MEMAHAMI GRATIFIKASI Anda sebagai anggota Panitia

advertisement
MEMAHAMI GRATIFIKASI
Anda sebagai anggota Panitia Pengadaan Barang/Jasa menerima sejumlah uang senilai Rp. 5 juta dari
penyedia barang/jasa. Anda menerima hadiah perkawinan dari mitra kerja dari
Kementerian/Lembaga lain senilai Rp. 2juta. Anda menerima barang tanpa diketahui siapa
pengirimnya? Apakah pemberian tersebut termasuk Gratifikasi? Apa yang harus Anda lakukan jika
menerima pemberian tersebut?
Sebagai panduan tentang Gratifikasi bagi pejabat/pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan,
pada tanggal 23 April 2015 Menteri Keuangan telah menetapkan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 83/PMK.01/2015 tentang Pengendalian Gratifikasi di lingkungan Kementerian Keuangan.
Apa yang dimaksud Gratifikasi?
Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman
tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan
fasilitas lainnya, baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri, yang dilakukan dengan
menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.
Peraturan apa yang mewajibkan pelaporan Gratifikasi?
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Pasal 16 mengatur bahwa setiap pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang menerima Gratifikasi wajib melaporkan kepada Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Pasal 4 Angka 8 mengatur bahwa setiap PNS dilarang
menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan
jabatan dan/atau pekerjaannya. Pada penjelasan Pasal 4 Angka 8 tersebut diatur bahwa PNS dilarang
menerima hadiah, padahal diketahui dan patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai
akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
Apakah semua Gratifikasi wajib dilaporkan?
Jawabannya TIDAK.
Gratifikasi yang diterima oleh pegawai, dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan
a. Terkait kedinasan
1) Seminar kit kedinasan;
2) Kompensasi yang diterima terkait kegiatan kedinasan: honorarium, transportasi,
akomodasi, pembiayaan yang telah ditetapkan dalam standar biaya yang berlaku di
instansi penerima Gratifikasi, sepanjang tidak terdapat pembiayaan ganda, tidak
terdapat benturan kepentingan, tidak melanggar ketentuan yang berlaku di instansi
penerima.
b. Tidak terkait kedinasan
1) Hadiah langsung/undian, diskon, voucher, point rewards, atau souvenir yang berlaku
umum dan tidak terkait dengan kedinasan;
2) Prestasi akademis atau non akademis (kejuaraan/perlombaan/kompetisi) dengan biaya
sendiri dan tidak terkait dengan kedinasan;
3) Keuntungan/bunga dari penempatan dana, investasi atau kepemilikan saham pribadi yang
berlaku umum dan tidak terkait dengan kedinasan;
4) Kompetisi atas profesi di luar kedinasan yang tidak terkait dengan tugas fungsi dari
pegawai negeri atau penyelenggara negara, dan tidak melanggar benturan kepentingan
dan kode etik pegawai;
5) Pemberian karena hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus dua derajat
atau dalam garis keturunan kesamping satu derajat sepanjang tidak mempunyai
benturan kepentingan dengan penerima Gratifikasi;
6) Pemberian karena hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus dua derajat
atau dalam garis keturunan kesamping satu derajat sepanjang tidak mempunyai
benturan kepentingan dengan penerima Gratifikasi;
7) Pemberian yang berasal dari pihak lain sebagai hadiah perkawinan, khitanan anak, ulang
tahun, kegiatan keagamaan/adat/tradisi, dengan nilai keseluruhan paling banyak
RP1.000.000,- dari masing-masing pemberi pada setiap kegiatan atau peristiwa tersebut
dan bukan dari pihak yang mempunyai benturan kepentingan dengan penerima
Gratifikasi;
8) Pemberian dari pihak lain terkait dengan musibah dan bencana, dan bukan dari pihakpihak yang mempunyai benturan kepentingan dengan penerima Gratifikasi.
2. Gratifikasi yang wajib dilaporkan, adalah Gratifikasi yang diterima oleh Pegawai yang
berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.
Bagaimana Mekanisme Pelaporan Gratifikasi? Anda harus lapor kemana?
