Unduh File - Pengadilan Tinggi Bandung

advertisement
PUTUSAN
Nomor : 205/Pdt/2016/PT.BDG.
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Tinggi Jawa Barat, yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara
perdata dalam peradilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam
perkara antara :
IDA YULIDINA, beralamat di Taman Kebon Sirih I No. 20 Jakarta Pusat yang
selanjut disebut sebagai Pembanding semula Penggugat
Me l a w a n :
1.
2.
3.
4.
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
Cq.
Kepala Balai Besar Logam & Mesin, beralamat di Jalan Sangkuriang No.
12 Bandung yang selanjutnya disebut sebagai Terbanding semula Tergugat ;
BPN RI Cq BPN KOTA BANDUNG, beralamat di Jalan Soekarno Hatta No.
586 Bandung yang selanjutnya disebut sebagai Turut Terbanding I semula
Turut Tergugat I ;
KECAMATAN COBLONG, beralamat di JI. Sangkuriang No. 10A Bandung
yang selanjutnya disebut sebagai
Tergugat II;
Turut Terbanding II semula Turut
KELURAHAN DAGO, beralamat di Jalan Ir. H. Djuanda No, 279 Bandung
yang selanjutnya disebut sebagai Turut Terbanding III semula Turut
Tergugat III;
Pengadilan Tinggi tersebut :
perkara ini :
Telah membaca berkas perkara dan surat-surat yang berhubungan dengan
TENTANG DUDUK PERKARANYA
Memperhatikan, mengutip dan menerima keadaan tentang Gugatan Penggugat,
sebagaimana Gugatannya tertanggal 16 Maret 2015
yang didaftarkan di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Bandung tanggal 16 Maret 2015 Nomor : 125/Pdt.G/2015/PN.Bdg.:
I. PENGGUGAT ADALAH PENGGUGAT YANG BERKUALITAS
1.
Alm. Ibu Anna Van Der Hoop ("Alm. Mu Anna Soeharto") menikah dengan
seorang laki-laki yang bernama Bapak Soeharto sebagaimana termaksud dalam
Surat Nikah dengan petikan dari Buku Pendaftaran Nikah No 507/1960
tertanggal 23 April 1960 bukti P-1.1) pada Kantor Urusan Agama Kecamatan
Cimahi Kabupaten Bandung.
Lebih lanjut, pada tanggal 14 September 2010 Alm. Ibu Anna Soeharto
meninggal dunia sebagaimana dibuktikan dengan Surat Keterangan Pelaporan
KematianNo.3171071007000014 tertanggal 27 September 2010 (Bukti P1.2)
dan Surat Medis Penyebab Kematian tertanggal 14 September 2010 (Bukti P-
1.3). Oleh karena itu, secara hukum sejak terjadi kematian telah terjadi pewarisan atas
harta Alm. Ibu Anna Soeharto.
Bahwa
berdasarkan
Penetapan
Pengadilan
Agama
Bandung
Nomor
987/Pdt.P/2010/PA.Bdg tertanggal 3 November 2010 (Bukti P-1.4), telah secara
tegas menetapkan Ahli Waris Alm. Ibu Anna Soeharto, yang terdiri dari:
a. Bapak Soeharto bin Abdullah (Suami);
b. Ita Anita bin Soeharto (Anak Kandung Perempuan);
c. Iva Triviennabin Soeharto (Anak Kandung Perempuan);
d. Ida Yulidina bin Soeharto (Anak Kandung Perempuan);
2.
e. Irra Yuniorita bin Soeharto (Anak Kandung Perempuan);
Lebih lanjut, untuk mempermudah pengurusan terhadap harta-harta peninggalan
Alm. Ibu Anna Soeharto maka seluruh Ahli Waris Alm. Ibu Anna Soeharto
memberikan kuasa kepada Penggugat, yang pada intinya memberikan kuasa untuk
mengurus kepemilikan tanah termasuk namun tidak terbatas untuk menyelesaikan
permasalahan hukum terkait dengan tanah dan bangunan yang terletak di Jalan
3.
Sangkuriang Kelurahan Dago Kecamatan Coblong, Bandung.
Terlebih-lebih, mengacu p a d a Putusan Mahkamah Agung RI No 516 K/Sip/1973
tertanggal 25 November 1975 (Bukti P-1.5), menegaskan:
"Pertimbangan bahwa gugatan tidak dapat diterima karena sesorang ahli waris
yang menggugat, tidak dapat dibenarkan karena menurut yurisprudensi MA tidak
diharuskan semua ahli waris menggugat."
Bahwa kemudian kaidah hukum dari Putusan Mahkamah Agung diatas dikuatkan lagi
dengan pendapat Ahli Hukum Yahya Harahap dalam bukunya: Hukum Acara
Perdata, hal 119- hal 120 dan hal. 133 (Bukti P-1.6), yang dikutip sebagai berikut:
"Apabila harta warisan dikuasai pihak ketiga tanpa alasan yang sah, cukup
seorang ahli waris saja yang bertindak sebagai Penggugat. Penerapan ini,
ditegaskan dalam Putusan MA No. 64 K/Sip/1974. Pertimbangannya
menyatakan, meskipun tidak semua ahli waris turut menggugat, tidak
mengakibatkan gugatan cacat, apabila objek yang digugat harta warisan yang
hal 2 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
dikuasai pihak ketiga tanpa alasan yang sah. Pendirian di atas merupakan
preseden dari putusan terdahulu. Barangkali salah satu putusan yang dianggap
mendahului adalah Putusan No. 244K/Sip/1959, antara lain menegaskan:


gugatan untuk menuntut penyerahan kembali harta warisan yang dikuasai
pihak ketiga tanpa hak, dianggap sah dan memenuhi syarat formil,
meskipun tidak seluruh ahli waris ikut serta sebagai pihak penggugat,
kebolehan seperti itu, sama sekali tidak menimbulkan kerugian bagi
tergugat untuk membela hak dan kepentingannya dalam proses
persidangan
Seperti yang telah dijelaskan di atas seorang ahli waris saja sudah cukup
menjadi pihak penggugat menuntut harta warisan yang dikuasai pihak ketiga
tanpa alasan yang sah."
“....... Putusan MA No. 84K/Sip/1974 yang telah dikemukakan terdahulu.
Dalam putusan ini ditegaskan meskipun tidak semua ahli waris turutmenggugat, tidak berakibat gugatan batal atau gugatan tidak sah.
Memerhatikan putusan putusan tersebut, persetujuan semua Ahli waris untuk
bertindak menggantikan kedudukan pewaris yang meninggal sebagai
penggugat, harus diterapkan secara lentur (flexible) dan kasuistik case by case),
misalnya dalam kasus yang diperkarakan menyangkut harta warisan yang
dikuasal pihak tergugat (pihak ketiga), cukup seorang ahli waris saja yang
tampil. Tidak mesti diminta persetujuan dari semua ahli waris.
4.
Dengan demikian berdasarkan Penetapan Pengadilan Agama Bandung Nomor
987/Pdt.P/2010/PA.Bdg tertanggal 3 November 2010 yang dikaitkan dengan Putusan
Mahkamah Agung sebagaimana disebut diatas dan juga Pendapat Hukum Yahya
Harahap, sudah cukup untuk membuktikan bahwa Penggugat adalah Pengugat yang
berkualitas sehingga Gugatan A Quo telah memenuhi syarat formil dari suatu
Gugatan. Oleh karena itu, mohon Majelis Hakim Yang Mulia untuk berkenan
II.
mengabulkan Gugatan A Quo.
PERALIHAN HAK ATAS TANAH ANTARA ALM. IBU ANNA SOEHARTO
SELAKU
PIHAK
WIRANATAKUSUMAH
PEMBELI
SELAKU
DENGAN KETENTUAN HUKUM
DENGAN
PIHAK
ALM.BAPAK
PENJ UAL
TE LAH
R.ABAS
SESUAI
A. Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat Adalah Dahulu pemilik Tanah Adat
5.
Semasa hidupnya Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat memiliki tanah adat dengan Kohir
hal 3 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
No. 2169, yang mana dari kohir tersebut terdiri dari berbagai macam persil. Lebih
lanjut, perihal tanah milik Alm. Alm Ibu R. Ayu Sangkaningrat dengan Kohir No. 2169
antara lain terdiri dari persil-persil sebagaimana dapat dijelaskan pada dokumen berikut
ini:
a.
b.
Surat Turut Tergugat II yaitu Surat No. 593/93-KEC.COBLONG tertanggai
7 Maret 1996 perihal Penjelasan Mengenai Tanah C. No. 2169 atas nama R.A.
Sangkaningkrat; (Bukti P-2.1)
Surat Turut Tergugat II yaitu Surat No. 580/206/1998-Kec.Cob,
tertanggal 16 Juli 1998, yang mana dalam surat tersebut menerangkan lokasi
tanah milik adat dengan persil No. 86 a DV, luas tanah 5.470 dan persil No.86 a
D V, luas 640 M2, yang keduanya terletak pada Blok Cisatu, Kohir 2169
c.
d.
yang tercatat atas nama Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat ( bukti P-2.2);
Lampiran Surat pada poin 8 berupa copy legalisir Letter C tahun 1949 yang
menerangkan bahwa Alm Ibu R Ayu sangkaningrat tercatat sebagai pemilik
Kohir 2169 dengan luas 5.470 M2 ( Bukti P 2.1 )
Surat Turut Tergugat III yaitu Surat No 23/KI/IX/1999 tertanggal 5 Oktober
1999 yang mana menerangkan bahwa seluruh persil No 86 D V luas 640 M2
Kelurahan Dago Blok cisitu Kidul, Kecamatan Coblong tercatat atas nama
Alm Ibu R Ayu Sangkaraningrat sebagai pemilik ( Bukti P -2-4 )
Merujuk pada dokumen-dokumen sebagaimana diatas maka telah jelas bahwa
Alm.Ibu R. Ayu Sangkaningrat dahulu adalah pemilik tanah Kohir 2169 yang
merupakan tanah milik adat.
6.
Bahwa sehubungan dengan pemberlakuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960
Tentang Pokok-Pokok Agraria ("Undang-Undang Pokok Agraria"), maka
kepemilikan tanah adat sejak berlaku Undang-Undang Pokok Agraria menjadi Tanah
Hak Milik, sebagaimana amanat Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria Jo.
Penjelasan Pasal 11 Undang-Undang Pokok Agraria, yang dikutip sebagai berikut:
Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria
"Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai
orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam pasal 6."
Penjelasan Pasal H Undang-Undang Pokok Agraria
"Hak-hak atas tanah yang memberi wewenang sebagaimana atau mirip dengan hak
yang dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) seperti yang disebut dengan nama sebagai
dibawah, yang ada pada mulai berlakunya Undang-Undang ini yaitu: hak
agrarisch eigendom, milik, yasan, andarbeni, hak atas druwe, hak atas druwe desa,
hal 4 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
pesini, grant sultan, lainderijenbezitrecht, altijddurende eifpacht, hak usaha atas bekas
tanah partikelir dan hak-hak lain dengan nama apapun juga yang akan
ditegaskan lebih lanjut oleh Menteri Agraria, sejak mulai berlakunya Undang-Undang
ini menjadi hak milik
tersebut dalam Pasal 20 ayat (1), kecuali jika yang
mempunyainya tidak menenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam Pasal 21"
Dengan demikian, tanah-tanah milik Alm.Ibu R. Ayu Sangkaningrat yang
merupakan tanah adat dengan berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria berubah
menjadi Tanah Hak Milik secara hukum.
7.
Adapun s elanjutn ya terdapat beberapa persil yang belum dialihk an
kepemilikannya kepada pihak lain sampai dengan meninggalnya Alm. Ibu R. Ayu
Sangkaningrat.
Oleh
karena
itu,
pada
tahun
1997
Alm.Bapak
R.
Abas
Wiranatakusumah yang pada waktu itu masih hidup dan merupakan Ahli Waris yang
sah dari Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat, bertindak untuk dan atas namaseluruh Ahli
Waris Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat, melakukan Jual Beli Tanah dengan Alm. Ibu
Anna Soeharto selaku Pihak Pembeli dengan obyek jual beli yaitu atas persil-persil
yang merupakan harta waris dari Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat, yang terdiri dari:
a.
Persil No: 86 d. V, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 600 M2.
Untuk selanjutnya akan disebut dengan "Tanah 600 M2"
b.
Persil No. 86 d. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 640 M2.
Untuk selanjutnya akan disebut dengan "Tanah 640 M2"
c.
Persil No. 86 D. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 887,5 M2.
Untuk selanjutnya akan disebut dengan "Tanah 887,5 M2"
d.
Persil No. 86, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di. Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 510 M2;
Untuk selanjutnya akan disebut dengan "Tanah 510 M2"
Tanah 600 M2; Tanah 640 M2; Tanah 887,5 M2 dan Tanah 510 M2 secara bersamasama akan disebut sebagai "Tanah A Quo"
hal 5 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
8.
Bahwa dengan demikian telah jelas bahwa persil-persil sebagaimana tersebut
diatas in casu Tanah A Quo tidak pernah dialihkan kepada pihak manapun selain dari
pada Alm. Ibu Anna Soeharto. Oleh karenanya, jelas bahwa telah terjadi peralihan
hak milik atas Tanah A Quo kepada Alm. Ibu Anna Soeharto.
B. Alm. Bapak R. Abas Wiranatakusumah Adalah Salah Satu Ahli Waris Ibu R. Ayu
Sangkaningrat Yang Ditunjuk Untuk Menjual Tanah Warisan Alm. Ibu R. Ayu
Sangkaningrat
9.
Sejak Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat meninggal dunia maka secara hukum Ahli
Waris yang sah secara hukum berhak dan berwenang atas seluruh tanah-tanah milik
Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat yang belum dialihkan kepada pihak mana pun vide
Pasal 832 KUHPerdata dan Pasal 833 KUHPerdata.
10.
Merujuk pada Surat Keterangan Ahli Waris No. Pm. 041.2/45/1978 tertanggal 26
April 1978 (Bukti P-3.1), Alm.Ibu R. Ayu Sangkaningrat memiliki 4 (empat) ahli
waris yang sah yang mana salah satu nya adalah Alm.Bapak R. Abas
Wiranatakusumah.
Kemudian, Alm. Bapak R. Abas Wiranatakusumah berdasarkan Surat Kuasa
tertanggal 10 November 1990 Multi P-3.2), menerima kuasa dari Para Ahli Waris
Alm.Ibu R. Ayu Sangkaningrat untuk mengurus dan mengecek Tanah Sukalare
sebagai harta warisan dan kemudian menjual tanah tersebut.
11.
Oleh karena itu, sebagaimana telah diuraikan diatas maka Alm. Bapak R. Abas
Wiranatakusumah merupakan pihak yang berwenang dan berhak untuk menjual tanah
milik Alm. Ibu R. Ayu Sangkaningrat vide Pasal 832 KUHPerdata Jo. Pasal 833
KUHPerdata Jo.Surat Kuasa tertanggal 10 November 1999.
C. Obyek jual Beli Tanah A Quo Antara Alm. Ibu Anna Soeharto Selaku Pihak Pembeli,
Dengan Alm. Bapak R Abas Wiranatakusumah Selaku Pihak Penjual
12.
Bahwa Objek Jual Beli atas transaksi Jual Beli antara Alm. Ibu Anna Soeharto
selaku Pihak Pembeli dengan Alm Bapak R.Abas Wiranatakusumah selaku Pihak
Penjual adalah sebagaimana terletak di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago,
Kecamatan Coblong, Bandung, yang telah diuraikan pada Angka 7 Gugatan A Quo,
yang selanjutnya pada waktu itu peralihan hak atas tanah dimaksud dituangkan dalam
Akta Jual Beli yang dibuat dihadapan Turut Tergugat II, yang terdiri dari:
a. Tanah 600 M2
Akta Jual Beli No. 201/PPAT-Kec.Coblong/1997, tgl.31 Desember 1997.(Bukti
hal 6 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
P-4.1)
Batas-batas:

