BAB II LANDASAN TEORI

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Kinerja Keuangan
1. Pengertian Kinerja
Kinerja perusahaan merupakan cerminan dari efisiensi perusahaan
dan keefektifan perusahaan dalam pengoperasikan usahanya selama
periode akuntansi. Informasi kinerja perusahaan yang berhubungan dengan
posisi keuangan dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan struktur
keuangan, likuidasi dan solvabilitas serta kemampuan beradaptasi dengan
lingkungan.
Unsur-unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran
posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas. Memberikan
pernyataan mengenai pos-pos Menurut IAI (PSAK No.1 Paragraf ke 5
(Revisi 2009), hal 09) tersebut sebagai berikut:
a. Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa
depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.
b. Kewajiban merupakan utang perusahaan masa kini yang timbul dari
peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus
keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat
ekonomi.
6
6
7
c. Ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi
semua kewajiban.
Menurut Jumingan (2006:239) menjelaskan pengertian tentang
kinerja sebagai berikut:
“Kinerja merupakan gambaran prestasi yang dicapai perusahaan
dalam kegiatan operasionalnya baik menyangkut aspek kuangan,
aspek pemasaran, aspek penghimpunan dana dan penyaluran dana,
aspek teknologi, maupun aspek sumber daya manusianya”.
Sedangkan Menurut Rizal (2009:548) berpendapat bahwa:
“Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan
untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan. Kesediaan dan
keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan
sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Oleh karena itu,
kinerja merupakan perilaku nyata yang di tampilkan oleh setiap
orang sebagai prestasi kerja yang di hasilkan oleh karyawan sesuai
dengan perannya dalam perusahaan.”
Pada prinsipnya kinerja dapat dilihat dari siapa yang melakukan
penilaian itu sendiri. Pengukuran kinerja bagi manajemen dapat diartikan
sebagai pengukuran atas kontribusi yang dapat diberikan oleh suatu bagian
untuk pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan. Sedangkan
pengukuran kinerja bagi pihak diluar manajemen dapat diartikan sebagai
pengukuran atas suatu prestasi yang dicapai oleh satuan organisasi dalam
suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat hasil pelaksanaan
kegiatan.
8
Pengakuan kinerja diperlukan oleh manajemen sebagai pemberi
petunjuk dalam pembuatan keputusan dan untuk mengevaluasi melakukan
pengukuran kinerja dimaksudkan sebagai dasar penentuan kebijakan yang
diambilnya.
Dalam pengukurannya manajemen suatu perusahaan dimulai
dengan pernyataan yang jelas mengenai tujuan yang akan dicapai dalam
menganalisis
pengukuran
manajemen.
Sedangkan
tujuan
dalam
menganalisis pengukuran kinerja manajemen adalah dalam rangka untuk
mencapai tingkat efisiensi dan efektifitas perusahaan. Penilaian kinerja
perusahaan merupakan suatu keharusan karena dapat memperoleh
gambaran tentang perkembangan financial suatu perusahaan kemudian
menganalisisnya hal apa yang dicapai di waktu lalu dan waktu yang
sedang berjalan. Oleh karena itu untuk mengevaluasi kondisi keuangan
dan kinerja perusahaan, seorang analis keuangan harus melakukan
pemeriksaan terhadap kesehatan keuangan perusahaan dan alat-alat yang
biasa digunakan dalam pemeriksaan ini adalah rasio keuangan.
2. Tujuan Pengukuran Kinerja
Akuntansi sebagai sarana informasi, mempunyai peranan penting
dalam pengukuran kinerja, karena dalam akuntansi pendapatan dan beban
suatu pusat pertanggungjawaban akan dapat dijadikan dasar yang objektif
bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengukuran kinerja.
9
Dengan demikian manajemen puncak memberikan konpensasi
yang sepadan dengan prestasi yang disumbangkan masing-masing pusat
pertanggungjawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini
diharapkan agar dapat memberikan motivasi dan rancangan masingmasing pusat pertanggungjawaban untuk berlomba meningkatkan karya
serta usahanya demi tujuan perusahaan dengan lebih ekonomis, efisiensi
dan efektif. Sedangkan bagi pihak-pihak diluar manajemen pengukuran
kinerja ini bertujuan untuk:
a. Memberikan dasar bagi penilaian mutu prestasi hasil pelaksanaan
kegiatan suatu perusahaan.
b. Memberikan motivasi bagi manajer perusahaan seirama dengan
kebijakan yang telah digariskan.
