Kajian disparitas pembangunan antar wilayah

advertisement
 GAM
MBARAN U
UMUM WIL
LAYAH STU
UDI
Kondisi Fisik Daerah
G
Geografi
Kabup
paten Garut secara geoggrafis terletak di antara 60 56’ 49”--70 45’ 00”
L
Lintang
Selaatan dan 1077o 25’ 8”-1088o 7’ 30” Buujur Timur ddengan batas wilayah di
s
sebelah
utarra berbatasann dengan Kabupaten Baandung dan Sumedang, di sebelah
t
timur
berbattasan dengaan Kabupaten Tasikmalaaya, di sebeelah selatan berbatasan
d
dengan
Sam
mudera Indonnesia dan dii sebelah baarat berbatassan dengan Kabupaten
B
Bandung
dan Cianjur. Ju
umlah kecam
matan di Kabupaten Garrut adalah seebanyak 42
k
kecamatan,
2 kelurahan
21
n dan 403 ddesa dengan luas wilayahh 306.519 Ha
H (Gambar
3 Berdasaarkan letak geografisnyya Kabupateen Garut dibbagi ke dalaam 3 (tiga)
3).
w
wilayah
yaittu Wilayah Utara,
U
Wilayyah Tengah dan Wilayaah Selatan (G
Gambar 4).
n agar terjaddi spesialisi wilayah sesuai dengan
P
Pembagian
w
wilayah
ini dimaksudka
d
p
potensi
masiing-masing (Pemda,
(
20006).
Kab. SUMEDAN
NG
Kab. TASIKMALAYA
Kab. CIANJUR
Kab. BAN
NDUNG
SAMUD
DERA INDONES
SIA
Kabupaten Garut.
G
Gambaar 3. Peta Addministrasi K
Luas wilayah tiap kecamatan di Kabupaten Garut disajikan pada Tabel 3.
Tabel 4 Nama Kecamatan, Luas dan Jumlah Desa/Kelurahan di Kabupaten Garut
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
Total
Nama Kecamatan
Cisewu
Caringin
Talegong
Mekarmukti
Bungbulang
Pamulihan
Pekenjeng
Cikelet
Pameungpeuk
Cibalong
Cisompet
Peundeuy
Singajaya
Cihurip
Banjarwangi
Cikajang
Cilawu
Bayongbong
Cigedug
Cisurupan
Sukaresmi
Samarang
Pasirwangi
Tarogong Kidul
Tarogong Kaler
Garut Kota
Karangpawitan
Wanaraja
Pangatikan
Sucinaraja
Sukawening
Karangtengah
Banyuresmi
Leles
Leuwigoong
Cibatu
Kersamanah
Cibiuk
Kadungora
Bl Limbangan
Selaawi
Malangbong
Luas (Ha)
9.483
17.703
10.874
3.679
16.541
13.244
19.844
17.225
4.411
21.359
17.225
5.679
6.769
4.042
12.382
12.495
7.763
4.995
2.888
8.088
3.517
5.971
4.670
1.879
3.674
2.771
5.207
2.804
1.819
4.252
3.883
2.328
6.246
7.351
1.935
4.143
1.650
1.990
3.731
7.359
3.407
9.238
306.519
Sumber : RPJM Kabupaten Garut Tahun 2006
Jumlah Desa/ Kel
7 desa
5 desa
7 desa
4 desa
12 desa
5 desa
12 desa
9 desa
7 desa
10 desa
11 desa
6 desa
9 desa
4 desa
11 desa
11 desa
18 desa
17 desa
5 desa
16 desa
6 desa
12 desa
12 desa
7 desa 5 Kelurahan
12 desa 1 Kelurahan
11 Kelurahan
16 desa 4 Kelurahan
8 desa
8 desa
7 desa
11 desa
4 desa
15 desa
12 desa
8 desa
11 desa
5 desa
5 desa
14 desa
14 desa
7 desa
23 desa
424 desa/ kelurahan
K SUMEDANG
Kab.