Sebelah Utara

Sebelah Selatan


Sebelah Timur
Sebelah Barat
b. Tanah 640M2
Tanah R. Abas Wiranatakusumah
Selokan
Jalan Sangkuriang
MIDC
Akta Jual Beli No. 201/PPAT-Kec.Coblong/1997, tgl.31 Desember 1997.(Bukti
P-4.2)
Batas-batas

Sebelah Utara
Tanah R. Abas Wiranatakusurnah

Sebelah Selatan
Tanah R. Abas Wiranatakusumah


Sebelah Timur
Sebelah Barat
c. Tanah 887,5M2
Selokan / UPI
Tanah MIDC
Akta Jual Beli No. 154/PPAT-Kee.Cob/1997, tgl. 25 Agustus 1997. (Bukti P4.3)
Batas — batas :

Sebelah Utara

Sebelah Selatan


Tanah R Abas Wiranatakusumah
Sebelah Timur
Selokan
Sebelah Barat
Tanah MIDC
d. Tanah 510M2
Tanah R. Abas Wiranatakusumah
Akta Jual Beli No. 200/PPAT-Kec.Coblong/1997, tgl.31 Desember 1997.(Sukti
P-4.4)
Batas — batas :

Sebelah Utara

Sebelah Selatan


Sebelah Timur
Sebelah Barat
Tanah R. Abas Wiranatakusumah
Selokan / LIPI
Jalan
tanah MIDC
13. Adapun tanah yang menjadi objek dalam ke-empat Akta Jual Beli diatas (Tanah A
hal 7 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Quo) merupakan satu kesatuan hamparan tanah yang terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Keeamatan Coblong, Bandung, sehingga secara
keseluruhan dapat diterangkan sebagaimana sketsa dibawah ini (Bukti P-4.5):
Gambar tata letak tanah A Quo
14. Mengacu pada sketsa, maka Tanah A Quo sebagaimana dimaksud pada ke-empat Akta
Jual Beli adalah tanah yang berdampingan antara tanah satu dengan yang lain sehingga
merupakan satu kesatuan hamparan tanah dengan total luas 2.637,5 M2, dengan batas —
batas tanah apabila digabungkan adalah:

Sebelah Utara

Sebelah Selatan

D.

