faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

advertisement
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN
PREEKLAMPSIA KEHAMILANDI WILAYAH KERJA
PUSKESMASPAMULANG KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN
2014-2015
Skripsi
Disusununtuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh:
SRI FUJI ASTUTI
1111101000083
PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
ii
iii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN
Skripsi, Desember 2015
Sri Fuji Astuti, NIM : 1111101000083
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia Kehamilan di
Wilayah Kerja PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015
Xiv+82 halaman, 6 Tabel, 2 Bagan, 4 Lampiran
ABSTRAK
Latar Belakang: Preeklampsia merupakan keadaan yang khas pada kehamilan
yang ditandai dengan gejala edema, hipertensi, serta proteinuria yang terjadi
setelah usia kehamilan 28 minggu dan belum diketahui penyebabnya. Penyebab
kematian ibu di Kota Tangerang Selatan disebabkan oleh pre-eklampsia/eklampsia
(35,7%). PuskesmasPamulangmerupakan salah satu Puskesmas di Kota
Tangerang Selatan yang mempunyai jumlah komplikasi kehamilan yang paling
tinggi yaitu sebanyak 710 ibu hamil pada tahun 2014.
Tujuan: Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
preeklampsia kehamilan di wilayah kerja PuskesmasPamulang tahun 2014-2015.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi case control. Populasi penelitian
adalah ibu yang tinggal di wilayah kerja PuskesmasPamulang dan telah melakukan
persalinan dan pemeriksaan antenatal care di fasilitas pelayanan kesehatan wilayah
kerja PuskesmasPamulang pada tahun 2014-2015.Sampel penelitian pada kelompok
kasus dan kontrol diambil secara acak dengan menggunakan teknik simple random
samplingdan menggunakan kreteria inklusi dan eksklusi jumlah sampel diperoleh
sebanyak 120 ibu dengan perbandingan kasus kontrol1:2. Medical record dari buku
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan kuesioner.
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara usia
ibu(Pvalue=0,017; OR=2,627; 95% CI= 1,171-5,894), status pendidikan ibu (P
value=0,002; OR=3,548; 95% CI= 1,584-7,948), dan riwayat penyakit hipertensi (P
value=0,000; OR=9,444; 95% CI= 3,891-22,924)dengan kejadian preeklampsia.
Sedangkan faktor yang tidak berhubungan yaitu pekerjaan, pemeriksaan Antenatal
Care, jumlah paritas, jarak kehamilan, riwayat komplikasi kehamilan dan riwayat
penyakit Diabetes mellitus. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pemeriksaan
antenatal care ke pelayanan kesehatan sehingga apabila terjadi preeklampsia dapat
ditangani dengan cepat dan tepat.
Kata Kunci: Preeklampsia, antenatal care, karakteristik ibu, riwayat penyakit dan
riwayat komplikasi kehamilan
Daftar Bacaan: 60 (2001-2015)
iv
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
MAYOR OF PUBLIC HEALTH
DEPARTEMENT OF HEALTH PROMOTION
Undergraduated Thesis, Desember 2015
Sri Fuji Astuti, NIM : 1111101000083
Factors Related With Preeclampsia During Pregnancy In The Work Region Of
Pamulang Health Center, South Tangerang 2014-2015
Xiv+82page, 6 Tables, 2 Chart, 4attachments
ABSTRACT
Background: Preeclampsia is special condition followedby edema, hypertension,
and proteinuria, that mostly happens by in 28weeksof pregnancy and still not known
the exact causes. In PamulangCommunity Health Center (CHC),pre eclampsia
caused35.7% maternal deaths. Pamulang CHC is one of the health centers in
SouthTangerangCity that has the highest pregnancy complication that are 710
pregnancy mothers in 2014
Purpose: to know factors related with preeclampsia of pregnancy in the work region
of PamulangCHC in the year of 2014-2015.
Method:This research used case-control study design. The population are mother
who live at the work region of PamulangCHC and have undergone childbirth and
antenatal care servicesin health care facilities at PamulangCHC work region in 20142015. The research sample in the case and control group was drawn by using simple
random sampling technics by using inclusion and exclusion criteria with the number
of sample was 120 mothers with comparison case and control 1:2. The research
instruments are medical records of KIA (Mothers and Children Health) book and
questionnaires.
Result:the results of this research showed that preeclampsia significantly related to
maternal age (Pvalue=0,017; OR=2,627; 95% CI= 1,171-5,894), educational status
of the mothers (P Value=0,002; OR=3,548; 95% CI= 1,584-7,948), and the history
of hypertension (P Value=0,000; OR=9,444; 95% CI= 3,891-22,924). Meanwhile, the
factors that has not related are profession, antenatal care, parity, the distance of
pregnancy, history of pregnancy complication, and history of Diabetes mellitus
diseases.Therefore, it is highly needed to do antenatal care in health services so if
detected pre-eclampsia, it could be handled quickly and appropriately
Key word: Preeclampsia, antenatal care,characteristics of mothers,
diseases, pregnancy of complication
Reading List: 60 (2001-2015)
history of
v
vi
viii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu”
Alhamdulillahirobbil alamin, puji sukur penulis ucapkan kepada Allah SWT
yang telah memberikan rahmat, hidayah dan nikmat yang berlimpah, sehingga
penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian dengan judul “Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia Kehamilan di Wilayah Kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015”. Sholawat serta
salam penulis haturkan kepada Rasulullah SAW, semoga kita semua mendapatkan
syafaatnya di akhirat nanti. Amin.
Penulis menyadari bahwa proposal skripsi ini bukan hanya karena usaha penulis
semata, namun banyak pihak yang telah membantu menyelesaikan proposal skripsi
ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulisjuga ingin mengucapkan rasa
terimakasih kepada :
1. Bapak DR. Arif Sumantri, S.KM, M.Kes selaku dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Fajar Ariyanti, S.KM, M.Kes selaku Kepala Program Studi Kesehatan
Masyarakat.
3. Ibu Fase Badriah, Ph.D sebagai pembimbing I yang telah banyak memberikan
masukan dan saran perbaikan terhadap laporan skripsi ini.
ix
4. dr. Yuli Prapanca Satar, MARS sebagai pembimbing II yang telah
memberikan masukan dan saran bagi penulis selama penyusunan laporan
skripsi.
5. Ibu Hoirun Nisa, M.Kes, Ph.D pembimbing yang telah memberikan masukan
dan saran bagi penulis selama penyusunan proposal skripsi.
6. Para dosen-dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat dan dosen-dosen
Peminatan Promosi Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah
memberikan ilmu yang bermanfaat.
7. Mamah, Papah, dan Nenek serta adik-adikku tersayang (Dede, Bagus, dan
Anggun) yang selalu memberikan dukungan, nasehat serta doa yang selalu
dipanjatkan demi kelancaran penyusunan laporan skripsi ini.
8. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan yang telah memberikan izin
untuk melakukan penelitian di salah satu Puskesmas wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan.
9. Kepala PuskesmasPamulang yang telah memberikan izin penelitian dan
pengambilan data di wilayah kerja PuskesmasPamulang.
10. Ika Amalia Putri yang selalu setia menemani turun lapangan
11. Teman – teman Promosi kesehatan dan teman-teman kosan Ballans dan juga
semua pihak yang dengan setia
memberikan
semangat,
masukan,
dukungan, dan tempat berbagi ilmu dalam penyusunan proposal skripsi.
Penulis menyadari bahwa proposal skripsi ini masih kurang dari sempurna.Oleh
karena itu, penulis sangat mengharapkan saran perbaikan dari pembaca.
“Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu”
x
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ........................................................Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK....................................................................................................................................iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN .............................................Error! Bookmark not defined.
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI ...................................................................................... v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ viii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................................x
DAFTAR TABEL................................................................................................................... xiii
DAFTAR BAGAN ................................................................................................................. xiv
BAB I ........................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 1
A.
Latar Belakang .............................................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah ......................................................................................................... 4
C.
Pertanyaan Penelitian .................................................................................................... 5
D.
Tujuan penelitian .......................................................................................................... 6
1.
Tujuan Umum ........................................................................................................... 6
2.
Tujuan Khusus .......................................................................................................... 6
Manfaat penelitian ........................................................................................................ 7
E.
F.
1.
Manfaat bagi peneliti berikutnya .............................................................................. 7
2.
Manfaat bagi Instansi ................................................................................................ 7
3.
Manfaat bagi masyarakat .......................................................................................... 7
Ruang Lingkup.............................................................................................................. 7
BAB II....................................................................................................................................... 9
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................................... 9
A.
Pre-eklampsia ................................................................................................................ 9
B.
Gejala-gejala ................................................................................................................. 9
xi
C.
Macam-macam preeklampsia ..................................................................................... 10
D.
Pencegahan Preeklampsia ........................................................................................... 12
E.
Penanganan Preeklampsia ........................................................................................... 12
F.
Karakteristik penyebab preeklampsia ......................................................................... 14
G.
Kerangka Teori ........................................................................................................... 23
BAB III ................................................................................................................................... 29
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 29
A.
Kerangka Konsep ........................................................................................................ 29
a.
Definisi Operasional ................................................................................................... 32
b.
Uji Hipotesis ............................................................................................................... 34
BAB IV ................................................................................................................................... 35
METODOLOGI PENELITIAN .............................................................................................. 35
A.
Desain Penelitian ........................................................................................................ 35
c.
Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................................................... 35
d.
Populasi dan Sampel Penelitian .................................................................................. 36
e.
Metode Pengumpulan Data ......................................................................................... 39
f.
Manajemen Data ......................................................................................................... 40
H. Metode Analisis Data ..................................................................................................... 41
1. Analisis Data Univariat ............................................................................................... 41
5.
Analisis Data Bivariat ............................................................................................. 41
BAB V .................................................................................................................................... 43
HASIL ..................................................................................................................................... 43
A.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................................... 43
B.
Analisis Univariat ....................................................................................................... 44
C.
Analisis Bivariat.......................................................................................................... 48
1. Distribusi Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelompok Kasus dan Kontrol di
Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Kota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015 ............. 48
BAB VI ................................................................................................................................... 53
PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 53
A.
Keterbatasan Penelitian ............................................................................................... 53
xii
B. Distribusi Frekuensi Kejadian Preeklampsia Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas
Pamulang Kota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015........................................................ 54
C. Variabel yang Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia di Wilayah Kerja
Puskesmas Pamulang Kota Tangerang Selatan .................................................................. 55
D. Variabel yang tidak Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia di Wilayah Kerja
Puskesmas Pamulang Kota Tangerang Selatan .................................................................. 62
BAB VII .................................................................................................................................. 73
SIMPULAN DAN SARAN .................................................................................................... 73
A.
Simpulan ..................................................................................................................... 73
B.
Saran ........................................................................................................................... 74
Daftar Pustaka ......................................................................................................................... 77
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional .............................................................................
32
Tabel 4.1 Hasil Penelitian Terdahulu ...................................................................
38
Tabel 5.1 Wilayah Kerja PuskesmasPamulang.....................................................
43
Tabel 5.2 Distribusi Freekunsi Kejadian Preeklampsia Kehamilan di Wilayah Kerja
PuskesmasPamulang Tahun 2014-2015 ................................................................
44
Tabel 5.3 Distribusi Karakteristik Ibu pada Kelompok Kasus dan Kontrol di Wilayah
Kerja PuskesmasPamulang Kota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015 ..............
45
Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Ibu pada Kelompok Kasus dan Kontrol di Wilayah
Kerja PuskesmasPamulang Kota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015 ..............
48
xiv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Teori ...............................................................................................
28
Bagan 3.1 Kerangka Konsep ............................................................................................
31
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu masalah kesehatan
ibu dan anak di Indonesia. Tingginya AKI di Indonesia yakni mencapai 359 per
100.000 Kelahiran Hidup (KH), masih jauh dari target Millenium Development
Goals (MDGs) pada tahun 2015 yaitu AKI sampai pada 102 per 100.000 KH atau
1,02 per 1000 KH (SDKI, 2012). Data World Health Organization (WHO) tahun
1998-2008, menyatakan bahwa kematian ibu di dunia mencapai 342.900
kematian setiap tahunnya dan diiringi sepertiga kematian neonatal. Laporan
kesehatan dunia menyatakan bahwa ada sekitar 287.000 kematian ibu pada tahun
2010 yang terdiri atas Afrika Sub-Sahara (56%) dan Asia Selatan (29%) atau
sekitar 85% (245.000 kematian ibu) terjadi di negara berkembang. Sedangkan di
negara-negara Asia Tenggara yaitu 150 ibu per 100.000 kelahiran hidup
(Christina, 2013). Indonesia berada pada peringkat ke-14 dari 18 negara di
Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan peringkat ke-5
tertinggi di South East Asia Region (SEARO) (Hukmiah dkk, 2013).
Secara global, setiap dua menit di suatu tempat di dunia, seorang perempuan
meninggal akibat komplikasi kehamilan dan kemungkinan bayinya yang baru lahir
untuk bertahan hidup sangat kecil. Pada setiap perempuan yang meninggal, 20
1
2
sampai 30 menderita masalah yang signifikan dan kadang-kadang seumur hidup
karena kehamilan mereka (Unicef, 2012). Komplikasi kehamilan, persalinan,dan
nifas merupakan determinan langsung kematian ibu. Semakin tinggi kasus
komplikasi maka semakin tinggi kasus kematian ibu.
Komplikasi kehamilan berpengaruh terhadap kematian ibu dengan odds ratio
(OR) sebesar 12,189 apabila variabel komplikasi persalinan dan riwayat penyakit
dibuat konstan (dikontrol), ibu yang mengalami komplikasi kehamilan berisiko
mengalami kematian 12,198 kali lebih besar daripada ibu yang tidak mengalami
komplikasi kehamilan. Sedangkan komplikasi persalinan berpengaruh terhadap
kematian ibu dengan OR sebesar 9,94 (Aeni, 2013). Adapun jenis komplikasi
sebagai penyebab langsung terjadinya kematian ibu adalah perdarahan 28%,
eklampsia 24%, infeksi 11%, dan komplikasi kehamilan lain 15% (Afdhal dkk,
2012). Ibu yang mengalami komplikasi pada kehamilan cenderung mengalami
komplikasi pada persalinannya 2,15 kali dibandingkan ibu yang tidak mengalami
komplikasi pada kehamilannya (OR=2,15; 95% CI 1,81-2,54) (Armagustini,
2010).
Kota Tangerang Selatan (Tangsel) juga masih terjadi kematian ibu dimana
pada tahun 2012 terjadi 12 kasus kematian ibu.Sedangkan pada tahun 2013 terjadi
peningkatan menjadi 14 kasus. Penyebab kematian ibu di Kota Tangerang Selatan
yaitu pre-eklampsia/eklampsia (35,7%), perdarahan (14,3%), dan sebab lain
(50%).Di wilayah Kota Tangerang Selatan jumlah kematian ibu paling banyak
terdapat di wilayah PuskesmasPamulang pada tahun 2013 di mana terjadi 3 kasus
kematian ibu. Pada wilayah tersebut, memiliki jumlah ibu hamil (bumil) yang
3
berisiko tinggi mengalami komplikasi kebidanan sebanyak 651 orang.Sedangkan
pada tahun 2014 terjadi peningkatan jumlah ibu hamil yang berisiko tinggi
mengalami komplikasi kehamilan sebanyak 710 orang (Dinkes Tangsel,
2014).Komplikasi kehamilan yang paling banyak dialami ibu hamil yang
berkunjung ke PuskesmasPamulang yaitu ibu yang mengalami preeklampsia.
Preeklampsia dan eklampsia diperkirakan menjadi penyebab kematian
ibu 14% tiap tahun dan dihubungkan dengan angka mortalitas dan morbiditas
neonatal serta angaka maternal yang tinggi (Rinawati, 2010).Di beberapa negara
maju seperti di Australia dan Inggris, preeklampsia merupakan penyebab utama
kematian maternal. Angka kejadian preeklampsia di Australia sebesar 10-25%, di
Inggris sebesar 100 per 1 juta kehamilan (Sumarni, 2014). Di Amerika Serikat
preeklampsia juga menjadi penyebab 15% kelahiran prematur dan 17,6%
kematian maternal (Rinawati, 2010).
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,
penyebab
langsung
AKI
di
Indonesia
antara
lain:
perdarahan
42%,
eklampsia/preeklampsia 13%, abortus 11%, infeksi 10%, partus lama/persalinan
macet 9%, dan penyebab lain
15 % (SDKI, 2012). Menurut Djannah
(2010),kejadian preeklampsia pada negara berkembang berkisar antara 0,3 persen
sampai 0,7 persen, sedangkan pada negara maju angka preeklampsia lebih kecil
yaitu berkisar antara 0,05 persen sampai 0,1 persen. Di Indonesia preeklampsia
berat dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu 1,5 persen sampai 25
persen, sedangkan kematian bayi antara 45 persen sampai 50 persen (Djannah,
2010).
4
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan di RSUP Dr.M. Djamil
Padang tahun 2013 pada ibu bersalin, didapatkan ibu yang mengalami
preeklampsia 83,3% terjadi pada usia berisiko (usia <20 tahun dan >35 tahun),
46,4% terjadi pada paritas berisiko (paritas 1 dan >2), 75% pada kehamilan
kembar, 57,1% terjadi pada ibu yang memiliki penyakit obesitas dan 66,7% pada
ibu yang memiliki riwayat diabetes (Hanum, 2013). Sedangkan pada penelitian
Djannah (2010), faktor terjadinya preeklampsia yaitu sebagian besar dari
kelompok 20-30 tahun sebesar 64,4%, ibu yang memiliki paritas primigravida
sebesar 69,5%, dan pada ibu yang memiliki kehamilan <4 sebesar 76,3%. Sampai
saai ini di Puskesmas Pamulang belum pernah dilakukan penelitian mengenai
penyebab preeklampsia kehamilan.Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti
faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklampsiakehamilan di
wilayah kerja PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan tahun 2014-2015.
B. Rumusan Masalah
Angka kematian ibu di Indonesia pada 2012 yaitu 359 per 100.000 KH dan
masih jauh daritarget MDGs pada tahun 2015 yaitu AKI sampai pada 102 per
100.000 KH. Wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) juga masih memberikan
sumbangan kematian ibu dimana pada tahun 2012 terjadi 12 kasus kematian ibu.
Sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 14 kasus. Penyebab
kematian ibu di Kota Tangerang Selatan yaitu pre-eklampsia/eklampsia sebesar
35,7%. Di wilayah Kota Tangsel jumlah kematian ibu paling banyak terdapat di
wilayah kerja PuskesmasPamulang pada tahun 2013 terjadi 3 kasus kematian ibu.
5
Penyebab kematian langsung kematian ibu salah satunya disebabkan oleh
komplikasi kehamilan. Jumlah komplikasi kehamilan paling banyak terjadi di
PuskesmasPamulang sebesar 651 orang pada tahun 2013 dan terjadi peningkatan
pada tahun 2014 yakni sebesar 710 orang.Jenis komplikasi kehamilan yang paling
banyak dialami oleh ibu hamil di wilayah kerja PuskesmasPamulangyaitu
preeklampsia.Preeklampsia dapat menjadi penyumbang kematian ibu dan dapat
membahayakan
janin
yang
dikandungnya
apabila
tidak
segera
ditangani.Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian terkait
“faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklampsiakehamilan di
wilayah kerja PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan tahun 2014-2015”.
