Desa Siaga, perkawinan dini, dan kerentanan AKI

advertisement
Desa Siaga, perkawinan dini, dan
kerentanan AKI (Pengalaman Sukabumi)
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra1
Tulisan ini pada mulanya adalah penelitian yang
dilaksanakan oleh Tim Pusat Kajian Wanita dan Gender UI di
tiga wilayah: Sukabumi, Brebes, dan Manado. Tulisan ini
mencoba menggambarkan pengalaman masyarakat desa
Pamuruyan dan Warnajati, Sukabumi.
Teknik Pengambilan Data dan Gambaran Informan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah FGD,
wawancara mendalam, mapping desa dan observasi lapangan.
Peneliti juga mengumpulkan data sekunder yang sebagian
besar pengumpulannya dibantu oleh kader PEKKA, sebagai
pendamping lapangan dalam penelitian ini. Di setiap desa
dilakukan dua FGD yaitu:
FGD 1: terdiri dari warga biasa/masyarakat akar rumput
(perempuan dan suaminya, serta perempuan kepala keluarga,
perempuan yang sedang hamil dan suaminya, orangtua yang
sedang memiliki bayi/balita atau cucu berusia balita. Di desa
Warnajati, FGD ini dihadiri oleh 10 peserta, dan di desa
Pamuruyan dihadiri oleh 10 peserta.
FGD 2: terdiri dari berbagai komponen (laki-laki dan
perempuan), yaitu: kader PEKKA, PKK, kader Posyandu, tokoh
lingkungan (RT/RW), Karang Taruna (remaja/pemuda lakilaki dan perempuan), tokoh masyarakat dan bidan desa. Di
1
Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 107
desa Warnajati, FGD ini dihadiri oleh 13 peserta, dan didesa
Pamuruyan dihadiri oleh 10 peserta.
Wawancara mendalam dilakukan dengan dua Bidan Desa di
Warnajati dan satu bidan desa di Pamuruyan. Kepala Desa
Warnajati dan Sekretaris Desa Pamuruyan ikut terlibat dalam
FGD sehingga tidak dilakukan wawancara mendalam dengan
mereka. Kepala Desa Pamuruyan sedang bertugas di luar
kantor saat FGD berlangsung, jadi tidak bisa diwawancara.
Dalam FGD dengan tokoh masyarakat di desa Warnajati
dan Pamuruyan, peneliti memfasilitasi penyusunan peta desa
secara sederhana untuk memetakan jumlah, lokasi dan
kualitas dari fasilitas desa, seperti posyandu, sekolah, PAUD,
Puskesmas, jalanan, dan lain-lain. Setelah itu, dengan
berkendara mobil dan berjalan kaki, dilakukan penelusuran
wilayah (RW) yang medannya sulit ditempuh karena letak
area yang jauh dari pusat desa, dengan kondisi jalan yang
buruk (tanah merah dan berbatuan), serta kontur tanah yang
terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Gambaran Umum Geografi dan Demografi Sukabumi
Geografi dan Topografi
Desa Warnajati dan Desa Pamuruyan terletak
bersebelahan. Kedua desa memiliki topografi dataran
berbukit, dengan ketinggian tanah dari permukaan laut sekitar
550 meter. Lahan pertanian di kedua desa sangat luas, namun
belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh pemiliknya. Ketika
menyusuri kedua desa, wilayah desa Warnajati terasa jauh
lebih kecil daripada desa Pamuruyan. Ini disebabkan kaerna
wilayah desa Warnajati ‘terpotong’ cukup luas dengan kebun
sawit yang dimiliki oleh perusahaan swasta.
Desa Warnajati dan Desa Pamuruyan memiliki kemiripan
yaitu terdiri dari dua situasi fisik: pedesaan dan perkotaan.
Wilayah pedesaan memiliki lahan pertanian yang lebih luas
108 | Prosiding PKWG Seminar Series
dan cukup jauh dari pusat desa, sedangkan wilayah perkotaan
lebih dekat dengan jalan raya beraspal, hilir mudik kendaraan
dan pusat kota (Kelurahan Cibadak). Beberapa RW dengan
situasi pedesaan di Warnajati dan Pamuruyan cukup sulit
untuk ditempuh karena lokasinya yang cukup jauh, dengan
kontur tanah yang naik turun dan berbelok, jalanan yang terjal
dan dengan kondisi buruk (berbatuan, bertanah merah dan
licin). Wilayah rentan di desa Warnajati adalah RW 05, 06 dan
07, sedangkan wilayah rentan di desa Pamuruyan adalah RW
05, 10, 9 dan 13.
Mata Pencaharian dan Migrasi
Kedua desa masuk di dalam wilayah administratif
Kecamatan Cibadak dengan jarak dari pusat kecamatan hanya
2 (dua) km. Kecamatan Cibadak dikelilingi oleh banyak
perusahaan industri, seperti pabrik garmen dan pabrik pakan
ayam. Industri membuka banyak kesempatan kerja bagi lakilaki dan perempuan dengan syarat pendidikan hanya lulus
SLTP. Menurut salah satu narasumber FGD, perusahaan
industri sekitar mulai mengutamakan perekrutan perempuan
daripada laki-laki karena dianggap mudah diatur, dapat
dibayar lebih rendah dari upah laki-laki, serta tidak akan ribut
atau demo meminta kenaikan gaji.
Banyaknya kesempatan kerja di Kelurahan/Kecamatan
kemungkinan besar menyebabkan hanya sedikit masyarakat
desa yang bermigrasi di dalam atau ke luar negeri. Tidak
tersedia cukup data mengenai jumlah penduduk Warnajati
dan Pamuruyan yang bekerja di perusahaan swasta yang
berlokasi di sekitar, namun hasil diskusi di kedua desa
menunjukkan bahwa tingkat migrasi cukup rendah dan kedua
desa ini bukanlah kantung TKI. Menurut kader PEKKA,
penelitian Kornas PEKKA menunjukkan hanya sekitar 5%
warga yang bermigrasi dan bekerja di Jakarta, Bogor dan
Bandung.
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 109
Selain menjadi buruh pabrik, penduduk memperoleh
pendapatan dari pertanian. Sebagian besar penduduk
Pamuruyan bermata pencaharian petani, yaitu berjumlah
sekitar 24 % dari penduduk usia dewasa. Di Warnajati,
persentasi masyarakat yang menjadi petani tidak dapat
dihitung, karena tidak semua mata pencaharian penduduk
usia produktif teridentifikasi dalam data yang diperoleh dari
Kantor Desa.
