TINJAUAN PUSTAKA Tempe Tempe merupakan

advertisement
26
TINJAUAN PUSTAKA
Tempe
Tempe merupakan salah satu produk olahan hasil fermentasi kedelai.
Tempe sebagai produk makanan telah dikenal baik oleh masyarakat Indonesia
maupun masyarakat luar. Komponen dan nilai gizi dalam kedelai mengalami
perubahan selama fermentasi menjadi tempe. Nilai gizi protein tempe meningkat
setelah proses fermentasi karena terjadinya pembebasan asam amino hasil
aktivitas enzim proteolitik dari tempe. Fermentasi juga menyebabkan jumlah
kandungan isoflavon dalam tempe meningkat dibandingkan dengan kedelai tanpa
fermentasi (Cahyadi 2007).
Komponen bioaktif sering disebut sebagai komponen nongizi dan telah
terbukti secara ilmiah mempunyai efek positif pada kesehatan. Komponen bioaktif
lebih ditujukan pada komponen bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis
dalam peningkatan kesehatan (Zakaria et al. 1997). Manfaat tempe, di samping
kandungan gizinya yang tinggi, kandungan bioaktif (isoflavon aglikon) yang
dihasilkan dalam proses fermentasi kedelai menyebabkan tempe menjadi sangat
bermanfaat bagi kesehatan (Nakajima et al. 2005). Jumlah kandungan isoflavon
pada tempe dengan menggunakan inokulum Rhizopus oryzae lebih tinggi bila
dibandingkan dengan
inokulum
Rhizopus
oligosporus
(Wuryani 1995).
Keterlibatan mikroorganisme pada proses pembuatan tempe terutama terjadi pada
saat perendaman oleh bakteri pembentuk asam dan saat fermentasi oleh aktivitas
kapang. Sebagai akibat dari perubahan-perubahan tersebut, tempe menjadi lebih
enak, lebih bergizi, dan lebih mudah dicerna. Salah satu faktor penting dalam
perubahan tersebut adalah terbentuknya senyawa-senyawa isoflavon aglikon
(daidzein
dan
genistein)
dan
terbentuknya
senyawa
faktor-II
(6,7,4’-
trihidroksiisoflavon) dalam jumlah yang paling kecil (Pawiroharsono 2007).
Pawiroharsono (1995) melaporkan bahwa isoflavon glikosida (genistin
dan daidzin) dapat terhidrolisis menjadi isoflavon aglikon oleh enzim
β-glukosidase. Barz et al. (1993) menyatakan hidrolisis terjadi akibat aktivitas
enzim β-glukosidase yang dihasilkan oleh kapang Rhizopus sp. Selanjutnya
Wuryani (1995) melaporkan bahwa hidrolisis juga mudah terjadi karena asam.
27
Menurut Pawiroharsono (1995), peningkatan konsentrasi isoflavon aglikon pada
proses fermentasi lebih besar jika dibandingkan dengan pada proses perendaman.
Barz et al. (1993) menyatakan bahwa biosintesis faktor-II dapat dilakukan oleh
bakteri asal tempe, yaitu Micrococcus luteus dan Brevibacterium epidermidis
melalui demetilasi glisitein dan hidroksilasi daidzein oleh Microbacterium
arborescens.
Kandungan zat aktif isoflavon, khususnya daidzein, genistein, serta
isoflavon faktor II yang dapat berikatan dengan reseptor hormon estrogen dalam
tubuh dapat mengurangi keluhan psikovasomotor khususnya semburan atau
hentakan panas di dada sebagaimana yang dialami perempuan saat memasuki
masa menopause (Pawiroharsono 2007). Menurut Wang dan Murphy (1994),
senyawa faktor II berpotensi tinggi sebagai antioksidan.
Tempe mengandung lebih banyak senyawa isoflavon aglikon bila
dibandingkan dengan kedelai mentah. Bentuk aglikon merupakan bentuk aktif
yang diperlukan tubuh karena mudah diserap usus. Tempe merupakan bahan
makanan yang berkadar protein tinggi, yaitu sekitar 20%, juga mengandung lemak
berkadar rendah. Tempe yang baik dan bermutu tinggi memiliki cita rasa, aroma,
serta tekstur yang khusus. Warna utama harus putih seperti kapas (Cahyadi 2007).
Komposisi rata-rata zat gizi tempe kedelai murni dan tempe pasar per 100 g dapat
dilihat pada Tabel 1. Tempe kedelai murni dibuat dengan menggunakan ragi
murni, sedangkan tempe pasar dibuat dengan menggunakan ragi yang telah
dicampur dengan bahan lain yang disebut laru.
Beberapa penelitian mengenai kedelai dan produk olahannya sudah
dilaporkan. Penambahan tepung tempe dan tepung tahu dalam pakan pada tikus
ovariektomi tidak berpengaruh pada massa dan densitas tulang femur, serta massa
tulang lumbar keempat (Nurdin 2002). Bakteri yang terdapat pada tempe berperan
dalam pembentukan rasa pahit pada tempe (Barus 2008). Pemberian ekstrak
metanol tempe sebanyak 300 mg/kg BB/hari mempunyai aktivitas hipoglikemik
dan antioksidatif pada tikus diabetes (Suarsana 2009). Pemberian tempe sebanyak
160 gram setiap hari selama 4 minggu pada wanita menopause dapat memperbaiki
profil lipid, yaitu menurunkan kadar kolesterol total sebesar 6%, kolesterol-LDL
sebesar 5.8%, dan trigliserida sebesar 11.7% (Utari 2011). Pemberian makanan
28
cair yang diperkaya dengan tempe menurunkan kadar glukosa darah penyandang
diabetes melitus (Aitoman 2011). Pemberian bubuk tempe instan sebanyak 35%
dapat menurunkan kadar malonaldehid (MDA) pada tikus hiperglikemik
(Desminarti et al. 2012).
Tabel 1
Komposisi rata-rata zat gizi tempe kedelai murni dan tempe pasar per
100 g
Jumlah
Tempe kedelai
murni
201.0
Tempe pasar
Protein(g)
20.8
14.0
Lemak (g)
8.8
7.7
Karbohidrat (g)
13.5
9.1
Serat (g)
1.4
1.4
Abu (g)
1.6
0.9
Kalsium (mg)
155.0
517.0
Fosfor (mg)
326.0
202.0
Besi (mg)
4.0
1.5
Karotin total (mg)
34.0
35.0
Vitamin B1 (mg)
0.19
0.17
Air (g)
55.3
68.3
Zat Gizi
Kalori (kal)
150.0
Sumber: Direktorat Gizi Depkes RI (1995)
Fitoestrogen
Fitoestrogen merupakan suatu substrat yang berasal dari tumbuhtumbuhan yang strukturnya mirip dengan estrogen mamalia, oleh karena itu dapat
berikatan dengan reseptor estrogen. Terdapat tiga kelas utama fitoestrogen, yaitu
isoflavon, lignan, dan coumestans. Fitoestrogen yang paling terkenal terutama
isoflavon yang berasal dari kacang kedelai dan terdapat dalam jumlah yang
banyak. Fitoestrogen dalam jumlah yang lebih kecil telah ditemukan di kacangkacangan lainnya dan dalam beberapa sayuran dan buah-buahan (Kurzer dan Xu
1997; Kurzer 2003). Fitoestrogen dapat mengurangi gejala menopause,
29
memperbaiki lipid atau lemak dalam plasma, menghambat perkembangan
arteriosklerosis, serta menghambat pertumbuhan sel-sel tumor atau kanker pada
payudara dan endometrium (Hidayati 2003).
Fitoestrogen adalah senyawa polifenol yang terdapat dalam tanaman dan
mempunyai efek biologis yang bervariasi pada sel hewan, baik secara in vitro
maupun in vivo. Mekanisme aksi fitoestrogen secara seluler mencakup: a) efek
genom melalui jalur klasik pada reseptor estrogen alfa dan reseptor estrogen beta
serta reseptor nuklear lainnya; b) penghambatan aktivitas enzim pada
steroidogenesis (3β- dan 17β- hidroksisteroid dehidrogenase, dan aromatase); c)
menstimulasi sex hormone binding globulin (SHBG); d) menghambat protein
tirosin kinase yang penting untuk transduksi sinyal; e) menghambat DNA
topoisomerase I dan II yang berguna untuk replikasi DNA; f) mempunyai
aktivitas antioksidan (Dusza et al. 2006).
Secara in vitro, fitoestrogen dapat meningkatkan produksi SHBG dan
menghambat angiogenesis, juga dapat menghambat tirosin kinase, protein kinase
C, atau topoisomerase II. Fitoestrogen dapat menstimulasi atau menghambat
ekspresi reseptor estrogen alfa atau reseptor estrogen beta dan mRNA pada
jaringan saraf dan reproduksi rodensia. Efek fitoestrogen pada individu sangat
bervariasi, bergantung pada spesies dan sel target (Dusza et al. 2006).