Menurut Gaspersz (2005:68), tujuan dari pengukuran kinerja
adalah untuk menghasilkan data, yang kemudian apabila data tersebut
dianalisis secara tepat akan memberikan informasi yang akurat bagi
pengguna data tersebut. Berdasarkan tujuan kinerja, maka suatu metode
pengukuran kinerja harus dapat menyelaraskan tujuan organisasi
perusahaan secara keseluruhan tujuan organisasi secara keseluruhan (goal
congruence)
Melihat tujuan-tujuan tersebut di atas maka pengukuran kinerja
harus realitis dan objektif, artinya pengukuran kinerja hendaknya dilihat
dari aspek yang luas dan sedapat mungkin dikualifikasikan.
10
B. Analisa Laporan Keuangan
1. Pengertian Analisa Laporan Keuangan
Salah satu tugas penting manajemen atau investor setelah akhir
tahun adalah menganalisis laporan keuangan perusahaan. Analisis ini
didasarkan pada laporan keuangan yang sudah diyakini kewajarannya.
Kewajaran laporan keuangan diketahui dari hasil pemeriksaan akuntan
publik terhadap laporan keuangan perusahaan. Hasil laporan akuntan
biasanya menyajikan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan
tersebut.
Analisa laporan keuangan pada hakekatnya adalah suatu cara untuk
mengadakan penelitian atas keadaan keuangan dan potensi atau kemajuankemajuan suatu perusahaan melalui laporan keuangan perusahaan tersebut.
Analisa Laporan Keuangan terdiri dari dua kata yaitu, Analisa dan
Laporan Keuangan. Untuk menjelaskan pengertian kata ini, kita dapat
menjelaskannya dari arti masing-masing kata. Kata analisis adalah
memecahkan atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit terkecil.
Sedangkan laporan keuangan adalah Neraca, Laba/Rugi, dan Arus Kas
(dana).
Analisis laporan keuangan adalah penelaahan dengan mempelajari
hubungan-hubungan atau tendesi-tendesi untuk menentukan posisi
keuangan dan hasil operasional serta perkembangan perusahaan menurut
laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan yang bersangkutan.
11
Menurut Aliminsyah (2005:166), analisis laporan keuangan adalah:
“ Mencari hubungan yang ada antara suatu angka dalam laporan
keuangan dengan angka lain agar dapat diperoleh gambaran yang
lebih jelas mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha
perusahaan.”
Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2010:84), analisis laporan
keuangan adalah:
“Financial statement analysis generally begins with asset of
financial ratio designed to reveal a companies strength and
weakness as compared with the other companies in the same
industry had to show weather it’s financial position has been
improving or deriarating overtime.”
Kemudian menurut Sofyan (2009:190), analisis laporan keuangan adalah:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi
yang lebih kecil dan melihat hubungan yang bersifat signifikan atau
yang mempunyai makna antar satu dengan yang lain baik antara
data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk
mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting
dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat”.
Informasi yang diperoleh dari hubungan-hubungan ini menambah
visi dari sisi lain, memperdalam informasi dari data yang ada yang
terdapat dalam suatu laporan keuangan konvensional, sehingga lebih
bermanfaat bagi para pengambil keputusan.
Kegiatan
analisis
laporan
keuangan
berfungsi
untuk
mengkonversikan data berasal dari laporan sebagai bahan mentah menjadi
informasi yang lebih guna, lebih mendalam, dan lebih tajam, dengan
teknik tertentu. Analisis Laporan Keuangan ini memaksimalkan informasi
yang masih relatif sedikit menjadi informasi yang lebih luas dan akurat.
Laporan keuangan bisa saja menyembunyikan sesuatu informasi yang
12
salah tetapi hasil analisis laporan keuangan tidak akan mungkin dapat
menyembunyikan semua informasi yang salah.
