Diskusi Penulisan Kitab Perjanjian Baru:Ibrani, Aramik

advertisement
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
DISKUSI PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU:
IBRANI, ARAMAIK ATAU GREEK?
TANGGAPAN ATAS EMAIL YOHANES TGL 21 MEI-2JUNI 2008
[SERI IV]
Shalom Alaika,
Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan tanggapan atas email Anda.
Komputer saya kembali mengalami kerusakan dan musti disambi mengerjakan
tugas-tugas lainnya yang berkaitan dengan tulis menulis. Untuk memudahkan
pembahasan, saya membuat klasifikasi pembahasan dalam beberapa kategori
pembahasan. Tujuan klasifikasi ini dimaksudkan untuk memudahkan pembahasan
dan fokus pada masing-masing kateori bahasan serta mengabaikan komentarkomentar elementer yang kurang perlu. Ibaratnya hendak memisahkan pasir dan
kerikil dari sungai, demikianlah yang saya lakukan. Membuang komentar yang
kurang perlu dan fokus pada isue-isue penting dalam diskusi kita. Untuk menjaga
obyektifitas, saya mengutip pernyataan Anda sesuai tanggal pernyataan Anda
dibuat, meski terkadang tidak sepenuhnya dikutip. Pemenggalan bukan untuk
mengurangi konteks argumentasi melainkan sekedar efektifitas saja. Kita mulai
dengan summayry yang Anda buat sbb: SUMMARY YOHANES [28 Mei 2008]:
Barangkali istilah yang lebih tepat adalah summary ketimbang konklusi, contoh:
Teguh: Naskah Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Yohannes: Naskah
Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Konklusi: Tidak ada.
I. MENGENAI KATA “GHOLGOTA”, “GABATHA”, “BETHESDA” DAN
HEBRAIDI DIALEKTON: ARAMAIK ATAU IBRANI?
Yohanes [21 Mei 2008]: Saya sama sekali tidak menulis tentang yang diduga
Aramaik, bahkan saya tulis dengan tegas bahwa kata-kata seperti TALITA
KUMI, EFATA, ABBA, RHAKA, dan sebagainya, adalah kata-kata Aram, bukan
dugaan
Yohanes [21 Mei 2008]: Lebih lanjut tentang HEBRAISTI, mengapa tidak Anda
bahas Yohanes 5:2; 19:13 dan 17, 20? Apakah kata-kata seperti BÊTHESDA,
GABBATHA, dan GOLGOTHA dan dalam ayat itu merupakan kata Ibrani?
Tulisan R.H. Charles itu cukup menarik karena menulis tentang they are
supposed to use the Syriac tongue, bukan the Hebrew tongue!
Yohanes [21 Mei 2008]:] Uniknya, New International Version menerjemahkan
kata HEBRAISTI menjadi Aramaic. When Pilate heard this, he brought Jesus out
1
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
and sat down on the judge's seat at a place known as the Stone Pavement
(which in Aramaic is Gabbatha). (John 19:13, NIV)
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008) :
Mengenai kalimat “yang diduga Aramaik” saya maksudkan bukan menyalin
secara keliru kalimat Anda, melainkan saya menyatakan bahwa apa yang Anda
yakini sebagai Aramaik saya anggap sebagai dugaan. Mengenai kata-kata
(yang menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik)
seperti “Gholgota”, “Gabata”, “Betesda”, “Talita”, “Efata”, “Abba”, “Raka”, saya
mengajak kita kembali kepada istilah “Hebraidi Dialekton”. Karena kata ini
disusul kemudian dengan nama-nama (meskipun tidak selalu demikian) yang
menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik.
GHOLGOTA (Yoh 19:17): Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat
yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota (~Ebrai?sti.
Golgoqa)
GABATA (Yoh 19:13): Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh
membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang
bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Ebrai?sti. de. Gabbaqa )
BETESDA (Yoh 5:2) : Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah
kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Bethzatha (Ebrai?sti. Bhqzaqa, ); ada lima
serambinya
TALITA (Mrk 5:41): Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kumi,"
(Taliqa koum) yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
EFATA (Mrk 7:34): Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik
nafas dan berkata kepadanya: "Efata!"(Effaqa), artinya: Terbukalah!
ABBA (Mrk 14:36): Kata-Nya: "Ya Abba (Abba), ya Bapa, tidak ada yang mustahil
bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku
kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
RAKA (Mat 5:22): Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah
terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya:
Raka (raka,()harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata:
More (Mwre,)! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Anda selalu merujuk pada huruf “alaf” (a ) atau “alfa” (a) sebagai status emphatic
pada nomina, yang khas Aramaik. Sebagaimana saya tegaskan bahwa tidak
2
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
disangkali ada sejumlah kata dan nama yang disinyalir Aramaik (contoh:
BARtimi {Mrk 10:46}, BARnaba {Kis 1:23}, BARsuma {Kis 13:6}, Abba (Mrk
14:36), Talita (Mrk 5:41). Namun penggunaan kata-kata tersebut TIDAK
MEMBUKTIKAN bahwa Yahshua (Yesus) bercakap-cakap SEPENUHHNYA
dalam bahasa Aramaik. Kita harus jujur pada teks bahwa kata-kata tersebut
disebut dengan ‘HEBRAISTI/HEBRAIDI DIALEKTON”. Persoalannya apa yang
dimaksud dengan “Hebraidi Dialekton?” Sekalipun NIV dan beberapa sarjana
menduga bahwa kata tersebut Aramaik, namun akhir-akhir ini berbagai
penelitian mengarah pada kesimpulan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical
Literatur, 1960, yang dikutip D. Bivin dan R. Blizzard sbb:
“Penyelidikan atas tulisan Yosephus [ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms,
red] menunjukkan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut
“glota Ebraion” [lidah Ibrani] dan “Ebraion dialekton” [dialek Ibrani, dia selalu
memaksudkan artinya, “bahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain” (Understanding
the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42)
Kata “Hebraidi Dialekton” muncul juga dalam kitab-kitab Apokrif pra Mesias
seperti Sirakh 1:22 ( auvta. evn e`autoi/j Ebrai?sti. lego,mena kai. o[tan metacqh/| eivj e`te,ran
glw/ssan [For what was originally expressed in Hebrew does not have exactly the
same sense when translated into another language New Revised Standard
Version]) dan 4 Makabe 12:7 (o` de. th/j mhtro.j th/| Ebrai<di fwnh/| protreyame,nhj auvto,n w`j
evrou/men meta. mikro.n u[steron [But when his mother had exhorted him in the Hebrew
language, as we shall tell a little later, Revised Standard Version])
Dengan dasar pemahaman di atas kita seharusnya jujur pada teks bahwa kata
Kata “Hebraidi Dialekton” tiada lain adalah bahasa Ibrani. Bahkan ketika Rasul
Paul menenangkan orang-orang Yahudi, dia berbicara kepada mereka dalam
bahasa Ibrani, “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia
berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu;
ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam
bahasa Ibrani, katanya:… (th/| ~Ebrai<di diale,ktw| le,gwn Kis 21:40). Bahkan Peshita
Aramaik pun menggunakan kata “Ebrayt” (tyarb[). Mengatakan kata “Hebraidi
Dialekton” sebagai “Aramaik” jelas terlalu memaksakan asumsi pada teks. Jika
memang benar Aramaik, seharusnya dipergunakan kata “Suristi Dialekton”.
Maka kata-kata “Gabata”, “Betesda”, “Gholgota”, seharusnya dipahami dalam
konteks kata sebelumnya yaitu “Hebraidi Dialekton” alias bahasa Ibrani.
Persoalannya adalah, jika memang kata-kata yang disinggung di atas adalah
Ibrani, mengapa diakhiri dengan huruf “alfa (a)?” (Contoh: Gabbaqa , Golgoqa).
Mengikuti pandangan Penner dalam Douglas Hamp (Discovering Language of
Jesus, 2005) diperoleh keterangan sbb:
3
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
“Gramar Yunani dari Blass-Debrunner-Funk, menjelaskan bahwa akhiran-akhiran
alfa dapat ditambahkan pada kata-kata semitik pinjaman untuk menolong
pelafalan [pengucapan], sebagaimana terjadi atas bentuk sabbata. Bahasa
Yunani tidak menyukai kata-kata yang berakhir dengan satu konsonan [huruf
mati] penghenti seperti ‘Tau’. Alfa adalah bunyi alami yang ditambahkannya,
untuk menjaga kata itu agar tidak berakhiran konsonan”
Dari penjelasan di atas, huruf akhir “alfa” (a) BELUM TENTU setara dengan
ungkapan Aramaik yang menggunakan huruf akhir “alaf” (a ). Menurut rumusan
bahasa Aramaik, akhiran huruf “alaf” (a ) ini berperan sebagai artikel definit
atau kata sandang penentu (yang artinya ini, itu) yang dituliskan pada akhir
sebuah kata (Contoh: Kata “shamaya” aymv {aymv} yang artinya “langit itu”
dalam Matius 26:4).
Sekalipun kata/nama yang disinyalir sebagai Aramaik tersebut mengandung
huruf akhir “alaf” sebagaimana di bawah ini, namun pembacaan dalam
Peshitta, berbeda dengan naskah Yunani.
Flwgg (atlwgg): GGOLTA
Fpypg (atpypg): GPYPTA
adsx-tyb
(adsx-tyb):
KHSDA
Fyljd (atyljd): DTLYTA
Xtpta (tpta): ETPT
aba (aba): ABA
aqr (aqr): RQA
BET
Golgoqa : GOLGOTA
Gabbaqa : GABBATHA
Bhqzaqa, : BETHZATA
Taliqa : TALITHA
Effaqa : EPHPHATHA
Abba : ABBA
raka, : RAKA
Mengapa berbeda pembacaan? Pertama, kita melihat bahwa naskah Yunani
tidak melakukan transliterasi nama atau kata melainkan melakukan translasi
bunyi (Band. Ggolta menjadi Golgota, Bet Khasda menjadi Bethzata). Kedua,
huruf-huruf Yunani tidak memiliki huruf yang setara dalam bahasa Ibrani
seperti “heh” (h), “khet” (x), “shin” (v), “yod” (y). Sehingga alam beberapa kasus,
kata yang mengandung unsur “khet” (x), biasanya hilang atau diganti dengan
kata yang setara (Contoh: ~x,l,-tybe {Bet Lekhem} menjadi Bhqle,em (Bethleem).
Atas dasar ini, kita tidak bisa secara tergesa-gesa menyimpulkan bahwa
penulisan kata/nama tersebut Aramaik. Apalagi huruf “alfa” di akhir kata
Yunani (menjaga agar tidak berakhir dengan konsonan) TIDAK SETARA
penggunaannya dengan huruf “alaf” dalam Aramaik (sebagai kata sandang).
4
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Untuk menghilangkan keraguan apakah kata atau nama tersebut Aramaik atau
Ibrani, harus kembali kepada pengertian kata “Hebraidi/Hebraisti Dialekton”
yang artinya benar-benar memang Ibrani dan bukan Aramaik. Namun
demikian bukan sama sekali kata Aramaik atau percakapan dalam bahasa
Aramaik sama sekali tidak berfungsi saat Yahshua bercakap-cakap, namun
bahasa itu tidak dominan. Apalagi jika merujuk pada kesaksian Yohanes
19:19-20, tertera tiga bahasa penting saat itu sbb: Dan Pilatus menyuruh
memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "(Yahshua), orang
Nazaret, Raja orang Yahudi." Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu,
sebab tempat di mana (Yahshua) disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata
itu tertulis dalam bahasa Ibrani (Ebrai?sti, : Hebraisti), bahasa Latin (~Rwmai?sti, :
Rhomaisti) dan bahasa Yunani (Ellhnisti, : Hellenisti). TIDAK ADA kata-kata
yang menyebutkan SURISTI atau BAHASA ARAM. Maka dapat disimpulkan
bahwa bahasa ibu yang berlaku pada waktu itu adalah Ibrani yang mengalami
asimilasi bahasa dengan bahasa Aramaik.
Mengenai Surat Aristeas, jangan Anda memotong kalimat dari konteksnya.
Frasa, “They are suppsosed to use the Syriac tongue…” jangan dilepaskan
dari kalimat berikutnya, (sehingga mengesankan orang-orang Yahudi sedang
berbicara Aramaik)“…but this not the case; their language is quite different”.
Pengutipan karya Prof. Drs. H. Kristian Sugiyarto, MSc.,Pd.D., sah-sah saja,
sekalipun dia sedang terlibat diskusi dengannya. Tidak ada kaidah yang
melarang atau mengharuskan bahwa orang yang berdiskusi dengan lawannya,
sumber-sumber kajiannya tidak dapat dikutip. Pengutipan karya beliau
didasarkan kajiannya yang memiliki bobot akademis.
Tanggapan Budi Asali:
Pembicaraan di atas ini tidak penting. Tak ada gunanya mempersoalkan
Yesus berbicara dalam bahasa apa. Yang penting, dituliskannya kata-kata
Yesus dalam Kitab Suci adalah menggunakan bahasa Yunani.
II. MENGUJI VALIDITAS PERNYATAAN BAHWA KITAB PERJANJIAN BARU
DITULIS DALAM BAHASA YUNANI
Yohanes [23 Mei 2008]: Kalo ingin penegasan, Perjanjian Baru ditulis dalam
bahasa Yunani. Ini adalah pendapat saya.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008)
5
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Tidak dapat ditolak bahwa salinan Perjanjian Baru yang jumlahnya 5000-an
naskah telah sampai kepada kita sebagai naskah primer sumber penerjemahan
Kitab Suci dalam berbagai bahasa. Bahkan angka tahun yang mendekati tahun
150 Ms, semakin membuktikan eksistensi dan originalitas Kitab Perjanjian Baru
berbahasa Yunani. Namun kita harus mempertimbangkan data-data induktif
yang berasal dari Kitab Suci mauupun sumber-sumber di luar Kitab Suci
sebagai berikut:
• Bahasa yang dipergunakan pada zaman Yahshua adalah Ibrani (beberapa
dengan Aramaik), Latin dan Yunani (Yoh 19:19)
Tanggapan Budi Asali:
Ibrani sudah berubah menjadi Aram gara-gara pembuangan. Dan
penjajahan Romawi menambahkan bahasa Yunani pada kebiasaan mereka
dalam berbicara. Sangat sedikit orang yang masih bisa berbicara bahasa
Ibrani.
• Secara genealogis antropologis, Yahshua lahir dari suku Yahuda (Ibr 7:14),
maka bahasa ibu Yahshua adalah Ibrani. Aspek-aspek kemanusiaan Yahshua
yang Yahudi terekspresi dalam gaya hidup dan perilakunya termasuk
bahasanya(baca
tulisan
saya
YAHSHUA,
YAHUDI,
YUDAISME,
www.messianic-indonesia.com)
Tanggapan Budi Asali:
Ini argumentasi apa? Sama sekali tidak punya kekuatan. Kebangsaan tidak
membuktikan bahasa yang digunakan adalah bahasa bangsanya. Saya
orang Cina, punya nama Cina, bapa dan ibu Cina, tetapi tidak bisa bahasa
Cina. Itu juga bisa terjadi pada siapapun, termasuk Yesus!
• Rekaman pembicaraan antara Yahshua dan orang-orang yang bertemu serta
bercakap-cakap dengannya, selalu disertai terjemahan Yunaninya dalam
(Contoh: Elwi elwi lama, sabacqani o[ evstin meqermhneuo,menon ~O qeo,j mou Îo` qeo,j mouÐ eivj ti,
evgkate,lipe,j me {Eloi-Eloi lama sabakhthani ho estin methermeneuomenon, ho
Theos mou [ho Theos mou] eis ti egkatelipes me, Mat 27:46 kai. krath,saj th/j
ceiro.j tou/ paidi,ou le,gei auvth/| Taliqa koum o[ evstin meqermhneuo,menon To. kora,sion soi. le,gw
e;geire {Kai kratesas tes cheiras tou paidiou legei aute Talita koum, ho estin
methermeneuomenon to korasion soi lego egeiro, Mrk 5:41. Cat: kata
6
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
meqermhneuo,menon {methermeneuomenon} bermakna YANG ARTINYA, sebagai
bentuk penjelasan kepada pembaca bukan Yahudi)
Tanggapan Budi Asali:
Justru adanya kata-kata Aram atau Ibrani yang tahu-tahu masuk ke dalam
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa
Yunani, tetapi kadang-kadang ada kata-kata Ibrani atau Aram, yang lalu
diberi terjemahannya dalam bahasa Yunani. Kalau Perjanjian Baru dalam
Ibrani atau Aram, maka kata-kata Aram / Ibrani itu tidak mungkin bisa dberi
terjemahan!
• David Alan Black yang berjudul, NEW TESTAMENT SEMITISM (The Bible
Translator 39/2, April 1988, pp. 215-223), memberikan penelitian ringkas
mengenai banyak hal yang berkaitan dengan Semitisme dalam Kitab
Perjanjian Baru Yunani (The Semitic Style of the New Testament, Michael D.
Marlowe, www.bible-researcher.com)
¾ Casus Pendens. Meskipun casus pendens [istilah teknis umum dalam
tata bahasa yang diambil dari bahasa latin untuk menerjemahkan “kasus
yang menggantung”] diberlakukan dalam bahasa Yunani Klasik, namun
susunannya lebih banyak muncul dalam bahasa Ibrani dan Aramaik
dibandingkan bahasa koine. Contoh nyata muncul dalam Matius 6:4, “kai
ho pater sou ho blepon en to krypto autos adoposei soi”. Kalimat ini
mengekspresikan idiom Ibrani sebagai, “Dan Bapamu yang melihat di
tempat tersembunyi, maka Dia akan memberimu upah”. Cara tersebut
merupakan cara rumit yang tidak biasa dilakukan dari sebuah kalimat,
“Dan Bapamu yang melihat di tempat tersembunyi akan memberimu
upah” [GNB, NIV, NEB]. Meskipun susunan tersebut tidak dapat
dijelaskan sebagai satu-satunya yang bercorak Semitik, namun
kemunculannya yang berlebihan [prepoderance] dalam perkataan
Yahshua, mendukung pandangan bahwa ini merupakan hasil terjemahan
naskah Yunani belaka.
¾ Koordinasi Anak Kalimat [Coordination of clauses]. Dalam bahasa
Yunani klasik, kalimat biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok
dan kata kerja lainnya dibawahnya dalam bentuk anak kalimat
keterangan atau jenis lainnya. Di sisi lain, bahasa Ibrani cenderung
7
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
meletakkan kata kerja satu demi satu, menggabungkan mereka bersama
dalam kata penghubung sederhana [bahasa Ibrani, “waw”, “dan”]. Ini
yang dikenal dengan sebutan parataxis, dari kata paratasso, “saya
meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa Yunani koine, susunan
demikian tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu dijelaskan
kemunculannya yang kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun
kemunculan secara tetap kata “dan” [Yunani, “kai”] dalam Kitab
Besorah/Injil merupakan pemaksaan yang berlebihan [overstraining]
dalam tulisan bahasa Yunani. Dalam Besorah/Injil, jenis demikian
merupakan karakteristik menonjol dalam Markus, yang merupakan
contoh tunggal dari panjangnya kalimat dalam bahasa Yunani dengan
kata penghubung bersusun [subordinating participles] [Band. Mark 5:2527]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan dalam Markus 10:33-34
sbb: “kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan [kai] Putra
Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan [kai] ahli-ahli
Torah dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan [kai] mereka
akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal
Tuhan, dan [kai] Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai]
dibunuh, dan [kai] sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita melihat
gaya bahasa Yunani yang khas, mungkin, barangkali, telah di
subordinasi oleh salah satu atau lebih anak kalimat dengan
menggunakan kata penghubung atau anak kalimat penghubung [relative
clauses]. Beberapa terjemahan seperti KJV dan RSV mencerminkan
corak Semitik dan memunculkan corak yang janggal [stylistically
awkward] tersebut dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa
Inggris lainnya yang mengakui idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan
restrukturisasi terhadap pelanggaran tata bahasa [restructure the gramar
slaightly] untuk menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam
bahasa Inggris [band. Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan
parataxis sebagai indikasi latar belakang Semitik, dibicarakan secara
panjang lebar dalam artikel J.B. Lightfoot mengenai Corak Khas
Besorah/Injil Yokhanan {Style of John’ Gospel} dalam situs ini,
www.bible-researcher.com]
¾ Penggunaan Kata Ganti Yang Berlebihan [Redundant pronouns].
Kata ganti penghubung [relatif pronoun] dalam bahasa Ibrani, tidak dapat
berubah bentuk [indeclinable] dan tanpa jenis kelamin [genderless],
sehingga memerlukan kata ganti orang dalam anak kalimat yang
diikutinya. Hal ini mempengaruhi sejumlah bagian dalam Kitab Perjanjian
baru yang mana merupakan kata ganti yang tidak diperlukan yaang
muncul setelah adanya kata penghubung, sebagaimana dalam Markus
7:25 yang secara literal dibaca, “seorang ibu yang dia sendiri [autou],
8
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
yang anak perempuan miliknya [autes] kerasukan roh jahat, segera
mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.”
