kajian kepustakaan - Digital Library IAIN Jember

advertisement
BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. Penelitian Terdahulu
Sependek
pengetahuan
peneliti,
penelitian
tentang
komunikasi
organisasi dan gender sudah banyak dilakukan sebelum peneliti kali ini, namun
sebagian banyak dari mereka lebih memfokuskan pada penelitian yang
mengkaji tentang komunikasi organisasi saja atau yang berkaitan dengannya.
Penelitian genderpun banyak diteliti oleh para peneliti sebelumnya. Namun ada
perbedaan mendasar yang terdapat pada penelitian kali ini yaitu peneliti
meneliti tentang komunikasi organisasi dan menjadikan gender sebagai
perspektif. Objek penelitian kali ini adalah organisasi intra senat mahasiswa
IAIN Jember. Peneliti memfokuskan pada ketimpangan relasi yang terjadi di
organisasi senat mahasiswa IAIN Jember. Adapun beberapa penelitian
terdahulu yang
mengarah pada gender dan komunikasi organisasi adalah
sebagaimana berikut:
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Siti Zakiyatul Hasanah
mahasiswa STAIN Jember angkatan 2004 dengan judul citra wanita dalam
iklan di televisi perspektif gender. Penelitian tersebut dilakukan di jember
untuk memenuhi tugas akhir perguruan tinggi untuk meraih gelar S1 dan telah
disahkan pada bulan april tahun 2008. Penelitian tersebut menjadi cukup
menarik karena menurut peneliti didalam penelitiannnya seorang wanita hanya
menjadi bahan eksploitasi media. Segala hal yang berkaitan dengan alat-alat
13
14
kecantikan dan perabot rumah tangga sudah pasti mengunakan seorang wanita
sebagai model iklan dengan menamppakkan auratnya, tanpa mereka sadari
media telah memanfaatkan wanita sebagai bahan untuk menjual produk yang
diiklankan. Penempatan posisi antara laki-laki dan perempuan pun yang
dikonstruksi oleh media melalui iklan itu sangat terlihat tidak seimbang,
sehingga terjadi ketimpangan gender dalam hal tersebut
Hasil dari penelitian tersebut ditemukan bahwa penggambaran terhadap
wanita masih membakukan penggambaran lama yaitu wanita hanya sebagai
citra pigura, citra pilar rumah tangga, citra pergaulan, dan citra peraduan.
Dalam penelitian ini juga ditemukan penggambaran secara stereotip yang terus
menimpa para kaum wanita. Penelitian ini termasuk kategori penelitian analisis
teks media, karena peneliti meneliti sebuah teks iklan yang kemudian gender
dijadikan sebagai perspektif. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif
dengan pendekatan semiotika komunikasi dan signifikasi.
Adapun langkah penelitian yang dilakukan yaitu peneliti melihat
keseluruhan teks dalam iklan yang dikaji secara khusus, kemudian dipaparkan
dalam
bentuk
narasi.
Sedangkan
dalam
menganalisa
data
peneliti
menggunakan kualitatif interpretatif, dimana peneliti berusaha menafsirkan dan
memahami makna dibalik tanda dan teks dalam iklan. Metode tersebut
dianggap lebih relevan dan objektif dalam menemukan hasil penelitian.
Penelitian tersebut hampir sama dengan penelitian kali ini namun perbedaanya
adalah peneliti kali ini meneliti tentang komunikasi organisasi yang berada di
15
SEMA IAIN Jember dan dianalisis menggunakan Gender. Atau lebih tepatnya
menjadikan Gender sebagai perspektif.
Kedua, penelitian yang dilakukan pada
bulan agustus tahun 2011
dengan judul “penerapan komunikasi organisasi dalam kegiatan pengajian
muslimat NU dusun Darungan desa Seruni Jenggawah Jember”, fokus
penelitiannya untuk mengetahui bagaiman penerapan serta proses komunikasi
yang ada dalam organisasi muslimat NU dan bagaimana pula efek yang
ditimbulkan dari penerapan komunikasi, apakah berdampak kognitif atau
konatif ?.
Tujuan penelitian tersebut untuk mendiskripsikan penerapan, proses,
serta efek komunikasi organisasi dalam kegiatan pengajian Muslimat NU.
Pengumpulan datanya menggunakan metode interview, observasi, dokumenter
dan kepustakaan. Analisis data yang digunakan adalah analis kualitatif
deskriptif, dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan
penelitian. Kemudian hasil penelitiannya yaitu penerapan komunikasi
organisasi berjalan lancar, baik, komunikatif baik yang diorganisasi internal
maupun eksternal yang meliputi komunikasi formal dan informal, yang bahasa
verbal dan nonverbal. Proses komunikasi yang terjadi terlihat baik karena telah
meliputi 5 unsur: komunikator, komunikan, peran, media dan ada efek dari
komunikasi tersebut. Begitu juga efek yang terlihat dari penerapan proses
meliputi efek kognitif, afektif dan konatif. penelitian tersebut memiliki
kesamaan yaitu meneliti tentang komunikasi organisasi, namun terdapat
perbedaan yang sangat mendasar pada objek penelitiannya. Objek penelitian
16
tersebut adalah pengajian muslimat NU sedangkan objek penelitian kali ini
adalah SEMA IAIN Jember.
Ketiga, penelitian yang pernah dilakukan oleh Mufida Ulfa mahasiswi
STAIN Jember pada tahun 2009 dengan judul kesetaraan gender dalam tafsir
al mishbah ( karya M Quraish Shihab ) penelitian ini dilakukan untuk
mengkaji penafsiran M. Quraish Shihab terhadap ayat-ayat gender dalam kitab
al mishbah. Metode yang digunakan adalah metode maudhu‟i deskriptif
pendekatan historis, dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode
dokumenter. Penelitian tersebut adalah penelitian pustaka ( library research ),
dalam menganalisa data digunakan analisis isi ( content analisys ) dan
menggunakan analisis gender.
Hasil penelitian dari peneliti tersebut menunjukkan bahwa M.Quraish
Shihab adalah seorang penafsir moderat yang berusaha berada ditengah-tengah
antara dua penafsiran yang berbeda. Beliau mengartikan kesetaraan gender
dengan makna kemitraan dan saling tolong menolong. Metode analisis data
yang digunakan menata secara sistematis catatan hasil observasi dan
wawancara. Penelitian tersebut dengan penelitian kali ini sama-sama berbicara
tentang gender, namun ada perbedaan yang sangat mendasar yaitu penelitian
tersebut adalah penelitian pustaka (library research) sedangkan penelitian ini
penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Keempat, Penelitian yang pernah dilakukan oleh Wahyu Yogi Aprianto
dan Prof. Dr. Farida Hanum dengan judul Peran Kesetaraan Gender Dalam
Organisasi Islam: Studi Pada Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Yogyakarta
17
menyimpulkan bahwa peran kesetaraan gender Aisyiyah Kota Yogyakarta
dalam organisasi Muhammadiyah yaitu sebagai mitra dalam setiap kegiatan
dan pada rapat pleno pengambilan keputusan. Kesetaraan gender dalam
pandangan Aisyiyah Kota Yogyakarta adalah bagaimana memberikan porsi
yang sama antara laki-laki dengan perempuan dalam kepengurusan di
Muhammadiyah. Program-program yang berkesetaraan gender yaitu pemberian
pendidikan HAM, pendidikan kesetaraan gender, pendidikan politik kepada
para anggota serta kader Aisyiyah untuk memberikan pemahaman agar mereka
terakomodir dalam kepengurusan Muhammadiyah. Peneletian tersebut
berbicara soal kesetaraan gender di organisasi ekstra sedangkan penelitian ini
berbicara soal Gender dalam konteks organisasi intra mahasiswa.
Kelima, Kesetaraan Gender dalam Organisasi Kemahasiswaan:
Harapan dan Realita, penelitian ini dilakukan oleh Mahmudi Siwi, SP
penelitian ini menitik beratkan pada tiga hal yaitu : (1) proses sosialisasi nilai
dan peran gender pada mahasiswa di lingkungan sosialnya yang terbagi dalam
tiga wilayah, yakni keluarga, tempat kost dan perkuliahan; (2) karakteristik
organisasi kemahasiswaan dan peranannya dalam sosialisasi nilai dan peran
gender terhadap mahasiswa; dan (3) perilaku mahasiswa dalam berorganisasi
yang dilihat dengan pendekatan gender.
Penelitian ini dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Desa
Darmaga, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat selama
2 (dua) bulan mulai bulan September 2003 sampai dengan Oktober 2003.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus.
18
Subyek penelitian dipilih berdasarkan tipologi organisasi yang telah ditentukan
terlebih dahulu.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : pertama, pada ketiga
wilayah lingkungan sosial mahasiswa (keluarga, kost dan kampus) terjadi
perbedaan dalam sosialisasi nilai peran dan gender mahasiswa dengan nilai dan
peran gender yang berlaku di masyarakat. Hal tersebut disebabkan prosesnya
yang lebih terbuka dan demokratis sehingga memunculkan pemahaman baru
pada orang tua tentang relasi laki-laki dan perempuan. Kedua, sosialisasi nilai
dan peran gender juga terjadi ketika mahasiswa telah masuk dalam organisasi.