1. Pelaporan melalui Bagian Kepatuhan dan Bantuan Hukum (KBH) DJA
Anda menyampaikan laporan penerimaan Gratifikasi kepada KPK melalui Bagian KBH DJA selaku
Unit Pengendali Gratifikasi (UPG), baik secara manual atau melalui media elektronik (email:
[email protected]) dengan mengisi formulir laporan Gratifikasi paling lambat dalam
waktu 7 hari kerja terhitung sejak diterimanya Gratifikasi.
Apa yang dilakukan Bagian KBH setelah menerima laporan tersebut?
Laporan penerimaan Gratifikasi selanjutnya dicatat dan direviu oleh Bagian KBH.
Reviu yang dilakukan oleh Bagian KBH terdiri dari:
a. Reviu atas kelengkapan data/berkas terkait laporan penerimaan Gratifikasi; dan
b. Reviu atas laporan penerimaan Gratifikasi.
Dalam hal diperlukan, Bagian KBH dapat meminta keterangan/konfirmasi terkait dengan
laporan penerimaan Gratifikasi kepada Anda atas hasil reviu laporan penerimaan Gratifikasi
dimaksud.
Dalam hal hasil reviu laporan penerimaan Gratifikasi dinyatakan bahwa Gratifikasi yang Anda
terima termasuk dalam kategori Gratifikasi yang wajib dilaporkan, Bagian KBH menyampaikan
laporan penerimaan Gratifikasi tersebut kepada KPK paling lama 7 hari kerja terhitung sejak
tanggal laporan penerimaan Gratifikasi diterima, dengan tembusan laporan kepada Inspektorat
Jenderal selaku UPG Koordinator.
2. Pelaporan melalui KPK
Dalam hal penyampaian laporan penerimaan Gratifikasi telah melebihi waktu 7 hari kerja
terhitung sejak diterimanya Gratifikasi, maka Anda wajib menyampaikan laporan penerimaan
Gratifikasi secara langsung kepada KPK.
Setelah Anda melapor langsung kepada KPK, Anda harus menyampaikan pemberitahuan
pelaporan Gratifikasi dimaksud kepada Bagian KBH disertai dengan bukti copy/scan bukti
pelaporan/bukti tanda terima pelaporan kepada KPK paling lambat 7 hari kerja setelah laporan
penerimaan Gratifikasi disampaikan kepada KPK.
Berapa batas waktu penyampaian laporan penerimaan Gratifikasi kepada KPK?
Laporan Gratifikasi dilaporkan penerima Gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja
terhitung sejak tanggal Gratifikasi diterima.
Seperti apa bentuk Formulir Laporan Gratifikasi?
Formulir laporan penerimaan Gratifikasi paling kurang memuat:
a. Nama dan alamat lengkap Anda dan Pemberi Gratifikasi;
b. Jabatan Anda;
c. Tempat dan waktu penerimaan Gratifikasi;
d. Uraian jenis Gratifikasi yang diterima dengan melampirkan bukti dalam bentuk sampel atau
foto;
e. Nilai atau taksiran nilai Gratifikasi yang diterima;
f. Kronologis penerimaan Gratifikasi.
Formulir laporan penerimaan Gratifikasi dapat diunduh di: http://www.kpk.go.id/id/layananpublik/Gratifikasi/formulir-Gratifikasi
Jika Anda masih ragu dalam menilai apakah suatu pemberian yang diterima termasuk Gratifikasi
atau tidak, Anda dapat berpedoman pada beberapa pertanyaan reflektif sebagai berikut:
No.
Pertanyaan Reflektif
Jawaban
(pertanyaan kepada diri sendiri)
(Apakah pemberian cenderung ke arah Gratifikasi
ilegal/suap atau legal)
1. Apakah motif dari pemberian Jika motifnya menurut dugaan Anda adalah
hadiah yang diberikan oleh pihak ditujukan untuk mempengaruhi keputusan Anda
pemberi kepada Anda?
sebagai pejabat publik, maka pemberian tersebut
dapat dikatakan cenderung ke arah Gratifikasi ilegal
dan sebaiknya Anda tolak.
Seandainya “karena terpaksa oleh keadaan”
Gratifikasi diterima, sebaiknya segera laporkan ke
Bagian KBH atau KPK.