Isoflavon
Isoflavon merupakan salah satu bagian kelompok fitoestrogen, yaitu
komponen bahan alam yang banyak terdapat dalam kedelai maupun produk
olahannya. King (2002) melaporkan bahwa dalam kedelai terdapat 12 macam
isoflavon, yaitu daidzein dengan tiga glukosida konjugasinya, yaitu daidzin,
asetidaidzin, dan malonildaidzin; genistein dengan tiga glukosida konjugasinya
yaitu genistin, asetilgenistin, dan malonilgenistin; dan glisitein dengan tiga
glukosida konjugasinya, yaitu glisitin, asetilglisitin, dan malonilglisitin. Dalam
kedelai, glisitein terdapat dalam jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan
dengan daidzein dan genistein.
Isoflavon pada kedelai terdapat dalam empat bentuk, yaitu dalam bentuk
aglikon : daidzein, genistein, dan glisitein; bentuk glikosida: daidzin, genistin, dan
30
glisitin; bentuk asetilglikosida: 6-0-asetildaidzin, 6-0-asetilgenistin, dan 6-0-asetil
glisitin; dan bentuk malonilglikosida: 6-0-malonildaidzin, 6-0-malonilgenistin,
dan 6-0-malonilglisitin (Wang dan Murphy 1994). Menurut Vincent dan
Fitzpatrick (2000), isoflavon kedelai merupakan komponen yang diketahui
sebagai flavonoid, yang tersusun atas daidzein, genistein, dan sejumlah kecil
glisitein. Hasil penelitian Safrida (2008) menunjukkan bahwa di dalam kedelai
dan produk olahannya terdapat senyawa isoflavon (Tabel 2).
Tabel 2 Hasil analisis kuantitatif senyawa isoflavon tepung kedelai dan tepung
tempe dalam kg bahan
Tepung kedelai
Tepung tempe
Komponen
(mg/kg bk)
(mg/kg bk)
Daidzein
113.63
555.55
Glisitein
27.59
95.04
Genistein
65.15
250.65
Total isoflavon
206.37
901.24
Keterangan: bk = bobot kering
(Safrida 2008)
Struktur Isoflavon
Isoflavon mempunyai kemiripan struktur kimia dengan estrogen pada
mamalia (Setchell dan Adlercreutz 1988). Cincin fenol pada isoflavon merupakan
struktur penting pada kebanyakan komponen isoflavon yang berfungsi untuk
berikatan dengan reseptor estrogen (Leclerq dan Heuson 1979). Struktur kimia
isoflavon sangat menentukan aktivitas biologis, bioavailabilitas, dan efek
fisiologis. Isoflavon, sebagai senyawa yang mirip estrogen, mengawali kerjanya
dengan cara meniru kerja estrogen. Implikasi klinis estrogen bergantung pada
beberapa faktor, termasuk jumlah reseptor yang dapat berikatan dengan isoflavon,
lokasi atau letak reseptor, dan konsentrasi estrogen yang mampu bersaing dengan
isoflavon (Kim et al. 1998).
Manifestasi ikatan isoflavon dengan reseptor estrogen akan menunjukkan
aktivitasnya yang agonis atau antagonis bergantung pada kadar estrogen
(Brzozowski et al. 1997). Isoflavon memiliki cincin aromatik dengan 2 gugus –
OH atau hidroksil yang jarak 11.0-11.5 A0 pada intinya, yang mirip dengan
31
struktur estrogen (Setchell 1998). Menurut Setchell dan Cassidy (1999), struktur
isoflavon hasil metabolisme daidzein ialah equol. Jika ditumpangkan pada
struktur estradiol, maka jarak antara gugus hidroksil keduanya sangat identik
(Gambar 2).
Gambar 2 Perbandingan kemiripan struktur equol isoflavon dengan estradiol
(Setchell dan Cassidy1999)
Metabolisme Isoflavon
Mikroflora
usus
berperan
penting
dalam
metabolisme
maupun
bioavailabilitas komponen isoflavon dan lignan. Banyaknya metabolit yang
terbentuk juga bervariasi di antara individu, dan ini sangat dipengaruhi oleh
komponen diet. Bila diet yang mengandung karbohidrat dalam jumlah banyak
maka
akan
meningkatkan
fermentasi
intestinal
sehingga
menghasilkan
biotransformasi fitoestrogen yang lebih banyak dan meningkatkan pembentukan
equol sebagai hasil metabolisme daidzein mamalia (Setchell et al. 1984).
Untuk mencapai sirkulasi plasma, komponen isoflavon dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti waktu konsumsi, usia seseorang, dan banyaknya isoflavon
yang dikonsumsi. Setchell (1998) melaporkan bahwa daidzein dan genistein
masuk ke dalam sirkulasi plasma orang dewasa dengan kadar optimal dicapai 6-8
jam setelah dikonsumsi. Konsentrasi daidzein, genistein, dan equol dalam plasma
orang dewasa sebesar 50-800 ng/mL. Keadaan demikian terjadi ketika orang
mengkonsumsi makanan dari kedelai yang mengandung isoflavon sekurangkurangnya 50 mg/hari.
32
Isoflavon sebagai Senyawa yang Mirip Estrogen
Struktur molekul isoflavon memiliki kemiripan dengan struktur estrogen.
Oleh sebab itu, isoflavon disebut estrogen like atau mirip estrogen. Adanya
kemiripan struktur antara dua senyawa tersebut menyebabkan isoflavon mampu
berikatan dengan reseptor estrogen yang terdapat dalam sel berbagai jaringan
tubuh. Isoflavon diketahui berpotensi lebih rendah, yaitu 10 -3 - 10-5 kali dibanding
estrogen endogen (Klein 1998), namun mampu berikatan kuat dengan reseptor
estrogen beta. Melalui potensi ini, diduga komponen fitoestrogen mampu
memberikan efek positif pada jaringan tulang maupun pembuluh darah, tetapi
tidak memberikan efek negatif pada jaringan payudara maupun ovarium (Winarsi
2005).
Secara fisiologis, efek isoflavon yang mirip estrogen bergantung pada
respons yang terjadi, dapat bersifat agonis (menstimulir) atau antagonis
(menghambat) reseptor dalam sel targetnya (Ruggiero et al. 2002). Isoflavon
genistein mempunyai efek pada proliferasi dan diferensiasi sel. Genistein
berpengaruh pada
pematangan oosit,
perkembangan preimplantasi,
dan
postimplantasi baik secara in vitro maupun in vivo (Chan 2009). Isoflavon
mempunyai efek estrogenik bagi manusia dan hewan bergantung pada dosis yang
digunakan (Yulianto 2003). Dosis isoflavon yang digunakan oleh manusia
berkisar 0.4-10 mg/kg bobot badan/hari, sedangkan dosis isoflavon pada rodensia
mempunyai respons pada dosis rendah berkisar 0.005-0.2 mg/kg bobot badan/hari
dan dosis tinggi berkisar 10-100 mg/kg bobot badan/hari. Dosis isoflavon yang
diberikan secara oral sebanyak 3-8 mg/kg bobot badan/hari dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan kanker payudara pada tikus (Whitten dan
Patisaul 2001).
Suatu
penelitian
yang
dilakukan
dengan
subjek
114
wanita
pascamenopause yang diberi kedelai berpengaruh pada hot flushes dan dryness
vaginal. Penurunan hot flushes terjadi pada minggu ke-12 (Brzezinski et al. 1997).
Selanjutnya, penelitian lain dengan subjek 104 wanita pascamenopause, setelah
diberikan suplemen tepung kedelai sebagai diet reguler sebanyak 60 g/hari,
ternyata pada minggu ke-12, sebanyak 45% subjek pada kelompok yang diberi
tepung kedelai merasakan penurunan hot flushes, sedangkan kelompok kontrol
33
hanya 25%. Dengan demikian, isoflavon memberikan hasil yang lebih berefek
pada gejala hot flushes (Albertazzi et al. 1998).
Bentuk atau wujud isoflavon dapat berupa isolat protein kedelai, susu
kedelai, tepung kedelai, atau makanan apa pun yang mengandung kedelai. Para
peneliti, umumnya memberikan suplemen isoflavon dengan dosis berkisar 7-200
mg/hari, sedangkan lama intervensi berkisar 2 minggu hingga 6 bulan. Dilaporkan
juga bahwa wanita premenopause yang mengkonsumsi isoflavon 45-200 mg/hari,
baik berupa isolat protein kedelai, susu kedelai atupun Textured Vegetable
Protein, ternyata kadar hormon LH dan FSH pada siklus pertengahan (midcycle)
turun (Duncan et al. 1999), sedangkan panjang siklus menstruasi meningkat, dan
estrogen urin turun, yang didukung oleh penurunan metabolit estrogen genotoksik
(Xu et al. 1998).
Isoflavon sebagai Antioksidan
Antioksidan
merupakan
substansi
yang
dapat
menetralisir
atau
menghancurkan radikal bebas. Secara fisiologis, tubuh mempunyai dua sistem
pertahanan utama untuk melawan radikal bebas, yaitu sistem enzim dan sistem
nonenzim. Antioksidan enzimatik bekerja secara intraseluler yang sebagian besar
terdapat pada mitokondria dan sitoplasma. Ada tiga macam enzim oksidan, yaitu
superoksidase dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GSH Px),
namun sering kali ketiga enzim ini kurang efektif sehingga membutuhkan suplai
antioksidan nonenzimatik yang terletak di bagian ekstraseluler yang mempunyai
kemampuan memberikan dan menyediakan ion hidrogen sehingga radikal bebas
menjadi molekul yang stabil (Hanim 1996).