Sebelah Timur
Sebelah Barat
Tanah R. Abas Wiranatakusumah
Selokan / LIPI
Jln. Sangkuriang
BBLM /MEDC
Peralihan Hak Milik Atas Tanah A Quo Dari Alm.Bapak R. AbasWiranatakusumah
Kepada Alm. Ibu Anna Soeharto Didasarkan Pada Jual Beli Yang Sah Secara Hukum
dan Berharga Karena Jual Beli Dituangkan Dalam Akta Jual Beli Yang Dibuat Di
Hadapan Camat Selaku PPAT Sementara Sehingga Memenuhi Syarat Formil
Dan Juga Dilakukan Secara Terang Dan Tunai Sesuai Dengan Norma-Norma
Hukum Adat Sehingga Memenuhi Syarat Materiil.
15. Peralihan Hak Atas Tanah sebagaimana tertuang dalam ke-empat Akta Jual Beli yang telah
diuraikan pada angka 12 Gugatan A Quo adalah jual beli yang sah secara hukum
karena masing-masing pihak adalah pihak yang berhak dan berwenang secara hukum.
Terlebih-lebih, Akta Jual Beli atas transaksi tersebut dibuat dihadapan Camat Kecamatan
Coblong (Turut Tergugat II) yang notabene adalah pejabat yang berwenang (PPAT
Sementara), sehingga hal ini telah berkesesuaian dengan Yurisprudensi Mahkamah
Agung RI No. 554/KISip/1976 tertanggal 26 Juni 1979 (Bukti P-4.6),yang menyatakan:
hal 8 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
"Berdasarkan Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 10/1961, setiap
pemindahan hak atas tanah harus dilakukan di hadapan pejabat akta tanah,
atau setidak-tidaknya d i h a d a p a n k e p a l a d e s a ya n g bersangkutan."
16. Adapun kemudian, kaidah hukum sebagaimana tertuang pada Yurisprudensi diatas
diakomodir dan/atau diikuti oleh Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 Tentang
Peraturan Pejabat Pembuat Akta Tanah ("PP No. 37 Tahun 1998) (Bukti P-4.7) yang
mana secara tegas tertuang dalam pasal-pasal sebagai berikut:
Pasal 1 ayat (1) PP No. 37 Tahun 1998
"Pejabat Pembuat Akta Tanah, selanjutnya disebut PPAT, adalah pejabat
umum
yang
diberi
kewenangan
untuk
membuat
akta-akta
otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak alas tanah
atau hak Milik Atas Satuan Rumah Susun."
Pasal 1 ayat (2) PP No. 37 Tabun 1998
"PPAT Sernentara adalah Pejabat Pemerintah yang ditunjuk karena
jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT di
daerah yang belum cukup terdapat PPAT
Pasal 5 ayat (3) PP No. 37 Tahun 1998
Camat atau Kepala Desa untuk melayani pembuatan akta di daerah yang
belum cukup terdapat PPATsebagal PPAT Sementara"
Oleh karena itu, sudah tidak dapat terbantahkan lagi bahwa Jual Beli Tanah A Quo
yang dituangkan dalam Akta Jual Beli tersebut telah memenuhi syarat formil dalam
pelaksanaan jual beli tanah pada waktu itu.
17. Selain transaksi Jual Beli Tanah A Quo dilakukan dihadapan PPAT sementara, ternyata
juga Jual Beli Tanah A Quo dilakukan dengan tetap menjungjung tinggi norma-norma
hukum adat sehingga telah sejalan dengan Pasal 5 UndangUndang Pokok Agraria,
yang menyatakan:
"Hukum Agraria yang berlaku diatas bumi, air dan di angkasa adalah hukum
adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara
dst."
Sehubungan dengan norma hukum adat tersebut, Ahli Hukum Bapak Boedi Harsono
dalam bukunya yang berjudul: "Hukum Agraria Indonesia", halaman 29 (Bukti P-4.8)
menyatakan hal sebagai berikut:
hal 9 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
"Dalam hukum adat, "jual beli tanah" bukan perbuatan hukum yang
merupakan apa yang disebut perjanjian obligatoir. Jual beli tanah dalam hukum
adat merupakan perbuatan hukum pemindahan hak dengan pembayaran
tunai.Artinya harga yang disetujui bersama dibayar penuh pada saat
dilakukan jual beli yang bersangkutan. Dalam hukum adat tidak ada
pengertian penyerahan yuridis sebagai pemenuhan kewajiban penjual, karena
justru apa yang tersebut jual beli tanah itu adalah penyerahan hak atas
tanah yang dijual kepada pembeli yang pada saat yang sama membayar
penuh kepada penjual harga yang telah disetujui bersama, maka jual beli
tanah menurut hukum adat ini pengaturanya termasuk sebagai hukum tanah."
18. Oleh karenanya prinsip dasar hukum mengenai jual beli tanah menurut hukum adat
adalah sah dan berharga apabila dilakukan dengan terang dan lunas. Artinya bahwa
terang berarti pembayaran dan penyerahan dilakukan secara langsung oleh para pihak
dihadapan pejabat yang berwenang in casu camat selaku PPAT sementara.
Sedangkan, lunas artinya diserahkan sesuai dengan harga sebagaimana amanat Pasal 5
Undang-Undang Pokok Agraria dan Pendapat Ahli Bapak Boedi Harsono diatas.
Bahwa berdasarkan fakta, Jual Beli sebagaimana telah dituangkan dalam Akta Jual
Beli dilaksanakan secara terang dan tunai yaitu Alm.Ibu Anna Soeharto telah
membayar lunas seketika itu juga atas harga pembelian Tanah A Quo. Dengan
demikian, Jual Beli Tanah A Quo telah memenuhi syarat material dalam transaksi jual beli
tanah.
Dengan demikian bahwa pada faktanya Akta Jual Beli Tanah A Quo vide Bukti P-4.1;
Bukti P-4.2; Bukti P-4.3 dan Bukti P-4.4, yang pada waktu itu dibuat dihadapan
Camat pada Kecamatan Coblong (Turut Tergugat II) dan juga pembayaran dan
penyerahan Hak Atas Tanah dilakukan secara terang dan tunai maka telah
berkesesuaian dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 554/KiSip/1976
tertanggal 26 Juni 1979 (Bukti P-4.6)yang kemudian dikuatkan dengan PP
No. 37 Tahun 1998 (Bukti P-4.7) dan juga telah berkesesuaian dengan roh.
Pasal 5 Undang-Undang Agraria serta dikuatkan dengan pendapat Ahli Hukum
Bapak Boedi Harsono (Bukti P-4.8), sehingga telah membuktikan dan tidak dapat
terbantahkan lagi bahwa peralihan hak atas Tanah A Quo melalui mekanisme Jual
Beli adalah sah dan berharga secara hukum karena telah memenuhi syarat formil dan
syarat materiil dalam transaksi jual beli tanah.
Oleh karena itu, mohon kiranya Majelis Hakim untuk berkenan menjatuhkan putusan
yang menyatakan bahwa peralihan hak atas Tanah A Quo yang dituangkan pada
Akta Jual Beli vide Bukti P-4.1; Bukti P-4.2; Bukti P-4.3 dan Bukti P.4-4 adalah sah
hal 10 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
dan berharga secara hukum.
E. Baik Alm. Ibu Anna Soeharto Maupun Ahli Waris Alm. Ibu Anna SoehartoTidak
Pernah Kehilangan Hak Milik Atas Tanah A I uo
19. Bahwa seyogyanya seseorang dapat kehilangan hak milik atas tanah karena apabila
dikehendaki oleh sang pemilik tanah dengan suatu transaksi pengalihan hak atas tanah
atau karena hal-hal sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Undang Undang Pokok Agraria,
yang dikutip sebagai berikut:
"Hak milik hapus bila
a. Tanahnya jatuh kepada negara:
1 . Karena pencabutanhak berdasarkan Pasal 18 (pencabutan hak atas tanah oleh
negara demi kepentingan umum);
2. Karena penyerahan dengan sukarela oleh pemiliknya;
3. Karena ditelantarkan;
4. Karena ketentuan Pasal 21 ayat 3 dan Pasal 26 ayat 2 (pasal 21 ayat 3 dan
pasal 26 ayat 2 mengatur tentang larangan kepemilikan tanah oleh orang asing).
b. Tanahnya musnah.
20. Faktanya, sejak dibeli oleh Alm. Ibu Anna Soeharto sampai dengan meninggal dunia,
Tanah A Quo tidak pernah dipindahtangankan kepada pihak manapun, baik oleh Alm. Ibu
Anna Soeharto maupun oleh semua Ahli Warisnya, termasuk juga Penggugat.
Selain itu, Tanah A Quo juga tidak pemah hapus Hak Milik oleh karena alasanalasan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 Undang-Undang Pokok Agraria.
21. Dengan demikian, Alm. Ibu Anna Soeharto adalah pemilik yang sah atas Tanah A Quo, yang
kemudian berdasarkan pewarisan menjadi milik Ahli Waris Alm. Ibu Anna Soeharto hingga
saat Gugatan A Quo diajukan.
IIT . TERGUGAT TELAH MEMAGARI TANAH MILIK PENGGUGAT
22. Pada faktanya sebagaimana telah dijelaskan pada Angka 14 Gugatan A Quo bahwa
Tanah A Quo merupakan satu kesatuan hamparan tanah yang berdampingan antara
tanah satu dengan yang lain, yang mana saat ini ternyata Tergugat memagari Tanah
887,5M2, Tanah 640M2, Tanah 600M2 dan Tanah 510M2 (Tanah A Quo) yang
merupakan satu kesatuan tanah milik Penggugat, sehingga Tergugat telah menguasai
keseluruhan tanah tanpa dasar atau tanpa atas hak secara hukum, yang mana Penggugat
jabarkan sebagai berikut:
hal 11 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
A. Tergugat Memagari Tanah 510 M2 dan Tanah 600M2 Padahal Tergugat
23.
Sama Sekali Tidak Pernah Mempersoalkan Tanah 510m2 dan Tanah 600 M2
Bahwa berdasarkan fakta, Tergugat memagari Tanah 887,5 M2, Tanah 600 M2, Tanah
510 M2 dan Tanah 640 M2 (Tanah A Quo). Padahal, selama ini Tergugat sama sekali tidak
mempermasalahkan Tanah 510 M2 dan Tanah 600 M2.
Adapun hal ini dapat terlihat dari:
a . Surat Kepala BBLM (Tergugat) kepada Alm. Bapak Abas Wiranatakusamah
dengan Surat No. 288/Bod/BBLM.2/1V/99 tertanggal 29 April 1999 (Bukti P-6.1),
yang mana intinya menyatakan bahwa tanah seluas 640 M2 diperkirakan terletak di
perbatasan antara tanah BBLM dan LIPI.
b . Surat Kepala BBLM (Tergugat) kepada Kepala BPN Bandung (Turut Tergugat I)
dengan Surat No: 38/11)KMJBBLM.2/1XJ03 tertanggal 2 September 2003 (Bukti
.P-6.2), yang intinya menyatakan bahwa meminta kepada BPN Bandung untuk
c.
menangguhkan permohonan tanah Penggugat seluas 640 M2 (Tanah 640 M2).
Surat BPN Bandung (Turut Tergugat I) kepada Alm. Ibu Anna Soeharto dengan Surat
No. 570/327/KP/2005 tertanggal 1 April 2005 (Bukti P6,3) yang intinya
menyatakan bahwa Turut Tergugat I tidak dapat memproses permohonan pengajuan
sertifikat Tanah 640M2 karena ada MIDC sudah menguasai Tanah 640 M2.
d. Surat BPN Bandung (Turut Tergugat I) kepada Alm. Ibu Anna Soeharto dengan Surat
No. 570/328/KP/2005 tertanggal 1 April 2005 (Bukti P6.4) yang pada intinya
menyatakan bahwa Turut Tergugat I tidak dapat memproses permohonan pengajuan
sertifikat Tanah 887 M2 karena ada MIDC sudah menguasai Tanah 887,5 M2
24.
Bahwa jelas berdasarkan korespondensi diatas, Tergugat melakukan klaim secara sepihak
yang mana klaim tersebut sama sekali tidak berdasarkan hukum terhadap Tanah 640 M2
dan Tanah 887,5 M2.
Hal ini telah cukup untuk membuktikan bahwa Tanah 600 M2 dan Tanah 510 M2
adalah milik Penggugat dan tidak pernah dipermasalahkan oleh Tergugat, tetapi faktanya
Tergugat memagari keseluruhan Tanah A Quo milik Penggugat yang mana termasuk
juga Tanah 600 M2 dan Tanah 510 M2 tersebut.
B. Tergugat Memagari Tanah 887,5 M2 dan Tanah 640M2 Tanpa Dasar Yang Jelas
25. Bahwa Tergugat dalam keberatan kepada Turut Tergugat I sehubungan dengan proses
permohonan pendaftaran Tanah 640 M2 dan Tanah 887,5 M2 milik Penggugat
adalah keberatan yang tidak berdasar. Namun Turut Tergugat I pada akhirnya
mengembalikan berkas dan tidak memproses permohonan pendaftaran Tanah 640 M2
hal 12 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
dan Tanah 887,5 M2 yang dimohonkan oleh Penggugat.
26. Pada Surat Turut Tergugat 1, yaitu:
a.
Surat BPN Bandung (Turut Tergugat I) kepada Alm. Ibu Anna Soeharto dengan
b.
Surat BPN Bandung (Turut Tergugat I) kepada Alm. Ibu Anna Soeharto dengan
Surat No. 570/327/KP/2005 tertanggal 1 April 2005 (Bukti P6.3); dan
Surat No. 570/328/KP/2005 tertanggal 1 April 2005 (Bukti P6.4).
sangat jelas bahwa Turut Tergugat I tidak menjelaskan atas hak atas keberatan Tergugat
terhadap permohonan pendaftaran Tanah 640 M2 dan Tanah 887,5 M2 yang
dimohonkan oleh Penggugat.
Hal
ini
juga
ditegaskan
oleh
Tergugat
dalam
Surat
N o . 38/IDKM/BBLM.211X/03 tertanggal 2 September 2003 (Bukti P-6.5), yang
mana Tergugat juga tidak menyatakan atas hak atas Tanah 640 M2 dan Tanah 887,5
M2, yang notabene adalah milik Penggugat.
Berdasarkan kedua surat diatas sama sekali tidak menyebutkan atas hak atas
tanah yang di klaim Tergugat, hanya
menyatakan bahwa tanah dimaksud aset dari Tergugat, Padahal secara nyata-nyata
Tanah A Quo adalah milik dari Penggugat
27. Dengan demikian jelas bahwa Tergugat telah memagari tanah milik Pengugat tanpa
dasar hukum yang jelas atau tidak berdasar secara hukum.
IV. TERGUGAT SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MENUNJUKKAN ATAS
HAK DALAM MENGUASAI TANAH MILIK PENGGUGAT, SEHINGGA
TELAH JELAS BAHWA TERGUGAT MENGUASAI TANAH TANPA
HAK
28. Bahwa Tergugat merupakan badan publik yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-
undangan. Oleh karena itu, segala penguasaan dan/atau kepemilikan suatu barang
tentunya akan terdaftar dan tercatat dengan sebagaimana mestinya. Mengingat, segala
barang dan/atau kepemilikan oleh badan publik dikualifikasikan sebagai barang milik
negara.
Namun, sungguh sangat aneh justru Tergugat dalam menguasai dan memagari Tanah A
Quo yang merupakan milik Penggugat sama sekali tidak dapat menunjukkan
bukti kepemilikan Tanah A Quo. Terlebih-lebih, Tanah A Quo yang merupakan tanah
milik Penggugat sama sekali tidak pernah jatuh ke tangan negara vide Pasal 27
hal 13 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Undang-Undang Pokok Agraria sebagaimana telah diuraikan pada Angka II huruf E
Gugatan A Quo. Dengan demikian, pengakuan Tergugat terhadap Tanah A Quo yang
notabene adalah milik Penggugat sungguh merupakan perbuatan yang cacat hukum dan
tidak berdasar
29. Adapun sepantasnya dan/atau sepatutnya sebagai suatu badan publik seharusnya dalam
