naskah publikasi perbedaan kecerdasan adversity antara etnis cina

advertisement
NASKAH PUBLIKASI
PERBEDAAN KECERDASAN ADVERSITY ANTARA ETNIS
CINA DAN JAWA DALAM BERWIRAUSAHA
Oleh:
HARIZ ENGGAR WIJAYA
ULY GUSNIARTI
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2007
2
NASKAH PUBLIKASI
PERBEDAAN KECERDASAN ADVERSITY ANTARA ETNIS
CINA DAN JAWA DALAM BERWIRAUSAHA
Telah Disetujui pada Tanggal
Dosen Pembimbing Utama
(Uly Gusniarti, S.Psi., M.Si.)
3
PERBEDAAN KECERDASAN ADVERSITY ANTARA ETNIS CINA DAN JAWA
DALAM BERWIRAUSAHA
Hariz Enggar Wijaya
Uly Gusniarti
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada perbedaan kecerdasan
adversity antara etnis Cina dan Jawa dalam berwirausaha. Hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kecerdasan adversity antara
etnis Cina dan Jawa dalam berwirausaha.
Subyek dalam penelitian ini adalah wirausahawan dari kalangan etnis Cina
dan Jawa yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Magelang.
Tehnik sampling yang digunakan adalah tehnik purposive sampling. Jumlah
keseluruhan subjek terdiri atas 49 orang dengan pembagian subjek 29 orang dari
etnis Jawa dan 20 orang dari etnis Cina. Adapun skala yang digunakan adalah
skala kecerdasan adversity yang mengacu pada teori Stoltz (2000) dengan empat
aspek kecerdasan adversity.
Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan
analisis uji t - test melalui prosedur independent samples t-test program dari
SPSS 11,0 for Windows untuk menguji apakah terdapat perbedaan kecerdasan
adversity antara etnis Cina dan Jawa dalam berwirausaha. Analisis data
menunjukkan bahwa nilai t = 0,598 (p = 0,552 atau p > 0,01). Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kecerdasan adversity antara etnis
Cina dan Jawa dalam berwirausaha, sehingga dengan demikian hipotesis yang
diajukan ditolak.
Kata Kunci : Kecerdasan Adversity, Etnis Cina, Etnis Jawa, Wirausaha
4
PENGANTAR
Latar Belakang Masalah
Dunia usaha yang juga dikenal dengan istilah wirausaha, memiliki peran
yang cukup signifikan dalam perekonomian suatu bangsa. Maju mundurnya taraf
ekonomi negara bisa ditakar dengan melihat ilkim usaha yang ada. Arti penting
dunia usaha tersebut bukanlah semata-mata karena ia bisa menjadi alternatif
jalan kesuksesan di mata pencari kerja, melainkan juga karena kontribusinya
secara menyeluruh terhadap laju ekonomi suatu bangsa. McClelland (Waseso,
1986) menyebutkan bahwa wirausaha merupakan faktor penting yang menjadi
pendorong pertumbuhan ekonomi bangsa, bahkan menurut Schumpeter
(Waseso, 1986), aktivitas wirausahalah yang menjadi penyebab terjadinya
industrialisasi di Barat.
Beberapa negara maju seperti Jepang, memperlihatkan peran swasta yang
dominan dalam mendongkrak ekonomi bangsa.
Menurut Alma (2003) kunci
sukses ekonomi mereka dikendalikan oleh dunia usaha. Jepang memiliki sumber
daya manusia yang memadai di sektor swasta. Program ekonomi disponsori oleh
wirausahawan tingkat sedang, dengan jumlah yang mencapai 2% dari total
penduduk Jepang dan wirausahawan tingkat kecil dengan jumlah yang
mencapai 20% dari total penduduk Jepang.
Kondisi tersebut jelas berbeda dengan kondisi dunia usaha yang ada di
Indonesia. Secara kuantitatif jumlah usaha yang tengah berjalan saat ini
terbilang cukup banyak (lihat tabel 1).
5
Tabel 1
Profil UKM DIY dan Nasional 2004
Jenis usaha
Deskripsi
Jumlah
Tenaga kerja
Investasi
UKM
18.929 unit
99,3%
33.094
1,9%
Rp 21,83
milliar
DIY
Total industri
19.061 unit
100%
1,7 juta
100%
Rp 2,25 juta
per unit usaha
Nasional
UKM
Total industri
43,22 juta unit 43,28 juta unit
99,8%
100%
79,06 juta
93,72 juta
84%
100%
Rp 67,1
triliun
Rp 1,6 juta per
unit usaha
(Sumber: Kompas, 24/12/2005)
Hanya saja jumlah tersebut belumlah memadai jika mengikuti pola
perbandingan usaha yang ada di Jepang, yaitu berarti dibutuhkan setidaknya tiga
juta wirausahawan sedang dan besar serta 30 juta wirausahawan kecil di
Indonesia. Fenomena ini cukup manarik dicermati. Sektor usaha dengan skala
besar didominasi oleh pengusaha keturunan Cina, sedangkan pengusaha
berskala menengah ke bawah dominan warga pribumi.
Secara teoritik Stoltz
(2000) telah menekankan peran adversity dalam usaha mencapi kesuksesan,
termasuk dalam hal ini adalah wirausaha. Oleh karenanya, kecerdasan adversity
para pengusaha kedua etnis tersebut menarik untuk dikaji.
