PENGHORMATAN DALAM ISLAM PERSPEKTIF HADIS SKRIPSI

advertisement
PENGHORMATAN DALAM ISLAM PERSPEKTIF HADIS
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud)
Penulis:
Ahmad Qurtubi
NIM. 106034001216
JURUSAN TAFSIR-HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H. / 2011 M
ABSTRAK
“Islam sebagai agama terbesar di dunia memuliki peran penting dalam
menjaga moral manusia. Ia diharapkan mampu memberikan peran aktif dalam
memajukan
peradaban
dunia.
Muhammad
sebagai
pembawanya
hanya
mengatakan bahwa ia meninggalkan dua hal bagi umatnya, yakni alquran dan
hadis. Di sisi lain sejarah hidupnya menjadi bagian penting dari pembentukan
sejarah peradaban manusia. Peradaban yang bersih dan terhormat. Penghormatan
yang saat ini menjadi problematika menjadikan Islam memiliki jawaban tersendiri
dalam memberi solusi terhadapnya. Dan hadis yang menjadi gambaran kehidupan
Nabi menjadi penting untuk diketahui karena telah memberi jawaban solutif
terhadap penghormatan itu. Karena memang penghormatan yang berlebih bukan
hal baru pada saat ini, akan merupakan adat Timur, yang membudidaya pada
masyarakat kita. Sehingga bentuk kontekstualisasi hadis adalah kemutlakan
pilihan dalam era yang berbeda ini, yakni era yang lebih modern dengan budaya
yang berbeda, istilah yang berbeda, dan sistem hukum yang berbeda. Atau bahkan
definisi penghormatan yang berbeda.
Kata Kunci : Muhammad, Hadis, Penghormatan dan Teks
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak kita jumpai dalam suatu pertemuan, manakala ada seorang kaya
masuk mereka ramai-ramai berdiri memberi penghormatan. Sementara kalau si
miskin, tak satupun yang berdiri. Yang demikian itu tentu akan menimbulkan
perasaan iri hati terhadap yang kaya dan seluruh hadirin dalam majlis itu.
Terjadinya perasaan iri hati dan dengki diantara sesama muslim salah satu
penyebabnya adalah diskriminasi penghormatan.
Ketika masyarakat menjadikan posisi sosial seseorang sebagai standar
penghormatan maka yang terjadi adalah timbulnya klasifikasi sosial atau
pengkotak-kotakan masyarakat menurut kedudukannya. Bila ia seorang kaya
maka penghormatannya lebih tinggi dari pada si miskin. Sehingga terjadilah apa
yang disebut kesenjangan sosial / ketidak-adilan sosial.
Fenomena inilah yang membuat sulitnya komunikasi dengan orang yang
lebih tinggi kedudukan sosialnya. Disamping itu timbul pula istilah atasan dan
bawahan, padahal atasan bawahan itu adalah istilah yang artificial (palsu) karena
kitalah yang membuat-buatnya.
Rasulullah SAW tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan orang
lain. Hal inilah yang menjadi kegelisahan tersendiri bagi saya dan merasa perlu
menuangkannya menjadi bacaan yang diharapkan bisa membuka kembali respon
Muhammad dalam bentuk skripsi yang berjudul “Penghormatan dalam Islam
perspektif hadis”.
Di sisi lain, tulisan ini tidak hadir begitu saja namun telah banyak yang
ikut berkontribusi dalam penulisan ini, maka perlu kiranya penulis menyampaikan
iii
rasa terima kasih secara khusus. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan
menjadi amal tersendiri untuk mengumpulkan kita bersama seluruh umat
Muhammad di sisi Allah nanti. Amin. Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa
terimakasih kepada orang-orang yang tidak penulis sebutkan namanya, penulis
perlu menyampaikan terima kasih secara khusus kepada:
a. Bpk. Prof. Zaenun Kamal selaku Dekan baru di fakultas Ushuluddin dan
Filsafat dan Bpk. Dr. M. Amin Nurdin yang telah digantikannya.
b. Bpk Dr. Bustamin MA, selaku Ketua Jurusan sekaligus orang yang selalu
memotivasi kami untuk segera menyelesaikan skripsi kami. jazakumullah
khairan katsîra.
c. Bpk Rifqi Muhammad Fatih yang telah sabar membimbing al-Faqîr, ana
dapat banyak ilmu dari antum.
‫ وﻣﺎﻛﺎن ﻟﻐﻴﺮ اﷲ زال‬,‫ﻣﺎﻛﺎن ﻟِﻠّﻪ زاد واﺗّﺼﻞ‬
‫واﻧﻔﺼﻞ‬
d. Ayah ummi tercinta H.Jamhuri dan Ma’anih yang selalu memarahiku, tapi
kuyakin semua itu kau lakukan agar anakmu yang satu ini berhasil.
e. Terima kasih juga untuk para guru-guru yang telah membimbing al-Faqir
sampai sekarang ini dan sudi kiranya untuk meminjamkan kitab-kitabnya,
KH.Muhammad Zakwan, KH.Abdul Muhit, KH.Usman Syarif, KH. Ali
Hasan,
KH. Ahmad Kosasih, KH. Ahmad Faisal Asmawi, KH.Agus
Subhan dan para Asâtiz lainnya.
f. Ustaz Rifqi Mukhtar yang telah mengajar kami setiap malam kamis, tidak
terasa sudah 4 tahun kami mengaji denganmu, mudah-mudahan berkah.
g. My Honey Aulia, thank you.
iv
h. Kawan-kawan yang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam, para alumni
latihan kader I 2007, Irdi, Bara, Euis, Syamsul dll, dan juga adik-adik TH
yang selama kami menjabat sebagai Pres TH selalu membantu dalam
kegiatan-kegiatan yang kami jalankan, al-Makhsûs: Dika, Arma, Pipit,
Bibah, Jarwo, Usep, Dwi, Fuad, dan para senior HMI komisariat
Ushuluddin yang telah mendidik kami menjadi seorang patriot sejati:
Fajar, Mu’amar, Fikri, Su’udi, TB, Syafa’at, Iwenk, Fitroh dan yang lain.
i. Kawan-kawan TH angkatan 2006-2007 semuanya, wa bil khusus: Haikal
(paling uzur), Zami (Thanks atas tumpangannya pas motor ane ilang, eh
ikut ilang juga dah motor ente), Irfan (paling khoir), Enju (paling kesel ane
ama ente, masa skripsi dikata khutbah), encin (salut ane ma ente 2
semester 30 mata kuliah), Falaq (thanks udah mau jadi wakil ane).
Selanjutnya, penulis tak lupa untuk menyadari bahwa tulisan ini pastilah
ada kekurangan disana-sini. Untuk itu, kiranya saran, kritikan dan berbagai
sambutan yang konstruktif masih sangat penulis butuhkan guna kesempurnaan
tulisan dan pengetahuan penulis.
Akhirnya, penulis berharap tulisan ini akan bermanfaat dan tidak hanya
sekedar jadi tuntutan kuliah ataupun etalase hiasan dinding belaka.
Wa allâhu a’lamu bi murôdi ‘abdih
v
PEDOMAN TRANSLITERASI 1
Konsonan
Huruf Arab
Huruf Latin
‫ا‬
Keterangan
tidak dilambangkan
‫ب‬
B
be
‫ت‬
T
te
‫ث‬
Ts
te dan es
‫ج‬
J
Je
‫ح‬
H
h dengan garis bawah
‫خ‬
Kh
ka dan ha
‫د‬
D
da
‫ذ‬
Dz
De dan zet
‫ر‬
R
Er
‫ز‬
Z
Zet
‫س‬
S
Es
‫ش‬
Sy
es dan ye
‫ص‬
S
es dengan garis bawah
‫ض‬
D
de dengan garis bawah
‫ط‬
T
te dengan garis bawah
‫ظ‬
Z
zet dengan garis bawah
‫ع‬
‘
koma terbalik keatas, menghadap ke kanan
‫غ‬
Gh
ge dan ha
‫ف‬
F
Ef
1
Pedoman ini disesuaikan dengan pedoman akademik fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2006/2007, hal. 101 - 105
vi
‫ق‬
Q
Ki
‫ك‬
K
Ka
‫ل‬
L
El
‫م‬
M
Em
‫ن‬
N
En
‫و‬
W
We
‫ﻫـ‬
H
Ha
‫ء‬
‘
Apostrof
‫ي‬
Y
Ye
Vokal
Vokal dalam bahasa Arab, seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal
tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal alih
aksaranya adalah sebai beeriku:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
______َ
a
fathah
___◌___
ِ
i
kasrah
______ُ
u
dammah
Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
‫__◌َ __ﻱ‬
ai
a dan i
‫َ____ ﻭ‬
au
a dan u
Vokal Panjang (Madd)
Ketentuan alih aksara vokal panjang (Madd), yang dalam bahasa Arab
dilambangkan dengan harakat dan huruf, adalah sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
‫ــَﺎ‬
â
a dengan topi di atas
vii
‫ــﻲ‬
î
i dengan topi di atas
‫ـــﻮ‬
û
u dengan topi di atas
Kata Sandang
Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan
huruf, yaitu alif dan lam, dialih aksarakan menjadi huruf /l/ , baik diikuti oleh
huruf syamsyiah maupun qamariyah. Contoh: al-rijâl bukan ar-rijâl, al-dîwân
bukan ad-dîwân.
Syaddah (Tashdid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan
dengan sebuah tanda, dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu
dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini
tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kaata
sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya yang secaraa lisan
berbunyi ad-daruurah, tidak ditulis “ad-darûrah”, melainkan “al-darûrah”,
demikian seterusnya.
Ta Marbûtah
Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbûtah terdapat pada kata
yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan manjadi huruf /h/ (lihat
contoh 1 di bawah). Hal yang sama juga berlaku jika ta marbûtah tersebut diikuti
oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2). Akan tetapi, jika huruf ta marbûtah tersebut
diikuti oleh kata benda (isim), maka huruf tersebutdialihaksarakan menjadi huruf
/t/ (lihat contoh 3).
Contoh:
no
Kata Arab
Alih aksara
1
‫ﻃﺮﻳﻘﺔ‬
tarîqah
2
‫اﻟﺠﺎﻣﻌﺔ اﻹﺳﻼﻣﻴﺔ‬
al-jâmî ah al-islâmiyyah
3
‫وﺣﺪة اﻟﻮﺟﻮد‬
wahdat al-wujûd
viii
Huruf Kapital
Meskipun dalam tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih
aksara ini huruf capital tersebut juga digunakan, dengan memiliki ketentuan yang
berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain
yang menuliskan kalimat, huruf awal nama tempat nama bulan, nama diri, dan
lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama didahului oleh kata sandang, maka yang
ditulis dengan huruf capital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal
atau kata sandangnya. Contoh: Abû Hâmid al-Ghazâli bukan Abû Hamid AlGhazâli, al-Kindi bukan Al-Kindi.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................................... III
KATA PENGANTAR ............................................................................................ IV
PEDOMAN TRANSLITERASI ............................................................................. VII
DAFTAR ISI .............................................................................................................. XI
BAB I
: PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah .............................................................................. 6
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ................................................... 7
D. Metodologi Penelitian ........................................................................... 8
E. Kajian Pustaka ...................................................................................... 9
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................ 10
G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 11
BAB II
: MEMAHAMI PENGHORMATAN .................................................. 14
A. Pengertian Penghormatan .................................................................... 14
B. Penghormatan Terhadap Manusia Dalam Pandangan Islam ................ 16
C. Bentuk-bentuk Perilaku Penghormatan ............................................... 25
1. Mencium Tangan ............................................................................. 25
2. Inhinâ (Menundukan Badan) ........................................................... 27
3. Berdiri Menyambut Kedatangan Seseorang .................................... 29
BAB III
: HADIS-HADIS TENTANG PENGHORMATAN ........................... 31
A. Mencium Tangan
ix
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud Hadis, dan Kualitas Hadis ................ 31
2. Pendapat Ulama Tentang Mencium Tangan ................................... 40
3. Analisa Hadis Mencium Tangan ..................................................... 44
B. Inhina (Menundukan Badan) ............................................................... 47
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud Hadis, dan Kualitas Hadis .................. 47
2. Pendapat Ulama Tentang Inhina ....................................................... 49
3. Analisa Hadis Inhina ....................................................................... 51
C. Berdiri Menyambut Kedatangan Seseorang ....................................... 54
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud Hadis, dan Kualitas Hadis ................ 54
2. Pendapat Ulama Tentang Berdiri Menyambut Seseorang ............... 64
3. Analisa Hadis Berdiri Menyambut Seseorang ................................ 68
BAB V
: PENUTUP .......................................................................................... 72
A. Kesimpulan ........................................................................................ 72
B. Saran ................................................................................................... 74
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 75
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu kewajiban antara satu muslim dengan muslim yang lainnya
adalah untuk saling menghormati dan memberikan penghormatan, di antara
bentuk penghormatan yang dilakukan umat muslim
di Indonesia ini adalah
mencium tangan, menundukan kepala, dan berdiri ketika seorang datang.
Beberapa hadis yang mungkin digunakan sebagai dalilnya adalah sebagai
berikut:
ِ ِ ِ‫ﱠ‬
ٍ
‫ُﺳ َﺎﻣﺔَ َﻋ ْﻦ ُﺷ ْﻌﺒَﺔَ َﻋ ْﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو‬
َ ‫ﻳﺲ َوﻏُْﻨ َﺪٌر َوأَﺑُﻮ أ‬
َ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑُﻮ ﺑَ ْﻜﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﻪ ﺑْ ُﻦ إ ْدر‬
ِ
ِ
ِ ِ
‫ﱠﱯ‬
‫ أَ ﱠن ﻗَـ ْﻮًﻣﺎ ﻣ ْﻦ اﻟْﻴَـ ُﻬﻮد ﻗَـﺒﱠـﻠُﻮا ﻳَ َﺪ اﻟﻨِ ﱢ‬: ‫ﺻ ْﻔ َﻮا َن ﺑْ ِﻦ َﻋ ﱠﺴ ٍﺎل‬
َ ‫ﺑْ ِﻦ ُﻣﱠﺮةَ َﻋ ْﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﺳﻠَ َﻤﺔَ َﻋ ْﻦ‬
2ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َوِر ْﺟﻠَْﻴﻪ‬
َ
F1
Telah menceritakan kepada kami Abû Bakar, telah
menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idrîs dan Ghundar dan
Abû Usâmah, dari Syu'bah, dari 'Amru bin Murrah, dari ‘Abdullah
bin Salamah dari Safwân bin 'Assâl, bahwa sekelompok orang
Yahudi mencium tangan dan kedua kaki Nabi saw."
ٍ ِ‫ﺲ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟ‬
‫ﻚ‬
َ ْ ِ َ‫أَﻧ‬
‫ﺎل‬
َ َ‫ﺎل َﻻ ﻗ‬
َ َ‫ﻟَﻪُ ﻗ‬
ِ
‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ َﺣْﻨﻈَﻠَﺔُ ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋ ْﻦ‬
ْ ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠﻪ أ‬
ْ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺳ َﻮﻳْ ٌﺪ أ‬
ِ
ِ َ ‫ﺎل رﺟﻞ ﻳﺎ رﺳ‬
‫ﺻ ِﺪﻳ َﻘﻪُ أَﻳـَْﻨ َﺤ ِﲏ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ اﻟﱠﺮ ُﺟ ُﻞ ﻣﻨﱠﺎ ﻳـَْﻠ َﻘﻰ أ‬
َ ‫َﺧﺎﻩُ أ َْو‬
ُ َ َ ٌ ُ َ َ َ‫ ﻗ‬:‫ﻗَﺎل‬
3
ِِ ِ
‫ﺎل ﻧـَ َﻌ ْﻢ‬
َ َ‫ﺼﺎﻓِ ُﺤﻪُ ﻗ‬
َ َ‫ﺎل َﻻ ﻗ‬
َ َ‫أَﻓَـﻴَـ ْﻠﺘَ ِﺰُﻣﻪُ َوﻳـُ َﻘﺒﱢـﻠُﻪُ ﻗ‬
َ ُ‫ﺎل أَﻓَـﻴَﺄْ ُﺧ ُﺬ ﺑﻴَﺪﻩ َوﻳ‬
F2
Telah menceritakan kepada kami Suwaid, telah memberitakan
kepada kami Handzolah bin ‘Ubaidillah, dari Anas bin Mâlik (ia berkata):
telah berkata seorang laki-laki: wahai Rasulullah saw apabila seorang
laki-laki diantara kami bertemu dengan saudaranya atau kerabatnya
apakah kami harus menunduk kepadanya, Rasul menjawab: “Tidak”,
apakah kami harus memeluk dan menciumnya, Rasul menjawab:
“Tidak”, apakah kita harus mengambil tangannya dan berjabat
dengannya, Rasul menjawab:”Ya”.
2
Abû ‘Abdillâh Muhammad Ibn Yazîd al-Qazwinî Ibn Mâjah, Sunan Ibnu Mâjah
(Semarang:Thoha Putera) j.2, hal. 1220, Kitâb al-Adab Bâb ar-Rojulu Yuqobbilu Yada ar-Rojuli.
3
Al-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî, (Semarang:Thoha Putera),
j.4, hal.172, Bâb Ma Jâa Fî al-Musâfahah.
ِ
ِ ِ
‫ﻴﻞ َﻋ ْﻦ‬
ْ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ‬
ْ ‫اﳊَ َﺴ ُﻦ ﺑْ ُﻦ َﻋﻠ ﱟﻲ َواﺑْ ُﻦ ﺑَﺸﱠﺎ ٍر ﻗَ َﺎﻻ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻋُﺜْ َﻤﺎ ُن ﺑْ ُﻦ ﻋُ َﻤَﺮ أ‬
ُ ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ إ ْﺳَﺮاﺋ‬
ِِ
ِ
ِ
ِ
ٍ ِ‫َﻣْﻴﺴﺮةَ ﺑْ ِﻦ َﺣﺒ‬
َ‫ﲔ َﻋﺎﺋِ َﺸﺔ‬
َ ‫ﻴﺐ َﻋ ْﻦ اﻟْﻤْﻨـ َﻬ ِﺎل ﺑْ ِﻦ َﻋ ْﻤ ٍﺮو َﻋ ْﻦ َﻋﺎﺋ َﺸﺔَ ﺑِْﻨﺖ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ َﻋ ْﻦ أُﱢم اﻟْ ُﻤ ْﺆﻣﻨ‬
ََ
ِ
ّ
‫اﳊَ َﺴ ُﻦ َﺣ ِﺪﻳﺜًﺎ‬
َ‫َﺎ رَأَﻳْﺖُ أَﺣَﺪًا ﻛَﺎنَ أَﺷْﺒَﻪَ ﲰَْﺘًﺎ وَﻫ‬: ‫ﺖ‬
ْ ‫ﺎل‬
َ َ‫ﺪْﻳًﺎ وَدَﻻً َوﻗ‬
ْ َ‫َرﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨـ َﻬﺎ أَﻧـ َﱠﻬﺎ ﻗَﺎﻟ‬
ِ َ‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ ِﻣﻦ ﻓ‬
ِ ‫ﱠل ﺑِﺮﺳ‬
ْ ‫َوَﻛ َﻼ ًﻣﺎ َوَﱂْ ﻳَ ْﺬ ُﻛ ْﺮ‬
َ‫ﺎﻃ َﻤﺔ‬
َ ‫اﳊَ َﺴ ُﻦ اﻟ ﱠﺴ ْﻤ‬
َ
ْ َ ََ َْ ُ
ُ َ ‫ي َواﻟﺪ ﱠ‬
َ ‫ﺖ َوا ْﳍَْﺪ‬
ِ
ِ
‫َﺟﻠَ َﺴ َﻬﺎ ِﰲ َْﳎﻠِ ِﺴ ِﻪ‬
ْ َ‫ﺖ إِذَا َد َﺧﻠ‬
ْ َ‫َﻛﱠﺮَم اﻟﻠﱠﻪُ َو ْﺟ َﻬ َﻬﺎ َﻛﺎﻧ‬
ْ ‫َﺧ َﺬ ﺑِﻴَﺪ َﻫﺎ َوﻗَـﺒﱠـﻠَ َﻬﺎ َوأ‬
َ ‫ﺖ َﻋﻠَْﻴﻪ ﻗَ َﺎم إِﻟَْﻴـ َﻬﺎ ﻓَﺄ‬
4 ِِ
ِ ِ ‫وَﻛﺎ َن إِذَا دﺧﻞ ﻋﻠَﻴـﻬﺎ ﻗَﺎﻣﺖ إِﻟَﻴ ِﻪ ﻓَﺄَﺧ َﺬ‬
‫َﺟﻠَ َﺴْﺘﻪُ ِﰲ َْﳎﻠﺴ َﻬﺎ‬
ْ َ ْ ْ َ َْ َ َ َ َ
ْ ‫ت ﺑِﻴَﺪﻩ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَْﺘﻪُ َوأ‬
َ
F3
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Ali dan Ibn
Basysyâr (keduanya berkata); telah menceritakan kepada kami ‘Utsmân
bin Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Isrâ'îl dari Maisarah
bin Habîb, dari Al-Minhal bin Amru, dari 'Âisyah binti Thalhah, dari
Ummul Mukminin 'Âisyah ra (ia berkata,: "Aku tidak pernah melihat
seseorang yang mirip dalam kesopanan, ketenangan, kesabaran dalam
memberi petunjuk, dan Al-Hasan tidak pernah menyebutkan 'ketenangan,
kesabaran dalam memberi petunjuk - seperti Rasulullah saw selain dari
pada Fatimah -semoga Allah memuliakan wajahnya-. Jika Fatimah datang
menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan
mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang
menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan
mendudukkannya di tempat duduknya."
Beberapa penghormatan yang saya sebutkan di atas menyebabkan adanya
perbedaan pendapat tentang bagaimana pengormatan yang seharusnya dilakukan
oleh dua orang muslim ketika bertemu, karena dikhawatirkan terjadi
penghormatan yang berlebih, telah disebutkan beberapa hadis dari Nabi
Muhammad saw, yang diantaranya:
ِ ْ ‫ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨﺎ‬
ِ َ َ‫ي ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﺳ ْﻔﻴﺎ ُن ﻗ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ ﻋُﺒَـْﻴ ُﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒ ِﺪ‬
ُ ‫ي ﻳـَ ُﻘ‬
‫ﺖ اﻟﱡﺰْﻫ ِﺮ ﱠ‬
َ َ
ْ ‫ﻮل أ‬
ُ ‫ﺎل َﲰ ْﻌ‬
َُ
َ ‫اﳊُ َﻤْﻴﺪ ﱡ‬
ِ ِ
ٍ ‫اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ َﻋﺒﱠ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ‬
ُ ‫ﺎس َِﲰ َﻊ ﻋُ َﻤَﺮ َر ِﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨﻪُ ﻳـَ ُﻘ‬
‫ﺖ اﻟﻨِ ﱠ‬
ُ ‫ﻮل َﻋﻠَﻰ اﻟْﻤْﻨ َِﱪ َﲰ ْﻌ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
‫ﱠﺼ َﺎرى اﺑْ َﻦ َﻣ ْﺮَﱘَ ﻓَِﺈﱠﳕَﺎ أَﻧَﺎ َﻋْﺒ ُﺪﻩُ ﻓَـ ُﻘﻮﻟُﻮا َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ‬
ُ ‫َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻳـَ ُﻘ‬
ْ ‫ﻮل َﻻ ﺗُﻄُْﺮ ِوﱐ َﻛ َﻤﺎ أَﻃَْﺮ‬
َ ‫ت اﻟﻨ‬
5
ُ‫َوَر ُﺳﻮﻟُﻪ‬
F4
Telah menceritakan kapada kami Al-Humaidiy, telah menceritakan
kepada kami Sufyân (bahwa ia telah berkata), aku telah mendengar al4
Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud,(Darr Al-Fikr), j.4, hal.355, Kitâb al-Adab Bâb Ma Jâa
fi al-Qiyâm.
5
Muhammad bin ‘Ismâ’îl Al-Bukhârî, Sahîh Al-Bukhârî, (Beirut:Libanon), j.2, hal.256.
Kitâb Ahâdditsul Anbiyâ.
3
Zuhriy berkata: telah memberitakan kepadaku ‘Ubaidillah ibn ‘Abdillah,
Dari Ibn ‘Abbâs mendengar ‘Umar berkata dari atas mimbar: ”Aku
mendengar Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskanku
sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan ‘Îsa putra Maryam.
Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka ucapkanlah: hamba
Allah dan Rasul-Nya.”
Kekhawatiran Nabi tentang sikap yang berlebih ini juga pernah diucapkan
dalam sebuah hadis:
ٍ ‫ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻋﻠِﻲ ﺑﻦ ُﳏ ﱠﻤ ٍﺪ ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑﻮ أُﺳﺎﻣﺔَ ﻋﻦ ﻋﻮ‬
ِ ْ‫ﺼ‬
‫ﲔ َﻋ ْﻦ أَِﰊ‬
ْ ‫ف َﻋ ْﻦ ِزﻳَ ِﺎد ﺑْ ِﻦ‬
َ ُ‫اﳊ‬
َ َ ُْ ‫َ ﱡ‬
َ
َْ ْ َ َ َ ُ
ِ ُ ‫ﺎل رﺳ‬
ٍ ‫اﻟْ َﻌﺎﻟِﻴَ ِﺔ َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ َﻋﺒﱠ‬
‫ﱠﺎس إِﻳﱠﺎ ُﻛ ْﻢ‬
َ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗ‬
َ َ‫ﺎس ﻗ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
ُ َ َ َ‫ ﻗ‬: ‫ﺎل‬
ُ ‫ﺎل ﻳَﺎ أَﻳـﱡ َﻬﺎ اﻟﻨ‬
6
‫ﻚ َﻣ ْﻦ َﻛﺎ َن ﻗَـْﺒـﻠَ ُﻜ ْﻢ اﻟْﻐُﻠُﱡﻮ ِﰲ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ‬
َ َ‫َواﻟْﻐُﻠُﱠﻮ ِﰲ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ ﻓَِﺈﻧﱠﻪُ أ َْﻫﻠ‬
5F
Artinya : Meriwayatkan kepada kami 'Ali bin Muhammad
meriwayatkan kepada kami Abû Usâmah dari 'Auf dari Ziyâd ibn alHusaini dari Abi al-'Âliyah dari Abbâs (dia berkata): telah bersabda
Rasulullah saw “Jauhilah sikap berlebih-lebihan di dalam Agama, karena
orang-orang sebelum kalian hancur binasa karena sikap berlebihan di
dalam Agama”
Hadis riwayat Ibnu Mâjah mengindikasikan bahwa jangan berlebihan di
dalam Agama, dikarenakan Nabi saw telah menggambarkan orang-orang sebelum
sahabat telah hancur binasa disebabkan sikap berlebihan. Walaupun hal tersebut
dilakukan terhadap seseorang yang dianggap mulia di sisi Allah swt.
Sebagian
orang
menganggap
bahwa
tidak
boleh
memberikan
penghormatan yang berlebihan, karena boleh jadi penghormatannya tersebut
menyerupai penghormatannya kepada Allah swt, Komentar ini adalah penggalan
dari pendapat Raja ‘Abdullah tentang penolakan dan ajakan untuk tidak mencium
tangan kepada orang lain kecuali orang tua, karena hal tersebut (mencium tangan)
juga menyebabkan ketundukan, yang merupakan pelanggaran pada hukum Tuhan.
Ketundukan yang tepat tidak pada satu pun kecuali Tuhan. Riyadh, 12 September
6
Abî Abdillah Muhammad bin Yazîd bin al-Qazwînî (selanjutnya dikenal sebagai Ibnu
Mâjah), Sunan Ibni Mâjah, (Semarang : Toha Putra), juz 2, hal.1008.
4
2005 11:28.
7
6F
Namun sebagian berpendapat bahwa penghormatan antar manusia
boleh dilakukan dengan cara apapun, sesuai dengan urf (kebiasaan) disetiap
masing-masing Negara. Dan juga boleh melakukan penghormatan dengan caracara tertentu, sesuai dengan kredibilitas seseorang yang dihormati.
Contoh tentang hadis berdiri ketika seorang datang:
Hadis riwayat al-Tirmidzî.
ِ ‫ﻴﺐ ﺑ ِﻦ اﻟ ﱠﺸ ِﻬ‬
‫ﻴﺪ َﻋ ْﻦ‬
ُ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َْﳏ ُﻤ‬
ْ ِ ِ‫ﻴﺼﺔُ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺳ ْﻔﻴَﺎ ُن َﻋ ْﻦ َﺣﺒ‬
َ ِ‫ﻮد ﺑْ ُﻦ َﻏْﻴ َﻼ َن َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻗَﺒ‬
ِ
ِ
‫اﺟﻠِ َﺴﺎ‬
َ ‫ﲔ َرأ َْوﻩُ ﻓَـ َﻘ‬
َ َ‫أَِﰊ ِ ْﳎﻠَ ٍﺰ ﻗ‬
َ ‫ﺻ ْﻔ َﻮا َن ﺣ‬
ْ ‫ﺎل‬
َ ‫ َﺧَﺮ َج ُﻣ َﻌﺎ ِوﻳَﺔُ ﻓَـ َﻘ َﺎم َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ُﻦ اﻟﱡﺰﺑـَ ِْﲑ َواﺑْ ُﻦ‬: ‫ﺎل‬
ِ َ ‫َِﲰﻌﺖ رﺳ‬
ْ‫ﺎل ﻗِﻴَ ًﺎﻣﺎ ﻓَـ ْﻠﻴَﺘَﺒَـ ﱠﻮأ‬
ُ ‫ﺐ أَ ْن ﳝَْﺜُ َﻞ ﻟَﻪُ اﻟﱢﺮ َﺟ‬
ُ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻳـَ ُﻘ‬
‫َﺣ ﱠ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َ ‫ﻮل " َﻣ ْﻦ أ‬
َُ ُ ْ
8
"‫َﻣ ْﻘ َﻌ َﺪﻩُ ِﻣ ْﻦ اﻟﻨﱠﺎ ِر‬
F7
Artinya : "Meriwayatkan kepada kami Mahmûd Ibn Ghoilân
Meriwayatkan kepada kami Qobîsah Meriwayatkan kepada kami Sufyân
dari Habib ibn Syahîd dari Abî Mijlaz (dia berkata): Suatu ketika
Mu'âwiyah hendak keluar dari majelis, maka bangun 'Abdulllah ibn azZuhair dan Ibn Safwân untuk memberikan penghormatan, namun ketika
Mu'âwiyah melihatnya (maka ia berkata) : duduklah kalian berdua, aku
telah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Siapa suka dihormati manusia
dengan berdiri, maka hendaknya ia mendiami tempat duduknya di
Neraka".
Sementara hadis riwayat Abû Dâud menyatakan seperti berikut:
ِ ِ ِ
‫ َﻋ ْﻦ أَِﰊ أ َُﻣ َﺎﻣﺔَ ﺑْ ِﻦ‬, ‫ﻴﻢ‬
ُ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﺣ ْﻔ‬
َ ‫ َﻋ ْﻦ َﺳ ْﻌﺪ ﺑْ ِﻦ إﺑْـَﺮاﻫ‬, ُ‫ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔ‬, ‫ﺺ ﺑْ ُﻦ ﻋُ َﻤَﺮ‬
ٍ ِ‫ﻋﻦ أَِﰊ ﺳﻌ‬, ‫ﻒ‬
ٍ ‫ﺳ ْﻬ ِﻞ ﺑْ ِﻦ ﺣﻨَـْﻴ‬
, ‫أَ ﱠن أ َْﻫ َﻞ ﻗُـَﺮﻳْﻈَﺔَ ﻟَ ﱠﻤﺎ ﻧـََﺰﻟُﻮا َﻋﻠَﻰ ُﺣ ْﻜ ِﻢ َﺳ ْﻌ ٍﺪ‬, " ‫ي‬
ْ ‫ﻴﺪ‬
‫اﳋُ ْﺪ ِر ﱢ‬
ُ
َ
َ َْ
ِ
ِ‫ﺎل اﻟﻨِﱠﱯ ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴﻪ‬
ِ
ِ
‫أ َْر َﺳ َﻞ إِﻟَْﻴﻪ اﻟﻨِ ﱡ‬
َْ ُ
َ ‫ ﻓَـ َﻘ َ ﱡ‬, ‫ ﻓَ َﺠﺎءَ َﻋﻠَﻰ ﲪَﺎ ٍر أَﻗْ َﻤَﺮ‬, ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
ِ
ِ ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ‬
َ ‫ ﻓَ َﺠﺎءَ َﺣ ﱠﱴ ﻗَـ َﻌ َﺪ إِ َﱃ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬, ‫ﻮﻣﻮا إِ َﱃ َﺳﻴﱢﺪ ُﻛ ْﻢ أ َْو إِ َﱃ َﺧ ِْﲑُﻛ ْﻢ‬
ُ ُ‫ ﻗ‬: ‫َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
9
. "‫َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
F8
Artinya : Meriwayatkan Hafs bin ‘Umar, Menceritakan kepada
kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahîm, dari Abî Umâmah bin Sahl bin
7
Didownload
pada
11
April
2011
02:19
dengan
alamat
website:
(http://www.gatra.com/2005-09-12/artikel.php?id=88304).
8
Abî Dâud Sulaimân bin Al-Asy'at bin Ishâq As-Sijistânî, Sunan Abî Dâud, juz 4,
hal.358.
9
Abî Dâud Sulaimân bin Al-Asy'at bin Ishâq As-Sijistânî, Sunan Abî Dâud, juz 4,
hal.355.
5
Hunaif, dari Abî Sa’îd al-Khudriy: Sesungguhnya Bani Quraizah
diputuskan sebuah hukum oleh Sa’ad, Nabi pun mengirim utusan
kepadanya, tibalah Sa’ad dengan mengendarai keledai berwarna putih,,
bersabda Nabi saw "Berdirilah pemimpin kalian.”
Kedua hadis di atas terkesan mukhtalif, Hadis pertama secara tekstual
mengandung pengertian, bahwa seorang muslim yang suka penghormatan dengan
berdiri, maka ia menghadapi ancaman masuk Neraka. Namun dalam hadis kedua
Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk membantu Sa’ad ra
pemimpin para shahabat Ansar yang baru saja tiba mengendarai himâr (keledai).
"Berdirilah untuk pemimpin kalian.”
Keberadaan hadis-hadis di atas tidak terlepas dari kebudayaan dan
kebiasaan para sahabat Nabi saw pada waktu itu apabila mereka setelah bepergian
jauh untuk misi berdakwah, sesampainya mereka berjumpa dengan Rasulullah
mereka melepas kerinduaannya dengan menciumi tangan dan kakinya
Rasulullah. 10
9F
Adapun yang menjadi konsentrasi saya dalam pembahasan skripsi ini
adalah al-Khidmah fil Islâm (penghormatan di dalam Islam) yang meliputi
mencium tangan, menundukan badan, berdiri menyambut seseorang yang datang.
Hal ini dikarenakan terdapat sebagian orang yang beranggapan bahwa tidak boleh
mencium tangan, menundukan kepala, dan berdiri menyambut seseorang datang
Oleh karena itu penghormatan di dalam Islam menurut penulis sangat
penting untuk di kaji, sehingga mendapat gambaran utuh tentang etika
menghormati yang sesuai dengan ajaran Islam yaitu dengan melihat hadis-hadis
Nabi saw. Tidak hanya sekedar melihat dari kebolehan ataupun pelarangan dalam
estetika penghormatan. Lebih dari pada itu perlu juga melihat asbab al- wurud al10
Mostafa al-Badawi , Tangan Nabi, (Pustaka Zawiyah 2004), hal.58.
6
hadis
11
10F
Dengan lain ungkapan, ketika kita ingin menggali pesan moral dari suatu
hadis, perlu memperhatikan konteks historitas, kepada siapa hadis itu disampaikan
Nabi saw, dalam kondisi sosio-kultural yang bagaimana Nabi saw waktu itu
menyampaikannya. Tanpa memperhatikan konteks historisitasnya seseorang akan
mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami makna suatu hadis,
bahkan ia dapat terperosok ke dalam pemahaman yang keliru. Untuk itu agar
penulis juga tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan suatu hadis, akan juga
mengkaitkan dengan konteks kekinian.
Dari uraian di atas maka penelitian dengan judul "Penghormatan Dalam
Islam Perspektif Hadis (Mencium Tangan, Menundukan Badan, dan Berdiri
Menyambut Kedatangan Seseorang) ". Layak dilakukan.
B. Identifikasi Masalah
Dari hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang tersebut dapat
dilihat bahwa mengingat di Negara kita banyak sekali Organisasi Islam yang
dalam beberapa hal ada perbedaan pandangan, maka tidak mengeherankan apabila
sering kita jumpai antara satu Organisasi dengan lainnya saling menggunjing
dalam masalah Furû’iyah.
Berdasarkan uraian di atas maka saya melakuan identifikasi masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana tradisi penghormatan sebelum Islam?
2. Bagaimana tradisi penghormatan masa Rasulullah?
3. Apa saja bentuk-bentuk penghormatan?
11
Asbab al-Wurûd al-hadîs,merupakan konteks sosiologis yang menyebabkan suatu hadis
muncul,sebagai respon dan anggapan suatu hadis yang berkembang kala itu. Sehingga suatu hadis
difahami tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, maka akan terasa kurang lengkap, bahakan
bisa menimbulkan salah faham. Lihat Dasar-Dasar Ilmu Hadis, karya Bustamin, (Ushul Press
2009), hal.113.
7
4. Bagaimana konsep penghormatan dalam Islam?
5. Bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang penghormatan?
6. Bagaimana hadis berbicara tentang penghormatan?
7. Bagaimana pandangan Ulama tentang penghormatan, dan bentuk-bentuk
penghormatan?
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berangkat dari penjelasan diatas, maka diperlukanlah suatu rumusan
masalah guna menjaga agar penelitian ini fokus pada pembahasan dan lebih
terarah.
Adapun penelitian ini memiliki beberapa batasan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Islam memandang penghormatan dan apa saja bentuk-bentuk
penghormatan dalam Islam?
2. Bagaimana hadis berbicara tentang penghormatan serta mengindentifikasi
beberapa masalah yang berkaitan dengan penghormatan dalam Islam,
dengan meneliti teks hadis yang dijadikan dalil-dalil pembolehan atau
pelarangan hal-hal tersebut yang ada dalam al-Kutub al-Tis’ah?
3. Bagaimana pandangan Ulama tentang penghormatan dan bentuk-bentuk
penghormatan?
Untuk itu penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut:
“Bagaimana pemahaman terhadap hadis-hadis tentang penghormatan
sesama manusia”
D. Metodologi Penelitian
1. Penulis menggunakan langkah-langkah penelitian kepustakaan (library
reseach) dalam pengumpulan sumber data yaitu dengan memanfaatkan kitab-
8
kitab hadis untuk dijadikan sumber data dalam pencarian hadis-hadis
mengenai penghormatan. saya juga menelusuri karya-karya yang erat
hubungannya dengan masalah penghormatan, serta kitab-kitab syarah hadis
yang memuat
tentang penghormatan untuk selanjutnya dapat difahami
maksud dari makna hadis tersebut.
2. Penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriktif-analitis yaitu sebuah
metode yang menguraikan terlebih dahulu permasalahan yang akan di kaji
sebagai gambaran awal, setelah itu dianalisa. Hal yang pertama adalah
mengumpulkan hadis-hadis yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Setelah
itu dikelompokan hadis-hadis yang mempunyai tema yang sama dengan tema
penulisan skripsi ini. Dalam hal ini penulis memaparkan semua hadis-hadis
yang bersangkutan dengan tema tersebut tanpa melakukan intervensi,
melainkan menuliskan apa adanya. Metode penulisan skripsi ini menggunakan
buku Pedoman Akademik Tafsir Hadis Tahun 2006-2007 Fakultas Ushuluddin
dan Filsafat UIN Jakarta.
3. Selanjutnya penulis menggunakan metode takhrij hadis, metode takhrij hadis
itu sendiri ada empat metode. Pertama,takhrij hadis melalui kata/lafal pada
matan hadis. Kedua, takhrij hadis melalui tema. Ketiga, takhrij hadis melalui
awal matan hadis. Keempat, takhrij hadis melalui sahabat Nabi/periwayat
pertama. Akan tetapi saya menggunakan metode yang pertama yaitu metode
takhrij hadis melalui kata/lafal pada matan hadis, dalam kegiatan takhrij ini
hal yang pertama adalah mencari teks hadis dengan menggunakan sebuah
kamus yang saya anggap cukup lengkap yaitu kitab susunan A.J. Wensinck
dan kawan-kawan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh
9
Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi dengan judul al-Mu’jam al-Mufahros li alfazil
hadis an-Nabawi, kamus hadis ini hanya merujuk kepada sembilan kitab hadis
al-Kutub al-Tis’ah. 12contoh: ketika mencari kalimat at-Taqbîl maka yang
1F
harus kita lakukan adalah mengetahui akar kata dari at-Taqbîl itu sendiri,
yaitu Qobbala yaitu Fi’il al-Mâdi karena kita akan kesulitan mencari jika
menggunakan fi’il al-Mudâri’, ketika sudah mengetahui akar kata dari kalimat
yang akan dicari, maka kita tinggal mencari kalimat tersebut di kamus ini
dengan mengikuti huruf abjad bahasa Arab, yaitu huruf Qof dan yang
selanjutnya huruf Ba dan Ya, dengan begitu sangat mudah bagi kita mencari
hadis dengan menggunakan hadis ini. Dan setelah teks-teks hadis ditemukan
maka penelitian bisa dilanjutkan kepada kualitas hadis dan pemahaman dari
hadis tersebut mulai dari per-kata sampai dari maksud kandungan hadis
tersebut.
E. Kajian Pustaka
Penulis menemukan dalam beberapa sumber buku yang menulis tentang
masalah seputar adab seseorang ketika berjumpa, diantara buku-buku tersebut
adalah:
1) Ibnu al-Muqri, ar-Rukhsah Fî Taqbîli al-Yad. Buku ini secara keseluruhan
berisikan hadis-hadis tentang cium tangan, dan buku ini banyak
mendapatkan kritikan diantaranya hadis-hadis di dalam buku ini banyak
yang diragukan kualitasnya.
2) Âdabu Al-Musâfahah. Buku ini dikarang oleh salah satu Ulama Indonesia
yaitu Muhamad Nuruddin al-Banjar al-Makkî yang telah lama belajar
12
Bustamin, Dasar-Dasar Ilmu Hadis,(Ushul Press 2009 ), hal.184-185.
10
dengan Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (al-Musnid ad-Dunia), buku
ini membahas tentang adab seseorang ketika bertemu, ketiga hal yang saya
angkat dalam penulisan ini ada di dalam buku tersebut, akan tetapi dalam
buku ini tidak menyebutkan ikhtlaf para ulama tentang menghukumi
ketiga hal yang saya angkat dalam penulisan ini.
3) Al-Firqoh an-Najiyyah, buku ini dikarang oleh Jamil Zainu yang telah
diterjemahkan oleh Golongan Salafy menjadi “Jalan Golongan Yang
Selamat” 13 . Buku ini adalah salah satu buku yang kontradiksi dengan
12F
buku Muhammad Nuruddin al-Banjar al-Makkî yaitu Âdabu AlMusâfahah.
F. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan dari penelitian ini, sebagaimana yang telah saya sebutkan
pada pembatasan dan rumusan adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penghormatan yang ada di dalam Islam.
2. Untuk mengetahui hadis-hadis Nabi yang berbicara seputar penghormatan
dalam Islam.
3. Untuk mengetahui pandangan Ulama tentang penghormatan dan bentukbentuk penghormatan.
Adapun kegunaan dari penelitian ini Secara akademik adalah:
1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran
dalam
pemikiran
penghormatan
13
di
Islam
khusunya
dalam
Islam
dalam
bidang
yang meliputi
hadis
tentang
mencium
tangan,
Lihat : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=92, dapat diakses secara gratis
pada alamat tersebut.
