arlindaarn-506-1-0.. - Digital Library UWP

advertisement
PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN SEKTOR PROPERTI PADA
BEI PERIODE TAHUN 2011 – 2014
SKRIPSI
Oleh :
ARLINDA ARNOK SANDARI
NPM : 11132175
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA
SURABAYA
2015
PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN SEKTOR PROPERTI PADA
BEI PERIODE TAHUN 2011 – 2014
SKRIPSI
DiajukansebagaisalahsatusyaratmemperolehGelar
SarjanaEkonomiPadaFakultasEkonomiUniversitas
Wijaya Putra Surabaya
Oleh :
ARLINDA ARNOK SANDARI
NPM : 11132175
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA
SURABAYA
2015
HALAMAN MOTTO
Ø Denganilmu, kehidupan menjadi lebih mudah. Dengan seni, kehidupan menjadi
halus. Dan dengan agama, kehidupan lebih terarah dan bermakna.
( HR. Bukhori Muslim )
Ø I Never Dreamed About Success. I Worked For It
( Estee Lauder )
Ø The greates pleasure in life is doing what people say you can not do
( Anonymous )
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada Allah subhanahu wata’ala, atas segala nikmat hidup dan
kesempatan mengenggam ilmu, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga Indeks Harga Saham
Gabungan Sektor Properti Pada BEI PeriodeTahun 2011 – 2014”. Skripsi ini disusun
sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana Ekonomi.Dalam
penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis banyak dibantu, dibimbing, dan
didukung oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sangat
ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Sunardi ayahku tercinta dan Ibunku Yulistin, serta adikku Rossi Steva
Archorni dan suamiku tercinta Moch. Ali Musyafak atas semua kasih saying
dan dukungan kalian yang super besar untuk saya.
2. Untuk baby kesayanganku yang di dalam perut, terima kasih sudah menjadi
partner yang sangat amazing, yang tidak rewel dan sangat pintar.
3. Dosen Pembimbing yang super sabar untuk membantu saya yang terkadang
lupa arah finish untuk skripsi.
4. UniversitasWijaya Putra Surabaya tercinta.
5. Terakhir buat Larry Page dan Sergey Brin yang telah menciptakan Google.
Good Job Menn..
v
Pengaruh NilaiTukar, Inflasi dan Suku Bunga Indeks Harga Saham Gabungan Sektor
Properti Pada BEI PeriodeTahun 2011 – 2014
Arlinda Arnok Sandari
NPM : 11132175
ABSTRAK
Tidak stabilnya situasi moneter yang tercermin dari nilai tukar rupiah, suku
bunga, inflasi mengakibatkan kekacauan dalam perekonomian. Hal tersebut
menunjukkan eratnya pengaruh makro ekonomi terhadap indeks harga saham
gabungan di pasar saham.Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji mengenai
pengaruh indicator ekonomi makro, tingkat inflasi, suku bunga, kurs, terhadap indeks
harga saham gabungan sektor property selama periode tahun 2011-2014.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi linier
berganda. Data diperoleh dari Monthly Statictic, Indonesia Stock Exchange,
Indikator ekonomi dari Badan Pusat Statistik, Indonesian Capital Market Directory.
Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan data dikumpulkan
dengan teknik mencatat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel nilai tukar, inflasi dan suku
bunga memiliki pengaruh secara simultan terhadap variable indeks harga saham
gabungan. Sedangkan bila di uji secara parsial hanya variable inflasi dan suku bunga
yang berpengaruh sedangkan variable nilai tukar tidak berpengaruh.
Kata kunci : Nilai tukar, Suku bunga, Laju Inflasi, Indeks Harga Saham Gabungan
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang
berjudul “PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN SUKU BUNGA
TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN SEKTOR PROPERTI
PADA BEI PERIODE TAHUN 2011 – 2014” . Skripsi ini disusun sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Fakultas Ekonomi Universitas
Wijaya Putra Surabaya. Penulis menyadari bahwa baik dalam pengungkapan,
penyajian dan pemilihan kata-kata maupun pembahasan materi skripsi ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati penulis mengharapkan
saran, kritik, dan segala bentuk pengarahan dari semua pihak untuk perbaikan skripsi
ini. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih pada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini, khususnya kepada:
1. Budi Endarto, SH., M.Hum. selaku rector Universitas Wijaya Putra Surabaya.
2. Dr. Hj. Soenarmi, SE., MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Wijaya Putra Surabaya.
3. Dwi Lesno Panglipursari, SE., MM selaku Ketua Prodi Fakultas Ekonomi
Manajemen Universitas Wijaya Putra Surabaya.
4. Trisa Indrawati, SE , MM, selaku Dosen Pembimbing penulisan penelitian ini.
5. Seluruh staf Dosen dan Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Putra
Surabaya.
vii
6. Babeh Sunardi dan IbunYulistin, kedua orang tua saya, yang telah
membimbing, membesarkan serta memberikan pendidikan yang layak kepada
saya, serta adik Rossi Steva Archorni you’re my beloved sister dan keluarga
besarku tercinta yang senantiasa selalu mencurahkan segalakasihsayang, doa
serta dukungan dari kalian, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh teman-teman Fakultas Ekonomi Manajemen B yang selalu
mendukung dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini serta bersamasama terus berjuang untuk menyelesaikan pendidikan ini.
8. Kepada suami saya Moh Ali Musyafa yang selalu menemaniku saat senang
maupun susah dan selalu menyemangati dan mendoakanku untuk
menyelesaikan skripsi ini.
9. Teman – teman seperjuangan dalam menyelesaikan skripsi ini yang tiap
malam selalu berkumpul mengerjakan skripsi dikampus.
10. Dan kepada buku-buku, artikel dan internet yang selalu menjadi nutrisi otakku
untuk menyelesaikan skripsi ini.
Surabaya, Juli 2015
Penulis,
( Arlinda Arnok Sandari )
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ...................................................................................................... i
Halaman Persetujuan Pembimbing....................................................................... ii
Halaman Pengesahan ............................................................................................ iii
Halaman Motto .................................................................................................... iv
Halaman Persembahan.......................................................................................... v
Abstraksi Skripsi................................................................................................... vi
Kata Pengantar ...................................................................................................... vii
Daftar Isi ............................................................................................................. ix
Daftar Tabel .......................................................................................................... xi
Daftar Gambar ...................................................................................................... xii
Daftar Lampiran.................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................ 6
1.4 Manfaat penelitian .............................................................................. 6
BAB II TELAAH PUSTAKA
2.1 Landasan Teori.................................................................................... 7
2.2 Penelitian Terdahulu ........................................................................... 21
2.3 Kerangka Konseptual.......................................................................... 23
2.4 Hipotesis Penelitian ............................................................................ 24
ix
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 JenisPenelitian..................................................................................... 25
3.2 Deskripsi Poppulasi dan Penentuan Sampel....................................... 25
3.3 Variabel dan Definisi Operasional Variabel....................................... 26
3.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 28
3.5 Teknik Analisis Data .......................................................................... 28
BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Penyajian Data ................................................................................... 31
4.2 Analisis Data ...................................................................................... 45
4.3 Intrepetasi............................................................................................ 51
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 53
5.2 Saran ................................................................................................... 54
Daftar Pustaka
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Matriks Hubungan Profitabilitas .................................................... 13
Tabel 2.2
Pengaruh Faktor Ekonomi.............................................................. 14
Tabel 2.3
PenelitianTerdahulu........................................................................ 22
Tabel 4.1
Daftar Emiten Sektor Properti........................................................ 37
Tabel 4.2
Data Kurs Rupiah Tahun 2011-2014.............................................. 41
Tabel 4.3
Data Suku Bunga Tahun 2011-2014 .............................................. 42
Tabel 4.4
Data InflasiTahun 2011-2014......................................................... 43
Tabel 4.5
Data Indeks Harga Saham Gabungan Tahun 2011-2014 ............... 44
Tabel 4.6
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian.......................................... 45
Tabel 4.7
HasilUjiKorelasi............................................................................. 46
Tabel 4.8
HasilUji F ....................................................................................... 47
Tabel 4.9
PersamaanRegresi .......................................................................... 48
Tabel 4.10 HasilUji T ....................................................................................... 49
Tabel 4.11 Hasil Uji Koefisien Determinan..................................................... 50
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.4 Kerangka Konseptual..................................................................... 23
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Penelitian
Lampiran 2 Statistik Deskriptif
Lampiran 3 Regresi Linier Berganda
Lampiran 4 Kartu Bimbingan Skripsi
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada awal tahun 2013 kondisi perekonomian Indonesia ditargetkan bisa tumbuh
mencapai enam persen, mengacu pertumbuhan tahun 2012 lalu yang mencapai diatas angka
tersebut. Namun di luar ekspektasi , tahun ini ekonomi Indonesia banyak mengalami
“serangan” dari global. Pertumbuhan Indonesia pun melambat, diperkirakan hanya mencapai
5,5 – 5,8 %. Serangan global ini lebih kepada perbaikan ekonomi AS, penutupan (shut down)
Pemerintah As, seta rencana tapering off yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat
(AS),the fed.
Imbas dari serangan ekonomi global pun berdampak pada laju nilai tukar rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat. Pada awal 2013, mata uang Garuda dibuka pada level
Rp.9.600-an per USD dan diakhir Desember 2013 naik menjadi Rp.12.200 per USD.
Tidak hanya rupiah yang terus melemah, pasar saham di Indonesia pun
terguncang.Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki masa suram, dibawah level
4.500 bahkan berkutat di level 4.100 – 4.200 meskipun pernah menembus rekor di level
5.200.
Menurunnya nilai indeks bursa saham global dan krisis finansial di Amerika Serikat
merupakan topik pembicaraan yang menarik untuk selalu diperbincangkan dalam dunia
keuangan di seluruh dunia.Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat terjadi akibat
macetnya kredit properti (subprime mortgage), yaitu sejenis kredit kepemilikan rumah (KPR)
di Indonesia. Efek beruntun dari kredit perumahan itu membuat beberapa perusahaan
keuangan besar di Amerika dan juga perusahaan lain di seluruh dunia bangkrut (Adiwarman,
1
2
2008). Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan sektor properti dan kredit perbankan
sangat mempengaruhi perekonomian di Amerika Serikat.Sebagai negara yang merupakan
pusat ekonomi dunia, efek beruntun perlambatan ekonomi Amerika Serikat tadi sangat
mempengaruhi kinerja pasar dunia. Pengaruh dari krisis finansial akan lebih besar jika terjadi
di pasar bebas seperti saat ini. Kesimpulannya krisis ekonomi Amerika Serikat sangat
menentukan kondisi dan stabilitas ekonomi global, termasuk di negara Indonesia yang masih
tergantung dari kondisi perekonomian Amerika Serikat.
Pengaruh lain krisis finansial global terhadap ekonomi makro adalah dari sisi tingkat
suku bunga. Dengan naik turunnya kurs dollar, suku bunga akan naik karena Bank Indonesia
akan menahan rupiah sehingga akibatnya inflasi akan meningkat. Kedua, gabungkan antara
pengaruh kurs dollar tinggi dan suku bunga yang tinggi akan berdampak pada sektor
investasi dan sektor riil, dimana investasi di sektor riil seperti properti dan usaha kecil dan
menengah (UKM) dalam hitungan semesteran akan sangat terganggu. Pengaruhnya pada
investai di pasar modal, krisis global ini akan membuat orang tidak lagi memilih pasar modal
sebagai tempat yang menarik utnuk berinvestai karena kondisi makro yang kurang
mendukung.