Sosialisasi nilai dan peran gender yang terjadi ketika masih aktif dalam
organisasi justru lebih kuat dalam mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam
berorganisasi. Ketiga, pada tipologi organisasi yang berbeda dengan dicirikan
oleh karakteristiknya, menyebabkan pembagian kerja gender yang berbeda
pula. Organisasi seperti BKIM IPB, HMI Cabang Bogor dan AGRIASWARA
pembagian kerja yang terjadi antara pengurus laki-laki dan perempuan tidak
disandarkan pada jenis kelamin, melainkan berdasarkan diskripsi kerja jabatan.
Namun, pada BEM KM IPB, DPM KM IPB dan MENWA pembagian
kerjanya masih dilandasi stereotipe terhadap mahasiswa perempuan. Stereotipe
bahwa mahasiswa perempuan adalah individu yang ulet, teliti, rajin, rapi, dan
tekun menyebabkan pengurus perempuan dalam organisasi BEM KM IPB,
DPM KM IPB dan MENWA masih menempati posisi yang merupakan
kepanjangan dari peran domestik perempuan. Keempat, mahasiswa IPB baik
laki-laki maupun perempuan memiliki akses yang sama untuk aktif di
19
kepengurusan dalam organisasi kemahasiswaan. Kesempatan tersebut terbuka
dan berlaku untuk semua kasus organisasi yang dijadikan subyek penelitian.
Namun, mahasiswa perempuan belum memiliki control yang sama seperti
mahasiswa laki-laki seperti yang tergambar pada organisasi BEM KM IPB,
DPM KM IPB dan MENWA. Kelima, berdasarkan alat analisa GAD (Gender
and Development), yakni pembagian kerja gender, akses dan kontrol terhadap
sumberdaya serta manfaat yang diperoleh, maka perilaku berorganisasi
mahasiswa IPB dipengaruhi oleh permasalahan struktural dan sistem
keorganisasian di IPB. Dalam penelitian tersebut hampir sama dengan
penelitian ini yaitu sama-sama menjadikan Gender sebagai perspetif dalam
komunikasi organisasi, namun hal itu tentulah berbeda konteks dengan
penelitian kali ini. Karena peneliti kali ini berbicara Gender dalam konteks
organisasi SEMA IAIN Jember yang belum pernah disentuh oleh orang lain.
Artinya peneliti kali ini benar-benar meneliti sesuatu yang memang murni
belum pernah dilakukan orang lain dan penelitian kali tidak ada unsur plagiasi
terhadap penelitian orang lain.
B. Kajian Teori
1. Komunikasi Organisasi Dan Kepemimpinan
Pengertian Ruben dan Steward (1998: 16) mengenai komunikasi
manusia yaitu: Human communication is the process through which
individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond
to and create messages to adapt to the environment and one another.
(Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-
20
individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang
merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu
sama lain).
Berkomunikasi merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Dengan
berkomunikasi manusia akan dapat berhubungan antara satu dengan yang
lain, sehingga kehidupan manusia akan bermakna. Disisi lain ada sejumlah
kebutuhan dalam diri manusia yang hal itu hanya dapat dipenuhi melalui
komunikasi dengan sesama. Semakin banyak manusia itu melakukan
aktivitas komunikasi antara satu dengan yang lainnya, maka akan semakin
banyak pula informasi yang didapatnya,
dan semakin besar peluang
keberhasilan seseorang itu dalam kehidupannya. Komunikasi sebagai salah
satu aspek terpenting namun juga kompleks dalam kehidupan manusia.
Manusia sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukannya dengan
manusia lain, baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal.
Komunikasi memiliki peran yang sangat vital bagi kehidupan manusia,
karena itu kita harus memberikan perhatian yang seksama terhadap
komunikasi (Morissan, 2013: 1-2).
Komunikasi bersifat sosial dalam masyarakat sehari-hari, dan sering
berlangsung secara verbal, yaitu melalui percakapan dan atau bahasa
tertulis, tetapi komunikasi nonverbal juga memainkan peran penting dalam
komunikasi sehari-hari. Komunikasi nonverbal meliputi, ekspresi muka,
bahasa tubuh atau gerak gerik, postur tubuh sampai kepada pakaian yang
digunakan berkonstribusi terhadap pesan yang diterima.
21
Didalam melangsungkan hubungan antar manusia yang satu dengan
yang lain maka komunikasi harus dilakukan secara continue karena dengan
adanya komunikasi yang bersifat continue maka akan tercipta hubungan
yang harmonis antara kmunikator dengan komunikan, seperti yang dikutip
dalam buku yang berjudul ilmu komunikasi suatu pengantar: Komunikasi
berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan, sengaja atau tidak
sengaja tentang berbagai hal, misalnya, mengutarakan persepsi, pendapat,
perasaan, dan identitas diri kepada orang lain. Diam atau tidak melakukan
apapun adalah komunikasi. Tertawa terbahak-bahak atau memakai pakaian
dengan warna menyala, seperti merah, sebagai perilaku non verbal yang
wajar dalam suatu pesta, namun dipersepsi kurang beradab bila hal itu
ditampakkan dalam acara pemakaman. Seorang tamu yang diterima
penghuni dihalaman rumah menunjukkan tingkat penerimaan yang berbeda
bila dibandingkan dengan penerimaan diteras, diruang tamu, ruang tengah,
dan dikamar pribadi (Dedi Mulyana, 2012: 114).
Dalam komunikasi diperlukan sedikitnya tiga unsur yaitu sumber
(source), berita atau pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber
dapat berupa individu atau organisasi. Berita atau pesan dapat berupa
tulisan, gelombang suara atau komunikasi arus listrik, lambaian tangan,
bendera berkibar, atau benda lain yang mempunyai arti. Sasaran bisa berupa
seorang pendengar, penonton, pembaca, anggota dari kelompok diskusi,
mahasiswa, dan lain-lain.
22
Kemudian komunikasi terbagi menjadi beberapa bagian yaitu :
komunikasi intra pribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok,
komunikasi massa, dan komunikasi organisasi.
Komunikasi organisasi
dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unitunit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.
Komunikasi organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang
menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi. Struktur organisasi
cenderung mempengaruhi komunikasi, dengan demikian komunikasi dari
bawahan kepada pimpinan sangat berbeda dengan komunikasi antar
sesamanya. Tidak jauh beda dengan apa yang dikemukaan Morissan Dalam
hubungannya antara komunikasi dengan organisasi, Morissan menyebutkan
dalam bukunya “teori komunikasi dari individu hingga massa” bahwa
kegiatan komunikasi dalam organisasi ialah pola-pola yang mempengaruhi
kehidupan organisasi. Salah satu hasil komunikasi adalah struktur dalam
pengertian adanya garis-gariskomunikasi. Namun demikian, garis organisasi
hanya salah satu dari sekian banyak element struktur. Kita dapat melihat
organisasi dari berbagai hal seperti siklus perilaku, identitas, identitas dan
kontrol, budaya, iklim dan hubungan kekuasaan dan banyak juga yang
lainnya. Ditinjau dari sisi negatifnya struktur dapat menciptakan bentukbentuk berdasarkan atas ras, gender dan faktor-faktor lainnya. (Morissan,
2013: 386-387).
Organisasi merupakan sekumpulan beberapa orang yang memiliki
tujuan yang sama, dalam suatu organisasi manegerial merupakan suatu hal
23
yang sangat mendasar karena dalam mewujudkan visi bersama diperlukan
adanya management organisasi sebagai landasan dasar menjalankan tugas
pokok dan fungsi dari semua element pengurus mulai dari atasan sampai
bawahan. Di dalam sebuah organisasi pemimpin berfungsi sebagai
komunikator. Pemimpin yang efektif pada umumnya memiliki kemampuan
komunikasi yang efektif, sehingga sedikit banyak akan mampu merangsang
partisipasi orang-orang yang dipimpinnya. Dia juga harus piawai dalam
melakukan komunikasi baik komunikasi verbal maupun non verbal.
Komunikasi verbal yang baik dapat dilakukan dengan menggunakan tutur
kata yang ramah, sopan, dan lemah lembut. Komunikasi non verbal dapat
dilakukan dengan mengkomunikasikan konsep-konsep yang abstrak
misalnya kebenaran, keadilan, etika, dan agama secara non verbal yaitu
menggunakan bahasa tubuh.
Ada enam elemen penting yang perlu diperhatikan oleh para
pemimpin ketika mereka mendesain struktur organisasi. Unsur-unsur
tersebut
meliputi
spesialisasi
pekerjaan,
departementalisasi,
rantai
perintah, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, dan formalisasi.
