BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kebijakan pemerintah Australia dalam mengatasi masuknya pengungsi
secara ilegal melalui jalur laut adalah dengan mengusir perahu sebelum memasuki
teritori laut Australia. Melalui kebijakan turn back boat, diharapkan pemerintah
Australia dapat lebih mudah mengatur masuknya imigran ke wilayah Australia.
Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan di masa pemerintahan John Howard. Pada
3 September 2001 Operation Relex resmi diberlakukan, angkatan laut (AL)
Australia diperintahkan untuk menahan dan memutarbalikkan perahu yang berisi
Suspected Illegal entry Vessels (SIEVs) – orang yang dicurigai datang secara ilegal.
Perahu yang dicurigai tersebut dikembalikan ke tepi teritori laut Indonesia. Operasi
ini berlanjut hingga 16 Juli 2006 meskipun pada 13 Maret 2002 sempat
diberhentikan karena terdapat penyelidikan terhadap kecelakaan maritim yang
diakibatkan oleh operasi relex.1
Di masa pemerintahan Tonny Abbot turn back boat policy kembali
diberlakukan melalui Operation Sovereign Borders. Operasi ini dimulai pada 5
Januari 2014 dimana perahu yang datang dari Indonesia dicegat dan dipindahkan
ke dalam perahu penyelamat sekali pakai yang diseret kembali ke tepi teritori laut
Indonesia. Hingga Mei 2015 lebih dari 20 perahu dicegat oleh AL Australia.
Pengungsi datang dari Sri Lanka, Vietnam dan India yang berusaha mencari suaka.
Sebagian besar dari mereka dipulangkan kembali ke negara asal mereka atau
ditahan di pusat penahanan (detention) di Nauru dan Papua Nugini (PNG) untuk
menunggu proses suaka selanjutnya.2 Pusat penahanan yang telah disiapkan oleh
pemerintah Australia tidak cukup untuk menampung pengungsi yang ditahan
1
Senate Select Committee, Inquiry into a Certain Maritime Incident: Report, 23 Oktober 2002,
<www.aph.gov.au/Parliamentary_Business/Committees?url=maritime_incident_ctte/report.pdf>
, diakses pada 18 Agustus 2015.
2
Minister for Immigration and Border Protection, 28 Januari 2015, ‘Operation Sovereign Borders,
High Court Decision, Manus Island Situation’ (Press Conference, Joint Agency Taskforce Operation
Sovereign Borders), <http://www.minister.immi.gov.au/media/pd/2015/pd221087.htm>, diakses
pada 18 Agustus 2015
1
disana. Ketidaklayakan pusat penahanan tersebut mengganggu keberlangsungan
hidup para pengungsi, terutama ketika proses penindaklanjutan suaka dapat
berlangsung hingga beberapa tahun. Akses para pengungsi akan makanan, air, sinar
matahari hingga kebebasan dalam bergerak sangat terbatas. Seringkali para
pengungsi dalam pusat penahanan terpisah dari anggota keluarga mereka dan
mengalami berbagai macam kekerasan – kekerasan fisik, verbal, dan seksual.
Aksi pemulangan pengungsi melalui kapal yang dilakukan pemerintahan
Australia dianggap tidak aman. Terdapat probabilitas bahwa perahu yang
mengangkut pengungsi secara ilegal tersebut penuh dengan manusia. Rata-rata
terdapat 65-85 orang dalam satu perahu. Kondisi tersebut tidak aman terlebih lagi
ketika pemerintah Australia memulangkan perahu tersebut ke tepi teritori
Indonesia. Terdapat pula situasi dimana perahu yang berhasil dicegat Australia
menjadi berbahaya ketika para pengungsi memilih untuk melompat ke dalam air
dan menghancurkan perahu sebelum diputarbalikkan.
