kebutuhan informasi dan perilaku pencarian

advertisement
KEBUTUHAN INFORMASI DAN PERILAKU PENCARIAN INFORMASI :
STUDI KASUS TERHADAP IBU MENGANDUNG DAN MENGASUH BAYI
DI KABUPATEN JOMBANG
TESIS
yang diajukan untuk memperoleh gelar Magister Humaniora
dalam Program Pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
oleh:
NOOR ATHIYAH
NPM: 670406008Y
UNIVERSITAS INDONESIA
2008
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
untuk Ibu, Ibu, Ibu, dan Bapak
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
iii
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, kerena limpahan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat memperoleh
kemudahan dalam menyelesaikan tesis ini dengan baik.
Terima kasih tak terhingga dan penghargaan yang setinggitingginya saya sampaikan kepada Prof. Dr. Marsudi W. Kisworo dan Bu
Luki Wijayanti M. Lib., yang dengan penuh perhatian dan kesabaran
telah memberikan bimbingan dan saran.
Ungakapan terima kasih dan penghargaan juga saya sampaikan
kepada:
1. Rektor Universitas Indonesia, atas kesempatan yang diberikan
pada penulis untuk meyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di
Universitas Indonesia.
2. Prof. Dr. Ida Sundari Husen dan Dr. Rahayu S. Hidayat, Dekan
dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya.
3. Ketua Program Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi , Fuad
Gani, M. A.
4. Dosen Pembimbing Akademik Drs. Zulfikar Zen, M. A.
5. Bapak dan Ibu Dosen Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.
6. Bapak dan Ibu Pegawai Perpustakaan Universitas Indonesia
7. Bapak dan Ibu Pegawai Perpustakaan Universiti Malaya
8. Mbak Wiwik dan Mbak Ari, staf Sekretariat Departemen Ilmu
Perpustakaan dan Informasi dan Bagian Akademik Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya.
9. Bapak Imam Haromain, Ibu Hamidah, dan Ibu Imronah, orang tua
yang senantiasa mendukung baik secara moril maupun materiil
10. Mas Ulin dan Akeelah, suami dan anak penulis,
11. Mas Aik, Afith dan Azah, serta
12. Pak Yani, Pak Ade, Pak Yudi, Pak Jamri, Bu Maryam, dan Mbak
Lulu, teman sekelas di angkatan 2004 Program Magister Ilmu
Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.
Budi baik mereka tak akan terbalas oleh penulis , sehingga penulis
hanya dapat berdoa semoga semua itu menjadi amal sholeh yang akan
dibalas oleh Allah SWT. Semoga tesis ini bermanfaat. Amin.
Depok, 7 Januari 2008
Penulis
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
v
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR
Daftar Tabel
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Perempuan Usia 15 sampai dengan
44 Kabupaten Jombang Tahun 2007 ............................ 33
Tabel 2.2 Tingkat Pendidikan Perempuan di Kabupaten Jombang
Tahun 2007 ......................................................... 34
Tabel 3.1. Kisi-kisi wawancara ............................................... 43
Tabel 4.1 Daftar Kebutuhan Informasi Kehamilan
dan Pengasuhan Bayi Informan ................................. 56
Tabel 4.2 Sumber Informasi Kehamilan dan Pengasuhan Bayi
bagi Informan ....................................................... 74
Daftar Gambar
Gambar 2.1. Model Konseptual Praktik Informasi Dua Dimensi ......... 28
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian................................... 41
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
vi
DAFTAR ISI
Halaman Judul .................................................................... i
Abstrak ............................................................................. ii
Dedikasi ............................................................................ iii
Lembar Pengesahan .............................................................. iv
Ucapan Terima Kasih ............................................................. v
Daftar Tabel dan Gambar ....................................................... vi
Daftar Isi ........................................................................... vii
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................... 1
A Latar Belakang ................................................................ 1
1. Perempuan dan Pencarian Informasi.................................... 1
2. Kabupaten Jombang ....................................................... 5
B Pertanyaan Penelitian ....................................................... 7
C Tujuan Penelitian............................................................. 8
D Manfaat Penelitian ........................................................... 8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................... 10
A Informasi ....................................................................... 11
B Kebutuhan Informasi ......................................................... 11
1. Kebutuhan Informasi Kehamilan ......................................... 15
2. Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi ................................. 18
C Perilaku Pencarian Informasi ............................................... 20
1. Sumber Informasi ........................................................ 21
2. Pencarian Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari .................. 23
3. Hambatan-hambatan dalam Pencarian Informasi ................... 25
4. Model Konseptual Pencarian Informasi dalam
Kehidupan Sehari-hari 20................................................ 27
D Profil Kabupaten Jombang .................................................. 32
1. Demografi Penduduk ..................................................... 33
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
vii
2. Karakteristik Perempuan Jombang .................................... 34
3. Sumber Informasi bagi Ibu Mengandung dan Mengasuh Bayi....... 36
E Kerangka Berpikir Penelitian................................................ 39
BAB III. METODE PENELITIAN.................................................. 41
A Subjek dan Objek Penelitian................................................ 41
B Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................... 41
C Sumber Data .................................................................. 41
D Informan Penelitian .......................................................... 42
E Teknik Pengumpulan Data .................................................. 43
F Teknik Analisa Data .......................................................... 44
BAB IV. PEMBAHASAN ........................................................... 46
A Gambaran Karakteristik Informan.......................................... 46
1. Gambaran Karakteristik Informan Ana ................................ 46
2. Gambaran Karakteristik Alus ........................................... 47
3. Gambaran Karakteristik Anis............................................ 48
4. Gambaran Karakteristik Muna .......................................... 48
5. Gambaran Karakteristik Ida ............................................. 49
B Pembahasan Hasil Penelitian ............................................... 50
1. Kebutuhan Informasi Informan ......................................... 50
a Kebutuhan Informasi Kehamilan..................................... 52
b Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi ............................. 64
2. Sumber Informasi Informan ............................................. 76
a Sumber informasi terekam ........................................... 77
b Sumber informasi personal ........................................... 81
3. Pencarian Informasi Informan .......................................... 88
a Pencarian Informasi Melalui Sumber Informasi Terekam ........ 89
b Pencarian Informasi Melalui Sumber Informasi Personal ........ 98
4. Hambatan Pencarian Informasi yang Dialami oleh Informan ..... 105
5. Perilaku Pencarian Informasi Informan ............................... 110
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
viii
C Keterbatasan Penelitian ..................................................... 119
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................. 121
A. K e s i m p u l a n.............................................................. 121
B. S a r a n ......................................................................... 123
DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 125
LAMPIRAN ......................................................................... x
Lampiran 1 Panduan Wawancara .............................................. x
Lampiran 2 Verbatim Wawancara ............................................. xii
Lampiran 3 Reduksi Data Wawancara......................................... xl
Lampiran 4 Tabel model konseptual praktek informasi dua
dimensi informan penelitian ..................................... lxviii
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
ix
ABSTRAK
Dengan tanggung jawab dan perannya yang besar dalam merawat, mengasuh
dan mendidik janin dalam kandungan dan bayi, para ibu perlu senantiasa
membuat keputusan yang bijaksana. Mereka bisa mengambil keputusan
tersebut setelah mendapatkan informasi yang tepat melalui kegiatan pencarian
informasi. Jombang merupakan ”kota santri” dengan masyarakat yang religius.
Hal ini mempengaruhi perilaku pencarian informasi para ibu mengandung dan
mengasuh bayi di Jombang. Penelitian ini adalah tentang perilaku pencarian
informasi para ibu tersebut. Pengumpulan data dilaksanakan melalui
wawancara semi terstruktur terhadap lima informan. Berbagai diskusi dan
dokumentasi
kepustakaan
menjadi
data
pendukung.
Selanjutnya,
diinterpretasikan, hasil temuan penelitian diinterpretasikan dengan model
konseptual dua dimensi praktek informasi oleh McKenzie (2005). Model tersebut
menunjukkan 8 praktek pencarian informasi, yaitu empat model pencarian
informasi yang melalui 2 fase. Hasilnya, para informan memiliki berbagai
kebutuhan informasi khas selama kehamilan dan pengasuhan bayi. Mereka
melaksanakan model pencarian aktif, pemindaian aktif, pemonitoran tak
terarah, dan by proxy pada fase menjalin hubungan dan berinteraksi dengan
sumber informasi. Sebagai tambahan, ditemukan bahwa para informan memiliki
karakteristik yang berbeda dalam pencarian informasi. Beberapa informan
memiliki kecenderungan pelaksanaan model pencarian inforamsi yang berbeda.
Pencari yang lebih aktif melaksanakan model pertama dan kedua lebih sering
daripada pencari yang lebih pasif.
ABSTRACTS
Since having great role and responsibility in caring their babies or babies to be,
mothers or pregnant women are always in situations that take them to make
wise decisions. Therefore, mothers have to seek information. Jombang is a
“kota santri” with religious society. This condition affect the information
seeking behavior of the pregnant mothers and the ones who already with
babies. This work is about the information needs and the seeking information
behavior of the pregnant mothers and the ones with babies in Jombang. The
data collection is done by semi-structured interview and literature
documentation. Then, the collected data is interpreted through the two
dimensional of information practices model by McKenzie (2005). The result is
that the model fit the information seeking behavior of the informants. In
addition, it shows the type differences of the characteristics of informants in
information seeking. Some informants are more active than the others. The
active ones do the different practices more often than the passive ones.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keefektifan seseorang dalam melaksanakan peran dan fungsinya
tergantung dari upayanya dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah
serta membuat keputusan yang diperlukan. Salah satu upaya yang perlu
dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan masalah dan membuat
keputusan adalah pencarian informasi yang mampu mendukung kedua
kegiatan
tersebut.
Keberhasilan
pencarian
informasi
dipengaruhi
pengenalan kebutuhan informasi individu itu sendiri, ketersediaan dan
kemudahan akses sumber informasi yang sesuai, dan hambatan yang
dialami.
1. Perempuan dan Pencarian Informasi
Pada kegiatan pencarian informasi, sebagian besar upaya
manusia berkembang ketika mencari informasi yang tidak berhubungan
langsung dengan tujuan pekerjaan, penelitian, ataupun sekolah (Agosto,
2005: 143). Carey (2001: 319) menyatakan bahwa selama 20 tahun
terakhir, peneliti di bidang ilmu perpustakaan dan informasi telah
mengembangkan pembelajaran dan pembahasan tentang pencarian
informasi dalam kehidupan sehari-hari (everyday life information
seeking). Savolainen (1995: 266-267) mendefinisikan pencarian informasi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
1
dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengadaan beragam elemen
informasional (baik kognitif maupun ekspresif) yang dengan elemen
tersebut manusia menyesuaikan dirinya sendiri dalam kehidupan seharihari
untuk
memecahkan
masalah
yang
tidak
secara
langsung
berhubungan dengan kinerja dalam tugas-tugas pekerjaan.
Dalam bidang ini, telah banyak penelitian yang difokuskan pada
perempuan. Beberapa contoh adalah penelitian yang dilaksanakan
terhadap perempuan tentang masalah kesehatannya (mis. Warner &
Procaccino (2004), McKenzie (2002), Brown dkk. (2002) dll.). Selain itu
juga dilaksanakan penelitian terhadap perempuan dalam situasi tertentu
seperti dalam keadaan ekonomi lemah di daerah tertinggal (Mooko,
2005) dan perempuan korban pemukulan (Dunne, 2002).
Terlebih lagi, banyak penelitian tentang pencarian informasi
yang dilaksanakan berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran (McKenzie,
2005, Levy, 1998, Davies dan Bath, 2001, dsb.). Kemunculan penelitianpenelitian tersebut dalam jumlah yang signifikan menunjukkan bahwa
pencarian informasi yang tidak berkaitan dengan pendidikan atau
pekerjaan
secara
langsung
merupakan
kegiatan
yang
banyak
dilaksanakan oleh perempuan dalam kehidupannya.
Perempuan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga ketika
mengalami hal-hal diluar urusan pekerjaan (kalau dia bekerja), pelajaran
(kalau dia sekolah), maupun urusan penelitian (kalau dia ilmuwan/
peneliti). Mereka menjalani peran sebagai manajer rumah tangga
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
2
(domestik), perawat keluarga, penyokong emosi keluarga, pemersatu
keluarga, dan berperan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap
perkembangan dan pencapaian anak(-anak)nya (Utomo dan Hatmadji,
2004: 6).
DR.
Meutia
Hatta
Swasono
dalam
http://www.menegpp.go.id/menegpp.php?cat=detail&id=menegpp&dat
=54 menyatakan strategi Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
mengenai
pemberdayaan
perempuan
Indonesia
sebagai
usaha
peningkatan kualitas hidup mereka. Strategi pemberdayaan ini dianggap
semakin krusial dalam situasi perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi masa kini. Salah satu dari program tersebut adalah
pemberdayaan perempuan dalam rangka peningkatan produktivitas
dalam pelaksanaan tugas parenting (tugas pengasuhan anak dalam
mendidik anak-anak).
Tugas pengasuhan anak tersebut dimulai sejak kehamilan,
kelahiran, dan berlanjut pada masa perawatan tumbuh kembang
anaknya. Berlaku secara efektif dan optimal pada masa kehamilan dan
kelahiran, dan pengasuhan bayi merupakan hal yang signifikan bagi para
ibu tersebut. Pada masa-masa tersebutlah anak 100 persen bergantung
pada orang yang lebih tua (terutama ibunya) dalam segala hal.
Terjaminnya tumbuh kembang janin dan bayi merupakan tanggung jawab
penuh waktu ibunya.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
3
Informasi tentang kehamilan, kelahiran, dan pengasuhan anak
merupakan hal penting yang menuntut untuk dipenuhi. Pengasuhan anak
memiliki potensi untuk meningkatkan kesehatan dan kehidupan yang baik
bagi anak maupun menghalang perkembangan fisik maupun emosi,
menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang signifikan bagi generasi
selanjutnya. Meningkatkan pengetahuan keilmuan tentang pengasuhan
anak adalah sangat penting sehingga anak, keluarga, dan masyarakat
dapat mengambil keuntungan dari pengaruh positif pengasuhan anak
(Gage dkk., 2006: 57).
Denham dalam Gage dkk (2006: 58) menyatakan bahwa ibu
disosialisasikan sebagai pemegang peran perawatan utama dalam
keluarga. Ibu sebagai orang tua membuat keputusan yang tak terhitung
banyaknya tentang berbagai macam situasi yang mereka hadapi setiap
hari dengan bayi, balita, atau anak remaja mereka (Heath, 2006: 750).
Situasi
tersebut
mengarahkan
para
ibu
pada
kebutuhan
informasinya. Pemenuhan kebutuhan informasi tersebut adalah hal yang
mendasar, karena dengan dipenuhinya kebutuhan informasi, ibu rumah
tangga akan mampu memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
Mooko
(2005:
124)
menegaskan
bahwa
perempuan
tidak
hanya
membutuhkan informasi untuk pemecahan masalah tetapi juga untuk
mengambil keputusan mengenai diri mereka sendiri dan keluarga
mereka.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
4
2. Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang terletak pada bagian tengah wilayah
Propinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah 1.159,50 km2 atau sekitar 2,4%
luas Propinsi Jawa Timur. Jombang terbagi menjadi 21 kecamatan, 306
desa (302 desa dan 4 kelurahan). Jumlah penduduk Kabupaten Jombang
pada tahun 2007 berdasar proyeksi Badan Pusat Statistik Jawa Timur
adalah 1.203.717 jiwa, dengan 591.003 diantaranya adalah perempuan.
Pada tahun 2005, tercatat Kabupaten Jombang memiliki 19.499
jumlah kelahiran. Dari jumlah tersebut, 162 diantaranya kasus bayi lahir
mati dan 22 ibu meninggal ketika sedang mengandung, bersalin, maupun
nifas. Selanjutnya, dalam tahun tersebut, terdapat total 376 kematian
bayi. Dengan demikian, angka kematian bayi adalah 9,8 per 1000
kelahiran hidup dan angka kematian ibu adalah 112,83 per 100.000
kelahiran hidup.
Pada tahun 2006, jumlah kelahiran meningkat menjadi 19.909.
Pada tahun ini, 142 bayi terlahir mati (angka kematian adalah 10.15 per
1000 kelahiran hidup). 14 ibu tercatat meninggal ketika hamil, bersalin,
maupun nifas (angka kematian adalah 58,64 per 100.000 kelahiran
hidup). Hal tersebut menunjukkan bahwa angka kematian ibu mengalami
penurunan, namun angka kematian bayi justru mengalami peningkatan.
Dalam semester pertama (dari bulan Januari hingga bulan Juni)
tahun 2007, jumlah kelahiran tercatat 9831 dengan 19 bayi terlahir mati
dan 9 ibu meninggal. Maka, hal tersebut menunjukkan bahwa angka
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
5
kematian bayi maupun ibu mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu
19 per 1000 kelahiran hidup dan 91,54 per 100.000 kelahiran hidup.
Hal tersebut tentunya merupakan hal yang ironis. Disebut ironi
karena pada awal 2007, Kabupaten Jombang menerima “penghargaan
inovasi di bidang pelayanan kesehatan” dari Jawa Pos Institute of Pro
Otonomy.
Penghargaan
tersebut
menunjukkan
prestasi
petugas
kesehatan dalam memberikan layanan dan berusaha meningkatkan
kualitas kesehatan masyarakat Jombang.
Tentu
saja,
tersedianya
berbagai
fasilitas
atau
faktor
aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dengan tenaga medis yang
terampil sangat mempengaruhi kenaikan maupun penurunan angka
kematian ibu dan bayi. Namun demikian, kesediaan masyarakat untuk
mengubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam
bidang kesehatan merupakan faktor yang juga berpengaruh terhadap
angka kematian tersebut. Keputusan yang diambil oleh individu ibu hamil
dan ibu dengan bayi sangat mempengaruhi kondisi ibu hamil, janin, dan
bayi mereka.
Bagi para perempuan di Jombang, terdapat berbagai media
informasi dan beberapa lembaga ataupun organisasi formal yang bisa
dijadikan
sumber
informasi
oleh
mereka,
seperti
media
cetak,
elektronik, maupun fasilitas kesehatan seperti puskesmas, posyandu, dan
rumah bersalin. Meskipun lembaga, organisasi, dan fasilitas umum yang
ada tidak memiliki fungsi utama sebagai pusat penyedia informasi bagi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
6
warga atau pelanggannya, namun pada umumnya mereka bisa dijadikan
rujukan para ibu rumah tangga dalam mencari informasi tertentu.
B. Pertanyaan Penelitian
Sebagaimana penjelasan di atas, maka perilaku pencarian
informasi oleh para ibu hamil dan perempuan yang sedang mengasuh
bayi perlu dipahami. Maka pertanyaan penelitian yang diajukan dalam
penelitian ini adalah ”bagaimana perilaku pencarian informasi ibu hamil
dan
mengasuh
bayi
di
Kabupaten
Jombang?”
Untuk
menjawab
pertanyaan tersebut, dirumuskan beberapa anak pertanyaan, yaitu:
1. apa saja kebutuhan informasi ibu hamil atau mengasuh bayi di
Kabupaten Jombang?
2. apa saja sumber informasi yang dimanfaatkan oleh ibu hamil atau
mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?
3. apa saja upaya pencarian informasi oleh ibu hamil atau mengasuh bayi
di Kabupaten Jombang ?
4. apa saja hambatan dalam pencarian informasi oleh ibu hamil atau
mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?
5. bagaimana model pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari
oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang?
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
7
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perilaku pencarian
informasi ibu hamil dan mengasuh bayi di Kabupaten Jombang. Untuk
mendapatkan pemahaman tersebut, penelitian ini berusaha untuk:
1. mengidentifikasi kebutuhan informasi ibu hamil atau mengasuh bayi di
Kabupaten Jombang.
2. mengidentifikasi sumber informasi yang berkaitan dengan kehamilan
dan pengasuhan bayi bagi para ibu ibu hamil atau mengasuh bayi di
Kabupaten Jombang.
3. mengidentifikasi upaya pencarian informasi ibu hamil atau mengasuh
bayi di Kabupaten Jombang.
4. mengidentifikasi hambatan dalam pencarian informasi oleh ibu hamil
atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.
5. menggambarkan model pencarian informasi dalam kehidupan seharihari oleh ibu hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten Jombang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian
ini
menggambarkan
pencarian
informasi
dalam
kehidupan sehari-hari beberapa perempuan di Kabupaten Jombang.
Untuk memenuhi kebutuhan mereka yang bermacam-macam, mereka
bisa saja mengalami banyak rintangan dan batasan seperti biaya, waktu,
lokasi, pemanfaatan saluran, media, dan sarana informasi yang tersedia
di Jombang.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
8
Oleh karena itu, penemuan dalam penelitian ini diharapkan bisa
digunakan sebagai acuan untuk penyusunan kebijakan dan fasilitas
sumber informasi bagi para perempuan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten Jombang, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dan penyedia
sarana kesejahteraan keluarga di Kabupaten Jombang. Penemuan dari
penelitian ini juga diharapkan bisa dimanfaatkan sebagai bahan rujukan
untuk pembelajaran lebih lanjut.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka ini tersusun atas beberapa uraian dari beberapa
literatur yang relevan dengan penelitian ini. Secara berurutan, bab ini
terdiri dari penjelasan tentang informasi, kebutuhan informasi, dan
perilaku pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan
tentang kebutuhan informasi meliputi kebutuhan informasi dalam
beberapa segi, diantaranya kebutuhan informasi kehamilan, kelahiran
dan menyusui, kebutuhan informasi pengasuhan bayi dan kebutuhan
informasi perempuan.
Selanjutnya, penjelasan tentang pencarian informasi dalam
kehidupan sehari-hari diawali dengan penjelasan mengenai pencarian
informasi, pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari, sumber
informasi
yang
dimanfaatkan
dalam
pencarian
informasi
dalam
kehidupan sehari-hari, dan hambatan dalam pencarian informasi. Bab ini
dilengkapi dengan sekilas pandang profil Kabupaten Jombang sebagai
lokasi penelitian. Akhirnya, terdapat kesimpulan yang menggambarkan
suatu model kerangka konseptual pencarian informasi dalam kehidupan
sehari-hari.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
10
A. Informasi
Istilah informasi digunakan dalam banyak konsep yang berbeda
(Case, 2002: 43). Dalam kajian ilmu perpustakaan dan informasi, definisi
informasi telah banyak ditunjukkan dan mengalami perkembangan dan
perbedaan dari masa ke masa. Dalam bidang ini saja, istilah informasi
digunakan dalam berbagai disiplin untuk merefleksikan berbagai hal,
seperti rangsangan sensori, representasi mental, pemecahan masalah,
pembuatan keputusan, aspek dari pemikiran dan pembelajaran manusia,
dsb.
Definisi umum telah diberikan oleh Buckland dalam Shenton
(2004: 367): "jika sesuatu hal adalah, atau bisa jadi, informatif, maka
semua hal adalah, atau bisa jadi, informasi….” Bagaimanapun juga,
Lester dan Kohler dalam Shenton (2004: 368) menunjukkan bahwa
konsep informasi bersifat context-specific. Dalam konteks penelitian ini,
informasi merupakan segala hal yang bersifat informatif dan menambah
pengetahuan ibu rumah tangga dalam hal menjalani kehamilan,
kelahiran, menyusui, maupun pengasuhan bayi.
B. Kebutuhan Informasi
Kebutuhan informasi dapat didefinisikan melalui asosiasi definisi
dari dua kata: “kebutuhan dan “informasi” (Wilson, 1994). Kebutuhan
(need) dalam Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary didefinisikan
sebagai kurangnya sesuatu yang sesuai atau berguna (1990: 790).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
11
Selanjutnya, kata “informasi” dalam kamus
yang sama didefinisikan
sebagai komunikasi atau penerimaan pengetahuan atau intelijensi
maupun pengetahuan yang didapatkan dari investigasi, penelitian, atau
instruksi (1990: 620). Maka, kebutuhan informasi adalah merupakan
kebutuhan yang muncul karena kurangnya pengetahuan yang didapatkan
tentang sesuatu hal yang sesuai atau berguna.
Dalam ilmu informasi, telah banyak dikembangkan konsep
kebutuhan informasi. Case (2002: 68 – 73) menyebutkan beberapa konsep
kebutuhan informasi yang ditawarkan oleh empat ilmuwan yang banyak
dirujuk dalam penelitian di bidang kebutuhan dan pencarian informasi.
Secara kronologis, konsep-konsep tersebut adalah sebagaimana yang
dinyatakan oleh Robert Taylor (1962), Charles Atkin (1973) dan Nicholas
Belkin (1978), serta Brenda Dervin (1982, 1992).
Case menyebutkan bahwa Taylor menawarkan konsep kebutuhan
informasi dengan menyatakan empat tahap kebutuhan yang mendasari
kenapa
individu
mendatangi
dan
menanyakan
sesuatu
kepada
pustakawan rujukan. Secara berurutan, tahap yang paling rendah adalah
ketika individu memiliki kebutuhan tidak terekspresikan (visceral need).
Tahap
berikutnya
adalah
ketika
kemampuan
individu
untuk
menyampaikan kebutuhannya masih ambigu dan tidak jelas. Tahap
ketiga adalah ketika individu memiliki kemampuan untuk menyatakan
kebutuhannya, dan yang terakhir adalah ketika sudah muncul perhatian
dari individu tentang bagaimana pengiriman hasil pencarian dari
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
12
kebutuhan yang dia ungkapkan tersebut. Keempat tahap tersebut
menunjukkan bahwa kebutuhan informasi berkaitan erat dengan
pencarian jawaban.
Menurut Case, Atkin dan Belkin menyatakan konsep kebutuhan
informasi
dengan
meyakini
informasi
sebagai
pengurangan
ketidakpastian. Atkin memberikan definisi kebutuhan informasi sebagai
“sebuah
fungsi
ketidakpastian
yang
dihasilkan
oleh
penerimaan
ketidaksesuaian antara tingkatan kepastian yang sekarang dimiliki
individu tentang objek lingkungan dan pernyataan kriteria bahwa dia
mencari untuk mencapai sesuatu. Senada dengan definisi Atkin dan
Taylor,
Belkin
menyatakan
bahwa
adanya
kebutuhan
informasi
diindikasikan dengan adanya upaya mencari informasi, dan motivator
dasar pencarian informasi adalah karena adanya kesenjangan antara
pengetahuan yang dimiliki mengenai situasi atau topik tertentu.
Pada masa berikutnya, Dervin menyatakan bahwa kebutuhan
informasi adalah kebutuhan akan make sense (memahami, memaknai)
situasi
yang
sedang
berlangsung.