Secara umum, pasar modal merupakan tempat kegiatan perushaaan mencari dana untk
membiayai kegiatan usahanya. Selain itu, pasar modal juga merupakan suatu usaha
penghimpunan masyarakat secara langsung dengan cara menanamkan dana ke dalam
perusahaan yang sehat dan baik pengelolaanya. Fungsi utama pasar modal adalah sebagai
sarana pembentukan modal dan akumulasi dana bagi pembiayaan suatu perusahaan atau
emiten. Dengan demikian pasar modal merupakan salah satu sumber dana bagi pembiayaan
pembangunan nasional pada umumnya dan emiten pada khususnya di luar sumber-sumber
3
yang umum dikenal, seperti tabungan pemerintah, tabungan masyarakat, kredit perbankan
dan bantuan luar negeri.
Bagi kalangan masyarakat yang memiliki kelebihan dana dan berminat untuk
melakukan investasi, hadirnya lembaga pasar modal di Indonesia menambah deretan
alternatif untuk menanamkan dananya. Banyak jenis surat berharga (securities) yang dijial
dipasar tersebut, salah satunya adalah saham. Saham perusahaan go public sebagai komoditi
investasi tergolong berisiko tinggi karena sifatnya yang peka terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi baik oleh pengaruh bersumber dari luar ataupun dari dalam negeri. Perubahan
tersebut antara lain dibidang politik, ekonomi, moneter, undang-undang atau peraturan
maupun perubahan yang terjadi dalam industri dan perusahaan yang mengeluarkan saham
(emiten) itu sendiri.
Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan investasi yang dapat menghasilkan
tingkat keuntungan optimal bagi investor. Investasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan
mnempatkan dana pada satu atau lebih dari satu aset selama periode tertentu dengan harapan
dapat memperoleh enghasilan dan atau peningkatan nilai investasi. Investasi pada saham
dianggap mempunyai tingkat resiko yang lebih besar dibandingkan dengan alternatif
investasi lain, seperti obligasi, deposito, dan tabungan.
Setiap investor di pasar saham sangat membutuhkan informasi yang relevan dengan
perkembangan transaksi di bursa, hal ini sangat penting untuk dijadikan bahan pertimbangan
dan menyusun strategi dan pengembalian keputusan investasi di pasar modal. Investor dapat
memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk menyalurkan dana yang menganggur atau
berinvestasi guna memperoleh keuntungan atau return yang didapat berupa peningkatan
4
modal (capital gain) dan laba hasil usaha yang dibagikan (dividen) untuk investasi dipasar
saham, serta bunga (coupon) untuk invastasi di pasar obligasi.
Pemodal atau investor hanya dapat memperkirakan berapa tingkat keuntungan yang
diharapakan (expected return) dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti
akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Apabila kesempatan investasi mempunyai
tingkat risiko yang lebih tinggi, maka investor akan mngisyaratkan tingkat keuntungan yang
lebih tinggi pula. Dengan kata lain, semakin tinggi risiko suatu kesempatan investasi maka
akan semakin tinggi pula tingkat keuntungan (return) yang diisyaratkan oleh investor. Saham
perusahaan yang go public sebagai komoditi investasi tergolong berisiko tinggi karena sifat
komoditinya sangat peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik perubahan di luar
negeri maupun dalam negeri. Perubahan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif
terhadap nilai saham tersebut yang berada di pasar saham.
Faktor utama yang menyebabkan harga pasar saham berubah adalah adanya persepsi
yang berbeda dari amsing-masing investor sesuai informasi yang dimiliki. Menurut Cheng (
2008 ), dalam melakukan pemilihan investasi di pasar modal dipengaruhi oleh informasi
fundamental dan teknikal. Informasi fundamental adalah informasi kinerja dan kondisi
internal perusahaan yang cenderung dapat dikontrol.Sedangkan informasi teknikal adalah
informasi kondisi makro seperti tingkat pergerakan suku bunga, nilai tukar mata uang,
inflasi, indeks saham di pasar dunia, kondisi keamanan dan politik.Informasi teknikal sering
digunakan sebagai dasar analisis pasar modal. Jika kondisi atau indikator makro ekonomi
mendatang diperkirakan jelek, maka kemungkinan besar refleksi indeks harga saham
menurun, demikian sebaliknya ( Robbert Ang )
5
Seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan , kebutuhan untuk memberikan
informasi yang lebih lengkap kepada masyarakat mengenai perkembangan bursa, juga
semakin meningkat. Salah satu informasi yang diperlukan tersebut adalah indeks harga
saham sebagai cerminan dari pergerakan harga saham.Indeks saham tersebut secara terus
menerus disebarluaskan melalui media cetak maupun elektronik sebagai salah satu pedoman
bagi investor untuk berinvestasi di pasar modal.
Dampak merosotnya nilai tukar rupiah terhadap pasar modal memang dimungkinkan,
mengingat sebagian besar perusahaan yang go public di BEI mempunyai hutang luar negeri
dalam bentuk valuta asing.Di samping itu produk produk yang dihasilkan oleh perusahaan
publik
tersebut
banyak
menggunakan
bahan
yang
memiliki
kandungan
impor
tinggi.Merosotnya rupiah dimungkinkan menyebabkan jumlah hutang perusahaan dan biaya
produksi menjadi bertambah besar jika dinilai dengan rupiah.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
1. Apakah nilai tukar, suku bunga dan inflasi berpengaruh secara parsial terhadap indeks
harga saham gabungan sektor properti pada BEI periode Tahun 2011 – 2014 ?
2. Apakah nilai tukar, suku bunga dan inflasi berpengaruh secara simultan terhadap
indeks harga saham gabungan sektor properti pada BEI periode Tahun 2011 – 2014 ?
6
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui dan menganalisa secara parsial nilai tukar, suku bunga dan inflasi
terhadap indeks harga saham gabungan sektor properti pada BEI periode Tahun 2011 –
2014
2. Untuk mengetahui dan menganalisa secara simultan nilai tukar, suku bunga dan inflasi
terhadap indeks harga saham gabungan sektor properti pada BEI periode Tahun 2011 –
2014 ?
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 MANFAAT SECARA TEORI
Manfaat secara teori dalam penelitian ini agar para akademisi dan peneliti dibidang
keuangan di Indonesia dapat menjadikan salah satu masukan seputar pengaruh variable
makro ekonomi terhadap indeks harga saham gabungan dan sector property
1.4.2 MANFAAT SECARA PRAKTIS
Manfaat secara praktis dalam penelitian ini agar penulis dapat mengetahui bagaimana
faktor-faktor makro ekonomi berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan. Dan
bagi pelaku bisnis dan praktisi keuangan dapat menjadi informasi yang menarik dan
menjadi salah satu masukan dalam mempertimbangkan keputusan investasi
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan disajikan model beserta telaah pustaka yang melandas pengembangan
kerangka pikir dan pengajuan hipotesis. Penulisan dari bab ini akan disajikan sebagai berikut,
pertama adalah telaah pustaka untuk memaparkan beberapa konsep konsep dasar variabel
yang diteliti. Selanjutnya adalah mengenai penelitian penelitian yang pernah dilakukan
sebelumnya yang terangkum dalam sub bab penelitian terdahulu. Kemudian pembahasan
lebih lanjut mengenai kerangka pemikiran teoritis yang menjelaskan model serta hubungan
antar variabel bebas dengan variabel terikat dan diikuti dengan pernyataan hipotesis yang
diajukan. Terakhir pada bab ini adalah definisi operasional variabel yang menjelaskan
bagaimana variabel diukur dan cara perhitungan yang diperlukan.
2.1.1 PASAR MODAL
Pasar modal merupakan alternatif penghimpunan dana selain sistem perbankan. Menurut
Suad Husnan (1994), pasar modal adalah pasar dari berbagai instrument keuangan (sekuritas)
jangka panjang yang dapat diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang (obligasi) maupun
modal sendiri (saham) yang diterbitkan pemerintah dan perusahaan swasta. Sedangkan
undang undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal memberikan
pengertian pasar modal sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum
dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya,
serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek (Bapepam.go.id, 2006). Pengertian
7
8
lainnya, pasar modal adalah salah satu sumber pembiayaan eksternal jangka panjangbagi
dunia usaha khususnya perusahaan yang go public dan sebagai wahana investasi bagi
masyarakat (Farid Harianto dan Siswanto Sudomo, 1998).
Kepemilikan saham oleh masyarakat melalui pasar modal, dapat menjadikan masyarakat
bisa menikmati keberhasilan perusahaan melalui pembagian dividen dan peningkatan harga
saham yang diharapkan.Kepemilikan saham oleh masyarakat juga dapat memberikan
pengaruh positif terhadap pengelolaan perusahaan melalui pengawasan langsung oleh
masyarakat.
Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal
menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal
dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau wahana yang
mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memilki kelebihan dana (investor) dan
pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal maka pihak yang
memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh
imbalan (return) sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan
dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari
operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal
memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana,
sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih (Darmadji dan Fakhruddin, 2001).
2.1.2 INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN
Seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan, kebutuhan untuk memberikan
informasi yang lebih lengkap kepada masyarakat mengenai perkembangan bursa juga
9
semakin meningkat.Salah satu informasi yang diperlukan tersebut adalah harga saham
sebagai cerminan dari pergerakan harga saham.
Indeks Harga Saham Gabungan merupakan indikator utama yang menggambarkan
pergerakan harga saham di pasar modal.Umumnya semua indeks harga saham
gabungan (composite) di berbagai negara menggunakan metode rata-rata tertimbang
termasuk di Bursa Efek Indonesia.Agar IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang
wajar, BEI berwenang untuk mengeluarkan atau tidak memasukkan satu atau beberapa
perusahaan tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar pertimbangannya antara lain adalah bila
jumlah saham perusahaan tercatat tersebut yang dimiliki oleh publik relatif kecil padahal
kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga sahamnya berpotensi
memengaruhi kewajaran pergerakan IHSG.
Indeks Harga Saham Gabungan (composite) mempunyai beberapa fungsi atau gambaran
kinerja suatu bursa diantaranya, yaitu:
•
Sebagai indikator trend pasar.
•
Sebagai indikator tingkat keuntungan.
•
Sebagai Benchmark kinerja suatu portofolio.
•
Memfasilitasi pembentukan portopolio dengan strategi pasif.
Ada beberapa macam pendekatan atau metode perhitungan yang digunakan untuk
menghitung indeks, yaitu: (1) menghitung rata rata (arithmetic mean) harga saham yang
masuk dalam anggota indeks, (2) menghitung (geometric mean) dari indeks individual saham
yang masuk anggota indeks, (3) menghitung rata rata tertimbang nilai pasar. Umumnya
10
semua indeks harga saham gabungan (composite) menggunakan metode rata rata tertimbang
termasuk di Bursa Efek Indonesia (BEI, 2008).Sekarang ini PT. Bursa Efek Indonesia
memiliki 8 macam harga saham yang secara terus menerus disebarluaskan melalui media
cetak maupun elektronik, sebagai salah satu pedoman bagi investor untuk berinvestasi di
pasar modal (BEI, 2008).