Pengungsi menjadi perhatian dunia terutama ketika berkaitan dalam konflik
maupun perang saudara. Oleh karena itu terdapat hukum internasional yang
mengatur masalah pengungsi dan hak asasi manusia (HAM) seperti Refugee
Convention, the International Covenant on Civil and Political Rights, dan the
Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or
Punisment. Terdapat pula peraturan yang mengatur permasalahan di laut seperti UN
Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), the International Convention for the
Safety of Life at Sea, dan the International convention on Maritime Search and
Rescue.3 Australia termasuk kedalam negara yang menandatangani dan meratifikasi
traktat-traktat tersebut sehingga memiliki kewajiban untuk menerima dan
membantu pengungsi yang datang ke teritori mereka baik dari jalur udara, darat,
dan laut. Berkaitan dengan turn back boat policy, Australia terancam melanggar
traktat yang telah disepakati apabila memutarbalikkan perahu tanpa menyelidiki
terlebih dahulu status para pendatang sebagai pengungsi atau bukan terutama ketika
perahu yang digunakan tidak aman. Secara hukum pengungsi tersebut menjadi
3
Kaldor
Centre,
4
Augustus
2014,
‘Turning
Back
Boats’
(online),
<www.kaldorcentre.unsw.edu.au/publication/’turning-back-boats’>, diakses pada 18 Agustus
2015.
2
tanggung jawab Australia ketika otoritas Australia memutarbalikkan perahu di
perairan internasional dan situasi tersebut menyebabkan terancamnya keselamatan
para pengungsi.
Opini masyarakat internasional cenderung melihat turn back boat policy
sebagai upaya Australia tanpa melihat akibat jangka panjang dari aksi
memutarbalikkan secara paksa perahu dari perairan Australia. Tindakan Australia
tersebut secara norma sudah melanggar peraturan internasional yang telah dibuat
untuk melindungi dan mengatur masalah pengungsi. Meski demikian Australia
diperkenankan untuk menjalankan berbagai bentuk kontrol apabila diperlukan
untuk mencegah pelanggaran terhadap peraturan imigrasi. Australia juga dianggap
telah lepas tangan dalam menyelesaikan masalah pengungsi dari laut ketika mereka
memutarbalikkan perahu sehingga menaruh beban masalah pengungsi terhadap
negara transit seperti Indonesia, Malaysia, Nauru, dan Papua Nugini. Penempatan
pusat penahanan pun lebih banyak berada di negara tetangga seperti Nauru dan
PNG daripada teritori Australia sendiri – seperti Pulau Christmas. Dana yang
dijanjikan pemerintah Australia terhadap negara transit sebagai timbal balik dari
kesediaan negara tetangga untuk menampung para pengungsi tidak cukup untuk
mengatur dan memberikan kehidupan layak bagi para pengungsi di tempat
penampungan.
Indonesia menjadi negara yang sering menjadi tempat transit para pengungsi
dan merupakan negara yang tidak memiliki kewajiban untuk mengurus pengungsi
selain mendeportasi mereka ke negara asal. Pengungsi yang berada di Indonesia
diatur dan diurus oleh UNHCR. Pemerintah Indonesia mengecam kebijakan Abbott
dalam turn back boat policy karena membebankan Indonesia dan melihat Australia
sebagai negara yang lepas tangan dalam menyelesaikan masalah imigran gelap.4
Tony Abbott sendiri menyatakan turn back boat policy sebagai upaya Australia
dalam memerangi penyelundupan manusia.5 Sehingga menjadi justifikasi Australia
ketika memulangkan perahu tersebut ke perairan internasional.
4
UNHCR,
September
2014,
Indonesia
Factsheet
September
2014,
<http://www.unhcr.or.id/images/pdf/publications/indonesiafactsheetsept14.pdf>,
hlm.
2,
diakses pada 9 November 2015.