Tingkat Sosial Ekonomi
Dilihat dari tingkat pendidikan, sebagian besar penduduk
adalah lulusan Sekolah Dasar, yaitu sebesar 48.49% di desa
Warnajati dan 48.63 % di desa Pamuruyan. Sebagian besar
lainnya adalah lulusan SLTP yaitu sebanyak 31.03 %
penduduk di desa Warnajati dan 19.45% di desa Pamuruyan.
Hanya sebesar 13.37 % penduduk di Warnajati dan 11.1 %
penduduk di Pamuruyan yang melanjutkan pendidikan hingga
SLTA. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan
penduduk di kedua desa.
Di desa Pamuruyan, anak putus sekolah berjumlah 237
orang. Tidak tersedia data anak putus sekolah di desa
Warnajati. Namun hasil diskusi FGD menunjukkan bahwa
banyak anak yang putus sekolah dan juga banyak anak tidak
melanjutkan sekolah setelah lulus SD dan SMP. Kebanyakan
anak langsung ingin dan/atau ‘tertuntut’ bekerja untuk
membantu ekonomi keluarga. Putus sekolah berkaitan dengan
pernikahan dini yang cukup banyak terjadi di kedua desa.
Dari desa Pamuruyan, diperoleh data mengenai kondisi
ekonomi rumah tangga. Sebanyak 4.233 adalah penduduk
miskin, yang berasal dari 867 keluarga Pra Sejahtera dan 843
Keluarga Sejahtera 1. Ini berarti bahwa sekitar 79.57 % KK
tergolong dalam tingkat ekonomi rendah.
110 | Prosiding PKWG Seminar Series
Kepala Keluarga Perempuan
Dari pengolahan data dari Kantor Desa dan PEKKA, maka
diketahui bahwa di desa Warnajati, ada sebanyak 19 % kepala
keluarga adalah perempuan, yaitu berjumlah 347 perempuan.
Sedangkan di desa Pamuruyan, sebanyak 16.9 % kepala
keluarga adalah perempuan yaitu sebanyak 363 perempuan.
Ini berarti bahwa di kedua desa, sekitar 10 % dari total jumlah
penduduk perempuan adalah kepala keluarga. Jumlah ini
merupakan angka yang signifikan.
Kasus Kekerasan
Hasil FGD tidak dapat menggambarkan situasi kekerasan
dalam rumah tangga yang terjadi di kedua desa. Beberapa
peserta FGD menyebutkan bahwa mereka pernah melihat
adanya kekerasan psikis dan fisik di rumah tetangga, namun
mereka tidak memahami situasi yang terjadi dalam
rumahtangga tersebut. PEKKA mencatat kasus kekerasan yang
dilakukan oleh suami terhadap istri yaitu sebanyak 6 kasus di
desa Warnajati dan 17 kasus di desa Pamuruyan. Ini berarti
bahwa presentasi rumah tangga di mana kekerasan tidak
signifikan, yaitu hanya sebesar 0.3% dari jumlah KK di desa
Warnajati dan sebesar 0.79% dari jumlah KK di desa
Pamuruyan. Data mengenai jenis kekerasan dan kasus
kekerasan domestik lainnya seperti kekerasan terhadap anak
belum dapat diperoleh dalam kesempatan ini.
Situasi Kesehatan Ibu dan Anak
Kematian Ibu
Angka kematian ibu di desa Warnajati dapat dikatakan
kecil. Di desa Warnajati, pernah terjadi kasus kematian ibu
saat melahirkan pada tahun 2008. Penyebab kematian ibu
adalah terlambat ditolong dan terlambat mengambil
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 111
keputusan. Ibu hamil ini tinggal di RW 07 dengan kondisi jalan
yang buruk dan posisi yang jauh dari fasilitas kesehatan.
Setelah kejadian tersebut, tidak ada lagi kasus kematian ibu
hingga pengumpulan data oleh tim peneliti dilakukan
(November 2014). Desa Warnajati bukan daerah penyumbang
angka kematian bayi di Kecamatan Cibadak dan di Kabupaten
Sukabumi. Dengan sistem kesiagaannya, desa Warnajati
mendapatkan juara Desa Siaga se-Kabupaten.
Di desa Pamuruyan, angka kematian ibu juga kecil, namun
desa ini menyumbang angka kematian ibu di Kecamatan
Cibadak setidaknya 1-2 kasus per tahun. Kasus kematian ibu
yang terjadi pada tahun 2014 menimpa seorang warga Desa
Pamuruyan yang bekerja di sebuah perusahaan. Perempuan
ini mendapatkan jaminan kesehatan yang cukup baik dari
perusahaan tempat ia bekerja sehingga ia pun rutin
memeriksakan kandungannya ke dokter di Rumah Sakit
Kecamatan Cibadak. Perempuan ini merasa sudah cukup
memeriksakan kandungannya ke Rumah Sakit dan
menyebabkan ia tidak pernah memeriksakan kandungannya
ke Bidan di Posyandu Desa. Saat tiba waktunya melahirkan,
perempuan ini mengalami pendarahan selama 6 (enam) jam
setelah melahirkan bayi kembar. Bayi kembar ini selamat,
namun sang ibu tidak dapat diselamatkan. Bidan desa yang
hadir dalam FGD meyakini bahwa prosedur rumah sakit sudah
benar dan penyebab kematian bayi adalah komplikasi
persalinan.
Tabel 1. Kematian Ibu dan Bayi
Desa Warnajati
Desa Pamuruyan
Kasus Kematian
Ibu
1 kasus kematian ibu
di tahun 2008
1 kasus kematian ibu
di tahun 2014
Kasus Kematian
Bayi (Neonatal)
dan Balita
1 kasus kematian bayi
neonatal prematur
pada tahun 2014
1 kematian bayi
neonatal pada tahun
2014
112 | Prosiding PKWG Seminar Series
1 kasus kematian bayi
neonatal dan 1 kasus
kematian bayi dalam
kandungan (IUFD)
Sumber: Data primer peneliti (Hasil diskusi FGD dan
wawancara mendalam), serta data sekunder yaitu pencatatan
oleh Posyandu dan Bidan
Kematian Bayi dan Balita
Di Warnajati, kasus kematian bayi neonatal terjadi satu kali
pada tahun 2013 dan satu kali pada tahun 2014. Terjadi pula
satu kasus bayi meninggal dalam kandungan (IUFD). Kematian
bayi neonatal adalah kematian bayi dalam usia 0—28 hari.
Penyebab kematian bayi yang biasa terjadi adalah karena
berat badan kurang (BBLR) dan asfiksia (gagal nafas dan lahir
biru).2 Menurut bidan desa dalam diskusi FGD, hal ini bisa
disebabkan karena sang ibu kurang higienis (jamur dari
keputihan tidak diobati), mengalami ketuban pecah, memiliki
kandungan yang terlalu besar, memiliki struktur selaput
ketuban yang lemah, serta kurang mengkonsumsi zat besi.
