REFERENSI TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN NIRMALA

advertisement
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Pancaran Sinar-X Karakteristik untuk Pemeriksaan Medis
MUKHLIS AKHADI
Ahli Peneliti Madya di Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir
Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta
Pendahuluan
Pada 1900, fisikawan berkebangsaan Jerman Max Planck (1858-1947) melakukan
studi untuk mempelajari radiasi benda hitam. Planck berhasil menemukan suatu
persamaan matematika untuk radiasi benda hitam yang benar-benar sesuai
dengan data percobaan yang diperolehnya. Persamaan tersebut selanjutnya
disebut Hukum Radiasi Benda Hitam Planck, yang menyatakan bahwa intensitas
cahaya yang dipancarkan dari suatu benda hitam berbeda-beda sesuai dengan
panjang gelombang cahaya. Teori Planck ini dikenal juga sebagai "teori kuantum".
Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk
menjelaskan berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan
teori klasik. Menjelang 1918, Planck memperoleh hadiah Nobel bidang fisika
berkat teori kuantumnya itu.
Niels Bohr, ahli fisika berkebangsaan Swedia, pada 1913 menerapkan teori
kuantum dalam studi spektrum atom yang dilakukannya. Bohr mengemukakan
teori baru mengenai struktur dan sifat-sifat atom yang merupakan gabungan dari
penemuan Ernest Rutherford mengenai struktur atom dan teori kuantum dari Max
Planck. Bohr dengan cara yang mengagumkan dalam teori atomnya berusaha
untuk memperhitungkan adanya garis yang berbeda-beda dalam spektrum atom.
Teori atom Bohr memudahkan perhitungan tentang adanya garis dalam spektrum
suatu unsur. Apabila suatu unsur dipanasi, elektron bagian dalam orbit atom akan
menyerap energi dari luar. Apabila suatu unsur didinginkan, elektron akan
kehilangan energi dan kembali lagi ke orbit semula. Jika peristiwa ini terjadi, satu
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
atau lebih kuantum energi akan dilepaskan dalam bentuk cahaya. Panjang
gelombang maupun frekuensi cahaya yang dilepaskan bergantung pada
kandungan energi dari kuantum yang dilepaskan.
Sebuah elektron di dalam atom dapat berpindah dari lintasan tertentu ke lintasan
lainnya. Lintasan-lintasan yang dilalui elektron akan menentukan tingkat energi
elektron dalam lintasan itu. Lintasan yang paling stabil adalah yang paling dekat
dengan inti, yaitu lintasan dengan n = 1. Dalam lintasan ini, elektron mempunyai
energi potensial yang paling rendah. Apabila elektron menyerap sejumlah energi
tertentu dari luar, maka elektron itu dapat meloncat ke lintasan dengan energi
potensial yang lebih tinggi, yaitu lintasan dengan n = 2, 3, 4, dan seterusnya.
Dalam kondisi ini dikatakan bahwa elektron berada dalam keadaan tereksitasi
sehingga tidak stabil. Pada saat elektron kembali ke keadaan dasarnya (kembali
ke lintasan semula), elektron tersebut akan memancarkan kelebihan energinya
dalam bentuk radiasi elektromagnetik.
Teori atom Bohr merupakan langkah maju ke depan. Untuk sumbangan ini, Bohr
dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 1922. Untuk mendapatkan
gambaran secara singkat mengenai atom, model atom Bohr dewasa ini telah
diterima secara luas. Dalam model ini digambarkan bahwa atom terdiri atas inti
atom yang bermuatan positif dan kulit atom dengan sejumlah elektron bermuatan
negatif yang mengitari inti atom melalui lintasan-lintasan dengan tingkat energi
tertentu. Oleh Bohr, lintasan-lintasan elektron itu dinamai kulit K (n = 1), kulit L (n =
2), kulit M (n = 3), dan seterusnya. Semakin besar nilai n, lintasan elektron
semakin menjauhi inti. Karakteristik fisika sinar-X ternyata dapat dipahami dengan
baik menggunakan teori kuantum dan model atom Bohr ini.
Sinar-X Karakteristik
Pada pesawat sinar-X, metode terpenting dalam proses produksi sinar-X adalah
proses yang dikenal dengan bremsstrahlung, yaitu istilah dalam bahasa Jerman
yang berarti radiasi pengereman (braking radiation). Elektron sebagai partikel
bermuatan listrik yang bergerak dengan kecepatan tinggi, apabila melintas dekat
ke inti suatu atom, maka gaya tarik elektrostatik inti atom yang kuat akan
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
menyebabkan elektron membelok dengan tajam. Peristiwa itu menyebabkan
elektron kehilangan energinya dengan memancarkan radiasi elektromagnetik yang
dikenal sebagai sinar-X bremsstrahlung.
Sinar-X dapat pula terbentuk melalui proses perpindahan elektron atom dari tingkat
energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah. Adanya
tingkat-tingkat energi dalam atom dapat digunakan untuk menerangkan terjadinya
spektrum sinar-X dari suatu atom. Sinar-X yang terbentuk melalui proses ini
mempunyai energi sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi
elektron tersebut. Karena setiap jenis atom memiliki tingkat-tingkat energi elektron
yang berbeda-beda, maka sinar-X yang terbentuk dari proses ini disebut sinar-X
karakteristik. Sinar-X bremsstrahlung mempunyai spektrum energi kontinyu yang
lebar, sementara spektrum energi dari sinar-X karakteristik adalah diskrit. Sinar-X
karakteristik terbentuk melalui proses perpindahan elektron atom dari tingkat
energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah. Beda energi
antara tingkat-tingkat orbit dalam atom target cukup besar, sehingga radiasi yang
dipancarkannya memiliki frekuensi yang cukup besar dan berada pada daerah
sinar-X.
Sinar-X karakteristik terjadi karena elektron atom yang berada pada kulit K
terionisasi sehingga terpental keluar. Kekosongan kulit K ini segera diisi oleh
elektron dari kulit di luarnya. Jika kekosongan pada kulit K diisi oleh elektron dari
kulit L, maka akan dipancarkan sinar-X karakteristik K . Jika kekosongan itu diisi
oleh elektron dari kulit M, maka akan dipancarkan sinar-X karakteristik K . Oleh
sebab itu, apabila spektrum sinar-X dari suatu atom berelektron banyak diamati,
maka di samping spektrum sinar-X bremsstrahlung dengan energi kontinyu, juga
akan terlihat pula garis-garis tajam berintensitas tinggi yang dihasilkan oleh transisi
K , K , dan seterusnya. Jadi, sinar-X karakteristik timbul karena adanya transisi
elektron dari tingkat energi lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah seperti
ditunjukkan pada Gambar 1. Adanya dua jenis sinar-X menyebabkan munculnya
dua macam spektrum sinar-X, yaitu spektrum kontinyu yang lebar untuk spektrum
bremsstrahlung dan dua buah atau lebih garis tajam untuk sinar-X karakteristik
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
seperti ditunjukkan pada gambar 2.
Fluoresensi Sinar-X
Sejumlah mineral sangat diperlukan oleh tubuh manusia untuk kesehatan dan
pertumbuhan. Secara umum, mineral itu memiliki dua fungsi utama, yaitu
membangun dan mengatur. Beberapa mineral diperlukan tubuh dalam jumlah
relatif besar, lebih dari 100 mg sehari. Mineral kelompok ini disebut makromineral,
seperti Ca, P, Na, Cl, K, Mg, dan S. Kelompok mineral lainnya disebut mineral
perunut/kelumit (trace element) yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah sangat
sedikit. Dalam tubuh manusia, ada 14 unsur kelumit yang termasuk esensial bagi
manusia, yaitu : Co, Cr, Cu, F, Fe, I, Mn, Mo, Ni, Se, Si, Sn, V, dan Zn.
Teknik fluoresensi sinar-X dapat dipakai untuk menentukan kandungan mineral
kelumit dalam bahan biologik maupun dalam tubuh secara langsung. Di beberapa
negara maju, teknik ini banyak digunakan untuk memeriksa kandungan unsur
kelumit yodium (I) stabil, baik yang terdapat dalam kelenjar gondok, darah,
maupun urine. Yodium diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang sangat kecil,
tetapi kelenjar gondok baru akan berfungsi secara normal apabila persediaan I di
dalam tubuh cukup memadai. Defisiensi I dalam diet seseorang dapat
mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok (goiter).
Teknik pemeriksaan kandungan I di dalam tubuh dapat dilakukan dengan cara
menembakkan radiasi foton elektromagnetik ke sasaran yang diteliti. Sumber
radiasi yang sering digunakan adalah radioisotop americium-241 (241Am) dengan
radiasi elektromagnetik yang dipancarkannya berenergi 60 keV. Radiasi
elektromagnetik yang dipancarkan dari 241Am akan berinteraksi dengan sebuah
elektron yang berada di kulit K unsur I di dalam tubuh atau bahan biologik lainnya.
Karena menyerap energi elektromagnetik, maka elektron yang berada di kulit K
atom I akan memiliki energi kinetik yang cukup untuk melepaskan diri dari ikatan
inti, sehingga elektron itu akan terpental keluar.
Proses lepasnya elektron dari ikatan inti tadi disebut proses pengionan materi oleh
radiasi. Kekosongan elektron di kulit K ini selanjutnya akan diisi oleh elektron
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
lainnya yang berada di kulit yang lebih luar, misalnya kulit L atau kulit M.
Perpindahan elektron ke kulit yang lebih dalam itu akan disertai dengan pancaran
radiasi elektromagnetik dengan energi tertentu. Untuk unsur-unsur tertentu,
pancaran
radiasi
elektromagnetik
tersebut
adalah
dalam
bentuk
sinar-X
karakteristik.
Pancaran sinar-X karakteristik ini demikian khasnya untuk masing-masing unsur
kelumit di dalam tubuh, sehingga masing-masing unsur itu menghasilkan sinar-X
karakteristik yang energinya berbeda-beda, bergantung pada jenis unsurnya. Di
sinilah teknik fluoresensi sinar-X memiliki kelebihan dalam menganalisis unsur
kelumit dalam tubuh dibandingkan dengan teknik analisis lainnya. Untuk unsur I,
sinar-X karakteristik yang dipancarkannya berenergi 28,5 keV jika kekosongan
elektron di kulit K diisi oleh elektron dari kulit L, dan 32,4 keV jika kekosongan itu
diisi oleh elektron dari kulit M.