pemberitaan kepada khalayak ramai melalui pemasangan sebuah plang di Tanah A Quo
milik Penggugat harus juga dicantumkan atas hak terhadap pengakuan atas tanah
dimaksud. Namun, pada faktanya Tergugat dalam plang hanya menuliskan dasar
hukum yaitu Pasal 20 Undang-Undang Pokok Agraria, yang mana hal itu
bukanlah suatu atas hak kepemilikan suatu tanah.
Lebih lanjut, Pasal 20 Undang-Undang Pokok Agraria, menyatakan:
"ayat I : Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpebuh yang dapat
dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6."
"ayat 2 : Hak milik dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain."
Dengan demikian, jelas bahwa apa yang dituliskan Tergugat pada plang tersebut bukanlah suatu
atas hak atas kepemilikan tanah hanya sebuah ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal
ini lah yang sangat disesalkan oleh Penggugat mengingat Tergugat adalah suatu badan
publik yang harus memberi contoh kepada masyarakat luas dalam berperilaku dan bukannya
menguasai tanah milik Penggugat yang mana hal itu jelas menunjukkan bahwa Tergugat telah
menguasai tanah tanpa hak dan menciderai prinsip-prinsip umum tata kelola pemerintahan
yang baik.
PERBUATAN MELAWAN HUKUM
30. Pada faktanya bahwa Tergugat telah membuat pagar di hamparan Tanah A Quo dan
juga
memasang
plang
yang
bertuliskan
"TANAH
MILIK
KEMENTERIAN
PERINDUSTRIAN, BALAI BESAR LOGAM DAN MESIN", sehingga jelas bahwa
perbuatan Tergugat merupakan perbuatan yang menguasai Tanah A Quo tanpa hak
karena Tanah A Quo adalah milik Penggugat.
Adapun perbuatan Tergugat tersebut merupakan Perbuatan Melawan Hukum
sebagaimana diatur pada Pasal 1365 KUHPerdata, yang dikutip sebagai berikut:
"Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian
kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu
karena kesalahan untuk mengganti kerugian tersebut."
hal 14 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, seseorang dapat dikualifikasikan telah
telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum manakala telah memenuhi unsure unsur dari Perbuatan Melawan Hukum yang diantara nya terdiri dari:
a. Adanya Perbuatan Melawan Hukum;
b. Adanya Kerugian;
c. Adanya Kesalahan;
d. Adanya hubungan kausalitas antara kerugian dengan perbuatan.
Oleh karena itu, Penggugat akan menguraikan secara lebih rinci Perbuatan
Melawan Hukum yang telah dilakukan oleh Tergugat
V.
UNSUR
PERTAMA
PERBUATANM E L A W A N
PASA L
1365
HUKUM
D I L A K U K A N O L E H TERGUGAT
ADA LAH
YANG
MANA
ADANYA
TELAH
31. Ahli Hukum Setiawan, SH, dalam bukunya yang berjudul : "Pokok-Pokok Hukum
Perikatan" pada halaman 82-83, telah menguraikan secara rinci tentang pengertian
perbuatan melawan hukum, yang dikutip sebagai berikut:
"Berbuat atau tidak berbuat merupakan suatu perbuatan melawan hukum jika:
a. Melanggar hak orang lain atau melanggar hak subyektif orang lain;
b. Berlentangan dengan kewajiban hukum si pembuat, yang mana kewajiban
tersebut didasarkan pada peraturan perundangundangan;
c. Bertentangan dengan kesusilaan;
d. Bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam lalu lintas masyarakat
terhadap diri atau barang orang lain."
Sehubungan dengan unsur pertama dalam Pasal 1365 KURPerdata, maka akan diuraikan
secara Iebih rinci mengenai perbuatan Tergugat yang masuk sebagai Perbuatan
Melawan Hukum sebagai berikut:
Sebagaimana telah diuraikan diatas mengenai posisi tata letak dari Tanah A Quo serta
kepemilikan Tanah A Quo yang merupakan milik Penggguat, maka telah nyata-nyata
bahwa penguasaan tanah yang dilakukan Tergugat yaitu dengan melakukan
pemagaran terhadap satu hamparan Tanah A Quo yang notabene terdiri dari Tanah
600 M2; Tanah 510 M2; Tanah 887,5 M2 dan Tanah 640 M2 adalah merupakan suatu
perbuatan yang melanggar hak Penggugat atau melanggar hak subyektif Penggugat
dan/atau bertentangan dengan kewajiban hukum Tergugat dan/atau bertentangan
dengan kesusilaan dan/atau bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam
lalu lintas masyarakat terhadap diri atau barang orang lain, yang mana perbuatan
hal 15 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Tergugat yang demikian merupakan perbuatan melawan hukum.
A. Tergugat Telah Memagari Tanah 600 M2 Dan Tanah 510 M2 Padahal Secara NyataNyata Tergugat- Sama Sekali Tidak Mempermasalahkan Tanah Tersebut
32. Bahwa penguasaan Tanah A Quo Milik Penggugat yang dilakukan oleh Tergugat yang
tanpa hak terhadap Tanah 600 M2 dan Tanah 510 M2 adalah perbuatan melawan
hukum karena:
Pertama, selama ini Tergugat tidak pernah mempermasalahkan Tanah 600 M2 dan
Tanah 510 M2.
Kedua, bahwa faktanya Tergugat memagari satu hamparan Tanah A Quo yang
merupakan milik Penggugat yang mana dalam satu hamparan Tanah A Quo milik
Penggugat tersebut terdiri dari beberapa persil tanah yang termasuk dalam hal ini Tanah
600 M2 dan Tanah 510M2.
Oleh karena itu, jelas bahwa perbuatan yang dilakukan Tergugat telah melanggar Pasal 2
Undang-Undang No, 51 prp/1960, yang bunyinya dikutip sebagai berikut:
"Dilarang memakai tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya yang sah "
Dengan demikian jelas, bahwa Tergugat telah melanggar Hak Subyektif
Penggugat dan tidak melaksanakan kewajiban hukumnya yaitu mematuhi hak milik
orang lain in casu Penggugat sebagaimana amanat dari peraturan perundang-
undangan. Selain itu juga, perbuatan Tergugat yang demikian bertentangan dengan
kesusilaan dan/atau bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam lalu lintas
masyarakat terhadap diri atau barang orang lain. Hal ini telah menunjukkan bahwa
Tergugat telah memenuhi unsur pertama dari Pasal 1365 KUHPerdata yaitu perbuatan
melawan hukum.
B. Tergugat Keberatan Terhadap Pengajuan Permohonan Sertifikat Yang Diajukan
Penggugat Kepada Turut Tergugat I Pada Tanah 887 5 M2 Dan 640 M2, Namun
Tergugat Sama Sekali Tidak Menunjukkan Atas Hak Sebagai Dasar Keberatan Atas
Tanah 887 5 M2 Dan 640 M2 DanJustru Langsung Memagari Tanah A Quo Secara
Keseluruhan Termasuk Tanah 88795 M2 dan Tanah 6401 M 2
33.
Bahwa Tergugat sama sekali tidak pernah menunjukkan atas hak atas
kepemilikan Tanah 640 M2 dan Tanah 887,5 M2 yang merupakan obyek
keberatan dari Tergugat atas permohonan Sertifikat yang diajukan Penggugat kepada
hal 16 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
34
Turut Tergugat I vide Bukti P-6.5
Bahwa selain keberatan Tergugat yang mana adalah keberatan yang tidak berdasar
secara hukum, ternyata Tergugat malah memagari Tanah A Quo secara melawan.
hukum. Dengan demikian jelas bahwa Tergugat telah memagari Tanah A Quo Milik
Penggugat tanpa dasar hukum yang jelas. Oleh karenanya, perbuatan Tergugat
tersebut jelas merupakan perbuatan yang telah melanggar Hak Subyektif Penggugat
dan tidak melaksanakan kewajiban hukumnya yaitu mematuhi hak milik orang lain in
casu Penggugat sebagaimana amanat dari peraturan perundang-undangan. Selain
itu juga, perbuatan Tergugat yang demikian bertentangan dengan kesusilaan
dan/atau bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam lalu lintas masyarakat
terhadap diri atau barang orang lain. Hal ini telah menunjukkan bahwa Tergugat telah
memenuhi unsur pertama dari Pasal 1365 KUHPerdata yaitu perbuatan melawan
hukum.
C
Sebelah Barat Tanah A Quo Yang Merupakan Milik Penggugat Berbatasan Langsung
dengan Tanah Tergugat namun Tergugat TelahMengklaim Tanah. Milik Penggugat
Yang Mana klaim Tergugat Tersebut Telah Melewati Batas-Batas Tanah
AntaraTanah Penggugat Dengan tanah Tergugat Sehingga Pemagaran Yang
Dilakukan Oleh Tergugat Telah Melewati Batas dan Masuk Ke Dalam Area
Tanah Penggugat Secara Keseluruhan
35 Bahwa satu kesatuan Tanah A Quo milik Penggugat pada sebelah barat berbatasan
langsung dengan tanah Tergugat sebagaimana telah diuraikan pada Angka II Huruf C
Gugatan A Quo
36 Faktanya, Tergugat memagari Tanah A Quo yang didalamnya termasuk Tanah Penggugat
secara keseluruhan yaitu Tanah 640 M2; Tanah 887,5 M2; Tanah 600 M2 dan Tanah 510
M2. Perbuatan Tergugat mana jelas telah bertentangan dengan ketentuan Pasal 7
Undang-Undang Pokok Agraria, yang bunyinya:
"Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan
tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan."
37 Dengan demikian jelas, bahwa Tergugat telah melanggar Hak Subyektif
Penggugat dan tidak melaksanakan kewajiban hukumnya yaitu mematatuhi hak milik
orang lain in casu Penggugat sebagaimana amanat dari peraturan perundang-
undangan. Selain itu juga, perbuatan Tergugat yang demikian bertentangan dengan
kesusilaan dan/atau bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam lalu lintas
masyarakat terhadap diri atau barang orang lain. Hal ini telah menunjukkan bahwa
Tergugat telah memenuhi unsur pertama dari Pasal 1365 KUHPerdata yaitu perbuatan
melawan hukum.
hal 17 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
VI. UNSUR KEDUA DARl PASAL 1365 ADALAH ADANYA KERUGIAN YANG
DIDERITA OLEH PENGGUGAT
38. Bahwa akibat dari perbuatan Tergugat sebagaimana telah diuraikan diatas, Penggugat
secara nyata-nyata mengalami kerugian yang diantara:
Kerugian Material,
a.
kerugian yang diderita Penggugat karena tidak bisa menikmati dan
memanfaatkan tanah miliknya sendiri. Oleh karena itu, sejak dipagari
Tergugat tahun 2000 hingga sekarang kerugian yang nyata-nyata
diderita oleh Tergugat adalah:
2015 — 2000 = 15 tahun
tafsiran uang sewa sebagai akibat Tergugat tidak dapat menikmati dan
menggunakan tanah miliknya sendiri adalah sebesar Rp. 25.000.000,- per
tahun
Jadi kerugian material sebagai akibat Penggugat tidak dapat menikmati
dan menggunakan tanah miliknya sendiri adalah sebesar :
15 tahun x Rp. 25.000.000,-375.000.000 - (tiga ratus juluh puluh lima
juta rupiah
b. Kerugian atas keuntungan dikemudian hari yang akan diperoleh oleh
Penggugat manakala tanah milik Penggugat diberdayakan secara
maksimal adalah sebesar Rp 125.000.000- (seratus dua puluh lima
Dengan
juta rupiah).
demikian
total
kerugian
Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
material
Tergugat
sebesar
Kerugian Immaterial
berupa hilangnya waktu, tenaga dan pikiran Penggugat karena secara nyata-nyata
Tanah A Quo adalah miliknya yang merupakan harta warisan dari Ibu kandung
Penggugat yang apabila ditafsir dinilai sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta
rupiah).
39.
Oleh karena itu total kerugian yang diderita oleh Penggugat
1.000.000.000,- (satu miliar rupiah)
adalahsebesar Rp.
VII. UNSUR KETIGA PASAL 1365 ADALAH ADANYA KESALAHAN
YANG MANA HAL INI ADA DALAM DIRI TERGUGAT SEHUBUNGAN
hal 18 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
DENGAN GUGATAN A QUO
40.
Bahwa Ahli Hukum R. Setiawantelah menguraikan mengenai anti kesalahan sebagai
unsur dalam perbuatan melawan hukum vide Pasal 1365 KUHPerdata, sebagai berikut:
"Untuk dapat dituntut berdasarkan perbuatan melawan hukum
Pasal 1365 BW mensyaratkan adanya kesalahan. Syarat ini dapat
diukur secara obyektif dan subyektif
Secara obyektif harus dibuktikan bahwa dalam keadaan seperti
itu manusia yang normal dapat menduga kemungkinan timbulnya
akibat dan kemungkinan ini akan mencegah manusia yang baik
untuk berbuat atau tidak berbuat
Secara subyektif, kita harus meneliti, apakah si pembual
berdasarkan ke ahl i an n ya ya n g di m i l i ki dapat m end u ga
akan
aki bat
melakukan
dari
perbuatannya. Selain itu, orang yang
perbuatan
melawan
hukum
dipertanggungjawabkan atas perbautannya."
harus
dapat
Mengacu pada teori diatas maka secara obyektif Tergugat sebagai badan publik
seharusnya mengetahui dan memberikan contoh bahwa menguasai
sebagian atau seluruhnya tanah milik orang lain atau menguasai tanah
tanpa hak dan kemudian memagari tanah tersebut seolah-olah tanah
dimaksud milik nya sendiri maka akan mengakibatkan kerugian bagi orang
in casu pemilik tanah yang sebenarnya.
Sedangkan kesalahan dalam arti subyektif juga telah terpenuhi pada diri
Tergugat karena: Pertama, bahwa. Tergugat adalah badan publik yang tentunya
mengetahui secara rinci peraturan perundangan-undangan yang berlaku di
Indonesia.Kedua, Tergugat memiliki kewajiban hukum sebagai badan publik
untuk
menerapakan
prinsip-prinsip
good
governance
(tata
kelola
pemerintahan yang baik) sehingga patut sadar dan mengetahui bahwa
mengklaim hak orang lain adalah suatu perbuatan yang secara hukum
dilarang
Berdasarkan kedua alasan tersebut sudah cukup untuk membuktikan dan
tidak dapat dibantah lagi bahwa Tergugat menghendaki dan/atau mengetahui
akibat dari perbuatannya tersebut sehingga Penggugat yang merupakan
pemilik Tanah A Quo mengalami kerugian.
VIII.
UNSUR
KE
EMPAT
PASAL
1365
ADALAH
ADANYA
hal 19 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
KAUSALITAS ANTARA PERBUATAN MELAWAN HUKUM
YANG
DILAKUKAN OLEH TERGUGAT DENGAN KERUGIAN
YANG
DIDERITA OLEH PENGGUGAT
41. Merujuk pada pendapat Ahli Hukum Yahya Harahap
berjudul: Hukum Acara Perdata, halaman 536 sebagai berikut:
dalam buku yang
"Dalam ketentuan perbuatan melawan hukum, terdapatdua unsur yang harus
dibuktikan, yang terdiri dari :

