1 PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL MIKRO MAKRO

advertisement
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
1
PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL MIKRO MAKRO TERHADAP HARGA
SAHAM PERUSAHAAN SEMEN GO PUBLIC
Prihati Hardaningtyas
[email protected]
Khuzaini
Sekolah Tinggi Ilmu ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
ABSTRACT
The purpose of this research is to find out and analyze the influence of macro and micro fundamental
factors to the stock price at cement companies which its shares go public in period of 2008 until 2012.
The samples are 3 companies which have been selected by using purposive sampling are: PT
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Indonesia Tbk, and PT Holcim Indonesia Tbk. This
research uses multiple linear regressions with the assistance of SPSS 21 analysis instruments which
consist of classic test assumption, multiple linear regressions, Goodness test of Fit and hypothesis test.
The result of determination coefficient test (R2) shows that the contribution from the influence of
macro and micro fundamental factors to the stock price at the cement companies is great. The result of
hypothesis test, tcount shows that factor-factor fundamental micro: Current Ratio (CR), Price Earning
Ratio (PER), Debt To Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR)
and factor-factor fundamental macro: Interest, SBI, Rupiah exchange and Inflation level variables
have significant and positive influence to the stock price of cement companies which go public. Only
the Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE) variables which have influence but
insignificant to the stock price of cement companies go public.
Keywords: Fundamental Micro, Fundamental Macro, Stock Price.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor fundamental mikro
dan makro terhadap harga saham pada perusahaan semen yang sahamnya go public periode
2008 hingga 2012. Terdiri dari 3 Sampel penelitian yang didapat melalui purposive sampling
antara lain: PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Indonesia Tbk, PT Holcim
Indonesia Tbk. Penelitian ini mengunakan alat analisis regresi berganda dengan bantuan alat
analisis SPSS 21 antara lain; uji Asumsi klasik, uji regresi linier berganda, uji Goodness of Fit
dan pengujian hipotesis. Dari hasil uji koefisien determinasi (R2) bahwa sumbangan atau
kontribusi dari pengaruh fundamental mikro dan makro terhadap harga saham pada
perusahaan Semen, sangat besar. Untuk hasil pengujian hipotesis uji thitung yang
menunjukkan bahwa variabel Current Ratio (CR), Price Earning Ratio (PER), Debt To Equity
Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR) dan faktor-faktor
fundamental makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat dan Tingkat Inflasi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap harga
saham perusahaan semen yang go public. Hanya variabel Return On Investment (ROI), Return
On Equity (ROE), mempunyai pengaruh tetapi tidak signifikan terhadap harga saham
perusahaan semen go public.
Kata kunci : Fundamental Mikro, Fundamental Makro, Harga Saham
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
2
PENDAHULIUAN
Dewasa ini semakin banyak industri yang berkembang termasuk perusahaan yang
bergerak pada bidang semen baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar, karena
ditinjau dari meningkatnya proyek pembangunan jalan tol, industri pabrik, pembangunan
perumahan dll. maka industri semen mempunyai prospek yang cerah pada masa yang akan
datang.
Upaya pengembangan dan pembaruan sesuai dengan era modernisasi industri
semen memerlukan adanya kemampuan yang didasarkan pada kondisi dalam dan luar
perusahaan tersebut, upaya ini tidak lepas akan dana danmodal yang besar. Untuk itu
perusahaan semen tidak hanya mengandalkan dana dari dalam perusahaan saja tetapi juga
membutuhkan dana dari luar perusahaan yang di peroleh dari pinjaman bank dan dana
langsung dari penjualan surat berharga di bursa efek.
Demikian pentingnya peranan pasar modal, sehingga idealnya diperlukan penelitian
yang berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham dan faktor dominan
yang mempengaruhi harga saham.
Pada hasil penelitian sebelumnya, Ericktus (2011) melakukan penelitian tentang
“Pengaruh Analysa Fundamental Laporan Keuangan terhadap Perubahan Harga Saham
padaPerusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.Dalam penelitian
tersebut sampel yang digunakan sebanyak 4 perusahaan telekomunikasi yang go public, dan
menggunakan 4 variabel bebas, dimana periode yang digunakan adalah dari tahun 20072009. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel yang digunakan
dalam penelitian tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham
perusahaan telekomunikasi yang go public.
berdasarkan latar belakang penelitian tersebut maka dapat disimpulkan rumusan
masalah sebgai berikut: (1) Apakah faktor-faktor fundamental mikro: Current Ratio (CR),
Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt To Equity
Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR) dan faktor-faktor
fundamental makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat dan Tingkat Inflasi secara individual (parsial) dapat mempengaruhi harga saham
perusahaan semen go public. (2) Manakah di antara faktor fundamental mikro: Current Ratio
(CR), Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt To
Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR) dan faktor-faktor
fundamental makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat dan Tingkat Inflasi yang mempunyai pengaruh dominan terhadap harga saham
perusahaan semen go public?
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui
pengaruh faktor-faktor fundamental mikro: Current Ratio (CR), Return On Investment (ROI),
Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt To Equity Ratio (DER), Earning Per
Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR) dan faktor-faktor fundamental makro: tingkat suku
bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan Tingkat Inflasi secara
individual (parsial) dapat mempengaruhi harga saham perusahaan semen go public. (2)
Untuk mengetahui manakah di antara faktor fundamental mikro: Current Ratio (CR), Return
On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt To Equity Ratio
(DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR) dan faktor-faktor fundamental
makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan
Tingkat Inflasi yang mempunyai pengaruh dominan terhadap harga saham perusahaan
semen go public.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
3
Dengan adanya penelitian terdahulu, maka penulis mempunyai keinginan untuk
melakukan penelitian terhadap perusahaan semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
yang mempengaruhi harga saham. Dalam penelitian ini akan meneliti tiga perusahaan
semen yang sahamnya aktif di Bursa Efek Indonesia hingga tahun 2012 adalah PT
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Indonesia Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk.
