rencana kerja tahunan (rkt) tahun 2016

advertisement
RENCANA KERJA TAHUNAN (RKT)
TAHUN 2016
DIREKTORAT P2 MASALAH KESEHATAN JIWA DAN NAPZA
DITJEN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
JAKARTA
A. LATAR BELAKANG
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, presentase populasi anak dan remaja
adalah sebanyak 46 % dari total populasi. Hal ini menunjukkan bahwa anak dan
remaja menempati porsi yang cukup besar dari keseluruhan penduduk Indonesia
yang berjumlah kurang lebih 237 juta. Sehubungan dengan hal tersebut maka baik
buruknya kualitas anak dan remaja Indonesia menentukan pula kualitas penerus
bangsa ini. Dalam rangka mempersiapkan dan menyediakan sumber daya manusia
yang berkualitas baik tersebut perlu meningkatkan kesehatan tidak hanya fisik saja
tapi juga kesehatan jiwa pada anak dan remaja.
Upaya kesehatan jiwa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan individu
sepanjang hayat sejak masa konsepsi sampai lansia, dilakukan sesuai tingkat
tumbuh kembang dari bayi sampai lansia. Perkembangan individu dimulai sejak
dalam kandungan kemudian dilanjutkan ke 8 tahap mulai bayi (0-18 bulan), toddler
(1,5–3 tahun), anak - anak awal atau pra sekolah (3-6 tahun), sekolah (6-12 tahun),
remaja (12-18 tahun), dewasa muda ( 18 –35 tahun), dewasa tengah (35-65) tahun,
dan tahap terakhir yaitu dewasa akhir (>65 tahun). Dalam tahapan perkembangan
tersebut terdapat periode penting yaitu periode pra sekolah, masa pra sekolah
disebut masa keemasan (Golden period), jendela kesempatan (window of
opportunity), dan masa kritis ( critical period)
Pada rentang usia remaja, rentan terjadi beberapa masalah psikososial, identik
dengan perilaku berisiko (risk-taking) dalam lingkungan yang berhubungan dengan
(1) pencarian identitas diri, (2) mencari solusi masalah pribadi, (3) kemandirian dan
harga diri, (4) situasi dan kondisi dalam rumah, (5) lingkungan sosial, (6) hak dan
kewajiban yang dibebankan oleh orangtua serta berbagai hal lainnya yang dapat
menjadi pemicu masalah kesehatan jiwa dan napza
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI pada tahun 2014,
menunjukkan hasil penelitian di 128 kecamatan diperoleh angka kejadian bunuh diri
di Indonesia sebesar 1,77 per 100.000 penduduk. Disisi lain, GSHS (2015)
menemukan proporsi pada siswa/i SMP dan SMA yang mengalami masalah
kesepian 39,9% remaja laki-laki dan 52,9% remaja perempuan, 37,7% remaja lakilaki dan 46,8% remaja perempuan mengalami kecemasan dan 4,5% remaja laki-laki
dan 6,5% remaja perempuan ingin bunuh diri.Fakta kekerasan sering kita dengar di
media sosial, di lingkungan pendidikan sendiri dari data ICRW (2015) dinyatakan
bahwa sekitar 75-84% siswa/i mengalami kekerasan di sekolah, 50% mengalami
perundungan. Data dari Unicef tahun 2014, siswa usia 13-15 th melaporkan pernah
mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya.Riskesdas (2007), prevalensi remaja
yang mengalami masalahpsikososial sebanyak 8,7%, prevalensi merokok usia 15 –
19 tahun, minumanberalkohol dan satu di antara 11 remaja Indonesia berusia 15 –
24 tahun mengalami ketidakstabilan emosi yang juga ditemukan satu dari 7 siswa
pada studi GSHS pada pelajar SMP usia 13 – 15 tahun di Depok.Penelitian di 3
sekolah menengah atas dan kejuruan (2015) didapatkan ada keterkaitan antara
problem emosional – problem perilaku – tekanan teman sebaya.Faktor risiko utama
yang menjadi masalah emosional adalah perempuan yang lebih berisiko.Tidak
semua yang terjaring di skrining adalah pelajar yang bermasalah.