Analisis laporan keuangan ini memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a. Fokus laporan adalah laporan Laba Rugi, Neraca, Arus kas, yang
merupakan akumulasi transaksi dari kejadian historis, dan penyebab
terjadinya dalam suatu perusahaan.
b. Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi yang sudah berlalu
terhadap dampak dan prospek perkembangan keuangan perusahaan di
masa yang akan datang.
c. Dasar analisis adalah laporan keuangan yang memiliki sifat dan prinsip
tersendiri sehingga hasil analisis sangat tergantung pada kualitas
laporan ini. Perusahaan pada sifat akuntansi, prinsip akuntansi, sangat
diperlukan dalam menganalisis laporan keuangan.
2. Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara keuangan atau
aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan
dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang
berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode
atau lebih, dan dianalisis lebih lanjut sehingga data mendukung keputusan
yang akan diambil. Menurut IAI (PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009),
13
hal 25) tujuan laporan keuangan adalah “Tujuan laporan keuangan adalah
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan
arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna
laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.”
Tujuan laporan keuangan juga berfungsi untuk memberikan
informasi yang berguna bagi para investor, kreditor, dan para pemakai
ekstren lainnya dalam rangka:
a. Mengambil keputusan yang rasional untuk investasi atau pemberian
kredit.
b. Menilai jumlah, waktu dan ketidakpastian tentang prospek penerimaan
kas dan dividen atau bunga, hasil dari penjualan pembagian kembali
oleh perusahaan atau jatuh temponya surat-surat berharga dan hutang.
c. Mengetahui sumberdaya yang dimiliki, kewajiban serta akibat dari
transaksi-transaksi yang dilakukan. Informasi ini akan membangun
dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan, menilai
likuiditas dan solvabilitasnya, menilai prospek perusahaan berdasarkan
kinerja keuangan selama suatu periode tertentu.
d. Membantu dalam menggunakan informasi yang disajikan dengan
memberikan penjelasan dan interpretasi satu laporan keuangan yang
disajikan.
14
APB Statement No.4 yang berjudul Basic Concept and Accounting
Principle Underlying Financial Statement of Business Enterprises yang
dikutip oleh Belkoui (2006:126) mengklarifikasikan tujuan secara khusus,
umum dan kualitatif laporan keuangan sebagai berikut:
a. Tujuan Khusus
Tujuan khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan
posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan lainnya
secara wajar sesuai dengan GAAP.
b. Tujuan Umum
Tujuan umum laporan keuangan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Memberikan informasi yang dapat diandalkan tentang sumber daya
ekonomi dan kewajaran perusahaan.
2) Memberikan informasi yang dapat diandalkan tentang kekayaan
bersih yang berasal dari kegiatan usaha dari badan usaha yang
mencari laba
3) Memberikan informasi untuk menaksir potensi perusahaan dalam
menganalisis laba.
4) Memberikan informasi yang lain tentang perubahan sumber
ekonomi dan kewajiban.
5) Memberikan informasi lain yang relevan bagi para pengguna.
c. Tujuan Kualitatif
Terdapat tujuan kualitas mutu yang diharapkan dari laporan keuangan
yang disusun oleh pihak manajemen perusahaan yaitu:
15
1) Relevan, memiliki, memilih informasi yang paling mungkin untuk
membantu pemakai dalam pembuatan keputusan.
2) Dapat dipahami, selain itu harus jelas informasi yang dipilih juga
harus dapat dipahami pemakai.
3) Dapat disajikan kebenarannya, hasil-hasil akuntansi dibenarkan
oleh ukuran-ukuran yang independen, menggunakan metode
pengukuran yang sama.
4) Netral, informasi akuntansi diarahkan pada kebutuhan
umum
pemakai dan bukan kebutuhan khusus pemakai tertentu.
5) Tepat waktu, mengkomunikasikan informasi seawal mungkin
untuk menghindari keterlambatan pembuatan keputusan ekonomi.
6) Dapat diperbandingkan, perbedaan-perbedaan seharusnya tidak
mengakibatkan perlakuan akuntansi yang berbeda.
7) Kelengkapan, semua informasi yang memenuhi persyaratan tujuantujuan kualitatif lain yang dilaporkan.
Secara lengkap kegunaan analisis laporan keuangan ini menurut
Sofyan (2009:196) dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam dari pada
yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
b. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata
(explicit) dari suatu laporan keuangan (implicit).
c. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan
keuangan.
