BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sastra memiliki definisi yang cukup luas. S astra merupakan sebuah gambaran
dari kehidupan masyarakat. Berbagai macam bentuk karya sastra mulai dari karya
lisan sampai karya tulis bisa dengan mudah ditemukan dimana saja, karena sastra
sudah menjadi bagian dari kehidupan. M enurut Wellek dan Warren (1990:109)
sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan
sosial. Pengarang menciptakan sebuah sastra dengan cara menggambarkan sua tu
keadaan dalam waktu tertentu. Sehingga, sastra juga disebut sebagai media untuk
mengekspresikan perasaan seseorang terhadap suatu kejadian.
Ada banyak bentuk dari karya sastra salah satunya adalah film. Film
merupakan penjelmaan terpadu antara berbagai unsur yakni sastra, teater, seni
rupa, dengan teknologi canggih dan modern serta sarana publikasi (Baksin,
2003:3). M enurut UU No. 8 Tahun 1992 tentang perfilman, definisi film adalah
karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita
seluloid, pita video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi
lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kim iawi, proses
1
2
elektronik,
atau
proses
lainnya,
dengan
atau
tanpa suara,
yang
dapat
dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, eletronik,
dan atau lainnya. Skenario dibuat oleh pengarang dan dijadikan sebuah film
sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Film adalah media
komunikasi yang bersifat audio visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada
sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu (Effendy, 1986:134).
Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium dan
bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial (Damono, 1984:1). Film merupakan
sebuah bentuk karya sastra yang memiliki aspek sastra berupa bahasa . Film
memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik seperti karya sastra tertulis, bedanya unsur
tersebut disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk gambar dan suara. Film
berfungsi sebagai contoh nyata untuk menggambark an konsep kebaikan,
keburukan, atau politik serta interaksi sosial dalam kehidupan. S etiap film
memiliki alur dan tema tertentu yang menggambarkan suatu kehidupan sosial
dalam masyarakat. Oleh karena itu, banyak ahli filsafat sastra menyatakan film
sama seperti novel, lakon, atau cerita. Film bisa dianggap sebagai sesuatu secara
khusus, detail, serta ilustrasi konkrit yang menggambarkan masalah moral tertentu
dan usaha untuk menyelesaikan masalah tersebut (Freeland dan Wartenberg,
1995:7).
Karya sastra adalah gambaran kehidupan sosial masyarakat yang telah
diperkaya oleh imajinasi sastrawan (Damono, 1984:12). Penelitian ini membahas
tentang representasi fenomena sosial di masyarakat Korea melalui film. Film yang
digunakan dalam penelitian ini adalah film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) karya
3
Hong Seok-jae yang ditayangkan perdana pada tahun 2014 dalam 19 th Busan
International Film Festival (BIFF) dan dirilis di bioskop K orea Selatan pada
tanggal 12 M aret 2015. Film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) berhasil memenangkan
beberapa penghargaan diantaranya Director’s Guild Award dan NETPAC Award
pada 19 th Busan International Film Festival (BIFF). Film ini juga berhasil
menarik perhatian lebih dari seratus ribu penonton hanya dalam tiga hari setelah
film ini dirilis dan memenangkan Penghargaan Aktor dan Penonton pada 40 th
Seoul Independent Film Festival. 1
Film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) menceritakan tentang sekelompok pemuda
yang aktif berkomunikasi melalui media sosial dan masalah yang timbu l akibat
perilaku mereka. Sekelompok pemuda tersebut kesal dengan komentar jahat
seorang wanita di media sosial men gejek seorang tentara yang bunuh diri. M ereka
membalas dengan mengirim komentar negatif melalui media sosial kepada wanita
itu. Komentar wanita itu dan komentar-komentar balasannya cepat tersebar dan
menjadi isu populer saat itu. Namun, saat mereka mendatangi apartemennya untuk
menuntut permintaan maaf, wanita itu sudah gantung diri karena merasa tertekan.
Sekelompok pemuda itu pun dituduh bertanggung jawab atas kematian wanita itu
akibat ulah mereka di media sosial.
