Gerakan Tanah dan Arahan Penanggulangan Di Daerah Dongko

advertisement
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
GERAKANTANAH DAN ARAHAN PENANGGULANGAN
DI DAERAH DONGKO DAN SEKITARNYA
KECAMATAN DONGKO KABUPATEN TRENGGALEK JAWA TIMUR
GUIDANCE OF MASS MOVEMENT PREVENTION IN
DONGKO REGION AND SURROUNDING, TRENGGALEK REGENCY, EAST
JAVA
Norrohman*) & Miftahussalam*)
*) Program Studi Teknik Geologi, Jurusan Teknik Geologi
FakultasTeknologi Mineral, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
ABSTRACT
The aim of research is to recognize types and level of mass-movement potential and to give
guidance for prevention system in Dongko Region and surroundings, Trenggalek Regency, East Java.
Research methods are field observation and laboratory analysis.
The types of mass-movement in the research area were rock fall, debris fall, rock slide, debris
slide, slump and debris flow. Suggested guidance of prevention system are to change geometrical
slope and to improve slope stability using drainage method and seepage control.
Keywords: mass movement, direction of prevention system
INTISARI
Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis-jenis dan tingkat potensi gerakantanah serta
memberikan arahan penanggulangannya di daerah Dongko dan sekitarnya, Kabupaten Trenggalek
Jawa Timur.
Metode penelitian menggunakan gabungan antara pemetaan lapangan dan analisis
laboratorium.
Jenis gerakantanah di daerah penelitian adalah runtuhan batuan (rock fall), runtuhan debris
(debris fall), longsoran batuan (rock slide), longsoran debris (debris slide), nendatan (slump) dan
aliran debris (debris flow). Arahan penanggulangan yang disarankan adalah merubah bentuk geometri
lereng dan memperbaiki stabilitas lereng dengan cara mengontrol drainase dan rembesan.
Kata kunci: gerakan tanah, arahan penanggulangan
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Seperti kita ketahui bersama, saat ini sering sekali terjadi bencana alam berupa gerakantanah
yang dapat menyebabkan kerugian baik materi maupun dapat menimbulkan korban jiwa. Telah
banyak nyawa yang terenggut akibat adanya bencana alam tersebut, yang disebabkan kurangnya
pengertian maupun pemahaman tentang bahaya gerakantanah yang terkadang dapat merenggut
korban jiwa. Pemahaman tentang gerakantanah akan dapat membantu meminimalisasi kerugiaankerugian yang ditimbulkannya serta sangat membantu dalam perencanaan tata ruang daerah
tersebut.
Gerakantanah dapat terjadi baik pada lereng yang mantap maupun lereng yang tidak mantap,
baik yang berpotensi longsor maupun yang telah longsor. Lereng yang mantap, adalah lereng yang
tidak menimbulkan keruntuhan menurut persyaratan kesetimbangan. Ketidakmantapan suatu lereng
dapat terjadi setelah dicapai suatu kondisi di mana tegangan yang bekerja sepanjang bidang gelincir
atau massa tanahnya lebih kecil dari gerakantanah itu sendiri. Gerakantanah sering terjadi pada tanah
yang merupakan hasil dari pelapukan suatu batuan, akumulasi debris maupun pada batuan dasarnya,
yang dapat terjadi baik secara lambat maupun cepat sekali.
Terjadinya gerakantanah antara lain karena berkurangnya kemantapan lereng akibat
terjadinya degradasi tanah atau batuan karena waktu dan usianya. Aktivitas manusia seperti
penebangan hutan, pembuatan kolam-kolam pada daerah lereng, mengadakan pemotongan dan
penggalian lereng tanpa memperhitungkan akibat yang ditimbulkannya, seringkali dapat
menyebabkan terganggunya kestabilan serta kemantapan lereng, sehingga dapat menyebabkan
170
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
terjadinya gerakantanah yang dapat menyebabkan kerugian materi, bahkan dapat menyebabkan
terjadinya korban jiwa.
Gerakantanah tidak selalu dikaitkan dengan dimensi luas dan volume longsoran, akan tetapi
lebih cenderung dikaitkan dengan mekanisme, bentuk, jenis dan sifat gerakantanah serta cara
penanggulangannya. Gerakantanah sering kali tejadi pada suatu daerah dengan kondisi geologi,
geomorfologi, hidrologi serta iklim yang kurang menguntungkan.
