PERUBAHAN BENTUK KATA DALAM BAHASA ARAB

advertisement
PERUBAHAN BENTUK KATA
DALAM BAHASA ARAB
(Suatu Analisa Hubungan Antara Tashrif dan Morfologi)
Oleh: Dr. H.A. Gani, S.Ag, SH, M.Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung
ABSTRACT
Through correlative analysis, this article explores the nature
of morphology in Arabic language. The mastery of Arabic
morphology or Shorf is quite important in Arabic learning.
Since, it plays determinant role for understanding the
changing of its forms as well as its meaning.
Keywords:
Shorf, I’rab, fi’il
Pendahuluan
Sudah merupakan suatu hal tidak perlu diragukan lagi bahwasanya bahasa Arab
adalah merupakan bahasa yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin mempelajari
ajaran agama islam dari sumber aslinya. Hal ini karena sumber dari seluruh ajaran agama
islam adalah tertulis dalam bahasa Arab (Al-Qur’an dan Al- Hadis). Begitu pentingnya
bahasa Arab, sehingga selain sebagai suatu bahasa yang digunakan oleh negara-negara
Arab, bahasa Arab juga secara resmi di pakai oleh konfrensi Negara-negara Islam (OKI).
Lalu pada akhir tahun 1973, perserikatan bangsa-bangsa pun mengakuinya sebagai salah
satu diantara bahasa resmi dalam organisasi tersebut (Al-Qasimi, 2007: 40 ). Oleh karena
itu, sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu
yang berkaita dengan bahasa Arab.
Sehubungan dengan hal ini, Syaikh Musthafa al-Ghulayani menyebutkan ada tiga
belas ilmu yang tercakup dalam bahasa Arab, yautu: Ilmu shorof, I’rob, rasam, ma’ani,
bayan, ba’di, ‘arudi, qawafi, qardlussyi’ri, insya’, khitobah, tarikh, adab dan matan alLughoh (al-Ghulaiyaini, 1984: 4). Dari kesemuanya itu, menurut beliau sharaf dan i‘ rob
sebagai ilmu yang terpenting. Sependapat pula dengan pernyataan ini, ada sebagian
Ulama yang menyatakan bahwa sharaf sebagai ibunya ilmu dan nahwu sebagai bapaknya
(Muhammad, 1963: 1). Lalu bila kita mengkaji dan membandingkan pendapat para ulama
di atas dengan pandangan para ahli bahasa modern, ternyata ada kesamaanya dari segi
cabang ilmu yang di prioritaskan. Mereka pada umumnya membagi.
Sudaryanto dan Mansoer Pateda misalnya, membagi unsur-unsur bahasa menjadi
ilmu fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Sedangkan Dr. Verhaar membaginya
menjadi ilmu fonetik, fonologi, morfologi dan sintaksis dengan lebih memebrikan
penekanan terhadap bidang morfologi dan sintaksis (shorof dan nahwu ) di bandingkan
dengan dua cabang ilmu lainya (Sudaryanto, 2002: 52; Pateda, 2005: 67). Selanjutnya
secara lebih khusus, Jonathan Owens dalam bukunya The Fondation of Grammar
menyatakan bahwa:
“Kajian tentang kata dalam bahasa Arab terbagi menjadi dua bagian pokok, yaitu
tentang harokat akhir dari suatu kata tentang perubahan bentuknya. Bagian
pertama dibahas dalam ilmu nahwu ( sintaksis ) dan yang kedua tercakup dalam
ilmu shorof (morfologi)” (Owen, 99).
Kemudian sebagai suatu cabang ilmu bahasa Arab, shorof adalah ilmu yang
mempelajari tentang segala peraturan yang berhubungan dengan pemebentukan kata-kata
Arab yang bukan merupakan i’rob dan bina’, sedangkan objek pembahasanya adalah
mengenai isim-isim yang mutamakkinah dan fi’il-fi’il yang mutasharrifah. Kedua objek
pembahasani ini, tentunya tidak terlepas dari pembicaraan tentang kata dan segala yang
berhubungan dengannya, seperti asal-usul kata, pemecahan kata perubahan bentukbentuk kata. Memang kata dalam bahasa Arab memegang kunci yang sangat penting,
apalgi sebagai salah satu bahasa yang cukup luas wilayah pemakaiannya di dunia, bahasa
Arab memiliki banyak sekali akar kata. Dalam kamus mu’jam Lisanul Arab karangan
Ibnu Manzur, terdapat 80.000 akar kata. Kalau separuh dari akar kata asal kata bisa
diubah bentuknya, maka jumlah pecahannya menjadi 500.000 kata lebih.