Susunan demikian mungkin saja dalam bahasa Yunani namun bukan asli
Yunani, sebagaimana aslinya dalam bahasa Ibrani dan Aramaik.
¾ Pengganti Untuk Kata Ganti Tidak Tentu [Subtitutes for the
indefinite pronoun]. Penggunaan kata “eis” ,“seorang” dan
“anthrophos”, “seorang manusia”, “seorang pribadi”, sebagai pengganti
bagi kata ganti tidak tentu [indefinite pronoun] “tis”, “orang yang pasti”,
“seseorang yang jelas”, yang pararel dengan bahasa Yunani koine,
namun asal-usulnya dalam Kitab Perjanjian Baru, sama sekali Semitik.
Contoh penggunaan “eis” sebagai kata ganti tidak tentu [indefinite
pronoun] dibagi dalam dua bagian:
ƒ Dimana “eis” berfungsi sebagai kata sifat [adjective], sebagaimana
dalam Matius 8:19, “seorang Ahli Kitab Suci” [Greek: eis
grammateus]
ƒ Dimana “eis” berfungsi sepenuhnya sebagai kata ganti, umumnya
diikuti oleh konstruksi milik [genitive construction] atau partitive
“ek”, sebagaimana nampak dalam Markus 5:22, “kepala rumah
ibadat” [Greek: eis toun archisunagougoun]. Penggunaan kata
“anthropos”, “orang laki-laki” dengan cara seperti ini [seperti
bahasa Ibrani “ish” dan Aramaik “barnash”] sangat banyak
ditemukan dalam ucapan-ucapan Yahshua dan banyak contohcontoh yang berasal dari Besorah/Injil Markus [Band. Mark 1:23;
3:1; 4:26; 5:2; 10:7; 10:9; 12:1]
¾ Penggunaan Kata Depan Secara Berlebihan [Redundant use of the
preposition] Ciri-ciri karakteristik [a characteristic feature] penggunaan
bahas semitik adalah pengulangan kata depan [repetition of a
preposition]
sebelum
setiap
rangkaian
kata
benda
yang
mempengaruhinya. Susunan demikian tidak dapat ditolerir dalam kalimat
bahasa Yunani. Pengulangan yang bersifat Semitik, muncul tidak kurang
sekitar tujuh kali dalam Kitab Markus [Contoh: Mrk 3:7-8; 6:56; 11:1, kata
“pros” dan “apo”]. Penting untuk diketahui dalam mana terjemahanterjemahan berbahasa Inggris yang berbeda, menyajikan penggunaan
kata depan secara berulang kali, Beberapa pengulangan kata depan
berualng kali muncul dalam rangkaian, sebagaimana dalam Markus 3:78 [Band. KJV dan RSV]; sementara terjemahan lainnya hanya mengawali
dengan kata depan, tindakan yang lebih dikarenakan mematuhi idiom
Inggris [Band. NIV, JB, NEB].
Tanggapan Budi Asali:
9
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
a) Tak ada yang aneh kalau bahasa Yunani yang digunakan oleh penulis-penulis
Perjanjian Baru berbau bahasa Ibrani, karena memang bahasa Yunani yang
digunakan pada saat itu adalah Hebraic Greek atau Jewish Greek.
Mungkin ini sama seperti kalau orang Indonesia menggunakan bahasa Inggris,
maka Inggrisnya adalah Inggris Jowo! Dan kalau orang Amerika menggunakan
bahasa Inggris, maka bahasanya adalah American English, yang seringkali berbeda
dengan British English.
The International Standard Bible Encyclopedia dengan topik ‘language of the New
Testament’): “it was Hebraic Greek, a special variety, if not dialect, of Biblical
Greek. ... Winer (Winer-Thayer, 20) had long ago seen that the vernacular koine
was ‘the special foundation of the diction of the New Testament,’ though he still
admitted ‘a Jewish-Greek, which native Greeks did not entirely understand’ (p.
27)” [= itu adalah bahasa Yunani yang bersifat Ibrani, suatu jenis khusus, jika
bukannya suatu dialek, dari bahasa Yunani Alkitab. ... Winer (WinnerThayer, 20) sejak lama telah melihat bahwa bahasa Koine daerah adalah
‘fondasi khusus dari gaya menulis Perjanjian Baru’, sekalipun ia tetap
mengakui ‘suatu bahasa Yunani yang bersifat Yahudi, yang orang-orang asli
Yunani tidak sepenuhnya mengerti’ (hal 27)] - dari PC Study Bible 5.
Contoh:
1. Dari kata-kata Kristian Sugiyarto (ini wong Jowo / orang Jawa yang
menggunakan bahasa Inggris!).
a. Kutipan pertama.
Kristian Sugiyarto: “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu
tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama
Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! ... Menurut pemahaman
umum, pribadi yang berhak memberi / mengganti nama adalah pribadi
yang mempunyai authority. ... Mereka yang memberi atau mengganti
nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi / diganti
nama. Anda (dan kelompok sejenis) bertindak justru mengganti nama
Yahweh menjadi LORD, GOD, TUHAN, ALLAH, dst. When and how
did you get the such authority to do so? ... Menurut saya ini adalah
tindakan sangat-sangat lancang”.
b. Kutipan kedua.
Kristian Sugiyarto: “Ketika Yahshua (Yesus) pada hari Sabat di Sinagoge
membaca Kitab Yes.61:1-2 sebagaimana dikisahkan pada Luk. 4:18-19,
10
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
kitab berbahasa apa yang dibaca oleh Yesus? Ibrani bukan? Kedua ayat
ini menulis Adonai YHWH 1 kali dan YHWH 2 kali; jika YHWH dibaca
Adonai apakah akan ada yang terbaca Adonai Adonai?. Selain itu
berarti nama ini ‘no meaning in term of nothing to do with the name of
the Son Yahshua’. Thus, Yahshua should read Yahweh (instead of
Adonai), sebab pada saat itulah Ia memproklamasikan bahwa diri-Nya
diurapi oleh Yahweh sebagai Mesias (ay 21)”.
Kristian Sugiyarto ini punya gelar Ph. D., jadi mestinya bisa berbahasa Inggris.
Tetapi perhatikan kedua bagian yang saya garis-bawahi. Itu bahasa Inggris apa?
Inggris Jowo? Dalam kutipan pertama, menurut saya, kata ‘the’ atau kata ‘such’
pada bagian yang saya garis-bawahi, harus dibuang, karena kalau keduanya
digunakan kalimatnya jadi aneh. Dan pada kutipan kedua, saya tidak tahu
bagaimana harus membetulkan kata-kata bahasa Inggris yang kacau tersebut.
Tetapi biarpun bahasa Inggrisnya aneh, itu tetap bahasa Inggris, bukan? Ia
bukannya menulis dalam bahasa Indonesia / Jawa, yang lalu diterjemahkan ke
Inggris! Jadi, kesimpulannya, ‘aneh’ tak berarti itu mesti diterjemahkan dari
bahasa lain.
2. Dari John Owen.
Ada seorang ahli theologia Reformed yang berasal dari Inggris, namanya John
Owen (1616-1683). Ia adalah orang yang jenius, masuk College / perguruan
tinggi pada usia 12 tahun! Sebagai orang Inggris, maka bahasa aslinya / bahasa
ibunya adalah bahasa Inggris. Tetapi pada jamannya bahasa theologia banyak
menggunakan bahasa Latin. Dan John Owen mempelajari bahasa Latin
sedemikian rupa, sehingga ia tidak lagi berpikir dalam bahasa Inggris, tetapi
dalam bahasa Latin. Tetapi pada waktu ia menuliskan buku-bukunya, ia menulis
dalam bahasa Inggris. Apa yang terjadi? Segala macam keanehan, khususnya
dalam hal pengalimatan, sehingga orang Amerikapun sukar mengerti bukunya,
bukan hanya karena theologianya yang sangat mendalam, tetapi khususnya
karena bahasanya, yang adalah bahasa Inggris yang berbau Latin.
3. Dari bahasa Inggris yang digunakan oleh orang-orang Amerika (USA).
Orang-orang Amerika tak terlalu peduli gramatika, sehingga mereka sering
sekali menggunakan kata-kata / ungkapan yang sangat salah kalau ditinjau dari
sudut gramatika bahasa Inggris. Misalnya:
a. Kalau saudara melihat di film-film, mereka sering berkata ‘Long time no
see’ (= lama tak jumpa). Ini bahasa Inggris apa?
b. Mereka sering berkata ‘He don’t ...’, padahal anak yang baru belajar bahasa
Inggrispun tahu kalau seharusnya ‘He doesn’t ...’.
11
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
c. Mereka sering menggunakan double negatives, seperti ‘I didn’t see
nothing’, padahal lagi-lagi orang yang baru belajar bahasa Inggris pasti tahu
bahwa seharusnya adalah ‘I didn’t see anything’.
Contoh-contoh ini menunjukkan penggunaan bahasa Inggris yang salah, yang
mungkin sekali tak bakal dijumpai dalam kalangan orang-orang yang betul-betul
menggunakan British English di negara Inggris sendiri. Tetapi apakah karena
ada kesalahan / keanehan, itu lalu tidak bisa dianggap sebagai bahasa Inggris dan
harus dianggap sebagai terjemahan dari bahasa lain? Tentu saja tidak, itulah
American English!
Jadi, apakah aneh kalau orang-orang Yahudi yang menggunakan bahasa Yunani itu
lalu menggunakan bahasa Yunani yang aneh? Itulah Hebraic Greek, atau bahasa
Yunani yang berbau Ibrani / Aram. Mungkin mereka berpikir dalam bahasa Ibrani /
Aram tetapi menulis dalam bahasa Yunani sehingga muncul keanehan2 seperti itu.
Itu tidak membuktikan bahwa itu ditulis dalam bahasa Ibrani / Aram, yang lalu
dterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.
• Saya sarankan Anda membaca tulisan Christopher Lancaster, WAS THE NEW
TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK? A Concose Compendium of
the Many Internal and External Evidences of Aramaic Peshitta Primacy
(www.watch.pair.com/peshitta.html). Sekalipun saya tidak menyetujui bahwa
Yahshua bercakap-cakap sepenuhnya dalam bahasa Aramaik menggantikan
Ibrani, namun setidaknya pengkajian sumber Peshitta Aramaik menyatakan
bahwa ada banyak perbedaan dengan naskah Yunani, sehingga Christopher
Lancaster menyimpulkan bahwa naskah Perjanjian Baru pada mulanya bukan
ditulis dari bahasa Yunani. Berikut kutipan pengantar Christopher Lancaster:
“There are many Christians who believe that the New Testament was
written in Aramaic, particulary in the East (Christianity is after all, an Eastern
religion). But they have been a rather silent minority. It is time to raise our
voices, and present the evidence. …This book will show you many errors
and contradictions in the Greek text, which are solved by the Aramaic. It will
show you variants in the many Greek manuscript families that are explained
by the Peshitta. It will show you how scribbal errors in the Greek translations
have led to confused beliefs, compared to crystal-clear teaching in Aramaic”
Tanggapan Budi Asali:
12
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Lagi-lagi argumentasi yang lucu. Teguh Hindarto ini mau membuktikan
bahasa asli Perjanjian Baru itu bahasa apa? Apakah ia mau membuktikan
bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah ‘bahasa Ibrani’ atau ‘asal bukan
bahasa Yunani’?
Tentang tuduhan adanya kekeliruan dalam Perjanjian Baru Yunani ini ada beberapa hal
yang perlu ditekankan:
1. Saya tak mengclaim bahwa manuscripts Perjanjian Baru Yunani yang manapun
sebagai ‘inerrant’ (= tak ada salahnya). Yang betul-betul inerrant hanya
autographnya (= Kitab Suci asli yang langsung ditulis oleh penulis-penulis Kitab
Suci), dan itu sudah tidak ada lagi.
2. Versi yang lebih benar belum tentu adalah bahasa aslinya.
Kalau ada 2 versi, apakah versi yang kelihatannya lebih benar, selalu adalah versi
bahasa aslinya? Kalau ya, bagaimana dengan contoh-contoh di bawah ini:
a. 2Raja 8:25-26 - “(25) Dalam tahun kedua belas zaman Yoram, anak Ahab
raja Israel, Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. (26) Ia
berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun
lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu
Omri raja Israel”.
2Taw 22:2 - “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia
menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama
ibunya ialah Atalya, cucu Omri”.
Tetapi dalam terjemahan NIV keduanya dituliskan ‘twenty-two years’ (= dua
puluh dua tahun)! Tetapi pada 2Taw 22:2 versi NIV diberi catatan kaki sebagai
berikut: ‘Some Septuagint manuscripts and Syriac (see also 2 Kings 8:26);
Hebrew forty-two’ [= Beberapa versi Septuaginta dan Syria / Aram (lihat juga
2Raja 8:26); Ibrani: empat puluh dua].
Jelas bahwa terjemahan Kitab Suci Indonesia yang diambil dari bahasa Ibrani
pasti salah, karena terjadi kontradiksi! Padahal yang salah ini diambil dari
manuscripts Ibrani, yang menuliskan ’42 tahun’. NIV lebih benar, karena untuk
kedua text NIV menuliskan ’22 tahun’, tetapi ini justru diambil dari beberapa
manuscripts Septuaginta dan Syria / Aram!
Apakah dengan demikian kita harus menyimpulkan bahwa Yunani atau Syria /
Aram, atau bahkan Inggris, merupakan bahasa asli dari Perjanjian Lama, karena
mereka memberikan yang lebih benar?
b. Dalam 2Sam 24:13 dikatakan bahwa hukuman kelaparan yang ditawarkan untuk
Daud adalah ‘tiga tahun’, tetapi dalam KJV/NASB dikatakan ‘seven years’ (=
tujuh tahun). Sedangkan dalam ayat paralelnya, yaitu dalam 1Taw 21:11-12
semuanya mengatakan ‘tiga tahun’.
13
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
1Taw 21:11-12 - “(11) Kemudian datanglah Gad kepada Daud, lalu
berkatalah ia kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau
memilih: (12) tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri
dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau
tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan
malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang
Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan
kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘three years’ (= tiga tahun).
2Sam 24:13 - “Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan
kepadanya dengan berkata kepadanya: ‘Akan datangkah menimpa engkau
tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri
tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar
engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka
sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan
kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘seven years’ (= tujuh tahun).
Tetapi NIV/RSV, yang dalam 2Sam 24:13 mengatakan ‘tiga tahun’,
memberikan catatan kaki bahwa yang dalam 2Sam 24:13 ini diambil dari LXX /
Septuaginta, sedangkan manuscripts Ibraninya mengatakan ‘tujuh tahun’. Jadi,
dalam Ibraninya ada kontradiksi, sedangkan dalam LXX / Septuaginta tidak.
Apakah ini menunjukkan bahwa Yunani adalah bahasa asli dari Perjanjian
Lama?
c. 1Sam 6:19 - “Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka
melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari
rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka
dengan dahsyatnya”.
KJV: ‘fifty thousand and three score and ten men’ (= lima puluh ribu tujuh
puluh orang).
NASB: ‘50.070 men’ (= 50.070 orang).
Dalam NIV dikatakan 70 orang, sama seperti dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi
catatan kaki NIV mengatakan bahwa bilangan 70 ini diambil dari sedikit
manuscripts Ibrani, sedangkan mayoritas manuscripts Ibrani dan LXX
menyebutkan 50.070 orang (lima puluh ribu tujuh puluh)!
Adam Clarke mengatakan bahwa jumlah 50.070 ini mustahil, karena tidak
mungkin desa sekecil Bet-Semes mempunyai penduduk sebanyak itu. Dan lebih
tidak mungkin lagi kalau orang sebanyak itu bisa semuanya melihat ke dalam
tabut perjanjian.
14
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Adam Clarke juga mengatakan bahwa 3 manuscript Ibrani yang menyebutkan
’70 orang’ adalah manuscripts hasil abad 12, yang jelas tidak bisa dianggap
sebagai manuscripts tua.
Sekarang, kalau bilangan ‘70’ itu masuk akal, sedangkan bilangan dari
manuscript Ibrani yang menyebutkan ‘50.070’ jelas tak masuk akal, apakah
dengan ini kita harus mengatakan bahwa bahasa asli dari Perjanjian Lama adalah
Indonesia atau Inggris?
d. Kej 4:8 - “Kata Kain kepada Habel, adiknya: ‘Marilah kita pergi ke
padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel,
adiknya itu, lalu membunuh dia”.
KJV: ‘And Cain talked with Abel his brother: and it came to pass, when they
were in the field, that Cain rose up against Abel his brother, and slew him’ (=
Dan Kain berbicara dengan Habel saudaranya; dan terjadilah, pada saat mereka
ada di padang, Kain bangkit terhadap Habel saudaranya, dan membunuhnya).
NASB: ‘And Cain told Abel his brother. And it came about when they were in
the field, that Cain rose up against Abel his brother and killed him’ (= Dan Kain
memberitahu Habel saudaranya. Dan terjadilah pada waktu mereka ada di
padang, bahwa Kain bangkit terhadap Habel saudaranya dan membunuhnya).
RSV: ‘Cain said to Abel his brother, ‘Let us go out to the field.’ And when they
were in the field, Cain rose up against his brother Abel, and killed him’ (= Kain
berkata kepada Habel saudaranya, ‘Marilah kita keluar ke padang’. Dan pada
waktu mereka ada di padang, Kain bangkit terhadap saudaranya Habel, dan
membunuhnya).
NIV: ‘Now Cain said to his brother Abel, ‘Let’s go out to the field.’ And while
they were in the field, Cain attacked his brother Abel and killed him’ (= Kain
berkata kepada saudaranya Habel, ‘Marilah kita keluar ke padang.’ Dan
sementara mereka ada di padang, Kain menyerang saudaranya Habel dan
membunuhnya).
Perhatikan bahwa KJV dan NASB tidak mempunyai kata-kata itu, tetapi Kitab
Suci Indonesia, RSV, dan NIV mempunyainya.
Dan NIV memberikan footnote tentang kata-kata itu yang berbunyi sebagai
berikut: “Samaritan Pentateuch, Septuagint, Vulgate and Syriac; Masoretic
Text does not have ‘Let’s go out to the field.’” [= Pentateuch Samaria,
Septuaginta, Vulgate dan Aram; Text Masoretic (Ibrani) tidak mempunyai
kata-kata ‘Marilah kita keluar ke padang’.]
RSV juga memberikan catatan kaki yang bunyinya senada dengan catatan kaki
dari NIV.
Sekalipun pasti ada pro dan kontra berkenaan dengan penambahan ini, tetapi
Adam Clarke dan Jamieson, Fausset & Brown menyetujui penambahan itu, dan
15
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
menganggapnya ada dalam text aslinya, tetapi hilang dalam penyalinan. Alasan
mereka adalah sebagai berikut:
Kata-kata ‘Cain talked with Abel his brother’ (= Kain berbicara dengan Habel
saudaranya) dalam terjemahan KJV sebetulnya salah. Mengapa? Karena kata
Ibrani yang diterjemahkan ‘talk with’ (= berbicara dengan) seharusnya
terjemahan hurufiahnya adalah ‘said’ (= berkata). Kalau diterjemahkan ‘talked
with’ (= berbicara dengan), maka memang tak perlu kata-kata Kain dituliskan.
Jadi, kalimat itu tetap masuk akal sekalipun kata-kata tersebut tak ditambahkan.
Tetapi kalau diterjemahkan ‘said’ (= berkata), maka tanpa penambahan katakata yang diucapkan oleh Kain, kalimat itu menjadi tidak masuk akal.
Selain itu, Adam Clarke mengatakan bahwa dalam Alkitab Ibrani edisi yang
terbaik dalam bagian ini diberi spasi kosong, dengan suatu tanda yang menunjuk
pada catatan tepi, yang mekan bahwa di sini ada suatu kekurangan dalam text
itu.
Juga, penambahan itu tidak ada dalam semua manuscripts Ibrani, bahkan yang
paling kuno, tetapi penambahan itu, sekalipun agak berbeda-beda, ada dalam
boleh dikatakan semua versi-versi kuno seperti Text Samaria, Aram, Vulgate,
LXX / Septuaginta, Targum Babilonia, dan Coptic Mesir.
Adam Clarke (tentang Kej 4:8): “‘Cain talked with Abel his brother.’
WAYO'MER QAYIN, ‘and Cain said,’ etc.; not ‘talked,’ for this construction
the word cannot bear without great violence to analogy and grammatical
accuracy. But why should it be thus translated? Because our translators could
not find that anything was spoken on the occasion, and therefore they
ventured to intimate that there was a conversation, indefinitely. In the most
correct editions of the Hebrew Bible there is a small space left here in the text,
and a circular mark which refers to a note in the margin, intimating that there
is a hiatus or deficiency in the verse. Now this deficiency is supplied in the
principal ancient versions, and in the Samaritan text. In this the supplied
words are, ‘LET US WALK OUT INTO THE FIELD.’ The Syriac has, ‘Let us
go to the desert.’ The Vulgate has: EGREDIAMUR FORAS, ‘Let us walk out.’
