ISSN 1829-5282 193 PENGARUH TINGKAT STRES

advertisement
ISSN 1829-5282
193
PENGARUH TINGKAT STRES GURU TERHADAP MANAJEMEN
KELAS DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Oleh :
Didith Pramunditya Ambara
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja - Bali
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah tingkat stres guru dapat
mempengaruhi manajemen kelas. Subjek dari penelitian ini adalah guru-guru di
Sekolah Menengah Atas Negeri di wilayah kotamadya Yogyakarta dengan
kriteria : (1) mengajar secara rutin di ruang kelas, (2) telah bekerja minimal 3
tahun, dan (3) berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Sebanyak 179 orang guru ikut
berpartisipasi sebagai sampel penelitian yang berasal dari 6 SMA Negeri di
Kotamadya Yogyakarta. Pengambilan sampel menggunakan teknik klaster
(cluster random sampling). Instrumen yang digunakan adalah skala tingkat stres
dan skala manajemen kelas. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis
menggunakan teknik Regresi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tingkat stres
dapat menjadi prediktor yang signifikan bagi manajemen kelas. Berdasarkan hasil
pengujian hipotesa ternyata tingkat stres menjadi prediktor dengan arah korelasi
negatif bagi manajemen kelas berdasarkan nilai Pearson correlation = - 0.378
dengan nilai signifikansi = 0.000 dan p< 0.05.
Kata kunci : manajemen kelas, tingkat stres guru, sekolah menengah atas
1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan
upaya sosial, politik, dan kultural untuk
mencerdaskan kehidupan sebuah bangsa sehingga menghasilkan sumber daya
manusia yang berkualitas. Atas dasar inilah maka pendidikan yang mampu
menghasilkan kualitas terbaik dari manusia Indonesia diperlukan sehingga kita
sebagai sebuah bangsa bisa sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya, mampu
melaksanakan pembangunan nasional di berbagai sektor dan menghadapi
tantangan kehidupan bermasyarakat dalam era globalisasi. Manusia Indonesia
yang berkualitas merupakan aset bangsa dan negara yang tidak ternilai. Sebagai
aset bangsa dan negara yang tidak ternilai maka produktivitas dan kualitas
lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan ikut menentukan pencapaian kualitas
sumber daya manusia melalui proses pembelajaran sepanjang waktu. Proses ini
dapat dilakukan melalui jalur sekolah dan luar sekolah, secara lebih spesifik
mengarah kepada kegiatan pembelajaran di kelas (Surjana, 2002). Proses
pembelajaran ini menentukan keberhasilan peningkatan kualitas belajar siswa dan
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
194
para lulusannya sehingga menjadi inti kegiatan suatu sekolah atau kelas.
Kegiatan pembelajaran di kelas membutuhkan kompetensi memadai dari guru
sebagai pelaku utama. Dalam kaitannya dengan kompetensi guru maka
pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor
19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Didalamnya disebutkan
bahwa guru adalah pendidik profesional. Dalam Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bab VI pasal 28 ayat
3 dinyatakan bahwa guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini harus memiliki empat
kompetensi meliputi :
1) kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran siswa
2) kompetensi kepribadian adalah kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif,
dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia
3) kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam
4) kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan siswa,
sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali siswa dan
masyarakat sekitar
Pentingnya penguasaan guru atas ke empat kompetensi diatas kemudian
diwujudkan melalui program sertifikasi guru yang dicanangkan oleh pemerintah
sebagai bagian dari peningkatan kualitas guru. Sebagai penuntun bagi pelaksanaan
program sertifikasi guru maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan
Nasional mengeluarkan panduan penyusunan perangkat portofolio guru.
Didalamnya ada dua komponen penting yang berkaitan dengan kegiatan
pembelajaran di kelas yaitu perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Secara rinci disebutkan bahwa perencanaan pembelajaran yaitu persiapan
mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap
muka. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola
pembelajaran di kelas dan pembelajaran individual.
Berdasarkan gambaran dari perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di
kelas diatas maka dapat disimpulkan bahwa keduanya mengutamakan kompetensi
guru dalam mengelola pembelajaran di kelasnya. Ahli-ahli pendidikan di dunia
barat lebih sering menggunakan istilah manajemen kelas daripada istilah
mengelola kelas sebagaimana yang diungkapkan oleh Lefrancois. Lefrancois
(2000) mendefinisikan manajemen kelas sebagai istilah umum yang mengarah
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
195
kepada semua tindakan guru untuk mengorganisasi kelasnya dan instruksiinstruksi yang digunakan serta pemanfaatan waktu secara efektif dan
menyenangkan sehingga memaksimalkan pembelajaran.
