9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Belajar dan Pembelajaran
1. Belajar
Menurut Jamil (2014 : 13) Istilah belajar berasal dari bahasa inggris
yaitu “Learning”. Belajar merupakan suatu proses perubahan kegiatan
dan reaksi terhadap lingkungan. Menurut Brown (Muhammad & Arif,
2011: 18-19) Belajar adalah menguasai atau memperoleh, mengingatingat informasi atau ketrampilan dan suatu perubahan dlam perilaku.
Menurut Woolfolk (Koohang, 2009: 92) mengatakan bahwa:
“learning is active mental work, not passive reseption of teaching,”.
Artinya belajar adalah proses mental yang aktif, bukan penerimaan pasif
dari sebuah pengajaran. Selanjutnya ia juga menambahkan bahwa belajar
adalah :
“...the students actively proces to contruct their own knowledge: the
mind of the student mediates input from the outside world to
determine what the student will learn.”
Artinya, belajar merupakan sebuah proses dimana siswa secara aktif
membangun pengetahuannya sendiri dengan cara memasukkan apa yang
ia peroleh dari luar ke dalam pikirannya.
Menurut Sudjana (Asep & Abdul, 2008:2) Belajar adalah suatu
proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang,
perubahan sebagia hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai
bentuk seperti pada perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan
9
tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan yang
ada pada individu yang belajar. Chan & Judith (2005: 217) mengatakan
bahwa :
“learning is reciting. If we recite in then think it over, think it over
then recite it, naturally it’ll become meaningful to us. If we recite it
but don’t think over, we still won’t appreciate is meaning. If we think
it over but don’t recite it, even though we might understand it, our
understanding will be precarios”.
Artinya, belajar adalah membaca, jika kita membaca kemudian
memikirkannya dan melafalkannya secara terus-menerus akan menjadi
berarti bagi kita. Jika kita membaca tetapi tidak memikirkan, kita tidak
akan memahami maknanya. Jika kita memikirkan hal itu tetapi tidak
mengucapkannya, maka kita sulit memahaminya.
Dalam The Guidance Of Learning Activities W.H Burton (Eveline &
Hartini, 2014: 4) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan
tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu
dengan individu dan individu dengan lingkungannya, Sementara Ernest
R. Hilgard dalam Introduction To Psychology mendefinisikan belajar
sebagai suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan
bahwa Belajar adalah suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung
dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan
yang bersifat relatif konstan seperti pada perubahan pengetahuan,
pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan
serta perubahan yang ada pada individu yang belajar.
10
2. Pembelajaran
Dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 20
tentang sistem penidikan nasional disebutkan bahwa “ Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan suatu proses
yang terdiri dari kombinasi dua aspek, yaitu belajar tertuju kepada apa
yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada apa yang
harus di lakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran.
Menurut Usman (Asep & Abdul, 2008:11-12) Pembelajaran adalah
inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai
pemegang peranan utama. Pembelajaran merupakan sutu proses yang
megandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan
timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai
tujuan tertentu.
Menurut Endang (2014:29) pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar. Menurut BSNP (2006: 17) Kegiatan pembelajaran dirancang
untuk memberikan kegiatan belajar yang melibatkan proses mental dan
fisik melalui interaksi antar peserta didik dengan guru, lingkungan, dan
sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.
Menurut Sugiyar (Mohamad, 2015 : 2) penekanannya terletak pada
perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek
didik laki-laki dan perempuan. Konsep tersebut sebagai suatu sistem,
11
sehingga dalam sistem pembelajaran ini terdapat komponen-komponen
meliputi: siswa, tujuan, materi untuk dipersiapkan. Dengan kata lain,
pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan, perlu direncanakan
oleh guru berdasarkan kurikulum yang berlaku.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah usaha untuk mengorganisasikan lingkungan untuk
menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik, yang kegiatannya
dirancang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar
peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar
lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar pembelajaran perlu
direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi oleh guru berdasarkan
kurikulum yang berlaku.
B. Pembelajaran Matematika
Secara etimologis matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh
dengan bernalar (Erman Suherman, ddk. 2003: 16). Dalam hal ini bukan
berarti ilmu lain tidak diperoleh melalui penalaran, akan tetapi dalam
matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran),
sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan pada hasil observasi atau
eksperimen di samping penalaran. Menurut Erman Suherman, ddk (2003:
103) menyatakan matematika sebagai ilmu yang menelaah bentuk-bentuk
atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan antara hal-hal itu. Objek
penelaahan matematika tidak sekedar kuantitas, tetapi lebih dititik beratkan
kepada hubungan, pola, bentuk dan struktur.
12
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar dan
mengajar dengan segala interaksi di dalamnya. Dalam Undang-Undang RI
No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 20 tentang sistem pendidikan nasional
disebutkan bahwa “ Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Slameto (1995: 2) mengemukakan bahwa belajar ialah proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Miguel & Juan (2007: 1) mengatakan
bahwa :
“ one goal for the teaching of mathematics is to chanel everyday more
technical-sientific thingking at an earlier stage, as a mean for over
coming between the mathematics (formal) structure and cognitive
progress”.
Artinya salah satu tujuan pengajaran matematika adalah membawa
pemikiran sehari-hari menuju berpikir ilmiah sebagai sarana untuk
menjembatani matematika formal dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Kompetensi pembelajaran matematika (Hari, 2004: 42) meliputi
beberapa hal, yaitu: pemilikan nilai dan sikap, penguasaan konsep, dan
kecakapan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Kurikulum 2013
merupakan pengembangan langkah lanjutan pengembangan Kurikulum
Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006
yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan secara
terpadu . Ketiganya sama-sama merupakan seperangkat rencana pendidikan
13
yang berorientasi pada kompetensi dan hasil belajar. Menurut BSNP (2006:
346) tujuan mata pelajaran matematika adalah sebagai berikut :
a.
Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep
dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat,
efesien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
b.
Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau
menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
c.
Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan
solusi yang diperoleh.
d.
Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau
media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
e.
Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingintahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika
merupakan suatu proses belajar mengajar terencana dan terprogram yang
melibatkan guru matematika dengan menyusun suatu rancangan rencana
pembelajaran,
melaksanakan
rancangan
pembelajaran
(activity),
mengevaluasi pembelajaran dan refleksi pembelajaran, dan melibatkan
siswa berdasarkan kurikulum dengan segala interaksi dan proses
14
komunikasi di dalamnya dengan tujuan untuk melatih cara berpikir dan
bernalar dalam menarik kesimpulan, mengembangkan aktivitas kreatif,
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah serta mengembangkan
kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan.
Pada pembelajaran matematika ini peneliti menggunakan kurikulum
2013 yang di fokuskan pada materi Aritmetika Sosial, dengan kompetensi
inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Sebagai berikut :
Tabel 2.1 Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar
Kompetensi Inti
Kompetensi Dasar
1. Menghargai dan menghayati
ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghargai dan menghayati
perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong royong),
santun percaya diri, dalam
berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
pergaulan dan keberadaannya.
3. Memahami pengetahuan
(faktual, konseptual, dan
procedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya terkait fenomena dan
kejadian tampak mata.
3.11 Menganalisis aritmetika
sosial (penjualan,
pembelian, potongan,
keuntungan, keugian, bunga
tunggal, persentase, bruto,
neto, tara).
4.11 Menyelesaikan masalah
berkaitan dengan aritmetika
sosial (penjualan, pembelian,
potongan, keuntungan,
keugian, bunga tunggal,
persentase, bruto, neto, tara).
C. Kemampuan Komunikasi Matematika
Menurut Suherman (Asep & Abdul, 2008:11) Komunikasi
diefinisikan sebagai proses dimana para partisipan/ siswa menciptakan
dan saling berbagi informasi satu sama lain guna mencapi pengertian
timbal balik. Dalam pengertian tersebut proses komunikasi sekurang-
15
kurangnya harus melibatkan dua orang. Proses kumunikasi dalam
pembelajaran melibatkan dua pihak yakni pendidik dan peserta didik.
Pendidik memegang peran utama sebagai komunikator dan peserta didik
memegang peran utama sebagai komunikan. Dalam praktiknya kedua
peran itu dilakukan oleh kedua belah pihak pada gilirannya bertukar
peran menjadi pemberi dan penrima informasi, itulah yang disebut
dengan berbagi informasi dalam komunikasi pembelajaran.
Menurut
Effendy
(2007:
10)
komunikasi
adalah
proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media
yang menimbulkan efek. Pendapat ini didasarkan pada pendapat Laswell
yang membagi komunikasi dalam lima unsur, yaitu komunikator
(pengirim pesan), pesan, media, komunikan (penerima pesan), dan efek.
Menurut NCTM (2000: 60) dijelaskan bahwa Komunikasi adalah suatu
bagian esensial dari matematika dan pendidikan matematika. Pendapat ini
mengisyaratkan pentingnya komunikasi dalam pembelajaran matematika.
Melalui komunikasi, siswa dapat menyampaikan ide-idenya kepada guru
dan siswa lainnya. Komunikasi merupakan salah satu dari 5 standar proses
yang ditekankan dalam NCTM (2000: 29) , yaitu Pemecahan Masalah
(problem solving), penalaran dan bukti (reasoning and proof), komunikasi
(communication), koneksi (connections), dan representasi (representasion).
Komunikasi merupakan bagian yang sangat penting pada matematika dan
pendidikan matematika. Komunikasi merupakan cara berbagi ide dan
memperjelas pemahaman. Melalui komunikasi ide dapat dicerminkan,
16
diperbaiki, didiskusikan, dan dikembangkan. Proses komunikasi juga
membantu membangun makna dan mempermanenkan ide dan proses
komunikasi juga dapat mempublikasikan ide. NCTM (2000: 63)
menyatakan pentingnya komunikasi dalam pembelajaran matematika,
bahwa program pembelajaran matematika sekolah harus memberi
kesempatan kepada siswa untuk:
a.
Menyusun dan mengaitkan mathematical thinking mereka melalui
komunikasi.
b.
Mengkomunikasikan mathematical thinking mereka secara logis dan
jelas kepada teman-temannya, guru, dan orang lain.
c.
Menganalisis dan menilai mathematical thinking dan strategi yang
dipakai orang lain.
d.
Menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan ide-ide
matematika secara benar.
Menurut Brenner (1998: 104) peningkatan kemampuan siswa untuk
mengkomunikasikan matematika adalah satu dari tujuan utama pergerakan
reformasi matematika. Brenner (1998: 107) lebih lanjut menyatakan bahwa
penekanan atas komunikasi dalam pergerakan reformasi matematika berasal
dari suatu konsensus bahwa hasil pembelajaran sangat efektif didalam suatu
konteks sosial. Melalui konteks sosial yang dirancang dalam pembelajaran,
siswa dapat mengkomunikasikan berbagai ide yang dimilikinya untuk
menyelesaikan masalah matematika.
17
Menurut Lubienski (Hulukati, 2005: 18), kemampuan siswa dalam
mengkomunikasikan masalah matematika pada umumnya ditunjang oleh
pemahaman mereka terhadap bahasa. Cooke & Buchholz (2005: 265)
menyarankan agar guru seharusnya dapat membuat suatu hubungan antara
matematika dan bahasa. Hubungan ini akan membantu siswa mampu
mengekspresikan suatu masalah matematika kedalam bahasa simbol atau
model matematika. Menurut Baroody (Hulukati, 2005:17), ada dua alasan
penting mengapa kemampuan berbahasa itu sangat penting dibutuhkan
dalam berkomuniaksi, yaitu :
a.