Intensitas pancaran sinar-X karakteristik dari unsur I tadi selanjutnya dapat
dideteksi dan diukur dengan pemantau radiasi. Hasil pengukuran intensitas sinar-X
karakteristik akan setara dengan jumlah unsur I yang terdapat di dalam tubuh atau
sampel biologis yang diperiksa. Jadi, dengan menganalisis lebih lanjut hasil
cacahan radiasi sinar-X karakteristik tadi, dapat diperkirakan jumlah unsur kelumit I
di dalam tubuh orang yang diperiksa.
Analisis Kuantitatif
Alih energi dari radiasi kepada materi yang dilaluinya dapat menimbulkan berbagai
jejak atau tanggapan tertentu yang dapat diamati. Kuantitas jejak yang timbul akan
sebanding dengan jumlah energi radiasi yang dialihkan ke materi. Oleh sebab itu,
bahan-bahan yang mampu memperlihatkan gejala tertentu apabila berinteraksi
dengan radiasi ini dapat dipakai sebagai pemantau (detektor) radiasi. Salah satu
jenis jejak yang dapat timbul dari interaksi itu adalah proses pengionan materi.
Pemantau radiasi yang bekerjanya memanfaatkan fenomena pengionan dan
paling umum digunakan adalah detektor semikonduktor dari bahan silikon (Si)
yang diaktivasi dengan lithium (Li) sehingga membentuk detektor semikonduktor
Si(Li).
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Pengertian pemantau semikonduktor mencakup sekelompok zat padat yang dapat
dipakai untuk pemantauan radiasi. Namun, pada kenyataannya, hanya kristal Si
dan Ge yang memenuhi syarat sebagai pemantau radiasi. Fenomena fisika yang
dimanfaatkan dalam proses pemantauan ini adalah terjadinya konduktivitas listrik
karena adanya perpindahan elektron dari pita valensi menunju pita konduksi
apabila kristal semikonduktor berinteraksi dengan radiasi pengion. Pengumpulan
elektron-elektron yang dilepaskan dari proses pengionan oleh radiasi sepanjang
jejaknya di dalam zat padat merupakan dasar dari proses kerja pemantau ini.
Pemantau semikonduktor sambungan n-p telah digunakan secara luas untuk
pemantauan radiasi yang menghasilkan pengionan dalam jumlah besar.
Penggunaan medium padat dengan kerapatan pengionan yang tinggi memberikan
banyak keuntungan, karena medium itu dapat dipakai untuk menghentikan partikel
berenergi tinggi dan memantau radiasi dengan ionisasi spesifik rendah. Zat padat
ini dapat memantau partikel bermuatan yang jangkauannya di dalam zat padat
kira-kira 1 mm atau kurang. Energi yang diperlukan untuk pembentukan pulsa
listrik pada pemantau semikonduktor sangat kecil dibandingkan dengan pemantau
jenis lainnya. Oleh sebab itu, spektrum energi radiasi elektromagnetik yang
dihasilkan oleh pemantau semikonduktor ini lebih tajam dibandingkan dengan
spektrum yang dihasilkan oleh pemantau jenis lainnya.
Kelebihan lain yang dimiliki oleh pemantau semikonduktor adalah linieritas pada
daerah energi yang sangat lebar. Kombinasi dari resolusi yang tinggi serta
linieritas yang lebar ini menjadikan pemantau semikonduktor sebagai spektrometer
radiasi terbaik jika dikombinasikan dengan instrumen elektronik yang sesuai.
Hampir semua spektrometri radiasi elektromagnetik moderen dilakukan dengan
pemantau semikonduktor. Resolusi energi yang sangat bagus pada pemantau
Si(Li) berukuran sangat kecil menjadikan pemantau ini sangat baik untuk
digunakan dalam spektrometri sinar-X karakteristik.
Pulsa listrik dari pemantau akan diproses lebih lanjut oleh penguat awal dan
peralatan elektronik berupa penganalisis saluran ganda (multi channel analyzer,
MCA), sehingga pada layar penganalisis itu dapat ditampilkan spektrum radiasi
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
elektromagnetik yang ditangkap detektor. Data tampilan spektrum radiasi pada
layar penganalisis dapat dipakai untuk analisis spektrometri radiasi secara
kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui pengukuran luas daerah di bawah
kurva spektrum radiasi elektromagnetik tersebut. Pemantau semikonduktor Si(Li)
mempunyai efisiensi yang cukup baik untuk pemantauan radiasi elektromagnetik.
Dengan menggabungkan alat pantau tersebut dengan komputer, data masukan
akan diproses lebih lanjut sehingga dihasilkan informasi kandungan I di dalam
kelenjar gondok maupun bahan biologik lainnya yang diperiksa.
Penutup
Pemanfaatan sinar-X dalam bidang kedokteran untuk keperluan diagnosis sudah
dikenal secara luas, baik oleh para praktisi kesehatan maupun masyarakat umum.
Dalam perjalanan berikutnya, perkembangan teknologi telah mengantarkan ke
pemanfaatan sinar-X untuk keperluan radioterapi. Hadirnya alat pemercepat
partikel semacam akselerator linier (LINAC) memungkinkan dilakukannya
radioterapi kanker jenis tertentu dengan sinar-X berenergi tinggi.
Peran sinar-X dalam dunia kesehatan ternyata tidak berhenti hanya pada kegiatan
radiodiagnosis dan radioterapi. Studi secara intensif oleh para pakar pada giliran
berikutnya telah mengantarkan ke arah penemuan pemanfaatan yang lain dari
sinar-X. Pengenalan yang baik tentang karakteristik fisika sinar-X, didukung
dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi fisika nuklir, terutama
mengenai fisika radiasi serta standarisasi radiasi yang didukung pula oleh
peningkatan kemampuan teknik dalam pemantauan radiasi, telah mengantarkan
para ilmuwan ke arah pemanfaatan sinar-X karakteristik untuk penelitian medis.
Perkembangan mutakhir dalam pemanfaatan sinar-X ini tentu memiliki arti yang
sangat besar dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan medis untuk
meningkatkan taraf kesehatan publik pada umumnya.
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/sek-2.htm
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Akselerator Partikel untuk Radioterapi
MUKHLIS AKHADI
Ahli Peneliti Madya di Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir,
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Pendahuluan
Penggunaan radiasi dalam bidang kedokteran terus menunjukkan peningkatan dari
waktu ke waktu. Dalam bidang kedokteran, pemanfaatan teknik nuklir ini meliputi
tindakan-tindakan radiodiagnosa, radioterapi, dan kedokteran nuklir. Ketiga jenis
kegiatan tersebut umumnya menggunakan sumber radiasi yang spesifikasi fisiknya
berbeda-beda. Penggunaan radiasi pengion untuk keperluan diagnosa dalam
bidang kedokteran disebut radiodiagnosa, yaitu suatu metode untuk mengetahui
ada tidaknya kelainan dalam tubuh dengan menggunakan radiasi pengion,
terutama sinar-X.
Untuk tujuan medik, tubuh manusia yang pada prinsipnya dapat dibedakan baik
secara anatomi maupun fisiologi, pada mulanya merupakan objek yang tidak dapat
dilihat secara langsung oleh mata. Namun, dengan ditemukannnya sinar-X, tubuh
manusia ternyata dapat diubah menjadi objek yang transparan. Sinar-X mampu
membedakan kerapatan dari berbagai jaringan dalam tubuh manusia yang
dilewatinya. Dengan penemuan sinar-X ini, informasi mengenai tubuh manusia
menjadi mudah diperoleh tanpa perlu melakukan operasi bedah. Masyarakat mulai
percaya pada kemampuan sinar-X ketika Roentgen mempertontonkan gambar foto
telapak tangan
dan jari-jari
istrinya
yang memakai cincin yang
dibuat
menggunakan sinar-X.
Selain untuk keperluan radiodiagnosa, radiasi pengion jenis foton (sinar-_ dan
sinar-X) dalam perkembangan berikutnya juga dimanfaatkan untuk radioterapi.
Kedua jenis radiasi tersebut mempunyai daya tembus yang tinggi terhadap organ
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
tubuh dengan kemampuan tembusnya ditentukan oleh besar energi yang
dimilikinya. Selain menggunakan radiasi foton, sejak beberapa dasawarsa lalu juga
telah dirintis pemanfaatan berbagai jenis partikel nuklir untuk radioterapi. Kini, ada
berbagai jenis radiasi pengion untuk keperluan radioterapi yang dibangkitkan
menggunakan akselerator (alat pemercepat) partikel.
Akselerator adalah alat yang dipakai untuk mempercepat gerak partikel bermuatan
seperti elektron, proton, inti-inti ringan, dan inti atom lainnya. Mempercepat gerak
partikel bertujuan agar partikel tersebut bergerak sangat cepat sehingga memiliki
energi kinetik yang sangat tinggi. Untuk mempercepat partikel ini diperlukan
medan listrik ataupun medan magnet. Dilihat dari jenis gerakan partikel, ada dua
jenis akselerator, yaitu akselerator dengan gerak partikelnya lurus (lebih dikenal
dengan sebutan akselerator linier) dan gerak partikelnya melingkar (akselerator
magnetik).
Akselerator partikel pertama kali dikembangkan oleh dua orang fisikawan Inggris,
J.D. Cockcroft dan E.T.S. Walton, di Laboratorium Cavendish, Universitas
Cambridge pada 1929. Atas jasanya ini, mereka dianugerahi hadiah Nobel bidang
fisika pada 1951. Pada mulanya, akselerator partikel dipakai untuk penelitian fisika
energi tinggi dengan cara menabrakkan partikel berkecepatan sangat tinggi ke
target tertentu. Namun, ada beberapa jenis akselerator partikel yang dirancang
untuk memproduksi radiasi berenergi tinggi untuk keperluan radioterapi.