G
Kab. TASIKMALAYA
Kab. CIANJUR
NG
Kab. BANDUN
SAMUDERA
A INDONESIA
G
Gambar
4. Peta
P Wilayahh Pengembanngan Kabupaten Garut
T
Topografi
Kabup
paten Garut mempunyaai ketinggiaan tempat yyang bervariasi antara
w
wilayah
yan
ng paling renndah yang sejajar dengaan permukaaan laut hinggga wilayah
t
tertinggi
di puncak guunung. Wilaayah yang terletak di dataran renndah pada
k
ketinggian
kurang darri 100 m dpl terdapaat di Kecaamatan Cibalong dan
P
Pameungpeu
uk, wilayah yang terletaak pada ketiinggian 100--500 m dpl terdapat di
K
Kecamatan
C
Ciisewu, Cikellet dan Bunggbulang, willayah yang
Cibalong, Cisompet,
b
berada
padaa ketinggiann 500 -1000 mdpl terdaapat di Kecaamatan Pakeenjeng dan
P
Pamulihan
d wilayah yang beradaa pada ketin
dan
nggian 1000 - 1.500 m dpl
d terdapat
d Kecamataan Cikajangg, Pakenjengg-Pamulihan, Cisurupan dan Cisewuu (Gambar
di
5
5).
mempunyai kemiringan
k
llereng yangg bervariasi
Wilayah Kabupaten Garut m
a
antara
0 - 400%, diantaraanya sebesarr 71,42% ataau 218.924 H
Ha berada paada tingkat
k
kemiringan
antara 8 - 25%. Luaas daerah laandai dengaan tingkat kemiringan
k
d
dibawah
3%
% mencapai 29.033
2
Ha attau 9,47%; wilayah
w
denggan tingkat kemiringan
k
s
sampai
denggan 8% meencakup areaal seluas 799.214 Ha ataau 25,84%; luas areal
d
dengan
tingk
kat kemiringgan sampai 115% mencappai 62.975 H
Ha atau 20,55
5% wilayah
d
dengan
tingk
kat kemiringgan sampai dengan
d
40% mencapai luuas areal 7.550 Ha atau
s
sekitar
2.46%
% (Gambar 6).
6
Kab. SUMED
DANG
Kab. TASIKMALAYA
Kab. CIANJUR
Kab. BA
ANDUNG
SAMUD
DERA INDONESIA
G
Gambar
5. Peta
P Kelas Ketinggian
K
K
Kabupaten
Gaarut.
Kab. SUMED
DANG
Kab. TASIKMALAYA
Kab. CIANJUR
Kab. BANDUNG
B
SAMUD
DERA INDONESIIA
Gambaar 6. Peta Keelas Kemirinngan Lereng
g Kabupaten Garut
Tanah dan Sumberdaya Lahan
Jenis Tanah
Jenis tanah yang terdapat di wilayah Kabupaten Garut dapat dikelompokkan
menjadi 6 (enam) kelompok besar yaitu Alluvial, Podsolik, Andosol, Latosol,
Mediteran dan Regosol (Gambar 7). Jenis tanah sangat penting untuk
diidentifikasi terutama terkait dengan kegiatan budidaya yang akan dilakukan.
Penyebaran jenis tanah di wilayah Kabupaten Garut adalah sebagai berikut:
•
Tanah Andosol banyak terdapat di wilayah bagian utara dan sebagian
selatan dengan tekstur halus sebagai hasil endapan. Tanah ini cocok untuk
kegiatan budidaya pertanian sawah (lahan basah).
•
Tanah Podsolik dan regosol banyak terdapat pada bagian selatan wilayah
Kabupaten Garut. Tanah regosol umumnya berwarna abu kekuningkuningan, sifatnya asam, gembur serta peka terhadap erosi. Tanah ini cocok
digunakan untuk tanaman padi, tembakau, dan sayur-sayuran.
•
Tanah Latosol banyak terdapat di sisi barat sebagai hasil endapan dari
wilayah yang lebih tinggi. Tanah ini cocok untuk kopi, coklat, padi, sayuran
dan buah-buahan.
•
Tanah Andosol berwarna hitam karena berasal dari abu vulkanik, banyak
terdapat di daerah utara.
•
Tanah Mediteran berasal dari bahan induk batuan vulkanik muda, berada di
sebagian kecil wilayah Selatan.
Kedalaman Efektif Tanah
Kemampuan tanah berdasarkan kedalaman efektif tanah merupakan kondisi
dimana tanaman dapat tumbuh karena perakaran tanaman dapat menembusnya
secara vertikal. Kedalaman tanah yang kurang dari 30 cm akan menyulitkan bagi
perakaran tanaman, sehingga tanaman tidak dapat tumbuh secara baik. Kedalaman
efektif tanah dipengaruhi oleh tingkat erosi yang tinggi yang mengakibatkan
lapisan atas (top soil) terkikis air ke tempat yang lebih rendah. Kedalaman efektif
tanah di Wilayah Kabupaten Garut dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat)
k
kelompok
yaitu kedalam
man kurang dari 30 cm, 30 - 60 cm
m, 61 -90 cm
m dan lebih
d 90 cm. Pada umum
dari
mnya Kabuppaten Garut memiliki keedalaman effektif tanah
y
yang
baik yaaitu berkisarr antara 61 - 90 cm.
