salinan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha

advertisement
SALINAN
PUTUSAN
Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia selanjutnya disebut Komisi yang
memeriksa Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 telah mengambil Putusan tentang Dugaan
Pelanggaran Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (“selanjutnya disebut Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1999”) juncto Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang
dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
(“selanjutnya
disebut
Peraturan
Pemerintah
Nomor
57
Tahun
2010”)
terkait
Keterlambatan Pemberitahuan Pengambilan Saham PT HD Finance, Tbk. oleh PT Tiara
Marga Trakindo, yang dilakukan oleh: ------------------------------------------------------------------PT Tiara Marga Trakindo (“selanjutnya disebut Terlapor”), berkedudukan di Gedung
TMT 1, Lantai 19, Jalan Cilandak KKO Nomor 1, Jakarta 12560, Indonesia; --------------------Majelis Komisi; --------------------------------------------------------------------------------------------Setelah membaca Laporan Keterlambatan Pemberitahuan;-------------------------------------------Setelah membaca Tanggapan Terlapor terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan; ------Setelah mendengar keterangan para Ahli; ---------------------------------------------------------------Setelah mendengar keterangan Terlapor; ----------------------------------------------------------------Setelah membaca Kesimpulan Hasil Persidangan dari Investigator; --------------------------------Setelah membaca Kesimpulan Hasil Persidangan dari Terlapor; ------------------------------------Setelah membaca surat-surat dan dokumen-dokumen dalam perkara ini; ---------------------------
TENTANG DUDUK PERKARA
1.
Menimbang, bahwa Sekretariat Komisi telah melakukan penyelidikan terhadap
keterlambatan pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh
Terlapor; ------------------------------------------------------------------------------------------------
SALINAN
2.
Menimbang,
bahwa
berdasarkan
Laporan
Penyelidikan,
Sekretariat
Komisi
mengidentifikasi adanya keterlambatan pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD
Finance, Tbk. oleh Terlapor; -----------------------------------------------------------------------3.
Menimbang, bahwa berdasarkan Laporan Penyelidikan, Sekretariat Komisi menyusun
Laporan Keterlambatan Pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk.
oleh Terlapor; ------------------------------------------------------------------------------------------
4.
Menimbang, bahwa Laporan Keterlambatan Pemberitahuan telah disampaikan dan
disetujui dalam Rapat Komisi pada tanggal 11 Maret 2014 (vide bukti I19); ----------------
5.
Menimbang, bahwa berdasarkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, Ketua Komisi
menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan dengan menerbitkan Penetapan Komisi Nomor
16/KPPU/PEN/III/2014 tanggal 28 Maret 2014 tentang Pemeriksaan Pendahuluan
Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A1);----------------------------------------------
6.
Menimbang, bahwa berdasarkan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan tersebut, Ketua
Komisi menetapkan pembentukan Majelis Komisi melalui Keputusan Komisi Nomor
39/KPPU/Kep/III/2014 tanggal 28 Maret 2014 tentang Penugasan Anggota Komisi
sebagai Majelis Komisi pada Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 07/KPPUM/2014 (vide bukti A2);------------------------------------------------------------------------------
7.
Menimbang, bahwa Ketua Majelis Komisi Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014
menerbitkan Surat Keputusan Majelis Komisi Nomor 18/KMK/Kep/IV/2014 tanggal 2
April 2014 tentang Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 07/KPPUM/2014 yang dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja
terhitung sejak tanggal 8 April 2014 sampai dengan tanggal 17 April 2014 (vide bukti
A6); ------------------------------------------------------------------------------------------------------
8.
Menimbang bahwa Majelis Komisi telah menyampaikan Pemberitahuan Pemeriksaan
Pendahuluan, Petikan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, Petikan Surat Keputusan
Majelis Komisi tentang Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, dan Surat Panggilan
Sidang Majelis Komisi I kepada Terlapor (vide bukti A8 , A5, A7, A9); --------------------
9.
Menimbang, bahwa pada tanggal 8 April 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi I yang dihadiri oleh Investigator dan Terlapor dengan agenda (vide
bukti B1): ----------------------------------------------------------------------------------------------9.1
Pembacaan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan; -------------------------------------
9.2
Penyerahan
dan/atau
Pembacaan
Tanggapan
Laporan
Keterlambatan
Pemberitahuan dari Terlapor; ---------------------------------------------------------------9.3
Penyerahan daftar saksi dan/atau ahli beserta alat bukti dari Investigator dan
Terlapor kepada Majelis Komisi;------------------------------------------------------------
halaman 2 dari 110
SALINAN
10. Menimbang bahwa pada Sidang Majelis Komisi tanggal 8 April 2014, Investigator
membacakan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang pada pokoknya berisi hal-hal
sebagai berikut (vide bukti B1): --------------------------------------------------------------------10.1 Dasar: -------------------------------------------------------------------------------------------10.1.1
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; ---------------------------------
10.1.2
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau
Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang
dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat; -----------------------------------------------------------------
10.1.3
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010
tentang Tata Cara Penanganan Perkara; -----------------------------------------
10.1.4
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 10 Tahun 2010
tentang Formulir Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan
Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan; -------------------------------
10.1.5
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 3 Tahun 2012
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Komisi Pengawas Persaingan
Usaha
Nomor
13
Tahun
2010
tentang
Pedoman
Pelaksanaan
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat; --------------------------------------------------10.1.6
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2012
tentang Pedoman Pengenaan Denda Keterlambatan Pemberitahuan
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan; --------------------------------------------------------------------------
10.2 Terlapor dalam perkara ini adalah PT Tiara Marga Trakindo, yang beralamat di
Gedung TMT 1, Lantai 19, Jalan Cilandak KKO Nomor 1, Jakarta 12560; ---------10.3 Obyek perkara ini adalah Keterlambatan Pemberitahuan Pengambilalihan Saham
PT HD Finance Tbk. oleh PT Tiara Marga Trakindo; ----------------------------------10.4 Terlapor diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto
Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; ----------------------------------Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999---------------------------------(1)
Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 yang berakibat nilai aset dan atau
nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib diberitahukan kepada
halaman 3 dari 110
SALINAN
Komisi,
selambat-lambatnya
30
(tiga
puluh)
hari
sejak
tanggal
penggabungan, peleburan, atau pengambilalihan tersebut.
(2)
Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata
cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.-----------------------------------------------------
Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010--------------------------(1)
Penggabungan
Badan
Usaha,
Peleburan
Badan
Usaha
atau
Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai asset
dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan
secara tertulis kepada Komisi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
tanggal Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha atau
Pengambilalihan saham perusahaan--------------------10.5 Bahwa dugaan pelanggaran Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 jo.
Pasal 5 PP Nomor 57 Tahun 2010 yang dilakukan oleh Terlapor adalah sebagai
berikut: -----------------------------------------------------------------------------------------10.5.1
KPPU telah menerima Pemberitahuan dari PT Tiara Marga Trakindo
yang melakukan pengambilalihan Saham (akuisisi) PT HD Finance Tbk.
pada tanggal 24 Juni 2013 (vide I11); --------------------------------------------
10.5.2
Pemberitahuan tersebut dicatat oleh KPPU dengan nomor register
A13613 (vide I11); ------------------------------------------------------------------
10.5.3
Berdasarkan pemberitahuan tersebut diketahui dalam pemberitahuan
tersebut
diketahui
nilai
aset
hasil
penggabungan
adalah
Rp.30.891.691.813.936 (vide I11); ----------------------------------------------2012
PT. Tiara Marga Trakindo (dalam USD)
PT. HD Finance (dalam Rupiah)
3,009,779,951
1.588.474.211.000
Selanjutnya setelah dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan
kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap
USD 1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai aset PT. Tiara Marga
Trakindo adalah Rp.29.303.217.602.936 sehingga nilai aset hasil
penggabungan adalah Rp.30.891.691.813.936;--------------------------------10.5.4
Bahwa dalam pemberitahuan tersebut diketahui nilai penjualan hasil
penggabungan adalah Rp.24.518.222.785.456 (vide I11); -------------------2012
PT. Tiara Marga Trakindo (dalam USD)
halaman 4 dari 110
2,410,536,648
SALINAN
PT. HD Finance (dalam Rupiah)
1.049.238.000.000
Selanjutnya setelah dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan
kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap
USD 1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai penjualan PT. Tiara
Marga Trakindo adalah Rp.23.468.984.785.456 sehingga nilai penjualan
hasil penggabungan adalah Rp.24.518.222.785.456.
10.6 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah Badan Usaha Pengambilalih; --------------10.6.1
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah pelaku usaha selaku Badan
Usaha Pengambilalih; --------------------------------------------------------------
10.6.2
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo didirikan pada tahun 1970 dengan
nama PT Trakindo Utama berdasarkan Akta Notaris Djojo Muljadi, S.H.,
No. 55 tanggal
23 Desember 1970. Akta Pendirian tersebut telah
disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. J.A.5/115/1 tanggal 31 Juli 1971; -----------------------------10.6.3
Bahwa Akta Pendirian tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan
dan dengan Akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H., No. 16
tanggal 16 Agustus 2000 mengenai perubahan nama perusahaan dari PT
Trakindo Utama menjadi PT Tiara Marga Trakindo. Perubahan nama ini
telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-125.HT.01.04.TH2001
tanggal 4 Januari 2001; -------------------------------------------------------------
10.6.4
Bahwa Perubahan terakhir berdasarkan Akta Notaris Mala Mukti,
S.H.,LL..M, No. 79 tanggal 18 April 2012 mengenai perubahan susunan
Direksi Perusahaan. Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.
AHU-AH.01.10-18565 tanggal 24 Mei 2012; ----------------------------------
10.6.5
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah perseroan yang bergerak di
bidang perdagangan, pemborongan (kontraktor), pengangkutan, industri,
percetakan, perwakilan dan/atau peragenan, pekerjaan teknik, jasa atau
pelayanan, pemukiman dan pertanian. PT Tiara Marga Trakindo
merupakan holding company yang memiliki beberapa anak perusahaan; --
10.6.6
Bahwa pemegang saham PT Tiara Marga Trakindo adalah sebagai
berikut (vide I11): ------------------------------------------------------------------No.
1.
Pemegang Saham
Komposisi Kepemilikan (%)
Achmad Hadiat Hamami
99,40%
halaman 5 dari 110
SALINAN
2.
10.6.7
Achmad Ridwan Hamami
0,60%
Bahwa nilai penjualan dan aset Terlapor dalam kurun waktu 3 (tiga)
tahun terakhir adalah (vide I11); -------------------------------------------------Tahun
2010
2011
2012
Nilai Penjualan
USD 1.327.301.087
USD 2.352.388.452
USD 2.410.536.646
Nilai Aset
USD 1.329.061.371
USD 2.311.119.805
USD 3.009.779.951
10.7 PT HD Finance, Tbk. adalah Badan Usaha yang diambil alih; ------------------------10.7.1
Bahwa PT HD Finance, Tbk. adalah pelaku usaha sebagai Badan Usaha
yang diambilalih; --------------------------------------------------------------------
10.7.2
Bahwa PT HD Finance, Tbk. merupakan suatu perseroan terbatas yang
didirikan berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Republik Indonesia dan berkedudukan di Jakarta, beralamat di Jalan
Lingkar Luar Barat Kav. 35-36 Kelurahan Rawa Buaya Cengkareng
Jakarta Barat; ------------------------------------------------------------------------
10.7.3
Bahwa PT HD Finance, Tbk. didirikan berdasarkan Akta Notaris F.A.
Tumbuan No. 41 tanggal 20 September 1972 dengan nama PT Indonesia
Lease Corporation; ------------------------------------------------------------------
10.7.4
Bahwa PT HD Finance, Tbk. beberapa kali mengalami perubahan nama
yaitu menjadi PT Mitra Pradityatama Leasing berdasarkan Akta Notaris
Jacinta Susanti, S.H. No. 27 tanggal 17 Juni 1988 sebagaimana diubah
dengan Akta Jacinta Susanti, S.H. No. 19 tanggal 10 Maret 1989.
Kemudian berdasarkan Akta Notaris Imas Fatimah, S.H. No. 37 tanggal
19 Juni 1995 nama perseroan berubah menjadi PT Niaga Leasing
Corporation dan pada tahun 2000 diubah kembali menjadi PT Niaga
Leasing berdasarkan Akta Notaris Siti Rahyana, S.H. sebagai Notaris
pengganti dari Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti, S.H. No. 51 tanggal 12
September 2000. Perseroan mengubah nama kembali berdasarkan Akta
Notaris Irawan Soerodjo, S.H. No. 16 tanggal 5 Desember 2001 jo. Akta
Notaris Irawan Soerodjo, S.H. No. 13 tanggal 5 Pebruari 2002 menjadi
PT Niaga Indovest Finance. Terakhir perseroan mengubah nama menjadi
PT HD Finance berdasarkan Akta Notaris Eliwaty Tjitra, S.H. No. 39
tanggal 13 Desember 2005;--------------------------------------------------------
10.7.5
Bahwa pada tahun 2011, PT HD Finance, Tbk. melakukan penawaran
umum perdana atas saham perseroan sebagaimana telah disetujui oleh
pemegang saham perseroan berdasarkan Akta Notaris Doktor Irawan
halaman 6 dari 110
SALINAN
Soerodjo, S.H., Msi. No. 31 tanggal 12 Januari 2011, serta mencatatkan
sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada bulan Mei 2011; -------------------10.7.6
Bahwa PT HD Finance, Tbk. memiliki 31 kantor cabang yang tersebar di
Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bekasi,
Tambun, Tangerang, Serpong, Serang, Cikupa, Ciledug, Depok, Bogor,
Cileungsi, Cikarang, Karawang, Bandung, Cimahi, Semarang, Surabaya,
Sidoarjo, Madiun, Tulungagung, Gresik, Kediri, Malang, Medan, Binjai,
Palembang, Betung dan Pekanbaru; ----------------------------------------------
10.7.7
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar PT HD Finance,
Tbk. maksud dan tujuan PT HD Finance, Tbk. adalah bergerak dalam
bidang pembiayaan termasuk pembiayaan sesuai dengan Prinsip Syariah;
10.7.8
Bahwa pemegang saham PT HD Finance, Tbk sebelum pengambilalihan
adalah sebagai berikut (vide I11); -----------------------------------------------No.
1.
10.7.9
Pemegang Saham
2.
Wealth Paradise
Limited
PT HD Corpora
3.
Soeharto Djojonegoro
4.
Publik
Komposisi Kepemilikan (%)
Holdings
48,70%
21,43%
0,0000065%
29,87%
Bahwa nilai penjualan dan asset PT HD Finance, Tbk dalam kurun waktu
3 (tiga) tahun terakhir adalah (vide I11); ---------------------------------------Tahun
2010
2011
2012
Nilai Penjualan
Nilai Aset
Rp. 568.353.000.000
Rp. 764.434.000.000
Rp.1.028.822.000.000
Rp.1.241.206.378.000
Rp.1.049.238.000.000
Rp.1.588.474.211.000
10.8 Bahwa terkait transaksi dapat diuraikan sebagai berikut: -------------------------------10.8.1
Bahwa pada tanggal 8 Maret 2013 Terlapor mengambilalih 693.000.000
saham atau setara dengan 45% saham PT HD Finance, Tbk. milik Wealth
Paradise Holdings Limited dan PT HD Corpora; ------------------------------
10.8.2
Bahwa berdasarkan ketentuan Angka 4 huruf a butir 5 Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1, pada tanggal 13 April sampai dengan 12 Mei
2013 Terlapor melakukan tender offer. Hasil pelaksanaan tender offer
tersebut, Terlapor memperoleh 172.571.500 saham atau setara dengan
11,21% saham yang telah diterbitkan PT HD Finance, Tbk.; (vide I3); ----
10.8.3
Bahwa dalam rangka untuk menyesuaikan dengan rencana investasi awal
Terlapor pada HD Finance, pada tanggal 14 Juni 2013, Terlapor
halaman 7 dari 110
SALINAN
melakukan penjualan saham HD Finance sebanyak 6.223.833 saham atau
setara 0,43% total saham HD Finance yang telah diterbitkan. Dengan
demikian kepemilikan saham Terlapor pada HD Finance adalah sebesar
55,81%. (vide I5); ------------------------------------------------------------------10.8.4
Bahwa berdasarkan surat yang disampaikan Terlapor kepada Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) No. TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal
Pengumuman Pengambilalihan HD Finance oleh PT Tiara Marga
Trakindo, pengambilalihan saham HD Finance efektif secara yuridis pada
tanggal 11 Maret 2013; (vide I4); -------------------------------------------------
10.8.5
Bahwa kronologis pengambilalihan saham HD Finance oleh Terlapor
adalah sebagai berikut: -------------------------------------------------------------
Konsultasi terkait Rencana
Pengambilalihan (Akuisisi)
Saham Perusahaan PT HD
Finance Tbk
TMT melakukan
pengambilalihan saham
terhadap 693.000.000
saham setara 45% saham
PT HD Finance Tbk dari PT
HD Corpora dan Wealth
Paradise Holdings Limited
2. Kepemilikan saham
TMT pada PT HD
Finance Tbk adalah
sebesar 55,81%
Pelaksanaan
Tender Offer
27 FEBRUARI 2013
14 JANUARI 2013
1. Pemberitahuan
kepada OJK mengenai
Keterbukaan Informasi
terkait Perubahan
Jumlah Kepemilikan
Saham PT HD Finance
TBK
11 MARET 2013
8 MARET 2013
KPPU mengeluarkan
Pendapat terhadap
Konsultasi terkait Rencana
Pengambilalihan (Akuisisi)
Saham Perusahaan PT HD
Finance Tbk
27 MEI 2013
13 APRIL s.d
12 MEI 2013
1. Pengumuman
pengambilalihan
45% saham PT HD
Finance Tbk di Surat
Kabar Bisnis
Indonesia
24 JUNI 2013
21 JUNI 2013
Pemberitahuan
kepada OJK terkait
Laporan Hasil
Penawaran Wajib
(Tender Offer)
TMT menyampaikan
Pemberitahuan
kepada KPPU terkait
pengambilalihan
saham PT HD
Finance Tbk
2. Menyampaikan
pemberitahuan
kepada OJK terkait
Pengumuman
Keterbukaan
Informasi
Pengambilalihan
Saham PT HD
Finance
10.9 Bahwa analisa pemberlakuan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara
tertulis oleh Terlapor dapat diuraikan sebagai berikut:----------------------------------10.9.1
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010 diatur
bahwa kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tidak
berlaku bagi Pelaku Usaha yang melakukan Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham antarperusahaan
yang terafiliasi; ----------------------------------------------------------------------
10.9.2
Bahwa berdasarkan penjelasan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010, yang
dimaksud dengan “terafiliasi” adalah: ------------------------------------------halaman 8 dari 110
SALINAN
(1) hubungan antara perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung,
mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut; ------
(2) hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik
langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau --------(3) hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama; ------------10.9.3
Bahwa dengan demikian perlu terlebih dahulu untuk diuraikan apakah
ketentuan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ini
berlaku atau tidak bagi PT Tiara Marga Trakindo; ----------------------------
10.9.4
Bahwa pemegang saham PT Tiara Marga Trakindo adalah sebagai
berikut;-------------------------------------------------------------------------------No.
Pemegang Saham
Komposisi Kepemilikan (%)
1.
Achmad Hadiat Hamami
99,40%
2.
Achmad Ridwan Hamami
0,60%
dan pemegang saham PT HD Finance, Tbk sebelum pengambilalihan
adalah sebagai berikut (vide I11);-----------------------------------------------No.
Pemegang Saham
Komposisi Kepemilikan (%)
Wealth Paradise Holdings
Limited
2. PT HD Corpora
48,70%
1.
10.9.5
3.
Soeharto Djojonegoro
4.
Publik
21,43%
0,0000065%
29,87%
Bahwa berdasarkan kepemilikan tersebut diatas, Terlapor tidak terafiliasi
dengan PT HD Finance (vide I11); -----------------------------------------------
10.9.6
Bahwa dengan demikian maka kewajiban menyampaikan pemberitahuan
secara tertulis kepada KPPU berlaku bagi Terlapor;---------------------------
10.10 Bahwa analisa pemenuhan unsur pasal dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh
Terlapor dapat diuraikan sebagai berikut: -------------------------------------------------10.10.1 Bahwa ketentuan Pasal 29 UU Nomor 5 Tahun 1999, menyatakan:
(1) Penggabungan
atau
peleburan
badan
usaha,
atau
pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya
melebihi jumlah tertentu, wajib diberitahukan kepada Komisi,
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut.
halaman 9 dari 110
SALINAN
(2) Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai
penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), diatur dalam Peraturan Pemerintah
10.10.2 Bahwa unsur-unsur Pasal 29 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1999 tersebut
adalah sebagai berikut; ------------------------------------------------------------(1) Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan
saham;--------------------------------------------------------------------------(2) nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu;------(3) wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga
puluh)
hari
sejak
tanggal
penggabungan,
peleburan
atau
pengambilalihan tersebut;---------------------------------------------------10.10.3 Bahwa unsur “Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau
pengambilalihan saham” diuraikan sebagai berikut: --------------------------(1) Bahwa dalam unsur ini terdapat kata hubung “atau”;------------------(2) Bahwa kata hubung “atau” berdasarkan kamus bahasa Indonesia
memiliki arti kata penghubung untuk menandai pilihan di antara
beberapa hal (pilihan) (http://kbbi.web.id/);-----------------------------(3) Bahwa dengan demikian, maka dalam unsur ini, cukup salah satu
dari: “penggabungan”, atau “peleburan badan usaha”, atau
“pengambilalihan saham” terpenuhi, maka telah terpenuhi unsur ini;
(4) Bahwa pada tanggal 24 Juni 2013, KPPU menerima pemberitahuan
dari PT Tiara Marga Trakindo yang melakukan pengambilalihan
saham (akuisisi) PT HD Finance, Tbk.;----------------------------------(5) Bahwa dengan demikian unsur pengambilalihan saham telah
terpenuhi;---------------------------------------------------------------------10.10.4 Bahwa unsur “nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu” diuraikan sebagai berikut: ---------------------------------------------(1)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat (2) UU No. 5/1999,
diatur bahwa Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai
penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tersebut diatas, diatur dalam Peraturan Pemerintah;
(2)
Bahwa sebagai peraturan pelaksana dari ketentuan Pasal 29 UU No.
5/1999 tersebut diatas, Pemerintah telah menerbitkan PP Nomor 57
Tahun 2010 yang didalamnya memuat mengenai nilai aset dana atau
nilai penjualan yang melebihi jumlah tertentu;--------------------halaman 10 dari 110
SALINAN
(3)
Bahwa nilai aset dan atau nilai penjualan melebihi jumlah tertentu
diatur dalam Pasal 5 ayat (2) PP Nomor 57 Tahun 2010 yang
menentukan: ----------------------------------------------------------------(a) nilai aset sebesar Rp2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima
ratus miliar rupiah); dan/atau----------------------------------------(b) nilai penjualan sebesar Rp5.000.000.000.000,00 (lima triliun
rupiah); ------------------------------------------------------------------
(4)
Bahwa nilai aset dan/atau nilai penjualan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (2) PP Nomor 57 Tahun 2010 tersebut diatas
dihitung berdasarkan penjumlahan nilai aset dan/atau nilai
penjualan dari: --------------------------------------------------------------(a) Badan Usaha hasil Penggabungan, atau Badan Usaha hasil
Peleburan, atau Badan Usaha yang mengambilalih saham
perusahaan lain dan Badan Usaha yang diambilalih; dan -------(b) Badan Usaha yang secara langsung maupun tidak langsung
mengendalikan atau dikendalikan oleh Badan Usaha hasil
Penggabungan, atau Badan Usaha hasil Peleburan, atau Badan
Usaha yang mengambilalih saham perusahaan lain dan Badan
Usaha yang diambilalih; ----------------------------------------------
(5)
Bahwa penghitungan nilai aset dan atau nilai penjualan tersebut
diatas untuk mengetahui apakah nilai aset dan atau nilai penjualan
melebihi jumlah tertentu; ---------------------------------------------------
(6)
Bahwa nilai aset dan atau nilai penjualan tersebut menjadi hal
menentukan apakah Pelaku Usaha wajib atau tidak wajib untuk
melaporkan ke KPPU; ------------------------------------------------------
(7)
Bahwa dengan adanya frasa kata hubung “dan atau” memiliki arti
sifat kumulatif maupun sifat fakultatif yang berati bisa keduanya
atau salah satunya; ----------------------------------------------------------
(8)
Bahwa dengan demikian, yang menjadi faktor utama dari unsur ini
adalah melebihi atau tidak melebihi jumlah tertentu yang telah
ditentukan tersebut di atas; -------------------------------------------------
(9)
Bahwa berdasarkan diperoleh fakta-fakta bahwa nilai aset dan/atau
nilai penjualan Terlapor dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir
adalah (vide dokumen I11): ------------------------------------------------
Tahun
2010
Nilai Penjualan
USD 1.327.301.087
halaman 11 dari 110
Nilai Aset
USD 1.329.061.371
SALINAN
2011
USD 2.352.388.452
USD 2.311.119.805
2012
USD 2.410.536.646
USD 3.009.779.951
dengan mengingat bahwa penghitungan nilai aset dan/atau nilai penjualan
dilakukan dengan mata uang Rupiah, maka dilakukan konversi nilai mata
uang yang berdasarkan kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret
2013 adalah untuk setiap USD1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh
nilai sebagai berikut:--------------------------------------------------Tahun
Nilai Penjualan
Nilai Aset
2010
Rp 12.922.603.383.032
Rp 12.939.741.508.056
2011
Rp 22.902.853.968.672
Rp 22.501.062.421.480
2012
Rp 23.468.984.785.456
Rp 29.303.217.602.936
dan nilai penjualan dan aset PT HD Finance, Tbk. dalam kurun waktu 3
(tiga) tahun terakhir adalah: -----------------------------------------------------Tahun
Nilai Penjualan
Nilai Aset
2010
Rp 568.353.000.000
Rp
764.434.000.000
2011
Rp 1.028.822.000.000
Rp 1.241.206.378.000
2012
Rp 1.049.238.000.000
Rp 1.588.474.211.000
(10) Bahwa bila digabungan Nilai Penjualan dan Nilai Aset Terlapor
pada tahun 2012 dengan Nilai Penjualan dan Nilai Aset PT HD
Finance, Tbk pada tahun 2012 akan menjadi sebagai berikut: -------Tahun 2012
PT Marga
Nilai Penjualan
Nilai Aset
Rp. 23.468.984.785.456
Rp. 29.303.217.602.936
Rp.
1.049.238.000.000
Rp. 1.588.474.211.000
Rp. 24.518.222.785.456
Rp. 30.891.691.813.936
Tiara Trakindo
PT HD Finance,
Tbk
Total
(11) Bahwa dengan demikian pengambilalihan saham oleh PT Tiara
Marga Trakindo untuk nilai aset telah melebihi jumlah tertentu
sebagaimana diatur dalam Pasal 5 PP Nomor 57 Tahun 2010; ------(12) Bahwa dengan demikian unsur “nilai aset dan atau nilai
penjualannya melebihi jumlah tertentu” telah terpenuhi;---------------
halaman 12 dari 110
SALINAN
10.10.5 Bahwa unsur “wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan” diuraikan sebagai berikut: ----------------------------------(1)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) PP Nomor 57 Tahun
2010 diatur bahwa pemberitahuan Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan
lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi
jumlah tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada KPPU
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku
efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan
Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan; --------------
(2)
Bahwa ketentuan tersebut dipertegas kembali oleh Komisi dalam
Pasal 2 ayat (1) Perkom No. 4/2012 yang berbunyi: -----------------“
Badan usaha yang melakukan Penggabungan atau Peleburan
Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan wajib
menyampaikan Pemberitahuan kepada Komisi paling lama 30
(tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Penggabungan atau
Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan telah berlaku efektif secara yuridis.”----------------
(3)
Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemberitahuan wajib
dilakukan: -------------------------------------------------------------------(a) secara tertulis; ---------------------------------------------------------(b) paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak berlaku efektif; ---------(c) berlaku efektif secara yuridis; ---------------------------------------
(4)
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo memberitahukan secara tertulis
pada tanggal 24 Juni 2013 yang tercatat di KPPU; ---------------------
(5)
Bahwa berdasarkan Pasal 5 ayat (2) Perkom No. 4/2012 tanggal
telah berlaku efektif secara yuridis adalah: -----------------------------(a) Bahwa untuk Badan Usaha yang berbentuk Perseroan
Terbatas, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 133 UndangUndang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(“selanjutnya disebut UU No. 40 Tahun 2007”) pada bagian
penjelasan adalah tanggal: --------------------i. Persetujuan Menteri atas perubahan anggaran dasar dalam
hal terjadi Penggabungan; dan ----------------------------------
halaman 13 dari 110
SALINAN
ii. Pemberitahuan diterima Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia baik dalam hal terjadi
perubahan Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (3) UU No. 40 Tahun 2007 maupun yang
tidak disertai perubahan Anggaran Dasar; dan --------------iii. Pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia atas Akta Pendirian perseroan dalam
hal terjadi Peleburan; --------------------------------------------(b) Jika salah satu pihak yang melakukan Penggabungan,
Peleburan, dan Pengambilalihan adalah Perseroan Terbatas dan
pihak lain adalah perusahaan non-Perseroan Terbatas, maka
pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal ditandatanganinya pengesahan Penggabungan,
Peleburan dan Pengambilalihan oleh para pihak. Adapun
tanggal pengesahan adalah tanggal efektif suatu badan usaha
bergabung atau melebur dan beralihnya kepemilikan saham di
perusahaan yang diambil alih (closing date); atau ---------------(c) Khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa
efek, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka; ---------------------(6)
Bahwa pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk oleh PT Tiara
Marga Trakindo merupakan Pengambilalihan Saham yang terjadi di
bursa efek, sehingga berlaku ketentuan Pasal 5 ayat (2) huruf c
Perkom No. 4/2012 yaitu dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh)
hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan
Saham Perseroan Terbuka; -------------------------------------------------
(7)
Bahwa berdasarkan surat yang disampaikan Terlapor kepada
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013
perihal Pengumuman Pengambilalihan HD Finance oleh Terlapor,
pengambilalihan saham HD Finance efektif secara yuridis pada
tanggal 11 Maret 2013 (vide I4); ---------
(8)
Bahwa penghitungan 30 (tiga puluh) hari kerja didasarkan pada
Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2012,
halaman 14 dari 110
SALINAN
Nomor SKB.06/MEN/VII/2012, Nomor 02 Tahun 2012 tentang
Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2013; ------------------(9)
Bahwa dengan adanya frasa kata “sejak” maka memiliki arti
penghitungan 30 (tiga puluh) hari dihitung sejak tanggal
pemberitahuan; --------------------------------------------------------------
(10) Bahwa penghitungan tersebut tampak dalam tabel di bawah ini: ----Hari ke
Tgl/bln
Hari ke
Tgl/bln
Hari ke
Tgl/bln
1
13/03
11
27/03
21
11/04
2
14/03
12
28/03
22
12/04
3
15/03
13
01/04
23
15/04
4
18/03
14
02/04
24
16/04
5
19/03
15
03/04
25
17/04
6
20/03
16
04/04
26
18/04
7
21/03
17
05/04
27
19/04
8
22/03
18
08/04
28
22/04
9
25/03
19
09/04
29
23/04
10
26/03
20
10/04
30
24/04
(11) Bahwa berdasarkan tanggal efektif yuridis yaitu sejak tanggal 11
Maret
2013,
maka
Terlapor
memiliki
kewajiban
untuk
memberitahukan kepada KPPU paling lambat dalam waktu 30 (tiga
puluh) hari kerja sejak tanggal berlaku efektif yuridis, yaitu pada
tanggal 24 April 2013; -----------------------------------------------------(12) Bahwa berdasarkan Formulir Pemberitahuan A1 dan Tanda Terima
Pemberitahuan, Terlapor menyampaikan Pemberitahuan pada
tanggal 24 Juni 2013 (vide I11); -----------------------------------------(13) Bahwa dengan demikian Terlapor terlambat menyampaikan
Pemberitahuan Pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk
kepada KPPU selama 41 (empat puluh satu) hari kerja; --------------(14) Bahwa jika digambarkan kronologis keterlambatan pemberitahuan
pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk oleh PT Tiara Marga
Trakindo kepada KPPU adalah sebagai berikut: -----------------------TMT menyampaikan
Pemberitahuan
kepada KPPU terkait
pengambilalihan
saham PT HD
Finance Tbk
Batas akhir kewajiban TMT
untuk menyampaikan
pemberitahuan terkait
pengambilalihan saham PT
HD Finance Tbk kepada
KPPU
TMT Menyampaikan
pemberitahuan kepada
OJK terkait Pengumuman
Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham
PT HD Finance Tbk
halaman 15 dari 110
11 MARET 2013
24 APRIL 2013
24 JUNI 2013
Lama Keterlambatan
41 Hari
SALINAN
11. Menimbang, bahwa pada tanggal 14 April 2014 Terlapor menyerahkan Tanggapan
terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang pada pokoknya berisi hal-hal
sebagai berikut (T-2): --------------------------------------------------------------------------------11.1
Bahwa Terlapor menyusun Tanggapan terhadap Laporan Keterlambatan
Pemberitahuan dengan sistematika sebagai berikut: -----------------------------------11.1.1 Formil Acara; ----------------------------------------------------------------------11.1.2 Materiil Acara. Sebelum memberikan tanggapan, Terlapor menjelaskan
mengenai (1) Alur Transaksi serta Konsultasi dan Pemberitahuan ke
KPPU dan (2) Peraturan Pengambilalihan yang Berlaku di Pasar Modal.