Burn dan Stalker (1979) juga menyatakan bahwa suatu organisasi tidak
akan berfungsi dengan efektif apabila struktur organisasinya tidak
disesuaikan dengan lingkungannya. Apabila kondisi lingkungan organisasi
relatif stabil, maka struktur yang cocok adalah struktur yang mekanistik
yaitu struktur yang diatur secara rinci, pembagian tugas, wewenang,
tanggung jawab dan hubungan kerja antar unit-unit organisasi tersebut.
24
Sebaliknya, apabila kondisi lingkungan tidak stabil, sehingga banyak faktorfaktor lingkungan yang tidak bisa diperkirakan situasi masa depannya, maka
struktur organisasi yang sesuai adalah struktur yang organik yang
pengaturannya tidak terlalu kaku, lebih fleksibel, dalam arti kata pembagian
tugas, wewenang, tanggung jawab, dan hubungan kerja antar unit-unit,
konsep tersebut dimaksudkan agar sebuah organisasi dapat mencapai
Sasaran, Efisiensi dan Efektivitas dalam organisasi.
Menurut Amitai Etzioni dalam Modern Organizations (dikutip Hari
Lubis dan Martani Huseini, PAU-UI, 1987), bahwa sasaran (goal)
organisasi adalah suatu keadaan atau kondisi yang akan dicapai oleh suatu
organisasi. Dalam pengertian tersebut sasaran dapat diidentikkan sebagai
tujuan organisasi, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek, yang
mencakup sasaran dari keseluruhan organisasi ataupun sasaran dari suatu
bagian tertentu dari organisasi.
Pemahaman tentang tujuan atau sasaran organisasi ini akan sangat
berkaitan sekali dengan efisiensi dan efektifitas organisasi, karena mampu
memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam
mencapai tujuan atau sasaran tersebut.
Efisiensi merupakan sebuah konsep yang bersifat lebih terbatas dan
menyangkut proses internal yang terjadi dalam organisasi. Efisiensi
menunjukkan banyaknya input atau sumber yang diperlukan oleh organisasi
untuk menghasilkan satu satuan output. Karena itu, efisiensi dapat diukur
sebagai ratio atau sumber yang diperlukan oleh organisasi untuk
25
menghasilkan satu satuan output dengan menggunakan input atau masukan
yang jumlahnya lebih sedikit dari yang digunakan oleh organisasi lainnya.
Dapat dikatakan sebagai organisasi yang lebih efisien.
Sementara itu konsep efektifitas organisasi dapat dinyatakan sebagai
tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau
sasarannya. Efektifitas ini sebenarnya merupakan suatu konsep yang sangat
luas, mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar organisasi itu
sendiri (Hari Lubis dan Martani Huseini, 1987).
Efektifitas organisasi dapat diukur dengan berbagai macam cara, tapi
tidak ada satupun ukuran yang benar-benar sempurna dan setiap ukuran
yang digunakan pasti memiliki kelebihan ataupun kekurangan dibanding
ukuran yang lainnya. Diantara pendekatan yang ada untuk mengukur
efektifitas organisasi adalah pendekatan sasaran (goal approach) atau
pendekatan pencapaian tujuan, pendekatan sumber (system Resources
approach), pendekatan sistem (system approach), pendekatan Kontituensi
dan pendekatan nilai-nilai bersaing.
Pendekatan sasaran atau tujuan memiliki kelemahan antara lain ;
Organisasi mencoba mencapai lebih dri satu tujuan, tetapi pencapaian satu
tujuan acapkali menghalangi atau mengurangi kemampuan mereka
mencapai tujuan yang lain, keberadaan tujuan resmi yang lazim dimana
anggota menyatakan komitmen masih dipertanyakan, beberapa peneliti telah
menemui kesulitan memperoleh konsesus diantara manajer, atas tujuan
organisasi mereka (lihat James L Gibson at.al, edisi kedelapan, 1996).
26
Dalam pendekatan sistem untuk mengukur efektifitas organisasi juga
mengandung kelemahan, yaitu pendekatan ini lebih terfokus pada cara-cara
yang diperlukan untuk mencapai keefektifan daripada keefektifan organisasi
itu sendiri, karena melihat variabel proses bagaimana organisasi berinterkasi
dengan lingkungan yang terbuka dan mempengaruhinya, sehingga sulit
dikembangkan alat ukur yang sah dan handal untuk memperoleh kuantitas
atau intensitasnya (Stephen P. Robbins, 1994).
Pendekatan konstituensi dalam pengukuran efektifitas organisasi
adalah mencoba untuk memandang keseluruhan kegiatan yang dilakukan
pada suatu organisasi dengan memusatkan perhatiannya pada berbagai
komponen atau kelompok di dalam maupun di luar organisasi yang
mempunyai kepentingan dengan performa organisasi, seperti karyawan,
pemegang saham, leveransir bahan, pemilik dan sebagainya. Dengan
demikian, efektifitas organisasi akan diukur dari tingkat kepuasan setiap
elemen konstituensi terhadap organisasi itu (Hari Lubis dan Martaini
Huseini, 1987).
Pendekatan ini tentu memiliki kelemahan, bahwa tingkat kepuasan
kelompok konstituensi atau pelanggan/konsumen bersifat relatif dan sulit
diukur serta setiap elemen konstituensi tentu memiliki kriteria yang berbeda
menilai organisasi sesuai dengan perbedaan kepentingan masing-masing.
Guna memahami organisasi pengawasan sebagai wadah dan proses
maka perlu menghayati lima pertanyaan sebagai berikut : (Siagian, 2002:
229)
27
a. Siapa yang melakukan, melakukan apa?. Karena dalam organisasi selalu
terjadi pembagian tugas.
b. Siapa yang bertanggung jawab, kepada siapa?. Perlu dikatakan dengan
jelas sebab di dalam organisasi terdapat hierarki wewenang dan tanggung
jawab.
c. Siapa yang berinteraksi, dengan siapa?. Hal ini mengingat bahwa
organisasi yang dikelola dengan baik berpedoman pada prinsip sinergi.
d. Pola komunikasi yang bagaimana yang berlaku di dalam organisasi?.
Berkaitan dengan kultur organisasi yang dianut.
e. Jaringan informasi apa yang tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh para
anggota organisasi yang bersangkutan?
Organisasi-organisasi pemerintah adalah salah satu bagian dari
organisasi public, disamping itu terdapat juga apa yang disebut organisasi
privat (korporat). Kedua bentuk organisasi tersebut memiliki perbedaan,
diantaranya bahwa organisasi publik cenderung bertahan lama, sementara
organisasi privat, daur hidupnya fluktuatif, terkadang mengalami kemajuan,
terkadang mengalami kemunduran bahkan kemungkinan bubar sebagai
organisasi. Mengapa demikian, organisasi publik memiliki kecenderungan
bertahan terhadap berbagai perubahan lingkungan karena ditopang oleh
kekuasaan, sementara organisasi privat, hidupnya banyak ditentukan oleh
kemampuannya dalam merespon perubahan dan lingkungannya.
Salah satu bagian bahasan dalam organisasi adalah yang menyangkut
struktur organisasi. Struktur organisasi menunjukan bagaimana tugas akan
28
dibagi, siapa yang melapor kepada siapa, dan mekanisme koordinasi yang
formal serta pola interaksi yang akan diikutip Robbins (1994:6)
menyebutkan bahwa ada tiga komponen dari struktur organisasi, yaitu
kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi.
Kompleksitas mempertimbangkan tingkat differensiasi yang ada
dalam organisasi, termasuk didalamnya tingkat spesialisasi atau tingkat
pembagian kerja, jumlah tingkatan didalam hirarki organisasi, serta tingkat
sejauh mana unit-unit organisasi tersebar secara geografis.
Sementara formalisasi menyangkut tingkat sejauh mana sebuah
organisasi menyadarkan dirinya kepada peraturan dan prosedur untuk
mengatur prilaku dari para pegawainya. Sentralisasi mempertimbangkan
dimana letak dari pusat pengambilan keputusan. Dalam organisasi,
kecenderungannya secara bergantian dipergunakan sentralisasi atau
desentralisasi dalam proses pengambilan keputusan.
Ketiga komponen diatas sangat menentukan berjalannya organisasi,
struktur yang komplek dengan tingkat formalisasi aturan yang ketat serta
pengambilan keputusan yang sangat sentralistik membuat organisasi
menjadi sangat lamban dalam merespon perubahan lingkungan, begitu juga
sebaliknya, tingkat kompleksitas yang rendah, dengan derajat formalisasi
yang lentur serta pengambilan keputusan yang desentralistik menjadikan
organisasi cepat merespon perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Persoalan organisasi publik terlalu kompleknya struktur dengan
formalisasi aturan yang ketat dan sangat prosedural yang disertai oleh
29
minimnya perlimpahan kewenangan (desentralisasi) menjadikan organisasi
publik dijangkiti penyakit birokrasi, seperti bertele-tele, high cost dan tidak
adaptif terhadap tuntutan atau dukungan publik. Kondisi tersebut menuntut
dilakukannya evaluasi yang dilanjutkan dengan merancang kembali
terhadap struktur organisasi pemerintah daerah agar lebih tanggap terhadap
perubahan-perubahan lingkungan.