T
Tekstur
Tan
nah
Tekstuur tanah dappat dikelomppokkan mennjadi 3 (tigaa) bagian yaaitu tekstur
s
sedang,
haluus dan kasarr. Tanah denngan teksturr halus mem
mpunyai poroositas yang
r
rendah
sehinngga sulit unntuk meresappkan air, sed
dangkan tanaah dengan teekstur kasar
c
cenderung
memiliki porositas
p
yaang tinggi sehingga ddapat dengan mudah
m
meresapkan
air, dimanaa wilayah Kabupaten Gaarut didominnasi oleh tek
kstur tanah
s
sedang
deng
gan luas areeal 278.644 Ha. Selain itu, kemamppuan tanah tergantung
p
pula
pada drainase
d
tanaah yaitu kem
mampuan peermukaan tannah untuk meresapkan
m
a secara alami.
air
a
Drainnase tanah ddapat dikelo
ompokan meenjadi 3 (tiga) bagian
y
yaitu:
drainnase baik attau tidak pernah
p
tergeenang, drainnase tergenaang secara
p
periodik
dann drainase tergenang terus meneruss. Kondisi ddrainase tanaah wilayah
K
Kabupaten
G
Garut
relatif baik karenaa sebagian beesar tidak terrgenang.
Kab. SUMED
DANG
Kab. TASIKMALAYA
Kab. CIANJUR
Kab. BANDUNG
SAMUD
DERA INDONESIIA
G
Gambar
7. Peta
P Jenis Taanah Kabupaaten Garut.
I
Iklim
dan Curah Hujjan
I
Iklim
di willayah Kabuppaten Garut termasuk ke
k dalam ikllim tropis yang
y
terdiri
d dua mu
dari
usim yaitu musim
m
kemaarau dan muusim hujan. Musim kem
marau jatuh
p
pada
bulan Juni
J
sampaii dengan Okktober dan musim
m
penghhujan bulan Nopember
h
hingga
Mei. Sedangkann untuk keaddaan curah huujan di Kabuupaten Garuut tergolong
p
pada
daerah
h yang bassah dimana sebagian besar daeraah merupakkan daerah
p
pegunungan
n yang memiiliki curah hhujan yang cukup
c
tinggii. Curah hujaan tahunan
K
Kabupaten
G
Garut
di beberapa wilayaah di atas 4.0000 mm/ thnn (Gambar 8).
Secaraa umum Kab
bupaten Garuut beriklim tropis
t
dengan suhu rata-rata 24oC 227oC. Pola curah
c
hujan dipengaruhii oleh keting
ggian tempatt dan topogrrafi dengan
r
rata-rata
currah hujan 2.589 mm/tahhun. Keadaann hidrologi umumnya cukup
c
baik,
h ini didu
hal
ukung denggan banyaknnya aliran sungai yanng mengalir ke Utara
s
sebanyak
344 buah dan ke
k Selatan 199 buah. Secaara keseluruhhan wilayah Kabupaten
G
Garut
memiiliki kondisi hidrologi yang baik yang dapatt mendukung kegiatan
p
produksi
perrtanian dan kegiatan-keg
k
giatan lainny
ya.
Kab. SUMEDAN
NG
Kab. TASIKMALAYA
Kab. CIANJUR
Kab. BANDUNG
SAMUDERA INDONESIA
Gambaar 8. Peta Cu
urah Hujan K
Kabupaten Garut.
G
Penataan Ruang dan Penggunaan lahan
Penataan Ruang
Penataan ruang wilayah Kabupaten Garut merupakan bagian dari struktur
penataan ruang wilayah Kabupaten yang dilakukan secara terpadu dan tidak
terpisah dari rangkaian penataan ruang wilayah Propinsi dan penataan ruang
wilayah Nasional. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional,
Kabupaten Garut termasuk ke dalam Kawasan Andalan Priangan Timur bersama
dengan empat kabupaten/kota lainnya. Kebijakan ini turut mempengaruhi kondisi
penataan ruang Kabupaten Garut yang lebih diarahkan pada fungsinya sebagai
kawasan penunjang pusat pertumbuhan.