Weinstein (2003) mengemukakan bahwa manajemen kelas yang efektif
akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Manajemen kelas yang efektif juga
diyakini dapat mendorong keaktifan siswa yang pada akhirnya mendukung
terciptanya pembelajaran yang optimal (Miller & Hall, 2005).
Namun saat ini guru menghadapi banyak permasalahan yang berkaitan
dengan pengelolaan pembelajaran di kelas, berdasarkan data awal yang
didapatkan melalui wawancara dengan
beberapa guru SMA Negeri di
Yogyakarta, peneliti mengidentifikasi masalah kedisiplinan siswa yang sering
dialami oleh guru ketika mengajar yaitu siswa kurang perhatian, masuk kelas
terlambat, siswa berbicara dengan temannya yang tidak terkait pelajaran,
menggunakan telepon genggam secara diam-diam, tidak mengumpulkan tugas
secara tepat waktu, serta mencontek saat ulangan.
Apa yang dialami oleh guru-guru SMA diatas sejalan dengan pendapat
Goldstein bahwa perilaku kurang disiplin yang dikeluhkan guru paling sering
terjadi di ruang kelas adalah kurang perhatian (inattention), aktivitas berlebihan
(overactivity) dan ketidakpatuhan (noncompliance) (Goldstein dalam Little &
Akin-Little, 2008). Kondisi ini sesungguhnya tidak perlu terjadi atau dapat
diminimalisasikan apabila guru sebagai pengelola pembelajaran di kelas dalam
fungsi yang tepat (Surjana, 2002).
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pelaksanaan manajemen kelas
diperlukan eksplorasi awal tentang hal-hal apa saja yang mampu memprediksi
pelaksanaan manajemen kelas. Pelaksanaan manajemen kelas sendiri menurut
Jones dan Jones (1998) dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya tingkat
stres yang dialami oleh guru. Guru semakin mengalami peningkatan stres kerja di
sekolah selain yang diakibatkan oleh tekanan dan tuntutan yang muncul dari luar
lingkungan sekolah seperti masalah pribadi, keluarga atau masalah ekonomi
(Bernard, 1990). Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yoon tahun 2002
terhadap guru-guru di Amerika mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan
antara guru yang stres dengan hubungan negatif (negative relationships) antara
guru dengan siswa. Hubungan negatif (negative relationships) antara guru dengan
siswa dapat diprediksikan oleh stres pada guru (Yoon, 2002). Yoon menemukan
bahwa tingkat stres pada guru memprediksikan jumlah siswa yang mempunyai
hubungan yang negatif (negative relationships) dan bukan jumlah siswa yang
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
196
mempunyai hubungan baik (good relationships) dengan gurunya. Terjadinya
hubungan negatif antara siswa dengan guru tidak sejalan dengan pendapat Glasser
(dalam Glover & Bruning, 1990) yang menekankan pentingnya kedekatan secara
pribadi dengan siswa (be personal) untuk keberhasilan program manajemen kelas
sehingga dapat disimpulkan hubungan negatif antara guru dengan siswa dapat
menghambat pelaksanaan manajemen kelas.
Uraian di atas menunjukkan adanya hubungan tingkat stres dengan
manajemen kelas. Berdasarkan hubungan antara tingkat stres dengan manajemen
kelas yang diungkapkan diatas maka peneliti menentukan hipotesa penelitian ini
adalah tingkat stres dapat mempengaruhi manajemen kelas guru.
Untuk kepentingan penelitian, maka peneliti menggunakan definisi yang
dikemukan oleh Evertson (2001), yang menyatakan bahwa manajemen kelas
adalah serangkaian aktivitas dan karakteristik yang terwujud dalam tahap-tahap
perencanaan, penerapan peraturan dan cara-cara mempertahankan kondisi kelas.