Beberapa penelitian yang mengkomparasikan wirausaha antara etnis Cina
dan Jawa telah dilakukan.
Prabowo (Alma, 2003) misalnya, membandingkan
bagaimana sikap dan perilaku wirausaha pribumi dan nonpribumi. Ia melihat
wirausaha Indonesia masih menemui hambatan di lapangan. Menurutnya,
kelemahan secara umum wirausahawan Indonesia bersumber pada lima hal:
mentalitas yang suka meremehkan mutu, mentalitas yang suka menerabas, sifat
6
tidak pecaya pada diri sendiri, disiplin diri yang tidak murni, serta sifat
mengabaikan tanggung jawab yang tinggi.
As’ad (2003) secara ringkas mendeskripsikan adanya sikap mental orang
Jawa yang tidak mendukung wirausaha, yaitu mengambil keuntungan jangka
pendek, cepat merasa puas, serta sikap anti resiko.
Hal ini menurutnya karena
orang Jawa lebih meletakkan pentingnya hubungan dengan orang lain sehingga
menumbuhkan sikap mental untuk lebih tergantung pada koneksi daripada rasa
percaya terhadap kemampuan diri sendiri.
Persoalan lain yang bisa menghambat iklim wirausaha adalah keyakinan diri
individu. Koentjaraningrat (1984) melihat bahwa orang Jawa memiliki keyakinan
hidup yang cenderung bersifat pasif.
Keyakinan tersebut tergambar dari
konsepsi hidup yang rela, narima, dan sabar.
Berbeda dengan itu, pada umumnya orang Cina memang dikenal memiliki
sifat ulet dalam usaha.
Willmoth seperti yang dikutip Martaniah (1984)
memandang orang Cina di Jawa lebih kompetitif. Di samping itu mereka juga
mempunyai usaha yang besar dan sangat mengusahakan prestasi, serta
mempunyai tingkat aspirasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang Jawa.
Hal lain yang mendorong sikap ulet orang Cina adalah faktor keyakinan dari
ajaran Kong Hu Cu. Hidayat (Martaniah, 1984) menyatakan bahwa dalam ajaran
Kong Hu Cu, yang banyak dianut oleh orang-orang keturunan Cina,
mengajarkan bahwa tiap-tiap individu harus mengembangkan kecakapan dan
ketrampilan semaksimal mungkin sesuai dengan status sosialnya. Orang Cina
semenjak dulu sudah diberi keyakinan bahwa mereka adalah pusat pemerintahan
dunia, maka di manapun mereka berada harus melebihi tingkat hidup kaum
7
pribumi. Oleh karena itu mereka bekerja keras, tekun, dan sabar serta hemat
supaya tingkat kehidupannya menonjol.
Latar belakang budaya orang Cina dan Jawa memang berbeda.
Dalam
kategorisasi budaya yang dipakai oleh Alland (1973) pada sisi mental culture,
yaitu sistem kepercayaan individu dalam masyarakat yang secara aktual akan
membentuk sekumpulan aturan-aturan, jelas terlihat ada perbedaan antara
orang Cina dengan Jawa.
Perbedaan tersebut akan mempengaruhi sikap kerja
dan daya juang (adversity) dalam berwirausaha masing-masing etnis.
Sebab
kebudayaan bukan saja menjadi objek bentukan manusia, tetapi juga sekaligus
membentuk dan menentukan perilaku manusia.
Seperti pandangan Boesch
(Martaniah, 1984) terhadap kebudayaan yang didefinisikan sebagai cara manusia
membentuk dan meneropong lingkungannya, maka dari itu kebudayaan
merupakan hasil perilaku manusia pada satu sisi. Pada sisi lain kebudayaan juga
membentuk dan menentukan perilaku manusia.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa model keyakinan etnis Cina yang
menghendaki persaingan dan prestasi berbeda dengan tradisi Jawa yang
cenderung pasif dalam menghadapi hidup. Penelitian ini penting dilakukan guna
melihat apakah memang ada perbedaan kecerdasan adversity antara etnis Cina
dan Jawa dalam berwirausaha.
Pengertian Kecerdasan Adversity
Konsep kecerdasan adversity dikemukakan pertama kali oleh Stoltz (2000)
dengan istilah adversity quotient (AQ). Menurut Pulatie (Stoltz, 2000) adversity
quotient
merupakan
teori
sekaligus
ukuran
bermakna
dan
merupakan
8
seperangkat instrumen yang telah diasah untuk membantu seseorang supaya
tetap gigih dalam menghadapi berbagai tantangan.
Adversity
menurut
Kamus
Inggris-Indonesia
berarti
kesengsaraan,
kemalangan (Echols & Shadily, 2003). Sedangkan menurut The Contemporary
English-Indonesian Dictionary, kata adversity memiliki arti kesukaran, kesulitan,
kemalangan, atau kemiskinan (Salim, 1991).
Penggunaan kata quotient
mengarah kepada hasil pengukuran yang sudah dikelompokkan menurut suatu
norma-norma psikodiagnostik. Sehingga lebih tepat kemudian digunakan istilah
adversity intelligence (kecerdasan adversity) untuk menunjuk konsep adversity.