Selanjutnya Terlapor memberikan tanggapan dalam 6 (enam) poin
sebagaimana diuraikan pada butir 11.5 sampai dengan 11.10; -------------11.1.3 Kesimpulan; -------------------------------------------------------------------------
11.2
Formil Acara. Bahwa Terlapor menyatakan tidak terdapat dasar hukum untuk
dilakukannya Pemeriksaan Pendahuluan karena Petikan Penetapan Pemeriksaan
Pendahuluan, Petikan Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, Surat
Panggilan dan Surat Pemberitahuan diterbitkan tanpa dasar hukum; ---------------(1) Bahwa Terlapor menerima Surat-Surat KPPU dan Laporan Keterlambatan
Pemberitahuan pada tanggal 2 April 2014. Pada halaman terakhir Laporan
Keterlambatan Pemberitahuan, terdapat penulisan tanggal 8 April 2014 dan
ditandatangani oleh Manaek SM Pasaribu, S.H., LL.M., Yoza Wirsan
Armanda, S.H., M.H., dan M. Gadmon Kaisar, S.H., M.H;---------------------Dalam kebiasaan surat-menyurat diketahui hubungan antara tanggal dan
tanda tangan tersebut diartikan bahwa surat tersebut dikeluarkan dan
ditandatangani pada tanggal sebagaimana dimaksud dalam surat, dalam hal
ini adalah tanggal 8 April 2014; -----------------------------------------------------(2) Bahwa berdasarkan Pasal 6 ayat (1) jo. ayat (3) Peraturan Komisi Pengawas
Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengenaan Denda
Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha
dan Pengambilalihan Saham Perusahaan (selanjutnya disebut “Peraturan
halaman 16 dari 110
SALINAN
KPPU
No.
Pemberitahuan
4/2012”),
yang
diketahui
disiapkan
bahwa
oleh
unit
Laporan
kerja
Keterlambatan
yang
menangani
Pemberitahuan untuk disampaikan dalam Rapat Komisi dan menjadi dasar
bagi Ketua Komisi untuk menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan.
Bunyi ketentuan Pasal 6 ayat (1) Peraturan KPPU No. 4/2012 adalah “Unit
kerja yang menangani monitoring dan/atau Pemberitahuan Penggabungan
atau Peleburan Badan Usaha, dan Pengambilalihan Saham Perusahaan,
menyampaikan laporan Keterlambatan Pemberitahuan dalam Rapat Komisi.
Bunyi ketentuan Pasal 6 ayat (3) Peraturan KPPU No. 4/2012 adalah
“Berdasarkan laporan keterlambatan sebagaimana dimaksud ayat (1),
Ketua Komisi menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan.”------------------------Berdasarkan ketentuan yang tercantum pada pasal tersebut di atas, dapat
disimpulkan bahwa Laporan Keterlambatan Pemberitahuan menjadi dasar
bagi Ketua Komisi untuk menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan;-------------(3) Bahwa, penetapan Pemeriksaan Pendahuluan dituangkan dalam Petikan
Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan tertanggal 28 Maret 2014. Sementara
itu, Laporan Pemberitahuan Keterlambatan tertanggal 8 April 2014. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa penetapan Pemeriksaan Pendahuluan
yang dituangkan dalam Petikan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan,
berikut Petikan Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, Surat
Pemberitahuan dan Surat Panggilan yang masing-masing tertanggal 2 April
2014, diterbitkan tanpa dasar hukum, karena penerbitan dokumen-dokumen
tersebut
seharusnya
didahului
terbitnya
Laporan
Pemberitahuan
Keterlambatan, bukan sebaliknya;---------------------------------------------------11.3
Materiil Acara, (1) Alur Transaksi serta Konsultasi dan Pemberitahuan ke
KPPU; ----------------------------------------------------------------------------------------(1)
27 Desember 2012, Terlapor selaku calon pengendali PT HD Finance Tbk,
melakukan pengumuman rencana pengambilalihan PT HD Finance Tbk
melalui Surat Kabar Bisnis Indonesia. Dalam pengumuman tersebut
disampaikan bahwa transaksi pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk
dari pengendali saat itu dengan target pengambilalihan dari pemegang
saham pengendali saat itu sebesar maksimum 51% (lima puluh satu persen)
yang akan dilakukan dalam 2 (dua) tahap, sebagai berikut:-------------------a. Pembelian 45% (empat puluh lima persen) saham PT HD Finance Tbk
dari pemegang saham pengendali saat itu yaitu PT HD Corpora dan
Wealth Paradise Holdings Limited; -------------------------------------------halaman 17 dari 110
SALINAN
b. Pembelian 6% (enam persen) saham PT HD Finance Tbk dari PT HD
Corpora dan Wealth Paradise Holdings Limited, apabila setelah proses
Penawaran Tender Wajib kepemilikan saham Terlapor pada PT HD
Finance Tbk tidak mencapai 51% (lima puluh satu persen);---------------(2)
11 Januari 2013, Terlapor berdasarkan keinginan sendiri serta dengan
itikad baik melakukan Konsultasi rencana pengambilalihan PT HD Finance
Tbk ke KPPU, serta menyampaikan sejumlah dokumen terkait yang
dimintakan oleh KPPU; ------------------------------------------------------------
(3)
27 Februari 2013, KPPU menerbitkan Pendapat Komisi Pengawas
Persaingan Usaha Nomor 04/KPPU/PDPT/II/2013 tentang Konsultasi
Pengambilalihan Saham (Akuisisi) Saham Perusahaan PT HD Finance Tbk
Oleh PT Tiara Marga Trakindo (“Pendapat KPPU Atas Konsultasi”).
Pendapat KPPU Atas Konsultasi tersebut adalah komisi sebagai berikut:
“Berdasarkan kesimpulan di atas, Komisi berpendapat tidak terdapat
dugaan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang
diakibatkan oleh pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh PT
Tiara Marga Trakindo; -------------------------------------------------------------
(4)
8 Maret 2013, Terlapor melaksanakan jual beli atas 45% (empat puluh lima
persen) saham PT HD Finance Tbk melalui Pasar Negosiasi di Bursa Efek
Indonesia. Pelaksanaan jual beli tersebut merupakan satu kesatuan proses
pelaksanaan pengambilalihan PT HD Finance Tbk untuk mencapai target
perolehan saham PT HD Finance Tbk dari pengendali saat itu maksimum
sebesar 51% (lima puluh satu persen). Dimana pengambilalihan terhadap
45% (empat puluh lima persen) tersebut telah diumumkan Terlapor melalui
surat kabar Bisnis Indonesia tanggal 11 Maret 2013; ---------------------------
(5)
14 Maret 2013, Terlapor menyampaikan Pernyataan Penawaran Tender
Wajib ke Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) yang merupakan satu kesatuan
proses yang tidak boleh terputus dengan jual beli sebagaimana diuraikan
butir 4 di atas dan wajib dilaksanakan oleh Terlapor berkenaan dengan
pengambilalihan PT HD Finance Tbk oleh Terlapor; ---------------------------
(6)
11 April 2013, OJK memberikan izin kepada Terlapor untuk melaksanakan
keterbukaan
informasi
dalam
Keterbukaan
informasi
tersebut
rangka
Penawaran
dilakukan
oleh
Tender
Wajib.
Terlapor
melalui
pengumuman dalam surat kabar Bisnis Indonesia tanggal 12 April 2013; --(7)
13 April – 12 Mei 2013, Periode Penawaran Tender Wajib yaitu periode
dimana para pemegang saham publik berhak untuk menjual sahamnya pada
halaman 18 dari 110
SALINAN
PT HD Finance Tbk kepada Terlapor, dan Terlapor wajib melakukan
pembelian atas saham tersebut. Atas pembelian tersebut, Terlapor wajib
menyelesaikan pembayaran harga saham kepada para pemegang saham
publik paling lambat 22 Mei 2013; -----------------------------------------------(8)
27 Mei 2013, Terlapor menyampaikan laporan keterbukaan informasi
kepada OJK atas penyelesaian Penawaran Tender Wajib berikut jumlah
saham yang diperoleh oleh Terlapor; ----------------------------------------------
(9)
24 Juni 2013, Terlapor menyampaikan Pemberitahuan kepada KPPU atas
hasil pengambilalihan dan jumlah akhir kepemilikan saham PT HD Finance
Tbk oleh Terlapor sebagai pengendali baru; ---------------------------
(10) 4
September
103/K/IX/2013,
2013,
Hal:
KPPU
Surat
menerbitkan
Tidak
Surat
Melakukan
KPPU
Penilaian
Nomor
Ulang
Pengambilalihan Saham, tertanggal 4 September 2013 ("Surat Tanggapan
KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan"). Dalam surat tersebut KPPU
menegaskan “Atas dasar pertimbangan tersebut, Komisi tidak melakukan
Penilaian Ulang terhadap Pemberitahuan dengan Nomor Registrasi
A13613 dan Pendapat Komisi tetap mengacu pada hasil Penilaian
Konsultasi yang dikeluarkan pada tanggal 27 Februari 2013, yaitu Tidak
Ada Dugaan Praktik Monopoli dan atau Persaingan Usaha Tidak Sehat
yang diakibatkan Pengambilalihan (Akuisisi) Saham PT HD Finance Tbk
oleh PT Tiara Marga Trakindo; --------------------------------------------------(11) 3
Desember
2013,
Terlapor
menerima
Surat
KPPU
No.
1040/SJ/P/XII/2013 tanggal 3 Desember 2013 Perihal: Surat Panggilan,
yang isinya memanggil Terlapor untuk menghadap dan memberikan
keterangan kepada Tim Penyidik KPPU tanggal 11 Desember 2013 terkait
dengan dugaan pelanggaran UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat sehubungan dengan pengambilalihan saham PT HD Finance
Tbk oleh Terlapor. Atas panggilan tersebut, Terlapor hadir dan
memberikan keterangan kepada Tim Penyidik KPPU pada tanggal 11
Desember 2013. Keterangan yang diberikan oleh Terlapor dituangkan
dalam Berita Acara Pemeriksaan dan ditandatangani oleh Terlapor; --------11.4 Materiil Acara, (2) Peraturan Pengambilalihan yang Berlaku di Pasar Modal; -------(1)
PT HD Finance Tbk, merupakan suatu perseroan terbatas yang bersifat
terbuka karena telah melakukan Penawaran Umum Terbatas dan mencatatkan
sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu, pelaksanaan
Pengambilalihan PT HD Finance Tbk selain tunduk atas ketentuan Bab VIII
halaman 19 dari 110
SALINAN
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya
disebut “UUPT”), harus tunduk juga atas ketentuan di bidang Pasar Modal.
Hal tersebut sebagaimana ditegaskan pada Pasal 137 UUPT, yang berbunyi
sebagai berikut “Dalam hal peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal tidak mengatur lain, ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Bab VIII berlaku juga bagi Perseroan Terbuka.”---------------------Dari ketentuan tersebut, diketahui secara tegas bahwa ketentuan di bidang
Pasar Modal bersifat lex specialis khususnya dalam Pengambilalihan suatu
Perseroan Terbuka; --------------------------------------------------------------------(2)
Mengenai Pengambilalihan Perseroan Terbuka, diatur dalam Peraturan No.
IX.H.1. yang merupakan Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar
Modal
dan
Lembaga
Keuangan
No.
KEP-264/BL/2011
tentang
Pengambilalihan Perusahaan Terbuka (selanjutnya disebut “Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1”); -----------------------------------------------------------(3)
Bahwa, Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. memuat isi dengan sistematika
sebagai berikut: --------------------------------------------------------------------------
(4)
a.
Angka 1: Ketentuan Umum
b.
Angka 2: Negosiasi Dalam Rangka Pengambilalihan
c.
Angka 3: Pengambilalihan Perusahaan Terbuka
d.
Angka 4: Pelaksanaan Penawaran Tender Wajib
e.
Angka 5: Kewajiban Pengalihan Kembali Saham
f.
Angka 6: Pengecualian
g.
Angka 7: Ketentuan Penutup
Berdasarkan ketentuan Angka 3 huruf a butir 2 Peraturan Bapepam-LK No.
IX.H.1. diatur bahwa Pihak yang melakukan Pengambilalihan wajib
melakukan Penawaran Tender Wajib. Adapun yang dimaksud Penawaran
Tender Wajib menurut ketentuan Angka 1 butir e Peraturan Bapepam-LK No.
IX.H.1. adalah sebagai berikut “Penawaran Tender Wajib adalah penawaran
untuk membeli sisa saham Perusahaan Terbuka yang wajib dilakukan oleh
Pengendali baru”------------------------------------------------------------------------
(5)
Penawaran Tender Wajib merupakan penerapan dari prinsip perlindungan hak
pemegang saham minoritas pada perusahaan terbuka, dimana apabila
pemegang saham minoritas (dalam hal ini pemegang saham publik) tidak
menyetujui terjadinya perubahan pengendali maka pemegang saham tersebut
berhak untuk meminta agar sahamnya dibeli oleh pengendali baru dengan
halaman 20 dari 110
SALINAN
harga sebagaimana perhitungannya diatur dalam Peraturan Bapepam-LK No.
IX.H.1. -----------------------------------------------------------------------------------Penawaran Tender Wajib sebagai bentuk perlindungan terhadap hak
pemegang saham minoritas dikarenakan dalam pengambilalihan saham
perusahaan terbuka tidak dipersyaratkan adanya persetujuan dari Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) terlebih dahulu. Hal tersebut sebagaimana
ditegaskan pada ketentuan Angka 3 huruf b Peraturan Bapepam-LK No.
IX.H.1., yang berbunyi sebagai berikut:---------------------------------------------“Perusahaan Terbuka yang diambil alih tidak wajib memperoleh persetujuan
dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kecuali
apabila persetujuan tersebut dipersyaratkan oleh peraturan perundangundangan yang khusus mengatur bidang usaha Perusahaan Terbuka yang
diambil alih.”----------------------------------------------------------------------------(6)
Dalam perusahaan tertutup, bentuk perlindungan pemegang saham minoritas
tercermin dari ketentuan Pasal 126 ayat (2) jo. Pasal 62 UUPT yang mengatur
sebagai berikut:--------------------------------------------------------------------------Pasal 126 ayat (2) UUPT: -------------------------------------------------------------“Pemegang saham yang tidak setuju terhadap keputusan RUPS mengenai
Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya boleh menggunakan haknya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 62.” -----------------------------------------------------------Pasal 62 ayat (1) UUPT: --------------------------------------------------------------“Setiap pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar
sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang bersangkutan
tidak menyetujui tindakan Perseroan yang merugikan pemegang saham
atau Perseroan, berupa: -------------------------------------------------------------a.
perubahan anggaran dasar; ----------------------------------------------------
b. pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai
nilai lebih dari 50 % (lima puluh persen) kekayaan bersih Perseroan;
atau ---------------------------------------------------------------------------------c. Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan ----------(7)
Prosedur pelaksanaan Penawaran Tender Wajib diatur pada ketentuan Angka
4 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1., yang antara lain mengatur bahwa
pengumuman keterbukaan informasi dalam rangka Penawaran Tender Wajib
dilakukan setelah diterimanya persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan
(selanjutnya disebut “OJK”, dahulu Bapepam-LK) dan Penawaran Tender
halaman 21 dari 110
SALINAN
Wajib dilakukan selama 30 (tiga puluh) hari setelah pengumuman. Setelah
pelaksanaan Tender Wajib diselesaikan, wajib dilaporkan kepada OJK paling
lambat 5 (lima) hari kerja setelah penyelesaian; ------------------------------------(8)
Berdasarkan uraian di atas, Penawaran Tender Wajib merupakan rangkaian
proses dalam pengambilalihan suatu perusahaan terbuka, dan sifatnya wajib
dilaksanakan serta tidak dapat dipisahkan. Adapun jumlah saham perusahaan
terbuka yang dikendalikan oleh pengendali baru, baru dapat diketahui pada
saat berakhirnya proses Penawaran Tender Wajib dan wajib dilaporkan
kepada OJK dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah penyelesaian Penawaran
Tender Wajib; ----------------------------------------------------------------------------
(9)
Dalam hal Penawaran Tender Wajib tidak dilaksanakan, maka berdasarkan
ketentuan Angka 7 huruf d butir 1 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1., OJK
dapat mengenakan sanksi. Berikut bunyi ketentuannya: --------------------------“Pelanggaran atas ketentuan angka 3 huruf a butir 2), dapat dikenakan:-----a.
pembatalan transaksi dan mewajibkan Pengendali baru untuk:------------(1)
membayar denda; dan -----------------------------------------------------
(2)
mengembalikan saham kepada Pihak yang menjadi lawan transaksi
dan mengganti kerugian yang timbul; atau -----------------
b.
11.5
denda dan kewajiban melakukan Penawaran Tender Wajib -----------------
Materiil Acara, Tanggapan, I. Bahwa Penerapan Pasal 29 UU Anti Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat serta Pasal 5 PP No. 57/2010 Tidak Dapat
Diterapkan Secara Terpisah Tanpa Melihat Dasar Pembentukannya; --------------(1) Bahwa UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat diterbitkan
dengan salah satu pertimbangan sebagai berikut: --------------------------------“c. bahwa setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam
situasi persaingan yang sehat dan wajar, sehingga tidak menimbulkan
adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu,
dengan tidak terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan oleh
negara
Republik
Indonesia
terhadap
perjanjian-perjanjian
internasional.” --------------------------------------------------------------------Lebih lanjut ditegaskan juga dalam Alinea 6 Penjelasan Umum UU Anti
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, sebagai berikut: ---------------“Memperhatikan situasi dan kondisi tersebut di atas, menuntut kita untuk
mencermati dan menata kembali kegiatan usaha di Indonesia, agar dunia
usaha dapat tumbuh serta berkembang secara sehat dan benar, sehingga
tercipta iklim persaingan usaha yang sehat, serta terhindarnya pemusatan
halaman 22 dari 110
SALINAN
kekuatan ekonomi pada perorangan atau kelompok tertentu, antara lain
dalam bentuk praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang
merugikan masyarakat, yang bertentangan dengan cita-cita keadilan
sosial.” ---------------------------------------------------------------------------------Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembentukan UU Anti
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ditujukan untuk mencegah
terjadinya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; ------------(2) Bahwa, salah satu tindakan yang dilarang oleh UU Anti Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah penggabungan, peleburan usaha atau
penambilalihan yang dapat mengakibatkan terjadinya Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat (vide Pasal 28 UU Anti Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat); ----------------------------------------------------Adapun sebagai tolak ukur untuk menilai apakah suatu tindakan
penggabungan, peleburan usaha atau penambilalihan dapat menimbulkan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, ditentukan lebih
lanjut dalam Peraturan Pemerintah dan wajib diberitahukan kepada Komisi
dalam waktu sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UU Anti Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat; -----------------------------------------------------(3) Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) dan Pasal 29 ayat (2)
UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dibentuklah PP No.
57/2010; ---------------------------------------------------------------------------(4) Bahwa, berdasarkan Alinea 3 Penjelasan Umum PP No. 57/2010, disebutkan
sebagai berikut: ------------------------------------------------------------------------“Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka upaya penciptaan iklim
dunia usaha yang sehat dan efisien tidak boleh mengarah kepada
penguasaan sumber ekonomi dan pemusatan kekuatan ekonomi pada suatu
kelompok atau golongan tertentu. Oleh karena itu, tindakan Penggabungan
(merger), Peleburan (konsolidasi), dan Pengambilalihan (akuisisi) yang
dapat mengendalikan dan mendorong ke arah terjadinya Praktik Monopoli
dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat harus dihindari sejak dini, dengan
kata lain tindakan Penggabungan, Peleburan, atau Pengambilalihan
hendaknya tetap memperhatikan kepentingan konsumen dan Pelaku Usaha
lainnya.” -------------------------------------------------------------------------------Selanjutnya, disebutkan juga dalam Alinea 5 Penjelasan Umum PP No.
57/2010, disebutkan bahwa: ---------------------------------------------------------
halaman 23 dari 110
SALINAN
“Adapun materi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha, dan Pengambilalihan saham
yang dapat mengakibatkan terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat, tata cara penyampaian pemberitahuan, penilaian
Komisi, dan konsultasi; --------------------------------------------------------------(5) Bahwa untuk menghindari atau mencegah terjadinya Praktik Monopoli atau
Persaingan Usaha Tidak Sehat akibat dari penggabungan, peleburan dan
pengambilalihan saham, PP No. 57/2010 mengatur mekanisme sebagai
berikut: ---------------------------------------------------------------------------------a.
Konsultasi; -------------------------------------------------------------------------
b.
Pemberitahuan. --------------------------------------------------------------------
(6) Bahwa, mengenai Konsultasi diatur dalam Pasal 10 PP No. 57/2010, sebagai
berikut: ---------------------------------------------------------------------------------“(1) Pelaku Usaha yang akan melakukan Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain
yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3)
dapat melakukan konsultasi secara lisan atau tertulis kepada Komisi.
(2) Konsultasi secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan mengisi formulir dan menyampaikan dokumen yang
disyaratkan oleh Komisi.” -----------------------------------------------------Mengacu pada ketentuan tersebut di atas, Konsultasi tidak wajib dilakukan
oleh pelaku usaha yang akan melakukan penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan;-----------------------------------------------------------------------(7) Lebih lanjut, berdasarkan Pasal 11 ayat (1) dan ayat (2) PP No. 57/2010,
diatur bahwa: --------------------------------------------------------------------------“(1) Berdasarkan formulir dan dokumen yang diterima oleh Komisi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), Komisi melakukan
penilaian. ------------------------------------------------------------------------(2)
Berdasarkan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Komisi
memberikan saran, bimbingan, dan/atau pendapat tertulis mengenai
rencana Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau
Pengambilalihan saham perusahaan lain kepada Pelaku Usaha.”--------
Dari ketentuan tersebut, diketahui bahwa KPPU melakukan penilaian atas
formulir dan dokumen yang disampaikan kepada KPPU pada saat
Konsultasi; -----------------------------------------------------------------------------halaman 24 dari 110
SALINAN
(8) Bahwa, mengenai Pemberitahuan diatur dalam Pasal 5 ayat (1) PP No.
57/2010, sebagai berikut: ------------------------------------------------------------“Penggabungan
Badan
Usaha,
Peleburan
Badan
Usaha,
atau
Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau
nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara
tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal
telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan
Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan.” --------------------Adapun berdasarkan Pasal 8 ayat (1) dan ayat (3) PP No. 57/2010, diatur
bahwa Pemberitahuan secara tertulis dilakukan dengan cara mengisi formulir
yang ditetapkan oleh KPPU dengan melampirkan dokumen pendukung yang
berkaitan dengan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan; -----------(9) Bahwa, berdasarkan Pasal 9 ayat (1) PP No. 57/2010 diatur sebagai berikut:
“Berdasarkan pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3), Komisi melakukan penilaian untuk
memberikan pendapat terhadap ada atau tidaknya dugaan Praktik Monopoli
dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat akibat dari Penggabungan Badan
Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan”
(10) Bahwa berdasarkan uraian butir 6 sampai dengan butir 9 di atas, diketahui
bahwa fungsi dari Konsultasi dan Pemberitahuan sama, yaitu menjadi dasar
bagi KPPU untuk melakukan penilaian. Hal tersebut ditegaskan dalam
ketentuan Bab IV butir C yang merupakan Lampiran dari Peraturan KPPU
Nomor 3 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Komisi
Pengawas Persaingan Usaha Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pelaksanaan tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan
Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya
Praktik Monopoli dan Persaigan Usaha Tidak Sehat (“Peraturan KPPU No.
3/2012”), yang berbunyi sebagai berikut: -----------------------------------------“Penilaian yang diberikan oleh Komisi terhadap Konsultasi Penggabungan,
Peleburan dan Pengambilalihan tidak menghapuskan kewenangan Komisi
untuk melakukan penilaian setelah Penggabungan, Peleburan dan
Pengambilalihan. Namun, untuk menghindari redudansi penilaian terhadap
Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan yang sama melalui
Konsultasi dan Pemberitahuan, Komisi berkomitmen untuk hanya
melakukan satu kali penilaian terhadap satu peristiwa Penggabungan,
Peleburan dan Pengambilalihan, selama tidak ada perubahan material atas
halaman 25 dari 110
SALINAN
data yang disampaikan oleh pelaku usaha pada saat Konsultasi
Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan atau perubahan kondisi
pasar yang material pada saat pemberitahuan. Dalam hal terdapat
perubahan material atas data yang disampaikan oleh pelaku usaha atau
kondisi pasar, maka Komisi akan menggunakan kewenangannya untuk
melakukan
penilaian
ulang
terhadap
Pemberitahuan
setelah
Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan dilaksanakan.” ------------Dengan demikian, ketentuan Pemberitahuan tidak dapat dilihat secara parsial
manakala Konsultasi telah dilakukan sebelumnya; ------------------------------(11) Bahwa berdasarkan uraian di atas, Terlapor berdasarkan keinginannya
sendiri dan dengan itikad baik telah melakukan Konsultasi tertulis sebelum
Terlapor melakukan transaksi pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk
dari PT HD Corpora dan Wealth Paradise Holdings Limited selaku
pengendali saat itu. Atas Konsultasi tertulis tersebut, Terlapor telah
memperoleh hasil penilaian KPPU melalui Pendapat KPPU Atas Konsultasi,
yang pada intinya menyatakan tidak terdapat dugaan praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham
PT HD Finance Tbk oleh Terlapor; ------------------------------------------------Lebih lanjut, Terlapor juga telah menyampaikan Pemberitahuan setelah
menyelesaikan satu kesatuan proses pengambilalihan saham PT HD Finance
Tbk, dimana atas Pemberitahuan tersebut KPPU tidak melakukan penilaian
ulang dan tetap mengacu pada pendapat KPPU pada tanggapan Konsultasi;(12) Berdasarkan uraian di atas, terbukti demi hukum bahwa KPPU tidak
melakukan penilaian atas Pemberitahuan secara terpisah dari penilaian atas
Konsultasi yang dilakukan sebelumnya oleh Terlapor. Karenanya, ketentuan
pelaksanaan Pemberitahuan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari tidak dapat
dilihat secara terpisah oleh KPPU manakala Konsultasi telah dilakukan oleh
Terlapor, karena penilaian atas isi Pemberitahuan pada prinsipnya telah
dilakukan oleh KPPU pada saat Terlapor melakukan Konsultasi, dimana
Konsultasi dilakukan dengan pemenuhan penyampaian data, dokumen dan
keterangan yang sama dengan data, dokumen dan keterangan dalam
Pemberitahuan dan KPPU menyatakan tidak terdapat perubahan data yang
signifikan; ------------------------------------------------------------------------------11.6
Materiil Acara, Tanggapan, II. Bahwa Penerapan Ketentuan Pengenaan Sanksi
Denda Terhadap Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan, Peleburan Badan
Usaha atau Pengambilalihan Saham Perusahaan Sebagaimana Diatur Dalam
halaman 26 dari 110
SALINAN
Peraturan Komisi No. 4/2012, Demi Hukum Wajib Didasarkan Pada
Pertimbangan Adanya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;----(1) Bahwa atas kewajiban Pemberitahuan terjadinya penggabungan, peleburan
atau pengambilalihan yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) PP No. 57/2010,
terdapat ketentuan sanksi dalam hal terjadi pelanggaran sebagaimana diatur
dalam Pasal 6 PP No. 57/2010, yang berbunyi sebagai berikut:----------------“Dalam hal Pelaku Usaha tidak menyampaikan pemberitahuan tertulis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3), Pelaku Usaha
dikenakan sanksi berupa denda administratif sebesar Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah) untuk setiap hari keterlambatan, dengan ketentuan
denda
administratif
secara
keseluruhan
paling
tinggi
sebesar
Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah); -------------------------(2) Bahwa untuk mengatur secara khusus mengenai mekanisme pengenaan
sanksi terkait dengan pelanggaran kewajiban Pemberitahuan yang diatur
dalam Pasal 6 PP No. 57/2010, diterbitkan Peraturan KPPU Nomor 4 Tahun
2012 tentang Pedoman Pengenaan Denda Keterlambatan Pemberitahuan
Penggabungan Atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan (“Peraturan KPPU No. 4/2012”); ----------------------------------(3) Bahwa, Peraturan KPPU No. 4/2012 tersebut diterbitkan dengan salah satu
pertimbangan sebagai berikut: ------------------------------------------------------“a. bahwa untuk mendukung efektifitas pelaksanaan Pemberitahuan
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan
Saham Perusahaan, perlu mengatur pelaksanaan pengenaan Denda
Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan
Usaha
dan
Pengambilalihan
Saham
Perusahaan
yang
dapat
mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat.” ---------------------------------------------------------------------Dari pertimbangan tersebut, diketahui bahwa pengenaan sanksi denda
ditujukan atas keterlambatan Pemberitahuan tindakan penggabungan,
peleburan atau pengambilalihan yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Karenanya, pengenaan
sanksi denda tidak dapat semata-mata dilihat secara administratif dari adanya
keterlambatan,
melainkan
harus
keterlambatan
Pemberitahuan
dilihat
tersebut
ada
tidaknya
serta
akibat
apakah
dari
tindakan
pengambilalihan yang terlambat diberitahukan tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat; ----------------halaman 27 dari 110
SALINAN
(4) Bahwa besarnya nilai sanksi denda administratif yang dapat dikenakan atas
keterlambatan Pemberitahuan sangat signifikan, yaitu Rp1.000.000.000,00
per hari keterlambatan dan maksimum sebesar Rp25.000.000.000,00.
Besarnya jumlah denda administratif tersebut dapat dipahami manakala
pelaku usaha melakukan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat. Karena sepanjang Pemberitahuan belum dilakukan, dan KPPU
belum mengetahui kondisi tersebut, pelaku usaha dimaksud dapat
memperoleh keuntungan dari praktik monopoli yang dilakukannya. ----------Namun demikian, apabila denda keterlambatan hanya semata-mata ditujukan
sebagai denda administratif tanpa melihat adanya akibat hukum yang
ditimbulkan dari keterlambatan Pemberitahuan atau transaksi yang
dilakukan, besarnya denda administratif tersebut adalah tidak wajar. Berikut
beberapa contoh pengenaan denda administratif: --------------------------------Ketentuan Angka 7 huruf d butir 2 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1.:
“Pelanggaran atas keterlambatan menyampaikan informasi sebagaimana
dimaksud dalam angka 2 huruf b, angka 3 huruf a butir 1), angka 4 huruf a
butir 1), angka 4 huruf a butir 3), angka 6 huruf c, dan angka 6 huruf d
dikenakan sanksi administratif berupa denda Rp100.000,00 (seratus ribu
rupiah) atas setiap hari keterlambatan.” ----------------------------------------Ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU No. 16 Tahun 2009 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008
Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi UndangUndang (selanjutnya disebut “UU KUP”): ----------------------------------------“Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu
perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar
Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa
Pajak Pertambahan Nilai, Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat
Pemberitahuan Masa lainnya, dan sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta
rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak badan serta sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.”
Penjelasan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU KUP: --------------------------------halaman 28 dari 110
SALINAN
“Maksud pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur
pada ayat ini adalah untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan dan
meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban
menyampaikan Surat Pemberitahuan; ---------------------------------------------(5) Bahwa, dalam kasus Terlapor, KPPU telah menyampaikan penilaiannya
melalui Pendapat KPPU Atas Konsultasi bahwa tidak terdapat dugaan
praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh
pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor. Hal mana
ditegaskan kembali dalam Surat Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan
Pengambilalihan; ----------------------------------------------------------------------(6) Quod non, apabila diasumsikan Terlapor dikategorikan telah terlambat
melakukan Pemberitahuan pengambilalihan kepada KPPU, transaksi yang
dilakukan Terlapor terbukti tidak mengakibatkan dan/atau sepatutnya diduga
dapat mengakibatkan adanya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat. Hal mana secara tegas dapat dibuktikan dari hasil penilaian KPPU
yang dituangkan dalam Pendapat KPPU Atas Konsultasi dan Surat
Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan; ----------------------(7) Berdasarkan uraian di atas, demi hukum ketentuan Pasal 6 PP No. 57/2010
tidak dapat diterapkan dalam perkara a quo karena Terlapor telah
menyampaikan informasi transkasi pengambilalihan yang akan dilakukan
melalui Konsultasi dan KPPU telah menyampaikan penilaian bahwa tidak
terdapat dugaan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat terhadap
transaksi yang akan dilakukan oleh Terlapor. Pendapat mana ditegaskan
kembali
dalam
Surat
Tanggapan
KPPU
Atas
Pemberitahuan
Pengambilalihan, dimana KPPU tidak melakukan penilaian ulang; -----------11.7
Materiil Acara, Tanggapan, III. Bahwa Ketentuan Sanksi Denda Administratif
Pasal 29 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Merupakan
Sanksi Yang Dikenakan Dalam Hal Tidak Menyampaikan Pemberitahuan; ------(1) Berdasarkan Bab II Lampiran Peraturan KPPU Nomor 3 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua atas Peraturan KPPU Nomor 13 Tahun 2010 tentang
Pedoman Pelaksanaan tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha
dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan
Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya
disebut “Peraturan KPPU No. 3/2012”), diketahui tujuan dibentuknya
Pedoman Penggabungan, Peleburan atau Pengambilalihan sebagai berikut: -----------------------------------------------------------------------halaman 29 dari 110
SALINAN
a.
Agar terdapat kesamaan penafsiran terhadap Pasal 28 dan Pasal 29 UU
No.5/1999 dan PP No.57/2010, sehingga terdapat kepastian hukum dan
dapat
menghindari
terjadinya
kekeliruan
atau
sengketa
dalam
penerapannya. --------------------------------------------------------------------b.
Agar Pasal 28 dan Pasal 29 UU No.5/1999 dan PP No.57/2010 dapat
senantiasa diterapkan secara konsisten, tepat, dan adil. ---------------------
c.
Menjaga
agar
penggabungan,
peleburan,
dan
pengambilalihan
senantiasa meningkatkan efisiensi perekonomian sebagai salah satu
upaya untuk meningkatkan kesejahteraan nasional. ------------------------d.
Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat oleh
pelaku usaha sebagai akibat dari penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan. ------------------------------------------------------------------
e.
Mendorong penggabungan, peleburan atau pengambilalihan yang
bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan
usaha. -------------------------------------------------------------------------------
(2) Bahwa, dalam Bab VIII Peraturan KPPU No. 3/2012 mengatur tentang
Aturan Sanksi, yang dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a.
Sanksi pelanggaran Pasal 28 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat; -----------------------------------------------------------------------
b.
Sanksi tidak menyampaikan Pemberitahuan (Pasal 29 UU Anti
Monopoli dan Persaingan Usaha tidak sehat; ---------------------------------
(3) Dalam uraian mengenai sanksi tidak menyampaikan Pemberitahuan,
diketahui bahwa Komisi berwenang menjatuhkan sanksi vide Pasal 6 PP No.
