Dinamika Kebidanan vol. 2 no.2. Agustus 2012 1 HUBUNGAN

advertisement
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PACARAN SEHAT
DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA
DI SMA KOTA SEMARANG
Riana Prihastuti
Titiek Soelistyowatie*)
*) Akademi Kebidanan Abdi Husada Semarang
Korespondensi : titiek [email protected]
ABSTRAK
Ada berbagai bentuk sosialisasi, salah satu diantaranya adalah pacaran, berbagai gaya pacaran mereka
lampiaskan dengan berbagai cara, salah satunya adalah perilaku seksual yang sering disalahgunakan oleh para
remaja dalam berpacaran. Banyak para remaja yang melakukan hubungan seksual mulai dari berpelukan,
berciuman, melakukan petting, hingga mengeluarkan bujuk rayuan agar mau berhubungan seksual. Hal ini
mereka lakukan disebabkan karena kurangnya pengetahuan remaja tentang pacaran yang sehat terutama
mengenai perilaku seksual.
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang pacaran yang
sehat dengan perilaku seks bebas pada remaja di SMA Teuku Umar Kota Semarang. Penelitian ini termasuk
Penelitian remaja dengan rancangan cross sectional dan termasuk Penelitian korelasi. Populasi Penelitian
adalah seluruh siswa SMA Teuku Umar kelas XII sebanyak 107 orang. Sedangkan jumlah sampel 52 orang,
sampel yang diambil secara purposive sampling. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder .
Sedangkan Analisa data yang digunakan adalah analisa data secara univariat dan bivariat.
Pada analisis univariat variabel didistribusikan dengan masing-masing proporsi sedangkan pada
analisis bivariat di gunalam akan uji chi square (X2) dengan menggunakan kuesioner.
Hasil dari Penelitian tingkat pengetahuan remaja tentang pacaran yang sehat di SMA Teuku Umar kota
Semarang didapakan yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 23 (44,2%) responden, dan perilaku seksual
yang termasuk kategori sikap positif sebanyak 30 (57,7%) responden. Jadi, dengan demikian ada hubungan
tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku seks bebas pada remaja siswa SMA Teuku
Umar kota Semarang. Dengan nilai p value 0,000 dimana p value lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05).
Saran yang diberikan dari hasil penelitian ini untuk mencegah perilaku seks bebas pada remaja yaitu
perlu meningkatkan pengetahuan dan informasi akibat seks bebas, sehingga para remaja dapat lebih memahami
akibat dari perbuatan seks bebas tersebut dan para remaja dapat menjaga diri dalam bergaul. Dan bagi orang tua
diharapkan memberikan pantauan dan bimbingan pada anaknya agar tidak terjerumus dalam perilaku seks bebas
Kata kunci : Tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat, perilaku seks bebas, remaja.
1
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
PENDAHULUAN
Masa puber adalah bagian dari masa remaja, sebab masa remaja diawali dengan
pubertas. Ketika seorang anak telah mengalami pubertas maka ia dianggap sudah memasuki
masa remaja mereka. Masa remaja sendiri yaitu masa dimana anak sudah meninggalkan masa
kanak-kanak menuju dunia orang dewasa (Depkes RI, 2005).
Dalam kehidupan, kita pasti melakukan sosialisasi dengan orang lain. Kita tidak bisa
hidup tanpa sosialisasi dengan orang lain, ada berbagai bentuk sosialisasi salah satunya
adalah pacaran. Pacaran sendiri merupakan salah satu pilihan dalam kehidupan remaja
(PKBI,1999).
Pada usia remaja ini dapat dikatakan matang secara seksual namun secara emosional
belum stabil dan dapat dengan mudah terombang-ambing oleh berbagai macam hal mulai dari
mencari jatidiri dan bersosialisasi, sering dikatakan bahwa remaja merupakan masa yang
penuh dengan konflik, dan pertentangan, yang bergelora dan ada yang mengatakan seperti
masa badai dan topan (Willopo, 2008).
Berdasarkan data di Badan Pusat Statistik ( BPS ) kota Semarang tahun 2008, jumlah
data remaja di Indonesia pada tahun 2008 mencapai sekitar 64 juta jiwa, sedang di Provinsi
Jawa Tengah dengan jumlah remaja 4.824.307 jiwa dan di Wilayah Kota Semarang dengan
jumlah 255.681 jiwa. Sekitar 15 persen remaja di Indonesia, menurut data hasil sebuah
penelitian yang diungkapkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat
tahun 2006, diketahui telah melakukan hubungan seks diluar nikah (pra-nikah)
(Herdi Mansyah, 2006).