Gerakantanah di suatu daerah akan sangat besar artinya terhadap perkembangan dan letak
bentang alam di samping itu pula terjadinya gerakantanah dapat mempengaruhi kelangsungan hidup
manusia serta pengaturan tataguna lahannya. Kenyataan ini dibuktikan dengan banyak sekali
terjadinya peristiwa gerakantanah dalam skala besar maupun kecil yang dapat menyebabkan
kerugian materi bahkan dapat menyebabkan terjadinya korban jiwa.
Perumusan Masalah
Dari permasalahan yang ada di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian
sebagai berikut:
1. Mengetahui jenis-jenis dan karakteristik gerakantanah di daerah penelitian.
2.
Memberikan arahan penanggulangan gerakantanah di daerah Dongko dan sekitarnya,
Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Tujuan
Untuk mengetahui jenis dan tingkat potensi gerakantanah serta memberikan arahan
penanggulangannya di daerah penelitian, untuk meminimalkan dampak negatif kemungkinan
terjadinya gerakantanah.
Metodologi
Metodologi yang dilakukan dengan cara pendekatan penelitian, obyek penelitian dan tahapan
penelitian.
a. Pendekatan penelitian
Pendekatan penelitian dilakukan dengan metode gabungan penelitian di lapangan (penentuan
jenis dan karakteristik gerakantanah), serta analisis laboratorium.
b. Obyek penelitian
Obyek penelitian memfokuskan pada penentuan jenis dan karakteristik gerakan tanah serta
memberikan arahan penanggulangannya untuk meminimalisasi dampak buruk yang ditimbulkan
karena terjadinya gerakantanah.
Daerah penelitian secara administratif terletak di daerah Dongko dan sekitarnya, Kecamatan
Dongko, Kabupaten Trenggalek, Propinsi Jawa Timur. Secara geografis terletak pada koordinat
8°10’00” -8°15’00” LS dan 111°32’30”-111°37’30” BT, lembar peta topografi 51/XLIII-k, skala peta
1: 25.000 dengan luas 81 km².
c. Tahapan penelitian
Tahap penelitian dibagi menjadi 3, yaitu (1) studi pustaka; (2) penelitian langsung di lapangan,
dilakukan untuk memperoleh data geologi berupa geomorfologi, litologi, struktur geologi, geologi
lingkungan dan data gerakantanah yang dibutuhkan dalam penelitian. Data penelitian diperoleh
dengan pengamatan, pengukuran, pencatatan, penggambaran sketsa atau pengambilan foto
singkapan serta pengambilan sampel batuan dan data gerakantanah; (3) analisis laboratorium,
dilakukan untuk melengkapi data geologi serta penentuan jenis dan karakteristik gerakantanah di
daerah penelitian, sehingga arahan penanggulangannya dapat ditentukan.
Tinjauan Pustaka
Gerakantanah merupakan proses alamiah yang biasa terjadi di alam, akan tetapi dengan
masuknya unsur manusia dengan segala aktivitasnya, maka nilainya dapat berubah menjadi suatu
bencana alam. Pengaruh geologi sangat besar dalam proses terjadinya suatu gerakantanah ditunjang
faktor lain dari aktivitas manusia, hewan, air, tumbuhan, gempa bumi dan sebagainya.
Flint & Skinnner (1977), mengklasifikasikan gerakantanah menjadi beberapa jenis, di
antaranya adalah: runtuhan batuan (rock fall), runtuhan debris (debris fall), longsoran batuan (rock
slide), longsoran debris (debris slide), nendatan (slump), aliran debris (debris flow) dan aliran lumpur
(mud flow)
Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakantanah dapat dibagi menjadi 2 faktor, yaitu
faktor geologi dan faktor non geologi. Pada ke dua faktor tersebut dapat berupa faktor alami maupun
hasil budidaya manusia yang dapat mempengaruhi kesetabilan lereng, sehingga dapat menyebabkan
terjadinya gerakantanah. Faktor geologi meliputi (1) faktor topografi: sudut/kemiringan lereng dan
171
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
kerapatan sungai, (2) jenis litologi dan (3) struktur geologi. Sedangkan faktor non geologi di antaranya
tataguna lahan serta curah hujan.
Faktor geologi
1. Sudut/kemiringan lereng
Sudut/kemiringan lereng mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses terjadinya
gerakantanah. Semakin besar sudut/kemiringan lereng, maka akan semakin besar peluang untuk
terjadinya gerakantanah.
