HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN STRES

advertisement
1
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN
STRES DALAM MENGERJAKAN SKRIPSI
Oleh :
AGITA EKARANI
HEPI WAHYUNINGSIH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI dan ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
2
HALAMAN PENGESAHAN
NASKAH PUBLIKASI
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN STRES
DALAM MENGERJAKAN SKRIPSI
Telah Disetujui Pada Tanggal
________________________
Dosen Pembimbing Utama
(Hepi Wahyuninghsih, S. Psi, M. Si)
3
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN STRES
DALAM MENGERJAKAN SKRIPSI
Agita Ekarani
Hepi Wahyuningsih
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan negatif antara kecerdasan
emosi dengan stress dalam mengerjakan skripsi. Dugaan awal yang diajukan dalam penelitian ini
adalah ada hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan stress dalam mengerjakan skripsi.
semakin tinggi kecerdasan emosi, semakin rendah stress dalam mengerjakan skripsi. sebaliknya
semakin rendah kecerdasan emosi, semakin tinggi stress dalam mengerjakan skripsi.
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi Psikologi yang sedang
menjalani proses skripsi. Teknik pengambilan subjek yang digunakan adalah metode simple
random sampling. Skala yang digunakan adalah skala kecerdasan emosi yang dibuat mengacu
pada teori yang dikemukakan oleh Goleman (2000) yang terdiri dari 22 aitem dan skala stress
dalam mengerjakan skripsi yang dibuat mengacu pada aspek stress yang dikemukakan oleh
Hardjana (2002)
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik
korelasi product moment dengan bantuan program SPSS versi 13,0 untuk menguji apakah terdapat
hubungan antara kecerdasan emosi dengan stress dalam mengerjakan skripsi. Korelasi product
moment dari Pearson menunjukkan korelasi sebesar r = -0,283; p = 0,015 atau p < 0,05 yang
artinya ada hubungan antara kecerdasan emosi dengan stress dalam mengerjakan skripsi. Jadi
hipotesis penelitian ini diterima.
Kata kunci : kecerdasan emosi, stress dalam mengerjakan skripsi
4
PENGANTAR
Perkembangan zaman yang pesat tentunya tidak lepas dari perkembangan
teknologi. Bahkan belakangan ini banyak bermunculan teknologi-teknologi baru
di segala bidang yang mempermudah kehidupan manusia. Ditengah pesatnya
perkembangan teknologi saat ini, menimbulkan persaingan yang tentunya bukan
merupakan sesuatu yang ringan untuk dilalui oleh individu. Sekarang ini individu
harus mampu menghadapi persaingan yang makin hari makin ketat seiring
bermunculannya teknologi yang makin mutakhir.
Ketatnya persaingan yang ada, tidak jarang justru menimbulkan masalah
baru bagi individu-individu yang tidak mampu menghadapinya. Sebagian dari
individu-individu yang gagal dalam menghadapi persaingan tersebut mungkin
akan menghalalkan segala cara untuk dapat tetap “eksis”. Individu yang menjalani
persaingan dengan “ngoyo” atau terlalu serius dan memaksakan diri tentu akan
merasa terpukul apabila pada akhirnya mereka mengalami kegagalan. Sebagian
besar dari mereka pada awalnya mungkin akan melakukan “denial” terhadap
kenyataan yang menunjukkan bahwa mereka gagal. Proses “denial” atau
penolakan tersebut nantinya berakibat pada timbulnya pikiran-pikiran negatif pada
hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan individu tersebut, yang pada
akhirnya nanti justru menyebabkan individu tersebut mengalami stres.
Brehm dan Kassin (Maharsari, 2004), menyatakan bahwa stres merupakan
pengalaman universal. Stres tidak memandang usia, dan disetiap rentang
perkembangan baik bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia pernah
5
mengalami yang namanya stres. Bahkan stres dapat juga dialami oleh orang-orang
dari berbagai bidang pekerjaan, baik pekerja kantoran, tukang pos, pelajar,
mahasiswa, bahkan mungkin saja seorang pelawak dapat juga mengalami stres.
Pelajar dan mahasiswa sebagian masih dapat digolongkan sebagai remaja, dimana
masa remaja merupakan periode yang dipenuhi tekanan dalam hidup dan dipenuhi
oleh situasi stres yang berasal dari perpanjangan stres dimasa kanak-kanak dan
antisipasi dari stres yang akan dihadapi di masa yang akan datang (Kisher, dalam
Maharsari, 2004).