C. Pertanyaan Penelitian
1.
Bagaimanakah distribusi frekuensi kejadian preeklampsiadi wilayah kerja
PuskesmasPamulang tahun 2014-2015?
2.
Bagaimanakah hubungan antara status kesehatan (penyakit kronik dan
riwayat komplikasi) dengan kejadian preeklampsiadi wilayah kerja
PuskesmasPamulang tahun 2014-2015?
3.
Bagaimanakah hubungan antara status reproduksi (umur, paritas dan jarak
kehamilan) dengan kejadian preeklampsiakehamilan di wilayah kerja
PuskesmasPamulang tahun 2014-2015?
4.
Bagaimanakah hubungan antara perilaku pemeriksaan antenatal care dengan
kejadian preeklampsiakehamilan di wilayah kerja PuskesmasPamulang
tahun 2014-2015?
6
5.
Bagaimanakah hubungan antara karakteristik ibu hamil (pendidikan dan
status pekerjaan ibu) dengan kejadian preeklampsiakehamilan di wilayah
kerja PuskesmasPamulang tahun 2014-2015?
D. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan
kejadian
preeklampsiakehamilan di wilayah kerja PuskesmasPamulangKota Tangerang
Selatan tahun 2014-2015.
2. Tujuan Khusus
a.
Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian preeklampsiakehamilan di
wilayah kerja PuskesmasPamulang tahun 2014-2015
b.
Diketahuinya hubungan antara status kesehatan (penyakit kronik dan
riwayat komplikasi) dengan kejadian preeklampsiakehamilan di
wilayah kerja PuskesmasPamulangtahun 2014-2015
c.
Diketahuinya hubungan antara status reproduksi (umur, paritas dan
jarak kehamilan) dengan kejadian preeklampsiakehamilan di wilayah
kerja PuskesmasPamulang tahun 2014-2015
d.
Diketahuinya hubungan antara perilaku pemeriksaan antenatal care
dengan
kejadian
preeklampsiakehamilan
PuskesmasPamulang tahun 2014-2015
di
wilayah
kerja
7
e.
Diketahuinya hubungan antara karakteristik ibu hamil (pendidikan dan
status pekerjaan ibu) dengan kejadian preeklampsia di wilayah kerja
PuskesmasPamulang tahun 2014-2015
E. Manfaat penelitian
1. Manfaat bagi peneliti berikutnya
Dapat dijadikan sebagai pengetahuan, informasi, dan referensi dalam
penelitian selanjutnya terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian preeklampsiakehamilan.
2. Manfaat bagi Instansi
a. Hasil penelitian dapat memberikan informasi terkait faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kejadian preeklampsiapada ibu hamil
b. Hasil penelitian dapat digunakan instansi untuk evaluasi dan membuat
kebijakan dalam menurunkan angka kematian ibu diwilayahnya.
3. Manfaat bagi masyarakat
Dapat memberikan informasi terkait faktor-faktor yang dapat
berhubungan
dengan
kejadian
preeklampsiapada
ibu
hamil.sehingga
masyarakat khususnya ibu hamil dapat lebih waspadadalam menjaga
kehamilan.
F. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja PuskesmasPamulang pada juli
sampai november 2015 dengan populasi penelitian yakni semua ibu yang
8
melahirkan pada periode 1 januari 2014 sampai September 2015 sebanyak 843
orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan
kejadian
preeklampsiakehamilan
di
wilayah
kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan tahun 2014-2015. Metode yang
digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian case controldengan
pendekatan retrospektif dengan uji analisis statistik menggunakan uji chisquare.Adapun instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang mencakup
variabel-variabel
yang
PuskesmasPamulang.
diteliti
serta
telaah
dokumen
rekam
medis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pre-eklampsia
Pre-eklampsia merupakan keadaan yang khas pada kehamilan yang
ditandai dengan gejala edema, hipertensi, serta proteinuria yang terjadi setelah
usia kehamilan 28 minggu dan belum diketahui penyebabnya. Tetapi ada
faktor tertentu sebagai predisposisi yaitu kekhasan pada kehamilan terutama
pada primigravida, overdistensi uterus (kehamilan kembar, polihidramnion,
abnormalitas
janin),
penyakit ginjal,
hipertensi
essensial, diabetes,
dan
disfungsi plasenta (Armagustini, 2010).
Preeklampsia dan eklampsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada
ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi,
proteinuria dan edema, yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu
tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi
sebelumnya (Puspita, 2013)
B. Gejala-gejala
Terjadinya peningkatan tekanan sistolik sekurang-kurangnya 30 mm Hg,
atau peningkatan tekanan diastolik sekurang-kurangnya 15 mm Hg, atau adanya
tekanan sistolik sekurang-kurangnya 140 mmHg, atau tekanan diastolik sekurangkurangnya 90 mm Hg atau lebih atau dengan kenaikan 20 mm Hg atau lebih, ini
9
10
sudah dapat dibuat sebagai diagnosa. Penentuan tekanan darah dilakukan minimal
2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Tetapi bila diastolik sudah
mencapai 100 mmHg atau lebih, ini sebuah indikasi terjadi preeklampsia berat.
Berikut ini merupakan tanda-tanda atau gejala preeklampsia: (Rozikhan, 2007)
1.
Sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau oedema otak.
2.
Sakit di ulu hati karena regangan selaput hati oleh haemorrhagia atau edema,
atau sakit kerena perubahan pada lambung.
3.
Gangguan penglihatan: Penglihatan menjadi kabur malahan kadang-kadang
pasien buta. Gangguan ini
disebabkan vasospasmus, edema atau ablatio
retinae. Perubahan ini dapat dilihat dengan ophtalmoscop.
4.
Gangguan pernafasan sampai sianosis
5.
Pada keadaan berat akan diikuti gangguan kesadaran
C. Macam-macam preeklampsia
Preeklampsia ini dibagi dalam preeklampsia ringan dan berat.Preeklampsia
ringan masih dapat berobat jalan dengan diet rendah garam dan kontrol setiap
minggu.Disamping itu diberikan nasihat bila keluhan makin meningkat disertai
gangguan subjektif maka disarankan untuk segera kembali memeriksakan
diri.Preeklampsia berat merupakan kelanjutan preeklampsia ringan(Armagustini,
2010). Preeklampsia dibagi menjadi beberapa golongan yaitu: (Indriani, 2012)
1. preeklampsia ringan, bila disetai keadaan sebagai berikut:
11
a. Tekanan darah 140/90mmHg atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau
lebih atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih pada usia kehamilan
20 minggu dengan riwayat tekanan darah sebelumnya normal.
b. Proteinuria ≥0,3 gr per liter atau kuantitatif 1+ atau 2+ pada urine
keteter atau midstream
2. Preeklampsia berat,bila disetai keadaan sebagai berikut:
a. tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
b. Proteinuria 5gr per liter atau lebih dalam 24 jam atau kuantitatif 3+
atau 4+
c. Oliguri, yaitu jumlah urine <500 cc per 24 jam
d. Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di
epigastrium
e. Terdapat edema paru dan sianosissi hati
f. Pertumbuhan janin terhambat
3. Eklampsia : pada umumnya gejala eclampsia didahului dengan semakin
memburuknya preeklampsia. Apabila keadaan ini tidak dikenali dan
diobati segera maka akan timbul kejang terutama pada saat persalinan.
Eklampsia
merupakan keadaan
mendadak tanpa
terjadinya
didahului
kejang. Kejang
langka
yang
preeklampsia,
biasanya
tidak dapat
yang
terjadi
ditandai dengan
didahului adanya
peningkatan
intensitas pre-eklmpsia, gejala majemuk yang bertambah, mata yang
berputar-putar, kedutan, dan
2010).
pernapasan yang tidak teratur(Retnowati,
12
D. Pencegahan Preeklampsia
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, dapat
menemukan tanda-tanda bahaya sedini mungkin, lalu diberikan pengobatan
yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat, selalu waspada
terhadap kemungkinan terjadinya preeklampsia. Walaupun timbulnya
preeklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat
dikurangi sepenuhnya, namun frekuensi terjadinya masih dapat dikurangi
dengan pelaksanaan pengawasan yang baik pada ibu hamil (Indriani, 2012)
E. Penanganan Preeklampsia
Konsep pengobatannya harus dapat mematahkan mata rantai iskemia
regio uteoplasenter sehingga gejala hipertensi dalam kehamilan dapat
diturunkan (Manuaba, 2007). Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap
kehamilan dengan penyulit preeklampsia adalah (Cunningham, 2006) :
a. Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan
janinnya
b. Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang
c. Pemulihan sempurna kesehatan ibu
Berikut merupakan penanganan preeklampsia sesuai dengan jenis
preeklampsianya:
1. Preeklampsia ringan
Penderita preeklampsia ringan biasanya tidak dirawat dan harus lebih
sering melakukan pemeriksaan antenatal dengan memantau tekanan darah,
13
urine (untuk proteinuria), dan kondisi janin.Selain itu Pasien diminta untuk
istirahat, dan juga konseling pasien dengan keluarganya tentang tanda-tanda
bahaya.Obat anti hipertensi dan diuretik belum direkomendasikan untuk
digunakan pada penderita preeklampsia ringan kecuali jika terdapat edema
paru, dekompensatio kordis atau gagal ginjal akut (Artikasari, 2009).
2. Preeklampsia berat
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa
persalinan harus berlangsungdalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada
eklampsia. Semua kasus preeklampsia berat harus ditangani secara aktif
(Artikasari, 2009).Pengelolaan preeklampsia berat mencakup pencegahan
kejang, pengobatan hipertensi, pengelolaan cairan, pelayanan supportif
terhadap penyulit organ yang terlibat dan saat yang tepat untuk
persalinan.Pengelolaan cairan pada preeklampsia bertujuan untuk mencegah
terjadinya edema paru dan oliguria.Diuretikum diberikan jika terjadi edema
paru dan payah jantung.Pemberian obat antikejang pada preeklampsia
bertujuan untuk mencegah terjadinya kejang (eklampsia).Obat yang
digunakan sebagai antikejang antara lain diazepam, fenitoin, dan magnesium
sulfat (MgSO4) (Rini, 2010).MgSO4 diberikan secara intravena kepada ibu
dengan eklampsia (sebagai tatalaksana kejang) dan preeklampsia berat
(sebagai pencegahan kejang) (Kemenkes RI, 2013).
14
F. Karakteristik penyebab preeklampsia
1.
Umur
Kehamilan bagi wanita dengan umur muda maupun umur tua merupakan
suatu keadaan yang dapat menimbulkan risiko komplikasi dan kematian
ibu.Pada Umur 20-35 tahun adalah periode yang aman untuk melahirkan
dengan risiko kesakitan dan kematian ibu yang paling rendah.Penelitian yang
dilakukan oleh Langelo, dkk (2013), menunjukan bahwa wanita umur<20
tahun dan >35 tahun memiliki risiko 3,37 kali dibandingkan wanita umur 2035 tahun.Selain itu, hasil penelitian Asrianti (2009)menyimpulkan bahwa
umur ibu hamil <20 tahun dan >35 tahun berisiko 3,144 kali mengalami
preeklampsia, penelitian Salim (2005) juga menyebutkan usia ibu hamil < 20
tahun atau ≥ 35 tahun berisiko 3,615 kali lebih besar untuk mengalami
preeklampsia, serta hasil penelitian Ferida (2007) menyimpulkan, ibu
hamil dengan usia yang sama berisiko 3,659 kali lebih besar untuk
mengalami preeklampsia.
Pada umur kurang dari 20 tahun, rahim dan panggul seringkali belum
tumbuh mencapai ukuran dewasa.Akibatnya ibu hamil pada umur itu berisiko
mengalami penyulit pada kehamilannya dikarenakan belum matangnya alat
reproduksinya.Keadaan tersebut diperparah jika ada tekanan (stress) psikologi
saat kehamilan (Sukaesih, 2012).
Pada umur 35 tahun atau lebih, kesehatan ibu sudah menurun
akibatnya ibu hamil pada usia itu mempunyai kemungkinan lebih besar
untuk mempunyai anak cacat, persalinan lama dan perdarahan. Disamping
15
itu, pada wanita usia>35 tahun sering terjadi kekakuan pada bibir rahim
sehingga menimbulkan perdarahan hebat yang bila tidak segera diatasi dapat
menyebabkan kematian ibu (Armagustini, 2010). Royston & Armstrong
(1994), menyatakan bahwa wanita usia remaja yang hamil untuk pertama
kali dan wanita yang hamil pada usia >35 tahun akan mempunyai risiko
yang sangat tinggi untuk mengalami preeklampsia (Indriani, 2012)
2.
Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha mengembangkan kepribadian dan
kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan
seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi maka akan cenderung untuk
mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa.
Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan
yang didapat tentang kesehatan.Oleh karena itu, Pendidikan sangat erat
hubungannya dengan pengetahuan seseorang.Pengetahuan seseorang tentang
suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua
aspek inilah yang akan menentukan sikap
dan perilaku seseorang.
(Sulistiyani, 2013).
Hasil penelitian Supriandono (2001) menyebutkan menyebutkan
bahwa 93,9% penderita preeklampsia berpendidikan kurang dari 12
tahun. Menurut hasil penelitian Nuryani, dkk (2012) menunjukan bahwa ibu
yang mengalami preeklampsia 63,1% memiliki pendidikan kurang dan ibu
16
yang memiliki pendidikan rendah
2,190 akan mengalami kejadiaan
preeklampsia dari pada ibu yang memiliki pendidikan tinggi.Pendidikan
seseorang berhubungan dengan kesempatan dalam menyerap informasi
mengenai
pencegahan
dan
faktor-faktor
pendidikan ini akan dipengaruhi oleh
risiko preeklampsia. Tetapi
seberapa
besar
motivasi,
atau
dukungan lingkungan seseorang untuk menerapkan pencegahan dan faktor
risiko preeklampsia/eklampsia (Djannah, 2010)
3.
Paritas
Persalinan yang berulang-ulang akan mempunyai banyak risiko
terhadap kehamilan, telah terbukti bahwa persalinan kedua dan ketiga adalah
persalinan yang paling aman. Pada The New England Journal of Medicine
tercatat bahwa pada kehamilan pertama risiko terjadi preeklampsia 3,9% ,
kehamilan kedua 1,7%, dan kehamilan ketiga 1,8%.
Paritas yang berisiko mengalami komplikasi yaitu apabila tidak hamil
selama 8 tahun atau lebih sejak kehamilan terakhir, mengalami kehamilan
dengan durasi sedikitnya 20 minggu sebanyak 5 kali atau lebih, dan
kehamilan terjadi dalam waktu 3 bulan dari persalinan terakhir (Lockhart,
2014). Paritas 2 sampai 3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari
sudut kematian maternal.Paritas 1 dan paritas tinggi >3 mempunyai angka
kematian maternal lebih tinggi, semakin tinggi paritas semakin tinggi
kematian maternal. Hal tersebut dikarenakan pada setiap kehamilan terjadi
peregangan rahim, jika kehamilan berlangsung terus menerus maka rahim
17
akan semakin melemah sehingga dikhawatirkan akan terjadi gangguan pada
saat kehamilan, persalinan, dan nifas (Sukaesih, 2012).
4.
Status pekerjaan ibu
Faktorpekerjaanibu
dapat
mempengaruhi
terjadinya
resiko
preeklampsia/eklampsia.Wanita yang bekerja diluar rumah memiliki risiko
lebih tinggi mengalami preeklampsia dibandingkan dengan ibu rumah
tangga.Pekerjaan dikaitkan dengan adanya aktifitas fisik dan stress yang
merupakan faktor resiko terjadinya preeklampsia (Indriani, 2012).
Pekerjaan dikaitkan dengan adanya aktifitas fisik dan stress yang
merupakan faktor resiko terjadinya preeklampsia. Akan tetapi, pada kelompok
ibu yang tidak bekerja dengan tingkat pendapatan yang rendah akan
menyebabkan frekuensi ANC berkurang di samping dengan pendapatan
yang rendah menyebabkan kualitas gizi juga rendah. Kecuali itu pada
kelompok buruh/tani biasanya juga dari kalangan pendidikan rendah kurang
sehingga pengetahuan untuk ANC maupun gizi juga berkurang.Sosial
ekonomi rendah menyebabkan kemampuan daya beli berkurang sehingga
asupan gizi juga berkurang terutama protein.Akibatnya kejadian atau masalahmasalah dalam kehamilan seperti preeklampsia, molahidatidosa, partus
prematurus, keguguran dan lain-lain (Djannah, 2010).
5.
Jarak kehamilan dengan persalinan sebelumnya
Selama kehamilan sumber biologis dalam tubuh ibu secara sistematis
terpakai dan untuk kehamilan berikutnya dibutuhkan waktu 2-4 tahun agar
kondisi tubuh ibu kembali seperti kondisi sebelumnya. Apabila terjadi
18
kehamilan sebelum 2 tahun, kesehatan ibu akan mundur secara progresif.
Jarak yang aman bagi wanita untuk melahirkan kembali paling sedikit 2
tahun.Hal ini agar wanita dapat pulih setelah masa kehamilan dan laktasi.Ibu
yang hamil lagi sebelum 2 tahun sejak kelahiran anak terakhir seringkali
mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan.
Hasi penelitian Rozikhan (2007), menunjukan bahwa ibu dengan jarak
kehamilan yang dekat atau kurang dari 24 bulan mempunyai risiko terjadi
preeklampsia berat yaitu 0,92 kali dibandingkan dengan seorang ibu dengan
jarak kehamilan 24 bulan atau lebih. Wanita dengan jarak kelahiran <2 tahun
juga mempunyai risiko dua kali lebih besar mengalami kematian
dibandingkan jarak kelahiran yang lebih lama (Armagustini, 2010).
6.
Antenatal care
Antenatal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama kehamilannya dan dilaksanakan
sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan
Kebidanan (SPK).
Pelayanan Antenatal yang diberikan sesuai dengan Standar Asuhan
Kebidanan sangat mempengaruhi kondisi ibu dan janin, baik pada saat
kehamilan, persalinan, maupun masa nifas (0-42 hari) dan neonatus (0-28
hari).Faktor resiko juga dapat terdeteksi sehingga penanganan dan rujukan
dapat dilakukan sedini mungkin (Pritasari dkk, 2012).
19
c. Kunjungan Antenatal care
Upaya kesehatan ibu hamil diwujudkan dalam pemberian
antenatal care (ANC) atau perawatan antenatal (PAN) sekurangkurangnya 4 kali selama masa kehamilan, dengan distribusi waktu
sebagai berikut (Lockhart, 2014):
1) Trimester I (usia kehamilan 0-12 minggu): 1 kali
2) Trimester II (Usia kehamilan 12-24 minggu): 1 kali
3) Trimester III (Usia kehamilan 24-36 minggu): 2 kali
Pelayanan antenatal yang berkualitas (sesuai standar) dapat
mendeteksi gejala dan tanda yang berkembang selama kehamilan. Jika
ibu tidak memeriksakan diri hingga paruh kedua masa kehamilan,
diagnosis hiptertensi kronis akansulit dibuat karena tekanan darah
biasanya menurun selama trimester kedua dan ketiga pada wanita
dengan hipertensi.
