akhlak islam memiliki peranan penting dengan status pribadi

advertisement
81 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
AKHLAK ISLAM MEMILIKI PERANAN PENTING DENGAN
STATUS PRIBADI
Bahrun Ali Murtopo dan Dian Efi Susanti
Dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama ( IAINU) Kebumen
Email: [email protected]
: [email protected]
ABSTRAK
Dalam era globalisasi dan digital ini banyak pemuda-pemudi yang sudah kehilangan
akhlakul karimahnya, sehingga perlu pemahaman dan pembelajaran untuk mengkaji
akhlak dan tasawuf. Dimana yang menjadi pokok pembahasan adalah akhlak sebagai
pribadi diri sendiri. Karena bertolak dari sinilah sebuah pribadi dapat dinilai berhasil
menjadi sosok yang mulia dipandang dari manapun atau terjadi ketimpanganketimpangan yang masih perlu dibenahi. Dalam praktisnya yang menjadi ruang lingkup
pembahasan ini adalah bagaimana ahlak Islam dalan status pribadi sebagai Hamba Allah
SWT yang baik. Bila semua aspek atau unsure-unsur akhlak sebagai status pribadi
dimiliki oleh suatu individu, maka harus sering diterapkan. Agar menjadi suatu
kebiasaan, yang merupakan salah satu filosofi dari definisi akhlak itu sendiri. Karena
tanpa ada pembiasaan, meskipun kita memiliki sifat mulia yang kental dalam diri kita,
kita tidak akan mencapai pribadi yang seimbang. Kesemuanya itu bersifat
berkesinambungan, artinya bila salah satu akhlak pribadi dapat dikatakan kurang baik,
maka tidak dapat dijamin bahwa akhlak pribadi yang lain adalah baik. Dengan kata lain,
satu pincang yang lain pun patut dipertanyakan keabsahan pribadinya.Ruang lingkup
akhlak Islam cukup luas.
Kata Kunci: Ahlak, Islam, Status Pribadi
82 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
A. PENDAHULAN
Manusia diciptakan oleh Allah SAW sebagai khalifah yang bertugas untuk
mengelola apa yang ada di dunia ini dengan cara yang baik sesuai dengan petunjuk
dalam al-quran dan hadist. Hakekat seorang manusia adalah seorang makhluk
individu sekaligus makhluk sosial yang memiliki hak dan kewajiban untuk saling
berinteraksi dengan sesama manusia.
Manusia yang diciptakan dengan penuh kesempurnaan akal dan pikiran oleh
Allah kemudian juga harus berinteraksi dengan sekitarnya dengan cara yang
dibenarkan sehingga kehidupan bersama yang damai dan penuh dengan rasa aman
dapat tercapai. Hal yang utama yang mengatur ini semua adalah Akhlak manusia.
Akhlak memiliki peranan yang sangat penting pada diri manusia. Akhlak Islam
merupakan suatu sistem moral yang berdasarkan agama dan berdasarkan kepercayaan
kepada Tuhan. Maka dengan demikian dasar sumber pokok Akhlak Islam adalah AlQur’an dan Hadist yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri.
Oleh karena itu, ilmu tentang akhlak dan membina manusia untuk menciptakan
akhlak yang baik dalam dirinya sangat diperlukan oleh semua manusia agar hidupnya
dalam masyarakat selalu tenang dan tentram. Keberadaan akhlak mulia bagi setiap
pribadi unggul, adalah buah dari keimanan yang kental. Dan ini merupakan kekayaan
yang tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sejak awal, kita harus
berusaha memburu keilmuan tentang itu sebagai bekal dalam membangun kehidupan.
Dalam hal ini, kita telah sepakat bahwa kemuliaan akhlak bangsa ini akan tumbuh
dengan baik, bila individu-individu dalam keluarga itu telah memiliki akhlak mulia.
Dan Rasulullah SAW adalah contoh utama pembentuk akhlak dalam kehidupan
setiap muslim. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya aku
diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Harapan
demikian, insya Allah akan terwujud, manakala setiap diri kita meniatkan secara
sungguh-sungguh lagi ikhlas mengharap ridhaNya. Sehingga dari sini, akan terbentuk
sebuah tatanan yang terjalin dengan nilai-nilai akhlakul karimah.