57/2010 dalam hal Pelaku Usaha tidak memenuhi kewajiban untuk
menyampaikan Pemberitahuan secara tertulis atas Penggabungan, Peleburan
dan Pengambilalihan. -----------------------------------------------------------------Lebih lanjut diuraikan bahwa KPPU akan melakukan kegiatan monitoring
dari waktu ke waktu dan bekerja sama dengan instansi terkait untuk dapat
mengidentifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan yang
memenuhi syarat namun dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja tidak
menyampaikan
Pemberitahuan
Penggabungan,
Peleburan
dan
Pengambilalihannya kepada KPPU; ------------------------------------------------(4) Senada dengan hal tersebut di atas, pada alinea berikutnya (alinea ketiga)
disebutkan bahwa dalam hal Pengambilalihan asing telah memenuhi syarat
untuk dilakukan Pemberitahuan kepada KPPU namun dalam jangka waktu
30
(tiga
puluh)
hari
kerja
tidak
halaman 30 dari 110
menyampaikan
Pemberitahuan
SALINAN
Pengambilalihannya kepada KPPU, maka denda keterlambatan akan
dibebankan kepada bagian dari kelompok usahanya yang berada di
Indonesia. ------------------------------------------------------------------------------(5) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengenaan sanksi
denda administratif menurut Pasal 29 UU Anti Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat dilakukan kepada pelaku usaha yang memenuhi syarat
wajib melakukan Pemberitahuan namun tidak melakukan Pemberitahuan,
dan hal tersebut diketahui oleh KPPU dari pelaksanaan kegiatan monitoring;
11.8
Materiil Acara, Tanggapan, IV. Bahwa Tidak Ada Keterlambatan Pemberitahuan
Transaksi Pengambilalihan Oleh Terlapor Dengan Memperhatian Berlakunya
Ketentuan Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1.; ---------------------------------------(1) Bahwa pada saat Konsultasi Terlapor telah menyampaikan kepada KPPU
mengenai target kepemilikan saham PT HD Finance Tbk yang diinginkan
oleh Terlapor adalah minimum 51% (lima puluh satu persen). Dimana untuk
perolehannya, Terlapor akan mengambilalih 45% (empat puluh lima persen)
saham dari pengendali saat itu, yaitu PT HD Corpora dan Wealth Paradise
Holdings Limited, dan tambahan sebanyak maksimum 6% (enam persen)
apabila dari pelaksanaan Penawaran Tender Wajib, kepemilikan saham
Terlapor belum mencapai 51% (lima puluh satu persen).------------------------(2) Bahwa, berdasarkan kronologis yang disampaikan Terlapor pada butir B.1.,
ketika transaksi pembelian saham PT HD Finance Tbk pada tahap pertama
dilaksanakan, kepemilikan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor baru
sebesar 45% (empat puluh lima persen) dan belum mencapai target
minimum pengendalian yang direncanakan oleh Terlapor, yaitu sebanyak
51% (lima puluh satu persen).-------------------------------------------------------(3) Bahwa, PT HD Finance Tbk yang menjadi target pengambilalihan adalah
perusahaan terbuka. Berdasarkan ketentuan Angka 3 huruf a butir 2
Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. sebagaimana diuraikan pada butir B.2.,
pihak yang melakukan pengambilalihan saham memiliki kewajiban untuk
melakukan Penawaran Tender Wajib kepada seluruh pemegang saham
publik (minoritas). --------------------------------------------------------------------Kewajiban untuk melaksanakan Penawaran Tender Wajib tersebut
merupakan satu kesatuan proses dan tidak boleh terputus yang terjadi dalam
hal dilakukannya Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, sebagaimana
pengaturannya dilakukan dalam Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. yang
mengatur tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.------------------------halaman 31 dari 110
SALINAN
(4) Bahwa, mengacu pada ketentuan Angka 3 huruf a butir 2 Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1. tersebut di atas, Terlapor sebagai pihak yang
melakukan pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk selaku perusahaan
terbuka memiliki kewajiban untuk melakukan Penawaran Tender Wajib.
Karenanya, proses transaksi pengambilalihan PT HD Finance Tbk oleh
Terlapor secara keseluruhan tidak bisa dilepaskan dari proses Penawaran
Tender Wajib. Dimana kepemilikan saham final oleh Terlapor selaku
pengendali baru belum dapat ditentukan pada saat pembelian 45% (empat
puluh lima persen) saham, melainkan setelah diselesaikannya proses
Penawaran Tender Wajib yang merupakan kewajiban sebagaimana diatur
dalam ketentuan Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1----------------------------(5) Berdasarkan uraian dalam huruf B.2 di atas mengenai transaksi
pengambilalihan Perseroan Terbuka di lingkungan Pasar Modal, dapat
disimpulkan bahwa pendapat investigator yang mengasumsikan kewajiban
Pemberitahuan Terlapor atas pengambilalihan yang dilakukannya terhadap
PT HD Finance Tbk terjadi sejak keterbukaan informasi yang dilaksanakan
Terlapor saat Terlapor melakukan pembelian atas 45% saham PT HD
Finance Tbk adalah sangat keliru dan tidak tepat, karena penyelesaian
transaksi pengambilalihan dan jumlah pengendalian saham secara final baru
terjadi secara efektif setelah diselesaikannya Penawaran Tender Wajib.
Apabila Terlapor tidak melakukan Penawaran Tender Wajib setelah
melakukan pembelian 45% saham dalam HD Finance Tbk, maka otoritas
pasar modal berdasarkan ketentuan yang berlaku dapat membatalkan
pembelian 45% saham dimaksud dan mewajibkan Terlapor mengembalikan
saham kepada Pihak yang menjadi lawan transaksi dan bahkan mengganti
kerugian yang timbul. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pengambilalihan yang dilakukan baru memperoleh kepastiannya dan
dianggap efektif sejak selesainya proses Penawaran Tender Wajib dan
kemudian diikuti dengan pengumuman keterbukaan informasi atas
pelaksanaan Penawaran Tender Wajib, sehingga kewajiban pemberitahuan
mengenai pengambilalihan kepada KPPU mulai diperhitungkan sejak
disampaikannya laporan penyelesaian Penawaran Tender Wajib kepada
OJK. ------------------------------------------------------------------------------------(6) Bahwa, keterbukaan informasi atas penyelesaian Penawaran Tender Wajib
disampaikan oleh Terlapor kepada OJK pada tanggal 27 Mei 2013 melalui
surat
No.
TMT-LGL/250/LL/DIR/V/2013
halaman 32 dari 110
perihal:
Laporan
Hasil
SALINAN
Penawaran Tender Wajib Atas Saham PT HD Finance Tbk oleh PT Tiara
Marga Trakindo, dimana dalam pemberitahuan tersebut telah diketahui
jumlah akhir saham yang dikendalikan oleh Terlapor sebagai pengendali
baru PT HD Finance Tbk. Oleh karena itu, apabila batas waktu
Pemberitahuan mengacu pada tolak ukur penyelesaian satu kesatuan
transaksi pengambilalihan, yaitu tanggal surat keterbukaan kepada OJK
tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pemberitahuan yang
dilakukan oleh Terlapor masih dalam kurun waktu yang ditetapkan,
mengingat faktanya laporan pemberitahuan yang dilakukan Terlapor kepada
KPPU mengenai pengambilalihan saham dalam PT HD Finance Tbk pada
tanggal 21 Juni 2013 adalah tidak terlambat dan masih memenuhi syarat 30
(tiga puluh) hari kerja sejak kewajiban pelaporan pemberitahuan tersebut
timbul pada tanggal 27 Mei 2013.---------------------------------------------------(7) Berdasarkan uraian tersebut di atas, demi hukum terbukti bahwa tidak
terdapat keterlambatan Pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD
Finance Tbk oleh Terlapor karena Pemberitahuan dilakukan masih dalam
kurun waktu dari penyelesaian keseluruhan transaksi Pengambilalihan yang
diatur menurut Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1.-----------------------------11.9
Materiil Acara, Tanggapan, V. Bahwa Pelaksanaan Pemberitahuan Oleh
Terlapor ke KPPU Dilakukan Berdasarkan Hasil Diskusi Dengan KPPU Pada
Periode Konsultasi; ------------------------------------------------------------------------(1) Bahwa, pada bulan Januari 2013 Terlapor menemui KPPU untuk
mengadakan Konsultasi rencana pengambilalihan saham PT HD Finance
Tbk oleh Terlapor, dimana Konsultasi tersebut dimungkinkan sebagaimana
diatur dalam Pasal 10 PP No. 57/2010, yang berbunyi sebagai berikut: ------“(1) Pelaku Usaha yang akan melakukan Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain
yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3)
dapat melakukan konsultasi secara lisan atau tertulis kepada Komisi.---------------------------------------------------------------------------(2) Konsultasi secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan mengisi formulir dan menyampaikan dokumen yang
disyaratkan oleh Komisi.” -----------------------------------------------------Sebagaimana diatur dalam ketentuan di atas, Terlapor dengan itikad baik
untuk mendukung amanat UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
halaman 33 dari 110
SALINAN
Sehat melakukan Konsultasi secara lisan dan juga tertulis kepada KPPU
dengan mengisi formulir dan menyampaikan dokumen yang disyaratkan
oleh KPPU.----------------------------------------------------------------------------(2) Dalam proses Konsultasi tersebut, Terlapor menjelaskan rencana transaksi
Pengambilalihan saham yang akan dilakukan oleh Terlapor terhadap PT HD
Finance Tbk, sebagaimana Terlapor tuangkan juga dalam Ringkasan
Rencana Pengambilalihan PT HD Finance Tbk, yang disampaikan oleh
Terlapor kepada KPPU bersamaan dengan formulir dan dokumen pendukung
yang dmintakan oleh KPPU pada saat Konsultasi. -----------------(3) Selanjutnya, terkait dengan tahapan transaksi Pengambilalihan yang akan
dilakukan, dalam proses Konsultasi Terlapor melakukan diskusi dengan
pihak KPPU, yaitu Bapak Fajar Ardhi Saputra dan Bapak Hafis Sutomo
yang keduanya berasal dari Biro Merger KPPU. Dalam diskusi tersebut,
Terlapor menyampaikan alur transaksi yang akan dilakukan dan meminta
pandangan KPPU mengenai waktu pelaksanaan Pemberitahuan. Adapun
KPPU menginformasikan bahwa Pemberitahuan dapat dilakukan oleh
Terlapor setelah diselesaikannya transaksi secara final dimana Terlapor telah
memperoleh target pengendalian yaitu sekurangnya 51% (lima puluh satu
persen) saham PT HD Finance Tbk. -----------------------------------------------(4) Berdasarkan panduan yang diberikan kepada Terlapor tersebut, Terlapor
melaksanakan Pemberitahuan kepada KPPU setelah penyelesaian transaksi
pengambilalihan secara final dan target pengendalian yang Terlapor
sampaikan kepada KPPU pada saat Konsultasi, yaitu sekurangnya 51% (lima
puluh satu persen) telah tercapai. Dalam Pemberitahuan tersebut, Terlapor
menyampaikan jumlah saham PT HD Finance Tbk yang dikendalikan oleh
Terlapor sebagai pengendali baru.---------------------------------------------------(5) Atas Pemberitahuan yang disampaikan oleh Terlapor, KPPU telah
memberikan tanggapannya sebagaimana dimuat dalam Surat Tanggapan
KPPU Pemberitahuan Pengambilalihan. Dalam surat tersebut KPPU
menyatakan antara lain bahwa: -----------------------------------------------------a.
KPPU tidak menemukan adanya perubahan material atas data dan
kondisi pasar pada saat Konsultasi dan Pemberitahuan; --------------------
b.
KPPU tidak melakukan penilaian ulang terhadap Pemberitahuan dan
Pendapat Komisi tetap mengacu pada hasil Penilaian Konsultasi yang
dikeluarkan pada tanggal 27 Februari 2013, yaitu Tidak Ada Dugaan
Praktik Monopoli dan atau Persaingan Usaha Tidak Sehat.----------------halaman 34 dari 110
SALINAN
(6) Berdasarkan uraian di atas, demi hukum terbukti bahwa pelaksanaan
Pemberitahuan yang dilakukan oleh Terlapor dilakukan sesuai dengan
arahan dari KPPU dan tidak terdapat niat dari Terlapor untuk melakukan
pelanggaran
atas
ketentuan
apapun
khususnya
Pemberitahuan
pengambilalihan saham sebagaimana dimuat dalam UU Anti Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat serta PP No. 57/2010. Tidak adanya itikad
Terlapor untuk melanggar ketentuan peraturan tercermin dari adanya itikad
baik Terlapor untuk melakukan Konsultasi yang pada dasarnya tidak
diwajibkan berdasarkan peraturan yang berlaku.----------------------------------11.10 Materiil Acara, Tanggapan 6. Bahwa KPPU Tidak Pernah Menyatakan Adanya
Keterlambatan Pemberitahuan oleh Terlapor Dalam Surat Tanggapan KPPU
Atas Pemberitahuan Pengambilalihan; --------------------------------------------------(1) Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan KPPU No.
4/2012, diatur bahwa KPPU melakukan penyelidikan atas pemberitahuan
yang disampaikan oleh pelaku usaha, laporan penyelidikan mana antara lain
memuat ada tidaknya keterlambatan. ----------------------------------------------(2) Bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Peraturan KPPU No. 4/2012, diatur
sebagai berikut: ------------------------------------------------------------------------“Keterlambatan pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan
Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan diidentifikasi dari laporan
monitoring dan/atau laporan Penyelidikan.” -----------------------------------Adapun mengenai monitoring diatur dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan KPPU
No. 4/2012, sebagai berikut: --------------------------------------------------------“Komisi dapat melakukan monitoring terhadap Penggabungan atau
Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan, tanpa
adanya Pemberitahuan dari badan usaha berdasarkan data atau informasi
yang bersumber dari: ----------------------------------------------------------------a. Berita di media massa; -----------------------------------------------------------b. Laporan dari masyarakat;atau --------------------------------------------------c. Sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.” --------------------------Sementara itu, laporan penyelidikan dibuat berdasarkan Pemberitahuan dari
pelaku usaha (vide Pasal 2 ayat (4) Peraturan KPPU No. 4/2012). -----------(3) Mengacu pada ketentuan yang diuraikan dalam butir 2 di atas dan adanya
pengenaan
sanksi
administratif
atas
keterlambatan
Pemberitahuan,
sepatutnya KPPU melakukan pemeriksaan ada tidaknya keterlambatan atas
setiap Pemberitahuan yang diterima oleh KPPU. Pemeriksaan atas
halaman 35 dari 110
SALINAN
kelengkapan isi formulir dan dokumen pendukung yang disampaikan oleh
pelaku usaha berikut ada tidaknya keterlambatan Pemberitahuan merupakan
pemeriksaan atas formil Pemberitahuan. Sementara itu, pemeriksaan dan
analisa atas informasi yang dimuat dalam formulir Pemberitahuan dan
dokumen pendukungnya merupakan pemeriksaan materil guna mengetahui
ada tidaknya dugaan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat
terkait dengan transaksi yang dilaksanakan. Setelah pemeriksaan secara
formil dan materil dilakukan, baru kemudian KPPU memberikan tanggapan
atas Pemberitahuan yang dilakukan. -----------------------------------------------Pelaksanaan pemeriksaan atas formil dan materil Pemberitahuan yang
dilakukan pelaku usaha, merupakan penerapan atas asas Keadilan dan asas
Kepastian Hukum. Dimana dengan diperolehnya tanggapan dari KPPU atas
Pemberitahuan yang dilakukan pelaku usaha, maka dapat dikatakan bahwa
kewajiban Pemberitahuan telah diselesaikan oleh pelaku usaha. Oleh karena
itu, tidaklah sepatutnya di kemudian hari dinyatakan bahwa Pemberitahuan
yang dilakukan pelaku usaha tidak memenuhi syarat formil. Hal mana
tentunya mengakibatkan tidak terdapat kepastian hukum dalam penerapan
peraturan bagi pelaku usaha. --------------------------------------------------------Sementara itu, kepastian hukum merupakan salah satu tujuan diterbitkannya
PP No. 57/2010, sebagaimana dimuat dalam Alinea 2 yang berbunyi sebagai
berikut “Keberadaan Peraturan Pemerintah ini dalam dunia usaha sangat
penting untuk memberikan kepastian hukum bagi para Pelaku Usaha...” ---(4) Dalam perkara a quo, atas Pemberitahuan yang disampaikan Terlapor,
KPPU telah mengeluarkan tanggapan dalam Surat Tanggapan KPPU Atas
Pemberitahuan Pengambilalihan tanpa menyebutkan adanya keterlambatan
Terlapor dalam menyampaikan Pemberitahuan pengambilalihan saham PT
HD Finance Tbk. ----------------------------------------------------------------------(5) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa atas Pemberitahuan
yang disampaikan oleh Terlapor, KPPU tidak berpendapat adanya
keterlambatan penyampaian Pemberitahuan. Oleh karena itu, demi hukum
terbukti tidak ada pelanggaran Pasal 29 UU Anti Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat serta Pasal 5 PP No. 57/2010.--------------------------------11.11 Kesimpulan. Bahwa Terlapor menyimpulkan berdasarkan uraian
yang
disampaikan, terbukti bahwa tidak terdapat dugaan pelanggaran ketentuan Pasal
29 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat jo. Pasal 5 PP No.
halaman 36 dari 110
SALINAN
57/2010 sebagaimana didalilkan oleh Tim Investigator dalam Laporan
Keterlambatan Pemberitahuan; -----------------------------------------------------------12. Menimbang, bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan, Majelis Komisi
menyusun Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan yang disampaikan kepada Rapat
Komisi; ------------------------------------------------------------------------------------------------13. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan
Pendahuluan, Rapat Komisi memutuskan untuk dilakukan Pemeriksaan Lanjutan
terhadap Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014; -----------------------------------------------------14. Menimbang, bahwa berdasarkan Keputusan Rapat Komisi, selanjutnya Komisi
menerbitkan Penetapan Komisi Nomor: 20/KPPU/Pen/IV/2014 tanggal 17 April 2014
tentang Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A10); -----15. Menimbang, bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Lanjutan, Komisi menerbitkan
Keputusan Komisi Nomor 55/KPPU/Kep/IV/2014 tanggal 17 April 2014 tentang
Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi pada Pemeriksaan Lanjutan Perkara
Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A11); -----------------------------------------------------16. Menimbang, bahwa Ketua Majelis Komisi Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014
menerbitkan Surat Keputusan Majelis Komisi Nomor 20/KMK/Kep/IV/2014 tentang
Jangka Waktu Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 yang
dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung
sejak tanggal 2 Mei 2014 sampai dengan tanggal 22 Mei 2014 (vide bukti A16); ---------17. Menimbang, bahwa Majelis Komisi telah menyampaikan Pemberitahuan Pemeriksaan
Lanjutan, Petikan Penetapan Pemeriksaan Lanjutan, Petikan Surat Keputusan Majelis
Komisi tentang Jangka Waktu Pemeriksaan Lanjutan (vide bukti A18 , A15, A17); ------18. Menimbang bahwa pada tanggal 2 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi dengan agenda Pemeriksaan Ahli dari Otoritas Jasa Keuangan yang
dihadiri oleh YB Eko Pramuji, Marthen Pareang, S.H., dan M. Rizki Fauzi.
Berdasarkan keterangan Ahli di bawah sumpah, Majelis Komisi memperoleh informasi
yang pada pokoknya sebagai berikut (vide bukti B2); ------------------------------------------18.1
Bahwa pihak Otoritas Jasa Keuangan yang memberikan keterangan Ahli adalah
YB Eko Pramuji yang menjabat sebagai Kasubag Pemantauan Perusahaan
Asuransi dan Pembiayaan; Marthen Pareang, S.H. yang menjabat sebagai
Kasubag Penelaahan Keterbukaan Perusahaan Jasa Keuangan Pembiayaan, dan
M. Rizki Fauzi Staff yang menjabat sebagai Direktorat Penelaahan Keterbukaan
Perusahaan Sektor Jasa Keuangan; --------------------------------------------------------
18.2
Bahwa berkaitan dengan Keterbukaan Informasi Publik, prinsip di pasar modal
adalah adanya keterbukaan, pihak/emiten yang mempunyai fakta material wajib
halaman 37 dari 110
SALINAN
menyampaikan informasi kepada OJK (dahulu Bapepam). Keterbukaan ini
memberikan informasi kepada investor agar informasi sama terhadap seluruh
investor dalam melakukan investasi/rencana pengambilalihan;----------------------18.3
Bahwa proses keterbukaan informasi merujuk kepada peraturan BAPEPAM dan
LK nomor IX.H.1 bahwa Keterbukaan informasi dilakukan paling lambat 1 hari
setelah dilakukan transaksi. Dipublikasikan ke masyarakat melalui surat kabar
harian, mengumumkan dan menyampaikan ke LK, yaitu jumlah seluruh saham,
dan total pemilikian saham, identitas para pihak. Keterbukaan informasi yang
kedua prosedurnya pengendali baru harus melakukan tender offer. Dalam tender
offer ini, pengendali baru menawarkan kepada pemegang saham existing untuk
menjual sahamnya dan pengendali baru disini wajib membeli saham jika
pemegang saham existing ingin menjual/melepas sahamnya. Setelah tender
selesai perusahaan tersebut wajib lapor tender offer kepada OJK. Tender offer
dilakukan
setelah
pengumuman
yang
pertama,
pihak
yang
melakukan/perusahaan yang akan mengambil alih setelah keluar ijin dari OJK; -18.4
Bahwa besaran pengambilalihan sehingga dikatakan sebagai perubahan
pengendali menurut lampiran Peraturan Bapepam dan LK No. Kep.
264/BL/2011 tanggal 31 Mei 2011 adalah memiliki 50 persen saham atau lebih,
atau yang memiliki kemampuan untuk menentukan baik langsung ataupun tidak
langsung dengan cara apapun pengelolaan atau kebijaksanaan perusahaan
terbuka; ----------------------------------------------------------------------------------------
18.5
Bahwa definisi pengendali adalah memiliki kemampuan untuk menentukan baik
langsung ataupun tidak langsung dengan cara apapun pengelolaan atau
kebijaksanaan perusahaan terbuka; --------------------------------------------------------
18.6
Bahwa apabila pengambilalihan saham kurang dari 40% bisa juga dikatakan
pengendali jika ada pernyataan mampu mengendalikan dan ada bukti yang
cukup; ------------------------------------------------------------------------------------------
18.7
Bahwa prinsip pengambilalihan saham adalah lebih dari 50% atau memiliki
kemampuan mempengaruhi manajemen. Prinsip pengambilalihan wajib segera
dipublish ke publik setelah adanya perubahan/pengambilalihan; ---------------------
18.8
Bahwa prosedur keterbukaan informasi ke publik dilakukan paling lambat 1 hari
setelah dilakukan transaksi, lalu dipublikasikan ke masyarakat melalui surat
kabar harian, minimal 1 surat kabar dan website PT. BEI; ----------------------------
18.9
Bahwa
peraturan
terkait
pengambilalihan
waktunya
1
hari
setelah
pengambilalihan saham/ perubahan pengambilalih maka saat itu dianggap sudah
terjadi pengambilalihan saham; -----------------------------------------------------------halaman 38 dari 110
SALINAN
18.10 Bahwa tender offer wajib dilakukan oleh pengendali baru; --------------------------18.11 Bahwa prosedur tender offer dilakukan selama 30 hari dimulai 2 hari setelah
pengumuman terkait pengambilalihan saham; ------------------------------------------18.12 Bahwa peran OJK terhadap keterbukaan informasi publik adalah menjaga
fairness agar informasi yang diterima investor/pemegang saham publik sama,
dan agar tidak digunakan pihak tertentu untuk mengambil keuntungan; -----------18.13 Bahwa tender offer adalah wajib, apabila tidak dilakukan maka akan dikenakan
sanksi oleh OJK sesuai dengan Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1;---------------18.14 Bahwa tender offer adalah rangkaian akuisisi. Pihak yang merupakan pengendali
baru wajib melakukan penawaran tender; -----------------------------------------------18.15 Bahwa Ahli menyatakan keterangan yang disampaikan merujuk pada ketentuan
Bapepam-LK No. IX.H.1 terkait pengambilalihan saham; ---------------------------19. Menimbang, bahwa pada tanggal 12 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi dengan agenda Pemeriksaan Ahli yaitu Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H.,
M.S. Berdasarkan keterangan Ahli di bawah sumpah, Majelis Komisi memperoleh
informasi yang pada pokoknya sebagai berikut (vide bukti B5); ------------------------------19.1
Bahwa Ahli adalah Guru besar hukum bisnis di Universitas Gadjah Mada, dalam
kesehariannya mengajar hukum bisnis dan hukum persaingan usaha. Ahli
membimbing program doktor di beberapa universitas ternama dan aktif sebagai
konsultan hukum pasar modal; -------------------------------------------------------------
19.2
Bahwa definisi pengambilalihan di pasar modal sesuai dengan Peraturan
Bapepam-LK Nomor IX.H1 intinya adalah suatu tindakan langsung atau tidak
langsung yang mengakibatkan perubahan pengendalian perusahaan; ----------------
19.3
Bahwa kriteria terjadinya pengambilalihan adalah pertama mencapai 51% atau
yang kedua bisa kurang dari 51% yang mengakibatkan perubahan pengendalian.
Contoh pengambilalihan yang kurang dari 51% antara lain pengambilalihan
saham tersebut dengan diperjanjikan memperoleh fasilitas atau persyaratan yang
bisa melakukan pengendalian, sebagai contoh adanya penempatan direksi, dan
penempatan dewan komisaris sehingga dapat mengendalikan; -----------------------
19.4
Bahwa apabila pengambilalihan kurang dari 51% harus dibuktikan lebih lanjut,
jika tidak, maka itu hanya transaksi saham biasa. Apabila tidak terjadi
pembuktian, tidak bisa disimpulkan terjadi perubahan pengendalian, karena
akuisisi tahapnya berangkaian;-------------------------------------------------------------
19.5
Bahwa tender offer adalah wajib dilakukan sebagaimana diatur pada poin 3
Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.H.1. Jika pengambilalihan saham di bawah
51% harus ada tender wajib yang menjamin kepentingan pemilik saham sisa.
halaman 39 dari 110
SALINAN
Tender offer harus dilakukan secara simultan atau berangkaian. Pengambilalihan
bisa dikatakan setelah dilakukan tender wajib untuk mencapai sasaran
pengendali baru; -----------------------------------------------------------------------------19.6
Bahwa berdasarkan ketentuan poin 2 Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.H1,
dalam rangka Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, Pengendali Perusahaan
Terbuka baru wajib melakukan Penawaran Tender untuk seluruh sisa saham
Perusahaan Terbuka tersebut. Tender offer wajib dilakukan oleh perusahaan
pengendali baru; ------------------------------------------------------------------------------
19.7
Bahwa keterbukan informasi kepada publik sesuai dengan prinsip pasar modal.
Keterbukaan informasi memberi manfaat untuk menentukan sikap dari investor
apakah akan diam menunggu hasil atau menjual saham jika kurang percaya; ------
19.8
Bahwa
Ahli
mengetahui
kewajiban
pelaku
usaha
untuk
melakukan
pemberitahuan pengambilalihan saham dalam kurun waktu 30 hari setelah
efektif yuridis kepada KPPU; -------------------------------------------------------------19.9
Bahwa pada dasarnya akuisisi adalah perjanjian, maka perjanjian mengikat para
pihak. Apabila akuisisi terhadap 51% saham, maka sudah dikatakan pengendali
baru. Tetapi jika kurang dari 51%, efektifnya berlaku setelah selesai proses
rangkaian pengambilalihan atau tender offer; -------------------------------------------
19.10 Bahwa
apabila
ada
aturan
yang
secara
jelas
menyatakan,
khusus
pengambilalihan di bursa efek, maka keterbukaan informasi publik yang pertama
sudah dikatakan efektif yuridis. Menurut penafsiran hukum Ahli, rangkaian
tahapan tender tersebut harus selesai terlebih dahulu sehingga dapat dikatakan
efektif yuridis, efektif yuridis bukan hanya ditentukan pada saat keterbukaan
informasi publik Kepada Otoritas Jasa Keuangan yang pertama; -------------------19.11 Bahwa apabila ada Perusahaan mengambil saham tertanggal 10 kemudian lapor
tanggal 11 maret ke OJKk, hal tersebut sudah termasuk dalam surat keterbukaan
informasi; ------------------------------------------------------------------------------------19.12 Bahwa jika pengambilalihan baru 41 % tetapi sudah melakukan pemberitahuan
maka sudah dikatakan sudah ada keterbukaan informasi; ----------------------------19.13 Bahwa perusahaan yang melakukan penawaran tender wajib adalah Perusahaan
Pengendali baru; ----------------------------------------------------------------------------19.14 Bahwa keterbukaan informasi publik dilakukan beberapa kali yaitu keterbukaan
pada saat awal akuisisi, ketika proses tender dan seterusnya hingga diperoleh
hasil akhir tender; ---------------------------------------------------------------------------19.15 Bahwa apabila sudah dilakukan tender wajib maka perusahaan pengambil alih
dianggap sebagai pengendali baru; -------------------------------------------------------halaman 40 dari 110
SALINAN
19.16 Bahwa apabila para pihak (pemilik saham lama dan calon pemilik saham baru)
memiliki kesepakatan jika target pengambilalihan saham 51 % belum tercapai,
maka dapat dikatakan pengendali baru belum efektif; --------------------------------19.17 Bahwa terkait dengan laporan yang dilakukan oleh Terlapor kepada KPPU, Ahli
berpendapat hal tersebut secara objektif ada itikad baik, agar tidak ada potensi
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat; --------------------------------------------20. Menimbang bahwa pada tanggal 12 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi dengan agenda Pemeriksaan Ahli yaitu Dr. Sihol Siagian, S.H., M.M.,
M.H. Berdasarkan keterangan Ahli di bawah sumpah, Majelis Komisi memperoleh
informasi yang pada pokoknya sebagai berikut (vide bukti B6); ------------------------------20.1
Bahwa Ahli saat ini adalah Direktur PT ATPK Resources Tbk. suatu perusahaan
yang go public. Sebelumnya Ahli menjabat sebagai Direktur Bursa Efek Jakarta,
Direktur Bursa Efek Surabaya dan Direktur Bursa Efek Indonesia sejak tahun
1999-2009. Ahli memperoleh gelar MM dari Unkris dan pendidikan terakhir S-3
selesai tahun 2010 dari Universitas Padjajaran jurusan Hukum Bisnis. Ahli juga
mengajar di Universitas Tarumanegara tahun 2010 untuk mata studi Hukum
Bisnis;------------------------------------------------------------------------------------------
20.2
Bahwa pengambilalihan adalah suatu tindakan dari suatu badan hukum baik
perorangan yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pengendali, yang
patut digaris bawahi tindakan pembelian dari saham terbuka jika mengakibatkan
perubahan pengendali; ----------------------------------------------------------------------
20.3
Bahwa pengendali adalah pihak yang telah memiliki lebih dari 50% dari saham
perusahaan terbuka; --------------------------------------------------------------------------
20.4
Perubahan pengendali hanya terjadi ketika transaksi penjualan lebih dari 50%
dengan dasar bahwa pihak pengambil alih untuk dapat mengoperasikan
perusahaan atau dapat menjalankan perusahaan yang dalam hal ini manajemen
tersebut dapat mengoperasikan perusahaan dan dapat menjalankan perusahaan
yang dalam hal ini manajemen, perlu menempatkan komisaris, direktur maka
diperlukan sarana RUPS. RUPS itu memerlukan kehadiran pemegang saham
yang memiliki hak suara minumun di atas 50%. Kemudian keputusan dalam
rapat tersebut harus di atas 50% setuju atau tidak setuju. Sehingga kondisi yang
tidak memungkinkan jika tidak memenuhi kuorum RUPS dari perusahaan
pengendali untuk menempatkan direksi atau komisaris. Jika belum melebihi 50%
maka belum termasuk pengendali; --------------------------------------------------------
20.5
Bahwa dalam Peraturan Bapepam atau OJK untuk dapat menjadi pengendali ada
2 cara yaitu dengan penawaran tender. Bisa saja sebelum penawaran tender dia
halaman 41 dari 110
SALINAN
sudah memiliki saham, ketika dilakukan penawaran tender ternyata tidak
berhasil memeperoleh lebih dari 50% sehingga tidak terjadi pengambilalihan.
Pengambilalihan efektif yuridis dengan catatan jumlah yang melebihi 50%
saham. Cara kedua pihak tersebut membeli saham dari pemegang saham lama,
kemudian dilakukan penawaran tender. Peraturan Bapepam mewajibkan
pengumuman dan melakukan penawaran tender, setelah penawaran tender
berakhir baru pengambilalihan berlaku efektif secara yuridis. Pengumuman dan
Penawaran tender merupakan suatu rangkaian yang tidak terpisahkan
20.6
Bahwa pengambilalihan dikatakan sudah efektif yuridis apabila jumlah
kepemilikan saham melebihi 50% dan sudah dilakukan serangkaian tahapan
penawaran tender setelah 30 +12 hari sehingga 42 hari waktu efektif yuridis.
Pengendali baru sudah ada, tetapi belum efektif yuridis karena kepemilikan
saham pengendali baru belum 50%;-------------------------------------------------------
20.7
Bahwa keterbukaan informasi dalam hal pengambilalihan ada 5 tahap yaitu pada
saat 1. Negoisasi, selanjutnya melakukan pengumuman dan memberikan surat ke
otoritas bahwa berniat untuk mengambilalih perusahaan. Dalam negoisasi
tersebut belum ada pembeli saham. 2. Ketika berhasil membeli saham dari suatu
pihak dari bursa misal dapat 10% dari bursa dan 20% dari pemegang saham
lama, sehingga hal ini harus diumumkan terkait hal tersebut total saham yang
dimiliki, selanjutnya dimuat keterbukaan ke media dan otoritas lalu wajib
melakukan penawaraan tender. 3. Surat penyataan penawaran tender dan ini
merupakan keterbukaan informasi ditambah dokumen-dokumen penawaran
tender, setelah diteliti OJK, kalau ada perubahan-perubahan. 4. Setelah tidak ada
lagi perubahan maka dilakukan pengumuman keterbukaan informasi, setelah itu
apabila sahamnya setelah ditotal tidak sampai dengan 50% saham maka tidak
dapat disebut pengambilaalih baru. 5. Surat keterbukaan informasi kepada
Bapepam setelah berakhirnya penawaran tender; ---------------------------------------
20.8
Bahwa pengendali itu tidak harus memiliki 50% saham, tetapi dalam
Pengambilalihan itu pengendalian baru dapat terjadi setelah kepemilikan di atas
50%;--------------------------------------------------------------------------------------------
20.9
Bahwa pada saat sudah ada pengendali baru, lalu dia tidak melakukan
penawaran tender maka pengambilalihan tersebut belum berlaku efektif yuridis; -
20.10 Bahwa tidak ada aturan yang secara spesifik menyatakan efektif yuridis 30 hari
setelah tender offer selesai dilakukan; ---------------------------------------------------20.11 Bahwa pihak yang wajib melakukan tender offer adalah pengendali baru; ---------
halaman 42 dari 110
SALINAN
20.12 Bahwa tidak ada dalam regulasi yang menyatakan keterbukaan informasi
tersebut dilakukan setelah tender offer. Namun rangkaian dalam ketentuan
pengambilalihan, pengendali baru wajib melakukan penawaran tender dan
setelah selesai wajib melaporkan kepada Bapepam (OJK); --------------------------21. Menimbang bahwa pada tanggal 12 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi dengan agenda Pemeriksaan Terlapor, yang pada pokoknya Majelis
Komisi memperoleh informasi sebagai berikut (vide bukti B8); ------------------------------21.1
Bahwa Direktur PT Tiara Marga Trakindo memberikan kuasa kepada Dinah R.