Judul film Socialphobia memiliki arti fobia sosial atau ketakutan seseorang
terhadap interaksi sosial dan cenderung menutup diri dari lingkungan sosial . Kata
fobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu phobos yang berarti takut. Takut adalah
perasaan cemas sebagai respon terhadap suatu ancaman (Nevid, Rathus, dan
1
http://www.koreanfilm.or.kr/jsp/news/reports.jsp?mode=VIEW &seq=317
4
Greene, 2005: 168). Sehingga makna dari judul film ini adalah pengguna media
sosial mirip seperti penderita fobia sosial. M ereka menghindari interaks i langsung
dan lebih memilih berinteraksi melalui media sosial.
Film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) merupakan bentuk representasi dari gejala
sosial berupa penggunaan media sosial yang terdapat di dalam sebuah karya sastra.
Karya seni sastra merupakan aktivitas yang representatif sebagai kreativitas yang
menjadi alternatif dalam menjelaskan gejala -gejala sosial (Ratna, 2003:39).
Representasi memiliki kecenderungan, yaitu sesuatu yang dihadirkan kembali
merupakan suatu rekayasa, bukan yang sebenarnya, hanya tempelan-tempelan
terhadap sebuah peristiwa, sehingga perlu ditafsirkan, dimaknai kembali, ataupun
dibaca ulang (Susanto, 2012:33). Film ini menceritakan kehidupan pada zaman
modern saat ini yang dimudahkan dengan kehadiran teknologi komunikasi dan
informasi serta dampaknya bagi masyarakat terutama generasi muda di K orea .
Sebagiaan besar pengguna media sosial akan terkejut saat mengetahui bahwa
media sosial dianggap sebagai ruang publik oleh lembaga -lembaga sosial dan
pengadilan, bukan sebagai ruang pribadi seseorang (Andrew s, 2013:123).
Pengguna media sosial di dalam film
Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) bebas
menyampaikan pendapat mereka, termasuk menulis kata -kata kasar. M ereka tidak
menyadari bahwa perkataan mereka bisa membahayakan diri mereka sendiri. Hal
ini merupakan dampak dari penggunaan media sosial secara tidak bertanggung
jawab yang tercermin di dalam film. Di satu sisi banyak keuntungan dan dampak
positif media sosial apabila digunakan dengan bertanggung jawab. Akan tetapi,
disisi lain akan muncul dampak negatif jika media sosial disalahgunakan. Film
5
mampu berperan sebagai media untuk memahami suatu peristiwa dalam
kehidupan sosial.
Kehidupan manusia modern semakin dimudahkan seiring berkembangnya
kemajuan teknologi komunikasi seperti internet. M edia sosial merupakan sebuah
alat yang memfasilitasi komunikasi dengan orang lain berbasis jaringan internet.
Komunikasi merupakan suatu bentuk interaksi sosial yang terjadi di dalam
masyarakat. Semua orang bisa dengan mudah berhubungan satu sama lain melalui
media sosial. M enurut Chris Brogan (2010:11) media sosial adalah satu set baru
komunikasi dan alat kolaborasi yang memungkinkan banyak jenis interaksi yang
sebelumnya tidak tersedia untuk orang biasa. Adapun fungsi dari media sosial,
yaitu sebagai sarana belajar, bersosialisasi, saling bertukar informasi, hiburan,
dokumentasi, dan pengawasan (Kementerian Perdagangan Republik Indonesia,
2014:33-34).
Penggunaan media sosial sudah merupakan bagian dari rutinitas masyarakat
Korea. M eningkatnya penggunaan media sosial berbanding lurus dengan
kecepatan akses internet di K orea. M enurut laporan State of the Internet yang
dirilis Akamai Technologies edisi kuartal IV tahun 2014 dalam website kompas 2 ,
Korea Selatan menduduki urutan pertama kecepatan internet tercepat secara
global dengan rata-rata koneksi internet 22,2 M bps. Sejak tahun 1990 -an,
pemerintah K orea
Selatan memprioritaskan perkembangan internet
untuk
memajukan negaranya. Pemerintah mengupayakan seluruh masyarakat K orea
memanfaatkan koneksi internet dalam kehidupan sehari-hari.