Kajian tentang hal ini menjadi lebih menarik untuk dikembangkan, karena salah
satu diantara segi pembahasan kata dalam bahasa Arab adalah mengenai perubahan
bentuknya. Disamping itu, perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab tentunya akan
memabawa perubahan pada segi makna. Berdasarkan dari pemikiran di atas, penulis
mencoba untuk menulis tentang Suatu hubungan Antara Tashrif dan Morfologi.
Pembahasan
A. Tashrief
1. Pengertian
Sebelumnya kita akan membahas terlebih dahulu tentang pengertian dari ilmu
sharaf. Secara atimologi, kata sharaf berasal dari bahasa Arab “sharafa berasal dari
bahasa Arab “ sharafa-yashrifu-sharafan” ( ‫ﺻﺮﻓﺎ‬-‫ﻳﺼﺮﻑ‬-‫ ) ﺻﺮّ ﻑ‬yang berarti “radda wa
dafa’a” (‫ﺭ ّﺩﺍ‬-‫ﻳﺮ ّﺩ‬-‫ ) ﺭ ّﺩ‬yaitu Mengembalikan, menolak. Sharaf juga berarti penukaran,
pengembalian dan pemindahan. Adapun secara terminologi, sharaf menurut Lois Ma’luf,
adalah ilmu yang membahas tentang bentuk-bentuk kata Arab dan keadaanya yang
bukan merupakan i’robb dan bina (Louis Ma’luf, 1986: 422). Menurut Syaikh Muhyiddin
al-Khiyath, sharaf merupakan ilmu yang memabahas tentang perubahan bentuk-bentuk
kata dari satu bentuk ke bentuk kata yang lain (al-Khiyat: 11).
Adapun mengenai pengertian tashrif, secara etomologi adalah merupakan abentuk
mashdar dari kata “ sharrafa – yusharrifu – sharafan “ ( ‫ﺗﺼﺮﻳﻔﺎ‬-‫ﻳﺼﺮّﻕ‬-‫ ) ﺻﺮّﻑ‬yang
semakna dengan kata “ ghoyyara – yugghoyyiru – taghyiran “(‫ﺗﻐﻴﻴﺮﺍ‬-‫ﻳﻐﻴّﺮ‬-‫( )ﻏﻴّﺮ‬alGhulaiyaini: 212). Berarti pengubahan atau perubahan. Sedangkan secara terminologi,
tashrif menurut Syaikh Musthafa al-Ghulayaini adalah suatu ilmu yang membahas
tentang hukum-hukum bentuk kata dan hal-hal yang berkaitan dengan hurufnya, seperti
mengenai asalnya, tambahnahnya, shahih-nya, i’lal-nya, ibdal-nya dan yang serupa
dengan itu. Tashrif juga berarti pengubahan bentuk kata (shighoh) bahasa Arab (Abu
Bakar, 1995: 1).
Di samping beberapa penegrtian sharaf dan tashrif yang dikemukakan diatas,
Majdi Wagbah dan Kemil Muhadas dalam kitabnya “ Mu’jamul Ishthilahat fi al-Lughoh
wal Adab “ secara implisit menyatakan bahwa tashrif ( pada fi’il dan isim ) adalah
merupakan bagian kajian dari ilmu sharaf. Menurut beliau: “ Sharaf adalah ilmu yang
mempelajari tentang perubahan bentuk-bentuk kalam dan apa yang taerambil (berasal)
darinya, seperti bab tentang kata kerja dan tashrifnya, tashrif pada kata benda, asal
pengambilan kata ( fi’il mashdar ), mashdar dengan macam-macamnya, bentuk-bentuk
sifat musyabbahah, af’al tafdlil, isim zaman, isim alat dan tashghiR”.
Dengan berdasarkan pada pengertian ini, maka secara sederhana dapat
disimpulkan bahwa syaraf menunjuk kepada suatu ilmu yang membahas tentang
perubahan bentuk kata secara umum, sedangkan tashrifnya secara lebih khsus mengkaji
perubahan bentuk-bentuk yang terjadi pada kata, baik pada kata benda maupun pada kata
kerja.