Penelitian ini akan menggunakan 10 variabel bebas dan akan menguji variabel bebas
tersebut, apakah variabel bebas tersebut berpengaruh berpengaruh signiifikan terhadap
variabel terikat yaitu harga saham.
TINJAUAN TEORITIS
Laporan Keuangan
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas
perusahaan tersebut (Munawir, 2007:2). Laporan keuangan (financial statement) memberikan
ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca (balance sheet)
mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan
laba rugi (income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu
biasanya meliputi periode satu tahun (Riyanto, 2001:327).
Pengertian Faktor Fundamental
Menurut Tjiptono dan fachruddin (2006:189) mengatakan bahwa analisis fundamental
merupakan salah satu cara melakukan penilaian saham dengan mempelajari atau
mengamati berbagai indikator terkait kondisi mikro ekonomi dan makro ekonomi kondisi
industri suatu perusahaan, termasuk berbagai indikator keuangan dan manajemen
perusahaan.
Analisis fundamental bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi atau
memproyeksikan nilai dari suatu saham yang nantinya hasil analisis ini digunakan untuk
menilai kinerja perusahaan dan potensi pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang.
Hubungan antara Analisis Faktor Fundamental Mikro dan Makro terhadap Harga Saham
Analisis Fundamental, merupakan salah satu cara melakukan penelitian saham
dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator terkait kondisi makro ekonomi dan
kondisi industri perusahaan, termasuk berbagai indikator keuangan dan manajemen
perusahaan seperti pendapatan, laba, pertumbuhan penjualan, return on equity, profit margin
untuk menilai kinerja perusahaan dan potensi pertumbuhan perusahaan di masa
mendatang. Menurut Resmi (2002:276) Variasi harga saham akan dipengaruhi oleh kinerja
keuangan perusahaan yang bersangkutan, disamping dipengaruhi oleh hukum permintaan
dan penawaran. Oleh karena itu di dalam penelitian ini laporan keuangan peusahaan
menjadi faktor yang sangat penting bagi para investor ataupun calon investor sebelum
mereka menanamkan modalnya di suatu perusahaan.
Pengertian Rasio keuangan
Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematichal relationship)
antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain (Munawir, 2007:64).
Rasio sebelumnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam arirmathical terms yang dapat
digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data finansial (Riyanto,
2001:39).
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
4
Penggolongan Rasio
Untuk menganalisa laporan keuangan diperlukan suatu alat analisis yaitu rasio
keuangan. Menurut Munawir (2007:68), angka rasio dapat dibedakan menjadi tiga menurut
datanya: (1) Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio),(2) Rasio-rasio Laporan laba rugi (income
statement ratio), (3) Rasio-rasio antar laporan (interstatement ratio).
Sedangkan menurut Ang (1997:23-38) rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi
lima jenis berdasarkan ruang lingkup atau tujuan yang dicapai, yaitu: (1) Rasio Likuiditas
(Liquidity Ratios), (2) Rasio Aktivitas (Activity Ratios), (3) Rasio Rentabilitas / Profitabilitas
(Profitability Ratios), (4) Rasio Solvabilitas (Solvency Ratios), (5) Rasio Pasar (Market Ratios).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham
Faktor-faktor fundamental mikro (faktor internal): Menurut Sunariyah (2006:13) faktor
fundamental mikro merupakan faktor yang berhubungan dengan kebijakan internal pada
suatu perusahaan besertakinerja yang telah dicapai.Hal ini berkaitan dengan hal-hal yang
seharusnya dapat dikendalikan oleh manajemen. Madura mengemukakan bahwa harga
saham suatu perusahaan dipengaruhi oleh faktor fundamental mikro.
Faktor-faktor fundamental makro (faktor ekstertnal): Faktor fundamental makro
merupakan hal-hal di luar kemampuan perusahaan atau di luar kemampuan manajemen
untuk mengendalikan (Sunariyah:2006:13).
Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Mikro Terhadap Harga saham (π‘ΏπŸ )
Pengaruh variabel bebas mikro terhadap harga saham: (1) Pengaruh Current Ratio
Terhadap Harga Saham: Current Ratio akan mempengaruhi harga saham sacara parsial.Rasio
likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan maka dapat
dikatakan bahwa perusahaan mempunyai kemampuan yang lebih besar dalam memenuhi
kewajiban-kewajiban keuangannya, sehingga meningkatnya current ratio diharapkan akan
meningkatkan kepercayaan investor dalam menanamkan dananya ke perusahaan dan akan
berdampak pada kenaikkan harga saham di pasar modal (Ang, 1997:33). (2) Pengaruh Return
on Investment Terhadap Harga Saham: Semakin besar ROI atau ROA menunjukkan kinerja
yang semakin baik, karena tingkat pengembalian semakin besar (Ang, 1997:33). Dengan
demikian semakin tinggi ROI meningkatkan daya tarik investor, sehingga harga saham akan
meningkat, dengan demikian ROI berhubungan positif dengan harga saham. (3) Pengaruh
Return on Equity Terhadap Harga Saham: ROE menunjukkan kemampuan dari modal sendiri
untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham.Semakin besar ROE menandakan
bahwa semakin baik perusahaan dalam mensejatherakan para pemegang sahamnya,
sehingga ROE berhubungan positif dengan harga saham Husnan dan Pudjiastuti (2006:76).
