persepsi masyarakat tentang pentingnya pendidikan formal

advertisement
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG PENTINGNYA
PENDIDIKAN FORMAL IMPLIKASINYA DALAM SIKAP
KEDEWASAAN ANAK DI DUSUN SEMOYO,
DESA SUGIHMAS, KECAMATAN GRABAG, KABUPATEN
MAGELANG
SKRIPSI
Diajukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)
Oleh
NUR ASLIKUDIN
NIM 111 11 152
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2015
i
ii
iii
iv
v
MOTTO
‫العلم بتعلّم البنسب‬
Ilmu itu didapat dengan belajar, tidak dengan nasab (keturunan).
(Mauidhoh)
K.H Ihsanudin Abdan
vi
PERSEMBAHAN
Skripsi ini Penulis Persembahkan Untuk:
1. Kepada kedua orang tua penulis, bapak Ashuri dan ibu Siyamah, yang
selalu memberikan perhatian penuh serta pengorbanan dan doa yang
sangat tulus sehingga dengan segala usahanya penulis dapat melanjutkan
studi dengan lancar.
2. Kakak-kakak dan adikku, Nur Faizah, Nur Aslikah, Nur Laylatul
Musyarofah beserta kakak ipar. Keponakan-keponakanku, Nur Ulyatun
Nafi‟ah, Isna Rosyidah, Arjunnaja al Adib, dan Nada Mustafida, yang
selalu memberikan dukungan, hiburan, serta motivasi kepada penulis
3. Dra. Ulfah Susilawati M. Si selaku dosen pembimbing akademik yang
selalu membimbing dan memotivasi penulis dengan sabar dari bangku
studi sampai terselesaikannya skripsi ini.
4. Drs. Abdul Syukur M. Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
membimbing penulis dengan sabar.
5. Seluruh dosen di IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu pengetahuan
kepada penulis.
6. Murobbi ruhi K.H Ikhsanudin Abdan wa ahli baitihi, Al Maghfurlah K.H
Abdul Khaliq, Al Ustadz M. Imam Hanif, Al Ustadz Fauzi Al hidayat
yang telah banyak memberikan pelajaran tentang makna kehidupan dalam
diri pribadi penulis.
7. Seluruh keluarga besar SD N Sugihmas 2 yang telah mengajarkan
kehidupan sosial yanng sesungguhnya bagi penulis
vii
8. Teman-teman karibku, Sodiq Tjokrodimulyo, Triyono, Ahmad Fatikhin,
dan Eri Ristiawan yang selalu menemani suka duka penulis.
9. Para sedulur Fk WaMa (Forum Komunikasi MahaANAK Magelang),
khususnya penghuni camp, yang selalu memberi semangat kepada penulis.
10. Keluarga besar IKMAAL (Ikatan Alumni Ma‟had Awwal) yang menjadi
tempat rujukan dan solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi
penulis dan juga menjadi tempat diskusi keagamaan bagi para alumni
pondok pesantren Awwal Koripan, Dawung, Tegalrejo, Magelang.
11.Teman, rekan, sahabat selama studi di IAIN Salatiga semua angkatan,
khususnya angkatan 2011 PAI D, dan semua yang rekan yang mendukung
dan memberikan kontribusi yang berarti bagi proses studi penulis selama
ini.
12. Chabibah fi qolbi, yang selalu mengisi hati penulis.
viii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
‫بسم هللا الحمد هلل صالة وسالما على رسول هللا ّاما بعده‬
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha
Esa sebagai ungkapan rasa syukur yang telah melimpahkan hidayah dan inayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu
persyaratan wajib untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Pendidikan
Islam (S.Pd.I) Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Shalawat serta salam
penulis sanjungkan ke pangkuan Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang
telah melimpahkan syafaatnya min hadzihis sa’ah ila yaumil qiyamah.
Skripsi ini menyingkap sedikit tentang persepsi masyarakat terhadap
pentingnya pendidikan formal yang dalam masa ini pendidikan merupakan salah
satu aspek yang sangat diperhatikan berbagai kalangan, utamanya pemerintah.
Adapun fenomena yang terjadi di masyarakat yang menjadi objek penelitian ini
yaitu kurangnya minat masyarakat terhadap pendidikan formal. Fenomena ini
membuktikan bahwa pendidikan yang selama ini digencarkan oleh pemerintah
belum sepenuhnya disadari oleh masyarakat. Hal ini menjadi motivasi bagi pelaku
pendidikan, dalam hal ini guru sekolah dasar di tempat tersebut, untuk
menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan formal.
Dengan melihat berbagai faktor yang ada dalam masyarakat, penulis
berusaha mengungkapkan segala yang menghambat perkembangan pandangan
ix
masyarakat terhadap pendidikan formal. Adapun tujuannya tidak lain adalah
untuk mengetahui apa saja sebab-sebab “keterbelakangan pemikiran” yang ada
dalam masyarakat tersebut, sehingga diharapkan dapat ditemukan solusi untuk
meningkatkan mutu pendidikan formal di lingkungan masyarakat tersebut.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menemui hambatan, tetapi
dengan rahmat-Nya dan perjuangan penulis serta bantuan berbagai pihak sehingga
skripsi ini terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan banyak
terima kasih atas segala nasehat, bimbingan, dukungan, dan bantuannya kepada :
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M. Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M. Pd. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan IAIN Salatiga.
3. Ibu Siti Rukhayati, M. Ag. Selaku Kajur PAI IAIN Salatiga.
4. Ibu Dra. Ulfah Susilawati M. Si. selaku dosen pembimbing akademik yang
telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan sumbangan pemikiran
terbaiknya dalam masa bimbingan hingga selesainya penulisan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Abdul Syukur M. Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah membimbing penulis dengan sabar.
6. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga yang
telah banyak memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama
di bangku perkuliahan.
7. Ayah, Ibu, dan kakak-kakakku serta adikku tercinta yang dengan tulus dan
ikhlas berdoa dan memberikan segalanya untuk kelancaran dalam
menyelesaikan perkuliahan dan skripsi ini.
x
8. Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan do‟a dan dukungan agar dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Atas jasa mereka penulis hanya dapat memohon do‟a semoga amal mereka
diterima oleh Allah SWT. Dan mendapat pahala yang lebih baik di dunia maupun
di akhirat.
Akhirnya dengan tulisan ini semoga bisa bermanfaat bagi penulis khususnya
dan para pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Salatiga, 10 Februari 2016
Penulis
xi
ABSTRAK
Aslikudin, Nur. 2016. 11111152. Persepsi Masyarakat tentang Pentingnya
Pendidikan Formal Implikasinya dalam Sikap Kedewasaan Anak di Dusun
Semoyo, Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang
Tahun 2015. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan
Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga.
Pembimbing: Drs. Abdul Syukur, M. Si.
Kata kunci: Persepsi, Pendidikan Formal, dan Sikap Kedewasaan
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui persepsi masyarakat
Dusun Semoyo, Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag, kabupaten Magelang
yangmana di dusun tersebut tingkat pendidikan formal anak masih sangat minim.
Adapun pertanyaan yang ingin dijawab penulis adalah 1. Bagaimana persepsi
masyarakat terhadap pendidikan formal implikasinya dengan sikap kedewasaan
anak di dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten Magelang,
2. Bagaimana persepsi anak dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag,
kabupaten Magelang terhadap pentingnya pendidikan formal anak, 3. Apakah
pendidikan formal berdampak terhadap sikap kedewasaan anak di dusun Semoyo,
desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten Magelang.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, mengingat
bahwa obyek yang diteliti adalah keadaan alamiah tentang persepsi sebuah
masyarakat, model penelitian ini merupakan metode paling baik guna
memperoleh dan mengumpulkan data asli (original data) untuk mendeskripsikan
keadaan populasi dan untuk mendapatkan data dengan menggunakan metode
observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian disusun
dan dianalisis dengan reduksi data, penyusunan data dan mengambil kesimpulan.
Berdasarkan temuan lapangan, ditemukan tiga kesimpulan, yaitu:
1. Masyarakat dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten
Magelang sadar akan pentingnya dunia pendidikan formal. Hanya saja,
kepedulian masyarakat akan pendidikan formal masih kurang.
2. Banyak persepsi anak dalam memandang dunia pendidikan. Untuk saat ini,
kebanyakan anak masih ingin melanjutkan pendidikan minimal sampai SMP.
Setelah SMP banyak dari mereka yang ingin ke pondok pesantren, ada juga
yang ingin bekerja membantu orang tua mereka. Pemikiran anak-anak dusun
Semoyo tentang pentingnya pendidikan formal sedikit banya dipengaruhi oleh
pemikiran orang tua yang masih memandang bahwa pendidikan formal tidak
begitu penting. Bisa membaca, menulis, dan menghitung bagi masyarakat
dusun Semoyo sudah dianggap cukup untuk bekal hidup dalam masyarakat.
a. Dampak kedewasaan yang nyata bagi anak yang meneruskan pendidikan
formal pada umumnya berbeda dalam masalah bergaul dengan masyarakat
atau pengalaman. Anak yang meneruskan pendidikan formal ke jenjang yang
lebih tinggi di dusun Semoyo biasanya lebih percaya diri dalam mengeluarkan
pndapatnya di masyarakat ketika sedang bermusyawarah.
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ... i
LEMBAR BERLOGO ................................................................................... ....ii
HALAMAN NOTA PEMBIMBING ........................................................... ... iii
PENGESAHAN KELULUSAN .................................................................... ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ..................................................... ... v
MOTTO .......................................................................................................... ... vi
PERSEMBAHAN ........................................................................................... ... vii
KATA PENGANTAR .................................................................................... ... ix
ABSTRAK ...................................................................................................... ... xii
DAFTAR ISI ................................................................................................... .. xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Fokus Penelitian ................................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 6
D. Manfaat Penelitian................................................................................ 6
E. Definisi Operasional............................................................................. 7
F. Metode Penelitian................................................................................. 9
G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 16
xiii
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Persepsi Masyarakat
1. Pengertian persepsi......................................................................... 18
2. Faktor yang mempengaruhi persepsi ............................................. 19
3. Proses persepi ................................................................................. 19
B. Pendidikan Formal
1. Pengertian pendidikan Formal ....................................................... 21
2. Komponen Pendidikan ................................................................... 23
3. Belajar, salah satu aplikasi dari pendidikan ................................... 27
4. Urgensi Pendidikan ........................................................................ 33
C. Sikap Kedewasaan Anak
1. Sikap............................................................................................... 44
2. Kedewasaan.................................................................................... 48
D. Implikasi Pendidikan terhadap Sikap Kedewasaan Seseorang ............ 51
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Gambaran umum desa Semoyo ............................................................ 53
1. Letak Geografis .............................................................................. 53
2. Kondisi Masyarakat ....................................................................... 55
B. Temuan hasil Penelitian ....................................................................... 57
1. Profil Responden ............................................................................ 57
2. Hasil Wawancara ........................................................................... 65
BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Persepsi Masyarakat terhadap Pendidikan Formal ........................ 90
xiv
B. Persepsi Masyarakat terhadap Pentingnya Pendidikan Formal ..... 91
C. Persepsi anak terhadap Pendidikan Formal.................................... 93
D. Dampak Pendidikan terhadap Kedewasaan Anak.......................... 98
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 104
B. Saran ..................................................................................................... 105
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seringkali masyarakat mendengar sebuah kata “pendidikan”. Akan
tetapi, banyak yang tidak mengetahui secara pasti definisi serta makna dari
kata pendidikan tersebut meskipun masyarakat tahu dan sadar akan
pentingnya pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu hal penting dalam
kehidupan masyarakat. Melalui pendidikan, seseorang dapat lebih diakui
keberadaannya. Melalui pendidikan juga seseorang dapat meningkatkan
kehidupan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Masalah pendidikan sangat diperhatikan Allah melalui Al Qur‟an Q.S
Al Mujadalah ayat 11 yang berbunyi :
        
           
          
Artinya: “Hai
orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q. S Al Mujadilah:
11)
1
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa salah satu syarat seseorang
mendapatkan hidup yang lebih baik diantaranya adalah dengan ilmu.
Masalah ini juga dapat dikaitkan dengan hadits Nabi SAW yang berbunyi:
‫من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد األخرة فعليه بالعلم ومن ارادهما فعليه‬
‫بالعلم‬
Artinya : “ barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia, maka dapat
diperoleh dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan
kebahagiaan di akhirat, maka dapat diperoleh dengan ilmu, dan
barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia dan akhitrat,
maka dapat diperoleh dengan ilmu “ HR Turmudzi.
Oleh karena itu, jika seseorang ingin kehidupan yang layak, baik
dari segi kehidupan dunia maupun akhirat, maka pendidikan menjadi hal
yang wajib diperhatikan.
Adapun definisi pendidikan sebagaimana tertera dalam UU Sistem
Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003: “Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (UU sisdiknas no 20 th 2003:3).
Pengertian pendidikan menurut Riva‟i dan Murni, yang dikutip oleh Abdul
Syukur (2014 : 20), adalah proses secara sistematis untuk mengubah
tingkah laku seseorang ke arah yang lebih baik. sehingga untuk menunjang
keberhasilan seorang dalam dunia pendidikan maupun dunia kehidupan
2
yang layak, sudah seharusnya pendidikan diajarkan orang tuanya dimulai
ketika anak masih kecil.
Jadi, secara sederhana, pendidikan dapat diartikan sebagai proses
pembelajaran peserta didik dari yang tidak diketahui menjadi mengetahui
yang nantinya diharapkan agar peserta
didik mewujudkan dan
mengembangkan potensi yang dimilikinya serta membentuk kepribadian
yang sesuai.
Telah diketahui bahwa pendidikan dibagi menjadi tiga macam,
yaitu Pendidikan Formal, Pendidikan Non Formal, dan Pendidikan
Informal. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003
disebutkan bahwa:
a. Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah,
dan pendidikan tinggi.
b. Pendidikan Non Formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
c. Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
(UU Sisdiknas No 20 Th 2003: 4).
Melalui beberapa pengertian pendidikan diatas dapat disimpulkan
bahwa :
a. Pendidikan Formal adalah pendidikan yang mengacu pada program
yeng terencana, terstruktur, dan berjenjang mulai dari tingkat
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Di
3
Indonesia, pendidikan ini dimulai dari Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi.
b. Pendidikan Non formal adalah pendidikan terstruktur dan berjenjang
yang ada diluar pendidikan formal. Pendidikan ini berfungsi sebagai
penambah, pengganti, dan pelengkap pendidikan formal, misalnya
Pondok Pesantren, Les Privat, Bimbingan Belajar, dan sebagainya.
c. Pendidikan informal adalah pendidikan yang terjadi di dalam keluarga
dan lingkungan. Ini adalah pendidikan tingkat pertama yang sangat
mendasar yang dialami oleh semua orang. Dimana dalam pendidikan
informal ini karakter anak akan terbentuk. Pola asuh orang tua sangat
mempengaruhi baik buruknya sikap anak. Oleh karena itu, pendidikan
informal seharusnya menjadi pendidikan yang sangat diperhatikan oleh
orang tua.
Dalam sebuah masyarakat pedesaan, tepatnya di dusun Semoyo,
desa Sugihmas, kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang masih
ditemukan banyaknya anak yang tidak melanjutkan pendidikan secara
formal. Kebanyakan dari mereka hanya lulusan Sekolah Dasar, dan anakanak melanjutkan ke Sekolah Menengah masih bisa dihitung dengan jari.
Daripada melanjutkan sekolah, orang tua mereka lebih suka menempatkan
anak-anaknya ke pondok pesantren dengan berbagai alasan. Bahkan,
banyak dari mereka yang setelah lulus Sekolah Dasar dipaksa untuk
berada di rumah, mengerjakan pekerjaan sawah layaknya orang tua
mereka. Selain itu juga, pernikahan dini masih banyak ditemukan di desa
4
tersebut. Ini menarik untuk diteliti, ada apa dibalik fenomena ini, apakah
karena faktor pendidikan orang tua terdahulu yang hanya menanamkan
pendidikan agama, atau pandangan masyarakat yang masih memandang
bahwa pendidikan formal tidak begitu penting, atau ada faktor lain yang
mempengaruhi pola pikir masyarakat yang cenderung “memandang
sebelah mata” dari pendidikan formal.
Berdasarkan latar belakang diatas itulah penulis melakukan sebuah
penelitian dengan judul “PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG
PENTINGNYA PENDIDIKAN FORMAL IMPLIKASINYA DALAM
SIKAP KEDEWASAAN ANAK DI DUSUN SEMOYO, DESA
SUGIHMAS,
KECAMATAN
GRABAG,
KABUPATEN
MAGELANG TAHUN 2015”
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap pendidikan formal implikasinya
dengan sikap kedewasaan anak di dusun Semoyo, desa Sugihmas,
kecamatan Grabag, kabupaten Magelang tahun 2015?
2. Bagaimana persepsi anak dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan
Grabag, kabupaten Magelang terhadap pentingnya pendidikan formal
tahun 2015?
3. Apakah pendidikan formal berdampak terhadap sikap kedewasaan siswa
di dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten
Magelang?
5
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui persepsi masyarakat tentang pendidikan formal yang
berimplikasi dengan sikap kedewasaan siswa di dusun Semoyo, desa
Sugihmas, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang tahun 2015.
2. Mengetahui persepsi anak dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan
Grabag, kabupaten Magelang terhadap pentingnya pendidikan formal
tahun 2015.
3. Mengetahui dampak pendidikan formal terhadap sikap kedewasaan anak
di dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten
Magelang tahun 2015.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
a. Bagi Instansi IAIN Salatiga, sebagai salah satu sumber kekayaan
ilmiah yang bisa dijadikan rujukan pengembangan ilmu.
b. Bagi masyarakat dusun Semoyo, sebagai bahan pengetahuan agar
lebih mengetahui pentingnya pendidikan formal.
c. Bagi penulis, untuk mengetahui sejauh mana persepsi masyarakat
dusun Semoyo terhadap dunia pendidikan formal.
2. Secara Praktis
a. Bagi penulis, meningkatkan kesadaran akan dunia pendidikan,
sehingga lebih semangat dalam mengamalkan ilmu di sekolah.
b. Bagi masyarakat dusun Semoyo, agar lebih mengetahui pentingya
pendidikan formal yang berimplikasi pada dukungan orang tua
6
terhadap anak agar dapat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
c. Bagi anak dusun Semoyo, untuk meningkatkan kesadaran akan
pendidikan formal sehingga kedepan diharapkan akan membawa
kemajuan bagi desa.
E. Definisi Opersional
Dalam penelitian ini, peneliti mengguankan beberapa istilah yang
menjadi kunci, yaitu:
1. Persepsi Masyarakat
Persepsi merupakan tanggapan (penerimaan) langsung dari suatu.,
serapan. Persepsi juga merupakan proses seseorang mengetahui beberapa
hal melalui panca indranya (depdiknas, KBBI, 2007:863). Sedangkan
persepsi yang dimaksud disini adalah pandangan masyarakat dusun
Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten Magelang
tentang pendidikan formal.