Ke delapan macam indeks tersebut adalah:
a. Harga Saham Gabungan (IHSG), menggunakan semua emiten yang tercatat sebagai
komponen perhitungan indeks.
b. Indeks Sektoral, menggunakan semua emiten yang termasuk dalam
masing-masing sektor.
c.
Indeks LQ45, menggunakan 45 emiten yang dipilih berdasarkan kriteria likuiditas dan
kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
d.
Jakarta Islamic Index (JII), menggunakan 30 emiten yang masuk dalam kriteria syariah
dan termasuk saham yang memiliki kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.
e. Indeks Kompas100, menggunakan 100 saham yang dipilih berdasarkan
kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
f. Indeks Papan Utama, menggunakan emiten yang masuk dalam kriteria papan utama.
g. Indeks Papan Pengembangan, menggunakan emiten yang masuk dalam kriteria papan
pengembangan
h. Indeks Individual, yaitu harga saham masing-masing emiten.
11
Cara untuk menghitung Indeks Harga Saham Gabungan :
Rumus:
IHSG = (Ht / H0) X 100%
Dimana :
Ht : Total harga semua saham pada waktu yang berlaku
H0 : Total harga semua saham pada waktu dasar
Seluruh indeks yang ada di BEI menggunakan metode perhitungan yang sama, yaitu
metode rata rata tertimbang berdasarkan jumlah saham tercatat. Perbedaan utama yang
terdapat pada masing masing indeks adalah jumlah emiten dan nilai dasar yang digunakan
untuk penghitungan indeks. Misalnya untuk Indeks LQ45 menggunakan 45 saham untuk
perhitungan indeks sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) menggunakan 30 saham untuk
perhitungan indeks. Indeks indeks tersebut ditampilkan terus menerus melalui display wall di
lantai bursa dan disebarkan ke masyarakat luas oleh data vendor melalui data feed.
Dewasa ini Indeks Harga Saham dijadikan barometer kesehatan ekonomi di suatu negara
dan juga sebagai landasan analisis statistik atas pasar terakhir.Fenomena ekonomi tersebut
meliputi mikro dan makro ekonomi.Fenomena makro diantaranya perubahan nilai tukar, suku
bunga, tingkat inflasi. Perubahan harga saham setiap hari perdagangan akan membentuk IHS.
Angka indeks dibuat sedemikian rupa hingga dapat digunakan untuk mengukur kinerja
saham yang dicatat di bursa efek, dimana return dan risiko pasar tersebut dihitung. Return
portofolio diharapkan meningkat jika IHS cenderung meningkat, demikian sebaliknya return
tersebut menurun jika IHS cenderung menurun. Bahkan saat ini IHS dapat dijadikan
barometer yang menunjukkan kesehatan ekonomi suatu negara dan dapat sebagai dasar
dalam menganalisis kondisi pasar (BEI, 2008).Apabila terjadi peningkatan IHS maka kondisi
12
pasar bagus. IHS digunakan oleh investor dalam melihat kondisi bursa yang akan digunakan
untuk mengambil suatu keputusan saat melakukan transaksi saham.
IHS berlaku untuk saham individu/kelompok sedangkan harga saham gabungan (IHSG)
menggunakan data semua saham yang tercatat di suatu bursa efek. Metodologi perhitungan
indeks menggunakan rata rata tertimbang nilai pasar (market valueweighted average index)
dengan rumus dasar perhitungan :
Nilai Pasar
Nilai Pasar =
Nilai Dasar
0%
Nilai pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikali harga pasar hari ini (kapitalisasi
pasar),
sedangkan nilai dasar adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar di kali harga dasar pada
hari dasar. Hari dasar di Bursa Efek Jakarta adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai
100.
Indeks Harga Saham Gabungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Harga
Saham Gabungan sektor properti yang nilainya diambil dari Monthly Statistic Bursa Efek
Indonesia dari Tahun 2011 - 2014.Nilai yang dipakai adalah nilai harga penutupan (closing
price) setiap bulan.
2.1.2.1 Faktor faktor Ekonomi yang Diperkirakan Mempengaruhi Nilai Saham
Para pemodal dalam proses penilaian investasi harus memahami kondisi ekonomi
nasional suatu negara dimana mereka akan berinvestasi. Kondisi ekonomi ini merupakan
13
faktor faktor yang mempengaruhi atau memberi dampak pada pendapatan dan biaya
perusahaan, serta mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap produk yang dihasilkan
oleh perusahaan (Harianto,2008). Berikut ini tabel yang menggambarkan secara sederhana
hubungan antara profitabilitas perusahaan dengan kondisi tingkat inflasi, tingkat bunga, dan
kurs Rupiah terhadap mata uang asing serta kondisi ekonomi lainnya (Harianto, 2008).
Tabel 2.1
Matriks Hubungan Profitabilitas Perusahaan dengan kondisi ekonomi
Indikator Ekonomi
Dampak
Penjelasan
Inflasi
Meningkatnya inflasi secara
Inflasi
relatif adalah sinyal negatif
perusahaan. Jika peningkatan biaya faktor produksi
bagi pemodal di pasar modal
lebih
meningkatkan
tinggi
dapatdinikmati
dari
pendapatan
peningkatan
oleh
dan
harga
biaya
yang
perusahaan,profitabilitas
perusahaan akanmenurun
Tingkat Bunga
Tingkat bunga yang tinggi
Meningkatnya tingkat bunga
adalah sinyal negatif bagi
harga
harga saham
perusahaan sehingga terjadi perpindahaninvestasi
kapital
akanmeningkatkan
sehinggamemperbesar
biaya
dari saham ke deposito atau fixed.
Kurs Rupiah
Menurunnya kurs Rupiah
Menurunnya kurs dapat mening
terhadap mata uang asing
katkan biaya impor bahan baku dan meningkatkan
memiliki pengaruh negatif
suku bunga walaupun dapat meningkatkan ekspor
terhadap ekonomi dan pasar modal.
14
Variabel ekonomi yang mempengaruhi indeks harga saham adalah keuntungan
perusahaan, pertumbuhan produksi industri, inflasi, tingkat bunga, kurs mata uang rupiah,
pengangguran dan jumlah uang beredar.Tandelilin (2000) menyatakan bahwa factor-faktor
ekonomi makro secara empirik telah terbukti mempunyai pengaruh terhadap kondisi pasar
modal di beberapa negara.Faktor faktor tersebut yaitu laju pertumbuhan inflasi, tingkat suku
bunga dan nilai tukar mata uang (exchange rate).Pengaruh masing masing faktor tersebut
dapat digambarkan di tabel sebagai berikut:
Tabel 2.2
Pengaruh Faktor faktor Ekonomi Terhadap investasi
Indikator Ekonomi
Pengaruh
Inflasi
Menurunnya
inflasi
secara
relatif
merupakan sinyal positif bagi investor
di pasar modal.
Tingkat suku bunga
Menurunnnya tingkat suku bunga
merupakan sinyal positif terhadap
harga saham.
Kurs
Menguatnya kurs rupiah terhadap
mata uang asing merupakan sinyal
positif bagi ekonomi yang mengalami
inflasi.
15
2.1.3 Nilai Tukar Uang
Banyak hal mempengaruhi naik turunnya kinerja saham, di antaranya factor makro
ekonomi seperti inflasi, nilai tukar uang, dan suku bunga sebagaimana yang ditemukan oleh
Tirapat dan Nitayagasetwat (1999). Nilai tukar suatu mata uang adalah harga mata uang
suatu negara terhadap negara asing lainya, misalnya harga dari satu dollar Amerika saat ini
Rp9.600,00 atau harga satu dollar Hongkong (HKD) adalah Rp1.500,00 dan seterusnya.
Harga pada umumnya terkait dengan sejumlah uang, dan nilai tukar mata uang ini bersifat
stabil dan bisa labil atau terlalu bergerak naik atau turun.
Nilai tukar atau lazim juga disebut kurs valuta dalam berbagai transaksi ataupun jual beli
valuta asing, dikenal ada empat jenis yakni (Dornbusch dan Fischer, 1992):
a. Selling Rate (kurs jual), yakni kurs yang ditentukan oleh suatu Bank untuk penjualan
valuta asing tertentu pada saat tertentu
b. Middle Rate (kurs tengah), adalah kurs tengah antara kurs jual dan kurs beli valuta asing
terhadap mata uang nasional, yang ditetapkan oleh Bank Central pada suatu saat tertentu.
c. Buying Rate (kurs beli), adalah kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk
pembelian valuta asing tertentu pada saat tertentu.
d. Flat Rate (kurs flat), adalah kurs yang berlaku dalam transaksi jual beli bank notes dan
traveller chaque, di mana dalam kurs tersebut sudah diperhitungkanpromosi dan biaya biaya
lainya.
Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka
mengingat pengaruh yang demikian besar bagi neraca transaksi berjalan maupun
variabel variabel makro ekonomi yang lain. Ada dua pendekatan yang digunakan untuk
menentukan nilai tukar mata uang yaitu pendekatan moneter dan pendekatan pasar.Dalam
16
pendekatan moneter, nilai tukar mata uang di definisikan sebagai harga dimana mata uang
asing diperjual belikan terhadap mata uang domestik dan harga tersebut berhubungan dengan
penawaran dan permintaan uang.
Naik turunnya nilai tukar mata uang atau kurs valuta asing bisa terjadi dengan berbagai
cara, yakni bisa dengan cara dilakukan secara resmi oleh pemerintah suatu negara yang
menganut sistem managed floating exchange rate, atau bisa juga karena tarik menariknya
kekuatan kekuatan penawaran dan permintaan di dalam pasar (marketmechanism) dan
lazimnya perubahan nilai tukar mata uang tersebut bisa terjadi karena empat hal, yaitu:
a. Depresiasi (depreciation), adalah penurunan harga mata uang nasional berbagai terhadap
mata uang asing lainnya, yang terjadi karena tarik menariknya kekuatan kekuatan supply and
demand di dalam pasar (market mechanism).
b. Appresiasi (appreciation), adalah peningkatan harga mata uang nasional terhadap berbagai
mata uang asing lainnya, yang terjadi karena tarik menariknya kekuatan kekuatan supply dan
demand di dalam pasar (marketmechanism).
c. Devaluasi (devaluation), adalah penurunan harga mata uang nasional terhadap berbagai
mata uang asing lainnya yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah suatu negara.
d. Revaluasi (revaluation), adalah peningkatan harga mata uang nasional terhadap berbagai
mata uang asing lainnya yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah suatu negara.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar yaitu faktor
fundamental, faktor teknis dan sentimen pasar (Madura 1993 dalam Maski dan Widyastuti
2003).Faktor fundamental berkaitan dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, suku
bunga, perbedaan relative pendapatan antar negara, ekspektasi pasar dan interfensi bank
sentral. Faktor teknis berkaitan dengan kondisi permintaan dan penawaran devisa pada saat-
17
saat tertentu. Apabila ada kelebihan permintaan, sementara penawaran tetap, maka harga valas
akan naik dan begitu pula sebaliknya.
Sentimen pasar lebih banyak disebabkan oleh rumor atau berita-berita politik yang
bersifat insidentil, yang dapat mendorong harga valas naik atau turun secara tajam dalam
jangka pendek. Apabila rumor atau berita-berita sudah berlalu, maka nilai tukar akan kembali
normal (Arifin 1998 dalam Maski dan Widyastuti 2003).