Kunjungan antenatal kurang dari 4 kali dengan demikian akan
meningkatkan risiko menderita pereklampsia/eklampsia (Djannah,
2010). Pada hasil penelitian Langelo, dkk (2013) ibu yang melakukan
pemeriksaan ANC kurang dari 4 kali berisiko 2,72 untuk mengalami
preeklampsia, sedangkan pada hasil penelitian yang dilakukan Rozanna
(2009) menunjukkan bahwa ibu yang tidak melakukan pemeriksaan
kehamilan
kejadian
yang
tidak teratur merupakan faktor risiko terhadap
preeklampsia
dengan
nilai
OR
2.66.Rostika
(2012),
menunjukan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara Antenatal
20
care dengan kejadiaan preeklampsia di RSUD Dr. R. Soedarsono Kota
Pesuruan Jawa Timur Tahun 2012 dengan p value 0,004 dan ibu yang
memiliki riwayat antenatal care tidak lengkap lebih berisiko mengalami
kejadian preeklampsia 5,7 kali dibandingkan dengan ibu yang memiliki
riwayat Antenatal care lengkap.
d. Pelayanan Standar
Pelayanan
antenatal
terpadu
adalah
pelayanan
antenatal
komprehensif dan berkualitas yang diberikan kepada semua ibu hamil.
Setiap
kehamilan
dalam
perkembangannya
mempunyai
risiko
mengalami penyulit atau komplikasi, oleh karena itu pelayanan
antenatal harus dilakukan secara rutin, terpadu, dan sesuai standar
pelayanan antenatal yang berkualitas. Pelayanan antenatal terpadu dan
berkualitas meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan, termasuk gizi,
agar kehamilan berlangsung sehat
2) Melakukan deteksi dini masalah, penyakit, dan penyulit/komplikasi
kehamilan
3) Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman
4) Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan
rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi
5) Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat
waktu bila diperlukan
21
6) Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam menjaga
kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan
bila terjadi penyulit/komplikasi. (Pritasari dkk, 2012)
Sesuai dengan kebijakan Kementerian Kesehatan, pelayanan
antenatal pada ibu hamil diupayakan agar memenuhi standar kualitas
“7T”, yaitu:
1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan
2) Pengukuran tekanan darah
3) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)
4) Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus
toksoid sesuai status imunisasi
5) Pemberian tablet tambah darah (tablet Fe) minimal 90 tablet selama
kehamilan
6) Pelaksanan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan
konseling, termasuk keluarga berencana)
7) Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin
darah (Hb) dan pemeriksaan golongan darah (jika belum pernah
dilakukan sebelumnya) (Lockhart, 2014).
7.
Riwayat komplikasi
Ibu yang pernah mengalami komplikasi pada waktu kehamilan,
persalinan dan nifas sebelumnya akan menghadapi risiko tinggi pada
kehamilan dan persalinan berikutnya. Menurut Djaja dan Suwandono
(2006), ibu yang mengalami komplikasi pada kehamilan terdahulu berisiko
22
14 kali mengalami komplikasi pada kehamilan berikutnya dibandingkan ibu
yang tidak mengalami komplikasi pada kehamilan dahulu.Selain itu, ibu
yang mengalami komplikasi pada persalinan terdahulu berisiko 9 kali
mengalami komplikasi pada persalinan berikutnya dibandingkan ibu yang
tidak mengalami komplikasi pada persalinan terdahulu (Armagustini, 2010).
Sedangkan menurut penelitian Diana, dkk (2014), diketahui bahwa ibu yang
mempunyai riwayat komplikasi obstetric berisiko untuk mengalami
komplikasi obstetri ibu 5,41 kali lebih besar daripada ibu yang tidak
mempunyai riwayat komplikasi obstetri sebelumnya.
Riwayat obstetric mencakup konsepsi sebelumnya, ada tidaknya
infertilitas dan hasil akhir yang tidak normal termasuk keguguran, kehamilan
diluar kandungan/kehamilan ektopik terganggu (KET), kematian janin
berulang, dan riwayat reproduksi anggota keluarga.Masalah konsepsi pada
kehamilan sebelumnya merupakan penentu terkuat hilangnya janin pada
kehamilan
berikutnya
(sukaesih,
2012).Peningkatan
resiko
preeklampsia/eklampsia dapat terjadi pada ibu yang memiliki riwayat
hipertensi kronik, diabetes dan adanya riwayat preeklampsia/eklampsia
sebelumnya.
8.
Penyakit kronik
Riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dandiabetes mellitusdapat
menyebabkan kesehatan dan pertumbuhan janin terganggu dan dapat terjadi
penyulit selama kehamilan. Apabila ibu hamil memiliki hipertensi maka
resiko terjadinya lahir mati, retardasi pertumbuhan janin, dan pre eklampsi
23
akan menjadi lebih besar. Sedangkan ibu yang memiliki penyakit diabetes
mellitus (DM) akan meningkatkan mortalitas perinatal sebesar 3-5%
.sedangkan kejadian anomali kongenital berisiko lebih tinggi 6-12%
dibandingkan dengan ibu hamil tanpa DM 2-3 % (Sukaesih, 2012).
G. Kerangka Teori
Menurut McCarthy dan Maine (1992), mengemukakan peran determinan
kematian ibu sebagai keadaan atau hal-hal yang melatarbelakangi dan menjadi
penyebab langsung serta tidak langsung dari kematian ibu.Penyebab langsung
kematian ibu adalah kejadian kehamilan dan komplikasi kehamilan dan persalinan
antara lain perdarahan, infeksi, preeklampsia/eklampsia, persalinan macet, abortus
dan ruptur uteri.Penyebab antara adalah status kesehatan, status reproduksi,
perilaku sehat, akses terhadap pelayanan kesehatan, dan faktor-faktor lain yang
tidak terduga.Sedangkan penyebabmendasar/kontekstual adalah status wanita
dalam keluarga dan masyarakat, status keluarga dalam masyarakat, dan status
masyarakat.Penyebab kontekstual berkaitan dengan tiga terlambat (3T) yaitu
terlambat dalam pengambilan keputusan untuk merujuk, terlambat dalam
mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat dalam memperoleh pertolongan di
fasilitas kesehatan (Armagustini, 2010).
Akses terhadap pelayanan kesehatan yang merupakan penyebab antara dapat
dipengaruhi oleh keterjangkauan lokasi tempat pelayanan, jenis dan kualitas
pelayanan yang tersedia, dan keterjangkauan informasi.Tempat pelayanan yang
sulit dicapai, jenis dan kualitas pelayanan yang kurang memadai, serta informasi
24
yang kurang menyebabkan rendahnya akses ibu hamil terhadap pelayanan
kesehatan yang tersedia (Armagustini, 2010).
.Determinan kematian ibu tersebut dikelompokkan dalam tiga kelompok
yaitu determinan proksi/dekat (proximate determinants), determinan antara
(intermediate
determinants),
dan
determinan
kontekstual
(contextual
determinants): (Depkes, 2007)
1. Determinan Proksi
a) Kejadian Kehamilan
Perempuan yang hamil memiliki risiko untuk mengalami komplikasi
sedangkan perempuan yang tidak hamil tidak memiliki risiko tersebut.Dengan
demikian program Keluarga Berencana (KB) dapat secara tidak langsung
mengurangi risiko kematian ibu. Efek KB terhadap penurunan AKI berkaitan
dengan total fertility rate (TFR). Bila TFR tinggi maka penurunan kematian ibu
akan sangat dipengaruhi oleh keikutsertaan KB. Sebaliknya bila TFR cukup
rendah maka pelayanan KB tidak lagi berpengaruh terhadap penurunan AKI.
Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa angka total kesuburan (Total
Fertility Rate/TFR)ternyata tidak selalu memberikan dampak yang berarti pada
penurunan AKI karena kematian ibu berkaitan pula dengan faktor-faktor lain
seperti kualitas pelayanan kesehatan.
b) Komplikasi Kehamilan dan persalinan
Komplikasi obstetri ini merupakan penyebab langsung kematian ibu, yaitu
perdarahan, infeksi, preeklampsia/eklampsia, partus lama, abortus, dan ruptura
25
uteri (robekan rahim). Intervensi yang ditujukan untuk mengatasi komplikasi
obstetri tersebut merupakan intervensi jangka pendek, yang hasilnya akan dapat
segera terlihat dalam bentuk penurunan AKI. Namun intervensi ini tidak akan
menyelesaikan masalah kematian ibu secara tuntas dan berkesinambungan. Oleh
sebab itu upaya penurunan AKI dalam jangka panjang harus memperhatikan dan
dilengkapi dengan intervensi terhadap determinan antara dan kontekstual.
2. Determinan Antara
a) Status kesehatan
Faktor-faktor status kesehatan ibu antara lain status gizi, penyakit infeksi atau
parasit, penyakit menahun seperti tuberkulosis, penyakit jantung, ginjal, dan
riwayat komplikasi obstetri.Status kesehatan ibu sebelum maupun pada saat
kehamilan berpengaruh besar terhadap kemampuan ibu dalam menghadapi
komplikasi.
b) Status reproduksi
Faktor-faktor status reproduksi antara lainusia ibu hamil (usia dibawah 20
tahun dan diatas 35 tahun merupakan usia berisiko untuk hamil dan melahirkan),
jumlah kelahiran (semakin banyak jumlah kelahiran yang dialami oleh seorang
ibu maka semakin tinggi risikonya untuk mengalami komplikasi), status
perkawinan
(wanita
dengan
status
tidak
menikah
cenderung
kurang
memperhatikan kesehatan diri dan janinnya selama kehamilan dengan tidak
melakukan pemeriksaan kehamilan yang menyebabkan tidak terdeteksinya
kelainan yang dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi).
c) Akses terhadap pelayanan kesehatan
26
Hal ini meliputi aspek ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan.Ketersediaan
pelayanan kesehatan
adalah tersedianya
fasilitas
pelayanan kesehatan dengan jumlah dan kualitas yang memadai.Keterjangkauan
pelayanan kesehatan mencakup jarak, waktu dan biaya.Tempat pelayanan yang
lokasinya tidak strategis atau sulit dicapai oleh para ibu menyebabkan
berkurangnya akses ibu hamil terhadap pelayanan kesehatan.Penggunaan
pelayanan kesehatan yang tersedia tergantung keterjangkauan masyarakat
terhadap informasi.
d) Perilaku sehat
Hal ini antara lain meliputi penggunaan alat kontrasepsi (ibu ber-KB akan
lebih jarang melahirkan dibandingkan dengan ibu yang tidak ber-KB),
pemeriksaan kehamilan (ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilan secara
teratur akan terdeteksi masalah kesehatan dan komplikasinya), penolong
persalinan (ibu yang ditolong oleh dukun berisiko lebih besar untuk mengalami
kematian dibandingkan ibu yang melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan),
perilaku menggugurkan kandungan (ibu
yang berusaha menggugurkan
kandungannya berisiko lebih besar untuk mengalami komplikasi).
e) Faktor-faktor lain yang tidak diketahui atau tidak diduga
Disamping hal-hal diatas terdapat keadaan yang mungkin terjadi secara tibatiba dan tak terduga yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi selama
hamil ataumelahirkan.Beberapa keadaan tersebut terjadi pada saat melahirkan,
misalnya kontraksi uterus yang tidak adekuat, ketuban pecah dini, dan persalinan
kasep.
27
3. Determinan Kontekstual
a) Status perempuan dalam keluarga dan masyarakat
Faktor-faktor yang menentukan status perempuan antara lain tingkat
pendidikan (perempuan yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih
memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya), pekerjaan (ibu yang bekerja di
sektor formal memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi,
termasuk kesehatan), keberdayaan perempuan yang memungkinkan perempuan
lebih aktif dalam menentukan sikap dan lebih mandiri dalam memutuskan hal
yang terbaik bagi dirinya (termasuk kesehatan dan kehamilannya). Semua
variabel tersebutdapat menjadi faktor yang berpengaruh dalam mencegah
kematian ibu.
b) Status keluarga dalam masyarakat
Variabel ini lebih menekankan pada keluarga perempuan, antara lain
penghasilan keluarga, kekayaan keluarga, tingkat pendidikan dan status
pekerjaan anggota keluarga juga dapat berpengaruh terhadap risiko mengalami
kematian ibu.
c) Status masyarakat
Variabel ini meliputi antara lain tingkat kesejahteraan, ketersediaan
sumberdaya (misalnya jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan
yang tersedia), serta ketersediaan dan kemudahan transportasi.
28
Berikut ini merupakan kerangka teori dalam dari McCarthy dan Maine
(1992). Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian dan kesakitan ibu berkaitan
dengan kehamilan, persalinan dan komplikasinya dapat digambarkan sebagai
berikut:
Bagan 2.1
Kerangka Teori Mc Charty dan Maine
Determinan Kontekstual
Status Wanita dalam
Keluarga dan Masyarakat
Pendidikan, Pekerjaan,
Penghasilan,
Keberdayaan Wanita
Determinan Antara
Determinan Proksi
Status Kesehatan
Gizi, Infeksi, Penyakit Kronik, Riwayat
Komplikasi
Kehamilan
Status Reproduksi
Umur, Paritas, Status Perkawinan
Status Keluarga dalam
Masyarakat
Akses ke Pelayanan Kesehatan
Penghasilan, Kepemilikan,
Pendidikan dan Pekerjaan
Anggota Rumah Tangga
Lokasi Pelayanan Kesehatan (KB,
Pelayanan Antenatal, Puskesmas,
POED), Jangkauan Pelayanan, Kualitas
Pelayanan, Akses Informasi tentang
Pelayanan Kesehatan
Komplikasi
Perdarahan
Infeksi
Preeklampsi/Ek
lampsia
Partus Macet
Status Masyarakat
Perilaku Sehat
Kesejahteraan, Sumber
daya (dokter, klinik)
Penggunaan KB, Pemeriksaan
Antenatal, Penolong Persalinan
Faktor Tak Diketahui / Tak Terduga
Sumber: Mc Carthy dan Maine (1992)
Kematian /
Ruptura Uterus
Kecacatan
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN
HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep pada penelitian ini mengacu pada kerangka teori Mc
Carthy dan Maine (1992). Hal ini dilakukan untuk mengetahui kedua hubungan
antara variabel dependen dengan variabel independen.Variabel-variabel tersebut
dipilih sesuai dengan teori determinan kematian ibu dan yang dapat berhubungan
dengan preeklampsia.Pada kelompok determinan kontekstual, variabel yang
diambil adalah status wanita dalam keluarga dan masyarakat berupa pendidikan
dan pekerjaan Sedangkan pada determinan antara, variabel yang diambil adalah
status kesehatan (penyakit kronik, riwayat komplikasi), status reproduksi (umur,
paritas, jarak kehamilan), dan perilaku pemeriksaan ANC. Berikut ini penjelasan
pentingnya variabel tersebut diteliti:
1.
Status reproduksi : Umur penting untuk diteliti, karena ketika seorang
wanita berada pada umur <20 tahun dan >35 tahun maka risiko kesehatan
yang dialami akan
meningkat,
sehingga
berbahaya
jika
terjadi
kehamilan. Paritas juga penting untuk diteliti karena persalinan yang
berulang-ulang akan memiliki banyak resiko terhadap kehamilannya. Jarak
29
30
kehamilan terakhir ibu apabila kurang dari 2 tahun dapat mengalami
preeklampsia atau komplikasi kehamilan lainnya dikarenakan kondisi tubuh
ibu belum pulih setelah masa kehamilan dan laktasi.
2.
Status kesehatan: penyakit kronik dan riwayat komplikasi kehamilan juga
penting diteliti dikarenakan ibu yang mengalami komplikasi pada waktu
kehamilan akan menghadapi resiko tinggi pada kehamilan dan persalinan
selanjutnya
dan
penyakit
kronik
seperti
diabetes
mellitus
dapat
menyebabkan terganggunya kesehatan dan pertumbuhan janin dan dapat
terjadi penyulit saat kehamilan.
3.
Perilaku pemeriksaan antenatal care penting untuk diteliti karena ibu yang
melakukan kunjungan antenatal kurang dari 4 kali dengan demikian akan
meningkatkan risiko menderita pereklampsia/eclampsia. Hal tersebut
dikarenakan tidak terdeteksinya faktor risiko preeklampsia dan apabila tidak
diberikan
penanganan
secara
tepat
oleh
tenaga
kesehatan
dapat
menyebabkan eclampsia atau kematian ibu.
4.
Karakteristik ibu: Tingkat pendidikan juga penting untuk diteliti karena
tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam
menerima
informasi
yang
diberikan,
salah
satunya
informasi
mengenaikomplikasi kehamilan seperti kejadiaan preeklampsia. Hal
ini
dapat mempengaruhi pengambilan keputusan bila terjadi preeklampsia
kehamilan. Selain itu, status pekerjaan ibu juga penting untuk diteliti
karenapekerjaan dikaitkan dengan adanya aktifitas fisik dan stress yang
merupakan faktor risiko terjadinya preeklampsia.
31
Berdasarkan kerangka teori yang ada, terdapat variabel yang tidak diteliti
yaitu akses pelayanan kesehatan dan status masyarakat. Variabel ini tidak
diteliti bagi akses pelayanan kesehatan dikarenakan penelitian ini dilakukan
di wilayah kerja Puskesmas dan mengambil data rekam medis Puskesmas
sehingga ibu yang menjadi responden penelitian sudah dapat menjangkau
pelayanan kesehatan sedangkan pada status masyarakat, wilayah Pamulang
yang paling dekat dengan pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, klinik,
RSUD Tangsel, dan Rumah sakit serta tersedianya tenaga kesehatan seperti
dokter, bidan, dan sebagainya.
Bagan 3.1
Kerangka konsep Penelitian
Status Kesehatan
Penyakit kronik, riwayat komplikasi
Status Reproduksi
Umur, paritas, jarak kehamilan
Preeklampsia
Perilaku Pemeriksaan antenatal care
Karakteristik Ibu Hamil
Pendidikan, status pekerjaan ibu
32
a.
Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional Penelitian
No
Variabel
1
Preeklampsia
2
Penyakit
kronik
3
Riwayat
komplikasi
Pengertian
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
Ibu hamil yang memiliki Tekanan
darah ≥140/90mmHg dandisertai
proteinuria (di atas positif 1) dan
atau edema menyeluruhyang
didiagnosis oleh tenaga kesehatan.