Sesuai dengan definisi diatas, maka aspek-aspek manajemen kelas yang dipakai
dalam penelitian ini adalah (Evertson, 2001) :
a) Perencanaan (dilakukan sebelum sekolah dimulai)
b) Menyampaikan peraturan, prosedur, dan harapan (permulaan sekolah)
c) Menjaga berjalannya sistem (sepanjang tahun ajaran)
Untuk selanjutnya aspek-aspek manajemen kelas ini akan dijadikan dasar
untuk membuat instrumen manajemen kelas. Terkait dengan pelaksanaan
manajemen kelas maka ada beberapa faktor yang ikut menentukan pelaksanaan
manajemen kelas oleh guru di ruang kelas. Menurut Jones dan Jones (1998)
faktor-faktor dibawah ini akan mempengaruhi guru ketika mereka mengadaptasi
konsep dan strategi manajemen kelas, yaitu :
a.
b.
Karakteristik dan kebutuhan siswa ; salah satu kunci penting manajemen
kelas yang sukses adalah pemahaman terhadap karakteristik dan kebutuhan
siswa. Guru harus bisa beradaptasi terhadap norma dan gaya pengasuhan
yang sudah lebih dulu dipelajari siswa di rumahnya.
Keadaan sekolah ; manajemen kelas sulit untuk dipisahkan dari masalahmasalah seperti iklim sekolah, struktur sekolah, pengambilan keputusan, dan
bentuk dukungan profesional yang diberikan di dalam sekolah. Sekolah yang
telah mengembangkan misi terpadu dan kerjasama untuk saling mendukung
dalam mencapai tujuan pembelajaran biasanya ditandai dengan kecilnya
masalah perilaku siswa. Lebih lanjut ditemukan bahwa perilaku siswa akan
lebih positif di sekolah-sekolah yang siswanya merasa mendapat dukungan
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
c.
197
dari struktur organisasi sekolahnya sendiri, siswa merasa memiliki
sekolahnya, dan memiliki aktivitas instruksional yang mampu melibatkan
siswa.
Karakteristik personal ; guru akan merefleksikan pengalaman pribadi mereka
sebelumnya ketika menerapkan manajemen kelas pada proses pembelajaran
di ruang kelas. Kaplan (1992, dalam Jones & Jones, 1998) melakukan
penelitian terhadap 156 guru magang (preservice) dan menemukan bahwa
pengalaman-pengalaman pribadi mengenai kedisiplinan yang pernah dialami
guru didalam keluarga mereka merupakan prediktor bagi strategi seperti apa
yang akan digunakan guru tersebut dalam manajemen kelasnya.
d. Pandangan guru atas tujuan dari pembelajaran atau pendidikan ; semua dasar
filosofis tentang belajar akan mempengaruhi pilihan dan strategi guru dalam
manajemen kelas.
Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa faktor-faktor yang berkaitan
dengan siswa, sekolah dan guru mempengaruhi pelaksanaan manajemen kelas.
Dengan berbagai hal yang mempengaruhi manajemen kelas, dapat dikatakan
bahwa setiap kelas memiliki dinamika masing-masing yang akan berbeda dengan
kelas lainnya.
Stres merupakan satu keadaan psikologis yang tidak menyenangkan dan
disebabkan oleh persepsi serta penilaian adanya ancaman karena ketidaksesuaian
antara tuntutan, baik berasal dari dalam maupun dari luar dirinya dengan
kemampuan diri seseorang dalam menghadapi tuntutan itu.
Stres jika dikaitkan dengan profesi guru dinyatakan sebagai akibat dari
interaksi individu sebagai seorang guru dalam bereaksi dan beradaptasi pada
tuntutan, ancaman dan perlakuan yang ditemui dalam pengajaran (Bernard, 1990).
Sedangkan tingkat stres pada guru akan diukur berdasarkan aspek-aspek reaksi
yang ditimbulkannya yaitu :
a) Reaksi stres fisiologis.
Gangguan fisiologis dapat dilihat pada orang yang
terkena stres antara lain adalah pencernaan terganggu, tekanan darah naik
atau serangan jantung, keringat berlebihan, selera makan berubah, lelah atau
kehilangan daya energi, kesalahan atau kekeliruan dalam kerja, gugup, mudah
luka, gangguan pernafasan, migrain, dan ketegangan otot.
b) Reaksi stres psikologis.
Gangguan psikologis mencakup sedih,
depresi, mudah menangis, hati merana, mudah marah, dan panas, gelisah,
cemas, rasa harga diri menurun, merasa tidak aman, terlalu peka, mudah
tersinggung, marah-marah, mudah menyerang.