Secara teori ada dua sudut pandang tentang keterkaitan antara harga saham dan nilai
tukar. Di satu sisi, para pendukung model “portfolio balance" meyakini bahwa harga saham
mempengaruhi nilai tukar uang secara negatif (Saini dkk., 2002). Ekuitas yang merupakan
bagian dari kekayaan (wealth) perusahaan dapat mempengaruhi nilai tukar uang melalui
permintaan uang. Sebagai contoh semakin tinggi harga saham akan menyebabkan semakin
tinggi permintaan uang dengan tingkat bunga yang semakin tinggi pula, sehingga hal ini akan
menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya dan hasilnya terjadi apresiasi
terhadap mata uang domestik.
Kondisi sosial, politik, dan keamanan sangat berpengaruh terhadap penguatan nilai
tukar.Walaupun tingkat bunga dipertahankan tinggi, tetapi kondisi sosial, politik, dan
keamanan belum stabil, maka nilai tukar masih terdepresiasi karena para investor asing tidak
berani berinvestasi karena tidak adanya jaminan keamanan.Kestabilan nilai rupiah dapat
diukur dari nilai rupiah terhadap barang-barang dalam negeri dan luar negeri.Kestabilan nilai
rupiah terhadap barang-barang dalam negeri tercermin dari tingkat inflasi, sementara
kestabilan nilai rupiah luar negeri tercermin dari nilai tukar rupiah (kurs) terhadap uang
negara lain (Iljas 2000 dalam Tauhid Ahmad 2002).
18
2.1.4 Suku bunga
Suku bunga merupakan harga atas dana yang dipinjam (Reilly and Brown, 1997). Pada
waktu perusahaan merencanakan pemenuhan kebutuhan modal sangat dipengaruhi oleh
tingkat bunga yang berlaku saat itu. Apakah akan menerbitkan sekuritas ekuitas atau hutang.
Karena penerbitan obligasi atau penambahan hutang hanya dibenarkan jika tingkat bunganya
lebih rendah dari earning power dari penambahan modal tersebut (Riyanto,1990). Suku
bunga yang rendah akan menyebabkan biaya peminjaman yang lebih rendah. Suku bunga
yang rendah akan merangsang investasi dan aktivitas ekonomi yang akan menyebabkan
harga saham meningkat.
Dalam dunia properti, suku bunga berperan dalam meningkatkan aktivitas ekonomi
sehingga berdampak kuat pada kinerja perusahaan properti yang berakibat langsung pada
meningkatnya return saham.Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia sering diidentikan dengan
aktiva yang bebas risiko artinya aktiva yang risikonya nol atau paling kecil.Hasil penelitian
Haryanto (2007) membuktikan bahwa besarnya suku bunga SBI mempengaruhi risiko
sistematik perusahaan.Semakin kecil suku bunga Bank Indonesia maka semakin besar risiko
sistematik saham. Suku bunga bank Indonesia merupakan patokan dalam menentukan
besarnya bunga kredit dan tabungan. Suku bunga SBI yang tinggi tidak menggairahkan
perkembangan usaha usaha karena mengakibatkan suku bunga bank yang lain juga tinggi.
Sehingga rendahnya suku bunga SBI mengandung risiko lesunya ekonomi.Hal ini
mengakibatkan tingginya risiko berinvestasi di pasar modal.Dalam penelitian ini suku bunga
yang digunakan adalah nilai tengah suku bunga deposito SBI 1 perbulan dari Januari –
Desember 2013.
19
2.1.5 Laju Inflasi
Inflasi sangat terkait dengan penurunan kemampuan daya beli, baik individu maupun
perusahaan. Salah satu peristiwa yang sangat penting dan dijumpai di hamper semua negara
di dunia adalah inflasi. Didalam perekonomian ada kekuatan tertentu yang menyebabakan
tingkat harga melonjak sekaligus, tetapi ada kekuatan lain yang menyebabkan kenaikan
tingkat harga berlangsung terus menerus secara perlahan. Peristiwa yang cenderung
mendorong naiknya tingkat harga disebut gejolak Inflasi (Lipsey, 1992).
Cara menghitung Laju Inflasi :
Laju Inflasi = IHK periode n – IHK tahun sebelumnya
Dimana :
IHK
: Indeks harga Konsumen
n
: Periode sekarang.
2.1.5.1 Jenis Inflasi
1. Inflasi merayap (creeping inflation)
Ditandai dengan laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% per tahun).Kenaikan
harga berjalan secara lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka yang
relatif lama.
2. Inflasi menengah (galloping inflation)
Ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar, (biasanya double digit atau
bahkan triple digit) dan kadang kala berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta
mempunyai sifat akselerasi.Artinya, harga-harga minggu/bulan ini lebih tinggi dari
minggu/bulan lalu dan seterusnya.Efeknya terhadap perekonomian lebih berat
daripada inflasi yang merayap (creeping inflation).
20
3. Inflasi tinggi (hyper inflation)
Merupakan inflasi yang paling parah akibatnya. Harga-harga naik sampai lima atau
enam kali. Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang.Nilai uang
merosot dengan tajam, sehingga ingin ditukarkan dengan barang.Perputaran uang
makin cepat, harga naik secara akselerasi.Biasanya keadaan ini timbul apabila
pemerintah mengalami defisit anggaran belanja (misalnya ditimbulkan oleh adanya
perang) yang dibelanjai/ditutup dengan mencetak uang.
Secara keseluruhan, laju inflasi yang sedang berlangsung tergantung pada (i) permintaan,
seperti yang ditunjukan oleh senjang inflasi atau senjang resesi ,(ii) kenaikan biaya yang
diharapkan, (iii) serangkaian kekuatan luar yang datang terutama dari sisi penawaran. Laju
inflasi dapat dipisahkan menjadi tiga komponen yaitu inflasi inti, inflasi permintaan dan
inflasi gejolak (Nopirin, 1990).Inflasi inti adalah inflasi yang komponen harganya
dipengaruhi oleh faktor fundamental.Inflasi permintaan yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh
kebijakan pemerintah seperti kebijakan harga BBM, listrik, air minum, dan lainnya,
sedangkan inflasi bergejolak adalah inflasi yang dipengaruhi oleh kelancaran produksi dan
distribusi barang dan jasa.Kenaikan inflasi dapat diukur dengan menggunakan indeks harga
konsumen (Customer Price index).Inflasi dapat dipilah berdasarkan sifat temporer atau
permanen.Inflasi yang bersifat permanen adalah laju inflasi yang disebabkan oleh
meningkatnya tekanan permintaan barang dan jasa.Sedangkan inflasi yang bersifat temporer
adalah inflasi yang diakibatkan gangguan sementara (misalnya kenaikan biaya energi,
transportasi, dan bencana alam). Adapun cara yang digunakan untuk mengukur inflasi
(Nopirin, 1990).
21
a. Dengan menggunakan harga umum.
b. Dengan menggunakan angka deflator.
c. Dengan menggunakan indeks harga umum (IHK).
d. Dengan menggunakan harga pengharapan.
e. Dengan menggunakan indeks dalam dan luar negeri
2.2 PENELITIAN TERDAHULU
Beberapa penelitian terdahulu tentang pengaruh variabel makro ekonomi terhadap kinerja
indeks harga saham menunjukkan hasil yang berbeda sebagaimana yang ditemukan oleh
Tirapat dan Nitayagasetwat (2008) bahwa terdapat sensitivitas perusahaan terhadap
variabel makro ekonomi yang disebut resiko sitematik perusahaan yang diperoleh dari hasil
regresi return saham perusahaan dengan variabel makro ekonomi tersebut.
22
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu
No
Peneliti
Penelitian
Variabel
1.
Heru
Analisis Pengaruh Suku
Nugroh
inflasi,
o
bunga, kurs dan kurs
(2008)
Model
Hasil
Regresi
Regresi,
suku Bunga dan Linier
Berganda
suku
bunga,
jumlah uang yang beredar
kurs
yang
jumlah uang yang
mempengaruhi
variable
beredar
dependen, sedangkan satu
terhadap
Indeks LQ45
dan
variable
inflasi
tidak
mempengaruhi
2.
3.
Ratna
Analisis pengaruh Inflasi,
Regresi
Prihanti
inflasi, nilai tukar Nilai tukar,
pengaruh yang signifikan
ni
terhadap
terhadap return saham
(2009)
saham
saham
Yogi
Pengaruh
Tingkat
Perman
fundamental
bunga,
a
keuangan, tingkat inflasi
pengaruh yang signifikan
(2009)
bunga dan inflasi
terhadap harga saham
return return
Regresi
Semua variable memiliki
Bersama-sama
variable
semua
memiliki
terhadap
pergerakan harga
saham
Pada penelitian yang dilakukan oleh Heru Nugroho pada tahun 2008 variabel suku
bunga dan kurs mempengaruhi variable dependen, sedangkan variable inflasi tidak
23
mempengaruhi terhadap indeks harga saham LQ 45. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh
Ratna Prihantini pada tahun 2009 variabel inflasi dan nilai tukar berpengaruh secara signifikan
terhadap return saham.
Dan yang terakhir yaitu penelitian yang dilakukan oleh Yogi Permana pada tahun 2009, variable
tingakt bunga dan inflasi sama-sama berpengaruh terhadap pergerakan harga saham.
Semua penelitian ini memiliki persamaan yaitu variable dependen memiliki pengaruh secara
bersama-sama terhadap variable independen.
2.3 KERANGKA KONSEPTUAL
Berdasarkan rumusan masalah, tinjauan pustaka maka kerangka konseptual dalam penelitian
ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Nilai Tukar (X1)
Suku Bunga (X2)
Indeks Harga Saham
Gabungan Sektor Properti
(Y)
Laju Inflasi (X3)
Keterangan : - - - - - - - - - = Parsial = Simultan
Gambar 2.4 Kerangka Konseptual
24
2.4 HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan penelitian terdahulu dan landasan teori diatas, maka hipotesis penelitian ini
adalah :
1. Nilai tukar, suku bunga dan laju inflasi berpengaruh signifikan secara parsial terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan sektor properti pada BEI periode Tahun 2011 – 2014
2. Nilai tukar, suku bunga dan laju inflasi berpengaruh signifikan secara simultan
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan sektor properti pada BEI periode Tahun
2011 – 2014
BAB III
METODE PENELITIAN
Sebelum suatu penelitian dilaksanakan, maka terlebih dahulu perlu ditentukan
metode yang akan digunakan. Hal ini akan membantu di dalam pelaksanaan penelitian.
Pada bab ini terbagi menjadi 5 sub bab yaitu 3.1 mengenai jenis penelitian. Sub bab 3.2
mengenai diskripsi populasi dan penentuan sampel. Variable dan definisi operasional
variable pada sub bab 3.3 dan teknik pengumpulan data dan instrument penelitian pada
sub bab 3.4. Teknik keabsahan data pada sub bab 3.5. Dan yang terakhir teknik analisis
data pada sub bab 3.6
3.1 JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan
validitas.Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena penelitian
ini disajikan dengan angka-angka.Hal ini sesuai dengan pendapat (Arikunto 2006) yang
mengemukakan penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut
menguakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan hasilnya.
3.2 DESKRIPSI POPULASI DAN PENENTUAN SAMPEL
Menurut
Arikunto
(2006:
130)
populasi
adalah
keseluruhan
subjek
penelitian.Populasi dalam penelitian ini adalah Indeks Harga Saham Gabungan
perusahaan properti yang berjumlah 7 perusahaan yang terdaftar pada BEI untuk periode
25
26
taun 2011 - 2014. Dari 43 jumlah perusahaan yang terdaftar di sector property pada BEI
tahun 2011-2014
Penentuan pemilihan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik
purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu
(Sugiyono, 2011).
Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
non probabilitas.Metode penelitian sampel yang digunakan adalah purposive sampling.
Sampel penelitian diambil secara purposive sampling, dimana sampel harus
memenuhi kriteria:
1. Indeks harga saham gabungan sektor properti di Bursa Efek Indonesia pada periode
tahun 2011 - 2014
2. Data yang diambil untuk perusahaan yang terdaftar mulai tahun 2000-2010
3. Perusahaan tersebut memilki dividen di atas 100 Milyar
4. Perusahaan tersebut memiliki akumulasi nilai saham di atas 1 M
3.3 VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono: 2009:). Jadi yang dimaksud dengan
variabel penelitian dalam penelitian ini adalah segala sesuatu sebagai objek penelitian
yang ditetapkan dan dipelajari sehingga memperoleh informasi untuk menarik
kesimpulan. Sugiyono (2009) menyampaikan bahwa variabel penelitian dalam penelitian
kuantitatif dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
27
1. Variabel bebas (independen variable)
Variabel bebas, merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat).
2. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel terikat, merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena
adanya variabel bebas.
Definisi Operasional Variabel adalah definisi dari variabel variabel yang
digunakan dalam penelitian ini, dan menunjukkan cara pengukuran dari masing masing
variable tersebut, pada setiap indikator dihasilkan dari data sekunder dan dari suatu
perhitungan terhadap formulasi yang mendasarkan pada konsep teori.
Pengertian dari masing masing penelitian ini adalah :
1. Yang dimaksud dengan variabel nilai tukar adalah harga mata uang dollar Amerika
Serikat dalam mata uang domestik yaitu Rupiah. Variabel ini diukur dengan
menggunakan kurs tengah Dollar US terhadap Rupiah yang dikeluarkan oleh Bank
Indonesia setiap bulannya.
2. Yang dimaksud dengan suku bunga adalah suku Bunga Bank Indonesia yang
menggambarkan tentang suku bunga yang diambil dalam jangka waktu 1 bulan.
3. Yang dimaksud dengan variabel inflasi adalah ukuran aktivitas ekonomi yang
digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi nasional (tentang peningkatan
harga rata rata barang dan jasa yang diproduksi system perekonomian). Variabel ini
diukur dengan mencatat data laju inflasi indeks harga konsumen nasional yang
diterbitkan BPS tiap bulan.
28
4. Indeks Harga saham gabungan merupakan suatu indikator yang menunjukkan
pergerakan harga saham secara bulanan. Sektor yang diambil adalah sektor properti
yang merupakan salah satu dari sepuluh indeks saham sektoral yang dikeluarkan oleh
Bursa Efek Indonesia.
3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN
Metode
pengumpulan
data
dalam
penelitian
ini
adalah
dengan
mendokumentasikan yaitu mencatat data bulanan yang tercantum pada Monthly Statistic
untuk data indeks harga saham gabungan sektor properti bulanan.Untuk data kurs dan
suku bunga bulanan diperoleh dari situs resmi Bank Indonesia (www.bi.go.id), serta situs
(www.bi.go.id) untuk data laju inflasi bulanan.Dan dilakukan dengan pendekatan
kepustakaan (Library Research) dengan mengumpulkan data secara tidak langsung
dengan membaca buku dan literatur.Seta dengan pendekatan dokumentasi dengan
mencari sumber dokumen perusahaan untuk membahas masalah atau objek yang diteliti.
3.5 TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Analisis data kuantitatif, untuk memperkirakan secara kuantitatif pengaruh
dari beberapa variable Independen secara bersama sama maupun secara
sendiri sendiri terhadap variable dependen. Hubungan fungsional antara satu
variabel dependen dengan variable independen dapat dilakukan dengan regresi
berganda dan menggunakan data gabungan antara cross section dan time
series.
29
Metode analisis yang digunakan adalah regresi Model Linier dengan model
sebagai berikut :
Y = a + b1X1+ b2X2 + b3X3 + b4X4+e
dimana :
Y
= Indeks harga saham sektor properti
a
= konstanta
b1, b2, b3
= koefisien regresi
X1
= Nilai tukar US$
X2
= Tingkat bunga SBI
X3
= Inflasi
e
= error
2. UJI F
Uji F digunakan untuk menguji hubungan linier dari seluruh variabel
independen
secara
bersama-sama
(simultan)
terhadap
variabel
dependen.Untuk menentukan uji Ftabel tingkat signifikan yang digunakan
sebesar 5%.Nilai Ftabel ini kemudina dibandingkan dengan nilai Fhitung.
Apabila nilai Fhitung<Ftabel, maka variabel independen secara bersama-sama
berpengaruh
terhadap
variabel
dependen.Langkah
selanjutnya
yaitu
menentukan nilai dari koefisien determinasi yang menunjukkan seberapa
besar variabel independen pada model yang digunakan mampu menjelaskan
variabel dependennya.
30
3. UJI T
Uji T digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara parsial
terhadap variabel dependen.Untuk menentukan nilai Ftabel tingkat signifikan
( ) yang digunakan sebesar 5%.Nilai t-tabel ini kemudian dibandingkan
dengan nilai thitung.Apabila nilai thitung<ttabel, maka variable independen
secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Sebaliknya, nilai
thitung>ttabel,maka variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap
variabel dependen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penyajian Data
Bursa efek atau bursasaham adalah sebuah pasar yang berhubungan dengan pembelian
dan penjualan efek perusahaan yang sudah terdaftar di bursa itu.Bursa efek tersebut, bersamasama dengan pasar uang merupakan sumber utama permodalan eksternal bagi perusahaan dan
pemerintah.Biasanya terdapat suatu lokasi pusat, setidaknya untuk catatan, namun perdagangan
kini semakin sedikit dikaitkan dengan tempat seperti itu, karena bursa saham modern kini
adalah jaringan elektronik, yang memberikan keuntungan dari segi kecepatan dan biaya
transaksi. Karena pihak pihak yang bertransaksi tidak perlu saling tahu lawan transaksinya,
perdagangan dalam bursa hanya dapat dilakukan oleh seorang anggota, sang pialang saham.
Permintaan dan penawaran dalam pasar-pasar saham didukung faktor-faktor yang, seperti halnya
dalam setiap pasar bebas, memengaruhi harga saham (lihat penilaian saham).
Sebuah bursa saham sering kali menjadi komponen terpenting dari sebuah pasar saham.
Tidak ada keharusan untuk menerbitkan saham melalui bursa saham itu sendiri dan saham juga
tidak mesti diperdagangkan di bursa tersebut: hal semacam ini dinamakan "off exchange". Untuk
saham yang sudah terdaftar perdagangannya harus dilapor ke bursa ybs.
Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, atau Indonesia Stock Exchange (IDX) merupakan bursa
hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES).
31
32
BEI menggunakan sistem perdagangan bernama Jakarta Automated Trading System
(JATS) sejak 22 Mei 1995, menggantikan sistem manual yang digunakan sebelumnya. Sejak 2
Maret 2009 sistem JATS ini sendiri telah digantikan dengan sistem baru bernama JATS-NextG
yang disediakan OMX.
4.1.1 Indeks harga Saham
Untuk memberikan informasi yang lebih lengkap tentang perkembangan bursa kepada
publik, BEI menyebarkan data pergerakan harga saham melalui media cetak dan elektronik.Satu
indikator pergerakan harga saham tersebut adalah indeks harga saham.Saat ini, BEI mempunyai
beberapa jenis indeks, ditambah dengan sepuluh jenis indeks sektoral.[5] Indeks-indeks tersebut
adalah :
1. IHSG, menggunakan semua saham tercatat sebagai komponen kalkulasi Indeks.
2. Indeks Individual, yang merupakan Indeks untuk masing-masing saham didasarkan harga
dasar.
3. Indeks LQ45, menggunakan 45 saham terpilih setelah melalui beberapa tahapan seleksi.
4. Indeks IDX30, menggunakan 30 saham terpilih setelah melalui beberapa tahapan seleksi.
5. Indeks Kompas100, menggunakan 100 saham pilihan harian Kompas.
6. Indeks Sektoral, menggunakan semua saham yang masuk dalam sektor yang sama.
7. Jakarta Islamic Index, menggunakan 30 saham terpilih yang termasuk dalam Daftar Efek
Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK (Kini OJK).
8. Indeks
Bursa
Syariah
Indonesia (Indonesia
Sharia
Stock
Index (ISSI)),
yang
menggunakan semua saham yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah yang diterbitkan
oleh Bapepam-LK (kini OJK).
33
9. Indeks Bisnis-27, menggunakan 27 saham terpilih bekerja sama dengan Harian Bisnis
Indonesia.
10.Indeks Pefindo25, menggunakan 25 saham terpilih bekerja sama dengan Pefindo.
11.Indeks SRI-KEHATI, menggunakan 25 saham terpilih yang menerapkan prinsip tata
kelola yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan, bekerjasama dengan Yayasan
KEHATI.
12.Indeks SMinfra18, menggunakan 18 saham terpilih yang bergerak dalam bidang
infrastruktur dan penunjangnya, bekerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur
(Persero).
13.Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan, indeks yang didasarkan pada kelompok
saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.
4.2 Daftar Emiten Sektor Property
Per Juni 2015 ada 518 emiten saham yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia
(BEI).Ada 10 sektor didalamnya dan termasuk salah satunya adalah sector property.Pada sector
property ada 48 emiten yang tercatat, dan pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan 7
emiten saham yang tercatat pada BEI sesuai dengan kriteria yang telah disebutkan. Berikut
adalaha datanya :
34
Tabel 4.1 Daftar Emiten dan Kode Sektor Property
Sumber: Data IDX.co.id
KODE
Nama Perusahaan
Tanggal Pencatatan
IDX: APLN
Agung Podomoro Land Tbk
11-November-2010
IDX: ASRI
Alam Sutera Reality Tbk
18-Desember-2007
IDX: BSDE
Bumi Serpong Damai Tbk
6-Juni-2008
IDX: CTRP
Ciputra Property Tbk
7-Juli-2007
IDX: MKPI
Metropolitan Kentjana Tbk
10-Juli-2009
IDX: ADHI
Adhi Karya Tbk
18-Maret-2004
IDX: LCGP
Laguna Cipta Griya Tbk
13-Juli-2007
Berdasarkan table di atas ada 7 perusahaan yang tergolong dalam kriteria yang telah ditentukan
oleh penulis, yaitu :
1. Agung Podomoro Land Tbk (APLN)
Agung Podomoro Land Tbk (APLN) didirikan tanggal 30 Juli 2004 dan mulai
beroperasi secara komersial pada tahun 2004.Kantor pusat APLN beralamat di APL
Tower, Jl. Letjen S. Parman Kav.28, Jakarta Barat.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan APLN meliputi
usaha dalam bidang real estat, termasuk pembebasan tanah, pengembang, dan penjualan
tanah, baik tanah untuk perumahan, maupun tanah untuk industri, serta penjualan tanah
berikut bangunannya. Saat ini kegiatan usaha yang dijalankan APLN meliputi
pembebasan tanah, pengembang real estat, persewaan dan penjualan tanah berikut
bangunannya atas apartemen, pusat perbelanjaan dan perkantoran dengan proyek
Mediterania Garden Residence 2, Central Park, Royal Mediterania Garden, Garden
35
Shopping Arcade, Gading Nias Emerald, Gading Nias Residence, Grand Emerald,
Gading Nias Shopping Arcade, Madison Park dan Garden Shopping Arcade 2 serta
melakukan investasi pada entitas anak dan asosiasi.