16
d. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam
hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik berkait dengan
komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan
informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
e. Mengetahui sifat-sifat hubungan dengan yang akhirnya dapat
melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat di lapangan
seperti untuk prediksi, peningkatan (rating).
f. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil
keputusan. Dengan perkataan lain apa yang dimaksudkan dari suatu
laporan keuangan merupakan tujuan analisis laporan keuangan juga
antara lain:
1) Dapat menilai prestasi perusahaan.
2) Dapat memproyeksikan keuangan perusahaan.
3) Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari
aspek waktu tertentu.
a) Posisi keuangan (Asset, Neraca, dan Modal)
b) Hasil usaha perusahaan (Hasil dan Biaya)
c) Likuidasi
d) Solvabilitas
e) Aktivitas
f) Rentabilitas atau Profitabilitas
g) Indikator Pasar Modal
17
g. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria
tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
h. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain
dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau
standar ideal.
i. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami
perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan
sebagainya.
j. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan
di masa yang akan datang.
Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005:57), tujuan dari
analisis laporan keuangan adalah:
“Mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada
dugaan murni, terkaan dan instuisi. Mengurangi dan
mempersempit lingkungan ketidakpastian yang tidak bias
dielakkan pada setiap proses pengembalian keputusan. Analisis
laporan keuangan tidaklah berarti mengurangi kebutuhan akan
penggunaan pertimbangan-pertimbangan melainkan hanya
memberikan dasar yang layak dan sistematis dalam menggunakan
pertimbangan-pertimbangan tersebut”.
Dengan melakukan analisis laporan keuangan, informasi mentah
yang dibaca dari laporan keuangan akan menjadi lebih luas dan lebih
dalam. Hubungan baru pos dengan pos lain akan dapat menjadi indikator
tentang posisi dan potensi keuangan perusahaan.
18
C. Jenis-jenis Analisis Rasio
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan yang relevan dan signifikan (berarti). Rasio keuangan sangat
penting dalam melakukan kondisi keuangan perusahaan. Rasio keuangan
sangat penting dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan
perusahaan. Rasio keuangan ini bisa banyak sekali. Rasio keuangan ini hanya
menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos
tertentu dengan pos lainnya. Dengan penyederhanaan ini kita dapat menilai
secara cepat hubungan antara pos tadi dan dapat membandingkannya dengan
rasio lain sehingga kita dapat memperoleh informasi dan memberikan
penilaian.
Berdasarkan sumber datanya maka rasio dibedakan menjadi tiga,
yaitu: “Rasio neraca (Balance Sheet Ratio) yang tergolong dalam kategori
ini adalah semua ratio yang semua datanya diambil atau bersumber pada
neraca, misalnya current ratio, acid test ratio” (Munawir 2004:68). Rasiorasio laporan laba rugi (Interstatement Ratio) ialah semua angka rasio yang
penyusunan datanya berasal dari neraca dan data lainnya dari laporan laba
rugi, misalnya tingkat perputaran persediaan (Inventory Turnover), tingkat
perputaran piutang (Account Receivable Turnover), sales to fixed assets dan
lain sebagainya.
Manfaat yang sebenarnya dari setiap rasio sangat ditentukan oleh
tujuan spesifik analisis, lebih lanjut, rasio-rasio itu bukan merupakan kriteria
19
yang mutlak. Rasio-rasio yang bermanfaat dapat menunjukan perubahan
dalam kondisi keuangan atau kinerja operasi, dan membantu menggambarkan
kecenderungan serta pada perubahan tersebut, yang pada gilirannya dapat
menunjukan kepada analisis resiko dan peluang bagi perusahaan yang
ditelaah. Tak ada rasio untuk menilai kinerja keuangan perusahaan yang dapat
memberi jawaban mutlak. Setiap pandangan yang diperoleh bersifat relative,
karena kondisi dan operasi perusahaan sangat bervariasi dari satu perusahaan
dengan perusahaan lain dan dari industri yang satu ke industri yang lain.
Agnes (2005:07) mengelompokkan rasio kedalam lima kelompok
dasar, yaitu “likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas, dan penilaian”.
