10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemasaran

advertisement
10
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pemasaran
Pemasaran merupakan ujung tombak bagi suatu perusahaan yang sangat
mendukung keberlanjutannya. Sukses atau tidaknya sebuah perusahaan tergantung
dari segi pemasarannya. Jika pemasaran itu dapat menarik konsumen maka
perusahan tersebut akan mendapatkan profit (laba), dan begitu pula sebaliknya
suatu perusahaan akan mengalami kerugian jika pemasaranya tidak berjalan
dengan baik.
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari pengaruh
berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok
mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan
menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas (Rangkuti, 2008).
Menurut Kotler dan Keller (2009), pemasaran adalah suatu fungsi
organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan
memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan
dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya.
Pemasaran merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
para nasabahnya terhadap produk dan jasa. Untuk mengetahui kebutuhan dan
keinginan konsumen, maka setiap perusahaan perlu melakukan riset pemasaran,
karena dengan melakukan riset pemasaran inilah dapat diketahui keinginan dan
kebutuhan konsumen yang sebenarnya. Pengertian pemasaran bagi setiap
perusahaan tidak ada perbedaan. Hanya yang menjadi masalah adalah penerapan
pemasaran untuk setiap jenis perusahaan memiliki karakteristik tersendiri.
Misalnya, pemasaran yang dijalankan untuk perusahaan yang menghasilkan
produk berupa barang, tentu akan sangat berbeda dengan perusahaan yang
memiliki produk berupa jasa seperti perusahaan keuangan. Bank sebagai
perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dan produk yang diperjualbelikan
merupakan jasa keuangan. Oleh karena itu, perlakuan pemasaran terhadap dunia
perbankan pun sedikit berbeda dengan perusahaan lainnya. Secara umum
11
pengertian pemasaran bank adalah suatu proses untuk menciptakan dan
mempertukarkan produk atau jasa bank yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan nasabah dengan cara memberikan kepuasan (Kasmir,
2005).
2.2. Konsep-konsep Pemasaran
Menurut Kasmir (2005) dalam kegiatan pemasaran terdapat beberapa
konsep yang mana masing-masing konsep memiliki tujuan yang berbeda. Konsep
ini timbul dari satu periode ke periode lainnya akibat perkembangan pengetahuan
baik produsen maupun konsumen. Penggunaan konsep ini tergantung kepada
perusahaan yang juga dikaitkan dengan jenis usaha dan tujuan perusahaan yang
bersangkutan. Terdapat lima konsep dalam pemasaran di mana masing-masing
konsep saling bersaing satu sama lainnya. Setiap konsep dijadikan landasan
pemasaran oleh masing-masing perusahaan untuk menjalankan kegiatan
pemasarannya. Adapun konsep-konsep yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.
Konsep Produksi
Konsep ini menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang
tersedia dan selaras dengan kemampuan mereka dan oleh karenanya
manajemen harus berkonsentrasi pada peningkatan efisiensi produksi dan
efisiensi distribusi. Konsep produksi merupakan salah satu falsafah tertua
yang menjadi penuntun para penjual. Konsep ini menekankan kepada volume
produksi atau distribusi yang seluas-luasnya dengan harga ditekan serendah
mungkin.
2.
Konsep Produk
Konsep produk berpegang teguh bahwa konsumen akan menyenangi produk
yang menawarkan mutu dan kinerja yang paling baik serta memiliki
keistimewaan
yang
mencolok.
Oleh
karena
itu,
perusahaan
harus
mencurahkan upaya terus-menerus dalam perbaikan produk. Konsep ini
menimbulkan adanya marketing nyopia (pemandangan yang dangkal terhadap
pemasaran). Secara umum konsep produk menekankan kepada kualitas,
penampilan, dan ciri-ciri yang terbaik.
12
3.
Konsep Penjualan
Kebanyakan konsumen tidak akan membeli cukup banyak produk, terkecuali
perusahaan menjalankan suatu usaha promosi dan penjualan yang kokoh.
Oleh karena itu, perusahaan harus menjalankan usaha-usaha promosi dan
penjualan dalam rangka mempengaruhi konsumen. Konsep penjualan
biasanya diterapkan pada produk-produk asuransi atau ensiklopedia, juga
untuk lembaga nirlaba seperti parpol. Dalam konsep ini kegiatan pemasaran
ditekankan lebih agresif melalui usaha-usaha promosi yang gencar.
4.
Konsep Pemasaran
Konsep ini menyatakan bahwa kunci untuk mencapai sasaran organisasi
tergantung pada penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran. Kemudian
kunci yang kedua adalah pemberian kepuasan seperti yang diinginkan oleh
konsumen secara lebih efektif dan lebih efisien dari yang dilakukan pesaing.