Maka kondisi kondisi tersebut perlu segera diatasi dan dilakukan intervensi
intervensi yang baik agar Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat yang
mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal
melalui terciptanya masyarakat, bangsa, dan Negara yang dilandasi oleh
penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan
merata, serta memiliki derajat kesehatan yang merata di Indonesia.
Satu atau lebih gangguan jiwa dan perilaku dialami oleh 25 % dari seluruh
penduduk pada suatu masa dari hidupnya .WHO ( report 2001) menemukan bahwa
24% pasien yang berobat ke pelayanan primer memiliki diagnosa gangguan jiwa
antara lain depersi dan cemas, baik diagnosis tersendiri maupun komorbid dengan
diagnosis fisik
Berdasarkan hasil riskesda tahun 2013 , data nasional untuk gangguan mental
emosional (gejala depresi dan cemas) yang di deteksi pada penduduk usia lebih dari
15 tahun sebanyak 6% atau 14 juta jiwa. Sedangkan gangguan jiwa berat (psikotik)
dialami 1,7/1000 atau lebih dari 400.000 jiwa dan 14,3% atau 57 ribu kasus dari
ganguan psikotik tersebut pernah di pasung.
Tidak sedikit masalah kesehatan jiwa tersebut dialami oleh usia produktif, bahkan
sejak usia remaja. Berdasarkan data riskesdas 2103 di temukan bahwa semakin
lanjut usia semakin tinggi gangguan mental emosional yang di deteksi, selain itu
pada masa kehamilan dan pasca kehamilan sering terjadi masalah kejiwaaan seperti
depresi. Beban yang di timbulkan akibat masalah kesehatan jiwa cukup besar.
Selaian masalah kesehatan jiwa, gangguan penggunaan napza merupakan penyakit
dari organ otak dan bersifat kronis kambuhan. Sebagaimana sifatnya, kekambuhan
bukanlah semata-mata kurangnya niat untuk sembuh, melainkan karena interaksi
berbagai faktor dalam diri seseorang yang meliputi aspek biologis, psikologis dan
sosialnya. Secara biologis, terjadi perubahan fungsi dan struktur otak dari seseorang
dengan ketergantungan Napza yang dapat mempersulit proses perubahan perilaku
itu sendiri. Tidak jarang diperlukan beberapa kali terapi rehabilitasi bagi penderita
untuk dapat pulih atau mempertahankan kepulihannya.
Prevalensi penyalahgunaan Narkoba diperkirakan sebanyak 3,8 juta - 4,1 juta orang
atau sekitar 2,1% - 2,25% dari total seluruh penduduk Indonesia yang berisiko
terpapar narkoba di tahun -2014 (Laporan survey BNN bersama Puslitkes Ul tahun
2014)
Undang-undang nomor 35 tahun 20019 tentang narkotika, khususnya pasal 55
menyebutkan tentang kewajiban lapor diri bagi pecandu pada pusat kesehatan
masyarakat, rumah sakit dan / atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi
sosial yang di tunjuk pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan / atau
perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Secara lebih rinci
pelaksanaan wajib lapor diri pecandu narkotika dituangkan pada peraturan
pemerintah nomor 25 tahun 2011 tentang pelaksanaan wajib lapor.
Sesuai dengan pasal 2 dari PP Nomor 25 tahun 2011, pengaturan wajib lapor
pecandu narkotika bertujuan untuk :
1. Memenuhi hak pecandu narkotika dalam mendapatkan pengobatan dan /
atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi social
2. Mengikutisertakan orang tua, wali, keluarga dan masyarakat dalam
meningkatkan tanggung jawab terhadap pecandu narkotika yang ada di
bawah pengawasan dan bimbingannya.