Tabung sinar-X merupakan contoh paling sederhana tentang jenis akselerator
partikel tunggal. Dalam tabung ini, elektron yang dipancarkan oleh filamen panas
dipercepat melalui tabung hampa menuju target tungsten atau wolfram (W) yang
diberi beda potensial positif tinggi terhadap sumber elektron. Sinar-X terpancar
ketika elektron berkecepatan tinggi tersebut berhenti dalam target. Tabung sinar-X
dioperasikan dalam beda tegangan hingga kira-kira 2 x 106 V. Hal itu berarti
elektron dipercepat di dalam tabung hingga memiliki energi kinetik sebesar 2 x 106
eV, dan sinar-X yang dihasilkannya memiliki energi maksimum 2 x 106 eV atau 2
MeV.
Tabung Betatron dan Sinkrotron Elektron
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Untuk mendapatkan sinar-X dengan energi yang sangat tinggi, para ilmuwan telah
membangun mesin pembangkit sinar-X yang sangat kuat. Salah satu di antaranya
adalah mesin pembangkit yang diberi nama betatron. Mesin ini pada prinsipnya
adalah suatu tabung sinar-X berukuran sangat besar. Betatron pertama kali
diperkenalkan pada 1941 oleh Donald William Kerst dari Universitas Illinois,
Amerika Serikat. Penamaan betatron mengacu pada salah satu jenis sinar
radioaktif, yaitu sinar-ß, yang merupakan aliran elektron berkecepatan tinggi.
Betatron terdiri atas tabung kaca hampa udara berbentuk cincin raksasa yang
diletakkan di antara dua kutub magnet yang sangat kuat. Penyuntik berupa filamen
panas yang berperan sebagai pemancar elektron dipasang untuk menginjeksikan
aliran elektron ke dalam tabung pada sudut tertentu. Setelah elektron disuntikkan
ke dalam tabung, ada dua gaya yang akan bekerja pada eletron tersebut. Gaya
yang pertama membuat elektron bergerak mengikuti lengkungan tabung. Di dalam
medan magnet, partikel akan bergerak melingkar. Gaya yang kedua berperan
mempercepat gerak elektron hingga kecepatannya semakin tinggi. Melalui gaya
kedua ini, elektron memperoleh energi kinetik yang sangat besar.
Dalam waktu sangat singkat, elektron akan bergerak melingkar di dalam tabung
beberapa ribu kali. Apabila energi kinetik elektron telah mencapai nilai tertentu,
elektron dibelokkan dari jalur lengkungnya sehingga dapat menabrak target secara
langsung yang berada di tepi ruangan. Dari proses tabrakan ini dipancarkan sinarX berenergi sangat tinggi. Sebagian besar betatron menghasilkan elektron
berenergi kira-kira 20 MeV.
Betatron memiliki kelemahan karena mesin itu memerlukan magnet berukuran
sangat besar guna mendapatkan perubahan fluks yang diperlukan untuk
mempercepat elektron. Untuk mengatasi kelemahan ini, diperkenalkan jenis
akselerator elektron lainnya yang menggunakan magnet berbentuk cincin yang
diberi nama sinkrotron elektron. Alat ini berfungsi sebagai pemercepat elektron
yang mampu menghasilkan
elektron
dengan
energi kinetik lebih
besar
dibandingkan betatron. Elektron dengan energi antara 50--100 kV dipancarkan dari
filamen untuk selanjutnya dipercepat di dalam alat. Pada saat akhir proses
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
percepatan, elektron ditabrakkan menuju sasaran sehingga dihasilkan sinar-X
dengan energi dan intensitas tinggi.
Akselerator Linier
Akseletaror linier (Linear Accelerator, LINAC) pertama kali diperkenalkan oleh R.
Wideroe di Swiss pada 1929, namun unjuk kerjanya saat itu kurang memuaskan.
LINAC mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan akselerator
magnetik. Kelebihan LINAC adalah alat ini memerlukan magnet dengan ukuran
yang jauh lebih kecil dibandingkan pada akselerator magnetik untuk menghasilkan
partikel dengan energi kinetik yang sama.
Ukuran alat dan biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan LINAC kira-kira
proporsional dengan energi akhir partikel yang dipercepat. Sedang pada
akselerator
magnetik,
tenaga
yang
diperlukan
akan
lebih
tinggi
untuk
menghasilkan energi akhir partikel yang sama besarnya. Oleh sebab itu, untuk
mendapatkan partikel berenergi sangat tinggi, LINAC akan lebih ekonomis
dibandingkan akselerator magnetik. Di samping itu, penyuntikan partikel yang akan
dipercepat dalam akselerator magnetik sangat sulit dilakukan, sedang pada LINAC
partikel dalam bentuk berkas terkolimasi secara otomatis terpancar ke dalam
tabung akselerator.
LINAC dapat dipakai untuk mempercepat partikel hingga berenergi di atas 1 BeV.
Betatron praktis tidak mungkin mencapai energi setinggi itu karena memerlukan
magnet berukuran sangat besar. LINAC semula dipakai untuk mempercepat
partikel bermuatan positif seperti proton. Namun, setelah melalui berbagai
modifikasi, mesin ini dapat pula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan
negatif seperti elektron. Dalam hal ini, elektron yang dipercepat mampu bergerak
dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (elektron dengan energi 2 MeV
bergerak dengan kecepatan 0,98 c, dengan c adalah kecepatan cahaya). Jika
elektron berenegi tinggi itu ditabrakkan pada target dari logam berat maka dari
pesawat LINAC ini akan dipancarkan sinar-X berenergi tinggi.
Radioterapi dapat juga dilakukan menggunakan elektron berenergi tinggi. Elektron
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
yang dipercepat dalam LINAC dapat langsung dimanfaatkan untuk radioterapi
tanpa harus ditabrakkan terlebih dahulu dengan target logam berat. Jadi, LINAC
dapat juga berperan sebagai sumber radiasi partikel berupa elektron cepat yang
dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor.
Akselerator Proton
Radioterapi dengan foton mengandalkan kemampuan foton dalam menghancurkan
sel kanker. Jika foton ditembakkan pada suatu sasaran, elektron-elektron dalam
atom sasaran itu akan menyerap energi foton sehingga elektron memiliki energi
yang cukup untuk melepaskan diri dari ikatan inti atom. Proses lepasnya elektron
ini disebut ionisasi. Elektron-elektron inilah yang berperan besar dalam proses
penghancuran sel kanker. Dalam perjalanannya di dalam organ, elektron akan
mengionisasi molekul DNA dalam sel, sehingga sel-sel kanker mengalami
kerusakan yang akhirnya mati.
Proton memberikan banyak harapan pada para ahli radiologi untuk pengobatan
kanker dengan ketepatan tinggi. Sejak 1946, fisikawan Robert Wilson dari Harvard
telah menyadari kemungkinan pemanfaatan proton untuk tujuan pengobatan.
Wilson mengamati bahwa berkas proton dengan energi tertentu bergerak
menempuh garis lurus dengan panjang jejak relatif sama. Hal ini berarti jika berkas
proton ditembakkan ke organ tubuh, volume organ yang teradiasi proton itu adalah
seluas berkas proton dikalikan panjang jejaknya di dalam tubuh.
Wilson juga mengamati bahwa berkas proton akan kehilangan sebagian besar
energinya pada akhir lintasannya. Oleh sebab itu, berkas proton akan memberikan
sebagian besar dosis radiasinya pada organ tubuh di akhir lintasannya. Sifat ini
dapat dimanfaatkan untuk mengkonsentrasikan sebagian besar dosis radiasi
proton pada suatu daerah di mana kanker bersarang. Dengan teknik ini, sel-sel di
permukaan tubuh yang dilalui berkas proton tidak banyak mengalami kerusakan.
Jadi, proton akan jauh lebih efektif dibandingan dengan sinar-_ jika dipakai untuk
radioterapi kanker yang bersarang di kedalaman jauh di bawah permukaan tubuh.
Sifat menguntungkan lainnya yang dimiliki proton adalah bahwa panjang jejaknya
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
di dalam tubuh sangat ditentukan oleh besar energi yang dimilikinya. Semakin
besar energi proton, akan semakin panjang lintasannya. Sifat ini sangat
menguntungkan karena pemberian dosis radiasi pada kanker yang bersarang di
kedalaman tubuh dapat diatur melalui pengaturan energi proton yang akan
ditembakkan ke sasaran itu. Dengan pengaturan energi yang tepat, berkas proton
mampu mencapai tempat dimana kanker bersarang dan akan menyerahkan
sebagan besar energinya ke sasaran yang dituju. Dengan teknik ini, sel-sel normal
yang dilalui berkas proton yang berada di antara permukaan tubuh dan tempat
kanker bersarang tidak akan banyak mengalami kerusakan.
Proton merupakan partikel nuklir bermuatan positif sehingga dapat dipercepat di
dalam akselerator. Mempercepat gerak proton ini bertujuan untuk mendapatkan
proton dengan energi sesuai dengan yang diinginkan. Karena dapat dipercepat,
maka energi proton dapat diatur sedemikian rupa disesuaikan dengan kedalaman
organ di mana kanker bersarang.
Keuntungan yang paling utama dan tidak dimiliki oleh teknik radioterapi kanker
lainnya adalah bahwa berkas proton dapat diarahan secara tepat menuju sasaran.
Karena proton bermuatan listrik maka berkas itu dapat diarahkan dengan medan
magnet dari luar. Itulah sebabnya, proton dapat dipakai untuk radioterapi kanker
yang bersarang dalam organ tubuh yang sangat sensitif seperti mata dan otak.
Karena gerakan proton dapat diarahkan maka proton tidak akan mengalami
banyak hamburan ketika bertabrakan dengan inti atom sel-sel dalam tubuh.
Dengan demikian, para dokter dapat memberikan dosis proton kepada pasien
dalam jumlah besar tanpa ada rasa takut akan timbulnya efek samping terhadap
sel-sel normal di sekelilingnya. Dalam radioterapi dengan proton ini, dosis radiasi
yang diberikan kepada pasien bisa tiga kali lebih besar dibandingkan jika
radioterapi dilakukan dengan sinar-_.