5.
Konsep Pemasaran Kemasyarakatan
Konsep ini menyatakan bahwa tugas perusahaan adalah menentukan
kebutuhan, keinginan, dan minat pasar sasaran serta memberikan kepuasan
yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing
sedemikian rupa, sehingga dapat mempertahankan dan mempertinggi
kesejahteraan masyarakat. Konsep pemasaran kemasyarakatan merupakan
konsep yang bersifat kemasyarakatan. Konsep ini menekankan kepada
penentuan kebutuhan, keinginan, dan minat pasar serta memberikan
kepuasan, sehingga memberikan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.
Bagi dunia perbankan, konsep yang paling tepat untuk diaplikasikan
adalah konsep pemasaran yang bersifat kemasyarakatan atau paling tidak
menggunakan konsep pemasaran. Dalam kedua konsep itu jelas tertuang bahwa
pelanggan benar-benar harus diperhatikan. Tujuannya adalah agar pelanggan tetap
setia menggunakan produk atau jasa-jasa yang dihasilkan oleh bank.
2.3. Strategi Pemasaran
Chandler dalam Rangkuti (2008), mendefinisikan strategi sebagai alat
untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka
panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. Learned,
Christenses, Andrwes, dan Guth dalam Rangkuti (2008), menyatakan bahwa
13
strategi merupakan alat untuk menciptakan keunggulan bersaing. Dengan
demikian salah satu fokus strategi adalah memutuskan apakah bisnis tersebut
harus ada atau tidak ada. Argyris, Mintzberg, Steiner dan Miner dalam Rangkuti
(2008), menyatakan bahwa strategi merupakan respon secara terus menerus
maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan
kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi. Menurut Porter dalam
Rangkuti (2008), strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai
keunggulan
bersaing.
Andrews
dan
Chaffe
dalam
Rangkuti
(2008),
mendefinisikan strategi sebagai kekuatan motivasi untuk stakeholders, seperti
stakeholders, debtholders, manajer, karyawan, konsumen, komunitas, pemerintah,
dan sebagainya, yang baik secara langsung maupun tidak langsung menerima
keuntungan atau biaya yang ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan
oleh perusahaan. Hamel dan Prahalad dalam Rangkuti (2008), menyatakan bahwa
strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan
terus menerus serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang
diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, perencanaan
strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi, bukan dimulai dari apa
yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar baru dan perubahan pola
konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu
mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan.
2.4. Analisis Strategi Pemasaran
2.4.1 Analisis Lingkungan Internal Perusahaan
Menurut Umar (2003), lingkungan internal merupakan aspek-aspek yang
ada di dalam perusahaan. Analisis lingkungan internal adalah suatu proses dalam
perencanaan strategi yang mengkaji faktor internal perusahaan untuk menentukan
di mana perusahaan memiliki kekuatan dan kelemahan yang berarti, sehingga
dapat memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman dengan cara yang paling
efektif. Faktor-faktor yang terkait dengan lingkungan internal meliputi
segmentation, targetting, dan positioning serta marketing mix.
14
1.
Segmentation, Targetting, dan Positioning
a. Segmentation
Menurut Kasmir (2005), segmentasi merupakan kegiatan membagi
suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang
mungkin memerlukan produk atau ramuan pemasaran tersendiri. Segmentasi
pasar dapat dikelompokan berdasarkan:
1.
Segmentasi berdasarkan Geografik
Segmentasi berdasarkan geografik, artinya membagi pasar berdasarkan
wilayah tertentu seperti jenis bangsa, provinsi, kabupaten, kecamatan,
atau lainnya.
2.
Segmentasi berdasarkan Demografik
Segmentasi
berdasarkan
demografik
maksudnya
membagi
pasar
berdasarkan kependudukan secara umum seperti umur, jenis kelamin,
ukuran
keluarga,
daur
hidup
keluarga,
pendapatan,
pekerjaan,
pendidikan, agama, ras, kebangsaan, tingkat sosial atau lainnya.
3.
Segmentasi berdasarkan Psikografik
Segmentasi
berdasarkan
psikografik
maksudnya
membagi
pasar
berdasarkan kriteria yaitu kelas sosial, gaya hidup, karakteristik
kepribadian, atau lainnya.
4.
Segmentasi berdasarkan Perilaku
Segmentasi berdasarkan perilaku disusun berdasarkan tingkah laku atau
kebiasaan masyarakat yaitu pengetahuan, sikap, kegunaan, tanggap
terhadap suatu produk, atau lainnya.