Responden yang memiliki salah satu
atau beberapa penyakit kronik seperti
hipertensi, diabetes mellitusyang di
telah didiagnosis oleh tenaga
kesehatan
Responden yang pernah mengalami
kompikasi kehamilan pada
kehamilan sebelumnya
Telaah
Dokumen
Rekam Medis 0. Preeklampsia
PuskesmasPa 1. Tidak preeklampsia
mulang
Ordinal
Wawancara
Kuesioner
0. Ya
1. Tidak
Ordinal
Wawancara
Kuesioner
0. Ya
1. Tidak
Ordinal
0. Tidak berisko (umur
ibu 20-35 tahun)
1. Berisiko (umur ibu <20
tahun dan >35 tahun
(Puspitasari, 2009)
0. Sedikit (≤2)
1. Banyak (>2)
(Priani, 2012)
Ordinal
4
Umur Ibu
Hamil
Umur terakhir ibu pada saat
kehamilan yang dinyatakan dalam
tahun
Telaah
Dokumen
Rekam Medis
PuskesmasPa
mulang
5
Paritas
Jumlah kelahiran yang pernah
dialami responden
Wawancara
Kuesioner
Ordinal
33
6
Jarak
kehamilan
Rentang waktu antara kehamilan
terakhir dengan kehamilan
sebelumnya
Wawancara
Kuesioner
0. Dekat (<24 bulan)
1. Jauh (≥24 bulan)
(Armagustini, 2010)
Ordinal
7
Perilaku
Pemeriksaan
Antenatal care
Wawancara
Kuesioner
0. Tidak lengkap (<4 kali)
1. Lengkap (≥4 kali)
(Sarminah, 2012)
Ordinal
8
Pendidikan Ibu
Hamil
Suatu tindakan ibu hamil ke
pelayanan kesehatan untuk
memeriksakan kehamilannya, sesuai
standar yang telah di tetapkan yaitu
minimal frekuensi 4 kali, minimal 1
kali pada triwulan pertama, minimal
1 kali pada triwulan kedua, dan 2
kali pada triwulan ketiga.
Jenjang pendidikan terakhir ibu yang
pernah diperoleh oleh ibu
Wawancara
Kuesioner
0. Rendah : ≤SMP
1. Tinggi: >SMP
(sukaesih, 2012)
Ordinal
9
Status
Pekerjaan ibu
kegiatan yang dilakukan selain Wawancara
sebagai ibu rumah tangga dalam
kurun waktu kehamilan
Kuesioner
1. Bekerja
2. Tidak bekerja
Ordinal
34
b. Uji Hipotesis
1. Adanya hubungan antara status kesehatan (penyakit kronik dan riwayat
komplikasi) dengan kejadian preeklampsia
2. Adanya hubungan antara status reproduksi (umur, paritas dan jarak
kehamilan) dengan kejadian preeklampsia
3. Adanya hubungan antara perilaku pemeriksaan antenatal care dengan
kejadian preeklampsia
4. Adanya hubungan antara karakteristik ibu hamil (pendidikan dan status
pekerjaan ibu) dengankejadian preeklampsia.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi Case
control dengan pendekatan retrospektif. Desain studi case controldalam
penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen
seperti status kesehatan (penyakit kronik, dan riwayat kehamilan), status
reproduksi (umur, paritas dan jarak kehamilan), perilaku pemeriksaan antenatal
care, dan karakteristik ibu hamil (pendidikan dan status pekerjaan ibu)dengan
variabel dependen yaitu kejadian preeklampsia kehamilan.
c.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian iniakan dilakukan pada bulan juli hingga november 2015.
Pengambilan
data
dilakukan
diwilayah
kerja
PuskesmasPamulangKota
Tangerang Selatan dan pengambilan data sekunder PuskesmasPamulang Kota
Tangerang Selatan. Hal tersebut dikarenakan terjadinya peningkatan komplikasi
kebidanan pada tahun 2014 sebanyak 710 orang, dengan kejadian preeklampsia
kehamilan yang paling besar sebanyak 54 ibu hamil.
35
36
d.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan pada periode 1
jamuari 2014 sampai September 2015 yang berada di wilayah kerja
PuskesmasPamulangKotaTangerang Selatan yang berjumlah843 orang. Dengan
kelompok kasus yaitu ibu yang mengalami kejadian preeklampsia selama
kehamilannya dan kelompok kontrol yaitu ibu yang tidak mengalami kejadian
preeklampsia selama kehamilan.Berikut ini merupakan kriteria inklusi dan
eksklusi pada masing-masing kelompok kasus dan kelompok kontrol.Adapun
kriteria inklusi dan eksklusi pada kelompok kasus adalah sebagai berikut:
1.
Kriteria InklusiKasus
a. Ibu yang telah melahirkan pada tahun 2014-2015 yang berada di
wilayah kerja PuskesmasPamulang atau yang bertempat tinggal di
wilayah Pamulang Barat, Pamulang Timur, Pondok Cabe Udik,
Pondok Cabe Ilir.
b. Ibu
yang
tercatat
di
rekam
medis
pemeriksaan
kehamilanPuskesmasPamulangdengan catatan memiliki tekanan darah
≥140/90 mmHg pada tahun 2014 tercatat 54 ibu hamil yang
mengalami preeklampsia, sedangkan pada 1 januari 2015 sampai
september 2015 tercatat sebesar 43 orang yang mengalami
preeklampsia.
c. Ibu yang memiliki buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
d. Ibu yang bersedia menjadi responden penelitian ini
37
2.
KriteriaEksklusiKasus
a. Ibu yang bertempat tinggal di luar wilayah kerja PuskesmasPamulang
b. Ibu yang meninggal saat kehamilan atau persalinan yang dilakukan di
Puskesmas Pamulang atau Bidan Praktik Swasta (BPS) di wilayah
kerja Puskesmas Pamulang tahun 2014-2015
c. Ibu yang tidak memiliki buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Sedangan kriteria inklusi dan eksklusi pada kelompok kontrol adalah
sebagai berikut :
3.
Kriteria Inklusi Kontrol
a. Ibu yang telah melahirkan pada tahun 2014-2015 yang berada di
wilayah kerja PuskesmasPamulang atau yang bertempat tinggal di
wilayah Pamulang Barat, Pamulang Timur, Pondok Cabe Udik,
Pondok Cabe Ilir.
b. Ibu
yang
tercatat
di
rekam
medis
pemeriksaan
kehamilanPuskesmasPamulangdengan catatan memiliki tekanan darah
normal (100/80 sampai <140/90 mmHg) berjumlah 746 orang.
c. Ibu yang memiliki buku kesehatan ibu dan anak (KIA).
d. Ibu yang bersedia menjadi responden penelititian ini
4.
Kriteria Eksklusi
a. Ibu yang bertempat tinggal di luar wilayah kerja PuskesmasPamulang.
d. Ibu yang meninggal saat kehamilan atau persalinan yang dilakukan di
38
Puskesmas Pamulang atau Bidan Praktik Swasta (BPS) di wilayah
kerja Puskesmas Pamulang tahun 2014-2015
b. Ibu yang tidak memiliki buku KIA
Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan, maka
sampel yang akan dibutuhkan pada penelitian ini adalah:
(
n=
Keterangan:
)
√(
(
(
(
)
)
(
)
√
)
)
n : Jumlah sampel
Q : 1-P
Z
: derajat kemaknaan 5% (1,96)
P2 : proporsi kontrol
Z
: kekuatan uji 80% (0,84)
Q1
: 1-P1
Q2
: 1-P2
P : rata-rata P1 dan P2 (P1+P2/2)
Tabel 4.1
Hasil Penelitian Terdahulu (Langelo dkk, 2013)
Faktor yang berhubungan
P1
P2
OR
n
dengan preeklampsia
Usia
0,676
0,359
3,73
38
Paritas
0,617
0,321
3,42
44
Berdasarkan penelitian terdahulu didapatkan jumlah Besar sampel
untuk kelompok kasus yang diambil pada penelitian ini yaitu 38 orang dan
39
sebagai kelompok kontrolnya sebesar 38 x 2= 76 kontrol. Peneliti
memperkirakan adanya partisipan yang tidak mau berpartisipasi dalam
penelitian (non respon) sebesar 5% pada masing-masing kelompok kasus dan
kontrol, 38 x 5%= 1,9=2 dan 76 x 5%= 3,8=4. Sehingga jumlah sampel yang
dibutuhkan pada :
a. Kelompok kasus menjadi 38+2= 40 kasus
b. Kelompok kontrol menjadi 76+4= 80 kontrol.
Sampel pada kelompok kasus dan kelompok kontrol diperoleh dengan
menggunakan teknik simple random sampling. Dari masing- data yang
didapat dari pusksmas baik dari kelompok kasus maupun kelompok kontrol
dipisahkan datanya yakni kelompok kasus (97 orang) dan kelompok kontrol
(746 orang), kemudian melakukan pengundian terhadap kelompok kasus dan
kontrol melalui nama ibu yang didapatkan dari frame sampling rekam medis
pasien antenatal care di wilayah kerja PuskesmasPamulang tahun 2014-2015
sebanyak sampel yang dibutuhkan dalam penelitian yakni kelompok kasus
sebanyak 40 oranr dan kelompok kontrol sebanyak 80 orang.
e.
Metode Pengumpulan Data
1. Data primer
Data primer pada penelitian ini diperoleh langsung dari responden dengan
wawancara menggunakan kuesioner untuk variabel status kesehatan (penyakit
kronik, dan riwayat kehamilan), status reproduksi (umur, paritas dan jarak
40
kehamilan), perilaku pemeriksaan antenatal care, dan karakteristik ibu hamil
(pendidikan dan status pekerjaan ibu).
2. Data sekunder
Data sekunder penelitian ini diperoleh dari data profil Dinas kesehatan
Kota Tangerang Selatan tahun 2013 dan data rekam medisibu hamil di wilayah
PuskesmasPamulang tahun 2014-2015.
f.
Manajemen Data
Manajemen data yang akan dilakukan adalah sebagai berikut
1.
Peneliti melakukan pemeriksaan data (dataediting), yakni melakukan
pemeriksaan dan klarifikasi terhadap partisipan yang telah memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi pada kelompok kasus dan kontrol saat penelitian
berlangsung. Pemeriksaan tersebut bertujuan agar partisipan yang masuk
dalam penelitian dapat dipastikan telah sesuai dengan kriteria inklusi dan
eksklusi yang telah ditetapkan peneliti, sehingga kemungkinan bias seleksi
dan bias informasi sangat kecil.
2.
Peneliti melakukan pengkodean (coding), yakni menetapkan kode pada
masing-masing variabel untuk memudahkan dalam proses entri data.
3.
Peneliti melakukan pemasukkan data (entry data), yakni melakukan entri
data pada kuesioner yang telah di coding ke dalam komputer untuk dianalisis
secara statistik. Proses pemasukkan data dilakukan dengan bantuan software
analisis data (SPSS).
41
4.
Peneliti melakukan pembersihan data (datacleaning), yakni peneliti
memeriksa kembali kelengkapan data yang sudah di entry kedalam
computer. Jika data belum terisi lengkap, maka data tersebut tidak
dilanjutkan untuk dianalisis.
H. Metode Analisis Data
1. Analisis Data Univariat
Analisis
ini
untuk
mengetahui
distribusi
frekuensi
kejadian
preeklampsia pada ibu hamil.Selain itu, analisis univariat juga bertujuan
untuk mengetahui distribusi frekuensi variabel independen pada penelitian
ini yakni status kesehatan (penyakit kronik dan riwayat komplikasi), status
reproduksi (umur, paritas dan jarak kehamilan), perilaku pemeriksaan
antenatal care, dan karakteristik ibu hamil (pendidikan dan status
pekerjaan ibu).Hasil analisis univariat telah disajikan dalam bentuk tabel
distribusi.
5. Analisis Data Bivariat
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan kejadian preeklampsia pada
ibu hamil dengan variabel independen yaitu hamil dengan status kesehatan
(penyakit kronik, dan riwayat kehamilan), status reproduksi (umur, paritas
dan jarak kehamilan), perilaku pemeriksaan antenatal care, dan karakteristik
ibu hamil (pendidikan dan status pekerjaan ibu) yang dilakukan dengan
menggunakan uji chi square. Hasil analisis bivariat berupa nilai P value dan
42
nilai Odd Ratio (OR). Jika dalam penelitian ini dihasilkan nilai P value
<0,05 maka dapat dinyatakan variabel independen memiliki hubungan yang
signifikan dengan variabel dependen. Nilai p Value ditentukan dengan cara:
1. Bila tabel 2×2 dijumpai sell expected (harapan) <5 maka tabel yang
digunakan adalah Fisher’s Exact Test
2. Bila tabel 2×2 dijumpai sell expected <5 maka tabel yang digunakan
adalah Pearson Chi-Square/Continuity Correction
3. Bila tabel 2×2 atau lebih, misalnya 3×2, 3×3, dsb maka tabel yang
digunakan adalah Pearson Chi-Square
Nilai OR pada penelitian untuk menentukan besaran paparan (faktor
risiko) dengan kejadian preeklampsia.Nilai OR dengan rentang Confident
interval (CI) yang tidak mencakup nilai 1,0 maka bisa dinyatakan signifikan
pada α 5% atau merupakan faktor risiko penyebab preeklampsia. Namun jika
rentang nilai CI mencakup 1,0 maka hasil penelitian dinyatakan tidak
signifikan secara statistik pada nilai α 5%.
BAB V
HASIL
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
UPT (Unit Pelaksana Teknis) PuskesmasPamulang adalah pusat
pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Tangerang Selatan, yang menyediakan
pelayanan rawat jalan dan rawat inap. PuskesmasPamulang mempunyai 4
wilayah kerja atau mencakup 4 Kelurahan, yaitu Kelurahan Pamulang Barat,
Kelurahan Pamulang Timur, Kelurahan Pondok Cabe Udik dan Kelurahan
Pondok Cabe Ilir. Adapun Jumlah penduduk per Kelurahan adalah sebagai
berikut:
Tabel 5.1
Wilayah Kerja PuskesmasPamulang
No
Nama Kelurahan
Jumlah Penduduk
1
Pamulang Barat
56.458
2
Pamulang Timur
37.664
3
Pondok Cabe Ilir
23.944
4
Pondok Cabe Udik
36.951
Jumlah
155.017
(Sumber: Data Kecamatan Pamulang Tahun 2014)
Selain itu PuskesmasPamulang adalah Puskesmas tertua di Kota
Tangerang Selatan. PuskesmasPamulang menempati tanah seluas ± 2400 m2 di
Jalan Surya Kencana No. 1, RT 01, RW 22, Kecamatan Pamulang , Kota
Tangerang Selatan.
PuskesmasPamulang secara administrasi berbatasan dengan Kecamatan
Ciputat, Kecamatan Setu dan Kota Depok, hal ini yang menyebabkan banyak
43
44
masyarakat yang bukan cakupan wilayah kerja PuskesmasPamulang berobat ke
PuskesmasPamulang,
karena
secara
administrasi
lebih
dekat
ke
PuskesmasPamulang dibandingkan dengan Puskesmas yang yang ada di
wilayahnya.
Jenis
pelayanan
yang
dilakukan
di
PuskesmasPamulang
meliputi:pengobatan umum, pengobatan anak, pengobatan gigi, pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak, pelayanan KB, pelayanan BPJS dan rujukan,
konsultan gizi dan ASI eksklusif, klinik TB paru, klinik MTBS dan Poli anak,
klinik konsultasi remaja, klinik kansia, laboratorium, treadmill dan fisioterapi.
PuskesmasPamulang mempunyai 1 buah ambulans (Pusling) dalam kondisi
baik, 7 buah sepeda motor dalam keadaan baik serta 1 buah kendaraan roda
tiga.
B. Analisis Univariat
1. Distribusi frekuensi kejadian preeklampsia kehamilan di wilayah kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan tahun 2014-2015
Distribusi frekuensi kejadian preeklampsia kehamilan di wilayah Kerja
Puskesmas tahun 2014-2015 disajikan pada tabel 5.2
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Kejadian Preeklampsia Kehamilan di Wilayah Kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang SelatanTahun 2014-2015
Kategori
Kejadian Preeklampsia
Preeklampsia
Tidak Preeklampsia
Jumlah
Frekuensi
(n)
Presentase
(%)
40
80
120
33,3
66,7
100,0
45
Berdasarkan table 5.2 di atas, menunjukan distribusi frekuensi jumlah
sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Kelompok kasus yaitu berjumlah
40 orang ibu yang pada masa kehamilannya mengalami kejadian preeklampsia.
Sedangkan sampel pada kelompok kontrol yang terdiri dari ibu yang pada masa
kehamilannya tidak mengalami kejadian preeklampsia berjumlah 80 orang
(66,7%) dengan perbandingan kasus:kontrol dalam penelitian ini adalah 1:2.
2. Distribusi Karakteristik ibu pada kelompok kasus dan kontrol di wilayah
kerja PuskesmasPamulang Kota Tangerang Selatan tahun 2014-2015
Karakteristik ibu dalam penelitian ini terdiri dari usia, pendidikan,
pekerjaan, jarak kehamilan, paritas, antenatal care, riwayat komplikasi
kehamilan, dan riwayat penyakit kronik. Distribusi karakteristik ibu pada
kelompok kasus maupun kontrol di wilayah kerja PuskesmasPamulang tahun
2014-2015 disajikan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3
Distribusi Karakteristik Ibu pada Kelompok Kasus dan Kontrol di Wilayah
Kerja PuskesmasPamulang Kota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015
Kategori
Kasus
(Preeklampsia)
n (%)
Usia Ibu
Berisiko (usia <20 tahun dan
>35 tahun)
Tidak berisiko (usia 20-35
tahun)
Jumlah
Pendidikan
Rendah (≤Tamat SMP)
Tinggi (>Tamat SMP)
Jumlah
Pekerjaan
18 (45,0)
22
(55,0)
Kontrol
(tidak
preeklampsia)
n (%)
19 (23,8)
61
Total
n (%)
37 (30,8)
(76,2)
83 (69,2)
40 (100,0)
80 (100,0)
120 (100,0)
21 (52,5)
19 (47,5)
40 (100,0)
19 (47,5)
61 (52,5)
80 (100,0)
40 (33,3)
80 (66,7)
120 (100,0)
46
Kategori
n (%)
4 (10,0)
36 (90,0)
40 (100,0)
Kontrol
(tidak
preeklampsia)
n (%)
16 (20,0)
64 (80,0)
80 (100,0)
n (%)
20 (16,7)
100 (83,3)
120 (100,0)
Antenatal Care
Lengkap (≥4 Kali)
Tidak Lengkap (<4 Kali)
Jumlah
30 (75,0)
10 (25,0)
40 (100,0)
51 (63,8)
29 (36,8)
80 (100,0)
81 (67,5%)
39 (32,5%)
120 (100,0)
Jumlah Paritas
Berisiko (1 &>3)
Tidak berisiko (2-3)
Jumlah
16 (40,0)
24 (60,0)
40 (100,0)
34 (42,5)
46 (57,5)
80 (100,0)
50 (41,7)
70 (58,3)
120 (100,0)
Jarak kehamilan
Dekat (<24 bulan)
Jauh (≥24 bulan)
Jumlah
18 (45,0)
22 (55,0)
40 (100,0)
39 (48,8)
41 (51,2)
80 (100,0)
57 (47,5)
63 (52,5)
120 (100,0)
Riwayat komplikasi kehamilan
Ya (komplikasi)
Tidak (tidak komplikasi)
Jumlah
21 (52,5)
19 (47,5)
40 (100,0)
35 (43,8)
45 (56,2)
80 (100,0)
56 (46,7)
64 (53,3)
120 (100,0)
5 (12,5)
35 (87,5)
40 (100,0)
9 (11,2)
71 (88,8)
80 (100,0)
14 (11,7)
106 (88,3)
120 (100,0)
25 (62,5)
15 (37,5)
40 (100,0)
12 (15,0)
68 (85,0)
80 (100,0)
37 (30,8)
83 (69,2)
120 (100,0)
Bekerja
Tidak bekerja
Jumlah
Riwayat Penyakit kronik
a. Penyakit Diabetes
Mellitus
Ya
Tidak
Jumlah
b. Penyakit Hipertensi
Ya
Tidak
Jumlah
Kasus
(Preeklampsia)
Total
Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa mayoritas kedua kelompok
usia ibu saat hamil yaitu memiliki usia yang tidak berisiko yakni 55% pada
kelompok kasus dan 76,2% pada kelompok kontrol. Variabel pendidikan ibu,
mayoritas kelompok kasus (52,5%) berpendidikan rendah dan kelompok
kontrol (76,2%) telah menjalani pendidikan lebih dari 9 tahun. Variabel
47
pekerjaan ibu mayoritas kedua kelompok yakni 90% pada kelompok kasus dan
80% pada kelompok kontrol terjadi pada ibu yang tidak bekerja (ibu rumah
tangga). Variabel kunjungan ANC kehamilan, mayoritas ibu hamil melakukan
kunjungan lengkap ANC ≥ 4 kali, baik kelompok kasus (75,0%) dan kontrol
(63,8%). Pada variabel jumlah paritas sebagian besar pada kedua kelompok
yaitu memiliki jumlah paritas yang tidak berisiko (2-3 kali) yakni 60% pada
kelompok kasus dan 57,5% pada kelompok kontrol.