Mahasiswa termasuk salah satu kelompok yang rentan dengan kondisi
stress, baik yang berhubungan dengan kehidupan pribadi seperti masalah kiriman
uang, masalah keluarga dan juga konflik antar teman dan juga kehidupan
perkuliahan seperti tugas-tugas kuliah dan juga tugas akhir atau skripsi.
Sebagai seorang mahasiswa tentunya tidak lepas dari tugas-tugas kuliah
yang berhubungan dengan menulis. Selain menulis makalah, laporan praktikum
dan tugas menulis lainnya, penulisan skripsi juga dinilai sebagai salah satu
prestasi bagi mahasiswa. Penulisan skripsi juga merupakan tugas akhir bagi
mahasiswa program S-1 dan menjadi syarat kelulusan bagi beberapa perguruan
tinggi, melihat adanya manfaat bagi mahasiswa karena skripsi merupakan aplikasi
dan analisis sintesis terhadap teori yang telah diterima selama mengikuti kuliah
(Utama, 2000).
Menurut Sari (2007) ada beberapa masalah yang muncul dan menghambat
penyelesaian skripsi atau bahkan sampai menghentikan proses penyelesaian
skripsi tersebut. Beberapa gambaran menunjukkan indikasi stress bahkan depresi
6
dialami
oleh mahasiswa yang mengerjakan skripsi. Dalam penelitian yang
dilakukan Sari (2007) menjelaskan timbulnya depresi dan stress dikarenakan
jatuhnya mental dan turunnya optimisme ditengah pengerjaan skripsi yang
disebabkan hambatan yang ditemui dan tidak adanya keinginan untuk berusaha.
Oleh karenanya penulisan skripsi dipandang secara negatif sebagai tugas yang
berat bagi mahasiswa. Hambatan dan permasalahan diatas dapat dikatakan sebagai
hambatan yang bersifat psikologis yang biasanya menjadi penyebab yang paling
berpengaruh dalam timbulnya stress. Menurut Lucas dan Wilson (Azhari, 2004),
dalam penelitiannya, bahwa rata-rata orang yang mengalami gejala stress yang
bersifat mental lebih sedikit daripada gejala stres yang bersifat fisik.
Adapun gejala-gejala yang menunjukkan bahwa seseorang mengalami
stress dibagi menjadi 2, yaitu gejala fisik, misalnya : terkena serangan sesak nafas,
rasa mabuk, rasa mual, selera makan tidak sebagaimana mestinya, sering
menderita gangguan pencernaan, mengalami gangguan tidur, merasa sering lelah,
gelisah, pegal-pegal punggung, kesemutan, mimisan, keringat dingin, pusing
kepala, dan jantung berdebar-debar, dan juga gejala mental, dengan tanda-tanda
merasa marah sepanjang waktu, tidak dapat mengambil keputusan, merasa tidak
mampu menghadapi masalah, merasa menjadi orang gagal, merasa tidak
diperhatikan, tidak menyukai orang lain, dan diri sendiri, sering merasa khawatir,
merasa tidak dapat berkonsentrasi dan sulit menyelesaikan tugas, kesulitan
berkomunikasi dengan orang lain, dan kehilangan rasa humor.
Seperti yang dipaparkan oleh Prawitasari (Oktasela, 2001) dalam
penelitannya yang mengungkapkan ada kaitan antara gejala emosi terutama saat
7
stres dengan aktivitas saraf dan kekebalan tubuh. Secara empirik, terutama hasil
penelitian dengan binatang mencoba membuktikan bahwa dalam keadaan stres,
imunitas dapat menurun. Ia menyarankan penggunaan kecerdasan emosi saat
menghadapi stres.
Menurut Gotman dan De Claire (1998), adanya kemampuan untuk
mengatur emosi akan mampu menjadikan seseorang lebih terampil dalam
menenangkan diri ketika marah, lebih terampil memusatkan perhatian, dan lebih
mudah dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan mengatur emosi
yang dimiliki seseorang berhubungan erat dengan kecerdasan emosional yang ada
dalam dirinya.
Reuver Bar-On (Stein dan Book, 2000) menyatakan bahwa kecerdasan
emosi adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan non kognitif
yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan
tekanan dari lingkungan. Mereka yang kecerdasan emosionalnya terasah, akan
memiliki satu atau beberapa dari banyak karakter-karakter mental yang positif,
seperti : sabar, tenang, pantang putus asa, dan percaya diri.