Penyebab kematian bayi dari sisi sosial adalah karena sang ibu
bekerja dan mengalami keletihan. Selain itu, ibu terlalu muda
(berusia 17 tahun) dan pernah mengalami keguguran pada
kehamilan pertama. Bidan desa menyampaikan bahwa ibu
hamil kadang enggan mengikuti program ‘30 tablet 1 hari’
untuk menambah zat besi dalam darah, karena merasa lebih
mual.
Selain kematian bayi neonatal di desa Warnajati, ada satu
kasus kematian anak lima tahun pada tahun 2013 yang
disebabkan oleh suhu badan tinggi dan dehidrasi. Kematian
2
Skala asfiksia dilihat dari pernafasan, detak jantung, warna kulit, tonus otot.
Skala asfiksia: berat (1-3), sedang (4-7) dan ringan (8-10). Sumber: wawancara
dengan Bidan Desy dan Bidan Afri di desa Warnajati, 21 November 2014
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 113
disebabkan karena kurang penanganan dari keluarga yang
broken home dan kurang komunikasi dengan kader. Kader
kesehatan yang ikut dalam diskusi FGD menyampaikan bahwa
mereka sulit mengetahui kondisi kesehatan anak, jika anggota
keluarga tidak bekerjasama dengan kader kesehatan, yaitu
membagikan informasi tentang kondisi anak dan melaporkan
bila terjadi kondisi darurat dan kebutuhan pertolongan.
Di desa Pamuruyan, terhadi satu kasus kematian bayi
neonatal dengan kondisi darurat dan komplikasi persalinan
yang serius, seperti ditulis dalam kotak khusus berikut ini:
Kotak 1. Kasus Kematian Bayi (Neonatal) di Desa
Pamuruyan, 2014
Seorang perempuan hamil bernama ibu Ningsih (bukan nama
sebenarnya) tinggal di RW 05 Desa Pamuruyan dengan lokasi
berada di lembah yang curam dan sulit ditempuh dari jalan
raya. Kondisi jalan buruk yaitu curam, tidak beraspal, serta
licin karena bertanah merah. Bidan desa sebelumnya telah
menyampaikan kepada Bu Ningsih bahwa posisi bayinya
sungsang dan berpesan jika bu NIngsih merasakan kontraksi
ingin melahirkan, dirinya harus segera memberitahu tetangga
sekitar dan kader kesehatan agar dibawa ke rumah sakit.
Namun Ibu Ningsih baru memberitahu kader kesehatan (istri
kepala RW 05) ketika kaki bayi telah keluar dari lubang
vagina. Kader segera memberitahu kepada bidan desa. Kirakira pada pukul 02.00 dini hari, bidan beserta dengan kepala
RW mencari pertolongan. Kondisi tempat tinggal bu Ningsih
yang sangat sulit dengan jalanan setapak yang licin dan curam
di samping sungai, akhirnya membuat warga harus membawa
bu Ningsih dengan tandu hingga mencapai jalanan desa yang
cukup lebar dan dapat dilalui mobil. Dalam perjalanan, bidan
sudah memberitahu agar bu Ningsih tidak boleh “ngeden” dan
merapatkan kaki agar si bayi tidak keluar. Namun ketika tandu
diturunkan di rumah sakit, bu NIngsih tidak kuat lagi menahan
‘ngeden’. Bayi segera dibawa ke ruang persalinan. Namun
114 | Prosiding PKWG Seminar Series
ternyata kondisi sungsang disertai dengan komplikasi lain
yaitu bayi terlilit tali pusar di leher dan kepala. Bayi tidak
dapat tertolong lagi karena kehabisan oksigen
Bidan desa yang hadir dalam FGD menganalisa faktor
penyebab dari kematian bayi ini yaitu: a) kurangnya
kesadaran perempuan hamil untuk melapor bahwa dirinya
dalam kondisi darurat, karena pernah mengalami
keberhasilan persalinan dengan kondisi sungsang sebelumnya
dan merasa bahwa persoalannya dapat diatasi sendiri, b)
ketakutan akan biaya persalinan yang mahal apalagi suami bu
Ningsih sedang tidak berada di rumah karena mencari
pekerjaan di Jakarta, dan saat itu Ia hanya memiliki uang
sebesar seribu rupiah, c) komplikasi persalinan yang secara
medis sulit ditangani, meski setiap prosedur medis sudah
dijalani dengan benar. Bidan desa menyatakan bahwa
sekiranya tidak terjadi komplikasi, dengan kondisi bayi
sungsang dan kondisi genting mencapai rumah sakit, mungkin
bayi masih dapat diselamatkan. Namun bidan desa
mempercayai bahwa prosedur yang dijalankan oleh pihak
rumah sakit sudah benar.
Sumber: Data primer tim peneliti
Peran suami
Dalam persepsi masyarakat, suami berperan sebagai kepala
keluarga, bekerja di luar rumah dan memenuhi kebutuhan
keluarga, berarti termasuk juga memberi makan bagi istri dan
anak-anaknya. Para suami yang ikut dalam FGD menyatakan
bahwa mereka: a) menemani istrinya ketika melakukan cek
kehamilan secara rutin ke bidan, b) menemani istri sepanjang
proses persalinan, c) bersama dengan istri ikut berkonsultasi
dengan bidan saat menentukan jenis kontrasepsi yang
digunakan.
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 115
Namun tidak semua suami dapat menjalankan perannya
secara optimal. Dalam pernikahan usia muda, para suami sulit
mencari pekerjaan, akhirnya bekerja secara musiman atau
menganggur. Ketiadaan dana membuat suami gagal
memberikan gizi yang baik bagi istrinya saat hamil dan gagal
mempersiapkan persalinan yang aman, seperti yang terjadi
pada bu Ningsih di desa Pamuruyan. Selain itu, menurut para
kader kesehatan, dalam kondisi gawat darurat terutama
menjelang persalinan, kader kesehatan-lah yang lebih
berperan daripada suami karena tidak sedang berada di
samping istrinya.
Mitos & Tradisi tentang Kehamilan dan Kelahiran Bayi
Masyarakat di desa Warnajati dan desa Pamuruyan masih
mempercayai mitos mengenai kehamilan ibu, yaitu hal-hal
yang harus dilakukan oleh ibu hamil dan yang dilarang,
misalnya:
-
-
Harus banyak minum air
Harus memanjangkan rambut agar ketika ‘mengedan’
saat melahirkan, ibu bisa bertahan dengan menggigit
rambutnya sendiri.
Makan dengan piring kecil, agar plasentanya juga kecil
dan memperlancar jalan lahir.