Segmentasi pasar digunakan untuk mendesain produk-produk yang
lebih responsif terhadap kebutuhan pasar, mencari peluang, merumuskan
pesan-pesan komunikasi yang efektif dan efisien, melayani lebih baik,
menciptakan keunggulan bersaing, menganalisis perilaku konsumen, dan
sebagainya. Segmentasi pasar adalah usaha untuk meningkatkan ketepatan
sasaran dari suatu perusahaan (Purwanto, 2008).
b. Targetting
Menurut Kasmir (2005), targetting artinya mengevaluasi keaktifan
setiap segmen, kemudian memilih salah satu dari segmen pasar atau lebih
15
untuk dilayani. Menetapkan pasar sasaran dengan cara mengembangkan
ukuran-ukuran dan daya tarik segmen kemudian memilih segmen sasaran
yang diinginkan.
Targetting adalah suatu proses mengevaluasi beragam segmen dan
memutuskan berapa banyak dan mana yang akan dibidik. Dalam
mengevaluasi segmen-segmen pasar yang berbeda, perusahaan harus melihat
pada tiga faktor, yaitu ukuran segmen, daya tarik segmen, dan tujuan serta
sumber daya perusahaan. Sedangkan memilih segmen pasar dapat dilakukan
pada segmen tunggal, beberapa segmen (selektif), atau semua segmen
(Purwanto, 2008).
c. Positioning
Penentuan posisi pasar bagi produk ataupun jasa suatu perusahaan
sangat penting. Menentukan posisi pasar yaitu menentukan posisi yang
kompetitif untuk produk atau suatu pasar. Pengertian posisi produk adalah
bagaimana suatu produk yang didefinisikan oleh nasabah atau konsumen atas
dasar atribut-atributnya. Untuk menentukan posisi pasar perlu dilakukan
strategi yang benar, sehingga posisi pasar yang diinginkan tepat pada
sasarannya. Memilih dan melaksanakan strategi penentuan posisi pasar perlu
dilakukan dengan berbagai tahap agar hasil yang diharapkan optimal.
Tahapan dalam memilih dan melaksanakan strategi penentuan posisi pasar
yaitu identifikasi keunggulan kompetitif, memilih keunggulan kompetitif
yang tepat, dan mewujudkan dan mengkomunikasikan posisi yang dipilih
(Kasmir, 2005). Penentuan posisi (positioning) merupakan tindakan untuk
merancang penawaran dan citra perusahaan agar menempati suatu posisi
kompetitif yang berarti dan berbeda dalam benak pelanggan yang menjadi
sasarannya (Purwanto, 2008).
2.
Marketing Mix
Menurut Kotler dan Keller (2009), para pemasar menggunakan
sejumlah alat untuk mendapatkan tanggapan yang diinginkan dari pasar
sasaran mereka. Alat-alat itu membentuk suatu bauran pemasaran. Bauran
pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang
digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di
16
pasar sasaran. Untuk pemasaran pada produk, marketing mix tidak hanya
meliputi product, price, place, dan promotion saja, juga meliputi empat
elemen tambahan yaitu people, process, physical evidence, dan productivity
and quality (Lovelock dan Wright, 2007).
a.
Produk (Product)
Produk adalah mengelola unsur produk termasuk perencanaan
dan pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan
mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil
tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau
jasa (Kotler dan Keller, 2009). Produk adalah semua komponen kinerja
jasa yang menciptakan nilai bagi pelanggan. Dalam hal ini manajer harus
memilih fitur-fitur produk inti (baik barang maupun jasa) dan beberapa
elemen jasa pelengkap yang mengelilinginya, dengan merujuk pada
manfaat yang dinginkan pelanggan dan seberapa tinggi daya saing
produk tersebut (Lovelock dan Wright, 2007).
Menurut Kasmir (2005) produk adalah sesuatu yang dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Dari pengertian dapat
disimpulkan bahwa produk adalah sesuatu yang memberikan manfaat,
baik dalam hal memenuhi kebutuhan sehari-hari atau sesuatu yang ingin
dimiliki oleh konsumen. Produk memiliki ciri-ciri tersendiri untuk dapat
dikatakan sebagai barang ataupun jasa. Pada dunia perbankan, produk
yang dihasilkan berbentuk jasa yang ciri-cirinya yaitu tidak berwujud,
tidak terpisahkan, beraneka ragam, dan tidak tahan lama.