Menurut Goleman (2000), kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk
mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi
diri, dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dalam berhubungan
dengan orang lain, kemampuan untuk bertahan menghadapi frustasi, mengatur
suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan beban berpikir,
serta berempati dan berdoa. Mayer (dalam Goleman, 2000) menambahkan,
kecerdasan emosi adalah kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan
8
sendiri dan juga orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk
memandu pikiran dan tindakan. Gagne (Glover,1975) mengemukakan bahwa
pengalaman belajar yang diperoleh individu dari sekolah maupun pengalaman
hidupnya
banyak
berperan
dalam
usaha
menyelesaikan
masalah.
Cara
penyelesaian masalah pada diri setiap individu mempengaruhi pembentukan
kecerdasan emosinya. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi kecerdasan emosi dalam kehidupan seseorang adalah pengalaman
belajar yang didapat sebelumnya.
Penelitian Goleman (1996), yang mengemukakan bahwa komponen
kecerdasan emosi terdiri dari aspek-aspek :
a) Kesadaran diri
: memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri.
b) Pengaturan diri
: menangani emosi sehingga berdampak positif, mampu
pulih dari tekanan emosi.
c) Motivasi
: menggunakan hasrat terdalam untuk menggerakkan dan
untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
d) Empati
: mampu memahami sesuatu berdasarkan perspektif orang
lain.
e) Ketrampilan sosial : menangani emosi dengan baik ketika berhubungan
dengan orang lain dan cermat membaca situasi dan
jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan
ketrampilan untuk mempengaruhi dan memimpin orang
lain, menyelesaikan perselisihan dan bekerjasama dengan
baik dalam tim.
9
Menurut Book dan Stein (2000), seseorang yang memiliki kecerdasan
emosional akan memiliki ketahanan menanggung stres yaitu kemampuan untuk
tetap tenang dan sabar ketika menghadapi masalah tanpa terbawa emosi. Orang
yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosionalnya akan
mengalami pertarungan batin yang menghambat kemampuan mereka untuk
berkonsentrasi pada karir atau pekerjaan ataupun untuk memiliki pikiran yang
jernih.
Hal tersebut berkaitan dengan stres yang dialami mahasiswa yang sedang
menghadapi skripsi. Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa kecemasan,
kekhawatiran dan ketakutan yang dirasakan oleh mahasiswa dapat menyebabkan
stres yang berkepanjangan yang nantinya dapat menimbulkan gangguan fisik dan
emosional dalam dirinya. Apabila mahasiswa yang sedang menyusun skripsi tidak
terasah kecerdasan emosionalnya tentunya akan mengalami kesulitan untuk
menghimpun kendali atas emosinya dan berakibat pada terhambatnya kemampuan
untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan skripsi.
Hardjana (1994), merumuskan bahwa stress adalah keadaan atau kondisi
yang tercipta bila transaksi orang yang mengalami stress dan hal yang dianggap
mendatangkan stress membuat orang yang bersangkutan melihat ketidak
sepadanan, entah nyata atau tidak nyata, antara keadaan atau kondisi dan sistem
sumber daya biologis, psikologis, dan sosial yang ada padanya.
Sedangkan Lazarus (Christian, 2005) mendefinisikan stress sebagai bentuk situasi
dan perasaan yang dialami ketika seseorang merasakan adanya tuntutan yang
10
melebihi daya kemampuan pribadi dan sosial yang bisa dia kerahkan. Ogden
mengartikan stress sebagai suatu kondisi penuh tekanan, tertekan, keadaan emosi
yang tidak mengenakkan. Stress juga berhubungan dengan reaksi-reaksi fisiologis
yang tampak pada kondisi yang penuh tekanan.
Hardjana (1994) berpendapat bahwa individu yang mengalami stres akan
menunjukkan gejala-gejala yang tentunya berbeda dengan individu lain yang juga
mengalami stres. Adapun gejala-gejala tersebut meliputi :
a) Gejala fisikal, misalnya berupa gangguan-gangguan pada fisik seperti sakit
kepala dan punggung, kesulitan tidur dan buang air besar, urat tegang-tegang
terutama pada leher dan bahu, selera makan berubah, tekanan darah
tinggi,selera makan berubah, mudah lelah,
b) Gejala emosional, seperti mudah menangis,mudah tersinggung, gugup, merasa
gelisah atau cemas, dan sebagainya
c) Gejala intelektual, berhubungan dengan gangguan pada pola pikir dan kualitas
dalam bekerja, seperti susah berkonsentrasi, mudah lupa, melamun berlebihan,
mutu kerja rendah dan lain-lain
d) Gejala interpersonal, misalnya seperti mudah membatalkan janji dengan orang
lain, suka mencari kesalahan orang lain, kehilangan kepercayaan kepada orang
lain, “mendiamkan” orang lain.