Selain itu, kebijakan Rencana Tata
Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat yang menempatkan 85% dari luas wilayah
Kabupaten Garut sebagai kawasan lindung turut berpengaruh terhadap pola
pemanfaatan ruangnya.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut Tahun 20022011 (Perda No 4 Tahun 2002), ditetapkan 43,04% merupakan kawasan lindung
dan 56,96% merupakan kawasan budidaya (Tabel 5 dan 6). Penetapan kawasan
lindung di Kabupaten Garut pada dasarnya dijadikan titik tolak dalam
pengembangan tata ruang wilayah yang berdasarkan pada prinsip pembangunan
berkelanjutan.
Setelah
kawasan
lindung
ditetapkan
sebagai
limitasi
pengembangan wilayah, barulah kemudian direkomendasikan arahan kawasan
budidaya untuk mengakomodasikan kebutuhan ruang baik kegiatan budidaya
pertanian maupun budidaya non-pertanian.
Tabel 5 Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung Kabupaten Garut Tahun
2011
No
1.
Jenis
Pemanfaatan
Kawasan
Perlindungan
Kawasan
Bawahannya
Luas (Ha)
Luas
(%)
40.527,98
13,22
Lokasi (Kecamatan)
Kadungora,
Tarogong,
Limbangan, Cibatu, Wanaraja,
Karangpawitan,
Malangbong,
Bayongbong,
Cisurupan,
Sukaresmi, Cilawu, Cikajang,
Banjarwangi,
Bungbulang,
Caringin, Cisewu, Cisompet,
Pameungpeuk, Cikelet.
No
2.
3.
4.
5.
Jenis
Luas (Ha)
Pemanfaatan
Hutan
Produksi 50.768,00
Berfungsi Lindung
Luas
(%)
16,57
Kawasan Suaka Alam dan Cagar Alam
- Hutan
Suaka 26.266,29
8,57
Alam
- Kawasan Cagar
Budaya
dan
Ilmu
Pengetahuan
- Pantai Berhutan
Bakau
- Pantai
Berterumbu
Karang
Kawasan
Rawan
Bencana
Kadungora,
Tarogong,
Limbangan, Cibatu, Wanaraja,
Karangpawitan,
Malangbong,
Bayongbong, Cisurupan, Cilawu,
Cikajang,
Banjarwangi,
Bungbulang, Caringin, Cisewu,
Cisompet, Pameungpeuk, Cikelet,
Cihurip.
Balubur
Limbangan,
Leles,
Tarogong,
Banyuresmi,
Samarang, Cisurupan, Cikajang,
Pamulihan, Wanaraja, Cibalong.
Leles, Cikelet, Bayongbong,
Karangpawitan, Wanaraja.
36,0
0,01
indikatif
tentatif
Cibalong, Pameungpeuk, Caringin
indikatif
tentatif
Caringin,
Bungbulang
Mekarmukti
1.791,6
0,58
Talegong,
Pamulihan,Cikajang,
Banjarwangi.
3,32
Seluruh sungai yang terdapat di
Kabupaten Garut
Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet,
Pakenjeng, Bungbulang, Cisewu.
Banyuresmi, Leles, dan Danau
alam lainnya.
Cikajang, Cisurupan, Cilawu,
Bayongbong, Banyuresmi, Leles,
Cibatu.
Kawasan Perlindungan Setempat
- Sempadan
10.184,20
Sungai
- Sempadan
2.197,8
Pantai
- Kawasan Sekitar 165,6
Danau
- Sempadan Mata 15,0
Air
JUMLAH
Lokasi (Kecamatan)
131.952,47
0,72
0,05
0,01
dan
Cisewu,
Cilawu,
43,04
Sumber : RTRW Kabupaten Garut 2001
Pemanfaatan ruang untuk pengembangan Kawasan Budidaya di Kabupaten
Garut secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kawasan
budidaya pertanian dan budidaya non-pertanian. Berdasarkan Rencana Tata
Ruang Kabupaten Garut Tahun 2001, maka ditetapkan pemanfaatan ruang untuk
pengembangan kawasan budidaya sebagaimana disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Kabupaten Garut Tahun
2011
No
I.
1.
2.
3.
Jenis
Luas (Ha)
Pemanfaatan
Kawasan Budidaya Pertanian
Kawasan
55.862,60
Pertanian Lahan
Basah
Kawasan
51.323,48
Pertanian Lahan
Kering
Kawasan
26.807,65
Perkebunan
4.
Kawasan
Produksi
5.