Pada variabel jarak kehamilan, mayoritas kedua kelompok memiliki jarak
kehamilan ≥ 24 bulan atau ≥2 tahun yakni 55% pada kelompok kasus dan
51,2% pada kelompok kontrol. Variabel riwayat komplikasi kehamilan
sebagian besar ibu pada kelompok kasus memiliki riwayat komplikasi sebesar
52,5% sedangkan kelompok kontrol yakni 56,2% tidak memiliki riwayat
komplikasi. Variabel riwayat penyakit kronik yang dimiliki ibu seperti penyakit
diabetes mellitus kedua kelompok sebagian besar tidak memiliki penyakit
diabetes mellitus sebesar 87,5% pada kelompok kasus dan 88,8% pada
kelompok kontrol. Sedangkan riwayat penyakit hipertensi sebagian besar
kelompok kasus 62,5% memiliki penyakit hipertensi dan 85,0% pada kelompok
kontrol tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi.
48
C. Analisis Bivariat
1.
Distribusi Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelompok Kasus dan
Kontrol di Wilayah KerjaPuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan
Tahun 2014-2015
Distribusi faktor-faktor yang berhubungan dengan kelompok kasus dan
kelompok kontrol di wilayah kerja PuskesmasPamulang tahun 2014-2015
disajikan pada tabel 5.4 sebagai berikut:
Tabel 5.4
Distribusi Karakteristik Ibu pada Kelompok Kasus dan Kontrol di Wilayah Kerja
PuskesmasPamulang Kota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015
Kategori
Kasus
(Preeklampsia)
n (%)
Usia Ibu
Berisiko (usia <20
tahun dan >35 tahun)
Tidak berisiko (usia
20-35 tahun)
Jumlah
18 (45,0)
22
(55,0)
Kontrol
(tidak
preeklampsia)
n (%)
19 (23,8)
61
P value
OR
95%CI
0,017
2,627
(1,171-5,894)
(76,2)
40 (100,0)
80 (100,0)
Pendidikan
Rendah (≤Tamat SMP)
Tinggi (>Tamat SMP)
Jumlah
21 (52,5)
19 (47,5)
40 (100,0)
19 (47,5)
61 (52,5)
80 (100,0)
0,002
3,548
(1,584-7,948)
Pekerjaan
Bekerja
Tidak bekerja
Jumlah
4 (10,0)
36 (90,0)
40 (100,0)
16 (20,0)
64 (80,0)
80 (100,0)
0,166
0.444
(0,138-1,1431)
30 (75,0)
10 (25,0)
51 (63,8)
29 (36,8)
0,215
1,706
(0,730-3,985)
40 (100,0)
80 (100,0)
16 (40,0)
34 (42,5)
0,793
0,902
(0.417-1,953)
Antenatal Care
Lengkap (≥4 Kali)
Tidak Lengkap (<4
Kali)
Jumlah
Jumlah Paritas
Berisiko (1 &>3)
49
Kategori
Kasus
(Preeklampsia)
Tidak berisiko (2-3)
Jumlah
Jarak kehamilan
Dekat (<24 bulan)
Jauh (≥24 bulan)
Jumlah
n (%)
24 (60,0)
40 (100,0)
Kontrol
(tidak
preeklampsia)
n (%)
46 (57,5)
80 (100,0)
18 (45,0)
22 (55,0)
40 (100,0)
39 (48,8)
41 (51,2)
80 (100,0)
0,698
1,163
(0,543-2,490)
35 (43,8)
45 (56,2)
0,365
1,421
(0,663-3,044)
Riwayat komplikasi kehamilan
Ya (komplikasi)
21 (52,5)
Tidak (tidak
19 (47,5)
komplikasi)
Jumlah
40 (100,0)
Riwayat Penyakit kronik
a. Penyakit Diabetes
Mellitus
Ya
Tidak
Jumlah
b. Penyakit Hipertensi
Ya
Tidak
Jumlah
Tabel
5.4
P value
OR
95%CI
80 (100,0)
5 (12,5)
35 (87,5)
40 (100,0)
9 (11,2)
71 (88,8)
80 (100,0)
0,841
1,127
(0,351-3,616)
25 (62,5)
15 (37,5)
40 (100,0)
12 (15,0)
68 (85,0)
80 (100,0)
0,000
9,444
(3,891-22,924)
menunjukan
hubungan
antara
masing-masing
variabel
independen dengan variabel dependen.Faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian preeklampsia antara lain variabel usia, pendidikan, pekerjaan,
jarak kehamilan, paritas, antenatal care, riwayat komplikasi kehamilan, dan
riwayat penyakit kronik (Diabetes Mellitus dan Hipertensi).
1) Hubungan antara variabel usia dengan preeklampsia
Pada tabel 5.4 menunjukan bahwa baik kelompok kasus maupun kelompok
kontrol sebagian besar ibu memiliki usia yang tidak berisiko yaitu usia 20-35
tahun dengan 55% pada kelompok kasus dan 76,2% pada kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil uji chi square, nilai P pada variabel usia adalah 0,017. Hal
50
ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara faktor usia dengan
kejadiaan preeklampsia. Nilai OR pada variabel ini sebesar 2,627 sehingga
dapat diartikan untuk kelompok usia <20 tahun dan >35 tahun (usia berisiko)
berisiko 2,627 kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia dibandingkan
dengan usia yang tidak berisiko (usia 20-35 tahun).
2) Hubungan antara variabel pendidikan dengan preeklampsia
Hasil uji chi square pada variabel pendidikan bernilai P sebesar 0,002. Hal
ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara faktor pendidikan
dengan kejadian preeklampsia.Nilai OR variabel ini yaitu sebesar 3,548 yang
menyatakan bahwa pendidikan ibu yang rendah mempunyai risiko 3,548 kali
lebih besar mengalami preeklampsia dari pada ibu yang berpendidikan tinggi
(≥SMA).
3) Hubungan antara variabel pekerjaan dengan preeklampsia
P value untuk satus pekerjaan dalam hasil uji chi square adalah 0,166
menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status
pekerjaan dengan kejadian preeklampsia. Nilai OR untuk status pekerjaan
yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 0,444 (0,138-1,1431).
4) Hubungan Antenatal Care dengan kejadian Preeklampsia
Tidak adanya hubungan yang signifikan antara variabel antenatal
caredengan kejadiaan preeklampsia. Hal tersebut dikarenakan variabel
antenatal care memiliki nilai P sebesar 0,215, nilai OR pada variabel ini yaitu
sebesar 1,706 dengan nilai CI 95% (0,730-3,985).
5) Hubungan antara variabel paritas dengan preeklampsia
51
Berdasarkan tabel 5.4 menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara
variabel jumlah paritas dengan kejadiaan preeklampsia dikarenakan nilai
P>0,05 yaitu 0,793 dan nilai OR untuk variabel jumlah paritas yang diperoleh
pada CI 95% yaitu sebesar 0,902(0,417-1,953).
6) Hubungan antara variabel jarak kehamilan sebelumnya dengan preeklampsia
Jarak kehamilan memilki nilai P yang didapat melalui uji statistik adalah
0,698.Nilai tersebut menunjukan tidak ada hubungan signifikan antara jarak
kehamilan dengan kejadiaan preeklampsia. Nilai OR yang didapat adalah
1,163 dengan CI 95%(0,543-2,490).
7) Hubungan antara variabel riwayat komplikasi kehamilan dengan preeklampsia
Nilai P yang didapat melalui uji chi square adalah 0,365.Sehingga tidak
ada hubungan yang signifikan antara variabel riwayat komplikasi kehamilan
dengan kejadian preeklampsia. Nilai OR yang didapat adalah 1,421 (0,6633,044).
8) Hubungan antara variabel riwayat penyakit kronik dengan preeklampsia
Riwayat penyakit kronik pada penelitian ini adalah penyakit hipertensi dan
diabetes mellitus. Pada penyakit Diabetes mellitus diketahui nilai P adalah
0,841 sehingga penyakit diabetes mellitus tidak ada hubungan yang signifikan
dengan kejadiaan preeklampsia dan memiliki nilai OR sebesar 1,127 (0,3513,616).
Sedangkan pada riwayat penyakit hipertensi yaitu terdapat hubungan
yang signifikan antara riwayat penyakit hipertensi dengan kejadiaan
preeklampsia dengan nilai P value sebesar 0,000. Nilai OR penyakit
hipertensi sebesar 9,444 hal tersebut menunjukan bahwa ibu yang memiliki
52
riwayat penyakit hipertensi akan berisiko 9,444 kali lebih besar mengalami
preeklampsia dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki riwayat
hipertensi.
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini menampilkan distribusi Kejadian Preeklampsia
Kehamilan dan karakteristik ibu pada kelompok kasus maupun kontrol tahun
2014-2015, yang mana pada tahun 2015 data diambil sampai bulan September.
Namun, dalam proses pelaksanaan penelitian terdapat beberapa kelemahan
yang menjadi keterbatasan penelitian dan berpengaruh terhadap hasil penelitian.
Keterbatasan penelitian tersebut adalah:
1. Adanya data persalinan bulan september 2015 yang belum dilaporkan oleh
Bidan Praktik Swasta (BPS) ke PuskesmasPamulang, sehingga kemungkinan
masih adanya kasus yang tidak masuk dalam penelitian.
2. Adanya ibu yang mengalami preeklampsia diwilayah kerja Puskesmas, tetapi
tidak tercatat dalam rekam medik PuskesmasPamulang. Hal tersebut
dikarenakan ibu hamil tersebut memeriksakan kandungannnya di Rumah
Sakit atau pelayanan kesehatan diluar wilayah kerja PuskesmasPamulang
3. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang didapatkan dari dalam rekam
medis pasien, sehingga validitas data dalam penelitian ini sangat bergantung
pada validitas data yang terdapat di dalam rekam medis tersebut.
53
54
4. Ibu yang terdaftar menjadi kelompok kasus banyak yang tidak memiliki buku
KIA sehingga peneliti harus mencari kelompok kasus yang lain.
B. Distribusi Frekuensi Kejadian Preeklampsia Kehamilan di Wilayah Kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015
Pre-eklampsia merupakan keadaan yang khas pada kehamilan yang
ditandai dengan gejala edema, hipertensi, serta proteinuria yang terjadi
setelah usia kehamilan
28
(Armagustini,
Kejadian
2010).
minggu
dan belum
preeklampsia
diketahui penyebabnya
di
wilayah
kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan tahun 2014-2015 sebanyak 40
kasus dari 843 persalinan yang ada atau 4,74%. Hal ini sesuai yang disebutkan
oleh Triatmojo (2003) bahwa frekuensi kejadiaan preeklampsia di Indonesia
sekitar 3%-10% kehamilanyang mengalami preeklampsia. Pada negara yang
sedang berkembang kejadian preeklampsia dilaporkan berkisar antara 0,3%
sampai 0,7%, sedang di negara-negara maju angka kejadian diketahui lebih
kecil, yaitu 0,05% sampai 0,1% (Quedarusman, 2013). Penelitian lain yang
dilakukan oleh Agudelo (2000) dibeberapa rumah sakit di Amerika Latin juga
menemukan bahwa 4,8% dari subjek penelitiaannya berkembang menjadi
preeklampsia (Indriani, 2012).
Kejadian preeklampsia di wilayah kerja Puskesmas ditangani oleh tenaga
kesehatan dengan cepat dan tepat untuk mencegah terjadinya eklampsia dan
kematian ibu dan janinnya. Hal tersebut dilakukan dengancaramelakukan
pemeriksaan antenatal dengan memantau tekanan darah, urine (untuk
55
proteinuria), dan kondisi janin setiap bulannya. Selain itu Pasien diminta untuk
istirahat, dan juga konseling pasien dengan keluarganya tentang tanda-tanda
bahaya sehingga apabila terjadi komplikasi yang membahayakan ibu dan
janinnya, keluarga dapat mengetahui apa yang harus dilakukannya. Obat anti
hipertensi dan diuretik belum direkomendasikan untuk digunakan pada
penderita preeklampsia ringan kecuali jika terdapat edema paru, dekompensatio
kordis
atau
gagal
ginjal
akut.
Sedangkan
pada
preeklampsia
berat,penanganannya sama dengan eklamspia yaitu dengan cara pemberian obat
antikejang pada preeklampsia bertujuan untuk mencegah terjadinya kejang
(eklampsia). Obat yang digunakan sebagai antikejang antara lain diazepam,
fenitoin, dan magnesium sulfat (MgSO4).MgSO4 diberikan secara intravena
kepada ibu dengan eklampsia (sebagai tatalaksana kejang) dan preeklampsia
berat (sebagai pencegahan kejang).
C. Variabel yang Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia di Wilayah
Kerja PuskesmasPamulang Kota Tangerang Selatan
1. Faktor Usia
Usia merupakan bagian dari status reproduksi yang penting. Umur
berkaitan dengan peningkatan atau penurunan fungsi tubuh sehingga
mempengaruhi status kesehatan seseorang.Usiayang baik untuk hamil adalah
20 sampai 35 tahun (Depkes RI, 2000). Royston dan Armstrong (1994) juga
menyatakan bahwa wanita usia remaja yang hamil untuk pertama kali dan
wanita yang hamil pada usia >35 tahu akan mempunyai resiko yang sangat
56
tinggi untuk mengalami preeklampsia (Indriani, 2012). Hasil penelitian di
wilayah kerja PuskesmasPamulang menunjukan bahwa sebagian besar
responden dalam penelitian ini memiliki usia yang tidak berisiko yaitu usia
20-35 tahun sebesar 55,0% pada kelompok kasus dan 76,2% pada kelompok
kontrol. Hasil penelitian ini didukung sesuai dengan hasil penelitian
terdahulu Sumarni (2014) menunjukan bahwa sebagian besar responden
berumur 28-35 tahun sebanyak 57,6%. Hal tersebut sesuai dengan teori Bobak
(2005), usia 20-35 tahun merupakan termasuk usia reproduksi yang sehat
untuk hamil dan melahirkan. Sedangkan usia yang
beresiko
terkena
preeklampsia adalah usia < 20 tahun dan > 35 tahun.
Berbeda dengan penelitian Sutrimah (2014) yang menunjukkan bahwa
presentase pada kelompok kontrol umur ibu dengan kejadian preeklampsia
padaumur ibu 20-35 tahun lebih banyak yaitu 51% dibandingkan dengan
umur ekstrim (<20 dan>35 tahun) yaitu sebanyak 46,7% sedangkan pada
kelompok kasus umur ibu dengan kejadian preeklampsia pada umur 20
sampai 35 tahun yaitu sebanyak 49% dibandingkan dengan umur ekstrim
(< 20 tahun atau > 35 tahun) yaitu sebesar 53,3%.
Pada kehamilan <20 tahun, keadaan reproduksi yang belum siap untuk
menerima kehamilan akan meningkatkan keracunan
kehamilan dalam
bentuk preeklampsia atau toksemia gravidarum. Sedangkan pada usia 35
tahun atau lebih akan terjadi perubahan pada jaringan dan alat reproduksi
serta
jalan
lahir
tidak
lentur
lagi.
Pada
usia tersebut
cenderung
57
didapatkan penyakit lain dalam tubuh ibu, salah satunya hipertensi dan
preeklampsia (Manuaba, 2007).
Usia ibu yang terlalu muda saat hamil akan memicu resiko kegawatan
perinatal karena ketidaksiapan anatomi, fisiologi, dan status mental ibu
dalam menerima kehamilan. Usia ibu yang terlalu tua saat hamil
mengakibatkan gangguan fungsi organ general karena proses degenerasi
salah satunya organ reproduksi. Proses degenerasi organ reproduksi
karena usia akan berdampak langsung pada kondisi ibu saat menjalani
proses kehamilan dan persalinan yang salah satunya adalah preeklampsia
(Sumarni, 2014).
Berdasarkan hasil uji chi square, nilai P pada variabel usia adalah 0,017.
Hal ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara faktor usia
dengan kejadiaan preeklampsia. Nilai OR pada variabel ini sebesar 2,627
dengan batas bawah 1,171 dan batas atas 5,894 pada interval confidence 95%.
Sehingga dapat diartikan untuk kelompok usia<20 tahun dan >35 tahun (usia
berisiko) berisiko 2,627 kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia
dibandingkan dengan usia yang tidak berisiko (usia 20-35 tahun). Hasil
penelitianini didukung dengan hasil penelitian Asrianti (2009)menyimpulkan
bahwa
umur
ibu hamil <20 tahun dan
>35 tahun berisiko 3,144 kali
mengalami preeklampsia.
Penelitian Salim (2005) juga menyebutkan usia ibu hamil < 20 tahun atau ≥
35 tahun berisiko 3,615 kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia,
serta hasil penelitian Ferida (2007)menyimpulkan, ibu hamil dengan usia
58
yang sama berisiko 3,659 kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Langelo, dkk (2013), menunjukan
bahwa wanita usia <20 tahun dan >35 tahun memiliki risiko 3,37 kali
dibandingkan wanita usia 20-35 tahun dengan nilai P value sebesar 0,000
yang secara statistik dikatakan adanya hubungan yang bermakna/signifikan
antara umur ibu dengan kejadian preeklampsia. Oleh karena itu, apabila usia
ibu saat hamil termasuk usia yang berisiko maka ibu harus melakukan
pemeriksaan antenatal dan konseling kesehatan ke pelayanan kesehatan. Hal
tersebut dilakukan untuk mencegah dan melakukan penanganan yang tepat
apabila terjadi preeklampsia kehamilan.