adanya kesalahan pelaku baik disengaja (wilful!) atau karena kelalaian
(negligence);
 kerugian yang dialami, merupakan akibat
langsung dari perbuatan
melawan hukum yang dilakukan pelaku
berdasarkan pendapat ahli dan dikaitkan dengan perbuatan melawan hukum
Tergugat sebagaimana telah dijelaskan secara rinci pada Angka V Gugatan
A Quo, maka jelas bahwa kerugian yang diderita oleh Penggugat yang pada
intinya adalah tidak dapat menikmati dan menggunakan Tanah A Quo yang
merupakan miliknya disebabkan karena Tergugat memagari seluruhnya Tanah
A Quo yang merupakan milik Pengugat.
Oleh karenanya telah nyata-nyata bahwa terdapat kausalitas antara perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat dengan kerugian yang
diderita oleh Penggugat.
DENGAN TELAH DIPENUHINYA UNSUR PERTAMA, UNSUR KEDUA,
UNSUR
KETIGA
DAN
UNSUR
KEEMPAT
SEBAGAIMANA
TELAH
DIURAIKAN PADA GUGATAN A QUO, MAKA TELAH SECARA NYATANYATA
TERGUGAT
MELAWANHUKUM
TELAH
SEBAGAIMANA
MELAKUKAN
DIATUR
PADA
PERBUATAN
PASAL
1365
KUHPERDATA. OLEH KARENANYA MOHON KIRANYA MAJELIS HAKIM
UNTUK MENJATUHKAN PUTUSAN YANG MENYATAKAN BAHWA
TERGUGAT TELAH MELAKUKAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM VIDE
PASAL 1365 KUHPERDATA.
SITA JAMINAN ( CONSERVATIR BESLANG
42. Bahwa pada dasarnya Tanah A Quo yang dikuasai oleh Tergugat secara melawan
hukum adalah merupakan milik Penggugat. Oleh karenanya, untuk memberikan
kepastian kepada Penggugat atas barang tidak bergerak miliknya dan agar Gugatan
hal 20 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
A Quo tidak menjadi sia-sia, maka mohon kepada Majelis Hakim untuk berkenan
meletakkan sita jaminan atas Tanah A Quo sebagaimana diatur dalam Pasal 227 ayat
43.
(1) HIR.
Lebih lanjut, bahwa dalam praktik telah dikenal perluasan Pasal 227 ayat (1) HIR yaitu
termasuk juga terhadap penyitaan barang yang disengketakan, hal ini sebagaimana
pendapat dari Ahli Hukum Yahya Harahap pada bukunya : Hukum Acara Perdata,
halaman 301, yang menyatakan:
"Dalam
sengketa
milik,
penyitaan
terbatas
pada
barang
yang
disengketakan, Jika perkara yang terjadi berkenaan dengan sengketa ini milik
mengenai barang tertentu: permintaan sita yang dapat diajukan penggugat
hanya terbatas pada barang yang disengketakan, tidak boleh melebihi barang
itu."
44.
Merujuk pada Pendapat Ahli Hukum diatas dan ketentuan Pasal 227 ayat (1) HIR,
maka dengan mempertimbangkan bahwa Tergugat telah menguasai Tanah A Quo milik
Penggugat secara melawan hukum, mohon kiranya Majelis Hakim untuk berkenan
mengabulkan sita jaminan (conservatoir beslag) atas Tanah A Quo milik Penggugat
yang dikuasai Tergugat secara melawan hukum, berupa:
a.
Persil No: 86 d. V, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
b.
Persil No. 86 d. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
c.
d.
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 600 M2;
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 640 M2;
Persil No. 86 D. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 887,5 M2;
Persil No. 86, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 510 M2.
PUTUSAN SERTA MERTA ( UTIVOERKAAR VOORRAAD )
45. Oleh karena gugatan ini diajukan dengan bukti-bukti yang kuat, maka
berdasarkan Pasal 180 H.I.R, mohon kiranya agar Majelis Hakim yang
memeriksa Gugatan A Quo untuk berkenan menjatuhkan putusan yang dapat
dijalankan terlebih dahulu (Uitvoerbaar bij Voorraad), sekalipun Tergugat
mengajukan upaya hukum verzet, banding ataupun kasasi.
HUKUMAN DWANSOM TERHADAP TERGUGAT
46. Untuk menjamin pelaksanaan atas putusan pada perkara a quo, mohon kiranya Majelis
Hakim dalam amar putusannya untuk menjatuhkan pengenaan uang dwangsom
kepada Tergugat manakala lalai dalam menjalankan putusan pada perkara a quo;
hal 21 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Adapun besarnya uang dwangsom adalah sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah)
per hari keterlambatan dalam pelaksanaan putusan yang berlaku setiap harinya pada
saat Tergugat lalai dalam menjalankan putusan yang mulai berlaku terhitung 3 (tiga) hari
kerja saat putusan diucapkan.
Selain alasan-alasan dia atas, mohon kiranya juga agar Majelis Hakim
Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul sehubungan dengan
Gugatan A Quo.
Serta, memerintahkan agar Turut Tergugat I menerbitkan Sertifikat Hak Milik atas
Tanah A Quo; dan juga memerintahkan Turut Tergugat 1; Turut Tergugat II dan Turut
Tergugat III untuk mematuhi putusan pada perkara a quo.
TUNTUTAN/FUNDAMENTUM PETENDI
Berdasarkan dalil-dalil sebagaimana telah kami uraian secara rinci di atas, mohon
kiranya Majelis Hakim yang memeriksa perkara a qou untuk berkenan mengadili dan
menjatuhkan putusan sebagai berikut:
DALAM POKOK PERKARA
PRIMAIR
1. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan secara hukum bahwa Tergugat
melakukan Perbuatan
Melawan Hukum dengan memagari Tanah A Quo Milik Penggugat;
3. Menyatakan Sah dan Berharga Akta Jual Beli:
a.
Akta Jual Beli No. 201/PPAT-Kec.Coblong/1997, tgl. 31 Desember 1997;
c.
Akta Jual Beli No. 154/PPAT-Kec.Cob/1997, tgl. 25 Agustus 1997;
b.
d.
Akta Jual Beli No. 201/PPAT-Kec.Coblong/1997, tgl. 31 Desember 1997;
Akta Jual Beli No. 200/PPAT-Kec.Coblong/1997, tgl. 31 Desember 1997.
4. Menyatakan secara hukum bahwa Penggugat adalah pemilik yang sah dan
berhak serta berwenang secara hukum atas tanah:
e.
Persil No: 86 d. V, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 600 M2;
f
Persil No. 86 d. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169,
terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 640 M2;
hal 22 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
g
Persil No. 86 D. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 887,5 M2;
h.
Persil No. 86, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 510 M2.
5
Memerintahkan Turut Tergugat I untuk menerbitkan Sertifikat atas nama
Penggugat atas tanah:
a. Persil No: 86 d. V, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 600 M2;
b
Persil No. 86 d. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 640 M2;
c Persil No. 86 D. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas 887,5 M2;
d
Persil No. 86, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas
510 M2.
6. Menyatakan Penggugat telah mengalami kerugian sebagai akibat dari
Perbuatan Melawan Hukum Tergugat, berupa:
a.
b.
Kerugian Materil sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah);
Kerugian Immateril sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
7. Menghukum Tergugat untuk m.embayar ganti rugi kepada
Penggugat, yang terdiri dari:
a.
b.
Kerugian Materil sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah);
Kerugian Immateril sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
8. Menyatakan secara hukum sah dan berharga sita jaminan (conservatoir beslag)
atas Tanah A Quo milik Penggugat yang dikuasai Tergugat secara melawan hukum,
berupa:
a.
Persil No: 86 d. V, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 600 M2;
b. Persil No. 86 d. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
hal 23 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 640 M2;
c. Persil No. 86 D. IV, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
luas 887,5 M2;
d. Persil No. 86, Blok Cisitu, Kohir No: 2169, terletak di Jalan
Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan
9.
luas 510 M2.
Menyatakan putusan ini patut dijalankan terlebih dahulu, meskipun ada upaya
hukum verzet, banding atau kasasi (uilvoerbaar bij vormad).
10. Menghukum Tergugat untuk membayar uang dwangsom sebesar Rp. 5.000.000,(lima juta rupiah) per hari atas ketertambatan dan/atau kelalaian Tergugat dalam
pelaksanaan putusan yang terhitung sejak 3 (tiga) hari kerja pada saat putusan
diucapkan.
11. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara;
12. Memerintahkan Turut Tergugat I; Turut Tergugat II dan Turut
III untuk mematuhi putusan.
Tergugat
SUBSIDAIR
Apabila Majelis Hakim memiliki pandangan lain, mohon untuk kiranya putusan yang
seadil-adilnya (Ex aequo et Bono).
Membaca Jawaban Tergugat melalui kuasanya tertanggal 23 Juni 2015, yang pada
pokoknya adalah sebagai berikut : ….
I. DALAM EKSEPSI
A.
DALAM
E K S E P SI
COMPETENTIE)
KOMPETENSI
A B SO L U T
( A B SO L U T E
Pengadilan Negeri Bandung Secara Absolut Tidak Berwenang Mengadili
Perkara Gugatan Perdata a quo (Kompetensi Absolut).
Bahwa Pengadilan Negeri Bandung secara absolut tidak berwenang mengadili
perkara gugatan Perdata a quo, karena :
a. Bahwa telah nyata dan jelas dikemukakan oleh Penggugat dalam surat gugatannya, yang
menjadi salah satu dasar dan alasan diajukannya gugatan kepada Tergugat adalah
berkaitan dengan perbuatan penerbitan alas hak atau sertifikat hak milik atas
nama Penggugat. Hal ini terbukti dari posita maupun petitum gugatan yang
diajukan oleh Penggugat yakni :
hal 24 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
 Posita angka 25 halaman 14 : "Bahwa Tergugat dalam keberatan kepada Turut
Tergugat I sehubungan dengan proses permohonan pendaftaran tanah 640 m2
dan tanah 887,5 m2 milik Penggugat adalah keberatan yang tidak berdasar. Namun
Turut Tergugat I pada akhirnya mengembalikan berkas dan tidak memproses
permohonan pendaftaran tanah 640 m2 dan tanah 887,5 m2 yang dimohonkan
Penggugat."
 Petitum angka 5 halaman 24 : "Memerintahkan Turut Tergugat I untuk
menerbitkan Sertifikat atas nama Penggugat atas tanah : a. Persil Nomor 86 d V,
Blok Cisitu Kohir 2169, terletak di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago,
Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas tanah 600 m2; b. Persil Nomor 86 d
IV, Blok Cisitu Kohir 2169, terletak di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago,
Kecamatan Coblong, Kota Bandung dengan luas tanah 640 m2; c. Persil Nomor 86 d
IV, Blok Cisitu Kohir 2169, terletak di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago,
Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas tanah 887,5 m2; dan d. Persil
Nomor 86, Blok Cisitu Kohir 2169, terletak di Jalan Sangkuriang, Kelurahan
Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dengan luas tanah 510 m2. dengan luas
keseluruhan tanah yakni 2.637,5 m2
b. Bahwa perbuatan yang dimaksud oleh Penggugat dalam posita gugatannya,
yakni perbuatan hukum turut Tergugat I yang mengembalikan berkas permohonan
pendaftaran tanah dan tidak menerbitkan sertifikat hak atas tanah yang dimohonkan
oleh Penggugat, menurut hemat Tergugat dapat dikualifikasikan ke dalam
Keputusan Tata Usaha Negara yakni dalam ketentuan Pasal 3 ayat (1) UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negarayakni :
"(1) apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan
keputusan sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hak tersebut disamakan
dengan Keputusan Tata Usaha Negara."
C. Bahwa Iebih lanjut lagi, petitum yang diajukan oleh Penggugat putusan yang
memerintahkan Turut Tergugat I untuk menerbitkan sertifikat atas nama Penggugat,
menurut hemat Tergugat adalah kewenangan Badan Peradil an Tata Usaha
Negara. Hal ini didasarkan pada Pasal 8 jo. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yakni :
"(8) Dalam hal gugatan dikabulkan, maka dalam putusan Pengadilan tersebut
dapat ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara
(9) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (8) berupa:
hal 25 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
(a) pencabutan Keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan; atau
( b ) p e n c a b u t a n K e p u t u s a n T a t a U s a h a N e g a r a y a n g bersangkutan
dan menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang baru; atau
(c) penerbitan Keputusan Tata Usaha Negara dalam hal gugatan
didasarkan pada Pasal 3."
d. Dengan berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009, dengan sendirinya
perkara gugatan tersebut di atas menjadi kekuasaan/kewenangan mutlak Badan
Peradilan Tata Usaha Negara, bukan kekuasaan/kewenangan dari Badan Peradilan
Umum dalam hal ini Pengadilan Negeri Bandung.
Hal tersebut secara jelas telah diatur dalam Pasal 1 butir 10 jo. Pasal 4 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009, yang mengatur :
"Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha
Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha
negara
"Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat
pencari keadilan terhadap Sengketa Tata Usaha Negara".
e. Bahwa tindakan atau perbuatan hukum yang telah dilakukan oleh Turut Tergugat I
dengan tidak menerbitkan sertifikat hak milik atas nama Penggugat maupun
petitum Penggugat yang meminta Majelis Hakim untuk memerintahkan Turut
Tergugat I II untuk menerbitkan Sertifikat hak atas nama Penggugat menurut hemat
Tergugat adalah Perbuatan Tata Usaha Negara, maka untuk masalah tersebut yang
berwenang menilai adalah Hakim Tata Usaha Negara pada Pengadilan Tata
Usaha Negara untuk memeriksa dan mengadili perkaranya, bukannya oleh Hakim
Perdata pada Pengadilan Negeri Bandung.
Berdasarkan uraian dalam Eksepsi kompetensi absolut (absolute competentie)
tersebut di atas, dan menunjuk kepada Pasal 134 HIR serta Buku II Mahkamah Agung
RI tentang Pedoman Tugas dan Administrasi Pengadilan halaman 122 butir 23, yang
menyangkut
tangkisan
mengenai
ketidakwenangan
hakim
mutlak
(absolute
competentie) yang diajukan oleh Tergugat haruslah diputus terlebih dahulu sebelum
hal 26 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
pemeriksaan pokok perkara.
Karenanya demi hukum dan tata tertib beracara, Majelis Hakim Pengadilan Negeri
Bandung yang memeriksa perkara a quo wajib terlebih dahulu memberikan
putusan atas eksepsi kompetensi absolut yang Tergugat ajukan sebelum
melanjutkan pemeriksaan.
Untuk itu, Tergugat mohon kepada
yang terhormat Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Bandung berkenan menjatuhkan putusan sebagai berikut:
1. Menerima Eksepsi Kompetensi Absolut yang diajukanTergugat;
2. Menyatakan bahwa Pengadilan Negeri Bandung tidak berwenang untuk memeriksa
dan memutus perkara gugatan Penggugat;
3. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara.
B. DALAM EKSEPSI LAIN-LAIN
1. Tidak ada Hubungan Hukum antara Penggugat dan Tergugat (No Legal
Relation).
a. Di dalam hukum perdata berlaku hubungan hukum yang terjadi dalam lalu
lintas masyarakat, hukum melekatkan "hak" pada satu pihak, dan melekatkan
"kewajiban" pada pihak lainnya. Apabila satu pihak tidak mengindahkan
ataupun melanggar hubungan tadi, lalu hukum memaksakan supaya hubungan
tersebut dipenuhi ataupun dipulihkan kembali. Dalam hal gugatan a quo, baik
dalam Posita gugatan maupun Petitumnya, Tergugat tidak melihat
adanya hubungan hukum antara Penggugat dan Tergugat untuk sating
memberikan hak dan memenuhi kewajiban dalam peristiwa penguasaan
tanah oleh Tergugat yakni tanah yang terletak di Jalan Sangkuriang Bandung
dengan bangunan yang saat ini digunakan sebagai kantor Tergugat.
b. Bahwa objek sengketa gugatan a quo tanah seluas 25.590 m2 saat ini dikuasai
oleh Tergugat dengan alas Hak berupa Sertifikat Hak Pakal Nomor 72 yang
diterbitkan pada tanggal 9 November 2009 dengan Surat Ukur Nomor
00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober 2009.
Adapun dasar penerbitan dari sertifikat hak pakai Nomor
72
sebagaimana tersebut dalam bagian penunjuk Sertifikat adalah bekas hak
milik adat :
 C Nomor 461 Persil 86a;
 C Nomor 1482 Persil 86b;
 C Nomor Persil 963 Persil 86a;
hal 27 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
 C 1482 Persil 86a;
 C 1067 Persil 86 a
 C Nomor 2256 Persil 86a;
 C Nomor 1743 Persil 8 1a dan
 C Nomor 3532 Persil 86a.
Sedangkan berdasarkan dalil Penggugat dalam Surat gugatannya pada angka 7 halaman
25 jo. angka 12 halaman 8 dinyatakan bahwa Penggugat mendalilkan telah melakukan
jual beli beberapa bidang tanah dengan Alm. Abbas Wiranatakusumah, adapun dasar atas
hak yang dijadikan objek jual beli antara Penggugat dengan Alm. Abbas Wiranatakusumah
antara lain :