Teknik radioterapi dengan proton telah diuji coba penggunaannya di berbagai
negara maju. Fermi Lab telah mengupayakan pembuatan alat pemercepat partikel
ukuran kecil dengan panjang melintang kurang dari 6 m. Setelah diuji coba, mesin
tersebut kemudian dipindahkan ke Pusat Medis Universitas Loma Linda di bagian
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
selatan California. Alat ini merupakan pemercepat partikel pertama di dunia yang
dipakai untuk radioterapi kanker dengan proton. Proyek di Loma Linda akhirnya
membangkitkan kesadaran para pakar radioterapi di seluruh dunia bahwa berkas
proton dapat dimanfaatkan secara efektif untuk radioterapi kanker dengan
ketepatan tinggi, bahkan untuk kanker yang bersarang di tempat sangat sensitif
yang tidak bisa dijangkau dengan teknik pengobatan lainnya. Beberapa pusat riset
fisika nuklir seperti Harvard (AS), Uppsala (Swedia), dan Louvain-La-Neuva
(Belgia) telah melengkapi akseleratornya dengan berkas proton untuk radioterapi
kanker.
Pelaksanaan radioterapi kanker dengan proton telah diuji coba di beberapa
negara. Inggris, sejak 1989 telah mengoperasikan akselerator proton di Douglas
Cyclotron Centre. Pasien penderita kanker mata ocular melanoma mengalami
pengobatan di tempat ini. Di Harvard juga telah berhasil dilakukan pengobatan
pasien chordoma, sejenis kanker yang merusak batang otak. Jepang juga memiliki
fasilitas radioterapi dengan proton di Universitas Tsukuba dan berhasil mengobati
pasien kanker dengan baik.
Generator Netron
Penelitian radioterapi dengan netron mulai dilakukan sejak 1950 di Hammersmith
Hospital di London. Sejak 1970, setelah diperoleh cukup data tentang efek netron
terhadap berbagai jaringan tubuh, pemanfaatan netron untuk radioterapi mulai
dilakukan. Perbedaan utama antara radioterapi dengan netron dan sinar-X terletak
pada cara interaksi berkas radiasi tersebut dengan sel-sel kanker. Di sinilah netron
memiliki kelebihan dibanding sinar-X.
Netron berinteraksi secara langsung dengan inti atom H. Bahan-bahan yang
banyak mengandung H akan lebih banyak menyerap energi netron dibanding
bahan lainnya. Jaringan lunak tubuh manusia sebagian besar terdiri atas air yang
tentu saja banyak mengandung atom H, sedang jaringan keras seperti tulang tidak
banyak mengandung H. Berdasarkan perbedaan kadar kandungan H ini, maka
netron dapat menghancurkan sel kanker yang bersarang dalam jaringan lunak
tanpa memberi efek pada jaringan keras. Sedang sinar-X akan lebih banyak
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
terserap oleh jaringan keras, sehingga efeknya pun akan lebih banyak menimpa
jaringan tersebut.
Dalam siklus hidupnya, ada saat di mana sel kanker berada dalam masa istirahat.
Dalam fase ini, sel kanker relatif tahan terhadap radiasi dan ada kemungkinannya
tidak akan mati oleh penyinaran dengan sinar-X. Sebagai akibatnya, dapat tumbuh
lagi kanker pasca penyinaran. Netron mempunyai kelebihan dibandingkan sinar-X
untuk radioterapi kanker yang perkembangannya lambat, di mana sebagian besar
sel kanker berada pada fasa istirahat. Kerusakan besar pada sel kanker akibat
penyerapan energi netron tidak memungkinkan sel kanker itu hidup lagi.
Dalam beberapa kasus penyakit kanker, ada suatu sel yang dinamakan sel
hipoksit, yaitu sel yang dapat hidup dan berkembang biak meskipun kekurangan
suplai oksigen. Sinar-X ternyata kurang efektif untuk membunuh sel kanker
semacam ini dibanding dengan kemampuannya dalam membunuh sel yang
banyak mendapatkan suplai oksigen. Kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar-X
pada sel kanker sangat ditentukan oleh keberadaan unsur oksigen di tempat itu.
Netron, karena sebagian besar energinya diserap oleh atom H, dapat membunuh
sel hipoksit dengan kemampuan dua kali lipat dibandingkan sinar-X.
Masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan netron untuk radioterapi ini adalah
diperlukannya mesin pembangkit netron bernama Cyclotron dalam ukuran besar
untuk memproduksi netron berenergi tinggi. Netron dengan energi rendah (7,5
MeV) hanya bisa dipakai untuk terapi kanker di dekat permukaan tubuh. Sedang
untuk menghancurkan sel kanker di kedalaman tubuh diperlukan netron berenergi
kinetik tinggi, yaitu sekitar 30 MeV. Sayangnya, netron merupakan partikel yang
tidak bermuatan listrik sehingga tidak bisa dipercepat untuk memperbesar
energinya di dalam akselerator.
Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan netron untuk radioterapi, kini telah
berhasil dikembangkan mesin Cyclotron baru yang mampu memproduksi netron
berenergi tinggi. Cyclotron di Catterbredge mampu mempercepat proton hingga
berenergi 65,5 MeV. Proton itu selanjutnya ditabrakkan ke sasaran yang dibuat
dari unsur Be untuk memproduksi neutron dengan energi antara 30--40 MeV.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Netron berenergi tinggi ini mampu mencapai tumor yang bersarang di kedalaman
tubuh.
EULIMA dan HIMAC
Pemanfaatan radiasi jenis foton untuk terapi ternyata menemui beberapa kendala,
sehingga hanya kanker pada bagian-bagian tubuh tertentu yang dapat diobati
dengan baik menggunakan radiasi foton. Salah satu kendala utamanya adalah
bahwa berkas foton yang ditembakkan ke dalam tubuh akan kehilangan sebagian
besar energinya pada awal lintasannya. Jika posisi kanker yang akan diobati
berada jauh di kedalaman tubuh, akan banyak sel norma di permukaan maupun di
dalam tubuh yang mengalami kerusakan karena dilewati oleh berkas foton
tersebut.
Untuk mengatasi kendala yang ditemui dalam radioterapi dengan foton, suatu tim
internasional yang terdiri dari para ahli radioterapi, radiologi, dan fisika nuklir dari
negara-negara Eropa Barat seperti Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Netherlands,
dan Inggris telah melakukan studi untuk proyek akselerator medis menggunakan
berkas ion berupa inti ringan. Proyek ini dinamakan EULIMA (European Light Ion
Medical Accelerator).
Berkas ion inti ringan adalah suatu inti atom bermuatan positif yang kehilangan
semua elektronnya sehingga ion itu hanya berisi proton dan netron (nukleon) yang
terikat menjadi satu. Termasuk dalam inti ringan di sini adalah inti atom helium
(He), carbon (C), dan oksigen (O). Meskipun inti-inti tersebut lebih berat
dibandingkan proton, para ahli fisika nuklir cenderung mengatakannya sebagai inti
ringan karena massanya relatif jauh lebih ringan dibandingkan dengan inti berat
seperti uranium. Berkas ion ini memiliki tiga keuntungan sekaligus jika dipakai
untuk radioterapi kanker, yaitu:
1. Berkas ion mengandung neutron yang sebagian besar energinya diserap oleh
hidrogen di dalam jaringan lunak tubuh manusia, sehingga dapat secara efektif
menghancurkan sel kanker dibandingkan sinar-X dan proton.
2. Berkas mengandung proton yang bermuatan listrik sehingga dapat dipercepat di
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
dalam akselerator untuk mencapai energi tertentu dan dapat diarahkan ke
sasaran secara tepat dengan medan magnet dari luar tubuh pasien.
3. Karena tersusun atas proton dan netron, massa berkas ion lebih tinggi
dibandingkan partikel tunggal seperti proton atau neutron saja, sehingga tidak
mengalami banyak hamburan dalam menuju sasaran. Dengan demikian, berkas
ion dapat ditembakkan dan diarahkan ke sasaran dengan ketepatan yang lebih
tinggi dibandingkan proton.
Joseph Castro bersama timnya di Lawrence Berkeley Laboratory, California,
merupakan perintis dalam penggunaan ion untuk radioterapi di awal 1980-an.
Mereka telah melakukan pengobatan pasien tumor di kepala dan leher dengan
berkas ion inti atom helium He, C, dan O. Hasil kerja Castro dan kawan-kawannya
itu menunjukkan bahwa ion berat dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor yang
secara normal sangat sulit ditangani.
National Institute of Radiobiological Science (NIRS), Jepang, telah membangun
akselerator untuk keperluan medik berkekuatan besar yang mampu mempercepat
ion-ion berat seperti silikon (Si), argon (Ar), dan neon (Ne). Fasilitas medik dengan
ion berat ini dibangun di Chiba dan diberi nama HIMAC (Heavy Ion Medical
Accelerator in Chiba) yang mulai dioperasikan sejak 1994 lalu. HIMAC memiliki
keakuratan yang sangat tinggi dalam menembakkan radiasi ke sasaran, sehingga
para dokter dapat memberikan dosis radiasi yang tinggi pada pasien kanker tanpa
menimbulkan kerusakan yang berarti terhadap sel-sel normal di sekeliling sasaran.
Di samping itu, pelaksanaan penyinarannya juga dapat dilakukan dalam waktu
yang sangat singkat. Pasien kanker menjalani penyinaran dalam waktu kurang dari
satu menit.
Penutup
Hadirnya akselerator yang dapat dipakai dalam kegiatan medis untuk radioterapi
membawa kabar baik bagi para penderita kanker yang hingga kini masih sulit
diobati
secara
konvensional.
Fasilitas
radioterapi
dengan
akselerator
ini
merupakan sarana yang sangat bermanfaat untuk mempelajari metode interaksi
antara partikel nuklir seperti proton, netron, maupun berkas inti dengan sel kanker.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Penemuan-pemenuam baru dalam penelitian ini diharapkan dapat membantu
mengatasi masalah kesehatan umat manusia, mengingat kematian tahunan akibat
kanker meningkat dari waktu ke waktu. Data di Jepang, misalnya, menunjukkan
bahwa kematian akibat kanker menempati rangking tertinggi sejak 1979. Jumlah
kematian akibat kanker itu mencapai 223.604 kasus pada 1991, sedang jumlah
pasien kanker baru diperkirakan mencapai 500.000 orang pada 2000.