Kebutuhan
informasi
individu
merupakan kebutuhan akan terjawabnya berbagai macam pertanyaan
yang hadir di pikiran individu tersebut. Beragam pertanyaan tersebut
muncul ketika individu merasa perlu memberikan penjelasan yang masuk
akal pada dirinya dalam dimensi ruang dan waktunya sendiri.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
13
Selain Case, Wilson juga melaksanakan pembelajaran tentang
perkembangan
konsep
kebutuhan
informasi.
Wilson
mengawali
penyimpulan dan pembahasan penelaahannya dengan konsep kebutuhan
manusia. Wilson menyatakan bahwa konsep kebutuhan manusia menurut
ahli psikologi dapat dibagi dalam 3 kategori:
a) kebutuhan fisiologis, seperti kebutuhan akan makanan, air, tempat
tinggal, dsb.;
b) kebutuhan afektif (terkadang disebut sebagai kebutuhan psikologis
atau emosional) seperti kebutuhan akan dominasi, pencapaian, dsb.;
c) kebutuhan kognitif, seperti kebutuhan untuk merencanakan, untuk
mempelajari ketrampilan, dsb.
Ketiga kategori kebutuhan tersebut merupakan pemicu dasar
munculnya kebutuhan informasi. Wilson menyatakan bahwa untuk
memenuhinya, individu harus memiliki pengetahuan yang berkaitan.
Untuk memperoleh pengetahuan tersebut, individu harus terlibat dalam
proses pencarian informasi. Oleh karena itu, Wilson menganggap istilah
kebutuhan informasi lebih tepat jika digantikan dengan pencarian
informasi untuk mendapatkan kepuasan kebutuhan. Kebutuhan yang
diharapkan akan terpuaskan utamanya adalah kebutuhan kognitif yang
mendukung pemenuhan terpuaskannya kebutuhan fisiologis dan afektif.
Kemunculan kebutuhan informasi seseorang tergantung pada
beberapa faktor. Beberapa faktor yang dinyatakan oleh Crawford dalam
Wilson (1994) adalah kegiatan kerja, posisi dan peran individu,
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
14
ketersediaan fasilitas, kebutuhan untuk membuat keputusan, faktor
motivasi akan kebutuhan informasi, dsb. Mempertimbangkan hal
tersebut, berikut adalah beberapa macam kebutuhan informasi yang
pada umumnya dimiliki oleh para perempuan, khususnya ibu yang sedang
hamil, menyusui, maupun mengasuh bayi.
Informasi tentang kehamilan, kelahiran dan perawatan tumbuh
kembang anak merupakan informasi yang signifikan dalam pengasuhan
anak. Anak dalam tahun pertama kehidupannya merupakan anak dalam
usia emas, dimana perkembangan otak dan perilaku sangat pesat.
Perkembangan tersebut menentukan perkembangan dan masa depannya
di kemudian hari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya
adalah perkembangan fisik, kesehatan, dan perilaku sosial anak.
1. Kebutuhan Informasi Kehamilan
Bagi kebanyakan pasangan, menjadi orang tua berawal dari
kehamilan dan kelahiran anak (Duvall dan Brent, 1980: 158). Sebagai ibu,
orang tua perempuan mengawasi, mengasuh, merawat, dan mencintai
anaknya (Apter, 1986: 11). Kemampuan perempuan untuk hamil dan
menyusui merupakan hal istimewa yang tak dapat dilaksanakan oleh
orang tua laki-laki. Dalam menjalankan peran tersebut, perempuan
memiliki kebutuhan informasi tertentu.
Telah banyak penelitian yang mempelajari kebutuhan informasi
ibu hamil dan menyusui. Penelitian Levy (1998) dan Davies dan Bath
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
15
(2001) menunjukkan bahwa perempuan hamil menyadari dan secara aktif
berusaha memenuhi kebutuhan informasi tentang kehamilannya. Levy
menyatakan bahwa perempuan memiliki perhatian terhadap informasi
yang berkenaan dengan bagaimana untuk melindungi dan menjaga
kepentingan janinnya, diri sendiri, pasangan dan individu lain dalam
lingkungannya di masa kehamilannya.
Mendapatkan informasi adalah salah satu dari tanggung jawab
utama perempuan hamil (Browner dan Press dalam McKenzie, 2006: 1).
Bagaimanapun juga, sebagai orang tua, perhatian utama perempuan
hamil adalah tentang bagaimana mempersiapkan kelahiran bayi yang
sehat dan selamat (Duvall dan Brent, 1980: 159). Pada umumnya,
perempuan menginginkan sebanyak mungkin informasi tentang peristiwa
kelahiran bayi dan potensi risiko yang mereka dan bayi mereka hadapi
(Green dalam Davies dan Bath, 2002: 302).
Setelah
menjalani
masa
kehamilan
yang
diakhiri
dengan
persalinan, perempuan mulai menjalani kegiatan merawat bayi. Kepada
ibu lah bayi bergantung sepenuhnya (Apter, 1985: 53). Salah satu
indikator ketergantungan tersebut adalah kemampuan ibu untuk
menyusui bayinya. McKenzie (2006: 7) menyatakan bahwa perempuan
menginginkan informasi tentang bagaimana pemberian makanan kepada
bayinya
(terutama
tentang
memberikan/
tidak
memberikan
ASI)
semenjak mereka mengalami kehamilan. Bagi kebanyakan perempuan,
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
16
menyusui merupakan komponen penting dalam ‘menjadi ibu yang baik’
(Wall dalam McKenzie, 2006: 9).
Selain menyusui dan memperhatikan asupan makanan bayi,
Duvall dan Brent (1980: 160-161) menyebutkan bahwa orang tua juga
harus tetap menjaga kebersihan dan keselamatan bayinya. Beberapa
informasi yang diperlukan dalam menjalankan peran ini adalah tentang
bagaimana
memfasilitasi
kebersihan
anak
seperti
memandikan,
menyediakan pakaian yang pantas dan terlebih lagi memperhatikan
kebutuhan popok bayinya. Selain itu, usaha meminimalkan kemungkinan
kecelakaan yang dapat dialami bayi dan memberikan pertolongan
pertama yang tepat ketika bayi mengalami kecelakaan merupakan hal
yang harus diketahui dan dijalankan oleh orang tua.
Selama
kesehatan
menjalani
merupakan
hal
kehamilan,
yang
persalinan
sangat
perlu
dan
menyusui,
diperhatikan
oleh
perempuan. Kesehatan adalah ketiadaan sakit, penyakit, atau luka (Hahn
dan Payne, 2003: 5). Dilihat dari segi pencegahan, kesehatan dapat
didefinisikan sebagai ketiadaan risiko tinggi bagi penyakit di masa datang
(Hahn dan Payne, 2003: 5). Kondisi sehat diyakini sebagai kondisi yang
dibutuhkan manusia untuk dapat melaksanakan kegiatannya secara
optimal.
Mooko (2005: 119) mendapati lebih dari 30% respondennya
menyatakan bahwa informasi kesehatan merupakan kebutuhan informasi
mereka. Brown dkk. menyatakan bahwa perempuan membutuhkan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
17
informasi kesehatan baik tentang melahirkan sampai dengan menopause,
maupun tentang penyakit yang sedang diderita (2002: 225). Warner dan
Procaccino (2004: 714) menyebutkan beberapa kebutuhan informasi
kesehatan perempuan, yakni informasi tentang gejala penyakit tertentu,
diagnosa dan tindakan yang bisa diambil dalam penyembuhan penyakit
tertentu,
nutrisi,
perawatan
medis,
pencegahan
penyakit,
dan
kebugaran.
Selain kesehatan, adalah suatu hal yang alamiah jika perempuan
sangat memperhatikan kondisi kecantikannya. Perubahan fsik yang
dialami semasa kehamilan merupakan hal yang diperhatikan oleh
perempuan Keinginan untuk tampil menarik di mata orang lain
menimbulkan kebutuhan informasi tertentu bagi perempuan.
2. Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi
Semenjak kehadiran anak tersebut, orang tua mengemban peran
dan tugas dalam pengasuhannya. Gage dkk. (2006: 58) menunjukkan
bahwa dalam banyak penelitian mengenai pengasuhan anak, definisi
pengasuhan anak itu sendiri tidak diungkapkan secara eksplisit, namun
secara umum implisit dalam domain instrumen atau melalui deskripsi
tanggung jawab, tugas dan peran yang diharapkan dilaksanakan oleh
orang tua.
Duvall dan Brent (1980: 192) menjelaskan bahwa orang tua
bertanggung jawab untuk menjaga dan menstimulasi perkembangan dan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
18
sosialisasi anak. Mereka adalah pengasuh yang merawat sekaligus
mendidik serta mengembangkan potensi-potensi anak. Dengan demikian,
orang tua memiliki peranan penting dalam mengantarkan anak menjadi
manusia yang berkualitas bukan saja dari segi fisik namun juga
kecerdasan
dan
kepribadiannya.
Orang
tua
diharapkan
memiliki
kemampuan behavorial yang meliputi kemampuan untuk mengobservasi,
memonitor, berkomunikasi, berinteraksi dalam rangka membangun dan
memelihara hubungan, serta memetakan hubungan antar anggota
keluarga (Heath, 2006: 759).
Bagi orang tua dengan bayi dalam keluarganya, Duval dan Brent
(1980: 194) telah menunjukkan beberapa peran dan tugas yang
seharusnya dilaksanakan terhadap bayinya, yaitu:
a. memperhatikan rutinitas kegiatan harian dan istirahat yang sehat,
b. mengembangkan ketrampilan fisik yang sesuai dengan perkembangan
motoriknya,
c. mengembangkan
ekspresi
emosi
yang
positif
akan
beragam
pengalaman, dan
d. berkomunikasi secara efektif.
Heath (2006: 757) mengungkapkan bahwa seiring dengan jalinan
yang aktif dengan anaknya, orang tua bersandar pada dua tipe
pengetahuan yang saling bertindihan: pengetahuan umum tentang
manusia dan perkembangannya dan pengetahuan khusus tentang individu
anak. Memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak memberikan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
19
orang tua ide tentang apa dan kapan yang bisa mereka harapkan pada
anak
mereka.
Hal
tersebut
mendorong
keperluan
terpenuhinya
kebutuhan informasi yang mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung
jawab yang berkaitan.
Kebutuhan informasi perempuan sebagai orang tua terus
berkembang setiap hari seiring berkembangnya kebutuhan dan peran
serta tugas anaknya. Hall dalam Gage dkk. (2006: 59) menyatakan
bahwa, setelah kelahiran anaknya, perempuan memiliki multi peran dan
mengalami beban ketika dia tidak dapat memenuhi harapan akan peran
dan tanggung jawab barunya. Oleh karenanya, untuk menjalankan
perannya secara efektif, perempuan perlu secara berkesinambungan
menyadari
dan
berusaha
memenuhi
perkembangan
kebutuhan
informasinya.
C. Perilaku Pencarian Informasi
Pemenuhan kebutuhan informasi dilaksanakan melalui pencarian
informasi.
Pencarian
dijalankan
untuk
informasi
adalah
mengidentifikasi
dan
kegiatan
individual
memilih
informasi
yang
untuk
memuaskan kebutuhan informasi yang telah terdeteksi, kepuasan yang
memungkinkan individu untuk memecahkan masalah atau membuat
keputusan (Correia dan Wilson, 2001). Brown dkk. menunjukkan bahwa
pencarian informasi mencerminkan kebutuhan perempuan untuk mencari
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
20
informasi yang akurat dan handal yang dengannya perempuan bisa
membuat keputusan yang masuk akal (2002: 226).
1. Sumber Informasi
Sumber informasi merupakan hal, barang atau manusia yang bisa
menyediakan informasi yang dibutuhkan dan bisa dimanfaatkan oleh
pencari informasi. Sumber informasi bisa berupa sumber informasi
terekam maupun sumber informasi manusia. Sumber informasi terekam
memiliki bentuk berbeda-beda; tertulis/ tercetak, dalam bentuk
rekaman suara, maupun sumber informasi elektronik. Di sisi lain, sumber
informasi manusia (personal) bisa diakses secara formal maupun
informal.
Beberapa contoh dari sumber informasi tertulis/tercetak adalah
catatan, koran, buku, jurnal, dsb. Sumber informasi elektronik bisa
berupa cakra padat, kaset, situs internet, dll. Jenis sumber infomasi
terekam tersebut biasanya melibatkan penyedia informasi untuk bisa
diakses oleh pencari maupun pengguna informasi. Sebagai ibu rumah
tangga yang sebagian besar waktu dalam kesehariannya dihabiskan di
rumah, televisi, radio, tabloid, dan semacamnya merupakan sumber
informasi yang biasa dimanfaatkan oleh para perempuan Jombang.
Di sisi lain, sumber informasi personal adalah ketika manusia
berperan sebagai penyampai informasi yang dibutuhkan oleh pencari
informasi. Akses terhadap sumber informasi ini mensyaratkan terjadinya
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
21
komunikasi interpersonal antara pencari dan sumber informasi. Salah
satu contoh komunikasi formal antara pencari dan sumber informasi
adalah komunikasi antara pasien dan dokter. Dalam keadaan ini, pasien
merupakan
individu
pencari
informasi
yang
berusaha
memenuhi
kebutuhan informasi melalui penjelasan yang dinyatakan oleh dokter
tersebut.
Dalam pencarian informasi mengenai kehamilan, kelahiran,
menyusui, dan pengasuhan anak, pusat layanan kesehatan merupakan
pilihan sumber informasi formal yang tersedia. Dalam kondisi jauh dari
keluarga (orang tua, saudara yang sudah berpengalaman) sebagai sumber
informasi personal, profesional kesehatan adalah pilihan sebagai sumber
informasi personal yang bisa dimanfaatkan oleh para perempuan di
Jombang.
Dalam keadaan informal, teman, keluarga, atau tetangga bisa
menjadi sumber informasi bagi pencari informasi. Informasi bisa berasal
dari pengalaman lampau, baik pengalaman pribadi maupun kumpulan
dari pengalaman teman dan orang lain, namun kebanyakan informasi
baru didapatkan dari bidan dan sumber-sumber profesional kesehatan
lain (Levy, 1998: 112). Menurut sejarah, perempuan belajar teknik
menyusui yang sesuai dari ibu, nenek, saudara, dan tetangganya (Corky
Harvey dalam Levy, 1998: 112). Perempuan mengajari perempuan masih
merupakan cara terbaik yang dilaksanakan.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
22
Dalam
pencarian
informasi,
individu
memiliki
beberapa
pertimbangan dalam memilih sumber informasi. Durrance dalam Varjels
(1986: 74) menyebutkan bahwa individu cenderung mencari informasi
yang paling mungkin diakses. Selanjutnya, Durrance menyatakan bahwa
tipe individu yang berbeda menggunakan sumber informasi yang
berbeda. Meskipun demikian, Durrance juga menyatakan bahwa individu
pada umumnya lebih menyukai komunikasi secara berhadapan sebagai
cara mengakses informasi dari sumber informasi.
2. Pencarian Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Pencarian informasi dapat dianalisis dalam dua konteks besar:
yang berhubungan dengan pekerjaan dan yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan.
Pencarian
informasi
yang
tidak
berhubungan
dengan
pekerjaan disebut juga pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari
(everyday
life
information
seeking).
Pencarian
informasi
dalam
kehidupan sehari-hari merupakan upaya pengadaan berbagai elemen
informasional (baik kognitif maupun ekspresif) yang dipergunakan
individu untuk mengorientasikan diri mereka dalam kehidupan seharihari atau memecahkan masalah yang tidak secara langsung berhubungan
dengan kinerja dan tugas-tugas pekerjaan (Savolainen, 1995: 266-267).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ada dua dimensi yang
bisa diperhatikan dalam pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari
(Savolainen,
1995:
273-287).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
Dimensi
pertama
adalah
pencarian
23
informasi yang mengorientasikan. Dimensi ini berkaitan dengan kejadian
di masa kini. Selanjutnya adalah pencarian informasi praktis, yaitu
pencarian informasi yang menyajikan solusi untuk masalah-masalah
tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pencarian informasi yang mengorientasikan, informasi
dilihat sebagai instrumen untuk meraih hasil yang berbeda-beda. Individu
dalam kegiatan sehari-harinya memiliki semangat untuk mempelajari hal
baru dan berusaha untuk meraih tujuan pribadi. Kegiatan pencarian
informasi dalam dimensi ini terjadi seiring dengan kegiatan individu
mengkonsumsi publikasi ilmiah dan budaya, membaca koran, melihat
program
televisi
ataupun
mendengarkan
radio.
Informasi
yang
dikonsumsi khususnya adalah yang berkenaan dengan kepemimpinan,
ilmu, politik dan budaya, isu terkini, dan perkembangan sosial budaya.
Pencarian informasi praktis merupakan pencarian informasi yang
sengaja dilaksanakan. Informasi yang diinginkan dalam dimensi ini adalah
informasi yang akurat, yang bisa diaplikasikan untuk penyelesaian
masalah yang sedang dihadapi. Oleh karenanya, dalam pencarian
informasi ini, sumber informasi personal lebih disukai. Karena pencarian
informasi ini timbul ketika ada hal yang harus dihadapi dengan segera,
maka komunikasi sebagai kegiatan pencarian informasi dilaksanakan.
Beberapa
penelitian
tentang
pencarian
informasi
dalam
kehidupan sehari-hari telah dilaksanakan. Penelitian dalam bidang ini
dilaksanakan terhadap pelajar, mahasiswa dan pemuda, sebagaimana
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
24
yang dilaksanakan oleh Agosto dan Hugjes Hassell (2005), Jeong (2004),
dan Given (2002). Penelitian di bidang ini juga banyak dilaksanakan
sehubungan dengan pencarian informasi kesehatan: Brown dkk. (2002),
Warner dan Procaccino (2004), Cypowyj dkk. (2003), Davies dan Bath
(2002), dan sebagainya. Lebih dekat kaitannya dengan penelitian ini,
penelitian yang pernah dilaksanakan terhadap ibu rumah tangga
diantaranya adalah McKenzie (2002, 2003, dan 2004), Mooko (2005), Levy
(1999), dan sebagainya.
3. Hambatan-hambatan dalam Pencarian Informasi
Ketika individu melaksanakan pencarian informasi, dia bisa
mengalami hambatan yang menghalanginya mendapatkan informasi yang
dia butuhkan atau inginkan. Hambatan tersebut muncul karena beberapa
komponen. Hambatan bisa timbul dari pencari informasi, sumber
informasi, maupun dari pencari dan sumber informasi sekaligus.
Pencari informasi menimbulkan beberapa hambatan dalam
memenuhi kebutuhan informasinya. Harry dan Dewdney dalam Julien
(1999: 45) menyimpulkan bahwa hambatan tersebut meliputi: tidak
mengetahui
mendapatkan
kebutuhan
informasi
informasinya;
yang
tidak
dibutuhkannya;
mengetahui
tidak
dimana
mengetahui
keberadaan sumber informasi yang dibutuhkannya; tidak menemukan
sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasinya; dan
kurangnya ketrampilan komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
25
Bagaimanapun juga, hambatan dari pencari informasi banyak disebabkan
oleh keterbatasan pengetahuan terhadap sumber informasi yang tersedia
(Chen dan Hernon, 1982: 18-19). Hal ini menyebabkan pencari informasi
tidak mengetahui bagaimana dan kapan dia bisa memenuhi kebutuhan
informasinya.
Dari komponen sumber informasi, hambatan dapat dialami
pencari informasi karena beberapa hal seperti ketidaktersediaan maupun
keterbatasan akses terhadap sumber informasi itu sendiri, masalah
teknis yang timbul dalam penyediaan sumber informasi terekam, maupun
komunikasi yang kurang lancar dengan sumber informasi personal.
Ketidaktersediaan maupun keterbatasan akses bisa disebabkan oleh
aturan yang mengikat yang menimbulkan larangan, pembatasan akses
terhadap sumber informasi yang diterapkan oleh penyedia sumber
informasi (Chen dan Hernon, 1982: 18).
Salah satu hambatan yang dihadapi pencari informasi pada
kegiatan komunikasi interpersonal dengan sumber informasi manusia
adalah hambatan penyingkapan (disclosure barrier). McKenzie (2002: 3536) menyatakan bentuk hambatan ini sebagai hambatan yang berasal
dari penyedia/sumber informasi ketika dia tidak berkenan untuk
menjawab atau menyajikan jawaban atau informasi atas pertanyaan
yang diajukan oleh pencari informasi. Dalam penelitiannya, McKenzie
menemukan bahwa perempuan seringkali menggambarkan hambatan
yang berhubungan dengan pengelakan, penundaan, atau kepura-puraan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
26
serta pembelit-belitan. Hal ini seringkali terjadi terutama dalam
komunikasi formal antara pencari dan penyedia informasi.
Hambatan lain adalah hambatan yang didorong oleh kedua belah
pihak, pencari dan penyedia informasi. McKenzie (2002: 36) menyatakan
bahwa hambatan ini biasanya terjadi ketika pencari informasi enggan
mengajukan pertanyaan kepada penyedia informasi meskipun sedang
berhadapan atau berinteraksi dengan penyedia informasinya. Sebagai
contoh, keengganan tersebut terjadi ketika pencari informasi berasumsi
bahwa penyedia informasi telah mengakhiri percakapan yang sedang
mereka jalankan.
4. Model Konseptual Pencarian Informasi dalam Kebutuhan Sehari-hari
Bagaimanapun
juga,
untuk
analisis
yang
mendalam
dan
kontekstual, model atau pola pencarian informasi yang lebih umum
adalah lebih sesuai (McKenzie, 2003: 25). Sebagaimana yang telah
disinggung pada 2.3.2, Salvolainen menyatakan dua dimensi pencarian
informasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pencarian informasi yang
mengorientasikan dan pencarian informasi praktis. Senada dengan apa
yang dikemukakannya, McKenzie (2003: 25–36) mengajukan suatu model
dua-dimensi praktik informasi.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
27
Gambar 2.1. Model Konseptual Praktik Informasi Dua Dimensi
Kolom pertama dari gambar diatas menyatakan model pencarian
informasi yang terjadi. Empat model tersebut adalah:
a. Pencarian aktif (active seeking) yaitu praktik informasi yang paling
terarah. Dalam tipe pencarian ini, informasi yang dicari sudah
teridentifikasi,
ditentukan,
dan
pencarian
dilaksanakan
secara
terencana dan sistematis.
b. Pemindaian aktif (active scanning) yaitu mengidentifikasi sumber
informasi yang sesuai, melaksanakan pencarian secara aktif, namun
tidak terencana secara mendetail.
c. Pengawasan yang tidak terarah (non-directive monitoring) terjadi
ketika seseorang secara kebetulan mengenali dan memanfaatkan
sumber informasi, seperti ketika membaca koran dan kebetulan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
28
menemukan artikel yang bisa memenuhi kebutuhan informasinya.
Model ini sesuai dengan pernyataan Salvolainen (1995) tentang
monitoring the context.
d. By proxy yaitu ketika seseorang berinteraksi dengan sumber informasi
melalui perantara. Dalam hal ini, perantara menyampaikan pertanyaan
atau permintaan atas informasi sesuai dengan kebutuhan asli individu
yang memiliki kebutuhan tersebut.
Baris pertama dalam gambar menunjukkan fase tingkatan proses
informasi, yaitu membina hubungan (connecting) dan berinteraksi –
dengan sumber informasi- (interacting). Kedua kegiatan tersebut
melibatkan usaha dan hambatan. Dalam fase yang pertama, usaha dan
hambatan terjadi dalam rangka mengidentifikasi sumber informasi dan
menghubungi sumber informasi tersebut. Dalam fase yang kedua,
gambaran tentang usaha dan hambatan terjadi selama individu
berhadapan langsung dengan sumber informasi.
Kombinasi antara model dan fase tersebut menghasilkan model
dua dimensi yang tertuangkan dalam gambar 3.1 di atas. McKenzie
menyatakan hasil kombinasi tersebut sebagai praktik informasi. Uraian
tentang kombinasi tersebut disusun secara berurutan dari atas ke bawah
dimulai dari kolom fase menjalin hubungan dengan sumber informasi.
a. Praktik informasi dalam rangka menjalin hubungan dengan sumber
informasi.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
29
a.1. Menjalin hubungan melalui pencarian secara aktif terhadap sumber
informasi. Praktik ini memiliki beberapa karakteristik tertentu.
Pertama, pencarian aktif terjadi sebagai tanggapan terhadap
keberadaan
tujuan
atau
pertanyaan
tertentu.
Selanjutnya,
pencarian secara aktif berarti individu memberikan perhatian yang
sistematis terhadap proses menjalin hubungan. Ciri utama adalah
adanya kesadaran individu terhadap ketersediaan sumber yang bisa
membantunya, seperti dokter, pustakawan, buku tertentu, teman,
dll.
a.2. Menjalin hubungan melalui pemindaian aktif. Pemindaian aktif
meliputi mencari dan mengenali sumber informasi yang sesuai, tidak
secara aktif, namun tetap mengingat kebutuhan informasi yang
dibutuhkan. Praktik ini merupakan pemindaian secara aktif terhadap
sumber informasi secara umum. Selain itu, pemindaian aktif ini juga
terjadi ketika individu mengenali atau menyadari sumber informasi
yang sesuai yang berhubungan dengan kebutuhan informasi namun
tidak harus dihubungi saat itu juga.
a.3. Menjalin hubungan melalui pemonitoran tak terarah. Praktik ini
ditandai dengan tidak adanya tujuan khusus pencarian informasi.
Individu tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan suatu
informasi
sampai
mereka
mendapati
infomasi
atau
sumber
informasinya. Jadi, praktik ini biasa terjadi secara spontan dalam
kegiatan keseharian.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
30
a.4. Menjalin hubungan melalui perantara. Praktik ini terjadi ketika ada
pihak ketiga yang memberikan informasi tentang sumber informasi
yang sesuai dengan yang dia duga dibutuhkan oleh seorang individu.
Selain itu, praktik ini juga terjadi ketika sumber informasi itu sendiri
mengenali orang yang membutuhkan informasi darinya dan dia
menyampaikannya kepada individu tersebut.
b. Praktik informasi dalam rangka berinteraksi dengan sumber informasi.
Pencarian aktif dalam pemerolehan informasi. Dalam praktik ini, individu
biasanya membuat daftar pertanyaan, perencanaan dan strategi
berinteraksi dengan sumber informasi.
b.1. Pemindaian aktif dalam pemerolehan informasi. Praktik ini terjadi
ketika individu menyadari kebutuhan informasinya dan mendapatkan
informasi yang diperolehnya dari hasil interaksinya dengan sumber
informasi yang tidak dia cari secara sengaja. Selanjutnya, individu
akan mengalami information encountering, yaitu pengalaman yang
bisa diingat dari penemuan secara tidak sengaja tentang informasi
yang menarik atau berguna (Erdelez, 1999).
b.2. Pemonitoran tak terarah dalam pemerolehan informasi. Praktik ini
terjadi ketika secara kebetulan seorang individu pencari informasi
berinteraksi dengan individu lain yang kemudian berperan sebagai
sumber
informasinya
karena
memberikan
informasi
yang
dibutuhkannya. Praktik tersebut bisa terjadi di jalan, ketika
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
31
bertemu teman, atau dalam kondisi lain di tengah-tengah kegiatan
keseharian individu tersebut.
b.3. Interaksi by proxy: diberitahu. Informasi diperoleh dari sumber
informasi yang memberitahunya tanpa diminta oleh individu pencari
informasi.