2. Sebab-sebab Terjadinya Perubahan Bentuk Kata dan Macam-macam nya
Sebagai suatu bahasa yang secara struktur morfologisnya bertife fleksi ( infleksi ),
suatu kata dalam bahasa Arab dapat menagalami perubahan bentuk dengan suatu sebab
atau alasan tertentu. Kata qotala ( ‫ = ) ﻗﺘﻞ‬Membunuh misalnya, dapat diubah atau
dibentuk menjadi sejumlah kata baru seperti yaqtulu, ( ‫ ) ﻳﻘﺘﻞ‬sedang membuuh, ( ‫) ﺍﻗﺘﻞ‬
:Bunuhlah, qatlan (‫ ) ﻗﺘﻼ‬: Pembunuhan, qatil ( ‫ ) ﻗﺎﺗﻞ‬Pembunuh, maqtul ( ‫ = )ﻣﻘﺘﻮﻝ‬Orang
yang dibunuh, maqtalun ( ‫ = )ﻣﻘﺘﻞ‬Waktu / tempat terjadinya pembunuhan. Miqtak ( ‫) ﻣﻘﺘﻞ‬
= Alat untuk membunuh. Kata qotala ( ‫ ) ﻗﺘﻞ‬dapat pula diubah menjadi taqotala ( ‫) ﺗﻘﺎﺗﻞ‬
dengan menambahkan awalan “ta” dan memanjangkan “qa” pada akar kata kerja yang
berarti saling membunuh, atau diubah menjadi qottala ( ‫ ) ﻗﺘّﻞ‬dengan mengadakab “ta”
yang berarti berbubuh-bunuhan. Di samping itu, kata yang sama juga dapat menjadi
qotalat (‫ = ) ﻗﺘﻠﺖ‬Dua orang laki-laki membunuh.
Jadi, sebuah kata dasar dapat mengalami beberapa perubahan bentuk, sebuah kata
dasar dapat mengalami beberapa perubahan bentuk, sesuai dengan sebab yang melatar
belakanginya. Berkaitan dengan hal ini, Imam Bawani menyebutkan bahwa ada tiga
penyebab terjadinya perubahan bentuk kata, yaitu : Perubahan bentuk kata ditinjau dari
asal-usul terciptanya kata, perubahan bentuk kata karena penambahan jumlah hurufnya,
perubahan bentuuk kata karena perbedaan pelakunya ( jumlah dan jenis person yang
terkadung dalam bunyi suatu lafadz) (Bawani, 2006: 140).
Sejauh mana penjabaran dari ketiga penyebab terjadinya perubahan bentuk kata
ini, maka dalam uraian berikut akan dibicarakan satu persatu.
1). Perubahan Bentuk Kata Ditinjau dari Asal – usul Terciptanya Kata
Telah diterangkan bahwa dari kata dasar qotala ( ‫ ) ﻗﺘﻞ‬dapat diciptakan sejumlah
bentuk kata baru, seperti : ‫ ﻳﻘﺘﻞ‬, ‫ ﺍﻗﺘﻞ‬, ‫ ﻗﺘﻼ‬, ‫ ﻗﺎﺗﻞ‬, ‫ ﻣﻘﺘﻮﻝ‬, ‫ ﻣﻘﺘﻞ‬, ‫ ﻣﻘﺘﻞ‬.
Bentuk – bentuk kata semacam ini, dalam pengertian bisa dipecah-pecah menjadi
berbagai macam bentuk baru, biasa disebut dengan kata musytaq ( ‫) ﻣﺸﺘﻖ‬.Dalam
hubunganya dengan asal-usul terciptanya kata, mustaq atau isytiqoq mempunyai
penegrtian sebagai berikut : Secara etimologi, istiqoq bearti mengambil suatu kata
dari kata lainnya, dengan adanya kesesuaian diantara keduanya dari segi lafadz,
makna dan susunan hurufnya serta diikuti dengan perubahan bentuknya. Isytiqoq
jenis ini, disebut dengan isytiqoq shaghir. Dua jenis isytiqoq lainnya adalah isytiqoq
kabir, yaitu adanya kesesuaian dalam lafadz dan makna, seperti kata bahasa
(
‫ )ﺟﺒﺬ‬dan jazaba ( ‫ ) ﺟﺬﺏ‬serta terakhir isytiqoq akbar, yaitu adanya kesamaan dari segi
makhorijul huruf seperti pada kata nahiqa ( ‫ ) ﻧﻬﻖ‬dan na’iqa ( ‫) ﻧﻬﻖ‬. Dari ketiga jenis
isytiqoq tersebut, hanya isytiqoq shafhir yang masuk dalam pembahasan ilmu sharaf.
Kemudian dari segi susunan hurufnya, kalimah hmusytaqqah ( kata yang dapt
ditashrif ) terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang tersusun dari tiga huruf atau sulasi
dan tersusun dari empat huruf atau ruba’i. Kedua kata secara sekilas sduah
disinggung pada bab II dan akan dibicarakan lebih lanjut mendalam pada bab IV.
2). Perubahan Bentuk Kata Karena Penambahan Jumlah Hurufnya
Pada bab II sudah dinyatakan bahwa ditinjau dari aslinya atau tidaknya, kata kerja
dapat dibagi menjadi dua, yaitu kata yang masih asli dan belum mendaptkan
tambahan oleh huruf apapun. Disebut “ kalimah mujarradah” serta kata yang sudah
tidak asli lagi dalam arti sudah mengalami perubahan dengan mendapatkan tambahan
huruf, baik diawal, tengah maupun akhir dari rangkaian huruf pada kata tersebut,kata
semacam ini disebut dengan “ kalimah mazidah”.