Kecerdasan adversity menurut Stoltz (2000) adalah kecerdasan seseorang
untuk mengambil keputusan dalam bertindak sehingga ia mampu bertahan dan
berusaha mengatasi kesulitan, kemudian akan mendorongnya untuk berusaha
mencapai keberhasilan di masa yang akan datang.
Grotberg (1999) menyebut kemampuan seseorang merespon kesulitankesulitan itu sebagai resilience. Ia mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas
manusia untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Konsep lain yang
semakna dengan adversity atau resiliensi adalah hardiness.
APA (2003)
menyebutkan bahwa hardiness merupakan kunci menuju resiliensi yang bukan
hanya berfungsi untuk bertahan hidup, tetapi juga mampu berkembang di bawah
tekanan. Sifat hardiness tersebut menurut Maddi memiliki tiga kunci keyakinan
yang membantu seseorang untuk merubah kesulitan menjadi kekuatan yang
bermanfaat, yaitu: komitmen, kontrol, dan sikap yang menyukai tantangan
(www.psychologymatters.org).
9
Berdasarkan beragam konsep respon individu terhadap kesulitan tersebut di
atas, penulis memilih menggunakan teori Stoltz tentang adversity dalam
penelitian ini. Mengingat konsep adversity lebih spesifik mengarah kepada usaha
individu menghadapi kesulitan-kesulitan hidup dalam dunia usaha dan kerja,
sesuai dengan fokus penelitian ini.
Kecerdasan adversity
dapat disimpulkan berdasarkan uraian sebelumnya
yaitu merupakan kemampuan dan ketahanan seseorang mengatasi segala
kesulitan hidup demi mencapai suatu tujuan atau kesuksesan tertentu.
Aspek-aspek Kecerdasan Adversity
Kecerdasan adversity terbentuk dari empat aspek.
Aspek-aspek itu
disingkat dengan akronim CO2RE yang merupakan kepanjangan dari Control,
Origin dan Ownership, Reach, Endurance.
a. Control (C) atau kendali
Aspek
ini
merupakan
suatu
perasaan
dalam
kemampuannya mengendalikan peristiwa yang sulit.
diri
seseorang
akan
Kendali atas situasi
yang sulit menjadi penentu sikap dan perilaku seseorang dalam merespon
keadaan. Ia berhubungan langsung dengan pemberdayaan dan pengaruh
serta mempengaruhi semua dimensi adversity lainnya
b. Origin dan Ownership (O2) atau asal-usul dan pengakuan
Aspek ini terdiri atas dua bagian yang saling mendukung. Pertama, origin
(asal-usul). Origin mempertanyakan siapa atau apa yang menjadi sumber
kesulitan. Asal-usul kesulitan tersebut terkait dengan rasa bersalah. Kedua,
ownership (pengakuan).
Aspek ini menggambarkan respon seseorang
10
setelah ia melihat kesalahan, apakah akan mengakuinya atau tidak. Individu
yang mengakui akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan mampu
mengambil tanggung jawab.
c. Reach (R) atau jangkauan
Reach merupakan aspek yang mempertanyakan sejauh mana kesulitan yang
dihadapi akan mempengaruhi sisi lain dari kehidupan individu.
d. Endurance (E) atau daya tahan
Aspek terakhir ini mengukur sejauh mana individu mampu bertahan dalam
kesulitan-kesulitan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Adversity
Stoltz mendeskripsikan suatu kesuksesan pada dasarnya mirip dengan
sebuah pohon.
Bagian paling atas menunjukkan kinerja seseorang, yang
dipengaruhi oleh bagian paling bawah (akar) tempat tumbuh pohon itu. Akar
kecerdasan adversity tersebut menurut Stoltz (2000) ada tiga hal:
a. Genetika
Genetika terkait dengan hereditas, yaitu pewarisan sifat-sifat tertentu dari
orang
tua
individu.
Selain
karakteristik
mempengaruhi sikap seseorang.
fisik,
faktor
genetik
turut
Kecerdasan adversity memang tidak
termasuk dalam kategori sifat yang diturunkan secara genetis sebagaimana
karakteristik fisiologis seseorang.
Hanya saja karena ia adalah hasil dari
proses belajar individu, maka pembentukannya membutuhkan kemampuan
dasar yang harus terpenuhi. Seperti misalnya adalah kecerdasan (IQ) yang
bersifat genetis.
11
b. Pendidikan
Pendidikan terkait dengan proses belajar, yaitu perubahan yang relatif
permanen pada perilaku individu sebagai akibat dari latihan (Atkinson dkk,
1992).
Proses belajar tersebut tidak hanya berlangsung secara formal di
sekolah atau kuliah, tetapi juga secara informal di tengah-tengah keluarga
dan lingkungan sosial sekitar individu.
Kecerdasan adversity sebagaimana
juga konsep resiliensi tidak terlepas dari pengaruh pendidikan yang dialami
pertama kali seseorang, yaitu dalam keluarganya.
Grotberg (1999)
menyebutkan bagaimana pola asuh orang tua dan respon lingkungan sosial
di sekitar anak memberikan dukungan dan dasar pijakan kemampuan anak
untuk menyikapi kesulitan hidup.
c. Keyakinan (belief) secara umum oleh Fishbein dan Ajzen (1975) didefinisikan
sebagai peniliaian subjektif seseorang terhadap dunianya, termasuk adalah
pemahaman seseorang terhadap diri sendiri dan lingkungannya.