D. Profil Kabupaten Jombang
Jombang adalah kabupaten yang terletak di bagian tengah
Provinsi Jawa Timur. Luas wilayahnya 1.159,50 km², dan jumlah
penduduknya 1.165.720 jiwa (2005). Pusat kota Jombang terletak di
tengah-tengah wilayah Kabupaten, memiliki ketinggian 44 meter di atas
permukaan laut, dan berjarak 79 km (1,5 jam perjalanan) dari barat
daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Jombang memiliki
posisi yang sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas
selatan Pulau Jawa (Surabaya-Madiun-Jogjakarta), jalur SurabayaTulungagung, serta jalur Malang-Tuban.
Jombang juga dikenal dengan sebutan "kota santri", karena
banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya.
Bahkan ada pameo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok
pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di
Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang
terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, dan Darul Ulum
(Rejoso).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
32
1. Demografi Penduduk
Penduduk Jombang pada umumnya adalah etnis Jawa. Bahasa
Jawa merupakan bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa seharihari. Bahasa Jawa yang dituturkan banyak memiliki pengaruh dialek
Surabaya yang terkenal egaliter dan blak-blakan.
Jumlah penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2007 adalah
1.165.720 jiwa, dan 604.810 di antaranya adalah perempuan.
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Perempuan Usia 15 sampai dengan 44
Kabupaten Jombang Tahun 2007
No
Kelompok Usia (Tahun)
Jumlah Penduduk
Perempuan
1
15 - 19
64.654
2
20 - 24
52.614
3
25 - 29
51.390
4
30 - 34
50.475
5
35 - 39
47.195
6
40 - 44
39.343
JUMLAH
305.771
Jumlah perempuan yang potensial menjadi ibu mengandung dan
mengasuh bayi adalah sebanyak 305.771 jiwa.
Mereka memiliki tingkat pendidikan tertentu. 64.654 orang di
antara mereka berada di usia SLTA. Statistik menunjukkan, dikurangi
usia aktif SLTA tersebut, maka tingkat pendidikan terbanyak yang
dimiliki
oleh
perempuan
Jombang
dengan
usia
potensial
utuk
mengandung dan mengasuh bayi adalah SLTA. SLTP menunjukkan
terbanyak kedua, disusul dengan universitas dan diploma.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
33
Tabel 2.2 Tingkat Pendidikan Perempuan
Kabupaten Jombang Tahun 2007
Tingkat Pendidikan
Jumlah Penduduk
SLTP
90.722
SLTA
64.594
AK/ DIPLOMA
3.508
UNIVERSITAS
7.742
JUMLAH
305.771
No
1
2
3
4
2. Karakteristik Perempuan Jombang
Perempuan warga Jombang pada umumnya adalah perempuan
yang aktif dan terbuka. Tentu saja, setiap individu berbeda watak dan
sifat.
Perbedaan
tersebut
mempengaruhi
perilaku
sehari-harinya.
Namun, sebagaimana umumnya orang Jawa Timur, perempuan Jombang
memiliki karakteristik terbuka dalam berpikir maupun berbicara. Dan
dengan tradisi yang terjadi di Jombang, perempuan memiliki kesempatan
untuk menjadi aktif, terbuka dan menjadi pemimpin.
Keterbukaan berpikir dan andil signifikan perempuan dalam
kepemimpinan
di
Jombang
dapat
dilihat
melalui
fenomena
keorganisasian dan Saat ini, banyak perempuan Jombang yang berkiprah
mendirikan
atau
aktif
dalam
organisasi
dan
lembaga
swadaya
masyarakat, baik yang berfokus pada masalah keperempuanan maupun
tidak. Diantara lembaga yang berperspektif perempuan dan dikelola oleh
perempuan adalah Jombang Care Center, yang fokus pada kesejahteraan
keluarga, Jombang Women Center, yang menengani kekerasan terhadap
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
34
perempuan, maupun kelompok anti diskriminasi dan prostitusi Jombang
yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang terkait, dan sebagainya.
Isu tentang kesetaraan untuk perempuan Jombang baik dalam hal
pendidikan, kesejahteraan keluarga, maupun politik senantiasa menjadi
wacana dalam berbagai diskusi dan proses pengambilan keputusan di
berbagai organisasi. Salah satu contoh adalah Lakspedam NU Jombang
yang selalu mengangkat dan mendiskusikan kondisi riil yang sedang
dihadapi perempuan Jombang dalam berbagi sektor melalu acara radio di
Surga FM.
Di Kabupaten Jombang, tersebar banyak pesantren untuk santri
anak-anak sampai dengan santri lanjut usia. Yang paling menonjol adalah
empat pesantren besar yang telah berdiri sejak lama. Pendiri empat
pesantren tersebut adalah para ulama yang kemudian dengan temantemannya mendirikan Nahdlatul Ulama.
Empat pesantren tersebut tersebar di empat penjuru kecamatan
yang bersebelahan dengan Kota Jombang. Di sebelah utara, ada
Pesantren bahrul Ulum Tambak Beras yang berada di Kecamatan
Tembelang. Pesantren di sebelah timur Kota Jombang adalah Pesantren
Darul Ulum, Peterongan. Pesantren Tebuireng terletak di
Kecamatan
Seblak, di sebelah selatan. Di sebelah barat, masih di Kecamatan
Jombang, terdapat Pesantren Mambaul Maarif Denanyar.
Pada pesantren yang disebutkan terakhir ini, berdiri pesantren
putri pertama di Indonesia. Pelopor pendiri adalah Nyai Khodijah
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
35
Hasbullah, istri Kyai Bisri Syansuri dan adik dari Kyai Wahab Hasbullah.
Kedua Kyai tersebut merupakan pendiri nahdlatul Ulama. Sejarah ini
menunjukkan bahwa perempuan di jombang telah menunjukkan tajinya,
terutama dalam pengembangan sumber daya perempuan lain.
Sampai sekarang, pesantren mempengaruhi hajat hidup warga
Jombang di berbagai aspek. Aspek pendidikan, sosial, ekonomi, sampai
dengan politik sangat tergantung pada pesantren. Karena jumlah
pesantren yang banyak, hampir semua warga Jombang adalah warga
yang hidup di sekitar pesantren.
Bagaimanapun, sifat berjuang dan terbuka pada individu
perempuan
Jombang
sangat
tergantung
pada
sifat,
watak
dan
pengetahuannya. Perilaku perempuan akan berbeda satu sama lain. Jika
pada dasarnya seorang perempuan adalah pesimis, tertutup dan pasif,
maka dia akan melaksanakan pencarian informasi dengan cara yang
sangat berbeda dengan perempuan yang optimis, terbuka, dan aktif.
3. Sumber Informasi untuk Ibu Mengandung dan Mengasuh Bayi
Untuk kepentingan pencarian informasi, perempuan termasuk ibu
mengandung dan mengasuh bayi di Jombang bisa memanfaatkan banyak
sumber informasi. Fasilitas-fasilitas maupun sumber informasi yang siap
dan sesuai untuk diakses telah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten,
Organisasi-organisasi
Masyarakat,
maupun
Pengusaha
Usaha
Kecil
Menengah di lingkungan Kabupaten Jombang.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
36
Bagi warganya, Pemerintah Kabupaten Jombang menyediakan
fasilitas hotspot untuk mengakses internet secara gratis. Fasilitas
tersebut disediakan sejak Juli 2007. Fasilitas tersebut diposisikan di
tempat-tempat strategis; alun-alun, kebun rojo (tempat rekreasi
keluarga di Jombang), kantor-kantor pemerintahan, dan beberapa
sekolah.
Agar warganya bisa mendapatkan informasi terbaru seputar
kegiatan pemerintah dan situasi yang terjadi di Kabupaten Jombang,
Pemerintah
Kabupaten
menyajikan
situs
Jombangkab.go.id.
Situs
tersebut merupakan sumber informasi mengenai kegiatan Pemerintah
Kabupaten Jombang beserta semua dinas maupun badan lain di bawah
naungan Pemerintah Kabupaten. Situs ini juga menyediakan fasilitas
tanya-jawab untuk ibu mengandung dan mengasuh bayi, yaitu tentang
masalah kesehatan anak dan kesehatan reproduksi.
Salah satu dinas yang erat kaitannya dengan informasi yang
umum dibutuhkan oleh perempuan hamil dan mengasuh bayi adalah
Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan secara kontinyu memperbaharui isi
situs sesuai dengan program yang mereka jalankan. Banyak sekali
informasi tentang kesehatan ibu dan bayi dan program-program
kesehatan yang dicanangkan untuk kepentingan ibu dan bayi.
Selain aktif menyediakan informasi melalui internet, Dinas
Kesehatan juga aktif dalam menyebarkan layanan informasi kesehatan.
Layanan informasi kesehatan yang sangat berhubungan dengan ibu hamil
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
37
dan mengasuh bayi adalah layanan informasi kesehatan dan layanan
kesehatan yang disediakan melalui puskesmas. Para ibu mengandung dan
mengasuh bayi di Jombang bisa mengakses ahli gizi, bidan, dokter
kandungan sampai dengan dokter anak di puskesmas.
Lembaga penyedia informasi lain adalah Perpustakaan Mastrip.
Perpustakaan ini terletak di Kota Jombang. Perpustakaan Mastrip
menyediakan banyak sumber informasi berupa buku yang berhubungan
dengan keperluan keluarga. Perpustakaan ini membuka peluang selebarlebarnya bagi ibu mengandung dan mengasuh bayi di Jombang untuk
memperkaya informasi dalam menjalani peran dan tanggung jawab
mereka sehari-hari di Jombang.
Taman bacaan yang berorientasikan keuntungan banyak tersebar
di penjuru Kabupaten Jombang. Kebanyakan dari taman-taman bacaan
tersebut menyewakan komik dan novel. Namun, ada juga taman bacaan
yang menyediakan buku-buku psikologi populer, sosial populer, dan
majalah-majalah berbagai genre yang bisa dimanfaatkan oleh para ibu
mengandung dan mengasuh bayi. Keberadaan taman bacaan tersebut
merupakan salah satu sebab sedikitnya toko buku, dimana untuk
mengakses informasi, sesorang harus mengeluarkan biaya lebih dengan
membeli buku daripada menyewa.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
38
E. Kerangka Berpikir Penelitian
Asumsi dasar dari penelitian ini adalah bahwa perempuan
memiliki suatu dorongan untuk berusaha memberi yang terbaik untuk
anak atau calon anaknya. Usaha tersebut menimbulkan kebutuhan
informasi. Kebutuhan tersebut memicu kegiatan pencarian informasi
yang berkaitan secara aktif maupun tidak. Pencarian informasi tersebut
dilaksanakan dari berbagai sumber. Dalam pencarian informasi tersebut,
para perempuan akan mengalami berbagai hambatan.
Informasi merupakan objek yang dibutuhkan oleh perempuan
hamil atau sedang mengasuh bayi sebagai dasar pengambilan keputusan
dalam perannya sebagai perempuan hamil maupun mengasuh bayi.
Kebutuhan informasi merupakan informasi yang ingin ataupun seharusnya
didapatkan berkenaan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi oleh
perempuan objek penelitian.
Sumber informasi adalah media terekam (baik cetak maupun
elektronik), lembaga, individu, maupun lembaga yang bisa menyajikan
atau menyampaikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi
para perempuan objek penelitian. Pencarian informasi merupakan upaya
yang dilaksanakan oleh para perempuan untuk memenuhi kebutuhan
informasinya. Sedangkan, hambatan dalam pencarian informasi adalah
hal-hal yang dianggap mengganggu maupun menghalangi kelancaran dan
kesuksesan pencarian informasi dan pemanfaatan informasi yang telah
didapatkan.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
39
Dalam penelitian ini, keempat hal tersebut (kebutuhan informasi,
sumber informasi, pencarian informasi, dan hambatan dalam pencarian
informasi) merupakan faktor-faktor yang mengindikasikan perilaku
pencarian informasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan karakeristik
unik Kabupaten Jombang, maka Berpedoman pada konsep tersebut, para
ibu hamil dan mengasuh bayi pun memiliki perilaku yang unik dalam
pencarian informasi. Dengan demikian, penulis bermaksud meneliti
kebutuhan informasi yang berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan
bayi dan perilaku pencarian informasi oleh perempuan yang sedang
mengalaminya, yaitu perempuan hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten
Jombang.
Berikut adalah kerangka berpikir pada penelitian ini.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
40
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini
meghasilkan data deskriptif yang berasal dari perkataan dan tingkah laku
informan.
Selanjutnya,
data
tersebut
diteliti
untuk
memperoleh
gambaran yang sesuai dan komperhensif tentang kebutuhan dan perilaku
pencarian informasi informan.
A. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah perempuan hamil atau mengasuh
bayi yang berdomisili di Kabupaten Jombang. Objek penelitian adalah
kebutuhan dan perilaku pencarian informasi para perempuan tersebut
tentang kehamilan dan pengasuhan bayi.
B. Lokasi dan waktu Penelitian
Lokasi Penelitian adalah Kabupaten Jombang. Waktu pelaksanaan
penelitian adalah Mei sampai dengan Desember 2007.
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berkaitan erat dengan 2 jenis
data yang diambil, yaitu:
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
41
1. Data primer
Data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Dalam penelitian ini data
dapat diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian dengan cara
wawancara kepada informan serta hasil wawancara dengan staf dinas
kesehatan
dan
individu-individu
yang
dinilai
kompeten
dalam
memberikan informasi yang sesuai.
2. Data sekunder
Data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Data
tersebut berupa dokumen, jurnal, arsip, maupun profil kesehatan
Kabupaten Jombang yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.
D. Informan Penelitian
Lima informan merupakan sumber data primer dalam penelitian
ini. Pemilihan informan adalah berdasarkan pemilihan sampel bertujuan.
Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah perempuan yang
dianggap bisa menyampaikan informasi yang mantap dan terpercaya
untuk penelitian ini. Selain itu, informan juga harus memenuhi kriteria
tertentu, yaitu:
1. mengalami masa kehamilan pada tahun 2007.
2. berdomisili dan melaksanakan kegiatan sehari-hari di Kabupaten
Jombang.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
42
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah:
1. Wawancara
Dalam penelitian ini, wawancara yang dilaksankan adalah wawancara
semi terstruktur. Wawancara dilaksanakan berdasarkan panduan yang
telah disusun (lampiran 1). Pelaksanaan wawancara adalah terhadap satu
informan pada satu waktu. Wawancara dilaksanakan secara bertatap
muka. Lokasi wawancara di tempat tinggal informan atau di rumah orang
tua informan. Durasi rata-rata per wawancara dengan informan adalah
40 menit.
Tabel 3.1. Kisi-kisi wawancara
No Variabel
1
Kebutuhan
informasi
Sub variabel
Kebutuhan
informasi
kehamilan
Kebutuhan
informasi
pegasuhan bayi
2
Sumber
informasi
Sumber
informasi
terekam
Sumber
informasi
formal
Sumber
informasi
personal
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
Keterangan
Ditanyakan pada
pertanyaan no 1 & 5, dan
dikonfirmasi pada A.1
pada panduan wawancara
Ditanyakan pada
pertanyaan 2 & 5, dan
dikonfirmasi pada A.2
pada panduan wawancara
Ditanyakan pada
pertanyaan no 2 & 4 dan
dikonfirmasi pada B.1 &
B.2 pada panduan
wawancara
Ditanyakan pada
pertanyaan no. 2 & 4, dan
dikonfirmasi pada B.3 & B.
4 pada panduan
wawancara
Ditanyakan pada
pertanyaan no 2 & 4 dan
dikonfirmasi pada B.5 &
43
3
Pencarian
informasi
4
Hambatan
pencarian
informasi
Hambatan
ketika sedang
melaksanakan
pencarian
informasi
B.9 pada panduan
wawancara
Ditanyakan pada
pertanyaan no. 2 & 4 pada
panduan wawancara
Ditanyakan pada
pertanyaan 6 pada
panduan wawancara dan
dikonfirmasi pada C
2. Dokumentasi kepustakaan
Peneliti mempelajari dokumen-dokumen untuk memperkaya data dan
informasi untuk penelitian ini. Dokumen tersebut meliputi profil
kesehatan Kabupaten Jombang, laporan pelayanan informasi kesehatan
Kabupaten Jombang, dan berbagai artikel dari situs, koran, maupun
jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian. Peneliti menggunakan
dokumen-dokumen tersebut sebagai data sekunder yang mendukung
pembahasan atas interpretasi hasil wawancara.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tahapan analisis data
kualitatif sebagaimana yang dinyatakan oleh McDrury dalam Moleong
(2007: 248). Tahapan analisis yang peneliti lakukan adalah:
1. membaca/ mempelajari data hasil wawancara dan pengamatan,
menandai kata-kata kunci yang berkaitan menunjukkan perilaku
pencarian informasi.
2. mempelajari kata-kata kunci tersebut dan berupaya menemukan
tema-tema yang berasal dari data, dan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
44
3. menggambarkan
model
perilaku
pencarian
informasi
yang
dilaksanakan oleh informan.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
45
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Gambaran Karakteristik Informan
Lima perempuan telah menjadi informan dalam penelitian ini.
Berikut ini adalah gambaran profil kelima informan tersebut. Dengan
persetujuan informan, nama yang digunakan untuk mewakili informan
adalah nama panggilan yang tidak biasa mereka gunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Urutan penyebutan informan di bawah ini adalah
sesuai dengan urutan wawancara.
1. Gambaran Karakteristik Informan Ana
Informan pertama ini adalah seorang ibu rumah tangga.
Informan ini merupakan lulusan SLTP. Meskipun demikian, informan juga
merupakan guru mengaji di sebuah pesantren di daerah pinggir Kota
Jombang.
Informan Ana berasal dari Blora, Jawa Tengah. Sejak sebelum
menikah, informan ini telah berdomisili di Kabupaten Jombang. Informan
ini telah berdomisili di Kabupaten Jombang selama 14 tahun.
Informan Ana telah menikah selama 9 tahun. Dia dan suaminya
memiliki dua orang anak, berusia 8 tahun dan 4,5 tahun. Tahun 2007,
pada usianya yang ke 32, informan ini sedang mengandung anak
ketiganya. Usia kehamilannya pada awal Desember 2007 adalah 3,5
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
46
bulan. Ana dipilih sebagai informan dalam penelitian ini karena
pengalamannya dalam menjalani tiga kali kehamilan dan satu kali
kelahiran di Kabupaten Jombang.
2. Gambaran Karakteristik Informan Alus
Informan Alus juga seorang ibu rumah tangga. Keputusan untuk
meninggalkan pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga diambil sejak
awal kehamilan anak pertama. Kini, informan Alus telah melahirkan dua
anak pertamanya, yang keduanya adalah perempuan. Usia keduanya di
awal Desember 2007 telah mencapai tujuh bulan.
Informan Alus berusia 28 tahun. Suaminya bekerja sebagai
pegawai sebuah Bank di Kabupaten Jombang. Informan Alus lahir di
Jombang dan sampai saat ini masih tinggal di Jombang. Informan ini
pernah untuk sementara berdomisili di luar Kabupaten Jombang, yaitu
selama empat tahun ketika dia menyelesaikan pendidikan S-1nya di
Jember, Jawa Timur.
Alasan peneliti untuk melibatkan Alus sebagai informan dalam
penelitian ini adalah:
1. lingkungan informan yang mendukung tergalinya berbagai informasi
tentang kehamilan dan pengasuhan bayi bagi informan. Informan saat
ini tinggal bersama ibunya yang seorang bidan dan membuka praktik
di rumah.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
47
2. Alus telah lama berdomisili di Jombang, sehingga peneliti berasumsi
bahwa Alus mengenal dan terbiasa dengan kondisi serta situasi
Jombang.
3. Gambaran Karakteristik Informan Anis
Informan Anis juga seorang ibu rumah tangga. Informan ini
berusia 32 tahun. Informan lulusan SLTA ini memiliki suami yang
berprofesi sebagai satpam. Mereka telah berumah tangga selama lebih
dari 15 tahun.
Hingga kini, pasangan tersebut telah dikaruniai 3 orang anak.
Jarak usia antara satu anak dan lainnya cukup jauh. Anak pertama
berusia 14 tahun. Anak kedua berusia 8 tahun dan anak ketiganya berusia
6 bulan.
Anis adalah seorang ibu yang dekat dengan anak-anaknya.
Informan sangat memperhatikan anak-anaknya. Peneliti memandang
informan tersebut memperhatikan informasi yang bisa mendukung
perkembangan anaknya dari berbagai segi. Oleh karenanya, Anis dipilih
sebagai informan dalam penelitian ini.
4. Gambaran Karakteristik Informan Muna
Informan ke empat adalah Muna. Usia informan ini adalah 31
tahun. Informan Muna bersuamikan seorang guru Sekolah Menengah Atas.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
48
Mereka memiliki 2 orang anak. Seorang putri berusia 19 bulan, dan
seorang putra berusia 4 bulan.
Sebagai seorang dokter umum yang pegawai negeri, sehari-hari
informan Muna praktik di Puskesmas di sebelah timur Kota Jombang.
Selain itu, pada sore atau malam hari dan akhir pekan, informan ini juga
bertugas di beberapa rumah sakit swasta di Kabupaten Jombang.
Muna dipilih menjadi informan karena memiliki latar belakang
medis. Dengan demikian, peneliti melihat informan sebagai seorang yang
kompeten dalam memberikan informasi tentang pencarian informasi
kehamilan dan kelahiran, berdasarkan pengalaman informan sebagai
pencari informasi kehamilan dan pengasuhan bayi maupun pengalaman
informan
dalam
mengamati
dan
mengahdapi
perilaku
pencarian
informasi ibu hamil dan mengasuh bayi di lingkungan tempat kerjanya.
5. Gambaran Karakteristik Informan Ida
Informan terakhir adalah informan Ida. Informan Ida berusia 36
tahun. Informan Ida merupakan seorang guru Sekolah Dasar. Sampai saat
ini, pendidikan terakhir informan ini adalah strata satu.
Informan Ida memiliki dua anak. Anak pertama telah berusia
hampir 5 tahun dan anak yang kedua baru lahir pada akhir Agustus 2007.
Sebelum mengandung anak pertama, informan Ida mengalami keguguran.
Pengalaman mengalami tindakan curretage dan kelancaran
kehamilan selanjutnya tersebut membuat peneliti berasumsi bahwa Ida
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
49
memiliki
pengalaman
memperhatikan
yang
kehamilan,
membuatnya
sehingga
lebih
memacu
menjaga
perilaku
dan
pencarian
informasi untuk membuat keputusan-keputusan yang diperlukan.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Pada bagian ini, peneliti menguraikan interpretasi dari hasil
temuan penelitian. Interpretasi didasarkan pada tinjauan literatur yang
telah dibahas pada bab II. Selain dari hasil wawancara dengan informan,
pembahasan ini juga didukung oleh data-data primer dan sekunder lain
yang terkumpul ketika penelitian dilaksanakan. Bagian-bagian dari sub
bab ini merupakan jawaban dari anak pertanyaan penelitian dan pada
akhirnya merupakan jawaban pertanyaan penelitian.
1. Kebutuhan Informasi
Sub sub bab ini merupakan uraian jawaban dari anak pertanyaan
penelitian nomor satu. Secara berurutan, sub sub bab ini tersusun atas
kebutuhan informasi kehamilan dan kebutuhan informasi pengasuhan
bayi.
Tabel 4.1 Daftar Kebutuhan Informasi Kehamilan dan Pengasuhan Bayi
Informan
No Jenis kebutuhan informasi
Detail kebutuhan informasi
1
Kebutuhan
informasi Persiapan kehamilan
kehamilan
Cara hamil bayi dengan jenis
kelamin tertentu
Jenis kelamin janin
Kesehatan ibu dan janin
Gizi ibu dan janin
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
50
2
Pengasuhan Bayi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
Makanan yang harus dikonsumsi ibu
hamil
Mempersiapkan bayi cerdas
Stimulasi ibu hamil agar janin
tumbuh jadi bayi yang cerdas
Penyakit dalam kehamilan
Kehamilan risiko tinggi
persiapan persalinan, tempat, waktu
dan biaya persalinan
Tumbuh kembang janin
Doa
Cara meringankan rasa tidak nyaman
pada masa kehamilan
Senam hamil: kelas, waktu dan
biayanya
Selulit
Pemulihan kesehatan dan stamina
pasca persalinan
Perawatan bayi baru: memandikan,
memakaikan popok, bedong
Sterilitas dalam perawatan bayi
Orang yang membantu merawat bayi
Imunisasi: jenis dan kegunaan
Imunisasi: waktu, tempat dan biaya
Tumbuh kembang bayi
Perkembangan berat badan dan
tinggi bayi
Pertumbuhan gigi
Perkembangan motorik dan bahasa
bayi
Perkembangan kecerdasan bayi
Gizi bayi
Pola makan dan makanan yang harus
diberikan
Cara mendidik anak
Pengalaman
ibu
lain
dalam
pengasuhan bayi dan kabar bayi lain
Doa
Informasi khusus, tergantung situasi
dan kondisi yang sedang dialami
pencari informasi
51
a. Kebutuhan informasi Kehamilan
Sesuai dengan hasil penelitian Levy (1998) tentang pencarian
informasi
kehamilan,
perempuan
yang
menjadi
informan
dalam
penelitian ini juga menunjukkan perhatian terhadap informasi yang
berhubungan dengan cara melindungi kepentingan janin dan diri sendiri.
Kebutuhan informasi informan muncul karena mereka menginginkan yang
terbaik bagi janin yang dikandungnya. Hal tersebut sesuai dengan yang
diungkapkan informan Ana:
“…seng jenenge meteng pertama yo mbak yo seng terbaik gawe
aku ambek bayiku yo pengen ero (yang namanya anak pertama ya
mbak, yang terbaik untukku dan bayiku ya aku ingin tahu)” (Ana).
Informan menemukan kebutuhan informasi tentang kehamilan
bahkan sebelum mereka mengalami kehamilan. Informan membutuhkan
informasi tentang persiapan kehamilan. Sebelum mengalami kehamilan,
informan perlu mengetahui hal-hal yang akan dihadapi dalam kehamilan.
Terkadang,
mereka
juga
menginginkan
informasi
mengenai
trik
mendapatkan bayi dengan jenis kelamin tertentu.
”sejak sebelum kehamilan juga sudah berpikir tentang itu.. tentang
gimana caranya dapatkan anak laki-laki atau perempuan..
gitu...”(Muna).