Suatu senyawa dikatakan memiliki sifat antioksidatif bila senyawa tersebut
mampu mendonasikan satu atau lebih elektron kepada senyawa prooksidan,
kemudian mengubah senyawa oksidan menjadi senyawa yang lebih stabil
(Winarsi 2005). Zat antioksidan dapat menetralisir atau menghancurkan radikal
bebas dengan cara berinteraksi langsung dengan oksidan atau radikal bebas,
mencegah pembentukan jenis oksigen reaktif, mengubah oksigen reaktif menjadi
kurang toksik, dan memperbaiki kerusakan yang timbul. Antioksidan bekerja
sebagai sebuah sistem untuk menghentikan kerusakan akibat radikal bebas (Sizer
34
dan Whitney 2000). Terdapat tiga jenis antikosidan, yaitu antioksidan yang dibuat
oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim antara lain superoksida dismutase,
glutation peroksidase, dan katalase. Antioksidan alami yang diperoleh dari
tumbuhan atau hewan ialah tokoferol, vitamin C, betakaroten, flavonoid, dan
senyawa fenolik. Antioksidan sintetik yang dibuat dari bahan-bahan kimia, seperti
Butylated Hroayanisole (BHA), Butil Hydroksil Toluen (BHT), Tert Butil
Hidroksi Quinon (TBHQ), dan Propil Galat (PG) (Kumalaningsih 2007).
Sifat antioksidan isoflavon ditunjukkan melalui gugus hidroksilnya. Ketika
isoflavon berinteraksi dengan senyawa oksidan, maka senyawa isoflavon
memberikan satu gugus H kepada senyawa oksidan. Kemudian senyawa isoflavon
berubah menjadi radikal isoflavon, sementara senyawa oksidan menjadi senyawa
yang stabil. Meskipun isoflavon berubah menjadi senyawa radikal, senyawa
tersebut tidak memiliki potensi untuk melakukan propagasi. Radikal tersebut akan
dinonaktifkan oleh senyawa radikal lain sehingga kembali menjadi senyawa yang
stabil (Winarsi 2005). Sebagai antioksidan, isoflavon dalam kedelai mampu
meredam aktivitas radikal bebas dengan cara mengikat dan mencegah reaksi
berantainya (Kameoka et al. 1999, Kapiotis et al. 1997).
Isoflavon termasuk dalam golongan flavonoid yang mempunyai aktivitas
antioksidan. Komponen antioksidan flavonoid yang tinggi di dalam tubuh akan
menangkap radikal bebas sehingga radikal bebas tidak sempat bereaksi dengan
nitrit oksida. Dengan berperannya komponen flavonoid tersebut, maka tidak akan
terjadi kerusakan membran sel secara berlebihan (Shutenko et al. 1999).
Mekanisme lain yang bertanggung jawab dalam penangkapan radikal bebas
turunan oksigen oleh flavonoid ialah melalui imobilisasi leukosit dan memperkuat
adesi leukosit pada dinding endotel (Winarsi 2005). Status antioksidan tubuh yang
rendah menyebabkan tubuh tidak dapat mencegah reaktivitas senyawa radikal
bebas. Kondisi seperti ini ditunjukkan oleh tingginya kadar malonaldehid (MDA)
plasma. Di sisi lain, tingginya kadar MDA plasma juga membuktikan kerentanan
komponen membran sel terhadap reaksi oksidasi (Wijaya 1996).
35
Penuaan
Penuaan adalah penurunan secara fisiologis fungsi tubuh dan berbagai
sistem organ yang mengakibatkan peningkatan kejadian penyakit serta kehilangan
mobilitas dan ketangkasan (Datau dan Wibowo 2005). Penuaan (aging)
merupakan suatu proses yang secara normal terjadi di dalam tubuh. Proses
penuaan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu gizi, radikal bebas, sistem
kekebalan tubuh, dan sebagainya. Proses penuaan dapat dihambat bila dalam
makanan yang dikonsumsi sehari-hari terkandung antioksidan yang cukup
(Siswono 2003).
Proses menua erat kaitannya dengan menurunnya aktivitas suatu organel
dan menumpuknya sisa metabolisme. Sisa metabolisme dapat mengganggu reaksi
kimia dan peredaran suatu bahan metabolit dalam sel sehingga menyebabkan
penurunan ketahanan organisme terhadap penyakit selama hidup yang dapat
menyebabkan kematian (Ismadi 1987). Menurut Meydani et al. (1995) menua
merupakan proses multifaktor yang terjadi pada tingkat sel, organ, dan organisme.
Proses penuaan berkaitan dengan radikal bebas. Imbangan normal antara
produksi radikal bebas atau senyawa oksigen reaktif dengan kemampuan
pertukaran antioksidan alami mengalami gangguan sehingga menggoyahkan dan
mengganggu suatu rantai reduksi oksidasi yang normal. Hal ini dapat
mengakibatkan kerusakan oksidatif jaringan. Keadaan ini diduga sebagai salah
satu faktor pendorong terjadinya beberapa penyakit sistemik, seperti katarak,
aterosklerosis, kerusakan hati, diabetes, kanker, dan dapat menyebabkan penuaaan
dini (Shahidi 1997; Hariyatami 2004). Penuaan dini pada kulit dikarenakan
berkurangnya elastisitas jaringan kolagen dan otot sehingga kulit menjadi keriput
dan munculnya bintik-bintik pigmen kecokelatan (Kumalaningsih 2007).
Ada beberapa teori penuaan, antara lain jaringan menua akibat mutasi acak
pada DNA untuk sel somatik yang menyebabkan penumpukan berbagai kelainan.
Teori lain menyatakan bahwa akumulasi kelainan tersebut ditimbulkan oleh ikatan
silang kolagen dan protein lain, mungkin sebagai hasil akhir kombinasi
nonenzimatik glukosa dengan gugus-gugus amino pada molekul-molekul tersebut
(Weindruch dan Sehal 1997).
36
Teori lain juga menjelaskan bahwa penuaan sebagai akumulasi kerusakan
jaringan akibat radikal-radikal bebas yang terbentuk. Hal ini sangat menarik
karena spesies yang memiliki rentang hidup yang lebih panjang menghasilkan
lebih
banyak
superoksida
dismutase
(SOD),
yaitu suatu enzim
yang
menginaktifkan radikal bebas oksigen (Wallace 1999). Beberapa mekanisme
penuaan secara molekuler meliputi kerusakan oksidatif, ketidakstabilan gen, dan
penurunan kadar hormon dalam tubuh (Johnson et al. 1999).
Perubahan transkripsi yang diinduksi penuaan meliputi penurunan tingkat
transkripsi yang terlibat dalam metabolisme energi dan peningkatan produksi
ekspresi gen yang terlibat dalam respons terhadap stress. Sejak awal sudah ada
spekulasi bahwa peningkatan umur berhubungan dengan peningkatan disfungsi
mitokondria yang kemungkinan disebabkan oleh peningkatan produksi reactive
oxygen species (ROS) pada hewan-hewan tua (Lee et al.1999).
Menurut Amway (2010), ada tiga teori penuaaan. Teori pertama ialah
kerusakan oleh radikal bebas dan radikal bebas dapat dinetralisir dengan
antioksidan. Teori kedua ialah kerusakan DNA, yaitu radikal bebas dan sinar UV
dapat mengganggu dan merusak DNA di dalam nukleus. Teori ketiga ialah
kerusakan mitokondria, yaitu semakin banyak mitokondria yang rusak akan
menyebabkan penurunan produksi ATP sehingga berakibat buruk pada kulit.
Penuaan pada Wanita
Seiring dengan proses penuaan, terjadi penurunan dramatis fungsi kelenjar
reproduksi pada wanita (Ranakusuma 1992). Masa klimakterium, yaitu masa
transisi dari reproduktif menjadi nonreproduktif, dibagi ke dalam empat tahap,
yaitu premenopause, perimenopause, menopause, dan pascamenopause.
Premenopause
Tahap ini terjadi sejak fungsi reproduksi mulai menurun (Kasdu 2004;
Gebbie dan Glasier 2006). Premenopause ditandai penurunan fungsi ovarium
secara berangsur-angsur, ovarium mengecil dan bobotnya berkurang. Pada
manusia, premenopause terjadi pada usia sekitar 40 tahun (Zulkarnaen 2003).
Penurunan fungsi ovarium pada tikus dapat terjadi dari umur 6 sampai 18 bulan,
bergantung pada strain (Felicio et al. 1984). Premenopause merupakan
37
keseluruhan waktu ketika siklus menstruasi berjalan normal sampai mulai
mengalami
perubahan-perubahan
yang
menandakan
mendekatnya
masa
menopause. Istilah ini juga mengacu pada fase di mana mulai terjadi perubahan
kadar hormon yang menyebabkan perubahan dalam siklus dan karakteristik
menstruasi (Wirakusumah 2004). Menurut Walker (1995), kadar estrogen sering
relatif stabil atau bahkan meningkat di masa premenopause, kadar progesteron
mulai menurun dan terjadi ovulasi yang tidak teratur. Menurut Affandi (1997)
pada wanita saat premenopause, yaitu kira-kira umur 40 tahun, mulai terjadi
penurunan sekresi hormon progesteron. Hasil penelitian Karaguzel dan Holick
(2010) menunjukkan bahwa umumnya wanita premenopause memiliki densitas
tulang yang normal, namun pada wanita Kaukasia dengan badan kurus ditemukan
osteopenia, yakni densitas tulang tidak normal atau mulai menurun.