Kawasan
Perikanan
Tambak
Kawasan
Peternakan
6.
II.
1.
2.
Hutan 30.742,65
Tersebar di seluruh Kecamatan
yang ada
16,74
Seluruh bagian-bagian wilayah
kecamatan kecuali Leuwigoong,
Banyuresmi
Bayongbong, Cilawu, Cikajang,
Pamulihan,
Pakenjeng,
Banjarwangi, Cisompet, Cibalong,
Pameungpeuk, Talegong, Cikelet.
Kadungora, Tarogong, Limbangan,
Cibatu, Wanaraja, Karangpawitan,
Malangbong,
Bayongbong,
Cisurupan,
Cilawu,
Cikajang,
Banjarwangi,
Bungbulang,
Caringin,
Cisewu,
Cisompet,
Pameungpeuk, Cikelet, Cihurip
Caringin,
Cibalong,
Cikelet,
Bungbulang, Pameungpeuk
8,75
10,04
1.000,00
0,33
1.00,00
0,03
933,00
Kawasan Lainnya 6.326,00
(pemukiman,
sarana/prasaran,
dll)
JUMLAH
174.566,53
Lokasi (Kecamatan)
18,22
Kawasan Budidaya Non-Pertanian
Kawasan Industri 100,00
0,03
(Agroindustri)
Kawasan
Pariwisata
- Pantai
1.371,80
0,45
- Non Pantai
3.
Luas
(%)
0,30
2,06
56,96
Sumber : RTRW Kabupaten Garut 2001
Cikajang, Pakenjeng, Pamulihan,
Bungbulang, Caringin, Cisewu,
Talegong, Pameungpeuk, Cibalong,
Cikelet, Cisompet, Peundeuy,
Singajaya, Banjarwangi, Cihurip
Kota Malangbong, Cikajang
Caringin, Bungbulang, Cikelet,
Pameungpeuk, Cibalong
Tarogong, Cilawu, Banyuresmi,
Leles, Karangpawitan, Wanaraja,
Samarang, Cisurupan, Bayongbong,
Cibalong,
Cisompet,
Cikelet,
Cikajang
Tersebar di seluruh kecamatan
Penggunaan Lahan
Sebagai daerah agraris, penggunaan lahan di Kabupaten Garut masih
didominasi oleh kegiatan pertanian baik pertanian lahan basah maupun kering,
kegiatan perkebunan dan kehutanan. Penggunaan tanah di wilayah Kabupaten
Garut, secara garis besar dapat dikelompokkan (Tabel 7) :
• Kawasan hutan sebesar 31,58%, yang terdiri diri atas hutan lindung dan hutan
produksi,
• Kebun dan kebun campuran sebesar 18,38%, yang terdiri dari perkebunan
rakyat,
• Perkebunan besar dengan luasan mencapai sekitar 8,80% dari total luas
wilayah Kabupaten Garut,
• Persawahan mencapai sekitar 16,14%, dan sisanya merupakan lahan
permukiman dan lain-lain.
Tabel 7 Luas Tanah Menurut Penggunaannya di Kabupaten Garut
No
Uraian
1.
Lahan Sawah
49.477
16,14
• Irigasi
38.026
12,41
• Tadah Hujan
Lahan Darat
11.451
3,74
252.097
82,25
• Hutan
96.814
31,58
• Kebun Dan Kebun Campuran
56.350
18,38
• Tanah Kering Semusim/Tegalan
52.348
17,08
• Perkebunan
26.968
8,80
• Pemukiman/ Perkampungan
12.312
4,02
• Padang Semak
7.005
2,29
• Pertambangan
200
0,07
66
0,02
2.
Luas (Ha)
• Tanah Rusak Tandus
3.
• Industri
Perairan Darat
34
0,01
2.038
0,66
• Kolam
1.826
0,60
157
0,05
55
0,02
2.907
0,95
306.519
100,00
• Situ/Danau
4.
Proporsi (%)
• Lainnya
Penggunaan Tanah Lainnya
Jumlah
Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2005
Sarana dan Prasarana Daerah
Sarana dan Prasarana Transportasi
Sarana dan prasarana transportasi bersama-sama dengan aspek penataan
ruang diarahkan pada upaya untuk menunjang aspek-aspek pembangunan di
Kabupaten Garut.