5
The Australian Financial Review, 9 Januari 2014, ‘Coalition Quiet on Asylum to Stop “Mischief”:
Abbott’
(online),
<http://www.afr.com/p/national/coalition_quiet_on_asylum_to_stop_
vLy0btXpFOa8xoIDklIXyN%3E>; ABC, 10 Januari 2014, ‘Abbott likens campaign against people
3
Negara lain seperti Itali dan Swiss yang juga menjadi tujuan para pengungsi
melihat turn back boat policy sebagai tindakan berlebihan Australia. Hal ini
dikarenakan puncak kedatangan imigran gelap melalui jalur laut terjadi di 2013
pada 20000 jiwa. Sedangakan Itali menerima kurang lebih 70000 jiwa dalam satu
tahun dan Swiss menerima kurang lebih 6000 jiwa dalam satu bulan.6 Pada
dasarnya kecaman dunia internasioal terhadap turn back boat policy Australia
terjadi karena tidak ada jaminan keselamatan bagi para imigran melalui prosedur
dan tindakan pengembalian perahu ke perairan internasional.
B.
Rumusan Masalah
Pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam skripsi ini adalah:
1.
Bagaimana dampak turn back boat policy Australia terhadap negara
tetangga seperti Indonesia, Papua Nugini, dan Nauru serta tanggapan
dari pemerintah masing-masing?
2.
Bagaimana tanggapan dunia internasional, khususnya PBB dan negara
Eropa penerima pengungsi seperti Italia dan Yunani, terhadap turn back
boat policy Australia?
C.
Landasan Konseptual
Bagi setiap negara keamanan menjadi hal yang penting karena ingin menjaga
kondisi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Secara traditional, keamanan negara
dicapai melalui penjagaan perbatasan negara, mencegah invasi negara lain, serta
menjaga keamanan dalam negeri. Oleh karena itu militer menjadi penting dalam
menjaga keamanan tersebut. Militer merupakan bentuk upaya negara dalam
melisensi kekerasan agar dapat digunakan sebagai instrumen penjaga keamanan.
Sehingga banyak peningkatan fasilitas militer yang digunakan sebagai deterrence
dari serangan asing, hal ini secara tidak langsung menjadi bagian dari upaya negara
smugglers to war’ (online), <http://www.abc.net.au/news/2014-01-10/abbott-likens-campaignagainst-people-smugglers-to-war/5193546%3E.%C2%A0>, diakses pada 15 Agustus 2015.
6
J. Robertson, 12 Maret 2015, ‘Turning Back the Boats is a Moral and Legal Failure, Say Academics’
(online),
<www.theguardian.com/australia-news/2015/mar/12/turning-back-the-boats-is-amoral-and-legal-failure-say-academics>, diakses pada 15 Agustus 2015.
4
dalam menjaga keamanan. Perang pun menjadi jalan lain negara dalam
mempertahankan teritori dan kedaulatan wilayah.
Meski demikian, keamanan semakin berkembang tidak hanya mencakup
masalah teritori, namun juga ideologi, agama, etnis, hingga teknologi. Perbedaanperbedaan yang muncul menimbulkan ketegangan yang mengancam keamanan
negara. Munculnya upaya preemptive strike ikut pula meningkatkan ketegangan
antara negara. Sehingga militer tetap menjadi alat yang diandalkan untuk mengatasi
ancaman keamanan tersebut. 7
Dewasa ini keamanan semakin luas cakupan bidangnya. Keamanan teritori
tidak lagi menjadi fokus utama karena perubahan zaman yang memasuki era
globalisasi.
Era
ini
semakin
mengaburkan
batas-batas
negara
melalui
perkembangan teknologi dan transportasi yang mempersingkat waktu dan
mempermudah aktivitas manusia. Oleh karena itu ancaman yang muncul semakin
kompleks. Bentuk keamanan yang berbeda, yakni keamanan nasional, keamanan
internasional, keamanan manusia, keamanan energi, keamanan maritim, hingga
paradigma keamanan dalam konflik. Keamanan maritim dan keamanan nasional
menjadi dua bentuk keamanan yang akan digunakan dalam menjelaskan upaya
Australia dalam menangani masalah imigran gelap dengan menggunakan kebijakan
turn back boats.
1.