Masyarakat merupakan kelompok atau kolektivitas manusia yang
melakukan antarhubungan, sedikit banyak bersifat kekal, berlandaskan
perhatian dan tujuan bersama, serta telah melakukan jalinan serta
berkesinambungan dalam waktu yang lama. (Elly M. Setyadi, 2006 : 8384). Di dalam masyarakat telah terbentuk sebuah komunitas yang saling
tergantung antara yang satu dengan yang lain, sehingga apapun
permasalahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat biasanya akan
diselesaikan secara bersama-sama.
7
2. Pendidikan Formal
Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003
disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara (UU sisdiknas no 20 th 2003:3). Pendidikan juga bisa
dikatakan sebagai proses belajar untuk mengetahui dari yang tidak tahu
menjadi tahu, artinya, dalam pendidikan biasanya bertujuan untuk
mentransformasikan ilmu pengetahuan dari guru kepada muridnya. Oleh
sebab itu, maka pendidikan merupakan hal yang sangat dibutuhkan
masyarakat dalam rangka perkembangan dan kemajuan dari
suatu
masyarakat tersebut. Dengan kata lain, bila dalam masyarakat tersebut
banyak yang mempunyai pendidikan tinggi, bisa dikatakan bahwa pola
pemikiran masyarakat sudah maju. Sedangkan pendidikan formal adalah
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Pendidikan formal inilah yang nantinya bisa dijadikan tolok ukur
kemajuan sebuah masyarakat.
3. Sikap Kedewasaan Anak
Sikap merupakan emosi atau afek yang diarahkan pada seseorang
kepada orang lain. (Fattah Hanurawan, 2012: 64). Kedewasaan adalah
8
sebuah kondisi diri dan sikap dapat menyelesaikan masalah dalam
pergaulan dan kehidupan sosial. Sedangkan siswa atau peserta didik
adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan tertentu (Wiji Suwarno, 2006 : 36). Antara sikap dan
kedewasaan biasanya tidak bisa dipisahkan. Seseorang bisa disebut
mempunyai sikap yang baik jika dia bisa dewasa dalam bertindak.
Seseorang yang bersikap dewasa biasanya dapat menyelesaikan sebuah
masalah dengan bijaksana, mempunyai pemikiran yang bisa diterima oleh
semua kalangan. Sikap yang menunjukkan dewasa juga bisa dilihat
dengan adanya kestabilan seseorang dalam melakukan sebuah tindakan.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, yangmana
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian survei,
dimana penelitian survei merupakan penelitian yang mengumpulkan data
pada saat tertentu dengan tiga tujuan penting, yaitu:
a. Mendeskripsikan keadaan alami yang hidup saat itu.
b. Mengidentifikasikan
secara
terukur
keadaan
sekarang
untuk
dibandingkan.
c. Penentuan hubungan sesuatu yang hidup diantara kejadian spesifik
(Sukardi, 2009: 193).
9
Mengingat bahwa obyek yang diteliti adalah keadaan alamiah
tentang persepsi sebuah masyarakat, model penelitian ini merupakan
metode paling baik guna memperoleh dan mengumpulkan data asli
(original data) untuk mendeskripsikan keadaan populasi, (Sukardi, 2009:
193). Model inilah yang nantinya akan digunakan peneliti dalam
melakukan penelitian.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai observer,
dimana peneliti melakukan survey langsung ke tempat lokasi dan meneliti
keadaan masyarakat secara langsung. Sedangkan orang tua dan anak
dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten Magelang
menjadi subjek dalam penelitian ini. Subjek penelitian adalah sumber
tempat tempat peneliti memperoleh keterangan atau data penelitian
(Abdullah Idi, 2013: 54), dan persepsi serta sikap kedewasaan anak dari
masyarakat tersebut menjadi objek dari penelitian ini.
3. Lokasi
Lokasi yang menjadi obyek penelitian ini adalah dusun Semoyo,
desa Sugihmas, kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada tahun
2015.
10
4. Sumber Data
Dalam penelitian ini penulis memperoleh sumber data dengan cara
sebagai berikut :
a. Buku referensi
Buku referensi digunakan sebagai sumber data dalam penelitian ini,
sebagai bukti bahwa dalam penelitian, peneliti menggunakan kaidah
penelitian, tanpa plagiat dari hasil karya orang lain.
b. Observasi
Observasi digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh
kejelasan data tentang kondisi lapangan.
c. Wawancara
Wawancara digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data
yang valid dari narasumber.
Adapun jenis data yang didapat merupakan merupakan data
deskriptif dimana peneliti melakukan penelitian tentang persepsi
masyarakat, sehingga, model penelitian kualitatif dengan deskripsi dirasa
lebih tepat untuk menggambarkan keadaan suat masyarakat atau daerah.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, peneliti mengumpulkan data dengan
menggunakan metode :
a. Observasi non partisipan
Dalam observasi non partisipan, peneliti tidak terlibat langgsung
dengan orang yang sedang diamati, dan hanya sebagai pengamat
11
independen. Peneliti mencatat, menganalisis, dan selanjutnya dapat
membuat kesimpulan tentang obyek yang diteliti (Sugiyono, 2011:
145).
b. Wawancara
Metode wawancara digunakan dalam penelitian ini untuk
memperoleh data langsung dari informan. Adapun wawancara
ditujukan kepada orang tua beserta anak di dusun Semoyo untuk
mengetahui persepsi mereka terhadap pendidikan formal.
c. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan sebagai metode pendukung dalam
penelitian ini. Adapun dokumentasi dalam penelitian ini berupa foto
yang berkaitan dengan penelitian.
6. Analisis Data
Untuk memperoleh hasil penelitian yang tepat dan benar, maka
diperlukan metode yang tepat untuk menganalisis data. Adapun analisis
yang digunakan untuk menganalisa data kualitatif diperlukan langkahlangkah :
a. Memperoleh data dari lapangan dengan melakukan survey lapangan,
wawancara, serta dokumentasi. Kualitas data ditentukan oleh kualitas
alat pengambilan data atau alat pengukur. Kalau alat pengambilan data
cukup reliabel dan valid, maka datanya juga cukup reliabel dan valid.
(Isni Ariyanti, 2010).
12
b. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak.
Oleh karena itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data
berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada
hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data
yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan
memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya
serta mencarinya bila diperlukan (Sugiyono, 2006: 277-278).
c. Penyajian Data (Data Display)
Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat,
bagan, dan sejenisnya. Tetapi yang paling sering digunakan adalah
teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan
memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja
selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami (Sugiyono, 2006: 280).
d. Kesimpulan dan Verifikasi
Data yang sudah dipolakan, difokuskan, dan disusun secara
sistematis melalui reduksi dan penyajian data yang kemudian
disimpulkan
sehingga
makna
data
dapat
ditemukan.
Untuk
memperoleh kesimpulan yang lebih mendalam, maka diperlukan data
baru sebagai penguji terhadap kesimpulan awal.
13
7. Pengecekan Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian ini ada beberapa bentuk,
meliputi:
a. Credibility
Pengujian ini berfungsi untuk melakukan penelaahan data
secara akurat agar tingkat kepercayaan penemuan dapat dicapai.
Adapun teknik yang digunakan yaitu memperpanjang masa
observasi, menganalisis kasus yang belum ada, menggunakan bahan
referensi, membicarakan dengan orang lain.
b. Transferability
Transferability
merupakan
validitas
eksternal
yang
menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil
penelitian kepopulasi dimana sampel tersebut diambil. Nilai transfer
ini bergantung pada pemakai hingga hasil penelitian tersebut dapat
digunakan dalam konteks dan situasi sosial lain (Sugiyono, 2006:
310).
c. Dependability
Dalam
penelitian
ini
disebut
juga
reliabilitas,
uji
dependenbility dilakukan dengan melakukan proses penelitian ke
lapangan/audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Apabila
peneliti tidak dapat menunjukkan “jejak aktivitas lapangannya”,
maka dependabilitas penelitiannya patut diragukan.
14
d. Confirmability
Pengujian ini disebut juga dengan uji objektivitas penelitian.
Penelitian dikatakan objektif bila hasil penelitian telah disepakati
banyak orang. Menguji confirmability berarti menguji hasil
penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan (Sugiyono, 2006:
310-311).
8. Tahap-tahap Penelitian
Ada beberapa tahap yang digunakan peneliti dalam penelitian ini,
yaitu:
a. Tahap penelitian pra lapangan
Ada beberapa kegiatan dalam tahap ini, yaitu:
1) Mengajukan judul.
2) Konsultasi dan revisi judul.
3) Menyusun proposal penelitian.
4) Konsultasi proposal ke pembimbing.
b. Tahap kegiatan lapangan
Dalam kegiatan lapangan ini meliputi:
1) Persiapan diri dengan data yang diperlukan.
2) Pengumpulan data dari responden berupa survey lapangan,
wawancara, serta pengumpulan dokumentasi yang berkaitan
dengan penelitian.
15
c. Tahap analisis data
Pada tahap ini, peneliti menganalisis data yang sudah
diperoleh dalam pengumpulan data yang ada di lapangan.
d. Tahap penulisan
Dalam tahap ini ada tiga tahap penulisan, yaitu:
1) Penulisan hasil penelitian.
2) Konsultasi hasil penelitian kepada pembimbing.
3) Persiapan mengikuti ujian munaqosah.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah :
BAB I
: Pendahuluan
Pada bab ini meliputi latar belakang masalah, rumusan
masalah,
tujuan
penelitian,
kegunaan
penelitian,
penegasan istilah, metode penelitian, dan sistematika
penulisan skripsi.
BAB II
: Kajian Pustaka
Dalam kajian pustaka memuat tentang:
a.
Persepsi masyarakat, dimana didalamnya memuat
tentang pengertian, faktor yang mempengaruhi, proses
persepsi, serta pemngertian dan jenis masyarakat.
b.
Pendidikan formal, yang didalamnya memuat tentang
pengertian pendidikan formal, komponen pendidikan,
16
sedikit
tentang
belajar
sebagai
aplikasi
dari
pendidikan, serta urgensi pendidikan formal.
c.
Sikap kedewasaan, yang mencakup tentang sikap dan
kedewasaan.
BAB III
: Paparan Data dan Temuan Penelitian
Dalam bab ini memuat tentang gambaran umum dusun
Semoyo serta penyajian data hasil dari penelitian.
BAB IV
: Pembahasan
Dalam bab ini membahas hasil dari penelitian tentang
persepsi masyarakat terhadap pendidikan formal.
BAB V
: Penutup
Dalam bab ini dibahas tentang kesimpulan dari penelitian
ini, serta saran dari peneliti untuk masyarakat dusun
Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag, kabupaten
Magelang.
17
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. PERSEPSI MASYARAKAT
1.
Pengertian persepsi
Kata “persepsi” mungkin terasa asing bagi orang awam. Akan
tetapi, sebenarnya mereka dapat merasakan dalam kehidupan sehariharinya. Menurut beberapa sumber, pengertian persepsi adalah:
a.
Persepsi adalah tanggapan langsung atas segala sesuatu. (Fajri dan
Senja, 2001 : 470).
b.
Persepsi merupakan sejenis aktivitas pengelolaan informasi yang
menghubungkan
seseorang
dengan
lingkungannya.
(Fattah
Hanurawan, 2012 : 34).
c.
Persepsi
adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan
yang
diperoleh
dengan
menyimpulkan
informasi dan menafsirkan pesan (Jalaluddin Rakhmat, 2003 : 51).
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil sebuah kesimpulan
bahwa persepsi merupakan pandangan seseorang yang dipengaruhi oleh
objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
18
2.
Faktor yang mempengaruhi persepsi
Banyak
faktor
yang
mempengaruhi
persepsi.
Menurut
Abdurrahman Saleh (2004 : 119), faktor yang mempengaruhi persepsi
antara lain :
a. Perhatian yang selektif
b. Ciri-ciri rangsang
c. Nilai dan kebutuhan individu
d. Pengalaman dahulu.
3.
Proses persepsi
Darwis Hude menuturkan, bahwa persepsi merupakan tindak lanjut
dari sensasi. Tahap awal dalam proses penerimaan informasi adalah
sensasi. Jika alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls
syaraf dengan “bahasa” yang dipahami oleh “komputer” otak, maka
terjadilah proses sensasi. “Apa saja yang menyentuh alat-alat indera
disebut stimulus (stimuli, jika banyak). Stimuli ini oleh alat indera akan
diubah menjadi energi syaraf lalu ditransmigrasikan ke otak untuk
dianalisis lebih lanjut. Tidak ada persepsi tanpa sensasi, karena persepsi
sebenarnya hanyalah pemberian makna pada stimulan yang ditangkap
oleh alat-alat indera. Persepsi seperti halnya sensasi, amat tergantung
pada faktor personal dan situasional (faktor fungsional dan struktural).
(Darwis Hude, 2006:120).
Persepsi membantu manusia bertindak dan memahami dunia
sekelilingnya, karena persepsi adalah mata rantai terakhir dalam suatu
19
rangkaian peristiwa yang saling terkait. Mata rantai itu dimulai dari objek
eksternal yang ditangkap oleh organ-organ indera, selanjutnya dikirim
dan diproses didalam otak untuk mendapat kopian arsip yang telah
tersimpan (Darwis Hude, 2006 : 121).
Jadi, dari berbagai pendapat para ahli tersebut dapat diambil
sebuah kesimpulan sederhana, bahwa persepsi merupakan pandangan
seseorang dalam menafsirkan suatu keadaan atau aktifitas yang dialami
di lingkungannya. Faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu perhatian,
faktor fungsional, dan faktor struktural. Adapun proses persepsi terjadi
jika alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls syaraf
dengan “bahasa” yang dipahami oleh “komputer” otak yang selanjutnya
akan ditransmigrasikan ke otak untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil dari
analisis otak manusia inilah yang sering disebut dengan persepsi. Oleh
sebab itu, wajar jika persepsi antar individu antara manusia yang satu
dengan yang lain sering bahkan selalu berbeda.
4.
Pengertian Masyarakat
Menurut Handerson dan Mapp, yang dikutip oleh Fatchurrohman
(2012 : 32), masyarakat merupakan orang-orang
yang berada di
lingkungamn atau suatu tempat di sekitar sekolah, masyarakat setempat
yang tinggal di suatu wilayah, mereka bisa jadi tidak mempunyai anak
yang disekolahkan, tetapi mempunyai ketertarikan terhadap sekolah, atau
kelompok masyarakat yang tinggal dalam suatu daerah yang masih ada
hubungan kekerabatan.
20
5.
Jenis Masyarakat
Dalam masyarakat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok
masyarakat tradisional dan kelompok masyarakat modern. Masyarakat
tradisional lebih dikenal dengan masyarakat yang tinggal dipedesaaan,
sedangkan masyarakat modern mengacu pada masyarakat yang tinggal di
daerah perkotaan.
Adapun masyarakat tradisional mempunyai ciri-ciri homogenitas
sosial, hubungan primer, kontrol sosial yang ketat dan bergotong royong.
Sedangkan dalam masyarakat modern mempunyai ciri-ciri heterogenitas,
individualistis, kontrol sosial yang tidak begitu ketat, serta dinamika
sosial yang cepat (Fatchurrohman, 2012 : 33-35).
B. PENDIDIKAN FORMAL
1. Pengertian Pendidikan Formal
Seringkali masyarakat mendengar istilah pendidikan. Bahkan,
masyarakat yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali pun
mengetahui kata pendidikan. Bagi masyarakat awam, pendidikan
diidentikkan dengan sekolah. Akan tetapi, sebenarnya pendidikan tidak
hanya terbatas pada sekolah saja. Mengacu pada UU Sisdiknas nomor 20
tahun 2003 (UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 : 3), pendidikan sendiri
dapat dikatakan sebagai “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
21
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara”.
Telah diketahui bahwa pendidikan dibagi menjadi tiga macam,
yaitu Pendidikan Formal, Pendidikan Nonformal, dan Pendidikan
Informal. Tiga macam pendidikan ini mencakup semua sektor bidang
pendidikan. Pendidikan formal dalam perspektif masyarakat biasanya
sering disebut dengan pendidikan yang ada di sekolah, pendidikan non
formal meliputi pendidikan di pondok pesantren, dan pendidikan informal
mencakup pendidikan dalam keluarga. Semua persepsi masyarakat
tentang pendidikan tidak sepenuhnya salah, karena jika melihat pada UU
Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 (UU Sisdiknas No 20 Th
2003 : 4) telah disebutkan bahwa:
a.
Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi.
b.
Pendidikan Nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
c.
Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan.
Dilihat dari pengertian diatas, dapat diketahui bahwa pendidikan
tidak terbatas pada pendidikan di lingkungan sekolah saja, yang dalam
bahasa akademik disebut dengan pendidikan formal. Lingkungan keluarga
pun bisa dikategorikan sebagai tempat berlangsungnya pendidikan.
22
Pondok-pondok pesantren juga bisa dikategorikan sebagai tempat
berlangsungya pendidikan. Akan tetapi dalam skripsi ini yang lebih
dibahas khususnya adalah pendidikan formal yang berarti jalur
pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2. Komponen Pendidikan
Dalam pendidikan, baik formal, non formal, maupun informal
mempunyai komponen pendidikan. Adapun komponen pendidikan dalam
pendidikan formal meliputi:
a. Kurikulum
Kurikulum merupakan komponen ilmu pendidikan yang
berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Teori yang
dikembangkan dalam komponen ini meliputi tujuan pendidikan,
organisasi kurikulum, isi kurikulum, dan modul pengembangan
kurikulum.
b. Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan
dengan proses pelaksanaan interaksi ditinjau dari sudut peserta didik.
Teori yang dikembangan meliputi karakteristik peserta didik, jenis
belajar, cara belajar, hirarki, jenis, dan kondisi belajar.
c. Mendidik dan mengajar
Mendidik
dan
mengajar
merupakan
komponen
ilmu
pendidikan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan interaksi
23
ditinjau dari sudut pndang pendidik. Teori yang dikembangkan dalam
komponen ini meliputi karakteristik pendidik, karakteristik kegiatan
pendidikan dan mengajar, metode dan teknik mengajar, sistem
pengelolaan kelas.
d. Lingkungan pendidikan
Lingkungan pendidikan berkenaan dengan situasi ketika
interaksi belajar mengajar berlangsung, teori ini meliputi perencanaan
pendidikan, manajemen pendidikan, bimbingan konseling, kebijakan
pendidikan, dan ekonomi pendidikan.
e. Evaluasi pendidikan
Evaluasi berkenaan dengan prinsip, mental, teknik, dan
prosedur dengan cara-cara bagaimana pencapaian tujuan pendidikan.
Teori yang dikembangkan dalam komponen ini adalah model-model
penilaian, metode, teknik, instrumen penilaian (Mulyono, 2010 : 5152).
Umar Tirtarahardja dan La Sula, (2000 : 51-52) menyebutkan
bahwa unsur pendidikan mempunyai tujuh bagian, yaitu: Subjek yang
dibimbing (peserta didik), Orang yang membimbing (pendidik), Interaksi
antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif), Ke arah mana
bimbingan ditujukan (tujuan pendidik), Pengaruh yang diberikan dalam
bimbingan (materi pendidikan), Cara yang digunakan dalam bimbingan
(alat dan metode), Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung
(lingkungan pendidikan).