The Septuagint has: DIELTHOOMEN EIS TO PEDION, ‘Let us go out into
the field.’ The two Chaldee Targums have the same reading; so has the Coptic
version. This addition is completely lost from every MS. of the Pentateuch now
known, and yet it is sufficiently evident from the Samaritan text the Samaritan
version, the Syriac, Septuagint and Vulgate, that it was in the most authentic
copies of the Hebrew before and some time since the Christian era. The words
may therefore be safely considered as a part of the sacred text, and with them
the whole passage reads clear and consistently: ‘And Cain said unto Abel his
brother, Let us go out into the field: and it came to pass, when they were in the
field, that Cain rose up,’ etc”.
16
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kej 4:8): “‘And Cain talked with Abel his
brother.’ The original word does not signify, in strict propriety, ‘talked,’ but
‘said;’ ... others have supposed a hiatus or gap in the text, which the
Septuagint, the Samaritan, the Syriac, and other versions fill up with the
words ‘Let us go into the field.’ These authorities show that the words were
once in the original text, although, as has been remarked, they are not found
in the most ancient Hebrew copies - as, for instance, in that one which Origen
consulted”.
Catatan: kedua kutipan di atas ini tidak saya terjemahkan, karena sudah saya
berikan intinya di atas.
e. Kel 2:18: “Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah
ia: ‘Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?’”.
Bil 10:29 - “Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang
Midian, mertua Musa: ‘Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN
ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya kepadamu. Sebab itu
ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat baik
kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel.’”.
KJV: ‘And Moses said unto Hobab, the son of Raguel the Midianite, Moses’
father in law, …’ (= Dan Musa berkata kepada Hobab, anak Raguel orang
Midian itu, mertua Musa, …).
Jadi, nama mertua Musa itu Rehuel (seperti dalam Kel 2:18) atau Raguel (seperti
dalam Bil 10:29 versi KJV)?
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kel 2:18): “‘Reuel their father’ - or
Raguel (Num. 10:29) (Septuagint, Ragoueel, in both places)” [= Ayat 18.
‘Rehuel, ayah mereka’ atau Raguel (Bil 10:29) (Septuaginta, Raguel, di
kedua tempat].
Apakah di sini kita harus menyimpulkan bahwa Kitab Suci Indonesia atau LXX /
Septuaginta lebih benar dari Kitab Suci Ibraninya, karena dalam Kitab Suci
Indonesia maupun LXX / Septuaginta perbedaan itu dihapuskan?
Jadi jelas, bahwa kalau suatu versi lebih benar dari yang lain, bisa saja itu terjadi
karena versi itu membetulkan apa yang dianggap salah dalam versi yang salah itu.
Jadi, kasusnya adalah sebagai berikut: Perjanjian Baru asli ada dalam bahasa
Yunani, dan ini lalu disalin dan menghasilkan banyak sekali manuscripts Yunani.
Salinan sudah tidak inerrant (= tidak ada salahnya), dan karena itu ada kesalahan.
Pada waktu ada orang-orang tertentu menterjemahkan manuscripts Yunani itu ke
bahasa Ibrani, maka mereka lalu membetulkan apa yang mereka anggap sebagai
kesalahan itu. Dengan demikian, seandainya versi Ibrani dari Perjanjian Baru
memang lebih benar, itu tetap tidak membuktikan bahwa bahasa Ibrani adalah
bahasa asli dari Perjanjian Baru.Juga seandainya versi Yunani dari Perjanjian Baru
17
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
memang salah, hal itu tetap tak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa
Yunani bukanlah bahasa asli dari Perjanjian Baru!
3. Dalam menghadapi bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya kontradiksi, atau
dalam usaha untuk mengharmoniskan bagian-bagian tersebut, ada 2 hal yang
penting untuk diingat:
a. John Murray: “Oftentimes, though we may not be able to demonstrate the
harmony of Scripture, we are able to show that there is no necessary
contradiction” (= Seringkali, sekalipun kita tidak bisa menunjukkan
keharmonisan Kitab Suci, kita bisa menunjukkan bahwa di sana tidak
harus terjadi kontradiksi) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol I, hal 10.
b. E. J. Young: “When therefore we meet difficulties in the Bible let us reserve
judgment. If any explanation is not at hand, let us freely acknowledge that we
do not know all things, that we do not know the solution. Rather than hastily
to proclaim the presence of an error is it not the part of wisdom to
acknowledge our ignorance?” (= Karena itu pada waktu kita menjumpai
problem dalam Alkitab baiklah kita menahan diri dari penghakiman. Jika
tidak ada penjelasan yang tersedia, baiklah kita dengan bebas mengakui
bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu, bahwa kita tidak mengetahui
penyelesaiannya. Dari pada dengan tergesa-gesa menyatakan adanya
kesalahan, tidakkah merupakan bagian dari hikmat untuk mengakui
ketidak-tahuan kita?) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.
4. Ada satu hal penting yang ingin saya tambahkan berkenaan dengan orang-orang
yang mengatakan bahwa Alkitab ada salahnya, yaitu bahwa anggapan awal pada
saat kita mau mempelajari Kitab Suci merupakan segala sesuatu yang sangat
penting, dan menentukan ke arah mana kita akan pergi!
William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted;
either that they were originally inerrant and infallible, or that they were originally
errant and fallible. The first view is that of the church in all ages: the last is that
of the rationalist in all ages. He who adopts the first view, will naturally bend all
his efforts to eliminate the errors of copyists and harmonize discrepancies, and
thereby bring the existing manuscripts nearer to the original autographs. By this
process, the errors and discrepancies gradually diminish, and belief in the
infallibility of Scripture is strengthened. He who adopts the second view, will
naturally bend all his efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate
and establish discrepancies. By this process, the errors and discrepancies
gradually increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened”
(= Salah satu dari pandangan-pandangan tentang Kitab Suci ini harus
diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak bersalah, atau Kitab Suci
orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah pandangan dari gereja
dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah pandangan dari para
18
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan pertama, secara
alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari para
penyalin dan mengharmoniskan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian, dan dengan
itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil.
Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian
berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan
Kitab Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara
alamiah akan berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus
kesalahan-kesalahan dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebihlebihkan dan meneguhkan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian itu. Melalui proses
ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian bertambah
secara bertahap, dan ketidak-percayaan kepada ketidakbersalahan Kitab Suci
dikuatkan) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 137.
E. J. Young: “It is perfectly true that if we begin with the assumption that God
exists and that the Bible is His Word, we shall wish to be guided in all our study
by what the Scripture says. It is equally true that if we reject this foundational
presupposition of Christianity we shall arrive at results which are hostile to
supernatural Christianity. If one begins with the presuppo-sitions of unbelief, he
will end with unbelief’s conclusions. If at the start we have denied that the Bible
is God’s Word of if we have, whether consciously or not, modified the claims of
the Scriptures, we shall come to a position which is consonant with our starting
point. He who begins with the assumption that the words of the Scriptures
contain error will never, if he is consistent, come to the point of view that the
Scripture is the infallible Word of the one living and eternal God. He will rather
conclude with a position that is consonant with his starting point. If one begins
with man, he will end with man. All who study the Bible must be influenced by
their foundational presuppositions” (= Adalah sesuatu yang benar bahwa jika
kita mulai dengan anggapan bahwa Allah ada dan bahwa Alkitab adalah
FirmanNya, kita akan ingin untuk dipimpin dalam seluruh pelajaran kita oleh
apa yang Kitab Suci katakan. Juga adalah sesuatu yang sama benarnya bahwa
jika kita menolak anggapan dasar dari kekristenan ini, maka kita akan sampai
pada hasil yang bermusuhan terhadap kekristenan yang bersifat supranatural.
Jika seseorang mulai dengan anggapan dari orang yang tidak percaya, ia akan
berakhir dengan kesimpulan dari orang yang tidak percaya. Jika sejak awal
kita telah menolak bahwa Alkitab adalah Firman Allah, atau jika kita, secara
sadar atau tidak, mengubah claim / tuntutan dari Kitab Suci, kita akan sampai
pada suatu posisi yang sesuai dengan titik awal kita. Ia yang mulai dengan
anggapan bahwa kata-kata dari Kitab Suci mengandung kesalahan tidak akan
pernah, jika ia konsisten, sampai pada pandangan bahwa Kitab Suci adalah
Firman yang tak bersalah dari Allah yang hidup dan kekal. Sebaliknya ia
akan menyimpulkan dengan suatu posisi yang sesuai dengan titik awalnya.
19
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Jika seseorang mulai dengan manusia, ia akan berakhir dengan manusia.
Semua yang mempelajari Alkitab pasti dipengaruhi oleh anggapan dasarnya) ‘Thy Word Is Truth’, hal 187.
Memang dalam kedua kutipan di atas ini, yang dipersoalkan adalah orang-orang
Liberal yang menganggap Kitab Suci ada salahnya. Tetapi ini juga bisa diterapkan
kepada orang-orang dari kelompok Yahweh-isme seperti Pdt. Yakub Sulistyo dan
Kristian Sugiyarto. Kalau mereka datang kepada Perjanjian Baru Yunani, dengan
suatu kepercayaan bahwa itu adalah terjemahan dari Perjanjian Baru Ibrani, maka
mereka akan mempunyai kecenderungan untuk mencari-cari, dan bahkan
membesar-besarkan, kesalahan dari Perjanjian Baru Yunani.
Tidakkah mereka sadar bahwa Perjanjian Lama sendiri, dalam bahasa Ibraninya
sekalipun, mempunyai banyak sekali bagian-bagian yang kontradiksi satu sama
lain? Saya kira mereka tahu hal itu, hanya saja mereka tak meng’expose’nya, atau
bahkan menyembunyikannya! Mengapa fakta ini tidak membuat mereka
beranggapan bahwa Ibrani bukan bahasa asli dari Perjanjian Lama, seperti yang
mereka lakukan terhadap Perjanjian Baru dengan bahasa Yunaninya?
• Pengutipan sumber di atas (Christopher Lancaster) bukan dimaksudkan saya
ambivalen dan kontradiktf dengan pandangan sebelumnya (bahwa Yahshua
berbahasa tutur Ibrani) namun sekedar memberi ruang kritis dalam diskusi
akademis mengenai kewibawaan naskah Peshitta yang tidak sebagaimana
dugaan kebanyakan sarjana, sebagai terjemahan dari naskah Perjanjian Baru
Yunani, sebaliknya justru naskah Yunani (setidaknya menurut penelitian
Christopher) menyalin dan di sana sini menyalahpahami maksud teks Peshitta
sehingga terjadi scribbal errors. Bagi kepentingan akademis, nampaknya kita
harus mencari benang merah relasi antara bahasa Ibrani dan Aramaik dalam
penulisan Kitab Perjanjian Baru sebelum pada akhirnya dipublikasikan dalam
naskah Yunani. Yang menarik mengenai “relasi” bahasa-bahasa tersebut,
Talmud Yerusalem menyatakan sbb: “Empat bahasa adalah berharga: Yunani
untuk nyanyian, Latin untuk perang, Aramaik untuk penguburan dan Ibrani
untuk percakapan” [Tractate Sotah 7:2, 30a). Selanjutnya dalam Sifre,
Deuteronomy 46 dikatakan “itulah posisi Aramaik, di dalam kubur; akan tetapi
bahasa Ibrani memiliki posisi yang tinggi untuk bertutur kata dan ibadah. Jadi,
bagi seorang ayah Yahudi, tidak berbicara kepada anak lelakinya dalam
bahasa Ibrani mulai dari anak itu belajar berjalan dan tidak mengajarkan
Torah, adalah seolah-olah ia telah menguburnya” (S. Safrai dan M. Stern, The
Jewish People in the First Century {Philadelphia, Fortress Press, 1976} Vol 2,
p.1034)
20
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Tanggapan Budi Asali:
Terus terang saja, saya tak percaya pada sumber-sumber dari kalangan
Yahweh-isme yang sering mendapatkan bahan dari PDSEUDOSCHOLARS, alias ahli-ahli Alkitab yang palsu! Sumber-sumber yang saya
dapatkan dari Scholars yang sejati, dan bahkan dari sumber-sumber
sekuler yang berkwalitas, seperti Encyclopedia Britannica, Encyclopedia
Encarta, dsb, sangat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sumbersumber mereka.
Bagaimana bapa mengajar anak bahasa Ibrani kalau ia sendiri setelah
pulang dari pembuangan tak lagi bisa berbicara dalam bahasa itu?
• Brian Knowles, dalam WHICH LANGUAGE DID JESUS SPEAK-ARAMAIC
OR
HEBREW?”(http://www.godward.org/Hebrew%20Roots/did%20jesus%20spea
k%20hebrew.htm) menjelaskan sbb:
Prof. David Flusser (Sarjana Yahudi Ortodox dari Universitas Yerusalem),
menekuni kehidupan para rabi abad pertama dan termasuk di dalamnya
adalah (Yahshua). Dalam bukunya “Jewish Sources in Early Christianity”,
Flusser menyatakan teori yang umum bahwa Markus menulis pertama
kalinya dalam bahasa Yunani. Bahasa tutur orang Yahudi pada waktu itu
adalah Ibrani, Aramaik dan untuk tingkatan tertentu dalam bahasa Yunani.
Hingga akhir-akhir ini dipercayai oleh banyak sarjana bahwa bahasa tutur
para murid (Yahshua) adalah Aramaik. Memang mungkin sekali bahwa
(Yahshua) benar-bena menggunakan bahasa Aramaik dari waktu ke waktu,
TETAPI selama periode itu, IBRANI ADALAH BAHASA HARIAN MAUPUN
BAHASA STUDI. Injil markus berisi sedikit kata-kata Aramaik, dan inilah
yang mendistorsikan para sarjana” (p.11)
‘Saat ini, setelah setelah penemuan DSS Ibrani Ben Sira (Ecclesiasticus)
dan surat-surat bar Khokba dan studi lebih lanjut bahasa naskah-nasah
kuno Yahudi, TELAH DITERIMA PANDANGAN BAHWA SEBAGIAN
BESAR
RAKYAT
(YAHUDI)
LANCAR
DALAM
BERBAHASA
IBRANI….perumpamaan-perumpamaan
dalam
Literatur
Rabinik…disampaikan dalam bahasa Ibrani di dalam semua periode. Tidak
ada dasar untuk berasumsi bahwa (Yahshua) tidak berbicara dalam bahasa
Ibrani; dan ketika kita diberi tahu bahwa Paul berbicara dalam bahasa Ibrani
(Kis 21:40), kita harus menerima informasi ini seperti yang dinyatakannya”
(p.1)
“Ada perkataan (Yahshua) yang dapat diterjemahkan baik dengan Ibrani
maupun Aramaik; tetapi ada beberapa yang hanya dapat diterjemahkan ke
21
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
dalam Ibrani dan tidak ada satupun yang hanya dapat diterjemahkan ke
dalam Aramaik. Oleh karena itu seseorang dapat mendemonstrasikan asalusul Injil Ibrani dengan menerjemahkan balik (Injil Yunani) ke dalam bahasa
Ibrani (Flusser p.11)
Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi ini tidak penting! Tidak penting Yesus bicara dalam bahasa apa.
Yang penting Perjanjian Baru dituliskan dalam bahasa apa! Apakah pada
waktu menyusun khotbah Teguh Hindarto menganalisa / mengexposisi
kata-kata yang dalam faktanya diucapkan Yesus (yang tidak diketahui
dengan pasti apa), atau ia menganalisa / mengexposisi text Yunani yang
memang pasti ada?
• Kristian Sugiyarto memberikan ulasan sbb:, “Dalam penelitiannya, DR. Robert
Lindsey berhubungan sangat dekat dengan Prof. Flusser. Ia mulai ambisinya
yang kuat dalam proyek penerjemahan PB Yunani ke dalam bahasa Ibrani
untuk mengidentifikasi asal-usulnya. Cerita silsilah (Yahshua) pada awal Kitab
Matius menunjukkan hasil yang mencengankan, bahwa Matius membangun
ceritanya dengan tipikal pola Ibrani, meskipun naskah yang kita miliki adalah
dalam bahasa Yunani. Lindsey melanjutkan terjemahannya terus ke dalam
bahasa Ibrani ternyata dihasilkan struktur kata-kalimat Ibrani yang sempurna
seperti naskah Ibrani. Ketika membandingkan antara Kitab Markus dengan
Kitab Matius dan Lukas, ia mulai menyadari adanya sesuatu yang menghantui
terjadi. Sintak bahasa Yunani yang digunakan (PB Yunani) ternyata bukanlah
bahasa Yunani yang baik, tetapi sintak ucapannya itu sempurna untuk Ibrani.
Ini suatu misteri yang perlu dicari penyelesaiannya. Akhirnya disimpulkan
bahwa di dalam Kitab PB Yunani yang kita percayai ‘asli’ sesungguhnya
terdapat teks Ibrani” (IBRANI, BAHASA TUTUR YESUS: Runtuhnya Mitos
Aamaik, unpublished, hal 63).
Tanggapan Budi Asali:
Jangan terlalu cepat ‘jump to the conclusion’ (= loncat pada suatu
kesimpulan). Kemungkinan alternatif, yaitu digunakannya bahasa Yunani
yang berbau Ibrani (Hebraic Greek), yang sudah saya jelaskan di atas, itu
yang lebih benar!
Juga ia menyebut Injil Lukas. Itu sama sekali tidak mungkin, karena Lukas
adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi
tetapi orang Yunani. Ini terlihat dari Kol 4:10-14 - “(10) Salam kepada kamu dari
Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas - tentang
dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu - (11)
dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka
yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu
22
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
telah menjadi penghibur bagiku. (12) Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang
dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk
kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang
berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. (13) Sebab aku
dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk
kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis. (14) Salam kepadamu
dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas”.
Dalam text di atas ini Paulus mengatakan hanya 3 orang, yaitu Aristarkhus, Markus, dan
Yesus / Yustus, yang adalah orang-orang bersunat (= orang-orang Yahudi) yang
menyertai dia. Jadi jelas bahwa 3 yang terakhir, yaitu Epafras, Lukas, dan Demas,
bukanlah orang-orang bersunat. Jadi, Lukas jelas bukan orang Yahudi!
Juga Lukas menulis kepada Theofilus (Luk 1:1 Kis 1:1), yang bisa dipastikan adalah
seorang Yunani, karena namanya merupakan nama Yunani. Bagaimana mungkin Lukas,
yang bukan orang Yahudi, bisa menulis kitabnya kepada seorang Yunani, dalam bahasa
Ibrani?
Luk 1:1 - “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu
berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita”.
Kis 1:1 - “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala
sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus”.
III. KATA “IOUDAISTI” DAN “HEBRAISTI:, BERBEDA?
Yohanes [23 Mei 2008]: Saya dapat saja membalikkan pertanyaan Anda
kepada Anda semula, mengapa Perjanjian Baru tidak menulis dengan
IOUDAISTI, tetapi untuk apa pertanyaan itu saya balikkan? IOUDAISTI dan
HEBRAISTI itu berbeda. BETESDA adalah HEBRAISTI, sedangkan IOUDAISTI
menyebutkannya dengan BEYT KHESED. GOLGOTA adalah HEBRAISTI,
sedangkan IOUDAISTI menyebutnya GULGOLET. HEBRAISTI adalah bahasa
Aram yang digunakan di Israel saat itu, sama halnya dengan bahasa Melayu
yang digunakan di Indonesia dikatakan sebagai bahasa Indonesia. Saya pun
tidak berspekulasi dengan menulis tentang membedakan dua bahasa. Silakan
Anda kaji konteks 2 Raja-raja 18:26 di atas, mengapa Elyakim menggunakan
SURISTI dan IOUDAISTI
TANGGAPAN TEGUH (TGL 10 JULI 2008)
Saya tidak tahu darimana Anda menerima sumber dan membuat teori baru
bahwa HEBRAISTI BUKAN IOUDAISTI, dengan membuat perbandingan
telanjang (tanpa mengkaji lebih jauh susunan kata Yunaninya) antara BETESDA
(padahal dalam naskah Yunaninya “Bethzata”) sebagai bahasa HEBRAISTI,
23
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
dan BET KHESED sebagai bahasa IOUDAISTI. Lalu membandingkan
GOLGOTHA sebagai bahasa HEBRAISTI dan GULGOLET sebagai bahasa
IOUDAISTI. Telah diterangkan pada bagian pertama bahwa penyalin naskah
Yunani tidak melakukan transliterasi melainkan melakukan translasi bunyi.
Namun translasi bunyi menjadi tidak sempurna karena huruf-huruf Yunani tidak
memiliki huruf-huruf tertentu yang dimiliki huruf Yunani seperti“heh” (h), “khet”
(x), “shin” (v), “yod” (y), sehingga kata/nama dalam tulisan Yunani tersebut tidak
begitu saja dipahami sebagai Aramaik melainkan harus diurai, dianalisis sampai
ke akar kata asal, yaitu HEBRAISTI atau IBRANI. Mempertentangkan antara
HEBRAISTI dan IOUDAISTI tidak bisa diterima secara akademis. Bahkan
Yosefus sendiri membedakan antara HEBRAISTI dengan SURISTI bukan
IOUDAISTI sbb:
JOE
Ant 10:8 When Rabshakeh had made this speech in the Hebrew tongue
(e`brai?sti. le,gonta {Hebraisti legonta}), (for he was skilful in that language,)
Eliakim was afraid lest the multitude that heard him should be disturbed; so he
desired him to speak in the Syrian tongue (suristi. fra,zein {Suristi grazein}).