83 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
B. PEMBAHASAN
a. Pengertian Akhlak
Secara bahasa Akhlak dapat diartikan dengan budi pekerti, watak, tabiat, 1 dan
dalam dalam istilah sehari-hari adalah etika ataupun moral, yang diartikan sama
dengan akhlak, walaupun sebenarnya yang sama antara istilah-istilah tersebut
yaitu pembahasannya berkaitan tentang baik dan buruk.
Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluk yang menurut bahasa
berarti adat kebiasan, perangai, tingkah laku atau tabiat, dan muru’ah.2
Imam Al- Ghazali menyebutkan bahwa Khuluk (akhlak) adalah hiat atau sifat
yang tertanam didalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan
mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Demikian pula pendapat Ibnu Maskawaih, yang menyatakan bahwa
maksudnya khuluk (akhlak) adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan dahulu.
Jadi, dari beberapa pengertian tersebut dapatlah dipahami bahwa akhlak
adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni dimana keadaan jiwa yang terlatih
sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang
melahirkan perbuatan-perbuatan dengan spontan dan mudah tanpa dipikir dahulu.
Maksud dari perbuatan yang spontan tanpa dipikir lagi disini bukan berarti
bahwa perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak dikehendaki, namun perbuatanperbuatan tersebut itu memang benar-benar sudah merupakan “azimah”, yakni
kemauan yang kuat tentang sesuatu perbuatan, oleh karena itu perbuatan tersebut
memang dikehendaki adanya. Hanya saja karena perbuatan itu dilakukan secara
kontinyu sehingga sudah bisa menjadi adat/kebiasan untuk mampu melakukannya
karena timbulnya perbuatan itu dengan mudah tanpa dipikir lagi.
Jadi, akhlak itu sendiri bukanlah perbuatan, melainkan gambaran bagi jiwa
yang tersembunyi. Oleh karenannya dapatlah disebutkan bahwa “akhlak itu
adalah nafsiah (bersifat kejiwaan) atau maknawiyah (sesuatu yang abstrak), dan
1
2
WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta 1982, hlm 25.
M. Idris Abd. Rouf al Marbawi, Kamus Idris Marbawi, Darul Fikri, Bairut, tt, hlm. 186.
84 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
bentuknya kelihatan kita namkan mu’amalah (tindakan) atau suluk (perilaku),
maka akhlak adalah sumber dan perilaku adalah bentuknya”.3
Selanjutnya Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa induk dari akhlak dan yang
merupakan sendi-sendinya itu ada 4 (empat) hal, yaitu :4
1. Al Hikmah (kebijaksanaan)
Hikmah adalah keadaan atau tingkah laku jiwa yang dapat ditemukan atau
diketahui hal-hal yang benar dengan menyisihkan hal-hal yang slah dalam
segala perbuatan yang dilakukan secara ikhtiariah (tanpa paksaan).
2. Asy Syaja’ah (keberanian)
Syaja’ah adalah suatu keadaan dimana jiwa yang merupakan sifat
kemarahan, tetapi yang dituntun dengan akal pikiran untuk terus maju atau
mengekangnya.
3. Al ‘Iffah (lapang dada)
Iffah adalah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang
bersendikan akal pikiran serta syariat agama.
4. Al Adl (keadilan)
Al Adl adalah suatu keadaan jiwa yang dengannya dapat membimbing
kemarah dan syahwat dan membawanya ke arah yang sesuai dengan hikmah
dan kebijaksanaan.
Sedangkan Akhlak Islam adalah merupakan sistem moral atau akhlak
yang berdasarkan agama (Islam) yang berdasarkan agama (Islam), yakni
bertitik tolak dari aqidah yang diwahyukan Allah pada Nabi atau Rasul yang
kemudian disampaikan kepda umatnya dimuka bumi.
Dalam definisi ringkas tentang akhlak (moral) dalam kamus la Lande,
yaitu moral mempunyai empat makna yaitu:
a.
Moral adalah sekumpulan kaidah bagi perilaku yang diterima dalam satu
zaman atau oleh sekelompok, buruk, atau rendah.
b. Moral adalah sekumpulan kaidah bagi perilaku yang dianggap baik
berdasarkan kelayakan bukannya berdasarkan syarat.
c. Moral adalah teori akal tentang kebaikan dan keburukan, ini menurut
filsafat.
3
Dr. Ahmad al Hufy, Drs.H. Masdar Helmi dkk. Min Akhlaqin Nabi’y alih bahasa, Bulan Bintang, Jakarta,
hlm 14.