Agar produk yang dibuat laku di pasaran, maka penciptaan
produk haruslah memperhatikan tingkat kualitas yang sesuai dengan
keinginan nasabahnya. Produk yang berkualitas tinggi artinya memiliki
nilai yang lebih baik dibandingkan dengan produk pesaing atau sering
disebut produk plus. Produk plus bagi dunia perbankan harus selalu
diciptakan setiap waktu, sehingga dapat menarik minat calon nasabah
yang baru atau dapat mempertahankan nasabah yang sudah ada sekarang
ini. Keuntungan atau manfaat dengan adanya produk plus, yaitu untuk
17
meningkatkan penjualan, menimbulkan rasa bangga bagi nasabahnya,
menimbulkan kepercayaan, dan menimbulkan kepuasan.
Dalam menciptakan produk plus tidaklah mudah, sehingga untuk
menciptakan produk plus diperlukan kondisi-kondisi yang satu sama
lainnya saling mendukung. Kondisi-kondisi untuk menciptakan produk
plus tersebut sangat tergantung dari pelayanan yang prima, pegawai yang
profesional, sarana dan prasarana yang dimiliki haruslah dapat
memberikan pelayanan yang cepat dan tepat, lokasi dan layout gedung
serta ruangan, dan nama baik bank yang ditujukan dari citra dan prestasi
bank ikut menyangkut produk yang dihasilkan.
b.
Harga (Price)
Harga adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang akan
menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus
menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran
ongkos angkot dan berbagai variabel yang bersangkutan (Kotler dan
Keller, 2009). Harga menjelaskan pengeluaran uang, waktu, dan usaha
oleh pelanggan untuk membeli dan mengkonsumsi jasa. Harga
memperlihatkan kepada manajemen berbagai biaya yang ditimbulkan
pelanggan dalam memperoleh manfaat suatu produk jasa. Manajer jasa
harus juga mengenali dan bila memungkinkan, mencari cara untuk
meminimalkan biaya yang harus ditanggung pelanggan dalam membeli
dan menggunakan jasa tersebut, termasuk waktu, usaha fisik dan mental,
dan pengalaman buruk (Lovelock dan Wright, 2007).
Menurut Kasmir (2005), bagi perbankan terutama bank yang
berdasarkan
prinsip
konvensional,
harga
adalah
bunga,
biaya
administrasi, biaya provisi dan komisi, biaya kirim, biaya tagih, biaya
sewa, biaya iuran, dan biaya-biaya lainnya. Sedangkan harga bagi bank
yang berdasarkan prinsip syariah adalah bagi hasil. Penentuan harga oleh
suatu bank dimaksudkan dengan berbagai tujuan yang hendak dicapai,
yaitu untuk bertahan hidup, memaksimalkan laba, memperbesar market
share, mutu produk, dan untuk mampu bersaing.
18
c.
Tempat (Place)
Tempat dalam hal ini meliputi kegiatan perusahaan yang
membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran. Hal ini terkait dengan
distribusi barang untuk menggapai pelanggan sasaran (Kotler dan Keller,
2009). Tempat menjelaskan keputusan manajemen tentang kapan, di
mana, dan bagaimana menyampaikan jasa kepada pelanggan. Pengiriman
elemen produk ke pelanggan melibatkan keputusan tentang tempat dan
waktu pengiriman dan mungkin melibatkan saluran distribusi fisik atau
elektronik dan atau keduanya, serta bergantung pada sifat jasa yang
diberikan (Lovelock dan Wright, 2007).
Menurut Kasmir (2005) yang dimaksud dengan lokasi bank
adalah tempat di mana diperjualbelikannya produk perbankan dan pusat
pengendalian perbankan. Secara umum ada beberapa tujuan yang hendak
dicapai dalam penentuan lokasi dan layout bank, yaitu agar bank dapat
menentukan lokasi yang tepat untuk lokasi kantor yang tujuannya agar
memudahkan nasabah berhubungan atau melakukan transaksi dengan
bank, agar bank dapat menentukan dan membeli atau menggunakan
teknologi yang paling tepat dalam memberikan kecepatan dan keakuratan
guna melayani nasabahnya, agar bank dapat menentukan layout yang
sesuai dengan standar keamanan, keindahan, dan kenyamanan bagi
nasabahnya, agar bank dapat menentukan metode antrian yang paling
optimal, serta agar bank dapat menentukan kualitas tenaga kerja yang
dibutuhkan sekarang dan di masa yang akan datang.
d.
Promosi (Promotion)
Promosi
adalah
suatu
unsur
yang
digunakan
untuk
memberitahukan dan membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru
pada perusahaan melalui iklan (Kotler dan Keller, 2009). Promosi adalah
semua aktivitas dan alat yang menggugah komunikasi yang dirancang
untuk membangun preferensi pelanggan terhadap jasa tertentu.