11
menundukan badan, dan berdiri menyambut seorang datang yang saat ini
menjadi sebuah hal yang wajib.
2. Sebagai syarat memperoleh gelar Strata-1 bidang Theologi Islam pada
program studi Tafsir-Hadis di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Adapun kegunaan dari penelitian ini Secara non akademik adalah:
1. Agar saya dan para pembaca skripsi ini mendapat gambaran utuh tentang
penghormatan dan bentuk-bentuk penghormatan.
G. Sistematika Penulisan
Agar penulisan ini lebih sitematis dalam pengurainnya, maka penulisan
skripsi ini akan di bagi kepada beberapa bab, yaitu :
Bab satu berisikan tujuh sub-bab. Pertama, latar belakang masalah yang
akan diteliti. Kedua, identifikasi masalah agar masalah yang sulit dapat
disederhanakan sehingga penelitian menjadi mudah. Ketiga,
pembatasan dan
perumusan masalah agar pembahasan penelitian ini dapat fokus. Keempat,
metodologi penelitian agar proses penelitian menjadi terstruktur. Kelima, tujuan
dan manfaat penulisan, kenapa harus ada tujuan dan manfaat penulisan di dalam
sebuah proposal skripsi, hal ini dikarenakan agar penelitian yang akan dilakukan
tidak sia-sia dan dapat terarah sesuai dengan yang diinginkan. Keenam, kajian
pustaka, hal ini sangat penting agar saya dapat memahami latar belakang teoritis
masalah penelitian. Ketujuh, sistematika penulisan, perlunya sistematika penulisan
agar dapat memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari
penulisan/penelitian skripsi ini.
12
Pada bab dua ada tiga sub-bab. Pertama, saya akan membahas tentang
pengertian penghormatan secara umum. Kedua, menggambarkan penghormatan
tersebut dalam pandangan as-sunnah, hal ini dikarenakan tiga hal yang penulis
angkat pada penelitian ini amat erat kaitannnya dengan penghormatan. Lalu pada
sub-bab ketiga, saya akan mendefinisikan tiga hal yang menjadi pembahasan, hal
ini dikarenakan memberi gambaran awal tentang makna sesungguhnya dari
pembahasan saya.
Pada bab tiga ada tiga sub-bab. Pertama, berisikan teks-teks hadis yang
didapat dari al-Kutub al-Sittah melalui kitab mu’jam al-mufahros li alfâzi al-hadîs
dengan asbabul wurud hadis tersebut yang didapat melalui kitab syarh hadis yang
disertai juga akan kualitas hadis tersebut, karena kualitas ke-sahih-an sebuah
hadis merupakan hal yang sangat penting, terutama hadis-hadis yang bertentangan
dengan hadis, atau dalil lain yang lebih kuat. Pada bab kedua berisi pendapat para
ulama hadis tentang tiga hal yang menjadi pembasan pada skripsi ini, hal ini guna
memberikan kejelasan tentang alasan-alasan pembolehan dan pelarangan.
Sedangkan bab ketiga adalah analisa hadis guna memperjelas pemahaman dari
hadis-hadis tersebut.
Pada bab terakhir yaitu bab empat ada dua sub-bab. Pertama. Kesimpulan
guna mengetahui jawaban dari pembatasan dan perumusan masalah.
Kedua,
saran. Pada bab terakhir ini lah bagian penting untuk mengetahui “kira-kira
kelemahan yang ada dalam penelitian ini”, pada bab inilah clue kepada
pengembang berikutnya/atau pada skripsi yang lainnya.
BAB II
MEMAHAMI PENGHORMATAN
A. Pengertian Penghormatan
Istilah penghormatan dalam bahasa Arab mempunyai dua makna, yaitu
ditinjau dari segi etimologis dan terminologis. Penghormatan secara etimologis
dalam bahasa Arab, penghormatan ‫ ﺍﻻﺣﺘﺮﺍﻡ‬adalah penghargaan ‫ﺍﻻﻋﺘﺒﺎﺭ‬, kalimat
tersebut berakarkan Tsulâtsi Mujarrad yang berwazankan Fa’ala-Yaf’ulu yaitu
14
Harama-yahrumu-haraman, dan menjadi Rubâi ‫ ﺍِﺣْ ﺘِ َﺮﺍ ًﻣﺎ‬-‫ﺤﺘﺮ ﻡ‬
َ ْ‫ﺍِﺣ‬. Dan bentuk
ِ َ‫ ﻳ‬- ‫ﺘﺮ ﻡ‬
13F
mashdarnya adalah ‫ ﺍﺣﺘﺮﺍﻣﺎ‬Seperti contoh:
Menghormatinya : menjaga kehormatannya: ُ‫ َﺭﻋَﻰ ﺣُﺮْ َﻣﺘَﻪ‬: ُ‫ﺍِﺣْ ﺘَ َﺮ َﻣﻪ‬
Dalam istilah bahasa Arab yang lain, yang juga sering digunakan untuk
kalimat penghormatan adalah ‫ﺍﻟﺘّﺤﻴّﺔ‬
15
yang berakar pada kata ‫ ﻳُﺤْ ﻲ‬-‫ﺣﻲ‬
ّ ,
14F
penggunaan kalimat ‫ ﺍﻟﺘّﺤﻴّﺔ‬juga digunakan dalam firman Allah swt :
              

Artinya : "Apabila kamu dihormati dengan suatu tahiyah, maka
balaslah tahiyah itu ,dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang
serupa). Sesungguhnya Allah ,memperhitungkan segala sesuatu. (QS.
4:86). 16
15F
Secara terminologis atau istilah penghormatan diartikan sebagai suatu
proses, cara, perbuatan menghormati terhadap seseorang yang patut dihormati.
14
15
Ahmad Warson Munawir,al-Munawir,(Surabaya : Pustaka Progressif), hal.257.
Lihat Lisânul ‘Arab, Jilid 14. hal. 214, dan Ahmad Warson Munawir,al-Munawir ,
hal.316.
16
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta-Office/Indonesia), hal.133.
14
Dalam kamus bahasa Indonesia kata penghormatan berasal dari kata
hormat dan mendapatkan tambahan peng dan an menjadi penghormatan, ada
beberapa istilah/sinonim dari kata penghormatan:
1. Pemuliaan : perihal membuat (menjadikan) sesuatu hal lebih bermutu atau
lebih unggul.
2. Pengakuan : proses, cara, perbuatan mengaku atau mengakui.
3. Penakziman : menghormati; memuliakan.
4. Pengakuan : proses, cara, perbuatan mengaku atau mengakui
5. Penghargaan : tanda (berupa bintang dsb) yg diberikan kpd seseorang
untuk menghargai jasanya (karyanya dsb);
Hemat saya adalah bahwa satu muslim dengan muslim yang lainnya
adalah harus saling harga menghargai karena sikap tersebut harus dimiliki oleh
setiap muslim sebagai wujud dari Al-Akhlak al- Karîmah.
Tentang kedudukan akhlak mulia telah dijelaskan dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan Abû Dardâ bahwa Rasûlullâh saw bersabda :
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﺑْ ُﻦ أَِﰊ ﻋُ َﻤَﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺳ ْﻔﻴَﺎ ُن َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋ ْﻤ ُﺮو ﺑْ ُﻦ ِدﻳﻨَﺎ ٍر َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ أَِﰊ ُﻣﻠَْﻴ َﻜﺔَ َﻋ ْﻦ‬
ِ
ِ
ٍ َ‫ﻳـﻌﻠَﻰ ﺑ ِﻦ ﳑَْﻠ‬
َ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗ‬
‫ﻚ َﻋ ْﻦ أُﱢم اﻟﺪ ْﱠرَداء َﻋ ْﻦ أَِﰊ اﻟﺪ ْﱠرَداء أَ ﱠن اﻟﻨِ ﱠ‬
ْ َْ
َ ‫ﱠﱯ‬
ٌ‫ﺎل َﻣﺎ َﺷ ْﻲء‬
17
ِ
ِ
ِ
ِِ ِ
ِ ِ ِ
ُ ‫أَﺛْـ َﻘ ُﻞ ِﰲ ﻣ َﻴﺰان اﻟْ ُﻤ ْﺆﻣ ِﻦ ﻳـَ ْﻮَم اﻟْﻘﻴَ َﺎﻣﺔ ﻣ ْﻦ ُﺧﻠُ ٍﻖ َﺣ َﺴ ٍﻦ َوإِ ﱠن اﻟﻠﱠﻪَ ﻟَﻴُْﺒﻐ‬
َ ‫ﺾ اﻟْ َﻔﺎﺣ‬
َ‫ﺶ اﻟْﺒَﺬيء‬
F16
Telah meriwayatkan kepada kami Ibn Abî ‘Umar, telah
meriwayatkan kepada kami Sufyân, telah meriwayatkan kepada kami
‘Amr bin Dînâr, dari Abî Mulaikah, dari Ya’la bin Mamlak, dari sahabat
Abî Dardâ : bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : “Tidak ada
sedikitpun yang lebih berat ditimbangan seorang mu`min pada hari kiamat
nanti dari akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci
orang yang berkata keji dan jelek”. (HR. At-Turmudzî : dan beliau berkata
hadis ini hasan shahih).
17
Al-Tirmidzî, Sunan, Bâb Mâ Jâ-a Fî Husnil Kholqi, (Semarang : Thoha Putra), Juz 3,
No.2070, hal. 244.
15
Akhlak adalah gabungan dari berbagai macam keutamaan dan tradisi, yang
karenanya bangsa-bangsa ini dapat hidup sebagaimana hidupnya tubuh kita
dengan adanya organ-organ dan perangkat-perangkatnya. Maka jika gabungan
sifat itu berpenyakit dan bercerai-berai, maka akan terlihat sesuatu yang tidak
menyenangkan di jalan-jalan umum maupun khusus. 18
17F
Manusia adalah makhluk sosial, 19 yang
18F
memerlukan interaksi yang
disebut interaksi sosial. Dalam interaksi sosial itu, setiap orang memerlukan
penghargaan dan pengakuan dari sesamanya. Tidak ada orang yang memilih cara
hidup untuk dikucilkan dan dibenci manusia. Sekalipun dalam kenyataannya
kemudian ada manusia yang dikucilkan dan direndahkan di mata hukum dan
moral, disebabkan oleh perbuatan buruknya yang terbongkar. Kita akan sampai
pada suatu kesimpulan bahwa penghormatan manusia kepada kita amatlah mahal,
sehingga perlu dipertahankan dengan kesungguhan hati dan dedikasi yang kuat.
Memang kadar hakiki dan perbuatan baik dan buruk kita, Allah lah yang secara
tepat Maha Tahu tentang kualitas dan nilai diri kita, namun secara hablu minan
nâs pun kita harus mencoba mendekati kualitas kepribadian dan sikap yang
terbaik.
B. Penghormatan Terhadap Manusia Dalam Pandangan Islam
Seorang Muslim diperintahkan oleh Allah swt agar tidak mencintai
ataupun membenci siapapun kecuali karena Allah swt. Hal ini karena seharusnya
ia tidak mencintai apa pun selain yang dicintainya oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
18
Qiqi Yuliati Zakiyah. Kuliah-kuliah Akhlak. (Bandung : Sega Ars 2010). hal.122
Sifat utama dari manusia dalam golongan tipe ini adalah besar kebutuhannya akan
adanya resonansi dari sesama manusia: butuh hidup di antara manusia-manusia lain dan ingin
mengabdi kepada kepentingan umum. Nilai yang dipandangnya sebagai nilai yang paling tinggi
adalah “cinta terhadap sesame manusia”, baik yang tertuju pada individu tertentu maupun yang
tertuju pada kelompok manusia.(lihat: Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada. 2003) hal. 91.
19
16
Begitu juga, ia tidak membenci apa pun selain yang dibenci Allah swt dan RasulNya. Oleh karena itu, jika Allah dan Rasulnya mencintai sesuatu, ia juga
mencintainya. Dan jika Allah swt dan Rasul-Nya membenci sesuatu, ia juga
membencinya. 20 Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
19F
ِ ِ ‫ﺎل ﻣﻦ أَﺣ ﱠ‬
ِ
ِ ِ
‫ﺾ ﻟِﻠﱠ ِﻪ َوأ َْﻋﻄَﻰ ﻟِﻠﱠ ِﻪ‬
َ َ‫ﺐ ﻟﻠﱠﻪ َوأَﺑْـﻐ‬
َ ‫َﻋ ْﻦ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َ ْ َ َ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ أَﻧﱠﻪُ ﻗ‬
21
ِِ
ِْ ‫ْﻤﻞ‬
(‫اﻹﳝَﺎ َن )رواﻩ أﺑﻮ داود‬
ْ ‫َوَﻣﻨَ َﻊ ﻟﻠﱠﻪ ﻓَـ َﻘ ْﺪ‬
َ َ ‫اﺳﺘَﻜ‬
F
20
Artinya : dari Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang mencintai
karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak
memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR.
Abû Dâwud).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka seorang Muslim mencintai dan
memiliki loyalitas kepada semua hamba Allah yang saleh. Begitu juga manusia
jahat yang menentang Allah swt dan Rasulullah saw, tidak disukai dan ditentang
oleh setiap Muslim.
Dengan demikian penulis membagi empat alasan manusia dihormati :
1.Manusia dihormati karena ia manusia.
Manusia akan senantiasa dihormati akan hak-haknya selagi ia masih hidup
hingga ia dikuburkan, sekalipun ia miskin, berakhlak buruk, bodoh, tidak
beragama dan berstatus rendah di tengah masyarakatnya. Tetapi penghormatan itu
diberikan karena kesadaran manusia yang tahu akan kewajibannya terhadap
sesamanya, Allah berfirman :
20
Abu Bakr al-Jazairi, Mengenal Etika & Akhlak Islam, (PT.Lentera Basritama 1998),
hal.133.
21
Hadis ini driwayatkan oleh Abu Dâwud : Telah menceritakan kepada kami Muammal
Ibnul Fadhl berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu'aib bin Syâbur dari
Yahya Ibnul Hârits dari Al- Qâsim dari Abû Umâmah. Lihat Abu Dâwud, Sunan, Bâb Ad-dalîl
'Ala Ziy6adatil îman wa Nuqshônihi, hadis no. 4681. (Beirut : Dar al-Fikr) hal. 220.
17
              
  
Artinya :“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia ( karena sombong ) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman : 18 ). 22
21F
Secara umum manusia dihormati oleh sesamanya karena ia manusia.
Seseorang dihormati karena ia manusia, jika tidak diikuti oleh kualitas-kualitas
yang berikutnya berupa harta, ilmu, keturunan dan agama, tentu penghormatan itu
tidak setinggi penghormatan manusia yang diberikan kepada orang yang berilmu
dan beragama.
Adapun sangsi yang akan didapat oleh orang-orang yang menjatuhkan
harkat dan martabat manusia yang lainnya, dan balasan orang-orang yang selalu
menjaga kehormatan sesamanya, hal ini tergambar dalam hadis Nabi Muhammad
saw.
‫ﺎل َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ َْﳛ َﲕ ﺑْ ُﻦ‬
ِ ‫ﺼﺒﱠ‬
َ َ‫ﺚ ﻗ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ إِ ْﺳ َﺤ ُﻖ ﺑْ ُﻦ اﻟ ﱠ‬
ُ ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ اﻟﻠﱠْﻴ‬
ْ ‫ﺎح َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﺑْ ُﻦ أَِﰊ َﻣ ْﺮَﱘَ أ‬
ِ ُ ‫ﺳﻠَﻴ ٍﻢ أَﻧﱠﻪ َِﲰﻊ إِ ْﲰﻌِﻴﻞ ﺑﻦ ﺑ ِﺸ ٍﲑ ﻳـ ُﻘ‬
‫ﺖ َﺟﺎﺑَِﺮ ﺑْ َﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ َوأَﺑَﺎ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ ﺑْ َﻦ َﺳ ْﻬ ٍﻞ‬
ُ ‫ﻮل َﲰ ْﻌ‬
َ َ َْ َ َ َ ُ ْ ُ
ِ ُ ‫ﺎل رﺳ‬
ِ
‫ َﻣﺎ ِﻣ ْﻦ ْاﻣ ِﺮ ٍئ َﳜْ ُﺬ ُل ْاﻣَﺮأً ُﻣ ْﺴﻠِ ًﻤﺎ ِﰲ‬:‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫ﺼﺎ ِر ﱠ‬
َ ْ‫ْاﻷَﻧ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
ُ َ َ َ‫ي ﻳـَ ُﻘ َﻮﻻن ﻗ‬
ِ ِ ‫ﻚ ﻓِ ِﻴﻪ ﺣﺮﻣﺘُﻪ وﻳـْﻨﺘَـ َﻘﺺ ﻓِ ِﻴﻪ ِﻣﻦ ِﻋﺮ ِﺿ ِﻪ إِﻻﱠ ﺧ َﺬﻟَﻪ اﻟﻠﱠﻪ ِﰲ ﻣﻮ ِﻃ ٍﻦ ُِﳛ ﱡ‬
ُ ‫َﻣ ْﻮ ِﺿ ٍﻊ ﺗـُْﻨﺘَـ َﻬ‬
ْ ُ‫ﺐ ﻓﻴﻪ ﻧ‬
ُ‫ﺼَﺮﺗَﻪ‬
ُ ُ َ ُ َْ ُ
َْ ُ ُ َ
ْ ْ
ِ ‫وﻣﺎ ِﻣﻦ اﻣ ِﺮ ٍئ ﻳـْﻨﺼﺮ ﻣﺴﻠِﻤﺎ ِﰲ ﻣﻮ ِﺿ ٍﻊ ﻳـْﻨﺘـ َﻘ‬
‫ﻚ ﻓِ ِﻴﻪ ِﻣ ْﻦ ُﺣ ْﺮَﻣﺘِ ِﻪ إِﻻﱠ‬
ُ ‫ﺺ ﻓ ِﻴﻪ ِﻣ ْﻦ ِﻋ ْﺮ ِﺿ ِﻪ َوﻳـُْﻨﺘَـ َﻬ‬
ُ َ ُ ْ َ ً ْ ُ ُُ َ ْ ْ َ َ
23
.ُ‫ﺼَﺮﺗَﻪ‬
‫ﺼَﺮﻩُ اﻟﻠﱠﻪُ ِﰲ َﻣ ْﻮ ِﻃ ٍﻦ ُِﳛ ﱡ‬
ْ ُ‫ﺐ ﻧ‬
َ َ‫ﻧ‬
F2
Telah meriwayatkan kepada kami Ishaq bin Al-Sabah, telah
meriwayatkan kepada kami Ibn Abî Maryam, telah mengabarkan kepada
kami Al-Laits (ia berkata): menceritakan kepadaku Yahya bin Sulaim
bahwa ia mendengar Isma’îl bin Basyîr berkata: aku mendengar Jâbir bin
‘Abdillah dan Talhah Al-Ansâriy mereka berdua berkata: Telah bersabda
Rasulullah saw : “Tidaklah seseorang menelantarkan seorang mukmin
22
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta-Office/Indonesia), hal.655.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abû Dâwud, Sunan, Bâb Man Radda 'an Muslim Ghîbah,
hadis no. 4681. (Beirut : Dar al-Fikr) hal. 270-271.dan dinyatakan sahîh oleh Al-Albâni dalam
Sahîh Al-Jâmi’ no. 5690).
23
18
pada suatu tempat yang kehormatannya terampas dan harga dirinya
terlecehkan, melainkan Allah akan menelantarkannya pada suatu tempat
dimana ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang
menolong seorang muslim yang berada pada suatu tempat yang
kehormatannya terampas dan harga dirinya terlecehkan di dalamnya,
melainkan Allah akan menolongnya pada suatu tempat dimana ia sangat
mengharapkan pertolongan-Nya.” (HR. Abu Daud)
Dengan demikian tanpa status sosial pun sudah selayaknya manusia
mendapatkan penghormatan dari manusia yang lainnya, namun bukan saja
penghormatan yang hanya diharapkan, pada dasarnya memberikan penghormatan
terlebih dahulu yang lebih penting.
2. Manusia dihormati karena kedermawanannya.
Tentang bagaimana dan mengapa manusia yang dermawan dihormati lebih
daripada orang-orang yang pelit dapat kita pahami secara kontekstual.
‫ﺎل‬
َ َ‫ي ح و َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﺑِ ْﺸ ُﺮ ﺑْ ُﻦ ُﳏَ ﱠﻤ ٍﺪ ﻗ‬
َ َ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﻗ‬
َ َ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋْﺒ َﺪا ُن ﻗ‬
‫ﺲ َﻋ ْﻦ اﻟﱡﺰْﻫ ِﺮ ﱢ‬
ْ ‫ﺎل أ‬
ْ ‫ﺎل أ‬
ُ ُ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ ﻳُﻮﻧ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ ﻋُﺒَـْﻴ ُﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ‬
َ َ‫ي َْﳓ َﻮﻩُ ﻗ‬
َ َ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﻗ‬
‫ﺲ َوَﻣ ْﻌ َﻤٌﺮ َﻋ ْﻦ اﻟﱡﺰْﻫ ِﺮ ﱢ‬
ْ ‫ﺎل أ‬
ْ ‫ﺎل أ‬
ْ‫أ‬
ُ ُ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ ﻳُﻮﻧ‬
ِ
ِ
ِ ُ ‫ﺎل َﻛﺎ َن رﺳ‬
ِ ‫َﺟ َﻮَد اﻟﻨ‬
ٍ ‫َﻋﺒﱠ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﷲُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َواﻟ ﱠﺴﻼَِم‬
َ َ‫ﺎس ﻗ‬
ْ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ أ‬
َ ‫ﱠﺎس َﻛﺎ َن َر ُﺳ ْﻮ ُل اﷲ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َُ
24
ِ ‫َﺟ َﻮَد اﻟﻨ‬
‫ﱠﺎس‬
ْ‫أ‬
F
23
Telah menceritakan kepada kami 'Abdân, telah bercerita kepada
kami 'Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Yûnus dan Ma’mar, dari
Al-Zuhriy berkata, telah bercerita kepadaku 'Ubaidullah bin Abdullah, dari
Ibnu 'Abbâs ra berkata; "Nabi saw adalah manusia paling dermawan".
Rasulullah telah menjadi teladan seluruh pengikutnya, digambarkan dalam
hadis di atas bahwa selain Rasulullah orang selalu menganjurkan untuk
bershodaqoh, beliau juga mengajarkan lewat perbuatannya menjadi orang yang
dermawan 25 Da'wah al- Hâl.
24 F
24
Diriwayatkan oleh al-Bukhâri didalam Kitab Sahih Al-Bukhârî Bâb Bid’u al-Wahyu,
hal.8.
25
Bukan Rasulullâh yang mengikrarkan dirinya menjadi orang yang dermawan, akan
tetapi para sahabat lah yang menilai Rasulullâh saw sebagai orang yang dermawan, karena
memang dalam kesehariannya mereka selalu bersama Rasulullâh saw.
19
Pujian dan penghormatan terhadap orang yang dermawan juga pernah
disampaikan oleh Nabi Muhammad saw terhadap para sahabatnya, di antaranya
yang termaktub dalam satu hadis Nabi Muhammad saw.
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋﻠِ ﱡﻲ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ اﻟﺘـْﱠﻴ ِﻤ ﱡﻲ ِﻣ ْﻦ أ َْﻫ ِﻞ اﻟْ َﻤ ِﺪﻳﻨَ ِﺔ َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ‬
ِ ِ‫ﻚ ﻋﻦ ﺳﻌ‬
ِ
ٍِ
ِ ‫ﻴﺪ ﺑْ ِﻦ اﻟْﻤﺴﻴﱠ‬
ٍ ‫ﺐ َﻋ ْﻦ َﺳ ْﻌ ِﺪ ﺑْ ِﻦ أَِﰊ َوﻗﱠ‬
‫ﻮل‬
ُ ‫ﺎل َر ُﺳ‬
َ َ‫ ﻗ‬: ‫ﺎل‬
َ َ‫ﺎص ﻗ‬
َ ْ َ ‫أَﺑُﻮ ُﺳ َﻬْﻴ ٍﻞ ﻧَﺎﻓ ُﻊ ﺑْ ُﻦ َﻣﺎﻟ‬
َُ
.‫ﺻﻠُ َﻬﺎ‬
َ ‫ﻟﻠﱠﻪِ ﺻَﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ وَﺳَﻠﱠﻢَ ﻟِﻠْﻌَﺒﱠﺎسِ ﻫَﺬَا اﻟْﻌَﺒﱠﺎسُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ اﻟْﻤُﻄﱠﻠِﺐِ أَﺟْﻮَدُ ﻗـُﺮَﻳْﺶٍ ﻛَﻔًّﺎ َوأ َْو‬
26
25F
Artinya : Telah menceritakan kepada kai ‘Ali bin ‘Abdullah,
menceritakan kepadaku Muhammad bin Talhah al-Taimiy (dari kota
Madinah), menceritakana kepadaku Abû Suhail bin Mâlik, dari Sa’îd bin
al-Musayyab, dari Sa'd bin Abû Waqâs berkata; Rasulullah saw berkata
kepada Al 'Abbâs: "Inilah Al Abbâs bin Abd Al-Muththalib orang Quraisy
yang paling dermawan dan paling menjaga hubungan."
Manusia
bukan
hanya
membutuhkan
harta
tetapi
juga
bahkan
mencintainya dan selalu menginginkannya. Andaikan manusia diberikan
kepadanya satu lembah emas, maka ia akan mencari satu lembah lagi sebagai
tambahan. Pada gilirannya manusia ada yang berhasil meraih kekayaan yang
banyak berupa harta itu. Dengan hartanya ia bisa menikmati kehidupan dan
memberikan kenikmatan pada sebagian orang-orang.
ٍ ِ‫ﺎل ﻗَـﺮأْت َﻋﻠَﻰ ﻣﺎﻟ‬
‫ﺎق ﺑْ ِﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ أَﻧﱠﻪُ َِﲰ َﻊ‬
َ ‫ﻚ َﻋ ْﻦ إِ ْﺳ َﺤ‬
ُ َ َ َ‫َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ َْﳛ َﲕ ﺑْ ُﻦ َْﳛ َﲕ ﻗ‬
َ
ٍ ِ‫أَﻧَﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟ‬
‫ﺼﺎ ِر ﺑِﺎﻟْ َﻤ ِﺪﻳﻨَ ِﺔ َﻣ ًﺎﻻ َوَﻛﺎ َن‬
ُ ‫ﻚ َر ِﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨﻪُ ﻳـَ ُﻘ‬
َ ْ‫ َﻛﺎ َن أَﺑُﻮ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ أَ ْﻛﺜَـَﺮ ْاﻷَﻧ‬: ‫ﻮل‬
َ َْ َ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
ُ ‫ﺖ ُﻣ ْﺴﺘَـ ْﻘﺒِﻠَﺔَ اﻟْ َﻤ ْﺴﺠﺪ َوَﻛﺎ َن َر ُﺳ‬
‫َﺣ ﱠ‬
ْ َ‫ﺐ أ َْﻣ َﻮاﻟﻪ إِﻟَْﻴﻪ ﺑـَْﻴـ ُﺮ َﺣﺎءَ َوَﻛﺎﻧ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َ‫أ‬
ٍ ‫ب ِﻣ ْﻦ َﻣ ٍﺎء ﻓِ َﻴﻬﺎ ﻃَﻴﱢ‬
{ ‫ﺖ} ﻟَ ْﻦ ﺗَـﻨَﺎﻟُﻮا اﻟِْ ﱠﱪ َﺣ ﱠﱴ ﺗـُْﻨ ِﻔ ُﻘﻮا ِﳑﱠﺎ ُِﲢﺒﱡﻮ َن‬
ْ َ‫ﺐ ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ ﻧـََﺰﻟ‬
ُ ‫ﻳَ ْﺪ ُﺧﻠُ َﻬﺎ َوﻳَ ْﺸَﺮ‬
ِ ِ
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ إِ ﱠن اﻟﻠﱠﻪَ ﺗَـ َﻌ َﺎﱃ‬
َ ‫ﺎل ﻳَﺎ َر ُﺳ‬
َ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻓَـ َﻘ‬
َ ‫ﻗَ َﺎم أَﺑُﻮ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ إِ َﱃ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
ِ ِ ِ
ِِ ِ ُ ‫ﻳـ ُﻘ‬
ِ
ِ
‫َﺣ ﱠ‬
‫ﺐ أ َْﻣ َﻮ ِاﱄ إِ َﱠ‬
َ ‫ﻮل ِﰲ ﻛﺘَﺎﺑﻪ} ﻟَ ْﻦ ﺗَـﻨَﺎﻟُﻮا اﻟْ ﱠﱪ َﺣ ﱠﱴ ﺗـُْﻨﻔ ُﻘﻮا ﳑﱠﺎ ُﲢﺒﱡﻮ َن { َوإ ﱠن أ‬
َ
َ‫ﱄ ﺑـَْﻴـ ُﺮ َﺣﺎء‬
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
‫ﺎل ﺑَ ٍﺦ‬
َ ‫ﺖ ﻓَـ َﻘ‬
َ ‫ﻀ ْﻌ َﻬﺎ ﻳَﺎ َر ُﺳ‬
ُ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َﺣْﻴ‬
َ َ‫ﺻ َﺪﻗَﺔٌ ﻟﻠﱠﻪ أ َْر ُﺟﻮ ﺑِﱠﺮَﻫﺎ َوذُ ْﺧَﺮَﻫﺎ ﻋْﻨ َﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﻓ‬
َ ‫ﺚ ﺷْﺌ‬
َ ‫َوإِﻧـ َﱠﻬﺎ‬
26
Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Musnad al-‘Asrah al-Mubasysyirin bi al-jannah,
Musnad Abi Ishâq Sa’ad bin Abî Waqas. (al-Mausuah ar-Risalah 1995 M – 1416 H),No
hadis.1613
20
ِ ‫ﺎل راﺋِﺢ ﻗَ ْﺪ َِﲰﻌﺖ ﻣﺎ ﻗـُ ْﻠ‬
ِ
ِ
‫ﺎل‬
ٌ ‫ﻚ َﻣ‬
َ َ‫ﲔ ﻗ‬
َ ‫ﺎل َراﺋِ ٌﺢ ذَﻟ‬
َ ‫ذَﻟ‬
َ ِ‫ﺖ ﻓ َﻴﻬﺎ َوأ ََرى أَ ْن َْﲡ َﻌﻠَ َﻬﺎ ِﰲ ْاﻷَﻗْـَﺮﺑ‬
َ َ ُ ْ
ٌ َ ٌ ‫ﻚ َﻣ‬
27 ِ
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ ﻓَـ َﻘ َﺴ َﻤ َﻬﺎ أَﺑُﻮ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ ِﰲ أَﻗَﺎ ِرﺑِِﻪ َوﺑَِﲏ َﻋ ﱢﻤﻪ‬
َ ‫أَﻓْـ َﻌ ُﻞ ﻳَﺎ َر ُﺳ‬
F
26
Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Yahya (ia berkata), akau
membacakan kepada Mâlik, dari Ishâq bin ‘Abdullâh, bahwa ia
mendengar dari Anas bin Mâlik ra : diceritakan bahwa Abu Tholhah
adalah salah satu sahabat yang paling banyak hartanya dari kalangan
Anshar di kota Madinah adalah Abû Talhah, dan harta yang paling
dicintainya adalah Bairuha' (ladang berikut sumur yang ada di kebun itu)
yang menghadap ke masjid dan Rasulullah saw senantiasa mamemasuki
kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Ketika turun firman
Allah Ta'âla (QS Alu 'Imrân: 92 yang artinya): "Kamu sekali-kali tidak
akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", Abu Talhah
mendatangi Rasulullah saw lalu berkata; "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Allah Ta'âla telah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan
sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan
sehahagian harta yang kamu cintai", dan sesungguhnya harta yang paling
aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah
dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisi-Nya, maka
ambillah wahai Rasulullah kapanpun baginda mau". Maka Rasulullah saw
bersabda: "Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang
menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu ucapkan
dan aku berpendapat sebaiknya kamu sadaqahkan buat kerabatmu". Maka
Abu Talhah berkata: "Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu
Talhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya".
Sehingga wajar orang yang berharta lebih dihormati daripada yang miskin.
Namun penghormatan manusia dikarenakan kekayaan sifatnya tidak lama, hanya
selama harta itu ada bersamanya. Sementara manusia tidak berkuasa sama sekali
akan hartanya di masa depan, apakah masih juga kaya ataukan kemudian jatuh
miskin.
3. Manusia dihormati karena ilmunya.
Banyak sekali jabatan, kedudukan, dan fungsi yang dapat diperoleh
seseorang karena ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Seseorang karena
ilmunya diberikan suatu jabatan, dan karena jabatan itu kemudian ia memperoleh
27
Hadis diriwayatkan oleh Al-Bukhâri di dalam kitab Shahîh Al-Bukhâri, Bâb
Wakâlah,(Beirut : Dar al-Ma'rifah) jilid. 2, hal. 44-45"
21
penghormatan dari manusia. Kita bisa membandingkan bagaimana sikap manusia
terhadap seorang Profesor Doktor dibanding terhadap seorang Sarjana, tentu saja
Doktor itu yang mendapatkan penghargaan lebih. Bahkan dengan orang-orang
kaya pun, orang-orang yang berilmu lebih dihormati keberadaannya. Sebabnya
orang-orang yang berilmu itu berfungsi menjaga, sedangkan orang-orang berharta
berfungsi yang dijaga. Firman Allah swt:
            

Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 28
27F
Berkata Al-Qurtubi tentang ayat ini: bahwasannya yang akan Allah
muliakan nanti di akhirat adalah orang yang berilmu dan beriman, bukan orangorang yang seharinya hanya berdzikir saja. Sabda Nabi Muhammad saw:
ِ
ٍ
ِ
‫ﻴﺪ ﺑْ ُﻦ‬
‫َﻋﻠَﻰ اﻟ ﱠ‬
ُ ‫ﺼْﻨـ َﻌ ِﺎﱐﱡ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﺳﻠَ َﻤﺔُ ﺑْ ُﻦ َر َﺟﺎء َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﻟْ َﻮﻟ‬
ْ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒﺪ ْاﻷ‬
ِ
ِ
ِ ِ ِ ِ َ َ‫ﺎﻫﻠِﻲ ﻗ‬
ِ
ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ‬
‫َﲨ ٍﻴﻞ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﻟْ َﻘﺎﺳ ُﻢ أَﺑُﻮ َﻋْﺒﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ َﻋ ْﻦ أَِﰊ أ َُﻣ َﺎﻣﺔَ اﻟْﺒَ ﱢ‬
َ ‫ ذُﻛَﺮ ﻟَﺮ ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬: ‫ﺎل‬
ِ
ِ ُ ‫ﺎل رﺳ‬
ِ
ِ
ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َ ‫اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َر ُﺟ َﻼن أ‬
ُ َ َ ‫َﺣ ُﺪ ُﳘَﺎ َﻋﺎﺑ ٌﺪ َو ْاﻵ َﺧ ُﺮ َﻋﺎﱂٌ ﻓَـ َﻘ‬
ِ ‫ﺎﱂ ﻋﻠَﻰ اﻟْﻌﺎﺑِ ِﺪ َﻛ َﻔ‬
ِ ُ ‫ﺎل رﺳ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ إِ ﱠن‬
ْ
ْ َ‫ﻓ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َ َ ِ ‫ﻀ ُﻞ اﻟْ َﻌ‬
ُ َ َ َ‫ﻀﻠﻲ َﻋﻠَﻰ أ َْدﻧَﺎ ُﻛ ْﻢ ﰒُﱠ ﻗ‬
ِ
ِ
ِ
‫ﺼﻠﱡﻮ َن َﻋﻠَﻰ‬
ْ ‫ﲔ َﺣ ﱠﱴ اﻟﻨ ْﱠﻤﻠَﺔَ ِﰲ ُﺟ ْﺤ ِﺮَﻫﺎ َو َﺣ ﱠﱴ‬
َ ُ‫اﳊ‬
َ ‫اﻟﻠﱠﻪَ َوَﻣ َﻼﺋ َﻜﺘَﻪُ َوأ َْﻫ َﻞ اﻟ ﱠﺴ َﻤ َﻮات َو ْاﻷ ََرﺿ‬
َ ُ‫ﻮت ﻟَﻴ‬
29
ِ ‫ُﻣ َﻌﻠﱢ ِﻢ اﻟﻨ‬
.‫اﳋَْﻴـَﺮ‬
ْ ‫ﱠﺎس‬
F 28
Artinya : menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abd al-A’la
al-San’âniy, menceritakam kepada kami Salamah bin Rajâ, menceritakan
kepada kami al-Walîd bin Jamîl, menceritakan kepada kami al-Qâsim Abû
‘Abdurrahman, dari Abû Umâmah Al Bahîlî ia berkata; "Dua orang
disebutkan di sisi Rasulullah saw, salah seorang adalah ahli ibadah dan
yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah saw bersabda:
"Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari
orang yang paling rendah di antara kalian, " kemudian beliau melanjutkan
28
QS. Al-Mujâdalah: 11.
Al-Tirmidzî, Sunan, Bâb Mâ Jâ-a fi Fadhlil Fiqhi 'alal 'ibâdah, hadis no. 2826
(Semarang : Toha Putera) hal. 154-155.
29
22
sabdanya: "Sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya serta penduduk langit dan
bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus,
mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia."
Orang-orang ahli ilmu dihormati menurut Mushtofa Bisri dikarenakan
mereka sangat mencintai masyarakatnya, dan seperti mewakafkan dirinya untuk
mereka, ulama yang termasuk sepreti mereka adalah ulama yang "yanzhurû mâ
ilal ummah bi 'ainir rahmah" melihat umat dengan mata kasih sayang.
Memberikan pelajaran kepada yang bodoh membantu yang lemah, menghibur
yang menderita, dan seterusnya. 30
29F
Kehancuran pun akan tiba ketika sebuah kaum sudah tidak lagi
menghormati orang yang berilmu, dikarenakan mereka sudah melakukan hal
sebaliknya menghormati seorang bukan lagi karena ilmunya. Sebagaimana yang
disabdakan nabi Muhammad saw.
ِ
‫ﺻ ْﻔ َﻮا ُن ﺑْ ُﻦ ُر ْﺳﺘُ َﻢ َﻋ ْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ‬
ُ ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ ﻳَِﺰ‬
ْ ‫ﻳﺪ ﺑْ ُﻦ َﻫ ُﺎرو َن أ‬
ْ‫أ‬
َ ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ ﺑَﻘﻴﱠﺔُ َﺣ ﱠﺪﺛَِﲎ‬
ِ ْ‫ﺎل ﻋُﻤﺮ ﻳَﺎ َﻣ ْﻌ َﺸﺮ اﻟْﻌُﺮﻳ‬
ِ ِ ِ ِ ‫ﺎل ﺗَﻄَﺎو َل اﻟﻨ‬
‫ﺐ‬
‫َﻣْﻴ َﺴَﺮةَ َﻋ ْﻦ َﲤِﻴ ٍﻢ اﻟﺪﱠا ِر ﱢ‬
َ َ َ‫ي ﻗ‬
َ َ
ُ َ َ ‫ﱠﺎس ﰲ اﻟْﺒﻨَﺎء ﰲ َزَﻣ ِﻦ ﻋُ َﻤَﺮ ﻓَـ َﻘ‬
ُ
ٍ ‫ْاﻷَرض ْاﻷَرض إِﻧﱠﻪ َﻻ إِﺳ َﻼم إِﱠﻻ ِﲜﻤ‬
‫ﺎﻋ ٍﺔ ﻓَ َﻤ ْﻦ‬
َ َ‫ﺎﻋﺔَ إِﱠﻻ ﺑِِﺈ َﻣ َﺎرةٍ َوَﻻ إَِﻣ َﺎرةَ إِﱠﻻ ﺑِﻄ‬
َ َ‫ﺎﻋﺔ َوَﻻ َﲨ‬
َ ََ َ ْ ُ َ ْ َ ْ
ِ
ٍ
ِِ
ُ‫َﺳ ﱠﻮَدﻩُ ﻗَـ ْﻮُﻣﻪُ َﻋﻠَﻰ اﻟْﻔ ْﻘﻪ َﻛﺎ َن َﺣﻴَﺎةً ﻟَﻪُ َوَﳍُ ْﻢ َوَﻣ ْﻦ َﺳ ﱠﻮَدﻩُ ﻗَـ ْﻮُﻣﻪُ َﻋﻠَﻰ َﻏ ِْﲑ ﻓ ْﻘﻪ َﻛﺎ َن َﻫ َﻼ ًﻛﺎ ﻟَﻪ‬
31
‫َوَﳍُ ْﻢ‬
F
30
Artinya : Telah mengabarkan kepada kami Yazîd bin Hârûn,
mengabarkan kepada kami Baqiyyah, menceritakan kepadaku Safwâb bin
Rustam, dari ‘Abdirrahman bin Maysarah, dari Tamîm Ad-Dâri ra ia
berkata: "Orang-orang berlomba-lomba mempertinggi bangunan pada
zaman 'Umar, lalu 'Umar berkata: 'Wahai masyarakat Arab ingatlah,
ingatlah, sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama'ah, dan
tidak ada jama'ah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada
(gunanya) kepemimpinan kecuali dengan ketaatan. Siapa yang dihormati
kaumnya karena ilmu, hal demikian membawa kebaikan untuk kehidupan
dirinya dan masyarakatnya, dan Siapa yang dihormati oleh kaumnya
bukan karena ilmu, maka ia hancur (begitu juga dengan) kaumnya' ".
30
Mushthofa Bisri, Membuka Pintu Langit, (PT Kompas Media Nusantara 2007) hal.20-
31
Ad-Dârimi, Sunan Ad-Dârimî, juz.1, h.315 (Darul Mugni)
21.
23
4. Manusia dihormati karena akhlaknya.
Selanjutnya kita juga mengamati bahwa orang-orang yang berakhlak mulia
lebih dihormati manusia ketimbang orang yang tidak berakhlak. Lebih dari itu di
masyarakat kita menyaksikan bahwa orang-orang
yang berakhlak dan
memberikan manfaat yang banyak bagi manusia lebih dihormati manusia dari
orang-orang yang sekedar berilmu saja. Nabi Muhammad telah bersabda:
ٍ ‫ﺎل ﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ َﺷ ِﻘﻴﻖ ﻋﻦ ﻣﺴﺮ‬
ٍ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻋُ َﻤ ُﺮ ﺑْ ُﻦ َﺣ ْﻔ‬
‫وق‬
ْ ‫ﺺ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَِﰊ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ْاﻷ‬
ُ ‫َﻋ َﻤ‬
َ َ َ‫ﺶ ﻗ‬
ُْ َ ْ َ ٌ
ِ ُ ‫ﺎل َﱂ ﻳ ُﻜﻦ رﺳ‬
ِ ِ
ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ‬
َ َ‫ﻗ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
ُ َ ْ َ ْ َ َ‫ﻮﺳﺎ َﻣ َﻊ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﻋ ْﻤ ٍﺮو ُﳛَ ﱢﺪﺛـُﻨَﺎ إ ْذ ﻗ‬
ً ُ‫ﺎل ُﻛﻨﱠﺎ ُﺟﻠ‬
32
ِ ‫ﻮل إِ ﱠن ِﺧﻴﺎرُﻛﻢ أ‬
ِ َ‫وﺳﻠﱠﻢ ﻓ‬
‫َﺧ َﻼﻗًﺎ‬
ُ ‫ﺎﺣ ًﺸﺎ َوَﻻ ُﻣﺘَـ َﻔ ﱢﺤ ًﺸﺎ َوإِﻧﱠﻪُ َﻛﺎ َن ﻳـَ ُﻘ‬
ْ ‫َﺣﺎﺳﻨُ ُﻜ ْﻢ أ‬
َ ْ ََ
َ ََ
F
31
Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafs, telah
menceritakan kepada kami Abî (Ayahku), telah menceritakan kepada kami
al-A’masy (ia berkata), telah menceritakan kepadaku Syaqîq, dari Masrûq
(ia berkata), kami sedang duduk berbincang-bincang bersama ‘Abdillah
bin ‘Amr tiba-tiba bercerita kepada kami: bahwa Rasulullah saw adalah
orang yang tidak pernah berbuat keji dan tidak pula menyuruh berbuat
keji, dan ia bersabda: “sesungguhnya sebai-baiknya kalian adalah yang
paling mulia akhlaknya”.