4
Imam Al Ghazali, Op cit, hlm 53.
85 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
d. Tujuan-tujuan kehidupan yang mempunyai warna humanisme yang kental
yang tercipta dengan adanya hubungan-hubungan sosial. (Ali Abdul Halim
mahmud, 2004:27.)
b. Sumber Akhlak Islam dan Karakteristik
Akhlak Islam merupakan suatu sistem moral yang berdasarkan agama
dan berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan. Maka dengan demikian dasar
sumber pokok Akhlak Islam adalah Al- Qur’an dan Hadist yang merupakan
sumber utama dari agama itu sendiri.
Dinyatakan dalam sebuah hadis Nabi yang
.
Artinya “ Dari Anas bin Malik berkata : Bersabda Nabi SAW : Telahku
tinggalkan atas kamu sekalian dua perkara, yang apabila kamu berpegang
pada keduanya, maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan Sunnah
Rasul-Nya”.5
Memang tidak diragukan lagi bahwa di dalam Al-Qur’an dan Hadis
banyak menyebutkan aturan-aturan tentang hidup dan kehidupan manusia,
dimana apabila manusia itu patuh dan taat dengan perintah Allah maka
manusia pastilah tidak akan tersesat. Sebagaimana yang tertera dalam
pedoman dasar hidup bagi setiap muslim yakni Al-Qur’an dan Hadis.
Akhlak dalam islam sangatlah menjadi faktor pembeda atau penciri yang
menunjukkan perilaku hidup umat manusia dari umat pemeluk agama lain.
Karakteristik akhlak ini dapat diterapkan atau sesuai untuk semua kelas
individu baik ditinjau dari ras, suku, lingkungan, kehidupan sosial
masyarakat dan lain sebagainya. Menurut Qardhawy (1997) dalam Daras
(2006) karakteristik akhlak ada tujuh, yaitu:
1. Moral yang beralasan serta dapat difahami
Akhlak yang harus disandang oleh seluruh umat islam bukanlah
sesuatu yang bersifat dokmatis, tetapi sesuatu yang logis dan masuk
akal. Maksudnya logis adalah dapat diargumentasikan dan dapat
diterima oleh naluri manusia dan akal sehat. Hal ini mencakup tentang
5
AL Qur” an dan Terjemahan ‘ yaysan penyelengarga peterjemahan/pentasiran Al Qur’an, Jakarta, 1
maret 1971.(100-104
86 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
pembahasan tentang kebaikan atau kemaslahatan dan keburukan yang
dilarang oleh-Nya.
2. Moral Universal
Dalam hal ini moral bersifat umum, berlaku untuk semua umat di
dunia, tidak terbatas atas ras, suku, kebangsaan, golongan, kesukuan
atau kaum. Pada dasarnya, moral universal ini didasarkan oleh karakter
manusia, jadi setiap umat akan memiliki landasan moral yang
seharusnya sama, tidak dibeda-bedakan,
3. Kesesuaian dengan fitrah manusia
Islam memberikan pengakuan terhadap status manusia sebagai
ciptaan Allah yang diberikan fitrah, keinginan, kecenderungan dan
dorongan dari dalam jiwanya untuk berbuat. Manusia diperbolehkan
untuk memiliiki apa saja yang dia sukai, dan melakukan apa saja yang
ingin dia kerjakan asalkan tidak menyimpang dari ajaran islam.
Islam datang untuk memberikan batasan-batasan demi kebaikankebaikan hidup manusia di dunia. Islam tidak mengubah fitrah yang
ada
pada
diri
manusia
melainkan
menyempurnakannya
atau
melengkapinya agar manusia dapat bertindak secara bijaksana terhadap
apa yang ada dalam dirinya agar dalam kehidupannya dapat bersikap
dengan baik sesuai dengan batasan yang dijelaskan.
4. Memperhatikan realita
Seperti yang telah dijelaskan pada poin satu bahwa moral islam
adalah sesuatu yang logis dan sesuai nurani manusia. Realita adalah hal
yang mengarah pada keadaan manusia sehari-hari yang menunjukkan
keinginan manusia pada hal-hal yang bersifat duniawi, sebab hal itu
tentu tidak mungkin dapat dihilangkan dari diri manusia sebagai
makhluk sosial. Al-quran tidak mengekang manusia untuk tidak
melakukan apa yang secara alamiah dia inginkan, hanya saja Al-quran
mengatur kita agar kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan
sesuai dengan akal sehat dan pertimbangan kebaikan bersama.