But the general, understanding what he meant, and perceiving the fear that he
was in, he made his answer with a greater and a louder voice, but in the
Hebrew tongue (e`brai?sti. le,gein {Hebraisti legein}), and said, that ``since they
all heard what were the king's commands, they would consult their own
advantage in delivering up themselves to us;
Tanggapan Budi Asali:
Saya kira ini tidak penting, dan saya tak perlu menanggapi.
IV. NASKAH DU TILLET: TERJEMAHAN DARI MATIUS BAHASA YUNANI
ATAU SALINAN MATIUS DARI BAHASA IBRANI?
Yohanes [26 Mei 2008]: Wah, rupanya dugaan belaka toh? Apakah dugaan
dapat dijadikan bukti? Di situs Torah Resource.com -- yang sering Anda kutip -tersedia manuskrip Du Tillet yang sudah ditulis dalam aksara Ibrani dan
diparalelkan dengan naskah Yunani, ternyata engga beda jauh. Bandingkan
saja Matius 1:1 ini:
TB-LAI
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
TR
BIBLOS GENESEÔS IÊSOU KHRISTOU HUIOU DABID HUIOU
ABRAAM
24
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
DU
TILLET
HBHK
ZEH SÊFER TÔLEDÔT HAMÂSYÎAKH YEHÔSYUA' BEN-DÂVID BEN'AVRÂHÂM
Perbedaannya: Du Tillet memulai dengan demonstratif pronomina 'ELEH,
inilah, kemudian tidak mencantumkan Yesus sebagai Mesias. Ayat berikutnya
pun hampir mirip dengan HBHK (HaBrit HaKhadasya) yang diterjemahkan dari
naskah Yunani, bandingkan pula dengan Matius 1:2 di bawah ini:
TB-LAI
Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub
memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
TR
ABRAAM EGENNÊSEN TON ISAAK ISAAK DE EGENNÊSEN TON IAKÔB
IAKÔB DE EGENNÊSEN TON IOUDAN KAI TOUS ADELPHOUS AUTOU
DU
TILLET
HBHK
'AVRÂHÂM HÔLÎD ET-YITSKHÂQ VEYITSKHÂG HÔLÎD ET-YA'AQÔV
VEYA'AQÔV HÔLÎD ET-YEHÛDÂH VE 'ET-'AKHÂV
Perbedaannya: Du Tillet kurang menggunakan konjungsi VÂV seperti yang
biasa dilakukan oleh naskah Ibrani.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai historitas dan validitas naskah DU TILLET, akan saya berikan
informasi
dan
beberapa
kajian
sekitar
DU
TILLET
sbb
(www.torahresources.com):
A Brief History of the du Tillet Matthew
Compiled by Tim Hegg
© 2004 Torahresource.com
As is the case with many medieval manuscripts, the history of the du Tillet is
shrouded in mystery. The exact date of the manuscript, as well as its provenance, is
not known, though it is presumed to be a 14th Century manuscript originating in
25
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Italy. Its name is derived from that of Bishop Jean du Tillet, bishop of Saint-Brieuc,
who, in 1553, travelled to Rome where he obtained the manuscript. In the preface of
the publication he writes that it was the Gospel of Matthew in Hebrew, which I would
not presume to suggest Matthew wrote by divine inspiration in his own language . . .
but yet I can affirm is clearly not in the rabbinic style, and is written in a pure form of
the language that in no way resembles the writings of post-Christian Judaism
(Pinchas Lapide, Hebrew in the Church (Eerdmans, 1984), p. 58.)
The exact way in which the Bishop obtained the manuscript is not described, though
Jean Mercier, in the preface to the Latin translation that accompanied the 1555
publication of the du Tillet Matthew, speaks of the “Hebrew Matthew recently
wrested from the Roman Jews.” (Ibid., p. 216, n. 26.) Schonfield suggests that the
du Tillet manuscript almost certainly came from one of the books confiscated from
the Roman Jews by papal decree in 1553 (H. J. Schonfield, An Old Hebrew Text of
St. Matthew’s Gospel (Edinburgh, 1927), pp. 3–6, noted in William Horbury,“The
Hebrew Matthew and Hebrew Study” in Horbury, ed., Hebrew Study from Ezra to
Ben-Yehuda (T&T Clark, 1999), p. 125. )
Since it was one of the polemical works used to combat Christian evangelism of the
Jews, this suggestion seems highly likely. However, Lapide notes that the royal
sanction for publication (written in French) which comes at the end of the book, is
dated January 29, 1552, about a year before the bishop’s supposed journey to
Rome to obtain the manuscript. The du Tillet appeared in print in 1555,
accompanied by the Latin translation of Jean Mercier, and published by the firm of
Martin Le Jeune. It was dedicated to the Cardinal of Lorraine, Charles de Guise. It
had the long title, “Gospel of Matthew until this day hidden with the Jews and
concealed in caves and now brought out by the latter from within the chambers and
darkness to light again.” As noted, the du Tillet was a polemical tool of the Jewish
community, noted clearly by the fact that following the text of Matthew, there were
added some twenty-three “Jewish objections to the Gospel.” Bishop du Tillet
explained that he included these polemical questions in his publication “to
demonstrate the waywardness of the Jews,” noting that “any Christian will find it very
easy to answer them.”(Horbury, Ibid., p. 126.). The du Tillet Matthew should not be
confused with other Hebrew Matthews that were published during the middle ages.
For instance, Sebastian Münster published a Hebrew version of Matthew in 1537
which he titled "..
. . , “The Torah of the Messiah.” In his preface, Münster
states that he used a “tattered” MS, and supplemented or altered its defective text.
What is exactly meant by this notice has been debated. Some think the manuscript
included many lacunae which Münster supplied from other texts (Latin or Greek,
George Howard, The Gospel of Matthew according to a Primitive Hebrew Text
(Mercer Press, 1987), p. 161. ).
Horbury suggests that the manuscript he used was interspersed with polemical
comments, which he extracted in order to make the Matthew text contiguous (Ibid.,
p. 124.) Since, however, Münster did not mark his editorial work, use of the Münster
Matthew for text-critical purposes is dubious. Another Hebrew Matthew is contained
in the “Even Bohan” (
.. , “The Touchstone”), authored by Shem-Tob ben Issac
26
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
ben Shaprut (sometimes called Ibn Shaprut). It is a polemical work comprising 12
sections or books (though an additional five sections were added later). It was
originally written by Shaprut in 1380, and revised several times through subsequent
years. Of the original books the first deals with the principles of the Jewish faith, the
next nine deal with various passages in the Bible that were disputed by Jews and
Christians, the eleventh discusses certain haggadic sections in the Talmud used by
Christians or proselytes to Christianity, and the twelfth contains the entire Gospel of
Matthew in Hebrew along with polemical comments by Shem Tob interspersed
throughout the text (Howard, Ibid., p. ix. ). When Jean du Tillet published his Hebrew
Matthew in 1555, he made it clear that his text was far superior to that of Münster’s,
which he characterized as “barbarous and inept.”(Horsbury, Ibid., p. 126.). In typical
anti-semitic jargon, he writes: I can assert that [this text] is for the most part removed
from rabbinical parlance, and is written with that purity of speech which nothing
written after the desolation of that nation enjoys (Ibid.). It is not certain whether the
manuscript itself is the product of Christian or Jewish scribes, nor whether it is a
translation from another version (Vulgate, Greek, Syriac) or combination of versions.
Lapide is certain that it is a translation from a common Vorlage used also by the
Münster Matthew (Lapide, Op. cit., p. 62.)
Howard, and Alexander Marx before him, argue for the independence of the ShemTob Matthew from either the source of Münster or du Tillet, though Howard notes
that there are some unique or almost unique readings shared by the Shem-Tob and
du Tillet (Howard, Op. cit., 162ff.) Howard’s conclusion was that the Du Tillet was a
revision of a previous Hebrew Matthew, attempting to bring it into line with current
Greek and Latin texts (George Howard, “The Textual Nature of an Old Hebrew
Version of Matthew,” JBL 105/1(1986), 63.)
Publications of the du Tillet subsequent to its initial publication in 1555 include that of
Adolf Herbst in 1879 (A. Herbst, Des Schemtob ben Schaphrut hebraeische
Übersetzung des Evangeliums Matthaei nach den Drucken des S. Münster und J. du
Tillet-Mercier neu herausgegeben (Göttingen, 1879). Herbst erroneously considered
the text as basically a reproduction of the Shem-Tob. Herbst’s text is that used by
Trimm in his publication {see next note}) and Hugh J. Schonfield in 1927
(Schonfield, An Old Hebrew Text of St. Matthew’s Gospel (Edinburgh, 1927).)
The du Tillet manuscript itself resides in the Bibliotheque Nationale in Paris
catalogued under Hebrew Mss. No. 132. Lapide notes that the unpointed Hebrew
text comprises 69 pages,(Lapide, Op. cit., p. 59) though the copy contained in
Trimm’s publication (James Trimm, B’sorot Mattai (H/ANTRI, 1990). Trimm’s current
publication (1999) does not contain facsimile of the manuscript itself, but only that of
Herbst’s Hebrew pages.) shows 74 pages. Thus, the du Tillet remains before us as
an historical document of Matthew’s Gospel. We are therefore offered the
opportunity to study it and find in its pages the valuable information it may contain in
terms of the text of the Gospel, and perhaps even its connection to a very early
strata of the textual transmission of the biblical text itself.
27
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Terlepas dari beberapa kontroversi mengenai eksistensi dan validitas naskah DU
TILLET (perhatikan yang saya beri warna biru), namun mari kita
mempertimbangkan beberapa karakteristik khas dari naskah DU TILLET.
DR. Scott James Trimm dalam TEXTUAL CRITICSM OF THE SEMITIC NEW
TESTAMENT
(http://www.nazarene.net/hantri/FreeBook/textcom.pdf)
memberikan beberapa ulasan mengenai sejumlah kasus perbedaan antara
naskah DU TILLET dan Matius Yunani dikarenakan adanya (scribbal error)
kesalahan penyalinan dari naskah Ibrani. Dalam banyak kasus, bacaan DU
TILLET nampaknya asli dibandingkan naskah Yunani yang menampilkan scribbal
error (kesalahan penyalinan). Beberapa contoh kasus sbb:
• Mat 4:12
DU TILLET, “Yokhanan telah dipenjarakan” (rwsa)
Naskah Yunani, “Yohanes telah ditangkap (rsm)
• Mat 4:24
DU TILLET, “Maka tersiarlah berita tentang Dia ke seluruh orang (m[h)
Naskah Yunani, “Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria” (mra)
(sangat jelas bahwa ini merupakan kekeliruan penyalinan mengenai artikulasi)
• Mat 8:21
DU TILLET, “Dan seorang muridnya (wydymltm dxaw) = Shem Tov
Naskah Yunani, “Dan murid-Nya yang lain, (wydymltm rxaw) berkata kepada-Nya:
"Tu(h)an, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."
• Mat 11:28
DU TILLET, Dan Aku akan memuaskanmu” (mk[ybfa)
Naskah Yunani, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan (tbf?) kepadamu.”
• Mat 14:20
DU TILLET, “Dan mereka menyingkirkan” (wrafnw)
Naskah Yunani, “Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian
orang mengumpulkan (wrafnw) potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul
penuh”
• Mat 17:12
DU TILLET, “Demikian pula Anak Manusia akan menerima (lbqy) dan
menanggung kengerian
28
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Naskah Yunani, “Demikian juga Anak Manusia akan menderita (lbsy) dan
menanggung kengerian."
• Mat 18:16
DU TILLET, ‘bawalah seorang saksi (d[) satu atau dua orang
Naskah Yunani, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua
orang lagi (dw[) supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu
tidak disangsikan.
(Cat: Bandingkan dengan Ulangan 19:15)
• Mat 18:21
DU TILLET, ‘Kemudian Kefa memanggilnya Dia” (arq)
Naskah Yunani, “Kemudian datanglah (brq) Petrus dan berkata kepada Yesus:
"Tu(h)an, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat
dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
• Mat 22:34
DU TILLET, ‘“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat
orang-orang Saduki itu bungkam, bersidanglah (wdswn) mereka
Naskah Yunani, “Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah
membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah (wd[wn) mereka
• Mat 24:12
DU TILLET, ‘“Dan karena makin bertambahnya penyesatan ([fp)
Naskah Yunani, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, ([fr)
Demikian kajian James Trimm. Cara Anda menarik simpulan hanya berdasarkan
membandingkan Matius 1:1, jelas kurang valid. Namun jika Anda jujur, DU TILET
tidak sama mengungkapkan nama Yahshua. Jika naskah Greek menggunakan
nama VIhsou/ (Iesou) maka DU TILLET menggunakan
(Yeshu). Bahkan kata
pembuka dimulai dengan
(Eleh) sementara naskah Yunani langsung
menggunakan kata benda Bi,bloj (Biblos). Yang menarik, dalam daftar silsilah, DU
TILLET memasukkan nama AVNER, sehingga tepat keseluruhannya ada 14
keturunan X 3 (lihat daftar silsilah)
Tanggapan Budi Asali:
Sama seperti di atas, kalau DuTillet berbeda dengan naskah Yunani, apa
sebabnya DuTillet yang dianmggap benar? Dan kalaupun memang DuTillet
yang benar, itu bisa terjadi karena Duillet membe4narkan apa yang
dianggap salah dari naskah Yunani, dari mana DuTillet diterjemahkan!
Jadi, ini tak punya kekuatan argument sama sekali.
29
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Juga baik Sem Tob maupun DuTillet hanya mencakup Injil Matius saja, dan
keduanya tiodak mempunyai nama Yahweh!
Seandainya Matius memang bahasa aslinya adalah Ibrani, tetapi Lukas
bahasa aslinya adalah Yunani. Itu adalah argumentasi yang lebih dari
cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS /
Lord / Tuhan merupakan sesuatu yang benar, karena ada otoritas ilahi
dari Roh Kudus yang mengilhami Lukas!
V. PENGGUNAAN KATA YUNANI “KAI” DALAM NASKAH PERJANJIAN
BARU YUNANI: CORAK KHAS SEMITIK ATAU CORAK UMUM TIAP
BAHASA?
Jika Plato, Aristoteles, dan filsuf Yunani lainnya menggunakan kata KAI
berulang kali, apakah lantas tulisan mereka pun Anda anggap sebagai khas
semitik?
Lukas 1:57-66
57. TÊ DE ELISABET EPLÊSTHÊ HO KHRONOS TOU TEKEIN AUTÊN KAI EGENNÊSEN
HUION
58. KAI ÊKOUSAN HOI PERIOIKOI KAI HOI SUGGENEIS AUTÊS HOTI EMEGALUNEN
KURIOS TO ELEOS AUTOU MET AUTÊS KAI SUNEKHAIRON AUTÊ
59. KAI EGENETO EN TÊ OGDOÊ HÊMERA ÊLTHON PERITEMEIN TO PAIDION KAI
EKALOUN AUTO EPI TÔ ONOMATI TOU PATROS AUTOU ZAKHARIAN
60. KAI APOKRITHEISA HÊ MÊTÊR AUTOU EIPEN OUKHI ALLA KLÊTHÊSETAI
IÔANNÊS
61. KAI EIPON PROS AUTÊN HOTI OUDEIS ESTIN EN TÊ SUGGENEIA SOU HOS
KALEITAI TÔ ONOMATI TOUTÔ
62. ENENEUON DE TÔ PATRI AUTOU TO TI AN THELOI KALEISTHAI AUTON
63. KAI AITÊSAS PINAKIDION EGRAPSEN LEGÔN IÔANNÊS ESTIN TO ONOMA AUTOU
KAI ETHAUMASAN PANTES
64. ANEÔKHTHÊ DE TO STOMA AUTOU PARAKHRÊMA KAI HÊ GLÔSSA AUTOU KAI
ELALEI EULOGÔN TON THEON
65. KAI EGENETO EPI PANTAS PHOBOS TOUS PERIOIKOUNTAS AUTOUS KAI EN
HOLÊ TÊ OREINÊ TÊS IOUDAIAS DIELALEITO PANTA TA RHÊMATA TAUTA
66. KAI ETHENTO PANTES HOI AKOUSANTES EN TÊ KARDIA AUTÔN LEGONTES TI
ARA TO PAIDION TOUTO ESTAI KAI KHEIR KURIOU ÊN MET AUTOU
Ayat 57, 62, dan 64 ternyata tidak menggunakan kata KAI sebagaimana
mestinya yang digunakan oleh gaya bahasa Semitik.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
30
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Mengenai konjugasi kai. (kai) dalam bahasa Yunani, menarik untuk dikaji secara
mendalam. Kembali Mengutip pandangan Alan Black yang mengulas
karakteristik konjugasi KAI, sbb:
Koordinasi Anak Kalimat [Coordination of clauses]. Dalam bahasa Yunani
klasik, kalimat biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok dan kata kerja
lainnya dibawahnya dalam bentuk anak kalimat keterangan atau jenis lainnya.
Di sisi lain, bahasa Ibrani cenderung meletakkan kata kerja satu demi satu,
menggabungkan mereka bersama dalam kata penghubung sederhana [bahasa
Ibrani, “waw”, “dan”]. Ini yang dikenal dengan sebutan parataxis, dari kata
paratasso, “saya meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa Yunani koine,
susunan demikian tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu dijelaskan
kemunculannya yang kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun kemunculan
secara tetap kata “dan” [Yunani, “kai”] dalam Kitab Besorah/Injil merupakan
pemaksaan yang berlebihan [overstraining] dalam tulisan bahasa Yunani.
Dalam Besorah/Injil, jenis demikian merupakan karakteristik menonjol dalam
Markus, yang merupakan contoh tunggal dari panjangnya kalimat dalam
bahasa Yunani dengan kata penghubung bersusun [subordinating participles]
[Band. Mark 5:25-27]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan dalam
Markus 10:33-34 sbb: “kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan [kai]
Putra Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan [kai] ahli-ahli
Torah dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan [kai] mereka akan
menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan
[kai] Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai] dibunuh, dan [kai]
sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita melihat gaya bahasa Yunani
yang khas, mungkin, barangkali, telah di subordinasi oleh salah satu atau lebih
anak kalimat dengan menggunakan kata penghubung atau anak kalimat
penghubung [relative clauses]. Beberapa terjemahan seperti KJV dan RSV
mencerminkan corak Semitik dan memunculkan corak yang janggal [stylistically
awkward] tersebut dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa Inggris
lainnya yang mengakui idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan restrukturisasi
terhadap pelanggaran tata bahasa [restructure the gramar slaightly] untuk
menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam bahasa Inggris [band.
Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan parataxis sebagai indikasi
latar belakang Semitik, dibicarakan secara panjang lebar dalam artikel J.B.
Lightfoot mengenai Corak Khas Besorah/Injil Yokhanan {Style of John’ Gospel}
dalam situs ini, www.bible-researcher.com
Berdasarkan keterangan di atas, mari kita menguji dalam Kitab TaNaKh, dimana
kasus parataxis sering muncul. Contoh: Kejadian 8: 1- (menurut terjemahan yang
saya lakukan secara literal dari naskah Masoretik dengan membuang seluruh
catatan kaki yang saya buat) sarat dengan penggunaan kata sambung “WE” (w)
atau “DAN” sebagai karakteristik semitik.