Sementara itu Robbins (1994) membedakan kedalam tiga dimensi ,
masing-masing : (1) complexity or differentiation, (2) formalization, (3)
centralization.
Dari ketiga dimensi struktur sebagaimana diatas, complexity
memiliki kaitan dengan kajian tentang rancangan struktur organisasi.
Complexity adalah “degree of differentiation”, baik horizontal maupun
vertikal.
a. Diferensiasi Horizontal
Diferensiasi secara horizontal adalah the degree of horizontal
separation between units, diferensiasi horizontal dilakukan dalam bentuk
spesialisasi atau departementasi. Diferensiasi ini dalam batas tertentu
berkaitan dengan efisiensi dan produktivitas. Dalam batas tertentu,
semakin spesial suatu tugas (full-specialized) atau pekerjaan, semakin
efisien, tetapi diluar batas itu over specialized atau under specialized
bahkan overlapped, efisiensi menjadi menurun.
Dengan demikian maka struktur yang terdefrensiasi secara penuh
spesialisasi
berpengaruh pada pencapaian tingkat
efisiensi
dari
30
organisasi. Diferensiasi melalui spesialisasi fungsi-fungsi disamping
menciptakan efisiensi dan meningkatkan produktifitas (karena tingkat
kecakapan dari para spesialis-spesialis) juga mempersingkat waktu
pencapaian tujuan organisasi. Spesialisasi pada organisasi privat biasanya
terbentuk departementalisasi, yakni pengelompokkan pekerjaan dan
orang-orang
berdasarkan
spesialisasinya,
misalnya
departemen
purchasing, marketing, dan sebagainya. Diferensiasi horizontal berkaitan
dengan bentuk struktur suatu organisasi.
b. Diferensiasi Vertikal
Sementara itu diferensiasi vertikal adalah
Diferensiasi yang
merujuk pada struktur organisasi, semakin tinggi tingkat hierarki
organisasi semakin jauh hubungan antara top management dengan staf
atau struktur bawahnya. Diferensiasi vertikal berkaitan dengan otoritas
dan rentang kendali sebuah organisasi, semakin tinggi bentuk struktur
organisasi, semakin tinggi rentang kendali dalam organisasi tersebut
semakin besar (cost) birokrasi yang dibutuhkan.
Ada dua model struktur dalam diferensiasi vertikal, yaitu model
tall dan model flat. Model tall terdiri atas beberapa tingkatan dalam
struktur organisasi (bentuk meninggi) sementara model flat lebih
mendatar dengan sedikit tingkatan.
Struktur tall memberikan supervisi dan kontrol yang berorientasi
pada atasan yang lebih ketat, dan kordinasi serta komunikasi menjadi
rumit, disebabkan oleh bertambahnya jumlah yang harus dilalui perintah-
31
perintah. Struktur flat mempunyai rantai komunikasi yang lebih singkat
dan sederhana, peluang supervisi yang lebih sedikit karena para manajer
(kepala bagian) mempunyai lebih banyak orang yang melapor
kepadanya, dan mengurangi peluang kenaikan jabatan karena tingkat
manajemen yang lebih sedikit (Robbins, 1990).
Secara konseptual Henry Mintzberg dalam Structure-In-Five
(1983) mengatakan bahwa organisasi formal setidaknya memiliki lima
bagian dalam strukturnya, masing-masing :
1) Strategic Apex (unsur pimpinan, unsur kepala);
2) Middle Line (lini tengah);
3) Technostructure (unsur staf);
4) Support Staf (staf pendukung);
5) Operating Core (unsur pelaksana).
Pada perkembangannya teori diatas selalu berinovasi untuk
mencapai kesempurnaan dalam sebua h teori, teori organisasi pada
mulanya menunjukan gejala “ menyebar”. Berbagai pendekatan muncul
sering kali tidak ada hubungan satu dengan yang lainya, bahkan saling
berlawanan. Pendekatan klasik dan Neo-klasik misalnya memberikan
jelas gambaran tentang penyebaran tersebut. Pendekatan klasik
memusatkan perhatian pada anatomi organisasi dan tidak memperhatikan
aspek sosial. Sedangkan pendekatan neo klasik justru mementingkan
aspek sosial tetapi kurang memperhatikan anatomi organisasi.
32
Selanjutnya muncul pendekatan modern dalam teori organisasi
yang sering kali mampu menyatukan keseluruhan pandangan dalam
analisa organisasi. Pendekatan ini muncul diawali oleh suatu penelitian
yang dilakukan oleh Joan Woodward pada tahun 1950-an, terhadap 100
buah perusahaan industri di South Essex-Ingris.
Penelitian Woodward ini diikuti oleh beberapa peneliti lainya
menunjukan bahwa selain teknologi terdapat juga aspek-aspek lain yang
berpengaruh terhadap karakteristik organisasi yaitu faktor-faktor lain
yang terdapat dalam lingkungan organisasi. Hal ini menunjukan bahwa
organisasi dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya, dan hanya
organisasi yang bisa beradaptasi secara tepat terhadap tuntutan
lingkungan yang dapat mencapai keberhasilan. Karena itu bentuk dan
cara pengelolaan organisasi haruslah disesuaikan dengan
keadaan
lingkungannya agar organisasi itu bisa mencapai keberhasilan.
Pendekatan modern mempunyai beberapa perbedaan yang
mendasar jika dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya yaitu:
1) Pendekatan Modern memandang organisasi sebagai suatu sistem
terbuka, yang berarti bahwa organisasi merupakan bagian (sub sistem)
dari lingkunganya, sehingga organisasi bisa dipengaruhi maupun
mempengaruhi lingkunganya.
2) Keterbukaan dan ketergantungan organisasi terhadap lingkunganya
menyebabkan bentuk organisasi harus disesuaikan dengan lingkungan
33
dimana organisasi tersebut berada. (S.B. Hari Lubis dan Martani
Husein, 1987 : 6)
Bagian pertama dalam strukrur organisasi formal diatas (top
manager/pemimpin) merupakan bagian terpenting untuk mewujudkan
visi dan misi organisasi serta menjadi suatu kebenaran bahwa
kepemimpinan yang baik itu merupakan hal yang penting dalam bisnis,
pemeritahan, dan pada organisasi dan kelompok yang tak terhitung yang
menciptakan pola hidup, bekerja, dan bermain. Kepemimpinan juga
merupakan faktor yang penting, namun seorang pemimpin bisa menjadi
pemimpin yang besar ketika mempunyai pengikut yang besar.
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu
kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat
secara formal seperti tingkat managerial pada suatu organisasi. Karena
posisi management terdiri atas tingkatan yang biasanya menggambarkan
otoritas, seorang individu bisa mengasumsikan suatu peran kepeminpinan
sebagai akibat dari posisi yang ia pegang pada organisasi tersebut.
Namun, tidak semua pemimpin adalah manager, dan begitu juga
sebaliknya, tidak semua manager merupakan pemimpin. Hanya karena
hak tertentu diberikan oleh organisasi terhadap managerial tidak
menjamin
bahwa
mereka
mampu
memimpin
secar
efektif.
“Nonsanctioned leadership” merupakan kemampuan untuk memberi
pengaruh diluar struktur formal organisasi yang kepentingannya sama
atau bahkan melebihi pengaruh struktur formal. Dengan kata lain,
34
seorang pemimpin dapat saja muncul dalam suatu kelompok walaupun
tidak diangkat secara formal (Robins, 2002: 163-164).
Oteng Sutisna seperti dikutip dalam buku “ kepemimpinan kepala
sekolah
pertaruhan mutu pendidikan ” mengemukakan bahwa
kepemimpinan adalah kemampuan mengambil inisiatif dalam situasi
sosial untuk menciptakan bentuk dan prosedur baru, merancang dan
mengatur perbuatan, dan dengan berbuat begitu membangkitkan
kerjasama ke arah terciptanya tujuan. Senada dengan yang disampaikan
Oteng Sutisna, J.M. Pfiffner mengemukakan bahwa kepemimpinan
adalah seni mengorganisasi dan memberi arah kepada individu atau
kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Zaini, 2013: 24)
Kepemimpinan
(leadership)
juga
adalah
proses
dalam
mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam melakukan
berbagai aktivitas di suatu organisasi. Tipe kepemimpinan dalam
mempengaruhi
para
bawahannya
dapat
berbeda-beda
seperti;
kepemimpinan otoriter, kepemimpinan partisipatif dan kepemimpinan
delegatif. Sedangkan komunikasi adalah proses penyampaian dan
pertukaran informasi sekurang-kurangnya antara 2 pihak yang berperan
sebagai
pengirim
(sender)
dan
penerima
(receiver)
dengan
menggunakkan berbagai media yang ada. Tipe kepemimpinan dalam
mempengaruhi para anggotanya dapat berbeda-beda. Hal ini disebabkan
latar belakang pemimpin, budaya, organisasi, pengikut dan lingkungan.