Dapat dicontohkan, kita tentu tidak bisa berbuat baik atau
menganggap seorang musuh sebagai kawan, akan tetapi al-quran
memberikan batasan agar bahwa kita tidak boleh berlaku tercela
87 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
sekalipun kepada musuh kita, kita harus berlaku adil dengan tidak
melakukan pelanggaran. Dalam konteks lain yang lebih universal dapat
dijelaskan bahwa memandang realita maksudnya adalah memberikan
kita kebebasan untuk berperilaku tetapi tetap harus berpegang pada alquran.
5. Moral positif
Dalam islam, selain seseorang itu harus memiliki moral yang baik
dia harus memiliki ketangguhan dalam. Sering kita jumpai bahwa
manusia cenderung terbawa oleh arus yang terjadi di lingkungannya,
bisa saja seseorang yang tadinya memiliki moral yang baik tetapi
karena mengikuti trend sosial yang salah maka akan menyebabkan
moralnya menjadi tidak baik.
Oleh karena itu, dalam al-quran telah dijelaskan pula bahwa sebagai
seorang mukmin kita tidak diperkenankan untuk tinggal diam melihat
kemunduran kondisi sosial dan politik yang terjadi, maka selain kita
harus tetap mempertahankan moral islam kita, kita juga diperintahkan
untuk mengubah semua paradigma sosial politik yang salah dimulai
dari diri kita sendiri.
6. Komprehensifitas
Moral islam adalah sebuah batasan dan cakupan yang kompleks.
Tidak benar anggapan sebagian orang tentang islam yang menganggap
bahwa islam hanyalah tentang kegiatan keagamaan, ibadah, seremonial
dan sebagainya yang mendekatkan diri sebagai umat kepada Tuhannya.
Islam mengatur pula bagaimana kita sebagai makhluk sosial untuk
berperilaku sesuai porsinya sehingga kita sebagai umat islam akan
memiliki nilai susila yang tinggi dan ajaran yang luhur. Moral islam
mengatur hubungan mansia dengan Tuhannya, serta hubungan manusia
dengan manusia.
7. Keseimbangan hidup atau Tawazun
Dapat digambarkan secara umum bahwa kita harus bersikap adil
terhadap apapun yang ada di dunia ini. Sebagai makhluk individu kita
harus adil terhadap kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan ruh dan raga
kita. Jika dilihat dari konteks manusia sebagai makhluk hidup dengan
88 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
Tuhannya maka dapat digambarkan bahwa manusia sebagai kholifah di
dunia ini, maka kita harus dapat memanfaatkan apa yang ada di dunia
ini seoptimal mungkin untuk kesejahteraan kita selama ada di dunia,
namun demikian kita juga harus ingat bahwa pemenuhan bekal kita di
akhirat sebagai makhluk Tuhan yang pasti akan kembali juga harus
dipenuhi.
c. Ciri-Ciri Akhlak Islam
Akhlak Islam merupakan yang bersifat mengarahkan, membimbing,
mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati bagi penyakit
sosial dari jiwa dan mental dan adapun tujuan berakhlak yang baik itu untuk
mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
Aklah Islam mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan
yang lain. Adapun ciri khusus akhlak Islamiyah yaitu:6
1.) Kebijakan yang mutlak
Islam menjamin kebijakan yang mutlak karena islam menjamin
kebaikan yang murni dan luhur untuk perorang ataupun baik untuk
masyarakat pada setiap keadaan, waktu bagaimanapun. Namun juga
bisa sebaliknya akhlak (etika) yang diciptakan manusia, tidak bisa
menjamin kebijakan dan hanya mementingkan kepentingan diri
sendiri.
2.) Kebaikan yang menyeluruh
Akhlak Islami menjamin kebaikan untuk seluruh umat manusia.
Baik segala jaman, semua tempat, mudah tidak mengandung kesulitan
dan tidak mengandung perintah berat yang tidak dikerjakan oleh umat
manusia diluar kemampuannya. Islam menciptakan akhlak mulia,
sehingga dapat dirasakan sesuai dengan jiwa manusia dan dapat
diterima akal yang sehat.