Mathematics as language; matematika tidak hanya sekedar alat bantu
berpikir (a tool to aid thinking), alat untuk menemukan pola, atau
menyelesaikan masalah, namun matematika juga adalah alat yang tak
terhingga nilainya untuk mengkomunikasikan berbagai ide dengan
jelas, tepat, dan ringkas.
b.
Mathematics learning as social activity , sebagai aktivitas sosial dalam
pembelajaran matematika, interaksi antar siswa, misalnya komunikasi
antar guru dan siswa yang merupakan bagian penting untuk memelihara
dan mengembangkan potensi matematika siswa.
Pendapat diatas mengisyaratkan andanya dua jenis komunikasi
matematik, tulisan dan lisan (verbal). Ernest (1994: 19) menjelaskan bahwa:
a.
Komunikasi matematik non-verbal menekankan pada interaksi siswa
dalam dunia yang kecil dan penafsiran non-verbal serentak mereka
terhadap interaksi lainnya.
18
b.
Komunikasi matematik lisan (verbal) menekankan interaksi lisan
mereka satu sama lain dan dengan guru keika mereka membangun
tujuan dengan mambuat pembagian yang sesuai.
Kedua jenis komunikasi matematik ini memainkan peran penting dalam
interaksi
sosial
siswa dikelas
matematika. Bantuan
guru untuk
membiasakan siswa mampu mengkomunikasikan ide melalui bahasa lisan
dan tulisan ini dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi
matematika siswa yang diinginkan.
Menurut NCTM (2000: 60), disebutkan standar kemampuan
komunikasi matematika untuk siswa sekolah menengah adalah siswa dapat:
a.
Mengorganisasi dan mengkonsolidasi pemikiran matematika mereka
melalui komunikasi;
b.
Mengkomunikasikan pemikiran matematika mereka secara koheren
dan jelas kepada pasangan, guru, dan lainnya;
c.
Menganalisis dan mengevaluasi pemikiran matematika dan strategi
orang lain;
d.
Menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan ide
matematika secara tepat.
Untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa kelas
VII-B SMP N 2 Godean, NCTM (2000: 271) menyarankan agar guru
mengidentifikasi dan menggunakan berbagai tugas yang berkaitan penting
dengan ide matematika, dapat diakses dengan berbagai metode solusi,
menyediakan representase multipel dan memberikan siswa kesempatan
19
menginterprestasi, jastifikasi dan konjektur. Dalam melaksanakan tugastugas tersebut, setiap siswa diberikan kesempatan untuk berkontribusi
walaupun tidak perlu semua siswa memberikan argumen atau penjelasan
secara bersamaan. Dimana dengan metode pembelajaran kooperatif tipe
Think Talk Write (TTW) dapat membantu siswa dalam meningkatkan
kemapuan komunikasinya.
Menurut Sumarmo ( Herawati, 2007: 24-25), komunikasi matematik
merupakan kemampuan yang dapat menyertakan dan memuat berbagai
kesempatan untuk berkomunikasi dalam bentuk :
a.
Mereflesikan benda-benda nyata, gambar, dan diagram kedalam ide
matematika;
b.
Membuat model situasi atau persoalan menggunakan metode lisan,
tertulis, konkrit, grafik, dan aljabar;
c.
Menyatakan
peristiwa
sehari-hari
dalam
bahasa
dan
simbol
matematika;
d.
Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika;
e.
Membaca dengan pemahaman suatu persentasi matematik tertulis;
f.
Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan
generalisasi;
g.
Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah
dipelajari.
Menurut Baroody (Hulukati, 2005: 23-27), Penjelasan diatas
memperlihatkan adanya lima aspek komunikasi, yaitu representasi
20
(representasion), mendengar (listening), membaca (reading), diskusi
(discussion), dan menulis (writting). Dari lima aspek diatas maka salah satu
pembelajaran yang cocok dengan aspek tersebut adalah model pembelajaran
kooperatif tipe Think Talk Write (TTW). Karena pada model pembelajaran
TTW ini siswa diajak berpikir, berbicara, dan menulis yang dimana
termasuk
dalam
aspek-aspek
komunikasi
yang
bertujuan
untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi matematika.
Menurut Glynn & Muth (Wood, 2011: 113), bahwa pengetahuan dan
matematika digunakan sebagai wahana dalam mengajar bahasa dan kedua
adalah dimana bahasa digunakan untuk mengajarkan matematika atau
pengetahuan, dari contoh membaca dan menulis untuk mempelajari
pengetahuan. Ada dua cara yang dapat dikembangkan kemampuan dalam
belajar menurut Wood (2011: 118-119) yaitu :
a.
Speaking (Berbicara)
1) Presenting seminars, Pada kondisi ini, ide matematika dapat
dikombinasikan antara kemampuan mendengar dan berbicara
dengan struktur semi formal, kemudian siswa juga mendiskusikan
suatu wacana termasuk dengan kemampuan membaca.
2)
Talking with colleagues and management, Komunikasi lisan
sesama teman sekelompok dalam menyelesaikan suatu wacana.
3) Negotiating and selling ideas, Bekerjasama dan negosiasi dengan
kelompok kecil dan mendiskusikan sesuatu masalah yang dianggap
sulit,
berbicara
tentang
21
ide
matematika
dan
bagaimana
memberikan ide sehingga menghasilkan pembuktian yang
sederhana.
b.