2. Kerapatan sungai
Kerapatan sungai suatu daerah mempunyai peranan yang cukup berarti, semakin rapat jarak
antara sungai-sungai di suatu daerah, maka daerah tersebut menjadi semakin tidak stabil.
Dikarenakan banyaknya kandungan air yang meresap ke dalam tanah, memungkinkan tanah
bergerak mengikuti pergerakan airtanah. Untuk mengetahui densitas didapat dengan rumus:
Dengan mengacu klasifikasi Departemen Pekerjaan Umum (1986) yaitu: 0-1 km/km²: densitas
halus, 1-2 km/km²: densitas sedang, >2 km/km²: densitas kasar.
3. Litologi
Jenis litologi penyusun pada suatu daerah akan sangat menentukan suatu mekanisme terjadinya
gerakantanah. Jenis litologi yang mempunyai resistensi rendah akan menyerap air yang cukup
banyak, sehingga proses pelapukan batuan dapat terjadi secara cepat dan sangat dimungkinkan
terjadi longsor.
4. Struktur geologi
Struktur geologi berupa kekar dan sesar-sesar akan menyebabkan terjadinya zone-zone lemah
yang dapat memicu terjadinya gerakantanah. Dengan adanya struktur geologi yang masih aktif,
menyebabkan proses terjadinya gerakantanah sangat cepat.
Faktor non geologi
Faktor non geologi yang dapat menyebabkan terjadinya gerakantanah adalah:
1. Tataguna lahan/Budaya manusia
Perencanaan tataguna lahan pada suatu daerah akan sangat mempengaruhi proses terjadinya
gerakantanah. Kesalahan perencanaan dalam penetapan tataguna lahan maka akan berakibat
terjadinya gerakantanah.
2. Curah hujan
Intensitas curah hujan yang cukup tinggi sangat berpengaruh terhadap penyerapan air oleh tanah.
Semakin banyak air yang dapat diserap oleh tanah, maka semakin besar peluang untuk terjadinya
gerakantanah pada daerah tersebut terutama pada daerah yang mempunyai kemiringan lereng
yang cukup curam.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tatanan Geologi
1. Geomorfologi daerah penelitian
Secara geografis daerah penelitian termasuk ke dalam lajur Pegunungan Selatan Jawa Timur,
yang secara umum merupakan suatu blok yang miring ke arah selatan dengan topografi yang relatif
terjal dengan pola aliran meranting serta disusun oleh 2 kelompok batuan, yaitu batuan volkanik dan
batuan karbonat yang tercermin dari litologinya.
Berdasarkan interpretasi peta topografi, data lapangan dan hasil tinjauan pustaka dari peneliti
terdahulu, maka subsatuan geomorfik daerah penelitian dibagi menjadi 2 yaitu subsatuan geomorfik
zona lipatan (S9) yang sebagian besar terdapat pada litologi breksi andesit dan batugamping dan
subsatuan geomorfik dike (S12) yang mempunyai litologi intrusi andesit (Lampiran 1). Dalam
pengelompokan satuan geomorfologi di daerah penelitian menggunakan dua aspek yang saling
berkaitan, yaitu berdasarkan aspek morfometri dengan memperhatikan harga-harga sudut lereng dan
beda tinggi mengacu pada klasifikasi Zuidam (1983).
Subsatuan zona lipatan (S9) memiliki luas penyebaran + 99% dan memiliki beda tinggi rata–rata
112,71 m dengan besar kelerengan rata–rata 35,06%. Subsatuan geomorfik dike (S12) terbentuk oleh
proses terobosan magma ke permukaan yang disebut intrusi, dan adanya kekar meniang pada tubuh
intrusi tersebut. Subsatuan geomorfik dike (S12) menempati area seluas 1% dari seluruh total luas
daerah penelitian, mempunyai kenampakan punggungan dengan lereng menengah-curam, terajam
menengah. Mempunyai pola aliran dentritik dengan stadia daerah dewasa.
172
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
2. Stratigrafi daerah penelitian
Berdasarkan peta geologi regional Lembar Tulungagung (Samodra, dkk 1992), daerah
penelitian terdiri Formasi Mandalika yang berumur Oligosen Tengah–Miosen Bawah (N2–N4).
Formasi ini terbentuk bersamaan dengan kegiatan magmatisme yang menghasilkan terobosan batuan
beku diorit, dasit dan andesit. Kontak dengan batuan di atasnya ternasuk dalam Formasi Campurdarat
yang diendapkan selaras di atas Formasi Mandalika dan masih dalam satu seri batuan sedimen.