Komponen ini memainkan tiga peran penting yaitu menyediakan
informasi dan saran yang dibutuhkan, membujuk pelanggan sasaran
tentang kelebihan suatu produk, dan mendorong pelanggan untuk
19
mengambil tindakan pada suatu waktu. Dalam pemasaran jasa, banyak
komunikasi bersifat mendidik, khususnya untuk pelanggan baru.
Perusahaan dapat mengajarkan mereka tentang manfaat jasa, di mana dan
kapan mendapatkannya, dan bagaimana terlibat dalam prosesnya.
Komunikasi dapat disampaikan oleh orang-orang seperti tenaga penjual
dan pelatih atau melalui media seperti televisi, radio, surat kabar,
majalah, reklame, brosur, dan website (Lovelock dan Wright, 2007).
Menurut Kasmir (2005), promosi merupakan sarana yang paling
ampuh untuk menarik dan mempertahankan nasabahnya. Dalam kegiatan
ini setiap bank berusaha untuk mempromosikan seluruh produk dan jasa
yang dimilikinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah
satu tujuan promosi bank adalah menginformasikan segala jenis produk
yang ditawarkan dan berusaha menarik calon nasabah yang baru.
Kemudian promosi juga berfungsi mengingatkan nasabah akan produk,
promosi juga ikut mempengaruhi nasabah untuk membeli dan akhirnya
promosi juga akan meningkatkan citra bank di mata para nasabahnya.
e.
Sumber Daya Manusia (People)
Menurut Lovelock dan Wright (2007), people merupakan
karyawan (dan kadang-kadang pelanggan lain) yang terlibat dalam proses
produksi. Banyak jasa bergantung pada interaksi langsung dan pribadi
antara pelanggan dan karyawan perusahaan. Sifat dan interaksi ini sangat
mempengaruhi persepsi pelanggan terhadap kualitas jasa. Pelanggan
sering menilai kualitas jasa yang mereka terima berdasarkan penilaian
terhadap orang-orang yang menyediakan jasa tersebut. Perusahaan jasa
yang berhasil menyediakan upaya yang cukup besar untuk merekrut,
melatih, dan memotivasi karyawannya, khususnya. Tetapi bukan sematamata orang yang berhubungan langsung dengan pelanggan.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas akan berpengaruh
terhadap pelayanan yang diberikan. Hal ini disebabkan jika SDM yang
dimiliki bank berkualitas akan dapat memberikan kecepatan, ketepatan,
dan keakuratan pelayanan yang diberikan, demikian pula sebaliknya.
Sikap dan perilaku merupakan bagian penting dalam etiket perbankan.
20
Sikap dan tingkah laku menunjukan kepribadian pegawai bank itu sendiri
yang harus diberikan sama halnya dengan mutu yang ditunjukan kepada
seluruh nasabah tanpa pandang bulu. Selain itu, dalam melayani nasabah
karyawan bank dituntut untuk berpenampilan semenarik mungkin, cara
berpakaian, cara berbicara untuk dapat berkomunikasi yang baik dengan
nasabah, cara bertanya, dan gerak-gerik yang diperlihatkan oleh
karyawan. Hal tersebut perlu diperhatikan untuk memberikan pelayanan
kepada nasabah (Kasmir, 2005).
Menurut Purwanto (2008), mengelola SDM untuk menghadapi
persaingan merupakan hal yang penting dalam perencanaan manajemen
strategi perusahaan. CEO yang berhasil adalah mereka yang mampu
melihat SDM sebagai aset yang harus dikelola sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Hal ini akan membuat perusahaan lebih kompetitif.
Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis manajemen
SDM
agar
memberikan
keunggulan
bersaing
bagi
perusahaan,
diantaranya adalah citra dan prestise perusahaan, struktur organisasi dan
suasana yang efektif, ukuran perusahaan dalam hubungannya dengan
industri, sistem manajemen strategi, sejarah perusahaan dalam mencapai
tujuan, pengaruh terhadap badan pemerintah, sistem dukungan staf
perusahaan yang efektif, karyawan yang berkualitas tinggi, pengalaman
kerja dan prestasi manajemen puncak yang seimbang, hubungan yang
efektif dengan serikat buruh, kebijakan hubungan kerja yang efisien dan
efektif, biaya buruh yang rendah, serta informasi manajemen dan sistem
komputer yang efektif.
f.
Proses (Process)
Proses adalah metode pengoperasian atau serangkaian tindakan
tertentu, yang umumnya berupa langkah-langkah yang diperlukan dalam
suatu
urutan
yang
telah
ditetapkan.
