Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim

advertisement
Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim
Prof.Dr.dr.H. Rusdi Lamsudin, M.Med.Sc, SpS(K)
PENDAHULUAN
Kita menyadari betul, bahwa kita ummat Islam jauh tertinggal dengan ummat
lain, dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sungguh jelas bahwa sebabsebab kemunduruan masyarakat muslim pada abad-abad terakhir ini adalah karena kita
menyerahkan studi ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut kepada orang lain, padahal
kita sendiri harus lebih mempelajari, dan ini membuat kita sendiri tergantung kepada
orang-orang lain. Sudah waktunya kita harus mulai memusatkan perhatian pada masalah
perlunya mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dalam prospektif Al-Qur’an dan
Al Sunnah.
PEMBAHASAN
Dalam hal ini ada beberapa alasan yang harus dikemukakan pada tulisan ini;
1.
Jika pengetahuan dari suatu ilmu merupakan persyaratan pencapaian tujuan-
tujuan Islam sebagaimana dipandang oleh syariah, maka mencarinya merupakan
kewajiban, karena ia merupakan kondisi awal untuk memenuhi kewajiban syariah.
2.
Masyarakat yang dikehendaki oleh Al-Qur’an adalah masyarakat yang agung dan
mulia, bukan masyarakat yang takluk dan bergantung kepada orang-orang kafir, seperti
bisa dilihat dalam ayat Al-Qur’an dibawah ini;
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir
untuk memusnahkan orang-orang beriman (An Nisaa’, 141).
1
Agar dapat merealisasikan tujuan yang dibahas oleh Al Qur’an ini, masyarakat
Islam benar-benar-benar harus memiliki kemerdekaan kultural, politik dan ekonomi.
Pada gilirannya, hal ini membutuhkan pelatihan. Pendidikan para spesialis kaliber tinggi
di dalam segala lapangan dan penciptaan fasilitas-fasilitas ilmiah dan teknik dalam
masyarakat Islam. Sungguh jelas sebab-sebab kemunduran masyarakat kaum muslim
pada abad-abad terakhir ini adalah karena kita menyerahkan studi ilmu-ilmu tersebut
kepada orang lain, padahal kita harus lebih mempelajarinya, dan ini membuat kita sendiri
tergantung kepada orang lain. Tidak haruskah kaum muslim memperalat dirinya dalam
setiap hal untuk untuk mempertahankan diri dari orang-orang kafir, sebagaimana
ditekankan oleh ayat di bawah ini?
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang
kamu sanggupi ….. sehingga kalian dapat menggetarkan musuh Allah dan
musuh kalian …” (Al Anfal, 60).
Dan tidakkah benar bahwa dalam dunia kita sekarang ini, memiliki alat-alat
pertahanan untuk menghadapi musuh-musuh Islam memerlukan seluruh bentuk knowhow (ketrampilan), keilmuan dan teknis? Lantas kenapa kita orang-orang Islam tidak
memberikan perhatian penuh terhadap masalah persiapan diri kita secara cukup untuk
pertahanan diri?
Di abad modern, kehidupan manusia tak dapat dipecahkan kecuali dengan upaya
pengembangan ilmiah, dan kunci untuk sukses di dalam seluruh urusan bersandar pada
ilmu. Karena itu, adalah kewajiban sarjana muslim dan para peneliti yang terlibat dalam
bidang pendidikan untuk meraih pengetahuan tehnik dan ilmiah yang lengkap dan
mutakhir. Jika tidak masyarakat kita benar-benar akan di bawah dominasi satu adikuasa
2
atau yang lain. Peringatan yang diberikan oleh Imam Ja’far Al Shadiq perlu kita
renungkan: “Seorang yang sadar akan zamannya tidak disibukkan oleh masalah-masalah
yang tidak diinginkan”.
3.
Al Qur’an menyuruh manusia mempelajari sistem dan skema penciptaan,
keajaiban-keajaiban alam, sebab-sebab dan akibat-akibat seluruh benda-benda yang ada,
kondisi-kondisi organisme hidup; pendeknya, seluruh tanda-tanda kekuasaan Allah yang
ada di alam eksternal dan kedalaman-kedalaman batin jiwa manusia. Al Qur’an
menyuruh berfikir dan merenungkan seluruh aspek-aspek penciptaan dan menuruh
manusia menggunakan nalar dan fakultas-fakultas lainnya untuk menemukan rahasiarahasia alam (QS 50:6-8; QS 88:17-20; QS 29:20; QS 51:20-21, QS 3:190-191; QS
2:164).
Tentunya, tidak harus setiap orang mampu membaca “kitab” alam. Al Qur’an
memandang hanya orang-orang yang berilmulah yang dapat mengambil manfaat dari
kitab alam itu, sebagaimana dapat dilihat pada Surat Faatar, 27-28. Al Qur’an hanya
menghargai orang-orang berilmu, yang dapat menunjukan keagungan dan kehebatan
ciptaan Allah dan yang memiliki kerendahan hati, yang dihasilkan oleh ilmu mereka
tentang kekuatan Ilahi dan kebesaran-Nya. Hal ini ditekankan oleh ayat-ayat lain dalam
Al Qur’an:
Dan perumpamaan-perumpamaan, ini kami buatkan untuk manusia, dan
tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (QS 29:43)
Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada
orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat
Kami kecuali orang-orang yang zalim (QS 29:43).