Writing (menulis) teridiri dari informal writing dan formal writing.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kemampuan
komunikasi matematika merupakan kemampuan yang dapat menyertakan
dan memuat berbagai kesempatan untuk memberikan alasan rasional
terhadap suatu pernyataan, mengubah bentuk uraian ke dalam model
matematika, dan mengilustrasikan ide-ide matematika ke dalam bentuk
uraian yang relevan secara tertulis. Untuk mengetahui peningkatan
kemampuan komunikasi matematika dilakukan observasi pada saat
pembelajaran dan pemberian tes kemampuan komunikasi matematika
secara tertulis.
D. Pemecahan Masalah Matematika
Dalam belajar matematika pada dasarnya seseorang tidak terlepas dari
masalah karena berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika ditandai
adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Menurut Bell (1978: 45), mengatakan bahwa :
“question is a problem for someone when he realized the success that
situation, recognize that the situation requires immediate action and
not be mennemukan solution or settlement of the situation”.
Artinya, pertanyaan merupakan masalah bagi seseorang bila ia menyadari
keberhasilan situasi itu, mengakui bahwa situasi itu memerlukan tindakan
dan tidak dengan segera dapat mennemukan pemecahan atau penyelesaian
situasi tersebut.
22
Menurut Kennedy et al, (2008: 115), mengatakan bahwa :
“ a problem is a situation that has no immediate solution or known
solution strategi”
Artinya, Masalah adalah situasi yang tidak memiliki solusi segera atau
dikenal solusi Pengembangan strategi.
Menurut Dahar (1989: 138), pemecahan masalah merupakan suatu
kegiatan manusia yang menggambungkan konsep-konsep dan aturan-aturan
yang telah diperoleh sebelumnya, dan tidak sebagai suatu ketrampilan
generik. Pengertian ini mengandung makna bahwa ketika seseorang telah
mampu menyelesaikan suatu masalah, maka seseorang itu telah memiliki
suatu kemampuan baru. Kemampuan ini dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang relevan. Menurut Ibrahim & Nur
Hidayati
(2014:
14).
dalam
proses
pemecahan
masalah,
siswa
dimungkinkan unuk membentuk kelompok dan berbagi tugas antar anggota
dalam kelompok.
Menurut Adams & Hamm (2010: 59), mengatakan bahwa :
“Mathematical problem solving that involves group interaction and
interdependence has been shown to be an effective way to engage
students in real-world tasks and experiences”.
Artinya pemecahan masalah matematika yang melibatkan interaksi
kelompok dan saling ketergantungan sesama siswa telah terbukti menjadi
cara yang efektif untuk melibatkan siswa dalam tugas-tugas dan
pengalaman didunia nyata.
Menurut Soedjadi (1994: 36), Kemampuan pemecahan masalah
matematis adalah suatu ketrampilan pada siswa agar mampu menggunakan
23
kegiatan matematik untuk memecahkan masalah dalam matematika.
Menurut Russenffendi (2006: 341), kemapuan pemecahan masalah amatlah
penting dalam matematika, bukan saja bagi mereka yang di kemudian hari
akan mendalami matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan
menerapkannya dalam bidang studi lain dan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Polya (Herman Hudojo, 2005 : 134-140), langkah-langkah
pemecahan masalah yaitu :
1.
Pemahaman terhadap suatu masalah
Pemahaman dilakukan dengan membaca dan membaca ulang soal,
mengientifikasi informasi yang diketahui, mengidentifikasi apa yang
hendak dicari.
2.
Perencanaan penyelesaian masalah
Didalam merencanakan masalah seringkali diperlukan kreativitas.
Sejumlah strategi dapat membantu kita merumuskan suatu rencana
penyelesaian suatu masalah. Menurut Wheeler (Herman Hudojo, 2005:
137), strategi penyelesaian masalah antara lain sebagai berikut :
membuat
tabel,
membuat
gambar,
menduga,
mengetes,
dan
memperbaiki, mencari pola, menyetakan kembali permaasalahan,
menggunakan
penalaran,
menggnakan
variabel,
menggunakan
persamaan, mencoba menyederhanakan permasalahan, menghilangkan
situasi yang tidak mungkin, bekerja mundur, menyusun model,
mengguankan algoritma, menggunakan penalaran yang tidak langsung,
menggunakan sifat-sifat bilangan, menggunakan kasus atau membagi
24
menjadi
bagian-bagian,
memvalidasi
semua
kemungkinan,
menggunakan rumus, menyelesaikan masalah yang equivalen,
menggunakan simetri, dan menggunakan informasi yang diketahui
untuk mengembangkan informasi baru.
3.
Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah
Jika rencana penyelesaian masalah telah dibuat, baik sevcara tertulis
atau tidak selanjutnya dilakukan penyelesaian masalah sesuai dengan
rencana yang dianggap paling tepat.
4.
Melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah
dikerjakan
Langkah ini untuk melihat apakah penyelesaian yang kita peroleh sudah
sesuai dengan ketentuan yang diketahui dan tidak terjadi kontradiksi
merupakan langkah terakhir yang penting. Terdapat empat komponen
untuk mereview suatu penyelesaian, yaitu :
a. Mengecek hasil
b. Menginterpertasikan jawaban yang diperoleh
c. Mencari adakah cara lain untuk mendapatkan penyelesaian yang
sama
d. Mencari adakah penyelesaian yang lain
Menurut Gagne (Erman Suherman dkk, 2003: 36), dalam pemecahan
masalah biasanya ada lima langkah yang harus dilakukan, yaitu :
a.
Menyajikan masalah dalam bentuk yang jelas
b.
Menyatakan masalah dalam bentuk yang operasional
25
c.
Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang
diperkirakan baik.
d.
Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya
e.
Mengecek kembali hasil yang diperoleh.
Menurut NCTM (2000: 52), kemampuan pemecahan masalah yang
harus di kuasai oleh siswa adalah :
a.