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
198
c)
Reaksi stres perilaku. Gangguan perilaku mencakup ; kecemasan yang
tinggi saat mengajar ditandai dengan kurangnya dukungan verbal untuk
siswa, perilaku dan pembicaraan yang bermusuhan, rendahnya kehangatan
guru dalam menjalin hubungan dengan siswa, penerapan yang kurang efektif
dari hukuman dan rewards serta perilaku fanatik dan otoriter (dogmatic and
authoritarian behavior).
Riset pada beberapa dekade terakhir atas penyebab stres pada guru telah
menunjukkan empat sumber stres utama yaitu (Bernard, 1990) :
1) Pihak birokrasi dalam hal ini para pembuat kebijakan pendidikan atau
departemen pemerintah yang bertanggungjawab atas bidang pendidikan di
suatu negara. Mereka sering mengajukan perubahan yang terlalu banyak dan
drastis kepada sekolah dimana banyak guru mempersepsinya sebagai kondisi
yang sangat menekan (stressfull).
2) Organisasi sekolah sendiri ikut berperan juga sebagai sumber stres seperti
gaya kepemimpinan dari pengelola sekolah , maksud dan kejelasan dari misi
sekolah, hubungan antar staff dan beban kerja, kesemuanya itu ikut
berpengaruh pada tingkat stres guru.
3) Ruang kelas dengan disiplin dan motivasi rendah pada siswanya juga
menjadi sumber utama bagi stres pada guru.
4) Faktor dalam individu guru sendiri yang meliputi sikap terhadap diri sendiri,
orang lain dan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugasnya termasuk
didalamnya kebutuhan untuk diakui juga terlihat ikut berperan bagi
masuknya stres dalam pekerjaan guru.
Sebuah penelitian qualitatif terhadap 100 orang guru setingkat SD dan
SMP di Inggris yang bertujuan untuk mengidentifikasi sumber stressor utama
pada stres guru-guru di sekolah menemukan adanya 8 faktor penyebab yaitu : (1)
hubungan antara guru dengan siswa, (2) hubungan dengan teman sejawat, (3)
hubungan dengan orangtua dan komunitas yang lebih luas, (4) kemunculan
inovasi dan perubahan yang cepat, (5) manajemen sekolah dan administrasi, (6)
waktu dalam pengajaran, (7) lingkungan sekolah, (8) Persepsi dan perasaan
pribadi (Brown dkk., 1999). Terkait dengan manajemen kelas, tampaknya faktor
hubungan personal antara guru dengan siswa yang tercermin dalam interaksi
sehari-hari di kelas memegang peranan signifikan bagi penyumbang stres guru.
Berdasarkan hal di atas dapat maka dapat disimpulkan bahwa stres kerja
pada profesi guru dapat bersumber dari individu itu sendiri, dari pekerjaan dan
lingkungan.
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
199
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan tidak ada perlakuan yang
diberikan kepada sampel penelitian. Teknik analisis statistik yang digunakan
adalah analisis regresi linear berganda untuk melihat kemampuan prediksi dari
variabel prediktor terhadap variabel kriteria. Asumsi yang harus dipenuhi adalah
normalitas dan linieritas data.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala.
Skala yang digunakan untuk mengungkapkan variabel bebas yaitu skala tingkat
stres. Skala yang digunakan untuk mengungkapkan variabel tergantung yaitu
skala manajemen kelas.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah
teknik klaster (cluster random sampling) yaitu melakukan randomisasi terhadap
kelompok, bukan terhadap subjek secara individual (Azwar, 2009). Peneliti
melakukan randomisasi terhadap SMA-SMA Negeri yang ada di wilayah
kotamadya Yogyakarta sebagai subkelompok populasi. Populasi yang memenuhi
syarat terdiri dari 11 SMA Negeri dengan target sampel adalah 50 % dari populasi
sehingga bila dihitung dengan pembulatan keatas berjumlah 6 SMA Negeri yang
diambil secara random dari 11 SMA yang ada. Metode random dilakukan dengan
cara mengundi nama-nama sekolah dalam populasi. Sampel penelitian adalah 179
orang guru dari 6 SMA Negeri di wilayah Kotamadya Yogyakarta dengan kriteria
: bertugas mengajar bidang studi tertentu, minimal telah bekerja selama 3 tahun,
dan berstatus PNS.