Tersusun oleh batugamping hablur dengan sisipan batulempung berkarbon. Formasi Campudarat
diendapkan pada Kala Miosen Bawah (N5-N6) dan merupakan formasi yang diendapkan setelah
terhentinya kegiatan magmatisme pada Kala Oligosen Atas-Miosen Bawah. Di atas Formasi
Campurdarat diendapkan secara tidak selaras endapan aluvial yang merupakan hasil erosi dan
denudasi.
Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda yaitu: 1. Satuan breksi andesit berumur
Oligosen Tengah-Miosen Bawah (N2-N4). Satuan ini terdiri dari breksi andesit, lava dan batupasir
tufan, satuan intrusi andesit yang terdiri dari intrusi andesit, satuan batuganping berumur Miosen
Bawah (N5-N6), terdiri dari litologi batugamping bioklastik dan satuan endapan aluvial tersusun oleh
endapan berukuran lempung-kerakal (Lampiran 2).
3. Struktur geologi daerah penelitian
Menurut Bemmelen (1949) Pegunungan Selatan Jawa Timur merupakan sayap Geantiklin
Jawa yang miring ke arah selatan dengan struktur regional berarah barat-timur. Adanya
pengangkatan pada Geantiklin Jawa yang terletak pada Zona Solo meluncur ke arah utara dan
terpisah dengan Pegunungan Selatan oleh beberapa sesar tangga (step fault) dan membentuk flexure
dengan blok-blok antithetic fault. Struktur geologi yang terdapat pada daerah penelitian berupa
struktur lipatan yaitu Sinklin Dongko dan Antiklin Ngerdani, kekar dan Sesar Geser Ngajaran.
4. Geologi lingkungan
a. Sesumber
Berupa sumberdaya air dan bahan galian
Sumberdaya air yang dimanfaatkan masyarakat berasal dari air permukaan sungai yang
berada di sekitar pemukiman penduduk dan airtanah pada air sumur. Besarnya debit air sungai yang
ada di daerah penelitian sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Masyarakat yang berada di perbukitan
umumnya memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari
Potensi bahan galian yang terdapat pada daerah penelitian berupa batugamping dan andesit,
di mana semua potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat setempat.
b. Bencana Geologi
Bencana alam merupakan suatu proses alam yang dapat menyebabkan kerugian besar
terhadap lingkungan, material dan manusia. Proses alam tersebut berkaitan dengan proses geologi
yang banyak menimbulkan kerugian material maupun korban jiwa. Bencana alam secara umum
berlangsung secara tiba-tiba dalam waktu yang relatif cepat ataupun secara perlahan-lahan. Bencana
alam yang ada di daerah penelitian berupa gerakan tanah berjenis nendatan (slump), runtuhan batuan
(rock fall), runtuhan debris (debris fall), longsoran batuan (rock slide), longsoran debris (debris slide),
dan aliran debris (debris flow). Bencana ini lebih banyak disebabkan oleh faktor alam (kemiringan
lereng yang terjal, jenis litologi, vegetasi, curah hujan, struktur geologi), maupun disebabkan oleh
faktor manusia (penebangan hutan pada wilayah rawan longsor).
5. Jenis-jenis gerakan tanah di daerah penelitian
Dengan mengacu pada Flint & Skinnner (1977), gerakantanah di daerah penelitian dibagi
menjadi beberapa jenis, di antaranya adalah: runtuhan batuan (rock fall), runtuhan debris (debris fall),
longsoran batuan (rock slide), longsoran debris (debris slide), nendatan (slump), aliran debris (debris
flow) dan aliran lumpur (mud flow)
1) Runtuhan batuan (rock fall)
Runtuhan batuan (rock fall) adalah jenis gerakantanah, di mana massa batuan dasar jatuh
secara bebas karena tidak adanya penyangga di bawahnya. Gerakantanah jenis ini sering terjadi
pada daerah yang mempunyai kemiringan lereng curam-sangat curam
2) Runtuhan debris (debris fall)
Runtuhan debris atau bahan rombakan adalah jenis gerakantanah, di mana bahan rombakan
batuan jatuh secara bebas karena tidak adanya penyangga di bawahnya. Gerakantanah jenis ini
173
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
biasanya terjadi pada daerah dengan kemiringan lereng curam-sangat curam dan juga akibat dari
pengaruh gaya gravitasi.