Sejumlah rasio yang tidak terbatas banyaknya dan dapat dihitung, akan tetapi
dalam prakteknya cukup digunakan beberapa rasio saja. Dalam skripsi ini
penulis hanya menguraikan sebatas pada rasio profitabilitas saja.
Kemampuan (profitabilitas) merupakan hasil akhir dari berbagai
kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio kemampuan akan memberikan
jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini
memberikan tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan. Rasio
kemampuan perusahaan yang umum digunakan adalah:
a. Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin):
(Sales – Cost of Good Sold)
Gross Profit Margin =
Sales
20
Marjin Laba Kotor = (Penjualan – Harga Pokok Penjualan) /
Penjualan
Rasio ini mengukur efesiensi pengendalian harga pokok atas biaya
produksinya,
mengidentifikasikan
kemampuan
perusahaan
untuk
berproduksi secara efisien. Dalam mengevaluasi dapat melihat margin per
unit produk, bila rendah maka perusahaan tersebut sensitive terhadap
persaingan.
b. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin atau Profit Margin On Sales):
Net Income
Net Profit Margin =
Sales
Marjin Laba Bersih = Laba Bersih / Penjualan
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.
c. Daya Laba Dasar (Basic Earning Power) atau rentabilitas ekonomis:
EBIT
Basic Earning Power =
Total Assets
Daya Laba Dasar = Laba Sebelum Bunga dan Pajak / Total Aktiva
Daya dasar laba mencoba mengukur efektifitas perusahaan dalam
memanfaatkan seluruh sumber dayanya, yang menunjukkan rentabilitas
ekonomis perusahaan.
21
Tinggi rendahnya rentabilitas ekonomi tergantung dari:
1) Operating Profit Margin, yaitu perbandingan antara laba usaha dan
penjualan.
EBIT
Operating Profit Margin =
Sales
2) Perputaran Aktiva (Assets Turnover), yaitu kecepatan berputarnya
total assets dalam suatu periode tertentu.
Sales
Total assets turnover =
Total Assets
Rentabilitas ekonomi dapat ditentukan dengan mengalikan Operating
Rofit Margin dengan Total Assets Turnover.
d. Hasil pengambilan atas total aktiva atau ROA (Return On Assets):
Net Income
ROA =
Total Assets
ROA = laba bersih / total aktiva
Untuk menghitung ROA, ada yang lain menambahkan bunga setelah
pajak dalam pembilangan dari rasio tersebut.
Net Income + Interst (1 – tax)
ROA =
Total Assets
22
ROA = (Laba bersih + Bunga (1 – T)) / Total Aktiva
e. Hasil Pengembalian atas Ekuitas atau ROE (Return On Equity) atau
Return On New Worth:
Net Income
ROE =
Net Worth
ROE = Laba Bersih / Ekuitas
Rasio ini memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal
sendiri (Net Worth) secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari
investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang
saham perusahaan. ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau
yang sering disebut sebagai rentabilitas usaha.
D.
Investasi Saham
Saham merupakan satu dari berbagai jenis intrumen keuangan yang
diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham dikenal sebagai
investasi jangka panjang dalam memberikan yang tinggi serta risiko yang
tinggi pula.
Investasi dalam saham biasa terdiri dari dua jenis, yang pertama
investasi yang bersifat sementara yang didasarkan pada harapan dan
kemungkinan mendapatkan hasil yang sangat besar dalam waktu singkat,
misalnya adanya Capital Gain, kedua investasi saham yang bersifat permanen
atau jangka panjang yang bertujuan disamping untuk memperoleh pendapatan
23
juga bertujuan untuk menguasai perusahaan lain dengan jalan membeli
sebagaian besar saham-saham perusahaan tersebut sehingga apabila seorang
investor membeli saham maka ia akan menjadi pemilik perusahaan atau
pemegang saham perusahaan.
Saham salah satu jenis investasi yang cukup menarik namun tergolong
berisiko tinggi. Investasi dalam bentuk ini ada keuntungan dan ada pula
kerugiannya. Menurut Abdul (2003:16), keuntungan bagi investor antara lain:
1. Capital Gain, yaitu keuntungan dari hasil jual beli saham berupa selisih
antara nilai jual yang lebih tinggi dari nilai beli saham.