Berdasarkan jenis kelamin diketahui bahwa jumlah sampel wanita adalah
99 orang (55.3%) dan jumlah sampel pria adalah 80 orang (44.7%). Dalam
penelitian, rentang usia sampel adalah dari 24 tahun sampai dengan 61 tahun.
Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa sampel dengan rentang usia 50-59
tahun paling banyak jumlahnya yaitu 82 orang (46.1%) dan yang paling sedikit
jumlahnya adalah sampel dengan rentang usia 60 tahun ke atas yaitu 2 orang
(1.1%). Sampel dengan rentang usia 20-29 tahun berjumlah 8 orang (4.5%),
rentang usia 30-39 tahun berjumlah 29 orang (16.3%) dan rentang usia 40-49
tahun berjumlah 57 orang (31.8%). Dalam penelitian ini sampel dengan periode
kerja 26-30 tahun adalah kelompok terbanyak dengan jumlah 40 orang (22.3%),
sedangkan sampel dengan periode kerja 36-40 tahun adalah kelompok dengan
jumlah terkecil yaitu 1 orang (0.6%). Tingkat pendidikan para sampel penelitian
bervariasi mulai dari tingkat Diploma Tiga (D3) hingga tingkat Pasca Sarjana
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
200
(S2). Jumlah terbanyak adalah sampel dengan tingkat pendidikan Sarjana (S1)
yaitu 167 orang (93.3%), disusul tingkat Pasca Sarjana (S2) sebanyak 11 orang
(6.1%), dan terakhir tingkat Diploma Tiga (D3) sebanyak 1 orang (0.6%).
Berdasarkan bidang studi yang diajarkan oleh masing-masing subjek maka dapat
diketahui bahwa guru bidang studi yang paling banyak menjadi subjek adalah
guru matematika sebanyak 21 orang (11.7%).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisa korelasi dengan menggunakan teknik Pearson Correlation
menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara variabel tingkat stres dengan
manajemen kelas mempunyai nilai sebesar - 0.378 dengan p = 0.000 (p<0.05)
artinya korelasi keduanya mempunyai arah negatif dan signifikan. Kenaikan pada
skor variabel tingkat stres akan menurunkan skor pada variabel manajemen kelas
dan penurunan pada skor variabel tingkat stres akan menaikkan skor pada
variabel manajemen kelas. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel tingkat
stres mempunyai sumbangan efektif sebesar 14.3 % (R square = 0.143) terhadap
variabel manajemen kelas. Hipotesa kemudian diuji dengan teknik ANOVA
(Analysis of Variance) untuk menguji signifikansi model variabel bebas dalam
memprediksi variabel tergantung. Analisa dengan teknik ANOVA menunjukkan
nilai Fhitung=29.557 dan p = 0.000 (p < 0.05). Berdasarkan data itu disimpulkan
bahwa model variabel bebas dalam memprediksi variabel tergantung mempunyai
hubungan yang signifikan pada taraf signifikansi 0.05. Dengan adanya hubungan
yang signifikan maka tahap selanjutnya adalah menentukan persamaan regresi
dari kedua variabel itu.
Tabel 1. Analisa Persamaan Regresi Hipotesa
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
1 (Constant)
B
Std. Error
113.849
3.251
tingkat stres
-.395
.073
guru
a. Dependent Variable: manajemen kelas
Beta
t
Sig.
35.021 .000
-.378
-5.437 .000
Tabel 1 menyajikan informasi sebagai berikut :
- Nilai B Constant = 113.849 menyatakan bahwa jika tingkat stres diabaikan,
maka skor manajemen kelas sampel penelitian adalah 113.849
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
201
- Nilai B tingkat stres = -0.395 menyatakan bahwa jika skor pada variabel
tingkat stres meningkat satu satuan, maka skor manajemen kelas menurun
sebesar -0.395 satuan.
- Berdasarkan informasi dari tabel 1 maka persamaan regresi antara manajemen
kelas dengan tingkat stres adalah :
Manajemen Kelas = 113.849 - 0.395 tingkat stres
Berdasarkan tabel 1 juga dapat terlihat status penerimaan hipotesis penelitian.
Pada nilai t untuk tingkat stres terlihat nilai thitung= -5.437dan nilai p= 0.000 ( p
<0.05), artinya nilai koefisien pada tingkat stres sebesar -0.395 adalah signifikan
dan mempunyai arah negatif untuk memprediksi manajemen kelas, maka hipotesa
penelitian dapat diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel tingkat stres
dapat digunakan sebagai prediktor dengan arah korelasi negatif untuk
memprediksi manajemen kelas.