(4) Pengaruh Price Earning Ratio Terhadap Harga Saham: Menurut Husnan dan Pudjiastuti
(2006:75) Price Earning Ratio adalah yang membandingkan antara harga saham (yang
diperoleh dari pasar modal) dan laba per lembar saham yang diperoleh pemilik perusahaan
(disajikan dalam laporan keuntungan). Rasio ini mencerminkan pertumbuhan laba yang
diharapkan perusahaan.Semakin tinggi rasio ini, semakin tinggi pertumbuhan laba yang
diharapkan pemodal. (5) Pengaruh Debt to Equity Ratio Terhadap Harga Saham: Menurut
Sutrisno (2003:249) Debt to Equity Ratio menunjukkan proporsi atas penggunaan hutang
untuk membiayai investasinya. Semakin tinggi DER menunjukkan komposisi total hutang
(jangka panjang dan jangka pendek) semakin besar dibanding dengan total modal sendiri,
sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar
(kreditur).Meningkatnya beban terhadap kreditur menunjukkan sumber modal perusahan
sangat bergantung dengan pihak luar, sehingga mengurangi minat investor dalam
menanamkan dananya dalam perusahaan. (6) Pengaruh Earning Per ShareTerhadap Harga
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
5
Saham: Menurut Sutrisno (2003:255) earning Per Share merupakan ukuran kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik.Perusahaan bisa
mengalami laba yang menurun apabila perusahaan tersebut mengurangi jumlah saham yang
beredar (misalkan dengan melakukan pembelian kembali / treasure stock), EPS yang
dihasilkan tetap tinggi. (7) Pengaruh Dividend Pay Out Ratio Terhadap Harga Saham:
Menurut Gitosudarmo dan Basri
(2008:231) dividend pay out ratio (DPR) adalah
perbandingan antara dividen yang dibayarkan dengan laba bersih yang didapatkan dan
biasanya disajikan dalam bentuk presentase. Semakin tinggi DPR akan mengguntungkan
para investor tetapi dari pihak perusahaan akan memperlemah internal financial karena
memperkecil laba ditahan.
Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Makro Terhadap Harga Saham(π‘ΏπŸ )
Pengaruh variabel bebas makro terhadap harga saham: (1) Pengaruh Tingkat suku
Bunga SBI Terhadap Harga Saham: Menurut Sugeng (2004), kenaikan tingkat suku bunga
akan berakibat pada penurunan return dan begitu pula sebaliknya. Dalam menghadapi
kenaikan suku bunga, para pemegang saham akan menjual sahamnya sampai tingkat suku
bunga dianggap normal. (2) Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Harga Saham: Kurs
atau nilai tukar valuta asing adalah perbandingan antara harga mata uang suatu negara
dengan mata uang negara lain. Misalnya kurs Rupiah atas Dolar AS menunjukkan nilai
Rupiah yang diperlukan untuk setiap Dolar AS.Perubahan kurs Rupiah atas Dolar AS
memiliki dampak yang berbeda terhadap setiap jenis saham, artinya suatu saham terkena
dampak positif sedangkan saham lainnya terkena dampak negatif. (3) Pengaruh Tingkat
Inflasi Terhadap Harga Saham: Penggunaan inflasi sebagai variabel bebas dalam penelitian
ini karena inflasi dapat mempengaruhi harga saham. Ketika terjadi inflasi, masyarakat akan
dihadapkan pada pilihan untuk berinvestasi di pasar modal atau memenuhi kebutuhan
hidup mereka akibat kenaikan harga. Apabila masyarakat menjatuhkan pilihan sebagai
investor di pasar modal, maka permintaan saham akan naik yang kemudian turut
menaikkan harga saham.
Penelitian Terdahulu
Soejoto (2002)Dalam penelitiannya yang berjudul “Analisi Harga Saham di Perusahan
Manufaktur dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Pasar Modal Indonesia”
menyimpulkan bahwa: Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah capital gain,
volume perdagangan saham, earning per share, price earning ratio, dividen yield, dan kurs valas.
Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung adalah suku bunga SBI.Faktor yang
berpengaruh dominan terhadap akumulasi netto harga saham adalah capital gain, earning per
share, dan kurs valas.
Santoso (2005)Dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Faktor-Faktor
Fundamental Mikro Terhadap Harga Saham”, studi kasus pada Industri makanan dan
minuman yang terdaftar pada bursa efek di indonesia. Menyimpulkan bahwa: dengan
menggunakan Uji F menunjukkan bahwa perusahaan saham industri makanan dan
minuman yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dipengaruhi secara simultan oleh asset
growth, return on asset growth, debt ratio, current ratio, earning per share, price earning ratio,
dividen yield. Sementara itu, perubahaan harga saham indusrti makanan dan minuman secara
parsial (Uji T) dipengaruhi earning per share.
Perumusan Hipotesis
Hipotesis
merupakan
jawaban
sementara
terhadap
rumusan
masalah
penelitian.Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori
yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalaui
pengumpulan data (Sugiyono, 2007:51).
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
6
Tujuan penelitian dan tinjauan teori yang telah dikemukakan, maka dapat diajukan
hipotesis sebagai berikut: 1)Faktor-faktor fundamental mikro: current ratio, Return On
Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity
Ratio(DER), Earning Per Share (PER), Debt to Equity Ratio (DPR), dan faktor-faktor
fundamental makro: inflasi, tingkat suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat secara individual (parsial) dapat berpengaruh terhadap harga saham
perusahaan semen yang go public. 2)Di antara Faktor-faktor fundamental mikro: current ratio,
Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity
Ratio (DER), Earning Per Share (PER), Debt to Equity Ratio (DPR), dan faktor-faktor
fundamental makro: inflasi, tingkat suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat yang berpengaruh dominan terhadap harga saham perusahaan semen
adalah Earning Per Share.