Tidak
berbeda dengan sebuah kebiasaan dalam masyarakat atau nilai-nilai budaya,
keyakinan seseorang diperoleh melalui proses yang dipelajari (Grotberg,
1999).
Individu memulai proses belajar itu segera setelah ia dilahirkan.
Keyakinan yang tertanam dalam budaya tempat individu hidup, baik budaya
di tempat kerja, di sekolah, dalam komunitas, maupun di rumah, begitu
mapan.Kecerdasan
Perbedaan etnis, yaitu Cina dan Jawa, dengan budaya yang dibawa serta
dengan demikian secara tidak langsung mempengaruhi kecerdasan adversity
melalui pengasuhan orang tua terhadap anak.
Nilai-nilai budaya maupun
keyakinan yang dianut orang tua akan mendorong serta menjadi pengarah dalam
12
mendidik anak (Grotberg, 1999). Bagaimana masing-masing etnis memandang
kerja, persepsi terhadap waktu, termasuk bagaimana menghadapi kesulitan
hidup, terinternalisasi dalam keluarga.
Pengertian Etnis Cina dan Jawa
Etnis atau suku bangsa menurut Koentjaraningrat (1990) merupakan suatu
golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identiitas akan kesatuan
budaya.
Kesadaran dan identitas tersebut seringkali dikuatkan oleh kesatuan
bahasa. Kesatuan budaya terbentuk karena faktor internal (warga kebudayaan)
yang bersangkutan dan bukan ditentukan oleh orang di luar mereka.
Coppel (1994) mendefinisikan orang Tionghoa (Cina) adalah orang keturunan
Tionghoa yang berfungsi sebagai warga atau berpihak pada masyarakat
Tionghoa atau yang dianggap sebagai orang Tionghoa oleh orang Indonesia
pribumi dan mendapatkan perlakuan tertentu sebagai akibatnya.
Etnis Jawa merupakan etnis yang banyak bermukim di pulau Jawa khususnya
Jawa bagian Tengah dan Timur. Etnis Jawa ini mempunyai pola perilaku dan
aturan-aturan yang khas dan berlandaskan falsafah hidup yang telah digariskan
secara
turun-temurun
kelestariannya.
sebagai
tradisi
yang
harus
dipatuhi
dan
dijaga
Kepatuhan terhadap tatanan dalam berpikir dan bertindak ini
membatasi perilaku dan cara berpikir dari orang-orang etnis Jawa tersebut.
Setiap akan berperilaku, orang Jawa seakan-akan dituntut untuk berpikir
mengenai sesuatu yang akan dilakukan itu sesuai dengan falsafah hidup etnis
Jawa.
Falsafah hidup itu diringkas menjadi 3 hal yang saling terkait: rela,
nerima, dan sabar (Fifo dan Sinambela, 1995).
13
Orang Jawa memiliki keyakinan hidup yang cenderung bersifat pasif.
Koentjaraningrat (1984) menjelaskan bahwa tradisi Jawa mengajarkan kemauan
dan kemampuan untuk melepaskan diri dari dunia kebendaan, yaitu memiliki
sifat rela untuk melepaskan segala hak milik, pikiran, atau perasaan untuk
memiliki, serta keinginan untuk memiliki.
Pengertian Wirausaha
Wirausaha menurut Peters (1998) adalah proses menciptakan sesuatu
dengan nilai baru setelah mencurahkan usaha dan waktu yang diperlukan,
dengan memikul resiko keuangan, fisik, dan resiko sosial, serta memperoleh
balas jasa moneter dan kepuasan pribadi serta kebebasan.
Berbeda dengan itu Wiratno (1996) menekankan peran mandiri dalam
mendefinisikan kewirausahaan.
Ia menyebut wirausaha adalah orang yang
memulai dan mengerjakan usahanya sendiri, mengorganisasi dan membangun
perusahaan sejak revolusi industri.
Suryana (2003) memberikan tekanan arti wirausaha terhadap gagasan Peter
F. Druker. Menurutnya kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir
kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga
penggerak, tujuan, siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.
Definisi ini berarti lebih melihat wirausaha sebagai sifat atau semangat yang ada
pada seseorang, tanpa memperhatikan lagi jenis profesinya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa wirausaha adalah kegiatan
menciptakan kerja bagi diri sendiri dan orang lain dengan memperhatikan
pengelolaan berbagai sumber daya yang dimiliki serta memperhitungkan resiko
14
dan
peluang
melalui
berbagai
cara
yang
memungkinkan
terwujudnya
kesuksesan.
METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah etnis Cina dan Jawa yang menetap di Magelang
serta Yogyakarta dan berprofesi sebagai wirausahawan.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode angket.
Metode angket merupakan suatu metode pengumpulan data yang mendasarkan
diri pada laporan tentang diri sendiri atau minimal pada pengetahuan atau
keyakinan pribadi (Hadi, 1984). Penggunaan metode ini didasarkan pada alasan
– alasan (1) subjek penelitian adalah orang yang paling tahu tentang dirinya ; (2)
apa yang dinyatakan subjek dapat dipercaya ; dan (3) penafsiran subjek tentang
pernyataan – pernyataan didalam angket yang ditujukan padanya sesuai dengan
maksud penelitian (Hadi, 1984).