Kata – kata semacam
‫ ﻧﺼﺮ‬, ‫ﺿﺮﺏ‬, ‫ﻓﺘﺢ‬, dan ‫ ﻋﻠﻢ‬adalah termasuk golongan kata
mujarrad, karena susunan huruf-hurufnya masih asli, baik terdiri atas tiga huruf
maupun empat huruf. Sebaliknya, kata-kata seperti : ‫ ﺍﻧﺘﺼﺮ‬, ‫ ﺿﺎﺭﺏ‬, ‫ ﺍﻓﺘﺘﺢ‬,
‫ ﺍﻋﻠﻢ‬,
adalah termasuk golongan kata mazid, karena susunan huruf-hurufnya sudah tidak
asli lagi dan sudah mendaptkan huruf tambahan pada huruf asalnya. Perubahan
bentuk kata karena penambahan jumlah hurufnya ini, disamping mambawa perubahan
pada struktur hurufnya, juga membawa perubahan pada struktur hurufnya, juga
membawa perubahan pada segi makna/arti yang ditimbulkanya. Suatu pembahasan
yang lebih mendalam mengenai hal ini, akan diulas pada bab tersendiri nantinya.
3). Perubahan Bentuk Kata Karena Perbedaan Pelakunya
Selain dari sebab perubahan bentuk kata diatas, sebab lainnya yang juga membawa
perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab adalah dikarenakan perbedaan si
pelakunya, baik dilihat dari segi pelakunya, baik dilihat dari segi jumlahnya maupun
dari segi jenis pelakunya. Kedua segi ini dalam linguistik biasa disebut dengan bagian
dari kategori gramatikal suatu bahasa. Kata “ nashara “ ( ‫ ) ﻧﺼﺮ‬misalnya, yang berarti
“ dua orang laki-laki menolong” akan berubah bentuknya manjadi “ nasharah” (
‫ )ﻧﺼﺮﺍ‬Dua orang laki-laki menolong serta berubah menjadi “ nashara” ( ‫) ﻧﺼﺮﻥ‬
mereka ( semua ) perempuan menolong, bila yang memberikan pertolongan tersebut
lebih dari orang perempuan. Jadi, perubahan pertama dari nashara ( ‫ ) ﻧﺼﺮ‬menjadi
nashara ( ‫ )ﻧﺼﺮﺍ‬menunjuk kepada perubahan kata karena perbedaan pelaku dilihat dari
segi jumlahnya, serta perubahan kedua dari segi dua bentuk tersebut menjadi nashara
( ‫ )ﻧﺼﺮﻥ‬maenunjuk kepada perbedaan pelaku dilihat dari segi jumlah dan jenis
kelaminya .Di samping itu, sebab perubahan bentuk kata karena perbedaan pelaku ini
erat pula kaitanya dengan perubahan bentuk pada kata ganti ( dlomir ), atau dengan
perbedaan lain bahwa perubahan bentuk kata pada kata pengganti ( dlomir ) dalam
suatu lafadz, akan membawa perbedaan pada di pelakunya. Pada contoh diatas
misalna, kata nashara (
‫ﻧﺼﺮ‬
) Dia laki-laki menolong, secara eksplisit menyimpan
kata ganti orang ketiga laki-laki tunggal, yaitu “huwa” (
nashara (
‫ﻧﺼﺮﺍ‬
‫ﻫﻮ‬
), lalu pada kata
) terdapat kata ganti orang ketiga laki-laki ganda yaitu “huma” (
‫)ﻫﻤﺎ‬, kemudian pada kata nashara (
‫) ﻧﺼﺮﻥ‬. Secara eksplisit menyimpan kata ganti
ّ ). Demikian pula sebaliknya,
orang ketiga perempuan jamak yaitu “hunna” ( ‫ﻫﻦ‬
bahwa perubahan bentuk kata pada kata ganti ‫ﻫﻮ‬, menjadi, ‫ ﻫﻲ‬, ‫ ﺍﻧﺖ‬, ‫ ﺍﻧﺖ‬, ‫ ﺍﻧﺘﻤﺎ‬,
ّ , ‫ ﺍﻧﺘﻢ‬, ‫ ﺍﻧﺎ‬, ‫ ﻧﺤﻦ‬, akan membawa perubahan bentuk kata pada kata menjadi ‫ﻧﺼﺮﺕ‬
‫ﺍﻧﺘﻦ‬
( nasharat ), ‫ ( ﻧﺼﺮﺕ‬naharta ), ‫( ﻧﺼﺮﺕ‬nasharati ), ‫( ﻧﺼﺮﺗﻤﺎ‬nashartuma), ‫( ﺗﺼﺮﺗﻢ‬
nashartum ), ( nashartunna ), ‫ﻧﺼﺮﺗﻤﺎ‬
( nashartu ) dan ‫ ( ﻧﺼﺮﻥ‬nasharna ).