Tidak boleh makan timun, nanas dan pisang, karena
nanti ‘becek’ (keputihan)
Tidak boleh makan salak, karena nanti susah
melahirkan
Bawa bawang putih dan/atau gunting di dada untuk
menolak bala
Tidak boleh berdiri di depan pintu. Istilah pantang
yaitu ‘pamali’. Nanti bisa menghalangi jalan lahir bayi
Harus rajin bersih-bersih rumah, supaya anaknya lahir
putih bersih
Tidak boleh tidur siang
116 | Prosiding PKWG Seminar Series
Mitos biasanya disampaikan oleh dukun beranak (paraji)
atau orangtua perempuan yang sedang hamil dan masih
diikuti hingga sekarang. Contohnya ibu Erni (22 tahun) yang
sedang hamil ketika mengikuti FGD. Ia sedang membawa
gunting di dadanya, yang dianggapnya akan melindungi dia
dan bayinya dari kejahatan. Erni menyampaikan bahwa ia
masih menuruti mitos tersebut karena khawatir hal buruk
malah benar-benar kejadian padanya. Meski mitos-mitos
masih diikuti oleh perempuan hamil sampai sekarang,
perlahan-lahan banyak perempuan muda yang meninggalkan
tradisi tersebut, dengan menentang dan tidak mengikuti
anjuran orangtua/paraji.
Diskusi mengenai tradisi penyambutan bayi menunjukkan
bahwa tidak ada perbedaan antara penyambutan untuk bayi
laki-laki dan bayi perempuan. Desa Warnajati siaga untuk
menyambut kelahiran bayi laki-laki dan perempuan. Kader
siap 24 jam, khususnya ketika tanggal melahirkan semakin
dekat.
Setelah kelahiran bayi, biasanya dilangsungkan tradisi
Aqiqah, yaitu penyampaian rasa syukur yang ditandai dengan
pencukuran rambut bayi. Aqiqah dilakukan untuk bayi
perempuan dan laki-laki. Perbedaan hanya pada jumlah
kambing yang dipotong yaitu 2 ekor untuk laki-laki dan 1 ekor
untuk perempuan. Ini didasari pada perintah dalam Al-Quran.
Namun hal ini bukan kewajiban yang mengikat dan
disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Keluarga Berencana
Penyuluhan KB di kedua desa biasanya diberikan oleh
Bidan Desa kepada pasutri. Pemasangan alat KB biasanya
disertai dengan informed consent dari keduanya. Menurut
bidan desa di Warnajati, keputusan menggunakan jenis
kontrasepsi tertentu diambil secara bersama antara laki-laki
dan perempuan. Tidak terjadi adanya paksaan dari suami
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 117
mengenai pemilihan alat KB. Meski demikian, pemasangan
IUD sering tidak terlalu disetujui oleh suami.
Sebagian besar pasutri di kedua desa memakai kontrasepsi
suntik karena dianggap mudah dan ekonomis. Namun jenis
kontrasepsi ini beresiko untuk menciptakan kehamilan lagi
jika tidak secara rutin digunakan. Jarak pakai kontrasepsi
suntik yang singkat (dengan interval satu bulan) kerap
membuat istri kelupaan melanjutkan suntik dan akhirnya
hamil lagi. Contoh kasus adalah Ibu Eem di desa Pamuruyan
yang menikah di usia 15 tahun dan pada usia saat mengikuti
FGD (37 tahun) sedang hamil anaknya yang ke-enam. Ia telah
menggunakan alat kontrasepsi suntik, namun sering tidak
rutin datang ke Bidan Desa untuk memakai alat suntik dengan
alasan lupa dan malas. Saat diskusi terjadi, seorang kader
kesehatan memberikan saran agar Ibu Eem melakukan steril
rahim, namun ia bersikukuh tidak akan melakukan sterilisasi
karena takut ada efek sakit berkepanjangan paska operasi.
Banyak istri masih takut akan pemakaian kontrasepsi
selain suntik, padahal jenis lainnya sebenarnya paling minim
resiko, misalnya spiral atau IUD. Ada kepercayaan dan asumsi
mengenai IUD yaitu bahwa pemasangannya menakutkan,
memalukan (harus dengan posisi mengangkang) dan dengan
alat speculum, serta menimbulkan pendarahan dan kesakitan.
Para suami dikatakan mengeluh karena penisnya menyentuh
bagian spiral ketika berhubungan seksual, padahal menurut
Bidan Desa bagian tersebut hanyalah benang. Masyarakatpun
membuat dan menyebarkan gambaran tentang IUD yang
menyakitkan, yang membuat mereka sendiri terngiang dengan
gambaran tersebut dan sedapat mungkin tidak menggunakan
IUD.
Saat diskusi, seorang peserta FGD (Ibu Merni)
menyampaikan bahwa seharusnya laki-laki perlu berperan
dalam memakai kontrasepsi, tidak hanya perempuan.
Sebenarnya ada upaya suami menggunakan kondom, seperti
diceritakan oleh Pak Jamaludin (38 tahun) dari Desa Warnajati
118 | Prosiding PKWG Seminar Series
saat diskusi FGD. Ia beberapa kali gagal menggunakan
kondom, sampai akhirnya ia dan istrinya memiliki empat anak.
Sekarang istri pak Jamaludin (Ibu Ai Suningsih, 37 tahun) nya
memakai alat suntik. Ada pula seorang laki-laki di desa
Warnajati yang melakukan vasektomi, seperti diceritakan oleh
Bu Ain (kader Pekka), namun setelah vasektomi, laki-laki ini
mengalami kurang gairah dalam berhubungan seksual. Kasus
ini mempengaruhi pilihan warga lain untuk tidak melakukan
vasektomi.
Semua peserta FGD menyampaikan bahwa penentuan
jumlah anak di dalam keluarga disepakati oleh suami-istri.
Namun menurut Bidan Desy di desa Warnajati, meski
penentuan jumlah anak di dalam keluarga dipengaruhi
bersama-sama antara suami dan istri, sesungguhnya laki-laki
masih mendominasi keputusan. Laki-laki yang dimaksud
adalah termasuk suami, ayah dan paman.
Rencana jumlah anak biasanya dibuyarkan dengan
pemakaian kontrasepsi yang salah atau tidak cocok seperti
yang dijelaskan sebelumnya. Kader kesehatan dalam diskusi
FGD menyampaikan bahwa perlu kecocokan dengan jenis
kontrasepsi yang digunakan, dan masyarakat perlu juga
menyadari mitos yang salah mengenai kontrasepsi.
Kotak 2. Pengalaman KB dari Perempuan yang Menikah di
Usia Muda
Salah seorang warga di desa Pamuruyan yakni Ibu Kokom
menceritakan bahwa Ia baru mengenal KB belum lama ini.
