta
Depkes, RI. (2006). Modul Pelatihan
Penggunaan Obat Rasional. Jakarta.
Depkes,
RI.
(2007).
Pedoman
Pengobatan Dasar di Puskesmas.
Jakarta.
Dinkes Prov. Sulsel, (2011). Laporan
Pertemuan Pertemuan Pembekalan
Penggunaan
Obat
Rasional,
Makassar.
380
Pedoman Pengobatan, Peresepan
ISSN 2252-5416
Joenoes, Z. N, (2006). Ars Prescribendi
Resep yang Rasional. Penerbit
Universitas Airlangga, Surabaya.
Kemenkes.
RI,
(2011).
Modul
Penggunaan Obat Rasional, Jakarta.
Maharatu,
C,
(2009).
Dampak
Penggunaan
Antibiotik
yang
Irrasional. (Online) (http://cutma
haratu.wordpress.com) Diakses pada
15 Januari 2012.
Notoatmojo,
(2007).
Pengantar
Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Prilaku Kesehatan, Penerbit FKM
Universitas Indonesia. Jakarta.
Quick. J. D, et al. (1997). Management
Drug
Supplay:
Management
Sciences
For
Health
in
Collaboration With The World
Health Organization, 2-nd Edition,
Reviced and Expanded, Kumarian
Prress Inc..USA.
WHO, (1993). How to investigate drugs
use in health facilities selected drug
use indicators, action programme on
essential drugs, WHO Geneva.
(Online)
(http://apps.WHO.int/
medicine) Diakses 4 Februari 2012.
381
Download