Sahabat 'Ali r.a pernah berkata:
Ákhlak yang baik terkandung dalam tiga hal : menjauhi segala
yang diharamkan, mencari yang halal dan menyenangkan anggota
keluarga 33.
32F
Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berakhlak mulia dalam setiap
bagian kehidupannya memiliki peranan dalam menjaga kedamaian dan pebaikan
di tengah kehidupan secara umum. Sehingga sosok orang-orang yang berakhlak
menjadi tumpuan harapan akan kebaikan dan perbaikan.
32
Al-Bukhâri, Sahih Al-Bukhâri, Kitâb al-Adâb Bâb Lam Yakun an-Nabi fâhisan walâ
Mutafahhisan, (Darr al-Fikr)
33
Qiqi Yuliati Zakiyah. Kuliah-kuliah Akhlak. (Bandung : Sega Ars 2010), hal.11.
24
Rasulullah juga tak henti-hentinya setiap sholat memohon agar diberikan
akhlak yang terbaik dan agar terhindar dari akhlak yang jelek.
ٍ ِ‫أَﺧﺒـﺮﻧَﺎ ﻋﻤﺮو ﺑﻦ ﻋﺜْﻤﺎ َن ﺑ ِﻦ ﺳﻌ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ‬
ْ ‫ﺎل َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷَﺮﻳْ ُﺢ ﺑْ ُﻦ ﻳَِﺰ َﻳﺪ‬
َ َ‫ﻀَﺮِﻣ ﱡﻲ ﻗ‬
َ َ‫ﻴﺪ ﻗ‬
ْ َ‫اﳊ‬
ْ ‫ﺎل أ‬
َ ْ َ ُ ُ ْ ُ ْ َ ََ ْ
ِ
ِ
‫ﱠﱯ‬
َ َ‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ اﻟْ ُﻤْﻨ َﻜﺪ ِر َﻋ ْﻦ َﺟﺎﺑِ ِﺮ ﺑْ ِﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﻗ‬
َ َ‫ﺐ ﺑْ ُﻦ أَِﰊ ﲪََْﺰةَ ﻗ‬
‫ﺎل َﻛﺎ َن اﻟﻨِ ﱡ‬
ْ ‫ﺎل أ‬
ُ ‫ُﺷ َﻌْﻴ‬
ِ
ِ
ِ َ ‫ﺎل إِ ﱠن‬
‫ﺎي َوﳑََ ِﺎﰐ ﻟِﻠﱠ ِﻪ‬
َ َ‫ﺼ َﻼةَ َﻛﺒﱠـَﺮ ﰒُﱠ ﻗ‬
‫اﺳﺘَـ ْﻔﺘَ َﺢ اﻟ ﱠ‬
ْ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ إِذَا‬
َ
َ َ‫ﺻ َﻼﰐ َوﻧُ ُﺴﻜﻲ َوَْﳏﻴ‬
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ ‫رﱢ‬
‫َﺣ َﺴ ِﻦ ْاﻷ َْﻋ َﻤ ِﺎل‬
َ ‫ﻳﻚ ﻟَﻪُ َوﺑِ َﺬﻟ‬
َ ‫ﲔ َﻻ َﺷ ِﺮ‬
َ ‫ت َوأَﻧَﺎ ﻣ ْﻦ اﻟْ ُﻤ ْﺴﻠﻤ‬
ُ ‫ﻚ أُﻣ ْﺮ‬
َ ‫ب اﻟْ َﻌﺎﻟَﻤ‬
ْ ‫ﲔ اﻟﻠﱠ ُﻬ ﱠﻢ ْاﻫﺪِﱐ ﻷ‬
َ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
‫َﺧ َﻼق َﻻ ﻳَﻘﻲ‬
ْ ‫ﺖ َوﻗ ِﲏ َﺳﻴﱢ َﺊ ْاﻷ‬
ْ ‫َﻋ َﻤ ِﺎل َو َﺳﻴﱢ َﺊ ْاﻷ‬
ْ ‫َﺣ َﺴ ِﻦ ْاﻷ‬
َ ْ‫َﺣ َﺴﻨ َﻬﺎ إِﱠﻻ أَﻧ‬
ْ ‫َﺧ َﻼق َﻻ ﻳـَ ْﻬﺪي ﻷ‬
ْ ‫َوأ‬
34
.‫ﺖ‬
َ ْ‫َﺳﻴﱢﺌَـ َﻬﺎ إِﱠﻻ أَﻧ‬
F3
Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Utsmân bin Sa'îd dia
berkata; telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Yazîd Al-Hadhrami
dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Syu'aib bin Abû Hamzah dia
berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Al-Munkadir, dari
Jâbir bin Abdullâh dia berkata; "Bila Rasulullah saw memulai shalat maka
beliau bertakbir, kemudian mengucapkan - doa yang artinyaSesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya bagi Allah,
Rabb semesta alam, yang tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku
diperintahkan, dan aku termasuk kaum muslimin. Ya Allah, tunjukkan
saya kepada perbuatan yang terbaik dan kepada akhlak yang terbaik,
karena tidak ada yang bisa menunjukkan kepada yang terbaik kecuali
Engkau. Jagalah aku dari perbuatan jelek dan akhlak yang jelek, karena
tidak ada yang bisa menjagaku dari kejelekan kecuali Engkau '."
C. Bentuk-bentuk Perilaku Penghormatan
Sebagaimana yang telah saya paparkan, bahwa ada beberapa alasan
manusia dihormati, sehingga ketika ada subjek penghormatan tersebut, maka yang
menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bentuk penghormatan tersebut,
inilah yang menjadi pembahasan pada skripsi ini.
1. Mencium Tangan
Islam memberikan tuntutan yang jelas dan lengkap sekali perihal mencium
ini. Rasulullah, melalui sunnahnya, telah memberikan contoh dan teladan yang
lengkap sekali seputar perbuatan mencium ini. Sehingga hal ini berlaku pada
34
Hadis ini diriwayatkan oelh al-Nasâi dalam sunan-nya. Lihat al-Nasâî, Sunan,Bâb
Âkhir min dzikri wa Du'â baina Takbîr wal Qirâ-ah, (Semarang : Karya Toha Putra), hal.129-130.
25
kehidupan manusia walaupun sering dianggap miring dan ditangkap negative, hal
ini tetap mempunyai ibadah. Sebagai manusia yang normal, tentu setiap orang
pernah mencium suami/istri, anak, atau bagian tubuh manusia, entah itu kening,
mulut, tangan, kaki, kepala, pipi, atau bagian tubuh lainnya. Bahkan mungkin ada
di antara kita yang pernah mencium mayat. Kalaupun seseorang belum pernah
melakukannya, setidaknya ia pernah melihat orang lain melakukannya. Kita pun
mungkin digayuti oleh pertanyaan ini: apakah seluruh tindakan itu dibenarkan
syari'at?
Mencium tangan adalah adat yang banyak dilakukan oleh berbagai bangsa.
Bukan hanya kebiasaan bangsa Indonesia saja. Bangsa Arab, India, dan lainnya,
juga sering kita dapati melakukan cium tangan.
Bahkan di masa lalu, orang-orang di belahan Barat biasa mencium tangan
wanita yang dalam adat istiadat mereka, tindakan itu merupakan bentuk
penghormatan dan penghargaan buat para wanita. Selain juga harus membuka
topi. Bertemu wanita tanpa mencium tangan dan membuka topi, dianggap sebagai
sikap kurang ajar. Malah, tradisi cium tangan itu konon tidak terlalu merata di
negeri kita. Teman-teman yang berasal dari Batak, Manado, Timur bilang bahwa
tradisi itu tidak mereka miliki.
Istilah mencium tangan dalam bahasa Arab mempunyai dua makna yaitu
secara etimologis dan secara termiologis. Secara etimologis, mencium (alQublah), adalah mengecup (al-Latsmah). Plural atau bentuk jamaknya adalah attaqbîl dan kata kerjanya qobbala-yuqobbilu-taqbîlan. 35 dan kalimat tersebut bisa
34F
kita temukan di dalam hadis Nabi.
35
Lihat Lisânul ‘Arab, Jilid 11,Ibnu Manzhûr, (Beirut:Libanon)1999 M-1419 H, hal. 25,
dan Mukhatâr As-Shihah, h, 343.
26
36
F35
‫ﱯ‬
‫َوﻗَ ْﺪ ﻗَـﺒﱠ َﻞ اﻟْ َﻤ ْﺮأَةَ َواﻟ ﱠ‬
‫ﺼِ ﱠ‬
Artinya : Seseorang mencium isteri dan anak.
Sedangkan secara terminologis atau istilah , mencium tangan bisa
diartikan mengecup tangan dengan menggunakan bibir pada atas atau telapak
tangan sebagai bentuk ungkapan rasa hormat dan rasa kasih sayang. 37
36F
Nabi Muhammad saw selalu menggunakan tangan kanannya untuk
beribadah, makan, minum, dan menggunakan tangan kirinya untuk melakukan hal
yang kurang bersih. 38 “ beliau tidak pernah menyentuh tangan wanita,” kata
37F
‘Aisyah, “jika menerima baiat mereka beliau menerimanya secara lisan. 39
38F
Dalam kedua tangan Nabi diletakan kunci-kunci kekayaan bumi. Abu
Hurairah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah berkata, “aku diutus dengan
jawâmi’ul kalim, 40 aku dibantu dengan timbulnya rasa takut di hati musuh,41
39F
40F
ketika aku sedang tidur dibawakan kepadaku kunci-kunci kekayaan bumi 42 yang
41F
kemudian diletakan di tanganku. 43
42 F
36
Al-Bukhâri , Al-Adab Al-Mufrad, Bâb Taqbîlul Rijli, (Lebanon : Dar al-Kutub Al‘Ilmiyah 2008), hal.244.
37
Shalahudin Fatih al-Hijazi, Fiqh Mencium, (Jakarta : Pustaka Group). hal.9.
38
Lihat Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir. Majma’ al-Zawâid, Jilid 7. hal. 33.
39
Lihat, Muslim, Sahîh, Bâb Kaifiyati Bai’ati al-Nisâ, ( Beirut : Dar al-Fikr) Jilid 6,
hal.29.
40
Jawâmi’ul Kalim adalah kemampuan untuk menyampaikan kebenaran secara jelas dan
singkat. Setelah Qur’ân, ungkapan yangpaling singkat, jelas dan lengkap adalah hadis dari Nabi
Muhammad saw. (lihat : Shalahudin Fatih al-Hijazi, Fiqh Mencium, (Jakarta : Pustaka Group).
hal.17)
41
Rasa takut yang ditimbulkan oleh Allah swt dalam hati musuh sehingga mereka
mengalami kekalahan ebelum peperangan.
42
Ibn Hajar menjelaskan di dalam Fathul Bâri bahwa makna kunci yang paling kuat dari
seluruh pendapat para ‘ulama’ adalah Al-Qur’an Al-Karîm, dan ada pendapat lain yang dikatakan
oleh Nabi saw dan diwariskan kepada ummatnya.
43
Al-Bukhâri, Sahîh, teks arabnya sebagai berikut :
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ ِ
ِ ‫ت ﺑِﺎﻟﱡﺮ ْﻋ‬
‫ﻴﺖ‬
َ َ‫ﻗ‬
‫ﺎل اﻟﻨِ ﱡ‬
ُ ‫ﻴﺢ اﻟْ َﻜﻠ ِﻢ َوﻧُﺼ ْﺮ‬
ُ ‫ﺐ َوﺑـَْﻴـﻨَ َﻤﺎ أَﻧَﺎ ﻧَﺎﺋ ٌﻢ اﻟْﺒَﺎ ِر َﺣﺔَ إِ ْذ أُﺗ‬
ُ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ أ ُْﻋﻄ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
َ ‫ﻴﺖ َﻣ َﻔﺎﺗ‬
ِ ‫ﻴﺢ َﺧَﺰاﺋِ ِﻦ ْاﻷ َْر‬
.‫ﺖ ِﰲ ﻳَ ِﺪي‬
ِ ِ‫ِﲟََﻔﺎﺗ‬
ْ ‫ض َﺣ ﱠﱴ ُو ِﺿ َﻌ‬
27
Para sahabat tahu keberkahan tangan Nabi, mereka juga tahu kedua tangan
itu merupakan simbol dari kemurahan Allah swt. Mereka senang menyentuh dan
menciumnnya. Mereka juga berlomba-lomba untuk mendapatkan air yang telah
beliau sentuh. Dan sepeninggal beliau, mereka, yakni orang-orang yang belum
pernah melihat beliau, senang menyentuh dan mencium tangan-tangan yang
pernah menyentuh tubuh beliau.
Orang Yahudi dan Nasrani yang mengakui beliau sebagai pesuruh Allah
juga menunjukan kecintaan dan penghormatan mereka terhadap beliau dengan
mencium tangan dan kaki beliau.
Di antaranya, hadis riwayat at-Tirmidzî dan lainnya, bahwa ada dua orang
Yahudi bersepakat menghadap Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata:
“Mari kita pergi menghadap orang yang mengaku Nabi ini untuk menanyainya
tentang sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa”. Tujuan kedua
orang Yahudi ini adalah hendak mencari kelemahan Rasulullah, karena beliau
adalah seorang yang Ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Mereka
menganggap bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang sembilan ayat tersebut.
Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah dan menanyakan prihal sembilan
ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa tersebut, maka Rasulullah menjelaskan
kepada keduanya secara rinci tidak kurang suatu apapun. Kedua orang Yahudi ini
sangat terkejut dan terkagum-kagum dengan penjelasan Rasulullah. Keduanya
orang Yahudi ini kemudian langsung mencium kedua tangan Rasulullah dan
kakinya. (At-Tarmidzi berkata bahwa kulitas hadis ini Hasan Shahih). 44
43F
2. Inhinâ (Menundukan Badan)
44
Al-Tirmidzî, Sunan Al-Tirmidzî, Bâb Mâ Jâ-a Fî Qublati al-Yad wa ar-Rijli,
(Semarang : Thoha Putra), Juz 5, No.2877, hal.174.
28
Menundukan badan kepada orang tua dengan cara sungkem, mencium
tangan guru dengan menundukan badan, ataupun dengan sedikit menundukan
kepala kepada sesama muslim ketika bertemu di jalan, adalah merupakan hal yang
sudah menjadi kebiasan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dan hal tersebut
pun dijadikan tolak ukur menilai seseorang akan akhlaknya.
Dalam Islam sendiri ini menundukan badan disebut inhinâ, mengenai
hukum inhinâ itu sendiri ada perbedaan pendapat, salah satu sebab dilarangnya
perbuatan inhinâ adalah karena dinilai mengandung unsur menyerupai orangorang kafir. Sebagian orang-orang Eropa memberikan penghormatan kepada para
pembesar mereka dengan membuka topi kepala mereka sambil menundukkan
kepala dan sedikit punggung. Menyerupai orang kafir dalam hal yang merupakan
ciri khas mereka adalah suatu hal yang hukumnya haram. 45
4F
Secara bahasa inhinâ berasal dari bahasa arab yang berakar dari kata kerja
fi’lul lâzim inhana-yanhani-inhinân, sedangkan fi’il aslinya hana-yahni-wa yahnu
46
45F
,adalah yang mempunyai makna miring, doyong, membungkuk, menunduk.
Salah satu contoh penggunaan kalimat tersebut dapat di lihat pada hadis
Nabi:
ٍ ِ‫ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨﺎ ﻣﺴﺪﱠد ﻗَ َﺎل ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨﺎ َﳛﲕ ﺑﻦ ﺳﻌ‬
‫ﻴﺪ َﻋ ْﻦ ُﺳ ْﻔﻴَﺎ َن ﻗَ َﺎل َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ أَﺑُﻮ‬
ٌ َُ َ َ
َ ُ ْ َْ َ َ
ِ ُ ‫ َﻛﺎ َن رﺳ‬:‫ﺎل‬
‫ﺻﻠﱠﻰ‬
َ َ‫ﻳﺪ ﻗَ َﺎل َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ اﻟْﺒَـَﺮاءُ ﻗ‬
َ ‫إِ ْﺳ َﺤ‬
َ ‫ﺎق ﻗَ َﺎل َﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْ ُﻦ ﻳَِﺰ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َُ
ِ ‫ﲪ َﺪﻩ َﱂ ﻳﺤ ِﻦ أ‬
ِ َ َ‫اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ إِذَا ﻗ‬
ِ ِ
‫ﺻﻠﱠﻰ‬
‫َﺣ ٌﺪ ﻣﻨﱠﺎ ﻇَ ْﻬَﺮﻩُ َﺣ ﱠﱴ ﻳـَ َﻘ َﻊ اﻟﻨِ ﱡ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
َ ْ َ ْ ُ َ ‫ﺎل َﲰ َﻊ اﻟﻠﱠﻪُ ﻟ َﻤ ْﻦ‬
َ ََ َْ ُ
47
ِ
ِ
. ُ‫ﻮدا ﺑـَ ْﻌ َﺪﻩ‬
ً ‫اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َﺳﺎﺟ ًﺪا ﰒُﱠ ﻧـَ َﻘ ُﻊ ُﺳ ُﺠ‬
46F
45
Lihat : Fatawa Lajnah Daimah seri pertama jilid. 26
Lihat Lisânul ‘Arab, Ibnu Manzhûr, (Beirut:Libanon)1999 M-1419 H, Jilid 14. h. 202.
dan Warson Munawir, Kamus Al-Munawir Arab Indonesia, hal. 305.
47
Al-Bukhâri, Sahîh Al-Bukhâri, Bâb Mata Yasjudu Man Kholfal Imâm, (Beirut : Darul
Ma’rifah), Jilid,1, hal. 128.
46
29
Artinya: menceritakan kepada kami Musaddad (Ia berkata(,
menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’îd, dari Sufyân (ia berkata),
menceritakan kepadaku Abû Ishâq (ia berkata), menceritakan kepadaku
‘Abdullah bin Yazîd (ia berkata):bahwasannya Rasulullah saw apabila
berkata ”sami’a Allahu Liman Hamidah” tidak ruku (menundukan
punggung badan untuk ruku’) diantara kami para sahabat, kecuali telah
sampai kepada Nabi keadaan sujud, baru kemudian kami sujud setelahnya.
Namun pada hadis diatas jelas pengertian inhinâ yang dimaksud adalah
inhinâ dalam bentuk ruku’ ketika beribadah, akan tetapi yang menjadi
pembahasan penulis di sini adalah inhinâ ketika berjumpa dengan seseorang, yaitu
dengan sedikit membungkukan badan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh
Muhammad Nûruddin Banjar:
mencondongkan kepala dan badan
48
F 47
:‫إَِﻣﺎﻟَﺔُ اﻟﺮﱠ أْ ِس َواﻟﻈﱠ ْﻬ ِﺮ‬
3. Berdiri Menyambut Kedatangan Seseorang.
Berdiri
mengormati
kedatangan
atau
kepergian
seeorang
adalah
merupakan salah satu budaya yang sudah melekat bahkan bercampur antara
ibadah dan adab. Sebagaimana beberapa contoh di bawah ini :
•
Para tamu undangan berdiri ketika mempelai yang mengadakan walimah
memasuki ruangan.
•
Peserta pertemuan berdiri ketika orang penting, pejabat, atau tamu
istimewa memasuki ruangan.
•
Pelayat berdiri ketika jenazah hendak diberangkatkan ke makam.
•
Peserta upacara berdiri ketika lagu tertentu dinyanyikan.
Hal-hal di atas adalah beberapa contoh kasus yang terjadi pada masyarakat
umumnya. Mungkin ada beberapa hal yang memang secara teks hadis dilarang,
48
Muhammad Nûruddin Banjar, Adab al-Musâfahah, (Majelis Ta’lim li Tafaqquh fi adDîn ), hal.78.
30
namun mungkin saja tujuan hadis itu berbeda dengan kondisi yang dimaksudkan
pada hal-hal di atas.
Pengertian berdiri di dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah tegak
bertumpu pada kaki (tidak duduk atau berbaring) 49, sedangkan makna berdiri di
48F
dalam bahasa Arab adalah qôma-yaqûmu-qouman-wa qiyâman yang bisa
dimaknakan juga bangkit berdiri tegak. 50 Namun pada lafadz hadis ada dua
49F
pemaknaan kalimat qôma, pertama " Qôma Ilaihi " berarti, segera berdiri untuk
menolong atau (untuk menyambut demi) memuliakannya. kedua " Qôma Lahu "
berarti berdiri di tempat untuk memberi penghormatan. 51
50F
Dengan demikian pengertian berdiri itu sendiri ada banyak maknanya,
tergantung daripada lafaz hadis itu sendiri.
49
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Warson Munawir, Kamus Al-Munawir Arab Indonesia, hal. 1172.
51
Lihat Firqotun Nâjiyah karya Muhammad Jamil Zainu, Bagian 40, Berdiri yang
dianjurkan.
50
BAB III
HADIS-HADIS TENTANG PENGHORMATAN
A. Mencium Tangan
Ada tujuh buah hadis yang saya teliti pada skripsi ini, yang dari ketujuh
hadis tersebut masing-masing mempunyai peranan penting dalam bentuk perilaku
penghormatan, tiga hadis petama tentang mencium tangan, hadis keempat Inhina,
dan 3 hadis terakhir adalah tentang berdiri menyambut seseorang.
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud, dan Kualitas Hadis
Ada tiga buah hadis yang penulis angkat tentang cium tangan, karena tiga
hadis inilah yang sering dijadikan dalil dibolehkanya mencium tnagan:
Hadis Pertama:
‫ ﻧﺎ ﳏﻤﺪ ﺑﻦ‬: ‫ ﻧﺎ ﳏﻤﺪ ﺑﻦ ﺑﺸﺎر ﺑﻨﺪار ﻗﺎل‬: ‫ ﻗﺎﻻ‬، ‫ وأﺑﻮ ﻋﻤﺮوﻳﻪ‬، ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ أﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ‬
‫ ﻋﻦ ﻋﻤﺮو ﺑﻦ‬، ‫ ﻧﺎ ﺷﻌﺒﺔ‬: ‫ ﻗﺎﻟﻮا‬، ‫ وﺳﻬﻞ ﺑﻦ ﻳﻮﺳﻒ‬، ‫ وأﺑﻮ داود‬، ‫ واﺑﻦ ﻣﻬﺪي‬، ‫ﺟﻌﻔﺮ‬
: ‫ ﻋﻦ ﺻﻔﻮان ﺑﻦ ﻋﺴﺎل أن ﻳﻬﻮدﻳﺎ ﻗﺎل ﻟﺼﺎﺣﺒﻪ‬، ‫ ﲰﻌﺖ ﻋﺒﺪ اﷲ ﺑﻦ ﺳﻠﻤﺔ‬: ‫ﻣﺮة ﻗﺎل‬
‫ ﻧﺸﻬﺪ أﻧﻚ‬: ‫ ﻓﻘﺒﻼ ﻳﺪﻩ ورﺟﻠﻪ وﻗﺎﻻ‬: ‫ ﻗﺎل‬، ‫اذﻫﺐ ﺑﻨﺎ إﱃ ﻫﺬا اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‬
‫ﻧﱯ اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‬
Telah menceritakan kepada kami Abu Ya'la dan Abu 'Amru wiyah,
mereka berdua berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Basyâr Bindar bahwa ia berkata, telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Ja'far, Ibnu Mahdi, Abu Dâwud dan Sahl bin Yûsuf,
mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari 'Amrbin
Muroh berkata : Aku mendengar 'Abdullah bin Salamah, dari Safwân bin
'Asâl : "Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya; "Marilah kita
berangkat bersama menemui Nabi ini!", Safwân berkata : Maka setelah
bertemu Nabi Muhammad saw keduanya mencium tangan dan kaki nabi
Muhammad saw, keduanya seraya berkata : "Kami bersaksi bahwa engkau
adalah Nabi saw."
Hadis di atas berasal dari kitab ar-Rukhsah fî Taqbîli al-Yad karya Ibnu alMuqri. Setelah melakukan pencarian dalam kitab kamus hadis milik A.J
‫‪32‬‬
‫‪Wensinck, yaitu kitab al-Mu'jam al-Mufahros li Alfâdzi al-Hadis al-Nabawi, 52‬‬
‫‪51F‬‬
‫‪ (j.3, h.190) penulis mendapatkan hadis‬ﺷﻬﺪ ‪ (j.5, h.245),‬ﻗﺒﻞ ‪dari kata kunci‬‬
‫‪tersebut didalam tempat berikut:‬‬
‫‪Kitab al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî dengan lafaz: 53‬‬
‫‪52F‬‬
‫ٍ‬
‫ﱠِ ِ ِ‬
‫ُﺳ َﺎﻣﺔَ َﻋ ْﻦ ُﺷ ْﻌﺒَﺔَ َﻋ ْﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو ﺑْ ِﻦ‬
‫ﻳﺲ َوأَﺑُﻮ أ َ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑُﻮ ُﻛَﺮﻳْﺐ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﻪ ﺑْ ُﻦ إ ْدر َ‬
‫ﺎل ‪ :‬ﻗَ َ ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ي ﻟِ ِ ِ ِ‬
‫ﺐ ﺑِﻨَﺎ‬
‫ﺻ ْﻔ َﻮا َن ﺑْ ِﻦ َﻋ ﱠﺴ ٍﺎل ﻗَ َ‬
‫ُﻣﱠﺮةَ َﻋ ْﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﺳﻠَ َﻤﺔَ َﻋ ْﻦ َ‬
‫ﺎل ﻳـَ ُﻬﻮد ﱞ َ‬
‫ﺼﺎﺣﺒﻪ ا ْذ َﻫ ْ‬
‫ﺎل ِ‬
‫ﻚ َﻛﺎ َن ﻟَﻪُ أ َْرﺑـَ َﻌﺔُ أ َْﻋ ُ ٍ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ‬
‫ﲔ ﻓَﺄَﺗَـﻴَﺎ َر ُﺳ َ‬
‫ﱯ إِﻧﱠﻪُ ﻟَ ْﻮ َِﲰ َﻌ َ‬
‫ﺻﺎﺣﺒُﻪُ َﻻ ﺗَـ ُﻘ ْﻞ ﻧَِ ﱞ‬
‫إِ َﱃ َﻫ َﺬا اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﱠﱯ ﻓَـ َﻘ َ َ‬
‫ﺎت ﺑـﻴﱢـﻨَ ٍ‬
‫ٍ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺎل َﳍُ ْﻢ َﻻ ﺗُ ْﺸ ِﺮُﻛﻮا ﺑِﺎﻟﻠﱠ ِﻪ َﺷْﻴﺌًﺎ َوَﻻ‬
‫ﺎت ﻓَـ َﻘ َ‬
‫َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻓَ َﺴﺄََﻻﻩُ َﻋ ْﻦ ﺗ ْﺴ ِﻊ آﻳَ َ‬
‫ٍ‬
‫ِ‬
‫ﺎﳊ ﱢﻖ وَﻻ ﲤَْ ُﺸﻮا ﺑِ ِﱪيء إِ َﱃ ذي ﺳ ْﻠﻄَ ٍ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺗَﺴ ِﺮﻗُﻮا وَﻻ ﺗَـ ْﺰﻧُﻮا وَﻻ ﺗَـ ْﻘﺘُـﻠُﻮا اﻟﻨﱠـ ْﻔ ﱠ‬
‫ﺎن‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ﺲ اﻟ ِﱵ َﺣﱠﺮَم اﻟﻠﱠﻪُ إﱠﻻ ﺑ َْ َ‬
‫َ‬
‫ْ َ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﻟِﻴـ ْﻘﺘُـﻠَﻪ وَﻻ ﺗَﺴﺤﺮوا وَﻻ ﺗَﺄْ ُﻛﻠُﻮا اﻟﱢﺮﺑﺎ وَﻻ ﺗَـ ْﻘﺬﻓُﻮا ُْﳏﺼﻨَﺔً وَﻻ ﺗـُﻮﻟﱡﻮا اﻟْﻔﺮار ﻳـﻮم اﻟﱠﺰ ْﺣ ِ‬
‫ﻒ َو َﻋﻠَْﻴ ُﻜ ْﻢ‬
‫َ َ َ َ َ َْ َ‬
‫َ َ‬
‫َ ُ َ ْ َُ َ‬
‫ﺻﺔً اﻟْﻴـﻬﻮد أَ ْن َﻻ ﺗَـﻌﺘَ ُﺪوا ِﰲ اﻟ ﱠﺴﺒ ِ‬
‫ﺎل ﻓَ َﻤﺎ‬
‫ﱯ ﻗَ َ‬
‫ﺖ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠُﻮا ﻳَ َﺪﻩُ َوِر ْﺟﻠَﻪُ ﻓَـ َﻘ َﺎﻻ ﻧَ ْﺸ َﻬ ُﺪ أَﻧ َ‬
‫ﱠﻚ ﻧَِ ﱞ‬
‫َﺧﺎ ﱠ َ ُ َ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫ِِ‬
‫ﺎك أَ ْن‬
‫ﺎف إِ ْن ﺗَﺒِ ْﻌﻨَ َ‬
‫ﱯ َوإِﻧﱠﺎ َﳔَ ُ‬
‫ﳝَْﻨَـﻌُ ُﻜ ْﻢ أَ ْن ﺗَـﺘﱠﺒِﻌُ ِﻮﱐ ﻗَﺎﻟُﻮا إِ ﱠن َد ُاوَد َد َﻋﺎ َرﺑﱠﻪُ أَ ْن َﻻ ﻳـََﺰ َال ِﰲ ذُﱢرﻳﱠﺘﻪ ﻧَِ ﱞ‬
‫ﻮد‬
‫ﺗَـ ْﻘﺘُـﻠَﻨَﺎ اﻟْﻴَـ ُﻬ ُ‬
‫ﻳﺪ ﺑ ِﻦ ْاﻷ ِ‬
‫ﻚ ﻗَ َ ِ‬
‫ﺐ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﻴﺴﻰ َﻫ َﺬا‬
‫َوِﰲ اﻟْﺒَﺎب َﻋ ْﻦ ﻳَِﺰ َ ْ ْ‬
‫َﺳ َﻮد َواﺑْ ِﻦ ﻋُ َﻤَﺮ َوَﻛ ْﻌ ِ ْ َ‬
‫ﺎل أَﺑُﻮ ﻋ َ‬
‫ِ‬
‫ﻳﺚ ﺣﺴﻦ ِ‬
‫ﻴﺢ‬
‫َﺣﺪ ٌ َ َ ٌ َ‬
‫ﺻﺤ ٌ‬
‫‪Kitab Sunan al-Nasâî dengan lafadz: 54‬‬
‫ِ‬
‫ِِ ِ‬
‫ﺎل أَﻧْـﺒَﺄَﻧَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ َﻋ ْﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو ﺑْ ِﻦ ُﻣﱠﺮَة َﻋ ْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ‬
‫ﻳﺲ ﻗَ َ‬
‫أْ‬
‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ اﻟْ َﻌ َﻼء َﻋ ْﻦ اﺑْﻦ إ ْدر َ‬
‫ﺎل ‪ :‬ﻗَ َ ِ‬
‫ي ﻟِ ِ ِ ِ‬
‫ِ‬
‫ﱠﱯ‬
‫ﺻ ْﻔ َﻮا َن ﺑْ ِﻦ َﻋ ﱠﺴ ٍﺎل ﻗَ َ‬
‫ﺐ ﺑِﻨَﺎ إِ َﱃ َﻫ َﺬا اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﺎل ﻳـَ ُﻬﻮد ﱞ َ‬
‫اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﺳﻠَ َﻤﺔَ َﻋ ْﻦ َ‬
‫ﺼﺎﺣﺒﻪ ا ْذ َﻫ ْ‬
‫ﲔ ﻓَﺄَﺗَـﻴﺎ رﺳ َ ِ‬
‫ﺎل ﻟَﻪ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ‬
‫ﱯ ﻟَ ْﻮ َِﲰ َﻌ َ‬
‫ﺻﺎﺣﺒُﻪُ َﻻ ﺗَـ ُﻘ ْﻞ ﻧَِ ﱞ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﻗَ َ ُ َ‬
‫ﻚ َﻛﺎ َن ﻟَﻪُ أ َْرﺑـَ َﻌﺔُ أ َْﻋ ُ ٍ َ َ ُ‬
‫ﺎت ﺑـﻴﱢـﻨَ ٍ‬
‫ٍ‬
‫ِ‬
‫ﺎل َﳍُ ْﻢ َﻻ ﺗُ ْﺸ ِﺮُﻛﻮا ﺑِﺎﻟﻠﱠ ِﻪ َﺷْﻴﺌًﺎ َوَﻻ ﺗَ ْﺴ ِﺮﻗُﻮا َوَﻻ ﺗَـ ْﺰﻧُﻮا َوَﻻ‬
‫ﺎت ﻓَـ َﻘ َ‬
‫َو َﺳﻠﱠ َﻢ َو َﺳﺄََﻻﻩُ َﻋ ْﻦ ﺗ ْﺴ ِﻊ آﻳَ َ‬
‫ﺎﳊ ﱢﻖ وَﻻ ﲤَْﺸﻮا ﺑِ ِﱪ ٍ‬
‫يء إِ َﱃ ِذي ﺳ ْﻠﻄَ ٍ‬
‫ﺎن َوَﻻ ﺗَ ْﺴ َﺤ ُﺮوا َوَﻻ‬
‫ﺲ اﻟﱠِﱵ َﺣﱠﺮَم اﻟﻠﱠﻪُ إِﱠﻻ ﺑِ َْ َ ُ َ‬
‫ُ‬
‫ﺗَـ ْﻘﺘُـﻠُﻮا اﻟﻨﱠـ ْﻔ َ‬
‫ﺗَﺄْ ُﻛﻠُﻮا اﻟﱢﺮﺑﺎ وَﻻ ﺗَـ ْﻘ ِﺬﻓُﻮا اﻟْﻤ ْﺤﺼﻨَﺔَ وَﻻ ﺗَـﻮﻟﱠﻮا ﻳـﻮم اﻟﱠﺰ ْﺣ ِ‬
‫ﻮد أَ ْن َﻻ ﺗَـ ْﻌ ُﺪوا ِﰲ‬
‫ﻒ َو َﻋﻠَْﻴ ُﻜ ْﻢ َﺧﺎ ﱠ‬
‫ﺻﺔً ﻳـَ ُﻬ ُ‬
‫ُ َ َ َ ْ َْ َ‬
‫َ َ‬
‫‪53F‬‬
‫‪52‬‬
‫‪A.J. Wensinck, et.all, al-Mu'jam al-Mufahros li Alfâdzi al-Hadis al-Nabawi‬‬
‫‪(Leiden.EJ.brill,1946).‬‬
‫‪53‬‬
‫‪Abû ‘îsâ Muhammad bin Sûrah al-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al‬‬‫‪Tirmidzî (Semarang : Thoha Putera), j.3, hal.2877, Abwâbu al-Isti’zan wa al-Âdab Bab Qublatu‬‬
‫‪al-Yad wa ar-Rijl.‬‬
‫‪54‬‬
‫‪Al-Nasâî, Sunan al-Nasâî Bisyarhi al-Hâfidz Jalâluddin as-Suyûti wa Hasyiyatu ‘ala‬‬
‫‪Imâm al-Sindi (Semarang:Thoha Putera),j.7, hal.111-112, Bab as-Sihr.‬‬
‫‪33‬‬
‫اﻟ ﱠﺴﺒ ِ‬
‫ﺎل ﻓَ َﻤﺎ ﳝَْﻨَـﻌُ ُﻜ ْﻢ أَ ْن ﺗَـﺘﱠﺒِﻌُ ِﻮﱐ ﻗَﺎﻟُﻮا إِ ﱠن َد ُاوَد‬
‫ﱯ ﻗَ َ‬
‫ﺖ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠُﻮا ﻳَ َﺪﻳِْﻪ َوِر ْﺟﻠَْﻴ ِﻪ َوﻗَﺎﻟُﻮا ﻧَ ْﺸ َﻬ ُﺪ أَﻧ َ‬
‫ﱠﻚ ﻧَِ ﱞ‬
‫ْ‬
‫ِ ِِ‬
‫ﻮد‬
‫ﺎف إِ ْن اﺗـﱠﺒَـ ْﻌﻨَ َ‬
‫ﱯ َوإِﻧﱠﺎ َﳔَ ُ‬
‫َد َﻋﺎ ﺑِﺄَ ْن َﻻ ﻳـََﺰ َال ﻣ ْﻦ ذُﱢرﻳﱠﺘﻪ ﻧَِ ﱞ‬
‫ﺎك أَ ْن ﺗَـ ْﻘﺘُـﻠَﻨَﺎ ﻳـَ ُﻬ ُ‬
‫‪Kitab Sunan Ibnu Mâjah dengan lafadz: 55‬‬
‫ﱠِ ِ ِ‬
‫ٍ‬
‫ُﺳ َﺎﻣﺔَ َﻋ ْﻦ ُﺷ ْﻌﺒَﺔَ َﻋ ْﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو‬
‫ﻳﺲ َوﻏُْﻨ َﺪٌر َوأَﺑُﻮ أ َ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑُﻮ ﺑَ ْﻜﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﻪ ﺑْ ُﻦ إ ْدر َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﱠﱯ‬
‫ﺻ ْﻔ َﻮا َن ﺑْ ِﻦ َﻋ ﱠﺴ ٍﺎل ‪ :‬أَ ﱠن ﻗَـ ْﻮًﻣﺎ ﻣ ْﻦ اﻟْﻴَـ ُﻬﻮد ﻗَـﺒﱠـﻠُﻮا ﻳَ َﺪ اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﺑْ ِﻦ ُﻣﱠﺮةَ َﻋ ْﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﺳﻠَ َﻤﺔَ َﻋ ْﻦ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َوِر ْﺟﻠَْﻴ ِﻪ‬
‫َ‬
‫‪56‬‬
‫‪54F‬‬
‫‪5F‬‬
‫‪Kitab Musnad Ahmad dengan lafadz:‬‬
‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ َﻋ ْﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو ﺑْ ِﻦ ُﻣﱠﺮَة‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ َﺟ ْﻌ َﻔ ٍﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ َو َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎﻩُ ﻳَِﺰ ُ‬
‫ﻳﺪ أ ْ‬
‫ﻗَ َ ِ‬
‫ﺎل‬
‫ﺎل ‪ :‬ﻗَ َ‬
‫ي ﻗَ َ‬
‫ﺻ ْﻔ َﻮا َن ﺑْ ِﻦ َﻋ ﱠﺴ ٍﺎل ﻗَ َ‬
‫ﻳﺪ اﻟْ ُﻤَﺮ ِاد ﱢ‬
‫ﺎل ﻳَِﺰ ُ‬
‫ﺖ َﻋْﺒ َﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْ َﻦ َﺳﻠَ َﻤﺔَ ُﳛَﺪ ُ‬
‫ﺎل َﲰ ْﻌ ُ‬
‫ﱢث َﻋ ْﻦ َ‬
‫ِ‬
‫ي ﻟِ ِ ِ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َوﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻳَِﺰ ُ‬
‫ﻳﺪ إِ َﱃ َﻫ َﺬا اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﺐ ﺑِﻨَﺎ إِ َﱃ اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ﻳـَ ُﻬﻮد ﱞ َ‬
‫ﺼﺎﺣﺒﻪ ا ْذ َﻫ ْ‬
‫اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ ﺣ ﱠﱴ ﻧَﺴﺄَﻟَﻪ ﻋﻦ ﻫ ِﺬﻩِ ْاﻵﻳ ِﺔ } وﻟََﻘ ْﺪ آﺗَـﻴـﻨَﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺗِﺴﻊ آﻳ ٍ‬
‫ﺎل َﻻ ﺗَـ ُﻘ ْﻞ‬
‫ﺎت {ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ُ َْ ََ َ َ ْ ُ َْ َ‬
‫ْ ُ َ َْ َ‬
‫َ َ‬
‫ت ﻟَﻪُ أ َْرﺑـَ َﻌﺔُ أ َْﻋ ُ ٍ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َﻻ‬
‫ﲔ ﻓَ َﺴﺄََﻻﻩُ ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ﱯ ﻓَِﺈﻧﱠﻪُ إِ ْن َِﲰ َﻌ َ‬
‫ﺼ َﺎر ْ‬
‫ﺎل اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﻟَﻪُ ﻧَِ ﱞ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ﻚ ﻟَ َ‬
‫ِ ِ ﱠِ‬
‫ِ‬
‫ﺎﳊَ ﱢﻖ َوَﻻ ﺗَ ْﺴ َﺤ ُﺮوا‬
‫ﺲ اﻟﱠِﱵ َﺣﱠﺮَم اﻟﻠﱠﻪُ إِﱠﻻ ﺑِ ْ‬
‫ﺗُ ْﺸﺮُﻛﻮا ﺑﺎﻟﻠﻪ َﺷْﻴﺌًﺎ َوَﻻ ﺗَ ْﺴﺮﻗُﻮا َوَﻻ ﺗَـ ْﺰﻧُﻮا َوَﻻ ﺗَـ ْﻘﺘُـﻠُﻮا اﻟﻨﱠـ ْﻔ َ‬
‫ِ‬
‫ٍِ‬
‫ِ ٍ ِ‬
‫ﺎل ﺗَِﻔﱡﺮوا ِﻣ ْﻦ‬
‫ﺼﻨَﺔً أ َْو ﻗَ َ‬
‫َوَﻻ ﺗَﺄْ ُﻛﻠُﻮا اﻟﱢﺮﺑَﺎ َوَﻻ ﲤَْ ُﺸﻮا ﺑ َِﱪيء إِ َﱃ ذي ُﺳ ْﻠﻄَﺎن ﻟﻴَـ ْﻘﺘُـﻠَﻪُ َوَﻻ ﺗَـ ْﻘﺬﻓُﻮا ُْﳏ َ‬
‫ﻳﺪ ﺗَـﻌ ُﺪوا ِﰲ اﻟ ﱠﺴﺒ ِ‬
‫اﻟﱠﺰ ْﺣ ِ‬
‫ﻒ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ اﻟﺸ ﱡ‬
‫ﺖ‬
‫ﺻﺔً أَ ْن َﻻ ﺗَـ ْﻌﺘَ ُﺪوا ﻗَ َ‬
‫ﻮد َﻋﻠَْﻴ ُﻜ ْﻢ َﺧﺎ ﱠ‬
‫ﱠﺎك َوأَﻧْـﺘُ ْﻢ ﻳَﺎ ﻳـَ ُﻬ ُ‬
‫ﺎل ﻳَِﺰ ُ ْ‬
‫ْ‬
‫ﺎل ﻓَ َﻤﺎ ﳝَْﻨَـﻌُ ُﻜ َﻤﺎ أَ ْن ﺗَـﺘﱠﺒِ َﻌ ِﺎﱐ‬
‫ﱯ ﻗَ َ‬
‫ﻓَـ َﻘﺒﱠ َﻼ ﻳَ َﺪﻩُ َوِر ْﺟﻠَﻪُ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻳَِﺰ ُ‬
‫ﻳﺪ ﻳَ َﺪﻳِْﻪ َوِر ْﺟﻠَْﻴ ِﻪ َوﻗَ َﺎﻻ ﻧَ ْﺸ َﻬ ُﺪ أَﻧ َ‬
‫ﱠﻚ ﻧَِ ﱞ‬
‫ِ ِِ‬
‫ِ‬
‫َﺳﻠَ ْﻤﻨَﺎ أَ ْن‬
‫ﱯ َوإِﻧﱠﺎ َﳔْ َﺸﻰ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻳَِﺰ ُ‬
‫ﻗَ َﺎﻻ إِ ﱠن َد ُاوَد َﻋﻠَْﻴﻪ اﻟ ﱠﺴ َﻼم َد َﻋﺎ أَ ْن َﻻ ﻳـََﺰ َال ﻣ ْﻦ ذُﱢرﻳﱠﺘﻪ ﻧَِ ﱞ‬
‫ﻳﺪ إِ ْن أ ْ‬
‫ﻮد‬
‫ﺗَـ ْﻘﺘُـﻠَﻨَﺎ ﻳـَ ُﻬ ُ‬
‫‪Asbabul wurud hadis: Dari hadis ini dapat diketahui sebab datangnya‬‬
‫‪hadis ini adalah bahwa ada dua orang Yahudi bersepakat menghadap Rasulullah.‬‬
‫‪Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita pergi menghadap orang yang‬‬
‫‪mengaku Nabi ini untuk menanyainya tentang sembilan ayat yang Allah turunkan‬‬
‫‪kepada Nabi Musa”. Tujuan kedua orang Yahudi ini adalah hendak mencari‬‬
‫‪kelemahan Rasulullah, karena beliau adalah seorang yang Ummi (tidak membaca‬‬
‫‪dan tidak menulis). Mereka menganggap bahwa Rasulullah tidak mengetahui‬‬
‫‪55‬‬
‫‪Abû ‘Abdillâh Muhammad Ibn Yazîd al-Qazwinî Ibn Mâjah, Sunan Ibnu Mâjah‬‬
‫‪(Semarang:Thoha Putera) j.2, hal. 1220, Kitâb al-Adab Bâb ar-Rojulu Yuqobbilu Yada ar-Rojuli.‬‬
‫‪56‬‬
‫‪Ahmad bin Hanbal, al-Musnad Bisyarhi Ahmad Zein, (Dârul Hadîs:Al-Qôhiroh) j.14,‬‬
‫‪hal.67-68, Kitâb Musnad al-Kûfiyyîn Bâb Hadîsu Safwan bin ‘Assâl.‬‬
34
tentang sembilan ayat tersebut. Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah dan
menanyakan prihal sembilan ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa tersebut,
maka Rasulullah menjelaskan kepada keduanya secara rinci tidak kurang suatu
apapun. Kedua orang Yahudi ini sangat terkejut dan terkagum-kagum dengan
penjelasan Rasulullah. Keduanya orang Yahudi ini kemudian langsung mencium
kedua tangan Rasulullah dan kakinya. 57
56F
Uraian hadis: Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzî, Nasâî, Ibnu Mâjah,
dan Ahmad bin Hanbal dari Safwân bin ‘Assâl. Hadis ini sering dijadikan hujjah
tentang pembolehan mencium tangan. 58 Kalimat ‫ ﻓﻘﺒّﻠﻮﺍ ﻳﺪﻳﻪ ﻭﺭﺟﻠﻴﻪ‬mengandung
57 F
pengertian maka mereka (orang Yahudi tersebut) mencium kedua tangan dan kaki
Rasulullah saw, dalam redaksi at-Tirmidzî ‫ ﻓﻘﺒّﻼ ﻳﺪﻳﻪ ﻭﺭﺟﻠﻴﻪ‬maka mereka berdua
(Yahudi) mencium kedua tangan dan kaki Rasulullah saw dan berkata: ‫ﻧﺸﻬﺪ ﺃﻧّﻚ ﻧﺒﻲ‬
kami bersaksi engkau nabi orang ‘Arab, ilmu yang kami dapat dari seorang yang
ummî sungguh ini merupakan sebuah mukjizat. 59
58F
Kualitas hadis: Abû ‘Îsa berkata: “Hâdza hadîsun hasanun sahîhun”
(Hadis ini hasan sahîh) dalam Sunan al-Tirmidzî Al-Jâmi’us Sahih wa huwa
Sunan al-Tirmidzî, j.7, h.111-112, Bab as-Sihr. Dan Ahmad Hamzah Zein
mengatakan: ”Isnâduhu Sahih” karena ‘Abdullah bin Salamah dari golongan
tabi’în yang tsiqot dalam al-Musnad Ahmad Bisyarhi Ahmad Zein, j.14, h.67,
Kitâb Musnad al-Kûfiyyîn Bâb Hadîsu Sofwan bin ‘Assâl.