Bentuk komunikasi yang dilakukan pemimpin antar individu yang
35
memiliki perbedaan budaya akan menimbulkan perbedaan karakter,
sehingga membutuhkan penyesuaian agar kegiatan komunikasi dapat
berjalan secara efektif. Faktor yang memengaruhi pola komunikasi dalam
organisasi karena adanya komunikasi vertikal yaitu berdasar struktur
jabatan dan komunikasi horisontal yaitu antar anggota dalam organisasi
(http://radenmasyonatanpandukristanto.blogspot.com/2013/05/perankomunikasi-dalam- organisasi.html).
Berbicara soal komunikasi yang terjadi dalam organisasi maka terdapat
Dimensi-Dimensi
Komunikasi
dalam
Kehidupan
Organisasi.
dimensi
didalamnya yaitu:
a. Komunikasi internal.
Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan
antara anggota-anggota organisasi
yang terjadi untuk kepentingan
organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara
sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud
komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi
bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan
media nirmassa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua,
yaitu:
1) Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari
bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari
bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan
memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi,
36
dll kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporanlaporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dsb. kepada pimpinan.
2) Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama
seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan
dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam
organisasi
atau
mengalir
antarbagian.
Komunikasi
lateral
ini
memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan
masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa
masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat
kerja dan kepuasan kerja.
b. Komunikasi eksternal.
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan
organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar,
komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat
dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah
terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting saja. Komunikasi
eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik:
1) Komunikasi
dari
organisasi
kepada
khalayak.
Komunikasi
ini
dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian
rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada
hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti:
majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato
radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.
37
2) Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak
kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan
komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.
2. Gender Dan Budaya Patriarki
Istilah Gender berasal dari bahasa inggris yang juga dipakai dalam
bahasa ilmiah yang artinya jenis kelamin (Wojowasito, 2007:66). Pengertian
jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin
manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin
tertentu. Sedangkan konsep gender lainnya adalah suatu sifat yang melekat
pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial
maupun kultural (Fakih, 2007:8). Dalam Women’s Studies Encyclopedia
dijelaskan bahwa “gender” adalah suatu konsep cultural yang berupaya
membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan
karakterisitik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang
dalam masyarakat. Hillary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex &
Gender: an Introduction mengartikan “gender” sebagai harapan-harapan
budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectation for Women
and Men). Dalam memahami konsep gender harus dibedakan terlebih
dahulu antara kata gender dan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis
kelamin merupakan penafsiran atau pembagian dua jenis kelamin manusia
yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu.
Misalnya, laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala
(kala menjing) dan memproduksi sperma. Sementara perempuan memiliki
38
alat reproduksi, seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi
telur, memiliki vagina dan mempunyai alat untuk menyusui. Alat-alat ini
secara biologis atau sering disebut sebagai ketentuan Tuhan atau "kodrat".
Sedangkan konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum lakilaki maupun perempuan yang direkonstruksi secara sosial maupun kultural
(M. Fakih, 1996). Dengan kata lain gender adalah konstruksi sosial yang
mengatur pembagian peran sosial menurut jenis kelamin (L. Margiyani,
1998).
Untuk lebih jelas dapat dibandingkan pada peran sosial, sifat
kegiatan dan jenis pekerjaan sebagaimana tabel di bawah ini:
Tabel 1:
Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
Perbedaan
Laki-laki
Perempuan
Peran Sosial
Organisasi
politik,
Pencari nafkah utama,
Pelindung keluarga,
Pengambil
keputusan/kebijakan.
Komunitas
setempat
(arisan, PKK, Keluarga,
Pengajian) Pencari nafkah
tambahan/pengganti,
Perawat, pendidik anak.
Sifat
Kegiatan
Publik,
Produktif,
Berupah lebih besar,
Membutuhkan
keterampilan terlatih/
terdidik,
Membutuhkan
manajemen modern,
Melibatkan teknologi,
Melibatkan
aspek
kekuasaan lebih besar
Sektor formal
Domestik,
Bersifat
produktif Tidak berupah/
rendah, Dianggap alamiah
Manajemen
sederhana,
Penggunaan
teknologi
terbatas,
Penerimaan
kekuasaan Sektor informal
Pekerjaan
Dosen,
Dokter,
Pekerja rumah tangga,
Buruh, Baby sitter, Guru
Manager,
Teknisi,
39
mekanik, Pilot, Atlet,
Polisi, Direktur.
TK, Publik relation Bidan/
Perawat Dokter anak
Resepsionis.
Sejak dua dasawarsa terakhir, konsep gender memasuki bahasan
dalam berbagai seminar, diskusi maupun tulisan di seputar perubahan sosial
dan pembangunan dunia ketiga. Istilah gender lazim dipergunakan dikantor
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan sejak beberapa tahun lalu.
Sekalipun demikian kebanyakan orang masih belum memahami gender
dengan pemahaman yang benar. Sebab, dalam kamus bahasa Indonesia
antara gender dengan seks belum mempunyai perbedaan pengertian yang
transparan. Kata “gender” banyak dipergunakan dengan kata yang lain,
seperti ketidak adilan, kesetaraan dan sebagainya, keduanya sulit untuk
diberi pengertian secara terpisah. Nasaruddin Umar memberikan pengertian
gender sebagai suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi
perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Gender
dalam arti tersebut mengidentifikasikan laki-laki dan perempuan dari sudut
nonbiologis. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam memberikan
pegertian gender tersebut, pengertian gender dibedakan dengan pengertian
seks (Jenis Kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan penafsiran atau
pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang
melekat pada jenis kelamin tertentu, dengan (alat) tanda-tanda tertentu pula.
Alat-alat tersebut selalu melekat pada manusia selamanya, tidak dapat
dipertukarkan, bersifat permanen, dan dapat dikenali semenjak manusia
40
lahir. Itulah yang disebut dengan ketentuan Tuhan atau kodrat. Dari sini
melahirkan istilah identitas jenis kelamin. sedangkan gender melekat pada
kaum laki-laki maupun perempuan, dikonstruksi secara sosial maupun
kultural. Misalnya perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional
dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan
perkasa. Ciri dari sifat itu merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh kedua
belah pihak. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, dan
keibuan. Sementara itu juga, ada perempuan yang kuat, rasional dan
perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu
dan dari tempat ke tempat yang lain. Perbedaan gender (gender
differences) antara manusia laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses
yang panjang. Pembentukan gender ditentukan oleh sejumlah faktor yang
ikut membentuk, kemudian disosialisasikan, diperkuat, bahkan di konstruk
melalui sosial atau kultural, dilanggengkan oleh interpretasi agama dan
mitos-mitos, seolah-olah telah menjadi keyakinan. Proses selanjutnya
perbedaan gender dianggap suatu ketentuan Tuhan yang tidak dapat diubah
sehingga perbedaan tersebut dianggap kodrati.
Gender merupakan konstruksi sosial budaya relasi laki-laki dan
perempuan. Relasi tersebut dibangun atas pemahaman peranan yang akan
dimainkan oleh laki-laki dan perempuan di masyarakat. Sifatnya yang
merupakan konstruksi sosial budaya, maka sangat kontekstual berdasarkan
setting sosial budaya di suatu masyarakat. Sifat tersebut juga menyebabkan
konstruksi gender dapat mengalami perubahan dan dapat dipertukarkan satu
41
dengan yang lainnya. Namun, gender sebagai salah satu nilai sosial yang
berlaku di masyarakat memiliki sifat yang cenderung untuk dipertahankan
sebagaimana nilai sosial yang lainnya .
Gender sebagai perbedaan perempuan dengan laki-laki berdasarkan
sosial construction tercermin dalam kehidupan sosial yang berawal dari
keluarga. Perempuan disosialisasi dan diasuh secara berbeda dengan lakilaki. Ini juga menunjukkan adanya sosial expectation (ekspektasi sosial)
yang berbeda terhadap anak perempuan dengan anak laki-laki (Morrissan,
1089). Sejak dini anak perempuan disosialisai bertindak lembut, tidak
agresif, halus, tergantung, pasif, dan bukan pengambil keputusan.
Sebaliknya laki-laki disosialisasi, agresif, aktif, mandiri, pengambil
keputusan, dan dominan. Kontrol sosial terhadap perempuan jauh lebih ketat
dibandingkan dengan laki-laki.