Penemuan ini tidak jauh berbeda dengan hasil-hasil riset sebelumnya
mengenai dampak stres pada guru terhadap pengajaran dan pembelajaran siswa di
ruang kelas. Dampak stres pada guru terkait dengan tugas dan tanggungjawabnya
dalam pendidikan berdasarkan hasil-hasil riset yang pernah dilakukan beberapa
peneliti meliputi ketidakpuasan dalam mengajar, mempunyai frekuensi absen
yang lebih besar dan cenderung meninggalkan tugasnya (Borg & Riding, 1991);
berdampak kepada kepribadian guru seperti kurangnya kehangatan, semangat, dan
sensitivitas, sifat otoriter dan kekakuan yang berlebihan (Smith dalam Wiley,
2000) ; kemunduran dalam hasil kerja dan hubungan interpersonal (Wiley, 2000);
penurunan pencapaian profesional, kurangnya kesabaran dan simpati terhadap
siswa serta rekan kerja, pengabaian sikap menghargai, dan penarikan diri dari
aktivitas personal (Linde, 2000); buruknya kinerja pengajaran, rendahnya
kepercayaan diri, rendahnya kepuasan kerja , buruknya pembuatan keputusan dan
penilaian yang jelek (Brown dkk., 1999). Hal ini menunjukkan bahwa stres dapat
berdampak negatif pada guru secara individual, pada sekolah dimana mereka
bekerja dan pada siswa yang mereka ajar (Santavirta dkk., 2007).
Sumbangan efektif tingkat stres yang hanya mencapai 14.3 %
kemungkinan diakibatkan oleh adanya variabel-variabel lain yang lebih berperan
dalam manajemen kelas. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Nolan
(1991) ada tiga hal yang akan mempengaruhi pelaksanaan manajemen kelas yaitu,
karakteristik siswa, karakteristik guru, dan kondisi lingkungan. Karakteristik
demografi dari guru meliputi : usia, jenis kelamin, rentang waktu pengalaman
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
202
mengajar, status pekerjaan.
Selain itu penelitian lain menunjukkan bahwa variabel lain yang dapat
memprediksi efektiftas manajemen kelas guru adalah pelatihan kompetensi
mengajar yang diberikan kepada guru (Slider dkk., 2006). Variabel lain yang
ditemukan berpengaruh terhadap manajemen kelas adalah pengalaman mengajar.
Hal ini ditunjukkan dalam penelitian Luo, Bellows, dan Grady (2000).
Pengalaman mengajar akan memberikan pengetahuan tentang strategi-strategi
tertentu dalam menghadapi siswa dan kelas, sehingga guru lebih mampu
melaksanakan manajemen kelas yang efektif.
4. PENUTUP
Hasil uji analisis menunjukkan bahwa tingkat stres mempunyai sumbangan
efektif sebesar 14.3 % terhadap efektifitas manajemen kelas. Nilai koefisien pada
tingkat stres sebesar -0.395 adalah signifikan dan mempunyai arah negatif untuk
memprediksi manajemen kelas. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel tingkat
stres dapat digunakan untuk memprediksi manajemen kelas dengan arah korelasi
negatif artinya bila tingkat stres meningkat akan mengakibatkan efektifitas
manajemen kelas menurun. Kondisi ini didukung pula oleh studi lain yang
menunjukkan bahwa stres pada guru mempunyai korelasi yang signifikan dengan
rendahnya kualitas hubungan guru dengan siswa dan berkorelasi negatif dengan
kehangatan guru sehingga guru akan kurang mendapatkan kerjasama dari
siswanya sendiri untuk mengelola kelas. Tingkat stres yang tinggi pada guru
menjadi faktor negatif bagi penerapan manajemen kelas karena mengurangi
efektifitas manajemen kelas.
Pada bagian ini peneliti menyampaikan saran-sarannya terkait dengan hasil
penelitian yang didapatkan yaitu :
1) Mengetahui bahwa peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui
kemampuan manajemen kelas secara efektif dipengaruhi oleh tingkat stres
maka diperlukan pembekalan tambahan mengenai pengembangan metodemetode dalam mengurangi stres atau menghadapi stres dalam pekerjaan.