Maka dari itu dilakukan penelitian di salah satu SMA di Kota Semarang dengan
mengambil tempat di SMA Teuku Umar dan telah didapatkan data jumlah siswa dan siswi
2
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
kelas XII yaitu jumlah laki-laki 87 siswa (64%) dan perempuan 20 siswi (36%). Berdasarkan
usia rentang 16-18 tahun dengan jumlah 90 siswa (89%), dan usia 19-21 tahun dengan
jumlah 17 siswa (11%).
SMA Teuku Umar merupakan salah satu SMA swasta di Kota Semarang terletak di
Jalan Karangrejo Tengah.
Menurut keterangan guru Bimbingan Konseling bahwa secara
formal diajarkan pendidikan seksual melalui salah satu mata pelajaran yaitu agama dan
biologi. Berdasarkan data di SMA, pada tahun 2007-2008 telah mengeluarkan 5 orang
siswinya secara berturut-turut karena mengalami hamil diluar nikah. Oleh karena itu
dilakukan survey awal melalui wawancara dengan kuesioner dan hasilnya menunjukkan
bahwa masih banyak siswa yang kurang mengetahui pemahaman tentang pacaran yang sehat.
Dari hasil sampel 15 siswa dan siswi didapatkan hasil 5 orang (33,3%) pernah melakukan
cium bibir, 4 orang (26,67%) melakukan cium leher, 3 orang (20%) pernah melakukan
petting atau bercumbu sampai menempelkan alat kelamin dan hampir menjurus ke senggama,
2 orang (13,3%) hanya berpegangan tangan, dan hanya 1 orang (6,67%) siswa yang
mengakui pernah melakukan senggama, mereka melakukan perilaku tersebut paling banyak
di rumah ketika sedang sepi. Hal ini mereka lakukan atas dasar suka sama suka.
Keterangan yang diperoleh bahwa sebagian siswa dan siswi di SMA tersebut yang
berpacaran melakukan, aktifitas seperti di atas. Dan yang paling banyak mereka lakukan
adalah perilaku cium bibir dan cium leher, karena resiko terbesar dari perilaku tersebut
adalah terjadinya hubungan seksual sebelum menikah.
Kesimpulan yang didapat bahwa siswa dan siswi SMA Teuku Umar belum
mengetahui tentang arti dari mereka berpacaran, sehingga sebagian dari mereka melakukan
aktifitas seperti di atas. Maka dari itu peneliti melakukan penelitian, Hubungan tingkat
3
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku seks bebas pada remaja di SMA
Teuku Umar Kota Semarang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Menurut Notoatmodjo, 2005
rancangan cross sectional yaitu pengukuran variabelnya dilakukan satu kali dalam periode
yang sama. Didalam penelitian ini variabel independen yaitu (tingkat pengetahuan remaja
tentang pacaran yang sehat) dan variabel dependen (perilaku seks bebas pada remaja).Jenis
penelitian ini adalah penelitian korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja kelas
XII SMA Teuku Umar kota Semarang yang berjumlah 107 orang
dan sampel dalam
penelitian ini 52 orang yang terdiri dari 26 orang laki-laki dan 26 orang perempuan. Sampling
yang digunakan adalah purposive sampling.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian Analisis Univariat
1. Umur
Dari hasil penelitian yang dilakukan sebagian besar respoden berumur antara 17
tahun sebanyak 26 (50,0%).
Tabel 1 Distribusi frekuensi umur siswa kelas XII SMA Teuku Umar Kota
Semarang
Umur
16 tahun
17 tahun
18 tahun
Total
Jumlah
19
26
7
52
%
36,5
50,0
13,5
100
4
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
Masa remaja adalah mencakup semua periode atas masa tumbuhnya seseorang
dalam masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Masa remaja dibagi
menjadi tiga yaitu masa remaja awal (umur 12 – 14 tahun), masa remaja menengah
(umur 14 – 17 tahun) dan masa remaja akhir (umur 17 – 19 tahun). Berdasarkan hasil
penelitian bahwa sebagian besar responden berumur 17 tahun sebanyak 50%.