Perimenopause
Definisi perimenopause adalah masa perubahan antara premenopause dan
menopause, yang ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur dan disertai pula
dengan perubahan-perubahan fisiologik, termasuk juga masa 12 bulan setelah
menopause. Perimenopause ditandai dengan fluktuasi dari hormon yang
didefinisikan
sebagai
“irregularly
irregular”.
Menurut
WHO
definisi
perimenopause adalah 2-8 tahun sebelum menopause dan 1 tahun setelah
berakhirnya haid.
Perimenopause, yaitu suatu fase sebelum menopause yang
umumnya terjadi antara umur 40-50 tahun, dimana terjadi transisi dari siklus haid
yang teratur menjadi suatu bentuk siklus yang tidak teratur dan periode amenore
yang berhubungan dengan perubahan hormonal. Lamanya perimenopause berkisar
2-8 tahun. Secara klinik durasinya bisa saja 10 tahun. Tanda awal dari
perimenopause adalah perubahan pada pola perdarahan haid. Keadaan ini
diakibatkan defisiensi atau berfluktuasinya estrogen dan progesteron (Zulkarnaen
2003). Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause yang meliputi
beberapa tahun sebelum menstruasi mulai benar-benar berhenti. Pada masa ini
mulai mengalami gejala-gejala seperti pendarahan yang tidak teratur, hot flush,
dan lain sebagainya. Pada sebagian orang, menstruasi bisa terjadi lebih banyak
dan pada sebagian lain justru menjadi lebih sedikit. Pada masa ini produksi
38
estrogen mulai berkurang dan fungsi ovarium juga mulai menurun dan akhirnya
berhenti (Wirakusumah 2004).
Menopause
Menopause didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana berhentinya
siklus menstruasi yang terjadi secara permanen dan hormon yang dihasilkan dari
ovarium berangsur-angsur hilang. Fungsi ovarium berkurang sehingga kadar
hormon estrogen dan progesteron rendah. Pada wanita, usia mulai menopause
bervariasi dimulai sekitar 45 tahun hingga 55 tahun (Timiras et al. 1995).
Menopause merupakan haid terakhir yang masih dikendalikan oleh fungsi hormon
ovarium. Saat menopause, kapasitas reproduksi seorang wanita berhenti, ovarium
tidak lagi berfungsi, produksi hormon steroid dan peptida berangsur-angsur
hilang, dan terjadi sejumlah perubahan fisiologik. Sebagian disebabkan oleh
berhentinya fungsi ovarium dan sebagian lagi disebabkan oleh proses penuaan.
Perubahan lain yang terjadi pada wanita menopause adalah perubahan pada sistem
skeletal (tulang) dan kardiovaskular berupa osteoporosis, penyakit jantung dan
pembuluh darah (Zulkarnaen 2003), terjadi penurunan kadar kolagen kulit
(Brincat 2004), dan menurunkan densitas tulang (Walker 1995). Tikus betina tua
memiliki periode diestrus yang panjang dan peningkatan sekresi gonadotropin
(Ganong 2003).
Pada wanita, gejala awal yang terjadi pada masa menopause adalah
menstruasi yang tidak teratur yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen dan
progesteron. Selain itu, penurunan kadar estrogen berpengaruh pada jaringan
kolagen yang berfungsi sebagai jaringan penunjang tubuh, hilangnya kolagen
menyebabkan kulit menjadi kering dan keriput, rambut rontok, gigi mudah
goyang dan gusi berdarah, sariawan, serta timbul rasa sakit dan nyeri pada
persendian. Gejala sindrom menopause yang lain adalah hot flush, kenaikan bobot
badan, sembelit, osteoporosis dan sakit punggung, atropi vagina, insomnia,
gangguan psikis, dan emosi (Shimp dan Smith 2000, Kasdu 2004, Wirakusumah
2004).
39
Pascamenopause
Pascamenopause didefinisikan sebagai keadaan amenorea 12 bulan (12
bulan setelah menopause), yang ditandai dengan kadar LH dan FSH yang tinggi
serta kadar estrogen dan progesteron yang rendah (Zulkarnaen 2003). Pada tikus
strain Long Evans, pascamenopause ditandai dengan kadar estradiol dan
progesteron plasma yang rendah, serta sedikit atau tidak ada folikel ovarium yang
tersisa berkembang (Lu et al. 1979). Pada mamalia, saat pascamenopause terdapat
jumlah folikel atresia yang lebih banyak (Johnson et al. 2004).
Hormon Estrogen
Kimia dan Biosintesis Estrogen
Estrogen yang terdapat secara alamiah adalah 17β-estradiol (E2), estron
(E1), dan estriol (E3). Hormon-hormon ini disekresikan oleh sel-sel teka interna
folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi
di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen (Ganong 2003). Sintesis
hormon estrogen terjadi di dalam sel-sel teka dan sel-sel granulosa ovarium, yang
pembentukannya melalui beberapa rangkaian reaksi enzimatik. Pada tahun 1959,
Ryan dan Smith mengemukakan hipotesis 2 sel, yakni mekanisme produksi
hormon steroid dalam ovarium untuk menerangkan kerja sama antara sel teka dan
sel granulosa dalam pembentukan hormon (Hiller et al. 1994)
Prekursor hormon estrogen adalah kolesterol. Jalur biosintesis estrogen
melibatkan pembentukannya dari androgen juga dibentuk melalui aromatisasi
androstenedion di dalam sirkulasi. Aromatase adalah enzim yang mengkatalisis
perubahan androstenedion menjadi estron dan perubahan testosteron menjadi
estradiol. Sel-sel teka interna memiliki banyak reseptor LH, dan LH bekerja
melalui cAMP untuk meningkatkan perubahan kolesterol menjadi androstenedion.
Sebagian androstenedion diubah menjadi estradiol, yang masuk ke dalam
sirkulasi. Sel teka interna juga memberikan androstenedion pada sel granulosa.
Sel granulosa memberikan estradiol bila mendapat androgen. Sel granulosa
memiliki banyak reseptor FSH, dan FSH meningkatkan sekresi estradiol dari sel
granulosa dan bekerja melalui siklik AMP untuk meningkatkan aktivitas
aromatase. Sel granulosa matang juga memiliki reseptor LH, dan LH juga
40
merangsang pembentukan estradiol (Johnson dan Everitt 1984, Ganong 2003)
(Gambar 3).
Gambar 3 Skema pembentukan steroid pada perkembangan folikel (Johnson dan
Everitt 1984).
Proses pertumbuhan dan perkembangan folikel ovari sangat bergantung
pada kehadiran FSH dan LH karena kedua hormon tesebut sangat essensial dalam
sintesis estrogen, sedangkan bila LH secara tunggal tidak berpengaruh pada
pertumbuhan dan perkembangan folikel. Level hormon reproduksi bersifat
fluktuatif sesuai dengan pola reguler dan tetap. Pola tersebut merupakan hasil
interaksi dari sejumlah organ dengan hormon. Pada mamalia dewasa, fluktuasi
berbagai hormon reproduksi dikenal sebagai siklus estrus yang terdiri atas
proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus atau secara global umumnya dikenal
dengan fase folikel (fase pertumbuhan, yang ditandai dengan level estrogen
tinggi), sedangkan fase luteal memiliki waktu yang cukup panjang yang ditandai
41
dengan perkembangan korpus luteum dan kadar progesteron tinggi. Sekresi FSH
terjadi secara ritmis selama 4-5 hari sebelum berahi, menjelang fase luteal
berakhir konsentrasi FSH dalam plasma meningkat dan secara sinergis dengan
LH, akan merangsang pertumbuhan folikel dan folikel akan mencapai stadium
folikel tersier yang matang. Dalam waktu yang cukup singkat, di bawah pengaruh
FSH dan 17β-estradiol, terjadi pembentukan reseptor-reseptor untuk kedua jenis
hormon tersebut, sedangkan pada sel-sel granula juga terjadi induksi pembentukan
reseptor untuk LH (Pineda 1989).
Folikel ovari matang dan kadar estrogen di atas ambang (threshold) akan
berespons terhadap hipotalamus untuk menekan pelepasan FSH dan selanjutnya
memfasilitasi pelepasan LH untuk menandai proses ovulasi (Pineda 1989). Pada
saat tersebut, sel-sel granulosa memproduksi inhibin yang bekerja khusus untuk
menghambat produksi FSH (feedback negatif). Tingginya kadar estrogen
merupakan sinyal untuk pelepasan LH dalam kaitannya dengan persiapan ovulasi.
Hipothalamus, hipofisis, gonad, dan plasenta merupakan kelenjar endokrin
reproduksi. Kelenjar ini akan bekerja sama secara padu dan mempunyai suatu
putaran interkoneksi yang dikenal sebagai poros Hipotalamus-hipofisis-gonad.
Pada hipotalamus bagian median eminentia dan preoptik diduga gonadotropin
releasing factor (GnRH) diproduksi oleh sel-sel neuron endokrin setelah
mendapat rangsangan dari sistem saraf pusat (CNS). GnRH diangkut dan dikirim
kelenjar pituitari anterior melalui sistem portal hipothalamus-hipophyseal.
