efektivitas metode demonstrasi dalam

advertisement
EFEKTIVITAS METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN AFEKTIF SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN
AGAMA BUDDHA DI SEKOLAH DASAR EHIPASSIKO TANGERANG
ARTIKEL
OLEH
Made Desi Handayani
NIM: 0250109010279
Disusun sebagai Tugas Akhir
Di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang – Banten
Jurusan Dharmacarya
2014
ABSTRACT
Handayani, Made Desi. 2013. Demonstration of the effectiveness of the method Upgrading
Affective Education Students In Buddhism Lesson In SDS Ehipassiko Tangerang. Thesis.
Dharmacarya Department of State Colleges Buddhist Srivijaya Tangerang Banten. Supervisor
I Sapardi, S.Ag., M.Hum and supervising II Waluyo, M.Pd.
Keywords: method of demonstration, affective skills, education Buddhism
Issues raised in this study relates to the lack of classroom management system when
the learning process in the classroom. Classroom management system resulting in weak
affective abilities of students to be low. When the learning process goes something like this
lead to less children are encouraged to develop the ability to think. If this problem is left
unchecked it can be ascertained that the future generation will not be able to replace the mess
that the next administration.
The purpose of this study was to determine the effectiveness of the method and to
decription demonstration affective in improving the education of students in the subjects of
Buddhism. To achieve the research objectives above, the writer used classroom action
research conducted in elementary Ehipassiko Tangerang. The method used by the authors in
this study is descriptive qualitative method.
Given the data analyzed in the form of text and are qualitative, the authors used
qualitative data analysis. Qualitative data analysis is a data analysis process consists of three
flow events that occur simultaneously in the form of data presentation data reduction process
and draw conclusions.
These results indicate that the method of demonstration was instrumental in
improving students' affective abilities. Affective abilities are skills related to attitudes and
values. The important aspect is that affective attitude, interest, self-concept, values, and
morals. When the affective aspects can be developed either by the student affective abilities
of students increased. Based on these results the authors concluded that the effectiveness of
the method of demonstration was instrumental in improving students' affective skills in the
learning process.
Finally, the author suggested that educators are expected to use appropriate learning
method. Application of the method of learning to be done in creating an effective learning
environment, namely: build student motivation, engaging students in the learning process and
intelligent interest and attention of students. Therefore, learning methods play an important
role in the delivery of material to the achievement of learning objectives.
2
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan cermin suksesnya bangsa. Kesuksesan bangsa ditandai dengan
peningkatan
mutu
pendidikan.
Perbaikan
mutu
pendidikan
berpengaruh
terhadap
perkembangan pembangunan bangsa, karena sumber daya manusia adalah faktor penting
dalam memperbaiki kondisi dan situasi bangsa. Dalam suatu proses pembelajaran, aspek
yang sangat penting untuk mencapai tujuan adalah peran aktif atau partisipasi antara guru dan
siswa. Partisipasi antara keduanya sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan
pembelajaran yang diinginkan.
Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, para pendidik harus menguasai bahan
dan materi pelajaran, mengetahui cara pengelolaan kelas yang baik, dan menyampaikan
dengan baik sesuai karakteristik setiap siswa. Oleh karena itu, seorang pendidik
harus
terampil dan kreatif dalam penyajian materi sehingga siswa dapat belajar dengan suasana
yang menyenangkan dan menarik. Penggunaan metode yang kurang tepat dapat
menimbulkan kebosanan, sulit dipahami dan monoton sehingga siswa kurang termotivasi
untuk belajar. Pembelajaran pendidikan agama Buddha yang menggunakan metode
konvensional biasanya membuat siswa kurang aktif, karena tidak dapat mengembangkan
keterampilan yang kelak dapat berguna dalam kehidupan sosial.
Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, Pendidik harus menciptakan kegiatan
belajar yang efektif. Pembelajaran yang efektif dapat membuat anak senang dan dapat
berinteraksi satu sama lain. Dalam pembelajaran yang efektif guru memberikan kesempatan
kepada anak untuk aktif dan kreatif. Metode pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan
afektif siswa terutama pada mata pelajaran pendidikan agama Buddha.