Pada tanggal 1 Nopember 2010, APLN memperoleh pernyataan efektif Bapepam LK untuk melakukanPenawaran Umum Perdana Saham APLN (IPO) kepada masyarakat
sebanyak 6.150.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham serta harga
penawaran Rp365,- per saham. Pada tanggal 11 Nopember 2010, saham tersebut telah
dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia.
2. Alam Sutera Reality Tbk (ASRI)
Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) didirikan dengan nama PT Adhihutama Manunggal
tanggal 3 November 1993 dan mulai melakukan kegiatan operasional dengan pembelian
tanah dalam tahun 1999. Kantor pusat ASRI terletak di Wisma Argo Manunggal, Lt. 18,
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 22, Jakarta 12930.
Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Alam Sutera Realty Tbk,
antara lain: PT Manunggal Prime Development (pengendali) (26,27%) dan PT Tangerang
Fajar Industrial Estate (pengendali) (25,21%). Adapun pengendali utama Alam Sutera
Realty Tbk adalah keluarga Tuan The Ning King.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ASRI dalam
bidang pembangunan dan pengelolaan perumahanperumahan, kawasan komersial,
kawasan industri, dan pengelolaan pusat perbelanjaan, pusat rekreasi serta perhotelan
(pengembangan kawasan terpadu). Saat ini proyek real estat utama yang dimiliki oleh
ASRI dan anak usahanya, antara lain: berlokasi di Tanggerang (proyek Kota Mandiri
Alam Sutera di Serpong; Kota Mandiri Suvarna Sutera di Pasar Kemis dan Kota
36
Ayodhya di pusat kota), Jakarta (proyek gedung perkantoran The Tower serta Wisma
Argo Manunggal) dan Bali (Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana).
Pada tanggal 7 Desember 2007, ASRI memperoleh pernyataan efektif dari BapepamLK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ASRI (IPO) kepada masyarakat
sebanyak 3.142.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga
penawaran sebesar Rp105,- per saham. Pada tanggal 18 Desember 2007, saham tersebut
telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia.
3. Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) didirikan 16 Januari 1984 dan mulai beroperasi
secara komersial pada tahun 1989.Kantor BSDE terletak di Sinar Mas Land Plaza, BSD
Green Office Park, Tangerang.Proyek real estat BSDE berupa Perumahan Bumi Serpong
Damai yang berlokasi di Kecamatan Serpong, Kecamatan Legok, Kecamatan Cisauk dan
Kecamatan Pagedangan, Propinsi Banten.
BSDE dan anak usaha (grup) termasuk dalam kelompok usaha PT Paraga Artamida,
sedangkan pemegang saham akhir Grup adalah Sinarmas Land Limited yang
berkedudukan di Singapura.
Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Bumi Serpong Damai Tbk,
antara lain: PT Paraga Artamida (26,57%) dan PT Ekacentra Usahamaju (26,47%).Saat
ini, BSDE memiliki anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni
Duta Pertiwi Tbk (DUTI).
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BSDE adalah
berusaha dalam bidang pembangunan real estat. Saat ini BSDE melaksanakan
pembangunan kota baru sebagai wilayah pemukiman yang terencana dan terpadu yang
37
dilengkapi dengan prasarana-prasarana, fasilitas lingkungan dan penghijauan dengan
nama BSD City.
Pada tanggal 28 Mei 2008, BSDE memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAMLK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BSDE (IPO) kepada masyarakat
sebanyak 1.093.562.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga
penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada tanggal 06 Juni 2008.
4. Ciputra Property Tbk (CTRP)
Ciputra Property Tbk (CTRP) didirikan dengan nama PT Citraland Property tanggal
22 Desember 1994 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1984. Kantor
pusat CTRP berlokasi di Jalan Prof. Dr. Satrio Kav.34, Jakarta.
Induk usaha dari Ciputra Property Tbk adalah Ciputra Development Tbk (CTRA)
(miliki 56,25% saham CTRP), sedangkan induk usaha terakhir dari Ciputra Property Tbk
adalah PT Sang Pelopor.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CTRP meliputi
mendirikan dan menjalankan usaha-usaha pembangunan, pengelolaan, dan penyewaan di
bidang perhotelan, rumah susun (apartemen), perkantoran, pertokoan, pusat niaga, dan
pusat rekreasi beserta fasilitasnya. Proyek-proyek yang didirikan dan dijalankan oleh
CTRP, antara lain: Ciputra World I Jakarta, Ciputra World II Jakarta, Ciputra World II
Extention Jakarta, Hotel & Mal Ciputra Jakarta, Hotel & Mal Ciputra Semarang,
Somerset Grand Citra Service Residence Jakarta, Dipo Business Center, Ciputra
International dan Citradream Budget Hotel, Ciputra Beach Resort Bali.
38
Pada tanggal 30 Oktober 2007, CTRP memperoleh pernyataan efektif dari BapepamLK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham CTRP (IPO) kepada masyarakat
sebanyak 3.010.000.000 dengan nilai nominal Rp250,- per saham dengan harga
penawaran Rp700,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada tanggal 07 Nopember 2007.
5. Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) didirikan 29 Maret 1972 dan mulai beroperasi
secara komersial pada tahun 1975.Kantor pusat MKPI berlokasi di Jalan Metro Duta
Niaga Blok B5 Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham MKPI, antara lain: PT Karuna
Paramita propertindo (47,44%), PT Penta Cosmoploitan (7,49%), PT Buditama Nirwana
(7,15%), PT Dwitunggal Permata (7,09%) dan PT Apratima Sejahtera (7,09%).
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MKPI terutama
meliputi bidang real estat, pembangunan, penyewaan dan pengelolaan pusat perbelanjaan,
apartemen, perkantoran, perumahan serta jasa pemeliharaan, pembersihan dan
pengelolaan. Saat ini, kegiatan utama MKPI adalah penyewaan ruang pusat perbelanjaan,
perkantoran dan apartemen dan penjualan tanah dan bangunan.
MKPI dan Anak Usaha memiliki dan mengelola pusat perbelanjaan (Mal) Pondok
Indah I, II dan Street Gallery, Pondok Indah Office Tower I, II dan III, Pondok Indah
Office Park dan Apartemen Golf Pondok Indah I, II dan III serta proyek Real Estat
perumahan Pondok Indah, Taman Shangril La di Batam dan Pondok Indah Hotel.
Pada tanggal 29 Juni 2009, MKPI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK
untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MKPI (IPO) kepada masyarakat
39
sebanyak 95.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran
Rp2.100,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI)
pada tanggal 10 Juli 2009.
6. Adhi Karya Tbk (ADHI)
Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) didirikan tanggal 1 Juni 1974 dan memulai usaha
secara komersial pada tahun 1960.Kantor pusat ADHI berkedudukan di Jl. Raya Pasar
Minggu KM.18, Jakarta.Nama Adhi Karya untuk pertama kalinya tercantum dalam SK
Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja tanggal 11 Maret 1960.Kemudian
berdasarkan PP No. 65 tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perusahaan Negara
Adhi Karya. Pada tahun itu juga, berdasarkan PP yang sama Perusahaan Bangunan bekas
milik Belanda yang telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur ke dalam
Perusahaan.Pemegang saham pengendali Adhi Karya adalah Negara Republik Indonesia,
dengan persentase kepemilikan sebesar 51%.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, Ruang lingkup bidang usaha ADHI
meliputi:
1.
Konstruksi,
2.
Konsultasi manajemen dan rekayasa industri (Engineering Procurement and
Construction/EPC),
3.
Perdagangan umum, jasa pengadaan barang, industri pabrikasi, jasa dalam bidang
teknologi informasi, real estat dan agro industri.
Saat ini kegiatan utama ADHI dalam bidang konstruksi, EPC, real estat dan jasa
pengadaan barang.Adhi Karya memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1960.
40
Pada tanggal 8 Maret 2004, ADHI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK
untuk melakukan penawaran umum kepada masyarakat atas 441.320.000 saham biasa
dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga penawaran Rp150,- per saham. Dari
jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum kepada masyarakat tersebut
sebesar 10% atau sebanyak 44.132.000 saham biasa atas nama baru dijatahkan secara
khusus kepada manajemen (Employee Management Buy Out / EMBO) dan karyawan
Perusahaan melalui program penjatahan saham untuk pegawai Perusahaan (Employee
Stock Allocation/ESA). Kemudian pada tanggal 18 Maret 2004 seluruh saham ADHI
telah tercatat pada Bursa Efek Jakarta (sekarang menjadi Bursa Efek Indonesia).
7. Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP)
Eureka Prima Jakarta Tbk (sebelumnya PT Laguna Cipta Griya Tbk) (LCGP)
didirikan tanggal 17 Mei 2004 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun
2004.Kantor pusat LCGP berdomisili di Equity Tower 19th Floor, suite 19B SCBD
Lot.9, Jl Jendral Sudirman Kavling 52-53, Jakarta 12190.
Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham LCGP adalah PT
GenerasiPrima Sakti (51,91%) dan PT ASABRI (Persero) (5,90%).Berdasarkan
Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan LCGP bergerak dalam bidang
realestat/pembangunan. Saat ini kegiatan utama LCGP adalah pembangunan perumahan
Puri Krakatau Hijau dan Puri Cilegon Hijau yang berlokasi di Cilegon, Banten.
Pada tanggal 29 Juni 2007, LCGP memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK
untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham LCGP (IPO) kepada masyarakat
sebanyak 300.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran
41
Rp125,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI)
pada tanggal 13 Juli 2007.
Pada tanggal 30 Juni 2008, LCGP memperoleh pernyataan Efektif BAPEPAM-LK
untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas (Right Issue I) sejumlah 703.750.000
saham atau dengan rasio setiap pemegang 10 saham biasa lama mempunyai 10 Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), dimana setiap pemegang 1 HMETD berhak
membeli 1 saham baru dengan nilai nominal Rp100,- per saham pada harga penawaran
Rp127,- per saham. Kemudian setiap pembeli 10 saham baru memperoleh 3 Waran untuk
membeli saham biasa dengan harga pelaksanaan sebesar Rp135,-.