57
Abu Al-‘Ula Muhammad Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwazi, j.7, hal.525-527 (Darr al-
58
Mostafa al-Badawî, Tangan Nabi, (Pustaka Zawiyah), h.58-59.
Abu Al-‘Ula Muhammad Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwazi, j.7, hal.525-527 (Darr al-
Fikr).
59
Fikr).
35
Hadis Kedua:
ِِ
ِ ِ
‫ َﻋ ْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ‬، ‫َﰊ ِزﻳَ ِﺎد‬
َ َ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﻣ ْﻮ َﺳﻰ ﻗ‬
ْ ِ‫ َﻋ ْﻦ ﻳَﺰﻳْﺪ ﺑْ ِﻦ أ‬، ‫ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑـُ ْﻮ ﻋ َﻮاﻧَﺔ‬: ‫ﺎل‬
ٍ
‫ﻒ ﻧـَْﻠ َﻘﻰ‬
َ َ‫ َﻋ ِﻦ اﺑْ ِﻦ ﻋُ َﻤ ٍﺮ ﻗ‬، ‫أَِﰊ ﻟَْﻴﻠﻰ‬
َ ‫ َﻛْﻴ‬: ‫ ﻗُـ ْﻠﻨَﺎ‬، ً‫ﺼﺔ‬
َ ‫س َﺣْﻴ‬
َ ‫ ﻓَ َﺤ‬، ‫ ُﻛﻨﱠﺎ ِ ْﰲ َﻏ ْﺰَوة‬: ‫ﺎل‬
ُ ‫ﺎص اﻟﻨﺎﱠ‬
ِ
ٍ ِِ
‫ﱢم‬
ْ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﷲُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َوﻗَ ْﺪ ﻓَـَﺮْرﻧَﺎ ؟ ﻓَـﻨَـَﺰﻟ‬
‫اﻟﻨِ ﱠ‬
َ ‫ ﻻَ ﻧـُ َﻘﺪ‬: ‫ ﻓَـ ُﻘ ْﻠﻨَﺎ‬، ( ‫ ) إِﻻﱠ ُﻣﺘَ َﺤﱢﺮﻓﺎً ﻟﻘﺘَﺎل‬: ‫ﺖ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
ِ‫ ﻓَﺨﺮج اﻟﻨِﱠﱯ ﺻﻠﱠﻰ اﷲُ ﻋﻠَﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ ِﻣﻦ ﺻﻼَة‬، ‫ ﻟَﻮ ﻗَ ِﺪﻣﻨَﺎ‬: ‫ ﻓَـ ُﻘ ْﻠﻨَﺎ‬، ‫ ﻓَﻼَ ﻳـﺮاﻧَﺎ أَﺣ ٌﺪ‬، َ‫اﻟْﻤ ِﺪﻳـﻨَﺔ‬
ْ ْ
ْ َ
َ ْ َ ََ َْ
َ ‫ََ َ ﱠ‬
َ ََ
‫ » أَﻧَﺎ ﻓِﺌَﺘُ ُﻜ ْﻢ‬: ‫ﺎل‬
َ َ‫ ﻗ‬، ُ‫ ﻓَـ َﻘﺒﱠـ ْﻠﻨَﺎ ﻳَ َﺪﻩ‬، « ‫ » أَﻧْـﺘُ ُﻢ اﻟْ َﻌ َﻜ ُﺎرْو َن‬: ‫ﺎل‬
َ َ‫ ﻗ‬، ‫ َْﳓ ُﻦ اﻟْ َﻔﱠﺮ ُارْو َن‬: ‫ ﻗُـ ْﻠﻨَﺎ‬، ‫اﻟْ َﻔ ْﺠ ِﺮ‬
«
Telah menceritakan kepada kami Mûsa (ia berkata): telah
menceritakan kepada kami Abû ‘Iwânah, dari Yazîd bin Abî Ziyâd, dari
Aburrahman bin Laila, dari Ibn ‘Umar (ia berkata): bahwa ia pernah dan
sahabat berada pada peperangan, dan orang-orang melarikan diri, dan aku
termasuk orang-orang yang melarikan diri. Kemudian kami saling bertanya
‘bagaimana kita bertemu Nabi? Sungguh kita telah lari dari peperangan?
Maka turunlah ayat. “Kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak
menggabungkan diri dengan pasukan yang lain” 60 Lalu kami katakan; kita
akan masuk Madinah, ketika kami masuk Madinah tidak ada seorangpun
yang melihat kita.Ibnu Umar berkata; kemudian kami duduk menunggu
Rasulullah saw sebelum Shalat Subuh. Kemudian tatkala beliau keluar
maka kami berdiri menuju kepadanya dan kami katakan; kami adalah
orang-orang yang melarikan diri. Lalu beliau menghadap kepada kami dan
berkata: "Tidak, melainkan kalian adalah orang-orang yang kembali
berperang." Ibnu Umar berkata; kemudian kami mendekat dan mencium
tangan beliau. Lalu beliau berkata: "Aku adalah pembela kalian."
59F
Hadis ini diambil dari kitab al-Adab al-Mufrad 61. Sedangkan penulis
60F
mendapatkan hadis lain setelah melakukan pencarian dalam kitab al-Mu'jam alMufahros li Alfâdzi al-Hadis al-Nabawi dengan kata kunci ‫( ﻗﺒﻞ‬j.5, hal.245), dan
‫( ﻓﺮر‬j.5, h.92) penulis menemukan hadis di dalam tempat sebagai berikut:
Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud,(Darr –al-Fikr) j.3, hal.46, Kitâb al-Jihâd
Bâb Fî Tawalli Yauma az-Zahfi, dan terdapat pada j.4, hal.356, Kitâb al-Adab
Bâb Fî Qublati al-Yad.
60
Surat al-Anfâl : 16.
Al-Bukhârî, al-Adab al-Mufrad,(Darr al-Kutub al-Islami 2008), hal,230.Bâb Taqbîl al-
61
Yad.
‫‪36‬‬
‫ﻳﺪ ﺑْ ُﻦ أَِﰊ ِزﻳَ ٍﺎد أَ ﱠن َﻋْﺒ َﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ َﻦ أَِﰊ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أ ْ‬
‫ﺲ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُزَﻫْﻴـٌﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻳَِﺰ ُ‬
‫َﲪَ ُﺪ ﺑْ ُﻦ ﻳُﻮﻧُ َ‬
‫ِ ِ‬
‫ٍِ‬
‫ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ‬
‫ﻟَْﻴـﻠَﻰ َﺣ ﱠﺪﺛَﻪُ أَ ﱠن َﻋْﺒ َﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ َﻦ ﻋُ َﻤَﺮ َﺣ ﱠﺪﺛَﻪُ أَﻧﱠﻪُ َﻛﺎ َن ِﰲ َﺳ ِﺮﻳﱠﺔ ﻣ ْﻦ َﺳَﺮاﻳَﺎ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﺎل ﻓَﺤﺎص اﻟﻨﱠﺎس ﺣﻴﺼﺔً ﻓَ ُﻜْﻨ ِ‬
‫ِ‬
‫ﺼﻨَ ُﻊ‬
‫ﺎص ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ ﺑـََﺮْزﻧَﺎ ﻗـُ ْﻠﻨَﺎ َﻛْﻴ َ‬
‫ﻒ ﻧَ ْ‬
‫ُ‬
‫َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗَ َ َ َ ُ َ ْ َ‬
‫ﻴﻤ ْﻦ َﺣ َ‬
‫ﺖﻓَ‬
‫ﺐ ﻓَـ ُﻘ ْﻠﻨﺎ ﻧَ ْﺪﺧﻞ اﻟْﻤ ِﺪﻳﻨﺔَ ﻓَـﻨﺘﺜﺒﱠ ِ‬
‫وﻗَ ْﺪ ﻓَـﺮرﻧَﺎ ِﻣﻦ اﻟﱠﺰ ْﺣ ِ‬
‫ﺐ َوَﻻ ﻳـََﺮاﻧَﺎ‬
‫ﻒ َوﺑـُ ْﺆﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﻐَ َ‬
‫ﻀ ِ َ ُ ُ َ َ َََ ُ‬
‫َ َْ ْ‬
‫ﺖ ﻓ َﻴﻬﺎ َوﻧَ ْﺬ َﻫ ُ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺖ‬
‫َﺣ ٌﺪ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻓَ َﺪ َﺧ ْﻠﻨَﺎ ﻓَـ ُﻘ ْﻠﻨَﺎ ﻟَ ْﻮ َﻋَﺮ ْ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻓَِﺈ ْن َﻛﺎﻧَ ْ‬
‫ﺿﻨَﺎ أَﻧْـ ُﻔ َﺴﻨَﺎ َﻋﻠَﻰ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫أَ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗَـْﺒ َﻞ‬
‫ﻚ ذَ َﻫْﺒـﻨَﺎ ﻗَ َ‬
‫ﻟَﻨَﺎ ﺗَـ ْﻮﺑَﺔٌ أَﻗَ ْﻤﻨَﺎ َوإِ ْن َﻛﺎ َن َﻏْﻴـَﺮ ذَﻟ َ‬
‫ﺎل ﻓَ َﺠﻠَ ْﺴﻨَﺎ ﻟَﺮ ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﺎل َﻻ ﺑَ ْﻞ أَﻧْـﺘُ ْﻢ اﻟْ َﻌ ﱠﻜ ُﺎرو َن‬
‫ﺻ َﻼةِ اﻟْ َﻔ ْﺠ ِﺮ ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َﺧَﺮ َج ﻗُ ْﻤﻨَﺎ إِﻟَْﻴ ِﻪ ﻓَـ ُﻘ ْﻠﻨَﺎ َْﳓ ُﻦ اﻟْ َﻔﱠﺮ ُارو َن ﻓَﺄَﻗْـﺒَ َﻞ إِﻟَْﻴـﻨَﺎ ﻓَـ َﻘ َ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﲔ‬
‫ﺎل ﻓَ َﺪﻧـَ ْﻮﻧَﺎ ﻓَـ َﻘﺒﱠـ ْﻠﻨَﺎ ﻳَ َﺪﻩُ ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ﻗَ َ‬
‫ﺎل إِﻧﱠﺎ ﻓﺌَﺔُ اﻟْ ُﻤ ْﺴﻠﻤ َ‬
‫‪At-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî, j.3, hal.130,‬‬
‫‪Bâb Mâ Jâa Fi al-Firôri Min az-Zahfi:‬‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﺑْ ُﻦ أَِﰊ ﻋُ َﻤَﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺳ ْﻔﻴَﺎ ُن َﻋ ْﻦ ﻳَِﺰ َﻳﺪ ﺑْ ِﻦ أَِﰊ ِزﻳَ ٍﺎد َﻋ ْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ أَِﰊ‬
‫ٍ‬
‫ِ‬
‫ﺎل ‪ :‬ﺑـﻌﺜَـﻨَﺎ رﺳ ُ ِ‬
‫ﱠﺎس‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﻟَْﻴـﻠَﻰ َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ ﻋُ َﻤَﺮ ﻗَ َ َ َ َ ُ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ِﰲ َﺳ ِﺮﻳﱠﺔ ﻓَ َﺤ َ‬
‫ﺎص اﻟﻨ ُ‬
‫ِ‬
‫َﻴْﺼَﺔً ﻓـَﻘَﺪِﻣْﻨَﺎ اﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﻓَﺎﺧْﺘَﺒـَﻴـْﻨَﺎ ﻬﺑﺎ وﻗُـ ْﻠﻨَﺎ ﻫﻠَﻜْﻨَﺎ ﰒُﱠ أَﺗَـﻴـﻨَﺎ رﺳ َ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫َ َ َ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ْ َُ‬
‫ﺎل ﺑَ ْﻞ أَﻧْـﺘُ ْﻢ اﻟْ َﻌ ﱠﻜ ُﺎرو َن َوأَﻧَﺎ ﻓِﺌَﺘُ ُﻜ ْﻢ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ َْﳓ ُﻦ اﻟْ َﻔﱠﺮ ُارو َن ﻗَ َ‬
‫ﻓَـ ُﻘ ْﻠﻨَﺎ ﻳَﺎ َر ُﺳ َ‬
‫ِ‬
‫ﻗَ َ ِ‬
‫ﻳﺚ ﺣﺴﻦ َﻻ ﻧـَﻌ ِﺮﻓُﻪ إِﱠﻻ ِﻣﻦ ﺣ ِﺪ ِ‬
‫ﻳﺚ ﻳَِﺰ َﻳﺪ ﺑْ ِﻦ أَِﰊ ِزﻳَ ٍﺎد َوَﻣ ْﻌ َﲎ‬
‫ﻴﺴﻰ َﻫ َﺬا َﺣﺪ ٌ َ َ ٌ ْ ُ‬
‫ْ َ‬
‫ﺎل أَﺑُﻮ ﻋ َ‬
‫ِِ‬
‫ﺼﺔً ﻳـَ ْﻌ ِﲏ أَﻧـ ُﱠﻬ ْﻢ ﻓَـﱡﺮوا ِﻣ ْﻦ اﻟْ ِﻘﺘَ ِﺎل َوَﻣ ْﻌ َﲎ ﻗَـ ْﻮﻟِِﻪ ﺑَ ْﻞ أَﻧْـﺘُ ْﻢ اﻟْ َﻌ ﱠﻜ ُﺎرو َن َواﻟْ َﻌ ﱠﻜ ُﺎر‬
‫ﱠﺎس َﺣْﻴ َ‬
‫ﻗَـ ْﻮﻟﻪ ﻓَ َﺤ َ‬
‫ﺎص اﻟﻨ ُ‬
‫ِِ ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﻳﺪ اﻟْ ِﻔﺮار ِﻣﻦ اﻟﱠﺰ ْﺣ ِ‬
‫ﻒ‬
‫اﻟﱠﺬي ﻳَﻔﱡﺮ إِ َﱃ إَِﻣﺎﻣﻪ ﻟﻴَـْﻨ ُ‬
‫ﺲ ﻳُِﺮ ُ َ َ ْ‬
‫ﺼَﺮﻩُ ﻟَْﻴ َ‬
‫‪Ibnu Mâjah, Sunan Ibnu Mâjah ,j.2, hal.1221, Kitâb al-Adab Bâb ar‬‬‫‪Rojulu Yuqobbilu Yada ar-Rojuli:‬‬
‫ﻳﺪ ﺑْ ُﻦ أَِﰊ ِزﻳَ ٍﺎد َﻋ ْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ‬
‫ﻀْﻴ ٍﻞ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻳَِﺰ ُ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑُﻮ ﺑَ ْﻜ ِﺮ ﺑْ ُﻦ أَِﰊ َﺷْﻴﺒَﺔَ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ ﻓُ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ أَِﰊ ﻟَْﻴـﻠَﻰ َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ ﻋُ َﻤَﺮ ﻗَ َ‬
‫ﺎل‪ :‬ﻗَـﺒﱠـ ْﻠﻨَﺎ ﻳَ َﺪ اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫‪Ahmad bin Hanbal, al-Musnad Bisyarhi Ahmad Zein, j.4, h.383, Kitâb‬‬
‫‪Musnad al-Mukatstsirîn min as-Sahabah Bâb Musnad Abdullah Ibnu ‘Umar‬‬
‫‪dengan lafaz:‬‬
‫ِ‬
‫ﻀْﻴ ٍﻞ َﻋ ْﻦ ﻳَِﺰ َ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ ﻓُ َ‬
‫ﻳﺪ َﻋ ْﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ أَِﰊ ﻟَْﻴـﻠَﻰ َﻋ ِﻦ اﺑْ ِﻦ ﻋُ َﻤَﺮ‪:‬أَﻧﱠﻪُ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫ﻗَـﺒﱠ َﻞ ﻳَ َﺪ اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﱠﱯ َ‬
37
Asbabul wurud hadis: Mengenai asbabul wurud hadis ini, ketika dalam
sebuah peperangan, dan posisi yang sangat terjepit para sahabat lari dari medan
perang, sesampainya madinah para sahabat saling bertanya: bagaimana kita
menemui Nabi sedangkan kita adalah orang yang lari dari medan perang? Maka
turunlah ayat 16 surat al-Anfâl: “Siapa yang membelakangi mereka (mundur) di
waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri
dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan
membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan
Amat buruklah tempat kembalinya.”, setelah Rasulullah selesai melaksanakan
solat fajar para sahabatpun mengahampirinya seraya mengatakan:"Wahai
Rasulullah, kami adalah orang-orang yang telah lari dari peperangan!" maka
Rasulullah pun menjawab: "Bahkan kalian adalah orang-orang yang kembali pada
kancah peperangan, dan aku berada pada kelompok kalian." Para sahabatpun
menciumi tangan Rasulullah saw. 62
61F
Uraian hadis: hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzî, Abû Dâud, Ibnu
Mâjah, dan Ahmad bin Hanbal dari Ibnu ‘Umar. Hadis ini memberikan pengertian
tentang pembolehan mencium tangan, 63 maka tatkala Rasulullah saw mengutus
62F
para sahabat dalam sebuah kesatuan militer, namun ‫ ﻓﺤﺎﺹ ﺍﻟﻨّﺎﺱ‬para sahabat
berpaling dari musuh dan pulang ke Madinah, kemudian para sahabat duduk
sambil menunggu Rasulullah saw dengan perasaan tidak tenang khawatir
Rasulullah akan marah, dan ketika melihat Rasulullah para sahabat pun berkata:
kami adalah orang yang lari dari medan perang, namun Rasulullah menjawab: ”
62
Al-Bukhârî, al-Adab al-Mufrad,(Darr al-Kutub al-Islami 2008) j.1, hal,230.Bâb Taqbîl
al-Yad, dan lihat Tuhfatul Ahwazi, Abu Al-‘Ula Muhammad Al-Mubarakfuri, j.5, hal.278 (Darr alFikr).
63
Muhamad Nuruddin al-banjar al-Makkî, Âdabu al-Musâfahah (Majelis Banjar Li
Tafaqquh Fî Addîn), hal.24-25.
38
‫ ﺑﻞ ﺃﻧﺘﻢ ﺍﻟﻌﺎﻛﺮﻭﺯ‬,‫ ﻻ‬Tidak, melainkan kalian adalah orang-orang yang kembali
berperang” para sahabatpun ‫ ﻓﺪﻧﻮﻧﺎ ﻓﻘﺒﻠﻨﺎ ﻳﺪﺍﻩ‬maka kami pun mendekat dan mencium
tangannya. 64
63F
Kualitas hadis: Telah berkata Abû ‘Îsa bin Sûrah: “Hadza Hadîsun
Hasan” kami tidak mengetahui riwayat lain kecuali dari jalur Yâzid bin Ziyâd. 65
64 F
Hadis ketiga
‫ ﺣﺪﺛﺘﲏ‬: ‫ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻄﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﲪﻦ اﻷﻋﻨﻖ ﻗﺎل‬: ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ إﲰﺎﻋﻴﻞ ﻗﺎل‬
‫ أن ﺟﺪﻫﺎ اﻟﻮازع ﺑﻦ‬، ‫ ﻋﻦ ﺟﺪﻫﺎ‬، ‫ أم أﺑﺎن اﺑﻨﺔ اﻟﻮازع‬: ‫اﻣﺮأة ﻣﻦ ﺻﺒﺎح ﻋﺒﺪ اﻟﻘﻴﺲ ﻳﻘﺎل ﳍﺎ‬
‫ ﻓﺄﺧﺬﻧﺎ ﺑﻴﺪﻳﻪ ورﺟﻠﻴﻪ ﻧﻘﺒﻠﻬﺎ‬، ‫ ذاك رﺳﻮل اﷲ‬: ‫ ﻗﺪﻣﻨﺎ ﻓﻘﻴﻞ‬: ‫ﻋﺎﻣﺮ ﻗﺎل‬
Telah menceritakan kepada kami Mûsa bin Ismâ’îl berkata, telah
menceritakan kepada kami Mathar bin 'Abdurrahman Al-A'naq berkata,
telah menceritakan kepadaku seorang utusan dari utusan ‘Abdul Qais yang
bernama: Ummu Abân bintil Wazi' bin Zari', dari kakeknya 'bahwa
kakeknya bernama al-Wâzi’ bin ‘Âmir ia berkata:, "Ketika kami tiba di
Madinah, maka keluarlah seruan: “itu Rasulullah, itu Rasulullah” lalu kami
mencium tangan dan kaki beliau."
Hadis ini diambil dari kitab al-Adab al-Mufrad 66. Sedangkan penulis
65F
mendapatkan hadis lain setelah melakukan pencarian dalam kitab al-Mu'jam alMufahros li Alfâdzi al-Hadis al-Nabawi dengan kata kunci ‫( ﻗﺒﻞ‬j.5, h.245), dan ‫ﺑﺪر‬
(j.1, hal.151) penulis hanya mendapatkan satu hadis saja yang diriwayatkan oleh
Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud, j.4, h.357, Kitâb al-Adab Bâb Fî Qublati alJasad.:
ِ
ِ
‫َﻋﻨَ ُﻖ َﺣ ﱠﺪﺛـَْﺘ ِﲏ أُﱡم‬
ْ ‫ﻴﺴﻰ ﺑْ ُﻦ اﻟﻄﱠﺒﱠ ِﺎع َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻣﻄَُﺮ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ْاﻷ‬
َ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ ﻋ‬
ِ
ِ ‫ﱢﻫﺎ َزا ِرٍع َوَﻛﺎ َن ِﰲ َوﻓْ ِﺪ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟْ َﻘْﻴ‬
َ َ‫ﺲ ﻗ‬
َ‫ﺎل ﻟَ ﱠﻤﺎ ﻗَ ِﺪ ْﻣﻨَﺎ اﻟْ َﻤ ِﺪﻳﻨَﺔ‬
ُ ‫أَﺑَﺎ َن ﺑِْﻨ‬
َ ‫ﺖ اﻟْ َﻮا ِزِع ﺑْ ِﻦ َزا ِرٍع َﻋ ْﻦ ﺟﺪ‬
64
Al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bûd, (Darr al-Fikr 2003) juz. 7, h. 247-248, dan juga lihat
‘Aun al-Ma’bûd, juz. 14, hal. 105
65
Al-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî, j.3, hal.130, Bâb Mâ Jâa Fi
al-Firôri Min az-Zahfi
66
Al-Bukhârî, al-Adab al-Mufrad,(Darr al-Kutub al-Islami) j.1, hal,231.Bâb Taqbîl alYad.
39
ِِ
ِ
‫ﺎل َواﻧْـﺘَﻈََﺮ اﻟْ ُﻤْﻨ ِﺬ ُر‬
َ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َوِر ْﺟﻠَﻪُ ﻗ‬
‫ﻓَ َﺠ َﻌ ْﻠﻨَﺎ ﻧـَﺘَﺒَ َﺎد ُر ﻣ ْﻦ َرَواﺣﻠﻨَﺎ ﻓَـﻨُـ َﻘﺒﱢ ُﻞ ﻳَ َﺪ اﻟﻨِ ﱢ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
ِ
ِ
ِ
‫ﻴﻚ‬
َ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻓَـ َﻘ‬
َ ‫ْاﻷ‬
َ ‫ﺎل ﻟَﻪُ إِ ﱠن ﻓ‬
‫ﺲ ﺛـَ ْﻮﺑـَْﻴﻪ ﰒُﱠ أَﺗَﻰ اﻟﻨِ ﱠ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
َ ‫َﺷ ﱡﺞ َﺣ ﱠﱴ أَﺗَﻰ َﻋْﻴﺒَﺘَﻪُ ﻓَـﻠَﺒ‬
‫ﺎل‬
َ
َ َ‫َﻠﱠﺘـَﲔِْ ﳛُِﺒـﱡﻬُﻤَﺎ اﻟﻠﱠﻪُ اﳊِْﻠْﻢُ وَاﻷَْﻧَﺎةُ ﻗَﺎلَ ﻳَﺎ رَﺳُﻮلَ اﻟﻠﱠﻪِ أَﻧَﺎ أَﲣَﻠﱠﻖُ ﻬﺑِِ َﻤﺎ أ َْم اﻟﻠﱠﻪُ َﺟﺒَـﻠَِﲏ َﻋﻠَْﻴ ِﻬ َﻤﺎ ﻗ‬
ِ ِ ‫اﳊﻤ ُﺪ ﻟِﻠﱠ ِﻪ اﻟﱠ ِﺬي ﺟﺒـﻠَِﲏ ﻋﻠَﻰ ﺧﻠﱠﺘَـ‬
َ َ‫ﻚ َﻋﻠَْﻴ ِﻬ َﻤﺎ ﻗ‬
َ َ‫ﺑَ ْﻞ اﻟﻠﱠﻪُ َﺟﺒَـﻠ‬
ْ َ َ ََ
ُ‫ﲔ ُﳛﺒﱡـ ُﻬ َﻤﺎ اﻟﻠﱠﻪُ َوَر ُﺳﻮﻟُﻪ‬
ْ َْ ‫ﺎل‬
Asbabul wurud hadis: Dari hadis ini dapat diketahui sebab datangnya
hadis ini adalah ketika rombongan utusan Abdu Qais tiba di Madinah, mereka
saling berlomba memacu kendaraan mereka, lalu mereka mencium tangan dan
kaki Rasulullah saw." Namun ada seseorang yang bernama"Al-Mundzir Al-Asyaj
masih menunggu hingga tempat pakaiannya tiba, lalu ia kenakan pakaiannya
tersebut. Setelah itu ia datang menemui Nabi saw. Beliau lantas bersabda kepada
Al-Mundzir: "Sesungguhnya engkau mempunyai dua tabiat yang disukai oleh
Allah dan rasul-Nya; santun dan sabar." Al-Mundzir bertanya, "Wahai Rasulullah,
memang aku berakhlak demikian atau Allah yang memberikan itu kepadaku?"
beliau menjawab: "Allah yang memberikan itu kepadamu." Al-Mundzir berkata,
"Segala puji milik Allah yang telah memberiku dua tabiat yang disukai oleh Allah
dan rasul-Nya." 67
6F
Uraian hadis: hadis ini hanya diriwayatkan oleh Abû Dâud. Ad-Dahlawi
berkata: ketika utusan Abdu Qois tiba dan mereka melakukan apa yang mereka
lakukan yaitu :
‫ ﻓﻨﻘﺒّﻞ ﻳﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﷲ ﺻﻠّﻰ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠّﻢ‬mereka (utusan Abdu Qois)
menciumi tangan Rasulullah saw, nabi pun tidak memberikan komentar apa-apa
atas apa yang telah dilakukan para utusan tersebut. 68
67F
Kualitas hadis: Status kekuatan hadis ini oleh Al-Albani disebutkan
sebagai hadis hasan. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani meriwayatkan dengan
sanad yang jayiid. Sedangkan Abu Daud memasukkannya sebagai hadis shahih.
67
68
Al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bûd, (Darr al-Fikr 2003) juz. 14, hal.107-108.
Al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bûd, (Darr al-Fikr) juz. 14, hal. 107.
40
Dan telah berkata al-Mundzirî dan telah meriwayatkan pula Abu al-Qôsim alBaghowi hadis ini pada kitab Mu’jam as-Sohabah dan ia berkata aku tidak
mengenal Zâri’, namun Abû ‘Amr an-Namari menjelaskan bahwa Abû Zâri’
adalah nama panggilan karena ia punya anak yang bernama Zâri’ dan karena hal
itu ia dijuluki Zâri’, dan menurut ulama Basroh bahwa hadisnya tentang hal ini
Hasan (Lihat Sunan Abu Daud j.4 hal. 375, As-Sunan Al-Kubra lil Baihaqi j.7 hal.
102, dan Fathul Bari li ibni Hajar j,11, hal 57,). 69
68F
2. Pendapat Ulama Hadis Tentang Mencium Tangan
Ibnu Hajar mengatakan bahwa sebagian ulama ada yang membolehkan,
dan yang lainnya memakruhkan, berikut kutipannya:
‫ وأﺟﺎزﻩ آﺧﺮون‬.‫وإﳕﺎ اﺧﺘﻠﻔﻮا ﰲ ﺗﻘﺒﻴﻞ اﻟﻴﺪ؛ ﻓﺄﻧﻜﺮﻩ ﻣﺎﻟﻚ وأﻧﻜﺮ ﻣﺎ روي ﻓﻴﻪ‬
‫ ﺑﻞ‬:‫ ﳓﻦ اﻟﻔﺮارون ﻓﻘﺎل‬:‫واﺣﺘﺠﻮا ﲟﺎ روي ﻋﻦ ﻋﻤﺮ أ�ﻢ ﳌﺎ رﺟﻌﻮا ﻣﻦ اﻟﻐﺰو ﺣﻴﺚ ﻓﺮوا ﻗﺎﻟﻮا‬
. 70 ‫ ﻓﻘﺒﻠﻨﺎ ﻳﺪﻩ‬:‫ ﻗﺎل‬.‫أﻧﺘﻢ اﻟﻌﻜﺎرون أﻧﺎ ﻓﺌﺔ اﳌﺆﻣﻨﲔ‬
69F
Maka sesungguhnya telah ada perbedaan pendapat dalam masalah
cium tangan, dan imam Mâlik pun memakruhkan hal tersebut, dan
mengingkari hadis tentang periwayatan mencium tangan, akan tetapi
sebagian membolehkan dan berdalil dengan hadis ‘Umar “ketika para
sahabat pulang (melarikan diri) dari peperangan, mereka berkata kepada
Nabi saw: kami adalah orang-orang yang lari dari peperangan, namun
Nabi menjawab:”Tidak, akan tetapi kalian adalah orang yang lari meminta
bantuan, dan aku adalah yang membantu tentara mukmin”, ‘Umar berkata:
maka kami pun mencium tangan Nabi.
‫ وﻗﺒﻞ أﺑﻮ ﻟﺒﺎﺑﺔ وﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ وﺻﺎﺣﺒﺎﻩ ﻳﺪ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﺣﲔ‬:‫ﻗﺎل‬
71
F70
‫ﺗﺎب اﷲ ﻋﻠﻴﻬﻢ‬
Berkata Ibnu Hajar: dan mencium Abû Lubâbah, Ka’ab bin Mâlik,
dan para sahabat yaitu tangan Nabi saw ketika Allah menerima taubat
mereka.
69
Al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bûd, (Darr al-Fikr 2003) juz. 14, hal. 247-248
Ibnu Hajar, Fathul Bâri, Kitab al-Isti,zân Bâb al-Akhzu bi al-Yad, Juz. 11, hal. 59.
(Tahqîq: Syaibatil Hamd).
71
Ibnu Hajar, Fathul Bâri, Kitab al-Isti,zân Bâb al-Akhzu bi al-Yad, Juz. 11, hal. 59.
(Tahqîq: Syaibatil Hamd).
70
41
Para sahabat juga mencium para sahabat yang senior atau sahabat yang
bagi mereka ilmunya lebih tinggi, sebagimana telah disebutkan oleh al-Abharî:
‫وﻗﺒﻞ زﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻳﺪ اﺑﻦ ﻋﺒﺎس ﺣﲔ أﺧﺬ‬. ‫وﻗﺒﻞ أﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪة ﻳﺪ ﻋﻤﺮ ﺣﲔ ﻗﺪم‬
. 72‫اﺑﻦ ﻋﺒﺎس ﺑﺮﻛﺎﺑﻪ‬
71F
Bahwa telah mencium Abû ‘Ubaidah tangan ‘Umar ketika ia
datang, begitupun Zaid bin Tsabit yang juga mencium tangan Ibnu ‘Abbâs
ketika sedang menuntun pelana kuda Ibnu ‘Abbâs
Al-Abharî juga menyebutkan alasan Imam Mâlik memakruhkan cium
tangan, berikut alasannya:
‫ ﻓﺄﻣﺎ إذا‬،‫إﳕﺎ ﻛﺮﻫﻬﺎ ﻣﺎﻟﻚ إذا ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻠﻰ وﺟﻪ اﻟﺘﻜﱪ واﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﳌﻦ ﻓﻌﻞ ذﻟﻚ ﺑﻪ‬
‫ﻗﺒﻞ إﻧﺴﺎن ﻳﺪ إﻧﺴﺎن أو وﺟﻬﻪ أو ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺑﺪﻧﻪ ﻣﺎ ﱂ ﻳﻜﻦ ﻋﻮرة ﻋﻠﻰ وﺟﻪ اﻟﻘﺮﺑﺔ إﱃ اﷲ‬
‫ وﺗﻘﺒﻴﻞ ﻳﺪ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻳﻘﺮب إﱃ‬.‫ﻟﺪﻳﻨﻪ أو ﻟﻌﻠﻤﻪ أو ﻟﺸﺮﻓﻪ ﻓﺈن ذﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ‬
73
. ‫ وﻣﺎ ﻛﺎن ﻣﻦ ذﻟﻚ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﺪﻧﻴﺎ أو ﻟﺴﻠﻄﺎن أو ﻟﺸﺒﻬﻪ ﻣﻦ وﺟﻮﻩ اﻟﺘﻜﱪ ﻓﻼ ﳚﻮز‬،‫اﷲ‬
F
72
Sesungguhnya alasan Mâlik memakruhkan cium tangan apabila
mencium tangan tersebut atas dasar Takabbur dan Ta’adzhîm kepada yang
melakukan perbuatan tersebut, namun apabila seseorang mencium tangan,
atau wajah, atau sebagian dari badan selama yang dicum tersebut bukan
bagian dari aurat, dan juga melakukan hal tersebut atas dasar niat
mendekatkan diri kepada Allah karena orang tersebut baik dalam
agamanya, ilmunya, atau karena kemuliaannya maka hal itu
diperbolehkan, karena mencium tangan Rasulullah saw akan mendekatkan
diri kepada Allah swt dengan catatan melakukan hal tersebut bukan karena
pengagungan keduniawian, atau karena punya kedudukan pemerintahan,
atau segala bentuk yang bersifat takabbur, maka hal tersebut tidak boleh.
Dalam kita al-Majmû’ An-Nawâwi bahkan berpendapat bahwa mencium
tangan orang orang saleh adalah sunnah, namun sebaliknya jika mencium tangan
seseorang karena kekayaannya maka hal tersebut Makruh, berikut kutipannya:
72
Ibnu Hajar, Fathul Bâri, Kitab al-Isti,zân Bâb al-Akhzu bi al-Yad, Juz. 11, hal. 59.
(Tahqîq: Syaibatil Hamd).
73
Al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bûd Abwâbu al-Salâm, (Darr al-Fikr 2003), juz. 14, hal. 106.
42
‫ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺗﻘﺒﻴﻞ ﻳﺪ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﱀ واﻟﺰاﻫﺪ واﻟﻌﺎﱂ وﳓﻮﻫﻢ ﻣﻦ اﻫﻞ اﻵﺧﺮة وأﻣﺎ‬
‫ﺗﻘﺒﻴﻞ ﻳﺪﻩ ﻟﻐﻨﺎﻩ ودﻧﻴﺎﻩ وﺷﻮﻛﺘﻪ ووﺟﺎﻫﺘﻪ ﻋﻨﺪ أﻫﻞ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ وﳓﻮ ذﻟﻚ ﻓﻤﻜﺮوﻩ ﺷﺪﻳﺪ‬
. 74 ‫اﻟﻜﺮاﻫﺔ وﻗﺎل اﳌﺘﻮﱄ ﻻ ﳚﻮز ﻓﺄﺷﺎر إﱃ ﲢﺮﳝﻪ وﺗﻘﺒﻴﻞ رأﺳﻪ‬
73F
Dan disunnahkan mencium tangan seorang yang Saleh, dan Zuhud,
dan ‘Alim dan semisalnya yang termasuk orang-orang yang selalu
memikirkan akhirat, dan adapun mencium tangan seseorang dikarenakan
kekayaannya dan karena hal keduniaannya, atau karena orang tersebut
punya senjata, atau karena pangkatnya di mata orang-orang yang hanya
memikirkan dunia, atau semisalnya, maka hukumnya adalah sangat
dimakruhkan dan berkata pula al-Mutawali: -Tidak boleh- dengan
mengisyaratkan kepada keharaman, begitupun dengan masalah mencium
kepala.
Berikut pendapat-pendapat para ulama yang telah di himpun oleh Ibnu
Muflih al-Maqdisi dalam kitab al-Adab as-Syar’iyyah: 75
74F
1. Mencium tangan untuk merendahkan diri:
ِ ‫ﺎل اﻟْﻤﱡﺮ‬
‫ إ ْن َﻛﺎ َن َﻋﻠَﻰ ﻃَ ِﺮ ِﻳﻖ‬: ‫ﺎل‬
َ ‫ي َﺳﺄَﻟْﺖ أَﺑَﺎ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋ ْﻦ ﻗُـْﺒـﻠَ ِﺔ اﻟْﻴَ ِﺪ ﻓَـ َﻘ‬
‫وذ ﱡ‬
َ َ َ‫َوﻗ‬
ِ ‫اﳋَﻄﱠ‬
‫ﺎب َر ِﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨـ ُﻬ َﻤﺎ َوإِ ْن َﻛﺎ َن َﻋﻠَﻰ‬
ْ ‫س ﻗَ ْﺪ ﻗَـﺒﱠ َﻞ أَﺑُﻮ ﻋُﺒَـْﻴ َﺪ َة ﻳَ َﺪ ﻋُ َﻤَﺮ ﺑْ ِﻦ‬
َ ْ‫اﻟﺘ َﱠﺪﻳﱡ ِﻦ ﻓَ َﻼ ﺑَﺄ‬
76
. ُ‫ﺎف َﺳْﻴـ ُﻔﻪُ أ َْو َﺳ ْﻮﻃُﻪ‬
ُ َ‫ ﱠإﻻ َر ُﺟ ًﻼ ُﳜ‬، ‫ﻃَ ِﺮ ِﻳﻖ اﻟ ﱡﺪﻧْـﻴَﺎ ﻓَ َﻼ‬
F75
Telah berkata al-Marrûziy (ada yang membaca al-Mawarzi): Aku
bertanya kepada Abâ ‘Abdillah tentang cium tangan, maka ia menjawab:
apabila hal tersebut dilakukan untuk merendahkan diri kita, maka tidak
apa-apa, karena mencium Abû ‘Ubaidah tangan ‘Umar bin al-Khottôb ra,
akan tetapi apabila hal tersebut dilakukan karena keduniawiaan, maka
tidak boleh, kecuali seorang laki-laki yang takut akan pedangnya dan
cambuknya (apabila tidak mencium tangan).