3) Longsoran batuan (rock slide)
Longsoran batuan (rock slide) adalah jenis gerakantanah, di mana massa batuan mengalami
longsoran cukup cepat karena penyangga di bawahnya tidak mampu menahan beban di atasnya.
Gerakan tanah jenis ini biasanya terjadi pada daerah dengan kemiringan lereng menengah-curam.
4) Longsoran debris (debris slide)
Longsoran debris (debris slide) adalah jenis gerakantanah, di mana bahan rombakan
mengalami longsoran cukup cepat karena penyangga di bawahnya tidak mampu menahan beban di
atasnya. Gerakan tanah jenis ini biasanya terjadi pada daerah dengan kemiringan lereng menengahcuram.
5) Nendatan (slump)
Nendatan (slump) jenis gerakantanah, di mana material atau tubuh batuan mengalami
longsoran sepanjang permukaan retakan yang lengkung dan biasanya terjadi pada daerah dengan
kemiringan lereng menengah-curam.
6) Aliran debris (debris flow)
Aliran debris (debris flow) adalah jenis gerakantanah, di mana material bahan rombakan yang
bersifat plastis bergerak menuruni lereng secara perlahan-lahan, biasa terjadi pada daerah dengan
kemiringan lereng landai-menengah.
Faktor penyebab terjadinya gerakantanah
a. Faktor geologi
1). Sudut/kemiringan lereng
Di daerah penelitian yang mempunyai sudut/kemiringan lereng antara 28,88 % -44,24 % atau
curam menengah-curam, mempunyai peran yang potensial untuk terjadinya gerakan tanah
(Tabel 1).
Tabel 1. Klasifikasi lereng (Zuidam,1983)
No
1
2
3
4
5
6
7
Relief
Datar atau hampi datar/Flat or almost flat
Miring landai/Gently sloping
Miring/Sloping
Curam menengah/ Moderately steep
Curam/Steep
Sangat curam/Very steep
Amat sangat curam/Extremely steep
Kemiringan lereng (%)
0–2
2-7
7 -15
15 – 30
30 – 70
70 – 140
> 140
2). Kerapatan sungai
Dari hasil perhitungan, kerapatan sungai (L): 153.750 km/(A): 81 km²: 1,9 km/km² (Dd),
menunjukkan bahwa kerapatan sungai di daerah penelitian termasuk dalam kategori sedang
(1-2 km/km²)
3). Litologi
Daerah penelitian tersusun oleh 4 satuan batuan yang berbeda ciri dan nilai resistensinya
antar masing-masing satuan batuan. Dari pengamatan di lapangan, tingkat resistensi ini dapat
dilihat dari hubungan dengan bentuk morfologi dan relief, besarnya sudut/kemiringan lereng
satuan batuan.
Pada satuan breksi andesit, terjadi gerakan tanah debris slide sebanyak 11 buah, nendatan
sebanyak 4 buah, rock slide sebanyak 6 buah dan aliran debris sebanyak 1 buah. Pada
satuan intrusi andesit terdapat gerakan tanah debris slide 1 buah dan pada satuan
batugamping terdapat rock fall sebanyak 1 buah dan debris fall sebanyak 1 buah.
4). Struktur geologi
Di daerah penelitian dijumpai bayak gerakantanah, retakan-retakan atau zone hancuran. Di
lapangan terlihat dari curamnya morfologi yang ada, dan lereng yang tidak stabil ini
mengakibatkan bergeraknya batuan. Pada pergerakan massa batuan yang besar, akan
menimbulkan bencana yang merugikan masyarakat sekitarnya. Jenis gerakantanah yang
terbanyak dijumpai di daerah penelitian adalah debris slide atau longsoran debris.
174
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
b. Faktor non geologi
Faktor non geologi yang dapat menyebabkan terjadinya gerakantanah adalah:
1). Tataguna lahan/Budaya manusia
Penggunaan lahan di daerah penelitian sebagai ladang dan kebun campuran akan
menyebabkan kestabilan menjadi kurang, sehingga rawan mengakibatkan terjadinya
gerakantanah. Oleh karena itu disarankan sebagian besar lahan di daerah penelitian dipakai
sebagai hutan yang bervegetasi lebat dan tinggi, yang dapat menehan lajunya gerakantanah
yang ada.