Salah satu
metode untuk meningkatkan kemampuan afektif siswa dengan
menggunakan metode demonstrasi. Metode demonstrasi merupakan metode mengajar dengan
cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik
secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok
bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Dari uraian latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk menelitinya dengan
mengambil judul “Efektivitas Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Kemampuan
Afektif Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha di Sekolah Dasar Ehipassiko
Tangerang”.
3
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Pembelajaran
Pada dasarnya guru adalah
seorang pendidik. Pendidik adalah orang yang
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik dan mengantarkan anak didiknya
menjadi orang yang sukses. Secara khusus guru diharapkan mempunyai banyak
kemampuan atau keterampilan dalam menjalankan tugasnya di sekolah.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiata nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai
secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang
sangat penting.
Proses pembelajaran merupakan kegiatan interaksi antara siswa dengan guru, yang
keduanya sama-sama memiliki kewajiban. Siswa berkewajiban untuk belajar dan guru
berkewajiban untuk mengajar. Seperti dijelaskan
di dalam Sigalovada Sutta, Digha
Nikaya III yaitu kewajiban guru terhadap siswanya.
They train him in that where in he has been well trained
They make him hold fast that which is well held
They thoroughly instruct him in the love of every art
They speak well him among his friend and companions
They provide for his safety in every quarter.
1. Mereka melatih siswa itu sedemikian rupa, sehingga ia terlatih dengan baik;
2. Mereka membuat ia menguasai apa yang telah diajarkan;
3. Mereka mengajarkan secara mendalam ilmu pengetahuan dan kesenian;
4. Mereka bicara baik tentang muridnya di antara sahabat dan kawan-kawannya;
5. Mereka melengkapi muridnya demi keamanan dalam setiap arah (Davids, 2002:
181)
Dari petikan di atas dijelaskan bahwa seorang guru melatih siswanya agar menjadi
siswa yang cerdas dalam pengetahuan dan memilki perilaku yang baik kepada siapapun.
Guru memberikan ilmu pengetahuan kepada siswanya agar kelak memiliki keterampilan
dan memahami sesuatu sesuai dengan apa yang telah diajarkan. Sebagai guru yang baik
dan menjadi contoh bagi siswanya, guru juga harus selalu membicarakan kebaikan
siswanya, tidak menjelek-jelekan di depan teman-temannya. Di sekolah guru memberikan
keamanan untuk siswa-siswanya dalam segala tindakan, sehingga siswa merasa aman dan
terlindungi dalam proses pembelajaran.
4
B. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Dalam proses pembelajaran seorang guru harus terampil dan kreatif dalam
menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu metode pembelajaran yang
digunakan adalah metode demonstrasi. Metode demonstrasi merupakan metode mengajar
yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau
caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Demonstrasi dapat
digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam pelaksanaan demonstrasi guru harus sudah
yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan dan mengamati terhadap objek yang akan
didemonstrasikan.
2.Tujuan dan Kegunaan Metode Demonstrasi.
Tujuan dan kegunaan metode demonstrasi, antara lain : untuk memudahkan
penjelasan sebab penggunaan bahasa lebih terbatas, untuk membantu anak dalam
memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian, untuk menghindari
verbalisme, cocok digunakan apabila akan memberikan keterampilan tertentu.
Disini guru juga harus harus mempunyai pengetahuan tentang bagaimana mengelola
siswa-siswanya dengan baik dan guru mampu memberikan pengetahuan yang telah
dimilikinya agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Sang Buddha bersabda dalam Sutta Pitaka Digha Nikaya I, Lohicca Sutta, yaitu:
There are these three sorts of teacher in the world, lohikka, who are worthy of blame, and
who so ever should blame such a one his rebuke would be justified, in accord with the facts
and the truth, not improper.