Melalui kesepakatan dengan suaminya, Ibu Kokom
menggunakan kontrasepsi berjenis pil. Bu Kokom menikah di
usia muda (17 tahun) dan mengikuti program KB karena telah
memiliki 5 orang anak. Memiliki lima anak diakuinya sebagai
perwujudan
anggapan
masyarakat
setempat,
yang
mempercayai konsep “banyak anak banyak rejeki”.
Ibu Kokom mengatakan bahwa dahulu sebelum dikenalnya
program KB, jumlah kasus aborsi di wilayahnya setempat
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 119
cukup tinggi. Namun sekarang, setelah program KB berjalan,
tindakan aborsi sudah jauh berkurang. Tindakan aborsi
disebabkan karena pertimbangan bahwa biaya pendidikan
cukup tinggi dan menyulitkan keluarga. Saat ini Ibu Kokom
dan suaminya sudah memiliki pemikiran yang cukup baik
dengan tidak mengizinkan anak mereka untuk menikah di usia
yang masih muda.
Sumber: Data primer tim peneliti
Kebijakan dan Program Kesehatan Ibu dan Anak
Kebijakan dan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
yang ada di desa Warnajati dan desa Pamuruyan memiliki
kemiripan yaitu terdiri dari:
1) Desa Siaga dan RW Siaga 24 jam, dengan mekanisme
yang akan dijelaskan selanjutnya.
2) Kemitraan antara Kader, Paraji dan Bidan, sesuai
dengan Perda Kabupaten Sukabumi No.03/2013
tentang Kemitraan Bidan, Paraji dan Kader Kesehatan.
Perda ini dikeluarkan untuk meminimalkan AKI.
3) Program kesehatan ibu dan anak yang terintegrasi di
Posyandu. Posyandu di setiap RW. Misalnya: desa
Warnajati memiliki 12 posyandu aktif dengan total
jumlah kader sebanyak 60 orang. Posyandu
memperoleh dana operasional dari APBD 1
(Pemerintah Propinsi), yaitu insentif kader sebesar
Rp.200.000 per kader per tahun, serta dana revitalisasi
Posyandu dari APBD 2 (Pemerintah Kabupaten)
sebesar Rp. 750.000,- setahun.
4) Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin) yang bertujuan agar
keluarga menabung untuk meringankan biaya
melahirkan nantinya. Namun tabulin ini kurang
berjalan karena kesadaran masyarakat dalam
menabung masih rendah, dan karena mengandalkan
jaminan kesehatan dari pemerintah.
120 | Prosiding PKWG Seminar Series
5) Jamkesda dan Jamkesmas, mengikuti aturan
pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kader
membantu mengurus jamkesda dan jamkesmas selama
surat administrasi memadai (KTP, KK, dan lain-lain),
jadi warga cukup mendapatkan kemudahan.
6) Jampersal (jaminan persalinan), namun pada tahun
2014 ini tidak ada lagi di desa Warnajati dan desa
Pamuruyan
7) Pos kesehatan desa (Poskesdes) yang melakukan
tindakan preventif, promotif dan kuratif. Di Warnajati,
Poskesdes belum berjalan secara rutin karena
kekurangan tenaga kesehatan, khususnya perawat.
Namun di desa Pamuruyan, Poskesdes sudah berjalan
secara rutin.
8) Program Desa Sehat yang merupakan realisasi
program dari pemerintah Kabupaten, yang akan
dijelaskan selanjutnya.
Mekanisme Desa Siaga dan RW Siaga 24 Jam
Kader-kader Posyandu melakukan sweeping ke rumahrumah di Desa Pamuruyan untuk mendata perempuan yang
sedang hamil. Mereka juga berusaha untuk menghubungi para
ibu hamil melalui telepon untuk memastikan bahwa
perempuan-perempuan yang tengah hamil tidak lupa
memeriksakan kandungannya ke Posyandu atau bidan desa.
Tiap ibu bersalin, termasuk yang beresiko tinggi, didampingi
oleh petugas kesehatan. Ada home visit oleh bidan untuk setiap
ibu hamil setiap sebulan sekali.
Perkiraan tanggal kelahiran bayi biasanya ditetapkan oleh
bidan dan diketahui oleh berbagai pihak (ibu hamil, suami,
kader, tetangga). Ibu hamil dan suami melaporkan ke kader
jika terdapat tanda-tanda kelahiran dan kedaruratan. Kader
dan bidan siap 24 jam.
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 121
Desa juga mendata kendaraan-kendaraan milik warga yang
dapat dijadikan transportasi untuk membantu para
perempuan yang hendak melahirkan pergi ke Rumah Sakit.
Ada kerjasama dengan pemilik kendaraan agar kendaraan
dapat dipinjam secara darurat dan siaga 24 jam. Di Desa
Warnajati, ada kontrak tertulis dengan pemilik kendaraan. Di
desa Pamuruyan, masyarakat juga menjalin kerjasama dengan
polisi agar pihak Polsek dapat meminjamkan kendaraan
ambulance untuk dijadikan kendaraan darurat dalam program
desa dan RW siaga ini. Setelah 5 tahun berjalannya program
ini, telah terjadi lima perubahan yang cukup baik dalam
kaitannya dengan fasilitas kesehatan seperti Posyandu
menjadi lebih baik, ada pelatihan bagi kader Posyandu dan
para perempuan, sanitasi dasar dan pelayanan kesehatan bayi
dan ibu hamil yang terpadu di Posyandu.
Jika ada tanda kedaruratan atau komplikasi, ibu hamil
dapat langsung dibawa ke rumah sakit, tidak harus mendapat
rujukan dulu dari Puskesmas. Pengurusan administrasi
rujukan dapat menyusul dalam kurun waktu 1 x 24 jam.
Kotak 3. Kesiagaan membantu Kehamilan Perempuan
Schizophrenia
Di RW 10 desa Pamuruyan, pernah terjadi kehamilan
perempuan yang mengidap gangguan Schizophrenia yang
prosesnya cukup membekas di memori para kader kesehatan.
Perempuan ini (berinisial R) diperkosa oleh pemuda setempat
yang sudah memiliki istri. R berasal dari keluarga miskin
dengan letak rumah yang terpencil. Ibunda dari R juga
mengidap schizophrenia, sehingga masyarakat menyimpulkan
gangguan mental ini bersifat genetik.
Hal menarik dari kasus ini adalah kesiagaan dan kekompakkan
seluruh petugas kesehatan dan masyarakat dalam
mempersiapkan kelahiran bayi. Masyarakat menyumbang
dana sosial agar R dapat diperiksa secara rutin dengan USG.