2. Dividen, yaitu bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada
pemegang saham.
3. Saham Perusahaan, seperti juga tanah atau aktiva berharga sejenis lainnya
akan meningkat sejalan dengan waktu dan perkembangan atau kinerja
perusahaan.
4. Pajak, pajak yang dikenakan terhadap Capital Gain tidak dibayarkan
sampai keuntungan diperoleh.
Keuntungan yang terdapat dalam investasi saham biasa, menjadikan
pertimbangan bagi investor dalam melakukan investasinya dalam surat
berharga yang lainnya. Walaupun dividen yang diterima selama suatu periode
mungkin rendah tetapi potensi menghasilkan Capital Gain cukup tinggi.
24
Sedangkan kerugian yang dihadapi oleh investor, antara lain:
a. Capital Loss, yaitu kerugian dari hasil jual beli saham berupa selisih antara
nilai jual yang lebih rendah dari nilai beli saham.
b. Opportunity Loss, yaitu kerugian berupa selisih suku bunga deposito
dengan hasil total yang diperoleh dari investasi saham.
c. Kerugian karena perusahaan dilikuidasi, yang dinilai likuidasinya lebih
rendah dari harga sahamnya.
E. Penilaian Saham
Tinggi rendahnya harga saham benar-benar merupakan sesaat yang
dipengaruhi oleh banyak faktor yang termasuk diantaranya adalah kondisi
(performance) perusahaan, dan faktor penawaran dan permintaan saham serta
kemampuan dalam menganalisis efek.
Saham dibagi menjadi dua jenis saham, yaitu saham preferen dan
saham biasa.
1. Penilaian Saham Preferen
Saham preferen berbeda dengan saham biasa karena saham
preferen memiliki hak istimewa dibandingkan saham biasa dalam hal
pembayaran dividen dan dalam pembagian kekayaan / asset perusahaan
dalam keadaan likuidasi. Hak-hak istimewa hanya dalam hal pemegang
saham preferen harus menerima dividen sebelum pemegang saham biasa
menerimanya.
25
Saham preferen merupakan suatu bentuk modal sendiri baik dari
segi pajak. Oleh karena itu, penting untuk dicatat, bahwa para pemegang
saham preferen kadang-kadang tidak mempunyai hak suara.
Kelebihan yang dimiliki oleh saham preferen yaitu:
a. Dari sisi perusahaan mengeluarkan saham preferen manfaat utama
yang di peroleh adalah bahwa pembayaran dividen atas saham preferen
relative lebih pleksibel dibandingkan dengan bunga utang.
b. Ketidak mampuan pembayaran dividen kepada pemegang saham
preferen tidak berakibat terlalu buruk dibandingkan dengan ketidak
mampuan membayar bunga utang yang diancam kebangkrutan.
c. Penggunaan saham preferen akan dapat meningkatkan Degree Of
Financial Leverage.
2. Penilaian Saham Biasa
Saham biasa (Common Stock) berbeda dengan saham preferen
dalam hal pembayaran dividen. Pada saham biasa, besarnya dividen tidak
pasti dan tidak tetap jumlahnya perusahaan tidak wajib memberikan
dividen setiap tahun, misalnya pada tahun tersebut perusahaan
memperoleh laba karakteristik ini membuat penilaian saham bisa menjadi
sulit dibandingkan penilaian saham preferen.
Kelebihan dan kelemahan yang ada pada saham biasa.
Kelebihan Saham Biasa:
a. Tidak adanya kewajiban tetap untuk membayar dividen kepada
pemegang saham.
26
b. Saham tidak memiliki jatuh tempo.
c. Saham bisa kurang berisiko bagi perusahaan bila dibandingkan sumber
pembiayaan lainnya baik saham preferen maupun utang jangka
panjang. Dari segi investor saham biasa memiliki tingkat risiko yang
lebih tinggi, karena sangat tergantung pada besarnya keuntungan
sehingga investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih besar
dari pada tingkat keuntungan obligasi maupun saham preferen yang
relatif tetap.
d. Memungkinkan untuk diversifikasi usaha, meningkatkan likuidasi,
mendapatkan tambahan kas dan lebih mudah dalam mengukur nilai
perusahaan.
e. Perusahaan semakin transparan dan semakin banyak pihak yang ikut
mengamati kegiatan perusahaan karena dengan menjual sahamnya ke
publik berarti perusahaan menjadi milik publik.