Noerdin untuk memberikan keterangan sebagai Terlapor. Dinah R. Noerdin
merupakan karyawan dari PT Mahadana Dasha Utama yang merupakan anak
perusahaan PT Tiara Marga Trakindo. Dinah R. Noerdin diberi kuasa mewakili
Direktur PT Tiara Marga Trakindo karena sejak awal terlibat dalam
pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk.; -----------------------------------------
21.2
Bahwa struktur perusahaan PT Tiara Marga Trakindo terdiri dari Komisaris,
Direktur Utama yang dibantu oleh 3 (tiga) Direktur lainnya dan Sekretaris; -------
21.3
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo didirikan pada tahun 1971 oleh pensiunan
Angkatan Laut yaitu Achmad Hadiat Hamami. PT Tiara Marga Trakindo
memiliki kurang lebih 26 anak perusahaan. PT Tiara Marga Trakindo bergerak
di bidang alat berat yang salah satunya mengageni caterpillar, perusahaan
tambang, perusahaan investasi dan perusahaan multi finance (pembiayaan alat
berat); ------------------------------------------------------------------------------------------
21.4
Bahwa proses akuisisi ini berawal dari keinginan untuk mengembangkan
perusahaan dan Direksi memutuskan untuk mengambilalih PT HD Finance, Tbk.
Kemudian dari bagian legal mencoba untuk melihat aturan-aturan, khususnya
aturan dari KPPU, persetujuan dari KPPU, persetujuan OJK, dan aturan pasar
modal;------------------------------------------------------------------------------------------
21.5
Bahwa urutan proses pengambilalihan tersebut alurnya adalah sebagi berikut; ---(1)
26 Desember 2012, rencana jual beli penandatanganan CSPA antara
pembeli dan penjual; ----------------------------------------------------------------
(2)
11 Januari 2012 dilakukan voluntary report kepada KPPU terkait rencana
pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk; ---------------------------------
(3)
27 Februari 2012, KPPU menanggapi voluntary report dimana tidak ada
dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat terkait
rencana pengambilalihan saham tersebut; ---------------------------------------
(4)
8 Maret 2013, dilakukan pembelian 45% saham. Adapun tujuan
pengambilalihan adalah untuk memperoleh 51% saham yang dilakukan
halaman 43 dari 110
SALINAN
dengan dua tahapan. Oleh karena harus dilakukan tender offer, maka
pelaksanaan transaksi pembelian 45% saham dilakukan setelah
diterimanya persetujuan /pendapat KPPU atas voluntary report; -----------(5)
11 Maret 2013, PT Tiara Marga Trakindo melaporkan pengambilan 45%
saham kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan diumumkan ke media
masa; ----------------------------------------------------------------------------------
(6)
14 Maret 2013, PT Tiara Marga Trakindo menyampaikan pernyataan
penawaran tender offer ke OJK; --------------------------------------------------
(7)
12 April 2013, penawaran tender offer disetujui oleh OJK. Jangka waktu
tender offer adalah 13 April-12 Mei 2013, dan 12 hari untuk pembayaran
saham publik yang dibeli.; ---------------------------------------------------------
(8)
27 Mei 2013, melaporkan keterbukaan ke OJK terkait penyelesaian
tender Offer sehingga total saham yang dimiliki PT Tiara Marga
Trakindo kurang lebih56%;--------------------------------------------------------
(9)
24 Juni 2013, PT Tiara Marga Trakindo melakukan mandatory report
kepada KPPU atas hasil pengambilalihan dan jumlah akhir kepemilikan
saham PT HD Finance, Tbk.; -----------------------------------------------------
(10) 4 September 2013, KPPU memberikan surat tanggapan atas mandatory
report yang menyatakan tidak ada perubahan material sehingga pendapat
tetap mengacu pada penilaian konsultasi yaitu tidak adanya dugaan
praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Surat tersebut
ditandatangani oleh Bapak Nawir Messi selaku Ketua KPPU;--------------21.6
Bahwa pengumuman pertama dilakukan tanggal 11 Maret 2013 di harian Bisnis
Indonesia yaitu pengambilalihan 45% saham dari 2 pihak yaitu Wealth Paradise
Holding Limited dan PT HD Corpora;----------------------------------------------------
21.7
Bahwa pengumuman kedua dilakukan tanggal 12 April 2013 setelah mendapat
approval dari OJK untuk melakukan tender offer. Tanggal 27 Mei 2013
dilaporkan kepada OJK setelah melakukan tender offer yang total sahamnya itu
45% ditambah hasil tender offer
kurang lebih 11%
sehingga total
pengambilalihan kurang lebih 55%.; -----------------------------------------------------21.8
Bahwa pengambilalihan saham dilakukan dalam 2 tahap, yang pertama adalah
45% dan kekurangannya 6% melalui mandatory tender offer (MTO) dimana jika
dari MTO total tidak mencapai 51%, akan diadakan transaksi kembali untuk
membeli kekurangan saham. Ketika dilakukan MTO, saham belum mencapai
50%;--------------------------------------------------------------------------------------------
halaman 44 dari 110
SALINAN
21.9
Bahwa nilai aset (NA) dan nilai penjualan (NP) PT HD Finance, Tbk. adalah
pada tahun 2010: NP Rp.568.353.000; NA Rp.764.434.000. Tahun 2011: NP Rp.
1.028.822.000; NA 1.241.206.378.000. Tahun 2012: NP Rp 1.049.238.000; NA
1.558.474.211; --------------------------------------------------------------------------------
21.10 Bahwa pada tanggal 8 Maret 2013, setelah terjadi pengambilalihan 45% saham
PT HD Finance, Tbk., belum terjadi perubahan pengendali. Pengendalinya masih
pemegang saham yang lama dan juga tidak ada perubahan direksi. Hal tersebut
sesuai dengan tujuan pengambilalihan 51% saham berdasarkan kesepakatan para
pihak sejak awal transaksi. PT Tiara Marga Trakindo tidak melakukan
perubahan pengendali ketika saham masih 45% karena prinsipnya hanya
investasi, dan konsepnya private equity; ------------------------------------------------21.11 Bahwa setelah dilakukan pengambilalihan, dalam melakukan kegiatan/usaha PT
HD Finance, Tbk. menyampaikan laporan kepada seluruh pemegang saham yang
ada di PT Tiara Marga Trakindo; ---------------------------------------------------------21.12 Bahwa pada tanggal 8 Juni 2013 sampai dengan 24 Juni 2013 tidak ada
komunikasi dengan KPPU, karena komunikasi sudah dilakukan ketika
konsultasi; ------------------------------------------------------------------------------------21.13 Bahwa terkait kronologis konsultasi dengan KPPU, pada tanggal 9 Januari 2013,
PT Tiara Marga Trakindo melakukan konsultasi terkait akuisisi dengan Biro
Merger KPPU PT Tiara Marga Trakindo memperoleh penjelasan terkait format
dan prosedur yang harus dipenuhi. Direkomendasikan tidak perlu laporan untuk
pengambilalihan 45% saham, tapi nanti setelah selesai. Setelah melengkapi
semua dokumen dan persyaratan termasuk formulir-formulir yang diminta, lalu
dilakukan presentasi transaksi 2 tahap untuk mencapai pengambilalihan saham
51%. Terlapor dengan itikad baik demi mematuhi peraturan yang ada, maka
rencana jual beli ini sengaja ditunda sampai mendapat persetujuan dari KPPU.
Walaupun penjual menginginkan transaksi tuntas di tahun buku 2012. Kemudian
tanggal 27 Februari 2013 keluar persetujuan dari KPPU dan crossing di bursa
dilakukan pada tanggal 8 Maret 2013; ---------------------------------------------------21.14 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo benar-benar mempertimbangkan pendapat
KPPU untuk melakukan proses lebih lanjut. KPPU memberikan sinyal
persetujuan dengan dikeluarkannya pendapat tertulis dari KPPU tertanggal 27
Februari 2013 yang menyatakan tidak ada potensi terjadinya praktek monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat; --------------------------------------------------------21.15 Bahwa pada tanggal 24 Juni 2013 disampaikan pemberitahuan kepada KPPU
secara resmi, kemudian 4 September 2013 intinya KPPU tidak melakukan
halaman 45 dari 110
SALINAN
penilaian ulang terhadap pengambilalihan saham. Surat tersebut juga tidak
menyatakan adanya keterlambatan pemberitahuan; -----------------------------------21.16 Bahwa dalam konsultasi lisan mengenai rencana pengambilalihan, PT Tiara
Marga Trakindo juga menanyakan kapan kewajiban pemberitahuan wajib
disampaikan kepada KPPU. Dalam konsultasi lisan tersebut, PT Tiara Marga
Trakindo menyampaikan bahwa proses pengambilalihan dilakukan 2 tahap yaitu
tahap pertama 45 % dan tahap kedua 6% sehingga memperoleh lebih dari 51%,
Menurut PT Tiara Marga Trakindo, KPPU menyampaikan pemberitahuan dapat
dilakukan setelah selesainya tender offer ketika target pengambilalihan tercapai; 21.17 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo beritikad baik melakukan konsultasi dan
laporan kepada KPPU, dan untuk report di OJK tidak ada permasalahan; ---------22. Menimbang bahwa pada tanggal 12 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi dengan agenda pemeriksaan alat bukti yang diajukan oleh Investigator
(vide bukti B7); ---------------------------------------------------------------------------------------23. Menimbang bahwa pada tanggal 20 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang
Majelis Komisi dengan agenda Penyerahan Kesimpulan Hasil Persidangan yang
diajukan baik oleh pihak Investigator maupun pihak Terlapor (vide bukti B9); ------------24. Menimbang bahwa Investigator menyerahkan Kesimpulan Hasil Persidangan yang pada
pokoknya memuat hal-hal sebagai berikut (vide bukti I25): ----------------------------------24.1
Dasar; -----------------------------------------------------------------------------------------(1)
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; ---------------------------------
(2)
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau
Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang
dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat; -----------------------------------------------------------------
(3)
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010
tentang Tata Cara Penanganan Perkara; -----------------------------------------
(4)
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 10 Tahun 2010
tentang Formulir Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan
Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan; -------------------------------
(5)
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 3 Tahun 2012
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Komisi Pengawas Persaingan
Usaha
Nomor
13
Tahun
2010
tentang
Pedoman
Pelaksanaan
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
halaman 46 dari 110
SALINAN
Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat; --------------------------------------------------(6)
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2012
tentang Pedoman Pengenaan Denda Keterlambatan Pemberitahuan
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan; --------------------------------------------------------------------------
24.2
Terlapor dalam perkara ini adalah: PT. Tiara Marga Trakindo, yang beralamat di
Gedung TMT 1, Lantai 19, Jalan Cilandak KKO Nomor 1 Jakarta 12560; ---------
24.3
Obyek perkara ini adalah Keterlambatan Pemberitahuan Pengambilalihan Saham
PT HD Finance Tbk. oleh PT Tiara Marga Trakindo; ----------------------------------
24.4
Dugaan Pelanggaran: Pasal 29 UU Nomor 5 Tahun 1999 jo. Pasal 5 PP Nomor
57 Tahun 2010; ------------------------------------------------------------------------------Pasal 29 UU Nomor 5 Tahun 1999
(1) Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi
jumlah tertentu, wajib diberitahukan kepada Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)
hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut.
(2)
Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta
tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Pasal 5 PP Nomor 57 Tahun 2010
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan
lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib
diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan
Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan.
Pasal 2 Perkom No. 4 Tahun 2012
(1) Badan usaha yang melakukan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan
Pengambilalihan Saham Perusahaan wajib menyampaikan Pemberitahuan kepada Komisi
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Penggabungan atau Peleburan Badan
halaman 47 dari 110
SALINAN
Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan telah berlaku efektif secara yuridis.
(2) Tanggal berlaku efektif secara yuridis sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat (1) adalah:
….
c. khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa efek, maka
pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat
Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka.
24.5
Bahwa Fakta Pemberitahuan adalah sebagai berikut; ---------------------------------(1)
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (”KPPU”) telah menerima
Pemberitahuan dari Terlapor yang melakukan pengambilalihan Saham
(akuisisi) HD Finance pada tanggal 24 Juni 2013. (vide, I8, I9, I11, B3
Penyelidikan dan BAP SMK Terlapor); -----------------------------------------
(2)
Pemberitahuan tersebut dicatat oleh KPPU dengan nomor register
A13613 (vide I11); ------------------------------------------------------------------
(3)
Berdasarkan
Pemberitahuan
tersebut,
diketahui
nilai
aset
hasil
penggabungan adalah Rp.30.891.691.813.936 (vide I11); -------------------2012
PT. Tiara Marga Trakindo (dalam USD)
PT. HD Finance (dalam Rupiah)
(4)
3,009,779,951
1.588.474.211.000
Selanjutnya setelah dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan
kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap
USD 1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai aset PT. Tiara Marga
Trakindo adalah Rp.29.303.217.602.936 sehingga nilai aset hasil
penggabungan adalah Rp.30.891.691.813.936;---------------------------------
(5)
Bahwa dalam pemberitahuan tersebut diketahui nilai penjualan hasil
penggabungan adalah Rp.24.518.222.785.456 (vide I11); -------------------2012
PT. Tiara Marga Trakindo (dalam USD)
PT. HD Finance (dalam Rupiah)
2,410,536,648
1.049.238.000.000
Selanjutnya setelah dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan
kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap
USD 1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai penjualan PT. Tiara
Marga Trakindo adalah Rp.23.468.984.804.928 sehingga nilai penjualan
hasil penggabungan adalah Rp.24.518.222.804.928. -------------------------24.6
PT. Tiara Marga Trakindo sebagai Badan Usaha Pengambilalih (vide I8, I9, I11,
I13, I14, B3 Penyelidikan, BAP SMK Terlapor); --------------------------------------halaman 48 dari 110
SALINAN
(1)
Bahwa PT. Tiara Marga Trakindo adalah pelaku usaha selaku Badan
Usaha Pengambilalih; ---------------------------------------------------------------
(2)
Bahwa PT. Tiara Marga Trakindo didirikan pada tahun 1970 dengan
nama PT Trakindo Utama berdasarkan Akta Notaris Djojo Muljadi, S.H.,
No. 55 tanggal 23 Desember 1970. Akta Pendirian tersebut telah
disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. J.A.5/115/1 tanggal 31 Juli 1971; -------------------------------
(3)
Bahwa Akta Pendirian tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan
dan dengan Akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H., No. 16
tanggal 16 Agustus 2000 mengenai perubahan nama perusahaan dari PT
Trakindo Utama menjadi PT Tiara Marga Trakindo. Perubahan nama ini
telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-125.HT.01.04.TH2001
tanggal 4 Januari 2001; --------------------------------------------------------------
(4)
Bahwa Perubahan terakhir berdasarkan Akta Notaris Mala Mukti,
S.H.,LL.M, No. 79 tanggal 18 April 2012 mengenai perubahan susunan
Direksi Perusahaan. Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.
AHU-AH.01.10-18565 tanggal 24 Mei 2012; -----------------------------------
(5)
Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Tiara Marga
Trakindo No. 122 Tanggal 30 Januari 2013; -------------------------------------
(6)
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah perseroan yang bergerak di
bidang perdagangan, pemborongan (kontraktor), pengangkutan, industri,
percetakan, perwakilan dan/atau peragenan, pekerjaan teknik, jasa atau
pelayanan, pemukiman dan pertanian. PT Tiara Marga Trakindo
merupakan holding company yang memiliki beberapa anak perusahaan;
(7)
Bahwa pemegang saham PT Tiara Marga Trakindo adalah sebagai
berikut:---------------------------------------------------------------------------------
(8)
Bahwa nilai penjualan dan aset PT Tiara Marga Trakindo dalam kurun
waktu 3 (tiga) tahun terakhir adalah: ----------------------------------------------
24.7
Tahun
Nilai Penjualan
Nilai Aset
2010
USD 1.327.301.087
USD 1.329.061.371
2011
USD 2.352.388.452
USD 2.311.119.805
2012
USD 2.410.536.648
USD 3.009.779.951
Badan Usaha yang diambilalih (vide I11, I15, B4 Penyelidikan, BAP SMK
Terlapor); -------------------------------------------------------------------------------------halaman 49 dari 110
SALINAN
(1)
Bahwa PT HD Finance, Tbk adalah pelaku usaha sebagai Badan Usaha
yang diambilalih; ---------------------------------------------------------------------
(2)
Bahwa PT HD Finance, Tbk merupakan suatu perseroan terbatas yang
didirikan berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Republik Indonesia dan berkedudukan di Jakarta, beralamat di Jalan
Lingkar Luar Barat Kavling 35-36 Kelurahan Rawa Buaya Cengkareng
Jakarta Barat; -------------------------------------------------------------------------
(3)
Bahwa PT HD Finance, Tbk didirikan berdasarkan Akta Notaris F.A.
Tumbuan No. 41 tanggal 20 September 1972 dengan nama PT Indonesia
Lease Corporation; -------------------------------------------------------------------
(4)
Bahwa PT HD Finance, Tbk beberapa kali mengalami perubahan nama
yaitu menjadi PT Mitra Pradityatama Leasing berdasarkan Akta Notaris
Jacinta Susanti, S.H. No. 27 tanggal 17 Juni 1988 sebagaimana diubah
dengan Akta Jacinta Susanti, S.H. No. 19 tanggal 10 Maret 1989.
Kemudian berdasarkan Akta Notaris Imas Fatimah, S.H. No. 37 tanggal
19 juni 1995 nama perseroan berubah menjadi PT Niaga Leasing
Corporation dan pada tahun 2000 diubah kembali menjadi PT Niaga
Leasing berdasarkan Akta Notaris Siti Rahyana, S.H. sebagai Notaris
pengganti dari Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti, S.H. No. 51 tanggal 12
September 2000. Perseroan mengubah nama kembali berdasarkan Akta
Notaris Irawan Soerodjo, S.H. No. 16 tanggal 5 Desember 2001 jo. Akta
Notaris Irawan Soerodjo, S.H. No. 13 tanggal 5 Pebruari 2002 menjadi
PT Niaga Indovest Finance. Terakhir perseroan mengubah nama menjadi
PT HD Finance berdasarkan Akta Notaris Eliwaty Tjitra, S.H. No. 39
tanggal 13 Desember 2005;---------------------------------------------------------
(5)
Bahwa pada tahun 2011, PT HD Finance, Tbk melakukan penawaran
umum perdana atas saham perseroan sebagaimana telah disetujui oleh
pemegang saham perseroan berdasarkan Akta Notaris Doktor Irawan
Soerodjo, S.H., Msi. No. 31 tanggal 12 Januari 2011, serta mencatatkan
sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada bulan Mei 2011; ---------------------
(6)
Bahwa PT HD Finance, Tbk memiliki 31 kantor cabang yang tersebar di
Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bekasi,
Tambun, Tangerang, Serpong, Serang, Cikupa, Ciledug, Depok, Bogor,
Cileungsi, Cikarang, Karawang, Bandung, Cimahi, Semarang, Surabaya,
Sidoarjo, Madiun, Tulungagung, Gresik, Kediri, Malang, Medan, Binjai,
Palembang, Betung dan Pekanbaru; ----------------------------------------------halaman 50 dari 110
SALINAN
(7)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar PT HD Finance,
Tbk maksud dan tujuan PT HD Finance, Tbk adalah bergerak dalam
bidang pembiayaan termasuk pembiayaan sesuai dengan Prinsip Syariah; -
(8)
Bahwa pemegang saham PT HD Finance, Tbk sebelum pengambilalihan
adalah sebagai berikut: -------------------------------------------------------------
(9)
Bahwa nilai penjualan dan asset PT HD Finance, Tbk dalam kurun waktu
3 (tiga) tahun terakhir adalah: -----------------------------------------------------
24.8
Tahun
Nilai Penjualan
Nilai Aset
2010
Rp.568.353.000.000
Rp.764.434.000.000
2011
Rp.1.028.822.000.000
Rp.1.241.206.378.000
2012
Rp.1.049.238.000.000
Rp.1.588.474.211.000
Tentang Transaksi (vide C1, C2, C3, C5, C6, C7, B3 Penyelidikan, B4
Penyelidikan, I1, I4, I11, I12, I17, I18, BAP SMK Terlapor); -----------------------(1)
Bahwa pada tanggal 8 Maret 2013 PT Tiara Marga Trakindo
mengambilalih 693.000.000 saham atau setara dengan 45% saham PT
HD Finance, Tbk milik Wealth Paradise Holdings Limited dan PT HD
Corpora selaku pemegang saham PENGENDALI; -----------------------------
(2)
Bahwa proses pengambilalihan saham PENGENDALI dimaksud dimuat
dalam surat kabar Bisnis Indonesia tanggal 11 Maret 2013; ------------------
(3)
Bahwa pada tanggal 11 Maret 2013, PT Tiara Marga Trakindo
menyampaikan surat kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan No.
TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal Pengumuman Pengambilalihan
HD Finance oleh PT Tiara Marga Trakindo; ------------------------------------
(4)
Bahwa berdasarkan ketentuan Angka 4 Peraturan Bapepam-LK No.
IX.H.1, PT Tiara Marga Trakindo selaku PENGENDALI BARU pada
tanggal 13 April sampai dengan 12 Mei 2013 melakukan Penawaran
Saham (tender offer); ----------------------------------------------------------------
(5)
Bahwa hasil pelaksanaan tender offer tersebut PT Tiara Marga Trakindo
memperoleh 172.671.500 saham atau setara dengan 11,21% saham yang
telah diterbitkan PT HD Finance, Tbk; ------------------------------------------
(6)
Bahwa dalam rangka untuk menyesuaikan dengan rencana investasi awal
PT Tiara Marga Trakindo pada PT HD Finance, Tbk. pada tanggal 14
Juni 2013, PT Tiara Marga Trakindo melakukan penjualan saham PT HD
Finance, Tbk. sebanyak 6.223.833 saham atau setara 0,43% total saham
PT HD Finance Tbk. yang telah diterbitkan; ------------------------------------
halaman 51 dari 110
SALINAN
(7)
Bahwa kronologis pengambilalihan saham HD Finance oleh Terlapor
adalah sebagai berikut: --------------------------------------------------------------
Konsultasi terkait Rencana
Pengambilalihan (Akuisisi)
Saham Perusahaan PT HD
Finance Tbk
1. Pemberitahuan
kepada OJK mengenai
Keterbukaan Informasi
terkait Perubahan
Jumlah Kepemilikan
Saham PT HD Finance
TBK
TMT melakukan
pengambilalihan saham
terhadap 693.000.000
saham setara 45% saham
PT HD Finance Tbk dari PT
HD Corpora dan Wealth
Paradise Holdings Limited
Pelaksanaan
Tender Offer
27 FEBRUARI 2013
11 MARET 2013
8 MARET 2013
14 JANUARI 2013
2. Kepemilikan saham
TMT pada PT HD
Finance Tbk adalah
sebesar 55,81%
KPPU mengeluarkan
Pendapat terhadap
Konsultasi terkait Rencana
Pengambilalihan (Akuisisi)
Saham Perusahaan PT HD
Finance Tbk
27 MEI 2013
13 APRIL s.d
12 MEI 2013
1. Pengumuman
pengambilalihan
45% saham PT HD
Finance Tbk di Surat
Kabar Bisnis
Indonesia
24 JUNI 2013
21 JUNI 2013
Pemberitahuan
kepada OJK terkait
Laporan Hasil
Penawaran Wajib
(Tender Offer)
TMT menyampaikan
Pemberitahuan
kepada KPPU terkait
pengambilalihan
saham PT HD
Finance Tbk
2. Menyampaikan
pemberitahuan
kepada OJK terkait
Pengumuman
Keterbukaan
Informasi
Pengambilalihan
Saham PT HD
Finance
24.9
Fakta Persidangan Pemeriksaan Saksi Ahli Dewan Komisioner Otoritas Jasa
Keuangan (OJK), yang diwakili oleh YB Eko Pramuji, Marthen Pareang, M.
Rizki Fauzi yang pada intinya sebagai berikut:-----------------------------------------(1)
Bahwa menurut Ahli, Keterbukaan Informasi Publik pada prinsipnya
dipasar
modal
adalah
adanya
keterbukaan,
pihak/emitem
yang
mempunyai fakta material wajib menyampaikan informasi kepada
OJK/dahulu Bapepam. Keterbukaan ini memberikan informasi kepada
investor agar informasi sama terhadap seluruh investor dalam melakukan
investasi/ rencana pengambilalihan;----------------------------------------------(2)
Bahwa proses keterbukaan informasi dilakukan setelah terjadinya
transaksi pengambilalihan, kemudian setelahnya pengendali baru harus
melakukan tender offer; -------------------------------------------------------------
(3)
Dalam tender offer tersebut, pengendali baru menawarkan kepada
pemegang saham existing untuk menjual sahamnya dan pengendali baru
halaman 52 dari 110
SALINAN
disini wajib membeli saham jika pemegang saham existing ingin
menjual/melepas sahamnya; -------------------------------------------------------(4)
Bahwa pengambilalihan menurut ketentuan Bapepam dan LK No. Kep.
264/BL/2011 tanggal 31 Mei 2011 adalah tindakan baik langsung
maupun tidak langsung yang mengakibatkan perubahan pengendali;--------
(5)
Bahwa pengendali adalah yang memiliki 50 persen saham atau lebih,
atau, yang memiliki kemampuan untuk menentukan baik langsung
ataupun tidak langsung dengan cara apapun pengelolaan atau
kebijaksanaan perusahaan terbuka; ------------------------------------------------
(6)
Bahwa secara ekstrim walaupun pemegang saham baru hanya membeli
30% saham yang merupakan saham pengendali, maka perusahaan
tersebut sudah dapat dikatakan sebagai pengendali; ----------------------------
(7)
Bahwa pengendali baru dibuktikan dengan cara dipublish ke publik, yang
dipublish melalui surat kabar harian, minimal 1 surat kabar dan website
PT. BEI; -------------------------------------------------------------------------------
(8)
Bahwa Bapepam tidak mengenal istilah pengendali akhir, yang dikenal
adalah pengendali lama dan pengendali baru; -----------------------------------
(9)
Bahwa menurut Ahli, kepemilikan akhir terjadi setelah proses tender
offer, namun pengendali baru sudah ditetapkan setelah proses
pengambilalihan, dan pengendali baru tersebut wajib melakukan tender
offer; -----------------------------------------------------------------------------------
(10)
Bahwa tender offer merupakan konsekuensi dari adanya proses
pengambilalihan dan tender offer merupakan kewajiban terhadap
pengendali baru; ----------------------------------------------------------------------
24.10 Fakta Persidangan Pemeriksaan Ahli Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H.,
M.S. yang merupakan guru besar hukum bisnis di Universitas Gadjah Mada,
aktif sebagai konsultan hukum pasar modal dan sebagai pengajar hukum bisnis,
hukum persaingan usaha dan juga sebagai pembimbing program doktor di
beberapa universitas ternama, yang pada intinya adalah sebagai berikut: ----------(1)
Bahwa, pengambilalihan di pasar modal mengacu pada Peraturan
Bapepam IX.H.1 yang initinya adalah suatu tindakan langsung atau tidak
langsung yang mengakibatkan perubahan pengendalian perusahaan,
dimana dapat berupa pengambilalihan saham yang mencapai 51 persen
atau dapat kurang dari 51 persen yang mengakibatkan perubahan
pengendalian; -------------------------------------------------------------------------
halaman 53 dari 110
SALINAN
(2)
Bahwa yang dimaksud dengan perubahan pengendalian dengan
kepemilikan saham dibawah 51 persen, yakni pengambilalihan saham
tersebut dengan diperjanjikan memperoleh fasilitas atau persyaratan yang
bisa melakukan pengendalian, sebagai contoh adanya penempatan
direksi, dan penempatan dewan komisaris sehingga dapat mengendalikan
perusahaan tersebut; -----------------------------------------------------------------
(3)
Bahwa dalam rangka Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, Pengendali
Perusahaan Terbuka baru wajib melakukan Penawaran Tender/Tender
Offer untuk seluruh sisa saham Perusahaan Terbuka tersebut; ----------------
(4)
Bahwa pihak yang diwajibkan untuk melakukan Penawaran Tender
(tender offer) adalah Perusahaan PENGENDALI BARU ; --------------------
(5)
Bahwa suatu perusahaan yang melakukan pengambilalihan saham di
pasar modal dan telah melaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan, maka
hal tersebut merupakan suatu bentuk Surat Keterbukaan Informasi; ---------
(6)
Sebagai contoh ilustrasi, bahwa apabila terdapat Perusahan melakukan
pengambilalihan saham pada tanggal 10 Maret kemudian pengendali baru
melapor ke Otoritas Jasa Keuangan pada tanggal 11 Maret, bahwa hal itu
termasuk dalam Surat Keterbukaan Informasi; ----------------------------------
(7)
Bahwa suatu perusahaan yang melakukan pengambilalihan saham baru
sebesar 41% tetapi sudah melakukan pemberitahuan kepada Otoritas Jasa
Keuangan sudah dikatakan terdapat Keterbukaan Informasi; -----------------
(8)
Bahwa dalam Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1, Ahli tidak dapat
menunjukkan aturan yang menyebutkan bahwa efektif juridis dilakukan
setelah tender offer; ------------------------------------------------------------------
24.11 Jawaban Investigator terhadap Tanggapan LKP, terkait dengan Formil Hukum
Acara: ----------------------------------------------------------------------------------------(1)
Dasar hukum untuk dilakukannya Pemeriksaan Pendahuluan oleh KPPU
adalah sudah tepat dan benar, dikarenakan Laporan Keterlambatan
Pemberitahuan telah disetujui dalam Rapat Komisi dan ditandatangani
oleh Plt. Deputi Penegakan Hukum pada tanggal 11 Maret 2014 (vide
I19); ------------------------------------------------------------------------------------
(2)
Berdasarkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan tersebut, kemudian
dikeluarkan Surat Penetapan Pemeriksaaan Pendahuluan pada tanggal 28
Maret 2014, yang pada intinya menunjuk Majelis Komisi yang
menangani perkara a quo; ----------------------------------------------------------
halaman 54 dari 110
SALINAN
(3)
Berdasarkan surat Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, dibentuk Tim
Investigator berdasarkan Surat Tugas No. 205/D.2/ST/III/2014 tanggal
28 Maret 2014 ;-----------------------------------------------------------------------
(4)
Atas dasar Surat Tugas tersebut, Investigator menandatangani Laporan
Keterlambatan Pemberitahuan pada tanggal 8 April 2014; --------------------
(5)
Bahwa dengan demikian terdapat 2 (dua) Laporan Keterlambatan
Pemberitahuan yaitu Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang
ditanda-tangani oleh Plt. Deputi Penegakan Hukum tanggal pada tanggal
11 Maret 2014 dan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang ditandatangani oleh Investigator pada tanggal 8 April 2014; ---------------------------
(6)
Sehingga dengan demikian dalil-dalil dari Terlapor yang menyatakan
bahwa tidak terdapat dasar hukum untuk dilakukannya Pemeriksaan
Pendahuluan adalah tidak berdasar; -----------------------------------------------
24.12 Jawaban Investigator terhadap Tanggapan LKP, terkait dengan Hasil Diskusi
dengan KPPU pada periode Konsultasi; -------------------------------------------------(1)
Bahwa terkait dengan dalil-dalil Terlapor yang menyatakan bahwa
Terlapor telah melakukan diskusi dengan Pihak KPPU, yang pada intinya
pemberitahuan dilakukan setelah diselesaikannya transaksi secara final
dimana
Terlapor
telah
memperoleh
target
pengendalian
yaitu
sekurangnya 51% saham PT. HD Finance adalah TIDAK BENAR DAN
SANGAT TIDAK BERDASAR; -------------------------------------------------(2)
Bahwa KPPU dalam memberikan konsultasi selalu berdasar pada
ketentuan yang berlaku, in casu PP 57 Tahun 2010 dan Perkom No. 4
Tahun 2012 dimana dalam ketententuan tersebut telah jelas menyebutkan
bahwa pemberitahuan diberitahukan ke KPPU adalah 30 hari setelah
pengambilalihan; ---------------------------------------------------------------------
(3)
Bahwa tidak terdapat bukti yang menyatakan bahwa pihak dari KPPU
pernah menyatakan pemberitahuan dilakukan setelah diselesaikannya
transaksi secara final dimana Terlapor telah memperoleh target
pengendalian yaitu sekurangnya 51% saham PT. HD Finance; --------------
(4)
Bahwa berdasarkan Pasal 1 Butir 3 PP No. 57 Tahun 2010 jo. Pasal 1
Butir 3 Perkom No. 04 Tahun 2012: --------------------------------------------“Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan
usaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang mengakibatkan
beralihnya pengendalian atas badan usaha tersebut” ----------------------
halaman 55 dari 110
SALINAN
(5)
Bahwa berdasarkan Penjelasan Pasal 5 ayat (4) huruf b PP No. 57 Tahun
2010: ----------------------------------------------------------------------------------Yang dimaksud dengan dikendalikan adalah ; ---------------------------------a.