Masih kurangnya sarana dan prasarana transportasi daerah
terutama sarana transportasi baik dari segi kuantitas maupun kualitas, merupakan
salah satu faktor diklasifikasikannya Kabupaten Garut sebagai daerah tertinggal
bersama 190 Kabupaten lain di Indonesia. Masih terbatasnya sarana transportasi,
terutama jalan mengakibatkan rendahnya aksesibilitas antar wilayah dan
banyaknya wilayah yang terisolir, sehingga menjadikannya sebagai wilayah
terbelakang.
Prasarana jalan merupakan faktor pendukung dan penunjang kelancaran
dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan bagi suatu wilayah atau daerah yang
menghubungkan daerah yang satu dengan yang lainnya. Sekalipun begitu, jalan
harus mampu berperan mampu mendorong pengembangan semua satuan wilayah
pengembangan, dalam usaha mencapai tingkat perkembangan antar daerah yang
semakin merata.
Saat ini panjang total jalan mencapai 4.750,59 km, yang terdiri dari 30,08
km jalan nasional, 282,68 km jalan propinsi, 828,76 km jalan kabupaten, dan
3.611 km jalan desa.
Jaringan jalan arteri primer (jalan negara) adalah jaringan
Jalan Nagreg – Tasikmalaya yang melewati Limbangan dan Malangbong,
sedangkan jaringan jalan sepanjang Pantai Selatan yang melewati Pameungpeuk
merupakan jalan kolektor primer (jalan propinsi).
Kondisi jalan kabupaten dapat diperinci sebagai berikut : 133,49 km dalam
keadaan mantap dengan jenis permukaan aspal; 333,76 km dalam keadaan sedang
dengan jenis permukaan aspal 330,56 km dan batu 3,20 km; 325,41 km dalam
keadaan rusak terdiri atas jenis permukaan aspal 148,06 km, batu 173,45 km dan
tanah 3,90 km; dan 36,10 km dalam kedaan rusak berat terdiri atas jenis
permukaan aspal 14,70 km, batu 17,30 km dan tanah 4,10 km (tabel 8)
Tabel 8 Ketersediaan Infrastruktur Jalan di Kabupaten Garut
Uraian
Negara
Propinsi
Kabupaten
Jumlah
Jenis Permukaan
Hotmix
30,08
178,48
80,24
288,80
Uraian
Negara
Propinsi
Kabupaten
Jumlah
Aspal/Penetrasi
0,00
104,20
626,81
731,01
Kerikil (batu)
0,00
0,00
113,71
113,71
Tanah
0,00
0,00
8,00
8,00
30,08
282,68
828,76
1.141,52
Mantap
30,08
173,73
133,49
337,30
Sedang
0,00
99,70
333,76
433,46
Rusak
0,00
1,00
325,41
326,41
Rusak Berat
0,00
0,00
36,10
36,10
30,08
282,68
828,76
1.141,52
Kelas .I
0,00
0,00
0,00
0,00
Kelas .II
30,08
0,00
0,00
30,08
Kelas .III
0,00
64,81
0,00
64,81
Kelas .III A
0,00
0,00
0,00
0,00
Kelas .III B
0,00
217,87
619,14
837,01
Kelas .III C
0,00
0,00
209,62
209,62
30,08
282,68
828,76
1.141,52
Jumlah
Kondisi Jalan
Jumlah
Kelas Jalan
Jumlah
Sumber : Bappeda Kabupaten Garut, 2005.
Perumahan dan Pemukiman
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah terpenuhinya kepemilikan
rumah. Oleh karena itu pemerintah wajib mengusahakan pembangunan
perumahan dan pemukiman yang terjangkau oleh masyarakat. Masalah
perumahan perlu penanganan yang serius karena tidak hanya menyangkut
pembangunan rumah saja, tapi juga sarana dan prasarana penunjangnya, sehingga
perumahan dan pemukiman tersebut tertata rapi, sehat dan ramah lingkungan.
Dalam kaitan ini Kabupaten Garut berupaya membangun perumahan dan
pemukiman yang layak, lingkungan yang tertata, sehat, aman dan serasi, yang
dilengkapi dengan fasilitas sosial, fasilitas umum, dan fasilitas ekonomi. Selain itu
diupayakan bantuan pemugaran rumah-rumah penduduk kota dan desa yang sudah
tidak layak huni sehingga mengancam keselamatan penghuninya dan mengganggu
keindahan lingkungan.
Pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Garut untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum memiliki rumah direalisasikan
dengan membangun Rumah Sederhana dan Rumah Siap Huni yang dilaksanakan
oleh pengembang. Di samping itu pembangunan perumahan oleh masyarakat terus
berlanjut, hal ini dapat dilihat dari permohonan masyarakat untuk memperoleh
IMB rumah yang terus meningkat setiap tahunnya.