Keamanan maritim
Keamanan maritim tidak memiliki definisi baku universal dalam
hubungan internasional karena melingkupi berbagai topik dalam
politik. Elemen-elemen yang terkandung dalam keamanan maritim
antara
lain
adalah
perdamaian
dan
keamanan
internasional;
kedaulatan/integritas teritori/kebebasan berpolitik; keamanan dari
kejahatan di laut; keamanan sumber daya; keamanan lingkungan; dan
7
W. H. Taft IV, 18 November 2002, The Legal Basis for Preemption (online), Council on Foreign
Relations, <http://www.cfr.org/international-law/legal-basis-preemption/p5250>, diakses pada
16 September 2014.
5
keamanan bagi pelaut dan nelayan.8 Berbagai ancaman muncul bagi
keamanan maritim seperti ancaman terhadap kedaulatan teritori negara,
pembajakan
yang terjadi
di
laut, penangkapan ikan
ilegal,
penyelundupan ilegal manusia maupun narkotika, hingga pembuangan
limbah ilegal. Untuk menjaga keamanan maritim dari ancaman
tersebut, telah dibentuk berbagai legal framework sebagai upaya
mencegah dan menahan ancaman bagi keamanan maritim. Beberapa
dilakukan melalui Piagam PBB, UNCLOS, serta berbagai konvensi dan
aturan yang telah dibentuk dan disepakati di tingkat regional, bilateral,
dan nasional.9 Melalui turn back boats policy, keamanan maritim hanya
dirasakan oleh Australia. Padahal keamanan maritim dapat lebih
tercapai melalui kerjasama bilateral maupun regional. Hasil dari
kerjasama internasional tersebut pun dapat lebih stabil dipertahankan
bersama dalam mencapai keamanan maritim. Turn back boats policy
mengancam keamanan maritim negara tetangga seperti Indonesia yang
terpaksa menampung imigran gelap sebagai negara transit. Masalah
imigran gelap adalah masalah global yang seharusnya diselesaikan
bersama tanpa merugikan pihak lain. Turn back boats policy dilihat oleh
dunia internasional sebagai aksi lepas tangan dari burden sharing
masalah global.
2.
Keamanan non tradisional
Konsep keamanan non tradisional merupakan perkembangan dari
keamanan tradisional. Sebelumnya keamanan terfokus pada militer dan
negara sehingga masalah keamanan selalu berkaitan dengan masalah
antar negara (interstate). Menurut Timothy D. Hoyt (2003), keamanan
non tradisional fokusnya lebih luas yakni keamanan intra negara
(intrastate) dan keamanan lintas nasional (transnational).10 Apabila
8
M. Ameri dan M. Shewchuk, 2007, UNITAR/DOALOS Briefing, ‘Maritime Security and Safety’
(online),<http://www.un.org/Depts/los/convention_agreements/convention_25years/07unitar_
doalos_2007.pdf>, hlm. 2, diakses pada 28 Agustus 2015.
9
M. Ameri dan M. Shewchuk, Maritime Security and Safety, hlm. 4.
10
M. Keliat, Keamanan Maritim dan Implikasi Kebijakannya bagi Indonesia, ‘Jurnal Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik’, vol. 13, no. 1, Juli 2009, hlm. 113.
6
dijabarkan lebih rinci keamanan non tradisional dapat diidentifikasi dari
lima dimensi:
(a) asal ancaman (the origin of the threats) yakni negara dan non
negara: domestik dan lintas nasional
(b) sifat ancaman (the nature of threats) yaitu non militer: ekonomi
domestik, lingkungan hidup, terorisme, wabah penyakit, dan
narkotika
(c) respon (repsonses) juga non militer: liberalisasi ekonomi,
demokratisasi, dan HAM
(d) perubahan tanggung jawab terhadap keamanan (changing
responsibility
of
security)
menjadi
negara,
organisasi
internasional, dan individu
(e) dan nilai inti dari keamanan (cores values of security) menjadi
kesejahteraan ekonomi, hak asasi manusia, perlindungan
terhadap lingkungan hidup.11
Masalah imigran yang masuk ke Australia melalui perahu dalam konsep
keamanan non tradisional merupakan masalah keamanan intra nasional.