3.) Kemantapan
Akhlak Islamiyah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai
pada setiap diri manusia yang bersifat tetap, sebab yang menciptakan
Tuhan yang bijaksana. Akakn tetapi akhlak /etika ciptaan manusia itu
6
Drs, Muhamad Zain Yusuf,Akhlak Tasawuf,Semarang : Al Husna, hlm. 49-52
89 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
bersifatnya berubah-ubah dan tidak selalu sama susai kepentingan
masyarakat dalam suatu bangsa.
4.) Kewajiban yang dipatuhi
Akhlak yang bersumber dari agama islam wajib ditaati manusia.
Sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahir dan
batin keadaan suka dan duka, sebagai perangsang untuk berbuat
kebaikan yang diiringi dengan pahala dan mencegah perbuatan jahat,
karena takut akan siksaan Allah SWT.
5.) Pengawasan yang menyeluruh
Agama Islam adalah pengawasan hati nurani dan akal yang sehat,
Islam menghargai hati nurani bukan dijadikan tolak ukur dalam
menetapkan beberapa usaha.
Akhlak Islam maka mengarah kepada status pribadi yang berada
pada kelompok sosial yang beraneka ragam. Adapun akhlak islam
yang mengatur dan membatasi kedudukan (status) pribadi yaitu:7
Hamba Allah, Anak, Ayah/Ibu, Anggota Masyarakat, Jama’ah,
Da’i/Muballigh dan Pemimpin.
d. Akhlak Islami Dalam Kaitannya Dengan Status Pribadi
Dalam Akhlak Islam mengarahkan manusia itu kepada status pribadi
yang beraneka ragam. Fungsi, peran dan bagaimana mestinya berperilaku
pada posisinya (kedudukan) dalam kelompok sosial tersebut, dengan adanya
akhlak islamiyah. Oleh karena itu yang menjadi batasan kedudukan (status)
pribadi dalam akhlak islami adalah :
1. Pribadi Sebagai Hamba Allah SWT
Manusia sebagai bagian terkecil dari ciptaan-Nya yang diberi
kelebihan berupa akal pikiran dibandingkan dengan makhluk yang
lainnya. Semua kenikmatan yang diberikan bukan berarti Sang
Pencipta mempunyai maksud kepada manusia supaya membalas
dengan sesuatu itu tidak, tetapi Allah SWT. Memerintahkan manusia
agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Hubungan manusia dengan Allah SWT adalah hubungan makhluk
dengan Khaliknya. Dalam sesuatu hal manusia memiliki masalah
7
Drs. H. A. Mustofa,Akhlak Tasawuf, Bandung : CV PUSTAKA SETIA, hlm. 153.
90 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
ketergantungan,
karena
hidup
manusia
selalu
mempunyai
ketergantungan kepada yang lain. Dan yang menjadi tumpuan serta
pokok ketergantungan yaitu ketergantungan kepada yang Maha
Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Ynag Maha
Sempurna ialah Allah SWT, Allah SWT yang Maha Kuasa.
Ketergantungan manusia kepada Allah SWT difirmanakan pada
Surat Q.S Al-Ikhlas: 2 :
Artinya : “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya
segala sesuatu”.8
Secara moral manusiawi, manusia mempunyai kewajiban manusia
kepada Allah sebagai Khaliknya, yang telah memberikan kenikmatan
yang tak terhitung jumlahnya.
Pada garis besarnya kewajiban manusia kapada Allah menurut
hadist Nabi, yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal bahwa
Nabi SAW yaitu ada dua yakni :9
1. Mentauhidkan-Nya yakni tidak memusyrikkan-Nya kepada
sesuatu apapun.
2. Beribadah kepada-Nya.
Dalam Al-Quranul Karim kewajiban manusia ini diformulasikan
dengan yaitu:
1. Iman yakni dijelaskan pada surat Q.S Al-Bayyinah: 7-8.
﴾٧﴿
﴾٨﴿
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi
Tuhan mereka ialah surga ´Adn yang mengalir di bawahnya sungai8
Surat Q.S Al-Ikhlas: 2
9
Drs. H. A. Mustofa,Akhlak Tasawuf, Bandung : CV PUSTAKA SETIA, hlm. 168.