PASAL 8
31
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
1. Dan Elohim mengingat Noakh dan semua mahluk yang hidup, yaitu semua hewan yang
bersamanya di dalam kotak besar itu dan Elohim menghembuskan angin ke atas bumi dan
air menjadi berkurang
2. Dan mata air lautan dihentikan dan jendela-jendela angkasa ditutup serta dihentikanlah air
hujan dari angkasa
3. Dan kembalilah air dari muka bumi, berjalan dan kembali serta berkuranglah air sampai hari
keseratus lima puluh
4. Dan berhentilah kotak besar itu pada bulan baru yang ketujuh yaitu pada hari ketujuhbelas
pada bulan baru itu, di gunung Ararat
5. Dan air itu berjalan dan hilang sampai pada bulan baru yang kesepuluh. Pada tanggal satu
bulan baru yang kesepuluh, terlihatlah puncak gunung-gunung
6. Dan terjadilah pada akhir hari keempat puluh, Noakh membuka jendela tevat yang dia telah
membuatnya
7. Dan dia mengirim seekor burung gagak terbang dan dia kembali sampai air kering di atas
permukaan bumi
8. Dan dia mengirim seekor burung merpati miliknya untuk melihat apakah air sudah
berkurang dari atas permukaan bumi
9. Dan merpati itu tidak menemukan tempat menjejakkan telapak kakinya dan kembali menuju
kotak besar itu karena air masih ada di atas seluruh permukaan bumi dan dia mengulurkan
tangannya untuk mengambil burung merpati miliknya itu ke dalam kotak besar itu
10. Dia tetap di situ sampai hari lain yang ketujuh dan mengirim kembali burung merpati itu dari
kotak besar itu
11. Dan datanglah merpati itu pada petang hari dan sesungguhnya pada mulutnya ada
potongan daun zaitun maka tahulah Noakh bahwa air sudah berkurang dari atas permukaan
bumi
12. Dan dia tetap menunggu sampai pada hari lain yang ketujuh dan dia mengirim kembali
burung merpati dan tidak kembali lagi seterusnya
13. Dan terjadilah pada tahun yang keenam ratus satu, pada bulan baru yang pertama yaitu
pada hari yang pertama, air sudah kering dari atas permukaan bumi dan Noakh membuka
penutup kotak besar itu dan dia melihat bahwa sesungguhnya telah kering tanah itu
14. Dan pada bulan baru yang kedua yaitu pada hari yang kedua puluh tujuh pada bulan baru
itu, tanah itu telah kering
15. Dan berkatalah Elohim kepada Noakh dengan mengatakan demikian
16. “Keluarlah dari kotak besar itu, yaitu kamu dan istrimu dan anak-anakmu serta istri anakanakmu
17. Semua mahluk hidup yang ada padamu, yaitu semua daging, baik hewan yang
berterbangan dan hewan ternak dan semua binatang melata, yaitu yang merayap di atas
bumi, bawalah keluar bersamamu, dan berkerumunlah dan hasilkanlah keturunan serta
jadilah banyak dia atas permukaan bumi”
18. Dan Noakh keluar bersama anak-anaknya dan istrinya serta istri anak-anaknya itu
19. Semua mahluk yang hidup, yaitu semua hewan yang melata dan semua hewan yang
berterbangan dan semua hewan yang berkeriapan di atas permukaan bumi, bersama-sama
dengan kaumnya, keluarlah mereka dari kotak besar itu
20. Dan Noakh membangun sebuah mizbeakh bagi Yahweh dan mengambil dari antara
keseluruhan hewan yang tahor dan dari antara semua hewan berterbangan yang tahor dan
mempersembahkan korban bakaran pada mizbeakh itu
32
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
21. Dan Yahweh mencium bau harum korban tersebut dan Yahweh berkata ke dalam hatinya
demikian: “Aku tidak akan mengutuk lagi tanah tempat adam menghasilkan sesuatu
meskipun tujuan hati adam adalah jahat sejak mudanya dan juga tidak akan memukul
kembali terhadap semua yang hidup seperti yang Aku telah kerjakan.
22. Selama waktu tetap berjalan di bumi, tidak akan berhenti, yaitu waktu untuk menabur dan
menuai, dingin dan panas, musim panas dan musim hujan, siang dan malam”
Sebanyak 72% keseluruhan ayat-ayat Torah (Kejadian-Ulangan) dimulai dengan
kata ‘WAW’. Ragam prosentasi dalam keseluruhan TaNakh, muncul dari Kitab
Ruth sebanyak 91% dan yang paling kecil dalam Kidung Agung sebanyak 1%.
Jika di totalkan dari Kejadian hingga Tawarikh akan diperoleh 76% sebagaimana
ditunjukkan dalam tabel berikut (Op.Cit. Christopher Lancaster, WAS THE NEW
TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK?, P. 201):
KISAH SEJARAH :
Torah (72%, 4162 ayat dari 5848 ayat, di mulai dengan
waw), Yah(u)shua (76%), Hakim-hakim (89%), Ruth
(91%), Samuel (86%), Raja-raja (82%), Tawarikh (74%)
KARYA PUISTIS :
Mazmur (14%), Amsal (12%), Pengkhotbah (19%),
Kidung Agung (1%), Ratapan (4%)
NABI-NABI :
YeshaYahu, YermiYahu, Yekhezkiel, Daniel dll
76%
09,9%
43%
Konjugasi “WAW” kebanyakan muncul dalam kisah-kisah kesejarahan dalam
Kitab TaNaKh. Dari Kejadian hingga 2 Tawarikh, hanya kitab Ulangan yang
memiliki jumlah konjugasi “WAW” tidak kurang dari 65%. Karena jumlah
keseluruhan dari kita-kitab sejarah tersebut dapat menjacapi angkan 80%.
Konjugasi “WAW” pun muncul sebagai suat kecenderungan (proclitic) dalam
bagian Kitab Daniel dan Ezra yang mengandung bagian-bagian berbahasa
Aramaik sbb (Ibid., Christopher Lancaster, p. 202):
Ezra 4:8-6:18,
7:12-28
Daniel 2:4-7:28
Persentase
“waw”
47%
30%
Persentase “dyn” Persentasi
dan “adyn”
konjugasi lainnya
13%
60%
21%
51%
33
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Penerjemahan “WAW” dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, lebih rumit (a bit
more complicated) di bandingkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia
(biasanya diterjemahkan secara beragam, “and”, “then”, “and then”, “but”, “yet”,
kebanyakan dengan “and”. Dalam bahasa Indonesia bisa secara beragam
diterjemahkan “dan”, “maka”, “selanjutnya”, “serta”). Beberapa bentuk variasi
penerjemahan “WAW” ke dalam bahasa Yunani biasanya menggunakan dua kata
konjungtif ‘KAI” (kai) dan ‘DE’ (de). Konjugasi ‘KAI” (kai) lebih umum dipakai dan
muncul dalam Septuaginta (TaNaKh dalam bahasa Yunani) al., Kejadian 1:3-2:3,
2:5,7-9, 13-16, dll. Konjugasi ‘DE’ (de) muncul dalam Septuaginta al., Kejadian
1:2, 4:5, dll.
Selain bentuk konjugasi ‘KAI” (kai) dan ‘DE’ (de) yang muncul sebanyak 95-98%
untuk menerjemahkan “WAW”, ada bentuk lainnya yaitu ‘TOTE” (tote) dan
“EPEITA” (epeita). Apakah perbedaan ‘KAI” (kai) dan ‘DE’ (de)? E.W. Bullinger
dalam A CRITICAL LEXICON AND CONCORDANCE TO THE ENGLISH AND
GREEK NEW TESTAMENT sbb:
• ‘KAI” (kai), “kata penghubung yang menggabungkan, menyatukan sesuatu
dalam satu susunan yang ketat”
• DE’ (de), “kata penghubung yang bersifat menentang atau berkebalikan”
• ‘KAI”
(kai),
“menghubungkan
pemikiran”
sementara
DE’
(de),
“memperkenalkan”. ‘KAI” (kai), menghubungkan sesuatu dengan lancar
sementara DE’ (de), menyela ketika dikaitkan bersama-sama.
Jika memang bentuk konjugasi “WAW” (dan “DE”, “TOTE”, “EPEITA”) merupakan
bentuk konjugasi umum dalam semua bahasa termasuk bahasa Yunani, mari kita
perbandingkan dengan beberapa tulisan Yunani kuno beriku (Ibid., Christopher
Lancaster, Ibid., p.203):
Karya
Jumlah
kalimat
Permulaan
Kehidupan
(Plutarch)
133
Frekwensi
kalimat yang
diawali
dengan
“KAI”
11 (8,3%)
Frekwensi
kalimat yang
diawali
dengan “DE’
Total “Kai”
dan “De”
60 (45%)
71 (53,4%)
Konstitusi
Athena
90
8 (8,9%)
36 (40%)
44 (49%)
Aristides
(Plutarch)
224
19 (8,5%)
79 (35,3%)
98 (44%)
Theseus
(Plutarch)
248
20 (8,1%)
118 (47,6%)
138 (55,7%)
Kimon
168
11 (6,5%)
98 (58,3%)
109 (64,8%)
34
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Dari pengelompokan tersebut kita dapat membandingkan bahwa konjugasi “KAI”
dalam karya Yunani kuno muncul sebanyak 53,9% dibandingkan dengan
konjugasi “WAW” dalam beberapa bagian kitab TaNaKh yang berjumlah 76%.
Yang menarik, konjugasi “DE” (46%) lebih dominan muncul dibandingkan “WAW”
(7%), dimana konjugasi “WAW” justru banyak dipakai dalam Septuaginta untuk
menerjemahkan “WAW”. Beberapa contoh perlu disajikan untuk meyakinkan
bahwa struktur bahasa Yunani umum, lebih dominan menggunakan konjugasi
“DE” dibandingkan “KAI” (Ibid., Christopher Lancaster, p.204):
Karya
Jumlah
Kalimat
Frekwensi
kalimat
yang
diawali
dengan
“KAI”
Frekwensi
kalimat
yang
diawali
dengan
“DE’
Total “Kai”
dan “De
Apology
(Plato)
Symposium
(Plato)
263
31 (11,8%)
59 (22,4%)
90 (34,2%)
642
85 (13,2%)
150 (23,4%) 235 (36,6%)
35
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Ketika TaNaKh diterjemahkan dalam Septuaginta, dominasi konjugasi yang
dominan justru berbanding terbalik. Konjugasi “KAI” (untuk menerjemahkan
“WAW”) justru lebih banyak dibandikan konjugasi “DE”. Perhatikan tabel berikut
(Ibid., Christopher Lancaster, p.204):
Kitab
Frekwensi
kalimat yang
diawali
dengan
‘WAW”
Frekwensi
kalimat yang
diawali
dengan
‘KAI”
Frekwensi kalimat
yang diawali
dengan ‘DE’
Torah (Pentateukh)
71%
74%
26%
Yah(u)shua,
Hakim, Ruth,
Shemuel, Raja,
Tawarikh
81%
98%
2%
YeshaYahu,
Yekhezkiel, dll
45%
+/-94%
+/-6%
Mazmur, Kidung
Agung,
Pengkhotbah,
Amsal, Ratapan
10%
+/-75%
+/-25%
Dengan latar belakang data-data di atas, maka ketika konjugasi “WAW” muncul
secara dominan dalam Kitab Perjanjian Baru versi Yunani, fenomena itu BUKAN
KELAZIMAN melainkan KEKHASAN SEMITISME yang terbungkus baju Yunani.
Perhatikan tabel berikut (Ibid., Christopher Lancaster, p.206):
Kitab
Jumlah Ayat
678
Frekwensi
“KAI”
391 (58%)
Frekwensi
“DE”
146 (22%)
Markus
Total
537 (80%)
Matius
1071
339 (32%)
285 (26,6%)
614 (59%)
Lukas
1151
406 (35%)
356 (31%)
752 (66%)
Yohanes
879
138 (14%)
141 (14%)
230 (28%)
Wahyu
404
280 (69%)
007 (1,7%)
287 (71%)
Kisah rasul
1007
169 (17%)
431 (43%)
600 (60%)
36
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Data-data di atas tidak dapat menghindarkan Anda dari pilihan dan pengakuan
bahwa frekwensi konjugasi “WAW” dalam bentuk terjemahan Yunani
‘KAI”merupakan SPIRIT SEMITIK.
Tanggapan Budi Asali:
Perdebatan ini hanyut ke arah yang tak ada gunanya. Yang penting
membuktikan bahasa asli dari Perjanjian Baru, bahkan dari salah satu
kitab dari Perjanjian Baru, yang mengandung ayat Perjanjian Lama yang
mengandung Yahweh, dan lalu dalam pengutipan diubah menjadi KURIOS.
Satu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh
menjadi KURIOS / Lord / Tuhan adalah sah. Dan itu sudah dipenuhi secara
meyakinkan dalam Injil Lukas. Jadi, untuk apa membicarakan sampah
seperti di atas ini?
VI. MENGENAI KOMENTAR ARTIKEL “BAHASA PERJANJIAN BARU”
Yohannes: [28 Mei 2008] Secara terpisah, saya pernah mengirimkan artikel
berjudul "Bahasa Perjanjian Baru" sebanyak lima seri, bagaimana komentar
Anda?
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Saya tidak menarus serius terhadap artikel And tersebut karena itu sudah
menadi paradigma umum dalam dunia akademik teologi bahwa penulisan Kitab
Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Kesimpulan ini diperoleh karena mereka
mendasarkan pada BUKTI FAKTUAL pada naskah Yunani yang berjumlah
sekitar 5000-an yang tersebar dalam bentuk manuskrip, dan potongan papirus
serta serpihan perkamen. Namun dengan mempertimbangkan tiga hal yaitu :
• EKSPRESI SEMITISME dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa
Yunani
• EKSISTENSI NASKAH INJIL & KITAB PERJANJIAN BARU SEMITIK
dari periode Abad Pertengahan semisal DU TILLET, SHEM TOV,
MUNSTER, CRAWFORD
37
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
• EKSISTENSI NASKAH PESHITTA ARAMAIK yang secara gramatikal
tidak sama dengan naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani
Dengan mempertimbangkan tiga hal tersebut, PATUTLAH kita melakukan
DUGAAN bahwa pada mulanya Besorah/Injil serta keseluruhan Kitab Perjanjian
Baru tidak dituliskan dalam bahasa Yunani melainkan Ibrani yang berasimilasi
dengan sejumlah kosa kata Aramaik. Kata DUGAAN jangan diartikan sama
sekali tiada bukti empiris. Karena, “the absence of evidence is not evidence of
absence”. Anda tidak dapat melemahkan dugaan saya dengan “argumentum e
silentio”. Mengenai keyakinan saya sebelum menemukan bukti Kitab Perjanjian
Baru berbahasa Ibrani, persis seperti adegan DR. Rushel yang menjabarkan
teori “Peleburan Dingin” dalam film “THE SAINT”. Ketika ditanya oleh para pakar
lain, “Bagaimana Anda begitu yakin bahwa teori itu akan terbukti benar jika
Anda sendiri belum dapat membuktikannya?” maka DR Rushel yang cantik
menjawan dengan penuh gairah di matanya, “Saya dapat merasakannya,
bahwa teori itu dapat dibuktikan, seperti air yang mengalir dari lautan menuju
pantai”. Inilah sikap saya ketika memberikan pernyataan bahwa saya tidak yakin
bahwa naskah Perjanjian baru ditulis dalam bahasa Yunani” (Teguh Hindarto,
MTh., Tanggapan Atas Artikel: Mengapa harus Yahweh?”, Majalah Rohani
HIKMAT No 107 September 2007, Po. Box 122 Kebumen 54300, Jateng, hal 56 {www.messianic-indonesia.com}). Bukanklah dalam bagian sebelumnya saya
telah memberikan kajian secara mendalam ketika menguji validitas pernyataan
Anda bahwa Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani?
Tanggapan Budi Asali:
Dalam debat terbuka antara saya dan Pendeta Esra versus Teguh Hindarto
dan Kristian Sugiyarto, MEREKA BERDUA MENGAKUI BAHWA BAHASA
ASLI PERJANJIAN BARU ADALAH BAHASA YUNANI. Kalau tak percaya,
lihat VCD / DVD nya! Mengapa sekarang Teguh Hindarto ngotot (baca
‘dengan tegar tengkuk’) ‘balik kucing’ dan mempertahankan bahwa bahasa
asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani? Saya kira Teguh Hindarto
adalah penipu / pendusta dan adalah orang yang tidak tulus sama sekali
dalam mencari kebenaran!!! Sebaliknya, dengan segala macam cara, halal
atau tidak, berusaha mempertahankan apa yang ia tahu tidak benar! SAYA
MINTA TEGUH HINDARTO UNTUK BERTOBAT! Atau Tuhan akan buang
38
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
anda ke dalam neraka karena kesesatan dan penyesatan yang anda
lakukan!
VII. TANGGAPAN ATAS ARTIKEL “HEBREWLANGUAGE”
Yohanes [28 Mei 2008]: Kali ini saya kutip satu referensi dari salah satu literatur
Yahudi: Hebrew was not used as a spoken language for roughly 2300
years. However the Jews have always devoted much effort to maintaining high
standards of literacy among themselves, the main purpose being to let any Jew
read the Hebrew Bible and the accompanying religious works in the original. It is
interesting to note that the languages that the Jews adopted from their adopted
nations, namely Ladino and Yiddish were not directly connected to Hebrew (the
former being based on Spanish and Arabic borrowings, latter being a remote
dialect of Middle High German), however, both were written from right to left
using the Hebrew script. Hebrew was also used as a language of
communication among Jews from different countries, particularly for the purpose
of international trade. The revival of Hebrew as a mother tongue was initiated by
the efforts of Eliezer Ben-Yehuda (1922-1858). Ben-Yehuda, previously an
ardent revolutionary in Tsarist Russia, had joined the Jewish national movement
and emigrated to pre-State Israel in 1881. Motivated by the surrounding ideals of
renovation and rejection of the diaspora lifestyle, Ben-Yehuda set out to develop
tools for vernacularizing the literary language for everyday communication.
Bagaimana tanggapan Anda atas pendapat orang Yahudi itu sendiri yang saya
tandai dengan huruf tebal? Dua ribu tiga ratus tahun sebelum masa kini berarti
jauh sebelum era Yesus Kristus ada di dunia ini. http://www.hebrewla
nguage.biz/ hebrew/history. asp & http://www.hebrewbi bles.com/ hebrew.html
Situs di atas adalah situs dari kalangan Yahudi sendiri.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai pernyataan seorang Yahudi dari HEBREWLANGUAGE, saya anggap
sebagai salah satu paradigma yang masih dipegang oleh kebanyakan para
sarjana yang akhir-akhir ini sedang mengalami peninjauan ulang. Kajian-kajian
DR. David Bivin, Shamuel Safrai, dalam www.jerusalemperspective.com bukan
hanya oleh orang-orang non Yahudi melainkan orang-orang Yahudi.
VIII. MENGENAI NASKAH PERJANJIAN BARU YUNANI DALAM DEAD SEA
SROLL
39
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Yohanes [29 Mei 2008]: Penemuan naskah laut mati tidak membuktikan bahwa
Yesus Kristus berbicara dalam bahasa Ibrani. Di samping naskah berbahasa
Ibrani, naskah berbahasa Aram pun ditemukan di sana. Penulisan Perjanjian
Damaskus pun demikian. Ahli Taurat dan orang Farisi di era Yesus Kristus
dapat saja menulis dalam bahasa Ibrani, namun mereka menggunakan bahasa
Aram sebagai percakapan sehari-hari. Penulisan dan pembicaraan itu berbeda.
Sekedar tambahan, salah satu fragmen dengan kode 7Q5 yang ditemukan
bersama-sama dengan dokumen Laut Mati lainnya adalah naskah Perjanjian
Baru dari Injil Markus pasal 6 ayat 52-53 dan ditulis dalam ... bahasa Yunani!
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Konteks pengutipan penemuan naskah Laut Mati, untuk memetakan dan
menelusuri kebudayaan dan bahasa tulis serta percakapan pada peralihan Abad
sebelum dan sesudah kelahiran Mesias. Dari 600-an manuskrip, dihasilkan rasio
penggunaan bahasa Ibrani dan Aramaik sbb:
“If we compare the total number of pages in these ten sectarian scrolls, we again
find a nine-to-one ratio of Hebrew to Aramaic (179 pages in the nine Hebrew
scrolls to 22 pages of Aramaic in the Genesis Apocryphon, David Bivin & Roy
Blizard, UNDERSTANDING THE DIFFICULT WORDS OF JESUS, 2001, P.29)
Perbandingan rasio penggunaan bahasa Ibrani dibandingkan Aramaik,
signifikan dengan upaya membuktikan dalam bahasa apakah Yahshua
berkomunikasi. Bahasa Ibrani terbukti bukan bahasa mati melainkan bahasa
yang tetap hidup, berkeksistensi dan dipergunakan baik dalam percakapan
sehari-hari, pengajaran maupun tulisan, di samping juga bahasa Aramaik.
Mengenai temuan gulungan 7Q5 di gua 7 yang merupakan fragmen dari Markus
6:52-53 dalam bahasa Yunani, dengan 20 huruf Yunani, tidak membuktikan
bahwa bahasa percakapan Yahshua adalah dalam bahasa Yunani. Meskipun
Robert Jones dalam THE DEAD SEA SCROLLS AND CHRISTIANITY
(www.sundayschollministries.com) mengatakan sbb:
“Jose O’ Calaghan, a Spanish Jesuit believes that some fragment from Cave 7
are from the Gospel of Mark. The theory is just (barely) possible. Cave 7 was
unique because all 18/19 fragments found were in GREEK (most of the other
scrolls are in Hebrew or Aramaic). Greek was of course, the language of the
early Christians but it was also the language of Hellenized Jews”
Namun “Early Christians” di sini harus dipahami sebagai orang-orang non
Yahudi yang kelak menerima Mesias, tentu saja menggunakan bahasa Yunani
sebagai bahasa percakapan (Apalagi eksistensi bahasa Yunani, Latin, Ibrani,
menjadi bahasa umum pada zaman itu, Yohanes 19:20) dan kelak dalam
40
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
penerjemahan ucapan-ucapan Mesias sehingga menjadi Kitab Perjanjian Baru
versi Greek.
Tanggapan Budi Asali:
Selalu membicarakan dengan bahasa apa Yesus bicara (dalam faktanya).
Ini tak ada gunanya! Dengan bahasa apapun Ia bicara, penulisannya dalam
Perjanjian Baru dilakukan dalam bahasa Yunani. Ini yang penting!