Sehingga kebijakan nasional yang lingkup hukumnya hanya pada batas
negara tidak dapat menyelesaikan masalah pengungsi secara efektif.
Turn back boats policy menjadi sebuah kebijakan yang dampaknya
pendek dan hanya dinikmati oleh Australia sendiri. Masalah baru
muncul setelah kebijakan ini diimplementasikan dan mencakup
regional Asia Tenggara dan Pasifik.
3.
Keamanan wilayah (regional security)
Konsep keamanan wilayah adalah kepentingan kolektif atas keamanan
negara anggota regional karena keamanan salah satu negara berdampak
pada keamanan negara tetangganya dan keamanan kawasan. Terdapat
interdependensi dari negara anggota untuk mencapai keamanan
11
B. Perwita, 2007, Redifinisi Konsep KEamanan: Pandangan Realisme dan Neo Realisme dalam HI
Kontemporer dalam Y.P. Hermawan (ed) Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional: Aktor,
Isu dan Metodologi, Bandung, Graha Ilmu, hlm. 43.
7
regional.12 ASEAN Regional Forum (ARF) menjadi salah satu contoh
bentuk realisasi proses pencapaian keamanan wilayah. Meskipun
perubahan diperlukan karena sistem keamanan ARF masih belum
kohesif dalam mengatasi masalah regional.13 Terdapat pula Council for
Security cooperation in the Asia Pasific (CSCAP) yang terus berupaya
dan mendorong agar kerjasama regional dapat tercapai dengan lebih
efektif sehingga keamanan wilayah dapat terwujud.14 Turn back boats
policy sebagai kebijakan nasional Australia berupaya dalam mengatasi
masalah yang dibawa imigran khususnya yang masuk melalui jalur laut.
Masalah ini seharusnya diwacanakan di level regional Asia Pasifik agar
dapat dicari solusi efektif dari masalah tersebut. Kebijakan Australia
tersebut menunjukkan bahwa keamanan wilayah masih belum dapat
dicapai ketika Australia secara sepihak membuat kebijakan yang ikut
berpengaruh kepada negara tetangganya seperti Indonesia, Malaysia,
Papua Nugini, Selandia Baru, dan Nauru.
4.
HAM
Turn back boats policy merupakan kebijakan sebagai upaya Australia
menjaga keamanan nasional, terutama keamanan teritori laut dari
imigran gelap, akses masuk penyelundupan manusia, narkotika, dan
senjata, serta aksi terorisme lainnya. Kebijakan turn back boats ini
secara normatif berpotensi melanggar hak asasi manusia karena
memaksa pendatang tanpa identitas untuk berbalik arah perahu. Hal ini
dilakukan tanpa diskriminasi dan prosedur yang kurang manusiawi.
Sedangkan pengungsi memiliki hak yang telah dijamin dunia
12
P.
Kameri-Mbote,
2004,
Gender
conflict
and
Regional
Security,
<http://www.ielrc.org/content/a0502.pdf>, hlm. 2, diakses pada 5 November 2015.
13
L.K. Ponappa dan N.T.Y. Huong, 2014, CSCAP’s Third Decade: Anticipating the Evolving Regional
Security
Architecture
dalam
CSCAP
Regional
Security
Outlook
2014,
<http://www.cscap.org/uploads/docs/CRSO/CRSO2014.pdf>, hlm. 49, diakses pada 5 November
2015.
14
R. Huisken, 2014, Introduction : CSCAP Regional Security Outlook 2014 dalam CSCAP Regional
Security Outlook 2014, <http://www.cscap.org/uploads/docs/CRSO/CRSO2014.pdf>, hlm. 7,
diakses pada 5 November 2015.