2). Curah hujan
Dari data curah hujan di daerah penelitian sebesar 2.000-2.500 mm/per tahun, menyebabkan
terjadinya penyerapan air oleh tanah, sehingga semakin besar peluang terjadinya variasi
jenis gerakantanah yang ada.
b. Potensi gerakan tanah di daerah penelitian
Selain mencari faktor penyebab serta metode pengendalian gerakantanah di daerah
penelitian, penulis mengelompokkan suatu daerah menurut potensi gerakantanah yang terjadi.
Pengelompokan tersebut disusun berdasarkan dari hasil analisis yang meliputi sudut lereng, vegetasi
serta data gerakantanah yang ada di lapangan (Tabel 2).
Tabel 2. Jenis gerakantanah di daerah penelitian
No
1
2
3
4
5
6
Jenis gerakantanah
Runtuhan batuan (rock fall)
Runtuhan debris (debris fall)
Longsoran batuan (rock slide)
Longsoran debris (debris slide)
Nendatan (slump)
Aliran debris (debris flow)
JUMLAH
Jumlah
1
1
6
12
4
1
25
Dari data yang diperoleh, maka potensi gerakantanah pada daerah penelitian dapat
dikelompokkan menjadi 3 zona, yaitu:
1. Zone kerentanan gerakantanah rendah, dengan litologi batugamping. Zone ini menempati 15%
dari luas daerah penelitian dan merupakan daerah yang relatif aman untuk didirikan permukiman.
2. Zone kerentanan gerakantanah menengah dengan litologi breksi andesit. Zone ini menempati
24% dari luas daerah penelitian, lahan sebaiknya digunakan untuk pertanian, sedikit perumahan
dan setempat hutan lindung.
3. Zone kerentanan gerakantanah tinggi dengan litologi breksi andesit. Zone ini menempati 61% dari
luas daerah penelitian, lahan digunakan sebagai hutan lindung dan setempat ladang.
6. Arahan Penanggulangan Gerakantanah Di Daerah Penelitian
Penanggulangan gerakantanah di daerah penelitian dapat dilakukan dengan berbagai cara
sesuai dengan jenis dan karakteristik masing-masing. Ada beberapa metode yang dapat diterapkan
guna menanggulangi terjadinya gerakantanah di daerah penelitian, di antaranya:
a. Mengubah geometri lereng
Penggalian bagian tertentu pada suatu lereng, dimaksudkan untuk mengurangi gaya-gaya
yang menggerakkan dan menyebabkan gerakan pada suatu lereng. Penanggulangan gerakantanah
dengan cara ini adalah cara yang paling sederhana serta efektif untuk pengendalian gerakantanah
jenis runtuhan batuan (rock fall), runtuhan debris (debris fall), longsoran batuan (rock slide), longsoran
debris (debris slide) dan nendatan (slump). Perbaikan kesetabilan lereng dengan mengubah geometri
lereng meliputi: (1) Pelandaian kemiringan lereng dan (2) pembuatan trap-trap/bangku (benching).
1) Pelandaian kemiringan lereng
Metode pengendalian gerakantanah dengan cara melandaikan kemiringan lereng merupakan
salah satu cara yang murah dan efisien. Namun penerapan metode ini juga bergantung pada
ruang bebas yang tersedia (Gambar 1 dan 2). Jika timbunan terletak pada lereng yang curam, hal
175
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
ini mungkin akan sulit dilakukan. Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam proses pelandaian
lereng adalah lereng harus menutupi area longsoran. Contoh pada Gambar 3, di mana kaki
longsoran tidak tertutup oleh tanah timbunan, akan mengakibatkan sebagian besar tambahan
beban pada lereng berada di kiri garis vertikal yang ditarik dari pusat lingkaran longsor.
Melandaikan kemiringan lereng ini biasanya dilakukan pada lereng yang terletak pada tepi jalan.
Pada umumnya perbaikan stabilitas lereng dengan metode ini dilakukan dengan cara membuat
kemiringan suatu lereng menjadi lebih landai.
Gambar 1. Konsep melandaikan kemiringan lereng (Hardiyatmo, 2006)
Gambar 2. Melandaikan kemiringan lereng yang miring terlalu tajam (Hardiyatmo, 2006)
Gambar 3. Melandaikan kemiringan lereng yang salah, karena tidak menutup kaki
area longsoran (Hardiyatmo, 2006)
2) Trap/Bangku (Benching)
Metode perbaikan stabilitas tanah dengan cara penggalian tanah berbentuk trap atau bangku
cukup efektif dan efisien diterapkan pada lereng yang terjal, di mana perbaikan stabilitas membuat
lereng lebih landai sulit dilakukan (Gambar 4). Struktur trap ini dapat menghambat laju erosi tanah
serta dapat menahan gerakan turun debris menjadi lebih lambat.