24
a.
Subjek yang dibimbing (Peserta didik)
Unsur ini merupakan unsur yang sangat vital dalam dunia
pendidikan. Peserta didik mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap keberhasilan dunia pendidikan. Kualitas dari pribadi peserta
didik ini yang akan menjadi tolok ukur pendidikan. Pendidikan
dianggap gagal jika apa yang dilakukan peserta didik tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
b.
Orang yang membimbing (Pendidik)
Pendidik juga mempunyai peran yang sangat penting dalam dunia
pendidikan. Keberhasilan peserta didik tergantung bagaimana cara
mendidik yang dilakukan oleh pendidik. Kepribadian seorang
pendidik juga tak lepas dari perhatian agar peserta didik mencapai
keberhasilan sesuai yang diinginkan. Oleh karena itu pantaslah
bahwa pendidik harus mempunyai syarat-syarat seperti kompetensi
paedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan
kompetensi kepribadian.
c.
Interaksi antara pendidik dan peserta didik (Interaksi Edukatif).
Pendidikan bisa dikatakan kondusif bila ada interaksi yang baik
antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi antara peserta didik
dengan pendidik sangat diperlukan untuk menjaga hubungan yang
harmonis yang tentunya dalam hubungan ini harus ada batas-batas
tertentu.
25
d.
Ke arah mana bimbingan ditujukan (Tujuan Pendidik)
Setiap individu maupun organisasi pasti mempunyai tujuan tertentu.
Begitu juga dengan dunia pendidikan. Pendidik harus mempunyai
tujuan yang jelas dalam mendidik peserta didik. Mendidik dengan
tanpa tujuan bisa diibaratkan orang dengan berjalan ditengah hutan
yangmana orang tersebut tidak mengetahui arah mata angin. Jika
pendidik tidak mempunyai tujuan yang jelas, maka hampir bisa
dipastikan bahwa apa yang diajarkan pendidik kepada peserta didik
tidak akan pernah membekas di dalam diri peserta didik.
e.
Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (Materi Pendidikan)
Materi pendidikan menyumbang peran yang besar terhadap
keberhasilan pendidikan. Jika pendidik tidak mempunyai ataupun
menguasai materi yang akan diberikan kepada peserta didik, maka
tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai dalam kegiatan tersebut.
f.
Cara yang digunakan dalam bimbingan (Alat dan Metode)
Alat dan metode dalam pendidikan mempunyai peran yang tak kalah
pentingnya dalam menunjang keberhasilan pendidikan. Metode
dalam pendidikan bisa sebagai solusi yang jitu bagaimana cara
menghadapi keanekaragaman peserta didik. Mengenai alat dalam
pendidikan memang sangat penting, tapi ada alat yang bisa
dialihkan. Misalkan, jika dalam sekolah tidak mempunyai ruang
yang layak bisa dialihkan ke luar ruangan yang dekat dengan pohon.
26
g.
Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (Lingkungan
Pendidikan)
Lingkungan
pendidikan
sangat
mempengaruhi
keberhasilan
pendidikan. Jika lingkungan mendukung pendidikan, maka kualitas
peserta didik akan lebih baik. Tingkat pendidikan peserta didik juga
lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Apalagi jika
membahas tentang kepribadian individu. Lingkungan akan sangat
mempengaruhi
kepribadian
dari
individu
tersebut.
Semakin
masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan, maka biasanya
kualitas lingkungan semakin baik. Pemikiran masyarakat juga
semakin beragam. Selain itu, keterbukaan serta toleransi masyarakat
juga akan semakin besar.
3. Belajar, salah satu aplikasi dari pendidikan.
a. Perwujudan perilaku belajar
Dalam proses pembelajaran baik dari pembelajaran dalam
pendidikan formal, in formal, maupun non formal mempunyai
manifestasi atau perwujudan perilaku belajar yang biasanya lebih
sering tampak dala perubahan-perubahan sebagai berikut :
1) Kebiasaan
Setiap siswa yang mengalami proses belajar, kebiasaankebiasaannya akan tampak berubah. Dalam proses belajar,
kebiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak
diperlukan. Karena proses pengurangan atau penyusutan inilah,
27
muncul suatu pola tingkah laku baru yang relatif menetap dan
otomatis. Sebagai contoh, siswa yang belajar bahasa secara
berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau
struktur yang keliru, akhirnya akan terbiasa menggunakan
bahasa secara baik dan benar. Jadi, berbahasa dengan baik dan
benar itulah perwujudan dari belajar.
2) Keterampilan
Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan
urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam
kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dan
sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun, keterampilan ini
memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran tinggi.
Dengan demikian, siswa yang melakukan gerakan motorik
dengan koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap
kurang atau tidak terampil. Keterampilan bukan hanya meliputi
gerakan motorik, melainkan juga pengejawantahan fungsi
mental yang bersifat kognitif. Konotasinya pun luas, sehingga
sampai pada mempengaruhi atau mendayagunakan orang lain.
Artinya, orang yang mempu mendayagunakan orang lain secara
tepat juga dianggap orang yang terampil.
3) Pengamatan
Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan
memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera
28
seperti mata dan telinga. Berkat pengalaman belajar, seorang
siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar-benar
obyektif sebelum mencapai pengertian. Pengamatan yang salah
akan mengakibatkan timbulnya pengertian yang salah pula.
Sebagai contoh, seorang anak yang baru pertama kali
mendengarkan radio akan mengira bahwa penyiar benar-benar
berada dalam kotak bersuara itu. Namun, melalui proses belajar,
lambat laun akan diketahuinya bahwa yang ada dalam radio
tersebut hanya suaranya sedangkan penyiarnya berada jauh di
studio pemancar.
4) Berpikir asosiatif dan daya ingat
Secara sederhana, berpikir asosiatif adalah berpikir
dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan yang lainnya.
Berpikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan
antara rangsangan dan respons. Dalam hal ini perlu dicatat
bahwa kemampuan siswa untuk melakukan hubungan asosiatif
yang benar amat dipengaruhi oleh tingkat pengertian atau
pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar. Sebagai contoh,
siswa yang mampu menjelaskan arti penting tanggal 12 Rabiul
Awal, kemampuan siswa tersebut dalam mengasosiasikan
tanggal bersejarah dengan maulid Nabi Muhammad saw. hanya
bisa didapat apabila ia mempelajari sejarah tersebut.
29
Selain itu, daya ingat pun perwujudan belajar, sebab
merupakan unsur pokok dalam berpikir asosiatif. Jadi, siswa
yang telah
mengalami proses belajar akan ditamdai dengan
bertambahnya simpanan materi (penggetahuan dan pengertian)
dalam
memori,
serta
meningkatnya
kemampuan
menghubungkan materi tersebut dengan situasi atau stimulasi
yang sedang ia hadapi.
5) Berpikir rasional dan kritis
Berpikir rasional dan kritis merupakan perwujudan
perilaku belajar, terutama yang bertalian dengan pemecahan
masalah. Pada umumnya, siswa yang berpikir rasional akan
menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam
menjawab “bagaimana” dan “mengapa”. Dalam berpikir
rasional, siswa dituntut menggunakan logika untuk menentukan
sebab-akibat, menganalisis, menarik kesimpulan-kesimpulan,
dan bahkan juga menciptakan hukum-hukum dan ramalanramalan. Dalam hal berpikir kritis, siswa dituntut untuk
menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji
keandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan
atau kekurangan.
6) Sikap
Dalam arti sempit, sikap adalah pandangan atau
kecenderungan mental. Menurut Bruno, yang dikutip Haryu
30
Islamudin (2011 : 167), sikap (attitude) adalah kecenderungan
yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk
terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian, sikap itu
dapat dianggap sebagai suatu kecenderungan siswa untuk
bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan
perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya
kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah terhadap
objek, tata nilai, dan sebagainya.
7) Inhibisi
Dalam hal belajar, inhibisi adalah kesanggupan siswa
untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu,
lalu memilih atau melakukan tindakan lainny yang lebih baik
ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Kemampuan siswa
dalam melakukan inhibisi umumnya diperoleh melalui proses
belajar. Oleh sebab itu, makna dan perwujudan perilaku belajar
seorang siswa akan tampak pula dalam kemampuannya
melakukan inhibisi ini.
8) Apresiasi
Apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau
penilaian terhadap benda-benda baik abstrak maupun konkret,
yang bernilai luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang
pada umumnya ditinjau pada karya seni budaya.
31
9) Tingkah laku Afektif
Tingkah
laku
afektif
adalah
tingkah
laku
yang
menyangkut keanekaragaman perasaan seperti takut, marah,
sedih, kecewa, dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak
terlepas dari pengaruh pengalaman belajar. Oleh karenanya, ia
juga dapat dianggap sebagai perilaku belajar. (Haryu Islamudin,
2012 : 164-168)
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam:
1) Faktor Internal (faktor dari siswa), yakni keadaan atau kondisi
jasmani siswa.
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi
dua aspek, yaitu aspek fisiologis dan aspek psikologis
a) Faktor fisiologis
Pada faktor ini, kesehatan fisik atau jasmani siswa
sangat mempengaruhi belajar siswa. Siswa yang mempunyai
kesehatan fisik yang buruk biasanya lebih sulit menerima
pelajaran dari guru dibandingkan dengan siswa yang
mempunyai kesehatan yang baik. Sebagai contoh, siswa yang
mempunyai pendengaran kurang baik lebih lama dalam
memahami pelajaran daripada siswa yang pendengarannya
baik.
32
b) Faktor psikologis
Dalam faktor ini, umumnya yang dipandang adalah
tingkat kecerdasan siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat
siswa, serta motivasi siswa.
2) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi
lingkungan disekitar siswa.
3) Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni jenis
upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran
materi-materi pelajaran (Haryu Islamudin, 2011 : 181).
4. Urgensi Pendidikan Formal
a. Bagi pribadi manusia
Gambaran manusia perspektif Islam yang sesuai dengan
alquran adalah manusia sebagai makhluk ciptaannya yang utama atau
sebagai khalifatullah fil ard. Ini ditegaskan dalam Al Qur‟an surah
Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi:
. . . .         .
..
Artinya: “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para
Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi." (Q. S Al Baqarah: 30 )
33
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk
yang sempurna, dimana manusia bertugas menjaga keseimbangan
dunia. Oleh sebab itu, manusia yang ditugasi menjadi pemimpin di
dunia diberikan kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain, yaitu
akal. Dengan akal, manusia dapat menciptakan kedamaian dunia.
Dengan akal pula manusia akan merusak dunia sebagaimana firman
Allah diatas. Oleh karena itu, agar dapat melaksanakn tugasnya,
manusia berkewajiban untuk mengembangkan potensinya, salah
satunya melalui pendidikan. Mengutip pendapat H.A.R. Tilaar (2012
: 187), pendidikan diasumsikan dapat mengembangkan potensipotensi yang tak terbatas didalam pembentukan watak dan derajat
manusia. Karena manusia dikaruniai kecerdasan dan pengetahuan
yang merupakan karunia Tuhan yang terbesar itulah, maka manusia
harus mempertahankan seluruh perbuatannya kepada sang pencipta,
antara lain dengan mendayagunakan kecerdasan dan pengetahuannya
itu.
Dalam sejarah peradaban umat manuia, dunia akademik
selalu memainkan peranan sentral. Ada masanya dunia akademik
dijadikan konservator nilai-nilai tertentu dari suatu sistam kekuasaan
dan diperalat oleh suatu sistem kekuasaan, ada pula masanya dunia
akademik menjadi mata air perubahan sosial. Dari kedua situasi
tersebut tersirat hakikat paling dalam dari dunia akademik ialah
34
adanya kebebasan atau keterbukaan berpikir (H.A.R. Tilaar, 2006 :
93).
Keterbukaan dalam berpikir inilah yang akan menentukan
keluasan serta tingkat pendidikan manusia. Apabila manusia mau
membuka pikirannya, maka tidak menutup kemungkinan, bahwa
manusia
yang
dipandang
sangat
miskin
sekalipun
oleh
masyarakatnya dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan yang lainnya. Tidak menutup kemungkinan
juga bahwa orang yang dianggap sangat bodoh sekalipun oleh orang
lain bisa juga lebih pandai daripada orang lain. Inilah esensi dari Al
Qur‟an surah Al Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:
       . . .
. . . . 
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat”. (Q. S Al Mujadilah: 11)
Selain itu, banyak juga hadits yang menyiratkan pentingnya
ilmu untuk mencari kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat,
diantaranya terdapat hadits:
‫من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد االخرة فعليه بالعلم ومن ارادهما‬
‫فعليه بالعلم‬
Artinya: “ barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia,
maka dapat diperoleh dengan ilmu, dan barang siapa
menginginkan kebahagiaan di akhirat, maka dapat
diperoleh dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan
kebahagiaan dunia dan akhitrat, maka dapat diperoleh
dengan ilmu “ HR Turmudzi.
35
Selain manusia diberi akal untuk bertugas sebagai khalifah
fil ard dan memanfaatkan akal untuk mencari ilmu agar pandai
secara intelektual, manusia juga diberi akal agar memiliki
kepribadian yang baik. Inilah yang membedakan manusia dengan
makhluk lain. Dalam Al Qur‟an Surah At Tin ayat 4 yang
berbunyi:
. . . .      . . .
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya”.(Q. S At Tin: 4)
Akan tetapi manusia juga harus memiliki konsekuensi jika
manusia lebih condong pada kepribadian yang tidak baik, maka
kedudukan manusia tidak lebih baik daripada makhluk yang lain,
sebagaimana firman Allah surah At Tin ayat 5:
. . . .    . . .
Artinya: “kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka)”. (Q. S At Tin: 5)
Oleh karena itu, jika manusia tidak ingin tersesat di tempat
yang sangat rendah disisi Allah, maka pendidikan sangat mutlak
harus dilakukan pada semua manusia, tidak memandang dari
kedudukan serta harta kekayaan yang ia miliki.
Ketika manusia telah mencapai derajatnya masing-masing
dihadapan sang Khaliq, pada hakikatnya tujuan Allah “membuat
semua skenario semua itu” hanyalah untuk menyembah kepada
36
sang pencipta. Ini termaktub dalam Qur‟an surah Adz Dzariyat
ayat 56 yang berbunyi:
. . . .      . . .
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(Q. S Adz Dzariyat: 56)
Dari pemaparan urgensi pendidikan bagi manusia ini,
setidaknya
ada
tiga
poin
penting
yang
dapat
diambil
kesimpulannya, yaitu:
1) Manusia diciptakan oleh Allah sebagai Khalifah fil ard,
sehingga untuk menjaga amanat tersebut mutlaklah bagi
manusia untuk mencari ilmu agar tidak menyimpang dari
“skenario” Allah tersebut. Adapun ilmu hanya didapat oleh
manusia
melalui pendidikan baik secara formal, informal,
maupun non formal.
2) Jika manusia ingin memperoleh derajat yang tinggi disisi
Allah, maka manusia harus mencapainya dengan perantara
ilmu. Ini agar manusia menjadi Insan Kamil sebagaimana
firman Allah dalam Qur‟an surah At Tin ayat 4.
3) Tugas dalam hidup manusia yang paling utama adalah
mancapai ridha Allah mdengan menyembah kepada-Nya.
Untuk itu, diperlukan ilmu yang membantu manusia untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
37
b. Bagi lingkungan keluarga
Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama bagi
manusia ketika masih anak-anak. Orang tua, terutama seorang kepala
keluarga, mempunyai kewajiban dalam menjaga keturunannya agar
apa yang dilakukan keturunan tersebut sesuai yag diinginkan.
Adapun kewajiban orang tua untuk
menjaga keturunannya
diantaranya terdapat dalam qur‟an surah At Tahrim ayat 6 yang
berbunyi:
. . . .       . . .
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka”. (Q. S At tahrim: 6)
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa orang tua mempunyai
kewajiban yang sangat besar terhadap keturunannya. Ini tersirat dari
perintah Allah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka,
jelaslah, untuk menjaga keluarga dari neraka memerlukan sebuah
pendidikan agar diri dan keluarganya bisa mencapai kebahagiaan
hidup di dunia maupun di akhirat.
Selain orang tua berkewajiban menjaga keturunannya, orang
tua juga berkewajiban mendidik dengan memberikan perhatian
secukupnya terhadap pendidikan anak dan istri, baik dari segi
jasmani maupun rohani. Tentunya tanggung jawab ini mempunyai
konsekuensi keuangan dan pendidikan ( Muhamad Fauzi, 2007 :
127). Dari segi keuangan, orang tua mempuyai kewajiban untuk
38
menjamin kesejahteraan angggota keluarganya berupa papan,
sandang, dan pangan yang memadai. Dari segi pendidikan, orang tua
mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak
baik dari pendidikan formal, non formal, maupun informal.
Pendidikan ini tentunya bertujuan agar keluarga, terutama
anak
mempuyai kemampuan secara intelektual sesuai yang diinginkan
orang tua yangmana hasil dari pendidikan ini kelak diharapkan akan
berkontribusi ketika sang anak terjun langsung menjadi anggota
masyarakat.
Selanjutnya, orang tua juga mempunyai kewajiban mendidik
anak dalam hal pembentukan sikap dan karakter anak. Artinya, orang
tua mempunyai kewajiban untuk menjaga akhlak anak agar anak
kelak menjadi orang yang selain secara intelektual mempunyai
kemampuan, anak juga mempunyai akhlak yang baik. Antara
intelektual dan akhlak tidak dapat dipisahkan. Jika anak hanya
pandai dari segi intelektual saja, maka kehidupan anak akan sering
bertentangan dengan norma-norma, baik norma sosial maupun norma
agama, ini dikarenakan anak tidak mempunyai pedoman yang
menyangkut tentng moral dan sosial. Sebaliknya, jika anak hanya
mempunyai akhlak atau moral yang baik saja tanpa mempunyai
keterampilan, maka kehidupan sang anak seolah-olah tidak
dipentingkan
oleh
masyarakat.
Adapun
sikap
orang
tua
mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak, dan perlakuan
39
mereka terhadap anak sebaliknya sikap anak terhadap mereka dan
perilaku meraka. Jika orang tua tidak terlalu memperhatikan
pendidikan anak, maka biasanya anak juga kurang punya minat
dalam menerima pelajaran di sekolah, ini berimplikasi pada sikap
anak terhadap kehidupan sehari-harinya.
Dari paparan diatas, diketahui bahwa pendidikan dalam
keluarga merupakan hal yang penting, ini dikarenakan bahwa
manusia sebagai orang tua mempunyai kewajiban terhadap anggota
keluarga setidaknya dalam hal :
a. Menjaga diri dan keluarga dari hal-hal buruk yang menimpa
keluarga.
b. Mendidik anak dari segi intelektual untuk menunjang masa depan
anak.
c. Mendidik anak dengan pendidikan akhlak, agar tercipta
keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan
emosional.