2
http://tekno.kompas.com/read/2015/03/26/09571067/ini.10.negara.dengan.internet.tercepat
6
Artikel yang ditulis oleh Jo M yeong-hyeon di website The Star 3 mengatakan
bahwa film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) mewakili keadaan yang sedang terjadi.
Kemajuan teknologi membuat orang-orang sibuk dengan telepon genggamnya dan
lebih sering berkomunikasi melalui media sosial daripada berkomunikasi secara
langsung. Film ini mengajarkan untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan
media sosial karena tulisan kita bisa diakses dan dilihat oleh banyak orang.
Selain film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ), adapun beberapa film Korea lain
yang mem bahas tentang penggunaan media sosial salah satunya yaitu film
Ingtoogi: T he Battle of Internet Trolls (잉 투 기 ) yang disutradarai oleh Um Taehwa dan dirilis pada tahun 2013.
4
Alasan pemilihan film Socialphobia
(소 셜 포 비아 ) sebagai objek penelitian karena film tersebut lebih sesuai untuk
meneliti tentang dampak penggunaan media sosial bagi masyarakat K orea
dibandingkan film Ingtoogi (잉 투 기 ). Film Ingtoogi (잉 투 기 ) juga membahas
tentang penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi modern di Korea,
namun film tersebut lebih menonjolkan pertengkaran dan konflik antar pemain.
Dampak-dampak penggunaan media sosial bagi masyarakat Korea yang tercermin
di film
Ingtoogi (잉 투 기 )
lebih sedikit daripada
di film
Socialphobia
(소 셜 포 비아 ). Film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) juga menggunakan jenis media
sosial yang beragam daripada film Ingtoogi (잉 투 기 ).
Dari uraian di atas, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi pemilihan film
Socialphobia (소 셜 포 비 아) sebagai objek penelitian. Pertama, film Socialphobia
3
4
http://thestar.chosun.com/svc/m/view.html?catid=25&contid=2014100604330
https://mubi.com/films/ingtoogi -the-ba ttle-of-internet-trolls
7
(소 셜 포 비아 ) menceritakan keadaan yang sedang terjadi pada zaman sekarang
yaitu penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, film ini
menceritakan dampak positif dan negatif yang terjadi pada pengguna media sosial
khususnya bagi kalangan generasi muda di Korea . Kemudian, Alasan terakhir
adalah film tersebut belum pernah dianalisis secara akademis dan teoretis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, masalah -masalah yang akan
dibahas, yaitu:
a. Bagaimana representasi dampak positif penggunaan media sosial bagi
generasi muda di Korea dalam film Socialphobia (소 셜 포 비 아 )?
b. Bagaimana representasi dampak negatif penyalahgunaan media sosial bagi
generasi muda di Korea dalam film Socialphobia (소 셜 포 비 아 )?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian terhadap film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) ini memiliki tujuan
sebagai berikut:
a. Untuk
m engetahui
representasi
berbagai
bentuk
dampak
positif
penggunaan media sosial bagi generasi muda di Korea yang terdapat
dalam film Socialphobia (소 셜 포 비아 ). Dampak positif dari media sosial
bisa dimanfaatkan untuk mempermudah masyarakat dalam berkomunikasi
dan menjalankan aktivitasnya.
8
b. Untuk mengetahui representasi dampak negatif penyalahgunaan media
sosial bagi generasi m uda
di
Korea
yang
terdapat
dalam
film
Socialphobia (소 셜 포 비 아 ). Melalui film ini, penonton bisa mengetahui
dibalik dampak negatif dari media sosial terdapat pesan agar berhati-hati
dalam
menggunakan
media
sosial,
serta
meningkatkan
kesadaran
masyarakat untuk tidak melakukan kesalahan dan berdampak buruk bagi
orang lain.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan manfaat praktis sebagai berikut:
a. M anfaat
teoretis
pengaplikasian
dari
teori
penelitian
sosiologi
ini
sastra
adalah
melalui
untuk
film .
menperkaya
Teori
tersebut
digunakan untuk mengetahui representasi dampak positif dan negatif
penggunaan media sosial di kalangan generasi muda di K orea yang
tercermin dalam sebuah karya sastra berupa film .
b. M anfaat praktis dari penelitian ini adalah memberikan pengetahuan
kepada
pembaca
mengenai
dampak-dampak
yang
muncul
akibat
penggunaan media sosial khususnya generasi muda di Korea yang terdapat
di dalam film dan untuk mengapresiasi sebuah karya sastra berupa film .