Pihak pengelola rumah sakit beserta seluruh jajaran paramedisnya pun perlu
membuka diri guna menambah wawasan untuk mengikuti perkembangan teknologi
radioterapi di dunia internasional. Perlu diketahui pula bahwa kegiatan radioterapi
yang melibatkan peralatan-peralatan canggih dan rumit seperti akselerator partikel
tadi melibatkan cukup banyak tenaga ahli yang terdidik dari berbagai disiplin ilmu.
Di samping itu, peralatan untuk penelitian dalam rangka pemanfaatan partikel
nuklir untuk radioterapi merupakan fasilitas yang canggih dan sangat mahal. Oleh
sebab itu, perlu dirintis adanya jembatan kerjasama antar beberapa instansi terkait
yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dalam rangka mengakomodasikan berbagai
fasilitas dan sumber daya manusia yang ada untuk mempelajari berbagai aspek
yang berkaitan dengan pemanfaatan partikel nuklir dalam radioterapi. Hal ini perlu
ditempuh agar kita tidak tertinggal terlalu jauh oleh negara-negara maju dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan kerjasama antar
instansi ini pula akan diperoleh hasil penelitian yang bernilai tambah. Lembagalembaga penelitian juga dapat menerapkan hasil-hasil penelitiannya untuk
kepentingan masyarakat luas.
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/092001/pus-1.htm
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
BATAS DOSIS RADIASI YANG BOLEH KITA TERIMA
Seperti kita ketahui, satuan aktivitas adalah Bq. Namun, aktivitas atau nilai Bq
tidak mengungkapkan risiko yang diakibatkan oleh suatu sumber radiasi. Suatu
sumber radiasi sebesar 100 milyar Becquerel mungkin tidak berbahaya sama
sekali
(pada
jarak
100
meter)
atau
mematikan
jika
dimakan.
Untuk
menggambarkan risikonya kita memerlukan konsep lain, yang dapat menunjukkan
jumlah energi radiasi yang diserap oleh jaringan-jaringan, dan akibat kerusakan
biologisnya. Jumlah dikenal sebagai dosis radiasi atau sering hanya disebut dosis
saja.
Satuan dasar dosis radiasi dalam sistem satuan internasional (sistem SI) adalah
Sievert (Sv). Akan tetapi lebih praktis untuk menggunakan 1/1000 sievert atau
milisievert. Beberapa negara memakai satuan yang dinamakan rem atau 1/1000
nya, yaitu mrem (milirem). 1 Sv = 100 rem, maka 1 rem = 0,01 Sv. Selanjutnya kita
hanya akan menggunakan satuan mSv, yang merupakan satuan dosis yang paling
umum dipakai.
Oleh karena satuan becquerel dan sievert menjelaskan hal-hal yang sama sekali
berbeda, maka kita tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berapa
sievert dalam 1 becquerel? (berapa buah banyak apel dalam 1 buah persik?).
Aktivitas dan dosis radiasi tidak dapat dibandingkan. Konsep dosis radiasi dapat
dijelaskan dengan cara sebagai berikut:
Bila matahari menyinari sebuah batu, batu itu akan menjadi hangat, karena setiap
satuan massa dalam batu itu menyerap energi. Dalam sistem SI satuan energi
adalah Joule (J) dan satuan massa adalah kilogram (kg). Ketika jumlah joule yang
diserap oleh satu kg batu meningkat, batu akan menjadi semakin hangat. Satuan
J/kg, atau Joule per kilogram adalah satuan untuk energi panas yang diserap
dalam sistem satuan internasional. Radiasi yang dipancarkan oleh zat radioaktif
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
juga diserap oleh setiap materi yang ada dihadapannya. Oleh karena itu, satuan
J/kg dapat juga digunakan untuk mengukur dosis radiasi yang diserap. Namun,
energi yang diserap saja tidak cukup bagi kita untuk mengetahui pengaruhpengaruh biologis yang mungkin terjadi, oleh karena setiap jenis radiasi
menunjukkan reaksi dalam jaringan dengan cara yang berbeda pula. Misalnya,
kerusakan akibat 1 J/kg radiasi alpha adalah lebih parah daripada yang
diakibatkan oleh 1 J/kg radiasi gamma.
Derajat risiko biologis yang diakibatkan oleh jenis-jenis radiasi yang berbeda
dihitung dengan mengalikan dosis yang diserap dengan faktor mutu yang
menjelaskan risiko biologis yang diakibatkan oleh suatu jenis radiasi. Faktor mutu
radiasi gamma adalah 1, merupakan faktor umur yang paling rendah. Kita dapat
mengatakan
bahwa
pengaruh
jenis
radiasi
Iainnya
dinyatakan
menurut
hubungannya dengan radiasi gamma.
Radiasi gamma menembus jarak yang relatif panjang dalam jaringan sebelum
membentur sebuah atom dalam sebuah sel. Setelah itu ia terus bergerak sampai
membentur atom lain. Ini terus berlangsung sampai energi terserap sepenuhnya
atau sinar itu menemukan jalan keluar dan tubuh. Karena sinar gamma hanya
sedikit mengakibatkan kerusakan jaringan itu, jaringan dapat bertahan dengan
baik, dan bahkan dapat memulihkan kerusakan tersebut. Dengan cara yang sama,
seperti jika kita memindahkan hanya sepotong batu bata dari sebuah tembok, tidak
begitu berpengaruh pada kekuatannya. Sebaliknya, partikel alpha yang relatif
besar dan berat diibaratkan seperti banteng yang masuk ke dalam toko pecah
belah dan mengakibatkan banyak kerusakan di area yang kecil. Radiasi apha Iebih
merusak jaringan hidup, maka faktor mutu radiasi alpha ditetapkan sebesar 20. Ini
adalah faktor mutu paling tinggi yang digunakan.
Satuan sievert asalnya dan nama seorang pelopor proteksi radiasi, yaitu seorang
Swedia bernama Rolf Sievert. Ia lahir pada tahun 1896. ketika Henri Becquerel
menemukan zat radioaktif alam. Mr. Sievert adalah salah satu pendiri ICRP pada
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
1928. ICRP merupakan singkatan International Commission on Radiological
Protection. RoIf Sievert bertindak sebagai ketuanya dan tahun 1956 sampai
dengan 1962. Satuan sievert sangat besar sehingga semua dosis yang kita terima
dalam kehidupan sehari-hari hanya berjumlah beberapa dari seperseribu sievert.
Oleh karena itu, lebih praktis menyebutkan dalam milisievert (mSv) seperti dalam
buku ini. Dengan cara ini kita tidak perlu memulai angka dengan titik desimal atau
banyak nol. Rata-rata, dosis akibat radiasi latar belakang adalah sekitar 1-2 mSv
per tahun. Gas radon dalam rumah menyebabkan kita menerima dosis sekitar 1-5
mSv per tahun. Dengan satu kali pemeriksaan sinar-X kita terkena sekitar 1-10
mSv, atau bisa lebih.
Sekarang kita tahu apa arti dosis, marilah kita bahas konsep lainnya, yaitu laju
dosis. Laju dosis menunjukkan intensitas radiasi. Laju dosis menunjukkan dosis
yang diterima dalam satuan waktu, misalnya dalam satu jam. Contohnya, jika dosis
yang diterima perjamnya adalah 0,5 mSv, tingkat dosisnya adalah 0,5 mSv/jam.
Dalam 2 jam dosis yang diterima 1 mSv dan dalam 6 jam 3 mSv. Jika laju dosis
dalam nuangan dimana seseorang bekerja adalah 0,1 mSv/jam dan telah
ditentukan bahwa dosis yang diterima orang itu dibatasi sampai 2 mSv, maka
mudah untuk menghitung bahwa pekerjaan itu harus sudah selesai dalam 20 jam.
Dosis diukur dengan alat dosimeter dan Iaju dosis diukur dengan alat ukur Iaju
dosis. Alat-alat tersebut dapat disamakan dengan indikator jarak dan speedometer
pada mobil. Speedometer menunjukkan pada kita berapa kilo meter atau mil
kecepatan mobil per jam dan pengukur laju dosis menunjukkan berapa banyak
mSv atau mrem diterima per jamnya. Indikator jarak menunjukkan berapa km/mil
yang telah dijalani mobil tersebut, sedangkan dosimeter menunjukkan berapa
banyak mSv atau mrem yang telah diterima seseorang seluruhnya. Di tempat kerja
tertentu dan dalam pekerjaan tertentu, orang diwajibkan memakai dosimeter.
Yaitu, sebuah benda plastik sebesar kotak korek api yang disematkan di dada
seorang operator mesin sinar-X atau pekerja pada stasiun pembangkit tenaga
nuklir adalah dosimeter pribadinya.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Suatu cara lama yang baik untuk mengukur dosis radiasi seseorang adalah
berdasarkan pada semakin gelapnya sepotong film bila terkena radiasi. Selubung
dosimeter film tidak tembus cahaya, tetapi radiasi pasta dapat melewatinya dan
mengenai
film
tersebut.
Dengan
mencetak
film
dan
mengukur
derajat
kehitamannya sebulan sekali dosis radiasi yang diterima seseorang dapat diduga.
Setiap kali film diperiksa maka akan diganti dengan yang baru.
Suatu cara baru yang baik untuk mengukur dosis adalah berdasarkan pada
perubahan keadaan tenaga dari elektron-elektron pada materi tertentu yang
diakibatkan oleh radiasi. Elektron menyimpan kelebihan energinya sampai
dosimeter dimasukkan dalam unit pembaca. Satuan energi yang diisikan kemudian
dilepas dalam bentuk pulsa cahaya. Unit pembaca mengukur pulsa cahaya dan
mencetak
dosisnya.
Dosimeter
ini
disebut
TLD
(Thermo
Luminescence
Dosimeter). TLD lebih sensitif dan lebih tepat daripada dosimeter film dan dapat
dipakai kembali setelah digunakan.
Pada stasiun pembangkit nuklir dan di banyak lembaga penelitian, peralatan
elektronik yang disebut real-time dosimeter juga digunakan. Alat ini kira-kira
sebesar kalkulator saku dan dosis yang terkumpul dapat diperiksa setiap saat.