Karakteristik tersebut terinternalisasi begitu kuat sehingga dianggap
sebagai sesuatu yang bersifat Taken for granted dan membawa implikasi
luas yang mencerminkan posisi perempuan yang lebih subordinat,
sedangkan laki-laki lebih superior. Karakteristik yang mengarah pada
tindakan berkonotasi keras dan agresif itu diletakkan pada laki-laki, mereka
juga diberi peluang menjadi kelompok penguasa publik sedangkan
perempuan disektor domestik. Ini membuktikan adanya Gender role (peran
gender) yang berbeda diantara mereka (Romany Sihite, 2007:230-231).
Saptari (1997:43-105) mengungkapkan bahwa pada masyarakat
Indonesia yang cenderung patriarkhis masih terdapat pendikotomian nilai
42
dan peran gender yang merupakan gambaran dari konstruksi sosial budaya
relasi laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya munculnya dikotomi tersebut
tidak akan menjadi masalah selama dikotomi tersebut tidak menyebabkan
merendahkan yang lain baik laki-laki maupun perempuan. Namun, pada
masyarakat ditemukan pendikotomian yang merendahkan jenis kelamin
tertentu dan yang lebih banyak menjadi korban adalah perempuan (Fakih,
1996; Saptari, 1997:43-105). Hal tersebut dapat dilihat dari pembagian
peranan yang diterima oleh laki-laki dan perempuan. Peran publik adalah
sesuatu yang dianggap sebagai peran laki-laki, sedangkan peran domestik
adalah sesuatu yang dianggap sebagai peran perempuan.
Penggambaran secara verbal tokoh wanita menjalankan fugsi
reproduksi (sektor domestik) sebagai ibu/istri, mengurus rumah tangga,
melahirkan dan mengasuh anak sekaligus juga menjalankan fungsi-fungsi
reproduktif. Sedangkan laki-laki menjalankan fungsi publik (sektor publik)
sebagai pencari nafkah untuk keluarga. Aktivitas pencarian nafkah ini lebih
banyak bersifat mendukung aktivitas tokoh pria yang berperan sebagai
suami. Presentase antara fungsi reproduksi dan produktif sama besar (sekitar
50 persen). Bagi tokoh wanita yang belum menikah, peran ini digambarkan
melalui
kegiatan
dirumah
tangga,
misalnya
memasak,
mencuci,
membersihkan rumah, serta kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan untuk
mencari pengetahuan atau keterampilan tertentu yang mempunyai potensi
finansial dimasa depan, misalnya sekolah (Sunarto, 2000: 141).
43
Peran gender (gender role) tersebut kemudian diterima sebagai
ketentuan sosial, bahkan oleh masyarakat diyakini sebagai kodrat.
Ketimpangan sosial yang bersumber dari perbedaan gender itu sangat
merugikan posisi perempuan dalam berbagai komunitas sosialnya.
Akibatnya ketidakadilan gender tersebut antara lain : 1) marginalisasi
perempuan, 2) penempatan perempuan pada subordinat, 3) stereotype
perempuan, 4) kekerasan (violence) terhadap perempuan, dan 5) beban kerja
tidak proposional.
a. Marginalisasi Perempuan
Proses marginalisasi terhadap perempuan dapat terjadi karena
program industrialisasi. Program tersebut menyebabkan terpinggirkannya
peran perempuan. Semula, mereka menjadi salah satu sumber daya
manusia, akibat diterapkannya teknologi canggih, misalnya mengganti
tenaga bagian linting rokok, pengepakan dan proses produksi dalam
suatu perusahaan dengan mesin-mesin yang lebih praktis dan ekonomis,
kemudian alat-alat produksi tersebut hanya diperankan oleh laki-laki.
Selain itu, mesin-mesin potong padi menggantikan pekerjaan ani-ani
yang semula diperankan oleh perempuan, kemudian diganti dengan sabit
karena jenis padi yang ditanam harus menggunakan sabit, di mana sabit
menjadi alat kerja laki-laki, maka mengetam padi berubah menjadi peran
laki-laki sehingga perempuan kehilangan pekerjaan. Marginalisasi itu
merupakan proses pemiskinan perempuan terutama pada masyarakat
lapis bawah. Demikian pula marginalisasi dalam lingkungan keluarga
44
biasa terjadi di tengah masyarakat. Misalnya, anak laki-laki memperoleh
fasilitas, kesempatan dan hak-hak yang lebih dari pada anak perempuan.
b. Sub Ordinasi Perempuan
Sebuah pandangan yang tidak adil terhadap perempuan dengan
anggapan dasar bahwa perempuan itu irasional, emosional, lemah, dan
lain-lainnya, menyebabkan penempatan perempuan dalam peran-peran
yang dianggap kurang penting. Potensi perempuan sering dinilai tidak
fair oleh sebagian besar masyarakat akibat sulitnya mereka menembus
posisi-posisi strategis dalam komunitasnya, terutama yang berhubungan
dengan peran pengambilan keputusan.
c. Stereotype
Perempuan Stereotype adalah pelabelan terhadap kelompok suku
bangsa tertentu yang selalu berkonotasi negatif sehingga sering
merugikan dan timbul ketidak adilan. Pelabelan atau penandaan yang
terkait dengan perbedaan dengan jenis kelamin tertentu (perempuan)
akan menimbulkan kesan yang negatif yang merupakan keharusan
disandang oleh perempuan.
d. Beban Kerja yang Tidak Proposional
Budaya patriarki beranggapan bahwa perempuan tidak punya hak
untuk menjadi pemimpin rumah tangga. Sebaliknya, ia berhak untuk
diatur. Pekerjaan domestik yang dibebankan kepadanya menjadi identik
dengan dirinya sehingga posisi perempuan sarat dengan pekerjaan yang
beragam macamnya, dalam waktu yang tidak terbatas dan dengan beban
45
yang berlipat, misalnya: memasak, mencuci, menyetrika, menjaga
kebersihan dan kerapian rumah, membimbing belajar anak-anak dan
sebagainya. Pekerjaan domestik yang berat tersebut dilakukan bersamasama dengan fungsi reproduksi, haid, hamil, melahirkan, dan menyusui.
Sementara laki-laki dengan peran publiknya menurut kebiasaan
masyarakat (konstruk sosial) tidak bersentuhan dengan beban kerja
domestik-reproduktif, karena pekerjaan ini dipandang hanya layak
dikerjakan oleh perempuan. Pembagian kerja secara dikotomi publikdomestik, di mana pekerjaan di sektor publik mendapat imbalan secara
ekonomis, sedangkan sektor domestik tidak mendapatkan. Hal itu
menyebabkan hasil kerja perempuan yang terlalu berat dianggap
pekerjaan rendah. Realitas tersebut memperkuat ketidak adilan gender
yang telah melekat dalam kultur masyarakat.
e. Kekerasan (Violence) Terhadap Perempuan
Salah satu bentuk ketidakadilan gender adalah kekerasan terhadap
perempuan baik yang berbentuk kekerasan fisik, psikis, ekonomi maupun
seksual. Kekerasan itu timbul akibat beberapa faktor di atas, termasuk
anggapan bahwa laki-laki pemegang supermasi dan dominasi terhadap
berbagai sektor kehidupan. Fenomena itu oleh masyarakat dianggap
sebagai sesuatu yang sangat wajar jika perempuan menerima perlakuan
tersebut. Kekerasan fisik misalnya pemukulan, penganiayaan dan
pembunuhan. Kekerasan psikis seperti penghinaan, sikap, ungkapan
melalui verbal atau perkataan yang dapat menyebabkan sakit hati dan
46
hal-hal yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Kekerasan seksual
seperti pelecehan seksual, pencabulan, pemerkosaan, eksploitasi seksual
pada dunia kerja, pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi dan
pengrusakan organ reproduksi.
Manifestasi ketidak adilan gender dalam bentuk marginalisasi
ekonomi, subordinasi, kekerasan, stereotipe dan beban kerja tersebut terjadi
ditingkat negara, yang dimaksud disini baik pada satu negara maupun
organisasi antar negara PBB. Banyak kebijakan dan hukum negara,
perundang-undangan serta program kegiatan yang masih mencerminkan
sebagian dari manifestasi ketidak adilan gender. Manifestasi tersebut juga
terjadi di tempat kerja, organisasi maupun dunia pendidikan. Banyak aturan
kerja, manajemen, kebijakan keorganisasian, serta kurikulum pendidikan
yang masih melanggengkan ketidak adilan gender tersebut. Manifestasi
ketidak adilan gender juga terjadi dalam adat istiadat masyarakat di banyak
kelompok etnik, dalam kultur suku-suku atau dalam tafsiran keagamaan.
Bagaimanapun mekanisme interaksi dan pengambilan keputusan di
masyarakat masih banyak mencerminkan ketidak adilan gender tersebut.