IX. EKSEGESE NEHEMIA 13:24
Yohannes: [OLD]: Saya kutip satu ayat, tolong berikan pendapat Anda atas
bagian yang saya tandai dengan huruf tebal: Sebagian dari anak-anak mereka
berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain itu dan tidak tahu berbicara
bahasa Yahudi. (Nehemia 13:24, TB-LAI) Teguh [OLD]: Anda seolah-olah
hendak mengatakan bahwa orang Yahudi sudah melupakan bahasa
Yahudi/Ibrani, dengan mengutip ayat yang lepas dari konteksnya. Padahal
kalimat dalam ayat 24, tidak dapat dilepaskan dengan konteks dalam ayat 23
yang mengatakan: "Pada masa itu juga kulihat bahwa beberapa orang Yahudi
memperisteri perempuan-perempuan Asdod, perempuan-perempuan Amon
atau perempuan-perempuan Moab". Akibat orang Yahudi memperistri bangsabangsa yang tidak mengenal Yahweh, keturunan mereka ada yang tidak bisa
berbahasa Yahudi/Ibrani. Tapi ayat ini TIDAK MENDUKUNG asumsi bahwa
bahasa Aramaik menggantikan bahasa Ibrani. Bahkan pada ayat 1 dikatakan
bahwa Kitab Torah tetap dibacakan dalam bahasa Ibrani sbb: "Pada masa itu
bagian-bagian dari pada kitab Musa dibacakan dengan didengar oleh rakyat.
Didapati tertulis dalam kitab itu, bahwa orang Amon dan orang Moab tidak boleh
masuk jemaah Tuhan untuk selamanya". Yohannes [29 Mei 2008]: Saya minta
pendapat Anda, koq Anda lantas menuding bahwa saya menyatakan orang
Yahudi sudah melupakan bahasa ibu? Ayat di atas menunjukkan suatu
kemungkinan bahwa bahasa Ibrani dapat saja menghilang dari peredaran atas
alasan tertentu.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai eksegesa Nehemia 13:24 yang mengatakan, “Sebagian (ycix]
{KHATSI) dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa
lain itu dan tidak tahu berbicara bahasa Yahudi” sudah jelas sebagaimana yang
telah saya uraian sebelumnya. Bahwa pembacaan ayat 24, tidak dapat
dilepaskan dari pembacaan ayat 23 yang mengatakan, “Pada masa itu juga
kulihat bahwa orang orang Yahudi memperisteri perempuan-perempuan Asdod,
41
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
perempuan-perempuan Amon atau perempuan-perempuan Moab.” Ayat ini
TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa bahasa Aramaik atau bahasa asing
menggantikan peranan bahasa Ibrani. Sebaliknya, terjadi asimilasi budaya dan
bahasa sehingga menyebabkan BEBERAPA(ycix] {KHATSI) bukan SEMUA (lk'
{KAL}), orang Yahudi tidak mengerti berkata-kata dalam bahasa Yahudi.
Tanggapan Budi Asali:
No comment! Saya bosan dengan ketololan seperti ini!
X. MENGENAI KATA “GAVAHTA” [YEKHZ 31:10] DAN “GABATA” [YOKH
19:3]: IBRANI ATAU ARAMAIK?
Yohannes: [OLD]: GABATA Kata Aramaik, seperti yang ditulis oleh Yosefus
dalam War, V.II.1. Kata GABAT berarti tempat yang tinggi, atau tempat yang
diangkat, yaitu suatu area datar yang diangkat dan terletak di dekat Bait Allah.
Aksara 'ALAF di belakang kata GABAT merujuk kepada status emphatic
(penekanan) pada nomina. Akar kata yang sama GÎMÊL-BÊT, GAV atau GAB,
dalam bahasa Ibrani digunakan untuk bulu mata, lingkar, perisai, bajak,
punggung, yang lebih mirip dengan makna tempat yang tinggi adalah dalam
Yehezkiel 16:39 (VEHARSÛ GABÊKH, dan mereka akan meruntuhkan
tempatmu yang tinggi), dan 43:13 (VEZEH GAV HAMIZBÊAKH, inilah tinggi
mezbah itu). Uniknya, New International Version menerjemahkan kata
HEBRAISTI menjadi Aramaic. When Pilate heard this, he brought Jesus out and
sat down on the judge's seat at a place known as the Stone Pavement (which in
Aramaic is Gabbatha). (John 19:13, NIV) Teguh [OLD]: Kata "Gabata" yang
Anda dan kebanyakan orang duga sebagai bahasa Aramaik, ternyata muncul
dalam Yekhezkiel 31:10 dalam frasa, "ya'an asher gabahta beqomah wayiten
tsammarto el beyn 'avotim". Yohannes [30 Mei 2008]: Ini namanya asbun alias
asal bunyi, mirip kasus QÛMÎ seperti yang dikutip oleh Kristian H. Sugiarto
dalam ungkapan TALITA KUMI tanpa mengkaji bahwa kata TALITA itu sendiri
bukan kata Ibrani. Sama halnya dengan mengatakan bahwa kata seronok
adalah kata Melayu yang digunakan khusus di Malaysia padahal dalam KUBI
pun terdapat kata itu yang berarti bahwa kata itu merupakan kata dalam bahasa
Indonesia. Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena ia
tumbuh tinggi dan puncaknya menjulang sampai ke langit dan ia menjadi
sombong karena ketinggiannya, (Yehezkiel 31:10, TB-LAI) LÂKHÊN (oleh sebab
itu) KOH (demikian) 'ÂMAR (firman) 'ADONÂY (Tuhan) YEHOVIH (Allah) YA'AN
(oleh karena) 'ASYER (yang) GÂVAHTÂ (engkau meninggikan) BEQÔMÂH
(pada tempat tinggi) VAYITÊN (dan ia meletakkan) TSAMARTÔ (puncaknya)
'EL-BÊYN (antara) 'AVÔTÎM (tali-tali tebal) VERÂM (dan ia meninggikan)
42
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
LEVÂVÔ (hatinya) BEGOVHÔ (pada ketinggiannya) GÂVAHTÂ dan GABATA
itu beda, yang pertama berjenis verba Ibrani dari akar kata GÂVAH atau
GÂBAH, sedangkan yang terakhir adalah nomina Aramaik dari akar kata GAB.
Teguh [OLD]: Kata "gabahta" merupakan bentuk kata kerja qal perfect orang
kedua maskulin tunggal yang bermakna "engkau telah ditinggikan" , dari akar
kata "gabah" yang bermakna "tinggi" atau "agung". Yohannes [30 Mei 2008]:
Saya lengkapi, QÂL perfek dari kata GÂVAH, bukan GAB.
GÂVAH
GÂVEHÂH
GÂVAHTÂ
GÂVAHAT
GÂVAHTÎ
Ia meninggikan GÂVEHÛ
Mereka meninggikan
Ia meninggikan (feminin)
Engkau meninggikan GÂVAHTEM Kalian meninggikan
Engkau meninggikan (feminin) GÂVAHTEN Kalian meninggikan (feminin)
Aku meninggikan GÂVAHNÛ Kami/kita meninggikan
XI. MENGENAI KATA “GPYTA” DALAM PESHITA ARAMAIK
Yohanes [2 Juni 2008]: Mengapa Pesyita Aramaik menulis GEPÎPTA, bukan
GABATA, seyogianya ditanyakan kepada penyusun Pesyita karena rasul
Yohanes tidak menulis Pesyita melainkan menulisnya dalam bahasa Yunani.
Ada tulisan menarik tentang hal ini dari John Gill, sebagai berikut:
in the place that is called the pavement, but in the Hebrew, Gabbatha. This
place, in the Greek tongue, was called Lithostrotos; or the pavement of stones,
as the Syriac version renders it: it is thought to be the room Gazith, in which the
sanhedrim sat in the temple when they tried capital causes [Glossary in Talmud
Babilonia, Avoda Zara, fol. 8. 2]; and it was so called, because it was paved with
smooth, square, hewn stones: "it was in the north part; half of it was holy, and
half of it common; and it had two doors, one for that part which was holy, and
another for that which was common; and in that half which was common the
sanhedrim sat" [Talmud Babilonia, Yoma, fol. 25. 1. Maimon. Hilch. Beth
Habbechira, c. 5. sect. 17. Bartenora in Misn. Middot, c. 5. sect. 3]
So that into this part of it, and by this door, Pilate, though a Gentile, might enter.
This place, in the language of the Jews, who at this time spoke Syriac, was
Gabbatha, front its height, as it should seem; though the Syriac and Persic
versions read Gaphiphtha, which signifies a fence, or an enclosure. Mention is
made in the Talmud Babilonia, Sabbat, fol. 115. 1, of the upper Gab in the
mountain of the house; but whether the same with this Gabbaths, and whether
this is the same with the chamber Gazith, is not certain. The Septuagint use the
same word as John here does, and call by the same name the pavement of the
temple on which the Israelites felt and worshipped God.
And when all the children of Israel saw how the fire came down, and the glory of
the LORD upon the house, they bowed themselves with their faces to the ground
upon the pavement, and worshipped, and praised the LORD, saying, For he is
good; for his mercy endureth for ever. (2Chronicles 7:3, KJV)
43
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Mengenai kata Yunani “Gabbaqa” (Gabbatha) yang Anda yakini sebagai Aramaik,
silahkan melihat kembali penjelasan saya pada bagian pertama. Akhiran “ALFA”
belum tentu semakna dengan ciri Aramaik yang pada kata benda selalu diakhiri
huruf “ALAF” sebagai definite article. Jika berasal dari bahasa Aramaik,
seharusnya mengikuti petunjuk Peshita Aramaik yang menuliskan Fpypg
(atpypg): GPYPTA. Jika Anda meyakini itu adalah bahasa Aramaik, seharusnya
bukan GABATHA melainkan GPYPTA? Sebagaimana kita ketahui bahwa huruf
Yunani tidak memiliki huruf “HEH” sebagaimana dalam bahasa Ibrani, sehingga
kata “GAVAHTTA” (T'h.b;ÞG)" ditransalikan bunyinya menjadi GABATA (Gabbaqa).
Bahkan kata GABATA (Gabbaqa) telah didahului dengan kata (~Ebrai?sti. {Hebraisti}).
Maka jelaslah bahwa yang dimaksud benar-benar bahasa Ibrani bukan Aramaik.
XII. MENGENAI KATA YUNANI “IDOU”
Yohannes [3 Juni 2008]: Kata IDOU, lihatlah, sesungguhnya adalah kata biasa
yang digunakan oleh banyak bahasa terutama bahasa-bahasa yang berasal dari
Fenisia, bukan hanya bahasa Ibrani. Bahasa Arab pun menggunakannya seperti
dalam frasa INNA LILLAAHI ... Alasan Anda tidak dapat diterima sama sekali.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Sebagaimana kojugasi “KAI” yang merupakan khas semitisme dalam Kitab
Perjanjian Baru naskah Yunani, demikianpula kata “IDOU” (ivdou) ketika muncul
dalam naskah Perjanjian Baru Yunani (sebanyak 199 kali, Bible Work Seri 6)
bukan corak umum bahasa Yunani melainkan menerjemahkan corak khas
bertutur Ibrani ketika menyebut “HINEH” (hNEh)i . Saya kutipkan mengenai makna
kata “HINEH” dari THEOLOGICAL WORD OF OLD TESTAMENT (BIBLE
WORK SERI 6) sbb:
(510a) hNEhi (hinneh) behold, lo, see. (ASV and RSV "if.") An interjection
demanding attention, "look!" "see!" it occurs over a thousand times.
Sementara mengenai kata “IDOU” saya kutipkan dari FRIBERG LEXICON
(BIBLE WORK SERI 6):
13979 ivdou, strictly, the second-person singular aorist middle imperative of
ei=don (see, perceive, look at) is ivdou/; but with an acute accent (ivdou,) when
used as a demonstrative particle to prompt attention, followed by the
nominative case to designate what is being pointed out; pay attention, (you)
see, look; (1) to arouse attention listen! (LU 22.10); (2) to introduce something
new and extraordinary indeed! (you) see! (MT 1.20); (3) to emphasize the
size, degree, amount, or importance of something in the context indeed (LU
13.16); (4) to call for close consideration listen! remember! consider! (MT
44
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
10.16); (5) to make prominent a noun that is without a finite verb, like behold!;
here or there is, here or there comes (MT 12.10; 25.6)
XIII. MENGENAI ANTIQUITES 20:11:2
Teguh [OLD]: Menurut keterangan Yosephus dalam Antiquites 20:11:2
diperoleh informasi sbb: " I have also taken a great deal of pains to obtain the
learning of the Greeks and understanding the element of the Greek language
although I have so long accustomed myself to speak our own language, that I
can't pronounce Greek with sufficient extantness; for our nation does not
encorage those that learn the languages of many nations". Jika ada larangan
berbahasa Greek di Yerusalem, apakah Paul akan lebih fasih berbahasa Greek
dibandingkan Yosephus yang juga terbata-bata mengucapkan bahasa Greek?
Yohannes [3 Juni 2008]: Tulisan Flavius Yosefus yang populer itu yaitu
Antiquitates Judaicae ditulis dalam bahasa Yunani. Frasa for our nation does not
encourage those that learn the languages of many nations itu bukanlah
menyangkut larangan menggunakan bahasa Yunani tetapi tidak disarankan
agar orang Yahudi mempelajari aneka ragam bahasa. Encourage itu berarti
memberikan semangat, to inspire with courage, spirit, or hope; courage itu
sendiri berarti kekuatan mental dan/atau moral.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Pengertian yang terkandung dalam pernyataan Yosefus tetap menyiratkan suatu
keengganan kalau tidak disebut sebagai penolakan terhadap penggunaan
bahasa Yunani. Bahkan pada frasa sebelumnya Yosefus sendiri mengatakan,
“…THAT I CAN’T PRONOUNCES GREEK WITH SUFFICIENT EXTANTNESS”.
Sarjana sekelas Yosefus saja tidak mahir berbahasa Yunani, maka sulit untuk
menalar Yokhanan, Matius dan rasul-rasul Yahudi lainnya untuk mahir
bercakap-cakap bahkan menuliskan Injilnya dalam bahasa Yunani.
XIV. MATIUS, MARKUS, LUKAS, BUTA BAHASA IBRANI?
Yohanes [3 Juni 2008]: Paulus berasal dari kalangan Farisi, dididik oleh
Gamaliel, tentu saja Paulus menguasai bahasa Ibrani, namun bagaimana
dengan Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Petrus, Yakobus, dan Yudas? Namanama yang saya tulis itu bukanlah orang terpelajar (bandingkan dengan Kisah
Para Rasul 4:13).
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Saya tidak mengerti apa alasan Anda mengatakan bahwa Matius, Markus,
Yokhanan, Kefa, Ya’akov yang orang Yahudi khoq dikatakan tidak mampu
berbahasa Ibrani? Bukankah itu bahasa ibu mereka? Tidak dibutuhkan
45
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
keterpelajaran bagi mereka untuk memahami bahasa Ibrani. Itu sudah alamiah
bagi mereka.
XV. DALAM BAHASA APA PAULUS MENULISKAN SURATNYA?
Yohannes: [OLD] Sulit diterima, tidak ada rujukan dalam Perjanjian Baru bahwa
surat-surat Paulus itu diterjemahkan, yang paling jelas adalah Paulus menulis
surat itu dengan tangannya sendiri. Pengen tanya, jika Paulus menulis surat
ketika berada dalam penjara, apakah Paulus memiliki sekretaris pribadi yang
menerjemahkan suratnya? Teguh: Kita hidup di Abad XXI yang sama-sama
sedang merekonstruksi kondisi Paul dan bagaimana cara dia menuliskan suratsuratnya pada waktu itu. Saya pikir bukan sesuatu yang tidak lazim jika seorang
rasul seperti Paul untuk memiliki seorang sekretaris atau penerjemah,
sebagaimana YirmiYah memiliki juru tulis Baruk. Kesimpulan yang saya buat
dikarenakan secara eksplisit Kitab Perjanjian Baru naskah Greek tidak pernah
melaporkan dia menggunakan "Hellenis Dialekton" melainkan "Hebraidi
Dialekton". Maka logikanya, Paul menuliskan dengan tangannya sendiri bahasa
yang familiar bagi dia yaitu Ibrani yang kemudian diterjemahkan untuk jemaat
non Yahudi. Yohannes [27 Mei 2008]: Anda memaksa agar Paulus tunduk
pada aturan abad modern ini yaitu bahwa ia mutlak harus memiliki sekretaris.
Situasi yang dialami Paulus berbeda dengan Yeremia.
Teguh [OLD]: Saya tidak menampik bahwa Rasul Paul tentu saja bisa
berbahasa Greek sepatah dua patah kata [Kis 21:37-38], namun melihat latar
belakang pendidikan Torah, latar belakang karakter bangsanya, maka
disangsikan Paul fasih berbahasa dan menuliskan keseluruhan suratnya dalam
bahasa Greek. Mengapa tidak mungkin jika Paul menuliskan suratnya dalam
bahasa Ibrani kemudian ada penerjemah yang menuliskan dalam bahasa Greek
kemudian Paul menyalinnya dalam bahasa Greek, sehingga dia mengatakan
"surat ini kutulis dengan tanganku sendiri?" Yohannes [3 Juni 2008]: Sudah
ditanggapi di atas bahwa sebagai seorang Farisi, tentu saja Paulus menguasai
bahasa Ibrani. Tentang Paulus menulis surat dalam bahasa Ibrani, saya lantas
membayangkan bagaimana Paulus menulis kata YHVH di situ karena menurut
aturan orang Farisi, menulis empat huruf sakral itu harus menggunakan empat
batang pena! Emangnya Paulus mengganti-ganti pena yang digunakannya?
Saya yakin Anda fasih berbahasa Indonesia dan menulis dalam aksara Latin,
namun saya tidak yakin Anda pun menguasai bahasa yang digunakan oleh
kerajaan Nusantara tempo doeloe...Alkitab pun mencatat bahwa Paulus
senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yunani, apakah lantas Dia bersaksi
dalam bahasa Ibrani? Bakal bengong tuh orang-orang Yunani! Paulus bukan
menguasai bahasa Yunani hanya satu atau dua kata saja, tetapi ia fasih
berbicara dalam bahasa Yunani. Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan
46
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha
membunuh dia. (Kisah Para Rasul 9:29, TB-LAI) Ada rujukan menarik tentang
orang Yahudi berbahasa Yunani ini dalam Talmud Hieros Sota: R. Levi bar
Chajethah went to Caesarea, and heard them reading Shema, (hear O Israel), in
the Hellenistic language; he sought to hinder them; R. Rose heard of it, and was
angry; and said, he that knows not to read in the Hebrew language, must he not
read at all? yea, he may read in whatsoever language he understands.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Argumentasi saya mengenai surat Rasul Paul sudah sangat jelas dengan
disertai penjelasan latar belakang keagamaan, pendidikan dan karakteristik
suratnya. Namun Anda masih teap juga skeptis bahwa Paul berbicara dalam
bahasa Yunani dan menuliskan langsung dalam bahasa Yunani. Sejak semula
telah saya katakan bahwa Paul tentu saja bisa berbahasa Yunani meski tidak
fasih. Indikasi ini dapat kita lihat dalam percakapan yang terekam dalam Kisah
Rasul 21:37 (pro.j se, o` de. e;fh ~Ellhnisti. ginw,skeij). namun kembali kita diberi
penegasan bahwa dia berbicara secara fasih dalam bahasa Ibrani (th/| ~Ebrai<di
diale,ktw|) sebagaimana terekam dalam Kisah Rasul 21:40.
Mengenai pernyataan Anda bahwa saya memaksakan situasi Abad XXI kepada
Abad I zaman Paul, sungguh tidak berdasar. Justru cara Anda
mengkontradiksikan bahwa Yeremiah yang hidup beratus tahun sebelum Paul,
sudah memiliki Sekretaris, tidak bisa diterapkan pada Paul, sangat tidak masuk
akal. Apa dasar epistemologis mengatakan bahwa situasi yang dialami
Yeremiah tidak bisa dialami Paul?
Bahkan Bart D. Ehrman dalam bukunya MISQUOTING JESUS yang
kontroversial, mengatakan demikian:
“Yang pertama harus kita ketahui adalah bahwa tampaknya surat itu,
sebagaimana surat Paulus lainnya, TIDAK DITULIS OLEH TANGANNYA
SENDIRI tetapi didiktekan kepada SEORANG JURU TULIS SEKRETARIS. Bukti
untuk hal itu terdapat di bagian akhir surat, dimana Paulus menambahkan
sebuah catatan yang ia tulis sendiri, sehingga penerima surat akan tahu bahwa
dialah yang bertanggung jawab atas surat itu (suatu teknik yang biasa digunakan
untuk surat-surat yang didiktekan pada zaman dahulu). Catatan itu mengatakan,
“Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan
tanganku sendiri” (Gal 6:11). Dengan kata lain, tulisan tangan Paulus lebih besar
dan kemungkinan tampak kurang profesional dibandingkan tulisan tangan sang
penyalin yang kepadanya Paulus mendiktekan surat itu”
47
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Bagaimana komentar Anda?
Tanggapan Budi Asali:
Saya beri tambahan di sini kata-kata Kristian Sugiyarto.