Informan yang menyadari kebutuhan informasinya sejak sebelum
kehamilan
adalah
mereka
yang
telah
merencanakan
kehamilan.
Kehamilan adalah hal yang mereka inginkan, dan mereka menantikan
saat mereka mengalaminya. Oleh karenanya, mereka menyadari bahwa
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
52
mereka memiliki kebutuhan informasi tentang persiapan kehamilan,
masa kehamilan, dan persalinan.
Dan
menginginkan
nantinya,
pada
informasi
saat
tentang
kehamilan,
jenis
beberapa
kelamin
janin
informan
dalam
kandungannya. Kutipan wawancara tentang hal ini adalah:
Pewawancara: ”ketika masih hamil.. pengen tahu jenis kelamin, gak
mbak..?”
Muna: “…pingin…”
Pewawancara: ”dan mencari tahu?”
Muna: ”dan mencari tahu.. ditanyakan ke dokter kan ke dokter
sampe tiga dokter, waktu itu...”
Usia kandungan juga merupakan salah satu kebutuhan informasi ibu
hamil. Seorang informan menyatakan
”Pengen tahu, usia kandungan saya ini berapa, soalnya saya sudah
telat beberapa bulan kok hampir tiga bulan itu baru positif,
ternyata usia kandungan saya sudah berumur lima minggu. Dan
diketahui.. itu.. kembar.” (Alus).
Mengetahui usia kandungan adalah hal penting. Semakin dini kehamilan
diketahui, semakin dini pula informan bisa mulai bertindak untuk
menjaga kesehatan dan keselamatan janinnya.
Jenis kelamin, di sisi lain, dinyatakan sebagai kebutuhan
informasi karena informan tahu bahwa hal tersebut bisa dideteksi
melalui alat ultrasonografi (USG). Informan mengetahui bahwa alat
tersebut sudah banyak digunakan oleh bidan maupun dokter spesialis
kandungan di Jombang. Maka, informan tahu bahwa mereka bisa
memanfaatkan kemampuan alat tersebut melalui bidan maupun dokter.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
53
Lebih penting lagi, ketika mereka sudah mengalami kehamilan,
informan memperhatikan kondisi ibu dan janin. Informan percaya bahwa
kondisi kesehatan ibu memberi pengaruh pada kondisi janin yang
dikandung. Informan ingin memastikan bahwa janinnya dalam keadaan
sehat dan dia akan melahirkan bayi yang sehat dan normal. Pernyataan
mereka tentang hal ini adalah:
”...dan cara.. cara-cara, supaya.. kepingin mendapatkan janin yang
sehat itu gimana....” (Alus)
”kesehatane bayi, ibunipun... (kesehatan bayi, ibunya...)” (Anis).
”aku kan pengen ngerti perkembangane bayi yo pengen ngerti
kondisiku... (aku kan ingin mengerti perkembangan bayi dan
kondisiku)” (Muna).
”ngge.. anu.. setelah saya kok telat.. saya ke dokter parmin...
terus.. o.. nggak papa ini.. saya takut kalo ada apa-apa... ndak
papa ini, sehat.. katanya” (Ida)
”opo, yo.. gimana bayinya setiap kesana.. kan takut kalo cacat
gitu..oo.. sehat.. digituno pas iku.. (waktu itu diberitahu seperti
itu..)” (Ida)
” sehat nopo mboten (atau tidak) dok... ngge masalah kesehatan
niku.. kulo ngge takok masalah kesehatan niku..” (Ida).
Tumbuh kembang janin merupakan kebutuhan informasi para
informan. Mereka mengungkapkan
”aku kan pengen ngerti perkembangan bayi...” (Ana)
”tentang perkembangan janin...” (Alus)
”ya tentang apa ya.. pertumbuhan bayi.. janin dalam kandungan...”
(Muna)
Para informan mengetahui bahwa infomasi tumbuh kembang ini
merupakan informasi yang harus dicari. Setiap informan menunjukkan
kesadarannya akan hal ini. Namun, informan Alus dan Muna menyatakan
dengan lebih rinci. Hal tersebut terjadi karena mereka hidup di
lingkungan dokter dan bidan. Bagaimanapun juga, informan lain pun
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
54
memahami bahwa mereka memerlukan informasi tersebut karena
mereka senantiasa dihimbau untuk memeriksakan kehamilan kepada
tenaga kesehatan.
Mengenai tumbuh kembang janin, apa yang sedang terjadi pada
janin dalam usia kandungan tertentu merupakan informasi yang perlu
diketahui oleh informan. Dengan mengetahui tahapan tumbuh kembang
janin, informan juga perlu memahami nutrisi yang diperlukan dalam
setiap tahapan tersebut.
Untuk
menjamin
kesehatan
dan
mengoptimalkan
tumbuh
kembang anak, informasi tentang gizi merupakan hal penting bagi para
informan. Jika asupan gizi ibu hamil sesuai, mereka berharap bahwa
janin mereka mendapatkan gizi yang cukup. Para informan menyatakan
”ya.. asupan gizi dan pertumbuhan janin itu.. kan itu berimbang
dengan perkembangan seluruh organ tubuhnya dan otaknya, kalo
gizi itu.. gizi apa namanya.. seperti ini. Nanti perkembangan
janinnya nanti untuk ini.. untuk ini.. gitu.” (Alus)
”Yang terutama asupan gizi untuk janin, untuk pertumbuhannya,
agar lahir dengan normal dan tidak kekurangan suatu apapun.”
(Alus)
“…trus maeme dospundi, gizinipun... (trus makanannya gimana,
gizinya...)” (Anis)
”.. apa.. nutrisi makanan...” (Muna)
Oleh karenanya, kebutuhan informasi gizi ibu dan janin
merupakan kebutuhan vital bagi informan. Meskipun para informan
menunjukkan tingkat kebutuhan yang berbeda terhadap informasi
tersebut, mereka menyadari bahwa informasi tentang gizi ibu dan janin
harus diketahui. Hidup di Jombang dengan pusat pelayanan kesehatan
yang mudah di jangkau (seperti posyandu, polindes dan puskesmas),
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
55
informan sudah berpikir bahwa informasi gizi merupakan informasi yang
penting untuk diketahui.
Namun, seringkali ibu menginginkan anak yang tumbuh cerdas
jasmani dan rohani, bukan hanya sekedar sehat dan normal. Hal tersebut
menumbuhkan kebutuhan informasi lain, yaitu tentang mempersiapkan
bayi cerdas dan bertakwa. Informan perlu tahu cara menstimulasi ibu
hamil agar melahirkan bayi yang cerdas.
”iya, hal-hal khusus tentang perawatan bayi, tentang kehamilan..
pertama tentang kehamilan ya.. apa maksudnya.. tentang
perkembangan bayi dalam lahir.. dalam kandungan.. hal-hal apa
yang bisa mencerdaskan bayi.. mungkin bentuk-bentuk makanan..
apa.. nutrisi makanan.. ato stimulasi apa terhadap ibu hamil
sehingga bisa mencerdaskan bayi dalam kandungan.. gitu...”
(Muna).
Informasi tentang penyakit yang bisa diderita oleh ibu hamil
merupakan salah satu kebutuhan informasi kehamilan. Setiap informan
menyatakan bahwa mereka mengalami kehamilan yang relatif lancar.
Namun,
informan
merasa
perlu
waspada
terhadap
hal-hal
yang
menimbulkan risiko tinggi dalam kehamilan.
”...hal-hal.. penyakit dalam kehamilan.. yang perlu diwaspadai
dalam kehamilan...” (Muna).
Dan jika seorang informan hamil terdiagnosa memiliki risiko
tersebut, maka mutlak dia memiliki kebutuhan informasi tentang
bagaimana
menjalani
kehamilan
dengan
kebutuhan
khusus
dan
mendapatkan bayi yang sehat.
Setiap informan mengalami kehamilan yang unik. Satu sama lain
mengalami hal yang berbeda. Keluhan ringan sampai dengan berat
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
56
seringkali terdengar dari mereka. Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan
kebutuhan informasi. Para informan menceritakan
”Saya ini hamil, beratnya itu cuma sedikit. Karena apa? saya sulit
makan, padahal kalo bayi kembar itu minimal naik berat badannya
itu satu bulan minimal dua kilo. Sedangkan saya itu satu bulan satu
kilo itu kadang naik kadang turun. Jadi suami saya itu buingung..
gimana, nanti bayi saya nanti di dalam kecil atau gimana.. gitu..
trus akhirnya ya.. apa.. dianjurkan untuk periksa ke spesialis setiap
bulannya” (Alus)
”waktu itu sempat waktu hamil yang pertama itu tidak, belum
tampak janinnya, waktu itu sampe didiagnosa gak ada janinnya
dalam kandungan.. ternyata gak masalah..tapi saya langsung
termasuk mencari tahu tentang penyakit itu ..waktu itu.. saking
bingunge..apa hamil di luar kandungan waktu itu.. nek gak KRT ya
itu..makanya saya sampek bingung mencari informasi dari manamana waktu itu.. karena ada permasalahan dari.. itu...” (Muna)
”pertama kali Sasa itu.. kan ada jahitan.. lho.. kok ada jahitan..
kan takut bidane.. terus tanya.. lho dok, ini pasien ini anu katanya
kok dari suratnya dokterkan ada pengantar.. normal.. o..
iya..normal.. itu ndak papa..akhirnya normal...” (Ida).
Informan Alus mengalami masalah sulit makan ketika hamil tua,
sehingga dia merasa perlu mengetahui kondisi kesehatan janinnya dan
bagaimana menggantikan nutrisi yang harusnya diterima oleh janinnya
melalui makanan. Informan Muna menceritakan kebutuhan informasinya
ketika seorang dokter mendiagnosa bahwa janinnya tidak tampak di layar
USG. Selain itu, pengalaman operasi karena keguguran bagi informan Ida
menyebabkan kebutuhan informasi khusus tentang persalinan yang tepat
bagunya.
Informasi yang juga tidak kalah penting adalah tentang persiapan
persalinan. Pilihan melahirkan normal atau operasi merupakan salah satu
kebutuhan informasi. Bagi informan yang mengalami kehamilan lancar
dan sehat serta tidak ada peringatan untuk menjalankan operasi ketika
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
57
persalinan, informasi utama tentang persiapan persalinan yang mereka
butuhkan adalah perkiraan waktu kelahiran.
Namun, bagi ibu hamil yang sebelumnya pernah mengalami
operasi di rahim, informasi tentang cara persalinan apa yang lebih cocok
baginya merupakan kebutuhan informasi utama. Seorang informan
menuturkan
”enggak, kan soalnya yang pertama kan sudah tahu kalo habis
operasi gitu ya..apa lahirannya bisa normal..? oo.. gak papa..
jahitannya gak papa.. dadinipun pertama kale kedua lahiripun
normal...” (Ida).
Informan tersebut mengungkapkan kebutuhan informasi tentang
pilihan persalinan normal atau operasi karena sebelumnya dia mengalami
operasi karena keguguran. Kebutuhan informasi tentang mana yang lebih
baik, apakah menjalani operasi ataukah bersalin secara normal saja
muncul terhadap ibu hamil yang sebelumnya menghadapi operasi untuk
melahirkan anaknya.
Selanjutnya, informan membutuhkan informasi tentang tempat
dan biaya persalinan. Hal ini terjadi terutama kepada informan yang
direncanakan mengalami persalinan melalui operasi sectio cesaria.
Karena biaya yang cukup jauh bedanya dengan persalinan normal, maka
persiapan persalinan melalui operasi telah di mulai sejak dini. Informan
menuturkan
”o.. iya.. sebelumnya.. saya sudah nanya-nanya umur 3 bulan
itu...” (Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
58
Dengan mengetahui perkiraan biaya yang harus dikeluarkan, mereka bisa
merencanakan cara mempersipakannya. Mereka juga harus memilih
tempat dengan fasilitas dan dokter yang sesuai. Utamanya, mereka
memilih
tempat
persalinan
yang
dianjurkan
oleh
dokter
yang
menanganinya selama kehamilan untuk memastikan bahwa operasi akan
dilaksankan oleh dokter yang sudah dipercaya tersebut.
Selain tempat dan biaya, informan mempersiapkan persalinan
mereka dengan banyak berdoa. Para informan menyatakan bahwa
mereka perlu mengetahui doa yang harus dipanjatkan di masa
kehamilan. Doa tersebut meliputi doa untuk memohon keselamatan dan
kesehatan janin beserta ibu dan memohon kelancaran dalam proses
persalinan.
”o..iya..saya.. kalo.. ini.. saran dari.. kalo dari ibu saya itu.. kalo
mau tidur disuruh membaca sholawat, 15 kali, sholawat nariyah,
terus bangun tidur itu juga disuruh membaca syahadat, supaya
nanti kalau melahirkan lancar. Kata ibu saya seperti itu, kalau dari..
mertua
saya..
disuruh
membaca..
itu
lho,
mbak..
laahaulawalaqwwataillaabillaahilaliyyiladzim
itu
sambil
mengusapkan perutnya itu tiga kali. Membaca itu, dalam satu
kalimat itu dielus tiga kali.. membacanya lima kali, setiap saat.”
(Alus)
”tentang doa-doa, langsung diuruki mas rul (suaminya)....” (Ana)
Para informan mengaku bahwa mereka senantiasa berusaha
melafalkan doa yang telah diajarkan. Doa tersebut khususnya untuk
kesehatan dan keselamatan dunia akhirat bagi janin. Bagi mereka,
memasrahkan diri dan janin pada Yang Maha Kuasa adalah hal yang
harus.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
59
Keadaan tersebut dipicu oleh kebiasaan masyarakat Jombang
yang termasuk religius. Karena banyaknya pesantren, Jombang terkenal
hanya memiliki dua tipe warga, yaitu warga pesantren dan warga yang
hidup di sekitarnya. Tentu saja hal tersebut mempengaruhi kebiasaan
yang mereka laksanakan, yaitu kebiasaan yang bersifat islami atau
minimal masih berbau islami.
Berkaitan dengan diri informan sendiri, beberapa kebutuhan
informasi muncul. Pada awal kehamilan, seringkali informan mengalami
mual, muntah, dan gejala semacamnya. Menghadapi keadaan tersebut,
informan membutuhkan informasi tentang cara meringankan kondisi yang
mereka keluhkan. Keluhan lain yang sering diungkapkan adalah pegalpegal badan di usia kehamilan tua. Meskipun hal-hal tersebut umum
terjadi dan normal, namun mereka tetap membutuhkan informasi
mengenai cara yang bisa membuat mereka lebih nyaman dan menikmati
kehamilan mereka.
”ganti2 seng ta’ takokno, soale keluhane ganti2, biasae. Kadang
kan sikilku linu, kadang ngelu.. (yang saya tanyakan berbeda-beda,
karena biasanya, keluhannya beda.. terkadang kakiku linu,
terkadang pusing... ” (Ana).
”ngge kale bu bidan mawon.. kulo tangglet.. ngge.. nopo seng kulo
rasaaken waktu niku... (ya sama bu bidan saja... saya tanyakan..
apa yang saya rasakan waktu itu...)” (Anis)
Masalah lain yang kerap dihadapi oleh informan yang mengalami
kehamilan adalah selulit. Selulit yang muncul di bagian tubuh yang melar
mengikuti perkembangan rahim seringkali menjadi momok yang ingin
mereka basmi. Informasi tentang bagaimana merawat kulit sejak awal
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
60
kehamilan untuk menghindari selulit dan bagaimana menghilangkan
selulit yang sudah muncul merupakan kebutuhan mereka. Informan Ana
dan Alus menyatakan
”waktu iku kan seng iki mbak athik, garet2 nang weteng.. ta’
takokno bu bidan (waktu itu yang ini Mbak Athik, garis-garis di
perut.. aku tanyakan ke bu bidan)” (Ana)
”...iya, pasti terutama itu.. pasti perutnya kan ada bilur-bilur
putihnya itu kalo melahirkan .. ya itu.. mungkin perut saya terlalu
besar.. jadi bilurnya itu buanyak sekali sampe ke atas ini
lho..(menunjukkan bagian bawah dadanya) trus sampe sekarang itu
ya.. belum ilang.. ya..ndak papa memang melahirkan.. tapi ya..
jadi lain....” (Alus)
Kini, senam hamil telah dikenal luas, termasuk di Kabupaten
Jombang. Meskipun belum banyak ahli maupun tenaga instruktur senam
hamil di daerah ini, namun keingintahuan tentang pelaksanaannya telah
muncul pada para informan. Mereka mengetahui bahwa senam hamil
akan berguna untuk stamina dan persiapan kelahirannya.
Mereka membutuhkan informasi tentang kelas senam hamil yang
bisa diikuti, kapan waktunya, dimana tempatnya, dan berapa biayanya.
Salah seirang informan menyatakan
”ya saya dapatkan dari buku-buku itu kalo kehamilan..ya senamsenamnya juga itu, cara supaya melahirkan nanti gak sakit.. habis
melahirkan itu..” (Alus).
Setelah melahirkan, informan masih juga memerlukan beberapa
informasi yang bisa dimanfaatkan untuk dirinya sendiri. Pemulihan
kesehatan dan stamina merupakan kebutuhan informasi utama. Hal ini
karena stamina yang bagus akan menentukan kemampuannya untuk
mengasuh bayinya yang telah lahir.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
61
Bagi informan yang menjalani operasi, informasi mengenai
pemulihan kesehatan meliputi perawatan luka jahitan dan kegiatankegiatan yang perlu dihindari atau harus dilakukan untuk mempercepat
pemulihannya. Satu informan menyatakan:
”...paling pemulihan kesehatan ibu pascaoperasi kalo saya ya...”
(Muna).
Baik informan yang bersalin secara normal maupun melalui
operasi
memerlukan
informasi
tentang
perawatan
tubuh
pasca
persalinan. Cara menjaga stamina ketika mengasuh bayi, misalnya,
merupakan informasi yang sangat berguna bagi informan yang baru
melahirkan.
Informasi
perawatan
tubuh
secara
tradisional
juga
merupakan informasi yang diperhatikan oleh informan penelitian ini.
”terus.. apa ya.. cara merawat orang melahirkan.. untuk ibunya...”
(Ida).
Bagaimanapun juga, sebagai bagian dari masyarakat Jawa, para
informan seringkali mendengar informasi tentang mitos-mitos yang
berhubungan
dengan
kehamilan.
Informan
Anis
tampak
setuju,
memperhatikan, dana mengamini mitos-mitos tersebut. Dia menyatakan
“o.. engge.. tiang sepahipun ndawuhi tasek rumiyen.. nggee nek
medal dalu ngge mboten kantuk mbak.. mangan nopo-mangan nopo
ngge kudu dijogo.. kersani medalipun gangsar mbak.. ibune
kepenak... (o.. iya.. duluorang tua memberitahu.. ya.. kalau keluar
malam tidak boleh.. makanan yang dimakan harus dijaga.. supaya
keluarnya lancar, mbak.. ibunya nyaman...)” (Anis)
”iya.. ya.. piye iko.. nek hamil gak oleh anu..kudu senden, sikile
kudu dicancang...(iya.. ya.. bagaimana.. kalau hamil tidak boleh
anu.. harus bersandar, kakinya harus diikat)” (Ida).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
62
Hidup dan tumbuh di lingkungan yang masih relatif tradisional
dan gaya hidup sederhana, kedua informan tersebut memperhatikan
perkataan orang tua yang umumnya adalah mitos. Mereka mematuhi
mitos tersebut. Hal ini dipicuoleh kebutuhan afektif mereka mengenai
rasa ingin dihargai dan dibenarkan oleh orang tua.
Salah satu contoh mitos adalah tidak boleh memakan telur
selama hamil. Menurut mereka, hal tersebut akan mempersulit
kelahiran. Padahal, mitos tersebut bertentangan dengan saran para
dokter, yaitu agar
mengkonsumsi telur selama kehamilan demi
pemenuhan protein untuk janin.
Contoh lain adalah memakan daun kemangi. Menurut mitos, Ibu
yang sedang mengandung tidak boleh mengonsumsi kemangi karena akan
membuat plasenta hancur. Hal tersebut sesuai dengan pendapat para
dokter bahwa kemangi memang memberi pengaruh buruk untuk
plasenta.
Kaki ibu baru melahirkan yang harus diikat, sebagai contoh lain,
dimaksudkan supaya nantinya tidak timbul varises. Padahal, varises biasa
muncul sejak kehamilan. Karena beban berat dan peredaran darah di
kaki yang tidak lancar, maka muncullah varises.
Karena berbagai ketidakcocokan tersebut, beberapa informan
lain tidak begitu saja percaya pada mitos. Latar belakang pendidikan
pesantren membuat mereka tidak mudah percaya akan hal gaib yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam dan logika. Islam mengajarkan untuk
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
63
senantiasa belajar dan mengembangkan pengetahuan. Islam mendorong
untuk tidak mematuhi hal-hal yang masih belum jelas. Oleh karenanya,
informan merasa lebih baik mengonfirmasikan mitos dengan tenaga
medis terlebih dahulu sebelum menjalankannya. Informan Ana, Alus dan
Muna menunjukkan hal tersebut. Informan Muna menyatakan
”ternyata hal-hal yang itu kadang-kadang ada bendernya
(benarnya).. memang bukan semuanya.. karena mitos.. mitos kan
ini kadang-kadang memang terjadi.. tapi kalo yang aneh-aneh yo...
gak percaya” (Muna).
Dengan
demikian,
kebuthan
nformasi
kehamilan
meliputi
kebutuhan informasi tentang kesehatan janin dan ibu, tumbuh kembang
janin, persiapan kelahiran, doa, dan mitos. Pada umumnya, kebutuhan
informasi kehamilan tersebut muncul karena adanya kebutuhan kognitif
informan. Untuk memenuhi kebutuhan kognitif, informan harus memiliki
pengetahuan baru yang bisa didapatkan dengan cara mendapatkan
informasi. Pengetahuan baru tersebut dibutuhkan untuk kemudan
diaplikasikan dalam menjalani kehamilan mereka.
b. Kebutuhan Informasi Pengasuhan Bayi
Pengasuhan bayi dimulai sejak kelahiran. Namun, berbagai
kebutuhan informasi tersebut dikenali oleh informan sejak sebelum
kehamilan.
”...itu.. tentang pengasuhan anak.. dadi sebelum hamil pun sudah
mulai mencari tentang gimana mengasuh anak.. apa.. mendidik
anak dan sebagainya.. psikisnya.. rohaninya.. iya....” (Muna).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
64
Pernyataan salah satu informan tersebut menunjukkan beragam
kebutuhan informasi mengenai pengasuhan bayi. Berbagai kebutuhan
informasi lain adalah sebagaimana teruraikan berikut ini.
Perawatan kesehatan dan sterilitas menjadi informasi utama
yang harus diperhatikan oleh ibu baru. Selain itu, pada masa-masa ini,
informan memerlukan informasi tentang perawatan bayi baru. Para
informan menjelaskan
”...cara merawat si kecil.. nol sampe empat bulan...” (Alus)
”...caranya memandikan bayi.. trus cara merawat bayi...” (Alus)
”pengasuhan bayi tentang perawatan bayi..terutama neo natus..
artinya yang baru lahir gimana?...” (Muna)
”yang pertama ya.. merawat bayi.. pertamanya nggak bisa.. ya
ngerti, ya.. tentang perawatan bayi gimana.. cara memandikan..
masih takut.. ini ditinggal yang tinya, terpaksa ini.. wes.. ta' wanek
wanekno..suwe2 maleh kendel dhewe...(saya beranikan diri.. lamakelamaan jadi berani)” (Ida)
”harus tahu cara werawat bayi.. yang utama itu...” (Ida)
Isu perawatan bayi baru tersebut terutama mengenai cara
memandikan. Biasanya, sampai dengan tali pusat bayi lepas, informan
mendapatkan bantuan bidan atau perawat atau dukun bayi untuk
memandikan bayinya. Jika hal ini yang terjadi, maka informan
membutuhkan
informasi
tentang
orang
yang
kompeten
untuk
melaksanakannya. Kalimat yang menggambarkan ini adalah
”...informasi engkok yang mandikan ini aja.. ini aja..gitu-gitu”
(Muna)
Namun,
ketika
tidak
lagi
mendapatkan
bantuan
dalam
memandikan, informan perlu informasi mengenai cara yang benar dalam
memandikan bayi yang belum bisa mengangkat kepala. Informasi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
65
tersebut dibutuhkan karena informan sebagai orang tua harus tetap
menjaga kebersihan dan keselamatan bayinya (Duvall dan Brent, 1980:
160-161).
Tentu
saja,
selain
cara
memandikan,
mereka
juga
membutuhkan informasi tentang tata cara pemakaian popok maupun
bedong dan cara meminimalisasi kemungkinan kecelakaan yang bisa di
alami si kecil.
Kebutuhan informasi tentang pemakaian popok, bedong, dan
seterusnya muncul terutama adanya kebimbangan pada para informan.
Kebimbangan tersebut adalah mengenai cara yang benar untuk
memakaikannya. Kebimbangan terjadi karena para informan menyadari
adanya perbedaan tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan
dalam perawatan bayi antara kebiasaan orang tua jaman dahulu dengan
perkembangan dunia kesehatan saat ini.
Masyarakat
Jombang,
termasuk
perempuannya,
senantiasa
terbuka akan perubahan. Salah satunya adalah dalam hal perawatan
bayi. Jika hal yang dianjurkan oleh orang tua sesuai dengan tradisi
mereka merupakan hal yang tidak dilarang dalam kedokteran, maka
tidak masalah bagi mereka untuk mempraktikkannya. Namun, ketika hal
tersebut bertentangan, maka informan merasa membutuhkan informasi
lebih lanjut tentangnya.
Contohnya
adalah
pemakaian
bedong.
Budaya
Jawa
menganjurkan bayi dipakaikan bedong agar kakinya lurus. Menurut
medis, memang perlu bayi dipakaikan bedong, namun tidak untuk alasan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
66
agar kakinya lurus. Kaki bayi akan lurus dengan sendirinya pada usia si
bayi sudah membutuhkan kakinya untuk berjalan. Bayi dipakaikan
bedong agar dia merasa hangat dan bisa tidur nyenyak. Untuk bayi yang
malah terganggu jika memakai bedong, para bidan tidak menganjurkan
untuk membedongnya.
Lain lagi jika mitos tersebut berkaitan dengan gurita. Mitos
menyatakan bahwa gurita harus dipakaikan pada bayi agar perutnya
ramping. Padahal, sangat normal jika bayi sampai dengan anak-anak
memiliki perut yang agak menggelembung. Ketika beranjak remaja,
perut akan terbentuk terutama dengan bantuan olahraga. Lebih dari itu,
pemakaian gurita yang terlalu kencang (yang umumnya memang
dikencangkan) dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan organ
dalam perut bayi dan metabolismenya.