Semua hal diatas tidak bisa dilakukan dengan instan. Semua
hanya bisa dilakukan melalui pendidikan, orang yang sudah siap
berkeluarga harus membekali diri dengan pendidikan tentang
kekeluargaan. Jika seseorang berkeluarga tidak mempunyai konsep
yang jelas dalam membangun kekeluagaannya, maka seringkali yang
terjadi adalah keretakan dalam hubungan antar keluarga. Untuk
40
menjaganya, maka pendidikan merupakan hal mutlak yang harus
dilakukan setiap orang.
c. Bagi lingkungan Masyarakat
Kelanjutan hidup dari manusia adalah bermasyarakat. Dalam
bermasyarakat diperlukan pemikiran yang matang untuk membangun
kemajuan masyarakatnya. Selain itu, diperlukan keluasan berpikir
serta toleransi yang tinggi agar tercipta masyarakat yang aman,
damai, serta bersatu membangun masyarakat. Untuk itu, diperlukan
upaya agar kesatuan masyarakat tetap terjalin. Pentingnya persatuan
masyarakat ini juga diperhatikan Allah lewat Al Qur‟an Surah Ali
Imran ayat 103 yang berbunyi :
. . . .     . . .
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Q. S Ali
Imran: 103)
Ayat diatas menjelaskan bahwa manusia mempunyai peran dan
kedudukan yang sangat penting dalam bermasyarakat. Dalam
kehidupan selanjutnya, manusia mempunyai peran yang sangat
penting dalam proses terwujudnya masyarakat yang mandiri.
Manusia dikaruniai akal oleh Allah untuk mewujudkan kehidupan
masyarakat yang bermartabat, masyarakat yang aman dan damai.
Untuk mencapai hal terebut, ilmu menjadi bekal yang mutlak bagi
manusia.
41
Yang tak kalah pentingnya, kehidupan masyarakat adalah
sebagai salah satu penopang roda kehidupan bangsa. Suatu
masyarakat sangat diharapkan perannya dalam mewujudkan cita-cita
bangsa, dimana, dalam masyarakat sangat diharapkan partisipasinya
sebagai anggota dari bangsa untuk mewujudkan bangsa dan negara
yang aman.
Dari materi pendidikan diatas dapat diambil sebuah kesimpulan
bahwa pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana untuk
mewujudkan proses belajar yang bertujuan untuk membentuk kecerdasan
serta kepribadian dari peserta didik. Adapun pendidikan dibagi menjadi 3
macam, yaitu :
a. Pendidikan formal
Pendidikan formal adalah pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang
terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi.
b. Pendidikan non formal
Pendidikan non formal adalah pendidikan diluar pendidikan formal yang
berjenjang dan berstruktur. Contohnya adalah kursus.
c. Pendidikan informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang ada di dalam keluarga dan
lingkungannya.
Dalam dunia pendidikan tentunya tidak lepas dari yang namanya
lembaga. Adapun komponen dalam pendidikan secara garis besar terdiri dari
42
kurikulum, belajar, mendidik dan mengajar, lingkungan pendidikan, dan
evaluasi pendidikan.
Dalam hal belajar, ada aplikasi dari hal tersebut yang harus
diperhatikan baik oleh pendidik maupun peserta didik, yaitu kebiasaan,
keterampilan, pengamatan, berpikir asosiatif dan daya ingat, berpikir rasional
dan kritis, sikap, inhibisi, apresiasi, dan tingkah laku afektif. Adapun faktor
yang mempengaruhi belajar secara umum terdiri atas faktor internal, faktor
eksternal, serta faktor pendekatan belajar.
Pendidikan tentunya juga mempunyai makna tersendiri, adapun
makna (urgensi) pendidikan terbagi menjadi tiga, yaitu :
a. Bagi pribadi manusia
1) Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah fil ard, sebagai
pemimpin bumi, pendidikan mutlak harus didapat pada manusia agar
dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
2) Manusia memerlukan pendidikan untuk mencapai tujuannya sebagai
insan kamil.
3) Manusia memerlukan pendidikan agar menjadi sarana mendekatkan
diri kepada sang Khaliq.
b. Bagi lingkungan keluarga
Pendidikan juga sangat penting di dalam keluarga. Adapun pendidikan
dalam keluarga diperlukan untuk :
1) Menjaga anggota keluarga dari hal-hal buruk
2) Mendidik anak dari segi intelektual untuk menunjang masa depan anak
43
3) Mendidik anak dari segi akhlak untuk menciptakan moralitas anak
c. Bagi lingkungan masyarakat
Pendidikan mempunyai makna yang sangat besar dalam lingkungan
masyarakat. Manusia sebagai anggota masyarakat berperan penting dalam
menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Untuk itu, pendidikan mutlak
diperlukan dalam masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.
C. SIKAP KEDEWASAAN ANAK
1. Sikap
a. Pengertian sikap
Sikap merupakan emosi atau afek yang diarahkan pada
seseorang kepada orang lain. (Fattah Hanurawan, 2012 : 64). Sikap
melibatkan seseorang untuk memiliki kecenderungan puas atau tidak
puas, positif atau negatif, suka atau tidak suka terhadap suatu objek.
b. Ciri-ciri sikap
a) Sikap itu tidak dibawa sejak lahir
Ini berarti bahwa manusia pada waktu dilahirkan belum
membawa sikap-sikap tertentu pada suatu objek. Karena sikap
tidak dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu
terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan.
b) Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap
Oleh karena itu, sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam
hubungannya dengan objek tertentu, yaitu melalui proses persepsi.
Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek
44
tertentu akan menimbulkan sikap tertentu pula pada individu
terhadap objek tersebut
c) Sikap dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju
pada sekumpulan objek.
Bila seseorang mempunyai sikap yang negatif pada orang
lain, ia
akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan
sikap yang negatif pula pada kelompok dimana seseorang tersebut
tergabung didalamnya.
d) Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Jika sikap itu telah menjadi nilai dalam kehidupan
seseorang, maka biasanya relatif sulit berubah. Sebaliknya, jika
sikap itu belum begitu mendalam dalam diri seseorang, maka
sikap tersebut relatif mudah berubah.
e) Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi
Sikap seseorang terhadap objek tertentu akan selalu diikuti
perasaan baik perasaan yang negatif maupun positif. Disamping
itu, sikap juga mendorong seseorang untuk berperilaku yang
sesuai untuk beradaptasi dengan objek yang ada dihadapannya.
c. Komponen sikap
Ada tiga komponen yang terdapat dalam sikap, yaitu:
1) Komponen respon evaluatif kognitif
Adalah
gambaran
tentang
cara
seseorang
dalam
mempersepsi objek, peristiwa, atau situasi sebagai sasaran sikap.
45
Komponen ini adalah pikiran, keyakinan, atau ide seseorang
tentang suatu objek. Dalam bentuk yang paling sederhana,
komponen kognitif adalah kategori-kategori yang digunakan
dalam berpikir. Misalnya,tukang tambal ban adalah kategori
pekerjaan laki-laki, sedangkan menjahit adalah kategori pekerjaan
wanita.
2) Komponen respon evaluatif afektif
Yaitu perasaan atau emosi yang dihubungkan dengan suatu
objek sikap. Perasaan meliputi kecemasan, kasihan, benci, marah,
cemburu, atau suka. Misalanya, orang tua biasanya lebih cemas
jika anak perempuan keluar sampai larut malam daripada anak
laki-laki yang keluar malam.
3) Komponen respon evaluatif perilaku
Merupakan tenndensi untuk berperilaku pada cara-cara
tertentu terhadap objek sikap. Dalam hal ini, tekanan lebih pada
tendensi untuk berperilaku dan bukan pada perilaku secara
terbuka (Fattah Hanurawan, 2012 : 65).
d. Fungsi sikap
Sikap mempunyai empat fungsi, yaitu :
1) Fungsi penyesuaian diri
Fungsi
penyesuaian
diri
berarti
bahwa
orang
mengembangkan sikap yang akan membantu untuk mencapai
tujuannya secara maksimal. Misalnya, seseorang yang hidupnya
46
sering di pondok pesantren akan lebih nyaman memakai sarung
daripada celana.
2) Fungsi pertahanan diri
Fungsi pertahanan diri mengacu pada pengertian bahwa
sikap dapat melindungi seseorang dari keharusan untuk mengakui
kenyataan tentang dirinya. Contohnya, seseorang yang banyak
bicara cenderung akan menilai bahwa orang yang hanya diam saja
berarti dia tidak banyak memiliki ide kreatif.
3) Fungsi ekspresi nilai
Fungsi ekspresi nilai berarti bahwa sikap membantu
ekspresi positif nilai-nilai dasar seseorang, memamerkan citra
dirinya, dan aktualisasi diri. Contoh: seseorang yang menyukai
alam akan cenderung menyukai tantangan yang berasal dari alam,
misalnya naik gunung.
4) Fungsi pengetahuan
Fungsi pengetahuan berarti bahwa sikap membantu
seseorang dalam menetapkan standar evaluasi terhadap suatu hal.
Standar ini menggambarkan keteraturan, kejelasan, dan stabilitas
kerangka acu pribadi seseorang dalam menghadapi objek atau
peristiwa di sekelilingnya (Hanurawan, 2012 : 66).
Sikap berbeda dengan perilaku. Meski demikian, para ahli
memandang bahwa ada kaitan antara sikap dan perilaku. Bahkan,
perilaku yang baru terbentuk pun dapat dapat dikurangi atau juga dapat
47
dihilangkan.
Perilaku
menyenangkan
yang
cenderung
tidak
akan
menguntungkan
dihilangkan
atau
atau
tidak
dikurangi
kemunculannya oleh si objek. (Edi Purwanta, 2012 : 67). Jadi, dengan
mengetahui sikap seseorang, orang akan mendapatkan gambaran
kemungkinan perilaku yang timbul dari orang yang bersangkutan
(Bimo Walgito, 2002 : 105).
2. Kedewasaan
Segala peristiwa yang yang akan datang pasti akan menimbulkan
kesulitan manusia dalam menjalani kehidupannya. Dan orang dewasa
pasti akan menganggap kesulitan-kesulitan yang menghadang kehidupan
manusia bukanlah demi menghancurkan kehidupan itu, tetapi demi
mengokohkan akar kehidupannya. Kesulitan hidup akan selalu ada dalam
kehidupan manusia untuk mendidiknya dan mengajarkan kebijaksanaan.
Itulah
yang dinamakan
kedewasaan.
Kedewasaan
tidak
mutlak
dipengaruhi oleh umur. Banyak orang yang sudah berumur masih belum
dianggap dewasa, tapi tidak sedikit juga anak-anak yang secara umur
umumnya masih kanak-kanak sudah dianggap dewasa. Ini tidak lepas
dari pandangan masyarakat yang memandang tentang arti dari
kedewasaan. kedewasaan dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kedewasaan Fisik, yaitu orang yang mempunyai bentuk tubuh
proporsi yang relatif mantap dan organnya telah siap menjalankan
fungsi-fungsi secara normal.
48
b. Kedewasaan Intelektual, yaitu orang yang mampu menampilkan cara
berpikir objektif, logis, dan reflektif dalam memecahkan masalah
yang dihadapi.
c. Kedewasaan Sosial, yaitu orang yang mampu berpartisipasi dalam
kehidupan bersama dan konstruktif dala bekerja sama.
d. Kedewasaan emosional, yaitu orang yang mampu mengendalikan
gejolak emosi liar dan menyatakannya dalam bentuk atau cara yang
beradab, serta dapat menghargai orang lain dengan cara arif dan
bijaksana.
e. Kedewasaan Kerja, yaitu orang yang mempunyai kemampuan untuk
dapat menampilkan amal dan karya terbaik yang dapat dikerjakan
pada saat itu.
f.
Kedewasaan Moral, yaitu orang yang mempunyai kemampuan untuk
dapat memiliki nilai-nilai kehidupan yang luhur, dapat mengetahui
dengan jelas nilai-nilai hidup yang menjadi miliknya atau darah
dagingnya, dapat berbuat sesuai dengan nilai-nilai hidup yang
menjadi miliknya, dapat turut serta mengajak orang lain untuk
membuat sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimilikinya, dan dapat
mempunyai kata hati yang selalu menyerukan kebenaran dan
mendorong untuk selalu memilih kebenaran dan berbuat sesuai
dengan kebenaran tersebut. (Redja Mudyahardjo, 2001 : 501-503)
49
Dari materi sikap dapat diambil kesimpulan bahwa sikap merupakan
keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif statis, yang
disertai adanya perasaan tertentu yang menjadi tanda dari keadaan dalam
menerima atau menolak objek atau keadaan tersebut. Adapun ciri-ciri sikap
yaitu :
a. Sikap itu tidak dibawa sejak lahir
b. Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap tersebut
c. Sikap dapat tertuju pada satu objek, tetapi juga dapat tertuju pada
sekumpulan objek
d. Sikap dapat berlangsung lama maupun sebentar
e. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi
Sikap mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi penyesuaian diri, fungsi
pertahanan diri, fungsi ekspresi nilai, dan fungsi pengetahuan. Sikap juga
mempunyai komponen. Adapun komponen sikap meliputi komponen respon
evaluatif kognitif, komponen respon evaluatif afektif, dan komponen respon
evaluatif perilaku.
Kedewasaan merupakan keadaan dimana sudah ada ciri-ciri
psikologik tertentu pada diri seseorang. Kedewasaan tidak mutlak
dipengaruhi umur. Akan tetapi, ciri orang yang dewasa menurut G. W. Alport
adalah:
a. Pemekaran diri sendiri yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk
menganggap orang lain sebagai bagian dari dirinya juga.
b. Kemampuan melihat diri sendiri secara objektif.
50
c. Memiliki falsafah hidup tertentu tanpa perlu perumusan dan pengucapan
dengan kata-kata.
D. IMPLIKASI PENDIDIKAN TERHADAP SIKAP KEDEWASAAN
ANAK
Tingkat pendidikan juga mempunyai dampak yang sangat berarti bagi
kedewasaan anak dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi pendidikan,
semakin dewasalah anak dalam berpikir dan bertindak. Hal ini disebabkan
semakin terbukanya pemikiran yang ada dalam diri orang tersebut. Dampak
yang sangat kelihatan dari tingkat pendidikan seseorang adalah:
1. Pengetahuan secara Intelektual
Secara umum, tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi
tingkat
intelektual
manusia
dalam
masing-masing
bidang
yang
dipelajarinya. Hal ini dikarenakan semakin tinggi pendidikan, maka
semakin dalam pula materi yang disampaikan. Misalnya, lulusan SMA
dengan lulusan SMP tentunya akan berbeda dalam menguasai pelajaran
dengan materi yang sama.
2. Moral secara Umum
Secara umum, tingkat pendidikan akan mempengaruhi moral
seseorang. Misalnya, dalam hal sopan santun, anak yang hanya lulus SD
dengan anak yang lulus SMP lebih sopan anak yang lulus SMP. Hal ini
bisa dimungkinkan hanya karena ketidaktahuan penerapan anak yang
lulus SD tersebut.
51
3. Kedewasaan dalam menghadapi masalah
Secara umum, tingkat pendidikan juga mempengaruhi seseorang
dalam menghadapi masalah. Seseorang yang mempunyai pendidikan
yang lebih tinggi mempunyai solusi yang lebih baik dan lebih matang
dibandingkan seseorang yang tingkat pendidikannya rendah.
52
BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Gambaran Umum Desa Semoyo
1. Letak Geografis
Dusun Semoyo terletak di ujung timur dan paling selatan dari
kecamatan Grabag. Dusun ini masuk ke wilayah desa Sugihmas,
kecamatan Grabag, kabupaten Magelang. Sebelah timur dusun ini adalah
dusun Banaran dan Dukuh yang juga masih dalam wilayah desa
Sugihmas. Adapun sebelah utara dusun Semoyo adalah dusun Pelas yang
sudah masuk wilayah desa Muneng, kecamatan Pakis, kabupaten
Magelang.
Dusun Semoyo jauh dari keramaian. Dusun ini agak sulit dijangkau
karena terletak di wilayah atas kecamatan Grabag, dan berjarak sekitar 3
KM dari jalan raya Daleman (Pakis) – Grabag. Untuk Mencapai dusun
Semoyo, diperlukan waktu sekitar 7 menit dari jalan raya ini. Rute untuk
menuju dusun ini adalah dari perempatan pasar Grabag lurus ke selatan,
sekitar 8 KM sampai arah SMP N 3 Grabag. Kemudian dari SMP N 3
Grabag lurus ke timur sekitar 4 KM. Mulai dari SMP N 3 Grabag ini
jalan sudah tidak beraspal lagi. Akan tetapi, jalan sampai dusun Semoyo
di cor blok. Atau bisa juga dari arah Daleman (Pakis) lurus ke utara
sampai dusun Senden. Dari dusun Senden ke arah timur sekitar 5 KM.
53
Adapun rute dari arah Senden ini lebih sulit dijangkau. Hal ini
dikarenakan sebagian
jalan masih berupa tanah yang jika dimusin
kemarau jalan sangat berdebu, dan jika dimusin hujan jalan sangat licin.
Jika digambarkan secara umum, maka lokasi dusun Semoyo
sebagai berikut :
a. Batas Wilayah:
Sebelah Utara
: Sawah, dusun Gumiwang
Sebelah Selatan : Dusun Pelas
Sebalah Barat
: Sawah, dusun Senden, dusun Geru
Sebalah Timur : dusun Banaran.
b. Topografi: kaki gunung Merbabu
c. Suhu udara rata-rata: ± 20º C
d. Jarak ke Pemerintahan:
1) Jarak ke Pemerintah Desa
: ± 1 KM
2) Jarak ke Pemerintah Kecamatan
: ± 10 KM
3) Jarak ke pemerintah Kabupaten
: ± 25 KM
e. Demografi
1) Jumlah Penduduk Dusun:
Jumlah Kepala Keluarga
: 134 KK
Jumlah Penduduk Laki-laki
: 253 jiwa
Jumlah Penduduk Perempuan : 205 jiwa
54
2. Kondisi Masyarakat
a. Bidang Pendidikan
Pendidikan Formal
Dalam bidang pendidikan, masyarakat dusun Semoyo
kebanyakan masih dalam taraf rendah, ini dibuktikan dengan jumlah
anak yang masuk sekolah dari kategori tingkat pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang belum berimbang.
Berikut tabel tingkat pendidikan anak pada tahun 2015 di dusun
Semoyo:
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah
1.
TK / PAUD
-
2.
Sekolah Dasar
32
3.
Sekolah Menengah Pertama
21
4.
Sekolah Menengah Atas
5
5.
Perguruan Tinggi
-
Pendidikan Non formal
No
Nama Kegiatan
Jumlah
1
TPA / MADIN
45
2
Pesantren
15
3
Kursus
-
4
Lain-lain
-
55
b. Bidang Sosial
1) Jumlah penduduk menurut Agama: 428 jiwa
2) Perangkat dusun
Kepala dusun
: Pak Samhari
Ketua RW
: Pak Samsuri
Ketua RT
: a) Pak Asmuni
b) Pak Sulaiman
c) Pak Suyitno
d) Pak Giyanto
e) Pak Suroso
f) Pak Rohim
g) Pak Slamet
c. Bidang Ekonomi
Jumlah Penduduk menurut profesi:
a) Petani
: 320 jiwa
b) Pedagang
: 5 jiwa
c) Pelajar
: 58 jiwa
d) Belum berprofesi
: 45 jiwa
56
B. Temuan Hasil Penelitian
Dalam hasil penelitian ditemukan bahwa didalam masyarakat
dusun Semoyo masih banyak ditemukan yang tidak mengetahui
tentang pendidikan.