METODA PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif. Metoda penelitian yang
digunakan adalah metode kausal komporatif (causal Comporative) karena penulis bermaksud
untuk mengetahui dan menganalisa sebab dan akibat. Metode kausal komporatif bersifat ex
post facto, artinya suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah
terjadi dan kemudian menurut kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat
menimbulkan kejadian tersebut, sehingga peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena
dan menguji hubungan sebab-akibat dari data-data yabg tersedia (Sugiyono, 2007:12).
Gambaran dari Populasi (Objek) Penelitian
Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah industri perusahaan semen yang
go public yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Indonesia Tbk, PT Holcim
Indonesia Tbk. Dengan periode penelitian 5 tahun yaitu 2008-2012.
Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi,
Sugiyono (2007:73). Karena dalam penelitian ini hanya terdapat 3 perusasahaan semen yang
go public maka penelitian ini mengambil metoda sampel non probability sampling dengan
metode jenuh teknik jenuh yaitu “penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan
sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30
orang, atau peneliti yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumentar yaitu data
berupa arsip yang memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi serta siapa yang
terlibat dalam suatu kejadian. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data
sekunder yaitu data yang diperoleh tidak dari sumbernya secara langsung melainkan sudah
dikumpulkan dan diolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dokumentasi data sekunder berupa laporan keuangan, dan data-data lain yang
terkait dengan penelitian, serta studi putaka yaitu teknik pengumpulan data dari buku
literatur, referensi, maupun bacaan lain yang berhubungan dengan masalah yanag akan
diteliti.
Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Variabel terikat / Dependent Variabel (Y) Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
harga saham, yaitu per lembar saham dari saham-saham perusahaan semen pada tahun
2008-2012. Variabel Bebas / Independent Variabel :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
7
Faktor fundamental mikro:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Aktiva Lancar
× 100%
Hutang Lancar
Laba Bersih setelah Pajak
𝑅𝑂𝐼 =
× 100%
Total Aktiva
Laba Bersih setelah Pajak
𝑅𝑂𝐸 =
× 100%
Total Modal
harga per lembar saham
𝑃𝐸𝑅 = laba per lembar saham × 100%
total hutang
𝐷𝐸𝑅 = total ekui × 100%
tas
PER
𝐸𝑃𝑆 = jumlah lembar saham × 100%
devidend per share
𝐷𝑃𝑅 = earning per share × 100%
πΆπ‘’π‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =
Faktor Fundamental Makro:
a. Interest Rate / Tingkat suku bunga SBI (SB)
Dalam penelitian ini interest rate yaitu presentase rata-rata tingkat suku bunga SBI
setiap tahun dari tingkat suku bunga setiap bulan yang ditawarkan oleh perbankan
dalam hal ini Bank Indonesia kepada nasabahnya.
b. Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika (NT)
Merupakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (US Dolar) yang bisa terjadi
kenaikan atau penurunan setiap saat sehingga berpengaruh terhadap harga saham.
c. Tingkat inflasi (INF)
Dalam penelitian ini yang dimaksud tingkat inflasi adalah rata-rata tingkat inflasi setiap
tahun dari tingkat inflasi setiap bulan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia selama 5
tahun yaitu 2008-2012.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis regresi linear berganda.
Regresi linear berganda merupakan alat analisis secara statistik untuk melakukan pengujian
terhadap hipotesis yang telah diajukan. Dengan model ini bisa diketahui seberapa besar
pengaruh variabel-variabel fundamental perusahaan terhadap harga saham industri semen
yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dari teknik analisis data tersebut dapat disimpulkan
bahwa teknik yang digunakan untuk melakukan pengujian dengan cara melakukan
perhitungan rata-rata industri perusahaan dari variabel bebas yaitu Current Ratio (CR),
Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), Debt To Equity
Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR) dan faktor-faktor
fundamental makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat dan Tingkat Inflasi.
Melakukan pengujian Asumsi Klasik Linear
Uji Normalitas: Menurut Ghozali (2011) model regresi yang baik memiliki distribusi
data yang normal atau mendekati normal. Menurut Priyatno (2011:277), uji normalitas pada
model regresi digunakan untuk menguji kenormalan distribusi nilai residual. Jadi dalam hal
ini yang diuji normalitas bukan masing-masing variabel melainkan nilai residual hasil dari
model. Dalam penelitian ini, uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dilihat
dari angka probabilitasnya, dimana jika probabilitas > 0,05 maka residual terdistribusi
normal. Sebaliknya jika probabilitas < 0,05 maka tidak terdistribusi normal.
Uji Multikolerasi: Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel bebas. Apabila terjadi multikorelasi, maka koefisien regresi
dari variabel bebas tidak dapat ditentukan dan standart eror tidak dapat ditentukan.
Multikolinier ini dapat diidentifikasi dengan cara membuat corelation matrix untuk semua
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
8
variabel bebas dengan bantuan program komputer yang akan menunjukkan koefisien
korelasi sederhana variabel bebas satu dengan yang lain. Apabila terdapat koefisien korelasi
yang tinggi (mendeteksi +1 atau -1) berarti ada masalah multikoliniearitas.
Uji Autokorelasi: Autokorelasi adalah terjadinya korelasi antara satu variabel error
dengan variabel error yang lain. Autokorelasi seringkali terjadi pada data time series dan
dapat juga terjadi pada data cross section tetapi jarang (Widarjono, 2007). Adapun dampak
dari adanya autokorelasi dalam model regresi adalah sama dengan dampak dari
heteroskedastisitas. Selanjutnya untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam
model
regresi linier berganda dapat digunakan metode Durbin-Watson. Durbin Watson telah
berhasil mengembangkan suatu metode yang digunakan mendeteksi adanya masalah
autokorelasi dalam model
regresi berganda menggunakan pengujian hipotesis dengan
statistik uji yang cukup.