Kemudian, apa sajakah macam perubahan bentuk kata ? Untuk menjawab
pertanyaan ini, bila mentela’ah dan memperhatikan kitab “al-Amsilah Attashrifiyah “
karangan Syaikh Ma’shum bin Ali (Al-Amsilah Al-Tashrifiyyah:. 8), suatu kitab yang
secara lengkap memuat masalah pentashrifan, menyebutkan bahwa ada dua macam
bentuk tashrif, yaitu tashrif ishthilahi dan tashrif lughowiy. Tashrif ishthilahi adalah satu
deret perubahan bentuk kata secara horizontal (mendatar) yang mengakibatkan terjadinya
perbedaan kelas kata, dari kelas kata kerja (madli, mudlori, nahi dan amr) ke kelas kata
benda / isim ( mashsar, isiim fa’il, isim ma’ful, isim zaman dan isim makan ). Menegenai
urutan perubahan dalam mentashrif suatu kata secara isththilahi ini, pada dasarnya tidak
ditemukan suatu perbedaan yang prinsipil. Umumya perubahan dimulai berturut-turut
dari fi’il madli-mudlori’-isim mashdasr-isim fa’il isim ma’ful, kemudian fi’il amr-fi’il
nahi, selanjutnya isim zaman,isim makan dan isim alat. Untuk model seperti ini akan kita
jumpai dalam kitab “amsilah attashrifiyah “. Model ini terlihat tidak secara konstan
mengurutkan perubahan, yaitu berawal dari fi’il berubah ke isim, lalu beralih ke fi’il
untuk kemudian beralih kembali ke isim.
B. MORFOLOGI
1. Pengertian dan Obyek Morfologi
Secara Etimologi, morfologi berasal dari bahasa Grieka, yaitu “morf” ( bentuk )
dan “ logos “ ( ilmu ). Berpandanan dengan kata bahasa Jerman “ formenlehre “ (the
studi of form) (Pateda: 71). Dan dengan kata bahasa Inggris “ Morfhology “ ( ilmu bentuk
kata-kata). Adapun secara terminologi, morfologi menurut Mansoer Pateda ialah ilmu
yang mempelajari bentuk, bentuk kata dan perubahan bentuk kata serta makna yang
muncul akibat dari perubahan bentuk kata itu. Menurut Ramlan morfologi adalah bagian
dari ilmu bahasa yang membicarakan atau me,mpelajari seluk beluk kata serta pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.
Berdasarkan dari pengertian ini, maka ada tiga hal objek yang dipelajari dalam
morfologi, yaitu: Bentuk, bentuk kata dan perubahan bentuk kata, dan makna yang
muncul akibat perubahan bentuk kata.
2. Morfem dan Pembagiannya
Berbagai pengertian terhadap morfem dikemukakan oleh para Linguis.
C.F.Hocket misalnya, tokoh linguistik Amerika memberikan definisi morfem sebagai
berikut:
“morphemes are the smallest individually meaningful elements in the ulterances
of alanguage (morfem adalah unsur-usnur yang terkecil yang masing-masing
mempunyai makna dalam tutur bahasa) (Parera, 2008: 15)
Sedangkan Ramlan mengatakan bahwa morfem adalah satuan gramatik yang
paling kecil, satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya. Serta
masih banyak lagi definisi lain yang dikemukakan oleh para ahli. Namun secara
sederhana morfem dapat didefinisikan sebagai satuan bentuk terkecil yang mempunyai
arti. Suatu contoh misalnya, kata helful (bahasa Inggris) terdiri dari dua morfem, yaitu
helf dan ful, dimana keduanya adalah dua bentuk yang mempunyai arti.
Kemudian dari definisi morfem yang dikemukakan oleh Ramlan, kita dapat
memberikan contoh dalam bahasa Indonesia pada bentuk kata “dilepas”, yang terdiri dari
dua morfem yaitu di dan lepas, karena setelah di- tidak ada lagi bentuk yang lebih kecil.
Demikian pula setelah bentuk lepas tidak ada lagi bentuk yang lebih kecil. Kita tidak
dapat mengatakan bahwa bentuk lepas terdiri dari le + pas. Kemudian, apa yang
membedakan dengan kata menurut Ramlan, kata adalah satuan bebas yang paling kecil
atau dengan kata lain, setiap satu satuan bebas adalah merupakan kata. Jadi satuansatuan rumah, duduk, penduduk, kependudukan, negara, negarawan, pemimpin,
kepemimpinan, berkepimpinan, ruang, ruangan, buku, ketidakadilan, mencampuradukan,
pertanggungjawaban dan sebagainya, masing-masing merupakan satu satuan bebas. Bagi
Ramlan, ciri utama untuk menyatakan satu bentuk adalah kata atau tidak, yakni sifat
kebebasanya. Sependapat dengan Ramlan, Mansoer Pateda juga mengatakan bahwa ciri
kebebasanlah yang membedakan kata dengan morfem, meskipun diakuinya bahwa ada
morfem yang disebut dengan morfem bebas, yang kemudian dapat pula disebut dengan
kata.