1. Profil Responden
Masyarakat
Profil Masyarakat yang diwawancarai dalam penelitian ini
adalah:
a. Nama : Pak S
Jabatan : Kepala Dusun
Tanggal Wawancara : 03 November 2015 jam 18:13 WIB
Tempat : Rumah Pak S
Pak S adalah kepala dusun di dusun Semoyo. Selain
sebagai kepala dusun, beliau berprofesi sebagai petani. Beliau
pergi ke sawah setiap hari sepulang dari kantor desa. Pak S
juga mempunyai sapi dua. Kata beliau, sapi merupakan hewan
ternak sampingan yang hampir setiap keluarga memeliharanya.
Meskipun sebagai kepala dusun, beliau adalah orang yang
penuh humoris, suka dengan anak-anak. Bahkan, ketika anakanak sering memanggilnya pak jenggot, beliau tidak marah,
malah sering mengajak anak-anak untuk jalan-jalan dengan
beliau.
57
Pak S adalah orang tua yang selalu berpikir ke depan
agar bagaimana anak-anankya lebih maju dari orng tuanya.
Oleh karena itu, beliau cenderung lebih maju akan dunia
pendidikan formal. Meskipun begitu, beliau juga tidak
memaksakan anaknya harus sekolah. Jika anaknya ingin ke
pondok pesantren atau kerja, beliau tidak pernah melarangnya.
a. Pak Ar
Nama
: Ar
Jabatan
: Kepala Keluarga
Tanggal Wawancara : 05 November 2015 jam 17:33 WIB
Tempat
: Rumah Pak Ar
Pak Ar adalah warga dusun Semoyo. Beliau berprofesi
sebagai petani. Beliau memelihara kambing, setiap pulang dari
sawah, beliau selalu mambawa rumput untuk makanan
kambingnya. Pak Ar juga termasuk sebagai salah satu ustadz
TPQ yang ada di dusun Semoyo, dan kebetulan juga rumah pak
Ar hanya terpaut satu rumah dengan TPQ tempat anak-anak
dusun Semoyo dan sekitarnya mengaji. Pak Ar masih cukup
muda. Beliau ramah terhadap siapapun. Pak Ar cukup luas
dalam memandang dunia pendidikan formal, meski pandangan
beliau lebih cenderung pada pendidikan di psantren yang
merupakan salah satu dari pendidikan non formal.
58
b. Ibu Zr
Nama
: Zr
Jabatan
: Ibu Rumah Tangga
Tanggal Wawancara : 05 November 2015 jam 17:08 WIB
Tempat
: Rumah Ibu Zr
Ibu Zr adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat
ramah. Pekerjaan beliau adalah membantu suaminya yang
berprofesi sebagai pedagang tengkulak. Adapun dagang
keluarga beliau adalah dagang musiman, dimana jika musim
tembakau, beliau berdagang tembakau, jika musim panen cabai
beliau membeli cabai dari warga dusun Semoyo. Kata beliau,
profesi sebagai pedagang tengkulak yang ada di Semoyo hanya
beliau saja, hal itu dikarenakan beliau tidak mempuyai sawah
sama sekali, tidak seperti kebanyakan warga yang mempunyai
sawah
yang sangat
luas.
Sehingga,
untuk
mencukupi
kebutuhannya beliau harus rajin-rajin membeli barang sebagai
dagangannya. Dalam memandang pendidikan, beliau selalu
mengikuti keinginan anaknya. Jika anaknya maju sekolah,
maka beliau akan berusaha menyekolahkan anaknya minimal
sampai SMP. Dan jika anaknya tidak mau sekolah, maka beliau
mendorong ananknya untuk mengaji di pondok pesantren.
59
c. Ibu Rn
Nama
: Rn
Jabatan
: Ibu Rumah Tangga
Tanggal Wawancara : 08 November 2015 jam 17:16 WIB
Tempat
: Rumah Ibu Rn
Ibu Rn adalah seorang ibu muda yang pekerjaannya
adalah sebagai petani. Ibu Rn setiap hari bekerja ke sawah
membantu suaminya. Ibu Rn merupakan lulusan SMP dan
sudah termasuk orang yang berpendidikan tinggi di dusun
Semoyo pada waktu itu. Kehidupan beliau tergolong sejahtera.
Dalam hal pendidikan, ibu Rn sudah peduli kegiatan
pendidikan. Beliau memperhatikan dengan pola belajar anak
dan menyeimbangkannya dengan mengajarkan anak agar rajin
membantu ke sawah. Meskipun sepulang sekkolah anaknya
disuruh ke sawah, tapi dalam hal pembiayaan anak, semacam
buku, alat tulis, uang saku, diperhatikan oleh orang tuanya,
sehingga, selain anak terbiasa bekerja tapi mempunyai waktu
yang cukup untuk belajar.
d. Ibu SM
Nama
: SM
Jabatan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Wawancara : 09 November 2015 jam 16:46 WIB
Tempat : Rumah Ibu SM
60
Ibu SM adalah warga dusun yang berprofesi sebagai
petani. Beliiau hidup dengan kondisi yang cukup. Beliau tidak
begitu paham akan pandidikan. Yang beliau tahu hanyalah
beliau menyekolahkan anaknya agar besok ketika anaknya
sudah besar bisa lebih baik dari ibunya.
Anak dusun Semoyo
Dalam melakukan penelitian pada anak, peneliti hanya
mengambil objek dari anak yang sudah kelas 6 saja. Ini
dikarenakan kelas 6 sudah mampu menjawab pertanyaan sesuai
logika berpikir mereka. Mereka juga sudah mulai mempunyai
pandangan kedepan sehingga segala pertanyaan yang sesuai
dengan penelitian yang dilakukan peneliti sudah bisa masuk dalam
logika berpikir mereka. Adapun nama-nama anak tersebut adalah :
a.
AR
AR adalah murid SD N Sugihmas kelas 6. Dia adalah
murid yang dalam pelajaran tergolong sedang. Namun, dia anak
yang rajin, setiap ada tugas sekolah selalu dikerjakan dengan
baik, dia tidak pernah sekalipun lupa dalam mengerjakan PR
maupun tugas lainnya. Ketika peneliti menanyakan apa
sebabnya dia rajin, dia selau menjawab bahwa ibunya setiap
malam menyuruh untuk belajar, sehingga dia tidak lupa pada
61
tugas-tugasnya. Adapun Waktu Wawancara pada tanggal 07
November 2015 jam 16:45 WIB.
b.
P
P adalah murid SD N Sugihmas klas 6. Dia anak lakilaki yang agak pendiam, meski dalam pelajaran juga tergolong
sedang, tapi dia punya kelebihan dalam menggambar dan
melukis, dia lebih menonjol pada bidang seni lukis dan
kaligrafi. P juga termasuk anak yang rajin. Setiap tugas yang
diberikan gurunya selalu dikerjakan. Dalam mengerjakan tugas
sekolah, dia tidak pernah disuruh orang tuanya, tapi dia
mempunyai inisiatif sendiri dalam belajar di rumahnya.
Wawancara dengan P yaitu tanggal 09 November 2015 jam
17:03 WIB.
c.
Af
Af juga merupakan siswa kelas 6. Dia anak seorang
guru TPA di dusun Semoyo. Dalam pelajaran agama dia
tergolong pandai, tapi dalam pelajaran lainnya tergolong
sedang. Dalam mengerjakan tugas dia selalu mengerjakan,
tetapi jawaban dari tugasnya kadang tidak sesuai dari apa yang
diinginkan oleh gurunya. Meskipun begitu, dia tergolong siswa
yang penurut terhadap semua perintah guru. Waktu wawancara
dengan Af adalah tanggal 11 November 2015 jam 17:17 WIB.
62
d.
MR
MR adalah siswa yang dalam hal pelajaran tergolong
lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman lainnya.
Meskipun dari berbagai pelajaran lambat, tapi dia tertib dalam
melaksanakan setiap tugas dari guru, walaupun lebih sering
tugas yang diberikan tidak sesuai dari apa yang diinginkan
gurunya. Waktu wawancara dengan MR adalah 16 November
2015 jam 17:07 WIB.
e.
Is
Is adalah siswa kelas 6 yang sangat pendiam, dia
tergolong pandai dalam hal pelajaran. Is adalah siswa yang
selalu menuruti segala perintah guru. Dia juga selalu tertib
dalam mengerjakan semua tugas dari guru. Wawancara dengan
Is adalah tanggal 18 November 2015 jam 16:48 WIB
f.
AM
AM adalah siswa kelas 6 yang suka humor. Dia
seringkali membuat ulah yang lucu. Meski demikian, dia tetap
selalu memperhatikan penjelasan guru. Dalam hal pelajaran pun
dia tergolong cukup pandai. Selain itu, semua tugas yang
ditugaskan oleh guru selalu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Adapun waktu wawancara dengan AM adalah tanggal 17
November 2015 jam 17:02 WIB.
63
g.
KB
KB adalah murid yang lumayan pandai. Meskipun
berbadan kecil, tapi dia jarang sakit, kalaupun hanya masuk
angin dia tetap berangkat ke sekolah. Biar tidak ketinggalan
pelajaran katanya. Semua tugas yang diberikan guru pun selalu
dikerjakan dengan baik. Waktu wawancara dengan KB adalah
tanggal 18 November 2015 jam 16:48 WIB.
h.
FR
FR adalah siswa yang tergolong biasa saja dalam hal
pelajaran. Namun, dia mempunyai kelebihan percaya diri yang
tinggi. Karena percaya diri, sewaktu kelas 4 dan 5 sering
mewakili sekolah untuk lomba pidato. Waktu wawancara
dengan FR adalah tanggal 22 November 2015 jam 16:45 WIB.
i.
R
R adalah siswa yang dalam hal pelajaran tergolong
lambat, dia juga kadang tidak mengerjakan tugas dari guru. Jika
ditanya tugasnya, alasannya sering ketinggalan. Jika disuruh
mengambil sampai lama baru kembali ke kelas. Adapun
waktuwawancara dengan R adalah tanggal 21 November 2015
jam 17:00 WIB
j.
DS
DS adalah siswa yang dalam hal elajaran juga tergolong
lambat. Dia sudah tidak semangat lagi belajar. Mungkin karena
64
perasaan minder bahwa dia merasa tidak bisa. Namun, semua
tugas yang diberikan guru selalu dikerjakan dengan baik.
Adapun waktu wawancara dengan DS adalah tanggal 25
November 2015 jam 16:50 WIB.
2. Hasil Wawancara
Wawancara dengan masyarakat
1. Apa yang bapak / ibu ketahui tentang pendidikan?
a. Pak S
Pendidikan itu ya yang ada di sekolah itu mas. Kala secara
pengertian saya tidak begitu tahu, tapi pendidikan menurut
saya adalah belajar, gitu aja
b. Pak Ar
Pendidikan niku nggih proses belajar ingkang kados ting
SD niku mas.
c. Ibu Zr
Pendidikan niku nggih sekolah ingkang sak duwur-duwure
pak. Sing cara dunyo niku nggih sekolah, sing cara akhirat
niku nggih ngaji.
d. Ibu Rn
Kalau menurut saya, pendidikan adalah suatu pelajaran
yang diberikan guru untuk muridnya pak. Murid yang
belajar di sekolah, akan mendapat pendidikan yang baik.
65
e. Ibu SM
Pendidikan niku nggih pelajaran ingkang wonten ting
sekolahan mas guru, ting mriku sing diparingi pelajaran
sing pirang-pirang, ngasi kadang komah niku mesake le
ndalu sok sinau
2. Apa yang bapak / ibu ketahui tentang pendidikan formal?
a. Pak S
Pendidikan formal itu ya SD, SMP, SMA itu mas.
b. Pak Ar
Pendidikan formal midherek kulo niku pendidikan nggen
negoro
c. Ibu Zr
Prndidikan formal niku midherek kulo nggih pendidikan
sing carane ting sekolahan ngaten niku pak.
d. Ibu Rn
Kalau pendidikan formal itu pendidikan di sekolah yang
mengajarkan tentang pelajaran masa kini.
e. Ibu SM
Pendidikan formal nggih pendidikan sing sae sanget kagem
lare-lare.
66
3. Bagaimana pandangan bapak / ibu tentang pendidikan formal?
a. Pak S
Kalau menurut saya, pendidikan di sekolah itu sangat
penting, pendidikan di sekolah berguna ketika masyarakat
sedang ada pejabat misalnya, anak yang mempunyai
pendidikan sekolah yang tinggi biasanya tidak grogi jika
menemui pak camat, atau siapa saja yang bertamu ke desa.
b. Pak Ar
Sekolah niku nggih penting sanget mas, nggih nyuwun seu,
lare ingkang mligi mondok biasane pergaulan nggen
masyarakat kirang, carane babagan nyambut damel nggih
tetep benten. Biasane malah luwih semangat ingkang
sekolah tok.
c. Ibu Zr
Sekolah niku penting, mondok nggih penting. Dados,
sekolah niku cara-carane kagem pados gawean, ndene
mondok kagem pados sangu damel akhirat.
d. Ibu Rn
Kalau saya, pendidikan di sekolah itu ya yang disitu
mendidik, mengajarkan sopan santun, dan sebagainya.
67
e. Ibu SM
Sekolah niku nggih ndadosaken lare luwih sae timbang
tiyang sepuhe. Pas alit nek di ajari maos, ngitung, kagem
lare-lare niku sae.
4. Apakah menurut bapak / ibu, pendidikan formal penting atau
tidak? Mengapa?
a. Pak S
Ya itu tadi, sekolah sangat penting buat masyarakat, jika
semisal ada tamu dari luar bisa menyambut, terus jika ada
rembug ketika ada kegiatan dalam masyarakat biasanya
orang
yang
sekolah
lebih
berani
mengutarakan
pendapatnya.
b. Pak Ar
Pendidikan sekolah midherek kulo penting, masalahe niku
nek sakniki minimal niku SMP kedah, masalahe nek lare
minimal SMP ngenjing ting pesantren niku memorine le
nangkep gampil. Nek kulo ngih tetep mentingke, mumpung
lare tasih alit.
c. Ibu Zr
Midherek kulo nggih penting pak, sakumpami kok ngenjang
ajeng pados damelan luwih gampil timbang nek mboten
sekolah, keranten jaman niku soyo majeng, dados sekolah
nggih penting, mondok nggih tetep penting.
68
d. Ibu Rn
Kalau menurut saya penting, karena dengan sekolah anak
bisa lebih pintar, bisa lebih berpikir luas, mandiri, tidak
terlalu tergantung dengan orang tua, tidak minder jika
bertemu orang lain yang tidak dikenal ataupun para
pejabat.
e. Ibu SM
Nggih tetep penting, keranten lare niku saget mikir ingkang
sae, saget mikir pundi ingkang leres, pundi ingkang salah.
5. Apakah yang bapak / ibu ketahui tentang pendidikan non
formal?
a. Pak S
Pendidikan non formal setahu saya ya pondok pesantren itu
mas
b. Pak Ar
Pendidikan non
formal niku nggih pendidikan ingkang
mikir babagan akhirat, ingkang niku nggih penting sanget
kagem sangu ngibadah ting dunyo
c. Ibu Zr
Nek kulo pendidikan sing mboten ting sekolahan niku nggih
namung pendidikan ting pondok pak.
69
d. Ibu Rn
Pendidikan non formal itu ya pendidikan di luar sekolah
yang mengajarkan tentang mengaji, bagaimana mengaji
yang baik, bagaimana bisa baca al qur’an dengan benar,
bagaimana bisa baca kitab kuning yang baik dan lancar
itu.
e. Ibu SM
Pendidikan sing mboten ting sekolah niku nggih pendidikan
ting pondok pesantren pak.
6. Menurut bapak / Ibu,apakah perbedaan output dari sikap
kedewasaan anak yang belajar di pendidikan formal dan non
formal?
a. Pak S
Ya jelas berbeda. Kalau dari sekolahan itu lebih pada
keberaninan dalam mengutarakan pendapatnya, selain itu,
kalau
di
sini, rasa menghargai
perbedaan dalam
masyarakat lebih tinggi daripada yang keluaran pondok.
Di sini itu yang nyantri malah lebih saklek, karepe kudu
plek agama, yang haram tetap haram, yang halal ya halal.
Kalau anak yang lulus SMP misalnya, jika ada yan tidak
jumatan ya tidak langsung ditegur bahwa itu dosa, tapi
dengan halus mengajak, ayo jumatan, gitu.
70
b. Pak Ar
Nggih tetep enten bentene mas, sing di alami ting dusun
niki, yen lare pondok niku babagan ngibadah luwih sregep,
nanging kadang ting masyarakat malah mboten nate medal,
nggih mboten ngertos nopo alasane. Ting babagan
rembagan nek lare sekolah niku luwih cerdas ngomong ting
ngajeng, luwih wantun. Dados, nggih tetep enten bedane
antarane tiyang sing mondok kalih sekolah niku.
c. Ibu Zr
Nggih tetep benten pak. Nek mriki niku nggih sami irenirenan menawi gadah gawe, biasane sing maju misale ting
ngantenan, tiyang sripah, niku sing lulusan SMP, la nek
sing ndongani niku sing saking pondok.
d. Ibu Rn
Biasanya kalau anak yang lulusan SMP saja terus tidak
mengaji malah lebih nakal. Mereka hanya kluyuran ngetan
ngulon tidak jelas. Berbeda dengan anak yang di pondok
pesantren. Mereka lebih anteng di rumah. Ibadahnya pun
lebih rajin. La anak-anak remaja sini yang tidak mondok
kadang jumatan saja tidak berangkat kok pak.
71
e. Ibu SM
Kulo mboten ngertos, wong kulo niki mbote sekolah inggil
nggih mboten ngaos. Neng kulo pingin nginjing anak kulo
niku pinter, manur kalih tiyang sepuhe.
7. Menurut bapak / ibu, apakah biaya sekolah itu mahal?
a. Pak S
Sebenarnya sama saja, sekolah tidak mahal, kalau sampai
SMP lho, anak saya blas tidak bayar kalau sekolah, palingpaling hanya LKS, apalagi umah itu, paling sehari Cuma
dua ribu, trus nanti ngaji di TPA minta seribu, ya biaya
hanya itu-itu saja. Kalau SMA saya tidak tau.
b. Pak Ar
Jane nggih mboten awis, sakniki niku mondok nggih tiap
bulane malah paling mboten 150, wong di masakke, dereng
jajane lare, nek sekolah niku ulya namung sedinten kalih
ewu mawon pun cekap.
c. Ibu Zr
Nggih nek di pikir-pikir biaya antarane sekolah kalih
mondok nik sami mawon pak. Riyen sek jamane eni ting
SMP nggih bayar LKS, buku, werni-werni. Jaman ting
pondok sesasi nggih tetep mboten cekap 300 eni niko, ali
sakniki seminggu nggih 10 ewu. Sesasi nak nggih tetep
sekitar ting 300 niku, dados nggih sami mawon.