Indikasi
permasalahan
yang
muncul,
dalam pembangunan
bidang
perumahan dan permukiman, adalah sebagai berikut :
1.
Belum seimbangnya pembangunan perkotaan dan perdesaan, sehingga sulit
mengendalikan migrasi penduduk dari desa ke kota
2.
Penyelenggaraan
pembangunan
perumahan
dan
permukiman
yang
dilaksanakan oleh masyarakat sangat dominan, mengakibatkan terjadinya
pertumbuhan yang tidak terencana.
3
Rendahnya
kemampuaan
finansial
pemerintah
daerah
dalam
menyelenggarakan pembangunan perumahan dan permukiman.
Sosial dan Kependudukan
Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Garut, berdasarkan perhitungan BPS pada
akhir tahun 2007 tercatat sebanyak 2.309.773. Dengan demikian maka tingkat
kepadatan penduduk pada tahun 2007 adalah sebesar 753 orang per km2.
Sementara itu, bila dibandingkan dengan angka hasil Sensus Penduduk tahun
2000, jumlah penduduk adalah sebanyak 2.044.129
jiwa, sehingga tingkat
2
kepadatan penduduknya adalah 669 orang per km . Dengan demikian, selama
kurun waktu tujuh tahun telah terjadi peningkatan kepadatan penduduk sebanyak
84 orang per km2 atau sekitar 12,55 % (Tabel 9).
No
1
2
3
4
5
6
7
Tabel 9 Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Garut Tahun
2000 – 2007
Tahun
Jumlah (jiwa)
Pertumbuhan (%)
2001
2.051.092
1,66
2002
2.139.167
4,29
2003
2.173.623
1,61
2004
2.204.175
1,41
2005
2.239.091
1,58
2006
2.274.973
1,60
2007
2.309.773
1,53
Sumber : BPS Kabupaten Garut, 2008
Tingkat kesejahteraan masyarakat yang dicerminkan oleh jumlah penduduk
miskin menurut hasil pendataan yang telah diolah dengan mengkaitkan pada
metode Garis Kemiskinan hasil SUSENAS. Pada Tahun 2005 jumlah penduduk
miskin mengalami penurunan 0,66 persen, yakni sekitar 2 ribu jiwa dibandingkan
tahun 2004, atau menjadi sebesar 336,1 ribu jiwa. Namun demikian, kenaikan
BBM dengan rata-rata sebesar 125 persen pada Oktober 2005 telah memicu
kenaikan harga-harga (inflasi) di Kabupaten Garut, yang tercatat sampai dengan
level 17 persen lebih di sepanjang tahun 2005. Kondisi tersebut mengakibatkan
peningkatan kembali jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut pada Tahun
2006 sebanyak 363.148 jiwa. Pada Tahun 2007 jumlah penduduk miskin di
Kabupaten Garut kembali mengalami penurunan menjadi 358.217 jiwa. Jumlah
penduduk miskin di Kabupaten Garut periode Tahun 2002-2007 disajikan pada
Tabel 10.
Tabel 10 Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Garut Tahun 2002 – 2007
No
Tahun
Jumlah
Penduduk (jiwa)
Jumlah
Penduduk
Miskin (jiwa)
%
Ket.
1
2
3
4
5
6
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2.139.167
2.173.622
2.204.175
2.239.091
2.274.973
2.309.773
603.800
338.702
332.750
336.076
363.148
358.217
28,23
15,58
15,10
15,01
15,96
15,51
SUSENAS
Sumber : BPS Kabupaten Garut, 2008
Ketenagakerjaan
Dengan jumlah pendudukyang besar, jelas merupakan suatu tantangan yang
dihadapi oleh pemerintah, terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja,
pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek lainnya. Hal ini terlihat dari jumlah
pencari kerja yang terdaftar pada tahun 2007 di Dinas Tenaga Kerja sebanyak
24.223 orang dengan jumlah pencari kerja terbanyak
berasal dari golongan
pendidikan SLTA (16.128 orang). Sementara, Pencari kerja yang bisa
ditempatkan hanya 1.754 orang. Sehingga masih banyak pencari kerja yang belum
mendapatkan pekerjaan apalagi ditambah dengan pencari kerja tahun-tahun
sebelumnya.