Pemilikan saham atau penguasaan suara lebih dari 50% dalam
badan usaha atau ; ----------------------------------------------------------
b.
Adanya pemilikan saham atau penguasaan suara kurang dari atau
sama dengan 50% tetapi dapat mempengaruhi dan menentukan
kebijakan pengelolaan badan usaha dan atau mempengaruhi dan
menentukan pengelolaan badan usaha; ----------------------------------
(6)
Berdasarkan berdasarkan ketentuan tersebut sangatlah tidak mungkin
KPPU dalam hal ini Biro Merger menyatakan proses pengambilalihan
dilakukan setelah 51%, karena ketentuan yang berlaku menyatakan
pengambilalihan adalah perubahan pengendali; ---------------------------------
(7)
Dengan demikian, walaupun terdapat perbedaan penafsiran dari definisi
pengendalian oleh PT Tiara Marga Trakindo, KPPU tetap merujuk pada
aturan yang berlaku; -----------------------------------------------------------------
24.13 Jawaban Investigator terhadap Tanggapan LKP, tentang Pendapat KPPU No.
04/KPPU/PDPT/II/2013 berkaitan dengan Konsultasi Pengambilalihan Saham
PT HD Finance Tbk. Oleh PT Tiara Marga Trakindo; --------------------------------(1)
Bahwa pada tanggal 14 Januari 2013, KPPU telah menerima Konsultasi
tertulis dari PT Tiara Marga Trakindo dan telah dicatat dengan No.
Register A20113 yang pada intinya menjelaskan; -----------------------------(a)
Bahwa hasil Konsultasi pada intinya Komisi menilai tidak terdapat
dugaan adanya praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat
yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham tersebut; --------------
(b)
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo tidak berada pada pasar
bersangkutan yang sama dan tidak saling terintegrasi dengan PT
HD Finance Tbk.; ------------------------------------------------------------
(c)
Bahwa dengan demikian pendapat Komisi hanya terbatas pada
proses pengambilalihan saham yang dapat mengakibatkan adanya
praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat;---
(2)
Bahwa pendapat Komisi tersebut tidak menyebut sedikitpun menyangkut
pemberitahuan keterlambatan, karena tindakan korporasi (corporate
action) pengambil alihan saham yang akan dilakukan PT Tiara Marga
Trakindo dilakukan pada bulan Maret 2014, sementara Pendapat KPPU
dikeluarkan pada bulan Februari 2014, sehingga dengan demikian
halaman 56 dari 110
SALINAN
Pendapat Komisi tidak relevan dengan Laporan Keterlambatan
Pengambilalihan; --------------------------------------------------------------------(3)
Bahwa konsultasi yang dilakukan oleh PT Tiara Marga Trakindo adalah
bersifat sukarela (voluntary), sedangkan Pemberitahuan Pengambilalihan
yang memenuhi batasan ketentuan yang terdapat dalam PP No. 57 Tahun
2010 adalah bersifat WAJIB (mandatory); ---------------------------------------
(4)
Dengan demikian Konsultasi yang dilakukan oleh PT Tiara Marga
Trakindo
tidak
mengurangi
kewajibannya
untuk
melakukan
pemberitahuan pengambilalihan; -------------------------------------------------24.14 Jawaban Investigator terhadap Tanggapan LKP, tentang Peraturan Bapepam-LK
No. IX.H.1; ----------------------------------------------------------------------------------(1)
Bahwa khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa efek,
maka ketentuan yang berlaku bukanlah UU PT No. 40 Tahun 2007; -------
(2)
Bahwa ketentuan yang berlaku adalah Peraturan Bapepam LK No.
IX.H.1 (lex specialis derogate legi generalis); ----------------------------------
(3)
Bahwa berdasarkan Peraturan Bapepam LK No. IX.H.1 diatur secara
jelas pengambilalihan ; --------------------------------------------------------------
(4)
Bahwa berdasarkan Pasal 1 huruf c yaitu: ---------------------------------------“Pengendali perusahaan terbuka adalah pihak yang memiliki saham
lebih dari 50% dari seluruh saham yang disetor penuh ATAU pihak
yang mempunyai kemampuan untuk menentukan baik langsung maupun
tidak
langsung
dengan
cara
apapun
pengelolaan
dan
atau
kebijaksanaan perusahaan terbuka; -------------------------------------------(5)
Bahwa ketentuan dalam UU PT yang menyatakan pengendali hanyalah
pemegang saham mayoritas 50 + 1 adalah tidak relevan terhadap kasus
ini, sehingga harus dikesampingkan; ---------------------------------------------
24.15 Analisa Pemberlakuan; ---------------------------------------------------------------------(1)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010 diatur
bahwa kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tidak
berlaku bagi Pelaku Usaha yang melakukan Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham antarperusahaan
yang terafiliasi; -----------------------------------------------------------------------
(2)
Bahwa berdasarkan penjelasan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010, yang
dimaksud dengan “terafiliasi” adalah: --------------------------------------------
halaman 57 dari 110
SALINAN
(a) hubungan antara perusahaan, baik langsung maupun tidak
langsung, mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan
tersebut; ----------------------------------------------------------------------(b) hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik
langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau ; -----(c) hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama. -----------(3)
Bahwa dengan demikian perlu terlebih dahulu untuk diuraikan apakah
ketentuan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ini
berlaku atau tidak bagi Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo; -----------------
(4)
Bahwa pemegang saham Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo adalah
sebagai berikut: ----------------------------------------------------------------------No.
Pemegang Saham
Komposisi Kepemilikan (%)
1.
Achmad Hadiat Hamami
99,40%
2.
Achmad Ridwan Hamami
0,60%
dan pemegang saham PT HD Finance, Tbk sebelum pengambilalihan
adalah sebagai berikut (vide I11); ----------------------------------------------No.
Pemegang Saham
1.
Wealth
Paradise
Komposisi Kepemilikan (%)
Holdings
48,70%
Limited
(5)
2.
PT HD Corpora
21,43%
3.
Soeharto Djojonegoro
0,0000065%
4.
Publik
29,87%
Bahwa berdasarkan kepemilikan tersebut diatas, Terlapor/PT Tiara
Marga Trakindo tidak terafiliasi dengan PT HD Finance (vide I11); --------
(6)
Bahwa dengan demikian, maka kewajiban menyampaikan pemberitahuan
secara tertulis kepada KPPU berlaku bagi Terlapor/PT Tiara Marga
Trakindo; ------------------------------------------------------------------------------
24.16 Analisa Pemenuhan Unsur Pasal; ---------------------------------------------------------24.16.1 Bahwa ketentuan Pasal 29 UU Nomor 5 Tahun 1999, menyatakan: -----(1)
Penggabungan
atau
peleburan
badan
usaha,
atau
pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi
jumlah tertentu, wajib diberitahukan kepada Komisi, selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan,
peleburan atau pengambilalihan tersebut;
halaman 58 dari 110
SALINAN
(2)
Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan
serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), diatur dalam Peraturan Pemerintah.
24.16.2 Bahwa unsur-unsur Pasal 29 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1999 tersebut
adalah sebagai berikut: ----------------------------------------------------------(1) Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan
saham; ----------------------------------------------------------------------(2) nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu; ---(3) wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan tersebut; ------------------------------------------------24.16.3 Unsur
“Penggabungan
atau
peleburan
badan
usaha,
atau
pengambilalihan saham”; -------------------------------------------------------(1)
Bahwa dalam unsur ini terdapat kata hubung “atau”;-----------------
(2)
Bahwa kata hubung “atau” berdasarkan kamus bahasa Indonesia
memiliki arti kata penghubung untuk menandai pilihan di antara
beberapa hal (pilihan) (http://kbbi.web.id/); ---------------------------
(3)
Bahwa dengan demikian, maka dalam unsur ini, cukup salah satu
dari: “penggabungan”, atau “peleburan badan usaha”, atau
“pengambilalihan saham” terpenuhi, maka telah terpenuhi unsur
ini; ----------------------------------------------------------------------------
(4)
Bahwa
pada
tanggal
24
Juni
2013,
KPPU
menerima
pemberitahuan dari PT Tiara Marga Trakindo yang melakukan
Pengambilalihan saham (akuisisi) PT HD Finance, Tbk; -----------(5)
Bahwa dengan demikian unsur pengambilalihan saham telah
terpenuhi; --------------------------------------------------------------------
24.16.4 Unsur “nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu”;
(1)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat (2) UU No. 5/1999,
diatur bahwa ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai
penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tersebut di atas, diatur dalam Peraturan
Pemerintah; -----------------------------------------------------------------
(2)
Bahwa sebagai peraturan pelaksana dari ketentuan Pasal 29 UU
No. 5/1999 tersebut diatas, Pemerintah telah menerbitkan PP
Nomor 57 Tahun 2010 yang didalamnya memuat mengenai nilai
aset dana atau nilai penjualan yang melebihi jumlah tertentu; -----halaman 59 dari 110
SALINAN
(3)
Bahwa nilai aset dan atau nilai penjualan melebihi jumlah tertentu
diatur dalam Pasal 5 ayat (2) PP Nomor 57 Tahun 2010 yang
menentukan; ---------------------------------------------------------------(a) nilai aset sebesar Rp2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima
ratus miliar rupiah); dan/atau;--------------------------------------(b) nilai penjualan sebesar Rp5.000.000.000.000,00 (lima triliun
rupiah); -----------------------------------------------------------------
(4)
Bahwa nilai aset dan/atau nilai penjualan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (2) PP Nomor 57 Tahun 2010 tersebut di atas
dihitung berdasarkan penjumlahan nilai aset dan/atau nilai
penjualan dari: ------------------------------------------------------------(a) Badan Usaha hasil Penggabungan, atau Badan Usaha hasil
Peleburan, atau Badan Usaha yang mengambilalih saham
perusahaan lain dan Badan Usaha yang diambilalih; dan -----(b) Badan Usaha yang secara langsung maupun tidak langsung
mengendalikan atau dikendalikan oleh Badan Usaha hasil
Penggabungan, atau Badan Usaha hasil Peleburan, atau
Badan Usaha yang mengambilalih saham perusahaan lain dan
Badan Usaha yang diambilalih;-------------------------------------
(5)
Bahwa penghitungan nilai aset dan atau nilai penjualan tersebut
diatas untuk mengetahui apakah nilai aset dan atau nilai penjualan
melebihi jumlah tertentu; -------------------------------------------------
(6)
Bahwa nilai aset dan atau nilai penjualan tersebut menjadi hal
menentukan apakah Pelaku Usaha wajib atau tidak wajib untuk
melaporkan ke KPPU; -----------------------------------------------------
(7)
Bahwa dengan adanya frasa kata hubung “dan atau” memiliki arti
sifat kumulatif maupun sifat fakultatif yang berati bisa keduanya
atau salah satunya; --------------------------------------------------------
(8)
Bahwa dengan demikian, yang menjadi faktor utama dari unsur
ini adalah melebihi atau tidak melebihi jumlah tertentu yang telah
ditentukan tersebut diatas; ------------------------------------------------
(9)
Bahwa nilai aset dan/atau nilai penjualan Terlapor/PT Tiara
Marga Trakindo dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir
adalah: ----------------------------------------------------------------------Tahun
Nilai Penjualan
Nilai Aset
2010
USD 1.327.301.087
USD 1.329.061.371
halaman 60 dari 110
SALINAN
2011
USD 2.352.388.452
USD 2.311.119.805
2012
USD 2.410.536.648
USD 3.009.779.951
dengan mengingat bahwa penghitungan nilai aset dan/atau nilai
penjualan dilakukan dengan mata uang Rupiah, maka dilakukan
konversi nilai mata uang yang berdasarkan kurs Jual Bank
Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap USD1
sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai sebagai berikut: ----Tahun
Nilai Penjualan
Nilai Aset
2010
Rp.12.922.603.383.032
Rp.12.939.741.508.056
2011
Rp.22.902.853.968.672
Rp.22.501.062.421.480
2012
Rp.23.468.984.804.928
Rp.29.303.217.602.936
dan nilai penjualan dan aset PT HD Finance, Tbk dalam kurun
waktu 3 (tiga) tahun terakhir adalah:--------------------------------Tahun
2010
2011
2012
Nilai Penjualan
Rp.568.353.000.000
Rp.1.028.822.000.000
Rp.1.049.238.000.000
Nilai Aset
Rp.764.434.000.000
Rp.1.241.206.378.000
Rp.1.588.474.211.000
(vide Dokumen I11)
(10) Bahwa bila digabungan Nilai Penjualan dan Nilai Aset Terlapor
pada tahun 2012 dengan Nilai Penjualan dan Nilai Aset PT HD
Finance, Tbk pada tahun 2012 akan menjadi sebagai berikut: -----Tahun 2012
Nilai Penjualan
Nilai Aset
PT
Rp.23.468.984.804.928
Rp.29.303.217.602.936
Rp.1.049.238.000.000
Rp.1.588.474.211.000
Rp.24.518.222.804.928
Rp.30.891.691.813.936
Marga
Tiara Trakindo
PT
HD
Finance, Tbk
Total
(11) Bahwa dengan demikian pengambilalihan saham oleh PT Tiara
Marga Trakindo untuk nilai aset telah melebihi jumlah tertentu
sebagaimana diatur dalam Pasal 5 PP Nomor 57 Tahun 2010; -----(12) Bahwa dengan demikian unsur “nilai aset dan atau nilai
penjualannya melebihi jumlah tertentu” telah terpenuhi; -----------24.16.5 Unsur “wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30
(tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan tersebut”; -----------------------------------------------------halaman 61 dari 110
SALINAN
(1)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) PP Nomor 57
Tahun 2010 diatur bahwa pemberitahuan Penggabungan Badan
Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham
perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai
penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara
tertulis kepada KPPU paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan
Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham
perusahaan; ------------------------------------------------------------------
(2)
Bahwa ketentuan tersebut dipertegas kembali oleh Komisi dalam
Pasal 2 ayat (1) Perkom No. 4/2012 yang berbunyi: ----------------“Badan usaha yang melakukan Penggabungan atau Peleburan
Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan wajib
menyampaikan Pemberitahuan kepada Komisi paling lama 30
(tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Penggabungan atau
Peleburan
Badan
Usaha
dan
Pengambilalihan
Saham
Perusahaan telah berlaku efektif secara yuridis.”-----------------(3)
Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemberitahuan
wajib dilakukan: -----------------------------------------------------------(a) secara tertulis; --------------------------------------------------------(b) paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak berlaku efektif; ---------(c) berlaku efektif secara yuridis;---------------------------------------
(4)
Bahwa Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo memberitahukan
secara tertulis pada tanggal 24 Juni 2013 yang tercatat di KPPU; --
(5)
Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (2) butir c Perkom No. 4/2012:
(2) Tanggal telah berlaku efektif secara yuridis adalah:
a. untuk Badan Usaha yang berbentuk Perseroan
Terbatas, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 133
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas (“selanjutnya disebut UU No. 40
Tahun 2007”) pada bagian penjelasan adalah
tanggal:------------------------------------------------------i.
Persetujuan Menteri atas perubahan anggaran
dasar dalam hal terjadi Penggabungan; ---------
ii.
Pemberitahuan diterima Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia baik
dalam hal terjadi perubahan Anggaran Dasar
halaman 62 dari 110
SALINAN
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3)
UU No. 40 Tahun 2007 maupun yang tidak
disertai perubahan Anggaran Dasar; dan------iii.
Pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia
Republik
Pendirian
perseroan
Indonesia
dalam
atas
hal
Akta
terjadi
Peleburan.-----------------------------------------b. Jika salah satu pihak yang melakukan Penggabungan,
Peleburan, dan Pengambilalihan adalah Perseroan
Terbatas dan pihak lain adalah perusahaan nonPerseroan Terbatas, maka pemberitahuan dilakukan
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
ditandatanganinya
pengesahan
Penggabungan,
Peleburan dan Pengambilalihan oleh para pihak.
Adapun tanggal pengesahan adalah tanggal efektif
suatu badan usaha bergabung atau melebur dan
beralihnya kepemilikan saham di perusahaan yang
diambil alih (closing date); atau----------------------c. Khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi
di bursa efek, maka pemberitahuan dilakukan
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
Surat
Keterbukaan
Informasi
Pengambilalihan
Saham Perseroan Terbuka. ----------------------------(6)
Bahwa pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk oleh
Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo merupakan Pengambilalihan
Saham yang terjadi di bursa efek, sehingga berlaku ketentuan
Pasal 2 ayat (2) butir (c) Perkom No. 4/2012 yaitu dilakukan
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat
Keterbukaan
Informasi
Pengambilalihan
Saham
Perseroan
Terbuka; --------------------------------------------------------------------(7)
Bahwa berdasarkan Pasal 1 Butir 3 PP No. 57 Tahun 2010 jo.
Pasal 1 Butir 3 Perkom No. 04 Tahun 2012: ------------------------“Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh
badan usaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian atas badan usaha
tersebut” --------------------------------------------------------------------halaman 63 dari 110
SALINAN
(8)
Bahwa berdasarkan Penjelasan Pasal 5 ayat (4) huruf b PP No. 57
Tahun 2010: ----------------------------------------------------------------“Yang dimaksud dengan dikendalikan adalah: ----------------------a. Pemilikan saham atau penguasaan suara lebih dari 50%
dalam badan usaha atau --------------------------------------------b. Adanya pemilikan saham atau penguasaan suara kurang dari
atau sama dengan 50% tetapi dapat mempengaruhi dan
menentukan kebijakan pengelolaan badan usaha dan atau
mempengaruhi dan menentukan pengelolaan badan usaha-----
(9)
Bahwa berdasarkan Pasal 1 Ketentuan Umum huruf c, d dan e
Peraturan Bapepam LK No. IX.H.1: -----------------------------------c.
Pengendali perusahaan terbuka adalah pihak yang memiliki
saham lebih dari 50% dari seluruh saham yang disetor penuh
ATAU pihak yang mempunyai kemampuan untuk menentukan
baik langsung maupun tidak langsung dengan cara apapun
pengelolaan dan atau kebijaksanaan perusahaan terbuka. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
d.
Pengambilalihan adalah tindakan baik langsung maupun
tidak
langsung
yang
mengakibatkan
PERUBAHAN
PENGENDALI; ------------------------------------------------------e.
Penawaran tender wajib adalah penawaran untuk membeli
sisa saham perusahaan terbuka yang wajib dilakukan oleh
PENGENDALI BARU; -----------------------------------------------
(10) Bahwa pada tanggal 8 Maret 2013 Terlapor/PT Tiara Marga
Trakindo mengambilalih 693.000.000 saham atau setara dengan
45% saham PT HD Finance, Tbk milik Wealth Paradise Holdings
Limited dan PT HD Corpora SELAKU PEMEGANG SAHAM
PENGENDALI, dengan kata lain Terlapor/PT Tiara Marga
Trakindo telah dengan jelas menyatakan mengambilalih saham
pengendali sebagaimana diumumkan melalui Media Bisnis
Indonesia (vide I6); -------------------------------------------------------(11) Bahwa proses pengambilalihan saham PENGENDALI dimaksud
dimuat dalam surat kabar Bisnis Indonesia tanggal 11 Maret
2013; -----------------------------------------------------------------------(12) Bahwa pada tanggal 11 Maret 2013, Terlapor/PT Tiara Marga
Trakindo menyampaikan surat kepada Otoritas Jasa Keuangan
halaman 64 dari 110
SALINAN
(OJK) dengan No. TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal
Pengumuman Pengambilalihan HD Finance oleh Terlapor/PT
Tiara Marga Trakindo; ---------------------------------------------------(13) Bahwa Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo mengumumkan perihal
pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk dari PT HD Corpora
dan Wealth Paradise selaku Pemegang Saham Pengendali PT HD
Finance Tbk. (vide I6) ; --------------------------------------------------(14) Dengan demikian tanggal efektif yuridis dilakukan paling lambat
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka yaitu tanggal 11
Maret 2013; ----------------------------------------------------------------(15) Bahwa berdasarkan keterangan Ahli (vide B1 Penyelidikan dan
BAP SMK OJK dan BAP SMK Ahli Prof. Dr. Nindyo Pramono,
S.H., M.S.) bahwa tanggal efektif juridis adalah paling lambat
satu hari kerja setelah terjadinya pengambilalihan, yang mana
pengambilalihan berdasarkan ketentuan di atas merupakan
perubahan pengendali;----------------------------------------------------(16) Bahwa
Terlapor/PT
Tiara
Marga
Trakindo
melakukan
pengambilalihan pada tanggal 8 Maret 2013, sehingga tanggal
efektif yuridis untuk keterbukaan informasi paling lambat adalah
tanggal 11 Maret 2013; ---------------------------------------------------(17) Dengan demikian, berdasarkan fakta dan bukti tersebut, maka
Terlapor/PT
Tiara
Marga
Trakindo
wajib
melakukan
pemberitahuan pengambilalihan kepada KPPU 30 hari sejak
tanggal 11 Maret 2013; ---------------------------------------------------(18) Bahwa penghitungan 30 (tiga puluh) hari kerja didasarkan pada
Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2012,
Nomor SKB.06/MEN/VII/2012, Nomor 02 Tahun 2012 tentang
Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2013 -----------------(19) Bahwa dengan adanya frasa kata “sejak” maka memiliki arti
penghitungan 30 (tiga puluh) hari dihitung sejak tanggal
pemberitahuan; ------------------------------------------------------------(20) Bahwa penghitungan tersebut tampak dalam tabel dibawah ini:
Hari ke
Tgl/bln
Hari ke
Tgl/bln
Hari ke
Tgl/bln
1
13/03
11
27/03
21
11/04
halaman 65 dari 110
SALINAN
2
14/03
12
28/03
22
12/04
3
15/03
13
01/04
23
15/04
4
18/03
14
02/04
24
16/04
5
19/03
15
03/04
25
17/04
6
20/03
16
04/04
26
18/04
7
21/03
17
05/04
27
19/04
8
22/03
18
08/04
28
22/04
9
25/03
19
09/04
29
23/04
10
26/03
20
10/04
30
24/04
(21) Bahwa berdasarkan tanggal efektif yuridis yaitu sejak tanggal 11
Maret 2013, maka Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo memiliki
kewajiban untuk memberitahukan kepada KPPU paling lambat
dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal berlaku
efektif yuridis, yaitu pada tanggal 24 April 2013; --------------------(22) Bahwa berdasarkan Formulir Pemberitahuan A1 dan Tanda
Terima Pemberitahuan, Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo
menyampaikan Pemberitahuan pada tanggal 24 Juni 2013 (vide
I11); -------------------------------------------------------------------------(23) Bahwa dengan demikian Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo
terlambat menyampaikan Pemberitahuan Pengambilalihan Saham
PT HD Finance, Tbk kepada KPPU selama 41 (empat puluh satu)
hari kerja; -------------------------------------------------------------------(24) Bahwa
jika
digambarkan
kronologis
keterlambatan
pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk oleh
Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo kepada KPPU adalah sebagai
berikut: ----------------------------------------------------------------------TMT menyampaikan
Pemberitahuan
kepada KPPU terkait
pengambilalihan
saham PT HD
Finance Tbk
Batas akhir kewajiban TMT
untuk menyampaikan
pemberitahuan terkait
pengambilalihan saham PT
HD Finance Tbk kepada
KPPU
TMT Menyampaikan
pemberitahuan kepada
OJK terkait Pengumuman
Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham
PT HD Finance Tbk
11 MARET 2013
24 APRIL 2013
24 JUNI 2013
Lama Keterlambatan
41 Hari
halaman 66 dari 110
SALINAN
24.17 Berdasarkan fakta-fakta selama pemeriksaan, alat-alat bukti, dan analisa
terhadap fakta-fakta sebagaimana diuraikan tersebut di atas maka Tim
Investigator menyimpulkan dan menyatakan: ------------------------------------------1. Bahwa Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo telah terbukti secara sah dan
meyakinkan melanggar Pasal 29 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat jo.
Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 dalam Keterlambatan
Pemberitahuan Pengambilalihan Saham PT HD Finance Tbk. oleh
Terlapor/PT Tiara Marga Trakindo; ------------------------------------------------2. Meminta kepada Yang Mulia Majelis Komisi Perkara KPPU Nomor
07/KPPU-M/2013 untuk memberikan sanksi kepada Terlapor/PT Tiara
Marga Trakindo
sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat jo. Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; atau --Apabila Majelis Komisi Yang Terhormat berpendapat lain, maka kami
mohon putusan seadil-adilnya (ex aequo et bono). -------------------------------25.
Menimbang bahwa Terlapor menyerahkan Kesimpulan Hasil Persidangan yang pada
pokoknya memuat hal-hal sebagai berikut (vide bukti T21): ---------------------------------25.1
Hasil Pemeriksaan Perkara No. 07/KPPU-M/2014, I. Mengenai Konsultasi dan
Pemberitahuan Pengambilalihan; ---------------------------------------------------------25.1.1
Bahwa ketentuan pelaksanaan Pemberitahuan dalam waktu 30 (tiga
puluh) hari tidak dapat dilihat secara terpisah oleh KPPU hanya dengan
mengacu
pada
Pemberitahuan
(“Pemberitahuan”),
manakala
Konsultasi dan pemberitahuan berdasarkan konsultasi telah dilakukan
oleh Terlapor pada kurun waktu bulan Januari sampai dengan Februari
2013, karena penilaian atas isi Pemberitahuan tanggal 24 Juni 2013
pada prinsipnya telah dilakukan oleh KPPU pada saat Terlapor
melakukan Konsultasi. Hal tersebut karena isi informasi yang
disampaikan pada tanggal 11 Januari 2013 dalam Konsultasi adalah
sama dengan isi informasi yang disampaikan pada tanggal 24 Juni 2014
dalam Pemberitahuan. Terlebih lagi atas Pemberitahuan (vide Bukti T2.2, Bukti T-8 dan Bukti T-9), KPPU menyatakan tidak melakukan
penilaian ulang karena telah melakukan pemeriksaan berdasarkan
informasi yang bersumber dari Konsultasi. Hal tersebut ditegaskan
halaman 67 dari 110
SALINAN
dalam Surat Tanggapan KPPU atas Pemberitahuan Pengambilalihan
(vide Bukti T-10); ----------------------------------------------------------------25.1.2
Ketentuan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang
Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan
Saham Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ("PP No. 57/2010") tidak
dapat diterapkan dalam Perkara a quo karena Terlapor telah
menyampaikan informasi
transaksi pengambilalihan
yang akan
dilakukan melalui Konsultasi dan KPPU telah menyampaikan penilaian
bahwa tidak terdapat dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat terhadap transaksi yang akan dilakukan oleh Terlapor
berdasarkan Konsultasi tersebut (vide Bukti T-3); --------------------------Lebih lanjut, Terlapor juga telah menyampaikan Pemberitahuan dan
atas Pemberitahuan tersebut KPPU menegaskan kembali pendapatnya
melalui Surat Tanggapan KPPU atas Pemberitahuan yang menyatakan
bahwa KPPU tidak melakukan penilaian ulang, karena tidak ada
perubahan secara signifikan atas isi Pemberitahuan dengan isi informasi
Konsultasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa Konsultasi secara bobot
isinya sama dengan Pemberitahuan (vide Bukti T-10);---25.1.3
Bahwa pengenaan sanksi denda administratif menurut ketentuan Pasal
29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ("UU No 5/1999")
dilakukan kepada pelaku usaha yang memenuhi syarat wajib melakukan
Pemberitahuan namun tidak melakukan Pemberitahuan, dan hal tersebut
diketahui oleh KPPU dari pelaksanaan kegiatan monitoring; --------------
25.1.4
Bahwa
pada
faktanya
Terlapor
melakukan
Pemberitahuan
Pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk., Pemberitahuan mana
juga masih dalam kurun waktu penyelesaian keseluruhan transaksi
Pengambilalihan yang diatur menurut Peraturan Bapepam dan LK No.
IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahan Terbuka ("Peraturan
Bapepam dan LK No. IX.H.1"); -----------------------------------------------Selain itu, Terlapor juga telah melakukan Konsultasi dan mendapat
arahan
dari
KPPU
untuk
melakukan
Pemberitahuan
setelah
penyelesaian seluruh transaksi. Terlapor tidak pernah sama sekali
berniat
untuk
menyembunyikan
halaman 68 dari 110
transaksi
dan/atau
melakukan
SALINAN
pelanggaran atas ketentuan Pemberitahuan Pengambilalihan Saham
sebagaimana diatur dalam UU No. 5/1999 serta PP No. 57/2010; -----Tidak adanya itikad dari Terlapor untuk menyembunyikan transaksi
dan/atau melanggar ketentuan peraturan tercermin dari adanya itikad
baik Terlapor untuk melakukan Konsultasi yang pada dasarnya tidak
diwajibkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Adapun justru
Terlapor
menghendaki
Pemberitahuan,
KPPU
dengan
telah
adanya
mengetahui
Konsultasi
sebelum
rencana
transaksi
Pengambilalihan yang akan dilakukan oleh Terlapor dimana Terlapor
akan melakukan proses transaksi Pengambilalihan tersebut sesuai
dengan arahan dan masukan dari pihak-pihak yang berwenang, dalam
hal ini KPPU, termasuk arahan “Kapan dilakukannya Pemberitahuan”;
25.1.5
Bahwa sangat disayangkan oleh Terlapor, kalaupun KPPU menganggap
ada keterlambatan, mengapa KPPU sebagai lembaga monitoring
kegiatan yang berlangsung di lingkup persaingan usaha, tidak pernah
menyampaikan peringatan kepada Terlapor mengenai adanya dugaan
keterlambatan Pemberitahuan sejak dimulainya pelaksanaan transaksi
Pengambilalihan sampai dengan diterbitkannya Surat Tanggapan KPPU
atas Pemberitahuan Pengambilalihan, peringatan mana lazim diberikan
oleh suatu instansi/lembaga dalam hal dianggap terjadinya pelanggaran
terhadap suatu ketentuan sebelum diambilnya tindakan hukum. Hal
tersebut dapat dibuktikan dalam Surat Tanggapan KPPU atas
Pemberitahuan Pengambilalihan yang diterbitkan atas Pemberitahuan
yang dilakukan oleh Terlapor, dimana KPPU tidak menyatakan atau
sama sekali tidak menyinggung adanya keterlambatan penyampaian
Pemberitahuan (vide Bukti T-10); ----------------------------------------------
25.1.6
Perlu dipertimbangkan oleh Majelis Komisioner bahwa Terlapor selaku
Pelaku Usaha yang dilindungi oleh Undang-Undang karena itikad
baiknya berhak memperoleh arahan yang sejelas-jelasnya dari pihak
yang berwenang manakala Terlapor telah secara aktif mematuhi
ketentuan yang ada, sementara bagi pihak yang berwenang sudah
sepatutnya memberikan arahan yang benar dan sejelas-jelasnya atas
inisiatif Terlapor untuk menjalankan ketentuan secara baik dan benar;---
25.2 Hasil Pemeriksaan Perkara No. 07/KPPU-M/2014, II. Mengenai Pendapat Ahli
Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H., M.S., dan Dr. Sihol Siagian Tentang Efektif
Belakunya suatu Transaksi Pengambilalihan; ------------------------------------------halaman 69 dari 110
SALINAN
25.2.1
Ahli berpendapat bahwa Pengambilalihan di Pasar Modal berdasarkan
Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1 didefinisikan sebagai tindakan baik
langsung maupun tidak langsung yang bisa menyebabkan perubahan
pengendali suatu perusahaan. Hal mana sesuai dengan definisi
Pengambilalihan yang dimuat dalam Angka 1 butir d Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1; -------------------------------------------------------
25.2.2
Ahli berpendapat bahwa Pengambilalihan terjadi dalam hal: -------------a.
Bila Pengambilalihan perusahaan sasaran mencapai 51%; atau ----
b.
Kurang dari 51%, tapi menyebabkan pengendalian perusahaan
sasaran, baik langsung maupun tidak langsung. Ada beberapa
contoh
kriteria
dari
pengendalian,
salah
satunya
adalah
perusahaan yang membeli saham mendapatkan fasilitas atau
dijanjikan akan mendapatkan fasilitas, atau dengan suatu
persyaratan yang diberikan untuk dapat melakukan perbuatan
pengendalian, seperti diberikan kesempatan untuk menempatkan
Direksi atau perwakilan Dewan Komisaris;--------------------------Bila tidak demikian maka tidak termasuk kriteria pengendalian;-------25.2.3
Ahli berpendapat bahwa pengendalian baru bisa dilaksanakan jika
pihak tersebut dapat mengoperasikan perusahaan dan dapat menentukan
jalannya kegiatan usaha dari perusahaan yang tentunya dilakukan
melalui manajemen. Untuk dapat menempatkan manajemen, diperlukan
Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”). Apabila saham yang
dimiliki tidak memenuhi kuorum pengambilan putusan sekurangkurangnya di atas 50%, maka pihak tersebut tidak dapat menempatkan
manajemen. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak mungkin apabila pihak
yang memiliki saham kurang dari 50% dapat menempatkan manajemen,
kecuali pihak tersebut memiliki saham yang memberikan hak khusus
dibanding saham lainnya; -------------------------------------------------------Ahli berpendapat bahwa untuk pengambilalihan di bawah 51% maka
pengendalian
itu
memang
harus
dibuktikan,
karena
apabila
pengambilalihan di bawah 51% dan tidak diberikan suatu fasilitas
tertentu maka itu hanya merupakan transaksi saham biasa, belum terjadi
suatu Pengambilalihan
(akuisisi) dalam arti terjadi perubahan
pengendalian;-------------------------------------------------------------------25.2.4
Ahli berpendapat bahwa jika para pihak mempunyai kesepakatan
pengambilalihan sebesar 51%, dimana ketika dilakukan transaksi
halaman 70 dari 110
SALINAN
pembelian awal sebesar 45% dan dilakukan pengumuman namun target
51% belum tercapai, maka pada tahap pembelian 45% dilakukan
pengendalian belum berlaku efektif; ------------------------------------------25.2.5
Ahli berpendapat bahwa transaksi Pengambilalihan berdasarkan
Peraturan Bapepam dan LK No. IX.H.1 terjadi dalam 2 (dua) tahap,
yaitu: -------------------------------------------------------------------------------a.
Pembelian saham dari Pemegang Saham perusahan terbuka; dan
b.