72
d. Ibu Rn
Menurut saya ya tidak mahal, tapi juga tidak murah. Yang
berat itu adalah uang saku sehari-hari itu. Kalau pas ada
ya memang yidak terasa berat. Kalau pas tidak ada sampai
utang hanya karena uang saku.
e. Ibu SM
Nggih mboten awis, kulo namung nyangoni tok kok pak,
komah niku menawi pas tumbas buku sangune mboten
damel jajan, neng damel tumbas buku. Dadi nggih mboten
keberatan kulo.
8. Apakah
bapak
/
ibu
mempunyai
keinginan
untuk
menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi?
a. Pak S
Kalau saya pribadi iya, tapi semua tetap tergantiung
anaknya, nari karepe bocah to pak. Kalau anak saya yang
laki-laki itu setelah SMP pingin kerja, ya saya biarkan
saja. Kalau ingin sekolah atau mondok pun saya tetap
sanggup membiayai, bagaimanapun caranya.
b. Pak Ar
Nek kulo nggih tetep paling mboten ngenjing ulya niku
SMP riyen, njuk tak ken mondok. Soale nek lare wedok niku
ngreksane kedah luwih to pak. Nek ajeng dugi SMA niku
73
biasane lare ingkang sekolah SMA kalih mondok mboten
purun. Dados nggih tetep bar SMP mondok.
c. Ibu Zr
Nek kulo nderek larene niku mampu mikir mboten pak. Nek
larene mampu mikir nggih tak sekolahke, sopo ngerti
ngenjing nyambut damele luwih gampil, wong ajeng
nyambut damel ting saben mriki mboren gadah saben,
ajeng ken ngrumputke sapi wong nggh mboten gadah
sapine.
d. Ibu Rn
Iya, tetap pingin anaknya sekolah, tapi juga mbuh mangkih,
soalnya anak perempuan itu kalau sudah umur 17 tahun ke
atas kalau belum nikah ya bagaimana, paling setelah lulus
SD ini tak suruh mondok ke ngandong itu. Biar tidak hanya
sekolah saja, tapi ilmu agama juga dapat.
e. Ibu SM
Nek karepe kulo tak ken mondok mawon, wong cah wedok
niku kek pun rabi nggih pun di gondhol sing lanang to.
Ning mbuh, karepe komah pingin SMP riyen.
9. Bagaimana sikap anak yang dewasa menurut bapak / ibu?
a. Pak S
Kalau saya, anak yang dewasa itu anak yang mandiri,
setiap hari umpama ambil nasi sendiri, nyuci baju sendiri,
74
ngrewangi nyuci piring, untuk ukuran anak SD itu sudah
dewasa.
b. Pak Ar
Nek kulo lare ingkang dewasa niku lare sing saget
ngrewangi tiyang sepahe, nggih ajar asah-asah, ngumbahi
pakaiane kiyambak, nurut kalih tiyang sepah.
c. Ibu Zr
Nek midherek kulo lare ingkang dewasa niku lare ingkang
mboten boros sangune, saget nggunake arto sing sak
mestine, ting ngomah purun ngrewangi tiyang sepahe.
d. Ibu Rn
Sikap anak yan dewasa menurut saya adalah anak menjadi
baik, mempunyai sopan santun, anak menurut pada orang
tua, rajin, menghormati yang lebih tua. Saya kira jika itu
terdapat pada anak SD sudah kermasuk anak yang
bersikap dewasa, Karena rata-rata anak di sini epulang
sekolah malah bermain, malam juga hanya nonton TV, pagi
juga jarang ada yang membantu orang tua menyapu, nyuci
piring,
e. Ibu SM
Midherek kulo anak niku nurut kalih tiyang sepah kalian
mengertosi kawontenane tiyang sepah niku pun sae pak.
75
10. Menurut bapak / ibu, apakah pendidikan formal berpengaruh
terhadap sikap kedewasaan anak?
a. Pak S
Ya jelas berbeda, kalau anak yang sekolah ke jenjang yang
lebih tinggi biasanya lebih mandiri dalam memenuhi
kebutuhan sehari-harinya, selain itu, jika dalam acara
yasinan misalnya, ada rembugan yang penting, semisal
ngcor jalan orang yang minimal lulus SMP itu tidak
gontok-gontoka dalam berbicara. Berbeda sekali dengan
orang yang hanya lulus SD. Orang yang hanya lulus SD
kadang malah hanya ngregoni saja kalau rembugan, jika
tidak, hanya diam saja, tapi di belakang nggrundel.
b. Pak Ar
Nggih tetep wonnten, lare ingkang lulus mboten namung
SD niku carane lare srawung ting masyarakat niku luwih
kendel, kejawi niku biasane nek enten masalah saget
ngatasi kanti manah ingkang ngatos-atos, mboten grusa
grusu, ela elu. Nek namung lulusan SD nak enten masalah
biasane sing langsung ngamuk tiyang sepahe lah, sing
minggat pinten-pinten dinten lah.
c. Ibu Zr
Nek lare sing minimal lulus SMP tetep benten pak, menawi
lare sing nerusake sekolah niku biasane luwih ngerti
76
kahanan wong tuane, lare sing SMP niku cara-carane
sangune nggih pun saget ngatur sepinten kebutuhane, ting
griyo nggih mboten mung klonthang klanthung kados sing
mboten neruske, di atur nggih luwih gampil, mboten sak
karepa dewe.
d. Ibu Rn
Ya berpengaruh, dulu ketika ani masih kelas 3 saja bangun
masih kesiangan, sekarang karea sudah kelas enam bangun
pagi, langsung membantu saya memasak. Saya kira jika
anak lulus SMP lebih bisa membantu lebih banyak lagi,
tapi ada juga yang melanjutkan SMP malah semakin nakal.
Semua tergantung anaknya juga pak.
e. Ibu SM
Kulo niko mboten sekolah kok nggih, neng nek weruh sing
pinter-pinter niku remen sanget, saben esuk lare mangkat
sekolah pamit, wangsul dugi griyo nggih ngrewangi
mbokne ting tegal. Benten kalih cah ler niko sing mboten
sekolah. Anane mung numpak honda ngetan ngulon ra
jelas, nyepeti wong liyo to nggih pak nek ngaten niku.
77
Wawancara dengan Siswa
1. Apakah
kedua
orang
tuamu
bisa
membaca,
menulis,
menghitung?
a. AR
Ayah dan ibu saya bisa membaca, menulis, dan menghitung
b. P
Kedua orang tua saya bisa membaca, menulis, dan
menghitung
c. Af
Kedua orang tua saya bisa semua
d. MR
Kalau ayah tidak bisa membaca dan menulis,hanya sedikit
bisa menghitung. Kalau ibu bisa membaca, menulis,
menghitung
e. Is
Ayah dan ibu bisa membaca, menulis, dan menghitung.
f. AM
Kedua orang tua saya bisa membaca, menulis, dan
menghitung
g. KB
Ayah ibu saya bisa membaca, menulis, dan juga bisa
menghitung
78
h. FR
Ayah ibu saya bisa semua
i. R
Bisa semua
j. DS
Bisa semua, ayah dan ibu bisa baca, tulis, hitung
2. Apakah pendidikan terakhir kedua orang tuamu?
a. AR
Ayah lulus SD, Ibu lulus SMP
b. P
Ayah dan ibu lulus SD
c. Af
Ayah dan Ibu lulus SD
d. MR
Ayah dan ibu lulus SD
e. Is
Ayah dan ibu lulus SD
f. AM
Ayah dan Ibu lulus SD
g. KB
Ayah dan ibu lulus SD
h. FR
Ayah dan ibu saya lulus SD
79
i. R
Orang tua saya lulus SD
j. DS
Lulus SD semua
3. Mengetahui tingkat pendidikan kedua orang tuamu, Akan ke
manakah kamu setelah lulus SD?
a. AR
Saya ingin melanjutkan ke pondok pesantren
b. P
Kalau saya ingin meneruskan sekolah lagi ke SMP, setelah
itu tidak tau mau kemana.
c. Af
Saya ingin sekolah lagi
d. MR
Kalau saya ingin melanjutkan ke pondok pesantren
e. Is
Saya ingin sekolah meskipun orang tua tidak mendukukng
saya
f. AM
Kalau saya ingin melanjutkan sekolah
g. KB
Saya ingin bekerja membantu orang tua saya
80
h. FR
Saya ingin bekerja membantu orang tua saya
i. R
Saya ingin bekerja membantu orang tua saya
j. DS
Ingin bekerja saja, sudah malas sekolah
4. Mengapa kamu memilih (sekolah/pondok/di rumah) tersebut?
a. AR
Saya akan ke pondok karena keinginan orang tua saya
b. P
Karena sekolah sangat penting bagi saya
c. Af
Karena saya masih kecil, sehingga saya harus sekolah dulu
d. MR
Karena saya bisa akan mengetahui tentang tata krama
terhadap orang tua, seperti sopan kepada orang yang lebih
tua, kalau diperintah orang tua nurut. Di pondok saya juga
bisa mendoakan orang tua saya, terutama kakek, paman,
dan bibi saya yang sudah tiada.
e. Is
Agar saya lebih berpengalaman dan juga mendapatkan
ilmu yang lebih banyak.
81
f. AM
Karena kalau sekolah akan dapat dibutuhkan oleh
siapapun.
g. KB
Karena saya ingin bekerja membantu orang tua saya
h. FR
Tidak tahu, saya tidak tahu apakah saya mondok atau
sekolah
i. R
Karena akan sangat berguna bagi kita
j. DS
Ingin membantu orang tua saya saja
5. Apakah (sekolah/pondok/di rumah) mendapat dukungan orang
tuamu?
a. AR
Ya. Bapak ibu saya lebih mendukung saya ke pondok,
malah bapak ibu saya mengharuskan saya ke pondok.
b. P
Iya, saya mendapat dukungan dari bapak dan ibu saya
untuk sekolah ke SMP
c. Af
Ya, bapak ibu saya juga menyuruh saya ke SMP, kemudian
mondok
82
d. MR
Ya, karena orang tua saya lebih suka kalau saya mondok
e. Is
Iya, tapi kata ibu saya kalau tidak kuat nanti tidak usah
diteruskan
f. AM
Iya, mendapat dukungan dari orang tua
g. KB
Kalau orang tua saya lebih suka bahwa saya di rumah saja,
lalu membantu orang tua bekerja
h. FR
Tidak tahu, orang tua saya juga cuek saja kok
i. R
Kalau orang tua saya meminta saya untuk mondok saja
j. DS
Kalau ayah saya terserah saya saja. Tapi bapak meminta
saya untuk kejar paket B
6. Lebih suka manakah orang tuamu, anaknya sekolah, mondok,
atau di rumah membantu orang tua? Mengapa?
a. AR
Orang tua saya lebih suka saya di pondok, karena disana
akan mendapat ilmu agama yang banyak, sehingga menjadi
tidak nakal
83
b. P
Orang tua saya mendukung saya sampai SMP, kaena kalau
SMA katanya mahal
c. Af
Orang tua saya pingin saya mondok saja, tapi saya ingin
tetap sekolah dulu
d. MR
Orang tua saya sangat lebih suka saya di pondok, biar saya
tidak menjadi anak nakal
e. Is
Orang tua saya menyuruh saya di rumah saja, tapi saya
tetap ingin sekolah dulu
f. AM
Orang tua saya menyuruh saya sekolah SMP dulu, baru
mau mondok atau bekerja terserah
g. KB
Orang tua saya menyuruh saya di rumah saja membantu
orang tua
h. FR
Orang tua saya lebih mendukung saya mondok
i. R
Sekolah dulu, baru mondok
84
j. DS
Boleh bekerja, tapi kalau bisa tetap harus kejar paket B
katanya
7. Jika dari keinginanmu sendiri, ingin kemanakah kamu
sebenarnya? Mengapa kamu memilih (sekolah/pondok/di
rumah) tersebut?
a. AR
Di pondok saja, menuruti orang tua
b. P
Sekolah dulu, biar pintar dulu
c. Af
Sekolah. Saya ingin sukses
d. MR
Di pondok, karena ingin menuruti semua perintah orang
tua saya
e. Is
Saya ingin sekolah dulu
f. AM
Sekolah dulu
g. KB
Sebenarnya saya ingin mondok dulu, biar pintar mengaji
dulu
85
h. FR
Mondok, karena saya ingi menjadi pintar dan mengerti
hukum agama
i. R
Ingin sekolah, ingin seperti teman-teman lain
j. DS
Saya ingin bekerja membantu orang tua saya
8. Jika keinginanmu tidak sesuai dengan orang tua, apakah yang
akan kamu lakukan?
a.
AR
Saya tetap mengikuti keinginan orang tua saja
b. P
Kalau saya terserah ibu dan bapak
c. Af
Pasrah pada orang tua
d. MR
Saya lebih memilih menuruti orang tua saya
e. Is
Saya akan berusaha meyakinkan orang tua saya
f. AM
Saya akan berdoa kepada tuhan agar keinginan saya
terkabul
86
g. KB
Saya tetap harus menuruti orang tua saya
h. FR
Menuruti saja keinginan saya, kecuali keinginan saya tidak
pantas, maka saya harus menuruti orang tua
i. R
Lebih baik nurut dengan orang tua
j. DS
Saya akan berusaha nuruti orang tua
9. Menurutmu, penting manakah antara pondok dan sekolah?
Mengapa?
a. AR
Dua-duanya penting. Karena kalau sekolah jadi pandai
ilmu umum, kalau mondok jadi pintar ilmu agama
b. P
Penting semua, karena di sekolah dan TPA saya
mendapatkan ilmu
c. Af
Penting semua, biar pandai semua
d. MR
Penting pondok. Kalau sekolah itu banyak biayanya
e. Is
Sekolah, karena saya ingin sekolah dulu
87
f. AM
Sekolah, karena di sekolah mendapat pelajaran umum dan
agama, sedangkan di pondok tidak mendapat pelajaran
umum
g. KB
Di pondok, karena di pondok akan menjadi pintar membaca
kitab kuning
h. FR
Lebih penting pondok, untuk bekal di akhirat
i. R
Penting semua
j. DS
Tidak tahu
10. Menurut pengamatanmu, adakah perbedaan lulusan pondok
dan sekolah di masyarakat? Jika ada, apakah perbedaanya?
a. AR
Ada, kalau lulusan pondok lebih patuh pada orang tua
b. P
Semua tergantung orang yang melakukannya
c. Af
Ada, kalau lulusan pondok bisa memimpin tahlilan, kalau
lulusan sekolah pintar berbicara ketika mau rembugan
88
d. MR
Ada, kalau anak pondok itu hampir semua anak baik,
sopan pada orang tua, rajin shalat 5 waktu kalau di rumah.
Kalau anak sekolah banyak yang tidak sopan pada orang
tua
e. Is
Tidak ada, sama saja
f. AM
Semua lulusan pondok dan sekolah biasa saja
g. KB
Tidak ada, sama saja
h. FR
Tidak ada, hanya kalau anak pondok pakaiannya lebih
rapi, pakai jilbab
i. R
Ada, kalau anak pondok lebih rajin beribadah
j. DS
Ada, kalau anak pondok biasanya lebih rajin shalat
jamaah.
89
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Persepsi Masyarakat terhadap Pendidikan Formal
Dusun Semoyo merupakan sebuah dusun yang secara umum
masyarakat masih belum begitu menganggap penting akan dunia pendidikan.
Ini diketahui dari kesadaran masyarakat akan dunia pendidikan, yangmana
masih banyak ditemukan anak yang hanya sekedar lulus Sekolah Dasar, dan
sangat sedikit yang meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Fakta ini didapat
dari hasil survey ke sekolah dasar berdasarkan lulusan lima tahun yang lalu
sebagaimana tabel dibawah ini.
No Tahun
Jumlah lulusan
Jumlah anak yang melanjutkan
1
2011
24
7
2
2012
27
12
3
2013
25
10
4
2014
23
8
5
2015
25
11
Data diatas menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap
pendidikan formal masih minim. Terbukti dari 124 siswa kelas enam selama
lima tahun lalu hanya 48 siswa yang melanjutkan sekolah ke sekolah
menengah pertama. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya minat masyarakat
dalam pendidikan formal. Masyarakat pun kurang begitu mengetahui
90
tingkatan-tingkatan pendidikan dalam pendidikan formal. Sebagian besar dari
mereka hanya mengetahui sebatas SD dan SMP saja. Masih sangat sedikit
yang mengetahui tingkat sekolah menengah atas. Bahkan, pernah peneliti
bertanya pada seorang nenek, beliau hanya menjawab kulo niku mboten
ngertos sekolah mas, riyen mboten sekolah blas, sak ngertose kulo sekolah
niku nggih namung SD ingkang wonten ing pojok wetan deso niko.
B. Persepsi Masyarakat terhadap Pentingnya Pendidikan Formal
Dalam penelitian yang dilakukan kurang lebih 15 hari bisa diambil
kesimpulan dalam penemuan data bahwa masyarakat masih kurang peduli
terhadap pendidikan formal. Masyarakat belum sepenuhnya mengerti akan
arti dari pendidikan, utamanya pendidikan formal. Ini dibuktikan dengan hasil
wawancara peneliti dengan beberapa warga yang umumnya mereka
mengatakan bahwa:
a. Pak S, kepala dusun Semoyo
Masyarakat di dusun Semoyo masih banyak yang tidak
meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi mas. Kebanyakan dari mereka
hanya lulus sekolah dasar saja, selanjutnya mereka kalau tidak mondok
ya malah hanya pergi ke sawah membantu orang tuanya. Orang tua
mereka beranggapan bahwa orang yang lulus SMP atau SMA belum
tentu mendapat pekerjaan yang menentu, jadi, bagi kita orang desa itu
pekerjaan yang menentu adalah tani, yadi yang pasti bagi masyarakat
desa yang terpenting hanyalah bisa sekolah ke sekolah dasar atau
menengah bawah.
91
b. Pak Ar, warga dusun Semoyo
Untuk masyarakat sekitar sini, dari anak-anaknya sebetulnya
sudah mulai maju, hanya kadang orang tua yang kurang maju, anak
setelah pulang sekolah dikasih kerjaan, kadang ada juga yang anaknya
maju, orang tuanya maju, biaya yang kurang.
c. Ibu Zr, warga dusun Semoyo
Kalau orang sini itu kadang seumpama anaknya maju orang tua
tidak maju gitu mas, kadang yang tua maju, anaknya yag tidak mau,
begitu, kalau saya keinginannya ya karena saya tidak punya sapi
sehingga kalau saya ingin anak saya sekolah sekalian mengaji, kalau
tidak ya salah satunya, karena kalau dua-duanya anak juga keberatan
pikiran to mas.