Pelepasan GnRH dari terminal saraf dan median eminence ke dalam sistem portal
darah hipofisis merupakan sinyal neuroendokrin untuk merangsang proses
ovulasi. GnRH akan menstimulasikan sel-sel gonadotropin kelenjar pituari untuk
mensekresikan follicle stimullating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
GnRH, FSH, dan LH akan dilepaskan dengan lonjakan-lonjakan tertentu, FSH
dan LH akan bekerja pada sel target pada gonad. FSH akan merangsang sel-sel
granulosa untuk memfasilitasi proses oogenesis dan bertanggung jawab atas
perkembangan dan pematangan folikel. LH berfungsi merangsang sintesis
androstenedion dari kolesterol, dan selanjutnya dikonversi menjadi testosteron.
Pada sel-sel granulosa terjadi aromatisasi 17ß-estradiol di bawah pengaruh FSH
membentuk estrogen (Ganong 2003).
42
Hormon ataupun target organ memiliki suatu sistem umpan balik
homeostatik, yaitu semua mekanisme hormon diatur oleh sekresi hormon itu
sendiri.
Estrogen dapat menyebabkan feedback positif pada hipotalamus dan
pituitari anterior, yakni peningkatan kadar estrogen akan menyebabkan
peningkatan sekresi GnRH, demikian pula akan terjadi peningkatan kadar
gonadotropin dari pituitari anterior (Ganong 2003). Suatu mekanisme umpan balik
negatif terdapat dalam pengaturan pelepasan estrogen oleh hipofisis, yaitu kadar
FSH dan LH dikontrol oleh konsentrasi estrogen dan progesteron dalam darah.
Kadar estrogen yang sangat rendah menstimulir pelepasan FSH yang bekerja
sama dengan LH menyebabkan pertambahan pelepasan estrogen. Apabila kadar
estrogen dalam darah cukup tinggi, estrogen akan bekerja balik pada hipofisis
untuk menghambat pelepasan FSH lebih lanjut dan terjadi penurunan kadar
estrogen. Sekresi progesteron dirangsang oleh LH dan pada fase luteal sekresi
progesteron akan meningkat (Binkley 1995) (Gambar 4).
Gambar 4
Diagram skematik pengaturan siklus reproduksi pada hewan betina
(Binkley 1995)
43
Transpor dan Metabolisme Estrogen
Estrogen yang beredar terikat pada protein plasma dan proses
pengikatannya terjadi di dalam hati. Hati melaksanakan peranan ganda dalam
metabolisme estrogen, yaitu menginaktifkan steroid ini dan juga memberikan
pengaruh mengaktifkan lewat pembentukan estoprotein. Kira-kira 50 persen
estrogen dalam darah dikonjugasi dengan glukoronida dan sulfat; dan hampir
seperlima dari produk konjugasi ini diekskresikan lewat empedu, sedangkan
sebagian besar diekskresikan ke dalam urin dan feses (Gruber et al. 2002; Ganong
2003).
Mekanisme Kerja Estrogen
Estrogen bersirkulasi dalam darah selama beberapa menit kemudian
menuju ke sel sasaran. Estrogen berikatan dengan protein reseptor dalam
sitoplasma sel target membentuk kompleks hormon reseptor, kemudian
bermigrasi ke inti. Di dalam inti kompleks hormon reseptor ini segera memulai
proses transkripsi DNA-RNA dalam area kromosom spesifik dan akhirnya
mengakibatkan pembelahan sel. Perubahan pada tingkat pascatranskripsi adalah
faktor yang mempengaruhi level steady-state-specific dan protein. Oleh karena
itu, steroid mengatur fisiologis sel target dengan cara mengontrol mRNA dan
protein dalam sel (Guyton 1996). Seperti yang dilaporkan oleh Kuiper et al.
(1996) bahwa di dalam tubuh terdapat dua macam reseptor, yaitu reseptor
estrogen beta dan reseptor estrogen alfa. Menurut Paech et al. (1997) dua reseptor
estrogen ini memainkan peran yang berbeda, demikian pula distribusinya dalam
jaringan dan afinitas pengikatannya dengan ligan juga berbeda. Reseptor estrogen
beta terdistribusi dalam jaringan otak, tulang, ovarium, prostat, kandung kemih,
dan epitel pembuluh darah. Selanjutnya menurut Warner et al. (1999) reseptor
alfa terdistribusi dalam jaringan uterus, ovarium, payudara, liver, ginjal, testis,
hipofisis, epididimis, dan adrenal. Menurut Ganong (2003), pengaturan fungsi
ovarium oleh sumbu hipofisis-ovarium diperantarai oleh reseptor estrogen alfa,
sedangkan estrogen yang disekresikan ke dalam folikel ovarium bekerja melalui
reseptor estrogen beta.
44
Menurut penelitian Pelletier dan El-Alfi (2000), pewarnaan dengan
imunohistokimia pada berbagai jaringan reproduksi manusia memiliki dua subtipe
reseptor estrogen. Dalam ovarium terdapat dua reseptor estrogen, yaitu reseptor
estrogen beta dan alfa. Reseptor estrogen beta ditemukan pada inti sel granulosa
folikel dari tahap folikel primer sampai folikel matang, kelenjar interstisial, dan
sel epitelium germinal, sedangkan reseptor estrogen alfa terdapat pada sel teka,
kelenjar interstisial, dan sel epitelium germinal. Uterus mempunyai reseptor
estrogen alfa yang terdapat pada epitelium, stroma dan sel otot, begitu juga
dengan reseptor estrogen beta. Vagina mempuyai reseptor estrogen alfa yang
terdapat di epitelium berlapis banyak (stratified epithelium), stroma dan sel otot,
namun reseptor estrogen beta pada vagina tidak dapat dideteksi. Pada kelenjar
mammae terdapat dua reseptor estrogen, yaitu reseptor estrogen beta dan alfa
yang ditemukan pada sel epitelium dan stroma.
Sebagian besar efek estrogen bersifat genomik, yaitu diperantarai oleh
reseptor estrogen alfa dan reseptor estrogen beta. Namun, beberapa efek terjadi
sedemikian cepat sehingga sulit dipercayai bahwa efek tersebut diperantarai oleh
pembentukan mRNA. Efek-efek tersebut meliputi efek pada pencetusan impuls
neuron di otak dan efek umpan balik pada sekresi gonadotropin. Adanya efek-efek
ini berarti estrogen memiliki efek nongenomik dan genomik yang mungkin
diperantarai oleh reseptor-reseptor membran (Ganong 2003).
Aksi Molekuler Estrogen
Kerja utama estrogen yang spesifik ditentukan oleh struktur hormon,
subtipe, atau isoform reseptor estrogen yang terlibat, karakteristik promotor gen
target, dan keseimbangan koaktivator dan koreseptor yang memodulasi respons
transkripsional akhir dengan kompleks estrogen dan reseptor estrogen (Gruber et
al. 2002). Sebagai estrogen bebas yang berdifusi ke dalam sel, estrogen mengikat
domain ikatan ligan dari reseptor, yang dipisahkan dari pengantar sitoplasmanya;
kompleks estrogen dan reseptor estrogen selanjutnya berdifusi ke dalam nukleus
sel. Kompleks estrogen-reseptor estrogen ini berikatan dengan bagian spesifik dari
DNA yang disebut elemen-elemen respons estrogen sebagai homodimer atau
heterodimer (Pettersson et al. 1997). Kompleks estrogen-reseptor estrogen tidak
berikatan hanya pada elemen respons, tetapi juga dengan koaktivator atau represor
45
reseptor inti. Mekanisme pasti dari translokasi inti kompleks estrogen-reseptor
estrogen tidak juga sepenuhnya diketahui, tetapi diketahui bahwa protein sitosolik
Kaveolin-1 menstimulasi proses translokasi ini melalui interaksi langsung dengan
molekul reseptor (Schlegel et al. 1999).
Reseptor estrogen merupakan anggota dari superfamili reseptor-hormon
inti, yang memiliki kira-kira 150 anggota yang telah dikenal. Reseptor estrogen
memiliki beberapa domain fungsional. Domain yang berikatan dengan DNA
terdiri atas dua ikatan seng yang terlibat dalam pengikatan dan dimerisasi
reseptor. Subtipe pertama, reseptor estrogen α yang klasik, pertama kali diklon
tahun 1986. Subtipe kedua, reseptor estrogen β ditemukan paling terkini. Kedua
subtipe reseptor ini bervariasi dalam struktur dan gen-gen pengkode, serta
terdapat dalam kromosom-kromosom yang berbeda. Gen reseptor estrogen α telah
dipetakan pada lengan panjang 13 kromosom 6, sedangkan gen reseptor estrogen
β berlokasi pada pita q22-24 dari kromosom 14. Walaupun domain ikatan DNA
dari reseptor estrogen α dan β sangat mirip, derajat keseluruhan homologi dari
reseptor adalah rendah (Gruber et al. 2002; Kuiper et al. 1996). Beberapa ligan
mempunyai afinitas yang berbeda untuk reseptor estrogen α dan reseptor estrogen
β (Tabel 3).