3
Tentunya, sebagaimana disebutkan oleh ayat-ayat tersebut di atas, memahami
“tanda-tanda” Pencipta, hanya mungkin bagi orang terdidik dan bijak yang berjuang
menggali rahasia-rahasi alam dan yang telah mendapatkan ilmu di dalam bidang-bidang
studi mereka. Jika tidak, pengenalan superfisial terhadap “kitab penciptaan” ini saja
tidak akan cukup mengungkapkan hal yang sebenarnya. Suatu awal pemahaman kitab
alam yang tepat hanya bisa dicapai lewat ilmu-ilmu semacam matematika, fisika,
kimia,a stronomi, botani, zoologi dan biomolekuler (yang bisa kita sebut sebagai ilmu
kealaman). Dengan pertolongan ilm-ilmu tersebut dan ilmu rasional kita dapat
menyimak hukum-hukum alam membuka keajaiban aturan (order) dan skema
penciptaaan yang mengatur alam.
4.
Alasan lain untuk mempelajari fenomena-fenomena alam dan skema penciptaaan
alam adalah bahwa ilmu tentang hukum-hukum alam dan karakteristik-karateristik
benda-benda serta orgnisme dapat berguna untuk perbaikan kondisi hidup (QS 16:12-16;
QS 31:20; QS 45:13).
Menurut Al Qur’an, mempelajari kitab alam akan mengungkapkan rahasiarahasianya kepada manusia dan menampakkan koherensi (keterpaduan), konsistensi dan
aturan di dalamnya. Ini akan menungkinkan manusia untuk menggunakan ilmunya
sebagai perantara untuk menggali kekayaaan-kekayaan dan subber-sumer yang
tersembunyi di dalam alam dan mencapai kesejahteraan material lewat penemuanpenemuan ilmiahnya. Allah SWT telah menunjuk manusia sebagai wakil dan khalifahNya di atas bumi dan diberinya kesempatan-kesempatan yang tidak terbatas. Ia harus
mengenal potensi-potensi dirinya, memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu, dan
4
meperoleh kekuatan dan kebijaksanaan yangs esuai dengan peranannya sebagai wakil
Allah di muka bumi idan sebagai buah “tanda” kebijaksnaaan dan kemahatahuan Allah.
Tujuan utama hidup manusia adalah mendekatkan diri pada Allah dan
mendapatkan ridha-Nya; aktivitas-aktivitasnya harus difokuskan pada arah ini. Segala
sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah atau petunjuk-petunjuk pada arah tersebut
adalah terpuji. Jadi, ilmu hanya berguna jika dijadikan alat untuk mendapatkan
pengetahuan tentang Allah, keridhaan dan kedekatan kepada-Nya. Jika tidak, ilmu itu
sendiri akan menjadi penghalang yang besar, apakah ia tercakup dalam ilmu-ilmu
kealaman maupun ilmu-ilmu syariah.
Jelaslah bahwa menyembah Allah tidak sekedar lewat shalat, puasa dan lain
sebagainya. Nyatanya, suatu gerakan menuju taqarrub (kedekatan) kepada Alllah selalu
dianggap sebagai ibadah. Salah satu cara untuk menolong manusia dalam perjalanannya
menuju Allah adalah ilmu, dan dalam hal semacam inilah ilmu dipandang bernilai.
Dengan bantuan ilmu, seorang muslim, dengan berbagai cara dan upaya ber-taqarrub
kepada Allah., yaitu: (1) dia dapat meningkatkan pengatahuannya akan Allah, (2) dia
dengan efektif dapat membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan
tujuan-tujuannya, (3) dia dapat membimbing orang lain, (4) dia dapat memcahkan
berbagai problem masyarakat.
Ilmu yang digunakan dalam cara-cara di atas dipandang bermanfaat, jika tidak, ia
tidak akan memiliki nilai yang nyata. Setiap ilmu yang tidak menolong manusia di
jalannya menuju Allah adalah sama dengan muatan buku yang dibawa di atas punggung
keledai.
5
PENUTUP
Kita telah melihat, bagaimana Islam dengan kuat menekankan kebutuhan
menuntut ilmu di dalam maknanya yang terluas, dan bagaimana orang-orang Islam,
dengan mengikuti ajaran-ajaran Islam, menciptakan peradaban yang cemerlang dan
memimpin perkembangan intelektual manusia beberapa abad. Kita juga telah melihat
bagaimana pemisahan agama dari ilmu pengetahuan di dalam masyarakat muslim telah
menyebabkan orang-orang Islam mengabaikan peranan kepemimpinan intelektual
manusia. Akan tetapi ketika kini masyarakat muslim menunjukkan tahapan kebangunan
kembali dan semangat baru menyingsing hampir di setiap penjuru dunia muslim,
tampaknya kini adalah saat yang tepat untuk mengambil langkah-langkah yang
menentukan untuk membawa kebangkitan kembali dunia keilmuan. Perlu kita
perhatikan beberap usulan yang dilontarkan oleh apra cendikiawan muslim, yaitu: (1)
seperti para ulama dan ilmuawan abad-abad pertama zaman Islam, kita harus
mempelajari ilmu yang berguna dari orang lain, (2) bentuk gabungan yang ada di antara
ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu kealaman selama hari-hari puncak Islam harus dibangun
kembali, (3) untuk mencapai kemerdekaan penuh umat Islam, perlu dilakukan langkahlangkah melatih spesialis di dalam segala bidang keilmuan dan tehnologi. Pusat-pusat
riset harus didirikan oleh seluruh komunitas muslim, (4) penyelidikan ilmiah harus
dipikirkan sebagai pencarian penting dan mendasar, (5) orang-orang Islam harus
memikirkan sebagai satu kewajiban yang dipaksakan kepada mereka oleh Al Qur’an,
sehingga mereka tidak tergantung pada orang lain.
Sumber:
6
Suara Muhammadiyah
Edisi 21 2002
7
Download