Membangun pengetahuan matematika baru dengan memecahkan
masalah
b.
Memecahkan permasalahan matematika yang muncul dalam konteks
lain
c.
Menerapkan dan menyesuaikan berbagai strategi untuk memecahkan
masalah
d.
Monitor dan mencerminkan proses pemecahan masalah matematika.
Dalam belajar di sekolah, siswa dapat dihadapkan pada masalah-
masalah yang dapat dipecahkan dengan mengadakan reorganisasi dalam
pengamatan. Hal itu akan membantu siswa untuk menemukan pemecahan
masalah. Sukirman (2005: 4) menyatakan bahwa masalah matematika dapat
diklarifikasikan dalam dua jenis, yaitu:
a.
Masalah mencari (problem to find), yaitu mencari, menentukan, atau
mendapat nilai atau objek tertentu yang tidak diketahui dalam soal dan
memenuhi kondisi atau syarat yang sesuai dengan soal. Objek yang
ditanyakan atau dicari (unknown), syarat-syarat yang memenuhi soal
(condition), dan data atau informasi yang diberikan merupakan bagian
26
penting atau pokok dari sebuah soal mencari dan harus dipahami serta
dikenali dengan baik pada saat memecahkan masalah.
b.
Masalah membuktikan (problem to prove), yaitu untuk menentukan
apakah suatu pertanyaan benar atau tidak benar. Soal membuktikan
terdiri dari hipotesis dan kesimpulan. Pembuktian dilakukan dengan
membuat atau memproses pernyataan yang logis dan hipotesis menuju
kesimpulan, sedangkan untuk membuktikan bahwa suatu pernyataan
tidak benar, cukup diberikan contoh penyangkalannya sehingga
pernyataan tersebut menjadi tidak benar.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika
yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun
penyelesaiannya,
siswa
dimungkinkan
memperoleh
pengalaman
menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk
diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin (Erman
Suherman ddk, (2001: 83). Menurut Erman Suherman ddk, (2003: 89)
Melalui kegiatan pemecahan masalah, aspek-aspek kemampuan matematika
yang penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan
pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain lain dapat
dikembangkan secara lebih baik.
Sehubungan dengan kemampuan pemecahan masalah NCTM (1989:
11), merekomendasikan pembelajaran matematika harus dikembangkan
dari situasi-situasi masalah. Selama situasi-situasi itu dikenal oleh siswa,
27
konsep-konsep yang diciptakan dari objek, kejadian, dan hubunganhubungan antara operasi dan srategi akan dapat dipahami dengan baik.
Menurut Prasetya (2010: 39), Elemen dari pemecahan masalah dapat
dideskripsikan sebagai berikut:
a.
Identifikasi masalah adalah tahap pertama dari pemecahan masalah.
Untuk pelajar, tahap ini adalah dimana guru memberikan pekerjaan
rumah atau tugas pada siswa.
b.
Sintesis adalah tahap kreatifitas dimana bagian-bagian terintegrasi
secara keseluruhan. Sebagai contoh, siswa menemukan langkah
penyelesaian yang lebih mudah dipahami dan lebih efisien waktu.
c.
Analisis adalah tahap dimana rencana keseluruhan dipecah menjadi
bagian bagian.
d.
Aplikasi adalah proses dimana informasi yang tepat diidentifikasi untuk
memecahkan masalah yang ada.
e.
Komprehensi adalah tahap yang menggunakan teori dan data yang tepat
untuk memecahkan masalah yang sebenarnya.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kemampuan
pemecahan masalah matematika merupakan suatu ketrampilan pada siswa
agar mampu menggunakan kegiatan matematik untuk memecahkan masalah
dalam matematika dengan langkah-langkah antara lain: pemahaman
terhadap suatu masalah, perencanaan penyelesaian masalah, melaksanakan
perencanaan penyelesaian masalah, dan melakukan pengecekan kembali
terhadap semua langkah yang telah dikerjakan.
28
E. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Robert (2005: 4) Pembelajaran kooperatif merujuk pada
berbagai macam metode pengajaran dimana siswa bekerja dalam kelompokkelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam
mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif,
diharapkan
dapat
saling
membantu,
saling
para siswa
mendiskusikan
dan
berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu
dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Menurut Thomson (Robert, 2008: 12) pembelajaran kooperatif turut
menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran. Saat proses
pembelajaran kooperatif berlangsung siswa belajar bersama dalam
kelompok-kelompok kecil satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok
yang terdidri dari 4 atau 5 siswa, dengan kemampuan yang heterogen.
Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan
siswa, jenis kelamin, dan suku.
Menurut Johnson, Johnson, & Holubec (Morgan et al, 2007: 3),
berpendapat bahwa :
” Cooperative learning has its roots in the theories of social
interdependence, cognitive development, and behavioral learning.
Some research provides exceptionally strong evidence that cooperative
learning results in greater effort to achieve, more positive
relationships, and greater psychological health than competitive or
individualistic learning efforts”.
Artinya, pembelajaran kooperatif berakar pada teori saling ketergantungan
sosial, perkembangan kognitif, dan belajar perilaku. Beberapa penelitian
memberikan bukti yang sangat kuat bahwa hasil pembelajaran kooperatif
29
dalam upaya lebih besar untuk mencapai, hubungan yang lebih positif, dan
kesehatan psikologis yang lebih besar dari upaya pembelajaran kompetitif
atau individualistik. Lebih lanjut menurut Morgan et al (2007: 4)
berpendapat bahwa :
“Cooperative learning is one strategy that rewards individuals for
participation in the group’s effort”.
Artinya, Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi yang
memberikan penghargaan individu untuk berpartisipasi dalam upaya
kelompok.
Menurut Sunal & Hans (Isjoni, 2010: 15), Pembelajaran kooperatif
merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus
dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama
selama proses pembelajaran.