8
internasional melalui UN 1951 Convention.15 Hak pengungsi dan
pencari suaka untuk pindah dan menetap di wilayah yang lebih aman
terus diperjuangkan melalui organisasi UNHCR (The United Nations
High Commissioner for Refugees).16 Oleh karena itu, Australia
mendapat berbagai tentangan dari dunia internasional seperti PBB dan
negara tetangga atas implementasi kebijakan tersebut. Di satu sisi
Australia memiliki hak untuk bertindak dalam menjaga kedaulatan
teritori sesuai dengan hukum internasional yang berlaku. Akan tetapi di
sisi lain cara Australia menjaga keamanan nasionalnya, melalui turn
back boat policy, tidak sesuai prosedur yang manusiawi, hanya bersifat
jangka pendek, dan memunculkan permasalahan baru seperti detentions
yang tidak layak ditinggali dan kekerasan yang dialami para imigran
gelap di detentions tersebut selama menunggu proses pemberian suaka.
D.
Hipotesis
Turn Back Boat Policy merupakan kebijakan domestik yang menjadi bagian
dari imigrasi Australia. Dampak dari kebijakan tersebut ikut berpengaruh terhadap
dinamika maritim regional antara Australia, ASEAN, dan Asia Pasifik sehingga
berbagai tanggapan dari PBB dan negara tetangga – seperti Indonesia, Papua
Nugini, Selandia Baru, dan Nauru – muncul dan cenderung menentang kebijakan
Australia tersebut.
1. Dampak kebijakan turn back boats Autralia terhadap negara tetangga
tidak hanya terfokus kepada masalah baru yang muncul atas
keamanan nasional negara masing-masing. Indonesia menjadi negara
yang paling terkena dampak kebijakan Australia tersebut. Selain
terdapat penumpukan pengungsi di Indonesia yang menunggu suaka
dari Australia dan peningkatan kriminalitas terutama penyelundupan
manusia, ekonomi dan politik Indonesia ikut terkena dampaknya.
15
R.K.M. Smith, 2005, International Human Rights, 2nd edn, Oxford University Press, New York,
hlm. 356.
16
R.K.M. Smith, International Human Rights, hlm. 358.
9
Situasi ekonomi Indonesia yang sedang tidak baik dapat diperburuk
dengan keberadaan pengungsi. Politik dalam dan luar negeri
Indonesia pun terpengaruh oleh faktor keberadaan pengungsi yang
berpotensi menjadi alat politik. Hubungan kedua negara pun menjadi
lebih tegang karena Australia berkeras untuk terus menjalankan
kebijakan turn back boats. Indonesia menanggapi tindakan Australia
untuk tidak menerima relokasi pengungsi sebagai aksi melempar
tanggung jawabnya dalam mengatasi masalah global. Papua Nugini
dan Nauru, yang menjadi lokasi penahanan pengungsi, kewalahan
dalam mengatur detentions sehingga menuntut Australia agar
memperbaiki prosedur dalam mengimplementasikan turn back boats
policy. Kedua negara tersebut juga berharap terhadap peningkatkan
dana bantuan untuk mengelola offshore processing. Detentions
tersebut membawa masalah seperti kekerasan, pelanggaran HAM, dan
kesulitan negara dalam mensejahterakan masyarakat lokal.
2. Dunia internasional menanggapi turn back boats policy Australia
sebagai kebijakan yang sangat potensial melangar hak asasi manusia,
terutama hak pengungsi. PBB sebagai organisasi internasional
melihat dampak keberlangsungan turn back boats policy sebagai
legitimasi dan normalisasi bagi negara lain untuk ikut menolak
masuknya pencari suaka dari laut. Selain itu PBB melaporkan
terhadap pelanggaran hak para pencari suaka yang berada di dalam
detentions.
Selama
turn
back
boats
policy
berhasil
diimplementasikan, PBB melihat adanya penurunan kepedulian dunia
internasional terhadap refugees dan hak asasi manusia yang semakin
sulit ditegakkan. PBB melalui organisasi humanitariannya berusaha
untuk membantu proses relokasi dan lebih giat meningkatkan
kesadaran dunia internasional terhadap masalah pengungsi.
Masalah pengungsi dari laut tidak hanya dialami oleh Australia saja.