Disamping itu ketenagakerjaan di perkotaan juga berhubungan dengan
urbanisasi, migrasi dan struktur pekerjaan, yang dianggap berkaitan erat dengan
kemiskinan di pedesaan. Penerapan teknologi padat modal di sektor usaha/industri
di
perkotaan
mengakibatkan
terjadinya
urban
bias
(kecenderungan
mengutamakan perkotaan), sehingga terdapat kecenderungan mengabaikan daerah
pedesaan. Terjadinya angka pengangguran tinggi terutama dialami usia muda
yang baru menyelesaikan pendidikan lanjutan, terdapat pula dikalangan
masyarakat
aspirasi
akan
pekerjaan
“kantor”
yang
lebih
menjanjikan
menyebabkan lambannya pertambahan lapangan pekerjaan baru.
Perekonomian Daerah
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan dasar pengukuran
atas nilai tambah yang mampu diciptakan karena adanya berbagai aktivitas
ekonomi dalam suatu wilayah. Data PDRB tersebut menggambarkan
kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya
manusia yang dimiliki. Oleh karena itu besarnya PDRB yang mampu dihasilkan
sangat tergantung pada faktor tersebut, sehingga dengan beragamnya
keterbatasan dua faktor di atas menyebabkan PDRB bervariasi antar daerah.
Secara makro besaran PDRB yang dihitung atas dasar harga berlaku di
Kabupaten Garut pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang cukup tinggi
dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 1.824,94 miliar, atau dari semula
sebesar Rp 15.890,28 miliar menjadi Rp 17.715,22 miliar. Sedangkan dua tahun
sebelumnya besaran PDRB Kabupaten Garut mencapai Rp 13.697,88 miliar
tahun 2005 dan Rp 11.323,78 miliar tahun 2004.
Gambaran tersebut
merefleksikan perkembangan yang cukup singnifikan dari pertambahan nilai
produk barang yang dihasilkan di wilayah Kabupaten Garut pada periode 2004 2007. Kendati demikian, perkembangan tersebut belum dapat dijadikan sebagai
indikator dari peningkatan volume produk barang atau jasa di wilayah Garut,
karena pada besaran PDRB yang dihitung atas dasar harga berlaku masih
terkandung inflasi yang sangat mempengaruhi harga barang/jasa secara umum.
Untuk menganalisis perkembangan dari volume produk barang/jasa umumnya
digunakan PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan. PDRB yang dihitung
atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kabupaten Garut pada tahun 2007 telah
mencapai Rp 9.563,13 miliar, atau mengalami pertumbuhan 4,76 persen dari
tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Rp. 9.128,81 miliar. Kondisi tersebut
merupakan indikasi produksi produk barang/jasa secara umum mengalami
peningkatan atau perekonomian Kabupaten Garut secara makro berkembang
positif dengan besaran 4,76%.
Tabel 11 PDRB Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 Kabupaten Garut
Tahun 2004 – 2007
Kelompok
Sektor
(1)
2004
2005
2006
(2)
(3)
(4)
2007
(5)
PRIMER
Pertanian
Pertambangan
4,104.50
4,093.83
10.67
4,284.67
4,273.83
10.84
4,299.54
4,288.06
11.48
4,467.62
4,454.98
12.64
SEKUNDER
Industri
Listrik dan air
Bangunan
773.49
514.04
39.20
220.25
808.31
540.52
41.06
226.73
876.55
586.62
44.33
245.60
941.97
633.13
47.84
261.00
TERSIER
Perdagangan
Pengangkutan
Bank
Jasa-jasa
3,540.46
2,143.41
242.63
367.35
787.07
3,675.43
2,249.30
255.17
351.28
819.68
3,952.72
2,427.10
270.84
360.02
894.76
4,153.54
2,586.02
282.60
348.40
936.52
8,418.45
8,768.41
9,128.81
9,563.13
PDRB
Sumber: BPS Kabupaten Garut, 2008.
Dari tabel di atas, dapat dilihat sektor andalan atau sektor yang memberi
sumbangan terbesar adalah Pertanian. Pada tahun 2007 sektor ini memberikan
sumbangan nilai tambah sebesar Rp 4.454,98 miliar atas dasar harga konstan
tahun 2000. Kondisi tersebut dapat dipahami, karena sebagian besar wilayah di
Kabupaten Garut masih tampak didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini terlihat
dari sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di sektor ini serta sebagian
besar lahan di wilayah Kabupaten Garut digunakan untuk kegiatan di sektor
pertanian yang hampir mencapai 3/4 dari total luas wilayah Kabupaten.
Download