3. Memberikan bahan informasi bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan
di bidang pencegahan dan pemberatasan penyalahgunaan dan peredaran
gelap narkotika
Kementerian kesehatan RI, khususnya subdit P2 Masalah Penyalahgunaan Napza
telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 50 tahun 2015 tentang
Petunjuk teknis pelaksanaan wajib lapor pecandu narkotika dan rehabilitasi medis
yang merupakan acuan bagi Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dalam
menyelenggarakan proses wajib lapor dan rehabilitasi medis bagi pecandu
penyalahguna Napza termasuk mereka yang dalam proses hukum. Selain hal diatas,
juknis ini juga mengatur persyaratan pengusulan penetapan Institusi Penerima
Wajib Lapor (IPWL), besaran pembiayaan rehabilitasi medis yang disediakan oleh
Kemenkes, mekanisme pembiayaan rehabilitasi melalui klaim, utilisasi dana klaim,
serta sistem pelaporan wajib lapor dan rehabilitasi medis.
B. STRUKTUR ORGANISASI
Semula Direktorat Bina Kesehatan Jiwa berada pada unit eselon 1 Ditjen BUK ,
setelah terbitnya Permenkes No 64 tahun 2015 tentang struktur organisasi tata
laksana kerja, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa berpindah pada Unit Eselon 1 Ditjen
P2P menjadi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan
Napza.
SOTK DIREKTORAT P2M KESEHATAN JIWA DAN NAPZA
DIREKTORAT
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
MASALAH KESEHATAN JIWA DAN
NAPZA
SUBBAGIAN TATA USAHA
SUBDIREKTORAT
MASALAH KESEHATAN
JIWA ANAK DAN REMAJA
SUBDIREKTORAT
MASALAH KESEHATAN JIWA
DEWASA DAN LANJUT USIA
SUBDIREKTORAT
MASALAH PENYALAHGUNAAN NAPZA
SEKSI
KESEHATAN
JIWA ANAK
SEKSI
KESEHATAN
JIWA DEWASA
SEKSI
MASALAH PENYALAHGUNAAN NAPZA DI
MASYARAKAT
SEKSI
KESEHATAN
JIWA REMAJA
SEKSI
KESEHATAN
JIWA LANJUT USIA
SEKSI
MASALAH PENYALAHGUNAAN NAPZA DI
INSTITUSI
Berdasarkan gambar di atas, SOTK Direktorat Pencegahan dan
Pengendalian
Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza terdiri dari 1 (satu)
Direktur, 3 (tiga)
subdirektorat dengan 2 (dua) kepala seksi.
C. TUGAS POKOK DAN FUNGSI DIREKTORAT P2 MASALAH KESEHATAN
JIWA DAN NAPZA
Berdasarkan permenkes No 64 tahun 2015 tentang struktur organisasi tata laksana
kerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza
berada pada unit Eselon I Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit ( Ditjen P2P) dengan tugas pokok dan fungsi serta struktur organisasi
sebagai berikut :
Tugas Pokok Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan
Jiwa dan Napza:
Menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pencegahan
dan pengendalian penyakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.
Fungsi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan
Napza
1. Perumusan kebijakan di bidang Pencegahan dan Pengendalian Masalah