Untuk
menciptakan
dan
menyampaikan elemen produk kepada pelanggan diperlukan desain dan
implementasi dari proses yang efektif. Sebuah proses menjelaskan
metode dan urutan kerja dari sistem yang beroperasi. Proses yang
desainnya buruk akan mengganggu pelanggan karena keterlambatan,
21
birokrasi, dan penyampaian jasa yang tidak efektif. Sama halnya, proses
yang buruk menyulitkan para staf garis depan untuk melakukan tugasnya
dengan
baik,
yang
berakibat
rendahnya
produktivitas,
dalam
meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan (Lovelock dan Wright,
2007).
g.
Bukti fisik (Physical Evidence)
Bukti fisik merupakan petunjuk visual atau berwujud lainnya
yang memberi bukti atas kualitas jasa. Gedung, tanah, kendaraan,
perabotan interior, perlengkapan, anggota staf, tanda-tanda, barang
cetakan, dan petunjuk yang terlihat lainnya yang memberi bukti atas
kualitas jasa. Perusahaan jasa perlu mengelola bukti fisik secara hati-hati
karena dapat mempengaruhi kesan pelanggan. Dalam pemasaran jasa
yang hanya memiliki sedikit elemen berwujud, seperti asuransi, iklan
sering digunakan untuk menciptakan lambang-lambang bermakna
tertentu. Misalnya, payung mungkin melambangkan perlindungan dan
benteng melambangkan keamanan (Lovelock dan Wright, 2007).
h.
Produktivitas dan Kualitas (Productivity and Quality)
Produktivitas menjelaskan seberapa efisien pengubahan input jasa
menjadi output yang menambah nilai bagi pelanggan. Sedangkan kualitas
menjelaskan sejauh mana suatu jasa memuaskan pelanggan dengan
memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan mereka. Produktivitas dan
kualitas, yang sering juga dipisahkan satu sama lain, harus dilihat sebagai
dua sisi mata uang yang sama. Tidak ada perusahaan jasa yang sanggup
menangani kedua elemen ini secara sendiri-sendiri. Meningkatkan
produktivitas sangat penting untuk menjaga agar biaya tetap terkendali,
tetapi manajer harus berhati-hati untuk tidak mengurangi tingkat layanan
yang tidak disukai pelanggan (bahkan juga karyawan). Kualitas jasa,
yang didefinisikan pelanggan, berperan penting bagi diferensiasi produk
dan bagi pembentukan loyalitas pelanggan. Tetapi, investasi untuk
peningkatan kualitas tanpa menyadari keseimbangan antara peningkatan
biaya dan peningkatan pendapatan akan membahayakan keuntungan
perusahaan (Lovelock dan Wright, 2007).
22
2.4.2 Analisis Lingkungan Eksternal Perusahaan
Lingkungan eksternal perusahaan terdiri dari berbagai variabel (peluang
dan ancaman) yang berada di luar suatu organisasi dan berada di luar
pengendalian jangka pendek manajemen puncak (Kotler dan Keller, 2009).
Peluang adalah suatu bidang kebutuhan pembeli di mana perusahaan dapat
beroperasi
secara
menguntungkan.
Ancaman
adalah
tantangan
akibat
kecenderungan atau perkembangan yang kurang menguntungkan, yang akan
mengurangi penjualan dan laba jika tidak dilanjutkan dengan pemasaran defensif.
Menurut Umar (2003), lingkungan eksternal dibagi ke dalam dua kategori, yakni:
1.
Lingkungan Jauh
Lingkungan jauh perusahaan terdiri dari faktor-faktor yang pada
dasarnya di luar dan terlepas dari perusahaan. Lingkungan jauh ini
memberikan kesempatan besar bagi perusahaan untuk maju, sekaligus dapat
menjadi hambatan dan ancaman. Faktor-faktor utama yang bisa diperhatikan
adalah faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi (Umar, 2003).
a.
Politik
Arah, kebijakan, dan stabilitas politik pemerintah menjadi faktor
penting bagi para pengusaha. Beberapa hal utama yang perlu
diperhatikan dari faktor politik agar bisnis dapat berkembang dengan
baik, adalah undang-undang tentang lingkungan dan perburuhan,
peraturan tentang perdagangan luar negeri, stabilitas pemerintahan,
peraturan tentang keamanan dan kesehatan kerja, dan sistem perpajakan
(Umar, 2003). Lingkungan politik atau undang-undang maksudnya
adalah lembaga yang mengawasi perusahaan seperti badan pemerintah,
kelompok penekan yang mempengaruhi dan membatasi ruang gerak
organisasi dan individu dalam suatu masyarakat seperti tumbuhnya
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ikut mengawasi perusahaan
baik secara langsung maupun tidak langsung (Kasmir, 2005).