2) Pengaruh tingkat stres secara negatif terhadap implementasi manajemen kelas
oleh guru membutuhkan penanganan secara individual dan organisasi sekolah.
Secara individual maka ada dua teknik mengatasi stres yang bisa dilatihkan
kepada guru yaitu : teknik tindakan langsung (direct action techniques) dan
teknik palliative. Teknik tindakan langsung mengarah kepada hal-hal yang
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
203
berhubungan dengan usaha guru menghilangkan sumber stres. Sedangkan
teknik palliative lebih cenderung berfokus untuk mengurangi perasaan stres
yang terjadi tanpa menghilangkan sumbernya. Pada penanganan secara
organisasi maka sekolah perlu membentuk suasana lingkungan sosial yang
mendukung guru untuk saling berbagi perhatian, sehingga para guru bisa
mendapatkan bantuan saran-saran dari rekan sejawatnya terutama yang sudah
berhasil mengatasi stres. Selain itu sekolah bisa mengembangkan penyediaan
pelayanan jasa konseling kepada guru atau staf yang mengalami tingkat stres
tinggi. Pelayanan konsultasi salah satunya bisa dilakukan melalui saluran
telepon selain dengan cara tatap muka dengan psikolog. Anggaran pelayanan
bisa didanai oleh pemerintah pusat, otoritas pendidikan setempat dan iuran
dari para guru. Dengan demikian semua guru bisa mendapatkan jasa konseling
gratis atas masalah-masalah stres yang dialaminya. Diharapkan dengan
menurunkan tingkat stres bisa menghilangkan atau setidaknya mengurangi
faktor yang menghambat dan mengganggu implementasi manajemen kelas
oleh guru di sekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S.(2009). Metode Penelitian (Edisi 1, Cetakan IX). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Bernard, M.E. (1990). Taking Stress Out of Teaching. School of education,
University of Melbourne. Australia : Collins Dove.
Brown, M., Ralph, S., and Brember, I. (1999). Change-linked work-related stress
in British teachers. Research in Education, 67. Faculty of Education,
University of Manchester. Manchester : Oxford Road.
Borg, M. G., & Riding, R. J. (1991) Occupational stress and satisfaction in
teaching. British Educational Research Journal, 17 (3).
Evertson, C. (2001). Training teachers in classroom management : an
experimental study in secondary school classrooms. Journal of Educational
Research , 51-58.
Glover, J.A., & Bruning, R.H. (1990). Educational Psychology : Principles and
Applications. United States of America : Harper Collins Publishers.
Jones, V., & Jones, L. (1998). Comprehensive Classroom Management : creating
communities of support and solving problems. Boston: Allyn and Bacon.
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
ISSN 1829-5282
204
Lefrancois, G.R. (2000). Psychology for Teaching (10th ed.). USA : Wadsworth
Thomson Learning.
Little, S.G. & Akin-Little, A. (2008). Psychology’s contributions to classroom management.
Psychology in the Schools, 45 (3).
Luo, J., Bellows, L., & Grady, M. (2000). Clasroom management issues for
teaching assistants. Research in Higher Education , 41 (3), 353-383.
Miller, G., & Hall, T. P. (2005). Classroom Management. Boston : National
Center on Accessing the General Curriculum and U.S. Office of Special
Education Programs.
Santavirta, N., Solovieva, S. & Theorell, T. (2007). The association between job
strain and emotional exhaustion in a cohort of 1,028 finnish teachers. British
Journal of Educational Psychology, 77, 213–228.
Surjana, A. (2002). Efektivitas pengelolaan kelas . Jurnal Pendidikan Penabur, 1.
Tahun I.
Slider, N.J., Noell, G.H., & Williams, K.L. (2006). Providing practicing teachers classroom
management professional development in a brief self-study format. Journal Behaviour
Education, 15, 215–228.
Weinstein, C. S. (2003). Secondary classroom management. New York: McGrawHill.
Wiley, C. (2000). A synthesis of research on the causes, effects, and reduction
strategies of teacher stress. Journal of Instructional Psychology, 27(2), 80.
Yoon, J.S. (2002). Teacher characteristics as predictors of teacher-student
relationships: stress, negative affect, and self-efficacy. Social Behavior and
Personality, 30 (5), 485. Palmerston North.
______________________________________________________________________________
Pengaruh Tingkat Stres Guru ..................................... Didith Pramunditya Ambara (193 - 204)
Download