4.1.3 Nilai Tukar
Data kurs rupiah yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurs tengah yang
diambil dari www.bi.go.id per tanggal 30 atau 31 setiap bulan sepanjang tahun 20112014. Dapat digambarkan sebagai berikut:
4.2 Tabel Kurs Rupiah Tahun 2011-2014
Bulan
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Tahun 2011
Rp. 9,057
Rp. 8,823
Rp. 8,709
Rp. 8,574
Rp. 8,537
Rp. 8,597
Rp. 8,508
Rp. 8,578
Rp. 8,823
Rp. 8,835
Rp. 9,170
Rp. 9,068
Tahun 2012
Rp. 9,000
Rp. 9,085
Rp. 9,180
Rp. 9,190
Rp. 9,565
Rp. 9,480
Rp. 9,485
Rp. 9,560
Rp. 9,588
Rp. 9,615
Rp. 9,605
Rp. 9,670
Tahun 2013
Rp. 9,698
Rp. 9,667
Rp. 9,719
Rp. 9,722
Rp. 9,802
Rp. 9,929
Rp. 10,278
Rp. 10,924
Rp. 11,613
Rp. 11,234
Rp. 11,977
Rp. 12,189
Sumber:www.bi.go.id/id/moneter/informasi-kurs
Tahun 2014
Rp. 12,226
Rp. 11,634
Rp. 11,404
Rp. 11,532
Rp. 11,611
Rp. 11,969
Rp. 11,591
Rp. 11,717
Rp. 12,212
Rp. 12,082
Rp. 12,196
Rp. 12,440
42
4.1.4 Suku Bunga
Data suku bunga yang digunakan dalam penelitian ini diambil suku bunga per tanggal 30
atau 31 setiap bulannya sepanjang tahun 2011-2014. Seperti yang terlihat dalam daftar berikut
ini:
4.3 Tabel suku bunga Tahun 2011 - 2014
Bulan
Tahun 2011
Tahun 2012
Tahun 2013
Tahun 2014
Januari
6.5 %
6%
4.84 %
7.5 %
Pebruari
6.75 %
5.75 %
4.86 %
7.5 %
Maret
6.75 %
5.75 %
4.87 %
7.5 %
April
6.75 %
5.75 %
4.9 %
7.5 %
Mei
6.75 %
5.75 %
5.02 %
7.5 %
Juni
6.75 %
5.75 %
5.28 %
7.5 %
Juli
6.75 %
5.75 %
5.52 %
7.5 %
Agustus
6.75 %
5.75 %
5.86 %
7.5 %
September
6.75 %
5.75 %
6.96 %
7.5 %
Oktober
6.5 %
5.75 %
6.97 %
7.5 %
November
6%
5.75 %
7.22 %
7.75 %
Desember
6%
5.75 %
7.22 %
7.75 %
Sumber : www.bi.go.id/id/moneter/sukubunga
4.1.5 Inflasi
Data laju inflasi yang digunakan dalam penelitian ini diambil laju inflasi per tanggal 30
atau 31 setiap bulannya sepanjang tahun 2011 - 2014. Seperti yang terlihat dalam daftar berikut
ini:
43
Tabel 4.4 Inflasi Tahun 2011 – 2014
Bulan
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Tahun 2011
Tahun 2012
Tahun 2013
7.02 %
3.65 %
4.57 %
6.84 %
3.56 %
5.31 %
6.65 %
3.97 %
5.9 %
6.16 %
4.5 %
5.57 %
5.98 %
4.45 %
5.47 %
5.54 %
4.53 %
5.9 %
4.61 %
4.56 %
8.61 %
4.79 %
4.58 %
8.79 %
4.61 %
4.31 %
8.4 %
4.42 %
4.61 %
8.32 %
4.15 %
4.32 %
8.37 %
3.79 %
4.3 %
8.38 %
Sumber : www.bi.go.id/id/moneter/tingkatinflasi
Tahun 2014
8.22 %
7.75 %
7.32 %
7.25 %
7.32 %
6.7 %
4.53 %
3.99 %
4.53 %
4.83 %
6.23 %
8.36 %
4.1.6 Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks harga saham gabungan yang diambil adalah indeks harga saham gabungan tiap
bulanannya yang diambil setiap tanggal 30 atau 31 setiap akhir bulan. Seperti terlihat
dalam table berkut ini :
Tabel 4.5Indeks harga Saham Gabungan Tahun 2011 – 2014
Bulan
Tahun 2011
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
3,409.17
3,470.35
3,678.67
3,819.62
3,836.97
3,888.57
4,130.80
3,841.73
3,549.03
3,790.85
3,715.08
3,821.99
Tahun 2012
3,941.69
3,985.21
4,121.55
4,180.73
3,832.82
3,955.58
4,142.34
4,060.33
4,262.56
4,350.29
4,276.14
4,316.69
www.idx.co.id
Tahun 2013
Tahun 2014
4,453.70
4,795.79
4,940.99
5,034.07
5,068.63
4,818.90
4,610.38
4,195.09
4,316.18
4,510.63
4,256.44
4,212.22
4,418.76
4,620.22
4,768.28
4,840.15
4,893.91
4,878.58
5,088.80
5,136.86
5,137.58
5,089.55
5,149.89
5,160.43
44
4.2 Analisis Data
Pada penelitian ini analisis yang digunakan adalah Uji Analisis Regresi Linier
Berganda. Hal tersebut dikarenakan variabel X lebih dari satu variabel.
4.2.1 Statistik Deskriptif
Berdasarkan dengan pengolahan berbagai macam data dalam peneitian ini dapat
dihasilkan sesuai tabel berikut :
4.6 Tabel DescriptiveStatistics
Mean
IHSG
NilaiTukar
Inflasi
SukuBunga
Std.Deviation
N
4349,4748
512,83387
48
10159,7500
1305,72285
48
5,7608
1,60916
48
6,4223
,89268
48
Sumber : data sekunder diolah
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan terdapat 4 variabel dan menggunakan data yang
berjumlah 48 yang diperoleh dari tahun 2011 - 2014. Berdasarkan hasil dari analisis data diatas
dapat disimpulkan :
-
Dengan jumlah data sebanyak 48, rata – rata nilai tukar adalah 10159,75 dengan standart
deviasi 1305,72
-
Dengan jumlah data sebanyak 48, rata – rata laju inflasi adalah 5,76 dengan standart
deviasi 1,60
45
-
Dengan jumlah data sebanyak 48, rata – rata suku bunga adalah 10570,67 dengan
standart deviasi 943,68
-
Denagn jumlah data sebanyak 12, rata – rata Indeks Harga Saham adalah 6,42 dengan
standart deviasi 0,89
4.7 Tabel Correlations Statistic
IHSG
PearsonCorrelation
IHSG
NilaiTukar
1,000
,721
NilaiTukar
,721
Inflasi
,188
,183
SukuBunga
Sig.(1-tailed)
IHSG
.
,183
1,000
,545
,608
,545
1,000
,408
,608
,408
1,000
,000
.
,000
Inflasi
,101
,000
,107
,000
N
Suku Bunga
,188
NilaiTukar
SukuBunga
IHSG
Inflasi
,101
,107
,000
,000
.
,002
.
,002
48
48
48
48
NilaiTukar
48
48
48
48
Inflasi
48
48
48
48
48
48
48
48
SukuBunga
Sumber : data sekunder diolah
Besar hubungan antar variabel Indeks Harga Saham Gabungan dengan Nilai Tukar yang
dhitung dengan koefisien korelasi adalah 0,721, sedangkan variabel Indeks Harga Saham
Gabungan dengan Inflasi adalah 0,188, dan untuk variabel Indeks Harga Saham Gabungan
dengan Suku Bunga adalah 0,183. Secara teoritis, karena korelasi antara Indeks Harga Saham
Gabungan dan Nilai Tukar lebih besar, maka variabel Nilai Tukar lebih berpengaruh terhadap
Indeks Harga Saham dibanding dengan Inflasi dan Suku Bunga.
Terjadi korelasi yang cukup kuat antara variabel Suku Bunga dengan Inflasi yaitu 0,408.
Hal ini menandakan adanya multikolinierita atau korelasi diantara variabel bebas. Sedangjan
variabel bebas yang lain tidak menunjukkan korelasi terhadap variabel bebas yang lain.
46
Tabel 4.8 Tabel Uji F
Sumof
Squares
Model
1
df
MeanSquare
F
29,300
Regression
8237464,549
3
2745821,516
Residual
4123468,643
44
93715,196
Total
12360933,19
47
Sig.
b
,000
Sumber : data sekunder diolah
Dari Uji ANOVA atau F test, didapat F hitung adalah 29,300 dengan tingkat
signifikansi 0,000. Karena probabilitas (0,000) lebih kecil dari 0,05 maka model regresi bisa
dipakai untuk memprediksi Indeks Harga Saham. Atau bisa dikatakan Nilai Tukar, Inflasi, dan
Suku Bunga secara bersama sama tidak berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan.
Sehingga secara hipotesis yang menyatakan “ Nilai Tukar, Inflasi, Suku Bunga berpengaruh
secara simultan terhadap Indeks Harga Saham GabunganSektor Property Pada BEI periode
Tahun 2011 - 2014.”Dapat diterima karena dapat dibuktikan dengan nilai probabilitas sebesar
0,000< 0,05 nilai signifikan
Tabel 4.9 Tabel Persamaan Regresi
a
Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
(Constant)
NilaiTukar
1
Inflasi
Std. Error
1861,589
380,151
,426
,047
-79,853
-215,030
t
Sig.
Beta
Correlations
Zero-order
Partial
Part
4,897
,000
1,085
9,026
,000
,721
,806
,786
33,313
-,251
-2,397
,021
,188
-,340
-,209
63,429
-,374
-3,390
,001
,183
-,455
-,295
SukuBunga
a. Dependent Variable: Y_IHSG
Sumber : data sekunder diolah
47
Berdasarkan tabel diatas dapat digambarkan persamaan regresi :
Y = 1861,59 + 0,426X1 – 79,85X2 –215,03 X3
Dimana :
Y
= Indeks Harga Saham Gabungan
X1
= Nilai Tukar
X2
= Inflasi
X3
= Suku Bunga
Dari hasil persamaan regresi diatas maka dapat dianalisis sebagai berikut :
a. Konstanta sebesar 1861,59 menyatakan bahwa jika tidak ada perubahan baik penurunan
atau kenaikan Nilai Tukar, Inflasi, Suku Bunga maka, Indeks Harga Saham Gabungan
adalah Rp. 1861,59
b. Koefisien regresi Nilai Tukar sebesar 0,426 menyatakan bahwa setiap perubahan baik
penurunan atau kenaikan Nilai Tukar Rp. 1,- maka akan meningkatkan Indeks Harga
Saham Gabungan sebesar Rp. 0,426
c. Koefisien Regresi Inflasi sebesar -79,85 menyataan bahwa setiap perubahan baik
penurunan atau kenaikan Inflasi 1 % , maka akan menurunkan Indeks Harga Saham
Gabungan sebesar -79,85 %
d. Koefisien regresi suku bunga sebesar -215,03 menyatakan bahwa setiap perubahan baik
penurunan atau kenaikan suku bunga 1% , maka akan menurunkan Indeks Harga Saham
Gabungan sebesar -215,03%
48
Tabel 4.10 Tabel Uji T
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
(Constant)
NilaiTukar
1
Inflasi
Std. Error
1861,589
380,151
,426
,047
-79,853
-215,030
t
Sig.
Correlations
Beta
Zero-order
Partial
Part
4,897
,000
1,085
9,026
,000
,721
,806
,786
33,313
-,251
-2,397
,021
,188
-,340
-,209
63,429
-,374
-3,390
,001
,183
-,455
-,295
SukuBunga
a. Dependent Variable: Y_IHSG
Sumber : data sekunder diolah
Pengaruh dari masing-masing variabel Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga dapat dilihat
sesuai tabel diatas. Variabel Nilai Tukar mempunyai arah positif dengan nilai 9,026, akan
tetapipada variabel Inflasi dan Suku Bunga mempunyai arah negatif dengan nilai -2,397 dan 3,390.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Nilai Tukar tidak berpengaruh secara
parsial, sedangkan Inflasi dan Suku Bunga berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Harga
Saham. Sehingga hipotesis yang menyatakan “Nilai Tukar, Inflasi, Suku Bunga berpengaruh
secara parsial terhadap Indeks Harga Saham Gabungan sektor property pada BEI periode
Tahun 2011 - 2014.”Dapat diterima karena dapat dibuktikan dengan nilai probabilitas sebesar
kurang dari atau <0,05 nilai signifikan.