Uji Heteroskedastisitas: Menurut Ghozali (2006:105) Uji ini bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan
ke pengamatan yang lain. Ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat
ada tidaknya pola tertentu pad grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y
adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah resisual (Y prediksi – Y sesungguhnya)
yang telah distudentized.
Melakukan Analisis regresi Linear Berganda
Dalam upaya menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka digunakan analisis
regresi linear berganda (Multiple Regression). Analisis regresi pada dasarnya adalah studi
mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel
independen (variabel penjelas/bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan/atau
memprediksi rata-rata populasi atau nilai nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel
independen yang diketahui (Ghozali, 2005).
Menghitung koefisian korelasi dan determinasi.
Untuk mengetahui dan menguji apakah model analisis tersebut sudah cukup layak
dan seberapa besar kontribusi atau sumbangan variabel independen terhadap variabel
dependen, maka perlu diketahui koefisien determinasinya (𝑅 2 ). Jika 𝑅 2 yang diperoleh dari
hasil perhitungan semakin mendekati satu, maka dapat dikatakan sumbangan variabel
independen terhadap variabel dependen semakin besar. Sebaliknya jika 𝑅 2 semakin
mendekati nol, maka dapat dikatakan sumbangan variabel independen terhadap variabel
dependen semakin kecil. Secara umum dapat dikatakan bahwa koefisien determinasi ganda
𝑅 2 berada antara 0 da 1 atau 0 <𝑅 2 < 1.
Uji Goodness of Fit
Tujuan melakukan Goodness of Fit adalah untuk menguji tingkat signifikan antara
variabel bebas yaitu Current Ratio (CR), Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE),
Price Earning Ratio (PER), Debt To Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out
Ratio (DPR) dan faktor-faktor fundamental makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat dan Tingkat Inflasi terhadap harga saham sebagai variabel
terikat.
Uji hipotesis secara Parsial (Uji t)
Tujuan melakukan uji t adalah untuk menguji tingkat signifikan antara variabel
bebas Current Ratio (CR), Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Price Earning
Ratio (PER), Debt To Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Dividen Pay out Ratio (DPR)
dan faktor-faktor fundamental makro: tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah terhadap
dollar Amerika Serikat dan Tingkat Inflasi terhadap variabel terikat yaitu harga saham secar
parsial.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
9
Koefisien Determinasi Parsial
Koefisien determinasi parsial digunakan untuk mengetahui sejauh mana variabelvariabel bebas secara parsial dapat menerangkan variabel terikat. Dari hasil perhitungan ini
akan diketahui variabel-variabel bebas (independent) yang mempunyai pengaruh dominan
teerhadap variabel-variabel terikat (dependen).
Hasil Analisis dan Pembahasan
Uji Asumsi Klasik:
a. Normalitas
Tabel 1
Hasil Uji Normalitas
(Kolmogorov-Smirnov)
N
Normal Parametersa,b Mean
Std. Deviation
Most Extreme
Absolute
Difference
Positif
Negatif
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig (2-tailed)
Unstandardized
Residual
15
9047.2667
6735.96440
.150
.150
.110
.582
.897
a. Test distribution is Normal
b. Calculated from data
Sumber Data : Pojok Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA (Diolah)
Dari tabel uji Kosmogrov Smirnov di atas, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,897.
Karena angka tersebut lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan sampel yang
diambil dari populasi berdistribusi normal.
b.
Multikolinearitas
Tabel 2
Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel
Nilai
Tolerance
Variance
Influence
Factor
Keterangan
Current Ratio
0.694
5.904
Bebas Multikolinieritas
ROI
0.706
8.450
Bebas Multikolinieritas
ROE
0.603
4.027
Bebas Multikolinieritas
PER
0.694
5.161
Bebas Multikolinieritas
DER
0.705
8.438
Bebas Multikolinieritas
EPS
0.629
4.559
Bebas Multikolinieritas
DPR
0.603
4.032
Bebas Multikolinieritas
Suku Bunga SBI
0.701
7.258
Bebas Multikolinieritas
Nilai Tukar Rupiah
0.704
7.779
Bebas Multikolinieritas
Tingkat Inflansi
0.700
7.025
Bebas Multikolinieritas
Sumber Data : Pojok Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA (Diolah)
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
10
Berdasarkan tabel 2 diatas diperoleh hasil bahwa nilai VIF pada semua variabel
bebas lebih kecil dari 10, artinya semua variabel bebas Tingkat Pertumbuhan
Perusahaan dan Deviden Perlembar Saham pada penelitian ini tidak terdapat gejala
multikolinieritas.
c. Heteroskedastisitas
Gambar 1
Grafik Uji Heteroskedastisitas
Dari gambar 1 scatterplot diatas dapat disimpulkan bahwa hasil dari uji
heteroskedatisitas menunjukkan bahwa bahwa titik-titik tersebut menyebar pada sumbu X
dan sumbu Y yang berarti bahwa tidak menggambarkan pola tertentu dalam penyebaran
titik:titik yang dihasilkan. Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam
model regresi liner kesalahan pengganggu (e) mempunyai varians yang sama atau tidak dari
satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
d.
Autokolerasi
Tabel 3
Batas-batas Daerah Test Durbin Watson
Distribusi
Interprestasi
DW < 2,341
Autokorelasi positif
0,926 ≤ DW < 2,054
Daerah keragu-raguan/Incilclusif
2,054 ≤ DW < 3,074
Tidak ada autokorelasi
3,074 ≤ DW < 1,946
Daerah keragu-raguan/Incilclusif
DW ≥ 1,946
Autokorelasi negatif
Sumber Data : Pojok Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA (Diolah)
Dari tabel 3 diatas mengenai batas-batas distribusi nilai test Durbin–Watson dan
kurva pengujian auto korelasi Durbin–Watson di atas menunjukkan bahwa nilai test Durbin–
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
11
Watson berada pada daerah antara du dan 2. Hal ini mengindikasikan bahwa model regresi
di atas tidak terdapat masalah autokorelasi.
Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel 4
Hasil Analisis Regresi Liner Berganda
Variabel
Koefisien Regresi (β)
Constanta
Current Ratio
ROI
ROE
PER
DER
EPS
DPR
Suku Bunga SBI
Nilai Tukar Rupiah
Tingkat Inflansi
5.879.386
3,581
1,132.998
747.292
247.744
1.841.255
13.105
59.771
500.627
.418
158.582
a. Dependent Variabel : Harga Saham
Sumber Data : Pojok Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA (Diolah)
HS= 5.879.386 + 3.581CR + 1.132.998ROI + 747.292ROE + 247.744PER + 1.841.255DER +
13.105EPS + 59.771DPR + 500.627SBI + 0.418TR + 158.582TI
Adapun analisis dari persamaan regresi berganda berdasarkan tabel 4 diatas adalah
sebagai berikut: (1) α = Konstanta Besarnya nilai Konstanta adalah 5.879.386 menunjukkan
bahwa jika variabel independen konstan = 0, maka variabel harga saham sebesar 5.879.386.
(2) β1 = 3,581 nilai koefisien regresi (β1) sebesar 3,581 yang berarti CR mempunyai pengaruh
positif terhadap harga saham. Nilai β1 sebesar 3,581 menunjukkan bahwa jika tingkat CR
berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka harga saham akan berubah atau
meningkat 3,581 satuan dengan asumsi bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap atau
tidak berubah. (3) β2 = 1.132.998 nilai koefisien regresi (β2) sebesar 3,581 yang berarti ROI
mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. Nilai
β2 sebesar 1.132.998
menunjukkan bahwa jika tingkat ROI berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka
harga saham akan berubah atau meningkat 1.132.998 satuan dengan asumsi bahwa
variabel:variabel bebas yang lain tetap atau tidak berubah. (4) β3 = 747.292 nilai koefisien
regresi (β3) sebesar 747.292 yang berarti ROE mempunyai pengaruh positif terhadap harga
saham. Nilai β3 sebesar 747.292 menunjukkan bahwa jika tingkat ROE berubah atau
meningkat sebesar satu satuan, maka harga saham akan berubah atau meningkat 747.292
satuan dengan asumsi bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap atau tidak berubah. (5)
β4 = 247.744 nilai koefisien regresi (β4) sebesar 247.744 yang berarti PER mempunyai
pengaruh positif terhadap harga saham. Nilai β4 sebesar 247.744 menunjukkan bahwa jika
tingkat PER berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka harga saham akan berubah
atau meningkat 247.744 satuan dengan asumsi bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap
atau tidak berubah. (6) β5 = 1.841.255 nilai koefisien regresi (β5) sebesar 1.841.255 yang berarti
DER mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. Nilai β5 sebesar 1.841.255
menunjukkan bahwa jika tingkat DER berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka
harga saham akan berubah atau meningkat 1.841.255 satuan dengan asumsi bahwa
variabel:variabel bebas yang lain tetap atau tidak berubah. (7) β6 = 13.105 nilai koefisien
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
12
regresi (β6) sebesar 1.841.255 yang berarti EPS mempunyai pengaruh positif terhadap harga
saham. Nilai β6 sebesar 13.105 menunjukkan bahwa jika tingkat EPS berubah atau
meningkat sebesar satu satuan, maka harga saham akan berubah atau meningkat 13.105
satuan dengan asumsi bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap atau tidak berubah. (8)
β7 = 59.771 nilai koefisien regresi (β7) sebesar 1.841.255 yang berarti DPR mempunyai
pengaruh positif terhadap harga saham. Nilai β7 sebesar 59.771 menunjukkan bahwa jika
tingkat DPR berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka harga saham akan berubah
atau meningkat 59.771 satuan dengan asumsi bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap
atau tidak berubah. (9) β8 = 500.627 nilai koefisien regresi (β8) sebesar 1.841.255 yang berarti
suku bunga SBI mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. Nilai β8 sebesar
500.627 menunjukkan bahwa jika tingkat suku bunga SBI berubah atau meningkat sebesar
satu satuan, maka harga saham akan berubah atau meningkat 500.627 satuan dengan asumsi
bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap atau tidak berubah. (10) β9 = 0.418 nilai
koefisien regresi (β9) sebesar 0.418 yang berarti nilai tukar rupiah mempunyai pengaruh
positif terhadap harga saham. Nilai β9 sebesar 0.418 menunjukkan bahwa jika tingkat nilai
tukar rupiah berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka harga saham akan berubah
atau meningkat 0.418 satuan dengan asumsi bahwa variabel:variabel bebas yang lain tetap
atau tidak berubah. (11) β10 = 158.582 nilai koefisien regresi (β10) sebesar 158.582 yang berarti
tingkat inflasi mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. Nilai β10 sebesar 158.582
menunjukkan bahwa jika tingkat inflasi berubah atau meningkat sebesar satu satuan, maka
harga saham akan berubah atau meningkat 158.582 satuan dengan asumsi bahwa
variabel:variabel bebas yang lain tetap atau tidak berubah.