2. Faktor Pendidikan
Pendidikan ibu yang tinggi didapat seiring dengan kemajuan ilmu dan
teknologi serta adanya emansipasi wanita di Indonesia untuk mendapatkan
kesamaan hak dan kewajiban di segala bidang terutama pendidikan. Hasil
penelitian ini juga sesuai dengan gambaran populasi di wilayah perkotaan
dengan
fasilitas
pendidikan
yang
memadai.
Pendidikan
seseorang
berhubungan dengan kesempatan dalam menyerap informasi mengenai
pencegahan dan faktor-faktor risiko preeklampsia. Akan tetapi pendidikan
ini akan dipengaruhi oleh
seberapa
besar
motivasi,
atau
dukungan
lingkungan seseorang untuk menerapkan pencegahan dan faktor risiko
preeklampsia/eklampsia (Djannah, 2010).
Hasil penelitian di wilayah kerja PuskesmasPamulang menunjukan bahwa
adanya perbedaan atara status pendidikan pada kelompok kasus yang
59
mayoritas ibu memiliki status pendidikan rendah sebesar 52,5% dengan
kelompok kontrol yang mayoritas ibu memiliki status pendidikan terakhir
lebih dari 9 tahun sebesar 52,5%. Penelitian ini didukung dengan hasil
penelitian Nuryani, dkk (2012), yang memiliki tingkat status pendidikan yang
berbeda antara kelompok kasus (63,1%) pada pendidikan kurang dan
kelompok kontrol sebesar (56,1%) ibu yang memiliki status pendidikan
cukup. Pada hasil penelitian Langelo (2013) juga didapatkan bahwa tingkat
pendidikan ibu pada kelompok kasus paling banyak terdapat pada ibu dengan
tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) yaitu 39,0% dan pada kelompok
kontrol yang paling banyak pada ibu dengan tingkat pendidikan SMA yaitu
39,7%.
Berdasarkan hasil uji chi square diketahui jumlah P value sebesar 0,002
sehingga memiliki pengertian bahwa adanya hubungan yang signifikan antara
tingkat pendidikan dengan kejadian preeklampsia. Nilai OR pada variabel ini
juga yaitu sebesar 3,548 dengan batas bawah 1,584 dan batas atas 7,948 pada
interval confidence 95%. Sehingga dapat diartikan bahwa ibu yang memiliki
pendidikan yang rendah dapat mengalami kejadian preeklampsia sebesar
3,548 kali lebih besar dibandingkan ibu yang memiliki tingkat pendidikan
yang tinggi. Sehingga perlu adanya dukungan dari tenaga kesehatan untuk
melakukan penyuluhan atau edukasi baik personal maupun kelompok kepada
wanita usiasubur (WUS), pasangan usia subur dan keluarga ibu hamil terkait
bahaya preeklampsia dan pencegahannya serta penyakit lain yang disebabkan
oleh kehamilan. Hal tersebut dikarenakan pendidikan bagi
kaum wanita
60
sangatlah penting terlebih bagi ibu hamil. Dengan pendidikan yang baik
maka sangat membantu ibu hamil dalam mengetahui apa yang terjadi
dalam dirinya dan janinnya sehingga kehamilan akan lebih aman. Sikap
dan tingkah laku dapat berubah seiring dengan meningkatnya tingkat
pendidikan dimana ini merupakan salah satu indikator sosial dalam suatu
masyarakat (Langelo,dkk, 2013).
3. Faktor Riwayat Penyakit Hipertensi
Status kesehatan wanita sebelum dan selama kehamilan adalah faktor
penting yang mempengaruhi timbul dan berkembangnya komplikasi.Riwayat
penyakit hipertensi merupakan salah satu faktor yang dihubungkan dengan
preeklampsia (Djannah, 2010).Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang
mengakibatkan kesakitan yang tinggi.Hipertensi atau penyakit darah tinggi
adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen
dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya.Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa
gejala, dimana tekanan darah yang tinggi di dalam arteri menyebabkan
meningkatnya risiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
kardiovaskuler seperti stroke, gagal ginjal, serangan jantung, dan kerusakan
ginjal (Widyaningrum, 2012).
Riwayat penyakit hipertensi sebagian besar kelompok kasus 62,5%
memiliki penyakit hipertensi dan 85,0% pada kelompok kontrol tidak
memiliki riwayat penyakit hipertensi. pada riwayat penyakit hipertensi yaitu
terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit hipertensi dengan
61
kejadiaan preeklampsia dengan nilai P value sebesar 0,000. Nilai OR penyakit
hipertensi sebesar 9,444 hal tersebut menunjukan bahwa ibu yang memiliki
riwayat penyakit hipertensi akan berisiko 9,444 kali lebih besar mengalami
preeklampsia dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki riwayat
hipertensi. Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Puspitasari (2009)
yang menunjukan bahwa dari hasil analisis uji statistik menggunakan uji chi
square dan perhitungan nilai OR dengan derajat kepercayaan (CI) 95% dapat
diketahui ada hubungan yang signifikan antara kejadian ibu yang memiliki
riwayat hipertensi dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil (p=0,013).
Nilai OR-4,125 (CI=1,432-11,881) menunjukan bahwa ibu hamil yang
mengalami hipertensi sebelum kehamilannya mempunyai risiko 4,125 kali
lebih besar untuk mengalami kejadian preeklampsia dibandingkan dengan ibu
yang sebelum kehamilannya tidak mengalami kejadian hipertensi.
Penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Djannah (2010), yang
terdapat angka kejadian preeklampsia/eklampsia di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2007–2009 berdasarkan riwayat hipertensi
yang paling besar adalah ibu yang tidak memiliki riwayat hipertensi yaitu
sebesar 83,9%.
Selain itu didukung oleh penelitian Astuti (2013), yang
menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat hipertensi
dengan terjadinya preeklampsia dengan p value=0,031 dan nilai OR=5,000
(1,270-19,685).
Angka kejadian preeklampsia/eklampsia akan meningkat pada hipertensi
kronis, karena pembuluh darah plasenta sudah mengalami gangguan. Faktor
62
predisposisi terjadinya preeklampsia adalah hipertensi kronik dan riwayat
keluarga dengan preeklampsia/eklampsia. Bila ibu sebelumnya sudah
menderita hipertensi maka keadaan ini akan memperberat keadaan ibu.
Sehingga bagi ibu yang hamil dengan memiliki riwayat hipertensi harus
mewaspadai kemungkinan terjadinya preeklampsia dengan cara melakukan
antenatal care yang optimal. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah
terjadinya preeklampsia dan menjaga kesehatan ibu dan janin, baik pada saat
kehamilan, persalinan, maupun masa nifas (0-42 hari) dan neonatus (0-28
hari).Faktor resiko juga dapat terdeteksi sehingga penanganan dapat dilakukan
dengan cepat dan tepatdan rujukan dapat dilakukan sedini mungkin.
D. Variabel yang tidak Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia di Wilayah
Kerja Puskesmas Pamulang Kota Tangerang Selatan
1. Faktor Pekerjaan
Klonoff (1989) menyatakan bahwa wanita yang bekerja di luar rumah
memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklampsia/eklampsia bila
dibandingkan dengan ibu ibu rumah tangga. Pekerjaan dikaitkan dengan
adanya aktifitas fisik dan stress yang merupakan faktor resiko terjadinya
preeklampsia.
Variabel pekerjaan ibu mayoritas pada kedua kelompok yakni 90% pada
kelompok kasus dan 80% pada kelompok kontrol terjadi pada ibu yang tidak
bekerja. P value untuk status pekerjaan dalam hasil uji chi square adalah
0,166 menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status
63
pekerjaan dengan kejadian preeklampsia. Nilai OR untuk status pekerjaan
yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 0,444 (0,138-1,1431).
Penelitian ini didukung oleh penelitian Djannah (2010) yang menunjukan
bahwa kejadian preeklampsia didominasi oleh kelompok ibu yang tidak
bekerja sebesar 63,5%. Sedangkan berbeda dengan hasil penelitian Indriani
(2012) yang menyatakan status pekerjaan mempunyai hubungan yang
signifikan terhadap kejadian preeklampsia dengan nilai P value sebesar 0,000
dan nilai OR sebesar 4,580 yang berarti bahwa ibu yang bekerja mempunyai
resiko 4,580 lebih besar mengalami preeklampsia daripada ibu yang tidak
bekerja.
2. Faktor Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup atau jumlah anak yang dimiliki
oleh seorang wanita. Faktor paritas memiliki pengaruh terhadap persalinan
dikarenakan Ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami
gangguan selama masa kehamilannya terlebih pada ibu yang pertama kali
mengalami masa kehamilan (Langelo, 2013).Variabel jumlah paritas yang
berisko (1 kali dan >3 kali) pada penelitian ini yaitu terdapat40% kelompok
kasus dan42,5% pada kelompok kontrol. Hasil uji chi square menunjukan
bahwa tidak ada hubungan antara variabel jumlah paritas dengan kejadiaan
preeklampsia dikarenakan nilai P>0,05 yaitu 0,793 dan
nilai OR untuk
variabel jumlah paritas yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 0,902
(0,417-1,953).
64
Penelitian ini didukung oleh penelitian Resmi (2013), yang menyatakan
bahwa ibu yang memiliki jumlah paritas berisiko sebesar 56,8% pada
kelompok kasus dan pada kelompok kontrol yaitu sebagian besar terjadi pada
ibu yang jumlah paritas tidak berisko (2-3 kali) yaitu sebesar 55,3% dengan
hasil uji statistik dengan uji chi-square menunjukan tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara paritas dengan kejadian preeklampsia (P value= 0,076,
OR=1,628). Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Trisnawati (2010) yang menyatakan paritas tidak mempunyai hubungan
yang bermakna terhadap kejadian preeklampsia dengan hasil uji statistik
(p= 0.194 >0.05) dengan nilai Odds Ratio1.34. Selain itu menurut penelitian
Indriani (2012), menunjukan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan
antara faktor paritas terhadap kejadiaan preeklampsiayaitu 0,325.
Paritas 2 sampai 3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari
sudut kematian maternal.Paritas 1 dan paritas tinggi >3 mempunyai angka
kematian maternal lebih tinggi, semakin tinggi paritas semakin tinggi
kematian maternal. Hal tersebut dikarenakan pada setiap kehamilan terjadi
peregangan rahim, jika kehamilan berlangsung terus menerus maka rahim
akan semakin melemah sehingga dikhawatirkan akan terjadi gangguan pada
saat kehamilan, persalinan, dan nifas (Sukaesih, 2012). Kehamilan dengan
preeklampsia lebih umum terjadi pada primigravida, keadaan ini disebabkan
secara
imunologik
pada
kehamilan
pertama pembentukan blocking
antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna sehingga timbul respon
65
imun yang tidak menguntungkan terhadap histoincompability placenta
(Djannah, 2010).
3. Faktor Jarak Kehamilan
Pada variabel jarak kehamilan, mayoritas kedua kelompok memiliki jarak
kehamilan ≥ 24 bulan atau ≥2 tahun yakni 55% pada kelompok kasus dan
51,2% pada kelompok kontrol. Jarak kehamilan memilki nilai P yang didapat
melalui uji statistik adalah 0,698.Nilai tersebut menunjukan tidak ada
hubungan
signifikan
antara
jarak
kehamilan
dengan
kejadiaan
preeklampsia.Nilai OR yang didapat adalah 1,163(0,543-2,490). Hasil
penelitian
ini
sesuai
dengan
hasil
penelitian Rozikhan
(2007),
menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara jarak kehamilan < 2 tahun
dengan kejadian preeklampsia (p value = 0,841, OR = 0,92, 95%
CI:0,4–2,07). Jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2
tahun) dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya kematian maternal.
Jarak antar kehamilan yang disarankan pada umumnya adalah paling sedikit
dua tahun.
Secara nasional, pemerintah Indonesia memberikan aturan kepada
pasangan suami istri bahwa 2 anak pada masing-masing pasangan suami istri
sudah cukup (BKKBN, 2012). Hal ini merupakan salah satu upaya untuk
pemerataan jumlah penduduk Indoensia. Jumlah paritas yang terlalu banyak
dapat memberikan dampak kesehatan baik pada ibu dan bayi.Selama
kehamilan sumber biologis dalam tubuh ibu secara sistematis terpakai dan
untuk kehamilan berikutnya dibutuhkan waktu 2-4 tahun agar kondisi tubuh
66
ibu kembali seperti kondisi sebelumnya. Apabila terjadi kehamilan sebelum 2
tahun, kesehatan ibu akan mundur secara progresif. Jarak yang aman bagi
wanita untuk melahirkan kembali paling sedikit 2 tahun.Hal ini agar wanita
dapat pulih setelah masa kehamilan dan laktasi.Ibu yang hamil lagi sebelum 2
tahun sejak kelahiran anak terakhir seringkali mengalami komplikasi
kehamilan dan persalinan.Wanita dengan jarak kelahiran <2 tahun
mempunyai risiko dua kali lebih besar mengalami kematian dibandingkan
jarak kelahiran yang lebih lama (Armagustini, 2010).
4. Faktor Antenatal care
Antenatal care merupakan pemeriksaan kehamilan secara rutin yang terdiri
dari penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, pengukuran tinggi
fundus uteri (TFU), pemberian imunisasi tetanus toxoid lengkap, pemberian
tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan serta konseling kesehatan.
Kunjungan ANC selama kehamilan dapat memberikan manfat yang sangat
besar terhadap kondisi kesehatan ibu hamil dan janin. Dilakukannya
kunjungan ANC selama masa kehamilan secara teratur, maka ibu hamil telah
memperoleh tindakan medis secara langsung yakni screening kesehatan ibu,
saran pola makan dan aktivitas fisik yang sesuai dan dukungan psikologis
(Ernawati.,dkk, 2011).
Perkembangan janin dan komplikasi kehamilan dapat terdeteksi secara
dini, sehingga tatalaksana dan penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan
tepat. Selain itu, Ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC secara teratur
dapat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kondisi kesehatan kehamilan
67
dengan cara mengatur aktivitas fisik dan memperhatikan kebutuhan energi
dan zat gizi selama masa kehamilan, sehingga kemungkinan terjadinya
gangguan kesehatan pada janin sangat kecil (Kemenkes, 2010).
Variabel kunjungan ANC kehamilan, mayoritas ibu hamil melakukan
kunjungan lengkap ANC ≥ 4 kali, baik kelompok kasus (75,0%) dan kontrol
(63,8%).Variabel antenatal care tidak ada hubungan yang signifikan dengan
kejadiaan preeklampsia. Hal tersebut dikarenakan variabel antenatal care
memiliki nilai P sebesar 0,215, nilai OR pada variabel ini yaitu sebesar 1,706
(0,730-3,985). Pada penelitian Nuryani, dkk (2012) hasil analisisnya
menunjukkan pada kelompok kasus sebanyak 56,6% dengan antenatal care
lengkap, sedangkan pada kelompok kontrol hanya sebanyak 43,4%.
Berdasarkan analisis bivariat, diperoleh p value= 0,01 yang berarti antenatal
care berhubungan dengan kejadian preeklampsia.
Sedangkan pada penelitian Djannah (2010) diketahui bahwa Kejadian
preeklampsia/eklampsia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
pada tahun
2007–2009 berdasarkan tingkat ANC ibu didominasi oleh
kelompok penderita yang melakukan ANC kurang dari 4 kali (< 4 kali) yaitu
sebesar 76,3%, sedangkan 23,7% terjadi pada kelompok penderita yang
melakukan ANC lebih dari dan sama dengan kali (≥4) kali. Hal ini juga
sejalan dengan penelitian Langelo (2013) yaitu responden yang melakukan
pemeriksaan kehamilan (ANC) pada kategori risiko tinggi lebih banyak
pada kelompok kasus (61,8%) dibandingkan pada kelompok kontrol (37,2%),
dengan nilai OR 2,72 (1,39-5,33) dengan nilai p value 0,03 (p<0,05).
68
Secara statistik, terdapat hubungan antara pemeriksaan kehamilan dengan
kejadian preeklampsia. Hasil ini sesuai dengan teori faktor penyebab
preeklampsia/eklampsia.
Pelayanan antenatal yang berkualitas (sesuai standar) dapat mendeteksi
gejala dan tanda yang berkembang selama kehamilan. Jika ibu tidak
memeriksakan diri hingga paruh kedua masa kehamilan, diagnosis hiptertensi
kronis akan sulit dibuat karena tekanan darah biasanya menurun selama
trimester kedua dan ketiga pada wanita dengan hipertensi. Kunjungan
antenatal kurang dari 4 kali dengan demikian akan meningkatkan risiko
menderita preeklampsia/eklampsia (Djannah, 2010).
Sedangkan pada penelitian Rostika (2012), menunjukan bahwa adanya
hubungan
yang bermakna antara Antenatal care dengan kejadiaan
preeklampsia di RSUD Dr. R. Soedarsono Kota Pesuruan Jawa Timur Tahun
2012 dengan p value 0,004 dan nilai OR=5,700 sehingga ibu yang memiliki
riwayat antenatal care tidak lengkap lebih berisiko mengalami kejadian
preeklampsia 5,7 kali dibandingkan dengan ibu yang memiliki riwayat
Antenatal care lengkap.
5. Faktor Riwayat komplikasi kehamilan
Menurut penelitian Diana, dkk (2014), diketahui bahwa ibu yang
mempunyai riwayat komplikasi obstetric berisiko untuk mengalami
komplikasi obstetric ibu 5,41 kali lebih besar daripada ibu yang tidak
mempunyai riwayat komplikasi obstetric sebelumnya. Ibu yang pernah
mengalami komplikasi pada waktu kehamilan, persalinan dan nifas
69
sebelumnya akan menghadapi risiko tinggi pada kehamilan dan persalinan
berikutnya.
Variabel riwayat komplikasi kehamilan sebagian besar ibu pada kelompok
kasus memiliki riwayat komplikasi sebesar 52,5% sedangkan kelompok
kontrol yakni 56,2% tidak memiliki riwayat komplikasi. Nilai P yang didapat
melalui uji chi square adalah 0,365.Sehingga tidak ada hubungan yang
signifikan antara variabel riwayat komplikasi kehamilan dengan kejadian
preeklampsia. Nilai OR yang didapat adalah 1,421 (0,663-3,044). Hal ini
didukung dengan penelitian Resmi (2013), hasil uji statistik dengan ujichi
square menunjukan bahwa nilai p= 0.632 > α = 0.05 hal ini berarti tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara Bad Obstetric History dengan
kejadian preeklampsia dengan nilai Odds Rasio sebesar 1.275 yang
berarti ibu hamil yang memiliki Bad Obstetric History memiliki risiko
1.275 kali dibandingkan yang tidak memiliki
Bad Obstetric History
terhadap kejadian preeklampsia.
Pada penelitian Rozikhan (2007), menunjukan bahwa dari 42 responden
yang sebelumnya ada riwayat preeklampsia mengalami preeklampsia berat
sebesar 36,0%, dan yang tidak mengalami preeklampsia hanya berat 6,0%.