9
1.5 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa
penelitian sebelumnya yang menganalisis karya sastra dengan menggunakan teori
sosiologi sastra. Penelitian dari Wardhani (2014) mahasiswi Prodi Bahasa Korea,
Universitas Gadjah M ada yang berjudul Representasi dan Dampak Hallyu pada
Kehidupan M asyarakat Korea dalam Drama Reply 1997 (응 답 하 라 1997):
Kajian Sosiologi Sastra. Penelitian tersebut menjelaskan fenomena dan dampak
positif serta negatif dari Hallyu dalam kehidupan masyarakat Korea yang
tercermin di dalam film dengan menggunakan kajian sosiologi sastra .
Penelitian berjudul Representasi M odernisasi di Korea: Kajian Sosiologi
Sastra dalam Film The Way Home karya Nyoman M irah Trinipastika mahasiswi
Prodi Bahasa Korea yang ditulis tahun 2013. Penelitian tersebut menjelaskan
tentang bentuk modernisasi yang dialami oleh masyarakat K orea dalam bentuk
fisik dan non-fisik yang tercermin dalam film. Penelitian tersebut menggunakan
teori sosiologi sastra sebagai landasan teori.
Penelitian dari
Aulianisa
(2014) M ahasiswi
Jurusan Sastra
Perancis,
Universitas Gadjah M ada, yang berjudul Dam pak Perang Terhadap Kaum
Perempuan dalam Novel Morte Parmi Les Vivants Karya Freidoune Sahebjam:
Sebuah Pendekatan Sosiologi S astra. Penelitian tersebut menjelaskan tentang
dampak perang terhadap kaum perempuan di Afganistan yang digambarkan dalam
novel Morte Parmi Les Vivants dengan mendeskripsikan permasalahan sosial
menggunakan kajian sosiologi sastra.
10
Adapun artikel yang membahas tentang film Socialphobia (소 셜 포 비 아 )
dalam Jurnal Pendidikan Rohani melalui Film tahun 2015 yang ditulis oleh Kim
M in-su. Artikel tersebut menjelaskan tentang pesan moral yang terdapat dalam
film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ), serta mengapresiasi film tersebut melalui
perspektif keagamaan. Jurnal tersebut juga menjelaskan unsur-unsur tersirat yang
terdapat di dalam film, misalnya terdapat tanda salib dalam nama akun Twitter
yang digunakan pemeran utama Kim Ji Ung.
Penelitian di atas menggunakan drama, film, dan novel sebagai objeknya,
namun pada penelitian ini menggunakan film
yang berbeda yaitu
film
Socialphobia (소 셜 포 비 아 ). Teori yang digunakan dalam penelitian ini tidak
berbeda jauh dengan penelitian di atas, sehingga penelitian tersebut dapat
dijadikan tinjauan pustaka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belum
ada penelitian mengenai representasi dampak media sosial bagi generasi muda di
Korea dalam film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) menggunakan teori sosiologi sastra
sebagai objek penelitian secara akademik maupun non-akademik.
1.6 Landasan Teori
Film Socialphobia (소 셜 포 비아 ) merupakan karya sastra yang menceritakan
tentang sekelompok remaja menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi
dan dampak yang timbul akibat penggunaan media sosial. Penelitian ini
menggunakan teori-teori yang berkaitan dengan masyarakat di dalam sebuah
karya sastra. Oleh sebab itu, teori yang sesuai digunakan dalam penelitian ini
adalah teori sosiologi sastra. Jdanov (1956) dalam Escarpit (2005:8) mengatakan
11
bahwa sastra harus dipandang dalam hubungan yang tak terpisahkan dengan
kehidupan masyarakat.