2. Mencium tangan orang tua:
ِ ‫َﲪ َﺪ رأَﻳﺖ َﻛﺜِﲑا ِﻣﻦ اﻟْﻌﻠَﻤ ِﺎء واﻟْ ُﻔ َﻘﻬ ِﺎء واﻟْﻤﺤﺪﱢﺛِﲔ وﺑ ِﲏ ﻫ‬
ِ
‫ﺎﺷ ٍﻢ‬
َ َ‫َوﻗ‬
َ ََ َ َ ُ َ َ َ َ ُ ْ ً
ْ َ َ ْ ‫ﺎل َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ُﻦ أ‬
ِ
ِ
ٍ ْ‫َوﻗُـَﺮﻳ‬
ُ ‫ﻀ ُﻬ ْﻢ ﻳَ َﺪﻳْﻪ َوﺑـَ ْﻌ‬
ُ ‫ﺼ َﺎر ﻳـُ َﻘﺒﱢـﻠُﻮﻧَﻪُ ﻳـَ ْﻌ ِﲏ أَﺑَﺎﻩُ ﺑـَ ْﻌ‬
ْ‫ﻴﻤﺎ َﱂ‬
َ ْ‫ﺶ َو ْاﻷَﻧ‬
ً ‫ َوﻳـُ َﻌﻈﱢ ُﻤﻮﻧَﻪُ ﺗَـ ْﻌﻈ‬، ُ‫ﻀ ُﻬ ْﻢ َرأْ َﺳﻪ‬
ِ َ ِ‫أَرُﻫﻢ ﻳـ ْﻔﻌﻠُﻮ َن ذَﻟ‬
.77 ُ‫َﺣ ٍﺪ ِﻣ ْﻦ اﻟْ ُﻔ َﻘ َﻬ ِﺎء َﻏْﻴـَﺮﻩ‬
ََْ َ
َ ‫ﻚ ﺑﺄ‬
76F
74
Abi Zakaria An-Nawâwiy, al-Majmu’,(al-Mamlakah al-‘Arabiyah), j.4, hal.476-477.
Saya mengutip dari kitab tersebut dikarenakan Ibnu Muflih bukan hanya seorang
Fuqoha melainkan ia juga seorang muhaddits.
76
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,247, (Mausasah ar-RisâlahBeirut cet.ke-3, 1999 M-1419 H).
77
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,247.
75
43
Dan telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad: Aku telah melihat banyak
dari kalangan ‘Ulama, para Fuqôha (ahli fiqih), Muhadditsîn (ahli hadis),
Bani Hâsyim, kaum Quraisy, dan kaum Ansor menciumnya (yaitu orang
tua mereka) sebagian mencium tangannya dan sebagian yang lainnya
mencium kepalanya, dan mereka memuliakannya dengan kemulian yang
belum pernah melihat mereka melakukan hal tersebut dengan siapaun
kecuali kepada fuqôha dan lainnya.
3. Anjuran mencium tangan seorang pemimpin yang adil
ِ
ِ ٍ ِ‫ﺎل ﻋﻠِﻲ ﺑﻦ أَِﰊ ﻃَﺎﻟ‬
ِْ ‫ي ﻗُـْﺒـﻠَﺔُ ﻳَ ِﺪ‬
ْ ‫ﺎل‬
َ َ‫َوﻗ‬
‫ﺼ ِﺮ ﱡ‬
َ َ‫اﻹ َﻣ ِﺎم اﻟْ َﻌﺎد ِل ﻃ‬
ْ َ‫اﳊَ َﺴ ُﻦ اﻟْﺒ‬
ُ‫ﺐ َرﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨﻪ‬
ُ ْ ‫ﺎﻋﺔٌ َوﻗَ َ َ ﱡ‬
ِ
ِ
ِ ِِ
. 78 ‫َﺧﺎﻩُ َدﻳْ ٌﻦ‬
َ ‫ َوﻗـُْﺒـﻠَﺔُ اﻟﱠﺮ ُﺟ ِﻞ أ‬، ٌ‫ َوﻗـُْﺒـﻠَﺔُ اﻟْ َﻤ ْﺮأَة َﺷ ْﻬ َﻮة‬، ٌ‫ﻗـُْﺒـﻠَﺔُ اﻟْ َﻮاﻟﺪ ﻋﺒَ َﺎدةٌ َوﻗـُْﺒـﻠَﺔُ اﻟْ َﻮﻟَﺪ َر ْﲪَﺔ‬
7F
Telah berkata Hasan al-Basriy: Mencium tangan seorang imam
yang adil adalah ketaatan, dan telah berkata pula ‘Ali bin Abî Thôlib ra:
ciuman orang tua kepada anaknya adalah Ibadah, dan ciuman anak
kepada orang tuanya adalah Kasih sayang, dan ciuman seorang wanita
adalah Nafsu, dan menciumnya seseorang akan saudaranya adalah
hutang.
4. Seorang pelajar harus menunjukan sikap tawadu’(merendahkan diri)
kepada seorang guru dengan cara mencium tangannya:
ٍ ‫ﺼﻴﺔٌ ﱠإﻻ أَ ْن ﻳ ُﻜﻮ َن ِﻋْﻨ َﺪ ﺧﻮ‬
ِ ِ ‫ي ﺑِﺄَ ﱠن ﺗَـ ْﻘﺒِﻴﻞ ﻳ ِﺪ اﻟﻈﱠ‬
‫ﺎل ِﰲ‬
ْ ‫ﺻﱠﺮ َح اﺑْ ُﻦ‬
َ َ‫ف َوﻗ‬
‫اﳉَ ْﻮِز ﱢ‬
َ ‫َو‬
َ
َ ‫ﺎﱂ َﻣ ْﻌ‬
ََ
َْ
ِ
ِ ‫اﳊ ِﺪ‬
ِ ْ ‫ﺐأ‬
ِ ‫اﺿ ِﻊ ﻟِْﻠ َﻌ‬
ِ ِ‫ﻳﺚ ﻳـَْﻨﺒَﻐِﻲ ﻟِﻠﻄﱠﺎﻟ‬
ِ ِ‫َﻣﻨَﺎﻗ‬
‫ﺎل‬
َ َ‫ﺎﱂ َوﻳُ ِﺬ ﱠل ﻧـَ ْﻔ َﺴﻪُ ﻟَﻪُ ﻗ‬
ُ ‫ﺐ أَ ْن ﻳـُﺒَﺎﻟ َﻎ ِﰲ اﻟﺘـ َﱠﻮ‬
َْ ‫َﺻ َﺤﺎب‬
ِ ِ ِ‫وِﻣﻦ اﻟﺘـﱠﻮاﺿ ِﻊ ﻟِْﻠﻌﺎ َِﱂ ﺗَـ ْﻘﺒ‬
ٍ َ‫ﻀْﻴﻞ ﺑْ ُﻦ ِﻋﻴ‬
‫َﺣ ُﺪ ُﳘَﺎ ﻳَ َﺪ‬
َ ُ َ ْ َ
َ ‫ﺎض أ‬
ُ َ ‫ َوﻗَـﺒﱠ َﻞ ُﺳ ْﻔﻴَﺎ ُن ﺑْ ُﻦ ﻋُﻴَـْﻴـﻨَﺔَ َواﻟْ ُﻔ‬، ‫ﻴﻞ ﻳَﺪﻩ‬
ُ
79
ِ ْ ‫ُﺣﺴ‬
. ُ‫اﳉُ ْﻌ ِﻔ ﱢﻲ َو ْاﻵ َﺧ ُﺮ ِر ْﺟﻠَﻪ‬
ْ ‫ﲔ ﺑْ ِﻦ َﻋﻠِ ﱟﻲ‬
َ
F 78
Dan telah menerangkan Ibn al-Jauziy: Bahwa mencium tangan
orang Zhôlim adalah kemaksiatan, kecuali dalam keadaan ketakutan
(terpaksa), dan telah dikatakan di dalam kita Manaqib Ashabi al-Hadîs:
Sepatutnya bagi seorang pelajar (orang yang sedang menuntut ilmu)
menunjukan sifat Tawaddhu (merendahkan diri) kepada seorang ‘Alim,
dan menghinakan diri (maksudnya tidak sombong) kepadanya, dan telah
dikatakan bahwa Tawaddhu kepada seorang ‘Alim adalah mencium
tangannya. Bahwa telah mencium Sufyân bin ‘Uyainah dan Fudhoil bin
‘Iyâdh (atau salah satu diantara keduanya) yaitu tangan Husain bin ‘Ali
al-Ju’fiy, ada juga yang berpendapat bahwa yang dicium bukan hanya
tangannya akan tetapi kakinya juga.
5. Mazhab Hanbali membolehkan, namun Mazhab Maliki memakruhkan
cium tangan:
78
79
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,248.
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,250.
44
‫ َوذَ َﻛَﺮ َﻣﺎ َرَواﻩُ أَﺑُﻮ َد ُاود َو َﻏْﻴـ ُﺮﻩُ َﻋ ْﻦ اﺑْ ِﻦ ﻋُ َﻤَﺮ } أَﻧـ ُﱠﻬ ْﻢ ﻟَ ﱠﻤﺎ‬. ‫ﺎل اﻟﺸْﱠﻴ ُﺦ ﺗَِﻘ ﱡﻲ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ‬
َ َ‫َوﻗ‬
ِ
ِِ
ِ
‫ﺺ ﻓِ ِﻴﻪ أَ ْﻛﺜَـ ُﺮ اﻟْﻌُﻠَ َﻤ ِﺎء‬
‫ﻗَﺪ ُﻣﻮا َﻋﻠَﻰ اﻟﻨِ ﱢ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
َ ‫ َوَر ﱠﺧ‬، { ُ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َﻋ َﺎم َﻣ ْﻮﺗﻪ ﻗَـﺒﱠـﻠُﻮا ﻳَ َﺪﻩ‬
80 ِِ
ٍ ِ‫َﲪَ َﺪ و َﻏ ِْﲑﻩِ َﻋﻠَﻰ وﺟ ِﻪ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ وَﻛ ِﺮﻫﻪ آﺧﺮو َن َﻛﻤﺎﻟ‬
. ‫ﻚ َو َﻏ ْﲑﻩ‬
َْ
َ َُ ُ َ َ
َ ْ ‫َﻛﺄ‬
F79
Dan telah berkata Syeikh Taqyuddin: Bahwa ia menyebutkan
tentang hadis riwayat Abû Dâwud dan riwayat lainnya, dari Ibnu ‘Umar
(bahwa para sahabat (termasuk Ibnu ‘Umar) mendatangi nabi pada tahun
wafatnya (nabi) mereka mencium tangan nabi), sebagian besar ulama telah
membolehkan hal tersebut seperti Ahmad bin Hanbal dan lainnya selama
hal tersebut dilakukan atas dasar nilai Agama, dan sebagian ulama yang
lainnya memakruhkan hal tersebut seperti Mâlik dan lainnya.
6. Mencium tangan adalah termasuk bagian sujud dan Sahabat ‘Umar pun
pernah menolak untuk dicium tangannya:
ِ
ِ ُ ‫ َﻛﺎ َن ﻳـُ َﻘ‬: ‫ﺎل اﺑْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟْﺒَـﱢﺮ‬
ِ ْ ‫إﺣ َﺪى اﻟ ﱠﺴ ْﺠ َﺪﺗَـ‬
‫ َوﺗَـﻨَ َﺎو َل أَﺑُﻮ ﻋُﺒَـْﻴ َﺪ َة‬، ‫ﲔ‬
ْ ‫ﻴﻞ اﻟْﻴَﺪ‬
ُ َ َ‫َوﻗ‬
ُ ‫ﺎل ﺗَـ ْﻘﺒ‬
ِ
ِ
‫ﻚ‬
َ ‫ ﻓَـﺘَـﻨَ َﺎو َل ِر ْﺟﻠَﻪُ ﻓَـ َﻘ‬، ‫ﻀ َﻬﺎ‬
َ ‫ﺎل َﻣﺎ َر ِﺿﻴﺖ ِﻣْﻨﻚ ﺑِﺘِْﻠ‬
َ َ‫ﻳَ َﺪ ﻋُ َﻤَﺮ َرﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨـ ُﻬ َﻤﺎ ﻟﻴُـ َﻘﺒﱢـﻠَ َﻬﺎ ﻓَـ َﻘﺒ‬
ِ
ِ ِ‫َﻜَﻴْﻒَ ﻬﺑ ِﺬﻩِ ؟ وﻗَـﺒﺾ ِﻫ َﺸﺎم ﺑﻦ َﻋﺒ ِﺪ اﻟْﻤﻠ‬
َ َ‫ﻚ ﻳَ َﺪﻩُ ِﻣ ْﻦ َر ُﺟ ٍﻞ أ ََر َاد أَ ْن ﻳـُ َﻘﺒﱢـﻠَ َﻬﺎ َوﻗ‬
َ ََ َ
ْ‫ﺎل َﻣ ْﻪ ﻓَِﺈﻧﱠﻪُ َﱂ‬
َ ْ ُْ ُ
81
ِ
ِ ‫ﻳـ ْﻔﻌﻞ َﻫ َﺬا ِﻣﻦ اﻟْﻌﺮ‬
. ٌ‫ﻀﻮع‬
ُ ‫ َوﻣ ْﻦ اﻟْ َﻌ ْﺠ ِﻢ ﱠإﻻ َﺧ‬، ٌ‫ب ﱠإﻻ َﻫﻠُﻮع‬
َْ َ
ََ ْ
F80
Telah berkata Ibnu ‘Abdi al-Barr: Telah dikatakan bahwa
mencium tangan termasuk bagian dari sujud , suatu ketika pernah
mengambil Abû ‘Ubaidah tangan ‘Umar ra untuk diciumnya maka umar
pun menolak, dan Abû ‘Ubaidah mengambil pula kakinya untuk dicium,
maka ‘Umar berkata: kau mencium tanganku saja akau menolak apalagi
kau mencium kakiku? Pernah juga terjadi bahwa tangan Hisyâm bin ‘Abd
al-Malik pernah ingin dicium oleh seorang laki-laki, maka Hisyâm pun
berkata “Meh” (bahasa suatu penolakan), karena sesungguhnya hal
tersebut tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab kecuali dalam keadaan
yang mendesak, dan juga orang-orang ‘Ajam kecuali dalam keadaan
merendahkan diri.
3. Analisa Hadis Mencium Tangan
Hadis pertama, kedua, dan ketiga 82 adalah hadis-hadis yang dijadikan
81 F
dalil oleh para ulama tentang dibolehkannya mencium tangan seorang yang ‘âlim,
zuhûd, warâ, dan seseorang yang mempunyai jabatan namun menjalankannya
80
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,248.
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,248.
82
Yang dimaksud hadis pertama, kedua,dan ketiga adalah hadis-hadis yang saya teliti,
yang telah dipaparkan pada bab III.
81
45
dengan Amanah, sebagaimana yang telah penulis paparkan mengenai pendapat
ulama tentang cium tangan.
Beberapa Ulama pun sebagian ada yang memakruhkan tentang cium
tangan dengan alasan hal tersebut (mencium tangan) adalah As-Sajdah as-Sughro,
sebagaimana Abû ‘Ubaidah yang hendak mencium tangan ‘Umar ra, namun
‘Umar menolaknya. 83
82F
Berikut juga hadis nabi yang sering dijadikan dalil tidak dibolehkannya
cium tangan:
‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﻮﺳﻒ ﺑﻦ زﻳﺎد ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪاﻟﺮﲪﻦ ﺑﻦ زﻳﺎد ﻋﻦ اﻻﻏﺮ أﰉ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ أﰉ‬
‫ " دﺧﻠﺖ ﻳﻮﻣﺎ اﻟﺴﻮق ﻣﻊ رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻓﺠﻠﺲ إﱃ اﻟﺒﺰازﻳﻦ‬:‫ﻫﺮﻳﺮة ﻗﺎل‬
‫ وﻛﺎن ﻻﻫﻞ اﻟﺴﻮق وازن ﻳﺰن ﻓﻘﺎل ﻟﻪ رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ‬،‫ﻓﺎﺷﱰى ﺳﺮاوﻳﻞ ﺑﺄرﺑﻌﺔ دراﻫﻢ‬
‫ إن ﻫﺬﻩ ﻟﻜﻠﻤﺔ ﻣﺎ ﲰﻌﺘﻬﺎ ﻣﻦ أﺣﺪ ؟ ﻗﺎل أﺑﻮ‬:‫ ﻓﻘﺎل اﻟﻮزان‬،‫ إﻳﺰن وأرﺟﺢ‬:‫ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‬
‫ ﻛﻔﻰ ﺑﻚ ﻣﻦ اﻟﻮﻫﻦ واﳉﻔﺎ ﰲ دﻳﻨﻚ أﻻ ﺗﻌﺮف ﻧﺒﻴﻚ ؟ ﻓﻄﺮح اﳌﻴﺰان‬:‫ﻫﺮﻳﺮة ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ‬
‫ ﻓﺠﺬب رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ‬،‫ووﺛﺐ إﱃ ] ﻳﺪ [ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻳﺮﻳﺪ أن ﻳﻘﺒﻠﻬﺎ‬
‫ إﳕﺎ أﻧﺎ‬،‫ ﻫﺬا إﳕﺎ ﺗﻔﻌﻠﻪ اﻻﻋﺎﺟﻢ ﲟﻠﻮﻛﻬﺎ وﻟﺴﺖ ﲟﻠﻚ‬:‫ وﻗﺎل‬،‫اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻳﺪﻩ ﻣﻨﻪ‬
84
F83
.‫ وأﺧﺬ رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ اﻟﺴﺮاوﻳﻞ‬،‫ ﻓﻮزن وأرﺟﺢ‬،‫رﺟﻞ ﻣﻨﻜﻢ‬
Telah menceritakan kepada kami Yûsuf bin Ziyâd, telah
menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ziyad, dari al- Aghor Abî
Muslim, dari Abî Hurairah ia berkata: Suatu hari aku pergi ke pasar
bersama Rasulullah saw dan kami pun mampir ke tempat pedagang kain
dan membeli bahan seharga empat dirham, dan di pasar tersebut ada
penimbang yang sedang menimbang, maka berkata Rasulullah kepada
orang tersebut, “Timbanglah dan benarkan timbangan”, lantas sang
penimbang tersebut berkata: Sesungguhnya aku pernah mendengar
perkataan ini dari seseorang?, dan berkata Abî Hurairah, dan Aku
berkata kepada orang tersebut: telah cukup kau mementingkan dunia dan
lalai dari Agamamu, apakah kau tidak mengenal Nabimu? Dan dilempar
timbangan orang tersebut dan segera mengambil tangan Nabi saw ingin
menciumnya, maka Rasulullah menolaknya, dan bersabda:”Hal tersebut
sesungguhnya adalah perbuatan orang-orang ‘Ajam terhadap raja-raja
mereka, dan aku bukanlah raja, dan sesungguhnya aku adalah manusia
83
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,248.
At-Tabrânî, Mu’jam al-Ausat, juz.6, hal. 349-350, hadis no.6594, (Dârul Haramain
1995 M-1415 H).
84
46
seperti kalian”, maka penimbang tersebut membenarkan timbangannya,
dan Rasul pun mengambil kainnya.
Hadis ini juga dijadikan dalil sebagian ulama tentang pelarangan cium
tangan, 85 namun hadis ini tidak sah (Hâdza Hadîtsun la yasihhu), hal ini
84F
dikarenakan dalam periwayatan hadis ini ada seorang yang bernama Yûsuf bin
Ziyâd, dan telah berkata ad-Dâruquthnî; bahwa Yûsuf bin Ziyâd sesngguhnya ia
terkenal dengan sebutan orang yang bathil, dan ia tidak meriwayatkan hadis dari
al-Ifrîqiy (salah satu periwayat hadis) dan lainnya. 86
85F
Namun dalil di atas tidak bisa mengalahkan dalil yang telah tetap dan
sahih mengenai cium tangan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al-Albani:
‫ ﻳﺪل ﳎﻤﻮﻋﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺛﺒﻮت ذﻟﻚ‬،‫وأﻣﺎ ﺗﻘﺒﻴﻞ اﻟﻴﺪ ﻓﻔﻲ اﻟﺒﺎب أﺣﺎدﻳﺚ وآﺛﺎر ﻛﺜﲑة‬
‫ ﻓﻨﺮى ﺟﻮاز ﺗﻘﺒﻴﻞ ﻳﺪ اﻟﻌﺎﱂ إذا ﺗﻮﻓﺮت اﻟﺸﺮوط اﻵﺗﻴﺔ‬،‫ﻋﻦ رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‬
‫ أﻻ ﻳﺘﺨﺬ ﻋﺎدة ﲝﻴﺚ ﻳﺘﻄﺒﻊ اﻟﻌﺎﱂ ﻋﻠﻰ ﻣﺪ ﻳﺪﻩ إﱃ ﺗﻼﻣﺬﺗﻪ وﻳﺘﻄﺒﻊ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﱪك‬-‫اﻻول‬
ّ :
‫ وﻣﺎ ﻛﺎن‬،‫ ﻓﺈن اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وإن ﻗﺒﻠﺖ ﻳﺪﻩ ﻓﺈﳕﺎ ﻛﺎن ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺪرة‬،‫ﺑﺬﻟﻚ‬
ّ‫أﻻ‬-‫ اﻟﺜّﺎﱐ‬. ‫ﻛﺬﻟﻚ ﻓﻼ ﳚﻮز أن ﳚﻌﻞ ﺳﻨﺔ ﻣﺴﺘﻤﺮة ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻌﻠﻮم ﻣﻦ اﻟﻘﻮاﻋﺪ اﻟﻔﻘﻬﻴﺔ‬
.‫ ورؤﻳﺘﻪ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ اﻟﻮاﻗﻊ ﻣﻊ ﺑﻌﺾ اﳌﺸﺎﻳﺦ اﻟﻴﻮم‬،‫ﻳﺪﻋﻮ ذﻟﻚ إﱃ ﺗﻜﱪ اﻟﻌﺎﱂ ﻋﻠﻰ ﻏﲑﻩ‬
‫ ﻓﺈ�ﺎ ﻣﺸﺮوﻋﺔ ﺑﻔﻌﻠﻪ‬،‫ ﻛﺴﻨﺔ اﳌﺼﺎﻓﺤﺔ‬،‫أﻻّ ﻳﺆدي ذﻟﻚ إﱃ ﺗﻌﻄﻴﻞ ﺳﻨﺔ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ‬-‫اﻟﺜّﺎﻟﺚ‬
‫ﻣﺎ‬
‫ وﻫﻲ ﺳﺒﺐ ﺗﺴﺎﻗﻂ ذﻧﻮب اﳌﺘﺼﺎﻓﺤﲔ ﻛﻤﺎ روي ﰲ ﻏﲑ‬،‫ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وﻗﻮﻟﻪ‬
. 87 ‫ ﻓﻼ ﳚﻮز إﻟﻐﺎؤﻫﺎ ﻣﻦ أﺟﻞ أﻣﺮ أﺣﺴﻦ أﺣﻮاﻟﻪ أﻧﻪ ﺟﺎﺋﺰ‬،‫ﺣﺪﻳﺚ واﺣﺪ‬
86F
Tentang cium tangan dalam hal ini terdapat banyak hadis dan
riwayat dari salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa hadis
tersebut shahih dari Nabi. Oleh karena itu, kami berpandangan bolehnya
mencium tangan seorang ulama jika memenuhi beberapa syarat berikut
ini:
1. Cium tangan tersebut tidaklah dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga
orang ulama terbiasa menjulurkan tangannya kepada murid-muridnya.
Begitu pula murid terbiasa ngalap berkah dengan mencium tangan
85
86
Lihat kitab al-Mausû’ah fî Bayâni Adillati as-Sûfiyyah, hal.198.
Adz-Zahabî, Talkhîs Kitab al-Maudhû’ât Li Ibni Jauzî, hal.264 (Maktabah Riyad 1998
M-1419H)
87
Muhamad Nâsiruddin al-Albâni, Silsilah as-Sahîhah, juz.1,h.302, no hadis. 160,
(Maktabah al-Ma’ârif)
47
gurunya. Hal ini dikarenakan Nabi sendiri jarang-jarang tangan beliau
dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya
sebagai kebiasaan yang dilakukan terus menerus sebagaimana kita ketahui
dalam pembahasan kaidah-kaidah fiqh.
2. Cium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa
sombong dan lebih baik dari pada yang lain serta menganggap dirinyalah
yang paling hebat sebagai realita yang ada pada sebagai orang ‘alim.
3. Cium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang
sudah diketahui semisal jabat tangan. Jabat tangan adalah suatu amal yang
dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Jabat tangan adalah
sebab rontoknya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana
terdapat dalam beberapa hadis. Oleh karena itu, tidaklah diperbolehkan
menghilangkan sunnah jabat tangan karena mengejar suatu amalan yang
status maksimalnya adalah amalan yang dibolehkan
B. Inhina (Menundukan Badan)
Tentang membungkukan badan saya hanya memasukan satu hadis saja
karena saya tidak menemukan hadis membungkukan badan selain hadis ini di
dalam al-Kutub al-Sittah, teks hadis sebagai berikut:
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud, dan Kualitas Hadis
ِ
ِ ِ
ٍ ِ‫ﺲ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟ‬
–‫ﻚ‬
‫ﱠﻬ ُﻲ َﻋ ِﻦ اﻟﻨِ ﱢ‬
ْ ‫َوﻗَ ْﺪ َوَرَد اﻟﻨـ‬
َ ‫ﱢﱯ‬
َ ْ ِ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﷲ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ ْﻢ م َﻛ َﻤﺎ ِﰲ َﺣﺪﻳْﺚ أَﻧ‬
ِ
ِ
‫ﺎل‬
َ َ‫ﺻ ِﺪﻳْـ َﻘﻪُ اَﻳـَْﻨ َﺤ ِﲎ ﻟَﻪُ؟ ﻗ‬
َ َ‫َر ِﺿ َﻲ اﷲ َﻋْﻨﻪُ – ﻗ‬
َ ‫ ))ﻳَ َﺎر ُﺳ ْﻮ َل اﷲ اﻟﱠﺮ ُﺟ ُﻞ ﻣﻨﱠﺎ ﻳـَْﻠ َﻘﻰ أ‬:‫ﺎل‬
َ ‫َﺧﺎﻩُ أ َْو‬
((‫اﳊﺪﻳﺚ‬....َ‫ﻻ‬:
Dan sungguh telah diriwayatkan tentang larangan Inhinâ yang
berasal dari Nabi saw sebagaimana yang ada pada hadis Anas bin Mâlik
ra-(ia berkata): Wahai Rasulullah jika seseorang diantara kita bertemu
saudaranya atau kerabatnya apakah harus menundukan badan untuknya?
Maka Rasulullah saw menjawab ”Tidak”: ….(al-Hadîs)
Hadis di atas berasal dari kitab Âdabu Al-Musâfahah 88 . Setelah penulis
87F
melakukan penelusuran hadis di atas dengan menggunakan Mu’jam al-Mufahros
dengan kata kunci ‫( ﺣﻨﺄ‬j.1, hal.523), ‫( ﺻﻔﺢ‬j.3, hal.326), dan ‫( ﻟﺰم‬j.6, hal.114) penulis
mendapatkan hadis didalam tempat sebagai berikut:
88
Muhamad Nuruddin al-banjar al-Makkî, Âdabu al-Musâfahah (Majelis Banjar Li
Tafaqquh Fî Addîn), hal.78.
48
At-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî, j.4, hal.172,
Bâb Ma Jâa Fî Al-Musâfahah.
ِ ِ
ِ
ٍ ِ‫ﺲ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟ‬
‫ﻚ‬
ْ ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﻠﱠﻪ أ‬
ْ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺳ َﻮﻳْ ٌﺪ أ‬
َ ْ ِ َ‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ َﺣْﻨﻈَﻠَﺔُ ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴﺪ اﻟﻠﱠﻪ َﻋ ْﻦ أَﻧ‬
ِ
ِ َ ‫ﺎل رﺟﻞ ﻳﺎ رﺳ‬
‫ﺎل‬
َ َ‫ﺎل َﻻ ﻗ‬
َ َ‫ﺻ ِﺪﻳ َﻘﻪُ أَﻳـَْﻨ َﺤ ِﲏ ﻟَﻪُ ﻗ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ اﻟﱠﺮ ُﺟ ُﻞ ﻣﻨﱠﺎ ﻳـَْﻠ َﻘﻰ أ‬
َ ‫َﺧﺎﻩُ أ َْو‬
ُ َ َ ٌ ُ َ َ َ‫ ﻗ‬:‫ﻗَﺎل‬
ِِ ِ
‫ﺎل ﻧـَ َﻌ ْﻢ‬
َ َ‫ﺼﺎﻓِ ُﺤﻪُ ﻗ‬
َ َ‫ﺎل َﻻ ﻗ‬
َ َ‫أَﻓَـﻴَـ ْﻠﺘَ ِﺰُﻣﻪُ َوﻳـُ َﻘﺒﱢـﻠُﻪُ ﻗ‬
َ ُ‫ﺎل أَﻓَـﻴَﺄْ ُﺧ ُﺬ ﺑﻴَﺪﻩ َوﻳ‬
ِ َ َ‫ﻗ‬
‫ﻳﺚ َﺣ َﺴ ٌﻦ‬
ٌ ‫ﻴﺴﻰ َﻫ َﺬا َﺣ ِﺪ‬
َ ‫ﺎل أَﺑُﻮ ﻋ‬
Ibnu Mâjah, Sunan Ibnu Mâjah,j.2, hal.1220, Kitâb al-Adab, Bâb AlMusâfahah.
ٍ
ِ
ِ
‫ﻴﻊ َﻋ ْﻦ َﺟ ِﺮﻳ ِﺮ ﺑْ ِﻦ َﺣﺎ ِزٍم َﻋ ْﻦ َﺣْﻨﻈَﻠَﺔَ ﺑْ ِﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ‬
ٌ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋﻠ ﱡﻲ ﺑْ ُﻦ ُﳏَ ﱠﻤﺪ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َوﻛ‬
ِ َ ‫ ﻗُـ ْﻠﻨَﺎ ﻳﺎ رﺳ‬:‫ﺎل‬
ِ
ٍ ِ‫ﺲ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟ‬
ٍ ‫ﻀﻨَﺎ ﻟِﺒَـ ْﻌ‬
‫ﺎل َﻻ ﻗُـ ْﻠﻨَﺎ أَﻳـُ َﻌﺎﻧِ ُﻖ‬
َ َ‫ﺾ ﻗ‬
َ َ‫ﻚ ﻗ‬
ُ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ أَﻳـَْﻨ َﺤ ِﲏ ﺑـَ ْﻌ‬
َ ْ ِ َ‫اﻟ ﱠﺴ ُﺪوﺳ ﱢﻲ َﻋ ْﻦ أَﻧ‬
َُ َ
ِ
‫ﺼﺎﻓَ ُﺤﻮا‬
َ َ‫ﻀﺎ ﻗ‬
ً ‫ﻀﻨَﺎ ﺑـَ ْﻌ‬
ُ ‫ﺑـَ ْﻌ‬
َ َ‫ﺎل َﻻ َوﻟَﻜ ْﻦ ﺗ‬
Ahmad bin Hanbal, al-Musnad Bisyarhi Ahmad Zein, j.11, hal.75, Baqî
Musnad al-Mukatstsirîn Bâb Musnad Anas bin Mâlik dengan lafaz:
ِ ‫ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻣﺮوا ُن ﺑﻦ ﻣﻌﺎ ِوﻳﺔَ ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﺣْﻨﻈَﻠَﺔُ ﺑﻦ ﻋﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ اﻟ ﱠﺴ ُﺪ‬
‫ﺲ ﺑْ ُﻦ‬
َ َ‫وﺳ ﱡﻲ ﻗ‬
َْ ُ ْ َ
َ َ َ ُ ُ ْ ََْ َ
ُ َ‫ﺎل َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﻧ‬
ِ َ ‫ﺎل رﺟﻞ ﻳﺎ رﺳ‬
ٍ ِ‫ﻣﺎﻟ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ‬
ُ ‫ﺎل َر ُﺳ‬
َ ‫ﺎل ﻓَـ َﻘ‬
َ َ‫ﺻ ِﺪﻳ َﻘﻪُ أَﻳـَْﻨ َﺤ ِﲏ ﻟَﻪُ ﻗ‬
َ َ‫ﻚ ﻗ‬
َ ‫َﺣ ُﺪﻧَﺎ ﻳـَْﻠ َﻘﻰ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ أ‬
َ
ُ َ َ ٌ ُ َ َ َ‫ ﻗ‬: ‫ﺎل‬
ِ
َ َ‫ﺼﺎﻓِ ُﺤﻪُ ﻗ‬
َ َ‫ﺎل َﻻ ﻗ‬
َ َ‫ﺎل ﻓَـﻴَـ ْﻠﺘَ ِﺰُﻣﻪُ َوﻳـُ َﻘﺒﱢـﻠُﻪُ ﻗ‬
َ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َﻻ ﻗ‬
َ ُ‫ﺎل ﻓَـﻴ‬
َ
َ‫ﺎل ﻧـَ َﻌ ْﻢ إ ْن َﺷﺎء‬
Asbabul wurud hadis : Munculnya hadis ini adalah ketika seorang
sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, tentang bagaimana sikap seorang
muslim ketika bertemu dengan muslim lainya, apakah muslim tersebut harus
menundukan badannya?, Rasul pun menjawab: “Tidak”, lalu bertanya lagi ,
apakah kami harus memeluknya dan menciumnya?,. Sekali lagi Rasul Menjawab,
“Tidak boleh”. lalu sahabat tersebut bertanya lagi, Apakah boleh menjabat
tangannya?” Rasul menjawab, “Boleh, jika dia mau”. 89
8F
89
Fikr).
Abu Al-‘Ula Muhammad Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwazi, j.7, hal.513-514 (Darr al-
49
Uraian hadis: hadis ini diriwayatkan oleh Timidzî, Ibnu Mâjah, Ahmad
bin Hanbal. Hadis ini menerangkan bagaimana sikap seseorang ketika bertemu
dengan sesama muslim, salah seorang sahabat ada yang bertanya ‫ ﺃﻳﻨﺤﻨﻲ ﻟﻪ‬apakah
kami harus membungkukan badan serta punggung kami, maka nabi pun
menjawab ‫“ ﻗﺎﻝ ﻻ‬Tidak” karena hal tersebut merupakan ruku’ seperti halnya sujud
kepada Allah swt. 90 Hadis ini juga sering dijadikan hujjah agar tidak memberikan
89F
penghormatan dengan menundukan badan.
Kualitas Hadis: Abû ‘Îsa berkata: “Hadza hadisun sahîhun” (Hadis
hasan sahîh) dalam Sunan al-Tirmidzî, j.4, hal.172, Bâb Ma Jâa Fî Al-Musâfahah,
dan juga dinilai hasan oleh Al-Albâni Dalam Muhammad Nâsirudin al-Al-Bâni,
Silsilah al-Ahâdits al-Sahîhah: wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawâidiha (Riyad:
Maktabah al-Ma’arif,1987). Hadis no. 160.
2. Pendapat Ulama Hadis Tentang Inhina (Menundukan Badan)
Para ulama berbeda pendapat mengenai Inhina (menundukan badan ketika
bertemu),
sebagian
mengharamkan.
memakruhkan
Saya
tidak
hal
menemukan
tersebut,
satu
dan
sebagian
lainnya
pendapat
pun
tentang
disunnahkannya Inhina, akan tetapi ada ulama yang membolehkan hal
tersebut,berikut pendapat-pendapat ulama tentang Inhina:
Al-Kasymiriy pengarang kitab al-‘Arfu asy-Syadzi Syarh Sunan AtTirmîdzî mengomentari hadis no.4 sebagai berikut :
91
F90
‫وأﻣﺎ اﻻﳓﻨﺎء ﻋﻨﺪ اﳌﻼﻗﺎة ﻓﻤﻜﺮوﻩ ﲢﺮﳝﺎً ﻛﻤﺎ ﰲ ﻓﺘﺎوى اﳊﻨﻔﻴﺔ‬
Dan adapun Inhina ketika berjumpa maka hukumnya makruh yang
mendekati keharaman sebagaimana yang ada di kitab Fatâwa al-Hanafiah.
90
Abu Al-‘Ula Muhammad Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwazi, j.7, hal.514 (Darr al-Fikr).
Muhammad Anwarsyah al-Kasymiriy, al-‘Arfu as-Syadziy Syarh Sunan Tirmidzî, juz.4,
hal.151, (Darr al-Hayâ:Beirut 1425 H-2004 M)
91
50
Al-Munâwi di dalam Faidul Qodîr mengatakan bahwa sunnah ketika
bertemu bukanlah dengan isyarat tangan, Inhina, atau selain daripada itu, karena
yang disyariatkan adalah memberi salam, berikut komentarnya:
‫ﻓﻼ ﻳﻜﻔﻲ ﻹﻗﺎﻣﺔ اﻟﺴﻨﺔ أن ﻳﺄﰐ ﺑﺎﻟﺘﺤﻴﺔ ﺑﻐﲑ ﻟﻔﻆ ﻛﺎﻹﺷﺎرة ﺑﺸﺊ ﳑﺎ ذﻛﺮ أو‬
‫ﺑﺎﻻﳓﻨﺎء وﻻ ﺑﻠﻔﻆ ﻏﲑ اﻟﺴﻼم وﻣﻦ ﻓﻌﻞ ذﻟﻚ ﱂ ﳚﺐ ﺟﻮاﺑﻪ وﻣﻦ ﺳﻠﻢ ﻻ ﳚﺰئ ﰲ ﺟﻮاﺑﻪ‬
، ‫ واﻟﻴﻬﻮد اﻹﺷﺎرة اﻷﺻﺒﻊ‬، ‫إﻻ اﻟﺴﻼم ………… ﲢﻴﺔ اﻟﻨﺼﺎرى وﺿﻊ اﻟﻴﺪ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻢ‬
‫واﳌﺴﻠﻤﲔ اﻟﺴﻼم ﻋﻠﻴﻜﻢ وﻫﻲ‬, ‫ واﳌﻠﻮك أﻧﻌﻢ ﺻﺒﺎﺣﺎ‬، ‫ واﻟﻌﺮب ﺣﻴﺎك اﷲ‬، ‫ﺠﻤﻟﻮس اﻻﳓﻨﺎء‬
.92‫أﺷﺮف اﻟﺘﺤﻴﺎت وأﻛﺮﻣﻬﺎ‬
91F
Maka tidak cukup untuk menghidupkan sunnah, yaitu
menghormati dengan meninggalkan salam, seperti hanya dengan
menggunakan isyarat dengan sesuatu sebagaimana yang telah disebutkan,
atau dengan hanya menundukan badan tanpa membarengi dengan salam,
dan barang siapa yang melakukan hal tersebut maka tidak wajib
dijawab/menghiraukannnya, dan siapa saja yang memberi salam maka
tidak dibolehkan menjawab dengan kalimat yang lain kecuali salam……
adapun penghormatan orang Nasrâni adalah dengan menaruh tangan diatas
mulut, orang Yahûdi dengan isyarat tangan, orang Majûsi denga Inhina,
orang Arab mengucapakan Hayâkallâh, para Raja-raja terdahulu
mengucapkan tuhan memberikan nikmat pagi ini, dan kaum muslim
dengan salam as-salâmu’alaikum dan ucapan tersebut adalah
penghormatan paling mulia dan paling mulia diantara penghormatan.
Bahkan pen-Syarh Riyâdu as-Sâlihîn yaitu Ibnu ‘Allân berpendapat bahwa
Inhina termasuk perbuatan bid’ah yang mendekati keharaman:
.93 ‫ ﻦ اﻟﺒﺪع اﶈﺮﻣﺔ اﻻﳓﻨﺎء ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻘﺎء ﻬﺑﻴﺌﺔ اﻟﺮﻛﻮع‬:‫ﻗﺎل اﺑﻦ ﻋﻼن اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ‬
92F
Telah berkata Ibnu ‘Allân asy-Syâfi’î: Dan termasuk bid’ah yang
diharamkan adalah menundukan badan ketika bertemu menyerupai ruku’.
Namun An-nawawi hanya sampai pada tingkat kemakruhan saja, tidak
sampai kepada keharaman, berikut pendpatnya di dalam al-Majmû’:
‫ وﻗﻮﻟﻪ أﻳﻨﺤﲎ‬... ‫ﻳﻜﺮﻩ ﺣﲏ اﻟﻈﻬﺮ ﰲ ﻛﻞ ﺣﺎل ﻟﻜﻞ أﺣﺪ ﳊﺪﻳﺚ أﻧﺲ اﻟﺴﺎﺑﻖ‬
94
F93
92
.‫ وﻻ ﻣﻌﺎرض ﻟﻪ‬،"‫ "ﻻ‬:‫ﻗﺎل‬
Al-Munâwi, Faidul Qodir Syar al-Jâmi’ as-Sagîr,juz.6, hal.402, (Dar alMa’rifah:Beirut cet.ke-2 1391H-1972M).
93
Ibnu ‘Allân, Dalîlu al-Fâlihîn Li Thurûqi Riyâdus Salihin,juz. 6, hal. 27, (Darul
Kitâb:Libanon)
94
Abi Zakaria An-Nawâwiy, al-Majmu’,(al-Mamlakah al-‘Arabiyah), j.4, hal.476.
51
Dan telah dimakruhkan menundukan badan pada setiap
kesempatan untuk siapapun dikarenakan hadis yang diriwayatkan
Anas,…. Dan redaksi tersebut ” apakah boleh menundukan badan, maka
nabi menjawab,”
Berikut pendapat-pendapat para ulama yang telah di himpun oleh
Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam kitab al-Adab as-Syar’iyyah:
1. Ibnu Muflih juga mengutip pendapat An-Nawâwie tentang makruhnya
Inhina:
‫ي ُﻣ َﻌﺎﻧـَ َﻘﺔَ اﻟْ َﻘ ِﺎدِم ِﻣ ْﻦ اﻟ ﱠﺴ َﻔ ِﺮ ُﻣ ْﺴﺘَ َﺤﺒﱠﺔٌ َوأَ ﱠن‬
‫ﺼﺎﻓَ َﺤﺔُ اﻟْ َﻜﺎﻓِ ِﺮ َوذَ َﻛَﺮ أَﺑُﻮ َزَﻛ ِﺮﻳﱠﺎ اﻟﻨـ َﱠﻮِو ﱡ‬
َ ‫َوﺗُﻜَْﺮﻩُ ُﻣ‬
95
ِ ِ
ِ
.‫ﺐ‬
‫ﻴﻞ ﻳَ ِﺪ اﻟﱠﺮ ُﺟ ِﻞ اﻟ ﱠ‬
‫ﺼﺎﻟِ ِﺢ ُﻣ ْﺴﺘَ َﺤ ﱞ‬
َ ‫اﻻ ْﳓﻨَﺎءَ َﻣﻜ ُْﺮوﻩٌ َوأَ ﱠن ﺗَـ ْﻘﺒ‬
F94
Berkata Ibnu Muflih al-Maqdisi: Bahwa telah dimakruhkan berjabatan
tangan dengan orang kafir, dan telah menyebutkan Abû Zakaria anNawâwiy: Bahwa memeluk orang yang baru pulang dari perjalanan jauh
adalah sunnah, dan sesungguhnya menundukan badan ketika berjumpa
adalah makruh, dan mencium tangan seorang yang saleh adalah sunnah.
2. Dari beberapa pendapat yang saya cantumkan, hanya pendapat inilah yang
membolehkan Inhina, karena Inhina adalah sujudnya malaikat kepada
Adam as.
ِ ِ ِ‫ِ ِِ ِ ﱠ‬
ِ
ِ
‫ﻮد اﻟْ َﻤ َﻼﺋِ َﻜ ِﺔ‬
َ َ‫ﻗ‬
ُ ‫ﻴﻞ ُﻫ َﻮ ُﺳ ُﺠ‬
َ ‫اﻟﺘﱠﺤﻴﱠﺔُ ﺑ ْﺎﳓﻨَﺎء اﻟﻈ ْﻬﺮ َﺟﺎﺋٌﺰ َوﻗ‬: ‫ﺎل اﻟﺸْﱠﻴ ُﺦ َوﺟﻴﻪُ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ أَﺑُﻮ اﻟْ َﻤ َﻌﺎﱄ‬
96
ِ
ِ
. ً‫ﻮد َﺣ ِﻘﻴ َﻘﺔ‬
ُ ‫ﻴﻞ اﻟ ﱡﺴ ُﺠ‬
َ ‫ َوﻗ‬، ‫ﻵ َد َم‬
F95
Dan telah berkata Syeikh Wajîhuddîn Abû al-Ma’âli: Penghormatan
dengan menundukan badan adalah boleh dan telah dikatakan hal tersebut
adalah seperti sujudnya Malaikat kepada Adam as, dan dikatakan sujudnya
adalah seperti itu.