11
METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa program studi Psikologi Fakultas
Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia yang sedang
mengerjakan skripsi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan
metode Simple Random Sampling.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah bentuk kuesioner atau
yang disebut bentuk angket. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecerdasan
emosi yang dibuat mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Goleman (2000)
dan skala stress dalam mengerjakan skripsi yang dibuat mengacu teori yang
dikemukakan oleh Hardjana (1994).
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, diuji dengan menggunakan
analisis statistik. Metode analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis
adalah korelasi product-moment dari Pearson, yang dilakukan dengan program
komputer SPSS (Statistical Programme for Social Science) 13 for Windows.
12
HASIL PENELITIAN
a. Uji validitas
Uji validitas aitem dilakukan pada skala kecerdasan emosi dan skala stress
dalam mengerjakan skripsi. Hasil analisis aitem yang dilakukan pada skala
kecerdasan emosi menunjukkan bahwa dari 25 aitem yang dipakai pada proses try
out terdapat tiga aitem yang gugur, yaitu aitem nomor 2, 10,16. Diperoleh 22
aitem yang sahih dengan koefisien validitas antara 0,366 – 0,661. Sedangkan uji
validitas pada skala stress dalam mengerjakan skripsi menunjukkan bahwa dari 20
aitem yang dipakai pada proses try out terdapat satu butir aitem yang gugur yaitu
aitem nomor 1. Diperoleh 19 aitem yang sahih dengan koefisien validitas antara
0,307 – 0,756.
b. Uji reliabilitas
Koefisien reliabilitas alpha yang diperoleh untuk skala kecerdasan emosi
adalah sebesar 0,877. Sedangkan koefisien reliabilitas yang diperoleh untuk skala
stres dalam mengerjakan skripsi adalah sebesar 0,931.
c. Uji normalitas
Dari uji normalitas pada skala kecerdasan emosi Z sebesar 0,990 dan nilai
p = 0,281 (p > 0,05). Sedangkan hasil uji normalitas pada skala stress dalam
mengerjakan skrispi Z sebesar 0,644 dan nilai p = 0,801 (p > 0,05). Berdasarkan
hasil uji normalitas yang dilakukan dapat dikatakan bahwa skala kecerdasan
emosi dan skala stress dalam mengerjakan skripsi memiliki sebaran yang normal.
13
d. Uji linearitas
Data penelitian dikatakan memiliki hubungan yang linear jika p < 0,05.
Dari hasil analisis data diperoleh F = 4,566 dengan p = 0,039 (p < 0,05).
Berdasarkan hasil uji linear tersebut dapat diaktakan bahwa variabel kecerdasan
emosi memiliki korelasi yang linear dengan variabel stress dalam mengerjakan
skripsi.
e. Uji hipotesis
Dari hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
koefisien korelasi antara variabel stress dalam mengerjakan skripsi dengan
variabel kecerdasan emosi adalah sebesar r = -0,283 dan p = 0,015 (p < 0,05). Hal
tersebut berarti bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan
emosi dengan stress dalam mengerjakan skripsi. dari uraian tersebut dapat
diketahui bahwa hipotesis yang diajukan peneliti diterima. Semakin rendah
kecerdasan emosi maka semakin tinggi stress dalam mengerjakan skripsi, semakin
tinggi kecerdasan emosi maka semakin rendah stress dalam mengerjakan skripsi.
Sumbangan efektif kecerdasan emosi terhadap stress dalam mengerjakan
skripsi adalah sebesar 8 % (0,080). Sebanyak 8 % stress yang dialami mahasiswa
dalam mengerjakan skripsi dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Sedangkan
sisanya 92 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel tersebut.
14
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis tentang adanya hubungan
negatif antara kecerdasan emosi dengan stres dalam mengerjakan skripsi pada
mahasiswa program studi Psikologi Universitas Islam Indonesia. Setelah melalui
beberapa proses pengolahan data, diperoleh hasil yang mendukung hipotesis
tersebut.
Hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini terbukti melalui nilai koefisien
korelasi yang diperoleh (r = -0,283 dan p = 0,015, p < 0,05). Hal tersebut
membuktikan bahwa ada hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan stres
dalam mengerjakan skripsi. Semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin
rendah stres dalam mengerjakan skripsi, tetapi apabila kecerdasan emosi rendah
maka semakin tinggi stres dalam mengerjakan skripsi. Hal ini menunjukkan
bahwa hipotesis yang diajukan peneliti diterima.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Utama (2000). Salah
satu hasil dari diskusi kelompok terarah dalam penelitian itu menyebutkan bahwa
kecerdasan emosi merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi
proses skripsi. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa apabila
seorang mahasiswa memiliki kecerdasan emosi yang terasah maka dapat
membantu kelancaran proses skripsinya.
Goleman (1996) menyatakan bahwa kecerdasan emosi mencakup
pengendalian diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi
15
diri sendiri. Dari uraian tersebut dapat kita lihat bahwa kecerdasan emosi memiliki
pengaruh terhadap proses skripsi. Hal tersebut berhubungan dengan kemampuan
untuk memotivasi diri sendiri yang sangat penting artinya dalam proses skripsi.
16
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dari data yang didapatkan dilapangan, maka
penulis mengambil kesimpulan bahwa adanya hubungan negatif yang signifikan
antara kecerdasan emosi dengan stress dalam mengerjakan skripsi. Hal itu berarti
semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin rendah stress dalam mengerjakan
skripsi, sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosi maka semakin tinggi stress
dalam mengerjakan skripsi. Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa hipotesis
penelitian diterima. Sumbangan variabel kecerdasan emosi terhadap stress dalam
mengerjakan skripsi adalah sebesar 8 %. Hal tersebut menunjukkan ada faktorfaktor penentu lain yang mempengaruhi stress dalam mengerjakan skripsi selain
kecerdasan emosi.
SARAN
1. Bagi Subjek Penelitian
Dalam usaha meningkatkan kualitas alumni, hendaknya mahasiswa
program studi Psikologi yang sedang mengerjakan skripsi dapat lebih
berkonsentrasi dalam mengerjakan skrispi. Selain itu perlunya pemahaman
yang cukup tentang proses pengerjaan skripsi terutama tentang penelitian yang
akan dilakukan.
Mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi hendaknya lebih banyak
berpikiran positif tentang lingkungan sekitarnya. Diharapkan dengan selalu
berpikiran positif, mahasiswa dapat mengontrol emosi-emosi negatif sehingga
proses mengerjakan skripsi tidak terhambat oleh stress yang timbul karena
emosi-emosi negatif tersebut.
17
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dengan melihat hasil penelitian yang menunjukkan sumbangan kecerdasan
emosi terhadap stress dalam mengerjakan skripsi sebesar 8 %, maka
disarankan untuk lebih menggali faktor-faktor lain yang mempengaruhi stress
dalam mengerjakan skripsi.
18
DAFTAR PUSTAKA
Azhari, A. 2004. Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta : PT. Mizan
Publika.
Christian, M. 2005. Jinakkan Stres: Kiat Hidup Bebas Tekanan. Yogyakarta :
Nexx Media.
Goleman, D. 1996. Kecerdasan Emosional (terjemahan: Hermaya). Jakarta :
Garmesia Pustaka Utama.
Goleman, D. 1999. Working With Emotional Intelligence. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Goleman, D. 2000. Kecerdasan Emosional Untuk Mencapai Puncak Prestasi.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hardjana, A. M. 1994. Stres Tanpa Distres : Seni Mengelola Stres. Yogyakarta :
Kanisius.
Maharsari, J. N. 2004. Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Kendali
Emosi pada Remaja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas
Psikologi Universitas Gajah Mada.
Oktasela, D. 2001. Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Stres Kerja. Skripsi
(Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah
Mada.
Sari, V. Y. 2007. Hubungan Antara Optimisme dengan Problem Focused Coping
pada Mahasiswa Pengambil Skripsi. Skripsi (Tidak Diterbitkan).
Yogyakarta : Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial
Budaya Universitas Islam Indonesia.
Shapiro, L. 1997. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta :
Buana Printing.
Stein, S. J. & Book, H. E. 2000. Ledakan EQ : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan
Emosinal Meraih Sukses (Terjemahan). Bandung : Kaifa.
Utama, J. S. A. 2000. Faktor-faktor Psikologis yang Mempengaruhi Proses
Penulisan Skripsi. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas
Psikologi Universitas Gajah Mada.
Download