Eropa juga menjadi tujuan pengungsi dengan Italia dan Yunani
sebagai pintu masuk pengungsi yang datang dari laut. Sebagai negara
yang telah meratifikasi UNHCR 1951 Convention relating to the
10
status of refugees, negara-negara Eropa memiliki kewajiban untuk
menerima dan menetapkan status pengungsi. Upaya Australia adalah
menolak seluruh perahu pengungsi masuk dan tidak ada kemungkinan
bagi pencari suaka tersebut untuk dapat direlokasi di Australia. Hal
ini membuat banyak negara di Eropa terutama Italia dan Yunani yang
mengecam kebijakan Australia tersebut. Tanpa adanya kebijakan
tersebut, pengungsi yang berusaha datang ke Australia jumlahnya
lebih sedikit dibandingkan mereka yang berupaya masuk ke Eropa.
Turn back boats policy ditanggapi sebagai upaya lepas tangan
Australia dalam menangani masalah pengungsi sebagai masalah
global. Prosedur dan aturan yang dibentuk Australia untuk menangani
masalah pengungsi dari laut masih belum sesuai dengan hukum
internasional dan hak asasi manusia. Sehingga negara-negara Eropa
masih tidak yakin atas keberhasilan turn back boats policy.
Berbagai tanggapan yang ada menunjukkan kecenderungan negatif dunia
internasional terhadap turn back boats policy. Citra Australia terhadap masalah
pengungsi menurun di mata internasional. Keberhasilan dari kebijakan tersebut
hanya dinikmati oleh Australia sehingga akan terus dipertahankan – terutama di
masa pemerintahan Tony Abbott. Kekhawatiran muncul ketika aksi Australia
melalui turn back boats policy kemudian dilihat sebagai suatu keberhasilan dalam
mengatasi masalah imigran yang masuk dari jalur laut. Hal ini menimbulkan
legitimasi atas kebijakan turn back boats apabila aksi serupa dilakukan negara lain.
Hak asasi manusia menjadi semakin sulit ditegakkan di dunia internasional.
E.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
metode kualitatif. Metode penelitian ini ditunjang library research yang dilakukan
dengan cara pengumpulan data dari berbagai sumber sekunder, yakni data yang
telah dikumpulkan dan diolah oleh orang lain sebelumnya. Berbagai sumber data
akan diperoleh dari literatur seperti buku, jurnal, artikel majalah, dokumen berita
dan sumber elektronik, melalui situs di internet. Dari sumber-sumber tersebut lah
11
kemudian akan diolah untuk dapat menjawab rumusan masalah dan membuktikan
hipotesis serta menghasilkan kesimpulan.
F. Sistematika Penulisan
Pada penulisan skripsi ini akan dibagi menjadi empat bab. Bab pertama
berupa pendahuluan yang berisi mengenai alasan pemilihan judul, latar belakang
masalah, rumusan masalah, landasan teori, hipotesis, metode penelititan, dan
sistematika penulisan.
Bab kedua skripsi ini akan menjelaskan dengan lebih rinci mengenai isu
imigran gelap yang muncul di Australia. Mulai dari pembedaan secara jelas dalam
generalisasi imigran gelap seperti illegal workers, asylum seekers, hingga people
smuggling. Disini akan dijelaskan pula mengenai bagaimana turn back boats policy
terbentuk dan implementasi dari kebijakan tersebut.
Bab ketiga dari skripsi ini akan menjabarkan tanggapan (respons) dari
masyarakat internasional – PBB dan negara tetangga seperti Indonesia, Timur
Leste, Papua Nugini, Selandia Baru dan negara Kepulauan Pasifik lainnya dalam
upaya Australia menjawab masalah imigran gelap melalui kebijakan Turn Back
Boats.
Bab keempat menjadi bagian terakhir dari penulisan skripsi ini, yang berisi
kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Pada bagian ini pula akan diuraikan kembali
dengan lebih padat jawaban-jawaban dari rumusan masalah.
12
Download