Kristian Sugiyarto: “Kis. 21:40 menyatakan bahwa Saulus berbicara dengan bahasa Ibrani,
minimal mulai dari ps.22:1-21 yang memuat pertemuan/pertobatan Saulus pada Yahshua
(Yesus), dan hal ini diulangi lagi dengan tegas bahwa teguran Yahshua pun dengan bahasa
Ibrani (Kis.26:14). Jadi dari Sorga Yahshua pun memilih berbahasa Ibrani bukannya Aramaik
apalagi Yunani; tentulah hal ini dilakukan karena Saulus (juga para rasul yang lain) adalah
Ibrani tulen dan bukan mustahil Saulus tidak fasih berbahasa Yunani. ”.
a) Kata-kata dari Kristian Sugiyarto yang mengatakan bahwa Paulus mungkin tidak
fasih berbahasa Yunani itu hanya dia dasarkan pada:
1. Kis 21:40 yang menunjukkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani.
Kis 21:40 - “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia
berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu;
ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam
bahasa Ibrani, katanya”.
Bdk. Kis 22:2 - “Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam
bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka”.
2. Kis 26:14 yang mengatakan bahwa Yesus berbicara kepada Paulus dalam bahasa
Ibrani.
Kis 26:14 - “Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara
yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa
engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang”.
Saya menjawab argumentasi Kristian Sugiyarto ini dengan suatu pertanyaan: kalau
ada seseorang berbicara kepada saya dalam bahasa Indonesia, dan kalau ada orang
yang mendengar saya berbicara dalam bahasa Indonesia, apakah kedua hal itu
membuktikan bahwa saya tidak bisa bahasa Inggris?
Saya kira dari illustrasi saya ini sudah sangat jelas bahwa argumentasi Kristian
Sugiyarto adalah argumentasi yang sangat tidak berdasar. Ayat-ayat yang ia gunakan
hanya membuktikan bahwa Paulus bisa berbahasa Ibrani, tetapi sama sekali tidak
membuktikan bahwa ia tidak bisa berbahasa Yunani.
b)
Kristian Sugiyarto memotong ayat dari kontextnya.
Dalam menggunakan Kis 21:40 dan Kis 22:2, Kristian Sugiyarto memotong ayat-ayat
tersebut dari kontextnya. Dengan kata lain, ia menafsirkan ayat-ayat itu tanpa
mempedulikan kontextnya. Untuk bisa melihat ini marilah kita melihat 2-3 ayat
sebelum text yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto.
48
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Kis 21:37-38 - “(37) Ketika Paulus hendak dibawa masuk ke markas, ia berkata
kepada kepala pasukan itu: ‘Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?’
Jawabnya: ‘Tahukah engkau bahasa Yunani? (38) Jadi engkau bukan orang
Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan
empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?’”.
Kepala pasukan itu adalah orang Romawi, bukan orang Yahudi, dan karena itu tidak
mungkin Paulus berbicara kepadanya dalam bahasa Ibrani. Dan dari kata-kata
‘Tahukah engkau bahasa Yunani?’ dalam Kis 21:37b itu, jelas terlihat bahwa pada
saat itu Paulus memang berbicara kepadanya dalam bahasa Yunani. Itu menyebabkan
dia kaget, karena dia tadinya mengira Paulus adalah orang Mesir (Kis 21:38). Albert
Barnes menganggap bahwa kata-kata ‘orang Mesir’ ini berarti ‘orang Yahudi dari
Mesir’.
Albert Barnes: “‘Canst thou speak Greek?’ ... The Greek language was what was
then almost universally spoken, and it is not improbable that it was the native
tongue of the chief captain. ... The language which the Jews spoke was the SyroChaldaic; and as he took Paul to be an Egyptian Jew (Acts 21:38), he supposed,
from that circumstance also, that he was not able to speak the Greek language” [=
‘Tahukah / bisakah engkau berbicara bahasa Yunani?’ ... Bahasa Yunani
adalah bahasa yang digunakan hampir secara universal, dan adalah mungkin
bahwa itu adalah bahasa ibu dari kapten kepala ini. ... Bahasa yang digunakan
oleh orang-orang Yahudi adalah Syro-Chaldaic; dan karena tadinya ia mengira
Paulus adalah seorang Yahudi dari Mesir (Kis 21:38), ia menduga, dari keadaan
itu juga, bahwa ia tidak bisa berbicara dalam bahasa Yunani].
Perhatikan bahwa text ini hanya 2-3 ayat sebelum Kis 21:40, yang digunakan oleh
Kristian Sugiyarto di atas. Jelas bahwa penafsirannya memotong ayat dari
kontextnya! Seandainya ia membaca seluruh kontext, tidak mungkin ia bisa
menyimpulkan bahwa Kis 21:40 menunjukkan bahwa Paulus tak bisa berbahasa
Yunani!
Bahkan sebetulnya, Kis 21:40 itu sendiri, yang tahu-tahu secara explicit menyebutkan
bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, jelas secara implicit menunjukkan
bahwa tadinya ia tidak berbicara dalam bahasa Ibrani. Lalu dalam bahasa apa? Jelas
dalam bahasa Yunani (Kis 21:37)!
Teguh Hindarto memang memperhatikan Kis 21:37-38, tetapi entah dari mana ia
menyimpulkan bahwa itu hanya menunjukkan bahwa Paulus hanya bisa berbicara
sepatah dua patah bahasa Yunani! Dari mana gerangan kesimpulan gila ini?
49
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Juga pada saat dikatakan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, boleh
dikatakan semua penafsir mengatakan bahwa yang disebut ‘bahasa Ibrani’ pada saat
itu adalah ‘bahasa Aram’ atau campuran Chaldee (Kasdim) dan Aram.
Adam Clarke (tentang Kis 21:40): “What was called then the Hebrew, namely, the
Chaldaeo-Syriac” (= Apa yang disebut bahasa Ibrani pada saat itu, artinya,
Chaldee-Aram).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kis 21:40): “‘He spake unto them in the
Hebrew tongue.’ - the Syro-Chaldaic, the vernacular tongue of the Palestine Jews
since the captivity” (= ‘Ia berbicara kepada mkrk dalam bahasa Ibrani’. - AramChaldee, bahasa rakyatdr orang-orang Yahudi di Palestina sejak pembuangan).
Albert Barnes (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew tongue.’ The language which
was spoken by the Jews, which was then a mixture of the Chaldee and Syriac,
called Syro-Chaldaic” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. Bahasa yang digunakan oleh
orang-orang Yahudi, yang pada saat itu merupakan campuran dari bahasa
Chaldee / Kasdim dan Aram, disebut Syro-Chaldaic).
Wycliffe Bible Commentary (tentang Kis 21:39-40): “When Paul had captured the
attention of the mob, he began to speak to them in the native Aramaic dialect,
which was the common Jewish language of both Palestine and western Asia” (=
Pada waktu Paulus telah menangkap perhatian dari orang banyak, ia mulai
berbicara kepada mereka dalam dialek Aram pribumi, yang merupakan bahasa
umum orang-orang Yahudi baik di Palestina maupun Asia Barat).
A. T. Robertson (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew language.’ ... The Aramaean
which the people in Jerusalem knew better than the Greek. Paul could use either
tongue at will” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. ... Bahasa Aram yang dikenal dengan
lebih baik dari pada bahasa Yunani oleh orang-orang di Yerusalem. Paulus bisa
menggunakan bahasa yang manapun dari kedua bahasa itu semaunya).
Vincent: “‘Tongue.’ DIALEKTOO. Literally, ‘dialect:’ the language spoken by the
Palestinian Jews - a mixture of Syriac and Chaldaic” (= ‘Bahasa’ DIALEKTOO.
Secara hurufiah, ‘dialek’: bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi
Palestina - suatu campuran dari Aram dan Chaldee / Kasdim).
c)
Bahwa Paulus bisa berbahasa Yunani, terbukti dari banyak hal, seperti:
1. Paulus berasal dari kota yang bernama Tarsus (Kis 9:11 21:39 22:3).
Dimana dan bagaimana kota Tarsus itu, dan khususnya bahasa apa yang
digunakan di sana?
Gary Mink (internet): “He was born in Tarsus, a city in the Roman province of
Cilicia. Cilicia was part of Asia, which had been conquered by Alexander the
Great about 300 years before Paul was born. The whole area was thoroughly
Greek, both in culture and in language. The Romans took control of it about
50
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
100 B.C. Paul was born a Roman citizen and probably knew Greek from
childhood. Regardless of when he learned it, he was fluent in it” (= Ia
dilahirkan di Tarsus, suatu kota di propinsi Romawi dari Kilikia. Kilikia
adalah bagian dari Asia, yang telah dtaklukkan oleh Alexander yang Agung
sekitar 300 tahun sebelum Paulus dilahirkan. Seluruh daerah itu sepenuhnya
bersifat Yunani, baik dalam kebudayaan maupun bahasa. Orang-orang
Romawi menguasainya pada sekitar tahun 100 SM. Paulus dilahirkan
sebagai seorang warga negara Romawi dan mungkin mengenal bahasa
Yunani sejak masa kanak-kanak. Tanpa menghiraukan tentang kapan ia
mempelajarinya, ia fasih dalam bahasa itu).
Nelson’s Bible Dictionary: “TARSUS ... the birthplace of the apostle Paul (Acts
21:39, 22:3), formerly known as Saul of Tarsus (Acts 9:11). Tarsus was the
chief city of CILICIA, a province of southeast Asia Minor (modern Turkey; ...).
... During the Seleucid period, however, Tarsus became a free city (about 170 B.
C.), and was open to Greek culture and education. By the time of the Romans,
Tarsus competed with ATHENS and ALEXANDRIA as the learning center of
the world” [= TARSUS ... tempat kelahiran dari rasul Paulus (Kis 21:39,
22:3), yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus (Kis 9:11). Tarsus
adalah kota utama dari Kilikia, sebuah propinsi dari Asia Kecil sebelah
tenggara (pada jaman modern itu adalah Turki; ...). ... Tetapi selama masa
Seleucid, Tarsus menjadi suatu kota yang bebas (sekitar tahun 170 SM), dan
terbuka bagi kebudayaan dan pendidikan Yunani. Pada jaman Romawi,
Tarsus bersaing dengan Athena dan Alexandria sebagai pusat pendidikan
dunia].
The International Standard Bible Encyclopedia: “TARSUS. 1. Situation: The
chief city of Cilicia, the southeastern portion of Asia Minor. ... 4. Tarsus under
Greek Sway: Alexander’s overthrow of the Persian power brought about a
strong Hellenic reaction in Southeastern Asia Minor and must have
strengthened the Greek element in Tarsus, but more than a century and a half
were to elapse before the city attained that civic autonomy which was the ideal
and the boast of the Greek polis. ... From this time Tarsus is a city of Hellenic
constitution, and its coins no longer bear Aramaic but Greek legends” (= ).
The International Standard Bible Encyclopedia: “PAUL, THE APOSTLE, PART
IV-1. 1. The City of Tarsus: Geography plays an important part in any life. ...
Paul grew up in a great city and spent his life in the great cities of the Roman
empire. ... He was not merely a resident, but a ‘citizen’ of this distinguished city.
This fact shows that Paul’s family had not just emigrated from Judaea to
Tarsus a few years before his birth, but had been planted in Tarsus as part of a
51
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
colony with full municipal rights (Ramsay, St. Paul the Traveller, 31 f). Tarsus
was the capital of Cilicia, then a part of the province of Syria, ... Ramsay (ib,
117 ff) from Gen 10:4 f holds that the early inhabitants were Greeks mingled
with Orientals. East and West flowed together here. It was a Roman town also
with a Jewish colony (ibid., 169 ff), constituting a city tribe to which Paul’s
family belonged. So then Tarsus was a typical city of the Greek-Roman
civilization” (= )
Encyclopedia Britannica 2007 dengan topik ‘Paul, the apostle, saint’:
“Like many of the Jews there Paul inherited Roman citizenship, probably
granted by the Romans as a reward for mercenary service in the previous
century. This fact explains his two names. He used his Jewish name, Saul,
within the Jewish community and his Roman surname, Paul, when speaking
Greek. Though he had a strict Jewish upbringing, he also grew up with a good
command of idiomatic Greek and the experience of a cosmopolitan city, which
fitted him for his special vocation to bring the gospel to the Gentiles (nonJews)” (= ).
Jadi, asal usul Paulus dari kota yang bernama Tarsus, yang bukan terletak di
Palestina / Kanaan, tetapi di Kilikia (Kis 21:39 22:3), dan dipenuhi oleh
kebudayaan Yunani. Lalu mungkinkah ia ternyata tidak bisa berbahasa Yunani?
2. Paulus adalah rasul bagi orang-orang non Yahudi (Kis 9:15 Kis 22:21 Kis 26:17
Gal 1:16 Gal 2:7-9).
Mengingat bahwa Yunani merupakan bahasa ‘seluruh dunia’ pada saat itu
(mungkin seperti bahasa Inggris pada jaman ini), maka kalau Paulus dijadikan
rasul orang-orang non Yahudi, adalah tidak masuk akal kalau ia tidak bisa bahasa
Yunani!
3. Paulus banyak memberitakan Injil dan mempertobatkan orang-orang non Yahudi /
orang Yunani.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
• Kis 9:28-29 - “(28) Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di
Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. (29) Ia
juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang
berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.
• Kis 14:1 - “Di Ikoniumpun kedua rasul itu (Paulus dan Barnabas) masuk ke
rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga
sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya”.
52
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
• Kis 17:4,12 - “(4) Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan
menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar
orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuanperempuan terkemuka. ... (12) Banyak di antara mereka yang menjadi
percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka
dan laki-laki Yunani”.
• Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan
berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.
• Kis 19:8-10 - “(8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di
situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha
meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (9) Tetapi ada beberapa
orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan
mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus
meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka,
dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus. (10) Hal ini
dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia
mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani”.
• Kis 20:2,3,21 - “(2) Ia menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat
menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani.
(3) Sesudah tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria.
Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia.
Karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia. ... (21) aku
senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani,
supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita,
Yesus Kristus”.
Kalau Paulus tidak bisa berbahasa Yunani, lalu dengan bahasa apa ia
memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi / orang-orang Yunani itu?
Dengan bahasa Roh?
4. Dalam Kis 17:16-34 Paulus berada di Atena, suatu kota di Yunani. Mula-mula, ia
memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di kota itu (ay 17), tetapi setelah
itu, khususnya mulain ay 22, ia berkhotbah pada para penyembah dari ‘Allah
yang tidak dikenal’, yang jelas tidak mungkin adalah orang-orang Yahudi, dan
pasti adalah orang-orang Yunani. Dengan bahasa apa ia memberitakan Injil, kalau
bukan dalam bahasa Yunani?
5. Paulus memberitakan Injil dalam penjara kepada tentara-tentara Romawi.
Fil 1:12-13 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu,
bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,
53
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
(13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa
aku dipenjarakan karena Kristus”.
Kis 16:27-32 - “(27) Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan
melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak
membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu
telah melarikan diri. (28) Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring,
katanya: ‘Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di
sini!’ (29) Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk
dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. (30) Ia
mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus
aku perbuat, supaya aku selamat?’ (31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada
Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’
(32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada
semua orang yang ada di rumahnya”.
Ini hanyalah sedikit contoh dari banyak kasus dimana Paulus berbicara kepada
orang-orang non Yahudi. Bagaimana ia melakukan semua itu kalau ia tidak bisa
berbahasa Yunani?
6. Dalam Kis 26, Paulus memberikan pembelaan dan sekaligus kesaksian di hadapan
Agrippa, dan banyak orang-orang lain, yang semuanya jelas bukan orang-orang
Yahudi. Karena itu, tidak mungkin ia menggunakan bahasa Ibrani. Ia pasti
berbicara dalam bahasa Yunani.
7. Surat-surat Paulus ditujukan kepada gereja-gereja dari kota-kota non Yahudi
(Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika) dan juga kepada
pribadi-pribadi non Yahudi (seperti Timotius, Titus, dan Filemon).
Adalah lucu kalau ia menulis surat kepada orang-orang non Yahudi ini dalam
bahasa Ibrani! Ia pasti bisa berbahasa Yunani, dan ia pasti menulis surat-suratnya
dalam bahasa Yunani.
d)
Kata-kata F. F. Bruce tentang Paulus.
F. F. Bruce: “Judea, and even Jerusalem, formed part of the Hellenistic world.
Greek was spoken alongside Aramaic (and possibly Hebrew) in the holy city itself
and, as we have seen, Hellenistic Jews had their synagogues there in which the
scriptures were read and worship was conducted in Greek. The pagan influences of
Hellenism were kept at bay from the circle in which Paul received his education,
but even the sages knew Greek and were capable of giving their pupils prophylactic
courses in Greek languange and culture. Simeon the son of Gamaliel is said to
have had many pupils who studied ‘the wisdom of the Greeks’ alongside as many
54
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
others who studied the Torah, and it need not be doubted that Gamaliel the elder
also had such pupils. It is quite probable that Paul acquired the rudiments of Greek
in Gamaliel’s school. But from his return to Tarsus throughout the rest of his
active life he was exposed to the Greek way of life in one city after another, for he
no longer led a cloistered existence, but lived for the most part as a Gentile among
Gentiles in order to win Gentiles for the gospel. The knowledge of Greek literature
and thought that his letters attest was part of the common stock of educated people
in the Hellenistic world of that day; it bespeaks no formal instruction received from
Greek teachers” [= Yudea, dan bahkan Yerusalem, membentuk bagian dari
dunia yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani. Yunani
digunakan sebagai bahasa percakapan bersama-sama dengan Aram (dan
mungkin Ibrani) di kota kudus itu sendiri, dan seperti yang telah kita lihat,
orang-orang Yahudi yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan bahasa Yunani,
mempunyai sinagog-sinagog di sana, dimana Kitab Suci dibacakan dan ibadah
diadakan dalam bahasa Yunani. Pengaruh-pengaruh kafir dari pengaruh
kebudayaan dan bahasa Yunani dipertahankan dari lingkungan dimana Paulus
menerima pendidikannya, tetapi bahkan guru-guru / orang-orang bijak
mengerti bahasa Yunani dan bisa memberikan murid-murid mereka pelajaran
pencegahan / perlindungan dalam bahasa dan kebudayaan Yunani. Simeon
anak dari Gamaliel dikatakan mempunyai banyak murid yang belajar ‘hikmat
dari orang-orang Yunani’ bersama-sama dengan banyak orang-orang lain yang
mempelajari Taurat, dan tidak perlu diragukan bahwa Gamaliel yang lebih tua
juga mempunyai murid-murid seperti itu. Adalah cukup memungkinkan bahwa
Paulus menerima dasar-dasar dari bahasa Yunani di sekolah Gamaliel. Tetapi
dari kembalinya ia ke Tarsus dalam sepanjang sisa kehidupan aktifnya ia
terbuka terhadap gaya hidup Yunani dari satu kota ke kota lain, karena ia tidak
lagi menjalani kehidupan yang menyendiri, tetapi hidup pada umumnya sebagai
seorang non Yahudi di antara orang-orang non Yahudi untuk memenangkan
orang-orang non Yahudi bagi Injil. Pengetahuan tentang literatur dan
pemikiran Yunani yang ditunjukkan oleh surat-suratnya merupakan bagian
dari kelompok umum dari orang-orang berpendidikan dalam dunia Yunani
pada jaman itu; itu memperlihatkan pendidikan tidak formal yang diterima
dari guru-guru Yunani] - hal 126-127.
Bdk. 1Kor 9:19-22 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku
menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan
sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi
seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi
orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang
yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di
bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di
bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum
55
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat,
sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah
hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di
bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti
orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi
semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin
memenangkan beberapa orang dari antara mereka”.
XVI. SERUAN DI KAYU SALIB
Yohannes: [2 Juni 2008]: Saya memiliki satu permintaan buat Anda, kalo Anda
engga keberatan. Dapatkah Anda mengutip Matius 27:46 dari versi Du Tillet?
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama
sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
(Matius 27:46, TB-LAI). Teguh [OLD]: Baiklah, saya akan memenuhi permintaan
Anda. Berikut kutipan Matius 27:46 versi DU TILET. [insert atau baca dalam
font BWEHEBB]. Saya kirimkan bagi Anda juga teks DU TILLET untuk dikaji.
Yohannes [OLD]: Saya kurang tahu apakah Anda kurang tepat menulis, apakah
Du Tillet sendiri yang keliru, atau penyalin lapis berikutnya yang kurang teliti.