Kelemahan Saham Biasa:
1) Dengan menjual saham biasa akan mengancam kendali yang
dipegang pemegang saham mayoritas.
2) Timbulnya agency problem yang meningkatkan agency cost karena
adanya konflik antar kelompok, pemilik perusahaan, manajer /
pengelola usaha dan karyawan.
3) Menurunnya laba per lembar saham sebagai akibat bertambahnya
jumlah lembar saham yang beredar.
27
Tinggi rendahnya harga saham benar-benar merupakan sesaat
yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang termasuk diantaranya adalah
kondisi (performance) perusahaan, dan faktor penawaran dan permintaan
saham serta kemampuan dalam menganalisis efek.
Perkembangan harga saham dapat ditunjukan melalui naik
turunnya harga-harga saham yang umumnya dicerminkan melalui Earning
Per Share (EPS), Return dan Price Earning Ratio (PER). PER data
diperoleh dari perkembangan harga saham per periode tertentu dibagi
dengan tingkat earning. Price Earning Ratio (PER) dapat dijadikan
indikator untuk melihat perkembangan harga saham relative dibandingkan
dengan tingkat laba perusahaan. Oleh karena itu, dalam penilaian ini untuk
melihat perkembangan harga saham menggunakan Price Earning Ratio
(PER). Dengan alasan jika menggunakan indikator lain misalnya runtun
yang hanya melihat pergerakan harga saham saja tanpa membandingkan
dengan tingkat earning, setelah dilakukan pengujian ternyata tidak
signifikan.
a. Dalam analisis fundamental laporan keuangan perusahaan memegang
peranan penting dalam mengevaluasi laporan keuangan, akan
mengetahui perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan. Ada dua
pendekatan dalam analisis investasi yang umumnya digunakan dalam
melakukan penilaian saham, yaitu Analisis fundamental misalnya
dengan pendekatan laba (Price Earnings Ratio Approach). Pendekatan
ini paling banyak digunakan dalam menganalisis sekuritas.
28
b. Analisis teknikal yang beranggapan bahwa harga suatu sekuritas akan
ditentukan oleh permintaan dan penawaran atas sekuritas tersebut.
Berbeda dengan analisis fundamental, para pengikut aliran analisis
teknik sering melakukan investasi pada suatu saham tersebut. Tujuan
utama dari pengikut aliran teknik ini adalah membuat keuntungan
dalam waktu sesingkat mungkin.
Asumsi dasar dari analisis teknik ini adalah:
1) Harga sekuritas akan ditentukan oleh interaksi antara penawaran
dan permintaan.
2) Penawaran dan permintaan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik
yang rasional maupun yang tidak rasional.
3) Perubahan harga sekuritas cenderung bergerak pada satu arah
tertentu.
4) Pergeseran
penawaran
dan
permintaan
sekuritas
akan
mempengaruhi arah perubahan harga.
5) Beberapa diagram dalam pergerakan pasar cenderung berulang.
Investor yang menanamkan modalnya dalam bentuk saham
mempunyai kepentingan terhadap tingkat pengembalian dana investor,
baik berupa terlaksananya transaksi pembelian saham. Di lain pihak,
perusahaan
dalam
menentukan
dividen
policy
bertujuan
untuk
memaksimalkan kekayaan yang tercermin pada harga saham di bursa.
Berdasarkan uraian di atas, maka investor memiliki kepentingan
yang cukup erat dengan kondisi keuangan perusahaan (emiten). Dalam arti
29
investor harus memperhatikan informasi yang terkait dengan aktifitas,
likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas.
F. Price Earning Ratio (PER)
Price Earning Ratio (PER) yaitu “Rasio harga saham yang
menunjukan perbandingan harga saham di pasar atau harga perdana yang
ditawarkan dibandingkan dengan pendapatan yang diterima” Sofyan
(2009:311). Price Earnings Ratio (PER) yang tinggi menunjukkan ekspektasi
investor tentang prestasi perusahaan di masa yang akan datang cukup tinggi.