Persil Nomor 86 d V, Blok Cisitu Kohir 2169 dengan luas tanah 600 m2;

Persil Nomor 86 d IV, Blok Cisitu Kohir 2169 dengan luas tanah 887,5 m2; dan


Persil Nomor 86 d IV, Blok Cisitu Kohir 2169 dengan luas tanah 640 m2;
Persil Nomor 86, Blok Cisitu Kohir 2169 dengan luas tanah 510 m2. dengan luas
keseluruhan tanah yakni 2.637,5 m2.
Bahwa dengan demikian, Tergugat secara jelas dan nyata menyatakan
bahwa lokasi tanah milik Tergugat adalah berbeda dengan lokasi tanah milik
Penggugat. Hal ini didasarkan pada fakta dasar penerbitan Sertifikat Hak Pakai
milik Tergugat berbeda sama sekali dengan dasar alas hak yang didalilkan oleh
Penggugat. Dengan demikian jelas bahwa lokasi tanah milik Tergugat berbeda
dengan lokasi tanah yang didalilkan oleh Penggugat dan hal ini berarti tidak
ada hubungan hukum sama sekali antara Tergugat dengan Penggugat.
c. Bahwa tindakan Tergugat memagari tanah dan bangunan milik Tergugat
adalah perbuatan hukum yang tidak melanggar hak dan merugikan siapa pun,
mengingat tindakan Tergugat adalah tindakan yang wajar karena tanah dan
bangunan yang dipagari adalah secara sah merupakan milik Tergugat berdasarkan
Sertifikat Hak Pakai Nomor 72 Tahun 2009.
d. Karena Penggugat tidak memiliki kedudukan hukum sebagai Penggugat dan
tidak ada hak-hak Penggugat yang dilanggar serta dirugikan oieh Tergugat, juga
antara Penggugat dan Tergugat tidak mempunyai hubungan hukumapapun, maka
sudah selayaknya gugatan Penggugat patut ditolak.
2. Gugatan Penggugat Kabur/Tidak Jelas (Obscuur Libel).
Bahwa perkara gugatan Perdata Penggugat terhadap Tergugat adalah kabur/tidak jelas
(obscuur libel), karena :
a. Bahwa dalam surat gugatannya Penggugat sama sekali tidak memahami dan
hal 28 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
mengetahui secara pasti letak dan luas tanah milik Penggugat sendiri. Penggugat
hanya mendasarkan gugatannya berdasarkan rekaan semata tanpa didukung
bukti-bukti yang memadai. Hal ini terbukti berdasarkan pernyataan penggugat
sendiri, yakni dalil dalam surat gugatan Penggugat pada angka 13 halaman 9 yang
menerangkan bahwa "adapun tanah yang menjadi objek dalam keempat akta jual
beli di atas (tanah aquo) merupakan satu kesatuan hamparan tanah yang terletak di
jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung, sehingga secara
keseluruhan dapat diterangkan sebagaimana sketsa di bawah ini (bukti P-4.5)".
Dalam dalil dimaksud, Penggugat mendasarkan buktinya hanya kepada sketsa
buatan tangan dan tidak berdasarkan bukti-bukti batas-batas tanah lain" yang benarbenar dapat menjelaskan secara pasti letak tanah milik Penggugat. Tindakan
Penggugat justru jelas menunjukkan itikad tidak baik dari Penggugat untuk
mengaburkan pandangan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a
quo tentang batas-batas tanah milik Penggugat maupun Tergugat yang
sebenarnya.
b. Menurut hemat Tergugat sebelum Penggugat menyatakan bahwa Tergugat telah
melakukan suatu perbuatan melawan hukum dengan memagari tanah milik
Penggugat, maka sudah sewajarnya Penggugat dapat menunjukkan dengan
jelas batas-batas tanah antara tanah Penggugat dengan tanah Tergugat. Namun,
dalam keseluruhan posita gugatannya, Tergugat merasa Penggugat tidak mampu
menunjukkan secara jelas dan nyata batas-batas tanah dimaksud dan hanya
mendasarkan pada rekaan semata. Hal ini menurut hemat Tergugat menjadikan
dasar gugatan Penggugat menjadi TIDAK JELAS / obscuur libel.
c. Lebih lanjut lagi, dengan dimasukannya posita maupun petitum gugatan terkait
permohonan penerbitan sertifikat hak atas nama Penggugat semakin menjadikan
gugatan perkara a quo menjadi kabur dan tidak jelas tujuannya, di satu sisi
mendalilkan terjadinya perbuatan melawan hukum atas tindakan hukum Tergugat
dalam memagari tanah milik Tergugat, tapi di sisi lain juga meminta kepada Majelis
Hakim untuk memerintahkan Turut Tergugat I agar menerbitkan sertifikat
hak atas nama Penggugat, padahal jelas-jelas Penggugat mengetahui bahwa petitum
dimaksud adalah petitum yang berkaitan dengan putusan Tata Usaha Negara
yang sudah sepantasnya diajukan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara.
Dengan mencampuradukkan keduanya dalam satu gugatan maka menurut hemat
Tergugat hal tersebut menjadikan gugatan Penggugat menjadi TIDAK
JELAS / obscuur libel
Atas dasar tersebut di atas, maka gugatan Penggugat harus dinyatakan ditolak demi hukum,
karena Penggugat hanya coba-coba dan tidak serius dalam membuat gugatan, serta asal
hal 29 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
tembak dan memaksakan diri tanpa alasan hukum dan dasar hukum yang sah serta
tidakdidukung oleh data yang akurat dan faktual, yang menjadikan gugatan
Penggugat kabur dan tidak jelas,dan oleh karenanya gugatan harusiah ditolak atau
setidaknya dinyatakan tidak dapat diterima.
3. Gugatan Penggugat Salah Alamat (Error in Persona)
Bahwa perkara gugatan Perdata Penggugat terhadap Tergugat adalah Salah Alamat,
karena :
a. Bahwa Penggugat dalam posita gugatannya mendalilkan bahwa Tergugat telah
melakukan perbuatan melawan hukum yakni dengan memagari tanah milik
Penggugat,
dalil
ini
adalah
dalil
yang
tidak
benar
dan
berusaha
memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Bahwa yang sebenarnya adalah
perbuatan Tergugat dalam memagari tanah Tergugat adalah perbuatan yang
sah mengingat pagar yang dibuat adalah masih termasuk ke dalam batas-batas
tanah yang secara sah merupakan hak Tergugat berdasarkan Sertifikat Hak
Pakai Nomor 72 yang diterbitkan pada tanggal 9 November 2009 dengan
Surat Ukur Nomor 00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober 2009.
b. Selain itu, tindakan Tergugat dalam memagari tanah milik Tergugat dilakukan
bersamaan dengan dibangunnya gedung perkantoran milik Tergugat yakni
sekitar tahun 1970, sehingga apabila Penggugat benar-benar mengetahui
status dan letak tanah milik Penggugat maupun Tergugat seharusnya Penggugat
tidak akan mengajukan gugatan dimaksud mengingat jual beli antara
Penggugat dengan penjual tanah sengketa baru dilakukan pada tahun 1997.
c. Bahwa dengan demikian, tindakan Penggugat dalam menggugat Tergugat adalah
salah alamat, seharusnya Penggugat mengajukan gugatan dimaksud kepada
Penjual yang menjual tanah kepada Penggugat. Mengingat Penjual terkesan
menyembunyikan status tanah yang sebenarnya dan sama sekali tidak menunjukkan
batas -batas yang jelas atas tanah yang dijuainya dan hal inilah yang
menyebabkan kebingungan di Pihak Penggugat ketika akan mengklaim
tanah miliknya. Bahkan menurut hemat Tergugat, ketika melakukan jual beli tanah
dimaksud Penggugat sama sekali tidak melakukan pengecekan atas data fisik
maupun data yuridis tanah yang dibelinya.
d. Bahwa da lil Tergugat dimaksud, dikuatkan dengan Surat Keterangan Nomor
43/Ket/BBLMNIII/1998 tanggal 25 Agustus 1998 yang
menyatakan bahwa
sesungguhnya Balai Besar Pengembangan Industri Logam (sekarang BBLM/ Balai
Besar Logam dan Mesin) sejak tanggal 1 April 1970 menduduki tanah di Jalan
Sangkuriang No. 12 Bandung. Dalam surat keterangan dimaksud, Alm.
hal 30 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Abbas
Wiranatakusumah
selaku
penjual
yang
menjual tanah kepada
Penggugat juga menandatanganinya. Maka hal ini berarti sejak awal alm.
Abbas Wiranatakusumah sudah mengetahui dan mengakui keberadaan
BBLM dan batas-batas tanah BBLM.
e. Atas dasar tersebut di atas, maka gugatan Penggugat harus dinyatakan
ditolak demi hukum, dengan alasan salah alamat. Penggugat hanya coba-
coba dan tidak serius dalam membuat gugatan, serta asal tembak dan
memaksakan diri tanpa alasan hukum dan dasar hukum yang sah serta tidak
didukung oleh data yang akurat dan factual
II I.IIIiDALAM PROVISI
Bahwa
Tergugat
berpendiri an
dan
berpegang
bahwa
Gugat an
Penggugat dalam angka 8 petitum gugatan patut ditolak, dengan alasan
hukum tidak ada keadaan mendesak yang mengharuskan terhadap tanah
objek perkara dilekati sita jaminan. Terutama berkaitan dengan tanah milik
Kementerian Perindustrian yakni tanah Balai Besar Logam dan Mesin mengingat
sudah jelas dan nyata tanah dimaksud secara sah adalah milik Tergugat
berdasarkan Sertifikat Hak Pakai Nomor 72 Tahun 2009.
Walaupun Penggugat mendalilkan bahwa tanah yang ingin disita adalah tanah
milik Penggugat, namun karena ketidakjelasan dalil Penggugat mengenai batasbatas tanah dimaksud, dikhawatirkan justru tanah milik Tergugatlah yang
dikenakan sita jaminan. Bahwa pelarangan mengenai sita jaminan ini, secara
tegas dan nyata diatur dalam Pasal 50 Undang-Undang nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara.
" Pihak mana pun dilarang melakukan penyitaan terhadap:
a.
uang atau barang berharga milik negara/daerah baik yang berada pada instansi
b.
uang yang harus disetor oleh pihak ketiga kepada negara/daerah;
c.
d.
e.
III.
1.
Pemerintah maupun pada pihak ketiga;
barang bergerak milik negara/ daerah yang berada pada instansi Pemerintah
maupun pada pihak ketiga;
barang tidak bergerak dan hak kebendaan lainnya milik negara/daerah;
barang milik pihak ketiga yang dikuasai oleh negara/daerah yang diperlukan
untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan "
DALAM POKOK PERKARA
Bahwa dalil-dalil yang telah diutarakan/dikemukakan Tergugat baik di dalam
Eksepsi maupun Dalam Provisi tersebut di atas mohon dianggap telah termasuk
hal 31 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
2.
3.
dalam bagian Pokok Perkara ini.
Bahwa Tergugat menyangkal dan menolak dengan tegasseluruh dalil-dalil
Penggugat sebagaimana yang terurai dalam surat gugatannya, kecuali hal-hal
yang diakui secara tegas oleh Tergugat.
Bahwa dalil-dalil yang dikemukakan oleh Penggugat didasarkan pada kepura-
puraan dan kebohongan serta argumentasi yang diadakan saja dengan
memutarbalikkan fakta hukum yang sesungguhnya dengan maksud untuk
mengelabui Yang Mulia Majelis Hakim dan menguntungkan diri Para Penggugat
4.
semata.
Bahwa Tergugat mempertanyakan dalil Penggugat Pada angka 2 waris kepada
Penggugat, Penggugat menyatakan bahwa pada intinya ahli waris memberikan
kuasa untuk mengurus kepemilikan tanah halaman 4 yakni mengenai pemberian
kuasa dari keseluruhan ahli waris kepada Penggugat, Penggugat menyatakan
bahwa pada intinya ahli waris menberikan kuasa untuk mengurus kepemilikan
tanah termasuk namun tidak terbatas untuk menyelesaikan permasalahan hukum
terkait dengan tanah dan bangunan yang terletak di Jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung.
Bahwa berdasarkan pendapat ahli Hukum, ada 4 jenis kuasa yang diatur
berdasarkan Undang-Undang yakni :
a.Kuasa Umum
Kuasa Umum diatur dalam Pasal 1795 KUH Perdata.Menurut pasal ini,
kuasa umum bertujuan memberi kuasa kepada seseorang untuk mengurus
kepentingan pemberi kuasa mengenai pengurusan, yang disebut berharder untuk
mengatur kepentingan pemberi kuasa. Dengan demikian, dari segi hukum, surat
kuasa umum tidak dapat dipergunakan di depan pengadilan untuk
mewakili pemberi kuasa. Sebab, sesuai dengan ketentuan Pasal 123 HIR, untuk
dapat tampil di depan pengadilan sebagai wakil pemberi kuasa, Penerima
Kuasa haruslah mendapat surat kuasa khusus.
b. Kuasa Khusus
Pasal 1795 KUH Perdata menjelaskan, pemberian kuasa dapat dilakukan
secara khusus, yaitu hanya mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih. Agar
bentuk kuasa yang disebut dalam pasal ini sah sebagai surat kuasa khusus di
depan pengadilan, kuasa tersebut harus disempurnakan terlebih dahulu
dengan syarat syarat yang disebutkan dalam Pasal 123 HIR.
c. Kuasa Istimewa
hal 32 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Kuasa Istimewa diatur dalam Pasal 1796 BW dikaitkan dengan Pasal 157 HIR
atau Pasal 184 RBG.
d. Kuasa Perantara
Kuasa perantara disebut juga agen. Kuasa ini dikonstruksi berdasarkan
Pasal 1792 KUH Perdata dan Pasal 62 KUH Dagang.
Bahwa yang Tergugat pertanyakan adalah bagaimana dan surat kuasa apa yang
diserahkan oleh Para ahli waris kepada Penggugat. Penggugat menyatakan bahwa di satu sisi
kuasa diberikan untuk mengurus kepemilikan tanah termasuk tapi di sisi lain juga
menyatakan bahwa surat kuasa dimaksud juga tidak terbatas untuk menyelesaikan
permasalahan hukum terkait dengan tanah dan bangunan.
Menurut hemat Tergugat, apabila yang dimaksud surat kuasa yang diserahkan ahli
waris adalah bersifat pengurusan sebagaimana diatur dalam kuasa umum maka seharusnya
dinyatakan dengan tegas apa yang dikuasakan, namun pemberian kuasa ini terbatas
untuk melakukan pengurusan tertentu. Sedangkan dengan memasukkan unsur bahwa
kuasa tersebut juga dimaksudkan untuk menyelesaikan permasalahan hukum, maka surat
kuasa itu menjadi tidak jelas. Permasalahan hukum apa yang harus diselesaikan oleh si
penerima kuasa, apakah terkait penyelesaian sengketa di pengadilan atau hanya
menghadap pejabat-pejabat tanah dalam rangka mengklarifikasi status tanah dimaksud.
Dengan tidak jelasnya maksud dan tujuan si pemberi kuasa maupun pengklasifikasiannya ke
dalam kuasa umum atau kuasa khusus, maka sudah sepantasnya Tergugat dapat
mempertanyakan keabsahan kuasa ahli waris itu sendiri.
Bahwa Tergugat menolak dan keberatan atas pernyataan angka 3 halaman 4 terkait
kebolehan pengajuan sengketa warisan oleh seorang ahli waris saja sesuai pendapat
ahli hukum Yahya Harahap yakni "apabila harta warisan dikuasai Pihak ketiga tanpa
alasan yang sah, cukup seorang ahli waris saja yang bertindak sebagai
Penggugat."
Bahwa Tergugat tidak mempermasalahkan mengenai seorangahli waris yang
mengajukan gugatan saja, namun demi menghemat waktu dan biaya serta menjaga asas
kepastian hukum, agar sebaiknya Penggugat melengkapi ahli waris ke dalam
gugatannya. Mengingat baik Penggugat maupun Tergugat juga tidak dapat menghalangi hak
ahli waris lainnya untuk turut menggugat dan masuk ke dalam perkara ini. Bukankah jika
perkara ini selesai namun kemudian, di lain hari ahli waris lainnya bergantian
menggugat Penggugat maupun Tergugat, maka hal ini akan memakan waktu dan biaya
yang tidak sedikit serta tidak ada kepastian hukum bagi para Pihak yang berperkara dan oleh
hal 33 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
karenanya harus dihindari bagaimanapun juga.
Selain itu, dalam pengajuan gugatan oleh seorang ahli waris berdasarkan pendapat ahli
terdapat pula unsur "apabila harta warisan dikuasai Pihak ketiga tanpa alasan yang sah" maka
dengan ini Tergugat menyatakan bahwa tidak ada penguasaan yang tidak sah pada tanah
Penggugat, Tergugat menguasai tanah quo secara sah berdasarkan Sertifikat Hak Pakai
Nomor 72 Tahun 2009.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, perlulah kiranya kebijaksanaan Majelis Hakim
yang memeriksa dan memutus perkara ini untuk melihat dan menimbang penggunaan
yurisprudensi, karena menurut hemat Tergugat penggunaan yurisprudensi dimaksud harus
dilihat kasus per kasus.
5.
Bahwa Tergugat tidak mempermasalahkan peralihan hak antara Penjual (alm.
Abbas Wiranatakusumah) dengan Pembeli (Penggugat) sebagaimana dalil huruf D
dan angka 15 sampai 18 halaman 10 sampai 12 posita gugatan, namun yang
Tergugat permasalahkan adalah mengapa Penggugat tidak mendaftarkan tanahnya
dimaksud. Tampaknya Penggugat lupa dengan keberadaan Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.Peraturan Pemerintah dimaksud berlaku pada
tanggal 8 Oktober 1997, sedangkan jual beli yang dilakukan oleh Penggugat dengan alm.
Abbas Wiranatakusumah diklaim sejak tanggal 25 Agustus 1997 dan tanggal 31
Desember 1997.Dengan demikian hal ini berarti bahwa Peraturan Pemerintah ini sudah
berlaku ketika peralihan hak antara Penggugat dengan alm. Abbas Wiranatakusumah.
Bahwa keberadaan Peraturan Pemerintah dimaksud adalah upaya untuk mewujudkan tujuan
Undang-Undang Pokok Agraria sendiri yakni memberikan kepastian hukum mengenai hakhak atas tanah bagi rakyat seluruhnya ditempuh melalui kegiatan pendaftaran tanah.
Adapun Pendaftaran tanah berdasarkan Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 1997 adalah :
"rangkaian
kegiatan
yang
dilakukan
oleh
Pemerintah
secara
terus
menerus,
berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan
penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar,
mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda
bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah
susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya"
Untuk keperluan pendaftaran hak dimaksud, maka akan dilakukan pembuktian dan
pembukuan sebagaimana disebutkan dalam bagian ketiga Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 1997.
hal 34 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Dengan mendasarkan pada dalil Penggugat bahwa Penggugat benar-benar memiliki
tanah berdasarkan jual beli dengan alas hak berupa persil makasecara hukum bukankah
seharusnya Penggugat segera mendaftarkan tanah dimaksud berdasarkan ketentuan Pasal
24 ayat (1) jo. 25 ayat (1) Peraturan Pemerintah 24 Tahun 1997:
"Untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak
lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti
tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kadar kebenarannya
oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala
Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik, dianggap cukup untuk
mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang membebaninya"
"Kemudian dalam rangka menilai kebenaran alat bukti dimaksud sebagaimana
dimaksud Pasal 24, dilakukan pengumpulan dan penelitian data yuridis mengenai bidang
tanah yang bersangkutan oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik
oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik."
La l u pertanyaannya, mengapa hingga Penggugat baru mengajukan permohonan
pengajuan sertifikat pada tahun 2005 ?dimana dalam pengajuan sertifikat dimaksud
ditolak oleh BPN Bandung melalui Surat Nomor 570/327/KP/2005 dan Surat Nomor
570/327/KP/2005 tanggal 1 april 2005 (vide Bukti P-6.4/ dalil Penggugat angka 23
halaman 13 sampai 14).
6.
Bahwa Tergugat berkeberatan dengan dalil Penggugat pada huruf E dengan
penjelasan angka 19-21 halaman 12-13 posita gugatan yang menyatakan bahwa baik
Alm.Ibu Anna Soeharto maupun ahli waris Alm.Ibu Anna Soeharto tidak pernah
kehilangan hak milik atas tanah a quo.
Bahwa Penggugat dalam dalil angka 20 menyatakan bahwa sejak dibeli oleh
Alm.Anna Soeharto sampai dengan meninggal dunia, tanah a quo tidak pernah
dipindahkan kepada pihak manapun baikoleh Alm.Anna Soeharto maupun oleh semua
ahli warisnya, termasuk juga Penggugat.Selain itu, tanah a quo juga tidak pernah hapus
hak milik karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud Pasal 27 Undang-Undang Pokok
Agraria.
Fakta yang terjadi di lapangan adalah sejak pembelian tanah dimaksud, Penggugat sama
sekali tidak pernah mengusahakan tanah terlebih lagi mengajukan pendaftaran atas tanah
dimaksud. Sehingga pada prinsipnya menurut hemat Tergugat tanah milik Penggugat
sebenarnya dapat dikualifikasikan ke dalam tanah terlantar berdasarkan Pasal 8 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 Tentang Penertiban Dan Pendayagunaan
hal 35 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Tanah Terlantar.
"Tanah yang sudah diperoleh penguasaannya, tetapi belum diperoleh hak atas tanah sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dinyatakan sebagai tanah
terlantar, apabila tanah tersebut oleh pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan tidak
dimohon haknya atau tidak dipelihara dengan baik."
Lebih lanjut lagi, bagian penjelasan Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah
Nomor 36 Tahun 1998 menyatakan :
Penggunaan sebidang tanah harus dilandasi dengan sesuatu hak atas tanah sesuai Pasal 4
jo. Pasal 16 Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Oleh karena itu orang atau badan
hukum yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah, baik dengan membebaskan
tanah itu dari hak orang lain atau dengan memperoleh penunjukan dari pemegang Hak
Pengelolaan haruslah segera mengajukan permohonan hak kepada Menteri. Sementara itu
yang bersangkutan juga wajib memelihara tanah tersebut"
Hal tersebut senada dengan pernyataan Tergugat pada poin 6 jawaban ini bahwa
setelah Penggugat mendapatkan hak atas tanah melalui jual beli seharusnya
Penggugat segera mendaftarkan tanahnya. Hal ini dilakukan agar tanah tersebut
tidak dikualifikasikan sebagai tanah terlantar.
Bahwa mengingat objek tanah yang dipersengketakan oleh Penggugat masuk ke dalam
kategori tanah terlantar maka dengan sendirinya Penggugat telah kehilangan
kualifikasinya sebagai Penggugat, oleh karenanya sudah sewajarnya apabila Tergugat
meminta agar gugatan Penggugat haruslah ditolak atau setidaknya dinyatakan tidak dapat
diterima.
7. Bahwa Tergugat berkeberatan dan menolak dengan tegas dalil Penggugat dalam romawi
IV halaman 15 yang menyatakan bahwa Tergugat sama sekali tidak pernah menunjukkan
atas hak dalam menguasai tanah milik Penggugat, sehingga telah jelas bahwa
Tergugat menguasai tanah tanpa hak.
Bahwa objek sengketa gugatan a quo tanah seluas 25.590 m2 yang saat ini dikuasai oleh
Tergugat adalah benar-benar milik Tergugat berdasarkan Sertifikat Hak Pakai Nomor
72yang diterbitkan pada tanggal 9 November 2009 dengan Surat Ukur Nomor
00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober 2009. Adapun dasar penerbitan dari Sertifikat
Hak Pakai Nomor 72 sebagaimana tersebut dalam bagian penunjuk Sertifikat adalah
bekas hak milik adat :

C Nomor 461 Persil 86a;
hal 36 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg

C Nomor 1482 Persil 86b;

C 1482 Persil 86a;