176
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
Gambar 4. Pembuatan trap/bangku untuk lereng yang bermasalah (Hardiyatmo, 2006)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan pengendalian gerakantanah dengan metode
mengubah geometri lereng adalah:
a) Ketersediaan biaya/dana dalam membuat jalan, karena umumnya lereng digali dari atas menuju
ke bawah. Walaupun merubah geometri lereng termasuk perbaikan yang murah, namun perlu
dipertimbangkan segi ekonomis dari struktur perbaikan lereng yang akan dilakukan.
b) Topografi di lokasi, akan berpengaruh terhadap tingkat kesulitan dalam proses pengerjaan
penggalian.
c) Pengangkutan dan pembuangan tanah hasil galian, kecuali bila timbunan akan dipakai pada
daerah lain
d) Ketersediaan peralatan dan personil. Ketersediaan peralatan yang memadai serta personil yang
ahli dalam bidang gerakantanah/tanah longsor harus diutamakan guna kelancaran pekerjaan
serta mendukung keselamatan kerja. Pemahaman mengenai longsoran yang terjadi atau yang
akan terjadi, menjadi masalah penting terutama mengenai potensi kelongsorannya.
2). Perbaikan stabilitas lereng dengan cara mengontrol drainase dan rembesan
Drainase permukaan dan rembesan bawah tanah pada suatu timbunan maupun galian pada
jalan raya sering memicu terjadinya longsoran. Oleh karena itu pengontrolan rembesan permukaan
maupun bawah permukaan sangat penting dalam mencegah keruntuhan lereng. Beberapa metode
drainase permukaan dan bawah permukaan adalah:
a. Drainase air permukaan
(1) Parit permukaan
Parit permukaan terbuka dapat digunakan untuk mereduksi genangan air dan untuk mengontrol
aliran air permukaan pada zone berpotensi longor. Selokan terbuka juga digunakan untuk
mengalirkan air yang akan masuk pada zone tanah tidak stabil. Pembuatan selokan terbuka pada
zone tanah tidak stabil harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena dapat menambah parah
zona tersebut. Penempatan selokan terbuka harus dipelajari dengan baik, sehingga aliran air tidak
masuk ke dalam zone tanah tidak stabil tersebut. Parit permukaan berupa galian parit sederhana,
atau membuat selokan yang dasarnya relatif kedap air.
(2) Pengalihan air permukaan
Aliran air yang mengalir pada permukaan zone berpotensi longsor, atau ke dalam lereng yang
telah longsor, dapat dialirkan dengan cara menggali parit di sekitar puncak longsoran. Selain
saluran drainase yang dasarnya dilindungi batu, geotekstil, serta pipa drainase dapat digunakan
aliran air dalam tanah, sehingga air tidak mengalir ke zone tanah tidak stabil. Batuan untuk
drainase dibungkus secara keseluruhan dengan geotekstil nir anyam (non woven) sehingga
memungkinkan air melewati dan masuk ke dalam parit. akan tetapi dapat menahan terangkutnya
butiran halus ke dalam urugan batu tersebut, sehingga lapisan drainase tidak tersumbat butiran
halus. Jika mungkin, arah aliran air dan pipa-pipa dalam tanah dibuat sejauh mungkin dari tepi
puncak lereng dengan jarak minimal sama dengan tinggi lereng (d=h), sehingga kestabilan pada
puncak lereng tetap terjaga (Gambar 5).
177
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
Gambar 5. Drainase bawah tanah dengan pipa pengumpul dan kerikil dibungkus geotekstil (Hardiyatmo, 2006)
(3) Menutup retakan pada bagian atas lereng
Aliran air permukaan yang mengalir ke dalam celah terbuka akan menyebabkan terganggunya
stabilitas suatu lereng (Gambar 6). Gaya tarik yang berkembang di puncak lereng menyebabkan
tanah mengalami keretakan yang panjangnya dapat mencapai beberapa meter yang kemudian
terisi oleh air, akan menghasilkan gaya lateral yang dapat menyebabkan terjadinya longsor. Oleh
karena itu pentingnya menutup retakan yang terjadi pada puncak lereng, harus dilakukan agar
tidak terjadi longsoran.