Pelaksanaan Mandatory Tender Offer ("MTO") atau Penawaran
Tender Wajib, yaitu kewajiban membeli saham dari Pemegang
Saham publik yang ingin menjual sahamnya; ------------------------
25.2.6
Ahli berpendapat jika MTO tidak dilakukan dalam suatu transaksi
Pengambilalihan perusahaan terbuka, maka Otoritas Jasa Keuangan
("OJK") dapat membatalkan transaksi Pengambilalihan dimaksud; -------
25.2.7
Ahli berpendapat, dengan demikian Pengambilalihan dikatakan efektif
apabila rangkaian proses Pengambilalihan telah dipenuhi, dengan kata
lain setelah diselesaikannya MTO oleh pihak yang melakukan proses
Pengambilalihan; -----------------------------------------------------------------
25.3 Hasil Pemeriksaan Perkara No. 07/KPPU-M/2014, III. Mengenai Fakta-Fakta
Yang Disampaikan Terlapor Membuktikan Belum Terjadinya Perubahan
Pengendalian dan oleh karenanya Pengambilalihan Belum Berlaku Secara
Efektif Yuridis; ------------------------------------------------------------------------------25.3.1
Bahwa Terlapor telah menyampaikan kepada publik mengenai rencana
Terlapor untuk melakukan Pengambilalihan 51% saham PT HD
Finance, Tbk., bukan pengambilalihan 45 % saham PT HD Finance,
Tbk (vide Bukti T-1); -------------------------------------------------------------
25.3.2
Bahwa Terlapor menyatakan rencana Pengambilalihan atas 51% saham
PT HD Finance, Tbk., akan dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu: ------a.
Tahap I sebesar 45% saham dari total saham yang telah
dikeluarkan dan ditempatkan secara penuh; dan ---------------------
b.
Tahap II minimum sebesar 6% saham melalui MTO. Apabila
melalui MTO Terlapor tidak memperoleh minimum 6% saham,
maka Terlapor akan melakukan pembelian kembali dari
pemegang saham PT HD Finance Tbk (PT HD Corpora dan
Wealth Paradise Holdings Limited); -----------------------------------
25.3.3
Bahwa Terlapor menyatakan dilakukannya proses Pengambilalihan
saham PT HD Finance, Tbk. dalam 2 (dua) tahap adalah untuk
halaman 71 dari 110
SALINAN
memenuhi ketentuan Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1 dan juga
berdasarkan kesepakatan antara Terlapor dengan pemegang saham
pengendali PT HD Finance, Tbk. saat itu.; -----------------------------------25.3.4
Bahwa Terlapor menyatakan atas rencana Pengambilalihan 51% saham
PT HD Finance, Tbk. pada bulan Januari 2013, Terlapor telah
melakukan beberapa kali pertemuan dengan KPPU untuk berkonsultasi.
Adapun hal-hal yang dilakukan dalam Konsultasi, antara lain sebagai
berikut: -----------------------------------------------------------------------------a.
Terlapor
menjelaskan
keseluruhan
rencana
transaksi
Pengambilalihan yang akan dilakukan kepada KPPU; -------------b.
Terlapor menyampaikan formulir Konsultasi dan menyerahkan
seluruh dokumen yang dimintakan oleh KPPU; ----------------------
c.
Terlapor secara aktif melakukan tanya jawab, diskusi, dengar
pendapat serta meminta pengarahan dan saran dari KPPU;---------
Konsultasi secara aktif dilakukan Terlapor kepada KPPU sebagai
itikad baik agar Terlapor mendapatkan pengarahan dan saran dari
KPPU mengenai rencana transaksi Pengambilalihan 51% saham PT
HD Finance, Tbk. sehingga Terlapor dapat melakukan transaksi
dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-undangan, khususnya di
bidang persaingan usaha; -----------------------------------------------------25.3.5
Bahwa Terlapor menyatakan pada saat akan melakukan transaksi
Pengambilalihan 51% saham PT HD Finance, Tbk., Terlapor
mengajukan syarat kepada Wealth Paradise Holdings Limited dan PT
HD Corpora selaku Pemegang Saham terdahulu agar sebelum
dilakukannya transaksi telah didapat persetujuan KPPU dan semua
proses yang harus dilakukan agar sesuai dengan peraturan perundangundangan; -------------------------------------------------------------------------Oleh karenanya, pada Januari 2013 Terlapor berinisiatif melakukan
proses Konsultasi dan pengajuan dokumen ke KPPU untuk memastikan
tindakan-tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk mendapatkan
persetujuan KPPU. Pada masa Konsultasi ini, Terlapor melakukan
presentasi dan dengar pendapat (hearing) kepada KPPU mengenai
transaksi yang akan dilakukan dan menyampaikan data-data yang
relevan dengan transaksi. Setelah dilakukannya hal–hal tersebut,
terbitlah persetujuan dari KPPU tanggal 27 Februari 2013. Setelah
memperoleh persetujuan dari KPPU tersebut, barulah Terlapor
halaman 72 dari 110
SALINAN
melakukan proses pengambilalihan, dimana proses pertamanya adalah
melakukan transaksi jual beli 45% saham di bursa melalui perusahaan
sekuritas; -----------------------------------------------------------------------25.3.6
Bahwa Terlapor menyatakan, pada saat Konsultasi tersebut Terlapor
secara jelas menggambarkan transaksi yang akan dilakukan dalam 2
(dua) tahap yaitu tahap pertama pembelian 45% saham dan tahap kedua
melalui MTO untuk mencapai tambahan saham sekurang-kurangnya
6% sehingga Terlapor setidaknya menguasai 51% saham PT HD
Finance, Tbk. sebagai pemegang saham pengendali; -----------------------Selanjutnya, Terlapor menanyakan beberapa hal termasuk menanyakan
mengenai kapan waktu pemberitahuan harus Terlapor sampaikan
kepada KPPU atas rencana transaksi Pengambilalihan yang akan
dilakukan, dan petugas Biro Merger KPPU, yaitu Bapak Fajar dan
Bapak Hafiz, menyatakan bahwa kewajiban Pemberitahuan dilakukan
setelah pemenuhan perolehan saham sekurang-kurangnya 51% yang
menjadi target pengendalian Terlapor, yang berarti adalah setelah
diselesaikannya MTO; -----------------------------------------------Adapun alasan Terlapor menanyakan kepada KPPU mengenai kapan
Pemberitahuan harus disampaikan Terlapor adalah karena adanya
kekhawatiran atas denda yang dapat dikenakan yaitu sebesar Rp
1.000.000.000,00
(satu
miliar
Rupiah)
sampai
dengan
Rp
25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar Rupiah) dalam hal terjadinya
keterlambatan pemberitahuan; ----------------------------------25.3.7
Bahwa Terlapor menyatakan setelah Konsultasi yang dilakukan secara
aktif dan sukarela oleh Terlapor sampai dengan disampaikannya
Pemberitahuan, tidak terdapat surat atau komunikasi apapun dari KPPU
kepada Terlapor, khususnya peringatan akan adanya keterlambatan
Pemberitahuan yang sepatutnya telah diketahui KPPU dengan melihat
Konsultasi yang telah disampaikan, apabila KPPU berpendapat bahwa
kewajiban Pemberitahuan telah timbul setelah pembelian 45% saham
dilakukan oleh Terlapor. Dengan tidak adanya komunikasi dari KPPU
tersebut, Terlapor menganggap tidak terdapat pelanggaran atas
peraturan-peraturan dalam persaingan usaha atas proses transaksi yang
sedang dilakukan, khususnya keterlambatan Pemberitahuan; -------------Catatan RBP; ------------------------------------------------------------------Kalaupun Terlapor dianggap terlambat melakukan Pemberitahuan,
mengapa setelah dilakukannya Pemberitahuan sampai dengan
halaman 73 dari 110
SALINAN
25.3.8
diterbitkannya Surat Tanggapan atas Pemberitahuan Pengambilalihan,
KPPU
tidak
pernah
menyatakan
adanya
keterlambatan
Pemberitahuan; ---------------------------------------------Selain itu, apabila KPPU menganggap telah terjadi keterlambatan
Pemberitahuan,
mengapa
pemberitahuan
adanya
dugaan
keterlambatan baru disampaikan oleh KPPU pada bulan Desember
2013 dan perhitungan hari keterlambatan Pemberitahuan (41 hari)
baru disampaikan pada 8 April 2014, sementara menurut KPPU
Terlapor seharusnya melakukan pemberitahuan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kerja sejak 11 Maret 2013, yaitu 24 April 2013. Apakah
sedemikian sulit untuk menentukan keterlambatan tersebut (dibutuhkan
waktu + 1 tahun/+ 365 hari) sementara rencana Pengambilalihan
bahkan telah Terlapor sampaikan sejak Konsultasi pada bulan Januari
2013; ---------------------------------------------------Bahwa mengenai Pengendalian, Terlapor menyatakan pada saat
pembelian saham sebesar 45% belum terjadi perubahan pengendalian
ke Terlapor karena kesepakatan transaksinya adalah Pengambilalihan
51% saham; ------------------------------------------------------------------------
25.3.9
Oleh karena itu, setelah dilakukannya pembelian 45% saham pada
tanggal 8 Maret 2013 Terlapor belum melakukan pengendalian apapun
terhadap PT HD Finance Tbk, hal ini dapat dibuktikan antara lain dari
tidak terjadinya perubahan Direksi dan/atau Dewan Komisaris di PT
HD Finance, Tbk; ---------------------------------------------------------------Catatan RBP;-------------------------------------------------------------------Bahwa berdasarkan Berita Acara Penyelidikan Saksi dari PT HD
Finance, Tbk tanggal 11 Desember 2013 (Bukti B-1), KPPU telah
mengetahui fakta hukum bahwa perubahan Direksi Utama PT HD
Finance, Tbk. baru terjadi pada tanggal 12 Agustus 2013, setelah
diselesaikannya transaksi Pengambilalihan 51% saham, yaitu adalah
pada tanggal dimana hal tersebut dapat diartikan bahwa
Pengendalian PT HD Finance, Tbk baru terjadi pada tanggal 12
Agustus 2013. Bahwaberdasarkan berita acara penyelidikan tersebut
diketahui bahwa Ibu evy menjabat sebagai Direktur di HD Finance
mulai tanggal 12 Agustus 2013, kurang lebih baru sekitar 4 bulan;
Kemudian juga KPPU menanyakan kepada salah satu pegawai PT
HD Finance, Tbk. mengenai apakah Terlapor telah menjadi
pengendali sejak pembelian 45% saham PT HD Finance, Tbk. Berikut
kutipan pertanyaan dalam Bukti B-1 dimaksud:---------------------------"Pertanyaan: Apakah PT TMT sudah menjadi pengedali saat
kepemilikan sahamnya sebesar 45%?---------------------------------------Jawaban: Saya lebih mengacu pada peraturan Bapepam&LK no. IX.
H. 1 Bahwa definisi pengendali adalah yang memiliki saham di atas
50% atau memiliki kemampuan untuk menentukan, baik langsung
maupun tidak langsung pengelolaan atau kebijaksanaan perusahaan.
halaman 74 dari 110
SALINAN
Secara kuantitatif saya menjawab belum terjadi perubahan
pengendali karena kepemilikan belum lebih dari 50%." ----------------Berikut kronologis perubahan Direksi dan Dewan Komisaris PT HD
Finance, Tbk. sebelum dan sesudah masuknya Terlapor sebagai
pemegang saham:- ------------------------------------------------------------Akta No. 263
Akta No. 282
Akta No. 69 Tanggal
Tanggal 24 Mei 2013
Tanggal 27 Juni
10 September 2013
2013
Direksi
1. Sastria Djaja Sunur
(Direktur Utama)
2. Tobing Parali
(Direktur)
3. Andoko (Direktur)
4. Henli (Direktur)
1.
Evy Indahwaty
(Direktur
(Direktur
Utama/Tidak
Utama/Tidak
Terafiliasi)
Terafiliasi)
2. Andoko
2.
(Direktur)
Andoko
(Direktur)
5. Yudi Gustiawan
3. Henli (Direktur)
3.
Henli (Direktur)
(Direktur Tidak
4. Yudi Gustiawan
4.
Yudi Gustiawan
Terafiliasi)
Dewan
1. Evy Indahwaty
Tidak diubah
(Direktur Tidak
(Direktur Tidak
Terafiliasi)
Terafiliasi)
1. Saidinur
Komisaris
(Komisaris
Utama)
2. Kurniadi
Cahyono
(Komisaris)
3. Robert
Tampubolon
1. Saidinur
(Komisaris Utama)
2. Kurniadi Cahyono
(Komisaris)
3. Robert
Tampubolon
(Komisaris
Independen)
(Komisaris
Independen)
Susunan
1. Terlapor (+56%)
1. Terlapor (+56%)
1. Terlapor (+56%)
Pemegang
2. PT HD Corpora &
2. PT HD Corpora &
2. PT HD Corpora &
Saham
Wealth Paradise
Wealth
Wealth Paradise
Holdings Limited
Paradise
Holdings Limited
(+25%)
Holdings
(+25%)
3. Publik (+19%)
Limited
(+25%)
3. Publik (+19%)
Keterangan:
halaman 75 dari 110
3. Publik (+19%)
SALINAN
1.
Bahwa Akta No. 263 tanggal 24 Mei 2013 (vide Bukti Tambahan
T-1) hanya memuat mengenai penegasan pengangkatan Sastria
Djaja Sunur sebagai Direktur Utama yang diangkat melalui RUPS
Luar Biasa pada tanggal 19 Desember 2012, karena yang
bersangkutan telah dinyatakan lulus fit and proper test
pada
tanggal 16 Mei 2013 oleh OJK. Pada saat RUPS Luar Biasa
tanggal 19 Desember 2012 tersebut, Terlapor belum menjadi
pemegang saham PT HD Finance, Tbk.-------------------------------2.
Direksi yang disebutkan dalam Akta No. 282 tanggal 27 Juni
2013 (vide Bukti Tambahan T-2) adalah susunan Direksi yang
diangkat berdasarkan RUPS Tahunan tanggal 27 Juni 2013,
dimana pada saat RUPS tersebut dilaksanakan Terlapor telah
memiliki +56% saham PT HD Finance Tbk. Adapun efektivitas
jabatan Evy Indahwaty selaku Direktur Utama/Tidak Terafiliasi
dan Saidinur selaku Komisaris Utama menunggu hasil fit and
proper test dari OJK; -----------------------------------------------------
3.
Susunan Direksi yang disebutkan dalam Akta No. 69 Tanggal 10
September 2013 (vide Bukti Tambahan T-3) merupakan
penegasan susunan Direksi dari Akta No. 282 tanggal 27 Juni
2013 karena Evy Indahwaty selaku Direktur Utama/Tidak
Terafiliasi dan Saidinur selaku Komisaris Utama dinyatakan telah
lulus fit and proper test sehingga telah secara efektif menjabat; ---
Dari keterangan di atas, terbukti bahwa secara faktual Terlapor belum
melakukan pengendalian pada saat Terlapor memiliki 45% saham PT
HD Finance, Tbk dimana tidak terdapat pergantian Direksi dan Dewan
Komisaris PT HD Finance, Tbk. Adapun Direksi dan Dewan Komisaris
saat itu masih merupakan perwakilan dari PT HD Corpora dan Wealth
Paradise Holdings Limited; ----------------------------------------------------25.3.10 Bahwa Terlapor menyatakan, Terlapor adalah perusahaan yang
menjalankan good corporate governance sesuai ketentuan perundangan
yang berlaku. Dalam lingkup peraturan mengenai persaingan usaha hal
ini dapat dilihat dengan telah dilakukannya Konsultasi kepada KPPU
sebelum melaksanakan transaksi, yang mana dalam peraturan
Konsultasi tersebut tidak diwajibkan. Terlapor dengan itikad baik
melakukan
Konsultasi
tersebut
guna
menghindari
terjadinya
pelanggaran ketentuan di kemudian hari. Sementara itu karena transaksi
halaman 76 dari 110
SALINAN
tersebut juga merupakan transaksi di pasar modal, maka rencana
Pengambilalihan dilakukan oleh Terlapor dengan mematuhi peraturan
OJK yang berlaku di pasar modal; ---------------------------------------------25.4 Kesimpulan, I. Bahwa Pengenaan Sanksi Diberikan Kepada Pihak Yang Tidak
Melapor; --------------------------------------------------------------------------------------25.4.1
Berdasarkan ketentuan Pasal 3 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan
Usaha Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengenaan Denda
Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan Atau Peleburan Badan
Usaha Dan Pengambilalihan Saham Perusahaan ("Peraturan KPPU
No. 4/2012"), diatur bahwa KPPU dapat melakukan Monitoring
terhadap pelaku usaha yang melakukan Pengambilalihan dan telah
memenuhi syarat, namun dalam jangka waktu 30 hari tidak
menyampaikan Pemberitahuan (Vide Pasal 5 dan Pasal 6 PP No
57/2010 jo. Pasal 3 Peraturan KPPU No. 4/2013 jo. Bab IV huruf f butir
1 Lampiran Peraturan KPPU Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pedoman
Pelaksanaan Tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan
Pengambilalihan Saham Perusahaan ("Peraturan KPPU No. 2/2013")
halaman 18); -----------------------------------------------------------------------
25.4.2
KPPU melakukan kegiatan Monitoring dalam rangka mendapatkan
informasi mengenai adanya perbuatan hukum Penggabungan atau
Peleburan Badan Usaha atau Pengambilalihan Saham Perusahaan yang
diduga telah memenuhi syarat tetapi tidak diberitahukan kepada KPPU
(vide Bab IV huruf f butir 1 Lampiran Peraturan KPPU No. 2/2013
halaman 18); -----------------------------------------------------------------------
25.4.3
Karenanya dapat diartikan bahwa dari hasil Monitoring ditemukan
adanya pelaku usaha yang tidak melaporkan transaksi, maka dalam
rangka menjalankan fungsi pengawasan KPPU seharusnya segera
memerintahkan pelaku usaha untuk sesegera mungkin melakukan
Pemberitahuan; -------------------------------------------------------------------
25.4.4
Pada faktanya Terlapor menyampaikan 2 (dua) pelaporan, yakni
Konsultasi
dan
Pemberitahuan.
Kedua
laporan
tersebut
telah
mendapatkan tanggapan dari KPPU sendiri, yang intinya menyatakan
tidak ada dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat
dan dalam tanggapan KPPU atas Pemberitahuan sama sekali tidak
menyebutkan adanya dugaan keterlambatan; ---------------------------------
halaman 77 dari 110
SALINAN
Selain itu, sejak Terlapor melakukan pembelian 45% saham PT HD
Finance Tbk sampai dengan KPPU menerbitkan Surat Tanggapan atas
Pemberitahuan
Pengambilalihan,
memerintahkan/memperingatkan
Pemberitahuan
ataupun
KPPU
Terlapor
menyatakan
juga
untuk
adanya
tidak
pernah
melakukan
keterlambatan
Pemberitahuan oleh Terlapor; -------------------------------------------------Hal ini juga diperkuat dengan isi tanggapan dari KPPU atas
Pemberitahuan Terlapor yang sama sekali tidak menyatakan adanya
keterlambatan Pemberitahuan; ------------------------------------------------25.4.5
Berdasarkan fakta perkara di KPPU dalam kurun waktu tahun 2012
sampai dengan tahun 2014 mengenai pelanggaran Pasal 29 UU No.
5/1999 jo. Pasal 5 PP 57/2010 (dugaan keterlambatan Pemberitahuan),
diketahui bahwa Majelis KPPU hanya menghukum pelaku usaha yang
sama sekali tidak menyampaikan laporan Pemberitahuan. Sedangkan
terkait Perkara a quo, Terlapor telah menyampaikan laporan
Pemberitahuan sebagaimana dijelaskan pada Butir A.I angka 1
Kesimpulan ini; -------------------------------------------------------------------
25.5 Kesimpulan, II. Pengambilalihan Secara Efektif Yuridis Terjadi Setelah
Diselesaikannya MTO; ---------------------------------------------------------------------25.5.1
Berdasarkan ketentuan Angka 3 huruf (a) butir 2) Peraturan Bapepam
dan LK No. IX.H.1 diatur bahwa dalam setiap proses Pengambilalihan
diwajibkan untuk melakukan Penawaran Tender Wajib/MTO;----------
25.5.2
Bahwa dari sejak awal Terlapor telah mengumumkan rencana
Pengambilalihan 51% saham PT HD Finance, Tbk (vide Bukti T-1); --Bahwa dalam pengumuman tersebut disampaikan Pengambilalihan
akan dilakukan oleh Terlapor dalam 2 (dua) tahap, yaitu Tahap I yang
berupa pembelian sebesar 45% saham dan Tahap II berupa pembelian
sebesar maksimum 6% saham, dari pemegang saham pengendali PT
HD Finance Tbk, yaitu PT HD Corpora dan Wealth Paradise Holdings
Limited. Pembelian Tahap II tersebut hanya akan dilakukan apabila
dalam MTO tidak diperoleh minimum 6% saham; -----------------------Pelaksanaan transaksi Pengambilalihan dilakukan dalam 2 (dua) tahap
yang selesai setelah melalui MTO. Adapun MTO tersebut wajib
dilaksanakan Terlapor dengan berdasarkan: -------------------------------a.
ketentuan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.H.1; dan -------------
halaman 78 dari 110
SALINAN
b.
kesepakatan antara Terlapor dengan pemegang saham pengendali
PT HD Finance, Tbk. saat itu yang merupakan undang-undang
bagi para pihak yang bertransaksi (pacta sunt servanda);-----------
25.5.3
Oleh karenanya, setelah Terlapor melakukan penyelesaian MTO,
barulah
Terlapor
dianggap
telah
secara
efektif
melakukan
pengambilalihan terhadap PT HD Finance Tbk.---------------------------25.6 Kesimpulan, III. Pembelian 45% Saham PT HD Finance Tbk Belum
Mengakibatkan Berlakunya Pengambilalihan Secara Efektif Yuridis;--------------25.6.1
Berdasarkan ketentuan Angka 1 huruf (d) Peraturan Bapepam dan LK
No. IX.H.1. diatur bahwa Pengambilalihan adalah tindakan, baik
langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan perubahan
Pengendali;----------------------------------------------------------------------
25.6.2
Selanjutnya, berdasarkan ketentuan Angka 1 huruf (c) Peraturan
Bapepam dan LK No. IX.H.1 diatur bahwa Pengendali Perusahaan
Terbuka, yang selanjutnya disebut Pengendali, adalah Pihak yang
memiliki saham lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh
saham yang disetor penuh, atau Pihak yang mempunyai kemampuan
untuk menentukan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan cara
apapun pengelolaan dan/atau kebijaksanaan Perusahaan Terbuka.
25.6.3
Berdasarkan keterangan Ahli Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H., M.S. dan
Dr. Sihol Siagian, S.H., M.M., M.H. pada pemeriksaan Perkara pada
tanggal 12 Mei 2014 diketahui bahwa jika ada salah satu Pemegang
Saham dari sebuah perusahaan terbuka dengan kepemilikan dibawah
50% yang mengaku sebagai Pengendali, maka harus dibuktikan secara
faktual
melalui
tindakan
nyata
kemampuannya
mengendalikan
perusahaan terbuka tersebut;----------------------------------------------------Selanjutnya, Ahli memberikan contoh tindakan nyata mengendalikan
perusahaan terbuka adalah dimana Pemegang Saham Pengendali
menempatkan pengurus, baik Direksi maupun Dewan Komisaris, yang
melakukan day to day operation;--------------------------------------------25.6.4
Berdasarkan pemeriksaan Terlapor pada tanggal 12 Mei 2014, terbukti
demi hukum Terlapor menyatakan bahwa sejak pembelian 45% saham
hingga proses pembelian sekurang-kurangnya 6% Saham PT HD
Finance, Tbk atau penyelesaian kewajiban MTO oleh Terlapor,
Terlapor tidak pernah melakukan perubahan Direksi maupun Dewan
Komisaris untuk melakukan day to day operation. -------------------------halaman 79 dari 110
SALINAN
Selain itu, bahwa Terlapor juga menjelaskan selama periode pembelian
45% saham hingga penyelesaian MTO, tidak ada RUPS, baik RUPS
Tahunan maupun RUPS Luar Biasa pada PT HD Finance, Tbk., serta
tidak ada tindakan-tindakan lain yang merupakan ciri pengendalian
yang dilakukan oleh Terlapor. ------------------------------------------------25.6.5
Bahwa Tim Investigator selalu mengabaikan informasi mengenai tidak
adanya tindakan Pengendalian yang dilakukan Terlapor setelah
pembelian 45% saham PT HD Finance, Tbk. Namun demikian, Tim
Investigator tidak pernah dapat membuktikan adanya pengendalian
secara faktual oleh Terlapor pada PT HD Finance, Tbk. ----------------Padahal dalam Berita Acara Penyelidikan tanggal 11 Desember 2013,
Terlapor juga telah menyatakan tidak adanya tindakan Pengendalian
yang dilakukan Terlapor setelah pembelian 45% saham PT HD Finance,
Tbk.-------------------------------------------------------------------Lebih lanjut, berdasarkan Berita Acara Penyelidikan Saksi dari PT HD
Finance, Tbk. tanggal 11 Desember 2013 (Bukti B-1) diketahui tidak
ada tindakan Pengendalian oleh Terlapor setelah pembelian 45% saham
PT HD Finance, Tbk. -------------------------------------------------Berdasarkan Bukti B-1, diketahui bahwa perubahan Direksi baru terjadi
pada tanggal 12 Agustus 2013, setelah selesainya proses MTO, dimana
hal tersebut dapat diartikan bahwa setelah pembelian 45% saham oleh
Terlapor, belum terjadi perubahan Pengendalian pada PT HD Finance,
Tbk. -------------------------------------------------------------Berikut kutipan pertanyaan dalam Bukti B-1: -----------------------------"Pertanyaan: Sejak Kapan Ibu Evy menjabat sebagai Direktur Utama
di PT HD Finance?-----------------------------------------------------------Jawaban: Saya menjabat sebagai direktur di HD Finance dari
tanggal 12 Agustus 2013 kurang lebih baru menjabat 4 bulan."
Kemudian juga KPPU menanyakan kepada salah satu pegawai PT HD
Finance, Tbk. mengenai apakah Terlapor telah menjadi pengendali
sejak pembelian 45% saham PT HD Finance, Tbk. Berikut kutipan
pertanyaan dalam Bukti B-1 dimaksud: ------------------------------------"Pertanyaan: Apakah PT TMT sudah menjadi pengedali saat
kepemilikan sahamnya sebesar 45%?--------------------------------------Jawaban: Saya lebih mengacu pada peraturan Bapepam&LK no. IX.
H. 1 Bahwa definisi pengendali adalah yang memiliki saham di atas
halaman 80 dari 110
SALINAN
50% atau memiliki kemampuan untuk menentukan, baik langsung
maupun tidak langsung pengelolaan atau kebijaksanaan perusahaan.
Secara kuantitatif saya menjawab belum terjadi perubahan
pengendali karena kepemilikan belum lebih dari 50%." --------------25.6.6
Bahwa Tim Investigator dalam Laporan Keterlambatan Pemberitahuan
tidak pernah memasukan fakta pernyataan dalam Berita Acara
Penyelidikan dari Terlapor dan Saksi-Saksi mengenai tidak adanya
tindakan Pengendalian oleh Terlapor pada setelah pembelian 45%
saham PT HD Finance, Tbk.; ----------------------------------------------------
25.6.7
Bahwa patut diduga terjadi kekeliruan pemahaman dalam proses
investigasi perkara atas pengertian transaksi pengambilalihan di Pasar
Modal, khususnya Pengambilalihan 51% saham PT HD Finance, Tbk.
Hal tersebut dapat disimpulkan dari Berita Acara Penyelidikan
Terhadap Pemerintah tanggal 1 November 2013 (Bukti B-2), dimana
Tim Investigator mengundang dan mengajukan pertanyaan kepada Staff
Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum
dan Hak Asasi Manusia mengenai efektif yuridis pengambilalihan
saham yang berlangsung di Bursa Efek Indonesia, yang tentunya hal
tersebut jelas-jelas tidak relevan dan bukan kewenangan Direktur
Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia (“Dirjen AHU”). Hal tersebut dikarenakan transaksi
saham melalui Bursa tidak memerlukan persetujuan RUPS yang
menjadi dasar terbitnya persetujuan/penerimaan dari Dirjen AHU.
Dengan demikian, tidak terdapat pelaporan ke Dirjen AHU atas
pelaksanaan pengambilalihan di Pasar Modal;-------------------------------Berikut kutipan pertanyaan dalam Bukti B-2 terkait dengan uraian di
atas:------------------------------------------------------------------------------"Pertanyaan: Efektif secara yuridisnya pengesahan, persetujuan, dan
pemberitahuan menurut AHU sejak kapan? -------------------------------Jawaban: Efektif yuridis itu saat tanggal dicetaknya SK dari AHU.-Pertanyaan: Semua prosedur tadi berlaku untuk semua perusahaan?
Jawaban: Iya-------------------------------------------------------------------Pertanyaan: Terkait pengambilalihan saham yang berlangsung di
bursa?----------------------------------------------------------------------------
halaman 81 dari 110
SALINAN
Jawaban: Kalau untuk pengambilalihan saham di bursa ada di luar
UU PT. Sehingga tidak terkena peraturan tadi karena ada peraturan
yang lain." --------------------------------------------------------Mengenai
tidak
diperlukannya
persetujuan
RUPS
dalam
pengambilalihan saham perusahaan terbuka telah secara tegas diatur
dalam ketentuan Angka 3 huruf b Peraturan Bapepam dan LK No.
IX.H.1., yang berbunyi sebagai berikut: -----------------------------------“Perusahaan Terbuka yang diambil alih tidak wajib memperoleh
persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS), kecuali apabila persetujuan tersebut dipersyaratkan
oleh peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur bidang
usaha Perusahaan Terbuka yang diambil alih.”--------------------------25.7 Kesimpulan, IV. Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Harus
Diperhitungan Sejak Selesainya MTO; --------------------------------------------------25.7.1
Bahwa ketentuan KPPU tidak mengatur secara jelas mengenai
berlakunya pengambilalihan secara efektif yuridis. Hal tersebut dapat
dilihat dari seluruh pasal yang mengatur mengenai kewajiban
Pemberitahuan pengambilalihan, sebagai berikut: --------------------------Pasal 29 ayat (1) UU No. 5/1999: -------------------------------------------“Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan
saham sebagaimana dimaksud Pasal 28 yang berakibat nilai aset dan
atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib diberitahukan
kepada Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal
penggabungannya,
peleburan
atau
pengambilalihan
tersebut.” -----------------------------------------------------------------------Catatan RBP: -----------------------------------------------------------------Tidak terdapat penjelasan atas ketentuan di atas dalam bagian
Penjelasan UU No. 5/1999.--------------------------------------------------Pasal 5 ayat (1) PP No. 57/2010: --------------------------------------------“Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau
Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset
dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib
diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau
Pengambilalihan saham perusahaan.”-------------------------------------Catatan RBP: -----------------------------------------------------------------Tidak terdapat penjelasan atas ketentuan di atas dalam bagian
Penjelasan PP No. 57/2010.--------------------------------------------------Peraturan KPPU No. 4/2012: ------------------------------------------------halaman 82 dari 110
SALINAN
Pasal 2 ayat (1): -------------------------------------------------------Badan Usaha yang melakukan Penggabungan atau Peleburan Badan
Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan wajib menyampaikan
Pemberitahuan kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja
sejak tanggal Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan
Pengambilalihan Saham Perusahaan telah berlaku efektif secara
yuridis.---------------------------------------------------------------------------Pasal 2 ayat (2):--------------------------------------------------------Tanggal berlaku efektif secara yuridis sebagaimana dimaksud Pasal
2 ayat (1) adalah:--------------------------------------------------------------a.
... -------------------------------------------------------------------------b.
... -------------------------------------------------------------------------c.
Khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa
efek, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka. ---------------------Catatan RBP: -----------------------------------------------------------------Tidak terdapat definisi maupun penjelasan lebih lanjut mengenai
Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan
Terbuka dalam bagian Peraturan Komisi No. 4/2012. ------------------Lebih lanjut dalam Bab IV huruf B angka 2 butir 2.3. (halaman 13)
Lampiran Peraturan KPPU No. 2/2013 tentang Pedoman Pelaksanaan
tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha atau
Pengambilalihan Saham Perusahaan, diatur sebagai berikut:
“Kemudian khusus untuk pengambilalihan saham yang terjadi di
bursa efek, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal surat keterbukaan informasi
pengambilalihan saham perseroan terbuka.”-----------------------------Dalam Peraturan KPPU No. 2/2013 tersebut tidak dijelaskan lebih
-
lanjut mengenai surat keterbukaan informasi pengambilalihan saham
perseroan terbuka, termasuk dasar hukum yang mengaturnya; ---------25.7.2
Bahwa, mengenai pengambilalihan perusahaan terbuka merupakan
lingkup wewenang dari OJK. Oleh karenanya, dalam merumuskan
berlakunya
pengambilalihan
suatu
perusahaan
terbuka,
wajib
memperhatikan ketentuan yang berlaku di Pasar Modal, yaitu Peraturan
Bapepam dan LK No. IX.H.1; --------------------------------------------------Sedangkan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.H.1. tidak mengenal
istilah “berlakunya pengambilalihan secara efektif yuridis” maupun
“Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Perseroan Terbuka”. Oleh karenanya, KPPU tidak berwenang membuat tolak ukur
berlakunya suatu pengambilalihan secara efektif yuridis atas suatu
perusahaan
Terbuka
berdasarkan
halaman 83 dari 110
surat
keterbukaan
informasi
SALINAN
pengambilalihan. Hal mana dikarenakan kewenangan tersebut ada pada
OJK, sebagai otoritas dan pengawas di Pasar Modal; -------------25.7.3
Lebih lanjut, mengenai keterbukaan informasi terkait pengambilalihan
di Pasar Modal dengan memperhatikan Peraturan Bapepam dan LK No.
IX.H.1., terdapat beberapa tahap keterbukaan: ------------------------------a.
Keterbukaan informasi dalam bentuk pengumuman dan surat ke
OJK pada tahap negosiasi pengambilalihan; --------------------------
b.
Keterbukaan informasi dalam bentuk pengumuman dan surat ke
OJK pada tahap transaksi pembelian saham dari pemegang saham
perusahaan terbuka; ------------------------------------------------------
c.