C Nomor Persil 963 Persil 86a;
C 1067 Persil 86a;
C Nomor 2256 Persil 86a;
C No. 1743 Persil 81a; dan
C Nomor 3532 Persil 86a.
Lebih lanjut, Tergugat sama sekali tidak pernah menguasai secara melawan hak
tanah yang diklaim sebagai milik Penggugat. Adapun yang benar adalah Tergugat
menguasai tanah yang jelas-jelas dikuasai oleh Tergugat sejak tahun 1970 dan
telah bersertifikat dengan bukti alas hak Sertifikat Hak Pakai Nomor 72yang
diterbitkan pada tanggal 9 November 2009, dan pagar yang dibuat oleh Tergugat
didirikan bersamaan dengan pembangunan gedung milik Tergugat yang jelas-jelas
masih masuk ke dalam batas-batas wilayah tanah milik Tergugat berdasarkan
Surat Ukur Nomor 00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober 2009.
Berdasarkan Pasal 32 ayat (1) jo. (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
dinyatakan bahwa :
(1) Sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat
mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan
data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak
yang bersangkutan.
(2) Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama
orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan
secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah
itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun
sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada
pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak
mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan
sertipikat tersebut.
Bahwa hingga saat ini tanah milik Tergugat dimaksud telah dikuasai oleh Kementerian
Perindustrian dan tercatat dalam Kartu Inventaris Barang (KIB) No.TP.BJ.01 yang
peruntukannya untuk sarana perkantoran dan fasilitas laboratorium Balai Besar
Logam dan Mesin.
Dengan demikian klaim Penggugat yang menyatakan bahwa Tergugat sama sekali
tidak pernah menunjukkan alas hak adalah klaim yang tidak berdasar sama sekali dan
hal 37 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
tidak didukung dasar hukum yang sah serta tidak didukung oleh data yang
akurat dan faktual.
Sehingga dengan demikian sudah sewajarnya apabila Tergugat meminta agar Majelis
Hakim perkara a quo gugatan Penggugat haruslah ditolak atausetidaknya dinyatakan
tidak dapat diterima.
8.
Bahwa Tergugat berkeberatan dan menolak dengan tegas seluruh dalil Penggugat angka
30 sampai 44 halaman 16 sampai 22 posita gugatan yang menyat akan bahwa
Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum.
Dalam Pasal 1365 BW tersebut memuat ketentuan sebagai berikut
"Setiap perbuatan melawan hukum yang oleh karenanya menimbulkan kerugian pada
orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menyebabkan kerugian itu
mengganti kerugian"
Jawaban Terugugat terhadap perbuatan melawan Hukum yang didalilkan oleh
Penggugat, diuraikan sebagai berikut :
a) Terkait Unsur Melawan Hukum.
Penggugat mendalilkan dalam huruf A halaman 17 posita gugatan bahwa Tergugat
telah memagari tanah 600 m2 dan tanah 510 m2, padahal secara nyata-nyata
Tergugat sama sekali tidak mempermasalahkan tanah tersebut.
Penggugat mendalilkan dalam huruf B halaman 18 posita gugatan bahwa
Tergugat keberatan terhadap pengajuan permohonan sertifikat yang diajukan
Penggugat kepada Turut Tergugat I pada Tanah 887,5 m2 dan 640 m2, namun
Tergugat sama sekali tidak menunjukkan alas hak sebagai dasar keberatan atas
tanah 887,5
dan 640 m2 dan justru langsung memagari tanaha quo secara keseluruhan
termasuk tanah 887,5 m2 dan tanah 640 m2.
Penggugat mendalilkan dalam huruf C halaman 18 posita gugatan bahwa sebelah
barat tanah a quo yang merupakan milik Penggugat berbatasan langsung dengan
tanah Tergugat, namun Tergugat telah mengklaim tanah milik Penggugat yang mana
klaim Tergugat tersebut telah melewati batas-batas tanah antara tanah Penggugat
dengan tanah Tergugat sehingga pemagaran yang dilakukan oleh Tergugat telah
melewati batas dan masuk ke dalam area tanah Penggugat secara keseluruhan.
Bahwa Tergugat menolak dengan tegas dalil-dalil Penggugat huruf A sampai C dan
hal 38 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
penjelasannya dimaksud dengan alasan sebagai berikut:
Bahwa Penggugat mengemukakan dalil-dalil di atas hanya berdasarkan tafsiran
Penggugat semata tanpa didukung data yang akurat dan faktual.
Bahwa yang sebenarnya adalah Tergugat telah menguasai dan menggunakan tanah
yang diklaim sebagai milik Penggugat dimaksud sejak tahun 1970 dan digunakan
sebagai sarana perkantoran dan laboratorium milik Tergugat sejak saat itu. Bahwa
dalil
Tergugat
ini
didukung
dengan
surat
keterangan
Nomor
43/Ket/BBLM/V111/1998 tanggal 25 Agustus 1998 yang menyatakan bahwa
sesungguhnya Balai Besar Pengembangan Industri Logam (sekarang BBLM/
Balai Besar Logam dan Mesin) sejak tanggal 1 April 1970 menduduki tanah di
Jalan Sangkuriang No. 12 Bandung. Dalam surat keterangan dimaksud, Alm. Abbas
Wiranatakusumah selaku penjual yang menjual tanah kepada Penggugat juga
menandatanganinya. Maka hal ini berarti sejak awal alm.Abbas Wiranatakusumah
sudah mengetahui dan mengakui keberadaan BBLM dan batas-batas tanah
BBLM.
Bahwa objek sengketa gugatan a quo yakni tanah seluas 25.590 m2 yang saat ini
dikuasai oleh Tergugat adalah benar-benar milik Tergugat. Bahwa dasar
kepemilikan dimaksud adalah Sertifikat Hak Pakai Nomor 72 yang diterbitkan
pada
tanggal
9
November
2009
dengan
Surat
Ukur
Nomor
00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober 2009. Adapun dasar penerbitan dari
sertifikat hak pakai Nomor 72 sebagaimana tersebut dalam bagian
penunjuk Sertifikat adalah bekas hak milik adat :

C Nomor 461 Persil 86a;

C Nomor Persil 963 Persil 86a;






C Nomor 1482 Persil 86b;
C 1482 Persil 86a;
C 1067 Persil 86a;
C Nomor 2256 Persil 86a;
C No. 1743 Persil 81a; dan
C Nomor 3532 Persil 86a.
Bahwa dalam rangka tertib administrasi Barang Milik Negara dan pengamanan
aset-aset milik Negara, tanah milik Tergugat dimaksud telah di catatkan dalam
Kartu Inventaris Barang (KIB) No.TP.BJ.01 yang p e r u n t u k a n n ya u n t u k
s a r a n a perkantoran dan fasilitas lab Balai Besar Logam dan Mesin.
hal 39 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Lebih lanjut, Tergugat sama sekali tidak pernah menguasai secara melawan
hak tanah yang diklaim sebagai milik Penggugat. Adapun yang benar adalah
Tergugat menguasai tanah yang jelasjelas dikuasai oleh Tergugat sejak tahun 1970
dan telahbersertifikat dengan bukti alas hak Sertifikat Hak Pakai Nomor 72 yang
diterbitkan pada tanggal 9 November 2009, dan pagar yang dibuat oleh
Tergugat didirikan bersamaan dengan pembangunan gedung milik Tergugat
yang jelas-jelas masih masuk ke dalam batas-batas wilayah tanah milik
Tergugat berdasarkan Surat Ukur Nomor 00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober
2009.
Bahwa terhadap dalil Penggugat mengenai batas-batas tanah yang diklaim
miliknya adalah tidak berdasar mengingat dalam surat gugatannya Penggugat sama
sekali tidak memahami dan mengetahui secara pasti letak dan luas tanah milik
Penggugat sendiri terlebih lagi letak dan luas tanah milik Tergugat. Penggugat
hanya mendasarkan gugatannya berdasarkan rekaan semata tanpa didukung
bukti-bukti yang memadai. Hal ini terbukti berdasarkan pernyataan Penggugat
sendiri, yakni dalil pada angka 13 halaman 9 yang menerangkan bahwa "adapun
tanah yang menjadi objek dalam keempat akta jual beli di atas (tanah aquo)
merupakan satu kesatuan hamparan tanah yang terletak di jalan Sangkuriang,
Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung, sehingga secara keseluruhan
dapat diterangkan sebagaimana sketsa di bawah ini (bukti P-4.5)".
Dalam dalil dimaksud, Penggugat mendasarkan buktinya hanya kepada
sketsa buatan tangan dan tidak berdasarkan bukti-bukti batas-batas tanah lain"
yang benar-benar dapat menjelaskan secara pasti letak tanah milik Penggugat.
Tindakan Penggugat justru jelas menunjukkan itikad tidak baik dari Penggugat
untuk mengaburkan pandangan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili
perkara a quo tentang batas-batas tanah milik Penggugat maupun Tergugat yang
sebenarnya
D en ga n
d emi ki a n
pe m bu at a n
p a ga r
ol eh T e r gu gat
ya n g
mengelilingi tanah dan bangunan milik Tergugat bukanlah sebuah tindakan
melawan hukum sebagaimana yang didalilkan oleh Penggugat mengingat pagar
tersebut jelas-jelas didirikan di dalam bagian tanah yang dikuasai dan dihaki oleh
Tergugat berdasarkan Sertifikat Hak Pakai Nomor 72 yang diterbitkanpada tanggal
9 November 2009 dan Surat Ukur Nomor 00219/Dago/2009 tanggal 23 Oktober
2009.
Tindakan pembuatan pagar oleh Tergugat dilakukan bersamaan dengan
pendirian bangunan yakni sejak tahun 1970 lalu bagaimana mungkin tindakan
hal 40 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
dimaksud kemudian diklaim merugikan Penggugat padahal perbuatan hukum
jual beli yang dilakukan Penggugat justru terjadi belakangan yakni tahun 1997.
Sehingga menurut hemat Tergugat, kerugian yang diklaim oleh Penggugat adalah
kerugian yang merupakan kesalahannya sendiri dengan telah melakukan jual beli
yang nyata-nyata justru merugikan dirinya k a r e na P en ggu ga t s am a s ek al i
t i d ak mengetahui batas dan letak tanah yang dibelinya.
Sehingga dengan demikian sudah sewajarnya apabila
Tergugat meminta agar
Majelis Hakim perkara a quo gugatan Penggugat haruslah ditolak atausetidaknya
dinyatakan tidak dapat diterima
b) Terkait unsur kerugian yang diderita Penggugat.
 Bahwa Penggugat mendalilkan dalam angka 38 dan 39 halaman 19 sampai 20
posita gugatan bahwa sebagai akibat dari perbuatan Tergugat, Penggugat secara
nyata-nyata mengalami kerugian berupa kerugian material sebesar Rp.
500.000.000,- dan kerugian 'material sebesar Rp. 500.000.000,-.
Bahwa Tergugat menolak dengan tegas dalil-dalil Penggugat diatas dengan
alasan sebagai berikut :
Bahwa mengingat perbuatan Tergugat dalam membuat pagar bukanlah
perbuatan melawan sebagaimana yang telah Tergugat kemukakan dalam
angka 8 huruf a halaman 14 sampai 15 jawaban tersebut di atas, maka
Tergugat menyatakan tidak ada kerugian yang diderita oleh Penggugat atas
tindakan Tergugat memagari tanah dan bangunan yang jelas-jelas merupakan
milik Tergugat.
Bahwa pembuatan pagar oleh Tergugat dilaksanakan bersamaan dengan
pembangunan gedung dan fasilitas laboratorium milik Tergugat yakni sejak
tahun 1970, sedangkan Penggugat sendiri mengklaim baru melakukan jual beli
pada tahun 1997 maka sudah sewajarnya jika Penggugat benar-benar mengetahui
batas dan letak tanah miliknya maka ketika Penggugat melakukan jual beli
seharusnya Penggugat mengetahui keberadaan pagar dimaksud yang dibangun
lebih dahulu.
Tindakan pembuatan pagar oleh Tergugat dilakukan bersamaan dengan
pendirian bangunan yakni sejak tahun 1970, lalu bagaimana mungkin tindakan
dimaksud kemudian diklaim dapat merugikan Penggugat padahal perbuatan hukum
jual beli yang dilakukan Penggugat justru terjadi belakangan yakni tahun 1997.
Sehingga menurut hemat Tergugat, kerugian yang diklaim oleh Penggugat
hal 41 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
adalah kerugian yang merupakan kesalahannya sendiri dengan telah melakukan jual
beli yang nyata—nyata justru merugikan dirinya karena Penggugat sama sekali
tidak mengetahui batas dan letak tanah yang dibelinya.
Bagaimana mungkin perbuatan Tergugat dalam mendirikan pagar yang
dilakukan
jauh
sebelum
jual
beli
antara
Penggugat
dan
Alm.Abbas
Wiranatakusumah dapat menimbulkan kerugian bagi Penggugat.Sehingga dengan
demikian sudah sewajarnya apabila Tergugat meminta agar Majelis Hakim perkara
a quo gugatan Penggugat haruslah ditolak atau setidaknya dinyatakan tidak dapat
diterima.
c) Terkait unsur kesalahan.
Bahwa dalam dalil Penggugat angka 40 halarnan 20 posita gugatan,
Penggugat menyatakan jika Tergugat telah memenuhi unsur-unsur kesalahan
baik secara objektif maupun subjektif dan mengetahui akibat dari perbuatannya,
sehingga secara langsung mengindikasikan terdapat unsur kesalahan dalam
tindakan Tergugat.
Bahwa Tergugat menolak dengan tegas dalil-dalil Penggugat diatas dengan
alasan sebagai berikut :
Bahwa sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Penggugat, dalam
melihat unsur kesalahan sebuah perbuatan dapat dilihat dari 3 syarat yakni

Obyektif yaitu dengan dibuktikan bahwa dalam keadaan seperti itu manusia
yang
normal
dapat
menduga
kemungkinan
timbulnya akibat dan
kemungkinan ini akan mencegah manusia yang baik untuk berbuat atau tidak