Pada umumnya, informan akan lebih tenang dalam mematuhi
mitos jika mereka mengetahui bahwa mitos tersebut sesuai dengan
pendapat para ahli kesehatan. Jika tidak sesuai, informan terkadang
mematuhi mitos yang dikatakan kepadanya demi rasa hormat pada orang
tua. Namun, jika benar-benar bertentangan dengan dunia kesehatan,
maka para informan memilih untuk meninggalkan mitos tersebut.
Hal ini disebabkan karena munculnya kebutuhan afektif dan
kognitif secara bersamaan. Ingin dihargai oleh orang yang lebih tua,
kebutuhan
afektif
informan,
membuat
informan
memperhatikan
informasi mengenai mitos. Namun, untuk bisa masuk akal mereka,
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
67
kebutuhan kognitif, informan perlu mendapatkan kebenaran mitos dilihat
dari sudut pandang medis.
Kebutuhan informasi yang sangat penting untuk ibu yang
mengasuh bayi adalah imunisasi. Imunisasi merupakan perlindungan
kedua bagi bayi setelah Air Susu Ibu (ASI). Menurut rekomendasi IDAI,
bayi seharusnya mendapatkan imunisasi pertamanya segera setelah lahir.
Setidaknya, bayi yang sehat sudah mendapatkan imunisasi pertamanya di
minggu pertama kehidupan mereka.
Informasi tentang imunisasi pertama dan imunisasi-imunisasi lain
merupakan informasi yang dibutuhkan oleh informan. Pernyataan para
informan
”...tentang imunisasi...” (Alus)
“ngge saking ibu bidane ngoten niku.. mbenjeng.. tanggal pinten
mriki.. mriki maleh… (ya dari bu bidan.. besok.. tanggal berapa
kesini.. kesini lagi...)” (Ida).
Informasi tentang imunisasi ini meliputi berbagai hal. Hal
pertama adalah jenis imunisasi apa saja dan untuk perlindungan apa saja
yang harus diberikan pada bayi. Selain itu, umumnya informan
memerlukan informasi tentang waktu, tempat, dan biaya imunisasi.
Selain memiliki posyandu di setiap kelurahan, Jombang juga
memiliki tidak kurang dari lima dokter anak yang melayani imunisasi di
praktek pribadinya. Salah satu dokter anak senior bahkan berskala
internasional. Dia seorang duta WHO. Pada praktek pribadinya, dia
mempersilakan warga Jombang yang mampu mendapatkan bagi bayinya
jenis imunisasi terkini dengan harga yang masih mahal.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
68
Bagi informan yang memanfaatkan jasa puskesmas dan posyandu,
informasi yang dibutuhkan adalah tentang kapan dan dimana posyandu
akan digelar dan imunisasi apa saja yang dilayankan. Bagi informan yang
mengimunisasikan
anaknya
ke
dokter
anak,
maka
kebutuhan
informasinya adalah kapan si bayi harus diimunisasi lagi dan berapa biaya
untuk imunisasi selanjutnya. Informasi tersebut dibutuhkan terutama
jika imunisasi yang akan diberikan adalah imunisasi tambahan dan
produk baru yang masih relatif mahal.
Sebagaimana
kebutuhan
informasi
ketika
hamil,
informasi
penting bagi para ibu yang mengasuh bayi adalah tentang tumbuh
kembang bayi. Tumbuh kembang bayi adalah segala perubahan yang
terjadi pada anak, dilihat dari berbagai aspek fisik, motorik, bahasa,
emosi, kognitif, dan psikososial bayi (Indiarti, 2007: 216). Oleh karena
itu, informasi yang berkaitan sangat penting untuk diketahui ibu, sebagai
modal kesiapan untuk mengasuh bayinya. Informan menyadari
”.. terus.. ini.. tentang perkembangan..ini.. banyak sekali...
tentang pertumbuhan otak" (Alus).
Perubahan yang pesat pada tahun pertama kehidupan manusia
sangat perlu dipahami. Dalam tahapan usia tertentu, bayi mengalami
karakteristik tumbuh kembang tertentu.
”.. terus.. ini.. tentang perkembangan.. " (Alus)
”...tentang anak satu bulan mulai apa.. dua bulan mulai
apa..gitu....” (Alus)
”...dari nol sampe empat bulan, kemudian empat bulan sampe
berapa bulan.. gitu.. ada sampe umur dua tahun.. itu saya baca...”
(Alus).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
69
”...itu penting dan tumbuh kembang balita..dadi tahapan-tahapan
tumbuh kembang balita.. itu penting bagi seorang ibu.” (Muna)
Informan penelitian menyatakan bahwa mereka membutuhkan
informasi tentang perkembangan kemampuan motorik dan bahasa bayi.
Utamanya, informasi perkembangan yang ingin mereka ketahui adalah
tentang perkembangan kecerdasan bayi. Dengan mendapatkan informasiinformasi tersebut, informan diharapkan bisa mengusahakan tumbuh
kembang bayi secara optimal.
Terkadang, informan mengalami masalah dalam perkembangan
anaknya. Mengenai perkembangan motorik bayi, misalnya, informan Alus
menceritakan
”Dulu waktu anak saya belum waktu itu lho belum dua bulan itu
kepalanya sudah gini2, saya takut. Saya konsultasikan ke dokter,
kepalanya pengen diangkat dokter., trus masih bayi itu suka
mengejan,, ndak kenapa-kenapa itu mengejan..lho, gak buang air
itu kok mengejan, kenapa? O.. gak papa,, lama-lama nanti ilang
sendiri, dia kan berusaha ngangkat kepalanya gini itu sambil
mengejan.. terus ditaruh lagi... padalan kata dokternya gak boleh
belum waktunya.” (Alus).
Kebutuhan informasi dalam hal ini meliputi informasi tentang
skala pertumbuhan berat dan tinggi badan bayi yang sehat. Informasi
tentang berapa banyak seharusnya berat badan naik dan tinggi badan
dan lingkar kepala bertambah pada tiga bulan pertama, tiga bulan
selanjutnya, dan seterusnya merupakan kebutuhan informasi yang
penting. Informasi tersebut adalah untuk mengontrol dan mengawasi
pertumbuhan bayi. Dengan demikian, jika pertumbuhan tidak sesuai, ibu
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
70
bisa segera berkonsultasi pada individu yang kompeten, seperti bidan
atau dokter.
Informasi tentang pertumbuhan fisik yang penting dan dialami
ketika masih bayi merupakan salah satu kebutuhan informasi informan
yang mengasuh bayi. Sebagai contoh, informan Alus menyatakan bahwa
dia penasaran tentang informasi mengenai pertumbuhan gigi pada bayi.
”lha ini katanya mulai tumbuh gigi itu mulai enam bulan, kan..anak
saya tiga bulan itu yang pinggir-pinggirnya sini itu sudah keluar
putih-putih itu.. katanya orang-orang.. kalo tumbuh gigi yang
pertama kali itu kan dari depan.. saya ini juga bingung. Kok dari
samping..terus.. ini belum saya konsultasikan ini masalah gigi ini
mbak” (Alus).
Optimalisasi tumbuh kembang bayi tersebut tentunya harus
didukung dengan gizi yang cukup bagi bayi. Pemenuhan kebutuhan
fisiologis bagi bayi tersebut merupakan tanggung jawab ibu. Kebuthan
fisiologis bayi tersebut memicu timbulnya kebutuhan kognitif ibu.
Kebutuhan kognitif ibu memotivasi tumbuhnya kebutuhan informasi.
Dalam hal ini, kebutuhan informasi informan adalah mengenai
jenis dan porsi nutrisi yang sebaiknya diterima oleh bayi, mengenai air
susu ibu (ASI), susu formula, dan jenis makanan serta pola pemberian
makan bagi bayi 6 bulan ke atas. Para informan menjelaskan
”Soal gizi bayi ini informasinya saya dapatkan ya waktu imunisasi
seperti ini tadi saya tanya-tanya, mulai berapa bulan dok.. boleh
dikasih makan....” (Alus)
”...makanan dan ASI...” (Alus).
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
71
Di
antara
lima
kebutuhan
informasi
tersebut,
informasi
mengenai ASI merupakan informasi yang paling mendapatkan perhatian
para ibu, terutama tentang bagaimana memperlancar ASI.
”Lha ASI saya ini tidak begitu lancar, anak saya kalo minum saya itu
nangis soalnya anak saya itu lahirnya kecil, terus disarankan dokter
itu minum susu tambahan.” (Alus)
“ngge.. mike cek bancar.. jamu.. jamu jawi ngoten niku lho
mbak.. ten nggene narodo mriku… gepyok (ya.. susunya belum
lancar.. jamu.. jamu jawa itu lho mbak.. di toko narodo situ..
gepyok)” (Anis)
”kulo semerap saking ibu... nopo-nopo niku.. jamu kunir..
ase..m...(saya tahu dari ibu.. apa itu.. jamu kunir.. asam...)” (Anis)
“iya..katanya orang-orang dulu mbak.. anu.. moro sepuh kulo..
sampean anu..susune diuyet-uyet.. (mertua saya.. kamu anu..
susunya dipijat-pijat) umur berapa.. hamilnya umur.. pun besar,
kok.. sudah tujuh bulan.. di masage ta opo..dipijeti.. katek ASIne
yo gak patek lancar (di massage atau apa.. dipijat.. ASInya memang
ya tidak begitu lancar)” (Ida)
Kabupaten
Jombang
telah
berhasil
dengan
baik
dalam
menghimbau para ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Hal ini
sebagaimana tertera dalam profil kesehatan Kabupaten Jombang tahun
2006 yang menyatakan bahwa prosentase ibu yang memberikan ASI
eksklusif adalah 64,92%. Pengetahuan tentang pentingnya ASI esklusif
yang diberikan kepada warganya membuat para ibu yang mengasuh bayi
berusaha memberikannya untuk bayinya. Oleh sebab itu, para informan
menyadari informasi tentang cara memperbanyak ASI sebagai informasi
yang mereka butuhkan.
Ketika tidak bisa memberikan ASI dengan baik pada bayinya, Ida
membutuhkan informasi tentang PASI (pengganti ASI). PASI adalah susu
formula khusus untuk bayi. Bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi, ibu
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
72
bisa memberikan susu formula untuk bayi yang berbahan dasar kacang
kedelai.
”o.. iya.. suami saya yang ngenet sekarang tentang itu.. PASI,
pendamping ASI. Suami saya itu selalu mencari informasi tentang
itu.. apa saja yang bagus untuk bayi.. terutama ini.. punya anak kan
pingin ananya pinter—pinter.. sehat.. ya.. wis..namanya orang tua
kan pengennya seperti itu ya nyari informa..si aja.” (Alus)
”Dicoba waktu diseling kale separo-separo nganggi SGM, separo S26, kok anu.. kok mencret.. dadi gak cocok karo SGMe… dospundi?
Ngge… SGM mboten disukaaken maleh (jadi tidak cocok dengan
SGMnya.. bagaimana? Ya.. SGM tidak diberikan lagi)” (Ida)
Ketika bayi sudah waktunya mengonsumsi makanan lain selain ASI
maupun PASI, maka kebutuhan informasi bertambah yaitu tentang MP ASI
(Makanan pendamping ASI). Informasinya meliputi pola pemberian
makanan dan jenis makanan yang seharusnya diberikan kepada bayi.
Informan menuturkan
”...makanan dan ASI...” (Alus).
”...pemberian makanan pada bayi...” (Muna)
Dalam hal optimalisasi tumbuh kembang secara psikis dan rohani,
informan membutuhkan informasi tentang cara mendidik anak. Informan
memerlukan informasi untuk membantunya mendidik anak sejak masih
bayi sehingga anak bisa tumbuh sebagai manusia yang bertakwa dan
bermlisan. Informan Muna mencontohkan:
”...tentang seperti mendidik buah hati ala nabi, kayak gitu2..cara
mendidik anak faudzil adzim, ... dengan latar balakang basic yang
agama, dadi bagaimanapun itu sangat...” (Muna)
”cara mendidiknya dan mengasuh nanti gimana?” (Muna)
”...jadi mencari informasi gimana sebetulnya cara mendidik anak
dengan jarak yang dekat...” (Muna)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
73
Seringkali, informan merasakan keingintahuan tentang kabar bayi
lain. Informan Ana menjelaskan
”...lha ngobrol ambek ibu-ibu pas cerito anakku sak mene wes iso
ngene.. iso ngunu (...lha berbincang dengan ibu-ibu lain, waktu
mereka cerita anakku sudah bisa begini.. bisa begitu..)” (Ana)
”iya.. dari sodara-sodara juga tentang itu.. tentang kebiasaan.. kalo
anak kecil gak boleh begini..gak boleh gitu..” (Alus)
Kebutuhan informasi informan dalam hal ini adalah tentang pengalaman
ibu lain tentang bayi mereka. Informasi tersebut dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan afektif informan.
Ketika Informasi menunjukkan bahwa pengalaman ibu lain
tentang bayinya adalah sama dengan informan, maka informan merasa
aman bahwa bayi dan dirinya sendiri juga baik-baik saja sebagaimana
bayi dan ibu yang lain. Perasaan aman muncul ketika informan merasa
bahwa dirinya sudah melakukan hal yang benar. Lebih jauh lagi,
informan butuh rasa dihargai oelh orang lain atas prestasi mereka yang
sama atau lebh baik dari ibu lain dalam hal pengasuhan bayi.
Sebagaimana kebutuhan informasi ketika sedang hamil dan
menghadapi persalinan, informan juga membutuhkan informasi tentang
doa yang dipanjatkan untuk kepentingan bayi yang sedang diasuhnya.
Informan menyatakan
”...trus, kadang kan lare tasek alit..baru dados ibu.. pengen
semerap ngge dungo2 ne... (...terus, terkadang kan anak masih
kecil, baru jadi ibu.. ya, ingin tahu doa-doanya...)” (Anis)
”doa-doa iya..” (Muna)
”...itu mesti ada yang doa-doa yang disitu, supaya menjadi ibu yang
baik, gitu.” (Muna)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
74
Informan membutuhkan informasi khusus ketika mereka sedang
menghadapi situasi tertentu, misalnya yang sulit bagi mereka, dalam
pengasuhan bayi. Sebagai contoh, informan Muna dalam penelitian ini
membutuhkan informasi tentang cara mendidik dan merawat anak yang
berdekatan jarak usia dan cara mengusahakan optimalisasi tumbuh
kembang anak pertamanya. Informan Muna menuturkan
”ya..pada waktu itu gini...kan, ketika... gak nyangka sebetulnya...
kok hamil.. moro-moro yo, kan sebetulnya emang gak KB... ya
KBnya kalender ya... cuman ternyata kan gagal, hamil. Hamil
setelah anak umur tujuh bulan... Lha waktu itu ada ketakutan...
gimana nanti? Gitu..lha nomor siji kasihan kakaknya.. jadi mencari
informasi gimana sebetulnya cara mendidik anak dengan jarak yang
dekat....” (Muna)
”seng anak pertama.. anak kedua bagus.. seng anak pertama itu
kan dia alergi susu sapi, pake susu soya.. mungkin karena rasanya
kan soya gak begitu enak..sehingga kan volumenya dia minum
mungkin kurang dan dia anaknya sangat aktif.. mungkin kebutuhan
antara kalori ambek masuk dan keluarnya tidak berimbang sehingga
pertumbuhannya tidak optimal.pertumbuhannya ya.. yang gak
optimal.. nek perkembangane optimal..antara kondisi motorik,
perilaku, kecerdasan.. itu optimal.. tapi pertumbuhannya dia dari
segi fisiknya tidak optimal..anak pertama itu....” (Muna)
Maka, kebutuhan informasi pengaushan bayi meliputi berbagai
aspek. Pertama adalah kebutuhan informasi mengeani perawatan bayi.
Kedua adalah tentang tumbuh kembang bayi yang berhubungan dengan
imunisasi dan gizi bayi. Kemudian, informasi lain yang dibutuhkan adalah
mengenai pengalaman ibu lain dalam pengasuhan bayi. Terakhir,
informan masih tetap memiliki kebutuhan informasi tentang doa dan
mitos.
Kesimpulannya, kebutuhan informasi kehamilan dimotivasi oleh
kebutuhan kognitif informan. Sedangkan, selain dipicu oleh kebutuhan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
75
kognitif, kebuthan informasi pengasuhan bayi juga muncul karena adanya
kebutuhan afektif. Dalam hal ini, kebutuhan afektif muncul karena
terpenuhinya
kebutuhan
kognitif
mereka,
mengenai
pengetahuan
tentang pengasuhan bayi dengan baik dan benar.
2. Sumber Informasi Informan
Sumber informasi yang dimanfaatkan oleh informan dibedakan
menjadi dua macam, yaitu sumber informasi terekam dan sumber
informasi personal. Sumber informasi terekam bisa berupa media cetak
maupun elektronik. Sumber informasi personal bisa merupakan sumber
informasi personal formal dan personal informal. Berikut adalah tabel
sumber informasi yang diikuti dengan uraian pembahasannya.
Tabel 4.2 Sumber Informasi Kehamilan dan Pengasuhan Bayi
bagi Informan
No Jenis sumber informasi
Detail sumber informasi
1
Sumber
Media cetak
Buku
informasi
Majalah
terekam
Brosur
Koran
Televisi
Media
elektronik
internet
2
Sumber
Formal
Dokter
informasi
Bidan
personal
Staf
pemasaran
produk
minuman dan makanan bayi
informal
Orang tua
Suami
Saudara
Teman
Dukun bayi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
76
a. Sumber Informasi Terekam
Sebagaimana telah disebutkan, informan memanfaatkan sumber
informasi terekam untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Sumber
informasi terekam tersebut berupa media cetak maupun media
elektronik. Buku, majalah, koran dan brosur merupakan media cetak
yang dimanfaatkan sebagai sumber informasi. Di sisi lain, media
elektronik yang dimanfaatkan adalah televisi dan internet.
Media cetak yang sering dikonsumsi oleh informan adalah buku
dan majalah. Buku merupakan sumber informasi terekam yang umum
dimanfaatkan oleh informan.
”dan saya.. buku-bukunya ibu itu kan banyak jadi saya bisa
mendapatkannya langsung dari buku itu juga...” (Alus)
”tentang kehamilan itu.. ya saya dapatkan dari buku-buku itu kalo
kehamilan....” (Alus)
”dari buku dan majalah.. kebanyakan...” (Muna)
”kadang-kadang mencari buku-buku itu.. tentang pengasuhan anak..
dadi sebelum hamil pun sudah mulai mencari tentang gimana
mengasuh anak.. apa..mendidik anak dan sebagainya...” (Muna)
”...yang saya punya buku-buku itu kebanyakan mesti buku-buku dari
pengarang islam, artinya masih ada tentang...” (Muna)
”dari buku-buku kedokteran yang saya punya.. buku tentang
kandungan” (Muna)
Koran juga merupakan sumber informasi yang dimanfaatkan oleh
informan. Berikut adalah penuturan informan
”seandainya kayak temen saya punya ini.. (menunjukkan fotokopi
guntingan artikel) ya saya pinjem.. trus saya fotokopi...” (Alus)
”dapet dari koran.. kayak gini (Al memperlihatkan fotokopi artikel
koran) untuk saya fotokopi.. gitu” (Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
77
Selain buku dan koran, media cetak yang seringkali dikonsumsi
adalah majalah. Informan memilih bahan bacaan yang menyajikan
informasi tentang kehamilan dan pengasuhan bayi.
” majalah ayah bunda seng sembilan bulan menakjubkan” (Ana)
”dari buku dan majalah.. kebanyakan...” (Muna)
Selain itu, brosur di biasa ada di pusat layanan kesehatan juga
mendapatkan perhatian informan.
”...brosur-brosur.. ya hanya membaca thok.. tapi gak
memperhatikan.. tapi ngge angsal tambahan pengetahuan...” (Ida)
Jombang adalah kota kecil. Di kota ini, buku tidak menjadi
barang utama yang dicari. Budaya membaca masih cukup asing.
Masyarakat
lebih
banyak
berkutat
dengan
pemuasan
kebutuhan
primernya. Secara perlahan masyarakat Jombang telah bergerak menuju
tingkat ekonomi yang lebih mapan tetapi buku kelihatannya masih
dianggap sebuah kemewahan.
Kondisi umum tersebut juga tergambarkan dari para informan
penelitian ini. Informan yang sarjana dan berkecukupan saja, yaitu Muna
dan Alus, yang mengonsumsi buku. Mereka menyadari bahwa mereka bisa
mendapatkan banyak informasi melalui membaca. Bagaimanapun juga,
informan lain tidak biasa membaca dan tidak mengusahakan akses
terhadap media cetak tertentu. Akses terhadap media cetak sebagai
sumber informasi hanya mereka dapatkan jika ada orang lain yang
memnunjukkan atau memberikan pada mereka.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
78
Media elektronik yang lazim dikenal dan dinikmati adalah
televisi. Dibandingkan dengan radio, informan lebih memilih televisi
sebagai
sumber
informasi
kehamilan
atau
pengasuhan
bayinya.
Tayangan-tayangan khusus yang menyajikan informasi yang berkaitan
dengan kehamilan dan pengasuhan bayi mendapatkan perhatian tertentu
bagi informan.
”sering se mbak, pas onok acara TV seng bayi-bayi, ibu dan bayi
ngonoiko, sering aku nontok ngono iko seneng...(Sering kok mbak,
waktu ada acara televisi yang bayi-bayi, ibu dan bayi itu, sering
saya menonton tayangan seperti itu senang...)” (Ana)
”iya.. kalo sabtu itu kan banyak ya acara tentang ibu dan anak itu..
saya liat tv itu.” (Alus)
”ato kadang-kadang pas jam-jam istirahat ada acara tivi kayak apa
misalnya kid and mom itu kan misalnya..pas ada waktu luang.. itu
bisa...” (Muna)
”Iya, nonton tivi ngge memperhatikan iklan...” (Ida)
Terkadang, bahkan kaleng susu merupakan sumber informasi
”biasane seng ten kaleng susu..dibaca juga.. takarannya berapa..
kan takut nanti kalo tidak sesuai....” (Ida)
Frekuensi maupun rutinitas menonton televisi tidak membuat
seorang informan mencari atau mendapatkan informasi lebih banyak
daripada yang jarang menonton televisi. Televisi bisa menjadi sumber
informasi yang efektif ketika informan bermaksud untuk menelusuri
informasi di televisi, terutama pada tayang-tayangan tertentu yang
berhubungan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi.
Internet juga merupakan sumber informasi bagi para informan.
Informan menceritakan
”...pengetahuan itu saya dapatkan lewat internet” (Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
79
”o. Iya.. suami saya yang ngenet sekarang tentang itu.. PASI,
pendamping ASI. Suami saya itu selalu mencari informasi tentang
itu.. apa saja yang bagus untuk bayi.. terutama ini.. punya anak kan
pingin anaknya pinter—pinter.. sehat.. ya.. wis..namanya orang tua
kan pengennya seperti itu ya nyari informa..si aja. trus diprintkan,
di bawa pulang, aku disuruh baca” (Alus)
”ya.. kalo dari internet mencari.. tapi jarang sekali.” (Muna)
Informan memanfaatkan internet di warung internet maupun di
tempat kerja. Jika tidak sempat mengakses internet untuk memperoleh
informasi, informan meminta orang lain untuk mengakses dan kemudian
melaporkan hasil aksesnya pada informan.
Sejak tahun 2000an, warung internet semakin menjamur di
Jombang. Pada awalnya, pelanggan walung internet adalah para
mahasiswa. Namun, pada perkembangannya, selain para pelajar, warga
umum juga sudah mulai memanfaatkannya. Hal tersebut terdorong oleh
murahnya harga akses yang mencapai Rp.10.000,- untuk enam jam
pemakaian.
Selain itu, kebanyakan kantor pemerintahan menyediakan akses
internet. Akses tersebut berupa jaringan LAN maupun nirkabel. Demikian
pula banyak kantor swasta lain. Oleh karenanya, internet merupakan
salah satu sumber informasi yang diperhitungkan oleh para informan.
Pemanfaatan
sumber
informasi
terekam
oleh
informan
didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertimbang pertama adalah
kemudahan akses. Misalnya, Buku yang sudah dimiliki merupakan pilihan
pertama sebagai sumber informasi daripada buku yang harus dibeli. Hal
ini juga menunjukkan bahwa biaya merupakan faktor pertimbangan dan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
80
mengakses sumber informasi terekam. Buku yang mahal dan akses
internet yang membutuhkan biaya tidak dimanfaatkan oleh semua
informan. Namun, semua informan memanfaatkan brosur atau buku
panduan lain yang didapatkan secara gratis.
b. Sumber Informasi Personal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan memiliki dua
macam sumber informasi personal. Sumber informasi personal pertama
adalah sumber infromasi personal formal, yaitu tenaga kesehatan dan
staf penjualan produk minuman dan makanan untuk ibu hamil dan
batita. Sumber informasi personal yang kedua adalah orang-orang yang
ditemui informan sehari-hari. Mereka adalah orang yang terlibat dalam
percakapan sehari-hari bersama informan (sumber informasi personal
informal).
Sumber informasi personal formal bagi informan adalah dokter
dan bidan. Dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak
merupakan sumber informasi yang bisa mereka andalkan. Informan
menganggap bahwa dokter spesialis sangat kompeten untuk memberikan
informasi yang berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi,
terutama dalam bidang kesehatan.
”dan setelah positif itu saya bawa ke dokter spesialis kandungan,
saya usg...” (Alus)
”saya pas periksa habis apa.. operasi itu.. pas periksa habis operasi
tu.. ini dihilangkan pake apa dokter? trus disuruh ngasih baby oil...”
(Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
81
”...saya tanya-tanya, mulai berapa bulan dok.. boleh dikasih
makan...” (Alus)
”ditanyakan ke dokter kan ke dokter sampe tiga dokter, waktu
itu...” (Muna)
”satu bulan sekali ke dokter kandungan.. ketika hamil.. jadi selalu
bertanya aktif tentang perkembangan bayi, ibu, waktu itu.” (Muna)
”ngge.. anu.. setelah saya kok telat.. saya ke dokter parmin...”
(Ida)
Informan
Alus
menyatakan
bahwa
dokter
adalah
sumber
informasi yang dia temui ketika sumber informasi personal yang lain
tidak bisa memberikan jawaban.
Bagaimanapun juga, bagi informan Ana dan Anis, dokter bukan
merupakan sumber informasi utama mengenai kesehatan. Mereka hanya
ke dokter jika benar-benar harus. Namun, sampai saat ini mereka tidak
memiliki pengalaman berkomunikasi dengan dokter mengenai kehamilan
dan pengasuhan bayi.
Bidan merupakan sumber informasi utama mereka di bidang
kehamilan
dan
pengasuhan
bayi.