Gambar 6. Aliran air permukaan yang mengalir ke dalam celah terbuka
(Hardiyatmo, 2006)
(4) Perataan kembali untuk menghilangkan genangan air
Genangan air pada permukaan lereng yang tidak stabil, harus segera dihilangkan (Gambar 7).
Air yang tergenang, bila merembes ke dalam tanah pembentuk lereng dapar mereduksi
kekuatan tanah maupun batuan menjadi tidak kompak dan mudah lapuk. Genangan air pada
permukaan lereng, akan mengalirkan air tersebut atau meratakan permukaan tanah, sehingga
air tidak masuk ke dalam tanah dan membuat tanah menjadi jenuh, sehingga berpotensi
menyebakan longsor.
Gambar 7. Genangan air yang menyebabkan terjadinya longsor (Hardiyatmo, 2006)
178
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
(5) Perkerasan permukaan lereng
Perkerasan dengan membuat kedap air permukaan lereng adalah salah satu usaha untuk
mengontrol terjadinya erosi dan rembesan air akibat dari aliran permukaan. Metode ini cocok
digunakan mencegah infiltrasi air ke dalam tanah.
(6) Penanaman tumbuh-tumbuhan
Penanaman tumbuh-tumbuhan pada daerah lereng akan sangat berguna dalam upaya
memperkuat stabilitas tanah. Tanaman yang digunakan sebaiknya tanaman yang mempunyai
akar serabut, terutama untuk yang ditanam pada lereng bagian atas. Dengan penanaman
tumbuhan berakar serabut ini, diharapkan air hujan yang masuk ke dalam tanah, akan lebih
banyak yang dapat diserap oleh akar tumbuhan tersebut. Tumbuhan yang berakar tunggal lebih
cocok ditanam pada bagian bawah lereng sebagai upaya perkuatan lereng bagian bawah.
3). Alternatif pengendalian gerakantanah
Selain beberapa cara di atas, ada beberapa alternatif pengendalian gerakantanah yang dapat
digunakan sebagai acuan untuk meminimalisasi. Berikut alternatif-alternatif pengendalian
gerakantanah
a). Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas dekat pemukiman:
b). Buatlah terasering (sengkedan) pada lereng terjal bila membangun permukiman.
c). Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
d). Jangan menebang pohon pada daerah lereng.
e). Jangan membangun rumah di bawah tebing.
f). Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Gerakantanah di daerah penelitian berupa nendatan (slump), runtuhan batuan (rock fall),
runtuhan debris (debris fall), longsoran batuan (rock slide), longsoran debris (debris slide), aliran
debris (debris flow).
Arahan penanggulangan gerakantanah yaitu: Mengubah geometri lereng dengan cara:
pelandaian kemiringan lereng dan pembuatan trap-trap/bangku (benching) dan perbaikan stabilitas
lereng dengan cara mengontrol drainase dan rembesan dengan cara: membuat parit permukaan,
menutup retakan pada bagian atas lereng, perataan kembali untuk menghilangkan genangan air,
perkerasan permukaan lereng dan penanaman tumbuh-tumbuhan.
Saran
Kepada pemerintah daerah maupun penduduk setempat, agar lebih cermat memperhatikan
gejala-gejala awal terjadinya gerakantanah, agar proses penanggulang-annya dapat segera dilakukan
guna meminimasi dampak buruk dari gerakantanah tersebut. Kedua yaitu, pengaturan tata guna lahan
untuk permukiman disarankan menempati pada daerah yang relatif aman.
PUSTAKA
Bemmelen, R. W. Van., 1949, The Geology of Indonesia, Vol.IA, The Haque Martinus Nijhoff,
Netherlands.
Blow, 1969., Late Middle Eocene Forecent Planktonik Foraminifera Biosstratigraphy-Internal Cont,
Planktonik microfosiles, 1st edition, Geneva (1967), Proc. Leiden E.F. Brill, v.l
Hardiyatmo, C., H., 2006, Penanganan Tanah Longsor dan Erosi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Samodra, dkk., 1992, Peta Geologi Lembar Tulungagung, Skala 1:25.000, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi (PPPG), Bandung.
Zuidam, R.A. Van., 1983, Aspects Of The Applied Geomorphologic Map Of The Republic Of
Indonesia, Department of Geomorphology and Geography, ITC, Enscede, Netherlands.
179
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
Lampiran 1. Peta geomorfologi daerah penelitian
Lampiran 2. Peta geologi daerah penelitian
180
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta
Lampiran 3. Peta potensi gerakantanah di daerah penelitian
181
Download