Sedangkan pada responden yang tidak ada riwayat preeklampsia yang tidak
mengalami preeklampsia berat yaitu 94,0% sedangkan yang mengalami
preeklampsia berat sebanyak 64,0%. Ini menunjukkan bahwa seorang ibu
hamil yang mempunyai riwayat preeklampsia mempunyai kecenderungan
untuk mengalami preeklampsia berat. Hasil uji chi square diperoleh bahwa
70
ada hubungan yang signifikan antara ibu yang mempunyai riwayat
preeklampsia dengan terjadinya preeklampsia berat (p=0,001). Bila dilihat
dari nilai OR nya dapat disimpulkan bahwa ibu yang mengalami hamil
preeklampsia mempunyai risiko 8,81 kali untuk terjadi terjadi preeklampsia
berat dibandingkan dengan seorang ibu hamil yang tidak ada riwayat
preeklampsia.
6. Faktor Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus
Diabetes merupakan suatu penyakit dimana tubuh tidak menghasilkan
insulin dalam jumlah yang cukup atau sebaliknya, tubuh kurang mampu
menggunakan insulin secara maksimal (walaupun jumlah insulin sudah
cukup), Insulin adalah hormone yang dihasilkan pankreas, yang berfungsi
mensuplai glukosa dari darah ke sel-sel tubuh untuk dipergunakan sebagai
bahan bakar tubuh.Kehamilan dapat mempengaruhi timbulnya penyakit
diabetes pada seseorang.Sejak kehamilan terjadilah perubahan tingkat
karbohidrat dalam tubuh ibu yang diperlukan untuk energi lebih dari biasanya
bagi pertumbuhan janin.Namun asupan karbohidrat yang meningkat dapat
membuat hormone insulin dalam tubuh tidak mencukupi. Peran hormone ini
yaitu untuk mengendalikan kadar gula dalam darah yang diubah dari
karbohidrat. Akibatnya terjadilah penimbunan kadar gula yang menyebabkan
kenaikan kadar gula darah. Diabetes bawaan maupun diabetes yang didapat
selama hamil bisa berakibat buruk bagi kehamilan dan berisko terjadinya
preeklampsia (Inchtiari: 2005, Puspitasari:2009)
71
Variabel riwayat penyakit kronik yang dimiliki ibu seperti penyakit
diabetes mellitus kedua kelompok sebagian besar tidak memiliki penyakit
diabetes mellitus sebesar 87,5% pada kelompok kasus dan 88,8% pada
kelompok kontrol. Riwayat penyakit kronik pada penelitian ini adalah
penyakit hipertensi dan diabetes mellitus. Pada penyakit Diabetes mellitus
diketahui nilai P adalah 0,841 sehingga penyakit diabetes mellitus tidak ada
hubungan yang signifikan dengan kejadiaan preeklampsia dan memiliki nilai
OR sebesar 1,127 dengan confident interval 95% sebesar 0,351-3,616.
Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Puspitasari (2009)
menunjukan bahwa sebagian besar ibu yang tidak mengalami diabetes
mellitus yaitu sebesar 85,7% pada kelompok kasus dan sebesar 94,29% pada
kelompok kontrol, hasil uji chi-square juga menunjukan tidak adanya
hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit diabetes mellitus dengan
kejadian preeklampsia (p=0,841). Nilai OR=0,894 (CI 95%=0,285-2,809)
menunjukan bahwa ibu yang mengalami kejadian diabetes belum merupakan
faktor risiko terjadinya preeklampsia pada kehamilannya. Selain itu,
penelitian ini juga didukung dengan penelitian Rostika (2012), yang
menunjukan tidak terdapat hubungan signifikan antara riwayat diabetes
mellitus dengan kejadian preeklampsia dengan nilai p=0,907, OR=4,622
(0,413-3,842). Hal tersebut dikarenakan ibu hamil yang preeklampsia yang
memiliki riwayat diabetes mellitus hanya 4% dari 148 ibu hamil yang diteliti.
Pada penelitian Nurmalichatun (2013), menunjukan bahwa ibu hamil
dengan diabetes mellitus yang mengalami kejadian preeklampsia sebanyak
72
59,3% lebih
besar
dibandingkan
yang
tidak mengalami
kejadian
preeklampsia sebanyak 40,7%. Dari hasil uji chi square menunjukkan bahwa
pada nilai continuity correction didapatkan nilai p = 0,000, artinya ada
hubungan antara penyakit diabetes mellitus pada kehamilan dengan kejadian
preeklampsia pada ibu hamil di RSUD Dr. H. Soewondo Kabupaten
Kendal. Pada penelitian ini didapatkan nilai OR 12,460 artinya responden
yang mempunyai penyakit diabetes mellitus pada kehamilan mempunyai
peluang 12,46 kali untuk mengalami kejadian preeklampsia dibandingkan
responden yang tidak preeklampsia.
73
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan Hasil Penelitian mengenai Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan
kejadian
Preeklampsia
Kehamilan
di
Wilayah
Kerja
PuskesmasPamulangKota Tangerang Selatan Tahun 2014-2015 diperoleh hasil
sebagai berikut:
1. Kejadian preeklampsia di wilayah kerja PuskesmasPamulangKota Tangerang
Selatan tahun 2014-2015 yaitu sebanyak 4,74% kehamilan yang mengalami
preeklampsia.
2. Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit hipertensi dengan
kejadian preeklampsia (P value=0,000; OR=9,444; 95% CI= 3,891-22,924)
dan tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit Diabetes
mellitus dengan kejadian preeklampsia (P value=0,841; OR=1,127; 95% CI=
0,351-3,616) serta tidak adanya hubungan yang signifikan antara riwayat
komplikasi kehamilan dengan kejadian preeklampsia (P value=0,365;
OR=1,421; 95% CI= 0,663-3,044).
3. Adanya hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan kejadian
preeklampsia (P value=0,017; OR=2,627; 95% CI= 1,171-5,894). Sedangkan
pada variabel paritas dan jarak kehamilan menunjukan tidak adanya hubungan
yang signifikan dengan kejadian preeklampsia.
74
4. Sebagian besar responden melakukan kunjungan ANC ≥ 4 kali selama
kehamilannya, baik pada kelompok kasus (75,0%) dan kelompok kontrol
(63,8%). Melalui uji chi-square maka diketahui tidak ada hubungan yang
signifikan antara status pemeriksaan Antenatal Care dengan kejadian
preeklampsia (P value=0,215; OR=1,706; 95% CI= 0,730-3,985).
5. Terdapat hubungan yang signifikan antara status pendidikan ibu dengan
kejadian preeklampsia (P value=0,002; OR=3,548; 95% CI= 1,584-7,948).
Sedangkan pada variabel status pekerjaan menunjukan tidak adanya hubungan
yang signifikan antara status pekerjaan ibu dengan kejadian preeklampsia (P
value=0,166; OR=0,444; 95% CI= 0,138-1,431).
B. Saran
1. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
a. Memberikan informasi terkait faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kejadian preeklampsiapada ibu hamil melalui pemberian leaflet atau poster
di setiap fasilitas pelayanan kesehatan wilayah kerja PuskesmasPamulang
(Puskesmas maupun Bidan Praktik Swasta).
b. Dinas Kesehatan juga memberikan obat preeklampsia seperti obat anti
hipertensi, diazepam, fenitoin, dan magnesium sulfat (MgSO4) kepada
Puskesmas maupun BPS.
c. Melakukan pembinaan kepada Bidan Praktik Swasta (BPS) dan kader
kesehatan Posyandu untuk melakukan penyuluhan atau konseling terkait
preeklampsia
75
2. Petugas Kesehatan PuskesmasPamulang
a. Meningkatkan frekuensi pemberian penyuluhan baik secara personal
maupun kelompok terkait dampak preeklampsia bagi ibu dan janin, faktor
risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya preeklampsia. Sehingga dapat
menambah pengetahuan ibu tentang preeklampsia. Pemberian penyuluhan
seharusnya tidak hanya dilakukan pada ibu hamil, melainkan pada Wanita
Usia Subur, Pasangan Usia Subur dan keluarga ibu hamil. Kegiatan
penyuluhan pada semua sasaran tersebut, diharapkan dapat meminimalisir
frekuensi kejadian preeklampsia di wilayah kerja PuskesmasPamulang
khususnya bagi ibu yang berpendidikan rendah.
b. Pemberian penyuluhan terkait bahaya masalah kesehatan ibu dan anak
pada remaja dalam program Pelayanan Kesehatan Peduli remaja (PKPR)
yang ada di sekolah.
c. Melakukan screeninghipertensi terhadap pasien hamil yang mempunyai
faktor risiko terhadap kejadian preeklampsia seperti ibu yang hamil pada
usia<20 tahun dan ≥35 tahun dan ibu yang memiliki riwayat penyakit
hipertensi.
d. Melakukan perawatan antenatal yang optimal terhadap ibu hamil dengan
faktor risiko tersebut
e. Pemberian obat antikejang pada preeklampsia berat bertujuan untuk
mencegah terjadinya kejang (eklampsia). Obat yang digunakan sebagai
antikejang antara lain diazepam, fenitoin, dan magnesium sulfat (MgSO4).
76
3. Ibu hamil di Wilayah Kerja PuskesmasPamulang
Selalu menjaga kehamilannya dengan caramemeriksakan kehamilan
secara rutin ke tempat pelayanan kesehatanatau sesuai standar (≥4 kali) untuk
mendeteksi dan mencegah terjadinya preeklampsia, sehingga jika terjadi
preeklampsia saat kehamilan dapat ditangani secara cepat dan tepat oleh tenaga
kesehatan. Selain itu, ibu juga harus menjaga status gizi selama kehamilannya
dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup dan
olah raga untuk ibu hamil.
4. Peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan peelitian lanjutan terkait
kejadian preeklampsia bisa menggunakan faktor-faktor lain yang belum diteliti
seperti kehamilan ganda/kembar, status gizi, selama kehamilan, dan sebagainya.
77
Daftar Pustaka
Aeni, Nurul. 2013. Faktor Risiko Kematian Ibu. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional Volume 7 Nomor 10. Halaman 453-459
Afdhal, Muh dkk.2012. Faktor Risiko Perencanaan Persalinan Terhadap Kejadian
Komplikasi Persalinan di Kabupaten Pinrang Tahun 2012. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin
Armagustini, Yetti. 2010. Determinan Kejadian Komplikasi Persalinan Di Indonesia
(Analisis Data Sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun
2007). Skripsi. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
Artikasari, Kurniawati. 2009. Hubungan Antara Primigravida dengan Angka
Kejadian Preeklampsia/Eklampsia di RSUD Dr. Moewadi Surakarta
Periode 1 Januari-31 Desember 2008. Fakultas Kedokteran, Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Asrianti, Tanti. 2009. Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia pada Ibu Melahirkan
di RSIA Siti Fatimah Makassar. Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar
Astuti, Sri Lestari Dwi. dkk. 2013. Analisis Faktor Risiko yang Terjadinya
Preeklampsia Berat Pada Ibu Hamil Trimester Ketiga. Jurnal Terpadu Ilmu
Kesehatan. Volume 2.Nomor 2, Nopember 2013. Halaman 41-115
Bobak, Lowdermik dan Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta:
EGC
Christina, Dilla. 2013. Hubungan Kualitas Pelayanan Antenatal dengan Komplikasi
Persalinan Wilayah Perdesaan di Indonesia (Analisis Data Sekunder Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007). Tesis. Universtas
Indonesia; Depok
78
Cunningham F. G., 2005.Hypertensive Disorders In Pregnancy. In Williams
Obstetri.22nd Ed. New York :Medical Publishing Division
Depkes, 2007.Materi Ajar Penurunan Kematian Ibu Dan Bayi Baru Lahir. Direktorat
Bina Kesehatan Ibu, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Diana. dkk,. 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Komplikasi
Obstetri Ibu dan Bayi di Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung
Barat. Jurnal Universitas Padjadjaran
Dinas Kesehatan Provinsi Banten. 2013. Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi
Banten.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. 2014. Profil kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2013.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. 2013. Profil kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2012.
Djannah, Sitti nur dan Ika Sukma Arianti. 2010. Gambaran Epidemiologi Kejadian
Preeklampsia/Eklampsia di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta Tahun
2001-2009. Jurnal. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Volume 13.Nomor
4. Oktober 2010:378-385
Ernawati, Fitrah., dkk. 2013. Hubungan Antenatal Care dengan Berat Badan Lahir di
Indonesia. Jurnal Gizi Indonesia, Vol.1, No.34
Ferida,
Dewi,R.,S. 2007. Faktor
Preeklampsia–Eklampsia
–
di
Faktor
RSUD
yang Mempengaruhi
Syekh
Yusuf
Kejadian
Kabupaten Gowa.
Skripsi.Universitas Hasanuddin Makassar
Grag, Bishan Swarup. 2006. Safe Motherhood: Social, Economic, and Medical
Determinants of Maternal Mortality. Women and Health Learning Package
Modules.
Diakses pada 19 November 2015 dari http://www.the-
networktufh.org/sites/default/files/attachments/basic_pages/WHLP%20Safe
%20Motherhood.pdf
Hanum, Huda dan Faridah BD. 2013.Faktor Risiko yang Berhubungan dengan
Kejadian Preeklampsia pada Ibu Bersalin di RSUP DR. M Djamil Padang
79
Tahun 2013.Jurnal. Poltekkes Kementerian Kesehatan Jurusan Kebidanan
Padang
Hukmiah, dkk. 2013. Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Antenatal
Care Di Wilayah Pesisir Kecamatan Mandalle. Epidemiologi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
Indriani, Nanien. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Preeklampsia/Eklampsia Pada Ibu Bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah
Kardinah Kota Tegal Tahun 2011.Skripsi.Fakultas Kesehatan Masyarakat
Program Studi Kebidanan Komunitas. Depok
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Direktur
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat 2010.
Kementerian Kesehatan RI. 2010.Pedoman Pemantauan Wilayah
Setempat
Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Bina Kesehatan Ibu : Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Langelo, Wahyuny. dkk. 2013. Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia di RSKD Ibu
dan Anak Siti Fatimah Makassar Tahun 2011-2012.Jurnal. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
Lockhart, Anita dan Lyndon Saputra.2014. Asuhan Kebidanan Kehamilan
Fisiolologis & Patologis.Binapura Aksara Publisher. Halaman 13- 15 dan
226
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta. EGC
Nugroho, Antonius Joko. 2008. Sosial Ekonomi Rendah Merupakan Salah Satu
Predisposisi
Kejadian
Preeklampsia.
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Skripsi.
Fakultas
Kedokteran,
80
Nurmalichatun.2013. Hubungan Antara Primipara dan Penyakit Diabetes Mellitus
Pada Kehamilan dengan Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di RSUD
Dr. H. Soewondo Kabupaten Kendal. Program Studi DIV Kebidanan,
STIKES Ngudi Waluyo
Nuryani., dkk. 2012. Hubungan Pola Makan, Sosial Ekonomi, Antenatal Care dan
Karakteristik Ibu Hamil dengan Kasus Preeklampsia di Kota Makassar.
Artikel Penelitian. Program Studi Ilmu Gizi, Kesehatan Masyarakat,
Universitas Hasanuddin, Makassar.
Priani, Ika Fauziah. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keteraturan Ibu Hamil
Melakukan Antenatal Care di Puskesmas Cimanggis Kota Depok. Skripsi
Program Keperawatan Universitas Indonesia
Pritasari, dkk. 2012. Petunjuk Kerja Pelayanan Antenatal Terpadu, Persalinan, dan
Paska Persalinan Terpadu. Maternal and Child Health Integrated Program
USAID. Halaman 1-2
PuskesmasPamulang. 2013. Laporan Tahunan.UPT PuskesmasPamulang.
PuskesmasPamulang. 2014. Jumlah Penduduk tahun.UPT PuskesmasPamulang.
Puspita, Dita. 2013. Studi Fenomenologi Kualitas Pemeriksaan Antenatal dalam
Mendeteksi Preeklampsia di Puskesmas Ciputat Kota Tangerang Selatan.
Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Puspitasari, Apriliani Asmara. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil (Studi di RSUP Dr. Kariadi
Semarang Tahun 2007).Skripsi. Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang.
Resmi, Afni Sucita., dkk. 2013. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
Preeklampsia pada Kehamilan di RSU Muhammadiyah Sumatera Utara
Medan Tahun 2011-2012. Jurnal.Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.
81
Retnowati, Indah dan Asid Dwi Astuti. 2010. Hubungan penerapan program
perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) oleh ibu hamil
dengan upaya pencegahan komplikasi kehamilan di Puskesmas Sidorejo
Kidul Salatiga. Jurnal Kebidanan. Volume II Nomor 02, 2010. Halaman 3951
Rinawati, Silvia. 2010. Hubungan Antara Preeklampsia dengan Persalinan Prematur
di RSUD Dr. Soesilo Kabupaten Tegal.Skripsi. Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian kesehatan RI tahun 2013
Riskesdas. 2013. KuesionerRiset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian kesehatan RI tahun 2013
Ritonga, Fatimah Jahra. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil dalam
Melakukan pemeriksaan Antenatal Care Di Desa Tanjung Rejo Kec. Percut
Sei Tuan Kab.Deli serdang Tahun 2012.Skripsi. Universitas Sumatera Utara
Rostika, Asri Deny. 2012. Kejadian Preeklampsia dan Hubungan Konsumsi Kalsium
serta Faktor-Faktor Terkait pada Ibu Hamil Trimester II dan III di RSUD
Dr.R. Soedarsono Kota Pasuruan Jawa Timur Tahun 2012.Skripsi. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Depok
Rozanna. F. R., dkk. (2009). Risk Factors of Early and Late Onset Preeclampsia
among Thai Women, Journal Medical Assocciation
Rozikhan. 2007. Faktor-faktor Risiko Terjadinya Preeklampsia Berat di Rumah Sakit
Dr. H. Soewondo Kendal. Tesis. Program Studi Magister Epidemiologi
Universitas Diponegoro Semarang
Sa’adah, Niswatus. 2013. Hubungan Antara Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil
dengan Angka Kejadiaan Preeklampsia di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Naskah Publikasi. Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Salim, Adriani, R. 2005. Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia di Rumah Sakit Ibu
dan Anak St. Fatimah Makassar. Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar
82
Sari, Puti., dkk. 2014. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko kehamilan “4
terlalu (4T)” pada wanita usia 10-59 tahun (Analisis Riskesdas
2010)”.Jurnal Media Litbangkes.Volume 24 nomor 3, 2014. Halaman 143152
Sarminah. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan Antenatal
Care di Provinsi Papua Tahun 2010.Skripsi. Program Sarjana Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia
SDKI.2012. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional Kementerian Kesehatan
SDKI.2012. Kuesioner Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Kementerian Kesehatan
Sukaesih, Sri. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Ibu
Hamil Mengenai Tanda Bahaya dalam Kehamilan di Puskesmas Tegal
Selatan Kota Tegal Tahun 2012. Skripsi. Program sarjana Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia
Sulistiyani, Dwi. 2013. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Mengnai
Perubahan Fisik Saat Kehamilan di BPM Anik Suroso Mojosongo Surakarta
Tahun 2013. Karya Tulis Ilmiah. Surakarta: STIKes Kusuma Husada
Sumarni, Sri. 2014. Hubungan Gravida Ibu dengan Kejadian Preeklampsia. Jurnal
Kesehatan Wiraraja Medika
Supriandono, Agung. 2001. Faktor Risiko Terjadinya Preeklampsia Berat di RSUP
Dr. Sardjito Yogyakarta. Skripsi
Sutrimah., dkk. 2014. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Preeklampsia Pada Ibu Hamil di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah
Semarang
Quedarusman, Hermanto. Dkk. 2013.Hubungan Indeks Massa Tubuh Ibu dan
Peningkatan Berat Badan Saat Kehamilan dengan Preeklampsia.Jurnal eBiomedik (eBM). Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, halaman 305-311
83
Unicef. 2012. Resiko Kematian Ibu dan Anak Indonesia Masih Tinggi Walaupun
Angka Kematian Sudah Menurun. Diakses pada 23 September 2014 dari
http://www.unicef.org/indonesia/id/media_18818.html
Widyaningrum, Siti. 2012.Hubungan Antara Konsumsi Makanan dengan Kejadian
Hipertensi Pada Lansia. Skripsi.Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Jember.