Dengan
jelas,
para
informan
menyatakan
”yo aku takok-takok nang bidan ngunu...” (Ana)
”ngge kale bu bidan mawon” (Anis)
“ngge.. tangglet.. ten bu her (nama bidan) mriku... (ya..
bertanya.. pada bu her...)” (Anis)
”he-eh, biasane dari bidan-bidan.. kan mereka kan lebih..
pengalamannya kan lebih banyak..dan udah biasa merawat
bayi...”(Muna)
”curhate.. ya dengan umi.. orang tua.. trus ke bidan-bidan” (Muna)
”ngge saking ibu bidane ngoten niku.. mbenjeng.. tanggal mriki..
mriki maleh… (ya dari ibu bidannya itu.. besok.. tanggal sekian
kesini.. kesini lagi...)” (Ida)
”terus bidane ngutus nyusoni... (trus bidannya menyuruh
menyusui)” (Ida)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
82
Bidan adalah tenaga kesehatan terdidik dan terlatih yang sangat banyak
membantu dalam kesehatan ibu dan anak.
Di Kabupaten Jombang, tenaga bidan merupakan ujung tombak
program kesehatan ibu dan anak (KIA). Menyebar di seluruh daerah
Kabupaten Jombang, bidan mendapatkan prosentase terbanyak dalam
pemeriksaan kehamilan dan penolongan persalinan dibandingkan dengan
dokter dan dukun bayi. Bidan juga merupakan pendamping dukun bayi
yang terlatih, yang diijinkan oleh Dinas Kesehatan untuk membantu
persalinan.
Staf pemasaran atau seringkali disebut seles oleh warga Jombang
juga menjadi sumber informasi bagi informan. Informan Alus memiliki
pengalaman dalam hal ini
”ya, sebelumnya saya kan sudah dikasih sales dari prenagen itu
caranya memandikan bayi.. trus cara merawat bayi.. dari nol sampe
empat bulan, kemudian empat bulan sampe berapa bulan.. gitu....”
(Alus)
Staf pemasaran produk makanan dan minuman untuk ibu hamil,
menyusui, dan bayi bisa dijadikan salah satu sumber informasi oleh
informan. Para staf tersebut memiliki banyak informasi tentang bayi.
Mereka adalah tenaga pemasaran terlatih yang memiliki pengetahuan
umum yang luas mengenai kehamilan dan pengasuhan bayi. Selain bisa
memberikan informasi secara lisan, mereka juga memiliki berbagai buku,
brosur, dan bahan bacaan lain yang bisa dibagikan pada para pelanggan
atau calon pelanggannya. Karena mereka memiliki motif promosi agar
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
83
dagangannya laku, maka informan bisa sangat memanfaatkan mereka
sebagai sumber informasi kehamilan dan pengasuhan bayi.
Dukun bayi juga merupakan salah satu sumber informasi bagi
informan.
”Kadang-kadang disuruh tanya sama dukun bayi.. dukun bayi
kadang-kadang.. dukun bayi dukun pijete bayi itu lho...” (Muna)
Meskipun gerak dukun bayi sebagai penolong persalinan di
Jombang semakin dibatasi, perempuan di Jombang masih banyak
memanfaatkan jasa dukun bayi. Jasa dukun bayi tersebut adalah
memandikan bayi baru, memijat bayi dan ibu, serta merawat peralatan
bayi baru. Dengan masih seringnya berkomunikasi dengan dukun bayi
yang berpengalaman dalam hal kehamilan dan pengasuhan bayi,
informan memanfaatkan dukun bayi sebagai sumber informasi.
Selanjutnya, sumber informasi personal informal bagi informan
adalah
orang
tua,
suami,
saudara,
teman
kerja,
dan
teman
lainnya.Seluruh informan penelitian ini memanfaatkan orang tua mereka
sebagai sumber informasi.
Orang tua merupakan orang yang dekat
dengan dan dipercaya oleh informan. Orang tua adalah orang tua sendiri
maupun mertua.
”biasanya orang tua, saudara-saudara, seng.. berpengalaman ta
lah, mbak...” (Ana)
”kebetulan ibu saya seorang bidan, jadi saya mendapatkan
informasi banyak sekali dari ibu saya” (Alus)
”ya memang mereka memberi tahu saya.. kebetulan dari orang tua
saya.. dari mertua saya...anak kami ini adalah cucu pertama jadi,
saking senengnya.. semua ngasih saran banyak sekali” (Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
84
”mbahe kung ngge pun priso piyambak kok. Mbahe kung niki (sambil
melirik anaknya), moro sepah kulo... (kakeknya sudah tahu kok.
Kakeknya –bayi- ini, mertua saya -yang memberitahu-...)” (Anis)
”...mboten nate ten tiang lintu mboten nate.. ngge tiang sepah
kulo piyambak (tidak pernah bertanya pada orang lain.. ya orang
tua saya sendiri)” (Anis)
”curhate.. ya dengan umi.. orang tua.. trus ke bidan-bidan” (Muna)
”orangtua iya, kebanyakan
apa sih.. kalo orang jawa itu
pengasuhan bayi pada awal-awal.. pengalaman kadang-kadang hal
yang.. kayak misalnya.. empat puluh hari biasanya anak itu rewel”
(Muna)
”iya..katanya orang-orang dulu mbak.. anu.. moro sepuh kulo...
(iya.. kata orang-orang dulu mbak.. anu.. mertua saya...)” (Ida)
”ya.. dari.. orang tua.. untuk memandikan...” (Ida)
Orang tua perempuan merupakan sumber informasi kehamilan
dan pengasuhan bayi yang bisa diandalkan. Mereka berpengalaman dalam
menjalani kehamilan dan pengasuhan bayi. Namun demikian, orang tua
pria pun menjadi sumber informasi bagi informan. Informan dalam
penelitian ini menyatakan orangtua laki-laki bisa memberikan informasi
mengenai doa untuk anak dan informasi lain yang berkaitan.
Suami adalah anggota keluarga lain yang juga merupakan sumber
informasi
kehamilan
dan
pengasuhan
bayi.
Menurut
pengalaman
informan, suami bersama-sama informan mengalami kehamilan dan
pengasuhan bayi.
“kalo doa-doa paling yo suami yang memberitahu” (Ana)
”o.. iya.. suami saya yang ngenet sekarang tentang itu.. PASI,
pendamping ASI. Suami saya itu selalu mencari informasi tentang
itu.. apa saja yang bagus untuk bayi.. terutama ini... trus
diprintkan, di bawa pulang, aku disuruh baca” (Alus)
”disanjangi ayahipun piyambak... (diberitahu sendiri oleh
ayahnya...)” (Anis)
Oleh karenanya, suami juga tertarik akan informasi yang
berkaitan denganhal tersebut. Setelah mendapatkan informasi yang
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
85
berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi, tanpa diminta pun
suami membagi informasi tersebut kepada informan.
Selain orang tua dan suami, saudara juga menjadi sumber
informasi bagi informan. Saudara bisa memberikan informasi sesuai
dengan pengalamannya dalam menjalani kehamilan dan pengasuhan
bayi. Kepada saudara, informan bisa menanyakan berbagai macam hal
dengan terbuka. Oleh karenanya, saudara merupakan sumber informasi
yang ditemui oleh informan.
”iya.. dari sodara-sodara juga tentang itu.. tentang kebiasaan..
kalo anak kecil gak boleh begini..gak boleh gitu....” (Alus)
”dari keluarga paling cuman informasi engkok yang mandikan ini
aja.. ini aja.. gitu-gitu” (Muna)
Teman di lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan kerja
merupakan sumber informasi bagi informan. Bersama teman, seringkali
informan saling bertukar pengalaman, bertukar informasi. Teman yang
juga sedang hamil atau mengasuh bayi bisa memberikan informasi aktual
yang diperoleh berdasarkan apa yang sedang atau telah dialaminya. Oleh
karenanya, informan juga menjadikan teman sebagai sumber informasi.
”o.. iya.. kebetulan tetangga-tetangga saya ini kan juga banyak
yang habis melahirkan anak.. ya.. saling tukar informasi tentang
imunisasi. .tentang apa..kalo sama temen2 itu biasanya itu o.. gak
boleh gini.. gak ilok.. (tidak pantas) gak boleh gini.. gak ilok. .gitu”
(Alus)
”sharing dengan sesama dokter yang sudah pengalaman.. punya
anak..atau dokter spesialis kandungan.. kalo ada kesempatan untuk
tanya...” (Muna)
”...kedua, dari teman saya yang kebetulan sedang belajar spesialis
dalam sekolah spesialis kandungan.” (Muna)
”iya.. terose rencang ten kantor ya.. piye iko.. nek hamil gak oleh
anu..(iya.. kata teman kantor ya.. bagaimana itu.. kalau hamil
tidak boleh anu...” (Ida)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
86
Bagi informan, para sumber informasi personal informal lebih
mereka sukai daripada sumberi informasi personal formal. Meskipun
informasi yang mereka sampaikan tidak selalu sesuai, namun komunikasi
berhadapan merupakan cara yang lebih disukai untuk mengakses
informasi dari sumber informasi. Selain itu, manusia memang cenderung
mencari informasi dari sumber yang paling mungkin diakses (Durrance
dalam Varjels, 1986: 74). Begitu pula informan dalam penelitian ini.
Selain kedua jenis sumber informasi di atas, di Jombang tersedia
pula pusat layanan kesehatan dan perpustakaan sebagai lembaga yang
bisa dimanfaatkan sebagai sumber informasi. Namun, tidak ada informan
yang menyatakan bahwa mereka memanfaatkan lembaga-lembaga
tersebut
sebagai
sumber
informasi.
Mereka
memang
memiliki
pengalaman berkunjung ke pusat layanan kesehatan, namun mereka
tidak melaksanakan penelusuran informasi kecuali ketika berhadapan
dengan bidan atau dokter.
Di sisi lain, tidak ada satu pun informan yang mengunjungi
perpustakaan Mastrip di Kota Jombang maupun perpustakaan lain untuk
memenuhi kebutuhan informasi kehamilan dan pengasuhan bayinya.
Selain karena tidak adanya promosi tentang perpustakaan tersebut yang
sampai pada informan. Rendahnya budaya baca di Jombang juga
mempengaruhi
kondisi
tidak
adanya
informan
memanfaatkan
perpustakaan ini.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
87
Pembahasan tersebut menunjukkan modus pemilihan sumber
informasi personal oleh informan. Kemudahan akses merupakan alasan
utama dalam pemilihan sumber informasi. Oleh karenanya, sumber
informasi personal informal yang tersedia sepanjang hari merupakan
pilihan pertama. Jika ternyata sumber informasi tersebut tidak mampu
memberikan informasi, maka pilihan jatuh pada sumber informasi
personal formal, yaitu tenaga kesehatan.
Maka, peneliti menyimpulkan bahwa modus pemilihan sumber
informasi terekam sama dengan pemilihan sumber informasi personal.
Akses dan biaya merupakan bahan pertimbangan informan dalam
memutuskan untuk memanfaatkan sumber informasi tertentu. Lebih
mudah akses dan lebih murah biaya yang harus dikeluarkan, maka
sumber informasi lebih disukai dan lebih banyak dimanfaatkan.
3. Pencarian Informasi Informan
Berdasarkan dimensi pencarian informasi dalam kehidupan
sehari-hari yang diterangkan oleh Salvolainen (1995: 266-267), pencarian
informasi yang dilaksanakan oleh informan adalah pencarian informasi
praktis. Informan melaksanakan pencarian informasi karena mereka
sedang menghadapi situasi hamil atau mengasuh bayi. Informan
menginginkan informasi praktis yang bisa langsung diaplikasikan untuk
menghadapi berbagai situasi dalam kehamilan maupun pengasuhan bayi.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
88
a. Pencarian Informasi Melalui Sumber Informasi Terekam
Informan melaksanakan pencarian informasi melalui sumber
informasi terekam. Sumber informasi terekam yang dimanfaatkan adalah
media cetak dan media elektronik. Dalam menggunakan media-media
tersebut sebagai sumber informasi, informan melaksanakan pencarian
informasi yang bermacam-macam.
Ketika sumber informasinya adalah media cetak, informan
membaca untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Ketika
aktif mencari, informan telah mengetahui kebutuhan informasinya dan
mengetahui media cetak yang harus dia baca untuk memenuhi kebutuhan
informasinya. Ketika melakukan pencarian aktif seperti ini, informan
dengan segera mencari media cetak yang dia butuhkan tersebut.
Terkadang, informan sudah mengidentifikasi kebutuhan informasi
dan mengetahui media cetak yang sesuai. Namun, informan tidak
langsung mencari media cetak tersebut. Informan mengingat kebutuhan
informasinya dan memenuhinya ketika sedang mengonsumsi media cetak
yang sesuai.
Sebelum membaca untuk mendapatkan informasi, informan perlu
menemukan media cetak yang sesuai dengan kebutuhannya terlebih
dahulu. Informan Muna menyatakan tentang keragaman cara para
informan mendapatkan bahan bacaan. Ungkapannya adalah
”ada dikasih.. ada beli.. pinjam teman.. gitu.. dari sodara..”
(Muna)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
89
Informan yang mampu, membeli bahan bacaan yang sesuai untuk
dijadikan sumber informasi. Informan Muna menuturkan
”kadang-kadang mencari buku-buku itu... tentang pengasuhan
anak....” (Muna)
Kegiatan membeli tersebut dilaksanakan ketika informan memiliki
kesempatan untuk pergi ke toko buku.
”sedang.. gak terlalu aktif cari buku.. informasi.. ngoyo juga gak..
kebetulan gak seberapa... gak sampe ngoyo-ngoyo sampe ke tokotoko buku yang besar untuk mencari informasi, karena kan jombang
kota kecil. Jadi kita kalo pengen informasi yang lengkap kan di
kota.. dadi di toko-toko buku yang besar itu kan gak ada..gak
sampe ngoyo ke surabaya waktu itu ndak.. ya.. sedang-sedang aja.”
(Muna)
”kalo pas ada kesempatan ke surabaya.. kadang-kadang mencari
buku-buku itu..tentang pengasuhan anak.” (Muna)
Kabupaten Jombang tidak memiliki toko buku yang dianggap
lengkap oleh informan. Oleh karenanya, mereka umumnya kurang dekat
dengan keadaan memiliki buku, mengaksesnya, apalagi membacanya.
Hal ini sangat membatasi pemenuhan kebutuhan informasi informan
melalui buku atau media cetak lain.
Menurut pengalaman informan dalam penelitian ini, mereka
berusaha mendapatkan informasi dari media cetak yang sudah mereka
miliki sebelumnya. Jadi, mereka memanfaatkan media cetak yang sudah
tersedia.
”dan juga karena tugas saya di puskesmas, sehingga ada informasi..
buku-buku panduan..gitu tentang kehamilan.. dan juga.. kami..
kebetulan kami ada pelatihan waktu kami sebelum hamil ada
pelatihan tentang persalinan.. dadi paling ndak buku-buku panduan
seperti itu bisa dadi pedoman.” (Muna)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
90
Pada situasi lain, terkadang informan juga harus meminjam
media cetak. Informan Alus, misalnya, menyatakan bahwa dia membaca
media cetak yang dimiliki oleh ibunya untuk memenuhi kebutuhan
informasinya. Informan Muna, di sisi lain, dengan jelas menyatakan
bahwa dia meminjam media cetak temannya jika dia menganggap media
cetak tersebut sesuai dengan kebutuhan informasinya. Beberapa
informan menceritakan
”seandainya kayak temen saya punya ini.. ya saya pinjem.. trus
saya fotokopi” (Alus)
”...Ada teman punya buku.. dan kebetulan saya juga punya
buku....” (Muna)
Terkadang, informan juga memfotokopi
”dapet dari koran.. kayak gini (memperlihatkan fotokopi artikel
koran) untuk saya fotokopi.. gitu...” (Alus)
Tindakan memfotokopi artikel yang ditemukan biasanya untuk bisa
menyimpan bacaan tersebut.
Cara lain dalam mendapatkan media cetak adalah dengan
menerima pemberian orang lain. Individu yang memberikan media cetak
kepada informan adalah anggota keluarga lain, teman, dan bahkan staf
pemasaran
produk
tertentu.
Informan
Ana
dan
Muna
pernah
mendapatkan bacaan tercetaknya sebagai pemberian dari saudara
mereka. Di sisi lain, informan Alus menyatakan pernah mendapatkan dari
suaminya. Mereka menyatakan
”...ditukokno (dibelikan) majalah ayahbunda....” (Ana)
”ya, sebelumnya saya kan sudah dikasih seles (staf pemasaran) dari
prenagen itu caranya memandikan bayi.. trus cara merawat
bayi....” (Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
91
Ada saatnya, informan belum menyadari kebutuhan informasinya.
Informan
secara
kebetulan
menemukan
informasi
yang
ternyata
merupakan kebutuhan informasinya. Kebetulan menjumpai media cetak
tertentu bisa terjadi di mana saja, di rumah, rumah kawan, pusat
layanan kesehatan, dan sebagainya. Media cetak yang menjadi sumber
informasi pun bisa berupa apa saja, buku, majalah, pamflet, brosur, dan
sebagainya.
Bagaimanapun juga, dua informan menyatakan tidak pernah
mendapatkan informasi dari media cetak buku maupun majalah.
Membaca keduanya bukan hal yang biasa mereka lakukan. Meskipun
demikian, salah satu informan, yaitu informan Ida, menyatakan bahwa
dia membaca brosur maupun kaleng kemasan produk minuman atau
makanan bayi dan mendapatkan informasi darinya.
Penemuan menunjukkan bahwa hanya informan yang memiliki
rasa kebutuhan yang tinggi saja yang mengonsumsi buku sebagai sumber
informasinya, dalam hal ini yaitu informan Alus dan Muna. Kedua
informan ini memahami pentingnya membaca media yang tepat untuk
memenuhi kebutuhan informasi. Informan lain tidak mengalaminya
karena sebagaimana kebanyakan warga Jombang, membaca bukanlah
budaya mereka, dan buku merupakan barang mewah.
Bagi beberapa informan lain, membeli koran dan majalah
merupakan suatu pemborosan. Selain mereka tidak terbiasa dan tidak
menikmati membaca koran dan majalah, mereka juga merasa bahwa
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
92
uang yang bisa dikeluarkan untuk membeli koran maupun majalah bisa
digunakan untuk hal lain yang lebih penting bagi mereka, seperti
membeli buku pelajaran anak-anak mereka.
Informan yang tidak banyak membaca melewatkan banyak
informasi penting mengenai kehamilan dan pengasuhan bayi. Informan
bisa dengan mudah mendapatkan bahan bacaan di perpustakaan, namun
mereka tidak memanfaatkannya. Jika majalah terlalu mahal, informan
bisa membeli tabloid yang sarat informasi.
Saat ini, banyak sekali tabloid maupun majalah yang bergenre
ibu muda terbit bulanan. Majalah-majalah untuk orang tua banyak
membahas masalah kehamilan dan pengasuhan anak sejak bayi. Tabloidtabloid yang terbit mingguan pun banyak beredar. Kios-kios koran dan
majalah di Jombang menyediakan majalah-majalah dan tabloid-tabloid
tersebut.
Selain itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang juga sering
mengedarkan brosur, pamflet, maupun poster yang berhubungan dengan
kehamilan dan pengasuhan bayi. Semua media tersebut bisa didapatkan
dengan mudah dan gratis di puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit di
wilayah Jombang. Selain itu, seringkali apotik-apotik menyajikan brosur
dari produk tertentu yang juga sarat informasi kehamilan dan
pengasuhan bayi. Informan mengaku
”oo.. ada promosi gitu ta.. ya hanya membaca thok.. tapi gak
memperhatikan.. tapi ngge angsal (ya memperoleh) tambahan
pengetahuan.” (Ida)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
93
”biasane seng ten kaleng susu..dibaca juga.. takarannya berapa..
kan takut nanti kalo tidak sesuai” (Ida)
Semua informan melaksanakan pencarian informasi melalui
media elektronik televisi.
”iya.. kalo sabtu itu kan banyak ya acara tentang ibu dan anak itu..
saya liat tv itu” (Alus)
Menonton televisi merupakan kegiatan sehari-hari para informan.
Mereka mengaku bahwa mereka tidak begitu sering menonton televisi.
Meskipun demikian, mereka tetap mendapatkan informasi tentang
kehamilan
dan
pengasuhan
bayi
dari
televisi.
Mereka
bisa
mendapatkannya melalui berbagai macam cara.
Salah satu cara tersebut adalah dengan mengingat jadwal
tayangan acara yang berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan bayi.
Informan Ana menyatakan bahwa dengan mengingat jadwal suatu acara,
dia berusaha agar tidak ketinggalan untuk menyaksikan acara tersebut.
Baginya, merupakan hal penting untuk mengetahui banyak hal mengenai
kehamilan
maupun
pengasuhan
bayi,
termasuk
melalui
televisi.
Pernyataannya adalah
”Pas anak pertama iku ta' titeni (jadwale), mbak (Waktu anak
pertama dulu saya hafalkan, mbak)” (Ana)
Bagi para informan, menyaksikan tayangan yang berhubungan
dengan kehamilan dan pengasuhan bayi membuat mereka menerima
banyak menerima informasi mengenai hal tersebut. Namun, tidak semua
informan merasa perlu menghafal jadwal tayangan tertentu. Bagi
mereka, menelusur acara televisi pada pagi hingga siang hari di akhir
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
94
pekan sudah cukup untuk mendapatkan berbagai informasi tentang
kehamilan dan pengasuhan bayi.
”iya.. pokoknya hari sabtu itu banyak mbak.. mulai jam delapan
sampe jam sebelas itu.. ganti-ganti cenel itu banyak...” (Alus)
“ahad sabtu, pas libur.. iya..pas liat ada kesempatan kayak
konicare biyen niko (seperti acara konicare dulu), kayak gitu-gitu.”
(Muna)
Menurut informan Alus, pada pagi hingga siang hari di akhir
pekan, banyak stasiun televisi secara bergantian menayangkan acara
khusus yang membahas kehamilan dan pengasuhan bayi. Dengan
demikian,
di
masa-masa
tersebut,
informan
memilih
untuk
memprioritaskan acara yang berhubungan dengan kehamilan dan
pengasuhan bayi daripada acara lain yang ditayangkan.
DI sisi lain, informan Muna tidak secara pasti menelusur pada hari
Sabtu. Namun, ketika ada kesempatan menonton televisi dan ada acara
yang menyampaikan informasi yang dibutuhkannya, informan ini
mengutamakan acara tersebut daripada acara lain.
”ndak, ndak rutin, pas kebetulan ada acara-acara, pas ada
kesempatan ada acara, ya itu yang diutamakan.. acara-acara itu..
kan” (Muna)
”ato kadang-kadang pas jam-jam istirahat ada acara kayak apa
misalnya kid n mom itu kan misalnya.. pas ada waktu luang.. itu
bisa...” (Muna)
Ada kalanya, informan bisa memenuhi kebutuhan informasinya
melalui iklan yang ditanyangkan stasiun televisi.
” Iya, nonton TV ngge memperhatikan iklan.. ngge kadang saget
semerap niku.. nopo.. kados asifit saget mbancaraken ASI.. tapi
ya.. mboten patek (iya, menyaksikan ya memperhatikan iklan.. ya
kadang jadi tahu itu.. apa.. seperti asifit bisa memperlancar ASI..
tapi ya..tidak seberapa” (Ida)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
95
Sebab informan tidak menyaksikan tayang yang berkaitan dengan
pengasuhan bayi di televisi bermacam-macam. Ada kalanya hal tersebut
disebabkan oleh ketidaksukannya menyaksikan televisi. Di saat lain, hal
ini disebabkan oleh kebiasaan informan untuk mengutamakan tayangan
sinetron dan kuis daripada tayangan sarat informasi.
Kebiasaan ini merupakan tipikal para ibu-ibu. Bagi warga
Jombang yang tidak bekerja, bergaul dengan tetangga sekitar pada siang
dan sore hari masih dilakukan. Namun, dengan semakin terjangkaunya
televisi dan banyaknya stasiun televisi yang bisa mereka nikmati, mereka
memiliki pilihan kegiatan lain. Hal ini menunjukkan potensi televisi
sebagai sumber informasi yang bisa mereka manfaatkan.
Melalui internet, hanya dua informan yang melaksanakan
pencarian informasi. Beberapa cara yang mereka lakukan adalah
sebagaimana pernyataan mereka
”Ya memang sengaja, saya mencari informasi itu soalnya saya
sudah beberapa bulan telah menikah kok belum hamil, kemudian
saya.. mencari informasi...” (Alus)
”o.. iya.. suami saya yang ngenet sekarang tentang itu... namanya
orang tua kan pengennya seperti itu ya nyari informa..si aja...
diprintkan itu biasanya...” (Alus)
Ternyata, meskipun akses terhadap internet sudah terjangkau,
belum banyak warga dari kalangan ibu-ibu yang memanfaatkannya.
Bahkan meskipun Pemkab Jombang telah menyediakan akses internet
gratis, tidak banyak ibu yang memanfaatkannya. Hal ini disebabkan oleh
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
96
ketidaktahuan mereka akan internet; apakah internet itu dan apa yang
bisa mereka lakukan dengannya.
Tampaknya, ketidaktahuan mereka didukung dengan anggapan
ketidakumuman internet bagi para ibu-ibu. Sebagaimana ciri perempuan
Jombang yang terbuka pada perubahan, mereka mempersilahkan para
generasi yang lebih muda untuk memanfaatkan internet. Namun, mereka
merasa tidak perlu beradaptasi dengan mencoba memanfaatkannya. Bagi
mereka, hal yang berhubungan dengan teknologi baru adalah urusan
orang muda, orang tua tidak perlu ikut campur.
Sebagai tambahan, penemuan dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa mereka yang memanfaatkan internet adalah mereka yang telah
mengenal dan memanfatkannya sejak sebelum menikah. Sebelum
mereka hidup berkeluarga di Jombang, mereka pernah tinggal di
lingkungan lain (tempat kuliah mereka) di mana mereka lebih akrab
dengan
akses
internet.
Ketika
berdomisili
di
Jombang,
mereka
meneruskan kebiasaan menelusur internet tersebut.
Melalui sumber infomasi terekam, para informan melaksanakan
berbagai uaya untuk mendapatkan informasi. Melalui media cetak,
beberpaa upaya yang dilaksankan untuk mengakses sumber informasi
adalah dengan memanfaatkan media cetak yang sudah dimiliki,
meminjam dari orang lain, membeli, memfotokopi, dan diberi. Melalui
media elektronik, para informan mencari dengan sengaja, menelusur
sendiri, maupun menelusur dengan bantuan suami.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
97
b. Pencarian Informasi Melalui Sumber Informasi Personal
Sumber informasi personal formal dan sumber informasi personal
informal merupakan sumber informasi yang disukai oleh informan. Hal ini
karena pencarian informasi dilaksanakan dengan berkomunikasi dengan
orang lain. Dengan bercakap-cakap, informan bisa secara langsung
menanyakan sesuatu dan mendapatkan jawabannya. Ketika ada hal yang
kurang dimengerti oleh informan, informan bisa dengan segera
menanyakannya kembali. Oleh karenanya, percakapan dengan sumber
informasi merupakan hal yang praktis bagi informan dalam mendapatkan
informasi.