Tabel 3 Afinitas-afinitas relatif ikatan ligan-ligan yang berbeda untuk reseptor
estrogen α dan reseptor estrogen β
Ligan
17 β- estradiol
17α-estradiol
Estriol
Estron
4-hidroksiestradiol
2-hidroksiestron
Tamoxifen
Raloxifen
Genestein
Coumestrol
Daidzein
Roctylfenol
Nonylfenol
Reseptor estrogen α
100
58
14
60
13
2
4
69
4
20
0.1
0.02
0.05
Sumber : Gruber et al. 2002
Reseptor estrogen β
100
11
21
37
7
0.2
3
16
87
140
0.5
0.07
0.09
46
Reseptor estrogen berinteraksi dengan beberapa protein koregulator yang
menghubungkan antara reseptor teraktivasi dan perlengkapan transkripsi. Untuk
membentuk kompleks transkripsi-inisiasi, kumpulan berbagai faktor, seperti
protein yang berikatan dengan kotak TATA (deret DNA yang ditemukan pada
area promotor inti dari gen eukariota) dan faktor yang berhubungan lainnya di
kotak TATA, dibutuhkan oleh RNA polimerase II. Dalam proses transkripsi,
kotak TATA menentukan ketepatan awal proses transkripsi. Protein koregulator
reseptor-nukleus berinteraksi dengan molekul reseptor untuk memodulasi
kapasitas transkripsionalnya (Gruber et al. 2002).
Reseptor estrogen alfa (ERα) dan reseptor estrogen beta (ERβ) dalam
berbagai jaringan dapat memodulasi ekspresi gen yang berbeda (Gambar 5).
Penelitian secara in vitro telah menunjukkan bahwa ERβ dan ERα dapat bersifat
heterodimer, yang megindikasikan adanya kemungkinan aksi untuk bekerja sama,
sinergis atau penghambat antara kedua reseptor (Thornton 2002).
Gambar 5 Diagram skematik ikatan estrogen dengan reseptor estrogen alfa dan reseptor
estrogen beta dapat memodulasi ekspresi gen yang berbeda. 17β-estradiol
dapat mengaktifkan ekspresi gen yang berbeda melalui dua reseptor. 17βestradiol dapat berikatan dengan ERα dan ERβ dengan afinitas yang sama.
Setelah mengikat ligan, reseptor steroid dalam bentuk homodimer berinteraksi
pada bagian spesifik dengan elemen respons estrogen (ERE) dari gen target.
Dalam sel, ekspresi reseptor estrogen heterodimer mungkin terjadi, yang mana
menghasilkan ekspresi gen yang berbeda. Ligan selektif berikatan dengan
salah satu reseptor estrogen (misalnya ERβ) akan memungkinkan ekspresi gen
selektif (Thornton 2002)
47
Selain jalur genom, estrogen bekerja secara nongenomik mengakibatkan
efek seluler yang cepat pada berbagai jaringan (Levin 2002). Estrogen telah
terbukti mempunyai respons yang cepat yang melibatkan second messenger
(Nadal et al. 1995). Estradiol telah dapat mengaktifkan sinyal mitogen-activated
protein kinase (MAPK), juga dapat menyebabkan stimulasi cepat fluks kalsium,
generasi cAMP dan IP3, dan aktivasi fosfolipase C (Kato et al. 1995; Levin
2002).
Lebih lanjut kompleksitas dari sinyal estrogen diketahui bahwa estradiol
dapat berinteraksi dengan reseptor membran dan dapat berinteraksi dengan faktorfaktor pertumbuhan dan reseptornya. Hubungan estrogen dan faktor pertumbuhan
di sejumlah jaringan telah dilaporkan, termasuk insulin-like growth factor-1 (IGF1) (Cardona-Gomez et al. 2002, Klotz et al. 2002), epidermal growth factor
(EGF) (Filardo 2002) dan transforming growth factor-α (TGF-α) (Seo dan
Leclercq 2002). Aksi estrogen secara genomik dan non genomik, mencakup
reseptor membran untuk sinyal estrogen dan interaksinya dengan sinyal
intraseluler lain dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6
Diagram skematik aksi estrogen secara genomik dan nongenomik. Estrogen
dapat melakukan aksinya melalui reseptor estrogen intraseluler dan reseptor
estrogen di permukaan sel. Secara genomik, estrogen dapat masuk ke dalam
sel dan berikatan dengan reseptor nuklear intraseluler yang dimer dan
berinteraksi dengan elemen respon estrogen (ERE) untuk memulai
transkripsi gen (gen X). Secara non-genomik, estrogen dapat berikatan
dengan reseptor membran plasma yang kemudian berinteraksi dengan jalur
sinyal sel termasuk jalur MAP kinase dan mengaktifkan gen yang berbeda
(gen Y). Melalui membran plasma, estrogen juga dapat berinteraksi dengan
jalur sinyal intraseluler lainnya (?) (Thornton 2002).
48
Efek Estrogen pada Saat Menopause
Pada
saat
menopause,
terjadi
penurunan
fungsi
ovarium
yang
mengakibatkan penurunan produksi hormon estrogen (Cassidy et al. 2006).
Estrogen mempengaruhi kulit, terutama kadar kolagen, jumlah proteoglikan, dan
kadar air kulit. Kolagen dan serat elastin berperan untuk mempertahankan
stabilitas dan elastisitas kulit. Turgor kulit dapat dipertahankan oleh proteoglikan
yang dapat menyimpan air dalam jumlah besar. Estrogen mempengaruhi aktivitas
metabolik sel-sel epidermis dan fibroblas, serta aliran darah (Baziad 2003).
Kekurangan estrogen dapat menurunkan mitosis kulit sampai atropi,
menjadikan ketebalan kulit berkurang, menyebabkan berkurangnya sintesis
kolagen, dan meningkatkan penghancuran kolagen. Kehilangan kolagen ini juga
berjalan paralel dengan hilangnya massa tulang. Kekurangan estrogen juga
menyebabkan berkurangnya sintesis dan polimerisasi asam hialuron sehingga
terjadi pengurangan pengambilan dan penyimpanan air, yang pada akhirnya
terjadi dehidrasi kulit. Hal ini membuat kulit kehilangan elastisitasnya, atopik,
tipis, kering, dan berlipat-lipat (Baziad 2003).
Estrogen merupakan hormon yang mempunyai peranan dalam terjadinya
osteoporosis pada saat pascamenopause, baik secara langsung maupun secara
tidak langsung. Pertama, efek berkurangnya estrogen secara tidak langsung akan
meningkatkan sensitivitas tulang terhadap hormon paratiroid (PTH), yang dengan
demikian akan meningkatkan resorpsi tulang. Dengan kata lain, estrogen dapat
menurunkan aktivitas PTH terhadap tulang dengan menurunkan mekanisme PTHmediated bone resorpsi. Estrogen juga berpengaruh pada tulang melalui
kalsitonin. Kalsitonin dalam darah cenderung menurun dengan bertambahnya usia
dan menopause. Dengan demikian, pada wanita menopause akan lebih cepat
terjadi defisiensi kalsitonin secara relatif. Penurunan respons kalsitonin
berpengaruh pada kadar kalsium. Kedua, efek estrogen secara langsung, estrogen
berpengaruh langsung pada metabolisme tulang melalui reseptor estrogen pada sel
osteoblas yang terdapat di dalam trabekula tulang (Ranakusuma 1992).
49
Hormon Progesteron
Progesteron adalah anggota dari progestin yang terpenting karena dari
sekian banyak anggota progestin hanya progesteronlah yang banyak berfungsi,
sedang yang lain merupakan metabolit dari progesteron. Meskipun demikian,
sejumlah progesteron lain, yaitu 17-α-hidroksiprogesteron juga disekresikan
bersama dengan progesteron dan mempunyai efek yang pada dasarnya sama
(Guyton 1996). Progesteron adalah hormon steroid yang memiliki 21 atom C
dengan struktur dasar inti pregnan. Fungsi progesteron sulit dipisahkan dari
hormon-hormon lainnya, seperti estrogen. Hal ini disebabkan progesteron secara
normal bekerja sama dengan estrogen dan steroid-steroid lainnya dan
menghasilkan hanya sedikit pengaruh-pengaruh khusus bila bekerja sendiri (Cole
dan Cupps 1977). Salah satu organ utama sasaran progesteron adalah uterus.
Progesteron berperan dalam perubahan progestasional di endometrium dan
perubahan siklik di serviks dan vagina (Ganong 2003).
Hormon steroid utama yang dihasilkan oleh ovarium ada dua, yaitu
estrogen dan progesteron. Estrogen dihasilkan oleh sel-sel folikel graafian dan
progesteron dihasilkan oleh korpus luteum dan beberapa jaringan lain pada
mamalia (Rastogi 2007). Selain korpus luteum, progesteron juga disekresikan
oleh plasenta, folikel, dan korteks adrenal. 17β-hidroksiprogesteron disekresikan
bersama estrogen dari ovarium, dan sekresinya setara dengan sekresi 17βestradiol. Sekitar 2% progesteron dalam darah berada dalam keadaan bebas,
sementara 80% terikat ke albumin dan 18% terikat ke globulin pengikat
kortikosteroid. Progesteron memiliki waktu paruh yang singkat dan diubah
menjadi pregnandiol di hati, yang kemudian dikonjugasi dengan asam glukuronat
dan diekskresikan dalam urin (Ganong 2003).