122 | Prosiding PKWG Seminar Series
Bahkan Direktur RSUD saat itu siap siaga menerima R
melahirkan kapan saja jika terjadi gawat darurat.
Saat malam Jumat Kliwon menjelang kelahiran bayi, hujan
lebat datang. R merasakan ingin melahirkan dan dia berlarilarian hingga jatuh. Kader kesehatan telah siap membantu dan
mengontak bidan Desa untuk datang. Tidak terjadi komplikasi
saat persalinan dan R dapat melahirkan secara lancar di desa.
Semua orang saat itu sorak bergembira atas keberhasilan
kesiagaan mereka.
Anak R lalu diadopsi oleh keluarga yang berasal dari Jakarta.
Tidak ada tindakan hukum bagi pelaku perkosaan. R malah
dikawinkan dengan pelaku, yang oleh masyarakat dianggap
menyelesaikan permasalahan. R lalu diceraikan. Pelaku
kemudian diusir oleh istri pertamanya keluar dari desa karena
tidak kuat menanggung malu.
Sumber: Data primer tim peneliti
Program Desa Sehat
Program Desa Sehat diprakarsai oleh pemerintah
Kabupaten Sukabumi untuk merespon tingginya AKI dan AKB.
Di setiap desa, dibentuk Forum Desa Sehat sebagai pelaksana
program Desa Sehat. Desa Warnajati dan desa Pamuruyan
termasuk desa yang memiliki Forum Desa Sehat, yang
perwakilannya hadir dalam diskusi FGD di kedua desa.
Program Desa Sehat memiliki tiga unsur program yaitu:
1. Sanitasi Dasar (Sandas). Sanitasi Dasar berjalan di
awal program Desa Sehat, yaitu pada tahun anggaran
pertama. Cakupan program adalah penyediaan air
bersih dan jamban. Sanitasi Dasar di desa Pamuruyan
didasari atas temuan pada tahun 2003 yaitu bahwa
hanya sekitar 45 % masyarakat memiliki kesadaran
mengenai sanitasi dasar. Pada tahun pertama, setelah
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 123
ada akses air bersih dan jamban, terjadi peningkatan
kesadaran masyarakat menjadi sekitar 47%.
2. Kontak Ibu. Unsur ini menitikberatkan pada
permasalahan kesehatan ibu dan anak, termasuk
persoalan kehamilan.
3. Masyarakat Mandiri Kesehatan (MMK), merupakan
gabungan dari dua unsur yaitu Sanitasi Dasar dan
Kontak
Ibu.
Di
desa
Pamuruyan,
melalui
penggabungan kedua unsur tersebut dan ditopang
dengan kerjasama bersama seluruh lapisan
masyarakat, maka tingkat kesadaran akan kebersihan
dan kesehatan masyarakat naik dari 47% menjadi
60%.
Fasilitas Umum Desa
Di desa Warnajati, masyarakat dan kader kesehatan merasa
bahwa fasilitas (alat, perlengkapan dan pelayanan) posyandu,
puskesmas dan rumah sakit selama ini sudah cukup memadai.
Hal yang kurang adalah jumlah tenaga kesehatan (perawat) di
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) sehingga tidak dapat
berjalan dengan rutin. Fasilitas yang kurang lainnya adalah
mobil ambulance yang siap membawa pasien. Di desa
Warnajati, banyak jalanan berbatuan dan rusak dengan kontur
di dataran tinggi (menanjak), khususnya jalanan yang
melewati RW 07 dan 09. Jalanan sulit ditempuh dengan motor.
Pada kondisi hujan, jalanan menjadi licin dan berbahaya.
Karena ketidaksediaan mobil, seorang pasien sakit pernah
harus dibawa turun ke kota dengan tandu.
Di sisi lain, masyarakat Desa Pamuruyan merasakan bahwa
pelayanan kesehatan masih sangat kurang. Desa Pamuruyan
hanya memiliki 1 orang Bidan Desa yang harus melayani
masyarakat yang berjumlah banyak dengan medan lokasi yang
sulit ditempuh saat gawat darurat. Selain itu, bidan desa yang
biasa melayani tidak tinggal di dalam desa. Masyarakat
124 | Prosiding PKWG Seminar Series
berharap agar disediakan tempat tinggal khusus untuk bidan
yang melayani di desa tersebut.
Tabel 2. Fasilitas Kesehatan
Fasilitas
Desa
Posyandu
Jumlah
bidan
Poskesdes
(Pos
kesehatan
desa)
Desa Warnajati
Desa Pamuruyan
12 posyandu
15 Posyandu
Ket: Ada RW yang
memiliki 2 posyandu,
ada yang di rumah dan
ada yang punya
bangunan sendiri.
Tidak semua memiliki
administrasi yang rapi.
Ket : Semua RW di Desa
Pamuruyan memiliki
fasilitas Posyandu
2 bidan, dibagi
berdasarkan wilayah
kerja
1 bidan dan masih
kurang.
1 poskesdes. Tidak
berjalan rutin
Poskesdes (Pos
kesehatan desa). Berjalan
rutin, setiap hari
Sedang menunggu
kedatangan 1 (satu)
bidan lagi yang akan
ditetapkan oleh Dinas
Kesehatan setempat.
Namun prosesnya cukup
lama.
Sumber: Data primer tim peneliti (hasil diskusi dalam FGD dan
wawancara)
Anggaran Desa
Di desa Warnajati, pemerintah desa mengajukan anggaran
desa sebesar Rp.7 milyar untuk tahun 2014, namun dana yang
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 125
diturunkan kurang dari 1 milyar. Menurut Kades Warnajati,
anggaran kesehatan biasanya 10% dari total anggaran desa.
Pada umumnya, program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
terintegrasi di Posyandu. Karena itu, menurut peserta FGD,
anggaran yang perlu dilihat adalah anggaran Posyandu yang
biasanya berjumlah hanya sedikit, yaitu terdiri dari:
-
-
Anggaran dari APBD 1 (Pemerintah Provinsi):
Anggaran untuk Posyandu biasanya berupa insentif
atau honor bagi kader Posyandu, sebesar Rp.200.000.per tahun per kader.
Anggaran dari APBD 2 (Pemerintah Kabupaten):
Anggaran revitalisasi posyandu sebesar Rp.750 ribu
per tahun. Revitalisasi biasanya digunakan untuk
memberbaiki tempat dan membeli alat-alat.
Terkadang anggaran revitalisasi juga digunakan untuk
pemberian MPASI bayi dan makanan tambahan (PMT)
untuk ibu hamil yang kekurangan energi (KEK = LILA
di bawah 23.5 cm).