Alat Ukur
Alat yang digunakan dalam peneliltian ini adalah skala Kecerdasan Adversity
yang disusun peneliti berdasarkan aspek-aspek kecerdasan adversity yang
dikemukakan oleh Stoltz (2000), yaitu meliputi: control (kendali), origin and
ownership (asal-usul dan pengakuan), reach (jangkauan), dan endurance (daya
tahan).
15
Skala di atas menggunakan model skala likert dengan memberikan 5
alternatif jawaban.
Jawaban tersebut adalah Sangat Setuju (SS), Setuju (S),
netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Pemberian skor
pada aitem favourable bergerak dari nilai tertinggi (4) hingga nilai terendah (0).
Sedangkan untuk aitem unfavourable bergerak dari nilai terendah (0) sampai
nilai tertinggi (4).
Metode Analisis Data
Alat ukur yang digunakan untuk mengambil data terlebih dahulu harus
dipastikan validitas dan reliabilitasnya sebagai dasar untuk mempercayai bahwa
alat ukut tersebut memang layak digunakan dalam suatu penelitian. Validitas
dapat diartikan sebagai sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur
dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2004).
Sementara itu, uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengukur tingkat
keajegan alat ukur yang pada dasarnya menunjukkan sejauhmana suatu
pengukuran dapat memberi hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan
pengukuran ulang pada subjek yang sama (Azwar, 2004). Pengujian reliabilitas
skala ini memakai teknik Alpha Cronbach dengan bantuan komputer program
SPSS 12.0 for Windows.
Analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian ini adalah
dengan analisis statistik uji beda. Teknik statistik yang digunakan adalah analisis
statistik uji t - test. Proses analisis ini menggunakan bantuan SPSS versi 12.0
for windows.
16
HASIL PENELITIAN
Tabel 2: Deskripsi Data Penelitian
Variabel Kecerdasan Adversity
Min
Max
Mean
SD
0
114
72
24
Jawa
59
134
104,93
16,75
Cina
87
134
102,60
10,48
Hipotetik
Empirik
Hasil dari analisis statistik deskripsi di atas dapat diketahui bahwa subjek
secara umum memliki rerata empirik kecerdasan adversity yang berada di atas
rerata hipotetik.
Hal ini berarti bahwa tingkat kecerdasan adversity subjek
cenderung tinggi.
Tabel 3: Kriteria Kategorisasi Kecerdasan Adversity pada Etnis Cina dan Jawa
Kategori
Etnis
Skor
Jumlah
Persentase
Cina
x < 83,74
0
0%
Sangat rendah
Jawa
x < 74,78
1
3,45 %
Cina
83,74 < x < 96,31
5
25 %
Rendah
Jawa
74,78 < x < 94,88
5
17,24 %
Cina
96,31 < x < 108,89
11
55 %
Sedang
jawa
94,88 < x < 114,98
15
51,72 %
Cina
108,89 < x < 121,46
3
15 %
Tinggi
Jawa
114,98 < x < 135,08
8
27,59 %
Cina
x > 121,46
1
5%
Sangat tinggi
Jawa
x > 135,08
0
0%
Total
49
100 %
Berdasar penggolongan subjek pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa
subjek penelitian ini rata-rata memiliki tingkat kecerdasan adversity yang sedang
yaitu 15 orang (51,72%) pada etnis Jawa dan 11 orang (55%) pada etnis Cina,
tingkat kecerdasan adversity yang sangat rendah yaitu satu orang (3,45%) pada
etnis Jawa dan pada etnis Cina tidak ada (0%), serta kategorisasi sangat tinggi
tidak ada pada etnis Jawa (0%) dan satu orang pada etnis Cina (5%).
17
Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dengan menggunakan tekhnik two sample kolmogorof smirnof
test dari program SPSS 11,0 for Windows diperoleh sebaran skor kecerdasan
adversity etnis Jawa dan Cina adalah normal dengan nilai K.S.Z = 0,961 (p =
0,314 atau p > 0,05).
Tabel 4: Uji Normalitas
Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Frequencies
ETNIS
cina
jawa
Total
AQ
N
20
29
49
Test Statisticsa
Most Extreme
Differences
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
AQ
.279
.157
-.279
.961
.314
a. Grouping Variable: ETNIS
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dengan menggunakan analisis statistik compare means oneway anova SPSS for Windows 11.0 diperoleh bahwa variabel skor kecerdasan
adversity adalah tidak homogen dengan nilai F = 3,857 ( p = 0,002 atau p <
0,05)
18
Tabel 5: Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Etnis
Levene
Statistic
3.857
df1
df2
29
Sig.
.002
19
ANOVA
Etnis
Between Groups
Within Groups
Total
Sum of
Squares
5.837
6.000
11.837
df
29
19
48
Mean Square
.201
.316
F
.637
Sig.
.866
Uji Hipotesis
Analisis data untuk mengetahui perbedaan antara kecerdasan adversity
antara orang Cina dan Jawa dalam bewirausaha menggunakan uji t-test melalui
prosedur independent samples t-test program SPSS 11,0 for Windows. Dari hasil
analisis, diperoleh besarnya nilai t = 0,598 (p = 0,552 atau p > 0,01). Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kecerdasan adversity antara orang
Cina dan Jawa dalam berwirausaha, sehingga hipotesis yang diajukan ditolak.