2.
a. Apakah pemberian tersebut
diberikan oleh pemberi yang
memiliki
hubungan
kekuasaan/posisi setara dengan
Anda atau tidak? Misalnya
pemberian tersebut diberikan oleh
bawahan, atasan atau pihak lain
yang
tidak
setara
secara
kedudukan/posisi
baik
dalam
lingkup hubungan kerja atau
konteks sosial yang terkait kerja.
Jika jawabannya adalah ya (memiliki posisi setara),
maka bisa jadi kemungkinan pemberian tersebut
diberikan atas dasar pertemanan atau kekerabatan
(sosial), meski demikian untuk berjaga-jaga ada
baiknya Anda mencoba menjawab pertanyaan 2b.
Jika jawabannya tidak (memiliki posisi tidak setara)
maka Anda perlu mulai meningkatkan kewaspadaan
Anda mengenai motif pemberian dan menanyakan
pertanyaan 2b untuk mendapatkan pemahaman
lebih lanjut.
b. Apakah terdapat hubungan Jika jawabannya ya, maka pemberian tersebut patut
relasi
kuasa
yang
bersifat Anda duga dan waspadai sebagai pemberian yang
strategis? Artinya terdapat kaitan cenderung ke arah Gratifikasi ilegal.
berkenaan
dengan/menyangkut
akses ke aset-aset dan kontrol atas
aset-aset sumberdaya strategis
ekonomi, politik, sosial, dan
budaya yang Anda miliki akibat
posisi Anda saat ini seperti
misalnya
sebagai
panitia
pengadaan barang dan jasa atau
lainnya.
3.
Apakah
pemberian
tersebut
memiliki potensi menimbulkan
konflik kepentingan saat ini
maupun di masa mendatang?
Jika jawabannya ya, maka sebaiknya pemberian
tersebut Anda tolak dengan cara yang baik dan
sedapat mungkin tidak menyinggung.
Jika pemberian tersebut tidak dapat ditolak karena
keadaan tertentu maka pemberian tersebut
sebaiknya dilaporkan dan dikonsultasikan ke bagian
KBH atau KPK untuk menghindari fitnah atau
memberikan kepastian jawaban mengenai status
pemberian tersebut.
4.
Bagaimana metode pemberian Anda patut mewaspadai Gratifikasi yang diberikan
dilakukan? Terbuka atau rahasia?
secara tidak langsung, apalagi dengan cara yang
bersifat sembunyi-sembunyi (rahasia). Adanya
metode pemberian ini mengindikasikan bahwa
pemberian tersebut cenderung ke arah Gratifikasi
ilegal.
5.
Bagaimana kepantasan/kewajaran Jika pemberian tersebut di atas nilai kewajaran yang
nilai dan frekuensi pemberian yang berlaku di masyarakat ataupun frekuensi pemberian
diterima (secara sosial)?
yang terlalu sering sehingga membuat orang yang
berakal sehat menduga ada sesuatu di balik
pemberian tersebut, maka pemberian tersebut
sebaiknya Anda laporkan ke Bagian KBH atau KPK
atau sedapat mungkin Anda tolak.
Contoh-Contoh Kasus Gratifikasi
1. Pemberian barang (souvenir, makanan,dll) oleh kawan lama atau tetangga
Saat penyelenggara negara/pegawai negeri bertugas ke luar daerah, yang bersangkutan
bertemu dengan kawan lama dan kemudian diberi oleh-oleh berupa makanan, hiasan untuk
rumah dan kerajinan lokal. Dalam kondisi demikian, apakah hal tersebut termasuk Gratifikasi?
Apakah pemberian souvenir, makanan oleh kawan lama/tetangga termasuk konsep gratifikasi
yang dilarang?
Pada prinsipnya pemberian kepada penyelenggara negara/pegawai negeri seperti contoh di
atas tidak dapat digolongkan sebagai gratifikasi yang dilarang karena hanya berdasar pada
hubungan perkawanan/kekerabatan saja dan dalam jumlah yang wajar.
Gratifikasi seperti contoh di atas bukan termasuk Gratifikasi sebagaimana diamanahkan oleh
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001.
Sebagaimana makhluk sosial yang hidup bermasyarakat, bertetangga dan tentunya
bersosialisasi bukan berarti kita menghilangkan peran-peran dan konsekuensi sosial
kemasyarakatan yang telah ada.