Kemudian, terlepas dari adanya perbedaan antara kata dan morfem, berdasarkan
distribusinya, morfem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1). Morfem bebas, ialah morfem yang dapat berdiri sendiri. Setiap morfem bebas sudah
disebut kata. Misalnya : / kata /, /jalan /, /rumah/, / buku/, / mandi/ dsb.
2). Morfem terikat, ialah morfem yang tidak dapt berdiri sendiri, kehadiranyya
bersama-sama dengan morfem yang lain. Misalnya /-an/, / do-/, / ber-/, / me-n/
(Suparno, 2007: 102 ).
Di samping itu, selain dari dua macam pembagian morfem diatas, suatu
pembagian yang ada kaitanya dengan perubahan bentuk adalah pembagian morfem ke
dalam derivasi dan infeleksi ( deivational and infleksional ). Deviasi adalah suatu bentuk
perubahan yang bergeda distribusinya dengan bentuk dasarnya dan mengakibatkan
terjadinya perubahan kelas kata. Sebagai contoh misalnya derivsi dalam bahasa Biak,
berikut:
Kata Kerja
Kata Benda
Wos ( berkata
Fir ( berrfikir )
Ker ( menanam )
Fau ( maengetahui )
Wawos ( perkataan )
Fakir ( pikiran )
Kaker ( tanaman )
Fafau ( pengetahuan )
Sedangkan infleksi tidak berubah jenis asal kata menjadi jenis kelas kata lain,
melainkan hanya memodifikasikan tanda-tanda gramatik seperti jumlah, pelaku, jenis
kelamin dsb. Suatu contoh infleksi dalam bahasa Inggris, mengutip dalam buku “
Linguistik suatu pengantar”, karangan Chaidar Alwasilah hal. 102 yang diambil dari
buku “ the way of language “, hal.112 adalh sbb :
I carry
I Will carry
We carry
You carry
You will carry
You carry
3. Proses Morfologis
Menurut Ramlan (2000: 7), proses morfologis adalah proses pembentukan katakata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Sedangkan menurut Jos Daniel
Parera, proses morfologis sebagai sebetuan lain dari proses-proses morfemis adalah
merupakan proses pemebntukan kata bermorfem jamak, baik derivatif maupun inflektif.
Proses ini disebut morfemis karena proses ini benrmakna dan berfungsi sebagai
pelengkap makna leksikaln yang dimiliki oleh sebuah bentuk dsar. Menurut beliau, pada
umunya morfemis dapat dibedakan atas:
1). Proses morfemis afikasasi,
2). Proses morfemis pergantian/perubahan internal,
3). Proses morfemis pengulangan,
4). Proses morfemis zero,
5). Proses morfemis suplisi dan,
6). Proses morfemis suprasegmental.
a. Proses morfemis afikasasi
Merupakan suatu proses yang paling umum terjadi dalam suatu bahasa. Proses ini
terbentuk bila sebiah morfem terikat dibubuhkan atau dilekatkan pada sebuah morfem
bebas, dengan perkataan lain, proses ini terjadi dengan cara menambahkan afiks pada
bentuk daar. Afiks ini dapat dibedakan atas imbuhan awalan ( prefiks ), sisipan ( infiks ),
akhiran ( sufiks ), dan imbuhan terbagi ( konfiks ).
b. Proses Pergantian / Perubahan Internal
Adalah suatu proses berupa perubahan unsur di dalam bentuk dasar atau di dalam
tubuhnya sendiri, disebut juga perubahan internal. Berupa adanya pergantian salah satu
fonemnya, baik konsonan, vokal maupun ciri – ciri suprasagmentalnya. Contoh dalam
bahasa Inggris :“ Foot “ = kaki ( tunggal ),--------- “ feet “ = kaki = ( jamak ).
c. Proses Pengulangan / Duplikasi
Adalah proses berupa pengulangan kata dari kata dasarnya. Contoh : Oleh :oleh -----------oleh.
d. Proses Zero
Adalah proses morfologis dimana morfem-morfemnya tidak mengalami
perubahan. Contoh ( bahasa Inggris ) : Sheep ( tunggal )---------------Shepp ( jamak )
Deer ( Tunggal-----------------Deer ( jamak ).
e. Proses Suplisi
Adalah proses morfologis dimana morfem-morfemnya tidak mengalami
perubahan. Contoh ( bahasa Inggris ) :Good--------Best. Dan Go------------Went
f. Proses Morfemis Suprasegmental
Adalah suatu proses morfologis yang didasarkan atas sifat morfemis suatu bahasa.