Falsafah pemerintah dalam hubungannya dengan perusahaan
dapat berubah sewaktu-waktu dan ini merupakan aspek penting yang
harus ditelaah para perencana strategi. Tindakan pemerintah dapat
memperbesar peluang atau hambatan usaha atau adakalanya keduanya
23
secara bersamaan. Beberapa contoh peluang atau kemudahan usaha yang
lebih besar dalam persaingan, yaitu pemerintah merupakan pembeli besar
untuk barang dan jasa, pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan
dan industri, pemerintah melindungi produsen dalam negeri terhadap
pesaing luar negeri yang tidak adil, perubahan kebijakan pemerintah
dapat memperbesar peluang dan munculnya bisnis baru bagi perusahaan.
Di samping mendorong dan membantu, pemerintah juga menciptakan
ancaman, ini berarti mempengaruhi kelangsungan hidup dan keuntungan
secara negatif. Banyak peraturan dapat membatasi pilihan strategi
sejumlah perusahaan, diantaranya yaitu kebijakan pemerintah yang
mengubah kondisi ekonomi, undang-undang pajak, dan sebagainya yang
dapat menimbulkan ancaman bagi masing-masing perusahaan (Purwanto,
2008).
b.
Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu daerah atau negara dapat mempengaruhi
iklim berbisnis suatu perusahaan. Beberapa faktor kunci yang perlu
diperhatikan dalam menganalisis ekonomi suatu daerah atau negara
adalah siklus bisnis, ketersediaan energi, inflasi, suku bunga, investasi,
harga-harga produk dan jasa, produktivitas, dan tenaga kerja (Umar,
2003).
Menurut Kasmir (2005), lingkungan ekonomis merupakan faktorfaktor yang mempengaruhi daya beli dan pola pembelanjaan konsumen.
Daya beli ini dapat diukur dari tingkat pendapatan masyarakat dan
perkembangan
tingkat
harga-harga
umum.
Faktor-faktor
yang
menyebabkan perubahan daya beli nasabah adalah perubahan pendapatan
dan perubahan harga-harga produk dan jasa di pasar.
Keadaan perekonomian pada waktu sekarang dan di masa yang
akan
datang
dapat
mempengaruhi
keberuntungan
dan
strategi
perusahaan. Faktor-faktor ekonomi spesifik yang dianalisis dan
didiagnosis kebanyakan perusahaan termasuk: (1) Tahapan siklus bisnis.
Perekonomian dapat digolongkan ke dalam keadaan depresi, resesi,
kebangkitan (recovery), atau kemakmuran; (2) Gejala inflasi dan deflasi
24
dalam harga barang dan jasa. Jika inflasi sangat tajam, mungkin diadakan
pengendalian upah dan harga; (3) Kebijakan keuangan, suku bunga, dan
devaluasi atau revaluasi uang dalam hubungannya dengan uang asing; (4)
Kebijakan fiskal, tingkat pajak untuk perusahaan dan perseorangan; (5)
Neraca pembayaran, surplus atau defisit dalam hubungannya dengan
perdagangan dengan luar negeri. Setiap segi ekonomi dapat membantu
atau menghambat upaya mencapai tujuan perusahaan dan menyebabkan
keberhasilan ataupun kegagalan strategi. Dengan kata lain, setiap segi
tersebut dapat berperan sebagai peluang ataupun ancaman (Purwanto,
2008).
c.
Sosial
Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi suatu perusahaan
mencakup sikap, gaya hidup, adat istiadat, dan kebiasaan dari orangorang
di
lingkungan
eksternal
perusahaan,
sebagaimana
yang
dikembangkan misalnya dari kondisi kultural, ekologis, demografis,
religius, pendidikan, dan etnis (Umar, 2003). Lingkungan sosial atau
kultural
merupakan
lembaga-lembaga
atau
kekuatan
lain
yang
mempengaruhi nilai di masyarakat seperti persepsi, preferensi, dan
perilaku masyarakat terhadap produk dan jasa yang dihasilkan oleh suatu
perusahaan (Kasmir, 2005).
Faktor sosial terpusat pada nilai dan sikap orang, pelanggan, dan
karyawan yang dapat mempengaruhi strategi. Nilai-nilai terwujud ke
dalam perubahan gaya hidup yang mempengaruhi permintaan terhadap
produk dan jasa ataupun cara perusahaan berhubungan dengan karyawan
(Purwanto, 2008).
d.
Teknologi
Faktor teknologi sebagaimana faktor-faktor lainnya dalam
lingkungan umum merefleksikan kesempatan dan ancaman bagi
perusahaan. Kemajuan teknologi secara dramatis telah mengubah produk,
jasa, pasar, pemasok, distributor, pesaing, pelanggan, proses manufaktur,
praktik-praktik pemasaran, dan posisi persaingan. Kemajuan teknologi
dapat menciptakan pasar baru, perkembangan produk, merubah relative
25
competitive cost serta membuat barang dan jasa menjadi cepat usang.