Namun jika pemberian tersebut terkait dengan pekerjaan atau jabatan yang diemban oleh
penyelenggara negara/pegawai negeri, maka sebaiknya pemberian tersebut ditolak atau
melaporkannya kepada KPK.
2. Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih atas jasa yang diberikan
Apakah pemberian hadiah/uang sebagai ucapan terima kasih atas jasa yang diberikan oleh
instansi pelayanan publik termasuk konsep Gratifikasi yang dilarang?
Walaupun pemberian tersebut diberikan secara sukarela dan tulus hati kepada petugas
layanan, tetapi pemberian tersebut dapat dikategorikan sebagai pemberian yang
berhubungan dengan jabatan dan berkaitan dengan kewajiban penyelenggara
negara/pegawai negeri, karena pelayanan yang baik memang harus diberikan oleh petugas
sebagai bentuk pelaksanaan tugasnya. Oleh karena itu, masyarakat berhak dan pantas untuk
mendapatkan layanan yang baik.
Sebaiknya petugas menolak pemberian dan menjelaskan kepada pengguna layanan bahwa
apa yang dilakukannya adalah bagian dari tugas dan kewajiban petugas tersebut.
Untuk pengguna layanan sebaiknya tidak memberikan uang/benda apapun sebagai tanda
terima kasih atas pelayanan yang dia dapat, karena pelayanan yang diterima tersebut sudah
selayaknya diterima. Kebiasaan memberi hadiah/uang sebagai wujud tanda terima kasih
kepada petugas, akan memicu lahirnya budaya "mensyaratkan" adanya pemberian dalam
setiap pelayanan publik.
3. Pemberian sumbangan/hadiah pernikahan penyelenggara negara/pegawai negeri pada saat
Penyelenggara Negara/Pegawai Negeri menikahkan anaknya.
Apakah pemberian sumbangan pernikahan kepada penyelenggara negara/pegawai negeri
yang menikahkan anaknya termasuk konsep Gratifikasi yang dilarang?
Ya, jika dalam pemberian ini terkandung vested interest dari pihak pemberi terkait dengan
jabatan serta tugas dan kewajiban penyelenggara negara/pegawai negeri sebagai penerima
Gratifikasi.
Tidak, jika dalam pemberian ini tidak terkandung vested interest dari pihak pemberi terkait
dengan jabatan serta tugas dan kewajiban penyelenggara negara/pegawai negeri sebagai
penerima Gratifikasi.
Untuk pemberian yang tidak dapat dihindari/ditolak oleh penyelenggara negara/pegawai
negeri dalam suatu acara yang bersifat adat atau kebiasaan, seperti upacara pernikahan,
kematian, ulang tahun ataupun serah terima jabatan, maka penyelenggara negara/pegawai
negeri wajib melaporkan kepada Bagian KBH paling lambat dalam waktu 7 hari kerja
terhitung sejak diterimanya Gratifikasi atau KPK paling lambat 30 hari kerja sejak penerimaan
Gratifikasi tersebut.
Dalam pelaporan gratifikasi pernikahan, akan diminta data-data/dokumen pendukung sebagai
berikut:
a. Daftar rencana undangan;
b. Contoh undangan;
c. Daftar tamu yang hadir/buku tamu;
d. Rincian lengkap daftar sumbangan per undangan;
e. Daftar pemberian berupa karangan bunga dan natura lainnya.
Dari data-data tersebut, akan dianalisa apakah terdapat pemberian dari orang atau pihak yang
ada hubungannya dengan pekerjaan atau jabatan dari penyelenggara negara/pegawai negeri
tersebut. Selanjutnya akan dilakukan klarifikasi dan verifikasi terlebih dahulu kepada Anda,
dan dari hasil analisa dan hasil klarifikasi dan verifikasi tersebut selanjutnya akan diterbitkan
SK Penetapan Status Kepemilikan Gratifikasi.
Bagaimana dengan Gratifikasi yang berupa barang mudah busuk atau rusak?
Penerimaan Gratifikasi yang berupa barang mudah busuk atau rusak, antara lain bingkisan
makanan dan/atau buah yang dikhawatirkan kadaluarsa dan sulit dikembalikan kepada pemberi
Gratifikasi, dapat langsung disalurkan oleh Bagian KBH ke panti asuhan, panti jompo, atau
tempat sosial lainnya.