Ketika melalui sumber informasi personal formal, informan aktif
bertanya dan cenderung tahu apa yang ingin ditanyakan. Informan
mengidentifikasi kebutuhan informasi dan merencanakan pertanyaannya
sebelum berkunjung ke tenaga kesehatan, baik dokter maupun bidan.
Para informan menyampaikan
”yo aku takok takok nang bidan ngunu (ya aku bertanya-tanya pada
bidan, begitu)” (Ana)
”apa yang saya keluhkan langsung saya tanyakan...” (Alus)
”Saya konsultasikan ke dokter...) (Alus)
”yang mau ditanyakan ini-ini-ini..misalnya gitu.. dadi sudah
dirancang sebelumnya..gitu” (Muna)
”saya sama suami biasanya saling engkok (nanti) yang ditanyakan
ini-ini-ini, gitu.. tapi kalo sampek buat footnote, catetan gitu
enggak” (Muna)
”iya, ketika hamil..jadi selalu bertanya aktif tentang perkembangan
bayi, ibu, waktu itu.” (Muna)
”kemudian saya periksa ke dokter spesialis kandungan yang itu..
yang biasanya itu..baru terus dapat informasi lengkap.. o.. gak..
gak papa” (Muna)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
98
Biasanya, kebutuhan informasi yang ingin mereka peroleh adalah yang
berhubungan dengan situasi yang sedang mereka hadapi.
Berusaha mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan bagi
informan adalah hal yang bagus. Informan menganggap tenaga kesehatan
merupakan orang yang kompeten dalam memberikan informasi yang
mereka butuhkan. Tak jarang, informan menanyakan kembali pertanyaan
yang sudah pernah dia tanyakan ke orang lain. Hal ini karena informan
ingin mengklarifikasi kebenaran informasi yang didapatkannya. Mereka
ingin mengetahui kebenaran informasi menurut ahlinya.
Selain itu, informan juga mendapatkan informasi dari tenaga
kesehatan secara diberitahu. Informan tidak bertanya terlebih dahulu
kepada tenaga kesehatan. Setelah diberitahu, informan baru menyadari
bahwa informasi yang diberikan adalah informasi yang sesuai untuknya,
sesuai dengan kebutuhannya.
”langsung di kasih tahu, gak pernah tanya” (Ana)
”terus.. untuk menjaga keselamatan ibu dan anak itu disarankan
untuk dikeluarkan sekarang” (Alus)
”Lha ASI saya ini tidak begitu lancar, anak saya kalo minum saya itu
nangis soalnya anak saya itu lahirnya kecil, terus disarankan dokter
itu minum susu tambahan” (Alus)
”yang kedua justru nggak cari tahu.. wes pasrah gitu.. ternyata
malahan di kasih tahu ambek doktere” (Muna)
”terus bidane ngutus nyusoni... (ters ibu bidan menyuruh untuk
menyusui)” (Ida)
”ngge saking ibu bidane ngoten niku..mbenjeng.. tanggal mriki..
mriki maleh (ya dari ibu bidannya itu.. besok.. tanggal sekian
kesini.. kesini lagi...)” (Ida)
Praktik pencarian informasi yang sedemikian biasa terjadi ketika
partispan sedang berada di bawah tanggung jawab tenaga kesehatan,
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
99
seperti ketika sedang menjalani persiapan operasi di rumah sakit atau
selepas persalinan dan belum pulang dari rumah sakit. Pengalaman salah
satu informan
”pertama kali Sasa itu.. kan ada jahitan.. lho.. kok ada jahitan..
kan takut bidane.. terus tanya.. lho dok, ini pasien ini anu katanya
kok dari suratnya dokterkan ada pengantar.. normal.. o..
iya..normal.. itu ndak papa..akhirnya normal (pertama kali Sasa itu
kan ada jahitan.. lho, kok ada jahitan.. kan bidannya takut.. lho
Dok, ini pasien anu katanya kok dari surat pengantar dokter..
normal.. o.. iya.. tidak apa-apa.. normal. . itu tidak apa-apa..
akhirnya normal)” (Ida)
Dari sumber informasi staf pemasaran, informan menceritakan
”diinformasikan sama mbak salesnya ini.. mbak sales ini kan
buanyak omongnya jadi saya banyak informasi dari mbak nya
itu....” (Alus)
”wis.. semua informasi kalo saya ndak tahu ya tanya ke mbak itu..
kalo gak tahu lagi ya tanya ke dokter.” (Alus)
Di sisi lain, sumber informasi informal dan informan bergaul dan
sering berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sumber informasi
informal adalah orang tua, suami, anggota keluarga lain, maupun temanteman. Kepada mereka, informan lebih leluasa bertanya aktif.
Bertanya secara aktif dilakukan oleh informan dalam komunikasi
bertatap muka. Pencarian informasi seperti ini juga bisa dilakukan oleh
informan dengan berkomunikasi melalui alat bantu teknologi komunikasi,
seperti telepon atau telepon genggam. Dengan bantuan teknologi
tersebut, informan tidak hanya bisa bercakap-cakap secara lisan, namun
juga bisa berkomunikasi melalui pesan singkat (sms)
Terjangkaunya harga telepon genggam dan layanan pengiriman
pesan singkat sangat membantu komunikasi para ibu dari kelas ekonomi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
100
bawah di Jombang. Para informan termasuk dari para ibu yeng
memanfaatkan telepon genggam. Dengan keterbatasan waktu untuk
keluar dari rumah karena harus merawat bayinya, para informan
menemukan bahwa pesan singkat merupakan jalur komunikasi yang
sesuai untuk mereka.
Selain itu, seringkali sumber informasi personal informal dengan
sengaja maupun tidak sengaja, tanpa diminta, memberikan informasi
kepada informan. Ketika sengaja memberikan informasi, biasanya
keluarga maupun teman yang menjadi sumber informasi berasumsi
bahwa informan membutuhkan informasi tersebut.
”tiang sepahipun tasek rumiyen... ngge di anui.. ancene pun
didawuhi..nggee...(orang tuanya dulu.. ya di anu.. memang sudah
diberitahu.. ya..).” (Anis)
”ayahipun
saget
piyambak,
ngge..
trus
kulo
diutus
ndungo...(Ayahnya sendiri bisa, ya.. terus saya disuruh berdoa)”
(Anis)
”...katanya orang-orang dulu mbak.. anu.. moro sepuh kulo..
sampean anu..susune diuyet-uyet.. umur berapa.. hamilnya umur..
pun besar, kok.... (katanya orang-orang dulu mbak.. anu.. mertua
saya.. kamu anu.. dadanya dipijat” (Ida)
”...tapi didawuhi begini begini... (tapi diberitahu begini-begini)”
(Ida)
Tidak
hanya
disampaikan
melalui
lisan,
informan
juga
mendapatkan informasi dari keluarga melalui tulisan. Sumber informasi
personal informal menuliskan daftar hal-hal yang menurutnya patut
diketahui oleh informan. Daftar tersebut dituliskan agar bisa dibaca
berulang-ulang oleh informan, dipatuhi dan dijadikan rujukan ketika
informan lupa tentang sesuatu yang berhubungan dengan hal yang
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
101
dituliskan. Tulisan tersebut kemudian disampaikan kepada dan dibaca
oleh informan. Informan Alus mengungkapkan
”Mertua saya itu selalu membuat tulisan kalo mertua saya itu kan ..
apa... dituliskan.. iya... itu... kan soalnya kalo ngomong kan
katanya takut lupa.. jadi dituliskan terus dikirim kesini.. banyak
sekali.” (Alus)
Kesengajaan sumber informasi untuk memberi tahu juga terjadi
secara spontan. Dalam mengerjakan kegiatan sehari-harinya, informan
mengalami
pemenuhan
kebutuhan
informasi.
Informan
Alus
menceritakan pengalamannya
”kalo saya dulu anak saya masih bayi.. saya membiasakan anak
saya tidur di pinggir, ibu saya langsung ngasih tahu jangan
dibiasakan tidur di pinggir, nanti nek wis besar.. sudah bisa
bergerak2, berguling2, nanti kebiasaaan menidurkan di pinggir.”
(Alus)
Dia menceritakan bahwa dalam kegiatannya mengasuh anak, dia lalai
menidurkan anaknya di bagian tepi tempat tidur. Pada saat itu, ibunya
mengetahui dan menasehatinya untuk tidak mengulangi perbuatannya
tersebut. Sang ibu dengan sengaja memberi informasi pada informan
Alus berdasarkan pengalamannya dalam mengasuh bayi.
Selain beberapa kegiatan pencarian informasi di atas, informan
juga mengalami diberi tahu oleh anggota keluarga untuk berhubungan
dengan orang tertentu untuk mendapatkan informasi yang sedang
dibutuhkannya. Salah satu contoh adalah informan Muna. Dia diberitahu
oleh kakaknya bahwa dia bisa menanyakan hal yang sedang dirisaukannya
pada Mbok Sri, seorang dukun bayi langganan keluarganya. Dia
menguraikan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
102
”kadang-kadang disuruh tanya sama dukun bayi.. dukun bayi
kadang-kadang.. dukun bayi dukun pijete bayi itu lho...” (Muna).
Selain itu, ketika berinteraksi dengannya, Mbok Sri juga
memberitahu berbagai informasi
”ya kadang-kadang tanya-tanya..kadang de'e kan.. memang
merawat beberapa bayi, pernah mandekno.. kayak mbah mbok sri
gitu kan, seng pengalaman...” (Muna)
Meskipun informan Muna adalah seorang dokter, namun dia juga
mengandalkan
dukun
bayi
sebagai
sumber
informasinya.
Dengan
demikian, informan mengukur kredibilitas sumber informasi personal
tertentu melalui pengalamannya. Dukun bayi dikenal sebagai orang yang
suka menyampaikan informasi yang bersifat mistis atau tidak masuk akal.
Namun, di Jombang, dukun bayi masih dipercaya sebagai orang
yang kompeten tentang perawatan bayi. Bahkan, dukun bayi masih
diperkenankan untuk membantu persalinan, dengan syarat telah dilatih
dahulu atau didampingi oleh bidan. Dipercayanya dukun bayi oleh Dinas
Kesehatan ini membuat para informan tetap mengandalkan dukun bayi
untuk membantu mereka.
Selain dari keluarga, informan juga mendapatkan informasi dari
teman kerja. Sebagaimana pencarian informasi melalui sumber informasi
personal lainnya, informan mendapatkan informasi melalui teman
kerjanya setelah bertanya secara aktif maupun diberitahu oleh teman
tanpa bertanya. Bersama teman kerjanya, informan juga melakukan
percakapan sehari-hari yang tidak jarang membahas tentang kehamilan
dan pengasuhan bayi. Hal tersebut menyebabkan informan secara tidak
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
103
sengaja memperoleh informasi tentang kehamilan dan pengasuhan bayi
yang sedang dialaminya.
Demikian pula ketika informan bergaul dengan teman dan
tetangga.
Ada
beberapa
cara
yang
dilaksanakan
ketika
sumber
informasinya adalah teman. Informan Muna menguraikan
”...dari teman saya yang kebetulan sedang belajar spesialis dalam
sekolah spesialis kandungan, dadi smsan” (Muna)
”sharing dengan sesama dokter yang sudah pengalaman...” (Muna)
Dengan adanya teknologi pengiriman pesan singkat, dimanapun sumber
informasi, informan bisa mengaksesnya. Apalagi, biayanya murah.
Teknologi ini mempermudah informan untuk mengakses sumber informasi
personal pilihannya. Informan bisa memilih mendapatkan sumber
informasi personal yang dianggapnya kompeten dengan lebih leluasa.
Dalam hal berhubungan dengan teman, informan tidak dengan
sangat berniat mencari dan menemui untuk mendapatkan informasi
darinya. Informan lebih memilih hanya akan bertanya ketika bertemu
dengan temannya. Seorang informan menyatakan
”...kalo ada kesempatan untuk tanya.. tapi gak aktif mencari gitu
gak.. kalo ada ketemuan ato apa, kita bisa bertanya, gitu” (Muna)
Bersama tetangga, mereka saling bercerita tentang banyak hal.
Mereka juga bercerita tentang hal-hal yang berhubungan dengan
kehamilan dan pengasuhan bayi. Cerita para informan
”o.. iya.. kebetulan tetangga-tetangga saya ini kan juga banyak
yang habis melahirkan anak.. ya.. saling tukar informasi tentang
imunisasi..tentang apa..kalo sama temen2 itu biasanya itu...” (Alus)
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
104
Dalam keadaan ini, informan tidak secara sengaja bermaksud
mencari informasi kehamilan dan pengasuhan bayi. Namun, karena
dalam percakapan mereka menyinggung hal tersebut, maka terkadang
informan memperoleh informasi yang dibutuhkannya.
4. Hambatan Pencarian Informasi
Informan yang aktif dalam mencari informasi lebih banyak
mendapatkan hambatan daripada informan yang bersikap menjemput
bola dalam pencarian informasi. Sebabnya adalah informan yang aktif
lebih berusaha memenuhi kebutuhan informasinya daripada informan
yang pasif. Bersamaan dengan itu, informan yang aktif juga memiliki
harapan lebih besar akan terpenuhinya kebutuhan informasi daripada
informan yang pasif.
Dalam penelitian ini, informan aktif adalah informan Alus dan
Muna. Di sisi lain, informan yang pasif adalah informan Anis dan Ida.
Informan Ana berada di tengah-tengah, karena meskipun dia tidak
seaktif informan Alus dan Muna, dia juga tidak sepasif informan Anis dan
Ida.
Dengan demikian, informan yang lebih banyak mengalami
hambatan adalah informan Alus dan Muna. Informan Ana juga
menyatakan
mengalami
hambatan
dalam
pencarian
informasinya.
Sebaliknya, informan Anis dan Ida merasa tidak mengalami hambatan
dalam pemerolehan informasi kehamilan dan pengasuhan bayi.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
105
Informan menghadapi hambatan yang berbeda dari tipe sumber
informasi yang berbeda. Pada sumber informasi terekam, hambatan
pencarian informasi adalah waktu dan biaya. Pada sumber informasi
personal, hambatan yang dialami adalah hambatan komunikasi. Pada
keduanya, terdapat hambatan akses yang menghalangi terpenuhinya
kebutuhan informasi.
Kurangnya
waktu
untuk
menelusur
informasi
merupakan
hambatan pencarian informasi bagi informan Alus dan Muna. Informan
Alus mengalaminya ketika dia sudah melahirkan. Alus menyatakan tidak
sempat lagi untuk membaca buku-buku mengenai pengasuhan bayi
sebagaimana yang dia lakukan ketika
masih hamil. Keadaan tersebut
karena informan Alus harus mengasuh sendiri anak kembarnya ketika
semua anggota keluarga yang tinggal di rumahnya sedang bekerja.
Bagi informan Muna, pengalaman kurangnya waktu adalah karena
kesibukannya. Dia menyatakan
”kalo dari internet jarang sekali.. karena terus terang kan waktu
tidak ada..tidak adanya waktu, keterbatasan waktu yang tidak
memungkinkan untuk mencari informasi dari internet” (Muna)
Tugas sebagai dokter di puskesmas di pagi hingga sore hari dan di
beberapa pusat layanan kesehatan lain di Jombang pada malam hari seta
akhir pekan mempersempit kesempatan informan Muna untuk menelusur
informasi melalui internet. Keterbatasan waktu tersebut didukung oleh
ketidaktersediaan
layanan
internet
yang
bisa
dimanfaatkan
oleh
informan Muna di tempat kerjanya.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
106
Biaya sebagai hambatan pencarian informasi dialami oleh
informan Ana. Dia menatakan
”(terkikik), nggak... korane sopo...(tidak, koran siapa...)” (Ana)
”duite gawe mangan ae mbak.. pokoke gak ngutang.. palangan tuku
bukune nia (anak pertama informan Ana) daripada tuku buku gawe
ngunu iku (uangnya dipakai untuk makan saja, mbak.. yang penting
tidak berhutang.. lebih baik dipakai untuk membeli buku Nia
daripada membeli buku seperti itu)” (Ana)
Informan Ana menyatakan bahwa daripada dia mengeluarkan
uang untuk membeli bahan bacaan apapun mengenai kehamilan dan
pengasuhan bayi, lebih baik dia gunakan uang tersebut untuk membeli
buku bagi anaknya yang sudah sekolah. Keadaan ekonomi membuatnya
memilih untuk tidak mengakses sumber informasi tercetak. Dia hanya
mengonsumsi bacaan yang diberikan atau dipinjamkan oleh orang lain
kepadanya.
Pada kesempatan lain, ketika berhadapan dengan sumber
informasi personal dalam pencarian informasi, informan menghadapi
beberapa hambatan komunikasi. Hambatan tersebut terkadang berasal
dari informan sendiri. Di masa lain, hambatan terjadi karena faktor
sumber
informasinya.
Terkadang,
hambatan
juga
terjadi
karena
keduanya, informan maupun sumber informasi.
Hambatan terjadi karena faktor informan ketika informan merasa
enggan
untuk
bertanya
kepada
seseorang
mengenai
kebutuhan
informasinya. Keengganan tersebut muncul karena beberapa sebab.
Sebab
pertama
adalah
informan
tidak
berani
bertanya
setelah
berhadapan langsung dengan sumber informasi. Sebab kedua adalah
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
107
informan menilai sumber informasi yang sedang dihadapinya kurang
berkemampuan mengenai informasi yang ingin didapatkannya. Informan
Alus menuturkan
”ya pernah.. takutnya.. kadang-kadang orang kan gak mesti mbak..
niatnya baik.. niatnya buruk.. ya liat karakter orangnya.. o.. gak
boleh begini..begini.. begini..Ternyata dibuku saya baca o.. boleh..
gitu” (Alus)
Faktor sumber informasi sebagai hambatan terjadi ketika
informan menganggap bahwa informasi yang disampaikan oleh sumber
informasi tidak sesuai dengan pengalaman informan. Oleh karenanya,
informan kecewa terhadap sumber informasi dan informasinya dianggap
tidak memenuhi kebutuhannya.
”yo cumak iku maeng, wetengku seng geret-geret.. jarene gak
popo, jarene mari lahir kan ilang.. tiba'e gak (ya Cuma yang itu
tadi, garis-garis di perutku.. katanya tidak ada masalah, katanya
setelah melahirkan hilang.. ternyata tidak)” (Ana)
Ada saatnya, sumber informasi enggan menyampaikan informasi
tanpa alasan yang jelas.
Hambatan lain yang dialami informan adalah terjadinya hal yang
tidak disangka-sangka. Pencarian informasi yang sudah direncanakan
sebelumnya tertunda karena ada hal lain yang harus diutamakan.
Informan Muna menceritakan
”sebenarnya ada rencana untuk konsultasi ke profesor spesialis..
gitu.. kemarin sebetulnya rencananya, tapi karena anak kedua
sakit, jadi gak sido. Rencana memang ke profesor anak.”
Keterbatasan akses juga menjadi hambatan bagi informan.
Hambatan yang dialami oleh informan Muna dalam pencarian informasi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
108
melalui internet di atas juga merupakan contoh keterbatasan akses
sebagai hambatan pencarian informasi. Ketidaktersediaan akses internet
di tempat kerja merupakan hambatan bagi informan Muna.
Keterbatasan akses dalam menemui tenaga kesehatan sebagai
sumber informasi pun merupakan hambatan bagi informan dalam
pencarian informasinya. Informan Muna menjelaskan
”sebenarnya ada rencana untuk konsultasi ke profesor spesialis..
gitu.. kemarin sebetulnya rencananya, tapi karena anak kedua
sakit, jadi gak sido (tidak jadi). Rencana memang ke profesor anak”
(Muna)
Meskipun RSUD Jombang telah memiliki klinik tumbuh kembang,
namun belum memiliki seorang pun ahli tumbuh kembang anak yang
membuka praktek konsultasi di Jombang. Jia ingin mengonsultasikan
masalah tumbuh kembang bayi, warga Jombang harus ke Surabaya. Oleh
karenanya, masih sangat terbatas akses terhadap ahli tumbuh kembang
anak yang sebenarnya sudah sangat dibutuhkan di Kabupaten Jombang.
Pengalaman lain, Informan Alus menghadapi situasi yang
mengesalkan baginya ketika dokter yang biasa menjadi sumber
informasinya tidak praktik untuk beberapa waktu. Pada masa itu,
informan Alus harus berhadapan dengan dokter lain yang kemudian
memberikannya informasi yang menurutnya tidak sesuai.
Maka, hambatan komunikasi merupakan hambatan yang dihadapi
informasn ketika berinteraksi dengan sumber informasi personal.
Hambatan komunikas bisa berasal dari informan yang takut bertanya
maupun dari sumber informasi yang enggan menjawab. Selanjutnya,
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
109
terdapat pua hambatan komunikasi dari keduanya, yaitu ketika terjadi
kesalahpahaman antara sumber informasi dan informan.
Terdapat kesamaan hambatan ketika informan menghadapi
sumber informasi terekam maupun personal. Hambatan tersebut adalah
hambatan akses. Akses tidak bisa didapatkan pada sumber informasi
tertentu karena tidak tersedia di Jombang. Demikian pula ketika akses
tersebut berhubungan dengan sumber informasi personal. Karena tidak
ada di Jombang, maka informan tidak bisa mengakses dokter tertentu
sebagai sumber informasinya ketika dibutuhkan.
5. Perilaku Pencarian Informasi Informan
Model
perilaku
pencarian
informasi
informan
dalam
hal
kehamilan dan pengasuhan bayi pada penelitian ini diinterpretasikan
menurut model praktik informasi dua dimensi yang diajukan oleh
McKenzie (gambar 2.1, sub sub bab 2.4.4). Dimensi pertama adalah
model pencarian informasi dan dimensi ke dua adalah fase pencarian
informasi (lampiran 3). Berikut adalah dua dimensi praktik informasi
informan dalam penelitian ini.
Model pencarian informasi pertama adalah pencarian aktif.
Informan Alus dan Muna termasuk dalam individu yang melaksanakan
pencarian aktif. Informan Muna dan Alus dalam beberapa kesempatan
mengidentifikasi kebutuhan informasi mereka dan merencanakan untuk
memenuhinya. Dalam hal ini, informan Alus dan Muna mengidentifikasi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
110
sumber informasi yang akan dituju dan informasi apa saja yang akan
berusaha didapatkan dari sumber informasi tersebut.
Model informasi kedua adalah pemindaian aktif. Model ini seperti
yang dilaksanakan oleh informan Ida ketika membaca label kemasan susu
formula. Informan Ida mengidentifikasi kebutuhan informasinya, yaitu
nilai gizi yang terkandung serta takaran yang semestinya diberikan untuk
bayi. Namun, informan tidak merencanakan secara mendetail untuk
mencari informasi tentang nilai kandungan zat tertentu pada susu.
Informan Ana juga melaksanakan model pencarian informasi ini.
Informan Ana mengidentifikasi kebutuhan informasinya, yaitu hal-hal
yang berhubungan dengan pengasuhan bayi. Kemudian, informan Ana
mengidentifikasi sumber informasi yang sesuai, yaitu acara televisi
tentang ibu dan anak. Informan Ana menyaksikan acara tersebut dan
menyerap informasi yang berkaitan dengan pengasuhan bayi. Sesuai
dengan karakteristik model ini, informan Ana tidak menentukan detail
pasti kebutuhan informasi yang dicarinya dari sumber informasi tersebut.
Model ketiga adalah pemonitoran tak terarah. Model ini
dipraktikkan oleh informan Alus ketika dia secara tidak sengaja
mengenali sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, yaitu
artikel koran di rumah seorang kawannya. Informan Alus kemudian
meminjam dan memfotokopi artikel tersebut. Salinan artikel yang dia
miliki kemudian dibaca dan disimpan, serta dimanfaatkan informasinya.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
111
Model by proxy sebagai model ke empat juga terjadi dalam
pencarian informasi oleh informan penelitian ini. Dalam model ini, ada
pihak perantara yang membantu informan untuk memperoleh informasi
yang dibutuhkannya. Perantara tersebut berperan sebagai orang yang
menyampaikan
kebutuhan
informasi
kepada
sumber
informasi.
Selanjutnya, perantara mendapatkan infromasi dari sumber informasi.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, perantara menyampaikannya
kepada informan.
Model ini dialami oleh informan Ida menjelang persalinan anak
pertama di sebuah rumah sakit ibu dan anak. Ketika itu, bidan yang
menolong menjumpai bekas jahitan pada bagian perut informan. Demi
kepentingan
informan
Ida,
bidan
menanyakan
perihal
keamanan
persalinan normal bagi informan kepada dokter kandungan yang telah
merujuk informan ke rumah sakit tersebut. Kemudian, bidan menerima
informasi dari dokter bersangkutan. Bidan lalu menyampaikan informasi
tersebut kepada informan dan memanfaatkannya untuk kepentingan
informan.
Dalam melaksanakan empat model pencarian tersebut, McKenzie
mengajukan dua fase yang dilewati oleh pencari informasi. Fase pertama
adalah menjalin hubungan dengan sumber informasi. Fase kedua adalah
berinteraksi dengan sumber informasi. Di bawah ini adalah pembahasan
fase pertama pada setiap model diikuti dengan fase kedua pada setiap
model yang dalami oleh informan dalam penelitian ini.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
112
Dalam pencarian aktif, fase pertama adalah identifikasi informan
terhadap sumber informasi yang akan dimanfaatkannya. Dalam fase ini,
informan mengetahui bagaimana bisa berinteraksi dengan sumber
informasi tertentu. Kemudian, informan merencanakan waktu dan
tempat yang tepat untuk mengakses sumber informasi.
Salah satu contoh fase ini adalah ketika informan Alus
mengidentifikasi
kebutuhan
informasinya,
yaitu
tentang
kondisi
kesehatan anaknya. Informan mengenali dan merencanakan dokter anak
langganan keluarganya sebagai sumber informasi yang bisa dituju.
Kemudian, dalam rangka usaha untuk berinteraksi dengan dokter
tersebut, informan mendaftarkan anaknya untuk berkunjung ke dokter
tersebut di hari tertentu.
Dalam pemindaian aktif, fase menjalin hubungan ini ditandai
dengan pencarian dan pengenalan sumber informasi yang sesuai. Namun,
informan
tidak
seketika
berusaha
menjalin
hubungan
agar
bisa
berinteraksi dengan sumber informasi. Informan hanya akan berinteraksi
jika sudah waktunya, yaitu saat biasanya informan dan sumber informasi
berinteraksi.