Menurut Bidan Desa Warnajati, dana operasional untuk
kunjungan ke Posyandu hanya sebesar Rp.12,500.- untuk
setiap kali perjalanan. Untuk 12 posyandu di desa, berarti
dana yang diperoleh sebesar Rp.165ribu. Sedangkan
perjalanan ke posyandu ditempuh dengan ojek dan secara
aktual membutuhkan dana sebesar Rp.20-25 ribu per
perjalanan. Jadi menurut bidan, pekerjaan ini merupakan aksi
sosial dari para bidan.
Di desa Warnajati, tidak ada ada anggaran khusus untuk
Desa Siaga. Dana dikumpulkan dari masyarakat (yang disebut
sebagai dasolkes = dana sosial kesehatan), dengan iuran
sebesar Rp.1000.- atau 2000.- atau dengan menyumbang
beras. Kades Warnajati sedang berupaya meminta anggaran
untuk mobil siaga, sebesar kurang dari Rp.200 juta. Advokasi
ini diperkuat oleh Apdesi, yaitu Asosiasi Kepala Desa se-
126 | Prosiding PKWG Seminar Series
Propinsi yang mendorong Gubernur untuk menurunkan dana
ini.
Desa Pamuruyan memperoleh dana Program Desa Sehat
dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, yaitu sebesar Rp.
8 juta pada tahun pertama, Rp.8 juta pada tahun kedua, dan
Rp.14 juta pada tahun ketiga. Selain itu, ada pula simpanan
dana abadi sebesar 25 juta yang hanya dapat dicairkan
bunganya untuk operasionalisasi Program Desa Sehat, yang
biasanya digunakan untuk membeli keperluan bayi dan
kegiatan penyuluhan.
Perkawinan Dini (Anak)
Tiga dari delapan perempuan yang hadir di FGD
masyarakat akar rumput di Desa Warnajati menikah pada usia
di bawah usia 18 tahun. Selebihnya menikah pada usia 20—21
tahun. Empat dari tujuh perempuan yang terlibat dalam FGD
masyarakat akar rumput di Desa Pamuruyan menikah di
bawah usia 18 tahun, sedangkan selebihnya menikah di usia
19—20 tahun. Ini berarti, dalam sampel ini, sebanyak 37.5 %
dan 57% perempuan menikah pada usia di bawah 18 tahun di
desa Warnajati dan desa Pamuruyan. Namun semua
perempuan yang yang menikah muda ini menyatakan bahwa
mereka tidak mengalami kesulitan dalam persalinan di usia
muda.
Pernikahan dini menjadi bagian yang wajar dari kebiasaan
masyarakat di kedua desa. Pada tahun 1990-2000an, usia
pernikahan di desa bagi perempuan adalah 15—17 tahun.
Sedangkan usia pernikahan bagi laki-laki biasanya 20 tahun.
Dalam lima tahun belakangan ini, pernikahan dini sudah
berkurang, namun masih banyak terjadi.
Menurut peserta FGD, pernikahan dini umumnya
disebabkan oleh dua hal: Pertama, putus sekolah karena tidak
dibiayai oleh orangtua. Kesulitan ekonomi menyebabkan
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 127
orangtua cepat-cepat mendorong anaknya menikah agar
mengurangi beban untuk memenuhi kebutuhan makanan dan
biaya sekolah. Di sisi lain, pernikahan muda juga memutus
kesempatan pendidikan (pendidikan terhenti karena
perempuan menikah dan hamil). Jadi keduanya sama-sama
menjadi sebab akibat. Karena kesulitan ekonomi, banyak
orangtua juga mendorong anaknya (perempuan dan laki-laki)
untuk bekerja di pabrik setelah lulus SMP. Kedua, hubungan
seksual dini oleh remaja, yang didorong oleh pergaulan di luar
rumah, disertai dengan informasi yang minim mengenai
kesehatan reproduksi.
Pernikahan muda di jaman sekarang (tahun 2000-an
dengan makin maraknya informasi teknologi yang canggih),
lebih disebabkan oleh hubungan seks bebas sebelum menikah,
bukan disebabkan oleh paksaan orangtua.
Kades dan kader posyandu mengetahui bahwa Undangundang Perkawinan memperbolehkan anak perempuan
menikah di usia 16 tahun, tetapi tidak menyetujui pernikahan
dini. Usia pernikahan yang ideal bagi peserta FGD adalah
perempuan seharusnya minimal 20 tahun dan usia untuk lakilaki setidaknya 25 tahun. Peserta FGD menyadari bahwa
pernikahan terlalu muda beresiko bagi anak perempuan
karena:
-
Mental tidak siap menjadi orangtua
-
Fungsi alat reproduksi belum sempurna sehingga
kehamilan di usia muda beresiko tinggi
-
Memutus kesempatan pendidikan. Seharusnya
perempuan bisa menyelesaikan sekolah dengan
tingkat yang lebih tinggi.
Dalam kasus kehamilan yang tidak direncanakan pada
remaja, biasanya dilakukan sidang KUA agar dapat
memperbolehkan pernikahan di usia tersebut. Biasanya kader
memberikan penyuluhan bagi pasangan suami istri di usia
128 | Prosiding PKWG Seminar Series
muda untuk melakukan PAP (penundaan anak pertama). Ini
ditujukan untuk mempersiapkan kesehatan reproduksi
perempuan. Semua peserta FGD menganggap bahwa peran
orangtua yang paling harus banyak berperan dalam mencegah
pernikahan usia muda. Orangtua perlu menerapkan program
Gubernur Propinsi Jawa Barat yaitu ’15 menit bersama anak’.
Walaupun pandangan masyarakat sudah berubah
mengenai usia minimal dalam pernikahan, namun faktor
budaya masih sangat berpengaruh dalam mendorong
pernikahan dini. Misalnya pernikahan dini diperbolehkan
dengan tujuan agar menghindari pergaulan bebas yang
menjadi kekhawatiran para orang tua. Selain itu, masyarakat
desa masih menganggap bahwa menikahkan anak merupakan
salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial,
ekonomi, bahkan tindakan criminal perkosaan.
Keterlibatan Perempuan
Perempuan cukup aktif terlibat dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan, politik dan pembangunan desa. Organisasi
perempuan di desa yang menonjol adalah PKK, PEKKA dan
Majelis Taqlim. Tokoh perempuan desa dengan demikian
berkaitan dengan organisasi yang ada yaitu kader kesehatan
(Posyandu), kader PKK, tutor PAUD dan tokoh agama
(Ustazah).
Di bidang politik, ada satu perempuan menjadi wakil BPD
yang masih didominasi oleh laki-laki (perbandingan 9 : 1),
yaitu ibu Enti yang hadir dalam FGD ini. Di Desa Warnajati,
kader PKK dan Posyandu juga aktif terlibat dalam penyusunan
anggaran musrembang, yang biasanya dipimpin oleh Ibu Euis
yang merupakan aktivis Pekka dan pendamping utama
penelitian ini.