berbuat;
Subyektif yaitu dengan dibuktikan bahwa apakah si pembuat berdasarkan
keahlian yang ia miliki dapat menduga akan akibat dari perbuatannya.
Selain itu orang yang melakukan perbuatan melawan hukum harus dapat
dipertanggungjawaban atas perbuatannya, karena orang yang tidak tahu apa
yang ia lakukan tidak wajib membayar ganti rugi.
Dalam hal ini, secara objektif tindakan Tergugat dalam Memagari tanah dan
bangunan yang benar-benar merupakan miliknya berdasarkan Sertifikat Hak
Pakai Nomor 72 Tahun 2009 adalah sebuah tindakan yang benar dan tidak
menyalahi norma-norma manapun. Adapun secara subjektif tujuan pembuatan pagar
di sekeliling tanah dan bangunan milik Tergugat sejak tahun 1970 adalah sebuah
tindakan normal yang dilakukan pemilik aset manapun guna mengamankan tanah
hal 42 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
dan bangunan milik Tergugat mengingat di bangunan dan tanah milik Tergugat
dikualifikasikan ke dalam Barang Milik Negara, selain itu di dalam bangunan
dimaksud terdapat banyak sekali barang-barang laboratorium baikyang bergerak
maupun tidak bergerak yang juga masuk ke dalam kategori Barang Milik Negara
sehingga tindakan pemagaran menurut hemat Tergugat adalah tindakan wajar dalam
melindungi aset negara.
Tindakan pembuatan pagar oleh Tergugat dilakukan bersamaan dengan
pendirian bangunan yakni sejak tahun 1970, lalu bagaimana mungkin tindakan
dimaksud kemudian diklaim dapat merugikan Penggugat padahal perbuatan hukum
jual
beli
yang
dilakukan Penggugat justru terjadi belakangan yakni tahun
1997.Sehingga menurut hemat Tergugat, kerugian yang diklaim oleh Penggugat
adaiah kerugian yang merupakan kesalahannya sendiri dengan telah melakukan jual
beli yang nyata — nyata justru m erugi kan di rinya kar ena P en ggu gat s am a s ek al i
t i dak mengetahui batas dan letak tanah yang dibelinya.
Berdasarkan uraian Tergugat di atas, sudah jelas dan nyata bahwa tidak
ada sama sekali unsur kesalahan yang dilakukan oleh Tergugat dalam tindakannya
membuat pagar pada tanah milik Tergugat sendiri. Sehingga dengan demikian sudah
sewajarnya apabila Tergugat meminta agar Majelis Hakim perkara a quo gugatan
Penggugat haruslah ditolak atau setidaknya dinyatakan tidak dapat diterima.
d) Terkait unsur adanya kausalitas antara Perbuatan Melawan Hukum dengan
kerugian.
Bahwa dalam dalil angka 41 halaman 21, Penggugat menyatakan bahwa
bardasarkan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat, Penggugat
menderita kerugian dengan tidak dapat menikmati dan menggunakan tanah a quo yang
merupakan miliknya disebabkan karena Tergugat memagari seluruhnya tanah a quo yang
merupakan milik Penggugat.
Bahwa Tergugat menolak dengan tegas dalil-dalil Penggugat diatas dengan alasan
sebagai berikut :
Bahwa sebagaimana yang telah Tergugat uraikan dalam unsure perbuatan
melawan hukum, unsur kerugian dan unsur kesalahan pada angka huruf a sampai c
halaman 13 sampai 18 jawaban di atas, bahwa sesungguhnya tidak ada perbuatan
melawan hukum maka sudah sepantasnya jika diambil kesimpulan bahwa tidak ada
sangkut paut antara kerugian yang diklaim oleh Penggugat dengan perbuatan Tergugat
dalam mendirikan pagar di sekeliling tanah dan bangunan milik Tergugat.
hal 43 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Sehingga dengan demikian sudah sewajarnya apabila Tergugat meminta agar Majelis
Hakim perkara a quo gugatan Penggugat haruslah ditolak atau setidaknya dinyatakan
tidak dapat diterima;
Berdasarkan seluruh uraian Tergugat baik Dalam Eksepsi, Dalam Provisi dan
Dalam Pokok Perkara tersebut di atas, maka Tergugat dengan ini mohon kepada Yang
Terhormat Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung yang memeriksa perkara a
quo berkenan menjatuhkan putusan sebagai berikut :
I DALAM EKSEPSI
1. Menerima Eksepsi Tergugat seluruhnya;
2. Menyatakan bahwa Gugatan Penggugat Salah Alamat, Gugatan Penggugat
Kabur/Tidak Jelas (Obscuur Libel), dan Tidak ada Kedudukan Hukum dari
Penggugat (No Legal Standing.
II. DALAM PROVISI
- Menolak Permohonan sita jaminan Penggugat
III. DALAM POKOK PERKARA
(1) Menerima
dan
menyatakan
bahwa
seluruh
yangdikemukakan Tergugat adalah sah dan beralasan;
dalih
dan
dalil
(2) Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya gugatan
Penggugat tidak dapat diterima (Niet Onvantkelijke Verklaard);
(3) Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara.
Menimbang, bahwa atas gugatan Penggugat tersebut,Turut Tergugat II telah
mengajukan Jawaban tertanggal 29 Juni 2015 sebagai berikut ;
1. Bahwa Turut Tergugat II menyangkal dan menolak dengan tegas seluruh dalil – dalil
Penggugat sebagaimana yang terurai dalam surat Gugatannya, kecuali hal- hal yang
diakui secara tegas Tutut Tergugat II.
2. Bahwa keberadaan Turut Tergugat II dalam kaitan Gugatan a quo adalah sebagai
Camat tempat dilakukan administrasi awal suatu perbuatan hukum termasuk
didalamnya peradilan jual beli.
3. Bahwa dalam posita maupun petitum Gugatan, Penggugat sama sekali tidak
menyinggung dan menyebutkan posisi atau legal standing dari Turut Tergugat II,
sehingga dengan demikian tidak ada satu pun perbuatan dari Turut Tergugat II yang
hal 44 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
dapat dikaitkan dengan pengajuan Gugatan melawan hukum yang didalilkan
Penggugat. dengan demikian dapat dinyatakan bahwa keberadaan Turut Tergugat II
hanyalah diikuti sertakan sebagai Pihak untuk kelengkapan para pihak saja dalam
Peradilan .
4. Pun demikian perkenankan kami menerangkan hal – hal yang kami ketahui baik secara
Faktual dilapangan maupun tercatat secara administrasi dalam Gugatan a quo sebagai
berikut ;
a.
b.
Bahwa Turut Tergugat II mengetahui keberadaan Balai Besar Logam dan Mesin
( BBLM /Tergugat ) yang beralamat dijalan Sangkuriang Nomor 12 Bandung .
Bahwa sepanjang pengetahuan Turut Tergugat II, keberaan Tergugat dijalan
Sangkuriang telah ada jauh sebelum Turut Tergugat II menjabat menjadi Camat
Coblong. Adapun setatus tanah dan bangunan yang ditempati adalah tanah
Negara
c.
Status kepemilikan tanah dan bangunan Tergugat adalah berdasarkan Sertifikat Hak
Pakai Nomor 72 Tahun 2009 yang diterbitkan pada tanggal 9 November 2009
dengan luas tanah sebesar 25.590 m2, sedangkan batas-batas tanah dan bangunan
tersebut dinyatakan dalam Suratuku Nomor 00219/2009 yang dibuat tanggal 23
Oktober 2009.
d. Bahwa salah satu dasar penerbitan sertifikat hak pakai milik Tergugat adalah
peralihan hak berdasarkan data-data riwayat tanah yang tercatat dalam peta buku
rincikan tanah. Adapun riwayat tanah tersebut kami yang ketahui adalah sebagai
berikut:
No
Nama
No. Peta
Persil
2
Maria
2
86b
1482
120
86a
963
1710
1
3
4
5
6
7
8
H. Durachim
Sukarma
Halimah
Onso R
Maria
Ishka R
Gandi R
Suryaningrat
Jumlah
1
86a
11
86a
12
86a
10
13
14
19
86a
86a
86a
Kohir
461
2256
1743
1482
1067
3532
Luas (m2)
520
1900
2100
2440
880
15920
25590
hal 45 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
f.
Bahwa yang tercatat pada buku rincikan tanah pada kantor kami persil 86b kohir
no 2169 atas nama Sangkaningrat – Ny R Ayu luas kurang lebih 640 m2 telah
ada tulisan ITB.
Mengutip dan memperhatikan uraian tentang hal-hal yang termuat dan turunan
resmi putusan Pengadilan Negeri Bandung
tertanggal 15 Desember 2015 Nomor :
126/Pdt.G/2015/PN.Bdg. yang amar selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
A. Dalam Provisi
– Menolak gugatan provisi Penggugat untuk selutuhnya;
B. Dalam Eksepsi
 Menolak Eksepsi Tergugat, Turut Tergugat I Turut Tergugat II, Turut Tergugat III
untuk seluruhnya;
C. Dalam Pokok Perkara.
 Menolak Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
 Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar RP.3.432.000 ( tiga
juta empat ratus tiga puluh dua ribu rupiah )
Membaca Relaas Peberitahuan isi putusan Pengadilan Negeri Bandung Nomor
126/Pdt.G/2015/PN.Bdg. yang dibuat oleh Jurusita Pengganti Pengadilan Negeri Bandung
tetanggal 22 Januari 2016 yang telah diberitahukan dengan seksama kepada Kecamatan
Coblong (Turut Tergugat II) dan Kelurahan Dago (Turut Tergugat III) ;
Bandung
Membaca Akta Permohonan banding yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri
yang menyatakan bahwa pada tanggal 28
Desember 2015 kuasa hukum
Pembanding semula Penggugat telah mengajukan permohonan banding dan permohonan
banding tersebut telah diberitahukan dengan seksama pada :
- Tanggal 19 Januari 2016 kepada Turut Terbanding I/ Turut Tergugat I, tanggal 20 Januari
2016 kepada Terbanding/Tergugat dan kepada Turut Terbanding II/Turut Tergugat II, Turut
Terbanding III/Turut Tergugat III ;
Membaca surat memori banding yang diajukan oleh Kuasa hukum pembanding
semula Penggugat tertanggal 10 Maret 2016 yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri Bandung tanggal 11 Maret
2016 dan surat memori banding tersebut
diberitahukan dengan seksama masing-masing :
telah
Pada tanggal 23 Maret 2016 kepada Terbanding semula Tergugat , kepada Turut Terbanding
I semula Turut Tergugat I dan kepada Turut Terbanding III semula Turut Tergugat III dan
tanggal 24 Maret 2016 kepada Turut Terbanding II semula Turut Tergugat II;
Membaca surat kontra memori banding dari
Terbanding semula
Tergugat
tertanggal 15 April 2016 yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bandung tanggal
19 April 2016;
hal 46 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Membaca Risalah pemberitahuan pemeriksaan berkas perkara (inzage)
yang
menerangkan bahwa telah memberitahukan dengan resmi dan patut kepada para pihak yang
berperkara masing-masing :
Kepada Pembanding tanggal 4 April 2016, kepada Terbanding semula Tergugat, Turut
Terbanding I semula Turut Tergugat I , Turut Terbanding II semula Turut Tergugat II , Turut
Terbanding III semula Turut Tergugat III, untuk memeriksa dan mempelajari berkas perkara
yang dimohonkan banding di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bandung dalam tenggang
waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak pemberitahuan ini diterima, sebelum berkas
perkara tersebut dikirim ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung ;
TENTANG PERTIMBANGAN HUKUMNYA
Menimbang, bahwa permohonan banding dari kuasa hukum Pembanding semula
Penggugat
diajukan masih dalam tenggang waktu dan dengan cara-cara sebagaimana
ditentukan oleh Undang-Undang, sehingga secara formal permohonan banding tersebut dapat
diterima ;
Menimbang, bahwa walaupun permohonan untuk pemeriksaan tingkat banding hanya
dimohonkan oleh Pembanding semula Penggugat, akan tetapi pemeriksaan A quo dalam
tingkat banding harus meliputi dan berlaku juga bagi tergugat lainnya yang dalam tingkat
banding kedudukannya menjadi Turut Terbanding ;
Menimbang, bahwa Pembanding
semula Penggugat telah mengajukan memori
banding yang pada pokoknya mengemukakan keberatannya antara lain sebagai berikut :
1.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung keliru menyimpulkan bahwa Tanah A quo/
Tanah Pembanding dengan tanah Terbanding adalah Tanah yang sama, padahal
kenyataannya adalah 2 (dua) Tanah yang berbeda;
2. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung telah mengabaikan fakta hukum terhadap
kepemilikan Pembanding (dahulu Penggugat) atas tanah A quo, padahal kepimilikan
Pembanding telah sah menurut hukum ;
3. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung telah melakukan kekeliruan karena telah
menghilangkan/mengubah keterangan saksi Penggugat (sekarang Pembanding)
4. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung telah mengabaikan fakta persidangan yang
diperoleh dari sidang pemeriksaan setempat ;
5. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung telah keliru menilai bukti yang diajukan oleh
Tergugat sehingga berpendapat bahwa bukti Tergugat dapat melumpuhkan bukti
Penggugat;
hal 47 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Menimbang, bahwa atas memori banding tersebut, Terbanding semula Tergugat
telah mengajukan kontra memori yang pada pokoknya mengemukakan sebagai berikut :
- Menolak seluruh keberatan-keberatan dan alasan Pembanding semula Penggugat dalam
memori bandingnya tertanggal 11 Maret 2016 ;
- Bahwa pertimbangan hukum serta putusan Judex factie tingkat pertama Pengadilan Negeri
Bandung baik dalamTentang Hukumnya maupun “Mengadili “ telah tepat dan benar, oleh
karenanya
Terbanding semula Tergugat dengan tegas menolak seluruh dalil-dalil
keberatan yang dikemukakan dalam memori banding Pembanding semula Penggugat ;
Menimbang, bahwa untuk mempersingkat uraian pemeriksaan dalam perkara ini,
seluruh isi memori banding dan kontra memori banding dari para pihak yang berperkara telah
dianggap termaktub dalam putusan ini;
Menimbang, bahwa Majelis Hakim tingkat banding, setelah memeriksa dengan
seksama berkas perkara yang bersangkutan yang terdiri dari Berita Acara Pemeriksaan
Pengadilan tingkat pertama , surat-surat bukti dan surat-surat lainnya yang berhubungan
dengan perkara ini, salinan resmi Putusan Pengadilan Negeri Bandung tanggal 15 Desember
2015 Nomor : 126/Pdt.G/2015/PN.Bdg, memori banding dan kontra memori banding dari
para pihak yang berperkara, maka Majelis Hakim tingkat banding berpendapat sebagai
berikut:
Menimbang, bahwa didalam memori banding yang diajukan oleh kuasa hukum
Pembanding semula Penggugat, telah diuraikan keberatan terhadap putusan Majelis Hakim
tingkat pertama, yang sangat tidak memberi keadilan bagi pembanding, karena putusan
tersebut melanggar ketentuan hukum Acara perdata dan hukum pembuktian ;
Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim tingkat banding mencermati
keberatan Pembanding semula Penggugat tersebut, dihubungkan dengan pertimbangan
Majelis Hakim tingkat pertama, menurut Majelis Hakim tingkat banding materi keberatan
Pembanding semula Penggugat tersebut pada prinsipnya telah dipertimbangkan dengan benar,
sehingga oleh Majelis Hakim tingkat banding berpendapat bahwa putusan perkara A quo
sudah tepat dan benar, sehingga oleh Majelis Hakim tingkat banding disetujui dan diambil
alih sebagai pertimbangan sendiri dalam memutus perkara ini, serta menjadi bagian dari dan
telah termasuk dalam putusan ini ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka putusan
Pengadilan Negeri Bandung tanggal 15 Desember 2015 Nomor : 126/Pdt.G/2015/PN.Bdg.
yang dimohonkan pemeriksaan dalan tingkat banding tersebut haruslah dikuatkan ;
Menimbang, bahwa oleh karena Pembanding semula Penggugat tetap berada
dipihak yang kalah maka harus dihukum untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat
peradilan ;
hal 48 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Memperhatikan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1947 dan Undang-Undang
Nomor 5 tahun 1960, Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1961 jo Peraturan Pemerintah
Nomor 24 tahun 1997 serta peraturan-peraturan lain yang bersangkutan ;
MENGADILI:
- Menerima permohonan banding dari kuasa hukum
Penggugat ;
- Menguatkan putusan Pengadilan
Pembanding semula
Negeri Bandung tertanggal 15 Desember
2015 Nomor : 126/Pdt.G/2015/ PN.Bdg. yang dimohonkan banding tersebut ;
- Menghukum Pembanding semula Penggugat, untuk membayar biaya perkara
dalam tingkat banding sebesar Rp.150.000,- (seratus limapuluh ribu rupiah) dan
membayar biaya perkara dalam tingkat pertama sebagai dicantumkan dalam
amar putusan perkara A quo ;
DEMIKIANLAH diputus dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim
Pengadilan Tinggi Jawa Bart di Bandung pada hari ini : SELASA tanggal 21 JUNI 2016
oleh kami : MARIHOT LUMBAN BATU.SH.MH. Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi
Bandung
sebagai Ketua Majelis, dengan H.NERIS.SH.MH. dan ABID SALEH
MENDROFA.SH. masing-masing sebagai Hakim Anggota berdasarkan Penetapan Ketua
Pengadilan Tinggi Jawa Barat, tertanggal 3 Mei 2015 Nomor 205/Pen/Pdt/2016/PT.BDG.,
yang ditunjuk untuk memeriksa dan mengadili perkara ini dalam tingkat banding, dan putusan
tersebut pada hari SENIN tanggal 27 Juni 2016 diucapkan dalam sidang
untuk umum
yang
terbuka
oleh Hakim Ketua Majelis dengan didampingi oleh Hakim-Hakim Anggota
serta dihadiri oleh : Drs.WAHYU EDI SANTOSO.SH. Panitera Pengganti pada Pengadilan
Tinggi tersebut, akan tetapi tidak dihadiri oleh pihak-pihak yang berperkara .HAKIM ANGGOTA
HAKIM KETUA MAJELIS
Ttd
H.NERIS.SH.MH.
Ttd
MARIHOT LUMBAN BATU, SH.MH.
Ttd
ABID SALEH MENDROFA, SH.
PANITERA PENGGANTI
Ttd
Drs.WAHYU EDI.S.SH.
hal 49 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Perincian biaya :
Meterai ………………………… Rp. 6.000,Redaksi ……………………… Rp. 5.000,Pemberkasan ……………………..Rp.139.000,Jumlah
Rp.150.000,- (seratus limapuluh ribu rupiah)
hal 50 dari 50 hal. Putusan No:205/PDT/2016/PT.Bdg
Download