Teori sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis hubungan antara
masyarakat dan karya sastra. M enurut Damono (1984:2) sosiologi sastra adalah
pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan.
Pendekatan yang umum dilakukan terhadap hubungan sastra dan masyarakat
adalah mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial
(Wellek dan Warren, 1990:110).
M enurut Swingewood dalam
bukunya
“The
Sociology
of Litetature”
mengklasifikasikan 3 pendekatan dalam mengkaji objek penelitian dengan teori
sosiologi
sastra
yaitu,
pendekatan
sastra
sebagai
cerminan
sosial,
mempertimbangkan situasi sosial penulis, dan sebagai manifestasi peristiwa
sejarah dalam
sebuah keadaan sosial tertentu (Laurenson, 1972: 13-21).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, pendekatan yang
menangkap karya sastra sebagai cerminan sosial, yang merefleksikan situasi pada
masa sastra tersebut diciptakan (Laurenson, 1972:13). Pendekatan ini mengadopsi
dan mendokumentasikan aspek-aspek dalam sebuah karya sastra, kemudian
melakukan argumentasi untuk membuktikan bahwa sastra tersebut adalah sebuah
cerminan masanya. Dengan teori ini, pengarang memiliki tugas mengartikulasikan
nilai-nilai dan fakta-fakta murni dari suatu masa, dan menjadikannya sebuah karya
(Laurenson, 1972: 16).
Dalam film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) menceritakan dampak yang terjadi
pada masyarakat akibat penggunaan media sosial. Karya sastra adalah gambaran
12
kehidupan sosial masyarakat yang telah diperkaya oleh imajinasi sastrawan
(Damono, 1984:12). Hal ini mengambarkan fakta yang terjadi di dalam
masyarakat, mesti tidak semuanya yang ada di film persis terjadi. Pengarang
memasukkan pikiran-pikirannya ke dalam karya sastra agar gambaran kehidupan
sosial masyarakat menjadi lebih hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan
Swingew ood yang menangkap karya sastra sebagai cerminan sosial, yang
merefleksikan situasi pada masa sastra tersebut diciptakan. Hal tersebut
dikarenakan pendekatan ini masih memiliki hubungan dengan objek film yang
digunakan.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses -proses
sosial, termasuk perubahan sosial dalam masyarakat (Soemardjan dan Soemardi,
1964:14). Proses sosial memiliki pengaruh timbal balik antar berbagai segi
kehidupan masyarakat. Bentuk umum dari proses-proses sosial ialah interaksi
sosial, karena interaksi sosial merupakan syarat utama ternyadinya aktivitas aktivitas sosial. A dapun syarat terjadinya interaksi sosial, yaitu adanya kontak
sosial dan komunikasi (Soekanto, 1982:55-58).
Karya sastra sebagai produk dari dunia sosial yang senantiasa berubah -ubah,
merupakan kesatuan dinamis yang bermakna, sebagai perwujudan nilai-nilai dan
peristiwa-peristiwa
penting
zamannya
(Damono,
1984:40).
M edia
sosial
merupakan suatu bentuk dari interaksi sosial yang terjadi di dalam masyarakat
modern, yaitu kemajuan dan kemudahan dalam berkomunikasi. Kehadiran media
sosial dalam kehidupan sosial menimbulkan dampak-dampak yang dirasakan oleh
masyarakat. Dampak-dampak yang tercermin di dalam film tersebut yang akan
13
diteliti dalam penelitian kali ini. O leh karena itu, penelitian ini menggunakan teori
sosiologi sastra sebagai landasannya untuk menge tahui hubungan karya sastra
dengan masyarakat.
1.7 Metode Penelitian
M etode penelitian yang digunakan untuk meneliti objek sastra ini adalah
menggunakan landasan teori sosiologi sastra. Terdapat beberapa tahapan yang
dilakukan dalam penelitian ini. Tahap pertama adalah melakukan studi pustaka
untuk menentukan objek formal dan objek material. Objek penelitian ditentukan
dengan memahami dan mencari masalah menarik. Setelah objek ditemukan,
selanjutnya mencari teori yang tepat untuk menjawab rumusan masalah y ang
terdapat di dalam objek. Teori yang digunakan adalah teori sosiologi sastra
dengan pendekatan yang menangkap karya sastra sebagai cerminan sosial, yang
merefleksikan situasi pada masa sastra tersebut diciptakan (Laurenson, 1972:13).