Kesehatan Jiwa Anak, Remaja, Dewasa, Usia lanjut dan NAPZA;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang bidang Pencegahan dan Pengendalian
Masalah Kesehatan Jiwa Anak, Remaja, Dewasa, Usia lanjut dan NAPZA;
3. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang Pencegahan dan
Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Anak, Remaja, Dewasa, Usia lanjut
dan NAPZA;
4. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang Pencegahan dan
Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Anak, Remaja, Dewasa, Usia lanjut
dan NAPZA;
5. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang Pencegahan dan Pengendalian
Masalah Kesehatan Jiwa Anak, Remaja, Dewasa, Usia lanjut dan NAPZA;
6. Pelaksanaan administrasi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah
Kesehatan Jiwa dan NAPZA;
D. TUJUAN
Meningkatnya kesehatan jiwa dan penurunnya penyalahguna napza
E. SASARAN
Meningkatkan mutu dan akses pelayanan kesehatan jiwa dan nazpa
F. TARGET INDIKATOR 2016
1. Persentase Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Institusi Penerima
Wajib Lapor (IPWL) pecandu narkotika yang aktif dengan target sebanyak
30%
2. Jumlah kabupaten/kota yang memiliki Puskesmas yang menyelenggarakan
upaya kesehatan jiwa dengan target sebanyak 130 kab/kota
3. Persentase RS Umum Rujukan Regional yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan jiwa/psikiatri dengan target sebanyak 30 %
G. ANGGARAN 2016
Anggaran 2016 sebesar Rp 28.600.000.000,- dengan rincian sebagai berikut :
Belanja Barang sebesar Rp.100.000.000,Belanja Modal sebesar Rp.28.500.000.000,-
H. KEGIATAN 2016
NO
KEGIATAN SUBDIT P2M KESWA DEWASA
DAN LANSIA
ALOKASI
051
PENYUSUNAN PETA STRATEGIS BEBAS
PASUNG 2015-2020
Rp153.050.000
052
PENYUSUNAN MODUL RESILIENSI MENTAL
PADA ANTE NATAL CARE BAGI IBU HAMIL
Rp183.150.000
053
PENYUSUNAN PEDOMAN PENCEGAHAN
DAN PENGENDALIAN DEMENSIA
Rp158.850.000
054
PENYUSUNAN MATERI KIE PENCEGAHAN
DAN PENGENDALIAN ALZHEIMER
Rp226.850.000
055
PENYUSUNAN MODUL KESWA BAGI
KADER KOMUNITAS
Rp146.280.000
056
PENYUSUNAN INSTUMEN KESENJANGAN
PENGOBATAN GANGGUAN JIWA DI
MASYARAKAT
Rp417.350.000
051
PENINGKATAN KETERAMPILAN KESWA
BAGI PETUGAS KESEHATAN DI
PUSKESMAS
Rp1.352.600.000
052
PENINGKATAN KETERAMPILAN KESWA
BAGI NAKES DI KKP
Rp373.350.000
051
ADVOKASI DAN SOSIALISASI KESWA BAGI
PEMANGKU KEPENTINGAN DI LAPAS
RUTAN
Rp250.150.000
052
ADVOKASI DAN SOSIALISASI
PENINGKATAN KESWA BAGI PEREMPUAN
DAN IBU HAMIL
Rp411.750.000
053
ADVOKASI DAN SOSIALISASI KESWA BAGI
PEMANGKU KEPENTINGAN TENAGA KERJA
MIGRAN
Rp219.050.000
054
LOKAKARYA PENILAIAN KEBUTUHAN
KESWA BAGI PEREMPUAN
Rp208.250.000
055
LOKAKARYA UNTUK PERENCANAAN
TINDAK LANJUT PROGRAM BEBAS
PASUNG
Rp208.250.000
056