Di bidang kesehatan, salah seorang kader kesehatan
perempuan di desa Pamuruyan, yang juga bernama Ibu Enti,
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 129
pernah mengikuti Musrembang sampai tingkat Kabupaten. Ibu
Enti, yang juga adalah kader PEKKA Sukabumi, bercerita
mengenai pengalamannya dalam mempertahankan prioritas
pembangunan yang berkaitan dengan isu-isu perempuan,
dalam debat Musrenbang di tingkat Kecamatan. Ia
menyatakan bahwa jika tidak ada perempuan dalam debat itu,
maka isu-isu perempuan tidak akan terpilih menjadi prioritas.
Menurut peserta FGD, keterlibatan perempuan dan laki-laki
dalam pembangunan desa sudah setara. Mereka
mencontohkan keterlibatan perempuan dalam pembangunan
desa dalam PNPM, yang memiliki SOP keterlibatan perempuan
: laki-laki yaitu 1 : 3. Jadi jika komite pembangunan jalan/gang
terdiri dari 9 orang, maka minimal 3 orang adalah perempuan.
Menurut Kades Warnajati, ada perempuan yang menjadi Ketua
komite. Namun jika dikaji lebih lanjut, ternyata sebagian besar
perempuan terlibat dalam urusan konsumsi pertemuan.
Menurut peserta FGD di kedua desa, pembangunan desa
Warnajati terutama di bidang kesehatan dan pendidikan
bertumbuh karena adanya keterlibatan perempuan.
Perempuan adalah faktor pendorong adanya anggaran
pendidikan dan kesehatan di desa. Anggaran kesehatan
disusun oleh Pokja 4 dan anggaran pendidikan disusun oleh
Pokja 2. Dengan kata lain, kesuksesan pembangunan desa
disebabkan oleh faktor keterlibatan perempuan. Meski
demikian, secara umum, pengambilan keputusan dalam
penyusunan rencana dan anggaran pembangunan desa masih
didominasi oleh laki-laki.
Keterlibatan perempuan kepala keluarga di ranah publik
juga telah dipandang wajar oleh masyarakat. Awalnya,
perempuan kepala keluarga yang aktif di ranah sosial/publik
mendapatkan stigma negatif, karena sering bepergian dalam
waktu lama (misalnya menghadiri pelatihan). Namun dengan
hadirnya jaringan PEKKA dan hasilnya, maka stigma atas
janda sudah berkurang.
130 | Prosiding PKWG Seminar Series
Kesimpulan
Kedua desa yang dikunjungi oleh tim peneliti bukan
merupakan desa yang AKI dan AKB nya tidak tinggi. Desa
Warnajati pernah menjadi juara Desa Siaga pada tingkat
Kabupaten. Desa Pamuruyan juga tidak memiliki AKI dan AKB
yang tinggi, namun secara konsisten menyumbang angka
dengan 1-2 kasus per tahun. Untuk mempertahankan
rendahnya AKI dan AKB, desa Warnajati sedang
membutuhkan satu tenaga perawat untuk Poskesdes dan satu
mobil siaga (ambulance desa), sedangkan desa Pamuruyan
membutuhkan tambahan satu
bidan desa. Menurut
pengamatan peneliti, desa Pamuruyan juga membutuhkan
penambahan satu poskesdes di desa yang berada di lembah
dan sulit dijangkau. Diperlukan upaya mendekatkan pos
kesehatan desa ke rumah tinggal yang terpencil.
Kader kesehatan di kedua desa pro-aktif dan rajin, sehingga
dibanggakan oleh para bidan di kedua desa. Kader dilengkapi
dengan pelatihan dan pengalaman, sehingga memiliki
pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam merespon
permasalahan kesehatan (termasuk kehamilan dan
persalinan), serta faktor yang menyertainya yaitu sosial,
budaya, ekonomi, pendidikan, bahkan politik.
Kebijakan dan program kesehatan Ibu dan Anak cukup
integratif di setiap level, yaitu Kabupaten, Kecamatan dan
Kelurahan/Desa. Anggaran dari pemerintah Propinsi &
Kabupaten untuk kesehatan Ibu dan Anak memang relatif kecil
dibandingkan
anggaran
lain
yaitu
pembangunan
fisik/insfrastruktur, namun kedua desa cukup aktif dalam
menggalang dana masyarakat secara mandiri melalui iuran
sosial.
Meski AKI rendah di kedua desa, masih banyak perilaku
masyarakat yang beresiko merentankan kehamilan dan
persalinan, misalnya:
Ruth Eveline dan Gratianus Prikasetya Putra | 131
-
-
-
Ibu hamil masih menjalankan mitos yang
menghindarkan mereka dari asupan nutrisi yang layak.
Keluarga dan ibu hamil masih mengandalkan Paraji
karena biaya yang lebih murah, meski keamanan bagi
ibu dan calon bayi tidak terjamin.
Pernikahan usia muda masih banyak terjadi di kedua
desa. Kehamilan usia muda merentankan anak
perempuan karena ketidaksiapan organ reproduksi.
Karena pendidikannya yang rendah, anak perempuan
juga kurang menyadari mengenai pentingnya nutrisi
yang baik bagi dirinya saat menjalani kehamilan.
Perilaku pasutri lainnya, misalnya peran suami yang
kurang aktif secara ekonomi, ketakutan orangtua atas
biaya persalinan yang mahal, kurang kerjasama
dengan kader dalam mengurus jaminan kesehatan,
sehingga
membuat
orangtua
gagal
dalam
mempersiapkan kelahiran bayi secara tepat dan aman.
Persoalan gender yang cukup serius di kedua desa adalah
pernikahan di kalangan anak usia 15—18 tahun. Pernikahan
dini merupakan bagian yang wajar di masyarakat, karena
adanya budaya untuk menghindari pergaulan bebas atau
untuk menyelesaikan persoalan sosial ekonomi. Pernikahan
dini di jaman sekarang juga disebabkan oleh hubungan seks di
luar pernikahan yang memaksa pasangan muda untuk
menikah. Akibat pernikahan di usia muda, banyak anak
perempuan harus putus sekolah.
Tingkat pendidikan di kedua desa secara umum cukup
rendah, yaitu penduduk rata-rata merupakan lulusan SD dan
SMP. Namun, kedua desa bukan wilayah pengiriman TKI,
karena terdapat banyak kesempatan kerja di industri untuk
lulusan SLTP. Tingkat kasus kekerasan di kedua desa juga
tidak parah, namun perlu kajian yang lebih mendalam untuk
membuka kasus yang mungkin tersembunyi.
132 | Prosiding PKWG Seminar Series
Download