Table 6: Uji t
T-Test
Group Statistics
AQ wirausaha
Etnis
jawa
Cina
N
29
20
Mean
104.9310
102.6000
Std. Deviation
16.75438
10.48508
Std. Error
Mean
3.11121
2.34453
19
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of Variances
F
AQ wirausaha Equal variances
assumed
Equal variances
not assumed
3.572
Sig.
.065
t-test for Equality of Means
t
Mean
Std. Error
Sig. (2-tailed) Difference Difference
df
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
.551
47
.584
2.3310
4.22880 -6.17622 10.83829
.598
46.657
.552
2.3310
3.89570 -5.50762 10.16969
Pembahasan
Kecerdasan adversity, sebagaimana Stoltz (2000) kemukakan, merupakan
konsep kecerdasan yang diperoleh individu melalui proses belajar.
Artinya,
kecerdasan adversity seseorang bisa berubah sesuai dengan tingkat usaha yang
ia lakukan.
Meskipun ada pengaruh faktor yang bersifat genetika, kecerdasan
adversity lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang diperoleh karena
pengalaman seseorang (proses belajar).
Stoltz (2000) menyebutkan bahwa
akar tempat tumbuh kecerdasan adversity itu adalah keyakinan (beliefs),
genetika dan pendidikan seseorang. Terkait dengan hal tersebut, orang Cina dan
Jawa secara teoritis seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya,
memiliki akar tempat tumbuh kecerdasan adversity yang berbeda. Baik secara
genetik, keyakinan, maupun pendidikan. Sehingga secara hipotetik disimpulkan,
ada perbedaan kecerdasan adversity dalam berwirausaha antara kedua etnis
tersebut. Namun demikian, setelah dilakukan pengujian secara empiris, hipotesis
itu terbukti tidak diterima. Tidak teruji ada perbedaan kecerdasan adversity
Ada dua penjelasan mendasar yang bisa penulis sampaikan di sini. Pertama,
terkait dengan landasan teori dan perubahan sosial yang terjadi selama ini.
Kedua, terkait dengan kelemahan metodologi penelitian yang penulis lakukan.
20
Studi terhadap orang Jawa beserta budayanya, menunjukkan bahwa
keyakinan etnis Jawa mengajarkan nilai-nilai terlalu nrima dan bersikap pasif
terhadap hidup (Koentjaraningrat, 2002), sikap rela, nrima, sabar dalam
melepaskan materi dunia, etos kerja aja ngaya, aja ngangsa (Koentjaraningrat,
1984), serta mengunggulkan nilai harmonis dengan meminimkan konflik terbuka
(Gertz, 1983).
Secara teoritik budaya Jawa sebagaimana Koentjaraningrat (1984) serta
juga Mulder (1984) paparkan, cenderung mengarah kepada pola hidup yang
pasif. Memiliki locus of control eksternal. Hanya saja, sebagaimana juga diakui
oleh Koentjaraningrat, budaya Jawa yang berorientasi nilai tradisional itu telah
mengalami berbagai perubahan seiring dengan industrialisasi yang terjadi.
Masyarakat Jawa yang benar-benar tradisional atau yang terisolasi dari dunia
luar hampir tidak ditemukan lagi pada saat ini. Hal itu ia kemukakan pada era
tahun 80-an. Apalagi jika dibandingkan dengan konteks hidup saat ini, dimana
arus informasi telah mengglobal. Perubahan orientasi budaya menjadi semakin
niscaya terjadi.
Pengalaman selama mengalami kontak budaya dengan luar, juga proses
industrialisasi yang sekarang telah mengarah pada globalisasi, mampu memberi
pengaruh terhadap nilai-nilai atau keyakinan hidup tradisional Jawa. Begitu pula
tekanan sosial berupa ketatnya persaingan mencari kerja, turut mendorong
seseorang mencoba berwirausaha.
Bagi etnis Cina di Indonesia mengalami perubahan budaya ketika mengalami
kontak budaya setempat. Sebagaimana oleh Fiedler & Semin (1996) sampaikan,
kontak budaya akan membawa pengaruh terhadap unsur-unsur sosial budaya.
21
Tidak terkecuali dalam hal ini warga keturunan Cina yang pada abad ke-8
merupakan warga pendatang di Indonesia.
Dalam hal internalisasi nilai, meski telah terjadi pergeseran, pada subjek Cina
yang
penulis
wawancarai
memang
menunjukkan
peran
model
yang
mempengaruhi keputusan untuk menekuni bidang wirausaha. Sebagaimana oleh
Peters (1998) kemukakan, salah satu faktor penting yang mempengaruhi
seseorang dalam berwirausaha adalah adanya role model. Model di sini adalah
orang tua subjek yang berprofesi sebagai wirausahawan.
subjek
Jawa
yang
penulis
wawancarai,
keputusan
Berbeda dengan
subjek
Cina
untuk
berwirausaha telah ada semenjak kuliah. Bahkan ia mengakui tidak ada niat
untuk menjadi karyawan semenjak semula. Orang tualah yang menjadi model
bagi dirinya untuk menekuni wirausaha.