Penyaluran atas penerimaan Gratifikasi di atas dilaporkan oleh Bagian KBH kepada KPK disertai
dengan penjelasan dan dokumentasi penyerahan dengan tembusan laporan kepada Inspektorat
Jenderal.
Apa yang dilakukan oleh KPK setelah menerima laporan Gratifikasi?
KPK dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal laporan diterima
wajib menetapkan status kepemilikan Gratifikasi disertai pertimbangan.
Pertimbangan yang dimaksud adalah KPK melakukan analisa terhadap motif dari Gratifikasi
tersebut, serta hubungan pemberi dengan penerima Gratifikasi. Ini dilakukan untuk menjaga agar
penetapan status Gratifikasi dapat seobyektif mungkin.
Dalam menetapkan status kepemilikan Gratifikasi, KPK dapat memanggil penerima Gratifikasi
untuk memberikan keterangan berkaitan dengan penerimaan Gratifikasi.
Pemanggilan yang dimaksud adalah jika diperlukan untuk menunjang objektivitas dan keakuratan
dalam penetapan status Gratifikasi, serta sebagai media klarifikasi dan verifikasi kebenaran
laporan Gratifikasi penyelenggara negara atau pegawai negeri.
Status kepemilikan Gratifikasi ditetapkan dengan keputusan Pimpinan KPK. Keputusan
Pimpinan KPK dapat berupa penetapan status kepemilikan Gratifikasi bagi penerima Gratifikasi
atau menjadi milik negara.
KPK wajib menyerahkan keputusan status kepemilikan Gratifikasi kepada penerima Gratifikasi
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditetapkan.
Bagaimana dengan tindak lanjut setelah penetapan Gratifikasi?
Kewajiban penyerahan Gratifikasi dilakukan setelah mendapat penetapan status kepemilikan
Gratifikasi oleh Pimpinan KPK.
Dalam hal penetapan status Gratifikasi ditetapkan menjadi milik negara, Anda menyerahkan
Gratifikasi tersebut kepada KPK dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Untuk Gratifikasi berbentuk uang, Anda menyetor uang Gratifikasi dimaksud ke rekening KPK
dan menyampaikan bukti setor dimaksud kepada KPK dengan tembusan kepada Bagian KBH
dan Inspektorat Jenderal.
b. Untuk Gratifikasi berbentuk barang, Anda menyerahkan barang Gratifikasi dimaksud kepada
KPK dan menyampaikan bukti tanda terima barang oleh KPK kepada Bagian KBH dan
Inspektorat Jenderal.
Penyerahan gratifikasi yang menjadi milik negara kepada Menteri Keuangan, dilakukan
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditetapkan.
Jika saya menolak Gratifikasi, apakah saya tetap wajib menyampaikan laporan?
Jawabannya, YA. Hal ini untuk mencegah/menghindari fitnah di kemudian hari apabila terdapat
pihak lain yang menyampaikan pengaduan atau informasi bahwa Anda telah menerima
Gratifikasi.
Pegawai yang menolak penerimaan Gratifikasi wajib melaporkan penolakan Gratifikasi kepada:
a. Bagian KBH; atau
b. Secara langsung kepada KPK dengan tembusan Bagian KBH secara manual atau melalui media
elektronik.
Laporan penolakan Gratifikasi disampaikan dalam jangka waktu paling lama 7 hari kerja
terhitung sejak tanggal Anda menolak Gratifikasi.
Laporan penolakan Gratifikasi paling kurang memuat:
a. Nama dan alamat lengkap Anda dan pemberi Gratifikasi;
b. Jabatan Anda;
c. Tempat dan waktu penolakan Gratifikasi;
d. Uraian jenis Gratifikasi yang ditolak dan/atau nilai dan taksiran nilai Gratifikasi yang ditolak;
e. Kronologis penolakan Gratifikasi.
Bagaimana dengan Gratifikasi yang telah ditetapkan sebagai tindak pidana korupsi dan/atau
yang sedang dalam proses hukum?