Bahkan manifestasi ketidakadilan gender itu juga terjadi di lingkungan
rumah tangga, dimana proses pengambilan keputusan, pembagian kerja, dan
interaksi antar anggota keluarga dalam banyak rumah tangga sehai-hari
masih dilaksanakan dengan menggunakan asumsi bias gender. Hal yang
menjadi masalah yaitu sulitnya mengubah ketidak adilan gender yang mana
hal tersebut telah mengakar didalam keyakinan dan menjadi ideologi kaum
47
perempuan maupun laki-laki dari tingkat rumah tangga hingga tingkat
negara.
Subordinasi perempuan yang eksplisit secara seksual, dan grafis
melalui gambar atau kata-kata yang juga melingkupi perempuan, yang
didehumanisasi sebagai objek seksual, benda, atau komoditi yang
menikmati rasa sakit, rasa malu, atau perkosaan; diikat, dipotong,
dimutilasi, dipukuli hingga memar, atau disiksa secara fisik; dalam sikap
penyerahan, perbudakan, atau pertunjukkan seksual; direduksi menjadi
bagian tubuh, dibenetrasi oleh objek atau binatang, atau ditampilkan dalam
skenario yang merendahkan, melukai, dan menyiksa; dipertunjukkan
sebagai kotor dan inferior; berdarah, memar, atau terluka didalam konteks
yang membuat semua itu seksual ( Tong, 2004: 99).
Superioritas laki-laki atas perempuan terjadi dimana saja, dan
dikalangan siapa saja. Lebih naif lagi hal tersebut juga meresap dalam
tradisi islam didasarkan kepada hadis-hadis israilliyat (penyusupan ide-ide
israel dalam muatan hadis) dan juga pada interpretasi-interpretasi ayat-ayat
al-Qur‟an. Riwayat israilliyat adalah cerita-cerita yang bersumber dari
agama-agama samawi sebelum islam, seperti dari yahudi dan nasrani.
Cerita-cerita ini muncul dalam kitab-kitab tafsir dan dalam kitab-kitab syarh
Hadist. Bisa jadi cerita tersebut dimasukkan oleh para mantan pengikut
kedua agama itu yang sudah masuk islam. Seperti yang sudah diketahui
dalam ajaran nasrani maupun yahudi terdapat pandangan yang merendahkan
derajat wanita. Semakin banyak mengintrodusir kisah-kisah israilliyat dalam
48
penafsiran al-Qur‟an maupun Hadist, semakin besar pula peluang terjadinya
bias ketidakadilan gender.
Padahal Al-Qur‟an sendiri sebagai pegangan umat Islam, di samping
al-Hadits, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kapasitas
yang sama, baik kapasitas moral, spiritual, maupun intelektual. Dalam
penyampaian pesannya, al-Qur‟an seringkali menggunakan ungkapan “lakilaki dan perempuan beriman” sebagai bukti pengakuannya terhadap
kesetaraan hak dan kewajiban mereka. Dalam hal kewajiban agama pun alQur‟an tidak menunjukkan beban yang berbeda kepada keduanya. Prinsip
kesetaraan tersebut dimaksudkan untuk membentuk hubungan yang
harmonis antara keduanya (Ali Munhanif, 2002: 26). Dalam Al-Qur‟an juga
telah banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang kesetaraan gender . AlQur‟an dengan sangat gamblang menyebutkan bahwa hubungan laki-laki
dan perempuan merupakan hubungan mitra sejajar dalam berbagai hal.
Sudah tidak pada tempatnya lagi manakala perempuan diharuskan untuk
mengikuti dan memerankan peran seperti era yang dulu padahal telah terjadi
perubahan waktu dan tempt yang sangat jauh berbeda (An-nisa‟, 2009: 6768).
Senada dengan pendapat diatas, Quraish Shihab mengemukakan hak-hak
yang dimiliki oleh perempuan baik dalam lingkup keluarga, masyarakat
maupun bangsa dan negara, dengan mengutip sebuah ayat yang seringkali
dikemukakan oleh para pemikir islam dalam kaitannya dengan hak-hak
politik kaum perempuan (QS. At-Taubah ayat 71) yang berbunyi:
49
       
       
           
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka
(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.
mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Pandangan seorang perempuan itu selalu diposisi rendah tak lain juga
dikarenakan ayat “ ar-rijalu qawwamuna „alan-nisai ” ( QS.an-nisa‟: 34 )
          
   
Ayat tersebut diartikan begitu saja, yakni seorang laki-laki adalah
pemimpin bagi seorang perempuan. Padahal seharusnya dalam memahami
ayat, “laki-laki adalah pengelola atas perempuan”, hendaknya dipahami
sebagai deskripsi keadaan struktur dan norma sosial masyarakat pada saat
itu, dan bukanlah suatu norma ajaran yang harus dipraktekkan. Demikian
pula, kata “qawwam” dari masa kemasa dipahami berbeda. Pada masa itu
atas dasar ayat itu, perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki, dan
implikasinya adalah perempuan harus mengabdi kepada laki-lakinya
50
sebagian dari tugasnya. Namun al-Qur‟an menegaskan, bahwa kedudukan
suami dan Istri adalah sejajar (M. Fakih, 1996: 53).
Segala bentuk ketimpangan gender sudah mengendap dalam setiap
pemikiran manusia, bahkan seorang wanitapun hanya mampu menyadari
tanpa melakukan pemberontakan atau yang lainnya. Padahal perempuan
bukanlah “ sekedar alat ” atau instrumen, untuk kebahagiaan atau
kesempurnaan orang lain. Sebaliknya, perempuan adalah suatu “ tujuan ”,
suatu agen bernalar, yang harga dirinya ada dalam kemampuannya untuk
menentukan nasibnya sendiri ( Tong, 1998: 22). Jika seorang perempuan
membiarkan dirinya diperlakukan sebagai sekadar objek, berarti ia
membiarkan dirinya diperlakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan
statusnya sebagai manusia yang utuh. Segala bentuk ketimpangangender itu
disebabkan oleh adanya budaya patriarki dalam masyarakat, struktur yang
menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dari segalagalanya. Jadi budaya Patriarki adalah budaya yang dibangun di atas dasar
struktur dominasi dan sub ordinasi yang mengharuskan suatu hirarki dimana
laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma. Pandangan dengan
pedekatan socio antropologi, juga meramaikan kajian tentang posisi lakilaki
(https://phierda.wordpress.com/2012/12/18/budaya-patriarki-dalam-
pendidikan-gender-di-masyarakat/ ).
51
Rueda mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab penindasan
terhadap perempuan (2007:120). Masyarakat yang menganut sistem
patriarki meletakkan laki-laki pada posisi dan kekuasaan yang dominan
dibandingkan perempuan. Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih
dibandingkan perempuan. Di semua lini kehidupan, masyarakat memandang
perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Menurut Masudi
seperti yang dikutip Faturochman, sejarah masyarakat patriarki sejak awal
membentuk peradaban manusia yang menganggap bahwa laki-laki lebih
kuat (superior) dibandingkan perempuan baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Kultur patriarki ini secara turuntemurun membentuk perbedaan perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki
dan perempuan di masyarakat yang kemudian menjadi hirarki gender (2002:
16).
Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai
awal pembentukan budaya patriarki. Masyarakat memandang perbedaan
biologis antara keduanya merupakan status yang tidak setara. Perempuan
yang tidak memiliki otot dipercayai sebagai alasan mengapa masyarakat
meletakkan perempuan pada posisi lemah (inferior). Ideologi patriarki
dikenalkan kepada setiap anggota keluarga, terutama kepada anak. Anak
laki-laki maupun perempuan belajar dari perilaku kedua orang tuanya
mengenai bagaimana bersikap, karakter, hobi, status, dan nilai-nilai lain
yang tepat dalam masyarakat. Perilaku yang diajarkan kepada anak
52
dibedakan antara bagaimana bersikap sebagai seorang laki-laki dan
perempuan.
Ideologi patriarki sangat sulit untuk dihilangkan dari masyarakat
karena masyarakat tetap memeliharanya. Stereotip yang melekat kepada
perempuan sebagai pekerja domestik membuatnya lemah karena dia tidak
mendapatkan uang dari hasil kerjanya mengurus rumah tangga. Pekerjaan
domestik tersebut dianggap remeh dan menjadi kewajibannya sebagai
perempuan.
Dengan mengakarnya budaya patriarki maka lahirlah gerakan
feminisme, Lahirnya gerakan feminisme merupakan awal kebangkitan
perempuan untuk menggeser status sebagai makhluk kedua setelah laki-laki
di dunia ini. Feminisme merupakan gerakan perjuangan para kaum hawa
untuk mendapatkan kesetaraan dan persamaan derajat dengan para laki-laki.
Inti dari gerakan feminisme adalah bagaimana cara meningkatkan status
perempuan melalui tema-tema seperti kesetaraan gender dan emansipasi
wanita. Gerakan feminisme sendiri memulai perkembangannya pada abad
pertengahan Eropa. Kala itu gereja menjadi sentral kekuasaan di Eropa dan
mengeluarkan kebijakan-kebijakan hukum yang mendiskriminasi sebagian
besar masyarakat di Eropa. Perempuan sendiri tidak luput dari diskriminasi
yang dilakukan oleh gereja.