Menurut Orlich et al (2007: 260), mengatakan bahwa :
“Cooperatif learning is learning based on a small-group approach to
teaching that holds students accountable for both individual and group
achievement”.
Atrinya, cooperatif learning adalah pembelajaran yang mendasarkan pada
pengajaran
menggunakan
kelompok
kecil
yang
membuat
siswa
bertanggung jawab baik prestasi individu maupun kelompok.
Berdasarkan
beberapa
pendapat
diatas,
dapat
disimpulkan
pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara
kelompok dan bekerja sama dalam membangun interaksi soial dengan
kelompok yang berbeda-beda latar belakang untuk mencapai tujuan
tertentu.
30
F. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think- Talk- Write (TTW)
Model Pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write
merupakan
model pembelajaran kooperatif yang pada dasarnya merupakan strategi
belajar melalui tahapan berpikir (think), berbicara (talk) dan menulis (write).
Model pembelajran TTW ini diharapkan dapat meningkatkan kemmapuan
komunikasi dan pemecahan masalah matematika siswa. Strategi ini pertama
kali oleh Huinker & Laughlin (1996: 82) mengatakan bahwa:
“The think-talk-write strategy builds in time for thought and reflection
and for the organization of ideas and the testing of those ideas before
students are expected ro write. The flow of communication progresses
from student enganging in thought or reflective dialogue with
themselves, to talking and sharing ideas with one another, to writing”.
Artinya, Strategi think-talk-write membangun dalam waktu untuk berpikir
dan refleksi dan untuk organisasi ide dan pengujian ide-ide sebelum siswa
diharapkan
untuk
tulis.
Arus
komunikasi
berlangsung
dari
Mengikutsertakan siswa dalam pikiran atau dialog reflektif dengan diri
mereka sendiri, untuk berbicara dan berbagi ide dengan satu sama lain,
untuk menulis.
Strategi Think-Talk-Write (TTW) membangun pemikiran, merefleksi,
dan mengorganisasi ide, kemudian munguji ide tersebut sebelum siswa
diharapkan untuk menulis. aktivitas berpikir dapat dilihat dari proses
membaca suatu teks matematika atau berisi cerita matematika kemudian
membuat catatan tentang apa yang telah dibaca. Dalam membuat atau
menulis catatan siswa membedakan dan mempersatukan ide yang disajikan
dalam teks bacaan, kemudian menerjemahkan kedalam bahasa mereka
31
sendiri. Dengan dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau
berdialog reflektif dengan dirinya sendiri, selanjutnya berbicara dan berbagi
ide dengan temannya, dan diakhiri dengan mempersentasikan hasilnya dan
bersama guru menarik sebuah kesimpulan maka akan tercita suasana belajar
yang hidup dan menyenangkan (Lusia, 2014: 24-25).
Belajar tidak didominasi oleh guru, tampak bahwa kemampuan
komunikasi dan pemecahan masalah secara tertulis dan lisan dalam
pembelajaran matematika akan didapat pada pembelajaran dengan strategi
TTW ini. Alur strategi pembelajaran TTW dimulai dari keterlibatan peserta
didik dalam berpikir atau berdialog reflektif dengan dirinya sendiri,
selanjutnya berbicara dan berbagi ide dengan temannya, sebelum peserta
didik menulis.
Strategi pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) melibatkan 3 tahap
penting yang harus dikembangkan dan dilakukan dalam pembelajaran
matematika, yaitu sebagai berikut :
a.
Think (Berpikir)
Menurut Huinker & Laughlim (1996: 81), mengatakan bahwa:
“Thinking and talking are important steps in the process of
bringing meaning into studen’t writting”.
Maksudnya adalah berpikir dan berbicara/berdiskusi merupakan
langkah penting dalam proses membawa pemahaman kedalam tulisan
peserta didik.
Tahap pertama kegiatan siswa yang belajar dengan strategi ThinkTalk- Write adalah think, yaitu tahap berfikir dimana siswa membaca
32
teks berupa soal (kalau memungkinkan dimulai dengan soal yang
berhubungan dengan permasalahan sehari-hari siswa atau kontekstual).
Dalam tahap ini siswa secara individu memikirkan kemungkinan
jawaban (strategi penyelesaian), membuat catatan kecil tentang ide-ide
yang terdapat pada bacaan, dan hal-hal yang tidak dipahaminya sesuai
dengan bahasanya sendiri secara individual, untuk dibawa ke forum
diskusi. Jawaban atau ide-ide yang siswa tuliskan tidak perlu benar,
yang terpenting adalah siswa mampu mengemukakan alasan yang
mendukung setiap pendapatnya tersebut.
Selama aktivitas think berlangsung, guru tidak perlu turut campur
dalam hal isi catatan kecil siswa. Pada tahap ini guru hanya sebatas
mengawasi untuk memastikan bahwa setiap siswa sudah melakukan
aktivitasnya dengan baik. Jika masih ada siswa yang belum juga bisa
menuliskan catatan kecilnya, maka guru berusaha untuk memotivasi
dan memberi sedikit arahan tentang maksud dari setiap permasalahan
yang disajiakan, supaya siswa mendapat sedikit gambaran.
b.
Talk (Berbicara atau diskusi)
Tahap kedua adalah talk (berbicara atau diskusi) memberikan
kesempatan
kepada
siswa
untuk
membicarakan
tentang
penyelidikannya pada tahap pertama. Pada tahap ini siswa
merefleksikan, menyusun, serta menguji (negosiasi, sharing) ide-ide
dalam kegiatan diskusi kelompok. Kemajuan komunikasi siswa akan
terlihat pada dialognya dalam berdiskusi baik dalam bertukar ide
33
dengan
orang
lain
ataupun
refleksi
mereka
sendiri
yang
diungkapkannya kepada orang lain.