Keterbukaan informasi dalam bentuk surat ke OJK pada tahap
rencana Penawaran Tender Wajib; -------------------------------------
d.
Keterbukaan informasi dalam bentuk pengumuman pada tahap
Penawaran Tender Wajib; -----------------------------------------------
e.
Keterbukaan informasi dalam bentuk surat ke OJK pada tahap
penyelesaian Penawaran Tender Wajib; -------------------------------
25.7.4
Dengan
adanya
berbagai
tahapan
keterbukaan
dalam
proses
Pengambilalihan saham perusahaan terbuka sebagaimana disebutkan di
atas dan tidak adanya penjelasan lebih lanjut dalam Peraturan KPPU
mengenai surat keterbukaan informasi pengambilalihan, maka Tim
Investigator tidak memiliki dasar hukum yang tepat untuk menentukan
salah satu keterbukaan informasi sebagai surat keterbukaan informasi
pengambilalihan; -----------------------------------------------------------------25.7.5
Bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, maka Tim
Investigator tidak memiliki dasar hukum untuk mempersamakan Surat
Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka
dengan surat Terlapor kepada OJK atas pembelian 45% saham (vide
butir 7 halaman 13 Laporan Keterlambatan Pemberitahuan); --------------
25.7.6
Bahwa, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dalam butir B.III
Kesimpulan, pada saat pembelian 45% saham PT HD Finance, Tbk
belum terjadi pengambilalihan yang berlaku secara efektif yuridis
karena: -----------------------------------------------------------------------------a.
Target Pengambilalihan adalah sekurang-kurangnya 51%, bukan
45% saham PT HD Finance, Tbk.; ---------------------------------------
b.
Pengambilalihan masih dalam proses karena MTO belum
diselesaikan; ----------------------------------------------------------------halaman 84 dari 110
SALINAN
c.
25.7.7
Secara faktual Terlapor belum melakukan tindakan pengendalian; -
Bahwa berdasarkan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.H.1., MTO
merupakan bagian dari proses Pengambilalihan yang sifatnya wajib
dilaksanakan. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam ketentuan
Angka 3 huruf a Peraturan Bapepam dan LK No. IX.H.1. sebagai
berikut: ----------------------------------------------------------------------------“Pihak yang melakukan Pengambilalihan wajib memenuhi ketentuan
sebagai berikut:----------------------------------------------------------------1)
... --------------------------------------------------------------------------
2)
melakukan Penawaran Tender Wajib, kecuali terhadap: ---------
...”--------------------------------------------------------------------------------25.7.8
Bahwa apabila Penawaran Tender Wajib tidak dilaksanakan dalam
proses Pengambilalihan, maka berdasarkan ketentuan Angka 7 huruf d
butir 1 Peraturan Bapepam dan LK No. IX.H.1. diatur sebagai berikut:
“Pelanggaran atas ketentuan angka 3 huruf a butir 2), dapat
dikenakan: ----------------------------------------------------------------------a) pembatalan transaksi dan mewajibkan Pengendali baru untuk: -(1) membayar denda; dan ---------------------------------------------(2) mengembalikan saham kepada Pihak yang menjadi lawan
transaksi dan mengganti kerugian yang timbul; atau ---------b) denda dan kewajiban melakukan Penawaran Tender Wajib.”-----Berdasarkan ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa jika dalam
proses Pengambilalihan saham perusahaan terbuka tidak dilakukan
Penawaran Tender Wajib, maka OJK dapat membatalkan transaksi
pengambilalihan tersebut; -----------------------------------------------------
25.7.9
Mengacu pada uraian di atas, maka proses pengambilalihan baru dapat
dinyatakan selesai manakala Penawaran Tender Wajib diselesaikan. Hal
tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Ahli dalam butir A.II
Kesimpulan; ------------------------------------------------------------------------
25.7.10 Bahwa, Penawaran Tender Wajib selesai dilakukan Terlapor pada
tanggal 22 Mei 2013 dan dilaporkan kepada OJK pada tanggal 27 Mei
2013. Sementara itu Pemberitahuan disampaikan kepada KPPU pada
tanggal 24 Juni 2013; -----------------------------------------------------------Kalaupun Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham
Perseroan Terbuka dianggap oleh KPPU sebagai tolak ukur berlakunya
pengambilalihan secara efektif yuridis, maka perhitungan batas waktu
halaman 85 dari 110
SALINAN
Pemberitahuan adalah 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal laporan
penyelesaian Penawaran Tender Wajib ke OJK; ------Oleh
karena
itu,
terbukti
demi
hukum
bahwa
pelaksanaan
Pemberitahuan oleh Terlapor masih dalam jangka waktu yang
ditetapkan karena dilakukan pada Hari Kerja ke-22 (dua puluh dua)
setelah keterbukaan informasi ke OJK dan kepada publik melalui bursa;
25.8 Kesimpulan, V. KPPU Mengakui Konsultasi (Voluntary Report) Sebagai Bagian
Dari Pemberitahuan (Mandatory Report);-----------------------------------------------25.8.1
Bahwa berdasarkan ketentuan Bab IV butir C pada halaman 14-15
Lampiran Peraturan KPPU No. 2/2013, diatur sebagai berikut:-----------“Penilaian
yang
diberikan
Komisi
terhadap
Konsultasi
Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan tidak menghapuskan
kewenangan
Komisi
untuk
melakukan
penialain
setelah
Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan. Namun, untuk
menghindari
redudansi
penilaian
terhadap
Penggabungan,
Peleburan, dan Pengambilalihan yang sama melalui Konsultasi dan
Pemberitahuan, Komisi berkomitmen untuk hanya melakukan satu kali
penilaian terhadap satu peristiwa Penggabungan, Peleburan, dan
Pengambilalihan, selama tidak ada perubahan material atas data
yang disampaikan oleh pelaku usaha pada saat Konsultasi
Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan atau perubahan
kondisi pasar yang material pada saat pemberitahuan...”--------------25.8.2
Bahwa, pada Januari 2013 Terlapor telah melakukan proses Konsultasi
ke KPPU dengan menyampaikan formulir serta sejumlah dokumen
yang dipersyaratkan oleh KPPU. Oleh karenanya, KPPU telah
mengetahui sejak awal rencana Pengambilalihan 51% PT HD Finance,
Tbk. oleh Terlapor; --------------------------------------------------------------Atas Konsultasi tersebut, KPPU telah memberikan pendapat yang pada
intinya menyatakan bahwa tidak terdapat dugaan praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat sehubungan dengan transaksi Terlapor; ---Selain itu, dalam proses Konsultasi, KPPU juga memberikan arahan
pelaksanaan
Pemberitahuan
keseluruhan
proses
dilakukan
Pengambilalihan
setelah
dan
diselesaikannya
diperolehnya
target
Pengambilalihan oleh Terlapor; ---------------------------------------------25.8.3
Bahwa, setelah diselesaikannya proses Pengambilalihan dan target
Pengambilalihan sekurang-kurangnya 51% dicapai oleh Terlapor, pada
halaman 86 dari 110
SALINAN
tanggal 24 Juni 2013 Terlapor menyampaikan Pemberitahuan kepada
KPPU sesuai arahan dari KPPU, sebagaimana yang diuraikan dalam
butir A.III angka 6 Kesimpulan ini; -------------------------------------------Atas Pemberitahuan dari Terlapor tersebut, KPPU telah memberikan
tanggapan yang pada intinya menyatakan bahwa KPPU tidak
melakukan penilaian ulang dan pendapat KPPU sama seperti pendapat
yang diberikan atas Konsultasi, yaitu tidak ada dugaan praktek
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat; ------------------------------25.8.4
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa KPPU telah menerima
informasi transaksi dan melakukan penilaian sejak Konsultasi dilakukan
oleh Terlapor; ----------------------------------------------------------------------
25.8.5
Bahwa terkait dengan telah dilakukannya Konsultasi oleh Terlapor dan
dengan dikeluarkannya penilaian oleh KPPU, maka seharusnya tidak
terdapat lagi esensi keterlambatan bagi KPPU untuk mengetahui adanya
transaksi Pengambilalihan PT HD Finance, Tbk. yang dilakukan oleh
Terlapor; ----------------------------------------------------------------------------
25.8.6
Hal ini sejalan dengan tanggapan KPPU atas Pemberitahuan oleh
Terlapor yang tidak menyatakan adanya keterlambatan Pemberitahuan
oleh Terlapor, termasuk tidak adanya teguran/pemberitahuan kepada
Terlapor sebelum diterbitkannya tanggapan tersebut; -----------------------
25.9 Kesimpulan, VI. Fungsi KPPU Sebagai Pengawas Atas Pelaksanaan UU No.
5/1999; --------------------------------------------------------------------------------------25.9.1
Bahwa, berdasarkan Pasal 30 ayat (1) UU No. 5/1999, KPPU dibentuk
untuk mengawasi pelaksanaan UU No. 5/1999; ------------------------------
25.9.2
Bahwa berkaitan dengan pengawasan terhadap Pengambilalihan yang
dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat, maka berdasarkan Peraturan KPPU No. 2/2013 diatur
mengenai Konsultasi dan Pemberitahuan; -------------------------------------
25.9.3
Dalam Bab IV butir c angka 2 halaman 16 Lampiran Peraturan KPPU
No. 2/2013 disebutkan bahwa KPPU mendorong pelaku usaha untuk
melakukan Konsultasi guna meminimalkan risiko kerugian yang
mungkin di derita pelaku usaha jika Pengambilalihan yang dilakukan
dapat mengakibatkan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha usaha
tidak sehat, karena di kemudian hari akan dibatalkan oleh KPPU; --------
halaman 87 dari 110
SALINAN
Karenanya, diketahui bahwa fungsi dari Konsultasi tersebut diatur guna
mencegah terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat sebagai akibat dari Pengambilalihan; -------------------------25.9.4
Bahwa terkait dengan pelaksanaan fungsi pengawasan oleh KPPU
terhadap transaksi Pengambilalihan, maka dengan adanya forum
Konsultasi KPPU dapat melakukan pencegahan terhadap transaksi
Pengambilalihan yang diduga dapat mengakibatkan praktek monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat; -----------------------------------------------
25.9.5
Oleh karenanya, KPPU sebagai pihak yang diberi kewenangan oleh UU
5/1999 berfungsi untuk membantu pengusaha agar tidak melakukan
tindakan yang mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat dan/atau pelanggaran lainnya;---------------Melalui forum Konsultasi tersebut, sepatutnya KPPU secara bijaksana
dapat membimbing pengusaha dalam melakukan aktivitas bisnisnya
berkaitan dengan Pengambilalihan dan pelaksanaan kewajiban terkait
dengan Pengambilalihan, yaitu menyampaikan Pemberitahuan; --------
25.9.6
Bahwa, dalam perkara a quo, KPPU melalui Biro Merger telah
menyampaikan arahan kepada Terlapor mengenai waktu pelaksanaan
Pemberitahuan atas transaksi Pengambilalihan yang akan dilakukan
oleh Terlapor, yaitu setelah diperolehnya target Pengambilalihan 51%
saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor;-----------------------------------
25.9.7
Quod Non, KPPU (Tim Investigator) berpendapat pelaksanaan
Pemberitahuan harus dilakukan setelah dilakukannya pembelian 45%
saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor, maka KPPU dalam
pelaksanaan fungsi pengawasannya sepatutnya segera memberitahukan
kepada Terlapor untuk segera melakukan Pemberitahuan setelah
dilakukannya pembelian 45% saham; -----------------------------------------Terkait dengan hal tersebut di atas, seharusnya tidak terdapat kendala
bagi KPPU untuk mengingatkan Terlapor agar menyampaikan
Pemberitahuan. Hal mana dikarenakan Terlapor telah melakukan
Konsultasi dan pengumuman pembelian 45% saham PT HD Finance,
Tbk. Adapun dengan Konsultasi tersebut, KPPU telah memiliki contact
person Terlapor sehingga memudahkan dalam menyampaikan anjuran
untuk segera melakukan Pemberitahuan; -------------------------------------
25.9.8
Quod Non, KPPU (Tim Investigator) masih beranggapan bahwa
terdapat keterlambatan Pemberitahuan oleh Terlapor, maka Terlapor
halaman 88 dari 110
SALINAN
sangat dirugikan atas arahan yang diberikan oleh KPPU (Biro Merger)
selama proses Konsultasi; -------------------------------------------------------Bahwa Terlapor dengan itikad baik karena tidak ingin melanggar
ketentuan di kemudian hari, maka Terlapor melakukan Konsultasi
tersebut. Quod Non Terlapor masih dianggap melanggar setelah
melakukan Konsultasi dengan KPPU, maka tidak terdapat kepastian
hukum dan keadilan bagi Terlapor; -----------------------------------------25.9.9
Berdasarkan uraian fakta yang disampaikan dalam A.III butir 6 di atas,
bahwa dapat disimpulkan terdapat perbedaan pandangan antara Tim
Investigator dengan Biro Merger, sementara keduanya merupakan
bagian dari KPPU. Dalam hal terjadinya perbedaan pandangan antara
Tim Investigator dengan Biro Merger dalam KPPU, apakah kesalahan
tersebut dapat dibebankan kepada Terlapor yang telah beritikad baik?,
jika keadaan ini terjadi, bukankah sesungguhnya pihak Terlapor akan
menjadi pihak yang sangat dirugikan; ------------------------------------------
25.10 Kesimpulan, VII. Tidak Terpenuhinya Seluruh Unsur Dalam Suatu Dugaan
Keterlambatan Pemberitahuan; -----------------------------------------------------------25.10.1 Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) UU No. 5/1999 unsur-unsur yang harus
terpenuhi terhadap adanya dugaan keterlambatan Pemberitahuan adalah
sebagai berikut: -------------------------------------------------------1. Penggabungan atau peleburan badan usaha atau pengambilaihan
saham; ---------------------------------------------------------------------2. Nilai aset dan atau nilai penjualan melebihi jumlah tertentu; ------3. Wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan, atau
pengambilalihan tersebut, yakni: --------------------------------------a. Tanggal
Pengambilalihan
adalah
tanggal
berlakunya
pengambilalihan secara Efektif Yuridis; ------------------------b. berlakunya efektif yuridis adalah sejak tanggal Surat
Keterbukaan Informasi Pengambilaihan Perseroan Terbuka;-25.10.2 Berdasarkan uraian-uraian penjelasan dan dalil-dalil Terlapor di atas,
maka
terkait
dengan
kewajiban
Pemberitahuan
transaksi
pengambilalihan 51% PT HD Finance, Tbk. yang dilakukan oleh
Terlapor
terdapat
keterlambatan
unsur
yang tidak
Pemberitahuan,
yaitu
terpenuhi
unsur
dalam
sebagaimana
dugaan
yang
disebutkan dalam butir 3 di atas, yakni karena: -----------------------------halaman 89 dari 110
SALINAN
1.
Tanggal efektif yuridis pengambilalihan PT HD Finance, Tbk
adalah setalah diselasaikannya proses pengambilalihan yaitu
pada saat penyelesaian MTO; -----------------------------------------
2.
Oleh karenanya, Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan
Perseroan Terbuka adalah Surat Pemberitahuan ke OJK atas
penyelesaian MTO; -----------------------------------------------------
3.
Surat Pemberitahuan ke OJK atas penyelesaian MTO Terlapor
dilakukan tanggal 27 Mei 2013; --------------------------------------
4.
Batas waktu Pemberitahuan adalah 30 (tiga puluh) hari kerja
dihitung sejak tanggal 27 Mei 2013, yaitu jatuh pada tanggal 8
Juli 2013; -----------------------------------------------------------------
5.
Bahwa Terlapor melakukan Pemberitahuan pada tanggal 24 Juni
2013; ----------------------------------------------------------------------
25.10.3 Quod Non Majelis KPPU berpendapat lain, perlu dipertimbangkan juga
bahwa dalam Perkara a quo tidak terdapat unsur kesengajaan dari
Terlapor untuk melanggar ketentuan Pemberitahuan Pengambilalihan.
Hal tersebut terbukti dari itikad baik Terlapor yang telah melakukan
Konsultasi sebelum Terlapor melaksanakan transaksi Pengambilalihan
dan hasil Konsultasi tersebut menunjukan tidak adanya dugaan praktik
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Dengan demikian tidak
terdapat motif bagi Terlapor untuk secara sengaja menunda ataupun
melanggar ketentuan Pemberitahuan Pengambilalihan; --------------------25.10.4 Berdasarkan uraian dan alasan-alasan sebagaimana telah disebutkan di
atas, maka Terlapor memohon dengan kerendahan hati kepada Majelis
Komisi Yang Terhormat untuk memutus Perkara No. 07/KPPU-M/2014
dengan amarnya berbunyi sebagai berikut: -----------------------------------Dalam Pokok Perkara:--------------------------------------------------------1.
Menolak seluruh dalil keterlambatan Pemberitahuan yang diajukan
oleh
Tim
Investigator
dalam
Laporan
Keterlambatan
Pemberitahuan; -----------------------------------------------------------2.
Menerima seluruh alat bukti yang diajukan oleh Terlapor dalam
pemeriksaan Perkara; -----------------------------------------------------
3.
Menyatakan
tidak
adanya
keterlambatan
Pemberitahuan
Pengambilalihan PT HD Finance Tbk oleh Terlapor; --------------4.
Menyatakan Terlapor tidak melakukan pelanggaran terhadap Pasal
29 UU No. 5/1999 jo. Pasal 5 PP No. 57/2010; atau --------halaman 90 dari 110
SALINAN
Apabila Majelis Komisi Yang Terhormat berpendapat lain, mohon
putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono). -------------------------26. Menimbang, bahwa setelah berakhirnya jangka waktu Pemeriksaan Lanjutan, Komisi
menerbitkan Penetapan Komisi Nomor 28/KPPU/Pen/V/2014 tanggal 20 Mei 2014
tentang Musyawarah Majelis Komisi Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 yang berlaku
sejak tanggal 23 Mei 2014 sampai dengan 4 Juni 2014 (vide bukti A33); --------------------27. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Musyawarah Majelis Komisi, Komisi
menerbitkan Keputusan Komisi Nomor 68/KPPU/Kep/V/2014 tanggal 20 Mei 2014
tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi pada Musyawarah Majelis
Komisi Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A34); -----------------------------------28. Menimbang, bahwa Majelis Komisi telah menyampaikan Pemberitahuan Musyawarah
Majelis Komisi dan Petikan Penetapan Musyawarah Majelis Komisi Perkara Nomor
07/KPPU-M/2014 kepada Terlapor (vide bukti A37, A38); ------------------------------------29. Menimbang, bahwa setelah melaksanakan Musyawarah Majelis Komisi, Majelis Komisi
menilai telah memiliki bukti dan penilaian yang cukup untuk mengambil putusan; ---------
TENTANG HUKUM
Setelah mempertimbangkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, Tanggapan Terlapor
terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, keterangan para Ahli, keterangan Terlapor,
surat-surat dan/atau dokumen, dan Kesimpulan Hasil Persidangan yang disampaikan baik oleh
Investigator maupun Terlapor yang selanjutnya disebut sebagai “fakta persidangan”, Majelis
Komisi menilai, menganalisis, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan alat bukti
yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran terhadap Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1999 yang diduga dilakukan oleh Terlapor pada Perkara Nomor 07/KPPUM/2014. Dalam melakukan penilaian dan analisis, Majelis Komisi menguraikan dalam
beberapa bagian, yaitu: ------------------------------------------------------------------------------------1.
Tentang Objek Perkara dan Dugaan Pelanggaran; -----------------------------------------------
2.
Tentang Identitas Terlapor; --------------------------------------------------------------------------
3.
Tentang Aspek Hukum Formil; ---------------------------------------------------------------------
4.
Tentang Pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; ----------------------
5.
Tentang Nilai Aset dan atau Nilai Penjualan setelah Pengambilalihan Saham; --------------
6.
Tentang Keterlambatan Melakukan Pemberitahuan kepa4da Komisi; ------------------------
7.
Tentang Pemenuhan Unsur Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto Pasal
5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; --------------------------------------------------
8.
Tentang Pengecualian; -------------------------------------------------------------------------------halaman 91 dari 110
SALINAN
9.
Tentang Kesimpulan Majelis Komisi; --------------------------------------------------------------
10. Tentang Pertimbangan Majelis Komisi sebelum Memutus; -----------------------------------11. Tentang Perhitungan Denda;------------------------------------------------------------------------12. Tentang Diktum Putusan dan Penutup. -----------------------------------------------------------Berikut uraian masing-masing bagian sebagaimana tersebut di atas; -------------------------------1.
Tentang Objek Perkara dan Dugaan Pelanggaran; --------------------------------------1.1
Bahwa objek perkara ini adalah keterlambatan pemberitahuan pengambilalihan
saham PT HD Finance Tbk. oleh Terlapor kepada Komisi selama 41 (empat puluh
satu) hari kerja; ----------------------------------------------------------------------------------
1.2
Bahwa Terlapor diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
juncto Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; ----------------------------
2.
Tentang Identitas Terlapor; -----------------------------------------------------------------------Bahwa Majelis Komisi menilai identitas Terlapor adalah sebagai berikut: -------------------Terlapor, PT. Tiara Marga Trakindo, yang berkedudukan di Gedung TMT 1, Lantai
19, Jalan Cilandak KKO Nomor 1 Jakarta 12560, Indonesia, merupakan suatu perseroan
terbatas yang didirikan pada tahun 1970 dengan nama PT Trakindo Utama berdasarkan
Akta Notaris Djojo Muljadi, S.H., Nomor 55 tanggal 23 Desember 1970. Akta Pendirian
tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. J.A.5/115/1 tanggal 31 Juli 1971. Bahwa Akta Pendirian tersebut telah
mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Akta Notaris Ny. Liliana Arif
Gondoutomo, S.H., No. 16 tanggal 16 Agustus 2000, terjadi perubahan nama perusahaan
dari PT Trakindo Utama menjadi PT Tiara Marga Trakindo. Perubahan nama ini telah
disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam
Surat Keputusan Nomor C-125.HT.01.04.TH.2001 tanggal 4 Januari 2001. Akta
perubahan terakhir adalah berdasarkan Akta Notaris Mala Mukti, S.H., LL.M, Nomor 79
tanggal 18 April 2012 mengenai perubahan susunan Direksi Perusahaan. Perubahan ini
telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan
Surat Keputusan Nomor AHU-AH.01.10-18565 tanggal 24 Mei 2012. Berdasarkan Akta
Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Tiara Marga Trakindo Nomor 122
Tanggal 30 Januari 2013, PT Tiara Marga Trakindo adalah perseroan yang bergerak di
bidang perdagangan, pemborongan (kontraktor), pengangkutan, industri, percetakan,
perwakilan dan/atau peragenan, pekerjaan teknik, jasa atau pelayanan, pemukiman dan
pertanian. PT Tiara Marga Trakindo merupakan holding company yang memiliki
beberapa anak perusahaan. Untuk mewakili kepentingan Terlapor pada proses
penanganan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014, Terlapor memberikan kuasa kepada
Radjiman Billitea & Partners yang beralamat di The H Tower, 19th Floor, Suite E, Jalan
halaman 92 dari 110
SALINAN
H.R. Rasuna Said, Kavling C 20-21, Jakarta Selatan, Indonesia, berdasarkan Surat Kuasa
Nomor TMT-LGL/094/LL/DIR/IV/2014 tanggal 8 April 2014; -------------------------------3.
Tentang Aspek Hukum Formil; -------------------------------------------------------------------3.1
Bahwa Terlapor menyatakan tidak terdapat dasar hukum untuk dilakukannya
Pemeriksaan Pendahuluan karena Petikan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan,
Petikan Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, Surat Panggilan dan
Surat Pemberitahuan diterbitkan tanpa dasar hukum; --------------------------------------
3.2
Bahwa menurut Terlapor, berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) juncto Pasal 6
ayat (3) Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2012, Laporan Keterlambatan
Pemberitahuan menjadi dasar bagi Ketua Komisi untuk menetapkan Pemeriksaan
Pendahuluan; -------------------------------------------------------------------------------------
3.3
Bahwa menurut Terlapor, Petikan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, Petikan
Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, Surat Panggilan dan Surat
Pemberitahuan tertanggal 2 April 2014 tidak memiliki dasar hukum karena
diterbitkan sebelum Laporan Pemberitahuan Keterlambatan yang ditanda-tangani
oleh Investigator pada tanggal 8 April 2014; ------------------------------------------------
3.4
Bahwa Majelis Komisi menilai berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 6
ayat (3) Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2012, Ketua Komisi menetapkan
Pemeriksaan Pendahuluan dengan menerbitkan Penetapan Komisi Nomor
16/KPPU/PEN/III/2014 tanggal 28 Maret 2014 tentang Pemeriksaan Pendahuluan
Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014. Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan tersebut
diterbitkan berdasarkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang telah
disampaikan oleh bagian pemberkasan dan disetujui dalam Rapat Komisi pada
tanggal 11 Maret 2014. Laporan Keterlambatan Pemberitahuan tersebut
ditandatangani oleh Plt. Deputi Penegakan Hukum pada tanggal yang sama; ---------
3.5
Bahwa
Plt.
Deputi
Penegakan
Hukum
menugaskan
Investigator
untuk
menindaklanjuti Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang telah disetujui dalam
Rapat Komisi tanggal 11 Maret 2014 berdasarkan Surat Tugas Nomor
205/D.2/ST/III/2014 tanggal 28 Maret 2014. Pada Sidang Majelis Komisi Pertama
Pemeriksaan Pendahuluan tanggal 8 April 2014, Investigator membacakan dan
menyampaikan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan kepada Terlapor. Laporan
Keterlambatan Pemberitahuan yang dibacakan dan disampaikan kepada Terlapor
tersebut
ditanda-tangani
oleh
Investigator
pada
tanggal
dibacakan
dan
disampaikannya Laporan tersebut yaitu pada tanggal 8 April 2014; -------------------3.6
Bahwa berdasarkan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan tanggal 28 Maret 2014
tersebut, Ketua Komisi menetapkan pembentukan Majelis Komisi melalui
halaman 93 dari 110
SALINAN
Keputusan Komisi Nomor 39/KPPU/Kep/III/2014 tanggal 28 Maret 2014 tentang
Penugasan
Anggota
Komisi
sebagai
Majelis
Komisi
pada
Pemeriksaan
Pendahuluan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014;------------------------------------------3.7
Bahwa berdasarkan Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi dalam
Keputusan Komisi Nomor 39/KPPU/Kep/III/2014 tanggal 28 Maret 2014, Majelis
Komisi berwenang menandatangani Surat Keputusan Jangka Waktu Pemeriksaan
Pendahuluan, Surat Panggilan dan Surat Pemberitahuan dalam Perkara Nomor
07/KPPU-M/2014 yang ditandatangani pada tanggal 2 April 2014; ---------------------
3.8
Bahwa dengan demikian, Majelis Komisi menilai pelaksanaan Pemeriksaan
Pendahuluan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 dan penerbitan Petikan Penetapan
Pemeriksaan Pendahuluan, Petikan Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan
Pendahuluan, Surat Panggilan dan Surat Pemberitahuan memiliki dasar hukum
yang jelas; ----------------------------------------------------------------------------------------
4.
Tentang Pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; ----------------4.1
Bahwa pada tanggal 8 Maret 2013, Terlapor mengambilalih 693.000.000 (enam
ratus sembilan puluh tiga juta) saham atau setara dengan 45% (empat puluh lima
perseratus) saham PT HD Finance, Tbk.; ----------------------------------------------------
4.2
Bahwa saham yang diambilalih oleh Terlapor tersebut adalah saham milik Wealth
Paradise Holdings Limited dan PT HD Corpora yang merupakan pemegang saham
pengendali pada PT HD Finance, Tbk.; ------------------------------------------------------
4.3
Bahwa PT HD Finance Tbk. sebagai badan usaha yang diambilalih, beralamat di
Jalan Lingkar Luar Barat Kavling 35-36, Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng,
Jakarta Barat, Indonesia, merupakan suatu perseroan terbatas yang bersifat terbuka
yang bergerak dalam bidang pembiayaan. PT HD Finance, Tbk. telah melakukan
Penawaran Umum Perdana atas saham perseroan sebagaimana telah disetujui oleh
pemegang saham perseroan berdasarkan Akta Notaris Doktor Irawan Soerodjo,
S.H., M.Si. Nomor 31 tanggal 12 Januari 2011, serta mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Indonesia pada bulan Mei 2011; ------------------------------------------------
4.4
Bahwa
komposisi
pemegang
saham
PT
HD
Finance,
Tbk.
sebelum
pengambilalihan saham oleh Terlapor pada tanggal 8 Maret 2013 adalah sebagai
berikut; -------------------------------------------------------------------------------------------No.
Pemegang Saham
Komposisi Kepemilikan (%)
1.
Wealth Paradise Holdings Limited
48,70%
2.
PT HD Corpora
21,43%
3.
Soeharto Djojonegoro
4.
Publik
0,0000065%
29,87%
halaman 94 dari 110
SALINAN
4.5
Bahwa oleh karena PT HD Finance, Tbk. merupakan perusahaan terbuka, maka
Terlapor berkewajiban mematuhi Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1 tentang
Pengambilalihan Perusahaan Terbuka; -------------------------------------------------------
4.6
Bahwa sebagai bentuk pelaksanaan ketentuan Angka 3 huruf a Peraturan BapepamLK No. IX.H.1, Terlapor sebagai pihak yang melakukan pengambilalihan saham
PT HD Finance, Tbk. telah memenuhi kewajiban sebagai berikut: ---------------------4.6.1
Pada tanggal 11 Maret 2013, Terlapor mengumumkan pengambilalihan
saham pengendali PT HD Finance, Tbk. sebesar 45% (empat puluh lima
perseratus) melalui surat kabar Bisnis Indonesia; -------------------------------
4.6.2
Pada tanggal 11 Maret 2013, Terlapor menyampaikan Surat Keterbukaan
Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka kepada Otoritas Jasa
Keuangan melalui Surat Nomor TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal
Pengumuman Pengambilalihan PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; --------
4.6.3
Pada tanggal 14 Maret 2013, Terlapor menyampaikan Pernyataan
Penawaran Tender Wajib ke Otoritas Jasa Keuangan yang wajib
dilaksanakan oleh Terlapor selaku Pengendali baru PT HD Finance, Tbk; --
4.6.4
Pada tanggal 11 April 2013, Otoritas Jasa Keuangan memberikan ijin
kepada Terlapor untuk melaksanakan keterbukaan informasi dalam rangka
Penawaran Tender Wajib; -----------------------------------------------------------
4.6.5
Pada tanggal 12 April 2013, Terlapor menyampaikan keterbukaan
informasi dalam rangka Penawaran Tender Wajib melalui pengumuman
dalam surat kabar Bisnis Indonesia;------------------------------------------------
4.6.6
Pada tanggal 13 April sampai dengan 22 Mei 2013, Terlapor selaku
Pengendali baru melakukan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender
Offer);-----------------------------------------------------------------------------------
4.6.7
Pada periode Penawaran Tender Wajib tersebut, para pemegang saham
publik berhak untuk menjual sahamnya pada PT HD Finance, Tbk. kepada
Terlapor, dan Terlapor wajib melakukan pembelian atas saham tersebut.
Atas pembelian tersebut, Terlapor wajib menyelesaikan pembayaran harga
saham kepada para pemegang saham publik paling lambat tanggal 22 Mei
2013; ------------------------------------------------------------------------------------
4.6.8
Berdasarkan hasil penawaran tender wajib tersebut, Terlapor memperoleh
172.571.500 (seratus tujuh puluh dua juta lima ratus tujuh puluh satu ribu
lima ratus) saham atau setara dengan 11,21% (sebelas koma dua puluh satu
perseratus) saham PT HD Finance, Tbk.; ----------------------------------------halaman 95 dari 110
SALINAN
4.6.9
Pada tanggal 27 Mei 2013, Terlapor menyampaikan Laporan Keterbukaan
Informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan atas penyelesaian Penawaran
Tender Wajib berikut jumlah saham yang diperoleh Terlapor yaitu setara
56,21% (lima puluh enam koma dua puluh satu perseratus);-------------------
4.6.10 Pada tanggal 14 Juni 2013, Terlapor melakukan penjualan saham PT HD
Finance, Tbk sebesar 6.223.833 (enam juta dua ratus dua puluh tiga
delapan ratus tiga puluh tiga) atau setara 0,4% (nol koma empat
perseratus), sehingga total kepemilikan saham Terlapor pada PT HD
Finance, Tbk. adalah setara 55,81% (lima puluh lima koma delapan puluh
satu perseratus); ----------------------------------------------------------------------4.6.11 Pada tanggal 21 Juni 2013, Terlapor menyampaikan kepada Otoritas Jasa
Keuangan mengenai Keterbukaan Informasi terkait Perubahan Jumlah
Kepemilikan Saham PT HD Finance, Tbk sebagaimana tersebut pada butir
4.6.10; ---------------------------------------------------------------------------------4.6.12 Pada tanggal 24 Juni 2013, Terlapor menyampaikan Pemberitahuan
kepada KPPU terkait pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk.; -------4.7
Bahwa berdasarkan Penjelasan Pasal 5 ayat (4) huruf b Peraturan Pemerintah
Nomor 57 Tahun 2010, yang dimaksud dengan dikendalikan adalah pemilikan
saham atau penguasaan suara lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dalam badan
usaha; atau adanya pemilikan saham atau penguasaan suara kurang dari atau sama
dengan 50% (lima puluh perseratus) tetapi dapat mempengaruhi dan menentukan
kebijakan pengelolaan badan usaha dan atau mempengaruhi dan menentukan
pengelolaan badan usaha; ----------------------------------------------------------------------
4.8
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 Peraturan KPPU Nomor 4 Tahun
2012, yang dimaksud dengan Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh Badan Usaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian atas badan usaha tersebut; --------------------
4.9
Bahwa berdasarkan ketentuan Angka 1 huruf c, huruf d dan huruf e Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1, yang dimaksud dengan: ---------------------------------------4.9.1
Pengendali Perusahaan Terbuka, yang selanjutnya disebut Pengendali,
adalah pihak yang memiliki saham lebih dari 50% (lima puluh perseratus)
dari seluruh
saham yang disetor penuh, atau Pihak yang mempunyai
kemampuan untuk menentukan, baik langsung maupun tidak langsung,
dengan cara apapun pengelolaan dan/atau kebijaksanaan Perusahaan
Terbuka; --------------------------------------------------------------------------------
halaman 96 dari 110
SALINAN
4.9.2
Pengambilalihan adalah tindakan, baik langsung maupun tidak langsung
yang mengakibatkan perubahan Pengendali; -------------------------------------
4.9.3
Penawaran tender wajib adalah penawaran untuk membeli sisa saham
perusahaan terbuka yang wajib dilakukan oleh Pengendali Baru; -------------
4.10 Bahwa berdasarkan Penjelasan Pasal 5 ayat (4) huruf b Peraturan Pemerintah
Nomor 57 Tahun 2010 dan ketentuan Angka 1 huruf c Peraturan Bapepam-LK No.