Seseorang juga dapat menetapkan batas dosis pada alat monitor peringatan
(alarm), dimana dosimeter tersebut mengeluarkan bunyi apabila tingkat dosis
meningkat, atau memberikan peringatan bila mencapai dosis yang telah
ditetapkan. Alat ini sangat membantu orang-orang yang harus bekerja di tempat
yang beradiasi sangat intensif.
Menurut rekomendasi terakhir oleh ICRP seseorang yang di tempat kerjanya
terkena radiasi tidak boleh menerima lebih dan 50 mSv pertahun. dan rata-rata
pertahun selama 5 tahun tidak boleh lebih 20 mSv. Nilai maksimum ini disebut
batas dosis. Jika seorang wanita hamil yang di tempat kerjanya terkena radiasi,
diterapkan batas radiasi yang lebih ketat. Dosis radiasi paling tinggi yang diizinkan
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
selama kehamilan, setelah melalui tes-tes adalah 2 mSv.
Masyarakat umum dilindungi terhadap radiasi dengan menetapkan bahwa tidak
ada satu kegiatanpun yang boleh mengenai masyarakat dengan dosis melebihi
rata-rata 1 mSv pertahun dan tidak boleh ada satupun kejadian yang boleh
mengakibatkan masyarakat menerima Iebih dan 5 mSv. Seluruh batas dosis di
atas didasarkan pada rekomendasi-rekomendasi yang diberikan oleh ICRP. Pada
banyak negara batas-batas ini dijelaskan oleh UU dan Peraturan Pemerintah.
Pada kasus stasiun pembangkit tenaga nuklir, pihak pengawas yang berwenang
sering menentukan batas-batas yang bahkan lebih ketat. Secara khusus dosis
tertinggi yang diizinkan bagi orang-orang yang tinggal di sekitar pusat pembangkit
tenaga nuklir yang melepaskan radioaktif adalah 0,1 mSv pertahun. Pada
kenyataannya
kebanyakan
pembangkit
tenaga
nuklir
hanya
melepaskan
persentase kecil dan nilai tersebut, yaitu antara 0,001 dan 0,01 mSv per tahun.
Manusia telah mempelajari pengaruh radiasi selama lebih dari seratus tahun.
Tidak banyak faktor risiko yang diketahui begitu rinci seperti radiasi. Inilah yang
memungkinkan untuk memilih batas dosis untuk para pekerja sehingga risiko
pekerjaan sama dengan pekerjaan-pekerjaan lain yang dianggap aman. Nilai dosis
dalam sebuah dosimeter misalnya, dapat dibaca sebulan sekali dan informasi ini
disimpan di dalam sebuah daftar dosis. Dengan cara ini dapat diyakinkan bahwa
tidak seorangpun akan mendapatkan dosis melebihi dan batas dosis yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Namun, proteksi radiasi memiliki sasaran yang Iebih menantang daripada hanya
mempertahankan dosis di bawah batas yang telah ditetapkan. Batas dosis juga
harus dapat dibenarkan dan dioptimalkan. ICRP telah merekomendasi 3 prinsip
berikut ini yang harus diamati
1. Prinsip justifikasi, yaitu: manfaat yang diperoleh dan aktivitas-aktivitas
termasuk paparan radiasi harus Iebih besar daripada kerugiannya.
2. Prinsip optimasi, yaitu: paparan radiasi harus tetap serendah-rendahnya
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
yang layaknya dapat dicapai (as low as reasonably achievable/ALARA
concept)
3. Proteksi bagi individu, yaitu: semua dosis harus tetap di bawah batas
dosis yang telah ditentukan.
Dalam pengobatan, tidak mungkin menerapkan batas dosis bagi para pasien.
Pada pemeriksaan sinar-X, seseorang menerima dosis beberapa kali melebihi
batas yang ditentukan bagi masyarakat, dan dalam radioterapi batas dosis seratus
kali melebihi batas yang ditentukan untuk para pekerja yang di tempat kerjanya
terkena radiasi. Pemikirannya adalah bahwa manfaat yang diperoleh dan
pengobatan ini lebih besar daripada bahaya yang diakibatkan oleh dosis yang
diberikan, walaupun dosis yang diberikan tinggi. Tanpa radioterapi dan tanpa
menerima dosis radiasi, pengaruh kanker, misalnya, tetap berakibat fatal.
Pada pemeriksaan rutin dengan sinar-X secara kolektif, sejumlah besar orang
terkena radiasi cukup banyak. Secara teoritis, ini mengakibatkan risiko tertentu
bagi populasi tersebut. Namun. pemeriksaan ini mengungkapkan tandatanda dan
berbagai macam kasus penyakit yang mematikan pada tahap awalnya sehingga
risiko yang mungkin diakibatkan oleb radiasi tidaklah begitu berat dibandingkan
manfaatnya. Orang-orang yang mengoperasikan mesin sinar-X sudah tentu
dimonitor dan diharuskan memakai dosimeter.
Dosis mereka tidak boleh melewati batas. Di bawah ini rangkuman batas dosis dan
dosis radiasi yang boleh diterima setiap hari.
BATAS-BATAS DOSIS YANG PALING PENTING:
Para pekerja radiasi
* rata-rata 20 mSv per tahun.
* maksimum 50 mSv per tahun
* selama kehamilan 2 mSv per tahun
Masyarakat umum
* rata-rata I mSv per tahun
* I kejadian 5 mSv.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Dosis-dosis radiasi khusus:
Para pekerja radiasi
* rata-rata I sampai 3 mSv per tahun
* jangkauan keragaman 0 sampai 20
mSv.
Pemeriksaan dada dengan sinar-X
* kira-kira 1 mSv permeriksaan
* jangkauan keragaman 0,1 sampai 10
Sv
Pemeriksaan seluruh tubuh dengan sinar-X
Gas Radon dalam rumah
* sampai 20 mSv per pemeriksaan
* rata-rata 2 sampai 4 mSv pertahun
* jangkauan keragaman 0,2 sampai
500 mSv
Radiasi latar belakang
* kebanyak 1 sampai 2 mSv per
tahun
* dalam kasus ekstrim sampai 20 mSv
Bahan bangunan
* 0,2 sampai 1 mSv per tahun
Pengaruh stasiun pembangkit listrik
tenaga nuklir terhadap lingkungan
* maksimum yang diijinkan 0,1 mSv
per tahun
* kenyataannya sering 0,001 sampai
0,01 mSv
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Napak Tilas 106 Tahun Perjalanan Sinar-X
: 8 Nopember 1895 – 8 Nopember 2001
MUKHLIS AKHADI
Ahli Peneliti Madya di Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Pendahuluan
Sejarah penemuan sinar-X oleh Wilhelm Conrad Roentgen pada 8 Nopember
1895 tidak bisa terlepas dari penelitian sinar katoda. Sinar katoda timbul karena
adanya lucutan listrik melalui gas di dalam tabung bertekanan rendah. Untuk
menimbulkan bunga api listrik antara katoda dan anoda di udara pada tekanan 1
atmosfer (Atm) diperlukan beda tegangan listrik yang sangat besar, kira-kira
30.000 Volt/cm.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam sinar katoda diselidiki oleh beberapa
peneliti sekitar tahun 1870. Dengan menggunakan tabung khusus yang disebut
tabung Crookes, William Crookes (1832-1919) memasang rintangan antara katoda
dan dinding tabung yang dapat berpendar di depan katoda itu. Meskipun dari
penelitian ini diketahui sinar katoda merambat lurus, Crookes belum berhasil
mengidentifikasi apakah sinar katoda berupa partikel atau gelombang cahaya.
Penyelidikan yang lain berhasil mengungkapkan bahwa sinar katoda dibelokkan
oleh medan magnet maupun medan listrik. Dengan bantuan sebidang tabir yang
dilapisi sulfida seng yang dapat mengeluarkan pendar berwarna biru, akan terlihat
perjalanan berkas sinar katoda yang membelok saat didekatkan sebuah magnet
batang. Pembelokan ini juga terlihat bila sinar katoda dilewatkan di antara dua
bidang kondensator bermuatan listrik. Dari penyelidikan ini dapat disimpulkan
bahwa sinar katoda terdiri atas partikel-partikel bermuatan negatif. Inilah
penelitian-penelitian awal yang membekali Roentgen ke arah penemuan sinar-X.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Wilhelm Conrad Roentgen
Roentgen dilahirkan 27 Maret 1845 di Lennep (kini bagian dari Remscheid), di
daerah sungai Ruhr yang merupakan daerah industri. Saat berusia tiga tahun,
orang tuanya pindah ke Belanda dan menetap di kota Apeldoorn. Karena tidak
memiliki latar belakang pendidikan menengah formal, Roentgen harus menempuh
jalan berliku untuk dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia sempat mengikuti
beberapa kursus, menjadi pendengar di Universitas Utrecht, sampai akhirnya
memperoleh ijazah ilmu mesin dari Sekolah Politeknik di Zurich, Swiss. Di Zurich
inilah, kemampuan Roentgen diakui, dan ia dapat mengelola laboratorium fisika
eksperimental yang sangat sederhana.
Roentgen mempublikasikan beberapa karya ilmiah yang dinilai baik sehingga pada
1879 ia diusulkan untuk menduduki kursi mata kuliah fisika di Universitas Hessian
di kota Giessen oleh Helmholtz, Kirchhoff, dan Meyer. Pada 1888, di usia 43
tahun, Roentgen diangkat sebagai guru besar ilmu pasti dan ilmu alam di
Universitas Wurzburg. Selama enam tahun pertama di universitas ini, Roentgen
telah mempublikasikan 17 karya tulis ilmiahnya. Selanjutnya, pada 1894 Roentgen
diangkat sebagai rektor Universitas Wurzburg. Di universitas inilah Roentgen pada
usianya yang ke-50 menemukan sinar-X pada 8 Nopember 1985.
Atas permintaan pemerintah Bavaria, Roentgen akhirnya pindah ke Institut Fisika
Lommel di Universitas Ludwig-Maximilian, Munich. Ia menjadi profesor emeritus
(pensiun) pada 1920. Atas kemauannya, semua diploma, medali, dan sebagainya
yang berkaitan dengan pekerjaan ilmiahnya diserahkan kepada Universitas
Wurzburg untuk disimpan di Institut Fisika. Di samping itu, tabung-tabung sinar
katoda dan kumparan induksi yang pernah dipergunakannya untuk penelitian
diberikan kepada Museum Jerman di Munich. W.C. Roentgen meninggal dunia
pada 10 Pebruari 1923 dalam usia 78 tahun.