Ketentuan mengenai laporan Gratifikasi di atas dikecualikan bagi Gratifikasi yang telah
ditetapkan sebagai tindak pidana korupsi dan/atau yang sedang dalam proses hukum.
Jika saya tidak menyampaikan laporan, apakah ada sanksinya?
a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Pasal 12B ayat (2)
Pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun
dan pidana denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Pasal 13 angka 8
Hukuman disiplin berat bagi pelanggaran terhadap larangan menerima hadiah atau suatu
pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau
pekerjaannya sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 angka 8.
Secara singkat, pengelolaan Gratifikasi di lingkungan DJA dapat digambarkan sebagai berikut:
Menolak = Lapor Penolakan
PP 53/2010
PEGAWAI
Pidana Denda : min 200 jt – max 1 M
Dianggap Suap
Tidak Dianggap
Suap

Sanksi
Max 7 Hari Kerja
Hukuman Disiplin Tingkat Berat
Berhubungan
dengan jabatan
Menerima
GRATIFIKASI
Pidana Penjara: seumur hidup / min 4 th – max 20 th
Berlawanan dengan
kewajiban/tugas
Terkait dengan
Kedinasan
KPK
Jika TIDAK
dilaporkan
Max 7 Hari Kerja
Max 30 Hari Kerja
Bag. KBH
Wajib dilaporkan
Max 7 Hari Kerja
Tidak Wajib
dilaporkan
Tidak Terkait
Kedinasan
Analisa
Verifikasi
Klarifikasi
Rekomendasi
Menjadi Milik Negara
Penyampaian Keputusan Max 10 Hari Kerja
Menjadi Milik Penerima
Penyampaian Keputusan Max 7 Hari Kerja
Penetapan status
Gratifikasi oleh
Pimpinan KPK
Tindak Lanjut oleh KPK max 30 Hari Kerja
UU 20/2001
Pada tanggal 24 Juni 2015 bertempat di Aula Mezanine Gedung Djuanda I Kementerian
Keuangan, telah dilakukan penandatanganan Pernyataan Komitmen Penerapan Program
Pengendalian Gratifikasi di lingkungan Kementerian Keuangan oleh Menteri Keuangan dan
seluruh pejabat eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan disaksikan oleh Pimpinan KPK,
Menteri PAN dan RB serta Pimpinan Ombudsman.
Kementerian Keuangan berkomitmen untuk menerapkan program pengendalian Gratifikasi guna
mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di lingkungan Kementerian Keuangan,
dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip Dasar:
a. Kementerian Keuangan tidak akan menawarkan atau memberikan suap, Gratifikasi atau
uang pelicin dalam bentuk apapun kepada lembaga, perseorangan atau kelembagaan,
perusahaan domestik atau asing untuk mendapatkan berbagai bentuk
manfaat/kemudahan sebagaimana dilarang oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
b. Kementerian Keuangan tidak akan meminta atau menerima suap, Gratifikasi, dan uang
pelicin dalam bentuk apapun dari perseorangan atau kelembagaan, perusahaan domestik
atau asing terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsi sebagaimana dilarang oleh
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Kementerian Keuangan bertanggungjawab untuk mencegah dan mengupayakan
pencegahan korupsi di lingkungannya dengan meningkatkan integritas, pengawasan, dan
perbaikan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
2. Kementerian Keuangan akan menerapkan dan melaksanakan fungsi pengendalian Gratifikasi
di lingkungan Kementerian Keuangan.
3. Kementerian Keuangan akan mempersiapkan sumber daya yang diperlukan dalam penerapan
program pengendalian Gratifikasi di lingkungan Kementerian Keuangan, yang meliputi antara
lain kegiatan penyusunan aturan, training of trainers (ToT), sosialisasi/diseminasi, pemetaan
area rawan Gratifikasi, pemrosesan pelaporan penerimaan hadiah/fasilitas serta monitoring
dan evaluasi.
4. Kementerian Keuangan akan menjaga kerahasiaan data pelapor penerima hadiah/fasilitas
kepada pihak manapun, kecuali diminta berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Semoga informasi ini membuat Anda semakin memahami Gratifikasi. Ayo laporkan sebelum
Gratifikasi Anda ditetapkan sebagai tindak pidana korupsi dan/atau dalam proses hukum (KBH).
Download