91 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu
adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” 10
2. Amal Saleh yakni dijelaskan pada surat Q.S Ali Imron: 102, dan Q.S AlBaqarah: 177.
Quraish Shihab “ Pintu neraka akan terbuka bagi kalian, jika kalian
tidak memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan. Oleh karena itu,
wahai orang-orang yang beriman, takutilah Allah dengan
mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Tetaplah dalam keislaman sampai kalian menghadap Allah kelak”
2. Pribadi Sebagai Anak
Dalam dunia anak sangat penting diperhatikan. Apabila keliru
dalam mendidik akhlak anak, bisa jadi dunia anak akan tidak
mengenal akhlak yang lebih lanjut anak dapat melakukan perbuatan
yang abnormal kriminalitas dan lain sebagainya.
Maka model mendidik akhlak anak, tidak langsung berkata itu
baik atau itu buruk, apabila seorang anak baru saja belajar membaca,
menurut kita itu jelek/buruk namun kita tidak langsung berkata
demikian. Sebab dapat menyakiti hati dan patah semangat. Tetapi kita
beri semangat dan dorongan yang dapat memacu dan bergiatnya si
anak.
Selain itu kisah Luqman yang diberi hikmah oleh Allah SWT
termuat dalam ayat, bahwa beliau menasehati dan memberi pesan
kepada generasi selanjutnya (anak-anak) untuk mewarisi nilai-nilai
akhlak yaitu sebagai berikut:11
﴾٣١﴿
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
10
AL Qur” an dan Terjemahan ‘ yaysan penyelengarga peterjemahan/pentasiran Al Qur’an, Jakarta, 1
maret 1971. surat Q.S Al-Bayyinah: 7-8
11
Drs. H. A. Mustofa,Akhlak Tasawuf,Bandung: CV PUSTAKA SETIA, hlm. 162.
92 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar".12
﴾٣١﴿
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua
orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.
﴾٣١﴿
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah
kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan.13
﴾٣١﴿
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau
di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.14
﴾٣١﴿
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan
yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).15
﴾٣١﴿
Surat Luqman dan Terjemahan’ http://www.quran30.net/2012/08/surat-luqman-ayat-134.html, ( Akses,20 juli 2017)
13
Surat Luqman dan Terjemahan’ http://www.quran30.net/2012/08/surat-luqman-ayat-134.html, ( Akses,20 juli 2017)
12
14
15
Ibid
Ibid
93 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.16
﴾٣١﴿
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
3. Akhlak Pada Ayah Dan Ibu
Ibu dan Ayah adalah kedua orang tua yang sangat besar jasanya
kepada anaknya, namun apabila dibandingkan antara berat tugas ibu
dengan ayah dari mulai
mengandung sampai dewasa,
dan
sebagaimana perasaan ibui dan ayah terhadap putranya maka secara
perbandingan sangat benar lebih besar berat tugas ibu dari pada ayah.
Walaupun tidak berarti ayah tidak dimuliakan melainkan hendaknya
mendahulukan ibu daripada ayah dalam memuliakan orang tua.
Betapa besar tanggung jawab seorang ibu waktu malam kurang
tidur waktu siang kurang istirahat karena melayani anaknya. Si ibu
menyusui sampai datang masa menyapih, menyuapi, dan meminumi,
memandikkan, mendandani denganpenuh kasih sayang. Kasih
sayangnya tanpa pamrih.
Maka kewajiban kita sebagai anak wajib berbakti kepada ibu
ataupun bapak baik masih hidup atau sudah meninggal. Sebagaimana
yang telh beliau lakukakn kepada kita sebaiknya mendoakan kedua
orang tua kita agar selalu sehat, bahagia, panjang umur, murah rejeki,
dan hidup yang berkah agar mereka bahagia didunia dan di akherat.
4. Akhlak Kepada Anggota Masyarakat/Jama’ah
Setiap muslim diwajibkan untuk memelihara norma-norma agama
dimasyarakat, terutama didalam pergaulan sehari-hari baik keluarga,
rumah tangga, kerabat, tentangga, dan lingkungan kemasyarakatan.
Tolong menolong untuk kebaikan dan takut kepada Allah adalah
perintah Allah.
16
ibid
94 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
Kewajiban kaum muslim dengan kaum muslim lain yang secara
langsung apabila dilakukan adalah juga merupakan pendidikan bagi
yang bersangkutan. Bagi yang melakukan dapat mempertebal iman
serta amal soleh dan menambah ketakwaannya.