3. Analisa Hadis Inhina
Hadis nomor 4, yang diriwayatkan oleh al-Barrô adalah hadis yang
menjadi dalil para ulama tentang larangan inhina.
ِ
ِ ِ
ٍ ِ‫ﺲ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟ‬
–‫ﻚ‬
‫ﱠﻬ ُﻲ َﻋ ِﻦ اﻟﻨِ ﱢ‬
ْ ‫َوﻗَ ْﺪ َوَرَد اﻟﻨـ‬
َ ‫ﱢﱯ‬
َ ْ ِ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﷲ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ ْﻢ م َﻛ َﻤﺎ ِﰲ َﺣﺪﻳْﺚ أَﻧ‬
ِ
ِ
‫ﺎل‬
َ َ‫ﺻ ِﺪﻳْـ َﻘﻪُ اَﻳـَْﻨ َﺤ ِﲎ ﻟَﻪُ؟ ﻗ‬
َ َ‫َر ِﺿ َﻲ اﷲ َﻋْﻨﻪُ – ﻗ‬
َ ‫ ))ﻳَ َﺎر ُﺳ ْﻮ َل اﷲ اﻟﱠﺮ ُﺟ ُﻞ ﻣﻨﱠﺎ ﻳـَْﻠ َﻘﻰ أ‬:‫ﺎل‬
َ ‫َﺧﺎﻩُ أ َْو‬
97
((‫اﳊﺪﻳﺚ‬....َ‫ﻻ‬:
F96
95
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,249.
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,250.
97
Hadis ini diriwayatkan oleh. Al-Tirmidzî di dalam Sunan-nya, Ibnu Mâjah di dalam
Sunan-nya, dan Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya. Hadis telah dicantumkan pada bab III.
96
52
Dan sungguh telah diriwayatkan tentang larangan Inhinâ yang
berasal dari Nabi saw sebagaimana yang ada pada hadis Anas bin Mâlik
ra-(ia berkata): Wahai Rasulullah jika seseorang diantara kita bertemu
saudaranya atau kerabatnya apakah harus menundukan badan untuknya?
Maka Rasulullah saw menjawab ”Tidak”: ….(al-Hadîs)
Yang
dimaksudkan
dengan
pengertian
inhina
disini
adalah
membungkukan badan ketika jabat tangan hampir menyerupai ruku’, hal itu
dilakukan sebagai pengagungan kepada muslim atasnya. 98
97 F
Berdasarkan hadis di atas ulama menyimpulkan ada dua hasil hukum yang
disimpulkan:
1. Maka telah ada yang menghukumi inhina adalah Mubah, sebagaimana
yang telah biasa dilakukan umat muslim di dalam kehidupan sehari-hari.
2. Dan sungguh inhina adalah salah satu kewajiban di dalam sholat yang
tidak sah sholat jika meninggalkannya. 99
98F
ِ ِ ِ‫ِ ِِ ِ ﱠ‬
ِ
ِ
‫ﻮد‬
َ َ‫ﻗ‬
ُ ‫ﻴﻞ ُﻫ َﻮ ُﺳ ُﺠ‬
َ ‫اﻟﺘﱠﺤﻴﱠﺔُ ﺑ ْﺎﳓﻨَﺎء اﻟﻈ ْﻬﺮ َﺟﺎﺋٌﺰ َوﻗ‬: ‫ﺎل اﻟﺸْﱠﻴ ُﺦ َوﺟﻴﻪُ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ أَﺑُﻮ اﻟْ َﻤ َﻌﺎﱄ‬
100
ِ
ِِ ِ
. ً‫ﻮد َﺣ ِﻘﻴ َﻘﺔ‬
ُ ‫ﻴﻞ اﻟ ﱡﺴ ُﺠ‬
َ ‫ َوﻗ‬، ‫اﻟْ َﻤ َﻼﺋ َﻜﺔ ﻵ َد َم‬
F9
Dan telah berkata Syeikh Wajîhuddîn Abû al-Ma’âli:
Penghormatan dengan menundukan badan adalah boleh dan telah
dikatakan hal tersebut adalah seperti sujudnya Malaikat kepada Adam as,
dan dikatakan sujudnya adalah seperti itu.
Yang dimaksud dibolehkannya inhina oleh Abû al-Ma’âli adalah
sebagaimana kebiasaan inhina yang kita lakukan sehari-hari, yaitu dengan sedikit
membungkukan badan ketika kita berjumpa dengan muslim lainnya, bukan
menundukan badan ketika bertemu dengan seorang yang dianggap terhormat lalu
pada jarak masih jauh dia sudah membungkukan badannya dan berjalan dengan
98
Lihat al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah,juz. 6, hal.322, (Daulah al-Kuwaiti).
al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah,juz. 6, hal.323, lihat juga Muhammad
Nûruddîn al-Banjarî, Âdab al-Musâfahah, h.
100
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,250.
99
53
berjongkok, hal inilah yang dimaksudkan rukuk ataupun sujud yang dimaksud
para ulama tidak boleh dilakukan terhadap manusia.
Namun Ibnu Salah tetap berpendapat bahwa tunduk/sujud kepada manusia
dengan berbagai bentuk apapun adalah haram, mengenai firman Allah tentang
kejadian sujudnya saudara-saudara Yusuf adalah syariat sebelum kita, dan tidak
berlaku pada syari’at kita. 101 Telah berkata para ulama: Bahwa sujud disini adalah
10F
sujud penghormatan bukan sujud ibadah, dan beginilah cara mereka
mengucapkan salam dengan bertakbir yaitu menundukan badan, akan tetapi Allah
telah menghapus syariat tersebut, dan menjadikan kalam (As-salâmu’alaikum wr
wb) sebagai pengganti dari menundukan badan dan berdiri untuk penghormatan.
102
10F
An-Nawâwie berpendapat bolehnya menundukan badan untuk mencium
tangan, bahkan mensunnahkan hal tersebut. Namun jika inhina dengan
membungkungkan hampir seluruh badan maka an-Nawâwie memakruhkannnya.
Inhina juga disebut-sebut sebagai penghormatannya para malaikat kepada
Adam as, tentang sujudnya malaikat, di dalam Tafsir Jalâlain dikatakan :
103
102F
ِ ‫} ﻓَـ َﻘﻌﻮاْ ﻟَﻪ ﺳ‬
. ‫ﺎﺟ ِﺪﻳْ َﻦ { ﺳﺠﻮد ﲢﻴﺔ ﺑﺎﻻﳓﻨﺎء‬
َ ُ ُ
Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (tafsirnya:
Sujudnya Malaikat di sini adalah penghormatan dengan menundukan
badan).
Berkata Ibnu Taimiyyah:
‫ ﻓﻴﻨﻬﻰ ﻋﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﰲ اﻟﱰﻣﺬي ﻋﻦ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ‬: ‫وأﻣﺎ اﻻﳓﻨﺎء ﻋﻨﺪ اﻟﺘﺤﻴﺔ‬
‫ ﻻ " ؛ وﻷن اﻟﺮﻛﻮع واﻟﺴﺠﻮد ﻻ‬: ‫وﺳﻠﻢ " أ�ﻢ ﺳﺄﻟﻮﻩ ﻋﻦ اﻟﺮﺟﻞ ﻳﻠﻘﻰ أﺧﺎﻩ ﻳﻨﺤﲎ ﻟﻪ ؟ ﻗﺎل‬
‫ﳚﻮز ﻓﻌﻠﻪ إﻻ ﷲ ﻋﺰ وﺟﻞ وإن ﻛﺎن ﻫﺬا ﻋﻠﻰ وﺟﻪ اﻟﺘﺤﻴﺔ ﰲ ﻏﲑ ﺷﺮﻳﻌﺘﻨﺎ ﻛﻤﺎ ﰲ ﻗﺼﺔ‬
101
Ibnu ‘Allân, Dalîlu al-Fâlihîn Li Thurûqi Riyâdus Salihin,juz. 6, hal. 27-28, (Darul
Kitâb:Libanon)
102
Ibnu ‘Arabi, Ahkâmu al-Qur’an, juz, 5, hal. 92.
103
Jalâluddîn al-Mahallî dan Jalâluddîn as-Suyûthî, Tafsir Jalâlain,surat al-Hijr ayat 29,
hal.213, (Darul Fikr 1981 M- 1401 H)
54
‫ﻳﻮﺳﻒ ) وﺧﺮوا ﻟﻪ ﺳ ﱠﺠﺪاً وﻗﺎل ﻳﺎ أﺑﺖ ﻫﺬا ﺗﺄوﻳﻞ رؤﻳﺎي ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ( وﰲ ﺷﺮﻳﻌﺘﻨﺎ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ‬
104
103F
‫ واﳌﺮاد ﺑﺎﻟﺮﻛﻮع اﻟﻨﺎﻗﺺ اﻻﳓﻨﺎء اﻟﺬي ﻻ ﻳﺒﻠﻎ ﺣﺪ اﻟﺮﻛﻮع‬.‫اﻟﺴﺠﻮد إﻻ ﷲ‬
Dan adapun inhina ketika memberi hormat: Maka dilarang
sebagaimana yang ada pada hadis Tirmidzi dari Nabi saw” mereka
bertanya tentang seseorang yang bertemu dengan saudaranya, apakah dia
harus menundukan badan? Maka menjawab Nabi:”Tidak”, dikarenakan
ruku’ dan sujud tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah, dan
adapun sujud penghormatan itu boleh, akan tetapi itu bukan dari syariat
kita, sebagaimana pada cerita Yusuf (Dan mereka (semuanya) merebahkan
diri seraya sujud kepada Yusuf. dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku Inilah
ta'bir mimpiku yang dahulu itu.) dan dalam syariat kita tidak dibenarkan
sujud kepada selain Allah.
C. Berdiri Menyambut Kedatangan Seseorang
Ada tiga hadis yang saya masukan pada pembahasan berdiri menyambut
seseorang.
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud, dan Kualitas Hadis
Hadis pertama:
ِ
‫ َﻋ ِﻦ اﺑْ ِﻦ‬، ‫ َﺣ ﱠﺪﺛَِ ْﲏ ﻋُ َﻘْﻴ ُﻞ‬: ‫ﺎل‬
َ َ‫ﺚ ﻗ‬
َ َ‫ﺻﺎﻟِ ِﺢ ﻗ‬
ُ ‫ َﺣ ﱠﺪﺛَِ ْﲏ اﻟﻠﱠْﻴ‬: ‫ﺎل‬
َ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﻋْﺒ ُﺪ اﷲ ﺑْ ِﻦ‬
ِ ِ
ٍ ِ‫ﺐ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟ‬
ٍ ‫ِﺷﻬ‬
ِ ‫ أَ ﱠن َﻋْﺒ ُﺪ اﷲِ ﺑْ ِﻦ َﻛ ْﻌ‬، ‫ﻚ‬
ِ ْ ‫ أ‬: ‫ﺎل‬
‫ﺐ‬
َ َ‫ﺎب ﻗ‬
َ
َ ْ ِ ‫ﱐ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ َﻋْﺒﺪ اﷲ ﺑْ ِﻦ َﻛ ْﻌ‬
ْ ‫َﺧﺒَـَﺮ‬
‫ ﲰﻌﺖ ﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﳛﺪث ﺣﺪﻳﺜﻪ‬: ‫ ﻗﺎل‬- ‫ وﻛﺎن ﻗﺎﺋﺪ ﻛﻌﺐ ﻣﻦ ﺑﻨﻴﻪ ﺣﲔ ﻋﻤﻲ‬‫ وآذن‬: ‫ ﻓﺘﺎب اﷲ ﻋﻠﻴﻪ‬، ‫ﺣﲔ ﲣﻠﻒ ﻋﻦ رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﻏﺰوة ﺗﺒﻮك‬
‫ ﻓﺘﻠﻘﺎﱐ اﻟﻨﺎس‬، ‫رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﺑﺘﻮﺑﺔ اﷲ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺣﲔ ﺻﻠﻰ ﺻﻼة اﻟﻔﺠﺮ‬
‫ ﻓﺈذا‬، ‫ ﺣﱴ دﺧﻠﺖ اﳌﺴﺠﺪ‬، ‫ ﻟﺘﻬﻨﻚ ﺗﻮﺑﺔ اﷲ ﻋﻠﻴﻚ‬: ‫ ﻳﻬﻨﻮﱐ ﺑﺎﻟﺘﻮﺑﺔ ﻳﻘﻮﻟﻮن‬، ‫ﻓﻮﺟﺎ ﻓﻮﺟﺎ‬
‫ ﺣﱴ‬، ‫ ﻓﻘﺎم إﱄ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ اﷲ ﻳﻬﺮول‬، ‫ﺑﺮﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﺣﻮﻟﻪ اﻟﻨﺎس‬
‫ ﻻ أﻧﺴﺎﻫﺎ ﻟﻄﻠﺤﺔ‬، ‫ واﷲ ﻣﺎ ﻗﺎم إﱄ رﺟﻞ ﻣﻦ اﳌﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻏﲑﻩ‬، ‫ﺻﺎﻓﺤﲏ وﻫﻨﺎﱐ‬
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullâh bin Sôleh (dia
berkata): menceritakan kepadaku al-Lais (dia berkata): telah menceritakan
kepadaku 'Uqail, dari Ibnu Syihâb (ia berkata): telah memberitakan
kepaku 'Abdur Rahman bin 'Abdullâh bin Ka'ab bin Mâlik, bahwa Abdullah bin Ka'ab adalah salah seorang putra Ka'ab yang mendampingi
Ka'ab ketika buta- (ia berkata): 'Saya pernah mendengar Ka'ab bin Malik
menceritakan peristiwa tentang dirinya ketika ia tertinggal dari Rasulullah
104
Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatâwa, Juz.1, hal. 277, (al-Mamlakah al-Harômain)
55
saw dalam perang Tâbuk., maka ia (Ka’ab) bertaubat kepada Allah swt,
dan Rosulullah pun memberitahu bahwa taubatnya diterima oleh Allah
swt, pada saat itu Ka’ab baru selesai Shalat Fajar, ka’ab bercerita: Tibatiba saya mendengar seseorang berteriak dengan lantangnya berteriak
bahwa taubatku telah diterima, setelah itu aku berangkat menuju
Rasulullah saw, sementara orang-orang berbondong-bondong menemuiku
mengucapkan : ‘Semoga taubat Allah atasmu membuatmu bahagia’.
Hingga aku masuk masjid, ternyata Rasulullah saw sedang duduk
dikerumuni orang-orang. Maka Talhah bin ‘Ubaidillah saw berlari-lari
hingga menjabat tanganku. Demi Allah, tidak ada orang Muhâjirîn yang
berdiri selain dia, aku tidak akan melupakan Tolhah.”
Hadis di atas berasal dari kitab al-Adab al-Mufrad. 105 Sedangkan penulis
104F
mendapatkan hadis lain dalam kitab Mu’jam al-Mufahros dengan kata kunci ‫ﺧﻠﻒ‬
j.2, hal.66, dan ‫ ﻫﻨﺄ‬j.7, hal.109 penulis mendapatkan hadis ditempat sebagai
berikut:
Al-Bukhârî, Sahîh al-Bukhârî, (Beirut:Libanon), j.3, hal.82-90, Kitâb
Maghôzi Bâb Hadîtsu Ka’ab bin Mâlik.
ٍ ‫ﺚ َﻋﻦ ﻋُ َﻘْﻴ ٍﻞ َﻋﻦ اﺑْ ِﻦ ِﺷﻬ‬
‫ﺎب َﻋ ْﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ِﻦ‬
َ
ْ
ْ ُ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َْﳛ َﲕ ﺑْ ُﻦ ﺑُ َﻜ ٍْﲑ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﻟﻠﱠْﻴ‬
ِ ِ ِ ِ ٍ ‫ﻚ وَﻛﺎ َن ﻗَﺎﺋِ َﺪ َﻛﻌ‬
ِ‫ﱠ‬
ِ‫ِ ﱠ‬
ٍِ
ٍِ
ِ
ِ
‫ﲔ‬
َ ‫ﺐ ﻣ ْﻦ ﺑَﻨﻴﻪ ﺣ‬
ْ
َ ‫َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑْ ِﻦ َﻛ ْﻌﺐ ﺑْ ِﻦ َﻣﺎﻟﻚ أَ ﱠن َﻋْﺒ َﺪ اﻟﻠﻪ ﺑْ َﻦ َﻛ ْﻌﺐ ﺑْ ِﻦ َﻣﺎﻟ‬
ِ ُ ‫ﻚ ُﳛﺪ‬
ِ َ َ‫ﻋ ِﻤﻲ ﻗ‬
ٍِ
‫ﻒ‬
َ َ‫ﻮك ﻗ‬
‫ﻒ َﻋ ْﻦ ﻗِ ﱠ‬
َ ُ‫ﺼ ِﺔ ﺗَـﺒ‬
ْ ‫ﺐ َﱂْ أ ََﲣَﻠﱠ‬
َ ‫ﲔ َﲣَﻠﱠ‬
َ ‫ﱢث ﺣ‬
ُ ‫ﺎل َﲰ ْﻌ‬
َ ‫ﺐ ﺑْ َﻦ َﻣﺎﻟ‬
ٌ ‫ﺎل َﻛ ْﻌ‬
َ ‫ﺖ َﻛ ْﻌ‬
َ َ
ِ ِ
)... ‫ﻮك‬
‫اﻟﺤﺪﻳﺚ‬
َ ُ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةٍ َﻏَﺰ َاﻫﺎ إِﱠﻻ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةِ ﺗَـﺒ‬
َ ‫َﻋ ْﻦ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
ٍ ‫ ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ ﺻﻠﱠﻴﺖ ﺻ َﻼ َة اﻟْ َﻔﺠ ِﺮ ﺻﺒﺢ ﲬَْ ِﺴﲔ ﻟَﻴـﻠَﺔً وأَﻧَﺎ ﻋﻠَﻰ ﻇَﻬ ِﺮ ﺑـﻴ‬...(‫ﻃﻮﻳﻞ‬
‫ﺖ ِﻣ ْﻦ ﺑـُﻴُﻮﺗِﻨَﺎ‬
َْ ْ َ َ ْ َ
َ ُ َْ
َ ُْ ْ
ِ
ِ
ِ
‫ض ﲟَﺎ‬
ْ ‫ﺲ َﻋﻠَﻰ‬
ْ َ‫ﺿﺎﻗ‬
َ ‫ﺖ َﻋﻠَ ﱠﻲ ﻧـَ ْﻔﺴﻲ َو‬
ْ َ‫ﺿﺎﻗ‬
َ ‫اﳊَ ِﺎل اﻟﱠِﱵ ذَ َﻛَﺮ اﻟﻠﱠﻪُ ﻗَ ْﺪ‬
ُ ‫ﺖ َﻋﻠَ ﱠﻲ ْاﻷ َْر‬
ٌ ‫ﻓَـﺒَـْﻴـﻨَﺎ أَﻧَﺎ َﺟﺎﻟ‬
ِ ‫رﺣﺒ‬
ٍ ِ‫َﻋﻠَﻰ ﺻﻮﺗِِﻪ ﻳﺎ َﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟ‬
ِ
‫ﺎل‬
َ َ‫ﻚ أَﺑْ ِﺸ ْﺮ ﻗ‬
ْ َُ َ
َ ‫ﺻ ْﻮ‬
ُ ‫ﺖ َﲰ ْﻌ‬
َ ‫ت‬
َ ‫ﺖ‬
َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ ْ ‫ﺻﺎرٍِخ أ َْو َﰱ َﻋﻠَﻰ َﺟﺒَ ِﻞ َﺳ ْﻠ ٍﻊ ﺑﺄ‬
ِ ‫ﻓَﺨﺮرت ﺳ‬
ِ ُ ‫ﺎﺟ ًﺪا وﻋﺮﻓْﺖ أَ ْن ﻗَ ْﺪ ﺟﺎء ﻓَـﺮج وآ َذ َن رﺳ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﺑِﺘَـ ْﻮﺑَِﺔ اﻟﻠﱠ ِﻪ‬
ُ ََ َ
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
ُ َ َ ٌَ َ َ
َ ُ َْ َ
ِ ‫ﻋﻠَﻴـﻨَﺎ ِﺣﲔ ﺻﻠﱠﻰ ﺻ َﻼ َة اﻟْ َﻔﺠ ِﺮ ﻓَ َﺬﻫﺐ اﻟﻨﱠﺎس ﻳـﺒﺸﱢﺮوﻧـَﻨَﺎ و َذﻫﺐ ﻗِﺒﻞ‬
‫ﺾ‬
‫ﺻﺎﺣ َﱠ‬
َْ
َ ‫ﱯ ُﻣﺒَﺸ ُﱢﺮو َن َوَرَﻛ‬
َ َ َ َ َ َ ُ َُ ُ َ َ ْ
َ َ َ
ِ
‫ع ِﻣ ْﻦ اﻟْ َﻔَﺮ ِس ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ‬
ْ ‫َﺳﻠَ َﻢ ﻓَﺄ َْو َﰱ َﻋﻠَﻰ‬
‫اﳉَﺒَ ِﻞ َوَﻛﺎ َن اﻟ ﱠ‬
‫إِ َﱠ‬
َ ‫َﺳَﺮ‬
ُ ‫ﺼ ْﻮ‬
ْ‫تأ‬
ْ ‫ﱄ َر ُﺟ ٌﻞ ﻓَـَﺮ ًﺳﺎ َو َﺳ َﻌﻰ َﺳ ٍﺎع ﻣ ْﻦ أ‬
ِ
ِ ِ
‫ﻚ‬
ُ ‫ﰊ ﻓَ َﻜ َﺴ ْﻮﺗُﻪُ إِﻳﱠ‬
‫ﺖ ﻟَﻪُ ﺛـَ ْﻮَﱠ‬
ُ ‫ﺎﳘَﺎ ﺑِﺒُ ْﺸَﺮاﻩُ َواﻟﻠﱠ ِﻪ َﻣﺎ أ َْﻣﻠ‬
ُ ‫ﺻ ْﻮﺗَﻪُ ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮِﱐ ﻧـََﺰ ْﻋ‬
ُ ‫َﺟﺎءَِﱐ اﻟﱠﺬي َﲰ ْﻌ‬
َ ‫ﺖ‬
105
Al-Bukhârî, al-Adab al-Mufrad,(Darr al-Kutub al-Islami 2008) j.1, hal,222. Bâb
Qiyâmu ar-Julu li Akhîhi.
‫‪56‬‬
‫ٍِ‬
‫ِ ِ‬
‫ت ﺛـَﻮﺑـَ ْ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫ﲔ ﻓَـﻠَﺒِ ْﺴﺘُـ ُﻬ َﻤﺎ َواﻧْﻄَﻠَ ْﻘ ُ‬
‫َﻏْﻴـَﺮُﳘَﺎ ﻳـَ ْﻮَﻣﺌﺬ َو ْ‬
‫ﺖ إِ َﱃ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫اﺳﺘَـ َﻌ ْﺮ ُ ْ‬
‫ِ‬
‫ﱠﺎﱐ اﻟﻨﱠﺎس ﻓَـ ْﻮ ًﺟﺎ ﻓَـ ْﻮ ًﺟﺎ ﻳـُ َﻬﻨ ِ‬
‫ﻓَـﻴَﺘَـﻠَﻘ ِ‬
‫ﺐ َﺣ ﱠﱴ‬
‫ﻚ ﻗَ َ‬
‫ﻚ ﺗَـ ْﻮﺑَﺔُ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋﻠَْﻴ َ‬
‫ﱡﻮﱐ ﺑِﺎﻟﺘـ ْﱠﻮﺑَِﺔ ﻳـَ ُﻘﻮﻟُﻮ َن ﻟﺘَـ ْﻬﻨِ َ‬
‫ﺎل َﻛ ْﻌ ٌ‬
‫ُ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ ﱠ ﱠ ِ ﱠ ِ‬
‫ﺖ اﻟْ َﻤ ْﺴ ِﺠ َﺪ ﻓَِﺈذَا َر ُﺳ ُ‬
‫ﱄ ﻃَْﻠ َﺤﺔُ‬
‫ﱠﺎس ﻓَـ َﻘ َﺎم إِ َﱠ‬
‫َد َﺧ ْﻠ ُ‬
‫َ‬
‫ﺲ َﺣ ْﻮﻟَﻪُ اﻟﻨ ُ‬
‫ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠ َﻢ َﺟﺎﻟ ٌ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺻﺎﻓَ َﺤ ِﲏ وَﻫﻨ ِ‬
‫ﻳﻦ َﻏْﻴـَﺮﻩُ َوَﻻ‬
‫ﱠﺎﱐ َواﻟﻠﱠ ِﻪ َﻣﺎ ﻗَ َﺎم إِ َﱠ‬
‫ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﻳـُ َﻬ ْﺮِو ُل َﺣ ﱠﱴ َ‬
‫َ‬
‫ﱄ َر ُﺟ ٌﻞ ﻣ ْﻦ اﻟْ ُﻤ َﻬﺎﺟ ِﺮ َ‬
‫ﺎﻫﺎ ﻟِﻄَْﻠ َﺤﺔَ‪......‬إﱁ‬
‫أَﻧْ َﺴ َ‬
‫‪Muslim, Sahîh Muslim, (Beirut:Libanon), j.8, hal.105-112, Kitâb at‬‬‫‪Taubah Bâb Hadîtsu at-Taubah Ka’ab bin Mâlik wa Sâhibih.‬‬
‫ﺣ ﱠﺪﺛَِﲏ أَﺑﻮ اﻟﻄﱠ ِ‬
‫ﺎﻫ ِﺮ أ ْ‬
‫َﲪَ ُﺪ ﺑْ ُﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو ﺑْ ِﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْ ِﻦ َﻋ ْﻤ ِﺮو ﺑْ ِﻦ َﺳ ْﺮٍح َﻣ ْﻮَﱃ ﺑَِﲏ أ َُﻣﻴﱠﺔَ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴﻪِ‬
‫ِ‬
‫َﺧﺒـﺮِﱐ ﻳﻮﻧُﺲ َﻋﻦ اﺑْ ِﻦ ﺷﻬ ٍ‬
‫َﺧﺒَـﺮِﱐ اﺑْﻦ وْﻫ ٍ‬
‫ﺎل ﰒُﱠ َﻏَﺰا َر ُﺳ ُ‬
‫ﺎب ﻗَ َ‬
‫ُ َْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ﺐ أ ْ ََ ُ ُ ْ‬
‫أْ َ ُ َ‬
‫ِ ِ ِ‬
‫ﺎل اﺑْﻦ ِﺷﻬ ٍ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ َﻋْﺒ ُﺪ‬
‫َو َﺳﻠﱠ َﻢ َﻏ ْﺰَوَة ﺗَـﺒُ َ‬
‫ﻮك َوُﻫ َﻮ ﻳُِﺮ ُ‬
‫ﺎب ﻓَﺄ ْ‬
‫ﺼ َﺎرى اﻟْ َﻌَﺮب ﺑﺎﻟﺸﱠﺎم ﻗَ َ ُ َ‬
‫وم َوﻧَ َ‬
‫ﻳﺪ اﻟﱡﺮ َ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺐ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﺐ َﻛﺎ َن ﻗَﺎﺋِ َﺪ َﻛ ْﻌ ٍ‬
‫ﻚ ‪ :‬أَ ﱠن َﻋْﺒ َﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْﻦ َﻛ ْﻌ ٍ‬
‫ﺐ ِﻣ ْﻦ ﺑَﻨِ ِﻴﻪ‬
‫اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﻛ ْﻌ ِ ْ َ‬
‫َ‬
‫ِ ِ‬
‫ﻚ ُﳛﺪ ُ ِ ِ‬
‫ِﺣﲔ ﻋ ِﻤﻲ ﻗَ َ ِ‬
‫ٍِ‬
‫ﲔ َﲣَﻠﱠ َ‬
‫ﱢث َﺣﺪﻳﺜَﻪُ ﺣ َ‬
‫ﺎل َﲰ ْﻌ ُ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ‬
‫ﺐ ﺑْ َﻦ َﻣﺎﻟ َ‬
‫ﻒ َﻋ ْﻦ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﺖ َﻛ ْﻌ َ‬
‫َ َ َ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺎل َﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ‬
‫َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةِ ﺗَـﺒُ َ‬
‫ﻚ َﱂْ أ ََﲣَﻠﱠ ْ‬
‫ﻒ َﻋ ْﻦ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﻮك ﻗَ َ ْ ُ ْ ُ َ‬
‫َو َﺳﻠﱠﻢ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةٍ َﻏَﺰ َاﻫﺎ ﻗَ ﱡ‬
‫ﺖ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةِ ﺑَ ْﺪ ٍر‪ )...‬اﻟﺤﺪﻳﺚ‬
‫ﻮك َﻏْﻴـَﺮ أ ﱢ‬
‫ﻂ إِﱠﻻ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةِ ﺗَـﺒُ َ‬
‫َﱐ ﻗَ ْﺪ َﲣَﻠﱠ ْﻔ ُ‬
‫َ‬
‫ﺎل ﰒُﱠ ﺻﻠﱠﻴﺖ ﺻ َﻼةَ اﻟْ َﻔﺠ ِﺮ ﺻﺒﺎح ﲬَْ ِﺴﲔ ﻟَﻴـﻠَﺔً ﻋﻠَﻰ ﻇَﻬ ِﺮ ﺑـﻴ ٍ‬
‫ﺖ ِﻣ ْﻦ ﺑـُﻴُﻮﺗِﻨَﺎ ﻓَـﺒَـْﻴـﻨَﺎ‬
‫َ ْ َ ْ َْ‬
‫ﻃﻮﻳﻞ(‪ ...‬ﻗَ َ َ ْ ُ َ‬
‫ْ ََ َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺖ َﻋﻠَ ﱠﻲ‬
‫ﺲ َﻋﻠَﻰ ْ‬
‫ﺿﺎﻗَ ْ‬
‫ﺖ َﻋﻠَ ﱠﻲ ﻧـَ ْﻔﺴﻲ َو َ‬
‫ﺿﺎﻗَ ْ‬
‫اﳊَ ِﺎل اﻟﱠِﱵ ذَ َﻛَﺮ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﱠﺰ َو َﺟ ﱠﻞ ﻣﻨﱠﺎ ﻗَ ْﺪ َ‬
‫أَﻧَﺎ َﺟﺎﻟ ٌ‬
‫َﻋﻠَﻰ ِِ‬
‫ْاﻷَرض ِﲟَﺎ رﺣﺒ ِ‬
‫ت ﺻﺎرٍِخ أَو َﰲ َﻋﻠَﻰ ﺳ ْﻠ ٍﻊ ﻳـ ُﻘ ُ ِ‬
‫ﺐ ﺑْ َﻦ‬
‫ْ ُ َ َُ ْ‬
‫ﺖ َﲰ ْﻌ ُ‬
‫ﻮل ﺑﺄ ْ َ‬
‫ﺖ َ‬
‫ﺻ ْﻮ َ َ ْ‬
‫َ َ‬
‫ﺻ ْﻮﺗﻪ ﻳَﺎ َﻛ ْﻌ َ‬
‫ِ‬
‫ﺎل ﻓَﺂذَ َن رﺳ ُ ِ‬
‫ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﺖ أَ ْن ﻗَ ْﺪ َﺟﺎءَ ﻓَـَﺮ ٌج ﻗَ َ‬
‫ﻚ أَﺑْ ِﺸ ْﺮ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻓَ َﺨَﺮْر ُ‬
‫ت َﺳﺎﺟ ًﺪا َو َﻋَﺮﻓْ ُ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫َ‬
‫َُ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ِ ﱠ‬
‫ِ‬
‫ﺐ‬
‫ﱠﺎس ﺑِﺘَـ ْﻮﺑَﺔ اﻟﻠﱠﻪ َﻋﻠَْﻴـﻨَﺎ ﺣ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ َ‬
‫ﲔ َ‬
‫ﱠﺎس ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮوﻧـَﻨَﺎ ﻓَ َﺬ َﻫ َ‬
‫ﺻ َﻼةَ اﻟْ َﻔ ْﺠﺮ ﻓَ َﺬ َﻫ َ‬
‫ﺐ اﻟﻨ ُ‬
‫َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠ َﻢ اﻟﻨ َ‬
‫ِ‬
‫ﻗِﺒﻞ ِ‬
‫اﳉَﺒَ َﻞ ﻓَ َﻜﺎ َن‬
‫َﺳﻠَ َﻢ ﻗِﺒَﻠِﻲ َوأ َْو َﰱ ْ‬
‫ﺾ َر ُﺟ ٌﻞ إِ َﱠ‬
‫ﺻﺎﺣ َﱠ‬
‫ﱄ ﻓَـَﺮ ًﺳﺎ َو َﺳ َﻌﻰ َﺳ ٍﺎع ﻣ ْﻦ أ ْ‬
‫ﱯ ُﻣﺒَﺸ ُﱢﺮو َن َوَرَﻛ َ‬
‫ََ َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﰊ‬
‫اﻟ ﱠ‬
‫ﺖ ﻟَﻪُ ﺛـَ ْﻮَﱠ‬
‫َﺳَﺮ َ‬
‫ﺼ ْﻮ ُ‬
‫ﺻ ْﻮﺗَﻪُ ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮِﱐ ﻓَـﻨَـَﺰ ْﻋ ُ‬
‫ع ﻣ ْﻦ اﻟْ َﻔَﺮ ِس ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َﺟﺎءَِﱐ اﻟﱠﺬي َﲰ ْﻌ ُ‬
‫تأْ‬
‫ﺖ َ‬
‫ٍِ‬
‫ِ‬
‫ت ﺛـَﻮﺑـَ ْ ِ‬
‫ﺖ‬
‫ﻓَ َﻜ َﺴ ْﻮﺗـُ ُﻬ َﻤﺎ إِﻳﱠﺎﻩُ ﺑِﺒِ َﺸ َﺎرﺗِِﻪ َواﻟﻠﱠ ِﻪ َﻣﺎ أ َْﻣﻠ ُ‬
‫ﲔ ﻓَـﻠَﺒِ ْﺴﺘُـ ُﻬ َﻤﺎ ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَ ْﻘ ُ‬
‫ﻚ َﻏْﻴـَﺮُﳘَﺎ ﻳـَ ْﻮَﻣﺌﺬ َو ْ‬
‫اﺳﺘَـ َﻌ ْﺮ ُ ْ‬
‫ِ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ َ ﱠ ﱠ ِ ﱠ‬
‫ﱠﺎس ﻓَـ ْﻮ ًﺟﺎ ﻓَـ ْﻮ ًﺟﺎ ﻳـُ َﻬﻨﱢﺌُ ِﻮﱐ ﺑِﺎﻟﺘـ ْﱠﻮﺑَِﺔ َوﻳـَ ُﻘﻮﻟُﻮ َن‬
‫أَﺗَﺄَﱠﻣ ُﻢ َر ُﺳ َ‬
‫ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠ َﻢ ﻳـَﺘَـﻠَﻘﱠﺎﱐ اﻟﻨ ُ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ ﱠ ﱠ ِ ﱠ ِ‬
‫ِ‬
‫ﺲ‬
‫ﺖ اﻟْ َﻤ ْﺴ ِﺠ َﺪ ﻓَِﺈ َذا َر ُﺳ ُ‬
‫ﻚ ﺗَـ ْﻮﺑَﺔُ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋﻠَْﻴ َ‬
‫ﻟﺘَـ ْﻬﻨِْﺌ َ‬
‫ﻚ َﺣ ﱠﱴ َد َﺧ ْﻠ ُ‬
‫َ‬
‫ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠ َﻢ َﺟﺎﻟ ٌ‬
‫ِِ‬
‫ِ ِ‬
‫ِ‬
‫ﺻﺎﻓَ َﺤ ِﲏ َوَﻫﻨﱠﺄَِﱐ َواﻟﻠﱠ ِﻪ َﻣﺎ‬
‫ﱠﺎس ﻓَـ َﻘ َﺎم ﻃَْﻠ َﺤﺔُ ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﻳـُ َﻬ ْﺮِو ُل َﺣ ﱠﱴ َ‬
‫ﰲ اﻟْ َﻤ ْﺴﺠﺪ َو َﺣ ْﻮﻟَﻪُ اﻟﻨ ُ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺎﻫﺎ ﻟِﻄَْﻠ َﺤﺔَ ‪....‬إﱁ‬
‫ﻳﻦ َﻏْﻴـ ُﺮﻩُ ﻗَ َ‬
‫ﺐ َﻻ ﻳـَْﻨ َﺴ َ‬
‫ﺎل ﻓَ َﻜﺎ َن َﻛ ْﻌ ٌ‬
‫ﻗَ َﺎم َر ُﺟ ٌﻞ ﻣ ْﻦ اﻟْ ُﻤ َﻬﺎﺟ ِﺮ َ‬
‫‪57‬‬
‫‪Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud, j.3, hal.88-89, Kitâb al-Jihâd Bâb Fî I’tôi‬‬
‫‪al-Basyîr.‬‬
‫َﺧﺒـﺮِﱐ ﻳﻮﻧُﺲ َﻋﻦ اﺑْ ِﻦ ِﺷﻬ ٍ‬
‫َﺧﺒَـﺮﻧَﺎ اﺑْﻦ وْﻫ ٍ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ َﻋْﺒ ُﺪ‬
‫ﺎب ﻗَ َ‬
‫ﺎل أ ْ‬
‫َ‬
‫ﺐ أ ْ ََ ُ ُ ْ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﺑْ ُﻦ اﻟ ﱠﺴ ْﺮِح أ ْ َ ُ َ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺎل َِﲰﻌﺖ َﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﺐ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﻚ أَ ﱠن َﻋْﺒ َﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺑْﻦ َﻛ ْﻌ ٍ‬
‫ﻚ‬
‫ﺐ ﻗَ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ‬
‫اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﻛ ْﻌ ِ ْ َ‬
‫َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ و َﺳﻠﱠﻢ إِذَا ﻗَ ِﺪ َم ِﻣ ْﻦ َﺳ َﻔ ٍﺮ ﺑَ َﺪأَ ﺑِﺎﻟْﻤﺴ ِﺠ ِﺪ ﻓَـﺮَﻛ َﻊ ﻓِ ِﻴﻪ رْﻛ َﻌﺘَـ ْ ِ‬
‫ﲔ ﰒُﱠ‬
‫ﻗَ َ‬
‫ﺎل ‪َ :‬ﻛﺎ َن اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫َْ‬
‫َ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ﺺ اﺑﻦ اﻟ ﱠﺴﺮِح ْ ِ‬
‫ﺎل وﻧـَﻬﻰ رﺳ ُ ِ‬
‫َﺟﻠَﺲ ﻟِﻠﻨ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫اﳊَﺪ َ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﻳﺚ ﻗَ َ َ َ َ ُ‬
‫ﱠﺎس َوﻗَ ﱠ ْ ُ ْ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ت ﺟ َﺪ َار َﺣﺎﺋﻂ أَِﰊ ﻗَـﺘَ َﺎدةَ َوُﻫ َﻮ‬
‫ﲔ َﻋ ْﻦ َﻛ َﻼﻣﻨَﺎ أَﻳـﱡ َﻬﺎ اﻟﺜ َﱠﻼﺛَﺔُ َﺣ ﱠﱴ إِذَا ﻃَ َ‬
‫ﺎل َﻋﻠَ ﱠﻲ ﺗَ َﺴ ﱠﻮْر ُ‬
‫اﻟْ ُﻤ ْﺴﻠﻤ َ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﲔ ﻟَْﻴـﻠَﺔً َﻋﻠَﻰ‬
‫ﺖ اﻟ ﱡ‬
‫ﺎح ﲬَْﺴ َ‬
‫ﺻﻠﱠْﻴ ُ‬
‫اﺑْ ُﻦ َﻋ ﱢﻤﻲ ﻓَ َﺴﻠﱠ ْﻤ ُ‬
‫ﺼْﺒ َﺢ َ‬
‫ﺖ َﻋﻠَْﻴﻪ ﻓَـ َﻮاﻟﻠﱠﻪ َﻣﺎ َرﱠد َﻋﻠَ ﱠﻲ اﻟ ﱠﺴ َﻼ َم ﰒُﱠ َ‬
‫ﺻﺒَ َ‬
‫ِ ِ‬
‫ٍِ ِ‬
‫ٍ ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺖ َِ‬
‫ﺖ‬
‫ﺐ ﺑْ َﻦ َﻣﺎﻟﻚ أَﺑْﺸ ْﺮ ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َﺟﺎءَِﱐ اﻟﱠﺬي َﲰ ْﻌ ُ‬
‫ﻇَ ْﻬ ِﺮ ﺑـَْﻴﺖ ﻣ ْﻦ ﺑـُﻴُﻮﺗﻨَﺎ ﻓَ َﺴﻤ ْﻌ ُ‬
‫ﺻﺎر ًﺧﺎ ﻳَﺎ َﻛ ْﻌ َ‬
‫ﺖ اﻟْ َﻤ ْﺴ ِﺠ َﺪ ﻓَِﺈ َذا‬
‫ﺖ ﻟَﻪُ ﺛـَ ْﻮَﱠ‬
‫ﺖ َﺣ ﱠﱴ إِ َذا َد َﺧ ْﻠ ُ‬
‫ﰊ ﻓَ َﻜ َﺴ ْﻮﺗـُ ُﻬ َﻤﺎ إِﻳﱠﺎﻩُ ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَ ْﻘ ُ‬
‫ﺻ ْﻮﺗَﻪُ ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮِﱐ ﻧـََﺰ ْﻋ ُ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﱠ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ ﱠ ﱠ‬
‫ﺻﺎﻓَ َﺤ ِﲏ‬
‫َر ُﺳ ُ‬
‫ﺲ ﻓَـ َﻘ َﺎم إِ َﱠ‬
‫ﱄ ﻃَْﻠ َﺤﺔُ ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﻳـُ َﻬ ْﺮِو ُل َﺣ ﱠﱴ َ‬
‫ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠ َﻢ َﺟﺎﻟ ٌ‬
‫َوَﻫﻨﱠﺄَِﱐ‬
‫‪Ahmad bin Hanbal, al-Musnad Bisyarhi Ahmad Zein, j.12, hal.314-317,‬‬
‫‪no.15729, Musnad al-Makkiyyîn Bâb Hadîtsu Ka’ab Mâlik al-Ansâri dengan‬‬
‫‪lafaz:‬‬
‫ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻳـﻌ ُﻘﻮب ﺑﻦ إِﺑـﺮ ِاﻫﻴﻢ ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ اﺑﻦ أ ِ‬
‫ي ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒ ِﺪ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋ ْﻦ َﻋ ﱢﻤ ِﻪ‬
‫َﺧﻲ اﻟﱡﺰْﻫ ِﺮ ﱢ‬
‫َ َ ْ ُ ْ ُ َْ َ َ‬
‫ُْ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺐ ﺑ ِﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﻚ أَ ﱠن َﻋْﺒ َﺪ‬
‫ي ﻗَ َ‬
‫ُﳏَ ﱠﻤ ِﺪ ﺑْ ِﻦ ُﻣ ْﺴﻠِ ٍﻢ اﻟﱡﺰْﻫ ِﺮ ﱢ‬
‫ﺎل أ ْ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ َﻋْﺒ ُﺪ اﻟﱠﺮ ْﲪَ ِﻦ ﺑْ ُﻦ َﻋْﺒﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﺑْ ِﻦ َﻛ ْﻌ ِ ْ َ‬
‫ﻚ وَﻛﺎ َن ﻗَﺎﺋِ َﺪ َﻛﻌ ٍ ِ ِ ِ ِ‬
‫ﱠِ‬
‫ﺎل ‪َِ :‬ﲰﻌﺖ َﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ٍِ‬
‫ِ‬
‫ﻚ‬
‫ﲔ َﻋ ِﻤ َﻲ ﻗَ َ‬
‫ﺐ ﻣ ْﻦ ﺑَﻨﻴﻪ ﺣ َ‬
‫ْ‬
‫ْ ُ ْ َ َْ َ‬
‫اﻟﻠﻪ ﺑْ َﻦ َﻛ ْﻌﺐ ﺑْ ِﻦ َﻣﺎﻟ َ‬
‫ُﳛﺪ ُ ِ ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺐ‬
‫ﻮك ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةِ ﺗَـﺒُ َ‬
‫ﲔ َﲣَﻠﱠ َ‬
‫ﱢث َﺣﺪﻳﺜَﻪُ ﺣ َ‬
‫َ‬
‫ﻒ َﻋ ْﻦ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﺎل َﻛ ْﻌ ُ‬
‫ﻂ إِﱠﻻ ِﰲ َﻏﺰوةِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺑﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠﻢ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةٍ َﻏ ِْﲑَﻫﺎ ﻗَ ﱡ‬
‫ﻚ َﱂْ أ ََﲣَﻠﱠ ْ‬
‫ﻒ َﻋ ْﻦ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ُْ َ‬
‫َْ‬
‫َ‬
‫ﺻ َﻼ َة‬
‫ﻮك َﻏْﻴـَﺮ أ ﱢ‬
‫ﺖ ِﰲ َﻏ ْﺰَوةِ ﺑَ ْﺪ ٍر‪ )...‬اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻃﻮﻳﻞ (‪ ...‬ﻗَ َ‬
‫ﺗَـﺒُ َ‬
‫َﱐ ُﻛْﻨ ُ‬
‫ﺻﻠﱠْﻴ ُ‬
‫ﺖ َﲣَﻠﱠ ْﻔ ُ‬
‫ﺖ َ‬
‫ﺎل ﰒُﱠ َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ ٍ ِ‬
‫ِ‬
‫اﳊَ ِﺎل اﻟﱠِﱵ ذَ َﻛَﺮ‬
‫ﺲ َﻋﻠَﻰ ْ‬
‫ﺎح ﲬَْﺴ َ‬
‫اﻟْ َﻔ ْﺠ ِﺮ َ‬
‫ﺻﺒَ َ‬
‫ﲔ ﻟَْﻴـﻠَﺔً َﻋﻠَﻰ ﻇَ ْﻬﺮ ﺑـَْﻴﺖ ﻣ ْﻦ ﺑـُﻴُﻮﺗﻨَﺎ ﻓَـﺒَـْﻴـﻨَ َﻤﺎ أَﻧَﺎ َﺟﺎﻟ ٌ‬
‫اﻟﻠﱠﻪ ﺗَـﺒﺎرَك وﺗَـﻌ َﺎﱃ ِﻣﻨﱠﺎ ﻗَ ْﺪ ﺿﺎﻗَﺖ ﻋﻠَﻲ ﻧـَ ْﻔ ِﺴﻲ وﺿﺎﻗَﺖ ﻋﻠَﻲ ْاﻷَرض ِﲟَﺎ رﺣﺒ ِ‬
‫ﺖ‬
‫َ َ ْ َ ﱠ ْ ُ َ َُ ْ‬
‫َ ْ َ ﱠ‬
‫ﺖ َﲰ ْﻌ ُ‬
‫ُ ََ َ َ‬
‫َﻋﻠَﻰ ﺻﻮﺗِِﻪ ﻳﺎ َﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟِ ٍ‬
‫ﺻﺎ ِر ًﺧﺎ أَو َﰱ َﻋﻠَﻰ ﺟﺒ ِﻞ ﺳ ْﻠ ٍﻊ ﻳـ ُﻘ ُ ِ‬
‫ت‬
‫ﻚ أَﺑْ ِﺸ ْﺮ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻓَ َﺨَﺮْر ُ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ﻮل ﺑﺄ ْ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ‬
‫ََ َ َ‬
‫ﺳِ‬
‫ﺎﺟ ًﺪا وﻋﺮﻓْﺖ أَ ْن ﻗَ ْﺪ ﺟﺎء ﻓَـﺮج وآ َذ َن رﺳ ُ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﺑِﺘَـ ْﻮﺑَِﺔ اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺗَـﺒَ َﺎرَك‬
‫َ ََ ُ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫َ َ ٌَ َ َ ُ‬
‫َ‬
‫وﺗَـﻌ َﺎﱃ ﻋﻠَﻴـﻨَﺎ ِﺣﲔ ﺻﻠﱠﻰ ﺻ َﻼ َة اﻟْ َﻔﺠ ِﺮ ﻓَ َﺬﻫﺐ اﻟﻨﱠﺎس ﻳـﺒﺸﱢﺮوﻧـَﻨَﺎ و َذﻫﺐ ﻗِﺒﻞ ِ‬
‫ﱯ ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮو َن‬
‫ﺻﺎﺣ َﱠ‬
‫َ َ َْ‬
‫ْ َ َ ُ َُ ُ َ َ َ َ َ َ‬
‫َ َ َ‬
‫ِ‬
‫ع ِﻣ ْﻦ اﻟْ َﻔَﺮ ِس‬
‫َﺳﻠَ َﻢ َوأ َْو َﰱ ْ‬
‫اﳉَﺒَ َﻞ ﻓَ َﻜﺎ َن اﻟ ﱠ‬
‫ﺾ إِ َﱠ‬
‫َﺳَﺮ َ‬
‫ﺼ ْﻮ ُ‬
‫تأْ‬
‫ﱄ َر ُﺟ ٌﻞ ﻓَـَﺮ ًﺳﺎ َو َﺳ َﻌﻰ َﺳ ٍﺎع ﻣ ْﻦ أ ْ‬
‫َوَرَﻛ َ‬
58
ِ ِ
‫ﰊ ﻓَ َﻜ َﺴ ْﻮﺗـُ ُﻬ َﻤﺎ إِﻳﱠﺎﻩُ ﺑِﺒِ َﺸ َﺎرﺗِِﻪ َواﻟﻠﱠ ِﻪ َﻣﺎ‬
‫ﺖ ﻟَﻪُ ﺛـَ ْﻮَﱠ‬
ُ ‫ﺻ ْﻮﺗَﻪُ ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮِﱐ ﻧـََﺰ ْﻋ‬
ُ ‫ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َﺟﺎءَِﱐ اﻟﱠﺬي َﲰ ْﻌ‬
َ ‫ﺖ‬
ٍِ
ِ
ِ َ ‫ﲔ ﻓَـﻠَﺒِﺴﺘُـﻬﻤﺎ ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَ ْﻘﺖ أَﺗَﺄَﱠﻣﻢ رﺳ‬
ِ ْ َ‫ت ﺛـَﻮﺑـ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ‬
ُ ‫أ َْﻣﻠ‬
ْ َ‫ﻚ َﻏْﻴـَﺮُﳘَﺎ ﻳـَ ْﻮَﻣﺌﺬ ﻓ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َُ ُ ُ
ْ ُ ‫ﺎﺳﺘَـ َﻌ ْﺮ‬
َُ ْ
ِ
ِ
‫ﱠ‬
‫ﺖ‬
َ ‫ﻚ ﺗَـ ْﻮﺑَﺔُ اﻟﻠﱠ ِﻪ َﻋﻠَْﻴ‬
َ ِ‫ﱠﺎس ﻓَـ ْﻮ ًﺟﺎ ﻓَـ ْﻮ ًﺟﺎ ﻳـُ َﻬﻨﱢﺌُ ِﻮﱐ ﺑِﺎﻟﺘـ ْﱠﻮﺑَِﺔ ﻳـَ ُﻘﻮﻟُﻮ َن ﻟﻴَـ ْﻬﻨ‬
ُ ‫ﻚ َﺣ ﱠﱴ َد َﺧ ْﻠ‬
ُ ‫َو َﺳﻠ َﻢ ﻳـَْﻠ َﻘﺎﱐ اﻟﻨ‬
ِِ
ِ ُ ‫اﻟْﻤﺴ ِﺠ َﺪ ﻓَِﺈذَا رﺳ‬
ِ ِ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ و َﺳﻠﱠﻢ َﺟﺎﻟ‬
‫ﱄ‬
‫ﱠﺎس ﻓَـ َﻘ َﺎم إِ َﱠ‬
َ ‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ‬
َُ
َْ
ُ ‫ﺲ ﰲ اﻟْ َﻤ ْﺴﺠﺪ َﺣ ْﻮﻟَﻪُ اﻟﻨ‬
َ َ
ٌ
ِ
ِ
ِ ِ
‫ﺻﺎﻓَ َﺤ ِﲏ َوَﻫﻨﱠﺄَِﱐ َواﻟﻠﱠ ِﻪ َﻣﺎ ﻗَ َﺎم إِ َﱠ‬
ُ‫ﻳﻦ َﻏْﻴـَﺮﻩ‬
َ ‫ﻃَْﻠ َﺤﺔُ ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴﺪ اﻟﻠﱠﻪ ﻳـُ َﻬ ْﺮِو ُل َﺣ ﱠﱴ‬
َ ‫ﱄ َر ُﺟ ٌﻞ ﻣ ْﻦ اﻟْ ُﻤ َﻬﺎﺟ ِﺮ‬
‫ إﱁ‬.....َ‫ﺎﻫﺎ ﻟِﻄَْﻠ َﺤﺔ‬
َ َ‫ﻗ‬
َ ‫ﺐ َﻻ ﻳـَْﻨ َﺴ‬
ٌ ‫ﺎل ﻓَ َﻜﺎ َن َﻛ ْﻌ‬
Asbabul wurud hadis: Sebab munculnya hadis ini adalah ketika sahabat
Ka’ab bin Mâlik tidak ikut dalam perang Tâbuk, maka ia kena sangsi yaitu
dikucilkan selama 50 malam, maka tatkala taubatnya diterima Ka’ab pun
menghampiri Nabi Muhammad saw, ketika ka’ab hendak masuk masjid untuk
menghampiri Nabi salah seorang sahabat yang bernama Talhah bin ‘Ubaidillah
berdiri seraya menghampiri dan mengucapkan selamat atas taubatnya yang telah
diterima.