Penjelasan lain yang menjelaskan mengapa hipotesis ditolak adalah
persoalan kelemahan metodologi penelitian. Secara tehnis, pengisian angket juga
tidak bisa penulis saksikan sendiri untuk menjamin bahwa subjek sendirilah yang
benar-benar mengisinya.
Sebagian besar subjek meminta waktu tersendiri
(angket dibawa pulang) untuk mengisinya. Karena alasan etis, penulis tidak bisa
menolak permintaan mereka.
Di samping, suasana kerja di kantor kurang
kondusif bagi subjek agar bisa mengisi angket dengan nyaman.
22
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah tidak terdapat
perbedaan kecerdasan adversity antara etnis Cina dan Jawa dalam berwirausaha.
Dengan demikian hipotesis yang diajukan tidak diterima.
SARAN-SARAN
1. Bagi subjek penelitian
Berdasarkan
penelitian
ini
terlihat
bahwa
tidak
terdapat
perbedaan
kecerdasan adversity antara kedua etnis tersebut dalam berwirausaha. Baik
subjek Cina atau Jawa dengan demikian memiliki kesempatan yang sama
untuk
mencapai
puncak
prestasi
dalam
mengembangkan
usahanya.
Persoalan yang menjadi tantangan bagi dunia wirausaha bukanlah sekedar
bertahan ketika terbentur hambatan-hambatan, yang lebih penting kemudian
adalah kemampuan mengembangkan usahanya. Baik subjek Cina atau Jawa
yang telah mampu mengembangkan usahanya, diharapkan dapat membantu
dan
berbagi
membutuhkan
kesuksesan
bimbingan
terhadap
serta
wirausahawan
juga
mau
lain
mendorong
yang
masih
calon-calon
entrepreneur baru agar tumbuh pencetak lapangan kerja baru di masyarakat
2. Bagi peneliti selanjutnya
Untuk penelitian ke depan, perlu lebih mencermati pintu-pintu akses relasi
terhadap masyarakat Cina agar memudahkan pengambilan data. Mengingat
mereka adalah warga minoritas dalam masyarakat, terdapat kepekaan sosial
di antara mereka ketika berhubungan dengan para peneliti yang menjadikan
23
diri mereka sebagai objek penelitian. Kesan bahwa mereka hanyalah objek
penelitian yang membuat sebagian mereka enggan untuk terbuka bisa
diminimalisir jika peneliti dapat membangun hubungan yang baik dengan
tokoh kunci mereka. Keluhan dari beberapa subjek penelitian yang
memandang
jumlah
butir
pernyataan
terlalu
banyak
layak
untuk
dipertimbangkan agar lebih memudahkan bagi subjek selanjutnya dalam
mengisi angket.
Penelitian ke depan diharapkan mampu lebih mengembangkan dan
menggali dasar pijakan teori kecerdasan adversity. Selain Stoltz, masih perlu
teori pembanding untuk memperkaya pijakan konsep dalam membuat alat
ukur.
Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah tingkat
kesesuaian butir-butir pernyataan kecerdasan adversity dengan realita dunia
usaha.
Beberapa masukan dari subjek menunjukkan masih perlunya
penyempurnaan alat ukur itu karena menghadapi persoalan usaha tidaklah
mudah dan sesederhana yang dibayangkan. Semakin butir-butir pernyataan
tersebut mampu mendekati realita, semakin baik alat ukur tersebut.
3. Bagi masyarakat secara umum
Menjadi wirausahawan pada konteks sosial saat ini memang merupakan
solusi alternatif menjawab ketimpangan kerja antara jumlah pencari kerja
dengan ketersediaan lapangan kerja yang ada. Hal yang perlu diperhatikan
kemudian adalah motif internal ketika menjalankan usaha. Sekedar pelarian
karena kalah dalam persaingan bursa kerja jelas tidak memberikan solusi,
kecuali jika cara pandang dan cara memaknai dunia usaha yang negatif bisa
dirubah.
24
DAFTAR PUSTAKA
_______2004. Kabinet Baru: Politik untuk UKM. http://www.majalahtrust.com
/fokus/fokus/751.php. 10/10/04 (diakses tanggal 04/05/2006)
_______2004. The Road To Resilience. http://apahelpcenter.org
/featuredtopics/feature.php?id=6 (diakses tanggal 7/07/2007)
_______2005. Hardiness. http://mentalhelp.net/poc/view_doc.php?
type=doc&id=5791&cn=298 (diakses tanggal 7/07/2007)
Alland, A. 1973. Evolution and Human Behaviour. New York: Anchor Books.
Alma, B. 2003. Kewirausahaan. Bandung: Alfa-Beta.
American Psychological Association. 2003. Turning Lemons into Lemonade:
Hardiness Helps People Turn Stressful Circumstances into Opportunities
http:// www.psychologymatters.org/hardiness.html (diakses tanggal
7/07/2007)
Anderson, D. M. 1997. Thriving On The Edge - Psychology Of Winning.
http://www.findarticles.com/p/articles/mi_m3514/is_n8_v44/ai_198566
42 (diakses tanggal 05/05/2006)
As’ad, M. 2003. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.