Tabel 4.11 Tabel Uji Koefisien Determinan
ChangeStatistics
Model
1
R
R Square
a
,816
,666
AdjustedR
Square
,644
Std.Errorof
theEstimate
306,12938
R Square
Change
,666
F Change
29,300
df1
3
49
Sumber : data sekunder diolah
Menunjukkan koefisien korelasi (R) dan koefisien determinasi (Rsquare). Nilai R
menerangkan tingkat hubungan antar variabel – variabel independen (X) dengan variabel
dependen (Y). Dari hasil olahan data diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 81,6% artinya
hubungan antara variabel X (Suku Bunga, Inflasi, dan Nilai Tukar) terhadap variabel Y (Indeks
Harga Saham Gabungan).
R square menjelaskan seberapa besar variasi Y yang disebabkan oleh X , dari hasil
perhitungan diperoleh nilai R2 sebesar 0,666 atau 66,6% artinya Indeks Harga Saham Gabungan
dipengaruhi oleh variabel Nilai Tukar, Inflasi, dan Suku Bunga. Sedangkan 33,4% dipengaruhi
oleh faktor-faktor lain di luar model.
4.3 Interpretasi / Pembahasan
Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa secara parsial variabel Nilai Tukar,
Inflasi, dan Suku Bunga berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
sektor properti. Hasil pengujian hipotesis 1 sampai 3 dapat diuraikan sebagai berikut :
4.3.1 Nilai Tukar (X1) berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y)
Adanya kenaikan atau penurunan setiap poin pada Nilai Tukarmempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan.
Hasil analisis regresi untuk menguji pengaruh langsung variabel Nilai Tukar terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan sebesar 0,426 dan memiliki Sig. t sebesar 0,000 (0,000< 0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa variabel Nilai Tukar memberikan pengaruh yang positif signifikan
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ratna Prihantini (2009).
50
4.3.2 Inflasi (X2) berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y)
Adanya kenaikan atau penurunan setiap poin pada Inflasi mempunyai pengaruh yang sangat
signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan .
Hasil analisis regresi untuk menguji pengaruh langsung variabel Inflasi terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan sebesar -79,85 dan memiliki Sig. t sebesar 0,021 (0,021 < 0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa variabel inflasi memberikan pengaruh yang positif relatif besar dan
signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Ratna Prihantini (2009).
4.3.3. Suku Bunga (X3) berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y).
Adanya kenaikan atau penurunan setiap poin pada Suku Bunga tmempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham .
Hasil analisis regresi untuk menguji pengaruh langsung variabel Suku Bunga terhadap
Indeks Harga Saham Gbaungan sebesar -215,03 dan memiliki Sig. t sebesar 0,001 (0,001 <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa variabel kurs rupiah memberikan pengaruh yang positif
dan signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian
yang dilakukan Heru Nugroho (2009).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai tukar, inflasi, suku bunga
dengan dimensi kenaikan atau penuruan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan sektor
propertipada Bursa Efek Indonesia untuk (Periode Tahun 2011 - 2014) dan untuk mengetahui
variabel mana yang paling berpengaruh. Dari rumusan masalah yang diajukan, maka analisis
data yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.
Berdasarkan hasil pengujian regresi linear berganda maka diketahui bahwa variabel nilai
tukar rupiah, inflasi, dan suku bunga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan pada sektor properti di Bursa Efek Indonesia.
2.
Dari hasil pengujian secara serempak dan secara parsial (uji T dan uji F) ternyata hasil
penelitian membuktikan bahwa semua variabel nilai tukar, inflasi, dan suku bunga
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham sektor properti di Bursa
Efek Indonesia. Dimungkinkan variabel variabel lain diluar model tersebut dari sektor
properti yang mempengaruhi secara signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
tahun 2011 – 2014.
51
52
5.2 Saran
Salah satu indikator baik atau buruknya perekonomian nasional adalah indeks saham
.Investor di sektor properti yang merupakan salah satu sektor penting di Indonesia sebaiknya
mengkaji dan mempertimbangkan terlebih dahulu pergerakan variabel makro yaitu nilai tukar
dan
inflasi
yang
mempengaruhi
harga
saham
di
sektor
ini.Diharapkan
dengan
mempertimbangkan kedua hal ini dapat menentukan aksi jual atau beli saham di sektor properti
ini.
Jika nilai mata uang dollar mulai menguat terhadap rupiah maka sebaiknya pemain saham
membeli saham sektor properti karena menurut hasil penelitian ini saham properti diprediksikan
akan naik. Sebaliknya jika nilai mata uang dollar mulai melemah terhadap rupiah maka
disarankan untuk menjual saham sektor properti dikarenakan harga saham di sektor ini akan
mulai naik.
Dalam hal laju inflasi, jika kondisi makro ekonomi mulai menunjukkan peningkatan laju inflasi
sebaiknya pemain saham menjual saham sector propertinya karena hasil penelitian ini
memprediksikan bahwa harga saham akan turun apabila terjadi laju inflasi. Sebaliknya, jika
makro ekonomi menunjukkan laju inflasi yang menurun diharapkan pemain saham membeli
saham sektor property karena diprediksikan harga saham sektor properti akan meningkat.
Bagi dunia akademis, dengan penelitian ini akan diketahui variabel yang mampu
mempengaruhi indeks saham properti dan mampu menilai faktor mana saja yang signifikan
mempengaruhi harga saham sektor properti.
DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robbert.2007, Pasar Modal Indonesai . Mediasoft Jakarta.
Bank Indonesia, 2008, Indonesia Financial Statistic, BI, Jakarta.
Bapepam LK, 2006, UU Pasar Modal, Bapepam LK RI, Jakarta
Chen, Nai Fu, 2008, Financial Investment Opportunities and the Macroeconomy. The Journal of
Finance , vol. XLVI no.2, June
Haryanto, Riyatno, 2007. “Pengaruh Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia dan nilai kurs
terhadap resiko sistematik saham perusahaan di BEJ”. Jurnal Keuangan dan Bisnis. Vol. 5, No.1
Maret 2007, Hal 24 40.
Lana Sularto, 2008, “Jurnal Keuangan Analisis Pengaruh Fundamental Keuangan Tingkat Bunga
SBI dan Inflasi Terhadap Pergerakan Harga Saham” , Gunadarma, Jakarta
Mudji Utami dan Mudjilah Rahayu, 2003, Peranan Profitabiliatas, Suku Bunga, Inflasi Dan Nilai
Tukar Dalam Mempengaruhi Pasar Modal Indonesia Selama Krisis Ekonomi. Jurnal Manajemen
& Kewirausahaan Vol.5 no.2 September 2003 : 123 131
Nopirin, 1990, Ekonomi Moneter. BPFE, Yogyakarta
Riyanto, B., 1990. Dasar dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada,
Yogyakarta
Singgih Santoso, 2010, Mastering SPSS 18 , Jakarta
Sunariyah, 2010, Pengantar Pasar Modal, Cetakan Kedua, UPP AMK,
Yogyakarta.
Tirapat, Sunti., dan Aekkachai Nittayagasetwat., 2008, “An Investigation of Thai listed Firm’s
Financial Distress Using Macro and Micro Variables”, Multi National Finance Journal. Jun
2008;3,2, Hal.103 118
www.googleschoolar.com
www.bps.go.id
www.google.com
www.bi.go.id
www.idx.co.id
Yoda Ditria, Jenni Vivian, 2008, “Jurnal Keuangan Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Nilai Tukar
dan Jumlah Ekspor Terhadap Perbankan “ , Binus, Jakarta
Regression
[DataSet0]
Descriptive Statistics
Mean
Y_IHSG
Std. Deviation
N
4349,4748
512,83387
48
10159,7500
1305,72285
48
X2_Inflasi
5,7608
1,60916
48
X3_SukuBunga
6,4223
,89268
48
X1_NilaiTukar
Correlations
Y_IHSG
Pearson Correlation
Sig. (1-tailed)
Y_IHSG
X2_Inflasi
X3_SukuBung
a
1,000
,721
,188
,183
X1_NilaiTukar
,721
1,000
,545
,608
X2_Inflasi
,188
,545
1,000
,408
X3_SukuBunga
,183
,608
,408
1,000
Y_IHSG
N
X1_NilaiTukar
.
,000
,101
,107
X1_NilaiTukar
,000
.
,000
,000
X2_Inflasi
,101
,000
.
,002
X3_SukuBunga
,107
,000
,002
.
Y_IHSG
48
48
48
48
X1_NilaiTukar
48
48
48
48
X2_Inflasi
48
48
48
48
X3_SukuBunga
48
48
48
48
Variables Entered/Removeda
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed
X3_SukuBung
a, X2_Inflasi,
X1_NilaiTukar b
Method
.
Enter
a. Dependent Variable: Y_IHSG
b. All requested variables entered.
b
Model Summary
Change Statistics
Model
1
R
Adjusted R
Square
R Square
,816a
,666
,644
Std. Error of
the Estimate
306,12938
R Square
Change
,666
F Change
29,300
df1
3
b
Model Summary
Change Statistics
Model
1
df2
Sig. F Change
44
,000
a. Predictors: (Constant), X3_SukuBunga, X2_Inflasi, X1_NilaiTukar
b. Dependent Variable: Y_IHSG
Page 1
ANOVAa
Model
1
Sum of
Squares
df
Mean Square
Regression
8237464,549
3
2745821,516
Residual
4123468,643
44
93715,196
Total
12360933,19
47
F
Sig.
b
29,300
,000
a. Dependent Variable: Y_IHSG
b. Predictors: (Constant), X3_SukuBunga, X2_Inflasi, X1_NilaiTukar
Coefficients
Standardized
Coefficients
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Std. Error
X3_SukuBunga
t
Beta
Sig.
1861,589
380,151
4,897
,000
,426
,047
1,085
9,026
,000
-79,853
33,313
-,251
-2,397
,021
-215,030
63,429
-,374
-3,390
,001
X1_NilaiTukar
X2_Inflasi
a
Coefficientsa
Correlations
Model
1
Zero-order
Partial
Part
(Constant)
X1_NilaiTukar
,721
,806
,786
X2_Inflasi
,188
-,340
-,209
X3_SukuBunga
,183
-,455
-,295
a. Dependent Variable: Y_IHSG
Residuals Statistics a
Minimum
Maximum
Mean
3570,0811
5090,4487
4349,4748
418,64687
48
-621,20300
546,82739
,00000
296,19820
48
Std. Predicted Value
-1,862
1,770
,000
1,000
48
Std. Residual
-2,029
1,786
,000
,968
48
Predicted Value
Residual
Std. Deviation
N
a. Dependent Variable: Y_IHSG
Charts
Page 2
Histogram
Dependent Variable: Y_IHSG
Mean = 1,44E-15
Std. Dev. = 0,968
N = 48
12
8
6
4
2
0
-3
-2
-1
0
1
2
Regression Standardized Residual
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Y_IHSG
1,0
0,8
Expected Cum Prob
Frequency
10
0,6
0,4
0,2
0,0
0,0
0,2
0,4
0,6
0,8
1,0
Observed Cum Prob
Page 3
Download