Kategori masa remaja menengah menurut Partiwi (2006) adalah kelembutan dan
ketakutan terhadap lawan jenis, kekhawatiran tentang daya tarik seksual dan sering
berganti-ganti hubungan. Dengan umur 17 tahun tersebut remaja mulai mencari jati diri
sehingga kadang-kadang terjerumus dalam perilaku seks bebas. Kurangnya pengetahuan
yang dimiliki para remaja tentang akibat perilaku seks bebas akan menjadikan memiliki
kecenderungan pada perilaku seks bebas. Karena menurut Notoatmodjo (2003) bahwa
umur sangat mempengaruhi pengetahuan karena semakin tua umur seseorang maka
perilaku perkembangan mentalnya bertambah baik.
2. Tingkat Pengetahuan
Dari hasil penelitian yang dilakukan sebagian besar respoden memiliki tingkat
pengetahuan tentang pacaran yang sehat termasuk kategori baik sebanyak 23 (44,2%)
responden.
Tabel 2. Distribusi tingkat pengetahuan siswa kelas XII SMA Teuku Umar Kota
Semarang
Tingkat Pengetahuan
Kurang
Cukup
Baik
Jumlah
12
17
23
%
23,1
32,7
44,2
Total
52
100
5
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu obyek tersebut. Pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Dengan tingkat pengetahuan yang
baik tentunya tindakan yang dilakukannya berbeda dengan orang dengan tingkat
pengetahuan yang kurang atau cukup. Karena dengan tingkat pengetahuan yang baik
seseorang akan selalu mengambil sisi positif dan negatif dari hal-hal yang dilakukannya.
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden dengan tingkat
pengetahuan yang baik sebanyak 23 (44,2%) responden. Hal ini memberikan gambaran
bahwa tingkat pengetahuan responden tentang pacaran yang sehat telah dipahami siswa
dengan baik.
Pengetahuan tentang pacaran yang sehat dapat diperoleh lewat berbagai mass media
yang mengungkap tentang reproduksi sehat, dimana dalam materi-materi tentang
reproduksi sehat bagi remaja mengupas tentang pacaran yang sehat. Hasil ini sesuai
dengan pendapat Notoadmodjo (2003) yang menyatakan bahwa informasi tentang
pacaran yang sehat dapat diperoleh lewat televisi, radio, koran dan sebagainya.
Disamping itu pengetahuan tentang pacaran yang sehat juga dapat diperoleh bagi bagian
guru bimbingan dan konseling, dimana dari materi-materi yang diberikan oleh guru
bimbingan dan konseling mengungkap tentang pacaran yang sehat, akibat-akibat yang
ditimbulkan akibat pacarabn yang kurang baik seperti terjadinga kehamilan, tertularnya
penyakit dan lain-lain. Disamping itu factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
tentang pacaran yang sehat menurut Notoatmodjo (2003) berasal dari umur, intelegensi,
lingkungan, social budaya, pendidikan, informasi, pengalaman
6
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
3. Perilaku seks Bebas
Dari hasil penelitian yang dilakukan sebagian besar respoden dengan perilaku seks
bebas yang baik sebanyak 30 (57,7%) responden.
Tabel 3 Distribusi frekuensi perilaku seks bebas siswa kelas XII SMA Teuku umar
Kota Semarang
Perilaku
Jumlah
%
Kurang
22
42,3
Baik
30
57,7
Total
52
100
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati
langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku seks bebas adalah
bersetubuh yang dilakukan melalui beberapa tahan yaitu kissing (berciuman), necking
(cium leher), petting ( seks dalam dan menghindari kehamilan) intercourse (penetrasi
penih ke dalam vagina). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa perilaku
seas remaja sebagian besar termasuk dalam kategori
baik sebanyak 30 (57,7%)
responden. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar remaja dengan perilaku
seks bebas yang baik. Perilaku seks bebas yang baik tersebut dapat disebabkan oleh
faktor lingkungan, baik keluarga maupun lingkungan pergaulan.
Dengan lingkungan keluarga dan lingkungan pergaulan yang baik akan
mengakibatkan perilaku seks bebas yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono
(2003) bahwa perilaku seks bebas dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya
kurangnya menghayati ajaran agama, factor lingkungan keluarga dan pergaulan,
7
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
pengawasan masyarakat semakin menurun, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
yang kurang, penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan
teknologi yang canggih, adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria
dan wanita.