Uraian hadis: Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhârî, Muslim, Abû
Dâud, dan Ahmad bin Hanbal. Ka’ab bin Malik berkata:
‫ “ ﺩﺧﻠﺖ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ‬Saya
masuk kedalam masjid, dan Rasulullah saw telah berada didalam masjid. ‫ﻓﻘﺎﻡ ﺇﻟ ّﻲ‬
105
‫ ﻳﻬﺮﻭﻝ ﻁﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﱠ‬106 Lalu Thalhah bin ‘Ubaidillâh berdiri bergegas menuju
‫ﷲ‬
F
kepadaku, ‫ ﺣﺘّﻰ ﺻﺎﻓﺤﻨﻲ ﻭ ﻫﻨّﺎﻧﻲ‬hingga menjabat tanganku dan mengucapkan selamat
kepadaku. 107
106F
Kualitas hadis: penulis berpendapat bahwa hadis ini sahih karena terdapat
pada kitab Sahîhain.
Hadis Kedua:
106
‘Ubaidillâh bin Talhah adalah salah satu “al-‘Asroh al-Mubâsyaroh (sepuluh sahabat
yang telah dijamin masuk surga).
107
Badruddîn al-‘Ainî, ‘Umdatul Qôri Syarh Sahîh Al-Bukhârî (Darr al-Fikr-2002) ,Juz.
12, hal. 379-380, Lihat juga al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bud, juz. 7, hal. 364.
59
‫ ﻋﻦ أﰊ أﻣﺎﻣﺔ‬، ‫ ﻋﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ إﺑﺮاﻫﻴﻢ‬، ‫ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺷﻌﺒﺔ‬: ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﳏﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺮﻋﺮة ﻗﺎل‬
، ‫ أن ﻧﺎﺳﺎ ﻧﺰﻟﻮا ﻋﻠﻰ ﺣﻜﻢ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺎذ‬، ‫ ﻋﻦ أﰊ ﺳﻌﻴﺪ اﳋﺪري‬، ‫ﺑﻦ ﺳﻬﻞ ﺑﻦ ﺣﻨﻴﻒ‬
‫ ﻓﻠﻤﺎ ﺑﻠﻎ ﻗﺮﻳﺒﺎ ﻣﻦ اﳌﺴﺠﺪ ﻗﺎل اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‬، ‫ ﻓﺠﺎء ﻋﻠﻰ ﲪﺎر‬، ‫ﻓﺄرﺳﻞ إﻟﻴﻪ‬
، « ‫ » ﻳﺎ ﺳﻌﺪ إن ﻫﺆﻻء ﻧﺰﻟﻮا ﻋﻠﻰ ﺣﻜﻤﻚ‬: ‫ ﻓﻘﺎل‬، « ‫ أو ﺳﻴﺪﻛﻢ‬، ‫ » اﺋﺘﻮا ﺧﲑﻛﻢ‬:
‫ ﻓﻘﺎل اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ‬، ‫ وﺗﺴﱮ ذرﻳﺘﻬﻢ‬، ‫ أﺣﻜﻢ ﻓﻴﻬﻢ أن ﺗﻘﺘﻞ ﻣﻘﺎﺗﻠﺘﻬﻢ‬: ‫ﻓﻘﺎل ﺳﻌﺪ‬
« ‫ » ﺣﻜﻤﺖ ﲝﻜﻢ اﳌﻠﻚ‬: ‫ أو ﻗﺎل‬، « ‫ » ﺣﻜﻤﺖ ﲝﻜﻢ اﷲ‬: ‫وﺳﻠﻢ‬
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin 'Ar'arah(ia berkata):
telah bercerita kepada kami Syu'bah, dari Sa'ad bin Ibrahim, dari Abû
Umâmah bin Sahal bin Hunaif dari Abû Sa'îd Al-Khudriy ra, bahwa
orang-orang (Bani Quraizhah) setuju dengan ketetapan hukum yang akan
diputuskan oleh Sa'ad bin Mu'adz. Maka beliau mengutus orang untuk
memanggilnya, dia pun datang dengan menunggang keledai. Ketika sudah
dekat dengan masjid, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata:
"Sambutlah kalian untuk orang terbaik kalian dan pemimpin kalian". Lalu
beliau melanjutkan: "Wahai Sa'ad, mereka telah setuju dengan keputusan
yang akan kamu buat". Sa'ad berkata; "Akan kuputuskan mereka bahwa
agar para tentara perang mereka harus dibunuh dan anak-anak mereka
dijadikan tawanan". Maka Beliau saw berkata: "Sungguh kamu telah
memutuskan hukum mereka dengan hukum Allah (Raja diraja) ".
Hadis di atas berasal dari kitab al-Adab al-Mufrad. 108 Sedangkan penulis
107F
mendapatkan hadis lain dalam kitab Mu’jam al-Mufahros dengan kata kunci ‫ﻧﺰل‬
j.6, h.414, dan ‫ ﺧﻴﺮ‬j.2 , h.98 penulis mendapatkan hadis ditempat sebagai berikut:
Al-Bukhârî, Sahîh Al-Bukhârî, j.2, hal.313, Kitâb Manâqib Bâb Manâqib
Sa’d bin Mu’adz
ِ ِ ِ
‫ﻴﻢ َﻋ ْﻦ أَِﰊ أ َُﻣ َﺎﻣﺔَ ﺑْ ِﻦ َﺳ ْﻬ ِﻞ‬
َ ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ َﻋ ْﺮ َﻋَﺮَة َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ َﻋ ْﻦ َﺳ ْﻌﺪ ﺑْ ِﻦ إﺑْـَﺮاﻫ‬
ٍ ِ‫ﻒ ﻋﻦ أَِﰊ ﺳﻌ‬
ِ ‫اﳋُ ْﺪ ِر ﱢ‬
ٍ
‫ﺎﺳﺎ ﻧـََﺰﻟُﻮا َﻋﻠَﻰ ُﺣ ْﻜ ِﻢ َﺳ ْﻌ ِﺪ ﺑْ ِﻦ ُﻣ َﻌ ٍﺎذ‬
ْ ‫ﻴﺪ‬
ً َ‫أَ ﱠن أُﻧ‬:ُ‫ي َرﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨﻪ‬
َ ْ َ ‫ﺑْ ِﻦ ُﺣﻨَـْﻴ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
َ َ‫ﻓَﺄ َْر َﺳ َﻞ إِﻟَْﻴ ِﻪ ﻓَ َﺠﺎءَ َﻋﻠَﻰ ِﲪَﺎ ٍر ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ ﺑـَﻠَ َﻎ ﻗَ ِﺮﻳﺒًﺎ ِﻣ ْﻦ اﻟْ َﻤ ْﺴ ِﺠ ِﺪ ﻗ‬
‫ﺎل اﻟﻨِ ﱡ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
ِ
ِ ‫ﺎل ﻳﺎ ﺳﻌ ُﺪ إِ ﱠن ﻫﺆَﻻ ِء ﻧـَﺰﻟُﻮا ﻋﻠَﻰ ﺣﻜ‬
‫َﺣ ُﻜ ُﻢ‬
َ َ‫ﻚ ﻗ‬
َ ‫ْﻤ‬
ْ َ َ َ ‫ﻮﻣﻮا إِ َﱃ َﺧ ِْﲑُﻛ ْﻢ أ َْو َﺳﻴﱢﺪ ُﻛ ْﻢ ﻓَـ َﻘ‬
ْ ‫ﺎل ﻓَِﺈ ﱢﱐ أ‬
ُ َ َ َُ
ُ ُ‫ﻗ‬
ِ
ِ
ِ ِ‫ﺎل ﺣ َﻜﻤﺖ ِﲝ ْﻜ ِﻢ اﻟﻠﱠ ِﻪ أَو ِﲝ ْﻜ ِﻢ اﻟْﻤﻠ‬
‫ﻚ‬
ُ ْ
ُ َ ْ َ َ َ‫ﻓﻴ ِﻬ ْﻢ أَ ْن ﺗـُ ْﻘﺘَ َﻞ ُﻣ َﻘﺎﺗﻠَﺘُـ ُﻬ ْﻢ َوﺗُ ْﺴ َﱮ َذ َرا ِرﻳـﱡ ُﻬ ْﻢ ﻗ‬
َ
108
Al-Bukhârî, al-Adab al-Mufrad,(Darr al-Kutub al-Islami) j.1, h,222. Bâb Qiyâmu arJulu li Akhîhi.
‫‪60‬‬
‫‪Muslim, Sahîh Muslim, j.5, hal.160, Kitâb al-Jihâd wa al-Sair Bâb Jawâzu‬‬
‫‪Qitâli min Ahli al-‘Ahdi..‬‬
‫ﺎل‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ أَﺑُﻮ ﺑَ ْﻜ ِﺮ ﺑْ ُﻦ أَِﰊ َﺷْﻴﺒَﺔَ َوُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ اﻟْ ُﻤﺜَـ ﱠﲎ َواﺑْ ُﻦ ﺑَﺸﱠﺎ ٍر َوأَﻟْ َﻔﺎﻇُ ُﻬ ْﻢ ُﻣﺘَـ َﻘﺎ ِرﺑَﺔٌ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ْاﻵ َﺧَﺮ ِان َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ َﺟ ْﻌ َﻔ ٍﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ َﻋ ْﻦ‬
‫أَﺑُﻮ ﺑَ ْﻜ ٍﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻏُْﻨ َﺪٌر َﻋ ْﻦ ُﺷ ْﻌﺒَﺔَ و ﻗَ َ‬
‫ﺎل َِﲰﻌﺖ أَﺑﺎ ﺳﻌِ ٍ‬
‫ﺳﻌ ِﺪ ﺑ ِﻦ إِﺑـﺮ ِاﻫﻴﻢ ﻗَ َ ِ‬
‫ٍ‬
‫ي‬
‫ﻴﺪ ْ‬
‫اﳋُ ْﺪ ِر ﱠ‬
‫ﺎل َﲰ ْﻌ ُ‬
‫ﺖ أَﺑَﺎ أ َُﻣ َﺎﻣﺔَ ﺑْ َﻦ َﺳ ْﻬ ِﻞ ﺑْ ِﻦ ُﺣﻨَـْﻴﻒ ﻗَ َ ْ ُ َ َ‬
‫َ ْ ْ َْ َ‬
‫ِ‬
‫ٍ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ إِ َﱃ‬
‫ﺎل‪:‬ﻧـََﺰَل أ َْﻫ ُﻞ ﻗـَُﺮﻳْﻈَﺔَ َﻋﻠَﻰ ُﺣ ْﻜ ِﻢ َﺳ ْﻌﺪ ﺑْ ِﻦ ُﻣ َﻌﺎذ ﻓَﺄ َْر َﺳ َﻞ َر ُﺳ ُ‬
‫ﻗَ َ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ِ‬
‫ِِ‬
‫ٍ‬
‫ﺎل رﺳ ُ ِ‬
‫ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫َﺳ ْﻌﺪ ﻓَﺄَﺗَﺎﻩُ َﻋﻠَﻰ ﲪَﺎ ٍر ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َدﻧَﺎ ﻗَ ِﺮﻳﺒًﺎ ﻣ ْﻦ اﻟْ َﻤ ْﺴﺠﺪ ﻗَ َ َ ُ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺎل إِ ﱠن ﻫﺆَﻻ ِء ﻧـَﺰﻟُﻮا ﻋﻠَﻰ ﺣﻜ ِ‬
‫ﺼﺎ ِر ﻗُ ِ‬
‫ﺎل ﺗَـ ْﻘﺘُ ُﻞ‬
‫ﻚ ﻗَ َ‬
‫ْﻤ َ‬
‫ﻮﻣﻮا إ َﱃ َﺳﻴﱢﺪ ُﻛ ْﻢ أ َْو َﺧ ِْﲑُﻛ ْﻢ ﰒُﱠ ﻗَ َ َ ُ َ َ ُ‬
‫ﻟ ْﻸَﻧْ َ ُ‬
‫ِ‬
‫ﺎل‬
‫ﺖ ِﲝُ ْﻜ ِﻢ اﻟﻠﱠ ِﻪ َوُرﱠﲟَﺎ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ُﻣ َﻘﺎﺗِﻠَﺘَـ ُﻬ ْﻢ َوﺗَ ْﺴِﱯ ذُﱢرﻳـﱠﺘَـ ُﻬ ْﻢ ﻗَ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗَ َ‬
‫ﺎل اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﻀْﻴ َ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ﻀﻴﺖ ِﲝ ْﻜ ِﻢ اﻟْﻤﻠِ ِ‬
‫ﻀﻴﺖ ِﲝ ْﻜ ِﻢ اﻟْﻤﻠِ ِ‬
‫ﻚ‬
‫ﻚ َوَﱂْ ﻳَ ْﺬ ُﻛ ْﺮ اﺑْ ُﻦ اﻟْ ُﻤﺜَـ ﱠﲎ َوُرﱠﲟَﺎ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻗَ َ ْ َ ُ‬
‫ﻗَ َ ْ َ ُ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫‪Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud, j.4, hal.355, Kitâb al-Adab Bâb mâ Jâa fi‬‬
‫‪al-Qiyâm.‬‬
‫ِ ِ ِ‬
‫ﻴﻢ َﻋ ْﻦ أَِﰊ أ َُﻣ َﺎﻣﺔَ ﺑْ ِﻦ َﺳ ْﻬ ِﻞ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ َﺣ ْﻔ ُ‬
‫ﺺ ﺑْ ُﻦ ﻋُ َﻤَﺮ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷ ْﻌﺒَﺔُ َﻋ ْﻦ َﺳ ْﻌﺪ ﺑْ ِﻦ إﺑْـَﺮاﻫ َ‬
‫ٍ‬
‫ﻒ ﻋﻦ أَِﰊ ﺳﻌِ ٍ‬
‫ِ‬
‫ٍ‬
‫ﱠﱯ‬
‫ﻴﺪ ْ‬
‫اﳋُ ْﺪ ِر ﱢ‬
‫ي‪:‬أَ ﱠن أ َْﻫ َﻞ ﻗُـَﺮﻳْﻈَﺔَ ﻟَ ﱠﻤﺎ ﻧـََﺰﻟُﻮا َﻋﻠَﻰ ُﺣ ْﻜ ِﻢ َﺳ ْﻌﺪ أ َْر َﺳ َﻞ إِﻟَْﻴﻪ اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﺑْ ِﻦ ُﺣﻨَـْﻴ َ ْ َ‬
‫ِ‬
‫ﻮﻣﻮا إِ َﱃ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻓَ َﺠﺎءَ َﻋﻠَﻰ ِﲪَﺎ ٍر أَﻗْ َﻤَﺮ ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ﺎل اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗُ ُ‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫َﺳﻴﱢﺪ ُﻛ ْﻢ أ َْو إِ َﱃ َﺧ ِْﲑُﻛ ْﻢ ﻓَ َﺠﺎءَ َﺣ ﱠﱴ ﻗَـ َﻌ َﺪ إِ َﱃ َر ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫‪Ahmad bin Hanbal, al-Musnad Bisyarhi Ahmad Zein, j.10, hal.72-73,‬‬
‫‪Kitâb Bâqî Musnad al-Mukatstsirîn min as-Sahabah Bâb Musnad Abi Sa’îd al‬‬‫‪Khudriyi dengan lafaz:‬‬
‫ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏ ﱠﻤ ٌﺪ ﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﺷﻌﺒﺔُ ﻋﻦ ﺳﻌ ِﺪ ﺑ ِﻦ إِﺑـﺮ ِاﻫﻴﻢ ﻋﻦ أَِﰊ أُﻣﺎﻣﺔَ ﺑ ِﻦ ﺳﻬ ٍﻞ ﻗَ َ ِ‬
‫ﺖ‬
‫ﺎل َﲰ ْﻌ ُ‬
‫َْ َ ْ َ ْ ْ َْ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ‬
‫َ َ‬
‫َ‬
‫أَﺑﺎ ﺳﻌِ ٍ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ‬
‫ﻴﺪ ْ‬
‫ﺎل ﻓَﺄ َْر َﺳ َﻞ َر ُﺳ ُ‬
‫ﺎل‪:‬ﻧـََﺰَل أ َْﻫ ُﻞ ﻗـَُﺮﻳْﻈَﺔَ َﻋﻠَﻰ ُﺣ ْﻜ ِﻢ َﺳ ْﻌ ِﺪ ﺑْ ِﻦ ُﻣ َﻌ ٍﺎذ ﻗَ َ‬
‫ى ﻗَ َ‬
‫اﳋُ ْﺪ ِر ﱠ‬
‫َ َ‬
‫ِ‬
‫ﻮل‬
‫ﺎل َر ُﺳ ُ‬
‫ﺎل ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َدﻧَﺎ ﻗَ ِﺮﻳﺒًﺎ ِﻣ ْﻦ اﻟْ َﻤ ْﺴ ِﺠ ِﺪ ﻗَ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ إِ َﱃ َﺳ ْﻌ ٍﺪ ﻓَﺄَﺗَﺎﻩُ َﻋﻠَﻰ ﲪَﺎ ٍر ﻗَ َ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺎل إِ ﱠن ﻫﺆَﻻ ِء ﻧـَﺰﻟُﻮا ﻋﻠَﻰ ﺣﻜ ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ ﻗُ ِ‬
‫ﻚ‬
‫ْﻤ َ‬
‫اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ﻮﻣﻮا إ َﱃ َﺳﻴﱢﺪ ُﻛ ْﻢ أ َْو َﺧ ِْﲑُﻛ ْﻢ ﰒُﱠ ﻗَ َ َ ُ َ َ ُ‬
‫ََ َ ُ‬
‫ِ‬
‫ﺖ ِﲝُ ْﻜ ِﻢ‬
‫ﺎل ﻓَـ َﻘ َ‬
‫ﺎل ﺗـُ ْﻘﺘَ ُﻞ ُﻣ َﻘﺎﺗِﻠَﺘُـ ُﻬ ْﻢ َوﺗُ ْﺴ َﱮ ذَ َرا ِرﻳـﱡ ُﻬ ْﻢ ﻗَ َ‬
‫ﻗَ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻟََﻘ ْﺪ ﻗَ َ‬
‫ﺎل اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﻀْﻴ َ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ﻀﻴﺖ ِﲝ ْﻜ ِﻢ اﻟْﻤﻠِ ِ‬
‫ﻚ‬
‫اﻟﻠﱠ ِﻪ َوُرﱠﲟَﺎ ﻗَ َ‬
‫ﺎل ﻗَ َ ْ َ ُ‬
‫َ‬
61
Asbabul wurud hadis: Latar belakang hadis di atas adalah sehubungan
dengan Sa'ad R.a , pemimpin para shahabat Anshar yang terluka.Dalam kondisi
seperti itu , Rasulullah saw memintanya agar ia memberi putusan hukum dalam
perkara orang Yahudi. Maka Sa'ad pun mengendarai himâr (keledai). Ketika
sampai ditujuan , Rasulullah saw berkata kepada orang-orang Anshar :"Berdirilah
kepada pemimpin kalian dan turunkanlah."
Uraian hadis: Hadis keenam, hadis ini diriwayatkan oelh Bukhârî,
Muslim, Abû Dâud, dan Ahmad bin Hanbal. ‫ ﻗﺮﻳﺒﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ‬maka tatkala Sa’ad bin
Mu’adz telah dekat dengan masjid, Rasulullah pun bersabda: “ ‫" ﻗﻮﻣﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺳﻴّﺪﻛﻢ ﺃﻭ‬
‫ ﺧﻴﺮﻛﻢ‬berdirilah dan sambut tuanmu atau orang terbaik diantara kamu sekalian,
khitob ‫ﺧﻴﺮﻛﻢ‬
‫ ﺇﻟﻰ ﺳﻴّﺪﻛﻢ‬bisa menjadi dua alasan kenapa menggunakan kalimat
sayyidikum au khoirikum, 1. Karena Sa’ad bin Mu’adz adalah tuannya kaum
Ansôr, 2. Karena pada saat kejadian tersebut tidak ada orang terbaik selain Sa’ad
bin Mu’adz sampai nabi memuji Sa’ad
‫" ﻟﻘﺪ ﺣﻜﻤﺖ ﺑﻤﺎ ﺟﻜﻢ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺎﻟﻚ‬Sungguh kamu
telah memutuskan hukum mereka dengan hukum Allah (Raja diraja) ". 109
108F
Kualitas hadis: penulis berpendapat bahwa hadis ini sahih karena terdapat
pada kitab Sahîhain, disamping itu al-Bâni hadis di atas sahih (Dalam kitab
Muhammad Nâsirudin Al-Bâni, Silsilah al-Ahâdits al-Sahîhah: wa Syaiun min
Fiqhiha wa Fawâidiha (Riyad: Maktabah al-Ma’arif,1987). Hadis no. 67.
Hadis Ketujuh:
‫ أﺧﱪﻧﺎ‬: ‫ ﺣﺪﺛﻨﺎ إﺳﺮاﺋﻴﻞ ﻗﺎل‬: ‫ أﺧﱪﻧﺎ اﻟﻨﻀﺮ ﻗﺎل‬: ‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﳏﻤﺪ ﺑﻦ اﳊﻜﻢ ﻗﺎل‬
‫ ﻋﻦ‬، ‫ ﺣﺪﺛﺘﲏ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺑﻨﺖ ﻃﻠﺤﺔ‬: ‫ أﺧﱪﱐ اﳌﻨﻬﺎل ﺑﻦ ﻋﻤﺮو ﻗﺎل‬: ‫ﻣﻴﺴﺮة ﺑﻦ ﺣﺒﻴﺐ ﻗﺎل‬
‫ ﻣﺎ رأﻳﺖ أﺣﺪا ﻣﻦ اﻟﻨﺎس ﻛﺎن أﺷﺒﻪ ﺑﺎﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ‬: ‫ﻋﺎﺋﺸﺔ أم اﳌﺆﻣﻨﲔ رﺿﻲ اﷲ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ‬
‫ وﻛﺎن اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ‬: ‫ ﻗﺎﻟﺖ‬، ‫اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻛﻼﻣﺎ وﻻ ﺣﺪﻳﺜﺎ وﻻ ﺟﻠﺴﺔ ﻣﻦ ﻓﺎﻃﻤﺔ‬
109
Badruddîn al-‘Ainî, ‘Umdatul Qôri Syarh Sahîh Bukhôrî (Darr al-Fikr-2002) ,Juz. 11,
h. 516, Lihat juga al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bud, juz. 14, h. 99-100
‫‪62‬‬
‫ﻠﻢ إذا رآﻫﺎ ﻗﺪ أﻗﺒﻠﺖ رﺣﺐ ﻬﺑﺎ ‪ ،‬ﰒ ﻗﺎم إﻟﻴﻬﺎ ﻓﻘﺒﻠﻬﺎ ‪ ،‬ﰒ أﺧﺬ ﺑﻴﺪﻫﺎ ﻓﺠﺎء ﻬﺑﺎ ﺣﱴ‬
‫ﳚﻠﺴﻬﺎ ﰲ ﻣﻜﺎﻧﻪ ‪ ،‬وﻛﺎﻧﺖ إذا أﺗﺎﻫﺎ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ رﺣﺒﺖ ﺑﻪ ‪ ،‬ﰒ ﻗﺎﻣﺖ إﻟﻴﻪ‬
‫ﻓﻘﺒﻠﺘﻪ ‪ ،‬وأ�ﺎ دﺧﻠﺖ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﰲ ﻣﺮﺿﻪ اﻟﺬي ﻗﺒﺾ ﻓﻴﻪ ‪ ،‬ﻓﺮﺣﺐ‬
‫وﻗﺒﻠﻬﺎ ‪ ،‬وأﺳﺮ إﻟﻴﻬﺎ ‪ ،‬ﻓﺒﻜﺖ ‪ ،‬ﰒ أﺳﺮ إﻟﻴﻬﺎ ‪ ،‬ﻓﻀﺤﻜﺖ ‪ ،‬ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻠﻨﺴﺎء ‪ :‬إن ﻛﻨﺖ‬
‫ﻷرى أن ﳍﺬﻩ اﳌﺮأة ﻓﻀﻼ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺴﺎء ‪ ،‬ﻓﺈذا ﻫﻲ ﻣﻦ اﻟﻨﺴﺎء ‪ ،‬ﺑﻴﻨﻤﺎ ﻫﻲ ﺗﺒﻜﻲ إذا ﻫﻲ‬
‫ﺗﻀﺤﻚ ‪ ،‬ﻓﺴﺄﻟﺘﻬﺎ ‪ :‬ﻣﺎ ﻗﺎل ﻟﻚ ؟ ﻗﺎﻟﺖ ‪ :‬إﱐ إذا ﻟﺒﺬرة ‪ ،‬ﻓﻠﻤﺎ ﻗﺒﺾ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ‬
‫وﺳﻠﻢ ‪ ،‬ﻓﻘﺎﻟﺖ ‪ :‬أﺳﺮ إﱄ ﻓﻘﺎل ‪ » :‬إﱐ ﻣﻴﺖ « ‪ ،‬ﻓﺒﻜﻴﺖ ‪ ،‬ﰒ أﺳﺮ إﱄ ﻓﻘﺎل ‪ » :‬إﻧﻚ‬
‫أول أﻫﻠﻲ ﰊ ﳊﻮﻗﺎ « ‪ ،‬ﻓﺴﺮرت ﺑﺬﻟﻚ وأﻋﺠﺒﲏ‬
‫‪Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud, j.4, hal.355, Kitâb al-Adab Bâb Ma Jâa fi‬‬
‫‪al-Qiyâm:‬‬
‫ِ‬
‫ِ ِ‬
‫ﻴﻞ َﻋ ْﻦ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ْ‬
‫اﳊَ َﺴ ُﻦ ﺑْ ُﻦ َﻋﻠ ﱟﻲ َواﺑْ ُﻦ ﺑَﺸﱠﺎ ٍر ﻗَ َﺎﻻ َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻋُﺜْ َﻤﺎ ُن ﺑْ ُﻦ ﻋُ َﻤَﺮ أ ْ‬
‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ إ ْﺳَﺮاﺋ ُ‬
‫ِِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫َﻣْﻴﺴﺮةَ ﺑْ ِﻦ َﺣﺒِ ٍ‬
‫ﲔ َﻋﺎﺋِ َﺸﺔَ‬
‫ﻴﺐ َﻋ ْﻦ اﻟْﻤْﻨـ َﻬ ِﺎل ﺑْ ِﻦ َﻋ ْﻤ ٍﺮو َﻋ ْﻦ َﻋﺎﺋ َﺸﺔَ ﺑِْﻨﺖ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ َﻋ ْﻦ أُﱢم اﻟْ ُﻤ ْﺆﻣﻨ َ‬
‫ََ‬
‫ِ‬
‫ّ‬
‫اﳊَ َﺴ ُﻦ َﺣ ِﺪﻳﺜًﺎ‬
‫ﺖ‪َ:‬ﺎ رَأَﻳْﺖُ أَﺣَﺪًا ﻛَﺎنَ أَﺷْﺒَﻪَ ﲰَْﺘًﺎ وَﻫَ‬
‫ﺎل ْ‬
‫ﺪْﻳًﺎ وَدَﻻً َوﻗَ َ‬
‫َرﺿ َﻲ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋْﻨـ َﻬﺎ أَﻧـ َﱠﻬﺎ ﻗَﺎﻟَ ْ‬
‫ﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ ِﻣﻦ ﻓَ ِ‬
‫ﱠل ﺑِﺮﺳ ِ‬
‫َوَﻛ َﻼ ًﻣﺎ َوَﱂْ ﻳَ ْﺬ ُﻛ ْﺮ ْ‬
‫ﺎﻃ َﻤﺔَ‬
‫اﳊَ َﺴ ُﻦ اﻟ ﱠﺴ ْﻤ َ‬
‫َ‬
‫ُ َْ ََ َ ْ‬
‫ي َواﻟﺪ ﱠ َ ُ‬
‫ﺖ َوا ْﳍَْﺪ َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫َﺟﻠَ َﺴ َﻬﺎ ِﰲ َْﳎﻠِ ِﺴ ِﻪ‬
‫ﺖ إِذَا َد َﺧﻠَ ْ‬
‫َﻛﱠﺮَم اﻟﻠﱠﻪُ َو ْﺟ َﻬ َﻬﺎ َﻛﺎﻧَ ْ‬
‫َﺧ َﺬ ﺑِﻴَﺪ َﻫﺎ َوﻗَـﺒﱠـﻠَ َﻬﺎ َوأ ْ‬
‫ﺖ َﻋﻠَْﻴﻪ ﻗَ َﺎم إِﻟَْﻴـ َﻬﺎ ﻓَﺄ َ‬
‫وَﻛﺎ َن إِذَا دﺧﻞ ﻋﻠَﻴـﻬﺎ ﻗَﺎﻣﺖ إِﻟَﻴ ِﻪ ﻓَﺄَﺧ َﺬ ِ ِ‬
‫َﺟﻠَ َﺴْﺘﻪُ ِﰲ َْﳎﻠِ ِﺴ َﻬﺎ‬
‫َ َ َ َ َْ َ ْ ْ َ ْ‬
‫ت ﺑِﻴَﺪﻩ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَْﺘﻪُ َوأ ْ‬
‫َ‬
‫‪At-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî, j.5, hal.561‬‬‫‪562, Kitâb al-Manâqib Bab Mâ Jâa fi Fadli Fâtimah.‬‬
‫ِ ِ‬
‫ﻴﻞ َﻋ ْﻦ َﻣْﻴ َﺴَﺮةَ ﺑْ ِﻦ‬
‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ ﺑَﺸﱠﺎ ٍر َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ﻋُﺜْ َﻤﺎ ُن ﺑْ ُﻦ ﻋُ َﻤَﺮ أ ْ‬
‫َﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ إ ْﺳَﺮاﺋ ُ‬
‫ِِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫َﺣﺒِ ٍ‬
‫‪:‬ﻣﺎ‬
‫ﲔ ﻗَﺎﻟَ ْ‬
‫ﻴﺐ َﻋ ْﻦ اﻟْﻤْﻨـ َﻬ ِﺎل ﺑْ ِﻦ َﻋ ْﻤ ٍﺮو َﻋ ْﻦ َﻋﺎﺋ َﺸﺔَ ﺑِْﻨﺖ ﻃَْﻠ َﺤﺔَ َﻋ ْﻦ َﻋﺎﺋ َﺸﺔَ أُﱢم اﻟْ ُﻤ ْﺆﻣﻨ َ‬
‫ﺖَ‬
‫ِ ِ ِ ِ ِ‬
‫ِ ِ ِ ِ ِ‬
‫ﺖ رﺳ ِ‬
‫َأَﻳْﺖُ أَﺣَﺪًا أَﺷْﺒَﻪَ ﲰَ ّ‬
‫ﻮل‬
‫ْﺘًﺎ وَدَﻻً َوَﻫ ْﺪﻳًﺎ ﺑَﺮ ُﺳﻮل اﻟﻠﱠﻪ ِﰲ ﻗﻴَﺎﻣ َﻬﺎ َوﻗُـﻌُﻮد َﻫﺎ ﻣ ْﻦ ﻓَﺎﻃ َﻤﺔَ ﺑْﻨ َ ُ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗَ َﺎم‬
‫ﺖ إِ َذا َد َﺧﻠَ ْ‬
‫ﺖ َوَﻛﺎﻧَ ْ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗَﺎﻟَ ْ‬
‫ﺖ َﻋﻠَﻰ اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫اﻟﻠﱠﻪ َ‬
‫ِ‬
‫ِِِ‬
‫ﺖ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ إِ َذا َد َﺧ َﻞ َﻋﻠَْﻴـ َﻬﺎ ﻗَ َﺎﻣ ْ‬
‫َﺟﻠَ َﺴ َﻬﺎ ِﰲ َْﳎﻠﺴﻪ َوَﻛﺎ َن اﻟﻨِ ﱡ‬
‫إِﻟَْﻴـ َﻬﺎ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَ َﻬﺎ َوأ ْ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ِ‬
‫ِِ‬
‫ِ ِِ‬
‫ﺖ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ َد َﺧﻠَ ْ‬
‫ض اﻟﻨِ ﱡ‬
‫َﺟﻠَ َﺴْﺘﻪُ ِﰲ َْﳎﻠﺴ َﻬﺎ ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َﻣ ِﺮ َ‬
‫ﻣ ْﻦ َْﳎﻠﺴ َﻬﺎ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَْﺘﻪُ َوأ ْ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺖ َرأْ َﺳ َﻬﺎ‬
‫ﺖ َﻋﻠَْﻴﻪ ﰒُﱠ َرﻓَـ َﻌ ْ‬
‫ﺖ ﰒُﱠ أَ َﻛﺒﱠ ْ‬
‫ﺖ َرأْ َﺳ َﻬﺎ ﻓَـﺒَ َﻜ ْ‬
‫ﺖ َﻋﻠَْﻴﻪ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَْﺘﻪُ ﰒُﱠ َرﻓَـ َﻌ ْ‬
‫ﻓَﺎﻃ َﻤﺔُ ﻓَﺄَ َﻛﺒﱠ ْ‬
‫ﻓَﻀ ِﺤ َﻜﺖ ﻓَـﻘ ْﻠﺖ إِ ْن ُﻛْﻨﺖ َﻷَﻇُ ﱡﻦ أَ ﱠن ﻫ ِﺬﻩِ ِﻣﻦ أَﻋﻘ ِﻞ ﻧِﺴﺎﺋِﻨﺎ ﻓَِﺈ َذا ِﻫﻲ ِﻣﻦ اﻟﻨ ِ‬
‫ﰲ‬
‫َ ْ َْ َ َ‬
‫ُ‬
‫َ ْ ُ ُ‬
‫ﱢﺴﺎء ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ ﺗـُ ُﻮ ﱢَ‬
‫َ ْ َ‬
‫ِ ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬
‫اﻟﻨِ ﱡ‬
‫ﲔ أَ ْﻛﺒَْﺒﺖ َﻋﻠَﻰ اﻟﻨِ ﱢ‬
‫ﺖ َﳍَﺎ أ ََرأَﻳْﺖ ﺣ َ‬
‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗُـ ْﻠ ُ‬
‫ﱠﱯ َ‬
‫ﱠﱯ َ‬
63
ِ
ِ ِ
ِ ِ َ‫ﻚ ﻓ‬
ِ
ِ
ِ
ِ َ‫ْﺖ ﻣﺎ َﲪَﻠ‬
ِ ‫ﺖ رأْﺳ‬
‫ﻚ‬
َ ‫ﻚ َﻋﻠَﻰ ذَﻟ‬
َ ِ ‫ﻚ ﻓَـﺒَ َﻜْﻴﺖ ﰒُﱠ أَ ْﻛﺒَْﺒﺖ َﻋﻠَْﻴﻪ ﻓَـَﺮﻓَـ ْﻌﺖ َرأْ َﺳ‬
َ ‫ﻀﺤﻜ‬
َ َ ‫ﻓَـَﺮﻓَـ ْﻌ‬
ِِ
ِ ‫ﻗَﺎﻟَﺖ إِ ﱢﱐ إِذًا ﻟَﺒ ِﺬرةٌ أَﺧﺒـﺮِﱐ أَﻧﱠﻪ ﻣﻴﱢ‬
‫َﺳَﺮعُ أ َْﻫﻠِ ِﻪ ُﳊُﻮﻗًﺎ‬
‫َﺧﺒَـَﺮِﱐ أ ﱢ‬
ٌ َ ُ ََ ْ َ َ
ْ
ْ ‫ﺖ ﰒُﱠ أ‬
ُ ‫ﺖ ﻣ ْﻦ َو َﺟﻌﻪ َﻫ َﺬا ﻓَـﺒَ َﻜْﻴ‬
ْ ‫َﱐ أ‬
ِ ‫ﺑِِﻪ ﻓَ َﺬ َاك ِﺣﲔ‬
‫ْﺖ‬
َ َ
ُ ‫ﺿﺤﻜ‬
ِ ْ ‫ﻳﺚ ﺣﺴﻦ َﻏ ِﺮﻳﺐ ِﻣﻦ ﻫ َﺬا اﻟْﻮﺟ ِﻪ وﻗَ ْﺪ رِوي ﻫ َﺬا‬
ِ
ِ َ َ‫ﻗ‬
‫ﻳﺚ‬
ُ ‫اﳊَﺪ‬
َ َ ُ َ ْ َ َ ْ ٌ ٌ َ َ ٌ ‫ﻴﺴﻰ َﻫ َﺬا َﺣﺪ‬
َ ‫ﺎل أَﺑُﻮ ﻋ‬
َ‫ِﻣ ْﻦ َﻏ ِْﲑ َو ْﺟ ٍﻪ َﻋ ْﻦ َﻋﺎﺋِ َﺸﺔ‬
Asbabul wurud hadis: latar belakang hadis ini adalah ketika Fatimah
berkunjung kerumah Rasulullah saw, maka Rasulullah pun berdiri untuk
menyambut putrinya tersebut. Hal ini pun terjadi ketika Rasulullah saw
berkunjung kerumah Fatimah, maka Fatimah pun akan berdiri untuk menyambut
Rasulullah saw. 110
109F
Uraian hadis: hadis ini diriwayatkan oleh Abû Dâud, dan Tirmidzi. Maka
apabila Fâtimah berkunjung Rasulullah saw, ‫ ﻗﺎﻡ ﺍﻟﻴﻬﺎ‬maka Rasulullah pun berdiri
untuk menyambut Fatimah, ‫ ﻓﻘﺒّﻠﻬﺎ‬dan Rasul pun mencium diantara mata dan
kepalanya. Dan Rasul pun ketika berkunjung kerumah Fatimah, maka Fatimah
pun akan berdiri untuk menyambut Rasulullah saw. 111
10F
Kualitas hadis: telah berkata Abû ‘Îsa bahwa hadis ini Hadîs Hasan
Gorîb.