Atkinson, dkk. 1992. Pengantar Psikologi Jilid 1. Batam: Interaksara.
Azwar, S. 2000. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 1988. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Liberty.
Azwar, S. 2005. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baron, R. A; Byrne, D. 2004. Psikologi Sosial Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Chua, A. 2003. Making The World Safe for Markets. Harvard Business Review.
Vol. 81. No. 8, 14 – 17.
Coppel, C.A. 1994. Tionghoa Indonesia dalam Krisis. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Davidoff, L.L. 1991. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
25
Echols, J.M; Shadily, H. 2003. Kamus Inggris – Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Feldman, R. S. 1994. Essentials of Understanding Psychology. New York:
McGraw-Hill. Inc.
Fishbein, M; Ajzein, C. 1975. Belief, Attitude, Intention, and Behaviour.
California: Addison-Wesley Publishing Company.
Fifo, A; Sinambela, F.C.
1995.
Perbedaan Sikap Mahasiswa Terhadap
Pembauran Antara Etnis Jawa dan Cina di Fakultas Psikologi Universitas
Surabaya. Jurnal ANIMA. Vol. X, No. 39. 3 - 25.
Geertz, H. 1983. Keluarga Jawa. Jakarta: Grafiti Press.
Grotberg, H. 1999. Tapping Your Inner Strength. California: New Harbinger
Publication.
Habib, A. 2007. Dinamika Hubungan antar Etnik Cina dan Jawa di Pedesaan.
http://elka.umm.ac.id/artikel6.htm (diakses tanggal 11/07/2007)
Hadi, S. 1981. Metodologi Research Jilid II. Yogyakarta: Andi Offset.
Hariyono, P. 1993. Kultur Cina dan Jawa, Pemahaman
Kultural. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Menuju Asimilasi
Khairuddin, 1997. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty.
Koentjaraningrat, 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit
Djambatan.
Koentjaraningrat, 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Koentjaraningrat, 1982. Masalah-masalah Pembangunan:
Antropologi Terapan. Jakarta: LP3ES.
Koentjaraningrat, 1987.
Gramedia.
Bunga
Rampai
Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Koentjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Kompas. Edisi 24 Desember 2005.
Matsumoto, D.
1996.
Culture and Psychology.
Publishing Company.
California: Brooks/Cole
26
Mariawati, D. 2006. Perilaku Produksi Pada Pedagang Etnis Cina di Kya-Kya
Kembang Jepun Surabya. http://www.dspace.fe.unibraw.ac.id/
/dspace/bitstream/123456789/213/1/0142.pdf (diakses tanggal
11/07/2007)
Martaniah, S.M. 1984. Motif Sosial Remaja Suku Jawa dan Keturunan Cina di
Beberapa SMA Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Meredith, G. 1996. Kewirausahaan, Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Pustaka
Binaman Pressindo.
Morris, dkk. 2005. Entrepreneurial values and the ethnic enterprise: an
examination of six subcultures. http://goliath.ecnext.com/coms2/
summary_0199-6122350_ITM (diakses tanggal 19/07/2007)
Mulder, N. 1984. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Neill, J. 2006. What is Psychological Resilience? http://wilderdom.com/
psychology/resilience/PsychologicalResilience.html (diakses tanggal
7/07/2007)
Peters, H. 1998. Entrepreneurship. Boston: McGraw-Hill.
Riyanti, B.P.D. 2003. Kewirausahaan dari sudut Pandang Psikologi Kepribadian.
Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Salim, P. 1991. The Contemporary English – Indonesian Dictionary. Jakarta:
Modern English Press.
Semin, G.R; Fiedler, K.
Publication.
1996.
Applied Social Psychology.
London: Sage
Sigel, dkk. 1992. Parental Belief System: The Psychological Consequences for
Children. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.
Spielmann, G. L. 2005. Resilience. http://www.omh.state.ny.us/omhweb
/savinglives/volume2/resilience.html (diakses tanggal 7/07/2007)
Subanar, H. 1994. Manajemen Usaha Kecil. Yogyakarta: BPFE.
Sumanto, W. 1984. Sekuncup Ide Operasional Pendidikan Wiraswasta. Malang:
Penerbit Bina Aksara.
27
Suparlan, P. 2006. Kesukubangsaan dan Posisi Orang Cina dalam Masyarakat
Majemuk Indonesia. http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd
/artikel_ps2.htm (diakses tanggal 11/07/2007)
Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suryana.
2003. Kewirausahaan: Pedoman Praktis, Kiat, dan Proses Menuju
Sukses. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang.
Jakarta: PT. Grasindo.
Walgito, B. 1994. Psikologi Umum. Yogyakarta: Yayasan Penerbit UGM.
Winarto, P. 2002. First Step to be an Entrepreneur. Jakarta: PT. Elex Media
Computindo.
Wiratno, M. 1996. Pengantar Kewiraswastaan, Kerangka Dasar Memasuki Dunia
Bisnis. Yogyakarta: BPFE.
Wulandari, F.R. 2006. Perilaku Ekonomi Etnis Cina di Indonesia sejak tahun
1930. http://iccsg.wordpress.com/2006/01/23/perilaku-ekonimi-etniscina-di-indonesia-sejak-tahun-1930-an-fr-wulandari ((diakses tanggal
11/07/2007)
Download