Akhlak mulia merupakan akhlak yang berlaku dan berlangsung
diatas jalur Al-Qur’an dan perbuatan Nabi Muhammad SAW. Seperti
dalam Al-Qur’an surah Q.S Al Qalam : 4 yaitu :
Artinya: “Dan sesunggungnya engkau Muhammad mempunyai akhlak
yang mulia “. (Q.S Al Qalam: 4).
5. Akhlak Da’i atau Mubaligh
Dalam memersiapkan diri menjadi seorang da’i untuk mengikuti
manhaj para nabi dakwah, maka harus membekali diri dengan
akhlakul karimah sebab da’i atau mubalig dimasyarakat menjadi suri
tauladan secara langsung baik perilaku, sikap, perbuatan ataupun
perbuatannya.
Da’i harus berusaha menerangi rahasia dirinya, senantiasa mohon
petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Menurut Jamaluddin Kafie
sebagai Da’i pelaksanaan dakwah harus memerhatikan prinsip-prinsip
kepemimpinan yang baik yaitu :17 Sikap Terbuka, Berani Berkorban,
Aktif Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, Sanggup
menjadi pelopor dan perintis dalam kebajikan, Mengembangkan sikap
kooperatif, Kemanusian, Dan sikap Torleransi, kebijaksanaan, dan
keadilan sosial, Tidak menjadi parasit atau membebani masyarakat,
Percaya diri dan yakin akan kebenaran yang dibawanya, Optimisme
dan tidak mudah putus asa dan Akhlak Pemimpin
Tugas pemimpin tidak ringan tanggung jawab yang ia pikul senantiasa
bernafaskan amanat baik dari amanat masyarakat, warga, bangsa, bahkan
agama. Setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepimpinannya dan akan
dimintai bertanggung jawabnya kelak. Mengingat besarnya tanggung jawab
dari seorang pemimpin harus mempunyai kepribadian, sikap dan karakter
sesuai dengan kepimpinannya. Dia harus berpenggang teguh kedisiplinan,
mempunyai kewibawaan, penuh sabar, tawakal, dalam menghadapi masalah,
17
Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, Indah, Surabaya, 1993. Hlm 32.
95 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
lapang
dada,
mementingkan
mau
menerima
kepentingan
kirit,
berwawasan
umum,
berorientasi
luas,
bijaksana,
kemasyarakatan,
bertanggung jawab, dan memeliki akhlakul karimah.
Akhlak pemimpin baik, sebab sifat, perilaku dan sikapnya dapat
membahagiakan orang lain dan menampakan karismatiknya pada yang
dipimpinnya. Pemimpin berakhlak baik apabila memiliki kepribadian yang
sesuai dengan tata aturan agama, masyarakat, keluarga, bangsa dan agama.
C. Kesimpulan
Akhlak dapat menentukan perilaku suatu umat yang terwujud dalam moral
dan etika dalam kehidupan. Sehingga dapat menentukan mana yang baik dan mana
yang buruk, sehingga manusia dapat menentukan pilihan yang terbaik dalam
hidupnya. Dalam islam akhlak bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang
menjadi pedoman hidup kaum.
Dengan kata lain, akhlak adalah suatu sistem yang mengatur perbuatan
manusia baik secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi hidup antara
manusia dengan baik secara individu, kumpulan dan masyarakat dalam interaksi
hidup antara manusia dengan Allah, manusia sesama manusia, manusia dengan
hewan, dengan malaikat, dengan jin dan juga dengan alam sekitar. Maka dari itu
pentingnya suatu kaum memiliki akhlak yang bersumber dari Al-Qur’an dan AsSunnah.
96 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung.: CV Pustaka Setia. .2010
Nata, Abuddin..Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2011
Mustofa Drs. H. A..Akhlak Tasawf.Bandung: CV PUSTAKA SETIA. 2010
Muhammad Zain Yusuf, Drs,..Akhlak Tasawuf.Semarang:Al Husna. 1993
Sahilun A. Nasir, Etika dan Problematikanya Dewasa ini,Bandung: . PT. AlMa’arif. 1980.
AL Qur” an dan Terjemahan ‘ yayasan penyelengarga peterjemahan/pentasiran
Al Qur’an, Jakarta, 1 maret 1971.
Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, Indah, Surabaya, 1993
Surat Luqman dan Terjemahan’ http://www.quran30.net/2012/08/surat-luqmanayat-1-34.html, ( Akses,20 juli 2017
Surat Q.S Al-Ikhlas: 2
Download