Guru yang terpuji adalah guru yang telah sepenuhnya terampil dalam 3 praktek: Moralitas,
Konsentrasi, dan Pengetahuan, dan mengajar siswa-siswanya yang menjadi sepenuhnya
mantap seperti dia (Davids, 2002: 293)
Dari penjelasan sabda Sang Buddha diatas maka seyogyanya guru harus memiliki
pengetahuan yang luas dan harus diajarkan kepada siswa-siswanya. Guru yang baik bukan
hanya guru yang memiliki pengetahuan saja, tetapi seorang guru harus memiliki moralitas
dan tingkah laku yang baik, mencontohkan sikap dan perilaku yang baik terhadap siswasiswanya baik di dalam lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Seorang guru juga harus
memiliki konsentrasi yang baik danpengetahuan yang baik, sehingga ketika seseorang guru
memiliki ketiganya, ia mampu mengajarkan dan mencontohkannya kepada peserta didiknya.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam metode demonstrasi yakni aturlah
tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memerhatikan dengan jelas apa yang
5
didemonstrasikan, kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa. Kemukakan tugastugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal
yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi. Mulailah demonstrasi dengan kegiatankegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya ciptakan suasana yang
menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan, yakinkan bahwa semua siswa
mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa dan berikan
kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang
dilihat dari proses demonstrasi itu.
C. Kemampuan Afektif
1. Pengertian Kemampuan Afektif
Kemampuan afektif adalah kemampuan yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
Kemampuan afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan
nilai. Kemampuan afektif dibagi ke dalam lima jenjang, yaitu: 1) receiving (2) responding (3)
valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex receiving atau
attending (= menerima atua memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima
rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi,
gejala dan lain-lain.
Receiving atau attenting adalah kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau
suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau
nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri kedalam
nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil belajar afektif jenjang
receiving, misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di
siplin harus disingkirkan jauh-jauh.
Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi
kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut
sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah
satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah
afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh
atau menggali lebih dalam lagi.
Valuing (menilai atau menghargai), Menilai atau menghargai artinya mem-berikan
nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila
kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing
adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding.
Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima
6
nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau
fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan
mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah
menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya. Dengan
demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Contoh hasil belajar efektif jenjang
valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku
disiplin, baik disekolah, dirumah maupun di tengah-tengahkehidupanmasyarakat.
Organization (mengatur
ataumengorganisasikan),
artinya
memper-temukan
perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan
umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu
sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan
dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah
peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh Presiden
Soeharto pada peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 1995.
Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau
komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang,
yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi nilai
telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara
konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat
afektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah
memiliki phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki
sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga
membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap dan kosisten.
Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap,
minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka
terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu
yang positif melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat
diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi
terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap
peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein & Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk
merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap
7
peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran.
Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik
mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran.
Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk
pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran
menjadi lebih positif.
2. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas,
pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang
tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat
termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. Penilaian minat dapat
digunakan untuk: 1) mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan
dalam pembelajaran, 2) mengetahui bakatdan minat peserta didik yang sebenarnya, 3)
pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik, 4) menggambarkan keadaan
langsung di lapangan atau kelas.
3. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap
kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada
dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga
institusi seperti sekolah. Konsep diri yang positif atau negatif, dan intensitasnya dapat
dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri
ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan
dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain
itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta
didik dengan tepat. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan
dari penilaian diri meliputi: 1) pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta
didik, 2) peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai, 3) memberikan
motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik, 4) peserta didik lebih aktif dan
berpartisipasi dalam proses pembelajaran, 5) melatih kejujuran dan kemandirian peserta
didik, 6) peserta didik memahami kemampuan dirinya, 7) peserta didik belajar terbuka
8
dengan orang lain, 8) Peserta didik mampu menilai dirinya, 9) peserta didik dapat mencari
materi sendiri, dan 10) Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.Nilai
Menurut Rokeach (1968), nilai merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan,
tindakan, atau perilaku yang dianggap baik atau buruk. Sikap mengacu pada suatu organisasi
sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada
keyakinan. Target nilai cenderung menjadi ide dan dapat juga berupa sikap dan perilaku yang
positif atau negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung
pada situasi dan nilai yang diacu. Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7),
yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam
mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar
menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat,
sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik
menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk
memperoleh kebahagiaan personal dan memberi kontribusi positif terhadap masyarakat.
4. Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun,
Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia
hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema
hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. Moral
berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan
terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi
orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral dikaitkan dengan
keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala.
Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
Kemampuan afektif lain yang penting meliputi: 1) Kejujuran: peserta didik harus
belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain, 2) Integritas: peserta
didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistic, 3) Adil: peserta
didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam
memperoleh pendidikan, dan 4) Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang
demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua
orang.
9
2. Pendidikan Agama Buddha
Sang Buddha adalah guru para dewa dan manusia (Sattha Deva Manussanam).
Sebagai seorang guru, Sang Buddha mengajar para dewa dan manusia dengan berbagai
macam metode dengan tujuan untuk membebaskan mereka dari penderitaan (dukkha).
Penderitaan bersumber pada keinginan rendah (tanha). Keinginan (tanha) tergantung pada
faktor lain yang mendahuluinya. Dalam rumusan sebab musabab yang saling bergantungan
(paticcasamuppada), Buddha menempatkan di urutan pertama kebodohan (avijja). “Yang
lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda yang paling
buruk. Para bhikkhu, singkirkan noda ini dan jadilah orang yang tidak ternoda” (Dhp.243).
Belajar merupakan jalan satu-satunya untuk dapat membebaskan diri dari
kebodohan. Sang Buddha juga menjelaskan pentingnya belajar dalam kehidupan manusia.
“Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi
kebijaksanaannya tidak berkembang” (Dhp. 152).
Hasil penelitian yang relevan
Untuk mendukung penelitian ini, berikut dikemukakan hasil penelitian terdahulu yang
berhubungan dengan penelitian ini: Akhmad Masuki (2009) dalam skripsi yang berjudul
“Penerapan Metode Demonstrasi dan Pemberian Tugas Belajar (Resitasi) untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas
IV Di SDN Merjosari III Malang” menyatakan bahwa tiga siklus yang diterapkan, sudah
dapat dilihat perkembangan pada delapan prestasi yang dijadikan variabel dalam penelitian
ini, yaitu keaktifan individu, keaktifan dalam kelompok, nilai ulangan harian dan ujian
praktik, ketepatan mengerjakan tugas, memiliki indikator materi pembelajaran, siswa
memperhatikan ketika guru menjelaskan dan siswa tanggap terhadap instruksi. Sesuai dengan
hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi
dan pemberian tugas belajar (resitasi) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap
mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas IV SDN Merjosari III Malang.
Andi Fuan Rachmadi (2009) dalam skripsinya yang berjudul “Penerapan Metode
Demonstrasi (Demonstration Method) pada Materi Perilaku Konsumen dan Produsen untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Malang” menyatakan bahwa
adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar sesudah tindakan. Penelitian terdahulu
menerapkan metode demonstrasi dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
melalui penelitian tindakan kelas. Hasil refleksi maupun saran-saran dari penelitian terdahulu
dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan penelitian tindakan kelas. Hal-hal yang
menyebabkan penelitian kurang berhasil dapat dijadikan pengetahuan agar tidak diulangi lagi
10
dalam penelitian ini. Hal yang menyebabkan penelitian terdahulu berhasil akan dijadikan
sebagai pedoman. Penelitian yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar siswa
khususnya pada mata pelajaran Fiqih kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Bandulan
Malang.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan merupakan jawaban sementara berupa tindakan (action) atas
rumusan permasalahan yang ditetapkan dalam perencanaan penelitian tindakan kelas.
Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apabila upaya penerapan
metode demonstrasi pada mata pelajaran pendidikan agama Buddha dapat berjalan efektif,
maka kemampuan afektif siswa akan meningkat.
Desain Penelitian
Penelitian ini adalah jenis pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Data yang dihasilkan kemudian dideskripsikan untuk kemudian
dianalisis dan direduksi. Pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang telah
didapat pada tahap pertama. Pada tahap reduksi ini peneliti menyortir data dengan cara
memilih data yang penting, dan berguna. Data yang dianggap penting diuraikan dan dianalisis
kemudian ditarik kesimpulan.