Hubungan sederhana antara laba perlembar saham sekarang atau yang
diharapkan dan harga pasar saham sekarang sering digunakan untuk
menunjukan bagaimana pasar bursa menilai prestasi laba dan prospek
perusahaan. Kelipatan laba sangat umum digunakan sebagai “pedoman
praktis” kasar dalam menilai perusahaan dan sebenarnya merupakan suatu
pendekatan menyeluruh yang sederhana dan penilian pasar sekarang atas
risiko perusahaan dan industri dibandingkan prestasi laba yang lalu dan yang
akan dicapai. Hal ini diamati oleh berbagai pelayanan investor dihubungkan
dengan rata-rata pasar total dan juga rata-rata kelipatan harga laba untuk
kelompok industri terpilih, agar mampu menilai prestasi relatif suatu
perusahaan tertentu.
30
G. Penelitian Terdahulu
Harmono (2004) meneliti tentang “Analisis pengaruh kinerja
keuangan perusahaan terhadap price earning ratio (PER) Perusahaan LQ45
di Bursa Efek Jakarta”. Dengan menggunakan variabel bebas (Independent
Variabel) yaitu Net Profit Margin dan Return On Equity. Populasi dalam
penelitian ini adalah sebanyak 66 perusahaan dan sampel sebanyak 14
perusahaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier
berganda dengan menggunakan program SPSS. Temuan penelitian ini
menunjukkan bahwa, hasil uji T menunjukkan bahwa Net Profit Margin
berpengaruh signifikan terhadap Price Earning Ratio (PER), sedangkan
Return On Equity tidak berpengaruh signifikan terhadap PER. Hasil uji F
menunjukkan bahwa Net Profit Margin dan Return On Equity mempunyai
pengaruh signifikan terhadap Price Earning Ratio (PER).
Adhitama dan Sudaryono (2005) meneliti dengan judul “Faktor-faktor
yang mempengaruhi Price Earning Ratio pada Perusahaan Perbankan yang
Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”. Dan melakukan penelitian terhadap 18
perusahaan perbankan di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Loan to Assets Ratio, Return on Assets, Return on Equity, dan Net Profit
Margin berpengaruh secara serentak dan signifikan terhadap Price Earning Ratio
saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Loan to Assets Ratio dan
Return on Assets secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
Price Earning Ratio (PER) sedangkan Net Profit Margin dan Return on Equity
tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER).
31
Kurniawan(2006) meneliti dengan judul “Analisis Kinerja Keuangan
Perusahaan Terhadap Price Earning Ratio (PER) Pada Makanan Dan Minuman
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta“. Dan melakukan penelitian terhadap 8
perusahaan makanan dan minuman di Bursa Efek Jakarta tahun 2004 dan 2005.
Variabel independen yaitu Net Profit Margin, Return On Assets, dan Return On
Equity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji T yaitu Net Profit Margin
(NPM) tidak berpengaruh signifikan terhadap Price Earning Ratio (PER)
sedangkan Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE) terdapat
pengaruh signifikan terhadap Price Earning Ratio (PER), namun dalam uji
simultan F-Test ketiga variable independen (Net Profit Margin, Return On
Assets, dan Return On Equity) secara bersama-sama tidak mempunyai
pengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER).
Muhamad Jaih (2008) meneliti dengan judul “Pengaruh Kinerja
Keuangan Perusahaan Terhadap Price Earning Ratio (PER) Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) “. Dan melakukan
penelitian terhadap 41 perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun
2005 dan 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji parsial T-test, bahwa
tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variable independen (Net Profit
Margin, Return On Assets, dan Return On Equity) terhadap Price Earning Ratio
(PER), itu dapat diartikan bahwa Net Profit Margin (NPM), Return On Assets
(ROA) dan Return On Equity (ROE) tidak dapat dijadikan sebagai alat prediksi
dalam menentukan Price Earning Ratio (PER) namun dalam uji simultan F-test
ketiga variable independen (Net Profit Margin, Return On Assets, dan Return
32
On Equity) secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap Price
Earning Ratio (PER) dengan nilai koefisien determinasi sebesar 10.9%.
Download