2. Pendapat Ulama Tentang Berdiri Menyambut Seseorang
Berdiri itu sendiri ada tiga macam: Pertama berdiri terhadap seseorang
dalam keadaan orang itu duduk, seperti orang-orang ajam (non Arab). Kedua
berdiri untuk kedatangan atau kepergian seseorang, tanpa menyambut atau
menjabat tangannya, namun semata-mata untuk mengagungkannya. Ketiga berdiri
untuk orang yang datang untuk menjabat tangannya atau menuntunnya untuk
110
Abu Al-‘Ula, Tuhfatul Ahwazi, j,5, hal.373 (Darr al-Fikr)
Al-Jauziyyah, ‘Aun al-Ma’bud, juz. 14, hal. 102. dan Abu al-‘Ula Al-Mubarakfuri,
Tuhfatul Ahwazi, j.5, hal.375-374 (Darr al-Fikr)
111
64
menempatkannya pada tempat tertentu, atau mendudukkannya pada tempatnya,
atau yang serupa dengan itu. Berdiri yang seperti inilah yang saya teliti, berikut
pendapat ulama tentang hal ini:
Ibnu Hajar yang mengutip pendapat Ibn al-Qoyyim dengan mengatakan
berdiri itu ada tiga macam, yang dipermasalahkan adalah berdiri yang ketiga,
yaitu berdiri ketika melihat seseorang yang dianggap mulia:
‫ ﻗﻴﺎم ﻋﻠﻰ‬:‫ واﻟﻘﻴﺎم ﻳﻨﻘﺴﻢ إﱃ ﺛﻼث ﻣﺮاﺗﺐ‬:"‫ﻗﺎل اﺑﻦ اﻟﻘﻴﻢ ﰲ "ﺣﺎﺷﻴﺔ اﻟﺴﻨﻦ‬
‫ وﻗﻴﺎم ﻟﻪ ﻋﻨﺪ رؤﻳﺘﻪ وﻫﻮ‬،‫ وﻗﻴﺎم إﻟﻴﻪ ﻋﻨﺪ ﻗﺪوﻣﻪ وﻻ ﺑﺄس ﺑﻪ‬،‫رأس اﻟﺮﺟﻞ وﻫﻮ ﻓﻌﻞ اﳉﺒﺎﺑﺮة‬
112
‫اﳌﺘﻨﺎزع ﻓﻴﻪ‬
F1
“Ibnul-Qayyim berkata dalam Hâsyiyyah As-Sunan : Berdiri
terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, berdiri untuk seorang yang
sedang duduk, ini merupakan perbuatan orang-orang yang
sombong/dhalim. Kedua, berdiri untuk menyambut kedatangan seseorang,
ini tidak mengapa. Ketiga, berdiri ketika melihat seseorang, ini yang
diperselisihkan para ulama” .
Al-Mubarakfuriy
berpendapat
bahwa
tidak
semua
ulama
mempermasalahkan tentang berdiri ketika melihat seseorang ynag dianggap
mulia. Mazhab asy-Syâfi’î membolehkan hal tersebut, dengan anggapan bahwa
kaum salaf dan kholaf melakukan hal tersebut, namun Mazhab Mâliki melarang
akan hal tersebut :
‫ ﻓﺠﻮزﻩ ﺑﻌﻀﻬﻢ‬،‫اﻋﻠﻢ أﻧﻪ ﻗﺪ اﺧﺘﻠﻒ أﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﰲ ﻗﻴﺎم اﻟﺮﺟﻞ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻋﻨﺪ رؤﻳﺘﻪ‬
‫ وﻗﺎل اﻟﻨﻮوي‬،‫ وﻣﻨﻌﻪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻛﺎﻟﺸﻴﺦ أﰊ ﻋﺒﺪ اﷲ ﺑﻦ اﳊﺎج اﳌﺎﻟﻜﻲ وﻏﲑﻩ‬،‫ﻛﺎﻟﻨﻮوي وﻏﲑﻩ‬
‫ ﻓﺎﻟﺬي ﳔﺘﺎرﻩ أﻧﻪ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﳌﻦ ﻛﺎن ﻓﻴﻪ ﻓﻀﻴﻠﺔ‬،‫ وأﻣﺎ إﻛﺮام اﻟﺪاﺧﻞ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎم‬:‫ﰲ اﻷذﻛﺎر‬
‫ وﻳﻜﻮن ﻫﺬا اﻟﻘﻴﺎم ﻟﻠﱪ واﻹﻛﺮام‬،‫ﻇﺎﻫﺮة ﻣﻦ ﻋﻠﻢ أو ﺻﻼح أو ﺷﺮف أو وﻻﻳﺔ وﳓﻮ ذﻟﻚ‬
113
12F
. ...‫واﳋﻠﻒ‬
‫ وﻋﻠﻰ ﻫﺬا اﺳﺘﻤﺮ ﻋﻤﻞ اﻟﺴﻠﻒ‬.‫واﻻﺣﱰام ﻻ ﻟﻠﺮﻳﺎء واﻹﻋﻈﺎم‬
“Ketahuilah bahwasannya permasalahan ini telah diperselisihkan
para ulama, yaitu berdirinya seseorang saat melihat orang lain. Sebagian
112
Ibnu Hajar, Fathul Bâri, Kitab al-Isti,zân Bâb Qoulu an-Nabi Qûmû ila Sayyidikum,
Juz. 11, hal. 53. (Tahqîq: Syaibatil Hamd).
113
Al-Mubarakfuriy, Tuhfatul-Ahwadzi, juz. 8, hal.30-31, (Darr al-Fikr).
65
ada yang membolehkannya seperti An-Nawawiy dan yang lainnya. Dan
yang lain melarangnya seperti Asy-Syaikh Abu ‘Abdillah bin Al-Hajj AlMaalikiy dan yang lainnya. An-Nawawi berkata dalam Al-Adzkâr :
‘Adapun memuliakan orang yang datang dengan berdiri, pendapat yang
kami pilih bahwa hal itu disunnahkan pada orang yang mempunyai
keutamaan yang nyata dalam hal ilmu, kebaikan, kemuliaan, kekuasaan,
atau yang lainnya. Sikap berdiri ini dalam rangka mewujudkan kebaikan,
pemuliaan, dan penghormatan; bukan untuk riya’ dan pengagungan.
Perbuatan ini senantiasa dilakukan oleh salaf dan khalaf….”
Ibnu Katsîr dalam tafsirnya boleh-boleh saja menghormati orang yang
baru pulang dari bepergian
‫ ﻤﻟﺬور أن ﻳﺘﺨﺬ‬:‫وﻧﻘﻞ اﺑﻦ ﻛﺜﲑ ﰲ ﺗﻔﺴﲑﻩ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ اﶈﻘﻘﲔ اﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻓﻴﻪ ﻓﻘﺎل‬
‫ وأﻣﺎ إن ﻛﺎن ﻟﻘﺎدم ﻣﻦ ﺳﻔﺮ أو ﳊﺎﻛﻢ‬،‫دﻳﺪﻧﺎ ﻛﻌﺎدة اﻷﻋﺎﺟﻢ ﻛﻤﺎ دل ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺪﻳﺚ أﻧﺲ‬
‫ وﻳﻠﺘﺤﻖ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﺎ ﺗﻘﺪم ﰲ أﺟﻮﺑﺔ اﺑﻦ اﳊﺎج ﻛﺎﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﳌﻦ‬:‫ ﻗﻠﺖ‬.‫ﰲ ﳏﻞ وﻻﻳﺘﻪ ﻓﻼ ﺑﺄس ﺑﻪ‬
‫ وﻗﺪ ﻗﺎل‬.‫ﺛﺖ ﻟﻪ ﻧﻌﻤﺔ أو ﻹﻋﺎﻧﺔ اﻟﻌﺎﺟﺰ أو ﻟﺘﻮﺳﻴﻊ اﺠﻤﻟﻠﺲ أو ﻏﲑ ذﻟﻚ واﷲ أﻋﻠﻢ‬
‫ وﻫﺬا ﺗﻔﺼﻴﻞ‬.‫ اﻟﻘﻴﺎم ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻹﻋﻈﺎم ﻣﻜﺮوﻩ وﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ اﻹﻛﺮام ﻻ ﻳﻜﺮﻩ‬:‫اﻟﻐﺰاﱄ‬
114
‫ﺣﺴﻦ‬
F 13
“Ibnu Katsir menukil rincian masalah ini dari sebagian
muhaqqiqîn, ia berkata : ‘Berdiri yang terlarang adalah jika seseorang
meyakininya hal tersebut bagian dari agama, seperti yang dilakukan oleh
orang-orang ‘ajam dan sebagaimana yang tertera dalam hadis Anas
radliyallaahu ‘anhu. Namun apabila perlakukan tersebut ditujukan kepada
orang yang baru pulang dari safar atau kepada hakim di wilayah
kekuasaannya, maka tidak mengapa hal itu dilakukan. Dan termasuk juga
apa yang telah disebutkan oleh Ibnul-Hajj, seperti ucapan selamat kepada
orang yang baru mendapat nikmat, atau untuk menolong seseorang yang
lemah, untuk memperluas masjid, dan yang lainnya. Allaahu a’lam’. AlGhazâliy berkata : ‘Makruh hukumnya jika berdiri dilakukan sebagai
pengagungan. Dan tidak dimakruhkan apabila sebagai penghormatan’. Ini
merupakan rincian yang cukup baik” .
An-Nawâwie berpendapat dibolehkannya berdiri menyambut seseorang
asal dengan persyaratan sebagai berikut:
114
Ibnu Hajar, Fathul Bâri, Kitab al-Isti,zân Bâb Qoulu an-Nabi Qûmû ila Sayyidikum,
Juz. 11, hal. 56. (Tahqîq: Syaibatil Hamd).
66
‫اﳌﺨﺘﺎر اﺳﺘﺤﺒﺎب اﻛﺮام اﻟﺪاﺧﻞ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎم ﻟﻪ إن ﻛﺎن ﻓﻴﻪ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﻇﺎﻫﺮة ﻣﻦ ﻋﻠﻢ أو‬
‫ﺻﻼح أو ﺷﺮف أو وﻻﻳﺔ ﻣﻊ ﺻﻴﺎﻧﺔ أوﻟﻪ ﺣﺮﻣﺔ ﺑﻮﻻﻳﺔ أو ﳓﻮﻫﺎ وﻳﻜﻮن ﻫﺬا اﻟﻘﻴﺎم ﻟﻼﻛﺮام‬
. 115 ‫ﻻ ﻟﻠﺮﻳﺎء واﻻﻋﻈﺎم‬
14F
Ada pengecualian terhadap disunnahkannya memuliakan seorang
yang baru datang dengan berdiri untuknya, dengan alasan – harus ada
kelebihan yang nampak pada diri orang tersebut, dari ilmu atau dari
kesalehan, atau dari kemulian, atau pejabat pemerintahan, atau mungkin
orang tersebut mempunyai kehormatan di mata orang sekitar, dan lain
sebagainya, dan dijadikan berdiri tersebut untuk sekedar memuliakannya,
bukan untuk membangga-banggakan dan membesar-besarkan.
Berikut pendapat-pendapat para ulama yang telah di himpun oleh
Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam kitab al-Adab as-Syar’iyyah:
1. Berdiri menghormati Ulama adalah sunnah:
ِِ
َ َ‫َوﻗ‬
‫ﺎل اﻟﺸْﱠﻴ ُﺦ َوِﺟﻴﻪُ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ أَﺑُﻮ اﻟْ َﻤ َﻌ ِﺎﱄ ِﰲ َﺷ ْﺮِح ا ْﳍِ َﺪاﻳَِﺔ ﺗُ ْﺴﺘَ َﺤ ﱡ‬
ُ‫ﺐ ِزﻳَ َﺎرةُ اﻟْ َﻘﺎدم َوُﻣ َﻌﺎﻧـَ َﻘﺘُﻪ‬
‫ﺎل َوﻳُﻜَْﺮﻩُ أَ ْن ﻳَﻄْ َﻤ َﻊ‬
َ َ‫اف اﻟْ َﻘ ْﻮِم ﺑِﺎﻟْ ِﻘﻴَ ِﺎم ُﺳﻨﱠﺔٌ ُﻣ ْﺴﺘَ َﺤﺒﱠﺔٌ ﻗ‬
َ َ‫َواﻟ ﱠﺴ َﻼ ُم َﻋﻠَْﻴ ِﻪ ﻗ‬
ُ ‫ﺎل َوإِ ْﻛَﺮ ُام اﻟْﻌُﻠَ َﻤ ِﺎء َوأَ ْﺷَﺮ‬
ِ
ِِ ِ ِ ‫ِﰲ ﻗِﻴﺎم اﻟﻨ‬
‫َﺣ ﱠ‬
ُ‫ﱠﺎس ﻟَﻪُ ﻓَـ ْﻠﻴَﺘَﺒَـ ﱠﻮأْ َﻣ ْﻘ َﻌ َﺪﻩ‬
َ ‫ﱠﺎس ﻟَﻪُ ﻟ َﻘ ْﻮﻟﻪ‬
َ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ } َﻣ ْﻦ أ‬
َ
ُ ‫ﱠﻞ اﻟﻨ‬
َ ‫ﺐ أَ ْن ﻳـَﺘَ َﻤﺜ‬
ِ
ِ
ِ
ِ
‫ﺎل أَﺑُﻮ اﻟْ َﻤ َﻌ ِﺎﱄ‬
ْ ‫ﱠﺤ ِﺮﱘُ ﳍََﺬا‬
َ َ‫اﳋََِﱪ ﻗ‬
َ َ‫ِﻣ ْﻦ اﻟﻨﱠﺎ ِر { ﻗ‬
ْ ‫ﺻ ِﺮﳛُﻪُ اﻟﺘ‬
َ ‫ﺎل َو َﺳﺒَ َﻖ ِﰲ اﻟْﻘﻴَﺎم َﻣﺎ ﻇَﺎﻫ ُﺮﻩُ أ َْو‬
ِ ُ ُ‫ﻮل ﻋﻠَﻰ ﻣﺎ ﻳـ ْﻔﻌﻠُﻪ اﻟْﻤﻠ‬
ِ ‫اﺳﺘِ َﺪ َاﻣ ِﺔ ﻗِﻴَ ِﺎم اﻟﻨ‬
. 116 ‫ﱠﺎس َﳍُ ْﻢ‬
ْ ‫ﻮك ﻣ ْﻦ‬
ُ ُ َ َ َ َ ٌ ‫َوَﻫ َﺬا َْﳏ ُﻤ‬
F15
Dan telah berkata Syeikh Wajîhuddîn Abû al-Ma’âlî di dalam kitab Syarh
al-Hidâyah: Bahwa telah disunnahkan mengunjungi orang yang baru
datang dari bepergian, memeluk, juga mengucapkan salam kepadanya.
Dan telah berkata pula: Menghormati ‘Ulama dan memuliakan sebuah
kaum dengan berdiri adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan telah
berkata: Dimakruhkan apabila menjadi Tamak (sombong) dengan
berdirinya seseorang kepadanya, sebagaimana sabda nabi saw: “Siapa
yang suka dihormati dengan berdirinya orang-orang, maka telah
dipersiapkan tempatnya di Neraka”, dan telah berkata: Dan telah ada
masalah hukum berdiri kejelasan keharaman pada hadis ini, dan telah
berkata Abû al-Ma’âlî: Dan hadis ini dikeluarkan atas apa yang dilakukan
para raja-raja terdahulu dari kebiasaan berdirinya manusia untuk mereka.
2. Berdiri pada posisi seseorang yang menghormatinya dalam keadaan duduk
adalah haram:
ِ
ِ ِ ِ ِ ِ ِ
ِ ِ ِ
ِِ ِ
ِ
.117 ‫ﺲ‬
ٌ ‫َو َﺟَﺰَم ﰲ ﻛﺘَﺎب )ا ْﳍَْﺪي( ﺑﺘَ ْﺤﺮﱘ اﻟ ﱡﺴ ُﺠﻮد َواﻻ ْﳓﻨَﺎء َواﻟْﻘﻴَﺎم َﻋﻠَﻰ اﻟﱠﺮأْس َوُﻫ َﻮ َﺟﺎﻟ‬
16F
115
Abi Zakaria An-Nawâwiy, al-Majmu’, j.4, hal.476.
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,249-250.
117
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal,249.
116
67
Dan telah ditetapkan dalam kitab (al-hadyu) tentang keharaman sujud
kepada makhluk, menundukan badan, dan berdiri di atas kepala seseorang
sedangkan ia duduk.
3. Imam Ahmad bin Hanbal tidak suka dihormati dengan berdirinya
seseorang untuknya:
ِ ُ ِ‫اﳊﺎﻓ‬
‫َﲪَ َﺪ ﺑْ ِﻦ اﻟْ ُﻤﺜَـ ﱠﲎ‬
َ َ‫َوﻗ‬
ْ ‫ﻀ ِﺮ ِﰲ “ َﻣ ْﻦ َرَوى َﻋ ْﻦ أ‬
ْ ‫َﲪَ َﺪ ” ُﳏَ ﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ أ‬
َ ‫َﺧ‬
ْ ‫ﻆ ﺗَﻘ ﱡﻲ اﻟﺪﱢﻳ ِﻦ ﺑْ ُﻦ ْاﻷ‬
َْ ‫ﺎل‬
ِ ِِ
‫وﺟﻪُ ﻓَـﻠَ ﱠﻤﺎ َﺧَﺮ َج ﻗُ ْﻤﺖ‬
َ َ‫أَﺑُﻮ َﺟ ْﻌ َﻔ ٍﺮ اﻟْﺒَـﱠﺰ ُار ﻗ‬
َ ‫ أَﺗَـْﻴﺖ اﺑْ َﻦ َﺣْﻨﺒَ ٍﻞ ﻓَ َﺠﻠَ ْﺴﺖ َﻋﻠَﻰ ﺑَﺎﺑﻪ أَﻧْـﺘَﻈ ُﺮ ُﺧ ُﺮ‬: ‫ﺎل‬
ِ
َ َ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗ‬
َ ‫إﻟَْﻴ ِﻪ ﻓَـ َﻘ‬
‫َﺣ ﱠ‬
‫ﺎل ِﱄ أ ََﻣﺎ َﻋﻠ ْﻤﺖ أَ ﱠن اﻟﻨِ ﱠ‬
ُ‫ﱠﻞ ﻟَﻪ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
َ ‫ﺎل } َﻣ ْﻦ أ‬
َ ‫ﺐ أَ ْن ﻳـَﺘَ َﻤﺜ‬
ِ ُ ‫اﻟﱢﺮﺟ‬
ِ
ِ
. 118 ‫ﻚ‬
َ ‫ﺎﺳﺘَ ْﺤ َﺴ َﻦ َذﻟ‬
ْ َ‫ ﻓ‬، ‫ إﱠﳕَﺎ ﻗُ ْﻤﺖ إﻟَْﻴﻚ‬: ‫ﺎل ﻗﻴَ ًﺎﻣﺎ ﻓَـ ْﻠﻴَﺘَﺒَـ ﱠﻮأْ َﻣ ْﻘ َﻌ َﺪﻩُ ﻣ ْﻦ اﻟﻨﱠﺎ ِر { ﻓَـ ُﻘ ْﻠﺖ‬
َ
17F
Dan telah berkata al-Hafizd Taqyuddîn bin al-Akhdhori di dalam kitab
“Rowa ‘an Ahmad” Muhammad bin al-Mutsanna Abû Ja’far al-Bazzar
berkata: Aku mendatangi Ibnu Hanbal maka aku duduk di depan pintu
rumahnya menunggu ia keluar, maka ketika ia keluar aku bangun
kepadanya, ia pun berkata kepadaku: Apakah engkau tidak tahu bahwa
sesugguhnya Nabi saw telah bersabda: “Siapa saja yang senang dihormati
oleh seseorang dengan berdiri untuknya maka telah dipersiapkan tempat
untuknya di Neraka”. Maka al-Bazzâr berkata: Aku bangun untuk
mengormatimu, dan Ibnu Hambal membenarkannya.
3. Analisa Hadis Menyambut Kedatangan Seseorang
Keberadaan Nabi dalam berbagai posisi dan fungsinya yang terkadang
sebagai manusia biasa, sebagai pribadi, suami, sebagai utusan Allah, sebagai
kepala Al-Qur’an negara, sebagai panglima perang, sebagai hakim dan lainnya
menjadi acuan bahwa untuk memahami hadis perlu dikaitkan dengan peran apa
yang beliau ‘mainkan’. Oleh karenanya penting sekali untuk menganalisa hadis
pada tempatnya yang proposional, kapan dipahami secara tekstual, kontekstual,
universal, temporal, situasional maupun lokal. Itulah pentingnya menganalisa
sebuah hadis.
Telah dibolehkan berdiri untuk menghormati orang yang mempunyai
keutamaan atau kekuasaan oleh An-Nawawiy dan Ibnu Hajar, berdasarkan hadis
nomor lima, enam, dan tujuh.
118
Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab as-Syar’iyah, juz.2, hal, 251.
68
Telah sahih hadis kebolehan menyambut kedatangan seseorang (tamu)
sebagaimana riwayat :
ِ
‫َﺟﻠَ َﺴ َﻬﺎ ِﰲ‬
ْ َ‫ﺖ إِذَا َد َﺧﻠ‬
ْ َ‫َوَﻛﺎﻧ‬
‫ﺖ َﻋﻠَﻰ اﻟﻨِ ﱢ‬
ْ ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﻗَ َﺎم إِﻟَْﻴـ َﻬﺎ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَ َﻬﺎ َوأ‬
َ ‫ﱠﱯ‬
ِ ِ ِ ‫َْﳎﻠِ ِﺴ ِﻪ وَﻛﺎ َن اﻟﻨِﱠﱯ ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪ ﻋﻠَﻴ ِﻪ وﺳﻠﱠﻢ إِذَا دﺧﻞ ﻋﻠَﻴـﻬﺎ ﻗَﺎﻣ‬
ْ َ َْ َ َ َ َ َ َ َ ْ َ ُ
ْ ‫ﺖ ﻣ ْﻦ َْﳎﻠﺴ َﻬﺎ ﻓَـ َﻘﺒﱠـﻠَْﺘﻪُ َوأ‬
ُ‫َﺟﻠَ َﺴْﺘﻪ‬
َ ‫ﱡ‬
َ
119 ِ ِ
. ‫ِﰲ َْﳎﻠﺴ َﻬﺎ‬
18F
Dan adalah Fâtimah apabila berkunjung kerumah Nabi saw, maka
Nabi saw bangun untuknya, seta menciumnya, dan mendudukannya pada
tempat duduknya (Nabi), dan begitupun sebaliknya adalah Nabi saw
apabila berkunjung kerumah Fâtimah, maka Fâtimah dari tempat
duduknya dan menciumnya, serta mendudukannya di tempa duduknya
(Fâtimah).
Ini termasuk memuliakan tamu dengan berdiri menyambutnya dan
menghampirinya. Bukan sekedar berdiri di tempat. Demikian pula yang tergambar
dalam hadis Ka’ab bin Mâlik ra :
ِ
ِ
‫ﺑﺒﺸﺎرﺗﻪ‬
‫ﺖ ﻟَﻪُ ﺛـَ ْﻮَﱠ‬
ُ ‫ﺻﻮﺗَﻪُ ﻳـُﺒَﺸ ُﱢﺮِﱐ ﻧـََﺰ ْﻋ‬
ُ ‫ﻓﻠ ﱠﻤﺎ َﺟﺎءَِﱐ اﻟﱠﺬي ﲰ ْﻌ‬
ْ ‫ﺖ‬
َ ُ‫ﰊ ﻓَ َﻜ َﺴ ْﻮﺗـُ ُﻬ َﻤﺎ إﻳﱠﺎﻩ‬
ٍ
ِ
ِ ُ ‫اﺳﺘَـ َﻌﺮ‬
‫ﺻﻠّﻰ‬
ُ ‫واﻟﻠﱠﻪ ﻣﺎ أ َْﻣﻠ‬
ُ َ‫ﺒﺴﺘُـ ُﻬ َﻤﺎ واﻧْﻄَﻠ‬
َ ‫ﻘﺖ أَﺗَﺄَﱠﻣ ُﻢ رﺳﻮل اﷲ‬
ْ ْ ‫ َو‬،‫ﻚ َﻏْﻴـَﺮُﳘَﺎ ْﻳﻮَﻣﺌﺬ‬
ْ َ‫ت ﺛـَ ْﻮﺑـَ ْﲔ ﻓَـﻠ‬
ِ
ِ
‫اﷲُ َﻋﻠَْﻴ ِﻪ َ ﱠ‬
‫ﻚ ﺗَـ ْﻮﺑَﺔُ اﷲ‬
َ ِ‫ ﻟﺘَـ ْﻬﻨ‬:‫ﱠﺎس ﻓَـ ْﻮﺟﺎً ﻓَـ ْﻮﺟﺎً ﻳـُ َﻬﻨﱢﺌُﻮﻧﲏ ﺑِﺎﻟﺘـ ْﱠﻮﺑَِﺔ َوﻳـَ ُﻘﻮﻟُﻮن ِﱄ‬
ُ ‫وﺳﻠﻢ ﻳـَﺘَـﻠَﻘﱠﺎﱐ اﻟﻨ‬
ِ ‫ﺣﱴ دﺧ ْﻠﺖ اﻟْﻤﺴ ِﺠﺪ ﻓَِﺈ َذا رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠّﻰ اﷲ ﻋﻠَﻴ ِﻪ ﱠ‬
،‫ﱠﺎس‬
َ ْ َ ُ َ َ ‫ ﱠ‬،‫ﻚ‬
َ ‫َﻋﻠَْﻴ‬
َ َْ ُ َ
ُ ‫ﺲ َﺣ ْﻮﻟَﻪُ اﻟﻨ‬
ٌ ‫وﺳﻠﻢ َﺟﺎﻟ‬
‫ واﻟﻠﱠﻪ َﻣﺎ ﻗَ َﺎم َر ُﺟ ٌﻞ ِﻣ َﻦ‬،‫وﻫﻨﱠﺄَِﱐ‬
َ ‫ﺻﺎﻓَ َﺤ ِﲏ‬
َ ‫ﻓَـ َﻘ َﺎم ﻃ ْﻠ َﺤﺔُ ﺑْ ُﻦ ﻋُﺒَـْﻴﺪ اﷲ رﺿﻲ اﷲ ﻋﻨﻪ ﻳـُ َﻬ ْﺮِول َﺣ ﱠﱴ‬
120
ِ
،ُ‫ﻳﻦ َﻏْﻴـ ُﺮﻩ‬
َ ‫اﻟْ ُﻤﻬﺎﺟ ِﺮ‬
F
19
“Maka ketika telah datang orang yang aku dengar suaranya telah
memberikan kabar gembira kepadaku, aku langsung melepas dua
pakaianku untuknya. Aku pakaikan keduanya kepadanya sebagai balasan
atas kabar gembiranya. Demi Allah, aku tidak memiliki selain keduanya
pada hari itu. Dan aku meminjam dua pakaian untuk aku pakai. Dan aku
berangkat menuju Rasulullah ra, sementara orang-orang berbondongbondong menemuiku, dan mengucapkan selamat atas taubat Allah
untukku. Mereka mengucapkan : ‘Semoga taubat Allah atasmu
membuatmu bahagia’. Hingga aku masuk masjid, ternyata Rasulullah ra
sedang duduk dikerumuni orang-orang. Maka Thalhah bin ‘Ubaidillah ra
119
Hadis ini diriwayatkan oleh: Al-Bukhâri di dalam al-Adabul Al-Mufrod, Abû Dâwud
di dalam Sunan-nya, serta At-Tirmidzi di dalam Sunan-nya. Pembahasan pada Bab III.
120
Diriwayatkan oleh Al-Bukhâri di dalam Kitab Sahîh dan al-Adab al-Mufrad, dan
Muslim di dalam Kitab Sahîh-nya, dan Abû Dâwud di dalam Sunan-nya, serta Ahmad bin Hanbal
di dalam Musnad-nya. Pembahasan pada Bab III.
69
berlari-lari hingga menjabat tanganku. Demi Allah, tidak ada orang
Muhajirin yang berdiri selain dia…”
Perbuatan para sahabat kepada Ka’ab adalah dengan berdiri dan berjalan
menyambutnya dalam rangka mengucapkan selamat.
Yang dipermasalahkan dalam perkataan An-Nawawiy dan yang lainnya
adalah seseorang yang berdiri di tempat, karena melihat orang lain. Beliau
berpendapat hal itu diperbolehkan jika orang tersebut mempunyai keutamaan
ataupun kekuasaan, tanpa ada maksud riya’ dan pengagungan. 121
120F
Namun pendapat yang lain adalah hal itu tetap tidak diperbolehkan karena
bertentangan dengan dzhahir hadis :
‫ ﻣﺎ ﻛﺎن ﺷﺨﺺ أﺣﺐ إﻟﻴﻬﻢ رؤﻳﺔ ﻣﻦ اﻟﻨﱯ ﺻﻠﻰ‬: ‫ﻋﻦ أﻧﺲ رﺿﻲ اﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎل‬
122
‫اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وﻛﺎﻧﻮا إذا رأوﻩ ﱂ ﻳﻘﻮﻣﻮا إﻟﻴﻪ ﳌﺎ ﻳﻌﻠﻤﻮن ﻣﻦ ﻛﺮاﻫﻴﺘﻪ ﻟﺬﻟﻚ‬
F12
Dari Anas ra, ia berkata : “Tidak ada seorang pun yang lebih
mereka (para shahabat) cintai saat melihatnya daripada Nabi saw. Namun
jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui
kebencian beliau atas hal itu”
Asy-Syaikh Al-Albâni ra berkata : “Hadis ini termasuk yang
menguatkan hadis-hadis sebelumnya, yaitu larangan berdiri untuk
menghormati orang lain. Sebab, seandainya itu sebuah penghormatan
syar’i, tentunya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menolak
penghormatan para sahabat dengan berdiri kepada beliau. Dan beliau
adalah pribadi yang paling berhak dihormati oleh manusia; sedangkan para
sahabat adalah orang-orang yang paling mengetahui hak beliau. Di
samping itu, Rasulullah saw membenci kebiasaan berdiri yang dilakukan
oleh para sahabat untuk menghormati beliau. Maka wajib bagi orang
muslim - khususnya jika ia termasuk ahlul-‘ilmi atau orang yang memiliki
kekuasaan - untuk tidak menyukai kebiasaan berdiri untuk dirinya sebagai
bentuk iqtidlaa’ (mengikuti) Nabi saw. Begitu juga ia tidak berdiri untuk
orang lain; maupun penghormatan bagi orang lain. Hal itu berdasarkan
atas sabda Nabi saw : ”Tidaklah (sempurna) iman seseorang di antara
kalian, sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai
dirinya sendiri dalam kebaikan”. Maka tidak seorang pun boleh berdiri
untuk menghormatinya, dan tidak pula ia berdiri untuk memberi hormat
121
Abi Zakaria An-Nawâwiy, al-Majmu’, j.4, hal.476
Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dalam Al-Adabul-Mufrad no. 946, h. 429, (Darr Kutub
al-Ilmiyah), At-Tirmidzi dalam Sunan-nya j.4, hal.172.
122
70
pada orang lain. Bahkan kebencian mereka terhadap tradisi berdiri tersebut
adalah lebih utama dibandingkan Nabi saw. Jika mereka tidak
membencinya, maka sebagian orang akan mencontoh sebagian yang lain
dalam hal berdiri ini, sehingga mereka pun menyukainya. Dan akhirnya
hal itu dapat menjadi sebab ia dimasukkan ke dalam neraka sebagaimana
ditunjukkan oleh hadis yang lalu. Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wasallam tidaklah demikian. Beliau terjaga dari kemaksiatan apapun. Jadi,
oleh karena Nabi tidak menyukai berdirinya para shahabat untuk
menghormatinya, maka jelaslah, bahwa ketidaksukaan seorang muslim
terhadap hal tersebut adalah lebih utama” . 123
12F
Sebagian ulama yang membolehkan berdalil dengan sabda Rasulullah saw
:
124
F123
‫ﻗﻮﻣﻮا إﱃ ﺳﻴﺪﻛﻢ‬
“Berdirilah menuju sayyid (pemimpin) kalian” .
Pendalilan ini tidak tepat. Asy-Syaikh Al-Albâni ra berkata : “Dan
yang ma’ruf bahwasannya beliau bersabda : ‘Berdirilah kepada menuju
sayyid (pemimpin) kalian’. Itu dikatakan oleh beliau saw kepada
sekelompok orang-orang Anshar ketika Sa’d bin Mu’adz datang dengan
dipanggul di atas keledai dalam keadaan luka parah. Berarti makna : qûmû
ilâ sayyidikum adalah : ‘Turunkan dan papah dia’. Bukan : ‘berdirilah
untuknya’ , yaitu untuk menghormatinya. Sebab maksud kata sayyid
adalah pemimpin dan orang terdepan walaupun di sana ada orang yang
lebih baik. Telah masyhur pendapat yang berdalil dengan hadis ini tentang
disyari’atkannya berdiri untuk orang yang masuk. Dan jika engkau
perhatikan alur ceritanya, engkau akan dapati pendalilan seperti ini adalah
pendalilan yang keliru ditinjau dari banyak sisi. Yang terkuat (dalam
membantah pendapat ini) adalah sabda Rasulullah saw : ‘turunkan dia’ ;
dimana ia merupakan nash yang pasti atas perintah berdiri menuju Sa’ad,
yaitu untuk menurunkannya (dari atas keledai) karena ia dalam keadaan
sakit. Oleh karena itu Al-Haafidh berkata : ‘Tambahan ini menunjukkan
batalnya pendapat disyari’atkannya berdiri yang diperselisihkan ini yang
berdalil dengan hadis Sa’ad”. 125
124F
Yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni di atas serupa dengan yang
dijelaskan Ibnu-al-Hajj Al-Maalikiy saat membantah An-Nawawiy
123
Muhamad Nâsiruddin al-Albâni, Silsilah as-Sahîhah, juz.1, hal .697-698, no hadis.
358.
124
Diriwayatkan oleh Al-Bukharî, Muslim no. 1768, dan Abu Dawud no. 5215].
Diriwayatkan oleh Al-Bukhâri di dalam Kitab, dan Muslim di dalam Kitab Sahîh-nya, serta Abû
Dâwud di dalam Sunan-nya. Pembahasan pada Bab III.
125
Muhamad Nâsiruddin al-Albâni, Silsilah as-Sahîhah, juz.1, hal .146, no hadis. 67.
71
Namun jika seseorang tidak berdiri menimbulkan mafsadat/mudharat bagi
dirinya, maka tidak mengapa ia berdiri pada waktu itu. Ibnu Hajar berkata :
.‫وﰲ اﳉﻤﻠﺔ ﻣﱴ ﺻﺎر ﺗﺮك اﻟﻘﻴﺎم ﻳﺸﻌﺮ ﺑﺎﻻﺳﺘﻬﺎﻧﺔ أو ﻳﱰﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻔﺴﺪة اﻣﺘﻨﻊ‬
“Kesimpulan, apabila tidak berdiri terhadap seseorang disangka
menghinakan atau akan menimbulkan kerusakan lain, maka hendaklah ia
lakukan.”. 126
125F
126
Demikianlah yang diisyaratkan oleh Ibnu ‘Abdis-Salaam: Lihat Fathu al-Bâri, juz.11,
hal.54. Hal yang sama ditegaskan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam
Mukhtashar Fataawaa Al-Misriyyah hal. 39.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada akhir bab ini, saya menyimpulkan dari uraian-uraian yang telah saya
paparkan pada bab-bab sebelumnya, bahwa:
1.
Penghormatan adalah sebuah proses cara seseorang untuk menghormati
orang yang mempunyai keutamaan, dan diantara bentuk penghormatan itu
sendiri adalah; mencium tangan, Inhina, dan berdiri menyambut
seseorang.
2. Hadis menerangkan bahwa penghormatan kepada seseorang adalah
termasuk sunnah, begitu juga bentuk penghormatan seperti; mencium
tangan maka hukumnya adalah sunnah berdasarkan tiga hadis yang saya
teliti, yaitu hadis riwayat Sofwân bin ‘Assâl, hadis riwayat Ibnu ‘Umar,
dan hadis riwayat al-Wâzi’ bin ‘Âmir’. Sedangkan inhina hukumnya
makruh berdasarkan satu hadis yang saya teliti, yaitu hadis yang
diriwayatkan Anas bin Mâlik. Adapun berdiri menyambut seseorang
adalah mubah, berdasarkan tiga hadis yang saya teliti, yaitu hadis riwayat
Ka’ab bin Mâlik , hadis riwayat Abî Sa’îd al-Khudriyyi, dan hadis ‘Âisyah
binti Abî Bakr.
3. Pendapat ulama tentang mencium tangan, inhina, berdiri ketika seseorang
datang.
Pertama. Ulama berpendapat tentang mencium tangan, bahwa
mencium tangan adalah perbuatan para sahabat kepada orang-orang yang
mereka anggap mulia, adapun para sahabat yang menolak untuk dicium
tangannya adalah menunjukan kerendahan hati mereka. Dengan demikian
saya berksimpulan mencium tangan adalah sunnah yang dianjurkan.
Kedua. Beberapa ulama menyatakan bahwa inhina termasuk hal
yang tidak boleh (haram) dilakukan kepada makhluk Allah, namun
beberapa ulama tidak pada sampai pada tingkat haram hanya sampai pada
hukum makruh saja, di sisi lain juga masih ada ulama yang membolehkan
hal tersebut dengan syarat tidak diniatkan untuk penyembahan
sebagaimana penyembahan seorang makhluk kepada Allah.
Ketiga. Dalam permasalahan berdiri menyambut seseorang ada dua
pendapat ulama, 1.Ulama memakruhkan berdiri ketika seorang datang,
dikarenakan Rasulullah saw membenci kebiasaan berdiri yang dilakukan
oleh para sahabat untuk menghormati beliau. Maka wajib bagi orang
muslim - khususnya jika ia termasuk ahlul-‘ilmi atau orang yang memiliki
kekuasaan - untuk tidak menyukai kebiasaan berdiri untuk dirinya sebagai
bentuk iqtidlaa’ (mengikuti) Nabi saw. 2. Ulama berpendapat mubah
dikarenakan Rasulullah pernah berdiri menyambut Fatimah ra, ketika
Fatimah berkunjung ke rumah Rasulullah saw.
4. Saya menyimpulkan bahwa semua bentuk penghormatan pada hakikatnya
adalah sunnah, namun dengan syarat, bahwa penghormatan itu dilakukan
kepada orang-orang yang mempunyai keutamaan seperti, keilmuaannya,
kesalehannya, dan kezuhudunnya, bukan menghormati orang tersebut
dikarenakan kekayaannya atau segala bentuk keduniawiaan.
74
B. Saran
Sebagai langkah menyiarkan Hadis sebagai sumber ajaran Islam, saya
memberikan saran sebagai berikut:
1. Harapan saya untuk adanya penelitian yang lebih lanjut tentang skripsi ini
guna mengembangkan wacana Hadis dari segi penghormatan maupun dari
segi kontekstualisasinya. Karena bagaimanapun skripsi ini pastilah jauh dari
kesempurnaan.
2. Bagaimanapun kontekstualisasi terhadap teks keagamaan adalah sebuah
keharusan. Namun memang masih banyak yang perlu dikaji kembali guna
menemukan nilai-nilai Islam yang lebih komprehensif dan dapat diterima oleh
seluruh umat manusia sebagai rahmatan lil ‘âlamîn. Tak terkecuali adalah
hadis, karena sejatinya ia adalah gambarah hidup masa kenabian Muhammad
sebagai era yang terbaik. Hal ini tidak lepas dari tuntutan perubahan zaman
dan peradaban. Ini adalah tugas seluruh umat Islam, tak terkecuali UIN Sarif
Hidayatullah yang diharapkan sebagai Mamba’ al- Ulûm al-Islamî khusunya
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Jurusan Tafsir-Hadis.
74
Download