Coba Anda perhatikan kata yang terakhir itu ditulis dengan SYÎN-KÂF-HÊ'-TÂVNÛN-YÔD sehingga bakal terbaca SYAKHAHTANÎ bukan SABAKHTANI
sebagaimana yang diucapkan oleh Yesus Kristus. Kata SYÂKHÂH itu berarti
pagi, bukan meninggalkan. Saya salin kembali Matius 27:46 dari naskah Du
Tillet yang baru saya peroleh di internet, huruf KÂF itu saya ganti menjadi BÊT,
agak mirip memang, namun BÊT memiliki garis datar pendek di sebelah kanan
bawah, tidak melengkung seperti KÂF. ÛVASYÂ'ÂH (dan pada jam) TESYÎ'ÎT
(sembilan) QÂRÂ' (Dia berseru) YESYÛ (Yesus) BEQÔL (dengan suara)
GÂDÔL (nyaring) VAYO'MER (dan Dia berkata) 'ÊLÎ (Allahku) 'ÊLÎ (Allahku)
LÂMÂH (mengapa) SYEVÂHTÂNÎ' [?]. Meskipun huruf KÂF diganti menjadi
BÊT, kata SYEVÂHTANI itu pun tidak berarti engkau meninggalkan aku karena
SYÎN-BÊT-HÊ' berarti sebaliknya, menangkap, menahan (menawan). Kata yang
tepat adalah SYEVAQTÂNÎ' yaitu menggunakan QÔF dan bukan HÊ' pada
aksara yang ketiga. SYEVAQTÂNÎ adalah kata Aram, dari kata SYEVAQ,
meninggalkan. Kelihatannya versi Du Tillet ini patut dipertanyakan karena keliru
menulis SYEVAHTÂNI, engkau menahanku. Di atas kayu salib, Yesus Kristus
mengutip Mazmur 22:2 di bawah ini, memang berbeda, apalagi jika
dibandingkan dengan naskah Du Tillet. Allahku, Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong
aku. (Mazmur 22:2, TB-LAI) 'ÊLÎ 'ÊLÎ LÂMÂH 'AZAVTÂNÎ RÂKHÔQ MÎSYÛ'ÂTÎ
DIVRÊY SYA'AGÂTÎ
56
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Saya belum mengerti dengan arah diskusi Anda ketika meminta saya
mengutipkan Matius 27:46 dari naskah DU TILLET. Apakah karena Anda
hendak membuktikan bahwa sesungguhnya teriakan Mesias di kayu salib
adalah seruan berbahasa Aramaik? Kalau kata ‘SHABAKTHANI” (sabacqani)
dijadikan satu-satunya alasan bahwa Mesias mengucapkan bahasa Aramaik,
mengapa pula Peshitta Aramaik menuliskan seruan tersebut demikian:
Yntqbv anml Lya Lya
(yntqbv anml lya lya)
Tentu Anda tidak akan meminta saya untuk menanyakan pada penulis Peshita
Aramaik lagi khoq tidak menuliskan seperti yang tertulis dalam naskah Yunani
khan? Naskah Peshitta Aramaik tidak menggunakan ‘LAMA” (hm'äl) melainkan
“LEMANA” (anml). Naskah Aramaik tidak menggunakan “ELI” (yliaeâ) melainan
“EYL” (Lya). Bahkan TARGUM ARAMAIK Mazmur 22:1 pun menuliskan
demikian:
yntqbv hm lwjm yhla yla yhla yla
Tidak ditemukan kata “LEMANA” (sebaliknya METUL MAH), tidak pula kata
“EYL” (sebaliknya ELI ELAHAY). Oleh karenanya, saya memberikan dua
pendekatan terhadap seruan Mesias di kayu salib: Pertama, Mesias memang
benar-benar mengutip Mazmur 22:1 dalam bahasa Ibrani yang berbunyi:
ynIT"+b.z:[] hm'äl' yliaeâ yliäae
(ELI-ELI LAMA AZAVTANI)
Namun oleh penulis Peshitta Aramaik disalin dalam bunyi Aramaik sehingga
diterjemahkan demikian:
yntqbv anml lya lya
(EYL EYL LEMANA SHABAQTANI)
Kemudian penyalin Matius berbahasa Yunani menuliskan:
57
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
elwi elwi lema sabacqani
(ELOI ELOI LEMA SABACHTHANI)
Kedua, dimungkinkan Mesias berseru dalam bahasa Ibrani yang telah
mengalami asimilasi dengan bahasa Aramaik. Terbukti kata “LEMA” adalah
bahasa Ibrani (Mzm 22:1) sementara kata “SABACHTHANI” merupakan
Aramaik. Namun dugaan ini perlu didalami lagi dengan melibatkan
penelusuran filologis.
Mengenai pembacaan DU TILLET yang berbeda dengan naskah Aramaik dan
Yunani yaitu menggunakan kata “SHKKHTNY”, bagi saya secara akademis
memerlukan pengkajian yang lebih mendalam. Ini merupakan varian bacaan
yang perlu didalami kebenarannya dan mengapa digunakan kata tersebut.
Jika “SHKKHTNY”, diartikan “MENAHAN”, ‘MENAWAN”, berarti secara
akademis teks ini apat dibaca demikian: “TUHANKU-TUHANKU, MENGAPA
ENGKAU MENAHANKU?” (maksudnya menahan di kayu salib). Bukankah
sejak semula pada penjelasan keempat saya sudah menyampaikan
karakteristik khas DU TILLET yang dalam beberapa hal tidak sepakat dengan
naskah Yunani? Berarti perbedaan ini pun perlu dipahami dari sudut pandang
tersebut.
Tanggapan Budi Asali:
Saya akan fokuskan pada bahasa asli dari Perjanjian Baru. Ada banyak bukti,
tetapi saya berikan hanya sedikit saja, sebagai berikut:
1) Banyak / semua sumber mengatakan demikian.
Gary Mink (internet): “THE WORLD BOOK ENCYCLOPEDIA: The original
language of the New Testament is the common vernacular Greek that was widely
used at the time of Jesus. COMPTON’S ENCYCLOPEDIA: All of the books [of the
New Testament] were originally written in Greek. NEW CATHOLIC
ENCYCLOPEDIA: They [New Testament writings] were all written originally in
Greek. THE ENCYCLOPEDIA AMERICANA: In this language [Koine Greek] the
New Testament was written, and thousands upon thousands of papyri, contemporary
with the New Testament, and discovered only in the last few decades, have
58
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
contributed to give us a clear conception of this wide spread lingua franca, that was
found wherever Greeks and Greek civilization penetrated”.
Catatan: Gary Mink sebetulnya memberikan lebih banyak lagi Encyclopedia yang
menyatakan hal ini, tetapi saya memberikan di sini hanya sebagian saja.
Encyclopedia Britannica 2007 dengan topik ‘Koine (Greek language)’:
“the fairly uniform Hellenistic Greek spoken and written from the 4th century Bc
until the time of the Byzantine emperor Justinian (mid-6th century AD) in Greece,
Macedonia, and the parts of Africa and the Middle East that had come under the
influence or control of Greeks or of Hellenized rulers. Based chiefly on the Attic
dialect, the Koine superseded the other ancient Greek dialects by the 2nd century
AD. Koine is the language of the Greek translation of the Old Testament (the
Septuagint), of the New Testament, and of the writings of the historian Polybius and
the philosopher Epictetus. It forms the basis of Modern Greek”.
Halley’s Bible Handbook: “Ancient translations. The Old Testament was written in
Hebrew. The New Testament was written in Greek. A Greek translation of the Old
Testament called ‘The Septuagint,’ made in the 3rd century BC, was in common use
in Jesus’ day. Greek was the language in general use throughout the Roman world”
(= ) - hal 753-754.
Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, The New
Testament’): “For a time, some Christian scholars treated the Greek of the New
Testament as a special kind of religious language, providentially given as a proper
vehicle for the Christian faith. It is now clear from extrabiblical writings of the
period that the language of the New Testament is koine, or common Greek, that
which was used in homes and marketplaces” (=).
Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, The New
Testament’): “Extant Greek manuscripts of the New Testament - complete, partial, or
fragmentary - now number about 5000. None of these, however, is an autograph, an
original from the writer. Probably the oldest is a fragment of the Gospel of John
dated about AD 120-40. The similarities among these manuscripts is most
remarkable when one considers differences of time and place of origin as well as the
methods and materials of writing. Dissimilarities, however, involve omissions,
additions, terminology, and different ordering of words. Comparing, evaluating, and
dating the manuscripts, placing them in family groups, and developing criteria for
ascertaining the text that most likely corresponds to what the authors wrote are the
tasks of critics. They are aided in their judgments by thousands of scriptural citations
in the writings of the early Fathers of the Church and by a number of early
translations of the Bible into other languages. The fruit of the labor of text critics is
59
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
an edition of the Greek New Testament that offers not only what is judged to be the
best text but also includes notes indicating variant readings among the major
manuscripts. The more significant of these variants usually appear in English
translations as footnotes citing what other ancient authorities say (see, for example,
Mark 16:9-20; John 7:53-8:11; Acts 8:37). Critical editions of the Greek New
Testament have appeared with some regularity since the work of the Dutch scholar
Desiderius Erasmus in the 16th century” (=).
Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, the New Testament’):
“Early Versions. Because the New Testament was written in Greek, the story of the
transmission of the text and the establishing of the canon sometimes neglects the
early versions, some of which are older than the oldest extant Greek text. The rapid
spread of Christianity beyond the regions where Greek prevailed necessitated
translations into Syriac, Old Latin, Coptic, Gothic, Armenian, Georgian, Ethiopic,
and Arabic. Syriac and Latin versions existed as early as the 2nd century, and Coptic
translations began to appear in the 3rd century. These early versions were in no
sense official translations but arose to meet regional needs in worship, preaching,
and teaching. The translations were, therefore, trapped in local dialects and often
included only selected portions of the New Testament. During the 4th and 5th
centuries efforts were made to replace these regional versions with more
standardized and widely accepted translations. Pope Damasus I in 382 commissioned
St. Jerome to produce a Latin Bible; known as the Vulgate, it replaces various Old
Latin texts. In the 5th century, the Syriac Peshitta replaced the Syriac versions that
had been in popular use up to that time. As is usually the case, the old versions
slowly and painfully gave way to the new” (=).
Catatan: perhatikan bahwa dalam early versions itu tak ada yang bahasa Ibrani!
Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, the New Testament’):
“Translations of the Reformation Period. In 1525 the English reformer William
Tyndale translated the New Testament from the Greek text, copies of which were
printed in Germany and smuggled into England. Tyndale’s translation of the Old
Testament from the Hebrew text was only partly completed. His simple prose and
popular idiom established a style in English translation that was continued in the
Authorized Version of 1611 (the King James Version) and eventually in the Revised
Standard Version of 1946-52” (=).
Microsoft Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘koine’): “The early
Christian writers who transcribed and compiled the New Testament made use of a
variety of the Koine (Greek for ‘common’), the court and literary language of
Hellenistic Greece” (=).
60
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
2) Yesus menyebut diriNya dengan istilah Alpha dan Omega, yang merupakan huruf
Yunani yang pertama dan terakhir, dalam abjad Yunani. Mengapa tak menggunakan
Alif dan Tau (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Ibrani), kalau bahasa aslinya
adalah bahasa Ibrani dan bukan Yunani?
Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang
sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Wah 21:6 - “FirmanNya lagi kepadaku: ‘Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa
dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum
dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan”.
Wah 22:13 - “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang
Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.’”.
3) Ayat-ayat yang memberikan terjemahan / penjelasan arti dalam bahasa Yunani
semuanya menjadi kacau / tidak masuk akal, seandainya bahasa asli Perjanjian Baru
adalah bahasa Ibrani.
Misalnya:
a) Yoh 1:38,41,42 - “(38) Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa
mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah yang kamu cari?’
Kata mereka kepadaNya: ‘Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau
tinggal?’ ... (41) Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan
ia berkata kepadanya: ‘Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).’
(42) Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata:
‘Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya:
Petrus).’”.
b) Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan
seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang
berarti: Allah menyertai kita”.
Bandingkan Mat 1:23 ini dengan Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang
akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang
perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki,
dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.
Dalam Mat 1:23 ada arti untuk kata / nama ‘Imanuel’ itu, sedangkan dalam Yes
7:14 tidak ada. Mengapa? Karena Yesaya menulis dalam bahasa Ibrani kepada
orang-orang Yahudi, yang mengerti artinya. Matius menulis dalam bahasa Yunani
kepada orang-orang yang tidak mengerti bahasa Ibrani, dan karena itu ia harus
memberikan arti dari kata ‘Imanuel’ itu!
61
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
c) Kis 1:19 - “Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah
itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri ‘Hakal-Dama’, artinya Tanah
Darah”.
Gary Mink (internet): “we find Aramaic and Hebrew words in the Greek New
Testament. This all the more confirms to us that the book was written in Greek. For
if it had been written in Aramaic or Hebrew then translated into Greek, the Aramaic
and Hebrew words simply would have been translated along with the rest of the
book. The New Testament writers put these words and expressions in the New
Testament. Then they translated these words for their readers” (= kita menemukan
kata-kata Aram dan Ibrani dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani. Ini makin
meneguhkan kita bahwa buku itu ditulis dalam bahasa Yunani. Karena
seandainya itu ditulis dalam bahasa Aram atau Ibrani dan lalu diterjemahkan ke
Yunani, maka kata-kata Aram dan Ibrani itu akan sudah diterjemahkan
bersama dengan sisa dari buku itu. Penulis-penulis Perjanjian Baru meletakkan
kata-kata dan ungkapan-ungkapan ini dalam Perjanjian Baru. Lalu mereka
menterjemahkan kata-kata ini bagi pembaca-pembaca mereka).
Kalau mereka menjawab dengan mengatakan bahwa dalam bahasa aslinya, yaitu
bahasa Ibrani, sebetulnya arti / terjemahannya tidak ada, dan penterjemah ke bahasa
Yunani menambahi arti / terjemahannya, maka saya jawab: mengapa tak semua kata
Ibrani diberi arti? Misalnya: kata ‘Haleluyah’ dan kata ‘Amin’ dalam Wah 19:1,3,4,6,
dan juga kata ‘Hosana’ dalam Mat 21:9,15 Mark 11:9-10 Yoh 12:13.
Wah 19:1,3,4,6 - “(1) Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang
nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: ‘Haleluya!
Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, ... (3) Dan
untuk kedua kalinya mereka berkata: ‘Haleluya! Ya, asapnya naik sampai
selama-lamanya.’ (4) Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu
tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka
berkata: ‘Amin, Haleluya.’ ... Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar
orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya:
‘Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”.
Mengapa penterjemah Yunani itu tidak menambahi kata-kata ‘artinya Puji Tuhan /
Yahweh’???
Mat 21:9,15 - “(9) Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang
mengikutiNya dari belakang berseru, katanya: ‘Hosana bagi Anak Daud,
diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang
mahatinggi!’ ... (15) Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat
62
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
melihat mujizat-mujizat yang dibuatNya itu dan anak-anak yang berseru dalam
Bait Allah: ‘Hosana bagi Anak Daud!’ hati mereka sangat jengkel”.
Mark 11:9-10 - “(9) Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang
mengikuti dari belakang berseru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam
nama Tuhan, (10) diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita
Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!”.
Yoh 12:13 - “mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia
sambil berseru-seru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,
Raja Israel!’”.
Kata ‘Hosana’ adalah kata bahasa Ibrani, dan mempunyai arti ‘save now’ (=
selamatkanlah sekarang)
Wycliffe Bible Commentary: “‘Hosanna.’ A Hebrew expression meaning ‘Save
now’” (= ‘Hosanna’. Suatu ungkapan Ibrani yang berarti ‘Selamatkanlah
sekarang’).
Unger’s Bible Dictionary: “HOSANNA (Gk. hosannah, from Heb. hoshi`ana', ‘save
now’)” [= HOSANNA (Yunani HOSANNAH, dari Ibrani HOSHIANA,
‘selamatkanlah sekarang’].
Mengapa kata ‘Hosana’ ini tak diterjemahkan?
Kelihatannya, kata-kata bahasa Ibrani yang sudah menjadi Yunani (diyunanikan) tidak
diberi terjemahan. Tetapi kata-kata Ibrani yang bahasa Yunaninya berbeda, diberi arti.
Kalau mereka mengatakan: karena kata-kata ‘Haleluyah’ dan ‘Hosana’ itu populer,
maka kata-kata itu tidak diberi terjemahan, maka saya bertanya: apakah kata-kata itu
lebih populer dari kata ‘Mesias’? Kata ‘Mesias’ begitu populer, dan tidak mungkin ada
orang Yahudi yang tak tahu arti kata itu, tetapi kata itu tetap diberi terjemahannya
dalam bahasa Yunani (Yoh 1:41).
Dengan cara yang sama, jelas bahwa bahasa asli Perjanjian Baru bukan Aram, karena
adanya istilah-istilah bahasa Aram, yang diterjemahkan ke Yunani, seperti:
•
Mark 5:41 - “Lalu dipegangNya tangan anak itu, kataNya: ‘Talita kum,’
yang berarti: ‘Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!’”.
•
Yoh 20:16 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Maria!’ Maria berpaling dan berkata
kepadaNya dalam bahasa Ibrani: ‘Rabuni!’, artinya Guru”.
Catatan: ayat ini juga menunjukkan bahwa kalau dikatakan ‘bahasa Ibrani’ kadangkadang maksudnya adalah ‘bahasa Aram’. Kata ‘Rabuni’ adalah bahasa Aram, kata
Ibraninya adalah ‘Rabi’ (Yoh 1:38).
•
Ro 8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat
kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan
kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
63
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
•
Yoh 19:13 - “Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh
membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang
bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata”.
•
1Kor 16:22 - “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.
Maranata!”.
Catatan: Yoh 19:13 menyebutkan ‘bahasa Ibrani’ tetapi Bambang Noorsena
mengatakan bahwa itu adalah kata bahasa Aram.
Bambang Noorsena: “Contoh-contoh kata-kata Aram yang dipelihara itu,
antara lain: Talita Kum (Markus 5:41), Gabbata (Yohanes 19:13), Maranatha (1
Korintus 16:23)”.
Catatan: 1Kor 16:23 itu salah, seharusnya 1Kor 16:22.
Juga bandingkan dengan Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan
suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa
Engkau meninggalkan Aku?”. Atau Mark 15:34 - “Dan pada jam tiga berserulah
Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti:
Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Matius menuliskan kata-kata Yesus ini dalam bahasa campuran Ibrani dan Aram, dan
Markus menuliskannya dalam bahasa Aram.
Pdt. Yakub Sulistyo mengatakan bahwa pada waktu Yesus mengucapkan kata-kata
‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ dalam Mat 27:46, Ia mengucapkan kata-kata itu murni
dalam bahasa Ibrani!
Pdt. Yakub Sulistyo: “Saat Yeshua tergantung di kayu salib, Dalam Kitab Mattai
/ Matius 27:46 Yeshua berseru dengan berteriak ‘Eli Eli Lama Sabakhtani’,
kalimat tersebut adalah kalimat murni bahasa Ibrani”.
Ini menunjukkan bahwa, atau ia tidak mengerti bahasa Ibrani, atau ia berdusta! Yang
betul-betul bahasa Ibrani adalah kata-kata yang ada dalam Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama
azavtani’.
Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani?’
(Ibrani)
Mat 27:46 - ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’
(Ibrani) (Aramaic)
Mark 15:34 - ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’
(Aramaic)
Barnes’ Notes (tentang Mat 27:46): “‘Eli, Eli ...’. This language is not pure Hebrew
nor Syriac, but a mixture of both, called commonly ‘Syro-Chaldaic.’ This was
64
Perdebatan Pdt. Budi Asali VS Pdt Teguh Hindarto (Messianic)
probably the language which the Saviour commonly spoke. The words are taken
from Ps. 22:1” (= ‘Eli, Eli ...’. Bahasa ini bukanlah Ibrani murni ataupun Aramaic
/ Syria murni, tetapi suatu percampuran dari keduanya, biasanya disebut ‘SyroChaldaic’. Ini mungkin merupakan bahasa yang biasanya digunakan oleh sang
Juruselamat. Kata-kata itu diambil dari Maz 22:2).
Dalam Maz 22:2, tidak diberi terjemahan, karena memang Maz 22:2 ini ada dalam
bahasa Ibrani dan ditujukan kepada orang-orang yang mengerti bahasa Ibrani!
Mengapa dalam Matius dan Markus mula-mula ditulis dalam Aram / Ibrani, lalu
diterjemahkan?
4) Adanya petunjuk bahwa kitab-kitab tertentu ditujukan kepada pembaca yang bukan
orang Yahudi.
Kitab-kitab tertentu mengandung ayat-ayat yang memberi penjelasan tentang istilahistilah Ibrani, dan ini tidak akan diberikan seandainya pembacanya adalah orang-orang
Yahudi yang bisa berbahasa Ibrani.
Misalnya:
Mark 14:12 - “Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu
orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepadaNya: ‘Ke
tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan
Paskah bagiMu?’”.
Yoh 6:4 - “Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat”.
Semua orang Yahudi tahu bahwa pada Paskah adalah hari raya orang Yahudi, dan
bahwa pada hari Paskah ada penyembelihan domba Paskah. Untuk apa menjelaskan
hal-hal ini kepada orang-orang yang sudah tahu? Jadi jelas bahwa kitab-kitab ini
ditujukan kepada orang-orang non Yahudi. Dan kalau memang demikian, mungkinkah
kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa Ibrani?
Pengutipan dari artikel ini harus mencantumkan:
Dikutip dari
http://www.geocities.com/thisisreformedfaith/artikel/messianic_debat_budiasali_vs_teguh_hindarto.html
65
Download