EVALUASI PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN DAMPAK PSIKOSOSIAL
DAN KESWA AKIBAT BENCANA
Rp325.150.000
057
ADVOKASI DAN SOSIALISASI
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
ALZHEIMER
Rp413.100.000
058
LOKAKARYA HARI ALZHEIMER SEDUNIA
Rp177.175.000
059
PEMETAAN DATA KASUS ALZHEIMER DI
MASYARAKAT
Rp359.200.000
060
ADVOKASI DAN SOSIALISASI PEDOMAN
MPKP DASAR
Rp299.860.000
061
ADVOKASI DAN SOSIALISASI PEDOMAN
MPKP LANJUTAN
Rp299.860.000
062
ADVOKASI DAN SOSIALISASI
REHABILITASI PSIKOSOSIAL
Rp299.860.000
063
KOORDINASI LP/LS TERKAIT TPPO
064
LOKAKARYA KESEHATAN JIWA BAGI
PETUGAS PROMKES
Rp296.650.000
065
PERTEMUAN KOORDINASI TPKJM
Rp322.500.000
066
ADVOKASI DAN SOSIALISASI KEBIJAKAN
KESEHATAN JIWA MASYARAKAT
Rp418.200.000
067
KOORDINASI MITRA PEDULI KESEHATAN
JIWA
LAYANAN KESWA BERGERAK (MMHS)
PADA HARI-HARI BESAR KESEHATAN
Rp276.200.000
069
EVALUASI PROGRAM BEBAS PASUNG
Rp531.050.000
070
ADVOKASI PENANGGULANGAN
PEMASUNGAN ORANG DENGAN
GANGGUAN JIWA
Rp944.600.000
068
TOTAL
Rp65.150.000
Rp251.000.000
Rp9.588.485.000
NO
KEGIATAN SUBDIT P2M KESWA ANAK
DAN REMAJA
ALOKASI
051
PENYUSUNAN MUDOL POLA ASUH YANG
MENDUKUNG TUMBUH KEMBANG ANAK
Rp232.100.000
052
PENYUSUNAN MODUL DAMPAK
PSIKOLOGIS KEKERASAN PADA ANAK
Rp215.175.000
053
PENYUSUNAN JUKLAK PEMBIAYAAN
PENANGANANN DAMPAK PSIKOLOGIS
PADA ANAK DAN PEREMPUAN KORBAN
KEKERASAN
Rp133.650.000
054
PENYUSUNAN PEDOMAN PENGENDALIAN
DAMPAK DISABILITAS PADA ANAK
BEREBUTUHAN KHUSUS
Rp182.300.000
055
PENYUSUNAN ROADMAP KESWA ANAK
DAN REMAJA
Rp150.050.000
056
PENYUSUNAN MATERI MEDIA KIE KESWA
ANAK DAN REMAJA
Rp197.100.000
057
PENYUSUNAN ALGORITMA HOTLINE
SERVICE KESWA KE DALAM SPGDT
Rp182.300.000
051
PENINGKATAN KESWA REMAJA MELALUI
KETERAMPILAN SOSIAL PADA PRAMUKA
SAKA BHAKTI HUSADA SEJABODETABEK
Rp135.925.000
051
ADVOKASI DAN SOSIALISASI PROGRAM
POLA ASUH YANG MENDUKUNG TUMBUH
KEMBANG ANAK
Rp434.700.000
052
ADVOKASI DAN SOSIALISASI PRGRAM
PENCEGAHAN BUNUH DIRI PADA REMAJA
Rp419.700.000
053
PEMETAAN DATA KASUS PERCOBAAN DAN
BUNUH DIRI DI MASYARAKAT
Rp703.360.000
054
LOKAKARYA DALAM HARI PENCEGAHAN
BUNUH DIRI SEDUNIA
Rp113.475.000
055
PELAYANAN KESWA PENCEGAHAN DN
PENANGGULANGAN PADA KELOMPOK
BERESIKO DAN HARI KESEHATAN (MMHS)
Rp138.000.000
056
KOORDINASI LP/LS PENCEGAHAN BUNUH
DIRI PADA ANAK DAN REMAJA
057
ADVOKASI DAN SOSIALISASI PROGRAM
PENANGANAN DAMPAK PSIKOLOGIS PADA
ANAK KORBAN KEKERASAN
058
KOORDINASI LP/LS PENANGANAN
DAMPAK PSIKOLOGIS PADA ANAK
KORBAN KEKERASAN
Rp60.300.000
059
ADVOKASI PENINGKATAN KESWA REMAJA
MELALUI KETERAMPILAN SOSIAL PADA
PEMANGKU KEBIJAKAN
Rp96.800.000
060
PENGEMBANGAN MODEL KESWA REMAJA
MELALUI KETERAMPILAN SOSIAL PADA
PRAMUKA SAKA BHAKTI HUSADA
SEJABODETABEK
Rp92.925.000
061
ADVOKASI DAN SOSIALISASI PROGRAM
PENANGANAN DAMPAK PSIKOLOGIS PADA