4. Hubungan tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku seks
bebas pada remaja di SMA Teuku Umar kota Semarang
Tingkat
Pengetahuan
Kurang
cukup
Baik
Total
Perilaku Seks bebas
Kurang
Baik
n
%
n
%
12
100
0
0,0
7
41,2
10
58,8
3
13,0
20
87,0
22
42,3
30
57,7
n
Total
12
17
23
52
%
100,0
100,0
100,0
100.0
Chi square = 24,442, p value = 0,000
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Teuku Umar kota Semarang
mengenai hubungan tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku
seks bebas pada remaja menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku seks bebas pada remaja. Hal ini
didasarkan pada hasil uji chi square yang diperoleh ρ value 0,000 (ρ < 0,05).
Pada responden dengan tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat yang
termasuk dalam kategori baik memiliki kecenderungan pada perilaku seks bebas yang
baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengetahuan seseorang dalam hal pacaran
yang sehat berhubungan dengan perilaku yang dilakukan. Karena dengan pengetahuan
yang baik tersebut responden lebih mengetahui akibat yang diderita apabila melakukan
seks bebas. Dimana akibat seks bebas bagi remaja adalah pada remaja pria tidak perjaka
dan remaja putri tidak perawan, menambah resiko tertular penyakit menular seksual
(PMS),
remaja putri terancam kehamilan yang tidak diinginkan, trauma kejiwaan
8
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
(depresi, rasa berdosa, hilang harapan masa depan), kemungkinan hilangnya kesempatan
untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan kerja.(Sarwono, 2003).
Sedangkan pada responden dengan tingkat pengetahuan kurang memiliki
kecenderungan pada perilaku seks bebas yang kurang baik. Hal ini dapat disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan tentang akibat perilaku seks bebas, pengaruh kemajuan teknologi
informasi yang banyak menayangkan situs-situs porno di internet sehingga menjadikan
para remaja memiliki keinginan untuk mencobanya. Dapat pula disebabkan oleh faktor
lingkungan pergaulan remaja yang kurang baik sehingga para remaja memiliki
kecenderungan pada perilaku seks bebas yang kurang baik.
SIMPULAN
Pada penelitian yang dilakukan di SMA Teuku Umar kota Semarang mengenai hubungan
tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku seks bebas pada remaja,
didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Sebagian besar responden dengan umur 17 tahun sebanyak 26 (50,0%) responden
2. Sebagian besar responden dengan tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat
termasuk dalam kategori baik sebanyak 23 (44,2%) responden.
3. Sebagian besar responden dengan
perilaku seks bebas yang baik sebanyak
30
(57,7%) responden.
4. Ada hubungan tingkat pengetahuan tentang pacaran yang sehat dengan perilaku seks
bebas pada remaja di SMA Teuku Umar kota Semarang dengan p value sebesar
0,000.
9
Dinamika Kebidanan
vol. 2 no.2. Agustus 2012
KEPUSTAKAAN
Alimul, H. 2003. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan ilmiah. Salemba Medika,
Bandung.
Al Mighwar Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Pustaka Setia, Bandung.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. PT Asdi Mahasatya, Jakarta.
Basri, H. 2004. Remaja Berkualitas, Problematika Remaja dan Solusinya. Mitra Pustaka,
Jakarta.
Charles, D dan Amy, G . 2006. Bicara soal Cinta, Pacaran, dan Seks. Erlangga, Jakarta.
Gilbert, P dan Nash, B. 2006. Panduan Kesehatan Seksual. Prestasi Pustaka, Jakarta.
Nanang, M.1999. Perkembangan Seksualitas Remaja. UNFPA, Bandung.
Marty Klein.1999. Tanya Jawab Paling Lengkap Tentang Seks. Mitra Utama, Jakarta.
Monks, F.J. 2006. Psikologi Perkembangan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta.
. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta.
Pardede. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Dekes RI,. Jakarta.
Pratiwi. 2004. Pendidikan Seks Untuk Remaja. Tugu Publisher, Yogyakarta.
Sarlito, W. 2005. Psikologi Remaja. Raja Grafindo Persada, Jakarta..
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang dan Permasalahannya. Sagung Seto, Jakarta.
Sugiyono. 2006. Statistika untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung.
Wenita. 2004. Ketika Anak Remaja. PT Gramedia, Jakarta.
Yusuf, Syamsu. 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung.
10
Download