Selanjutnya, menyusun rancangan penelitian. M elakukan pengumpulan data
mengenai pengertian, sejarah, dan fungsi media sosial dalam hubungannya dengan
dampak yang muncul bagi masyarakat K orea. Kemudian melakukan penelitian
dengan metode analisis data, menarik simpulan, melaku kan penulisan dan
penyusunan hasil penelitian. Setelah menuliskan hasil penelitian selanjutnya
membaca kembali hasil laporan dan mencari hal-hal yang perlu direvisi.
Kemudian langkah terakhir adalah melaporkan hasil penelitian.
14
1.7.1
Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah film
Socialphobia
(소 셜 포 비아 ) yang rilis di Korea pada tanggal 12 M aret 2015. Setelah menonton
keseluruhan film, dipilih dialog-dialog dan gambar-gambar pendukung yang
menggambarkan dampak positif dan dampak negatif penggunaan media sosial
bagi masyarakat Korea. Kemudian mencari data pendukung mengenai penjelasan
tentang media sosial dan dampak penggunaan media sosial. Selanjutnya
melakukan terjemahan bahasa pada dialog dari bahasa K orea ke bahasa Indonesia.
Setelah itu melakukan pengumpulan data pendukung dengan melakukan studi
kepustakaan. Data pendukung di dapat dari buku, kamus, artikel berbentuk media
cetak maupun online, serta dalam bahasa Korea, Indonesia, maupun Inggris.
1.7.2
Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul dan diterjemahkan, selanjutnya adalah melakukan
analisis
data.
Pertama
adalah
melakukan
klarifikasi
data.
Setelah
data
terklarifikasi, selanjutnya adalah melakukan analisis data menggunakan kajian
sosiologi sastra milik Swingewood dengan pendekatan yang menangkap karya
sastra sebagai cerminan sosial, yang merefleksikan situasi pada masa sastra
tersebut diciptakan (Laurenson, 1972:13).
Langkah awal dalam penelitian ini adalah membuat uraian umum yang
menjelaskan tentang media sosial dan penggunaan media sosial pada masyarakat
Korea. Selanjutnya menganalisis data dengan memilih dialog dan gambar yang
menunjukkan
dampak
penggunaan
media
sosial
serta
menganalisisnya
15
menggunakan teori sosiologi sastra. Dari analisis tersebut akan didapatkan
representasi dampak positif dan dampak negatif penggunaan media sosial bagi
masyarakat Korea yang dicerminkan di dalam film.
Adapun langkah-langkah kerja dalam penelitian ini sebagai berikut :
M emilih Film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ) sebagai objek penelitian
dan menentukan sosiologi sastra sebagai teori yang digunakan.
M enentukan potongan dialog dan gambar yang menunjukkan
dampak positif dan negatif penggunaan media sosial.
M enerjemahkan dialog ke dalam bahasa Indonesia dan mengumpulkan
data pendukung penelitian.
M elakukan sinkronisasi dan analisis data, menganalisis dampak
positif dan dampak negatif yang terjadi akibat penggunaan media
sosial di dalam film .
M enarik kesimpulan dalam penelitian.
M enyusun hasil penelitian dan melaporkan dalam bentuk laporan
penelitian.
Bagan 1. Langkah Kerja Penelitian
16
1.8 Sistematika Penyajian
Penelitian ini terdiri dari empat bab. Bab I adalah pendahuluan yang terdiri
dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka,
landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II menjelaskan
tentang
pengertian dan
penggunaan media
sosial
serta
dampaknya
bagi
masyarakat Korea, khususnya di kalangan generasi muda. Bab III menjelaskan
tentang representasi dampak-dampak penggunaan media sosial yang terdapat di
dalam film Socialphobia (소 셜 포 비 아 ). Bab VI berisi kesimpulan yang didapat
dari hasil analisis penelitian dan saran.
Download