ANAK KORBAN KEKERASAN
Rp208.400.000
062
LOKAKARYA DALAM RANGKA HARI
AUTIS SEDUNIA
Rp183.775.000
063
PEMETAAN DATA ANAK DENGAN AUTIS
Rp339.700.000
064
PEMBIAYAN PROGRAM PENANGANAN
DAMPAK PSIKOLOGIS PADA ANAK DAN
PEREMPUAN KORBAN DAN PELAKU
KEKERASAN
Rp696.200.000
TOTAL
Rp60.300.000
Rp434.700.000
Rp5.410.935.000
NO
KEGIATAN P2M NAPZA
ALOKASI
051
PENYUSUNAN RENCANA AKSI
PENCEGAHAN PENGENDALIAN MASALAH
NAPZA
Rp234.250.000
052
PENYUSUNAN MATERI KIE PENCEGAHAN
DAN PENANGGULANGAN MASALAH
GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA
Rp174.650.000
053
PENYUSUNAN MODUL PEMBERDAYAAN
ORANG TUA DALAM PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN NAPZA
Rp217.850.000
051
PENINGKATAN KETERAMPILAN
INTERPERSONAL DALAM RANGKA
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA
BERBASIS SEKOLAH BAGI PELATIH
Rp278.975.000
052
PENINGKATAN KETERAMPILAN
INTERPERSONAL DALAM RANGKA
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA
BAGI ANAK JALANAN
Rp278.975.000
053
PENINGKATAN KETERAMPILAN SKRINING
MENGGUNAKAN ASSIST DAN
KETERAMPILAN INTERVENSI SINGKAT
BAGI PELATIH
Rp275.375.000
054
PELATIHAN ASESMEN WAJIB LAPOR
Rp956.680.000
051
ADVOKASI DAN SOSIALISASI DAMPAK
BURUK ALKOHOL DI MASYARAKAT
Rp251.775.000
052
KOORDINASI PROGRAM REHABILITASI
MEDIS PECANDU NARKOTIKA
Rp178.675.000
053
LOKAKARYA DALAM RANGKA HARI ANTI
NARKOBA (HANI)
Rp260.825.000
054
PERTEMUAN KOORDINASI DENGAN
ORGANISASI MASYARAKAT PEDULI NAPZA
055
SUPERVISI PROGRAM TERAPI DAN
REHABILITASI NAPZA
Rp106.995.000
056
SKRINING DAMPAK BURUK ALKOHOL
PADA PENGEMUDI ANGKUTAN LEBARAN
Rp282.350.000
058
UJI COBA PENGGUNAAN INSTRUMEN
ASSIST DAN INTERVENSI SINGKAT
Rp136.375.000
Rp91.775.000
059
PROGRAM WAJIB LAPOR DAN
REHABILITASI DALAM RANGKA
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
GANGGUNA PENGGUNAAN NAPZA
Rp6.015.960.000
TOTAL
Rp9.741.485.000
NO
KEGIATAN TATA USAHA
ALOKASI
051
EVALUASI PROGRAM - ANGGARAN DAN
INDIKATOR
052
KUNKER-RAKONTEK-RAKERKES-BINWILMONEV TERPADU
Rp355.232.000
053
PENINGKATAN SDM KESWA
Rp463.108.000
054
DISEMINASI DAN INFORMASI HKJS
Rp338.400.000
055
PERTEMUAN LINTAS PROGRAM DAN
LINTAS SEKTOR BIDANG PENCEGAHAN
DAN PENGENDALIAN MASALAH KESWA
DAN NAPZA
Rp213.000.000
056
MONITORING DAN BIMBINGAN TEKNIS
PROGRAM PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN MASALAH KESWA DAN
NAPZA
Rp397.800.000
051
PROGRAM DAN ANGGARAN KESWA
Rp198.400.000
052
BARANG CETAKAN
Rp150.000.000
053
054
SAK DAN SIMAK BMN
LAKIP
Rp234.825.000
Rp89.450.000
055
051
PENATALAKSANAAN ARSIP
LAYANAN PERKANTORAN
Rp47.800.000
Rp763.090.000
007
Peralatan dan Mesin
Rp100.000.000
penyusunan RPP DN PPDGJ KESWA
Rp414.290.000
TOTAL
Rp93.700.000
Rp3.859.095.000
Direktur P2 Masalah Kesehatan
Jiwa dan Napza
Dr.dr.Fidiansjah,SpKJ,MPH
NIP. 196306271988121002
Download