Uji Kesesuaian Model (Goodness of Fit Models)
Analisis Koefisien Determinasi Multiple (R2)
Tabel 5
Koefisien Determinasi
R
0.998a
RSquare
Adjusted RSquare
Std. Error of the Estimate
0.997
0.989
0.690
a. Predictors (Constant) : Tingkat Inflasi, EPS, DPR, PER, Current Ratio, ROE, DER, Nilai Tukar Rupiah, Suku
Bunga SBI, ROI
b. Dependent Variable : Harga Saham
Sumber Data : Pojok Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA (Diolah)
Ditinjau dari tabel 5 diatas diketahui Koefisien korelasi berganda R merupakan
cerminan tingkat keeratan hubungan pengaruh faktor-faktor fundamental mikro dan makro
terhadap harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek Indonesia. Dapat
diketahui dari nilai koefisien korelasi (R) yaitu sebesar 0,998 atau 99.8% yang berarti bahwa
korelasi atau hubungan antara pengaruh faktor-faktor fundamental mikro dan makro
terhadap harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek Indonesia
mempunyai hubungan yang sangat erat.
Sedangkan nilai koefisien determinasi (R2) pada tabel 5 di atas sebesar 0,997 atau 97.7%,
yang berarti bahwa sumbangan atau kontribusi dari variabel factor-faktor fundamental
mikro dan makro terhadap harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek
Indonesia sangat besar. Sedangkan sisanya (100 % - 97.7% = 3%) dikontribusi oleh faktor
lainnya.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
13
Hasil Uji Goodness of Fit
Tabel 6
Hasil Uji F
Anovaa
Model
1
Sum of
Squares
Regression
Residual
Df
Mean
Square
6.3338
10
6.3337
1906098.586
4
476524.646
6.3528
14
Total
F
132.904
Sig.
.000a
a.
Predictors (Constant) : Tingkat Inflasi, EPS, DPR, PER, Current Ratio, ROE, DER, Nilai Tukar Rupiah, Suku Bunga SBI,
b.
ROI
Dependent Variable : Harga Saham
Sumber Data : Pojok Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA (Diolah)
Dari hasil output perhitungan program SPSS versi 21 diperoleh nilai Fhitung = sebesar
132,904 dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 < (a) 0,05, hal ini menunjukkan bahwa model
regresi dapat digunakan atau layak untuk memprediksi pengaruh Current Ratio, ROI, ROE,
PER, DER, EPS, DPR, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Inflansi terhadap
variabel dependen adalah harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek
Indonesia secara signifikan.
Pengujian Hipotesis (Uji Statistik t)
Tabel 7
Hasil Perolehan thitung dan Tingkat Signifikan
Coefficientsa
Variabel
Current Ratio
ROI
ROE
PER
DER
EPS
DPR
Suku Bunga SBI
Nilai Tukar Rupiah
Tingkat Inflansi
thitung
Sign.
Keterangan
4.564
.019
Signifikan
2.161
.097
Berpengaruh
Tidak Signifikan
2.245
.088
Berpengaruh
Tidak Signifikan
5.738
.005
Signifikan
4.144
.031
Signifikan
4.509
.011
Signifikan
3.890
.036
Signifikan
4.254
.018
Signifikan
4.346
.017
Signifikan
4.175
.021
Signifikan
Dependent Variable : Harga Saham
Dari tabel 7 diatas dapat dijelaskan bahwa dengan analisis uji t diperoleh hasil
sebagai berikut:
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
14
Current Ratio perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 4,564 berarti H0
ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,019 dibawah level of significant 0,05 atau 5%. Artinya
bahwa Current Ratio secara parsial mempengaruhi harga saham.
Return On Investment (ROI) perusahaan secara parsial diperoleh nilai sebesar 2,161
berarti H0 diterima, dengan signifikan sebesar 0,097 diatas level of significant 0,05 atau 5% .
artinya ROI secara parsial mempengaruhi harga saham tetapi tidak signifikan karena tingkat
pengembalian asset tidak berfokus pada margin keuntungan atas produk atau jasa, akan
tetapi kita seharusnya juga menghitung ROI secara akurat untuk mendapatkan kepastian
dan keyakinan bahwa usaha yang dijalankan mampu terus berkembang.
Return On Equity (ROE) perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 2,245
berarti H0 diterima, dengan signifikan sebesar 0,088 diatas level of significant 0,05 atau 5%.
Artinya bahwa ROE secara parsial mempengaruhi harga saham tetapi tidak signifikan
karena belum tentu tingkat pengembalian investasi mempengaruhi kenaikan harga saham
pada perusahaan semen
Price Earning Ratio (PER) perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 5.738
.
berarti H0 ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,005 dibawah level of significant 0,05 atau 5%.
Artinya bahwa PER secara parsial mempengaruhi harga saham.
Debt To Equity Ratio (DER) perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 4.144
berarti H0 ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,031 dibawah level of significant 0,05 atau 5%.
Artinya bahwa DER secara parsial mempengaruhi harga saham.
Earning Per Share (EPS) perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 4.509
berarti H0 ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,011 dibawah level of significant 0,05 atau 5%.
Artinya bahwa EPS secara parsial mempengaruhi harga saham.
Dividen Pay out Ratio (DPR) perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 3.890
berarti H0 ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,036 dibawah level of significant 0,05 atau 5%.
Artinya bahwa DPR secara parsial mempengaruhi harga saham.
Suku Bunga SBI perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 4.254 berarti H0
ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,018 dibawah level of significant 0,05 atau 5%. Artinya
bahwa Suku Bunga SBI secara parsial mempengaruhi harga saham.
Nilai Tukar Rupiah perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 4.346 berarti
H0 ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,017 dibawah level of significant 0,05 atau 5%. Artinya
bahwa Nilai Tukar Rupiah secara parsial mempengaruhi harga saham.