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dengan diawali kegiatan pra tindakan,
yaitu dari Maret sampai dengan Mei 2013. Penelitian ini dilaksanakan di SD Ehipassiko BSD
Tangerang.
III. PENUTUP
A. Simpulan
Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:
1. Metode Demonstrasi yang diterapkan melalui langkah pembelajaran demonstrasi
mampu meningkatkan kemampuan afektis siswa kelas II di SDS Ehipassiko pada
pelajaran Pendidikan Agama Buddha.
2. Proses pembelajaran dengan metode demonstrasi lebih menyenangkan dan menarik.
Siswa terlihat aktif, percaya diri, antusias, dan bersemangat dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Buddha.
3. Metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa.
B. Implikasi
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi
mampu meningkatkan kemampuan afektif siswa kelas II SDS Ehipassiko pada mata
11
pelajaran Agama Buddha. Metode demonstrasi terhadap peningkatan kemampuan afektif
siswa memberikan implikasi kepada beberapa pihak yaitu:
1. Bagi siswa
Metode demonstrasi yang diterapkan mampu meningkatkan kemampuan afektif
siswa. Kemampuan afektif yang baik mendorong peningkatan hasil belajar siswa
sehingga memperoleh nilai yang memuaskan.
2. Bagi guru
Penerapan metode pembelajaran demonstrasi dapat digunakan guru sebagai acuan
untuk meningkatkan kemampuan afektif dan hasil belajar siswa.
C. Saran
Hasil penelitian yang membuktikan adanya dampak yang positif antara metode
demonstrasi dengan peningkatan kemampuan afektif siswa khususnya pada pembelajaran
Agama Buddha di SDS Ehipassiko, maka peneliti mengajukan saran-saran sebagai
berikut:
1.
Guru SDS Ehipassiko dapat menggunakan metode pembelajaran demonstrasi agar
kemampuan afektif
dan hasil belajar siswa meningkatkan sehingga mencapai
kompetensi dasar yang ditargetkan.
2.
Siswa selalu antusias dalam proses pembelajaran, percaya diri berpendapat,
berkomunikasi dan berkerjasama, mengaktualisasikan materi yang dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari sehingga dapat memperoleh manfaat langsung.
3.
Siswa lebih meningkatkan kemampuan afektif, sebab terbukti bahwa siswa yang
memiliki hasil belajar yang baik adalah siswa yang memiliki kemampuan afektif
yang tinggi.
12
IV. DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Rohani. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Azwar, Saifuddin.1995. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Liberty.
H.Saddatissa. 1999. Sutta Nipata. Klaten: Vihara Bodhivamsa.
John D. Ireland. 1998. Ittivuttaka. Bandung: Lembaga Anagarini Indonesia.
Majalah Buddha Cakkhu, edisi Magha 2534. 1991. Jakarta: Dhammadipa Arama.
Majid, Abdul.2009. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhadi. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Shira Media.
Mukti, W.K. 2008. Wacana Buddha Dhamma. Jakarta: Ekayana Buddhis Centre.
Panjika. 1994. Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre.
Pusaka Jati, Suhartoyo dan Suyanto. 2010. Pedoman Penulisan skripsi. Tangerang
Banten: Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Srwijaya.
Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Saebani, Beni Ahmad. 2008. Metode Penelitian. Bandung: CV Pustaka Setia.
Sanjaya,Wina.2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sudaryono. 2012. Dasar-dasar Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:PT
Remaja Rosdakarya.
Tanpa nama.1997. Dhammapada. Jakarta: Hanuman Sakti.
Teja S.M Rashid. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Bodhi.
Tim Penterjemah. 2002. Dhamma Vibhanga. Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka.
Tim Penterjemah. 2005. Dhammapada. Jakarta: Dewi Kayana Abadi.
U KO LAY. 2000. Panduan Tipitaka. Klaten: Vihara Bodhivamsa.
Bhikkhu Tejanando. Tanpa tahun. Renungan Menuju Bijak.
13
Download