Menurut Szetela (1993: 88) tahap talk penting dalam matematika
karena: (1) apakah itu tulisan, gambaran, isyarat, atau percakapan
merupakan perantara ungkapan matematika sebagai bahasa manusia.
Matematika
adalah
bahasa
yang
spesial
dibentuk
untuk
mengkomunikasikan bahasa sehari-hari, (2) pemahaman matematik
dibangun melalui interaksi dan konversasi (percakapan) antara sesama
individual yang merupakan aktivitas sosial yang bermakna, (3) cara
utama partisipasi komunikasi dalam matematika adalah dengan talk, (4)
pembentukan ide (forming ideas) melalui proses talking, (5)
internalisasi ide (internalizing ideas), (6) meningkatkan dan menilai
kualitas berpikir.
Pada tahap talk, tugas guru adalah sebagai fasilitator dan motivator.
Sebagai fasilitator guru senantiasa harus memberi arahan dan
bimbingan kepada kelompok yang mengalami kesulitan, terutama
dalam hal materi, baik itu diminta maupun tidak diminta. Bimbingan
dan arahan yang dilakukan oleh guru lebih bersifat menuntun siswa
pada suatu jawaban yang tepat. Sebagai motivator, guru senantiasa
memberi dorongan kepada siswa yang merasa kurang percaya diri
terhadap hasil pekerjaannya atau kelompok siswa yang mendapatkan
jalan buntu untuk menemukan suatu jawaban. Guru harus meyakinkan
siswa dan atau kelompok siswa bahwa apa yang ia yakini sebagai
34
jawaban merupakan hasil pemikiran yang hebat dan patut dibanggakan.
Guru juga harus bisa memotivasi siswa yang dalam kegiatan diskusi
kurang aktif atau malah sangat pasif. Guru harus memberikan semangat
dan menyadarkan siswa yang bersangkutan bahwa kegiatan diskusi
yang berlangsung adalah penting untuk dijalani, supaya mereka
memahami sendiri.
c.
Write (Menulis)
Menurut Masingila et al (1996: 95) berpendapat bahwa :
“writing can help students make their tacit knowledge and thoughts
more explicit so that they can look at, and reflect on, their
knowledge and thoughts”.
Artinya, menulis dapat membantu siswa mengekspresikan pengetahuan
dan gagasan yang dimiliki serta merefleksikan pengetahuan dan
gagasan mereka.
Tahap ketiga adalah Write, siswa menuliskan ide-ide yang
diperolehnya dari kegiatan tahap pertama dan kedua. Tulisan ini terdiri
atas landasan konsep yang digunakan, keterkaitan dengan materi
sebelumnya, strategi penyelesaian, dan solusi yang diperolehnya dalam
Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang dibagikan oleh guru. Aktivitas
menulis akan membantu siswa dalam membuat hubungan dan juga
memungkinkan guru dapat melihat pengembangan konsep siswa.
Menurut Silver & Smith (1996: 21), peranan dan tugas guru dalam
usaha mengefektifkan penggunaan strategi Think-Talk-Write adalah
mengajukan dan menyediakan tugas yang memungkinkan siswa terlibat
35
secara aktif berpikir, mendorong dan menyimak dengan hati-hati ideide
yang
dikemukakan
siswa
secara
lisan
dan
tertulis,
mempertimbangkan dan memberi informasi terhadap apa yang digali
siswa dalam diskusi, serta memonitor, menilai, dan mendorong siswa
untuk berpartisipasi secara aktif. Untuk mewujudkan pembelajaran
yang sesuai dengan harapan di atas, dirancang pembelajaran yang
mengikuti langkah-langkah berikut:
a.
Siswa membaca teks dan membuat catatan dari hasil bacaan secara
individual (think), untuk dibawa ke forum diskusi.
b.
Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu grup untuk
membahas isi catatan (talk). Dalam kegiatan ini mereka
menggunakan bahasa dan kata-kata yang mereka sendiri untuk
menyampaikan ide-ide matematika dalam diskusi. Pemahaman
dibangun melalu interaksinya dalam diskusi. Diskusi diharapkan
dapat menghasilkan solusi atas soal yang diberikan.
c.
Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang rnemuat
pemaharnan dan komunikasi matematika dalam bentuk tulisan
(write).
d.
Kegiatan akhir pembelajaran adalah membuat refleksi dan
kesimpulan atas materi yang dipelajari. Sebelum itu dipilih satu
atau beberapa orang siswa sebagai perwakilan keompok untuk
menyajikan jawabannya, sedangkan kelompok lain diminta
memberikan tanggapan.
36
Menurut Halmaheri (2004: 21-22), langkah-langkah pembelajaran
dengan strategi TTW:
Tabel 2.2 Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Strategi TTW
Langkah-langkah pembelajaran dengan
strategi TTW
a.
Pendahuluan
b.
Kegiatan inti
c.
Penutup
Kegiatan pembelajaran dengan strategi TTW
1) Menginformasikan materi yang akan
dipelajari dan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai.
2) Mengingatkan kembali teknik
pembelajaran dengan strategi TTW serta
tugas-tugas dan aktivitas siswa.
3) Melakukan apersepsi.
4) Memberikan motivasi agar siswa berperan
aktif dalam pembelajaran.
5) Membagi siswa dalam kelompok kecil (35 siswa).
1) Guru membagi Lembar Aktivitas Siswa
(LAS) kepada siswa.
2) Siswa secara individu diminta untuk
menangkan ide-idenya mengenai
kemungkinan jawaban dan atau langkah
penyelesaian atas permasalahan yang
diberikan serta hal-hal apa saja yang
diketahui dan atau belum diketahui yang
ditulis dalam bentuk catatan kecil yang
akan menjadi bahan untuk melakukan
diskusi kelompok (think).