Pada saat menopause, ovarium tidak lagi mensekresikan progesteron dan
estradiol dalam jumlah yang bermakna sehingga kadar estrogen dan progesteron
dalam darah menjadi rendah. Uterus dan vagina perlahan-lahan menjadi atropi.
Karena efek umpan balik negatif estrogen dan progesteron menurun, maka sekresi
FSH dan LH meningkat (Ganong 2003). Tikus betina afkir ditandai dengan kadar
estradiol dan progesteron plasma yang rendah, serta sedikit atau tidak ada folikel
ovarium yang tersisa berkembang (Lu et al. 1979).
50
Uterus
Tikus mempunyai uterus berbentuk dupleks, dengan dua serviks (Rastogi
2007). Dinding uterus terdiri atas suatu mukosa yang disebut endometrium,
disekelilingi oleh lapisan otot polos miometrium yang membentuk hampir seluruh
ketebalan dinding dan akhirnya membran serosa luar peritoneum, yang menutupi
uterus disebut perimetrium. Pada endometrium terdapat kelenjar uterus yang
berbentuk tubular, yang terbuka langsung ke permukaan mukosa. Kelenjar meluas
ke bawah pada seluruh ketebalan stroma sampai dekat miometrium, kadangkadang ujungnya bercabang (Geneser 1994).
Kelenjar uterus selama fase folikuler terlihat sederhana dan lurus dengan
sedikit cabang, sedangkan selama fase luteal saat progesteron bekerja terhadap
uterus akan terlihat endometrium bertambah tebal secara mencolok, diameter dan
panjang kelenjar meningkat secara cepat, menjadi bercabang dan berkelok-kelok.
Estrogen menyebabkan meningkatnya vaskularisasi dan aktivitas mitosis yang
diberikan pada tikus dan mencit mengakibatkan akumulasi air pada lumen uterus
(Guyton 1996).
Kolagen ditemukan pada beberapa organ tubuh, di antaranya uterus. Pada
lapisan endometrium uterus terdapat jaringan ikat kolagen. Kolagen adalah
struktur penunjang pada uterus sebagai indikasi kepesatan pertumbuhan kelenjar
yang akan berfungsi sebagai wadah penyedia nutrisi bagi embrio yang disebut
dengan susu uterus (Satyaningtijas 2001). Perubahan struktur kolagen uterus
dipengaruhi oleh estrogen (Pastore et al. 1992). Iwahashi dan Muragaki (2011)
menyatakan pada wanita yang menderita prolapse uterus terjadi sebagai akibat
adanya penurunan kolagen uterus.
Uterus memiliki reseptor estrogen alfa lebih dominan bila dibandingkan
dengan reseptor estrogen beta (Brandenberger et al. 1997). Reseptor estrogen alfa
dan reseptor estrogen beta terdapat pada epitelium, stroma, dan sel otot uterus
(Pelletier dan El-Alfi 2000). Peranan ERα tidak hanya untuk mendorong faktor
pertumbuhan seperti IGF-1, yang kemudian menyebabkan respons proliferatif.
Pemberian IGF-1 tidak menimbulkan respons pada uterus jika tidak ada Erα.
Ikatan IGF-1 dengan reseptor estrogen (IGF-1/ER) secara in vivo menunjukkan
bahwa IGF-1 dapat mengaktifkan transkripsi reseptor estrogen yang termediasi
51
(ER-mediated transcription) pada uterus tikus. Sintesis DNA uterus dimulai
dengan aktivasi ERα baik secara langsung oleh estradiol (E2), atau secara tidak
langsung oleh jalur aktivasi reseptor IGF-1 (IGF-1R) yang termediasi pada ERα
(Klozt et al. 2002) (Gambar 7).
IGF-1 yang
diinduksi aksi
estradiol pada
sel stroma
Reseptor
IGF-1
Sel epitel uterus
IGF-1
terinduksi sinyal MAPK
IGF-1 terinduksi sinyal P1-3 kinase
terjadi di inti
sel
“Respons estrogenik"
Gambar 7
Diagram skematik ikatan IGF-1 dengan reseptor estrogen (IGF-1/ER) pada
uterus. E2 (estradiol) dapat mengaktifkan reseptor estrogen (ER) secara
langsung melalui mekanisme ikatan E2/ER klasik (garis panah berwarna
merah dan bulatan oval merah). IGF-1 juga dapat mengaktifkan ER (garis
panah berwarna biru dan bulatan oval biru), melalui mekanisme yang
melibatkan PI 3-kinase/Akt dan MAPK (mitogen-activated protein kinase)
(garis panah terputus). Mekanisme aktivasi ER memperlihatkan respons
sintesis DNA dan ekspresi proliferasi (PCNA). Aktivasi ER menunjukkan
adanya aspek molekuler yang penting untuk respons estrogenik, contohnya
pada uterus tikus ERα knockout (αERKO) yang diinduksi IGF-1, yang mana
sintesis DNA tidak terjadi jika tidak ada ER (Klozt et al. 2002)
Kulit
Kulit merupakan organ terluas pada tubuh, dan merupakan organ
pelindung primer terhadap serbuan kuman penyebab infeksi dan pelindung
terhadap dehidrasi. Kulit tersusun atas tiga lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan
subkutis. Kulit juga mengandung folikel rambut, kelenjar sebasea, dan kelenjar
keringat. Epidermis terdiri atas sel keratin dan melanosit dan membentuk lapisan
52
tipis terluar. Lapisan dermis merupakan lapisan yang lebih dalam membentuk
ketebalan utama kulit yang fungsinya ialah menyediakan ruangan yang potensial
untuk menunjang pembuluh darah, saraf, dan anggota tubuh lainnya yang terdapat
di dalamnya (Geneser 1994).
Kolagen adalah komponen protein pembentuk struktur kulit, otot, dan
pembuluh darah yang berbentuk serat tripel heliks. Protein ini tersusun atas
fragmen residu asam amino glisin-prolin-X, dengan X sebagai asam amino apa
pun, secara berulang-ulang (Nurachman 2003). Kolagen merupakan protein
struktural yang secara alami berbentuk serat, yang tersusun atas 25-30% total
protein tubuh hewan. Kolagen ini disintesis pada semua tipe sel dan didepositkan
pada semua tipe jaringan. Komponen utama tendon dan ligamen adalah kolagen.
Serabut-serabut kolagen jaringan ikat mempunyai diameter antara 1-12 μm,
sedangkan ikatan-ikatan paralel fibril penyusun serabut kolagen tersebut
berdiameter antara 20 dan 100 nm (Soeparno 1992).
Semakin bertambah umur, kelarutan kolagen menurun dan rantai
polipeptida semakin menyempit serta kolagen yang tidak larut semakin
menumpuk di ruang ekstraseluler. Akibat penumpukan ini, aliran nutrien dan
oksigen ke sel terhambat yang menyebabkan sel tersebut mengalami kelaparan
dan kematian. Kejadian ini akan memberikan kontribusi terhadap penuaan.
Penurunan kelarutan kolagen dengan bertambahnya umur terjadi akibat penurunan
enzim kolagenase secara tajam. Penurunan ini meningkatkan ikatan silang antara
fibril kolagen dan perubahan daya regang kolagen yang menyebabkan terjadinya
kekerutan pada kulit. Konsentrasi radikal bebas dan makromolekul meningkat
dengan bertambahnya usia karena superoxide dismustase (SOD) yang dikode oleh
gen semakin menurun (Kanungo 1994).
Serat yang terdapat pada organ konektif dermis secara garis besar ada dua
yang dominan, yaitu kolagen dan elastin. Dari total bobot badan orang dewasa,
80% adalah kolagen. Serat kolagen yang diproduksi oleh fibroblas dan tersusun
paralel pada permukaan kulit memberikan kulit kekuatan untuk dapat diregangkan
dan mencegahnya menjadi robek akibat robekan minor. Hanya 5% dari dermis
berupa serat elastin. Serat elastin menyebabkan kulit menjadi elastis dan kenyal.
Serat elastin tersusun setipis distribusi jaringan subepidermis, dan juga diproduksi
53
oleh fibroblas. Pada jaringan pengikat dermal terdapat reseptor sensorik dan
glikosaminoglikan (GAGs). Kualitas kulit menurun seiring dengan bertambahnya
usia karena efek sinergik dari penuaan, sinar matahari, defisiensi hormon, dan
faktor lingkungan (Datau dan Wibowo 2005).
Estrogen memiliki efek penting pada jaringan nonreproduksi, dan ekspresi
dari reseptor estrogen bergantung pada jaringan. Selain jaringan reproduksi baik
pada pria dan wanita, reseptor estrogen alfa (ERα) dan reseptor estrogen beta
(ERβ) terdapat pada berbagai jaringan, seperti tulang, otak, paru-paru, kandung
kemih,
timus,
hipofisis,
hipotalamus,
jantung,
ginjal,
adrenal,
sistem
kardiovaskular, dan kulit termasuk folikel rambut (Thornton 2002, 2005).
Terdapat dua mekanisme aksi estrogen dalam pembentukan kolagen kulit,
yaitu secara nongenomik dan secara genomik (Stevenson dan Thornton 2007).