Misalnya dalam bahasa Inggris yang mengenal proses morfemis tekanan.
Dari semua proses morfologis di atas, suatu bahasa belum tentu mengenal keenam
macam tersebut. Sebagai contoh misalnya dalam bahasa Indonesia, dimana hanya
mengenal tiga macam proses, yaitu afikasi dan duplikasi serta ditambah satu lagi, namun
tidak termasuk dalam enam macam di atas yaitu kata majemuk.
Lalu bagaimana halnya proses morfologis yang terjadi dalam bahasa Arab?
Sejauh ini, penulis belum menemukan suatu kajian yang secara khusus membahas
tentang hal tersebut. Namun, penulis melihat bahwa proses afikakasasi sebagai suatu
proses yang umum terjadi pada suatu bahasa, juga terjadi dalam bahasa Arab, aganya
bentuk proses-proses morfologis yang lain, perlu diadakan duatu penelitian lebih lanjut
guna memastikan berlaku atau tidaknya proses-proses morfologis tersebut dalam bahasa
Arab.
3. Proses Morfologis dan Makna
Di muka kita telah membicarakan tentang morfem bebas dan morfem terikat. Kita
juga telah membicarakan tentang proses morfemis derivasional dan infleksional, dalam
pengertian bahwa derivasi dan infleksi di sini dibatasi pada proses afikasi. Lalu, apa
kaitan semua hal tersebut terhadap makna? Sebelum menjawab kalau kita memahami
terlebih dahulu, bahwa pada umunya para ahli bahasa membagi makna menjadi dua, yaitu
makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna dasar dari sebuah
kata yang memiliki arti seperti dujelaskan dalam kamus, sedangkan makna gramatikal
adalah makna pelengkap dari sebuah makna leksiakal.
Berangkat dari pembagian ini, maka dalam hubunganya dengan makna sebuah
morfem bebas memiliki makna leksikal dan sebuah morfem terikat mempunyai makna
gramatikal. Atau dengan perkataan lain, morfem terikat adalah unsur yang ikut
mendukung makna. Demikian pula keadaanya pada proses morfologis afikasi yang tidak
bisa terlepas kaitanya dengan morfem bebas dan morfem terikat ini. Suatu kata dengan
adanya proses afikasi mengalami perubahan makna, baik secara leksikal maupun secra
gramatikal. Kata dasar misalnya, melalui proses afikasi dengan afikasi ke-an, akan
berubah menjadi kelaparan dimana morfem bebas “lapar” menagandung makna leksikal,
dan morfem tareiakat “ ke-an “ mengandung makna gramatikal, tentunya hal yang sama
juga terjadi pada bentuk afiks yang lainnya. Ringkasnya bahwa ada hubungan antara
proses morfologis disatu pihak dan makna dipihak lainnya, baik pada makna leksikal
maupun pada makna gramatikalnya.
C. Hubungan antara Tashreif dengan Morfologi
Dengan memperhatikan pembahasan pada bidang / bagian tashrif dan morfologi
di muka, baik dari segi pengertian dan macam-macamnya, maka kita melihat adanya
kemiripan diantara keduanya. Bahakan Drs. Chaedar Alwasilah dalam bukunya “
Lingusitik Suatu Pengantar “ mengatakan bahwa :
“Dalam lingusitik bahasa Arab, morfologi adalh tashrif, yaitu perubahan (asal)
kata menjadi bermacam bentuk untuk mendaptkan makna yang berbeda, yang
tanpa perubahan ini, makna yang berbeda tak akan terlahirkan”.
Di samping itu, Jonathan Owens dalam bukunya The Foundations of Grammar
menyatakan hal yang hampir sama. Menurut beliau:
“The core of Arabic morfology revolves around the conceps of tashrif whish
can be broadly translated as morfhology (bahwa inti dari morfologi dalam bahsa
Arab adalah sekitar konsep dari Tashrif, yang secara luas diartikan sebagai “
morfologis”. (Owens, 1989: 98)
Selanjutnya, sebagimana dimaklumi bahwa dalam tashrif dikenal adanya
pembedaan antara tashrif inshthilahi dan tashrif lughowi. Dua macam tashrif tersebut bila
kita bandingkan dengan pembagian morfem secara derivasional dan inflesional, juga
menujukan hal yang hampir sama. Dimana tashrif isnthilahi identik dengan derivasi dan
tashrif dan tashrif lughowi identik dengan infleksi. Kemudian mengenai penggunaan
morfem bebas dan morfem terikat, dalam bahasa Arab biasanya mengenal adanya
perbedaan anatara “ kalimah mujarradah “ dan “ kalimah mazidah “. Kalimah mujarradah
untuk menyebutkan kata dasar ( baik sulasi maupun ruba’i “ sedangkan kalimah mazidah
untuk menyebutkan kata yang mendapatkan imbuhan pada kata dasarnya.