Kurangnya kepedulian masyarakat dusun Semoyo ini juga
diketahui oleh masyarakat sekitar dusun Semoyo, ini terlihat dari
percakapan peneliti ketika peneliti pada waktu istirahat sekolah
berbincang-bincang dengan pak J, guru SD N Sugihmas 2 yang
mengatakan
“Wong tuwo murid kene ke saben esuk sangger anake wis mangkat
sekolah yo ra di openi meneh, ora di karuhke piye pelajaran nang
sekolahan, opo meneh yen musim tandur ngene iki, kadang anak rung do
tangi wong tuwo wis lungo nang tegal, dadi, wong tuwo ra tau ngerti
perkembangan anake, kadang, wong kene ke luwih mentingke sapine
timbang anake dewe”
92
Melalui perbincangan diatas dapat diambil gambaran bahwa dalam
mendidik anak, masyarakat dusun Semoyo masih kurang mempedulikan
pola pendidikan anak. Anak terlalu dibiarkan bebas ketika waktu siang
hari, sehingga untuk masalah kebersihan dirinya sendiri pun anak kurang
memperhatikan, bahkan, banyak ditemukan setelah sekolah anak hanya
berganti pakaian, kemudian bermain sampai terlalu larut sore. Semua ini
mempengaruhi minat belajar anak. Selain itu juga minat anak sendiri
untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi juga masih minim.
Terbukti dari lima tahun berlalu yang meneruskan sekolah ke Sekolah
Menengah Pertama selama lima tahun lalu selalu kurang dari 50 %. Hal ini
menunjukkan semangat dan kesadaran akan pendidikan formal dari anak
maupun orang tua masih sangat kurang.
C. Persepsi Anak terhadap Pendidikan Formal
Banyak persepsi anak dalam memandang dunia pendidikan. Untuk
saat ini, kebanyakan anak masih ingin melanjutkan pendidikan minimal
sampai SMP. Setelah SMP banyak dari mereka yang ingin ke pondok
pesantren, ada juga yang ingin bekerja membantu orang tua mereka.
Pemikiran anak-anak dusun Semoyo tentang pentingnya pendidikan formal
sedikit banya dipengaruhi oleh pemikiran orang tua yang masih memandang
bahwa pendidikan formal tidak begitu penting. Bisa membaca, menulis, dan
menghitung bagi masyarakat dusun Semoyo sudah dianggap cukup untuk
bekal hidup dalam masyarakat. Ada kemungkinan pemikiran seperti inilah
yang membuat anak-anak dusun Semoyo kurang bersemangat dalam belajar
93
di sekolah. Hal ini terlihat saat peneliti mengajar anak-anak dusun Semoyo,
ketika peneliti bertanya tentang sekolah, apakah mereka suka sekolah atau
tidak, banyak jawaban mereka tentang hal ini.
Kata AR, anak dusun Semoyo siswa kelas 6, “saya ingin melanjutkan
ke pondok pesantren”. Pilihan AR tersebut bukan semata-mata karena pilihan
sendiri, tapi lebih karena pilihan orang tua yang mengharuskan anaknya
setelah SD
mondok di pondok pesantren. Sehingga dalam menentukan
pilihannya sendiri selalu tergantung pada oranng tuanya. Ini berpengaruh pada
semangat belajar anak di sekolah. Anak menjadi kurang aktif dalam
mengikuti pembelajaran di sekolah, sehingga, ketika anak kurang paham
dengan penjelasan guru, maka si anak tidak ada inisiatif untuk bertanya.
Ketika hal ini terus-menerus, maka persepsi anak tentang dunia pendidikan
juga akan mengikuti pandangan orang tua yang menganggap bahwa
pendidikan tidak begitu penting.
Wawancara dengan P, siswa kelas 6, mengatakan “Kalau saya ingin
meneruskan sekolah lagi ke SMP, setelah itu tidak tau mau kemana”.
Memang si anak mengatakan akan ke SMP, akan tetapi setelahnya belum
mempunyai tujuan yang pasti. Hal ini dikarenakan orang tua si anak tidak
begitu memberikan perhatian tentang pendidikan anaknya, sehingga, anak
tidak begitu mengetahui apa yang akan dilakukannya. Sikap orang tua yang
seperti itu juga mempengaruhi pola belajar anak. Anak menjadi tidak
mengetahui cara belajar yang efektif. Keadaan seperti ini menjadikan anak
tidak begitu bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, ketika anak kurang
94
bersemangat dalam belajar secara otomatis apa yang diajarkan guru juga
kurang begitu terserap dalam pikiran anak. Jika hal ini terjadi terus-menerus,
maka pandangan anak tentang dunia pendidikan tidak akan berkembang.
Anak akan selalu menganggap bahwa pendidikan formal hanya pelajaranpelajaran yang hanya butuh pemikiran yang menggunakan kecerdasan otak
saja. Keadaan ini akan berlanjut pada pemikiran negatif tentang pendidikan
formal yang menganggap bahwa pendidikan formal tidak begitu penting.
Pandangan Af “Karena saya masih kecil, sehingga saya harus sekolah
dulu”. Pandangan seperti itu bagus. Ketika anak masih kecil, yang dilakukan
adalah belajar untuk masa depan. Pandangan seperti ini terjadi karena dalam
hal sekolah mendapat dukungan dari orang tuanya. Jika dilihat, orang tua dari
anak sudah mempunyai wawasan tentang pendidikan formal, meskipun dalam
wawancara selanjutnya disebutkan “Ya, bapak ibu saya juga menyuruh saya
ke SMP, kemudian mondok”. Hal ini dikarenakan latar belakang orang tuanya
yang juga sebagai guru mengaji di TPA. Sehingga, anaknya juga diwajibkan
untuk mondok di pondok pesantren.
Berbeda dengan pemikiran MR yang berorientasi pada pondok
pesantren. “Kalau saya ingin melanjutkan ke pondok pesantren”. Alasan
ingin ke pondok pesantren tak lain adalah ingin membahagiakan orang
tuanya, “Saya lebih memilih menuruti orang tua saya”. Pengarahan orang tua
ke pondok pesantren tanpa sekolah mejadikan anak tidak mempunyai
semangat untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Sebagai hasilnya, prestasi
dari anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan guru di sekolahnya.
95
Pandangan siswa tentang dunia sekolah yang patut ditiru adalah Is.
Meskipun kurang mendapat dukungan dari orang tua, tetapi tetap mempunyai
prinsip akan melanjutkan sekolah. “Orang tua saya menyuruh saya di rumah
saja, tapi saya tetap ingin sekolah dulu”. Prinsip untuk maju kedepan
menghadapi tantangan ini jarang dimiliki oleh anak usia SD, dimana
kebanyakan anak usia SD biasanya lebih cenderung pada menuruti segala
perintah orang tua, termasuk dalam hal pendidikan yang akan dilakukan
dimasa yang akan datang. Prinsip ini yang akan dapat merubah pandangan
masyarakat tentang pendidikan formal.
Prinsip yang sejalan dengan pemikiran kepala dusun Semoyo adalah
AM. Dia berpikiran, kelak jika sekolah akan dibutuhkan oleh siapapun,
“Karena kalau sekolah akan dapat dibutuhkan oleh siapapun”. Pemikiran
seperti ini memang seperti apa yang digambarkan Pak S, bahwa implikasi dari
pendidikan di Sekolah yaitu anak mempunyai kepercayaan diri ketika bertemu
dengan orang yang penting, seperti pejabat. Dan juga ketika bermusyawarah
antar
warga bisa menyampaikan ide-ide yang berguna bagi masyarakat
dusun.
Pemikiran umum masyarakat tentang pendidikan formal yang masih
belum menganggap penting juga tercermin juga pada KB. “Saya ingin
bekerja membantu orang tua saya”. Pemikiran ini masih banyak dimiliki
masyarakat yang secara umum “mendewakan” harta merupakan segalagalanya. Pandangan KB bukan tanpa alasan, orang tuanya juga lebih suka
anaknya dirumah membantu orang tua, sebagaimana ungkapnya “Kalau
96
orang tua saya lebih suka bahwa saya di rumah saja, lalu membantu orang
tua bekerja”. Pandangan seperti inilah yang memerlukan waktu yang tidak
singkat untuk merubahnya.
Pandangan yang cenderung apatis dalam hal pendidikan formal juga
ada didalam masyarakat dusun Semoyo. Salah satunya adalah tercermin pada
FR, yang bahkan dia sendiri tidak mengetahui apa yang akan dilakukan.
“Tidak tahu, saya tidak tahu apakah saya mondok atau sekolah, orang tua
saya juga cuek saja kok”. Jika orang tuanya membiarkan terus-menerus, dan
anak juga tidak mempuyai inisiatif sendiri, maka yang terjadi adalah anak
hanya di rumah, tidak melanjutka sekolah, tidak juga ke pondok pesantren. Ini
sangat mengkhawatirkan, mengingat masa-masa setelah usia SD sudah
memasuki masa puber yangmana anak memiliki gejolak yang sangat besar.
Dan jika tidak segera ada perubahan sikap orang tua, besar kemungkinan anak
akan menjadi “remaja nakal” yang hanya akan menjadi perbincangan buruk di
masyarakat.
Pandangan lain yang cenderung lebih memilih pendidikan non formal
adalah R, sebagaimana dalam perkataannya, “Belum ada rencana, tapi
sepertiya akan mondok”. Keinginan anak ini tidak lain karena disuruh orang
tua untuk tidak melanjutkan pendidikan sekolahnya, tapi lebih memililh ke
pondok pesantren. Pandangan orang tua yang hanya berorientasi pada pondok
pesantren saja inilah yang juga mempengaruhi semangat belajar anak ketika
di sekolahan.
97
Persepsi anak yang menganggap pendidikan formal tidak penting
adalah DS, meski orang tuanya mendukung ke pendidikan, anaknya juga tetap
tidak mau melanjutkan sekolah, dan memilih bekerja, sebagaimana ucapannya
“Ingin bekerja saja, sudah males sekolah”. Keinginan anak untuk tidak
melanjutkan sekolah ini merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan
sekolah, mengingat masa-masa setelah SD belum masanya untuk bekerja
sebagaimana orang tuanya.
D. Implikasi Pendidikan terhadap Kedewasaan Anak
Meskipun masyarakat
pendidikan
dusun
Semoyo kurang peduli
terhaap
formal, masyarakat sebenarnya tetap beranggapan bahwa
pendidikan formal mempunyai dampak pada sikap kedewasaan anak, menurut
masyarakat dusun Semoyo, semakin tinggi pendidikan anak, maka kontribusi
anak kepada masyarakat juga semakin besar. Berikut ini hasil wawancara
peneliti dengan sebagian masyarakat dusun Semoyo:
a. Pak S, kepala dusun Semoyo
Bagi anak yang meneruskan ke sekolah maupun tidak biasanya
ada bedanya, bedanya pada masalah bergaul dengan masyarakat atau
pengalaman, tapi dalam masalah pekerjaan secara keseluruhan sama
saja. Cuma ketika anak hanya lulus Sekolah Dasar ketika dewasa juga
tetap ada kekurangannya. Ketika mempunyai masalah dalam masyarakat
kurang bisa memberikan jalan keluarnya. Kadang juga anak yang hanya
lulus Sekolah Dasar kemudian langsung ke pondok pesantren dalam hal
98
bergaul dengan tetangga juga kurang, karena yang mereka pikirkan
terlalu ke akhirat saja.
b. Pak Ar, warga dusun Semoyo.
Menurut saya, pendidikan sangat penting,masalahnya, jika mau
ke pesantren, kalau anak minimal lulus SMP memori anak lebih cerdas,
kalau saya mumpung masih kecil ya sekolah dulu, semampunya biaya.
Kalau masalah sekolah jika ada berbagai kegiatan masyarakat jika ada
pejabat atau orang penting lainnya bisa berbicara, jika dalam acara
kumpulan kelihatan perbedaan lulusan sekolah tinggi dibandingkan
lulusan sekolah dasar, misalnya ketika rembugan mau “ngecor” jalan,
itu sangat kelihatan sekali perbedaannya.
c. Ibu Zr, warga dusun Semoyo.
Pendidikan sangat penting sekali. Dalam pendidikan di sekolah,
nanti harapannnya adalah dalam mencari pekerjaan lebih enak, bisa
mendapat pekerjaan yang mapan, meski sebagian besar warga disini
beranggapan bahwa sekolah setinggi-tingginya nanti juga tidak bakal
jadi pegawai. Mereka berkata seperti itu karena mereka sawahnya
banyak dan juga luas. Coba kalau seperti saya yang tidak punya sawaah
ini. Harapannya tetap sekolah sampai SMA, kemudian anak bisa bekerja
yang mapan.
Dari wawancara diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat
dusun Semoyo sudah mempuyai pemikiran yang mulai maju tentang
pendidikan. Masyarakat juga sadar bahwa pendidikan berdampak pada
99
kontribusi masyarakat ketika dihadapkan pada permasalahan-permasalahan
yang ada di masyarakat, serta kedewasaan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Hanya saja tidak sedikit juga warga masyarakat masih banyak yang
mengeluhkan masalah-masalah dalam pendidikan. Ini dikarenakan pemikiran
masyarakat dusun Semoyo yang masih bisa dibilang terbelakang. Pemikiran
ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya:
a) Kemiskinan
Kendala utama masyarakat dalam hal pendidikan secara umum
adalah karena kemiskinan. Sebagian masyarakat miskin desa secara
umum mampu membiayai kegiatan pembiayaan pendidikan yang dalam
hal pembayaran dilakukan secara berkala, seperti membayar LKS,
pembelian alat tulis, pembelian alat sekolah. Akan tetapi kebanyakan dari
para orang tua mengeluhkan masalah pembiayaan sehari-hari anak
mereka, seperti uang saku, uang transportasi, dan lain-lain. Pembiayaan
sehari-hari inilah yang seringkali menjadi kendala masyarakat di dusun
Semoyo.
b) Tingkat pendidikan yang rendah
Kebanyakan tingkat pendidikan masyarakat dusun Semoyo masih
sebatas sekolah dasar, sedikit orang tua dari masyarakat dusun Semoyo
yang sampai sekolah menengah. Rendahnya pendidikan ini yang kadang
dari setiap menusia mempunyai pemikiran bahwa sekolah hanya
membuat beban bagi keluarga saja, dan menganggap bahwa sekolah tidak
terlalu penting, yang penting bisa baca, tulis, dan hitung. Itu sudah sangat
100
bagus, sehingga sebagian warga dalam membeli sepatu untuk anak saja
kadang ditangguhkan.
c) Orientasi pada harta benda saja
Sikap masyarakat yang hanya berorientasi pada kekayaan secara
materi juga menghambat kemajuan pendidikan di dusun Semoyo. Banyak
warga dusun Semoyo yang beranggapan bahwa harta kekayaan seperti
sawah, tegal, hewan ternak, dijadikan ukuran kekayaan bagi warga dusun
Semoyo. Masyarakat menganggap seorang warga dianggap kaya jika ia
memiliki sapi yang banyak, atau sawah yang luas. Mereka menganggap
hanya orang yang seperti itulah orang yang bisa menyekolahkan anak ke
tingkat yang setinggi-tingginya. Adapun orang yang memiliki sawah, sapi
yang banyak biasanya juga beranggapan bahwa sekolah tidak penting.
Ketika peneliti suatu ketika berbincang-bincang dengan warga, beliau
mengatakan ”sekolah niku mboten jaminan angsal damelan ingkang
mapan pak, ingkang mboten sekolah kadang malah kathah ingkang saget
sugih.”
d) Kurangnya minat Orang tua dalam hal pendidikan
Minat orang tua dalam masalah pendidikan juga masih bisa
dibilang rendah. Ini terbukti dalam keseharian anak-anak yang ada di
dusun Semoyo. Setiap pagi, terutama bagi anak yang masih kecil, jarang
mandi sebelum berangkat sekolah karena setiap pagi seringkali orang tua
mereka sudah berangkat ke sawah. Setelah pulang sekolah, anak mulai
kelas empat banyak yang ke sawah membantu orang tua mereka, ada
101
yang membantu membawa pupuk kandang, ada yang membantu
menanam cabai, ada juga juga yang mencari rumput untuk sapi-sapi yang
mereka pelihara. Ketika peneliti menanyakan, kebanyakan dari mereka
mengaku disuruh oleh kedua orang tuanya. Ada juga yang mengaku
dimarahi jika sepulang sekolah tidak membantu orang tua ke sawah.
Selain itu ada juga orang tua yang sekan-akan “tidak mau tahu” dengan
anaknya. Anaknya dibiarkan bermain sepuasnya, jika waktu dzuhur
disuruh makan, setelah itu bermain lagi sampai sore. Kegiatan terlalu
banyak bermain bagi anak juga tidak baik. Ini berdampak pada kegiatan
pembelajaran anak di sekolah. Anak yang kesehariannya bermain saja
ketika di sekolah cenderung lebih sulit diatur. Sedangkan anak yang
kesehariannya terlalu banyak di sawah dalam pembelajaran di sekolah
cenderung pasif dalam pelajaran. Mereka hanya diam memperhatikan,
tidak banyak inisiatif dengan pertanyaan yang ia belum mengetahuinya.
e) Kurangnya minat anak terhadap pendidikan
Kurangnya perhatian orang tua dalam hal pendidikan bisa
menyebabkan minat anak dalam belajar juga berkurang. Pernah suatu
ketika peneliti bertanya pada anak kelas 4, dia menjawab “kulo mboten
sinau nggih mae mboten nyeneni kok”, ini menandakan bahwa orang tua
kurang peduli terhadap prestasi anaknya.
102
f) Kecenderungan orang tua hanya pada pendidikan non formal. (dalam hal
ini pondok pesantren)
Banyak warga yang jika anaknya tidak mengaji di TPA, maka
anaknya dimarahi. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua lebih
mengutamakan pendidikan agama daripada pendidikan umum. Memang,
orang yang mempunyai pendidikan agama yang sangat bagus dalam hal
beribadah, kesopanan terhadap orang yang lebih tua, mereka lebih
mempunyai nilai lebih dalam masyarakat, akan tetapi, jika pendidikan
non formal dilanjutkan setelah lulus SD, ketika masa tua akan lebih sulit
beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Banyak dari orang yang hanya
ke pondok pesantren saja ketika melihat kondisi masyarakat lebih
cenderung menjustifikasi bahwa masyarakat tempat dia tinggal sudah
sangat buruk. Akibatnya, jika tidak mempunyai metode yang tepat untuk
menyadarkan masyarakat agar sesuai keinginannya, maka yang terjadi
hanyalah akan banyak dibenci masyarakat sekitar. Selain itu, pemikiran
atau tindakan
yang dianggap tidak sesuai dengan agama, maka
cenderung dibencinya, sehingga, terjadi kecenderungan menyendiri dari
masyarakat yang ada.
103
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian dan penjelasan dari bab 1 sampai IV diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa:
3. Masyarakat dusun Semoyo, desa Sugihmas, kecamatan Grabag,
kabupaten Magelang sadar akan pentingnya dunia pendidikan formal.
Hanya saja, kepedulian masyarakat akan pendidikan formal masih
kurang. Masyarakat juga sadar bahwa pendidikan berdampak pada
kontribusi
masyarakat
ketika
dihadapkan
pada
permasalahan-
permasalahan yang ada di masyarakat, serta kedewasaan anak dalam
kehidupan sehari-hari. Hanya saja tidak sedikit juga warga masyarakat
masih banyak yang mengeluhkan masalah-masalah dalam pendidikan. Ini
dikarenakan pemikiran masyarakat dusun Semoyo yang masih bisa
dibilang terbelakang.