Setelah wacana feminisme, yang merupakan gerakan kepedulian
terhadap ketidakadilan, ketidaksetaraan, penindasan atau diskriminasi
terhadap kaum perempuan, serta merupakan gerakan yang berusaha untuk
53
menghentikan segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi (Mansour
Fakih, 1996) menggelinding, gerakan mahasiswa pun segera menangkap
dan meresponnya dengan positif. Hal ini tidaklah sulit untuk melihatnya,
karena gerakan feminisme tampaknya mempunyai kesamaan orientasi
dengan gerakan mahasiswa yang pada intinya memperjuangkan nilai-nilai
kebenaran dan keadilan. Fakta yang ada membuktikan bahwa di berbagai
kampus wacana feminisme banyak didiskusikan baik dalam perkuliahan
maupun oleh berbagai organisasi kemahasiswaan. Misalnya, gerakan
mereka dalam bidang hukum adalah mempolulerkan gerakan minoritas.
Gerakan anti rasial dan feminisme pun diangkat ke permukaan melawan
dominasi mayoritas (Dawam Raharjo dalam Denny J.A., 2006: 77).
Wacana ini telah menjadi bagian dari gerakan bahkan program
organisasi di tingkat kemahasiswaan. Bahkan mereka juga tidak asing lagi
dengan berbagai gerakan feminisme yang mengusung kesetaraan gender,
meskipun pemahaman mengenai feminisme ini masih sangat beragam.
Terkait dengan beberapa hal tersebut, maka perlu dilihat apakah gerakan
mereka telah mengaplikasikan kesetaraan gender di tingkat organisasi
mereka sendiri atau selama ini sekedar wacana yang sering didiskusikan.
Meskipun demikian, pada kenyataannya sebagian mahasiswa ada
yang berpendapat bahwa kemampuan laki-laki lebih unggul dibandingkan
wanita, padahal banyak sekali wanita-wanita yang mempunyai potensi yang
tidak kalah dengan laki-laki. Akan tetapi citra wanita sebagai “kanca
wingking” masih saja melekat dalam citra wanita di Indonesia. Seiring
54
dengan perkembangan jaman, seharusnya citra wanita yang hanya sebagai
“kanca wingking” sudah mulai memudar karena sudah banyak wanita yang
mempunyai jabatan dan kedudukan yang sejajar dengan laki-laki baik itu
dibidang pemerintahan, akademisi, kemasyarakatan dan sebagainya.
Asumsi bahwa perempuan berada diposisi atas pada dasarnya sah
saja, oleh karena itu berdasarkan pasal 28 UUD 1945 kebebasan
mengemukakan pendapat dijamin oleh undang-undang. Apalagi mereka
mendasarkan argumentasinya pada alasan-alasan tertentu yang menurut
keyakinan mereka hal yang demikian adalah benar. Persoalannya, seperti
dikemukakan lebih lanjut oleh Maman Rachman (1999:176) bahwa
“Ketidak setaraan kepemilikan hak asasi antara pria dan wanita diluar
konteks seks sangatlah tidak sesuai dan tidak dibenarkan oleh konsep
gender”.
Menengok pada perspektif realisme yang mengatakan bahwa negara
merupakan aktor dominan dan memiliki peran utama dalam sistem politik
internasional, hingga negara rela meluncurkan perang untuk mencapai
kepentingan nasionalnya. Hubungan internasional yang konfliktual tersebut
seringkali diasosiasikan dengan dominasi dunia laki-laki dan membuat
peran dan posisi wanita termarginalkan. Hal inilah yang memunculkan
feminisme sebagai perspektif yang mencoba mendobrak dominasi laki-laki
dengan melibatkan peran wanita dalam politik internasional. Feminisme
muncul dengan membawa persoalan gender dalam studi hubungan
internasional. Pada hakikatnya ada perbedaan mendasar antara sex dan
55
gender. Sex atau jenis kelamin merupakan suatu hal kodrat atau given yang
tidak bisa diubah dan bersifaf biologis dengan disertai simbol-simbol
tertentu untuk mengenalinya. Sementara gender bersifat sosiologis, tidak
ada simbol, serta membahas tentang femaleness dan maleness (Wardhani,
2013).
Feminisme adalah satu dari kajian emancipatory dalam studi
Hubungan Internasional, selain posmodernisme dan teori kritis. Dikatakan
emancipatory karena feminisme merupakan teori yang menuntut kebebasan
akan hal-hal yang telah terkonstruksi oleh teori-teori sebelumnya dan
mempertanyakan aspek-aspek ontologi dan epistemologi ilmu pengetahuan
yang sebelumnya didominasi oleh teori-teori positivis, rasionalis, dan
materialis. Feminisme berkembang didorong oleh munculnya perempuanperempuan modern dan kontemporer yang mulai mengintervensi segala
aspek kehidupan, mulai dari keterlibatan mereka dalam kegiatan militer dan
ekonomi global.
Hal ini menggeser perspektif tradisional dan mengancam dasar-dasar
ontologis dan epistemologis Hubungan Internasional. Permasalahan gender
dalam HI merupakan perdebatan mendasar antara laki-laki dan perempuan
dan dampak dari perbedaan tersebut dalam politik dunia. Gender mengacu
pada perilaku dan harapan yang dipelajari secara sosial yang membedakan
antara maskulinitas dan feminitas, dimana kualitas yang dikaitkan dengan
maskulinitas (seperti rasionalitas, ambisi, dan kekuatan) diberi nilai dan
status tinggi dibanding kualitas yang dikaitkan dengan feminitas (seperti
56
emosionalitas, kapasitas, kelemahan) yang pada akhirnya menyebabkan
hirarki gender (Jackson & Sorensen 1999: 332).
Meskipun sebenarnya peran perempuan dalam politik internasional
telah ada sejak zaman lampau, seperti keterlibatan perempuan sebagai
wanita “penghibur” bagi anggota militer dalam masa perang, adanya jugunianfu, dan sebagainya, namun teori feminisme masuk dalam disiplin ilmu HI
pada akhir tahun 1980-an atau awal tahun 1990-an (Tickner & Sjoberg
2007:186). Kaum feminis HI tidak lagi mempertanyakan konteks
kedaulatan, negara, dan kemanan dalam hubungan internasional namun
mulai mempertanyakan mengapa perempuan lemah dan memiliki peran
yang tidak penting dalam pengambilan keputusan atau kebijakan luar
negeri, personel militer dan keterlibatannya dalam perusahaan-perusahaan
internasional yang notabene didominasi oleh laki-laki. HI tradisional
memang terfokus pada bahasan negara, politik, perang, dan hal-hal yang
erat kaitannya dengan dunia laki-laki.
Di sinilah feminisme juga lahir untuk menantang apabila teori-teori
HI direformulasi dan pemahaman akan politik diperbaiki dengan melibatkan
gender sebagai kategori empiris dan analitis yang relevan untuk memahami
hubungan kekuatan global dalam politik internasional. Kaum feminis
mengklaim bahwa memperkenalkan analisis gender bisa memberikan
dampak yang beda atas sistem negara dan ekonomi global dalam kehidupan
perempuan dan laki-laki sehingga bisa dipahami sepenuhnya.
57
Kaum feminis beranggapan bahwa meletakkan lensa gender dalam
kajian politik internasional itu penting dan akan memberikan pandangan
dari sudut yang berbeda. Lensa feminis melihat HI dengan tiga cara; (1)
secara konseptual, feminisme memberi arti dalam global politik dari
kacamata feminis, tidak hanya maskulin. (2) Secara empiris, pendekatan
feminis perlu melihat realitas yang terjadi di sekitar untuk memahami
sebab-akibat kejadian tertentu dan memprediksi hasilnya. (3) Secara
normatif, untuk mengupayakan perubahan yang positif dalam studi HI dan
politik internasional (Wardhani, 2013).
Dalam HI ada banyak macam perspektif teori feminis. Sebenarnya
tidak ada satu feminisme, tidak ada pendekatan tunggal dalam
mengkonstruksi teori feminis, namun ada banyak macam feminisme yang
diliputi kontradiksi dan tumpang tindih mengenai posisi, kajian, dan
praktiknya (Burchill & Linklater, 1996: 283). Dewasa ini banyak kelompokkelompok feminis yang berkembang, seperti feminisme konservatif,
feminisme liberal, feminisme marxis dan feminisme sosialis yang berupaya
masuk ke dalam teori-teori universal arus laki-laki. Ada pula feminisme
radikal, eko-feminisme, feminisme kultural yang memperjuangkan status
perempuan yang khas. Muncul juga kelompok kompleks dari teori feminis
posmodern kritis seperti feminisme lesbian, feminisme perempuan Dunia
Ketiga, dan lain sebagainya.
(http://andraina_af-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-79370Theory%20of%20IR).
Download