Dalam bahasa Arab huruf imbuhan biasa disebut dengan “ huruf ziyadah “.
Adapun jumlahnya adalah sepuluh huruf, yang terangkum dalam perkataan “
saaltumuniha “, yaitu huruf sin ( ‫) ﺱ‬, hamzah ( ‫ء‬
‫)ﻡ‬, wawu (
‫)ﻭ‬, nun (
‫ﻥ‬
), ya ( ‫) ﻱ‬, ha (
), lam ( ‫) ﻝ‬, ta (
‫ ) ﻫﺎ‬dan alif ( ‫ﺍ‬
‫) ﺕ‬, mim (
).
Kemudian, dikaitkan dengan proses morfologis afikasi dalam suatu bahasa,
ternyata bahwa penambahan huruf-huruf ziyadah pada suatu kata dasar dalam bahasa
Arab ( sehingga terjadi perubahan dari kata mujarrad menajdi kata mazid ) menagrah ke
hal tersebut, dalam arti bahwa dalam bahasa Arab juga terdapat proses morfologis afikasi
dalam kasus yang ditunjukkan oleh huruf ziyadah. Disamping itu, seperti umumnya
proses morfologis afikasasi mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk dan arti suatu
kata, maka penambahan satu dua atau tiga huruf pada kata dasar dalam bahasa Arab pun
menunjukkan hal yang sama.
Penutup
Pada dasarnya terdapat cara yang digunakan dalam proses perubahan bentuk kata
kerja dalam bahasa arab,yang dikenal dengan mentashrief . Bahasa Arab dapat dipahami
dengan baik dan benar apabila cara mentashrief ini dapat dipahami dengan baik. Cara
mentashrief ini biasanya dengan menambahkan atau memberi imbuhan satu, dua, tiga
huruf ziyadah. Dalam tashrief perubahan bentuk kata ditinjau dari asal-usul terciptanya
kata, perubahan bentuk kata karena penambahan jumlah hurufnya, perubahan bentuuk
kata karena perbedaan.
Dalam morpologi perubahan bentuk kata adalah pembagian morfem ke dalam
derivasi dan infeleksi (deivational and infleksional). Deviasi adalah suatu bentuk
perubahan yang bergeda distribusinya dengan bentuk dasarnya dan mengakibatkan
terjadinya perubahan kelas kata. adanya kemiripan diantara tashrief dan morfologi. dalam
tashrif dikenal adanya pembedaan antara tashrif inshthilahi dan tashrif lughowi. Dua
macam tashrif tersebut bila kita bandingkan dengan pembagian morfem secara
derivasional dan inflesional, juga menujukan hal yang hampir sama. Dimana tashrif
isnthilahi identik dengan derivasi dan tashrif dan tashrif lughowi identik dengan infleksi.
Daftar Pustaka
Ali Muhammad Al-Qasimi, Ittihat fi Ta’limi al-Lhogah al-Arabiyah (Mekkah: Al-Riyad,
2007)
Ahmad Fauzan Zein Ali
Kudus, 1963)
Muhammad, Qawa’id al-Shorofiyyah (Semarang: Menara
Ali Ma’sum, Al-Amsilah Al-Tashrifiyyah (Se,marang: Pustaka al-Alawiyah, t.t)
Jonathan Owen, The Fundations of Grammer and Intrucrion ti Medeivel Arabic
Gramatical Theory (Amsterdam: Benyamin Publishing Company)
John M.Echols, Kamus inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1999)
Louis Ma’luf, Al-Munjid Fi Al-Lughah wa al-‘alam (Beirut: Makatabah alSyarikah,1986), p. 422
Mansoer Pateda, Linguistik Sebuah Pengantar (Bandung: Angkasa, 2005)
M.Ramlan, Morfologi (Yogyakarta: Cv Karyono, 2000),
Syaikh Muhammad Musthafa al-Ghulaiyaini, Jami’ al-Durui Al- ‘Arabiyyah (Beirut:
Maktabah al-Misriyyah, 1984)
Sudaryanto, Metode Linguistik (Yogyakarta: Gajah Mada Press, 2002)
Syaikh Muhyidin al-Khiyat, Durus Al-Sharfi wa al-Nahwi (Jeddah: Al-Haramin, t.t)11
Suparno, Dasar-dasar Lingusitik (Yogyakarta: Mitra Gamma Widya, 2007)
Download