4. Banyak persepsi anak dalam memandang dunia pendidikan. Untuk saat
ini, kebanyakan anak masih ingin melanjutkan pendidikan minimal
sampai SMP. Setelah SMP banyak dari mereka yang ingin ke pondok
pesantren, ada juga yang ingin bekerja membantu orang tua mereka.
Pemikiran anak-anak dusun Semoyo tentang pentingnya pendidikan
formal sedikit banya dipengaruhi oleh pemikiran orang tua yang masih
memandang bahwa pendidikan formal tidak begitu penting. Bisa
104
membaca, menulis, dan menghitung bagi masyarakat dusun Semoyo
sudah dianggap cukup untuk bekal hidup dalam masyarakat.
5.
Masyarakat dusun Semoyo sudah mempuyai pemikiran yang mulai maju
tentang pendidikan. Masyarakat juga sadar bahwa pendidikan berdampak
pada kontribusi masyarakat ketika dihadapkan pada permasalahanpermasalahan yang ada di masyarakat, serta kedewasaan anak dalam
kehidupan sehari-hari. Adapun dampak kedewasaan yang nyata bagi anak
yang meneruskan pendidikan formal pada umumnya berbeda dalam
masalah bergaul dengan masyarakat atau pengalaman. Anak yang
meneruskan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi di dusun
Semoyo biasanya lebih percaya diri dalam mengeluarkan pndapatnya di
masyarakat ketika sedang bermusyawarah.
B. Saran
1. Bagi masyarakat dusun Semoyo, perlu diadakannya penyuluhan tentang
pentingnya pendidikan formal bagi anak, sehingga kedepan ada kemajuan
di dusun Semoyo.
2. Perlu adanya perhatian pada anak dalam hal pendidikan formal, misalnya
dalam hal belajar anak perlu didampingi, sehingga orang tua mengetahui
perkembangan belajar anak.
3. Perlu adanya pemberian kesempatan dan keseimbangan pola belajar anak
dengan membantu orang tua ataupun bermain anak, sehingga, anak selain
bisa membantu orang tua juga bisa belajar dengan maksimal.
105
4. Bagi anak-anak dusun Semoyo, perlu diadakan kegiatan belajar
kelompok di dusun, sehingga anak-anak lain yang belum pandai bisa
mengikuti pelajaran di sekolah.
5. Diperlukan pengaturan waktu sendiri agar antara membantu orang tua
dan belajar seimbang, sehingga, selain bisa meringankan beban orang tua
juga bisa tetap belajar dengan baik.
106
Daftar Pustaka
Ariyanti, Isni. 2010. Persepsi dan Motivasi Guru dalam Berjilbab ( Studi pada
Guru SMA N 1 Suruh tahun 2010). IAIN Salatiga. Skripsi
Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Fajri, Em Zul, Ratu Aprilia Senja. 2009. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Jakarta: Diva Publisher
Fatchurrohman. 2012. Kemitraan pendidikan. Relasi Sinergis antara Sekolah,
Keluarga, dan Masyarakat. Salatiga: STAIN Salatiga Press
Hanurawan, Fattah. 2012. Psikologi Sosial, Suatu Pengantar. Bandung : Remaja
Rosda Karya
Hude, Darwis. 2006 Emosi. (terjemah). Jakarta : Erlangga.
Islamuddin, Haryu, Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2012
Mudyahardjo, Redja. 2010. Pengantar Pendidikan, Sebuah Studi Awal Tentang
Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indoneia.
Jakarta : Raja Grafindo Persada
Mulyono, Konsep Pembiayaan Pendidikan. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.2010
Purwanta, Edi. 2012 Modifikasi Pelaku, alternatif
berkebutuhan khusus. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
penanganan
anak
Rakhmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda
Karya.
Saleh, Abdurrohman, Dkk. 2004. Psikologi, suatu pengantar. Jakarta: Prenada
Media
Sa‟ban, Muhammad, Dkk. 2012.
Prsima Sinergi
AlQur‟an dan Terjemahan. Jakarta: Surya
Soyomukti, Nurani. 2010. Teori-teori Pendidikan. Jogjakarta: Ar Ruzz Media
Setyadi, Elly M. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta
Soehartono, Soeparlan. 2008. Wawasan Pendidikan, Sebuah Pengantar.
Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Syukur, Abdul. 2014. Profesi Pendidik. Salatiga : STAIN Salatiga Press.
Tilaar, H.A.R. 2006. Manajemen Pendidikan Nasional, kajian Pendidikan masa
depan. Bandung : Remaja Rosda Karya
___________, 2012Perubahan Sosial dan Pendidikan, Pengantar Paedagogik
Transformatif untuk Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta
Tim penyusun kamus. 2007. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka.
Tirtarahardja, Umar, La Sula. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Undang-undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) nomor 20 yahun
2003. Jakarta : Sinar Grafika. 2009
Walgito, Bimo. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR NILAI SKK
Nama
Dosen P.A
No
1.
2.
3.
4.
5.
: Nur Aslikudin
: Dra. Ulfah Susilawati. M. Si.
Jenis Kegiatan
Orientasi Pengenalan Akademik dan
Kemahasiswaan (OPAK) “Revitalisasi
Gerakan Mahasiswa di Era Modern
Untuk Kejayaan Indonesia”
Achievement Motivation Training
(AMT) “Membangun Mahasiswa
Cerdas Emosi, Spiritual, dan
Intelektual”
Orientasi Dasar keislaman (ODK)
“Menemukan Muara Sebagai
Mahasiswa Rahmatan Lil Alamin”
Seminar Entrepreneurship dan
Koperasi
User Education (Pendidikan Pemakai)
MTQ ke 3 mahasiswa JQH dengan
6. tema “melalui MTQ kita raih prestasi
menjadi insan Qurani”
GEMA ITTAQO dengan tema “Fathu
7.
Afaqil „Alam bil Lughotil „Arobiyah”
Pelatihan penggunaan maktabah
syamilah dan mengetik arab cepat
dalam rangka STAIN ARABY dengan
8.
tema “bahasa arab sebagai penunjang
perkuliahan mahasiswa” oleh
ITTAQO STAIN Salatiga.
Seminar regional dengan tema “peran
9. mahasiswa dalam BLSM (BLT) tepat
sasaran” oleh DEMA STAIN Salatiga.
Lomba khitobah dalam rangka Milad
10.
X LDK STAIN Salatiga tanggal
NIM
Jurusan
: 111 11 152
: PAI
Waktu
Pelaksanaan
Status
Skor
20-22
Agustus 2011
Peserta
3
23 Agustus
2011
Peserta
24 Agustus
2011
Peserta
2
Peserta
2
Peserta
2
18 september
2011
Peserta
2
29 Oktober
2011
Peserta
2
17 Maret
2012
Peserta
2
3 Mei 2012
Peserta
4
12 Mei 2012
Peserta
2
25 Agustus
2011
19 September
2011
2
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Seminar bahasa dengan tema
“problematika dan solusi pengajaran
bahasa” ITTAQO STAIN Salatiga.
Bimbingan belajar menghadapi UAS
siba sibi dengan tema “meningkatkan
khazanah keilmuan mutakhir dengan
bahasa inggris dan bahasa arab” oleh
ITTAQO STAIN Salatiga.
Musabaqoh Lughoh Arobiyah dengan
tema “mewujudkan potensi berbahasa
dengan musabaqoh lughoh arobiyah
MLA”
Kegiatan Siba-sibi training UAS
Semester ganjil tahun CEC_ITTAQO
STAIN Salatiga.
Gema ITTAQO dengan tema
“aktualisasi bahasa arab dalam
menjaga khazanah keilmuan islam
mutakhir.
Tabligh akbar “tafsir tematik dalam
upaya menjawab peesoalan Israel dan
Palestina . landasan QS Al Fath:2627” JQH STAIN Salatiga.
Workshop KKG PAUD TPQ Kota
Salatiga dengan tema “workshop kiat
jitu pengembangan dan pengelolaan
manajemen PAUD” tanggal di hall
pemerintah kota Salatiga
Seminar Nasional dalam rangka
pelantikan pengurus HMI cabang kota
Salatiga dengan tema “kepemimpinan
dan masa depan bangsa
Seminar Nasional bahasa arab dengan
tema “Inovasi pembelajaran bahasa,
upaya menjaga eksistensi dan masa
depan pembelajaran bahasa arab”
ITTAQO STAIN Salatiga.
GEMA ITTAQO 2013 dengan tema
“mengukuhkan eksistensi bahasa arab
dalam ranah pendidikan islam di era
2 juni 2012
Peserta
2
22 Juni 2012
Peserta
2
17 Oktober
2012
Panitia
3
30 Oktober
2013
Panitia
3
27-28
Oktober 2012
Panitia
3
1 Desember
2012
Peserta
2
27 Januari
2013
Peserta
2
23 Februari
2013
Peserta
8
9 Oktober
2013
Panitia
16-17
november
2013
Panitia
8
3
modern” tanggal
Kegiatran siba-sibi training UAS
21. semeter ganjil CEC-ITTAQO STAIN
Salatiga
Sosialisasi penanggulangan
HIV/AIDS SR-NU cabang kota
Salatiga dengan tema “pelajar
22.
berkualitas tanpa HIV/AIDS, pelajar
berakhlak tanpa diskriminasi pelaku
HIV/AIDS tanggal
SK Ketua STAIN Salatiga tentang
23.
panitia MLA 2014
10-11 januari
2014
Panitia
3
6 april 2014
Panitia
6
28 April
2014
Panitia
3
INSTRUMEN PERTANYAAN
A. Orang tua
1. Apa yang bapak ketahui tentang pendidikan?
2. Apa yang bapak ketahui tentang pendidikan formal?
3. Bagaimana pandangan bapak tentang pendidikan formal?
4. Apakah menurut bapak, pendidikan formal itu penting atau tidak?
Mengapa?
5. Apakah yang bapak ketahui dari pendidikan non formal?
6. Menurut bapak, apakah perbedaan output dari sikap kedewasaan anak
yang belajar di pendidikan formal dan non formal?
7. Menurut bapak, apakah biaya sekolah itu mahal atau tidak?
8. Apakah bapak mempunyai keinginan untuk menyekolahkan anak ke
tingkat pendidikan yang lebih tinggi?
9. Bagaimana sikap anak yang dewasa menurut bapak?
10. Menurut bapak, apakah pendidikan formal berpengaruh terhadap sikap
kedewasaan anak?
B. Anak
1. Apakah kedua orang tuamu bisa membaca, menulis, menghitung?
2. Apakah pendidikan terakhir kedua orang tuamu?
3. Mengetahui tingkat pendidikan kedua orang tuamu, Akan ke manakah
kamu setelah lulus SD?
4. Mengapa kamu memilih (sekolah/pondok/di rumah) tersebut?
5. Apakah yang menjadi sebab kamu memilih (sekolah/pondok/di rumah)
tersebut?
6. Apakah (sekolah/pondok/di rumah) mendapat dukungan orang tuamu?
7. Lebih suka manakah orang tuamu, anaknya sekolah, mondok, atau di
rumah membantu orang tua? Mengapa?
8. Jika dari keinginanmu sendiri, ingin kemanakah kamu sebenarnya?
Mengapa kamu memilih (sekolah/pondok/di rumah) tersebut?
9. Jika keinginanmu tidak sesuai dengan orang tua, apakah yang akan
kamu lakukan?
10. Menurutmu, penting manakah antara pondok dan sekolah? Mengapa?
11. Menurutmu pengamatanmu, adakah perbedaan lulusan pondok dan
sekolah di masyarakat? Jika ada, apakah perbedaanya?
Hasil Wawancara
Nama
: Samhari
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Jabatan
: Kepala Dusun
Waktu Wawancara
: tanggal 3 desember 2015 jam 18.03
11. Apa yang bapak ketahui tentang pendidikan?
Pendidikan itu ya yang ada di sekolah itu mas. Kala secara pengertian
saya tidak begitu tahu, tapi pendidikan menurut saya adalah belajar,
gitu aja
12. Apa yang bapak ketahui tentang pendidikan formal?
Pendidikan formal itu ya SD, SMP, SMA itu mas
13. Bagaimana pandangan bapak tentang pendidikan formal?
Kalau menurut saya, pendidikan di sekolah itu sangat penting,
pendidikan di sekolah berguna ketika masyarakat sedang ada pejabat
misalnya, anak yang mempunyai pendidikan sekolah yang tinggi
biasanya tidak grogi jika menemui pak camat, atau siapa saja yang
bertamu ke desa
14. Apakah menurut bapak, pendidikan formal itu penting atau tidak?
Mangapa?
Ya itu tadi, sekolah sangat penting buat masyarakat, jika semisal ada
tamu dari luar bisa menyambut, terus jika ada rembug ketika ada
kegiatan dalam masyarakat biasanya orang yang sekolah lebih berani
mengutarakan pendapatnya
15. Apakah yang bapak ketahui dari pendidikan non formal?
Pendidikan non formal setahu saya ya pondok pesantren itu mas
16. Menurut bapak, apakah perbedaan output dari sikap kedewasaan anak
yang belajar di pendidikan formal dan non formal?
Ya jelas berbeda. Kalau dari sekolahan itu lebih pada keberaninan
dalam mengutarakan pendapatnya, selain itu, kalau di sini, rasa
menghargai perbedaan dalam masyarakat lebih tinggi daripada yang
keluaran pondok. Di sini itu yang nyantri malah lebih saklek, karepe
kudu plek agama, yang haram tetap haram, yang halal ya halal. Kalau
anak yang lulus SMP misalnya, jika ada yan tidak jumatan ya tidak
langsung ditegur bahwa itu dosa, tapi dengan halus mengajak, ayo
jumatan, gitu
17. Menurut bapak, apakah biaya sekolah itu mahal atau tidak?
Sebenarnya sama saja, sekolah tidak mahal, kalau sampai SMP lho,
anak saya blas tidak bayar kalau sekolah, paling-paling hanya LKS,
apalagi umah itu, paling sehari Cuma dua ribu, trus nanti ngaji di
TPA minta seribu, ya biaya hanya itu-itu saja. Kalau SMA saya tidak
tau.
18. Apakah bapak mempunyai keinginan untuk menyekolahkan anak ke
tingkat pendidikan yang lebih tinggi?
Kalau saya pribadi iya, tapi semua tetap tergantiung anaknya, nari
karepe bocah to pak. Kalau anak saya yang laki-laki itu setelah SMP
pingin kerja, ya saya biarkan saja. Kalau ingin sekolah atau mondok
pun saya tetap sanggup membiayai, bagaimanapun caranya.
19. Bagaimana sikap anak yang dewasa menurut bapak?
Kalau saya, anak yang dewasa itu anak yang mandiri, setiap hari
umpama ambil nasi sendiri, nyuci baju sendiri, ngrewangi nyuci
piring, untuk ukuran anak SD itu sudah dewasa
20. Menurut bapak, apakah pendidikan formal berpengaruh terhadap sikap
kedewasaan anak?
Ya jelas berbeda, kalau anak yang sekolah ke jenjang yang lebih tinggi
biasanya lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya,
selain itu, jika dalam acara yasinan misalnya, ada rembugan yang
penting, semisal ngcor jalan orang yang minimal lulus SMP itu tidak
gontok-gontoka dalam berbicara. Berbeda sekali dengan orang yang
hanya lulus SD. Orang yang hanya lulus SD kadang malah hanya
ngregoni saja kalau rembugan, jika tidak, hanya diam saja, tapi di
belakang nggrundel
Nama
: Zaeriyah
Jenis Kelamin
: Perempuan
Jabatan
: Ibu Rumah Tangga
Waktu Wawancara
: tanggal 15 desember 2015 jam 17.08
1. Apa yang ibu ketahui tentang pendidikan?
Pendidikan niku nggih sekolah ingkang sak duwur-duwure pak. Sing
cara dunyo niku nggih sekolah, sing cara akhirat niku nggih ngaji.
2. Apa yang ibu ketahui tentang pendidikan formal?
Prndidikan formal niku midherek kulo nggih pendidikan sing carane
ting sekolahan ngaten niku pak.
3. Bagaimana pandangan ibu tentang pendidikan formal?
Sekolah niku penting, mondok nggih penting. Dados, sekolah niku
cara-carane kagem pados gawean, ndene mondok kagem pados sangu
damel akhirat.
4. Apakah menurut ibu, pendidikan formal itu penting atau tidak?
Mangapa?
Midherek kulo nggih penting pak, sakumpami kok ngenjang ajeng
pados damelan luwih gampil timbang nek mboten sekolah, keranten
jaman niku soyo majeng, dados sekolah nggih penting, mondok nggih
tetep penting.
5. Apakah yang ibu ketahui dari pendidikan non formal?
Nek kulo pendidikan sing mboten ting sekolahan niku nggih namung
pendidikan ting pondok pak.
6. Menurut ibu, apakah perbedaan output dari sikap kedewasaan anak
yang belajar di pendidikan formal dan non formal?
Nggih tetep benten pak. Nek mriki niku nggih sami iren-irenan menawi
gadah gawe, biasane sing maju misale ting ngantenan, tiyang sripah,
niku sing lulusan SMP, la nek sing ndongani niku sing saking pondok.
7. Menurut ibu, apakah biaya sekolah itu mahal atau tidak?
Nggih nek di pikir-pikir biaya antarane sekolah kalih mondok nik sami
mawon pak. Riyen sek jamane eni ting SMP nggih bayar LKS, buku,
werni-werni. Jaman ting pondok sesasi nggih tetep mboten cekap 300
eni niko, ali sakniki seminggu nggih 10 ewu. Sesasi nak nggih tetep
sekitar ting 300 niku, dados nggih sami mawon.
8. Apakah ibu mempunyai keinginan untuk menyekolahkan anak ke
tingkat pendidikan yang lebih tinggi?
Nek kulo nderek larene niku mampu mikir mboten pak. Nek larene
mampu mikir nggih tak sekolahke, sopo ngerti ngenjing nyambut
damele luwih gampil, wong ajeng nyambut damel ting saben mriki
mboren gadah saben, ajeng ken ngrumputke sapi wong nggh mboten
gadah sapine.
9. Bagaimana sikap anak yang dewasa menurut ibu?
Nek midherek kulo lare ingkang dewasa niku lare ingkang mboten
boros sangune, saget nggunake arto sing sak mestine, ting ngomah
purun ngrewangi tiyang sepahe.
10. Menurut ibu, apakah pendidikan formal berpengaruh terhadap sikap
kedewasaan anak?
Nek lare sing minimal lulus SMP tetep benten pak, menawi lare sing
nerusake sekolah niku biasane luwih ngerti kahanan wong tuane, lare
sing SMP niku cara-carane sangune nggih pun saget ngatur sepinten
kebutuhane, ting griyo nggih mboten mung klonthang klanthung kados
sing mboten neruske, di atur nggih luwih gampil, mboten sak karepa
dewe.
Dokumentasi
Download