Penemuan Sinar-X
Minat yang besar untuk mendalami penelitian sinar katoda mendorong Roentgen
mempersiapkan fasilitas untuk penelitian tersebut. Dalam suatu laboratorium yang
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
luas, Roentgen memasang sebuah kumparan Ruhmkorff yang dilengkapi
interuptor sehingga dapat membangkitkan bunga api listrik sepanjang 10-15 cm.
Roentgen juga melengkapi peralatannya dengan tabung Hittorf-Crookes (tabung
pelucutan), beberapa tabung Lenard, dan sebuah tabung yang baru diterima dari
Muller-Unkel. Peralatan lain berupa pompa vakum Rap untuk menghampakan
tabung-tabung tersebut.
Sinar-X diamati pertama kali oleh Roentgen pada 8 Nopember 1895, pada saat ia
sedang bekerja dengan tabung Crookes di laboratoriumnya di Universitas
Wurzburg. Dia mengamati nyala hijau pada tabung yang sebelumnya menarik
perhatian Crookes. Roentgen selanjutnya mencoba menutup tabung itu dengan
kertas hitam agar tidak ada cahaya tampak yang dapat lewat. Namun, ternyata
masih sinar tidak tampak yang lewat.
Saat Roentgen menyalakan sumber listrik tabung untuk penelitian sinar katoda, ia
mendapatkan ada sejenis cahaya berpendar pada layar yang terbuat dari barium
platinosianida. Jika sumber listrik dipadamkan maka cahaya pendar pun hilang.
Roentgen segera menyadari bahwa sejenis sinar yang tidak kelihatan telah muncul
dari dalam tabung sinar katoda. Karena sebelumnya tidak pernah dikenal maka
sinar ini diberi nama sinar-X. Untuk menghargai jasanya, sinar itu dinamakan juga
sinar Roentgen.
Nyala hijau yang terlihat oleh Crookes dan Roentgen ternyata merupakan
gelombang cahaya yang dipancarkan oleh dinding kaca tabung sewaktu elektron
menabrak dinding itu. Pada saat yang bersamaan, elektron itu merangsang atom
pada kaca untuk mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang panjang
gelombangnya sangat pendek, dalam bentuk sinar-X. Sejak saat itu, para ahli
fisika mengetahui bahwa sinar-X dapat dihasilkan bila elektron dengan kecepatan
yang sangat tinggi menabrak atom.
Tergiur oleh penemuannya yang tidak sengaja itu, Roentgen menyisihkan
penyelidikan-penyelidikan lain dan memusatkan perhatiannya pada penyelidikan
sinar-X. Dalam mempelajari sinar yang baru ditemukannya itu, Roentgen
mendapatkan bahwa jika bahan yang tidak tembus oleh cahaya ditempatkan di
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
antara tabung dan layar pendar, maka intensitas perpendaran pada layar itu
berkurang, namun tidak hilang sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa sinar itu
dapat menerobos bahan yang tidak tembus oleh cahaya biasa (cahaya tampak). Di
samping itu, Roentgen juga bisa melihat bayangan tulang tangannya pada layar
yang berpendar dengan cara menempatkan tangannya di antara tabung sinar
katoda dan layar. Ia juga menemukan sinar-X dapat memendarkan berbagai
senyawa kimia lain seperti senyawa calsium, kaca uranium, kalsit, serta batu
garam. Hal lain yang dibuktikannya adalah sinar-X bukan partikel bermuatan
karena berjalan melintasi garis lurus, tidak dibelokkan oleh medan listrik maupun
medan magnet.
Percobaan lainnya yang dilakukan oleh Roentgen adalah dengan meminta istrinya
sendiri menjadi objek percobaan. Dengan memasang film fotografi di dalam kaset
dan menempatkan tangan istrinya di antara kaset dan tabung sinar katoda, pada
film akhirnya tercetak ruas-ruas tulang telapak tangan Ny. Roentgen yang
memakai cincin. Setelah berbagai percobaan dilakukannya, pada 28 Oktober
1895, ia menyampaikan karya tulis ilmiahnya yang pertama tentang penemuan
sinar-X itu pada perkumpulan fisika kedokteran di Wurzburg.
Karya tulis ilmiah yang kedua tentang penemuan sinar-X diserahkan kepada
Komisi Redaksi Perkumpulan Fisika Kedokteran pada 9 Maret 1896. Sebelumnya,
pada 3 Maret 1896, Universitas Wurzburg mengangkatnya menjadi doktor
kehormatan dalam ilmu kedokteran, meskipun pada waktu itu belum banyak orang
yang menaruh harapan terhadap aplikasi praktis sinar-X dalam bidang kedokteran.
Pada Nopember 1896, Roentgen mempresentasikan hasil penemuannya itu di
depan perkumpulan fisika kedokteran Universitas Wurzburg.
Tanggapan terhadap penemuan sinar-X datang dari berbagai penjuru dunia.
Dalam peringatan hari ulang tahun Univeristas Berlin yang ke-50 dipamerkan hasil
penemuan Roentgen. Berbagai penghargaan internasional juga diterima oleh
Roentgen, seperti Rumford Medal dari Royal Society di London pada 1896, medali
dari Franklin Institute di Philadelphia dan medali dari kerajaan Italia. Penghargaan
juga datang dari Kaisar Wilhelm II yang pada saat itu memerintah Jerman.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Undangan untuk memamerkan hasil penemuannya itu datang pada 13 Januari
1896. Pada kesempatan itu, Roentgen dianugerahi Bintang Orde Mahkota Prusia
Kelas II. Pengakuan internasional ditandai dengan dianugerahkannya hadiah
Nobel bidang fisika pada 1901 (enam tahun setelah penemuan) kepada W.C.
Roentgen. Ini merupakan hadiah Nobel yang pertama kali diberikan dalam bidang
fisika.
Pesawat Sinar-X
Pesawat sinar-X adalah pesawat yang dipakai untuk memproduksi sinar-X.
Pesawat ini terdiri atas tabung sinar-X dan variasi rangkaian elektronik yang saling
terpisah. Sinar-X dibangkitkan dengan jalan menembaki target logam dengan
elektron cepat dalam suatu tabung vakum. Elektron sebagai proyektil dihasilkan
dari pemanasan filamen yang juga berfungsi sebagai katoda. Filamen ini dipasang
pada bidang cekung untuk memfokuskan elektron menuju daerah sempit pada
target (anoda).
Pada saat arus listrik dari sumber tegangan tinggi dihidupkan, filamen katoda akan
mengalami pemanasan sehingga kelihatan berwarna putih. Dalam kondisi ini,
katoda akan memancarkan elektron (sinar katoda). Elektron selanjutnya ditarik dan
dipercepat gerakannya hingga mencapai ribuan km/s melalui ruang hampa
menggunakan tegangan listrik berorde 102 - 106 Volt. Elektron yang bergerak
sangat cepat itu akhirnya ditumbukkan ke target logam bernomor atom tinggi dan
bersuhu leleh juga tinggi. Ketika elektron berenergi tinggi itu menabrak target
logam, maka sinar-X akan terpancar dari permukaan logam tersebut.
Roentgen telah merencanakan untuk melanjutkan penelitiannya mengenai sinar-X
dengan tegangan tabung yang lebih tinggi. Banyak kendala dihadapi Roentgen,
misalnya tabung sinar-X bocor setelah tegangannya mencapai nilai tertentu.
Penyempurnaan tabung sinar-X mula-mula muncul dengan diperkenalkannya
katoda jenis filamen yang dapat memfokuskan berkas elektron menuju target
logam berat. Tabung jenis ini dapat membangkitkan sinar-X dengan gelombang
lebih pendek atau energi yang lebih tinggi. Namun, operasi tabung jenis baru itu
tidak menentu karena sinar-X yang dibangkitkannya sangat bergantung pada
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
tekanan gas di dalam tabung.
Penyempurnaan berikutnya dilakukan pada 1913 oleh fisikawan Amerika William
David Coolidge (1873-1975). Tabung Coolidge sangat vakum dan di dalamnya
terdapat filamen yang dibuat dari kawat pijar dan target. Tabung Coolidge pada
prinsipnya merupakan tabung vakum termionik dengan katodanya memancarkan
elektron secara langsung karena mengalami pemanasan oleh aliran listrik yang
teratur. Elektron yang dipancarkan dari filamen panas dipercepat menuju ke arah
anoda dengan menggunakan tegangan tinggi yang dipasang di sepanjang tabung.
Karena elektron menabrak anoda dengan kuatnya, maka dari anoda itu terpancar
sinar-X. Jika tegangan anoda dinaikkan, semakin tinggi pula kecepatan gerak
elektron menuju anoda, sehingga energi sinar-X yang dipancarkannya juga
semakin tinggi.
Meskipun efisiensi diusahakan setinggi mungkin, pada umumnya kurang dari 1%
energi elektron yang dapat diubah menjadi sinar-X, sedang sisanya muncul
sebagai panas. Oleh karena itu, target harus dibuat dari bahan yang memiliki titik
leleh sangat tinggi dan harus mampu mengalirkan panas yang timbul. Bagian
anoda pesawat sinar-X biasanya memiliki radiator bersirip di bagian luar tabung
untuk membantu proses pendinginan target. Pesawat sinar-X yang dioperasikan
pada tegangan sangat tinggi, anodanya memiliki lubang pendinginan untuk
mengalirkan minyak atau air ke dalamnya.
Sebagian besar tabung sinar-X yang beroperasi dewasa ini menggunakan model
tabung Coolidge yang dimodifikasi. Tabung yang lebih besar dan lebih kuat
memiliki sistem pendingin air pada anti katodanya untuk mencegah pelelehan
akibat panas yang timbul dari penembakan elektron. Bersamaan dengan
berkembangnya pengoperasian pesawat sinar-X, tumbuh pula industri pesawat
pembangkit sinar-X beserta peralatan, perlengkapan, dan suku cadangnya.