Pertama, estrogen bekerja secara nongenomik mengakibatkan efek seluler yang
cepat pada berbagai jaringan (Levin 2002). Kedua, estrogen bekerja secara
genomik yang diperantarai oleh reseptor estrogen yang terdapat pada sel-sel
fibroblas kulit (Thornton 2002, 2005).
Tulang
Tulang
merupakan suatu organ metabolisme aktif
yang
secara
berkesinambungan mengalami perubahan, baik perubahan ukuran maupun bentuk
(modelling) atau pembaharuan struktur tanpa perubahan bentuk tulang
(remodelling). Modelling adalah proses yang terjadi pada masa anak-anak dan
remaja, yaitu pembentukan tulang baru pada daerah yang berbeda dan tulang yang
diresorbsi sehingga menyebabkan perubahan bentuk tulang. Modelling tepatnya
terjadi di bagian growth plate atau lempeng pertumbuhan. Pertumbuhan tulang
berlangsung secara bertahap, dimulai dengan proliferasi dan kalsifikasi
lempengan pertumbuhan atau perubahan tulang
rawan menjadi tulang
termineralisasi (Eriksen et al. 1994). Remodelling tulang ialah proses
mempertahankan keseimbangan biokimia tulang melalui proses pembentukan
(formasi) dan penyerapan atau resorbsi sejumlah tulang (removal bone) yang
dilakukan sel-sel tulang osteoklas dan osteoblas (Favus 1993).
54
Secara fisiologis, penurunan kadar hormon estrogen pada saat menopause
memiliki hubungan erat dengan ketidakseimbangan remodelling tulang karena
estrogen mempunyai reseptor pada sel-sel osteoblas (Setyohadi 2000). Estrogen
diperlukan untuk pemeliharaan densitas tulang dan pelaksanaan fungsi mekanik
pada wanita sejak pubertas sampai perimenopause (Kasra dan Grynpas 1995).
Selain peran mekanik, estrogen juga dapat menurunkan resorbsi tulang melalui
penurunan berbagai sitokin, seperti interleukin-6 (IL-6) dan interleukin-1 (IL-1).
IL-6 diketahui banyak terdapat pada lingkungan mikro tulang dan berperan
merangsang resorbsi tulang, sedangkan IL-1 menstimulasi pembentukan osteoklas
(Raisz 2008).
Peran estrogen pada pembentukan tulang adalah menurunkan resorpsi
tulang. Pada masa premenopouse, estrogen sangat dibutuhkan untuk pembentukan
dan pemeliharaan massa tulang. Estrogen diduga menghambat aktivitas hormon
paratiroid (PTH) pada proses resorpsi tulang, melalui peningkatan kadar
kalsitonin. Estrogen juga berperan pada resorpsi tulang melalui reseptor estrogen
yang terdapat pada osteoklas dan osteoblas. Penurunan estrogen pada masa
perimenopause menyebabkan hilangnya hambatan terhadap hormon PTH
sehingga resorpsi tulang meningkat (Badawy dan Frankel 1999).
Secara mikroskopis, tulang dibentuk oleh komponen seluler dan matriks
tulang. Komposisi tulang secara umum terdiri atas 30% matriks, 70% mineral
sedangkan tulang yang baru terbentuk mengandung 95% matriks organik yang
juga merupakan jaringan kolagen dan 5% bahan homogen yang disebut sebagai
substrat dasar (ground substance). Matriks organik menyusun sekitar 35% dari
bobot tulang dan terdiri atas dua macam protein, yaitu kolagen dan nonkolagen
(Favus 1993, Ott 2002).
Proses pembentukan tulang terutama melibatkan osteoblas sebagai sel
utama penghasil matriks tulang. Osteoblas mengatur konsentrasi ion kalsium pada
matriks melalui pelepasan kalsium dari intraseluler. Osteoblas merupakan sel
jaringan tulang yang berperan mensintesis kolagen untuk membentuk osteoid
sebagai bahan dasar tulang dan mempunyai fungsi utama mensintesis komponen
organik tulang, yaitu kolagen dan glikoprotein. Sel ini biasanya terletak pada
permukaan jaringan tulang, berbentuk kuboid atau kolumnar, dengan posisi saling
55
bersebelahan seperti jaringan epitel. Apabila osteoblas sedang mensintesis matriks
tulang, bentuknya kuboid dangan sitoplasma basofilik, sedangkan bila
aktivitasnya menurun, bentuknya menjadi lebih fusiformis dengan sitoplasma
yang kurang basofilik. Pada permukaan tulang terdapat deretan osteoblas yang
tersusun menyerupai epitel selapis. Osteoblas yang aktif mensintesis matriks,
berbentuk kubus, sedangkan osteoblas yang aktivitasnya menurun berbentuk
pipih. Pada tulang yang sedang mengalami pertumbuhan, terdapat sel besar yang
berinti banyak (osteoklas) yang berfungsi meresorpsi tulang. Di sekitar tulang
yang sedang mengalami pertumbuhan ini terdapat jaringan mesenkim (Guyton
1996).
Densitas tulang adalah kerapatan massa tulang. Densitas tulang memiliki
kaitan dengan proses formasi tulang, terutama dengan metabolisme mineral tulang
atau metabolisme kalsium. Penurunan densitas tulang mengarah pada kerapuhan
tulang (porous) atau dikenal dengan osteoporosis (Compston et al. 1993).
Osteoporosis adalah kelainan tulang akibat gangguan metabolik, yang disebabkan
oleh kosongnya matriks tulang sehingga tulang menjadi rapuh, mudah pecah, dan
cenderung menjadi fraktur. Keadaan demikian umumnya banyak terjadi pada
wanita pascamenopause dan laki-laki berusia tua, akan tetapi wanita memiliki
risiko lebih tinggi dibanding pria. Penyebab utama osteoporosis adalah
menurunnya kadar estrogen, yang terjadi ketika wanita memasuki usia tua.
Perubahan kadar estrogen ini menyebabkan massa tulang menurun. Selain
disebabkan oleh defisiensi estrogen, osteoporosis juga disebabkan oleh defisiensi
kalsium (Ca) dan vitamin D, yang semuanya itu akan memperberat keadaan
osteoporosis (Winarsi 2005).
Salah satu terapi untuk mengobati atau mencegah osteoporosis adalah
dengan Estrogen Replacement Therapy (ERT), akan tetapi penggunaan ERT
memberikan risiko dan efek yang tidak menyenangkan, dan bahkan memicu
munculnya sel kanker (Lien dan Lien 1996). Hasil penelitian epidemiologis di
negara barat menunjukkan bahwa kejadian osteoporosis lebih rendah pada
populasi yang dietnya tinggi kedelai dibanding dengan populasi yang dietnya
rendah kedelai (Tham et al. 1998).
56
Deoxyribonuceic Acid (DNA) dan Ribonuceic Acid (RNA)
Asam deoksiribosanukleat (DNA) adalah komponen kromosom yang
membawa pesan genetik untuk semua sifat-sifat yang diwariskan oleh sel dan
turunannya. Setiap kromosom mengandung sebuah segmen heliks ganda DNA.
Untuk heliks ganda DNA tidak saja memperbanyak dirinya, tetapi berfungsi juga
sebagai cetakan dengan menjejerkan basa-basa komplementer di inti untuk
membentuk messenger RNA (mRNA), transfer RNA (tRNA) dan RNA dalam
ribosom (rRNA) dan berbagai RNA jenis lain (Ganong 2003).
Untuk mengevaluasi adanya suatu pertumbuhan atau perkembangan dari
suatu jaringan dapat dihitung dari kandungan DNA-nya dengan asumsi bahwa
kandungan DNA per sel adalah konstan atau tetap. Menurut Rastogi (2007), salah
satu penuaan pada tingkat molekuler dapat dilihat dari perubahan kuantitatif asam
nukleat. Jumlah DNA per sel pada setiap spesies adalah konstan. Kehilangan
DNA atau RNA per organ menggambarkan pada penurunan efisiensi fungsional.
Tikus sebagai Hewan Model
Rodgers et al. (1993) memberikan tiga kategori utama pemeliharan hewan
sebagai hewan model penyakit manusia, yaitu 1) convenience, 2) comparability,
3) appropriateness. Rachman (1999) menyatakan bahwa penelitian klinik pada
bidang biomedis dengan objek langsung menggunakan manusia mempunyai
kesulitan karena beberapa faktor kendala, antara lain jenis pakan beragam, pola
makan tidak bisa diatur, faktor lingkungan dan risiko sangat riskan.
Secara luas pada bidang biomedis, tikus ovariektomi merupakan model
juvenile osteopenia (Cesnjaj et al. 1991), dan dapat menjadi model wanita
pascamenopause (Devareddy et al. 2008). Kalu et al. (1993) dan Dempster et al.
(1995) menyatakan bahwa ovariektomi akan menyebabkan perubahan dan
penurunan volume tulang, peningkatan jumlah osteoklas, serta peningkatan kadar
enzim alkalin fosfatase serum. Arjmandi et al. (1996) melaporkan bahwa
ovariektomi kedua ovarium pada tikus percobaan akan menginduksi osteoporosis
pada trabekula tulang rahang karena ovariektomi akan menstimulasi kerja
osteoklas. Ovariektomi menyebabkan kehilangan massa tulang di daerah
trabekula tetapi tidak terjadi pada tulang kortikal.
57
Download