3) Siswa mendiskusikan hasil catatannya
(saling menukar ide) agar diperoleh
kespakatan-kesepakatan kelompok (talk).
Dalam tahap ini guru berkeliling kelas
untuk memonitor jalannya diskusi dan
jika sangat diperlukan guru dapat
membantu seperlunya.
4) Secara individu, siswa menuliskan semua
jawaban atas permasalahan yang
diberikan secara lengkap, jelas dan mudah
dibaca (write).
5) Beberapa perwakilan kelompok dipilih
secara acak untuk mempresentasikan hasil
diskusinya di depan kelas, sedangkan
kelompok yang tidak terpilih memberikan
tanggapan atau pendapatnya. Dalam hal
ini guru berperan sebagai moderator dan
fasilitator.
Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari
materi yang telah dipelajari.
37
Desain pembelajaran yang menggunakan strategi TTW menurut Martinis &
Bansu (2008: 89) :
Guru
Belajar Bermakna
Melalui Strategi
Dampak
Situasi Masalah
Open-Ended
THINK
Membaca Teks
& Membuat
Catatan Secara
Individual
TALK
Interaksi dalam
Grup Untuk
Membahas Isi
Catatan
WRITE
Komunikasi
Pengetahuan
Hasil dari Think
& Talk Secara
Individual
Siswa
Siswa
Kemampuan Pemahaman
dan Komunikasi
Matematika
Gambar 2.1 Desain Pembelajaran TTW
Dari penjelasan diatas maka dapat di simpulkan pembelajaran
kooperatif tipe think-talk-write (TTW) merupakan model pembelajaran
kooperatif yang pada dasarnya merupakan strategi belajar melalui tahapan
berpikir (think), berbicara (talk) dan menulis (write). Strategi Think-Talk-
38
Write (TTW) membangun pemikiran, merefleksi, dan mengorganisasi ide,
kemudian munguji ide tersebut sebelum siswa diharapkan untuk menulis.
G. Kerangka Berpikir
Pembelajaran kooperatif tipe Think-Talk-Write (TTW) adalah
pembelajaran yang memberi siswa waktu untuk berfikir secara mandiri,
mendiskusikan hasil jawabannya dan saling membantu satu sama lain
kemudian
menuliskannya
pada
Lembar
Aktivitas
Siswa
(LAS).
Pembelajaran dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu Think (berfikir), Talk
(berbicara), Write (menulis).
Pada tahapan think, siswa dituntut untuk dapat berfikir cepat dalam
menyelesaikan soal, mempunyai pendapat sendiri dalam menyelesaikan
soal, mempunyai rasa ingin tahu terhadap penyelesaian suatu masalah.
Pendapat yang berbeda-beda sangatlah penting, karena perbedaan pendapat
dari masing-masing siswa akan mereka sampaikan pada tahapan talk. Pada
tahapan ini pembelajaran dilakukan secara berkelompok dan siswa dituntut
untuk mengungkapkan jawabannya, mempertahankan pendapatnya, dapat
menerima kritik dari teman satu kelompok atau kelompok lain atas
pendapatnya itu, mendengarkan teman kelompoknya atau kelompok lain
sedang mengungkapkan pendapat, bertanya kepada teman atau guru jika ada
materi yang kurang dipahami atau tidak jelas, serta memberikan tanggapan
atas pendapat yang disampaikan oleh teman kelompoknya atau kelompok
lain. Siswa harus bisa berkolaborasi dan mengkomunikasikan dan
mengembangkan ide matematika mereka dalam menyelesaikan tugas yang
39
diberikan oleh guru dengan cara yang berbeda-beda dan dapat memilih cara
yang dianggap paling mudah. Ketika siswa diberi kesempatan untuk
berkomunikasi secara matematika, sekaligus mereka berpikir bagaimana
cara mereka melengkapkannya dalam tulisan yang akan dilakukan pada
tahapan write. Karena pada tahapan ini mereka menuliskan hasil diskusi
atau dialog pada lembar kerja yang disediakan (lembar aktivitas siswa), dan
dengan aktivitas menulis, mereka dituntut untuk mengkonstruksi ide setelah
berdiskusi atau berdialog dengan teman serta mengungkapkannya melalui
tulisan. Kemampuan komunikasi matematika siswa merupakan kemampuan
yang ditunjukkan siswa dalam mencari jawaban terhadap suatu masalah.
Kurangnya kemampuan komunikasi
dan pemecahan masalah matematika
pada siswa
Observasi awal
dikelas VII-B
SMP N 2
Godean
Penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Talk-Write
(TTW)
TINDAKAN
KONDISI AKHIR
Kemampuan komunikasi dan
pemecahan masalah matematika
pada siswa meningkat
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir Penelitian
40
H. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Penerapan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran
Think-Talk-Write (TTW) yang terdiri dari: Thinking (berfikir), Talk
(berbicara),
write
(menulis)
dapat
meningkatkan
kemampuan
komunikasi siswa di kelas VII-B SMP Negeri 2 Godean.
2. Pembelajaran matematika dengan menggunakan penerapan model
pembelajaran
Think-Talk-Write
(TTW)
dapat
meningkatkan
kemampuan komunikasi siswa dikelas VII-B SMP N 2 Godean.
3. Penerapan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran
Think-Talk-Write (TTW) yang terdiri dari: Thinking (berfikir), Talk
(berbicara),
write
(menulis)
dapat
meningkatkan
kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa di kelas VII-B SMP Negeri 2
Godean.
4. Pembelajaran matematika dengan menggunakan penerapan model
pembelajaran
Think-Talk-Write
(TTW)
dapat
meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dikelas VII-B SMP
N 2 Godean.
41
Download