Untuk mendapatkan sinar-X dengan energi yang sangat tinggi, para ilmuwan telah
membangun mesin pembangkit sinar-X yang sangat kuat. Salah satu di antaranya
adalah mesin pembangkit yang diberi nama betatron. Sebagian besar betatron
dapat menghasilkan elektron berenergi kira-kira 20 MeV sehingga dapat
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
dipancarkan sinar-X berenergi sangat tinggi,. Mesin pembangkit sinar-X energi
tinggi yang lainnya adalah jenis akselerator linier (LINAC). Alat ini dapat dipakai
untuk mempercepat partikel hingga berenergi di atas 1 BeV.
Aplikasi Sinar-X dalam Medis
Dalam dunia medis sinar-X terutama dimanfaatkan untuk diagnosis. Dengan
penemuan sinar-X ini, informasi mengenai tubuh manusia menjadi mudah
diperoleh tanpa perlu melakukan pembedahan. Gambar terbentuk karena adanya
perbedaan intensitas sinar-X yang mengenai permukaan film setelah terjadinya
penyerapan sebagian sinar-X oleh bagian tubuh manusia. Daya serap tubuh
terhadap sinar-X sangat bergantung pada kandungan unsur-unsur yang ada di
dalam organ.
Perkembangan dalam bidang teknologi, terutama setelah ditemukannya beberapa
jenis pemantau radiasi dan metode proses pembentukan bayangan gambar
dengan komputer, memungkinkan proses pembentukan bayangan gambar pada
film diubah dengan cara merekonstruksi bayangan gambar dengan komputer.
Dengan teknik ini, bayangan gambar dapat diperoleh dengan segera. Kemampuan
untuk membedakan antara jaringan yang satu dengan lainnya juga mengalami
peningkatan. CT-scan, misalnya, mampu membedakan antara dua jaringan yang
sangat mirip dalam otak manusia, yaitu antara substansia grisea dengan
substansia alba.
Untuk meningkatkan kualitas gambar dalam radiodiagnostik, seringkali digunakan
media kontras dengan cara memasukkan substansi yang bisa menyerap sinar-X
lebih banyak ke dalam tubuh yang sedang didiagnosis. Bahan yang sering
dimanfaatkan sebagai media kontras adalah Barium (Ba) dan Iodium (I).
Penutup
Penemuan sinar-X oleh fisikawan Jerman W.C. Roentgen 106 tahun silam ternyata
mampu mengantarkan perubahan mendasar dalam bidang kedokteran. Sinar-X
dapat
dimanfaatkan
untuk
diagnosis
maupun
terapi.
Termasuk
dalam
radiodiagnosis ini adalah pemeriksaan dengan computed tomography scanner
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
(CT-scan), fluoroskopi, foto toraks sinar-X konvensional, dan radiografi anak.
Selain untuk keperluan radiodiagnosis, radiasi pengion jenis foton (sinar-g dan
sinar-X) dalam perkembangan berikutnya juga dimanfaatkan untuk terapi. Kedua
jenis radiasi tersebut mempunyai daya tembus yang tinggi terhadap organ tubuh.
Perkembangan teknologi akselerator memungkinkan aplikasi sinar-X untuk
radioterapi kanker dengan hasil yang cukup memuaskan.
Dalam perjalanan selama 106 tahun, sinar-X masih tetap mempunyai peran besar
dalam dunia kesehatan, dan perannya pun masih akan terus meningkat di masa
mendatang seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan penguasaan teknologi
oleh umat manusia. Kitapun harus berterimakasih kepada W.C. Roentgen atas
jasanya yang sangat besar ini.
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/052002/sek-1.htm
Radiografi Am
Sinar-x telah di temui oleh seorang Profesor Fizik berbangsa
Jerman yang bertugas di Universiti Wurzburg, Bavaria, Wilhelm Conrad
Röntgen pada 8hb November, 1895. Beliau mendapati sinar ini
mempunyai kuasa ajaib menghasilkan imej di filem fotografi setelah
menembusi tisu, pakaian dan logam.
Menerusi kajiannnya, Roentgen mendapati hablur garam barium
platinosianida bersinar apabila di letakkan berdekatan dengan tiub sinar
katod yang di tutup. Ia juga mendapati plat foto yang di tutup di letakan
berdekatan dengan sinar katod akan menjadi hitam. Dari sini
kesimpulan dapat di buat bahawa sinar-x tidak boleh di lihat, bergerak
dalam garis lurus dan mempunyai daya penembusan yang tinggi, iaitu
dapat menembusi objek yang legap bagi sinar cahaya biasa.
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
Wilhelm Conrad Röntgen yang lahir pada 25 Mac
1845 adalah yang mula-mula menemui Sinar-X.
Selepas itu, Roentgen menunjukkan sinar ini datang dari dinding
kaca berpendaflour cahaya apabila sinnar katod terkena padanya. Untuk
mengesahkan penemuan ini, beliau telah menjalankan satu eksperimen
ringkas. Dalam eksperimen ini beliau meletakan satu skrin yang di lapisi
dengan barium platinosianida dalam lintasan sinar-x. skrin ini di dapati
bersinar apabila terkena pada sinar-x ini. Dengan meletak tangan beliau
diantara tiub sinar katod dan skrin, satu bayang tangan dengan tulangtulang di dalamnya jelas kelihatan dalam skrin ini. Ini dapat
membuktikan bahaa sinar-x yang terkeluar dari tiub sinar katod
mempunyai kuasa penembusan yang tinggi.
Mesin X-ray awal.
Radiografi di perkenalkan di Malaysia pada 3 Februari 1897, lebih
kurang setahun selepas penemuannya oleh Roentgen. Lain-lain
pengambilan gambar x-ray di tunjukkan semasa perjumpaan tahunan
Persatuan Fotografi Amatur di Taiping, Perak pada penghujung tahun
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
1897, sebuah mesin x-ray lengkap telah di hadiahkan kepada Hospital
Ipoh sempena jubli intan Ratu Victoria. Berikutnya, sebuah lai di Kuala
Lumpur pada tahun 1905 dan di Pulau Pinang pada tahun 1910.
Apakah itu x-ray?
"X-RAY" dalam bahasa Malaysia dikenali sebagai sinar-x. Sinar-x ini
merupakan salah satu daripada sinaran elektromagnet. Sinar-x ini
mempunyai bentuk yang serupa dengan sinar cahaya biasa, inframerah
dan gelombang radio; yang berbeza cuma dari segi panjang
gelombangnya sahaja. Sinar-x mempunyai gelombang yang pendek.
Contoh panjang gelombang berbagai-bagai sinaran elektromagnet
adalah seperti berikut:Jenis gelombang
Jarak gelombang
Gelombang radio
1cm – 3 x 10
Sinar cahaya
4 x 10 -5 cm – 7 x 10
Sinar ultraungu
10
Sinar-x
10 -7 cm - 10
Sinar gama
10 -9 cm
Sinar kosmos
< 10
–5
5
cm
cm – 7 x 10
–10
–9
–5
–5
cm
cm
cm
cm
Sinar-x yang dihasilkan dengan tenaga 20-40 keV mempunyai
panjang gelombang 10-7 cm dan sinar ini dikatakan sinar-x lembut
(soft- rays). Sinar-x yang dihasilkan dengan 40-125 keV mempunyai
gelombang 10-8 cm. Sinar ini kerap digunakan untuk pemeriksaan x-ray
diagnostik, manakala panjang gelombang yang lebih pendek lagi yang
dihasilkan dengan tenaga 200-1000 keV digunakan dalam rawatan
radioterapi yang lebih dalam (deep radiotheraphy). Sinar ini biasanya
berukuran < 10-8 cm (hard-rays).
Sinar-x telah ditemui pada tahun 1895 secara tidak sengaja oleh
seorang ahli sains berbangsa Jerman iaitu Wilhelm Conrad Roentgen,
ketika menjalankan eksperimen terhadap sinar katod dengan
menggunakan tiub kaca dan melalukan arus elektrik bervoltan tinggi
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
menerusi tiub tersebut.
Pancaran sinar-x dapat diperolehi daripada sejenis alat elektronik yang
dinamakan tiub x-ray. Daripada kajian ahli sains didapati sinar-x
mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat dibahagikan kepada sifat
biasa dan sifat khas.
a) Sifat biasa

Sinar-x bergerak laju dan lurus.

Tidak boleh difokus oleh kanta atau cermin dan tidak boleh
dipesong oleh medan magnet sekitar arah tuju yang dilaluinya.

Mematuhi peraturan ‘Hukum Kuasa Dua Songsang’ iaitu keamatan
sinar berubah dengan kuasa dua songsang jarak daripada punca
pancaran.
b) Sifat khas

Keupayaan menembusi jirim padat.

Kesan pendarcahaya - memberikan kesan cahaya kepada sebatian
kimia seperti zink sulfida, kalsium tungstat dan barium
platinosiamida.

Kesan fotografi - memberikan penghitaman kepada filem apabila
didedah kepada sinar-x.

Kesan pengionan - alur sinar-x yang lintas melalui gas
memindahkan tenaganya kepada molekul-molekul yang
seterusnya akan berpecah kepada zarah yang bercas positif dan
negatif.Kesan biologi - sinar-x bertindak dengan kesemua tisu
hidup yang terdapat dalam badan.
Sebuah mesin yang di gunakan untuk menjalankan
pemeriksaan x-ray am.
Bagaimana X-ray dihasilkan?
X-ray di hasilkan apabila elektron bergerak pada kelajuan yang tinggi
NIRMALA DEWI
D411 01 072
REFERENSI
TUGAS ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
dan secara tiba-tiba berlaku perubahan dari segi kelajuan. Semua ini
berlaku di dalam sebuah tiub x-ray. Di dalam sebuah tiub x-ray terdapat
katod (-) yang merupakan sebuah filamen yang dipanaskan oleh tenaga
elektrik. Pemanasan yang berlaku menyebabkan elektron dihasilkan dari
filemen. Ini semua berlaku untuk persediaan elektron bagi di pecutkan
untuk mendapatkan sinaran-x.
Gambar menunjukkan sebuah tiub x-ray.
http://radiologi.hukm.ukm.my/2005/perkhidmatan/am.htm
NIRMALA DEWI
D411 01 072
Download