IX.H.1, Pengendali dapat berupa pihak yang memiliki saham kurang dari 50%
(lima puluh perseratus), tetapi dapat mempengaruhi dan menentukan kebijakan
pengelolaan badan usaha dan atau mempengaruhi dan menentukan pengelolaan
badan usaha atau mempunyai kemampuan untuk menentukan, baik langsung
maupun tidak langsung, dengan cara apapun pengelolaan dan/atau kebijaksanaan
Perusahaan Terbuka; ---------------------------------------------------------------------------4.11 Bahwa Majelis Komisi sependapat dengan pendapat keterangan Ahli Prof. Dr.
Nindyo Pramono, S.H., M.S. dan Ahli Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), yang diwakili oleh YB Eko Pramuji, Marthen Pareang, M. Rizki Fauzi,
yang pada pokoknya menyatakan bahwa perubahan pengendalian suatu badan
usaha dapat terjadi pada pengambilalihan saham kurang dari 50% (lima puluh
perseratus); --------------------------------------------------------------------------------------4.12 Bahwa Majelis Komisi menilai, sebelum pengambilalihan saham pengendali PT
HD Finance, Tbk. sebesar 45% (empat puluh lima perseratus) oleh Terlapor pada
tanggal 8 Maret 2014, komposisi pemilikan saham PT HD Finance, Tbk. adalah: ---No.
Pemegang Saham
Komposisi Kepemilikan
1.
48,70%
2.
Wealth Paradise Holdings Limited
(Pengendali)
PT HD Corpora (Pengendali)
3.
Soeharto Djojonegoro
4.
Publik
21,43%
0,0000065%
29,87%
4.13 Bahwa Majelis Komisi menilai, setelah pengambilalihan saham pengendali PT HD
Finance, Tbk. sebesar 45% (empat puluh lima perseratus) oleh Terlapor pada
tanggal 8 Maret 2014, komposisi kepemilikan saham PT HD Finance, Tbk. adalah
sebagai berikut: ---------------------------------------------------------------------------------No.
Pemegang Saham
1.
PT Tiara Marga Trakindo
2.
Wealth Paradise Holdings Limited
3.
PT HD Corpora
4.
Soeharto Djojonegoro
Komposisi Kepemilikan
45%
25,13%
halaman 97 dari 110
0,0000065%
SALINAN
5.
Publik
29,87%
4.14 Bahwa Majelis Komisi menilai berdasarkan uraian pada butir 4.7 sampai dengan
butir 4.13 di atas, pengambilalihan saham pengendali PT HD Finance, Tbk. sebesar
45% (empat puluh lima perseratus) oleh Terlapor pada tanggal 8 Maret 2014
menjadikan Terlapor sebagai pemegang saham terbesar dibandingkan dengan
pemegang saham lainnya; ---------------------------------------------------------------------4.15 Bahwa Majelis Komisi menilai berdasarkan uraian pada butir 4.10 sampai dengan
butir 4.14, meskipun Terlapor memiliki saham kurang dari 50% (lima puluh
perseratus), Terlapor sebagai pemegang saham terbesar dapat mempengaruhi dan
menentukan kebijakan pengelolaan badan usaha dan atau mempengaruhi dan
menentukan pengelolaan badan usaha atau mempunyai kemampuan untuk
menentukan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan cara apapun
pengelolaan dan/atau kebijaksanaan Perusahaan Terbuka; -------------------------------4.16 Bahwa Majelis Komisi menilai berdasarkan alat bukti yang diajukan baik oleh
Investigator maupun Terlapor dan telah diklarifikasi di dalam proses persidangan
yaitu berupa (1) Pengumuman pengambilalihan saham pengendali PT HD Finance,
Tbk. sebesar 45% (empat puluh lima perseratus) pada tanggal 8 Maret 2013 yang
diumumkan dalam surat kabar Media Bisnis Indonesia tertanggal 11 Maret 2013
dan (2) Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka
kepada
Otoritas
Jasa
Keuangan
yaitu
Surat
Nomor
TMT-
LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal Pengumuman Pengambilalihan PT HD Finance,
Tbk. tertanggal 11 Maret 2013. Kedua dokumen tersebut membuktikan telah terjadi
perubahan pengendali pada PT HD Finance, Tbk.; ---------------------------------------4.17 Bahwa Majelis Komisi menilai, sebagaimana diuraikan pada butir 4.6.2, butir 4.6.9
dan butir 4.6.11, membuktikan bahwa Terlapor bertindak dalam kapasitas sebagai
Pengendali baru yang mematuhi Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1 terkait
keterbukaan informasi, yaitu Laporan Keterbukaan Informasi Pengambilalihan
Saham Perseroan Terbuka pada tanggal 11 Maret 2013; ---------------------------------4.18 Bahwa Majelis Komisi menilai tindakan-tindakan Terlapor dalam melakukan
Penawaran Tender Wajib sebagaimana diuraikan pada butir 4.6.3. sampai dengan
butir 4.6.9., membuktikan bahwa Terlapor telah berkapasitas sebagai pengendali
baru yang secara patuh memenuhi kewajibannya sesuai ketentuan dalam Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1; ----------------------------------------------------------------------
halaman 98 dari 110
SALINAN
4.19 Bahwa Majelis Komisi menilai dengan demikian pada tanggal 11 Maret 2013, telah
terjadi pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor yang
mengakibatkan perubahan pengendalian atas PT HD Finance, Tbk. tersebut dari
pengendali sebelumnya yaitu Wealth Paradise Holdings Limited dan PT HD
Corpora kepada Pengendali baru yaitu Terlapor; ------------------------------------------5.
Tentang Nilai Aset dan atau Nilai Penjualan setelah pengambilalihan saham; --------5.1
Bahwa berdasarkan fakta persidangan, nilai aset Terlapor dan PT HD Finance, Tbk.
setelah pengambilalihan saham adalah Rp.30.891.691.813.936 (tiga puluh triliun
delapan ratus sembilan puluh satu milyar enam ratus sembilan puluh satu juta
delapan ratus tiga belas ribu sembilan ratus tiga puluh enam rupiah) (vide bukti
I11);------------------------------------------------------------------------------------------------
5.2
Bahwa berdasarkan fakta persidangan, nilai penjualan Terlapor dan PT HD
Finance, Tbk. setelah pengambilalihan saham adalah Rp.24.518.222.804.928 (dua
puluh empat triliun lima ratus delapan belas milyar dua ratus dua puluh dua juta
delapan ratus empat ribu sembilan ratus dua puluh delapan rupiah) (vide bukti I11);
5.3
Bahwa nilai aset dan nilai penjualan setelah pengambilalihan saham sebagaimana
dimaksud pada butir 5.1 dan butir 5.2 dihitung berdasarkan hasil konversi nilai
mata uang sesuai kurs jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 dengan
nilai tukar USD 1 (satu dollar Amerika Serikat) sama dengan Rp 9.736 (sembilan
ribu tujuh ratus tiga puluh enam rupiah); ----------------------------------------------------
5.4
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 57
Tahun 2010, nilai penjualan dan/atau aset hasil pengambilalihan adalah jumlah nilai
penjualan dan/atau aset yang dihitung berdasarkan penjumlahan nilai penjualan
dan/atau aset tahun terakhir yang telah diaudit dari masing-masing pihak yang
melakukan Pengambilalihan ditambah dengan nilai penjualan dan/atau aset dari
seluruh badan usaha yang secara langsung maupun tidak langsung mengendalikan
atau dikendalikan oleh Badan Usaha yang melakukan Pengambilalihan;---------------
5.5
Bahwa nilai aset setelah pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud pada butir
5.1 merupakan penjumlahan nilai aset Terlapor dan nilai aset PT HD Finance, Tbk.
tahun terakhir yaitu tahun 2012 yang telah diaudit oleh masing-masing pihak; -------
5.6
Bahwa nilai penjualan setelah pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud pada
butir 5.2 merupakan penjumlahan nilai penjualan Terlapor dan nilai penjualan PT
HD Finance, Tbk. tahun terakhir yaitu tahun 2012 yang telah diaudit oleh masingmasing pihak; ------------------------------------------------------------------------------------
5.7
Bahwa menurut ketentuan Pasal 29 ayat (1) Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999,
Pelaku Usaha wajib untuk melakukan pemberitahuan pengambilalihan saham
halaman 99 dari 110
SALINAN
kepada Komisi jika berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu; ------------------------------------------------------------------------------------------5.8
Bahwa menurut ketentuan Pasal 29 ayat (2) Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999,
ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata cara
pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; ----------------------------------------------------------
5.9
Bahwa menurut ketentuan Pasal 5 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun
2010, batasan nilai untuk melakukan pemberitahuan Penggabungan, Peleburan dan
Pengambilalihan kepada Komisi adalah;----------------------------------------------------5.9.1 nilai aset badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau
pengambilalihan melebihi Rp 2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima ratus
miliar rupiah); atau --------------------------------------------------------------------5.9.2 nilai penjualan (omzet) badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau
pengambilalihan melebihi Rp 5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah);
5.10 Bahwa Majelis Komisi menilai nilai aset Terlapor dan PT HD Finance, Tbk. setelah
pengambilalihan saham sebagaimana disebutkan pada butir 5.1 melebihi ketentuan
nilai aset sebagaimana diuraikan pada butir 5.9.1; ----------------------------------------5.11 Bahwa Majelis Komisi menilai nilai penjualan Terlapor dan PT HD Finance, Tbk.
setelah pengambilalihan saham sebagaimana disebutkan pada butir 5.2 melebihi
ketentuan nilai penjualan sebagaimana diuraikan pada butir 5.9.2; ---------------------5.12 Bahwa Majelis Komisi menilai pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk. oleh
Terlapor wajib melakukan pemberitahuan kepada Komisi karena berakibat nilai
aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu sebagaimana diuraikan
pada butir 5.9 di atas; --------------------------------------------------------------------------6.
Tentang Keterlambatan Melakukan Pemberitahuan Kepada Komisi; ------------------6.1
Bahwa pada tanggal 24 Juni 2013, Terlapor menyampaikan Pemberitahuan tertulis
kepada Komisi atas hasil pengambilalihan dan jumlah akhir kepemilikan saham PT
HD Finance, Tbk. oleh Terlapor sebagai Pengendali baru; -------------------------------
6.2
Bahwa terdapat perbedaan pendapat antara Investigator dan Terlapor terkait
penentuan tanggal efektif yuridis pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk.
oleh Terlapor; ------------------------------------------------------------------------------------
6.3
Bahwa
pendapat
Investigator
terkait
penentuan
tanggal
efektif
yuridis
pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor adalah sebagai berikut:
6.3.1 Tanggal efektif yuridis pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh
Terlapor terhitung sejak tanggal 11 Maret 2013 yaitu sejak tanggal Surat
Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka yang
halaman 100 dari 110
SALINAN
disampaikan oleh Terlapor kepada Otoritas Jasa Keuangan melalui Surat
Nomor TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013; -----------------------------------------6.3.2 Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan KPPU Nomor 4
Tahun 2012, tanggal telah berlaku efektif yuridis khusus untuk
Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa efek adalah sejak tanggal
Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka.
Pemberitahuan kepada Komisi dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal efektif yuridis tersebut; -----------------------------------------------6.3.3 Terlapor memiliki kewajiban untuk menyampaikan Pemberitahuan tertulis
kepada Komisi paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal efektif
yuridis yaitu pada tanggal 24 April 2013; ------------------------------------------6.3.4 Pemberitahuan tertulis kepada Komisi terkait pengambilalihan saham PT
HD Finance, Tbk. oleh Terlapor pada tanggal 24 Juni 2013 adalah terlambat
selama 41 (empat puluh satu) hari sejak tanggal efektif yuridis yaitu 11
Maret 2013; -----------------------------------------------------------------------------6.4
Bahwa pendapat Terlapor terkait penentuan tanggal efektif yuridis pengambilalihan
saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor adalah sebagai berikut: --------------------6.4.1 Tanggal efektif yuridis pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh
Terlapor terhitung sejak tanggal 27 Mei 2013 yaitu sejak tanggal Laporan
Keterbukaan Informasi mengenai Hasil Penawaran Tender Wajib atas
Saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor yang disampaikan Terlapor
kepada
Otoritas
Jasa
Keuangan
melalui
Surat
Nomor
TMT-
LGL/250/LL/DIR/V/2013; -----------------------------------------------------------6.4.2 Bahwa
menurut
Terlapor,
pengambilalihan
yang
dilakukan
baru
memperoleh kepastiannya dan dianggap efektif sejak selesainya proses
Penawaran Tender Wajib dan kemudian diikuti dengan pengumuman
keterbukaan informasi atas pelaksanaan Penawaran Tender Wajib, sehingga
kewajiban pemberitahuan mengenai pengambilalihan kepada KPPU mulai
diperhitungkan sejak disampaikannya Laporan Penyelesaian Penawaran
Tender Wajib kepada Otoritas Jasa Keuangan; -----------------------------------6.4.3 Batas waktu Pemberitahuan tertulis kepada Komisi adalah 30 (tiga puluh)
hari kerja dihitung sejak tanggal 27 Mei 2013, yaitu paling lambat tanggal 8
Juli 2013; ------------------------------------------------------------------------6.4.4 Pemberitahuan tertulis kepada Komisi terkait pengambilalihan saham PT
HD Finance, Tbk. oleh Terlapor pada tanggal 24 Juni 2013 tidak terlambat
halaman 101 dari 110
SALINAN
karena masih dalam dalam kurun waktu 22 (dua puluh dua) hari sejak
tanggal efektif yuridis yaitu 27 Mei 2013; -----------------------------------------6.5
Bahwa Majelis Komisi tidak sependapat dengan pendapat para Ahli terkait
perhitungan tanggal efektif yuridis Pengambilalihan Saham Perusahaan karena
tidak relevan dengan penentuan kapan waktu penyampaian Pemberitahuan
Pengambilalihan Saham kepada Komisi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2012; -----------------------
6.6
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun
2012, Badan usaha yang melakukan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha
dan Pengambilalihan Saham Perusahaan wajib menyampaikan Pemberitahuan
kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Penggabungan
atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan telah berlaku
efektif secara yuridis; ---------------------------------------------------------------------------
6.7
Bahwa selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan Komisi
Nomor 4 Tahun 2012 dikutip sebagai berikut: “Khusus untuk Pengambilalihan
Saham yang terjadi di bursa efek, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30
(tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan
Saham Perseroan Terbuka”; ------------------------------------------------------------------
6.8
Bahwa Majelis Komisi menilai tidak perlu ada perdebatan mengenai penentuan
tanggal efektif yuridis pengambilalihan saham sebagai dasar perhitungan jangka
waktu penyampaian Pemberitahuan kepada Komisi. Penentuan tanggal efektif
yuridis tersebut berlaku untuk badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas
berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; ---
6.9
Bahwa Majelis Komisi menilai khusus untuk pengambilalihan saham yang terjadi
di bursa efek, berlaku ketentuan kewajiban penyampaian Pemberitahuan kepada
Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Surat Keterbukaan
Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka sebagaimana diatur dalam
Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2012; -----------------------
6.10 Bahwa Majelis Komisi menilai pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk oleh
Terlapor merupakan Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa efek, sehingga
berlaku ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan Komisi Nomor 4 Tahun 2012
yaitu Terlapor wajib menyampaikan Pemberitahuan secara tertulis kepada Komisi
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka; -----------------------------------------------6.11 Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor wajib menyampaikan Pemberitahuan
secara tertulis kepada Komisi paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat
halaman 102 dari 110
SALINAN
Keterbukaan
Informasi
Pengambilalihan Saham
Perseroan Terbuka
yang
disampaikan oleh Terlapor kepada Otoritas Jasa Keuangan melalui Surat Nomor
TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 tanggal 11 Maret 2013; -------------------------------6.12 Bahwa Majelis Komisi menilai dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal
11 Maret 2013, Terlapor memiliki kewajiban untuk melakukan Pemberitahuan
kepada KPPU yaitu paling lambat pada tanggal 24 April 2013. Namun Terlapor
baru menyampaikan Pemberitahuan tertulis kepada Komisi pada tanggal 24 Juni
2013;----------------------------------------------------------------------------------------------6.13 Majelis Komisi menilai bahwa berdasarkan Surat Keterbukaan Informasi
Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka kepada Otoritas Jasa Keuangan melalui
Surat
Nomor
TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013
perihal
Pengumuman
Pengambilalihan PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor tanggal 11 Maret 2013, dan
bukti dokumen Pemberitahuan Pengambilalihan PT HD Finance, Tbk. oleh
Terlapor kepada Komisi pada tanggal 24 Juni 2013, maka Terlapor telah melakukan
keterlambatan dalam melakukan pemberitahuan pengambilalihan saham selama 41
(empat puluh satu) hari kerja; -----------------------------------------------------------------7.
Tentang Pemenuhan Unsur Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto
Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; -------------------------------------7.1
Menimbang bahwa Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 mengatur halhal sebagai berikut: -----------------------------------------------------------------------------(1)“Penggabungan atau Peleburan badan Usaha, atau pengambilalihan saham
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 yang berakibat nilai aset dan atau
nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu, wajib memberitahukan kepada
Komisi
selambat-lambatnya
30
(tiga
puluh)
hari
sejak
tanggal
penggabungan, peleburan, atau pengambilalihan tersebut” ---------------------(2)“Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata
cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam
Peraturan Pemerintah;---------------------------------------------------------------------7.2
Menimbang bahwa untuk membuktikan terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran
terhadap Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, maka Majelis Komisi
mempertimbangkan unsur-unsur sebagai berikut; ------------------------------------------
7.3
Unsur pengambilalihan saham (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 Undang
Undang Nomor 5 Tahun 1999); --------------------------------------------------------------7.3.1
Bahwa Pasal 28 ayat (2) mengatur ”Pelaku usaha dilarang melakukan
pengambilalihan saham perusahaan lain apabila tindakan tersebut dapat
halaman 103 dari 110
SALINAN
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat”; --------------------------------------------------------------------------7.3.2
Bahwa Pasal 28 ayat (3) mengatur “Ketentuan lebih lanjut mengenai
penggabungan atau peleburan badan usaha yang dilarang sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), dan ketentuan mengenai pengambilalihan saham
perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), diatur dalam
Peraturan Pemerintah”; -------------------------------------------------------------
7.3.3
Bahwa Peraturan Pemerintah yang mengatur lebih lanjut hal-hal yang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3) dan Pasal 29 ayat (2)
adalah Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; ---------------------------
7.3.4
Bahwa yang dimaksud dengan pengambilalihan berdasarkan Pasal 1 ayat
(3) Peraturan Pemerintah
Nomor 57 Tahun 2010 adalah “Perbuatan
hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk mengambilalih saham
badan usaha yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas badan
usaha tersebut”; ---------------------------------------------------------------------7.3.5
Bahwa berdasarkan uraian pada Butir 4 Tentang Pengambilalihan Saham
PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor, telah terjadi pengambilalihan saham
PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor yang mengakibatkan perubahan
pengendalian atas PT HD Finance, Tbk. tersebut dari pengendali
sebelumnya yaitu Wealth Paradise Holdings Limited dan PT HD Corpora
kepada Pengendali baru yaitu Terlapor; -------------------------------------------
7.3.6
Bahwa dengan demikian unsur pengambilalihan saham terpenuhi; ----------
7.4 Unsur nilai aset dan atau nilai penjualan yang melebihi jumlah tertentu; --------------7.4.1
Bahwa berdasarkan Pasal 29 ayat (2) Undang Undang Nomor 5 Tahun
1999, ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta
tatacara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam
Peraturan Pemerintah; ----------------------------------------------------------------
7.4.2
Bahwa Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang penetapan nilai aset
dan atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana
dimaksud pada butir 7.4.1 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun
2010; ------------------------------------------------------------------------------------
7.4.3
Bahwa menurut ketentuan Pasal 5 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 57
Tahun 2010, batasan nilai untuk melakukan pemberitahuan Penggabungan,
Peleburan dan Pengambilalihan kepada Komisi adalah; ------------------------
halaman 104 dari 110
SALINAN
(1) nilai aset badan usaha hasil penggabungan atau peleburan atau
pengambilalihan melebihi Rp 2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima
ratus miliar rupiah); atau --------------------------------------------------------(2) nilai penjualan (omzet) badan usaha hasil penggabungan atau peleburan
atau pengambilalihan melebihi Rp 5.000.000.000.000,00 (lima triliun
rupiah); ----------------------------------------------------------------------------7.4.4
Bahwa nilai aset Terlapor dan PT HD Finance, Tbk. setelah
pengambilalihan saham adalah Rp.30.891.691.813.936 (tiga puluh triliun
delapan ratus sembilan puluh satu milyar enam ratus sembilan puluh satu
juta delapan ratus tiga belas ribu sembilan ratus tiga puluh enam rupiah);---
7.4.5
Bahwa nilai penjualan Terlapor dan PT HD Finance, Tbk. setelah
pengambilalihan saham adalah Rp.24.518.222.804.928 (dua puluh empat
triliun lima ratus delapan belas milyar dua ratus dua puluh dua juta delapan
ratus empat ribu sembilan ratus dua puluh delapan rupiah); -------------------
7.4.6
Bahwa berdasarkan nilai aset dan nilai penjualan sebagaimana disebutkan
pada butir 7.4.4. dan butir 7.4.5. serta uraian pada butir 5 Tentang Nilai
Aset dan atau Nilai Penjualan setelah Pengambilalihan Saham,
pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk., oleh Terlapor telah
mengakibatkan nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu sebagaimana dimaksud pada butir 7.4.3.; -------------------------------
7.4.7
Bahwa dengan demikian unsur nilai aset dan/atau nilai penjualan yang
melebihi jumlah tertentu terpenuhi.-------------------------------------------
7.5 Unsur keterlambatan melakukan pemberitahuan kepada Komisi; ----------------------7.5.1
Bahwa berdasarkan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun
1999,
Pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu, wajib memberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30
(tiga puluh hari) sejak tanggal pengambilalihan tersebut; ---------------------7.5.2
Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan KPPU Nomor 4
Tahun 2012, khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa
efek, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham
Perseroan Terbuka; -------------------------------------------------------------------
7.5.3
Bahwa sebagaimana telah diuraikan pada butir 6 Tentang Keterlambatan
Melakukan
Pemberitahuan
kepada
Komisi,
Pemberitahuan
yang
disampaikan Terlapor kepada Komisi terkait Pengambilalihan Saham PT
halaman 105 dari 110
SALINAN
HD Finance Tbk. oleh Terlapor pada tanggal 24 Juni 2013 adalah
terlambat selama 41 (empat puluh satu) hari kerja terhitung sejak tanggal
Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka
kepada Otoritas Jasa Keuangan pada tanggal 11 Maret 2013sebagaimana
dimaksud; -----------------------------------------------------------------------------7.5.4
Bahwa dengan demikian, unsur keterlambatan melakukan pemberitahuan
kepada Komisi terpenuhi; ----------------------------------------------------------
8. Tentang Pengecualian; -------------------------------------------------------------------------------8.1
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010
diatur bahwa kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tidak berlaku
bagi Pelaku Usaha yang melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan
Usaha, atau Pengambilalihan saham antar perusahaan yang terafiliasi; -----------------
8.2
Bahwa berdasarkan penjelasan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun
2010, yang dimaksud dengan “terafiliasi” adalah;---------------------------------------(1)
Hubungan antara perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung,
mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut; --------------------
(2)
Hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung
maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau ------------------------------
(3)
8.3
Hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama;----------------------
Bahwa PT Tiara Marga Trakindo dimiliki oleh Sdr. Achmad Hadiat Hamami dan
Sdr. Achmad Ridwan Hamami; ---------------------------------------------------------------
8.4
Bahwa PT HD Finance, Tbk. dimiliki oleh Wealth Paradise Holdings Limited , PT
HD Corpora, Sdr. Soeharto Djojonegoro dan selebihnya Publik; ------------------------
8.5
Bahwa berdasarkan kepemilikan saham tersebut di atas, Sdr. Achmad Hadiat
Hamami dan Sdr. Achmad Ridwan Hamami tidak terafiliasi dengan Wealth
Paradise Holdings Limited , PT HD Corpora, dan Sdr. Soeharto Djojonegoro
sebagaimana dimaksud pada butir 8.2; -------------------------------------------------------
8.6
Bahwa berdasarkan fakta persidangan, Majelis Komisi menilai Terlapor tidak
terafiliasi dengan PT HD Finance, Tbk. sehingga kewajiban menyampaikan
Pemberitahuan secara tertulis kepada Komisi berlaku bagi Terlapor; -------------------
8.7
Bahwa dengan demikian, maka kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara
tertulis kepada Komisi dalam perkara ini tidak dikecualikan bagi Terlapor; -----------
9. Tentang Kesimpulan Majelis Komisi; ------------------------------------------------------------Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan dan uraian di atas, Majelis Komisi sampai
pada kesimpulan sebagai berikut: --------------------------------------------------------------------
halaman 106 dari 110
SALINAN
9.1
Bahwa terbukti telah terjadi pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh
Terlapor yang mengakibatkan perubahan pengendalian atas PT HD Finance, Tbk.
tersebut dari pengendali sebelumnya yaitu Wealth Paradise Holdings Limited dan
PT HD Corpora kepada Pengendali baru yaitu Terlapor; ---------------------------------
9.2
Bahwa terbukti nilai aset dan nilai penjualan Terlapor dan PT HD Finance, Tbk,
setelah pengambilalihan saham memenuhi jumlah tertentu sebagaimana diatur
dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto Pasal 5 Peraturan
Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; ----------------------------------------------------------
9.3
Bahwa terbukti adanya keterlambatan melakukan pemberitahuan kepada Komisi
setelah disampaikannya surat keterbukaan informasi publik kepada otoritas Jasa
Keuangan terkait pengambilalihan saham yaitu terlambat selama 41 (empat puluh
satu) hari; ----------------------------------------------------------------------------------------
10. Tentang Pertimbangan Majelis Komisi sebelum Memutus; -------------------------------Menimbang bahwa sebelum memutuskan, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut; ----------------------------------------------------------------------------------------10.1 Bahwa pada tanggal 14 Januari 2013, Terlapor melakukan Konsultasi dengan
Komisi terkait Rencana Pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk. oleh
Terlapor; -----------------------------------------------------------------------------------------10.2 Bahwa pada tanggal 27 Februari 2013, Komisi menerbitkan Pendapat Komisi
Pengawas Persaingan Usaha Nomor 04/KPPU/PDPT/II/2013 tentang Konsultasi
Pengambilalihan Saham Perusahaan PT HD Finance Tbk. oleh Terlapor. Pada
pokoknya, Komisi berpendapat tidak terdapat dugaan praktik monopoli dan/atau
persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham PT HD
Finance, Tbk. oleh Terlapor; -----------------------------------------------------------------10.3 Bahwa pada tanggal 24 Juni 2013, Komisi menerima Pemberitahuan dari Terlapor
terkait Pengambilalihan Saham Perusahaan PT HD Finance Tbk. oleh Terlapor
yang dicatat oleh Komisi dengan nomor register A13613; -------------------------------10.4 Bahwa pada tanggal 4 September 2013, Komisi menerbitkan Surat KPPU Nomor
103/K/IX/2013 perihal Surat Tidak Melakukan Penilaian Ulang Pengambilalihan
Saham, yang pada pokoknya menyatakan Komisi tidak melakukan Penilaian Ulang
terhadap Pemberitahuan dengan Nomor Registrasi A13613 dan Pendapat Komisi
tetap mengacu pada hasil Penilaian Konsultasi yang dikeluarkan pada tanggal 27
Februari 2013 ; ----------------------------------------------------------------------------------10.5 Bahwa Majelis Komisi menilai Konsultasi dan Pemberitahuan yang disampaikan
Terlapor sebagaimana diuraikan pada butir 10.1 dan butir 10.3 menunjukkan
halaman 107 dari 110
SALINAN
adanya itikad baik dari Terlapor untuk mematuhi ketentuan Komisi terkait
Pengambilalihan Saham Perusahaan PT HD Finance Tbk. oleh Terlapor; ------------10.6 Bahwa Majelis Komisi menilai berdasarkan uraian pada butir 10.2 dan butir 10.4,
secara materiil Komisi berpendapat tidak terdapat dugaan praktik monopoli
dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan
saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; ------------------------------------------------10.7 Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan meskipun secara materiil tidak terdapat
dugaan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan
oleh pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor, tetapi secara
formil Terlapor tetap melakukan kesalahan karena tidak melakukan Pemberitahuan
tertulis kepada Komisi dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah
tanggal Surat Keterbukaan Informasi Publik; ----------------------------------------------10.8 Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan Konsultasi kepada Komisi merupakan
hal yang berbeda dengan kewajiban melakukan Pemberitahuan kepada Komisi,
karena Konsultasi sifatnya voluntary/sukarela sedangkan pemberitahuan sifatnya
wajib; ---------------------------------------------------------------------------------------------10.9 Bahwa Majelis Komisi mempertimbangkan Konsultasi Pengambilalihan Saham
Perusahaan PT HD Finance Tbk. oleh Terlapor yang telah dilakukan secara
voluntary tidak dapat menjadi dasar pembenar bagi Terlapor untuk melalaikan
kewajiban melakukan Pemberitahuan yang bersifat mandatory dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah Surat Keterbukan Informasi Publik pada
tanggal 11 Maret 2013; ------------------------------------------------------------------------10.10 Bahwa berdasarkan pertimbangan pada butir 10.1 sampai dengan butir 10.9 di atas,
Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal yang meringankan bagi Terlapor yaitu:
(1)
Terlapor telah melakukan Konsultasi dengan Komisi sebelum melakukan
pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk. dan telah menyampaikan
Pemberitahuan setelah pengambilalihan saham dilakukan; ------------------------
(2)
Pendapat Komisi terkait Konsultasi dan Pemberitahuan yang disampaikan
Terlapor menyatakan tidak terdapat dugaan praktik monopoli dan/atau
persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham
PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; --------------------------------------------------
(3)
Terlapor telah bersikap baik dan kooperatif selama proses Sidang Majelis
Komisi berlangsung; ---------------------------------------------------------------------
(4)
Majelis Komisi mempertimbangkan keterlambatan Pemberitahuan yang
disampaikan oleh Terlapor kepada Komisi bukan merupakan suatu hal yang
disengaja; ---------------------------------------------------------------------------------halaman 108 dari 110
SALINAN
(5)
Majelis Komisi mempertimbangkan tanggapan Terlapor pada butir 25.37
Bagian Tentang Duduk Perkara Putusan ini; -----------------------------------------
11. Tentang Perhitungan Denda; -----------------------------------------------------------------------11.1 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010
sebagaimana
dikutip:
“Dalam
hal
Pelaku
Usaha
tidak
menyampaikan
pemberitahuan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3),
Pelaku
Usaha
dikenakan
sanksi
berupa
denda
administratif
sebesar
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) untuk setiap hari keterlambatan, dengan
ketentuan denda administratif secara keseluruhan paling tinggi sebesar
Rp25.000.000.000,00 (dua puluhlima miliar rupiah)”; ----------------------------------11.2 Bahwa atas keterlambatan Pemberitahuan kepada Komisi selama 41 (empat puluh
satu) hari kerja, seharusnya Terlapor dikenakan denda maksimum yaitu
Rp 25.000.000.000,00 (dua puluhlima miliar rupiah); ------------------------------------11.3 Bahwa
mempertimbangkan
hal-hal
yang
meringankan
kepada
Terlapor
sebagaimana diuraikan dalam butir 10.10 di atas, maka Majelis Komisi
memutuskan untuk menjatuhkan denda minimum keterlambatan pemberitahuan
sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; --12. Tentang Diktum Putusan dan Penutup; ---------------------------------------------------------Menimbang bahwa berdasarkan fakta-fakta persidangan, penilaian, analisa dan
kesimpulan di atas, serta dengan mengingat Pasal 43 ayat (3) Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999, Majelis Komisi: -------------------------------------------------------------------------
MEMUTUSKAN
1. Menyatakan Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 29
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor
57 Tahun 2010; ----------------------------------------------------------------------------------------2. Menghukum Terlapor membayar denda sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu miliar
rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda
pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan
Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan
Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); --------------------------------------------3. Bahwa setelah Terlapor melakukan pembayaran denda, maka salinan bukti
pembayaran denda tersebut harus dilaporkan dan diserahkan ke KPPU;---------------
halaman 109 dari 110
SALINAN
Demikian putusan ini ditetapkan melalui Musyawarah Majelis Komisi pada hari Selasa
tanggal 3 Juni 2014 dan dibacakan di persidangan yang dinyatakan terbuka untuk umum pada
hari Rabu tanggal 4 Juni 2014 oleh Majelis Komisi yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Tresna P.
Soemardi, S.E., M.S. sebagai Ketua Majelis Komisi; R. Kurnia Sya’ranie, S.H., M.H. dan
Drs. Munrokhim Misanam, M.A., Ec., Ph.D. masing-masing sebagai Anggota Majelis
Komisi, dengan dibantu oleh Dinni Melanie, S.H., M.E. dan R. Arif Yulianto, S.H. masingmasing sebagai Panitera.
Ketua Majelis Komisi,
Ttd.
Prof. Dr. Ir. Tresna P. Soemardi, S.E., M.S.
Anggota Majelis Komisi,
Anggota Majelis Komisi,
Ttd.
Ttd.
R. Kurnia Sya’ranie, S.H., M.H.
Drs. Munrokhim Misanam, M.A., Ec., Ph.D
Panitera,
Ttd.
Ttd.
Dinni Melanie, S.H., M.E.
R. Arif Yulianto, S.H.
Salinan sesuai dengan aslinya,
SEKRETARIAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA
Direktur Persidangan,
A. Junaidi, S.H., M.H., LL.M., M. Kn.
halaman 110 dari 110
Download