Tingkat Inflasi perusahaan secara parsial diperoleh nilai t sebesar 4.175 berarti H0
ditolak, dengan signifikansi sebesar 0,021 dibawah level of significant 0,05 atau 5%. Artinya
bahwa Tingkat Inflasi secara parsial mempengaruhi harga saham.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil analisa dan pembahasan bab sebelumnya yakni dengan menganalisa pengaruh
faktor-faktor fundamental mikro dan makro terhadap perusahaan semen yang go public di
Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan perhitungan Program SPSS (Statistical Package
for Social Sciences) version 16.0 for Windows, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Dari
hasil uji koefisien determinasi (R2) bahwa sumbangan atau kontribusi dari variabel Current
Ratio, ROI, ROE, PER, DER, EPS, DPR, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat
Inflansi terhadap variabel terikat yaitu harga saham perusahaan semen yang go public di
Bursa Efek Indonesia, sangat besar. Hal ini didukung pula dari Uji goodness of fit yang
menunjukkan bahwa model regresi layak dan signifikan digunakan untuk memprediksi
pengaruh faktor-faktor fundamental mikro dan makro terhadap harga saham perusahaan
semen yang go public di Bursa Efek Indonesia. (2) Dari hasil pengujian analisis regresi
berganda pada penelitian ini didapatkan bahwa variabel Current Ratio, ROI, ROE, PER, DER,
EPS, DPR, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Inflansi menunjukan arah
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
15
positif (searah) terhadap harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek
Indonesia, hal ini berarti bahwa semakin baik dan positif variabel bebas tersebut, maka akan
meningkatkan harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek Indonesia.
Sedangkan hasil pengujian hipotesis uji thitung yang menunjukkan bahwa variabel Current
Ratio, PER, DER, EPS, DPR, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Inflansi
mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan semen yang
go public di Bursa Efek Indonesia. Hanya variabel ROI, ROE mempunyai pengaruh positif
dan tidak signifikan terhadap harga saham perusahaan semen yang go public di Bursa Efek
Indonesia.
Saran
Hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan penulis, maka penulis memberikan
saran-saran sebagai berikut: (1) Bagi pihak perusahaan, hasil penelitian ini dapat dijadikan
tolok ukur perkembangan perusahaan yang telah dicapai selama ini, sebagaimana dengan
saham yang telah terjual di Bursa Efek Indonesia, sehingga dapat diketahui progress
perusahaan di masa yang akan datang. (2) Bagi pihak investor, diharapkan dapat dijadikan
bahan referensi investor terhadap perusahaan yang bersangkutan untuk menginvestasikan
modalnya dalam bentuk pembelian saham yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut,
sehingga investor dapat secara tepat dan cepat menginvestasikan modalnya dengan
membeli saham perusahaan yang secara langsung dapat menaikkan nilai jual dari saham
perusahaan itu sendiri. (3) Bagi Penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah sampel
penelitian dan dapat menggunakan jenis industri yang lain selain industri semen. Penelitian
berikutnya dapat memperpanjang periode penelitian, pada penelitian ini menggunakan
periode delapan tahun. Bagi peneliti lanjutan semoga bahan ini dapat dijadikan referensi
atau acuan dalam mengembangkan dan memaksimalkan penelitian di masa yang akan.
DAFTAR PUSTAKA
Ang, R. 1997. Buku Pintar : Pasar Modal Indonesia. Mediasoft Indonesia.
Riyanto, B. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat. Cetakan Ketujuh.
BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
Ghozali, I. 2005. Analisis Multivariate Program SPSS. Semarang : Badan Penerbitan Universitas
Diponegoro.
__________. 2006. Analisis Multivariate Program SPSS. Cetakan Keempat. Semarang : Badan
Penerbitan Universitas Diponegoro.
__________, 2011. Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 19. Edisi Kelima. Semarang
: Penerbitan Universitas Diponegoro.
Gitosudarmo, I dan Basri. 2008. Manajemen Keuangan. Edisi keempat. BPFE, Yogyakarta.
Husnan, S dan E Pudjiastuti. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Edisi 5. UPP STIM
YKPN, Yogyakarta.
Munawir. 2007. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Keempat. Yogyakarta : Liberty.
Priyatno, D. 2011. Buku Saku Analisis Statistik Data SPSS. Mediakom, Yogyakarta.
Resmi, S. 2002. “Keterkaitan Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Return Saham”. Kompak.
Nomor 6, September.
Santoso, B. 2005.” Pengaruh Faktor-faktor Fundamental Mikro Terhadap Harga Saham”.
Ekuitas Jurnal Ekonomi dan Keuangan. Vol.9 No. 1 – Maret 2005, 35-6.
Soejoto, A. 2002. “Analisis Harga Saham Perusahaan Manufaktur dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi di Pasar Modal Indonesia”. Jurnal Ekonomi dan Keuangan “Ekuitas”
Vol.^ No.3-September 2002:250-267.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 10 (2014)
16
Sugeng, W. 2004. “Perkembangan dan Prospek Pasar Modal di Inmdonesia tahun 2005
(Event Study: Pendeketan Manajemen Strategik)”. Jurnal Bisnis Strategi. Vol 13/juli.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Kesepuluh. Bandung: Alfabeta.
Sunariyah. 2006. Pengantar Pengetahuan pasar Modal. Edisi Kelima. Yogyakarta: UPP AMP
YKPN.
Sutrisno. 2003. Manajemen Keuangan: Teori, Konsep dan Aplikasi. Edisi Pertama. Yogyakarta:
Ekonisia.
Tjiptono, D dan H M.Fachruddin. 2006. Pasar Modal di Indonesia. Pendekatan Tanya Jawab.
Edisi 1. Jakarta: Salemba.
Widarjono, A. 2007. Ekonometrika Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi Kedua.
Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta.
Ericktus, 2011. Pengaruh Analysa Fundamental Laporan Keuangan terhadap Perubahan
Harga Saham pada Perusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. http://ericktus.blogspot.com/2011/03/pengaruh-analisis-fundamental-laporan.html.
Diaskes 28 September 2013.
Download