Lampiran 1
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN IKUT SERTA DALAM
PENELITIAN
(INFORMED CONSENT)
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Perkenalkan nama saya Sri Fuji Astuti mahasiswa peminatan Promosi
Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, saat
ini saya sedang melakukan pengumpulan data tentang “Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia Kehamilan di Wilayah
Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014-2015”.
Dalam lampiran ini terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan
dengan penelitian. Untuk itu saya harap dengan segala kerendahan hati agar
kiranya anda bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner yang
telah disediakan. Kerahasiaan jawaban anda akan dijaga dan hanya diketahui
oleh peneliti. Kuesioner ini saya harap diisi dengan sejujur-jujurnya sesuai
dengan apa yang dipertanyakan. Sehingga hasilnya dapat memberikan
manfaat yang baik untuk penelitian ini.
Dengan demikian apabila anda bersedia untuk menjadi responden
penelitian ini, maka diharapkan untuk menandatangani Surat Pernyataan
Persetujuan untuk ikut serta dalam penelitian (Informed Concent). Atas
perhatian dan kerjasama anda saya ucapkan terima kasih.
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
:
Usia
:
Alamat
:
No. HP
:
Bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul “Faktorfaktor yang Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia Kehamilan di
Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014-2015”
Jakarta, ...................................2015
(.....................................................)
Lampiran 2
Lembar Kuesioner
Kode
Daftar Pertanyaan
A. Identitas Responden
A1
Nama
A2
Usia saat hamil
A3
Alamat
B. Pendidikan Ibu
B1
Apakah pendidikan terakhir ibu?
C. Pekerjaan Ibu
C1
Apakah pekerjaan ibu saat ini?
D. Perilaku Antenatal Care
D1
Apakah ibu pernah hamil yang
berakhir pada periode 1 Januari
2014 sampai dengan
sekarang (termasuk yg sekarang
sedang hamil)
D2
Bagaimana hasil kehamilan tersebut?
D3
D4
Pada saat Ibu mengandung, apakah
Ibu memeriksakan kehamilan?
Dimana Ibu memeriksakan kehamilan
tersebut?
D5
Siapakah yang memeriksa kandungan
ibu?
D6
Berapa bulan umur kandungan ketika
Ibu pertama kali memeriksakan
kehamilan?
Selama Ibu mengandung, berapa kali
Ibu memeriksakan kehamilan?
D7
Jawaban
……….Tahun
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Tidak Sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Tamat Perguruan Tinggi
1. PNS
2. Wiraswasta
3. Ibu rumah tangga
1. Ya
2. Tidak
1.
2.
3.
4.
Lahir hidup
Lahir mati
Keguguran
Sedang hamil
1. Ya
2. Tidak (Lanjut ke-E1)
1. Rumah sakit
2. Puskesmas/Pustu
3. Posyandu
1. Dokter kandungan
2. Dokter umum
3. Perawat
4. Bidan
5. Dukun
……….Bulan
……Kali (Jumlah
Pemeriksaan)
Diisi
peneliti
D8
Ibu mengatakan memeriksakan kehamilan (NAMA) ____ kali. Berapa
kali Ibu memeriksakan kehamilan
Jumlah Pemeriksaan kehamilan
a. Dalam 3 bulan pertama? ….. kali
b. Antara 4 - 6 bulan? ….. kali
c. Antara 7 bulan sampai melahirkan? ….. kali
D9
Berapa bulan umur kandungan ketika
…….Bulan
Ibu terakhir kali memeriksakan
kehamilan
E. Preeklampsia
E1
Pada saat pemeriksaan kehamilan,
1. Ya
apakah Ibu diukur tekanan darahnya?
2. Tidak
E2
Berapakah tekanan darah ibu saat itu? ……/…...mmHg
E3
Pada saat kehamilan apakah ibu di
1. Ya
periksa protein dalam urine nya oleh
2. Tidak
tenaga kesehatan?
E4
Berapakah jumlah proteinuria dalam
……
urine tersebut?
E5
Apakah selama kehamilan ibu
1. Ya
mengalami edema (bengkak) pada
2. Tidak
bagian tubuh?
E6
Apakah ibu selama pemeriksaan
1. Ya
kehamilan dinyatakan mengalami atau
2. Tidak
berisiko terjadinya preeklampsia?
F. Jarak Kehamilan
F1
Sebelum kehamilan terakhir apakah
1. Ya
ibu pernah hamil sebelumnya?
2. Tidak pernah (Lanjut
ke-F1)
Berapa jarak antara kehamilan terakhir
…….Bulan/Tahun
dengan kehamilan sebelumnya?
G. Paritas
G1
Berapa jumlah kehamilan (termasuk yg sedang hamil), jumlah
keguguran, jumlah lahir hidup, dan jumlah lahir
a. Jumlah seluruh kehamilan
…….Kali
b. Jumlah lahir hidup
…….Orang
c. Jumlah lahir mati
…….Orang
d. Jumlah keguguran
…….Orang
H. Riwayat Komplikasi
H1
Apakah selama kehamilan, saat persalinan dan masa nifas sebelumnya
ibu mengalami gangguan-gangguan/ komplikasi sbb:
F2
Ya
a. Pernafasan sesak
b. Kejang
c. Demam/Panas
d. Anemia
Tidak
H2
H3
e. Nyeri kepala hebat
f. Nyeri perut hebat
g. Pendarahan (>2 kain)
h. Masalah pada janin
i. Bengkak kaki/badan
j. Keluhan pecah dini
k. Persalinan >24 jam
l. Hipertensi
m. Lainnya
n. Tidak ada komplikasi
Pada kehamilan sebelumnya apakah
ibu pernah mengalami komplikasi
persalinan?
1. Ya
2. Tidak Pernah
Apakah ibu selama kehamilan mengalami gejala seperti
Ya
Tidak
a. Pucat
b. Sering pusing
c. Cepat capek/lelah
I. Riwayat Penyakit
Penyakit Diabetes Mellitus/Kencing Manis
I1
Apakah ibu pernah didiagnosis 1. Ya
menderita kencing manis oleh dokter? 2. Tidak (Lanjut ke H3)
I2
apakah ibu saat ini melakukan hal-hal dibawah ini untuk
mengendalikan penyakit kencing manis
Ya
Tidak
a. Diet
b. Olah Raga
c. Minum obat Anti diabetic
d. Injeksi insulin
I3
Apakah ibu dalam 1 bulan terakhir mengalami gejala:
Ya
Tidak
a. Sering lapar
b. Sering haus
c. Sering buang air kecil &
jumlah banyak
d. Berat badan turun
Penyakit Hipertensi/ Darah Tinggi
I4
Apakah ibu pernah didiagnosis menderita
1. Ya
hipertensi/ penyakit tekanan darah tinggi
2. Tidak (selesai)
oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/
bidan)?
I5
Kapan didiagnosis pertama kali
Tahun ….
I6
Apakah saat ini [NAMA] sedang minum
1. Ya
obat medis untuk tekanan darah tinggi
2. Tidak
Terimakasih atas partisipasi anda, saya ucapkan terimakasih
Lampiran 2
Hasil SPSS
A. Analisis Univariat
1. Kejadian Preeklampsia
kejadian_preeklampsia
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak preeklampsia
80
66.7
66.7
66.7
preeklampsia
40
33.3
33.3
100.0
120
100.0
100.0
Total
2. Usia
usia_ok
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak berisiko
83
69.2
69.2
69.2
berisiko
37
30.8
30.8
100.0
120
100.0
100.0
Total
3. Pendidikan
Pendidikan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
rendah
61
50.8
50.8
50.8
tinggi
59
49.2
49.2
100.0
Total
120
100.0
100.0
4. Pekerjaan
Pekerjaan
Cumulative
Frequency
Valid
tidak bekerja
bekerja
Total
Percent
Valid Percent
Percent
100
83.3
83.3
83.3
20
16.7
16.7
100.0
120
100.0
100.0
5. paritas
paritas_baru
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak berisko
70
58.3
58.3
58.3
berisiko
50
41.7
41.7
100.0
120
100.0
100.0
Total
Ajumlahsel
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
1
33
27.5
27.5
27.5
2
40
33.3
33.3
60.8
3
30
25.0
25.0
85.8
4
14
11.7
11.7
97.5
5
3
2.5
2.5
100.0
120
100.0
100.0
Total
6. Jarak Kehamilan
jarak_kehamilan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
dekat
57
47.5
47.5
47.5
jauh
63
52.5
52.5
100.0
Total
120
100.0
100.0
7. Antenatal Care
antenatal_care
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak lengkap
39
32.5
32.5
32.5
lengkap
81
67.5
67.5
100.0
120
100.0
100.0
Total
8. Riwayat komplikasi
Riwayatkomplikasi
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak
64
53.3
53.3
53.3
ya
56
46.7
46.7
100.0
120
100.0
100.0
Total
9. Riwayat Penyakit Kronik
a. Diabetes Mellitus
riwayat_DM
Cumulative
Frequency
Valid
tidak
ya
Total
Percent
Valid Percent
Percent
106
88.3
88.3
88.3
14
11.7
11.7
100.0
120
100.0
100.0
b. Penyakit Hipertensi
riwayat_hipertensi
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak
83
69.2
69.2
69.2
ya
37
30.8
30.8
100.0
120
100.0
100.0
Total
B. Analisis Bivariat
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
antenatal_care *
kejadian_preeklampsia
riwayat_DM *
kejadian_preeklampsia
riwayat_hipertensi *
kejadian_preeklampsia
jarak_kehamilan *
kejadian_preeklampsia
paritas *
kejadian_preeklampsia
tk_pend *
kejadian_preeklampsia
pekerjaan *
kejadian_preeklampsia
riwayatkomplikasi *
kejadian_preeklampsia
usia_ok *
kejadian_preeklampsia
Missing
Percent
N
Total
Percent
N
Percent
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
120
100.0%
0
.0%
120
100.0%
1. Usia
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
usia_ok
tidak berisiko
Count
22
83
76.2%
55.0%
69.2%
19
18
37
23.8%
45.0%
30.8%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
kejadian_preeklampsia
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
61
% within
berisiko
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
Df
a
1
.017
4.694
1
.030
5.502
1
.019
5.646
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.022
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
5.599
1
.018
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,33.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for usia_ok (tidak
berisiko / berisiko)
2.627
Lower
1.171
Upper
5.894
.016
For cohort
kejadian_preeklampsia =
1.431
1.020
2.009
.545
.335
.887
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
2. Pendidikan
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
pendidikan
tinggi
Count
19
80
76.2%
47.5%
66.7%
19
21
40
23.8%
52.5%
33.3%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
kejadian_preeklampsia
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
61
% within
rendah
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.002
8.667
1
.003
9.703
1
.002
9.919
b
df
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.002
9.836
120
1
.002
.002
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13,33.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for pendidikan
(tinggi / rendah)
Lower
Upper
3.548
1.584
7.948
1.605
1.133
2.273
.452
.277
.739
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
3. Pekerjaan
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
pekerjaan
tidak bekerja
Count
36
100
80.0%
90.0%
83.3%
16
4
20
20.0%
10.0%
16.7%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
kejadian_preeklampsia
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
64
% within
bekerja
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig. (2-
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.166
1.268
1
.260
2.064
1
.151
1.920
b
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
.201
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
1.904
1
.129
.168
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,67.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for pekerjaan
(tidak bekerja / bekerja)
Lower
Upper
.444
.138
1.431
.800
.614
1.042
1.800
.721
4.493
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
4. Antenatal care
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
antenatal_care
tidak lengkap
Count
% within
kejadian_preeklampsia
lengkap
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
preeklampsia
Total
29
10
39
36.2%
25.0%
32.5%
51
30
81
63.8%
75.0%
67.5%
80
40
120
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
antenatal_care
tidak lengkap
Count
% within
kejadian_preeklampsia
lengkap
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
preeklampsia
Total
29
10
39
36.2%
25.0%
32.5%
51
30
81
63.8%
75.0%
67.5%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
df
a
1
.215
1.068
1
.301
1.578
1
.209
1.538
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.301
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
1.526
1
.217
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13,00.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Lower
Upper
Odds Ratio for
antenatal_care (tidak
lengkap / lengkap)
1.706
.730
3.985
.151
For cohort
kejadian_preeklampsia =
1.181
.921
1.514
.692
.378
1.268
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
5. Paritas
paritas_baru * kejadian_preeklampsia Crosstabulation
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
paritas_baru
tidak berisko
Count
% within
kejadian_preeklampsia
berisiko
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
preeklampsia
Total
46
24
70
57.5%
60.0%
58.3%
34
16
50
42.5%
40.0%
41.7%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.793
.004
1
.948
.069
1
.793
.069
b
df
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.846
.068
1
.794
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 16,67.
b. Computed only for a 2x2 table
.475
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for paritas_baru
(tidak berisko / berisiko)
Lower
Upper
.902
.417
1.953
.966
.749
1.247
1.071
.638
1.799
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
6. Jarak kehamilan
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
jarak_kehamilan
dekat
Count
% within
kejadian_preeklampsia
jauh
kejadian_preeklampsia
Total
18
57
48.8%
45.0%
47.5%
41
22
63
51.2%
55.0%
52.5%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
39
Count
% within
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
.150
df
a
1
Asymp. Sig. (2-
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
.698
Continuity Correction
b
Likelihood Ratio
.038
1
.846
.151
1
.698
Fisher's Exact Test
.846
Linear-by-Linear Association
.149
b
N of Valid Cases
1
.424
.699
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 19,00.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Lower
Upper
Odds Ratio for
jarak_kehamilan (dekat /
1.163
.543
2.490
1.051
.817
1.354
.904
.543
1.505
jauh)
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
7. Riwayat komplikasi
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
riwayatkomplikasi
tidak
Count
% within
kejadian_preeklampsia
ya
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
preeklampsia
Total
45
19
64
56.2%
47.5%
53.3%
35
21
56
43.8%
52.5%
46.7%
80
40
120
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
riwayatkomplikasi
tidak
Count
19
64
56.2%
47.5%
53.3%
35
21
56
43.8%
52.5%
46.7%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
kejadian_preeklampsia
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
45
% within
ya
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
df
a
1
.365
.506
1
.477
.820
1
.365
.820
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.439
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.813
1
.367
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18,67.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
riwayatkomplikasi (tidak / ya)
Lower
Upper
1.421
.663
3.044
1.125
.869
1.456
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
.238
For cohort
kejadian_preeklampsia =
.792
.477
1.314
preeklampsia
N of Valid Cases
120
8. Riwayat penyakit kronik
a. Diabetes Mellitus
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
riwayat_DM
tidak
Count
% within
kejadian_preeklampsia
ya
kejadian_preeklampsia
Total
35
106
88.8%
87.5%
88.3%
9
5
14
11.2%
12.5%
11.7%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
71
Count
% within
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.841
.000
1
1.000
.040
1
.841
.040
b
df
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
1.000
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.040
1
.841
120
a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,67.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
.529
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for riwayat_DM
(tidak / ya)
Lower
Upper
1.127
.351
3.616
1.042
.690
1.574
.925
.435
1.964
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
b. Penyakit Hipertensi
Crosstab
kejadian_preeklampsia
tidak
preeklampsia
riwayat_hipertensi
tidak
Count
15
83
85.0%
37.5%
69.2%
12
25
37
15.0%
62.5%
30.8%
80
40
120
100.0%
100.0%
100.0%
kejadian_preeklampsia
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
Count
% within
kejadian_preeklampsia
Total
68
% within
ya
preeklampsia
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.000
26.029
1
.000
27.704
1
.000
28.212
b
df
Asymp. Sig. (2-
.000
.000
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
27.977
1
.000
120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,33.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
riwayat_hipertensi (tidak / ya)
Lower
Upper
9.444
3.891
22.924
2.526
1.569
4.066
.267
.161
.445
For cohort
kejadian_preeklampsia =
tidak preeklampsia
For cohort
kejadian_preeklampsia =
preeklampsia
N of Valid Cases
120
KEMENTERIAN AGAMA
'
TINTVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN )
SYARIF HIDAYATT]LLAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTBRAN DAN ILMU KESEHATAN
Telp.
Nomor
:
:
(62-21)747167t8 F'ax : (62-21) 7404985
; E-nail : fkik(a)uin j kt.ac. id
Website : u,ww. uin jkt.ac.id
Jl, Kefiamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15,119
Un.01/F10lTL.00l
278$
.lakarta.
12015
Lampiran : I'Ial
: Permohonan lzin Penelitian
dan Pengambilan Data
?l
AgLrstLrs 20I
Kcpacla Ytlr.
Kcpala Pusk csnras l)anrlrlanq
L'!
i
'l-cmpat
,lssu |um
u' u I u i
k
um ll/r. ll'h.
I)cngan Itornu.tt katri sanrpaikan. lrahn a nrahasisrl
i
I)nrgrarr
Str-rcli
Kesehatan l\4asvarakat lrakLrltas Kecioktcran clan ilnrr-r Kcschatan (ltKIK) t.llN
201 ,rl20l (r akan rrclakukun
-l'ahun
S1'arif Hic'lavatullah .lakart:r
Akaclcnrik
penelitian. N4ahasisrva tersebut adalah:
: Sri lru.ii Astuli ( I 1 I I 101000083)
Nanra
S e nr cster
:IX
WaktLr
.lr-rch-rl Skripsi
:
nrbcr
Oktobcr 201 5
liakto-laktor ) ang be rhLrbLuruan ciengan ke jadian
preeklarnpsia pada ihu h:rrnil di u ilar ah kcria
puskesmas l)an-nrlang taltun 20 I -5
: Scpte
Schubun-{:rn dengzrn itu. kanri nrohon dibcrikan izin kcpacla nrahasisu,i
tcrscbttt t-tt-ttuk rnclakukan pcnclitian clan pcn-gambilan data di ',vilavah kerja
rlutr: llli',rrk Ihtr pilrl,rrr
tr'...._.t.-----,.
,, al3-rallatrlt.t
^r._:!., -itrltir.titli
t:)t, t.
tE,t.
i, lr-
ang Akadenrik.
'jana" Sp. OG
198709 I 00r
'l'cnrbusar-r
:
Dekarr I"KIK
UIN Svaril' Hidavatullah .lakarta
V
-5
Download