Pada fase menjalin hubungan dalam model pemonitoran yang tak
terarah, informan tidak menyadari bahwa dia membutuhkan suatu
informasi sampai ketika dia menemukan informasi atau sumber
informasinya. Hal ini biasa terjadi secara spontan dalam keseharian.
Salah satu contoh adalah apa yang dialami oleh informan Ana, Alus dan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
113
Anis mengenai doa-doa. Para informan mengenali kebutuhan informasi
tersebut ketika suami atau keluarga mereka memberitahu mengenai cara
berdoa dan doa apa yang dipanjatkan.
Karakteristik fase menjalin hubungan pada model pencarian
informasi
melalui
perantara
adalah
pencari
informasi
menerima
informasi dari sumber informasi atau orang yang menghubungkannya
dengan sumber informasi. Pada fase ini, informan dikenali oleh orang
lain sebeagai orang yang membutuhkan informasi tertentu. Hal ini
sebagaimana yang dialami oleh informan Muna ketika keluarganya
memberitahunya tentang orang yang bisa diminta untuk membantu
memandikan bayinya setelah lahir nanti.
Fase selanjutnya ialah ketika informan berinteraksi dengan
sumber informasi. Dalam pencarian aktif, informan merencanakan
informasi yang ingin didapatkannya sebelum berhadapan dengan sumber
informasi. Praktik ini dilaksanakan oleh informan Alus dan Muna sebelum
pergi ke dokter. Mereka merencanakan poin-poin yang akan ditanyakan
kepada dokter. Meskipun mereka tidak mencatat poin-poin tersebut,
mereka dan suami mereka saling mengingatkan akan poin-poin yang
sudah direncanakan ketika berada di ruang dokter.
Dalam pemindaian aktif, informan mendapati informasi yang
ternyata dibutuhkannya dari hasil interaksi dengan sumber informasi
yang ditemukannya secara tidak sengaja. Kemudian, dia menghubungkan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
114
informasi yang didapatkannya dengan informasi lain yang pernah
didapatkannya sebelum ini.
Pada pemonitoran tak terarah, fase ini biasa terjadi di tengah
kegiatan sehari-hari. Salah satunya adalah ketika sedang bercakap-cakap
dengan teman kerja atau teman lain. Informan Ida mengalaminya ketika
berinteraksi dengan teman kerjanya di kantor. Tanpa sengaja, dia
mendapatkan informasi tentang kebiasaan bayi baru dan perawatan ibu
baru bersalin ketika sedang mengobrol dengan teman kerjanya.
Diberitahu merupakan praktik yang menjadi ciri fase kedua dari
model pencarian informasi by proxy. Informan Anis dan Ida seringkali
mengalami hal ini. Informan Anis menyatakan bahwa ibunya dengan
sukarela memberitahunya mengenai jamu-jamu tradisional jawa yang
bisa dikonsumsi oleh ibu setelah bersalin. Senada dengan informan Anis,
informan Ida seringkali mengalami diberitahu oleh mertua maupun
ibunya sendiri mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan
dan pengasuhan bayi.
Sebagai tambahan, model praktek informasi oleh McKEnzie
tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi tipe pencari informasi yang
berbeda antar informan. Setiap informan memiliki kesempatan untuk
melaksanakan setiap praktik informasi yang ditunjukkan dalam model
dua dimensi McKenzie. Namun, mereka memiliki kecenderungan yang
berbeda mengenai praktek informasi yang mereka jalankan.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
115
Informan
yang
aktif
mengalami
empat
model
pencarian
informasi, sedangkan informan yang pasif tidak mengalami model
pertama, pencarian aktif. Seringkali informan pasif menyadari kebutuhan
informasinya setelah memperoleh informasi tersebut. Maka, model yang
sering dialami oleh informan yang pasif adalah model ketiga dan
keempat, yaitu pemonitoran tak terarah dan pencarian informasi melalui
perantara.
Dalam penelitian ini, informan yang aktif melaksanakan lebih
banyak model pencarian informasi daripada informan yang pasif. Selain
itu, informan yang aktif memiliki kecenderungan model pencarian
informasi yang berbeda dengan informan yang pasif.
Sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan tentang
hambatan pencarian informasi, informan aktif dalam penelitian ini
adalah informan Muna dan Alus. Informan Ana merupakan informan yang
semi aktif. Dua informan lain, Anis dan Ida, merupakan informan yang
pasif dalam pencarian informasi.
Tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak membuat satu
informan lebih aktif dalam pencarian informasi daripada informan lain
yang lebih rendah tingkat pendidikannya. Sebagai contoh, informan Ida
yang seorang sarjana mencari informasi secara lebih pasif daripada Ana
yang seorang lulusan SLTP. Sebagai tambahan, profesi juga tidak
menentukan perilaku pencarian informasi mereka. Informan Ida yang
seorang guru tidak lebih aktif dalam pencarian informasi daripada
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
116
informan Ana maupun informan Alus yang merupakan ibu rumah tangga
penuh waktu.
Kondisi ekonomi dan kebiasaan lingkungan tempat tinggal
merupakan penyebab informan Anis dan Ida memiliki kebiasaan yang
pasif dalam pencarian informasi mengenai kehamilan dan pengasuhan
bayi. DI antara lima informan, informan Anis dan Ida merupakan
informan yang tingkat ekonominya paling bawah.
Sebagai tambahan, mereka tinggal di lingkungan yang pada
umumnya bersuasana lebih nriman daripada lingkungan tempat tinggal
para informan yang lain. Informan Anis dan Ida tinggal di lingkungan yang
lebih kental tradisi jawanya. Sedangkan, tiga informan lain tinggal di
lingkungan yang dekat dengan pesantren dan mengenyam pendidikan
pesantren.
Tipikal warga Jombang, warga pesantren bersifat lebih aktif dan
terbuka daripada mereka yang masih kental menjalankan nilai-nilai Jawa
yang cenderung sabar, apa adanya dan nriman. Kondisi tersebut
mempengaruhi
sikap
keterbukaan
terhadap
perkembangan.
Sikap
keterbukaan mempengaruhi pola berpikir akan pentingnya memiliki
pengetahuan tentang kehamilan dan pengasuhan bayi. Selanjutnya,
tentu saja, mempengaruhi perilaku pencarian informasi para informan.
Sebaliknya, informan Alus dan Muna menjadi informan paling
aktif karena mereka dekat dengan dunia medis. Informan Alus adalah
anak seorang bidan. Informan Muna berprofesi sebagai seorang dokter.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
117
Pengetahuan mereka yang cukup banyak tentang kesehatan dalam
kehamilan dan pengasuhan bayi membuat mereka semakin menyadari
pentingnya mendapatkan informasi ini dan informasi lain.
Hal tersebut didukung dengan tingkat pendidikan yang signifikan
dan penguasaan cara pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi.
Hal ini pula yang membedakan kedua informan tersebut dengan informan
Ana. Sebagai warga pesantren, Ana mengetahui pentingnya informasi
kehamilan
dan
pengasuhan
bayi
sebagaimana
lingkungannya
menanamkan hal ini padanya. Namun demikian, tingkat pendidikan yang
baru mencapai SLTP memberinya keterbatasan kemampuan untuk
mengakses sumber informasi.
Kesimpulannya, melalui Model Konseptual Praktik Informasi Dua
Dimensi bisa mengarahkan kita untuk mendapatkan tiga tipe perilaku
pencarian
informasi.
Tiga
tipe
tersebut
memiliki
kecenderungan
pelaksanaan pencarian informasi yang berbeda.
Diadaptasikan dengan model praktik dua dimensinya McKenzie,
informan
yang
aktif
melaksanakan
semua
model
dan
seringkali
melaksanakan model yang pertama dan kedua, yaitu pencarian aktif dan
pemindaian aktif. Informan yang pasif hanya melaksanakan model kedua,
ketiga dan ke empat. Informan pasif ini lebih sering mengalami
pelaksanaan model ke tiga dan ke empat. Informan yang mengikuti arah
angin melaksanakan semua model pencarian informasi yang disebutkan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
118
oleh McKenzie, namun lebih sering melaksanakan model yang ke dua dan
ke empat, yaitu pemindaian aktif dan pencarian informasi by proxy.
Informan yang aktif mendapatkan lebih banyak informasi tentang
kehamilan dan pengasuhan bayi daripada dua tipe informan yang lain.
Informan yang aktif senantiasa memiliki rasa ingin tahu dan kurang puas
akan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Informan tipe ini selalu ingin
belajar dan mencari informasi tentang kehamilan dan pengasuhan bayi
demi memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Sebaliknya, informan yang pasif merasa puas dengan informasi
yang sudah dimilikinya. Informan ini seringkali mengetahui pentingnya
suatu informasi setelah mendapatkan informasi tersebut. Di sisi lain,
informan yang mengikuti arah mata angin senantiasa merasa baik-baik
saja dengan keadaannya dan selalu puas dengan pengetahuan yang
dimilikinya. Informan tipe ini merasa perlu untuk aktif dalam pencarian
informasi hanya jika ada kesulitan yang dihadapi.
C. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini pada pemilihan informan. Pemilihan
informan sudah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga ketika peneliti
mengambil informan tambahan, tidak menghasilkan penemuan baru
dalam wawancara. Namun, lokasi informan yang tidak menyebar di
seluruh Jombang sangat memungkinkan terjadinya perilaku pencarian
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
119
informasi lain oleh perempuan hamil atau mengasuh bayi di Kabupaten
Jombang.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
120
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berbagai macam kebutuhan informasi dimiliki informan berkaitan
dengan kehamilan dan pengasuhan bayi. Kebutuhan informasi muncul
sejak persiapan kehamilan sampai dengan kegiatan pengasuhan bayi,
mulai dari tumbuh kembang dan gizi janin maupun bayi sampai dengan
berbagi doa untuk ibu mengandung dan doa untuk anak. Kebutuhan
informasi kehamilan muncul untuk memenuhi kebutuhan kognitif
informan. Demikian pula dalam kebutuhan informasi pengasuhan bayi.
Namun, pemenuhan kebutuhan kognitif dalam hal pengaushan bayi
kemudian
memicu
munculya
kebutuhan
afektif
yang
kemudian
memotivasi kebutuhan informasi pengasuhan bayi yang lain.
Sumber informasi yang dimanfaatkan adalah media cetak; buku,
majalah, koran dan brosur. Informan juga mengakses sumber informasi
personal formal; dokter, bidan dan dukun bayi. Lebih lanjut lagi, mereka
juga mengakses sumber informasi personal informal, seperti orang tua,
suami, saudara, maupun teman. Sebaai pilihan pertama, informan
memanfaatkan sumber informasi yang paling mudah diakses, yaitu
sumber inofrmasi personal informal. Jika kebutuhan informasinya belum
terpenuhi, mereka memanfaatkan sumber informasi personal formal dan
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
121
media cetak. Pemilihan media cetak sebagai sumber informasi pun
dimulai dari yang paling mudah diakses.
Berbagai upaya dilaksankaan para informan dalam pencarian
informasi mereka. Melalui media cetak, informan mengakses media
cetak dengan membeli, meminjam, memfotokopi, maupun diberi oleh
orang lain. Melalui sumber informasi elektronik, informan menelusur
sendiri maupun dibantu oleh suami. Melalui sumber informasi personal,
para informan bertanya aktif, bertanya hanya jika ada kesempatan, dan
dibri tahu.
Hambatan yang dihadapi oleh para informan pada umumnya
adalah hambatan biaya dan hambatan akses. Bai mereka, biaya yang
dikeluarkan untuk pencarian informasi tidak boleh mengganggu budget
pengeluaran lain yang sudah mereka miliki. Hambatan akses dialamai
oleh para informan ketika mereka tidak bisa secara berinteraksi dengan
sumber inofrmasi personal lketika mreka sedang membutuhkan.
Pada akhirnya, Model konseptual praktek informasi dua dimensi
oleh McKenzie sesuai untuk menggambarkan perilaku pencarian informasi
oleh para infroamn penelitian ini. Setelah digambarkan melalui model
tersebut, dapat ditemukan tiga tipe umum perilaku yang berbeda pada
informan.
Tipe pertama dari para informan menunjukkan perilaku yang
aktif dalam pencarian informasi. Tipe kedua adalah perilaku yang pasif
dalam pencarian informasi. Tipe terakhir menunjukkan perilaku yang
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
122
mengikuti arah mata angin, dia akan aktif jika kesempatan untuk aktif
datang padanya, dan pasif di waktu lain.
B. Saran
Peneliti memiliki beberapa saran untuk beberapa pihak, yaitu:
1. Pemerintah Kabupaten Jombang.
Untuk mendukung pencarian informasi yang penting dilakukan oleh ibu
mengandung dan mengasuh bayi di Kabupaten Jombang, peneliti
menyarankan Pemkab Jombang untuk:
a. memberikan fasilitas yang lebih sesuai, yang bisa dimanfaatkan
oleh warganya, terutama kaum ibu. Tidak ada informan yang
memanfaatkan fasilitas hot spot yang telah disediakan di alunalun. Oleh karenanya, pemerintah perlu menyediakan fasilitas
informasi yang lebih sesuai untuk para perempuan di Kabupaten
Jombang, yaitu layanan informasi yang mudah diakses oleh siapa
saja dan tersebar merata di wilayah Kabupaten Jombang.
b. Mengkampanyekan pentingnya pengetahuan tentang kehamilan
dan pengasuhan bayi, terutama dalam bidang kesehatan, kepada
para calon ibu, para ibu hamil, dan para pasangan calon
penganting maupun pasangan suami istri.
c. Mengadakan kompetisi yang berkaitan dengan kehamilan dan
pengasuhan bayi. Denan demikian, diharapkan para waranya akan
memiliki motivasi kognitif dan afektif yang bisa mendorong
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
123
mereka memiliki kebutuhan informasi tentnang kehamilan dan
pengasuhan
bayi.
Kemudian,
diarapkan
mereka
melakukan
pencarian informasi dalam hal tersebut.
2. Pengusaha taman bacaan di Jombang.
Kini, semakin banyak majalah yang berkaitan dengan kehamilan dan
pengasuhan anak. Topik ini juga cenderung mendapatkan banyak
perhatian. Oleh karenanya, merupakan usaha yang menguntungkan jika
pengusaha persewaan buku, komik dan novel juga menyewakan berbagai
majalah dan buku mengenai kehamilan dan pengasuhan bayi.
3. Peneliti lain.
Untuk penelitan selanjutnya, peneliti merekomendasikan penelitian
mengenai keefektifan fasilitas layanan informasi kesejahteraan ibu dan
anak yang tersedia di Kabupaten Jombang.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
124
DAFTAR PUSTAKA
Agosto, Denise E. dan Sandra Hughes-Hassell. “People, Places, and
Questions: an investigation of the everyday life information seeking
behaviors of urban young adults.” Library & Information Science
Research. 27, 2005: 141-163.
Apter, Terri. (1985). Why Women don’t Have Wives. Hampshire:
Macmillan Press.
Brown, Judith Belle, dkk. “Women’s Decision-making about Their Health
Care: views over the life cycle.” Patient Education and Counseling.
48, 2002: 225-231
Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial: format-format
kuantitatif dan kualitatif. Surabaya: Universitas Airlangga Press.
Carey, Robert F., Lynne E.F. McKehnie, dan Pamela J. McKenzie.
“Gaining Access to Everyday Life Information Seeking.” Library &
Information Science Research. 23, 2001: 319-334.
Case, Daniel O. (2002). Looking for Information: a survey of research in
information seeking, needs, and behaviour. California: Academic
Press.
Chen, Ching-chih dan Hernon, Peter. (1982). Information Seeking:
assessing and anticipating user needs. London: Neal-Schuman.
Correia, Zita dan Wilson, T.D. “Scanning the Business Environment for
Informaton:
a
grounded
theory
aproach.”
http://informationr.net/ir/2-4/paper21.html [ 9 Agustus 2005]
Davies, Myfanwy M dan Bath, Peter A. “Interpersonal Sources of Health
and Maternity Information for Somali Women Living in the UK.”
Journal of Documentation. 58 (3), 2002: 302-318.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Profil Kesehatan 2005. Jombang:
2006.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Profil Kesehatan 2006. Jombang:
2007.
Duvall, Evelyn Ruth Millis dan Brent C. Miller. (1985). Marriage and
Family Development. New York: harper & Row Publisher.
Erdelez, Susan. (1999). “Information Encountering: It’s more than just
bumping into information.” http://www.asis.org/Bulletin/Feb99/erdelez.html [15 September 2006]
Foinson, Adam dan Banyard, Phil. “Psychological Aspects of Information
Seeking on the Internet.” Aslib Proceedings. 54 (2), 2002: 95 – 102.
Gage dkk. “Integrative Review of Parenting in Nursing Research.”
Journal of Nursing Scholarship. 38 (1), 2006: 56-62.
Hahn, Dale B. dan Payne, Wayne A. (2003). Focus on Health. New York:
McGraw-Hill Companies.
Hatmadji, Sri Harijati dan Utomo, Iwu Dwisetiani (Ed.). (2004).
Empowerement of Indonesian Women: family, reproductive health,
employment, and migration. Depok: Demographic Institute,
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Heath, harriet. "Parenting: a relationship-oriented and competencybased process." Child Welfare. 85 (5), Sep/Oct 2006: 749-766.
Hill, Helen Katherine. (1987). Methods of analysis of Information Needs.
Disertasi. Texas Woman’s University.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
125
Indiarti, MT. A to Z The Golden Age: merawat, membesarkan, dan
mencerdaskan bayi anda sejak dalam kandungan hingga usia 3
tahun. Yogyakarta: 2007.
Järvelin, Kalervo dan Ingwersen, Peter. (2004) “Information seeking
research needs extension towards tasks and technology.”
http://informationR.net/ir/10-1/paper212.html [5 Mei 2006]
Julien, Heidi E. “Barriers to adolescents’ information seking for career
decision making.” Journal of American Society for Information
Science. 50 (1) , Januari 1999: 38-48.
Levy, Valerie. “Maintaining Equilibrium: a gorunded theory study of the
processes involved when women make informed choices during
pregnancy.” Midwifery. 15, 1998: 109-119.
Marienau, Catherine dan Segal, Joy. "Parents as developing adult
learners." Child Welfare. 85 (5), Sept/Oct 2006: 767-784.
McKenzie, Pamela J. “Communication Barriers and Information-seeking
Counterstrategies in accounts of Practitioner-Patient Encounters.”
Library & Information Science Research. 24, 2002: 31-47.
Mc.Kenzie, Pamela J. “A model of information practices in account of
everyday-life Information Seeking.” Journal of Documentation,
vol. 59 (1), 2003: 19-40.
McKenzie, Pamela J. “The Seeking of baby-feeding Information by
Canadian Women Pregnant with Twins.” Midwifery. ScienceDirect
[online].
McMahon, Martha. Engendering Motherhood: identity and selftransformaiton in women’s lives. New York: Guilford Press.
Mellon, Constance Anne. (1990). Naturalistic Inquiry for Library Science:
methods and applications for research, evaluation, and teaching.
New York: Greenwood Press.
Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mooko, Neo Patricia. “The Information Behaviors of Rural Women in
Bostwana”. Library & Information Science Research 27, 2005: 115127
Pahl, Jan. (1989). Money and Marriage. Hampshire: McMillan Education
Ltd.
Savolainen, Reijo. “Everyday life information seeking: Approaching
information seeking in the context of “way of life””. Library &
Information Science Research, 17, 1995: 259-294.
Savolainen, Reijo. “Time as a Context of Information Seeking”. Library &
Information Science Research. 28, 2006: 110 – 127.
Shenton, Andrew K. “Operationalising the concept of “information” for
research into information behaviour.” Aslib Proceedings: New
Information Perspectives. 56 (6), 2004: 367-372.
Sulistyo-Basuki. (2006). Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya
Sastra bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia.
Varlejs, Jana (Ed.). (1987). “Information Seeking: Basing Services on
Users’ Behaviors”. Proceedings of the twenty-fourth annual
symposium of the graduate Alumni and Faculty of the Rutgers
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
126
School of Communication, Information and Library Studies, 10
April 1986. North Carolina: McFarland and Company.
Voos, Henry. (1969). Information Needs in Urban Areas; a summary of
research in methodology. New Jersey: Butgers University Pers.
Warner, Dorothy dan Procaccino, J. Drew. “Toward Wellness: women
seeking health information.” Journal of the American Society for
Information Science and Technology. 55 (8), Juni 2004: 709-730.
Wetherell, Margaret, Taylor, Stephanie, dan Yates, Simon J. (Ed.).
(2001). Discourse Theory and Practice: a reader. London: Sage.
Wilson, T.D. (1994). “Information Needs and Uses: fifty years of
progress?”
http://informationr.net/tdw/publ/papers/1994FiftyYears.ht
ml [12 Mei 2005]
Wilson, T. D. (1981). “On User Studies and Information Needs”.
http://informationr.net/tdw/publ/papers/1981infoneeds.html [1
Mei 2005]
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
127
Lampiran 1: Panduan Wawancara
Panduan Wawancara
Lokasi Wawancara :
Waktu wawancara :
Data Pribadi Partisipan
Nama
:
Usia
:
Pekerjaan
:
Pendidikan
:
Jumlah Anak :
Usia Anak
:
Usia Kehamilan :
Panduan Pertanyaan
1. Ketika anda mengetahui bahwa anda hamil, hal apa yang anda rasa perlu
anda ketahui?
2. (setelah partisipan menyebutkan jawabannya) di mana atau kepada siapa
anda mencari tahu? Tolong ceritakan kegiatan pencarian informasinya.
3. Dalam hal pengasuhan bayi, informasi apa yang perlu anda ketahui?
4. dimana anda mencari tahu? Tolong ceritakan pengalaman anda.
5. Menurut anda Informasi apa yang paling penting untuk diketahui ibu
hamil dan ibu yang mengasuh bayi?
6. Adakah hambatan yang dialami dalam pencarian informasi? Partisipan
kemudian diminta untuk menceritakan hambatan yang dialami, apakah
hambatan komunikasi atau hambatan yang lainnya.
Daftar Cek Ulang
Peneliti harus mengusahakan poin-poin di bawah ini telah dibicarakan dalam
wawancara. Tanyakan jika belum sempat disebutkan oleh partisipan. Jika
memungkinkan, peneliti megecek bersama partisipan apakah poin-poin di
bawah ini sudah disinggung.
A. Daftar cek ulang kebutuhan informasi
No
Kebutuhan informasi
Poin kebutuhan informasi
yang ditanyakan
informasi Kesehatan ibu dan janin
Pertumbuhan janin
Perawatan tubuh ibu
Persiapan persalinan
Informasi lain menurut
partisipan
informasi ASI
1
Kebutuhan
kehamilan
2
Kebutuhan
pengasuhan bayi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
x
Gizi dan makan bayi
Imunisasi
Tumbuh kembang bayi
Perawatan bayi baru
Kesehatan bayi
Informasi
lain
sesuai
pengalaman partisipan
B. Daftar cek ulang sumber informasi
No Sumber informasi
1
Media cetak (koran, majalah,
brosur)
2
Media elektronik (TV, radio,
internet)
3
Perpustakaan
4
Pusat layanan kesehatan
5
Tenaga kesehatan (dokter, bidan)
6
Orang tua
7
Suami
8
Saudara
9
Teman
x
C. Daftar cek ulang hambatan pencarian informasi
No Jenis hambatan
x
1
biaya
2
komunikasi
3
personal
4
birokrasi
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
Lampiran 3 Tabel model konseptual praktek informasi dua dimensi informan penelitian
Fase
Model
Pencarian aktif
Pemindaian aktif
Pemonitoran tak
langsung
By proxy (melalui
perwakilan/ perantara)
Menjalin hubungan
Partisipan
mengidentifikasi
sumber
informasi
yang
akan
dimanfaatkannya. Dalam fase ini, partisipan mengetahui bagaimana bisa
berinteraksi dengan sumber informasi tertentu. Kemudian, partisipan
merencanakan waktu dan tempat yang tepat untuk mengakses sumber
informasi.
Mis. ketika partisipan Alus mengidentifikasi kebutuhan informasinya,
yaitu tentang kondisi kesehatan anaknya. Partisipan mengenali dan
merencanakan dokter anak langganan keluarganya sebagai sumber
informasi yang bisa dituju. Kemudian, dalam rangka usaha untuk
berinteraksi dengan dokter tersebut, partisipan mendaftarkan anaknya
untuk berkunjung ke dokter tersebut di hari tertentu.
Partisipan melakukan pencarian dan pengenalan sumber informasi yang
sesuai. Namun, partisipan tidak seketika berusaha menjalin hubungan
agar bisa berinteraksi dengan sumber informasi. Partisipan hanya akan
berinteraksi jika sudah waktunya, yaitu saat biasanya partisipan dan
sumber informasi berinteraksi.
Mis. partisipan muna ketika mengidentifikasi saat berinteraksi dengan
teman kerjanya sebagai kesempatan untuk berusaha mendapatkan
informasi tentang kehamilan maupun pengasuhan bayi
partisipan tidak menyadari bahwa dia membutuhkan suatu informasi
sampai ketika dia menemukan informasi atau sumber informasinya. Hal
ini biasa terjadi secara spontan dalam keseharian.
Mis. pengalaman partisipan Ana, Alus dan Anis mengenai doa-doa.
partisipan dikenali oleh orang lain sebagai orang yang membutuhkan
informasi tertentu.
Mis. pengalaman partisipan Muna ketika keluarganya memberitahunya
tentang orang yang bisa diminta untuk membantu memandikan bayinya
setelah lahir nanti.
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
Berinteraksi
partisipan merencanakan informasi yang ingin didapatkannya sebelum
berhadapan dengan sumber informasi.
Mis. partisipan Muna dan Alus; bersama suami telah merencanakan poinpoin yang akan ditanyakan pada dokter dan saling mengingatkan tentang
poin-poin tersebut ketika berinteraksi dengan dokter
Partisipan mengidentifikasi kesempatan untuk mendapatkan informasi
secara tidak sengaja ketika berinteraksi dengan sumber informasi;
menghubungkan informasi yang didapatkannya dengan informasi lain yang
pernah didapatkannya sebelum ini.
Mis. partisipan Ana ketika menyaksikan acara tv yang berkaitan
secara tidak sengaja mendapati informasi yang berguna.
Mis. partisipan ida ketika bercakap-cakap dengan teman kerjanya,
partisipan Alus ketika bercengkerama dengan tetangganya
Diberitahu
Mis.
1. Partisipan Anis ketika ibunya dengan sukarela memberitahunya
mengenai jamu-jamu tradisional jawa yang bisa dikonsumsi oleh ibu
setelah bersalin.
2. Partisipan Ida seringkali mengalami diberitahu oleh mertua maupun
ibunya sendiri mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan
dan pengasuhan bayi.
lxviii
Lampiran 3 Tabel model konseptual praktek informasi dua dimensi informan penelitian
Kebutuhan informasi..., Noor Athiyah, FIB UI, 2008
lxix
Download