Perubahan teknologi dapat mengurangi atau menghilangkan perbedaan
biaya antar perusahaan, menciptakan proses produksi yang lebih singkat,
menciptakan kelangkaan pada tenaga teknikal serta mampu merubah
nilai-nilai dan harapan stakeholder (Umar, 2003).
Lingkungan
teknologi
merupakan
kekuatan-kekuatan
yang
menciptakan teknologi baru, menciptakan inovasi baru melalui
pengembangan produk baru serta mampu menangkap peluang-peluang
yang ada (Kasmir, 2005). Lingkungan teknologi juga diukur melalui laju
pertumbuhan dan tingginya anggaran penelitian dan pengembangan
(Litbang). Perencanaan strategi yang efektif meneliti lingkungan untuk
mencari perubahan teknologi yang dapat mempengaruhi bahan baku,
operasi serta produk dengan jasa perusahaan, karena perubahan teknologi
dapat memberi peluang besar untuk meningkatkan hasil, tujuan, atau
mengancam kedudukan perusahaan (Purwanto, 2008).
2.
Lingkungan Industri
Menurut Purwanto (2008), strategi dan tujuan perusahaan dipengaruhi
oleh daya saing industri di mana mereka memilih untuk menjalankan bisnis
dan posisi sektor industri tersebut. Suatu industri dapat digambarkan sebagai
serangkaian perusahaan yang bersaing satu sama lain untuk meraih pangsa
pasar yang tinggi dalam mencapai skala ekonomi dan strategi yang telah
ditentukan. Intensitas persaingan dalam suatu industri atau perusahaan
bukanlah masalah kebetulan atau masih buruk. Sebaliknya, persaingan dalam
industri berakar pada struktur ekonomi yang mendasarinya dengan berjalan di
luar perilaku pesaing-pesaing yang ada. Keadaan persaingan dalam suatu
industri tergantung pada lima kekuatan pesaing pokok. Menurut Porter dalam
David (2006), hakikat persaingan suatu industri dapat dilihat sebagai
kombinasi atas lima kekuatan yang disebut Model Lima Kekuatan Porter
(Porter‟s Five-Forces Model), yaitu persaingan antar perusahaan sejenis,
kemungkinan masuknya pesaing baru, potensi pengembangan produk
substitusi, kekuatan tawar-menawar penjual atau pemasok, dan kekuatan
26
tawar-menawar pembeli atau konsumen. Berikut adalah gambaran tentang
Model Lima Kekuatan Porter yang dapat dilihat pada Gambar 2.
Potensi pengembangan produk substitusi
Para Pesaing Industri
Kekuatan tawar menawar
pemasok
Kekuatan tawar menawar
pembeli
Pemasok
Pembeli
Persaingan antara
perusahaan yang ada
Kemungkinan masuknya pesaing baru
Gambar 2. Model lima kekuatan Porter (David, 2006)
Adapun penjelasan yang dapat diuraikan dari kelima sektor yang
mempengaruhi manajemen strategi pada Gambar 2, yaitu sebagai berikut:
1.
Kekuatan Tawar-menawar Pembeli
Perencanaan strategi yang efektif menaruh perhatian pada jenis
konsumen serta kebutuhan dan keinginan konsumen. Mereka juga
berkepentingan dengan siapa dan di mana calon konsumen berada dan
kecenderungan di masa depan. Sektor ini membahas tiga faktor yang
mencakup perencanaan strategi sebagai bagian dari analisis industri
mereka atas sektor konsumen, yaitu identitas pembeli, faktor-faktor
demografi yang menciptakan perubahan dalam golongan-golongan
konsumen tertentu, dan lokasi geografi pasar.
27
2.
Kekuatan Tawar-menawar Pemasok
Para pemasok memberikan modal, tenaga kerja, bahan dan sebagainya
kepada
suatu
perusahaan.
Perencana
strategi
yang
efektif
berkepentingan dengan perubahan pemasok di dalam lingkungan.
Perencana strategi harus meneliti biaya dan tersedianya semua faktor
produksi yang digunakan dalam perusahaan. Biaya dan ketersediaan
bahan baku, sub perakitan, uang, tenaga sampai pada batas yang lebih
kecil, karyawan juga terpengaruh oleh hubungan kekuatan antara
perusahaan dan pemasok.
3.
Persaingan Sesama Perusahaan dalam Industri
Rivalitas (rivalry) dikalangan pesaing yang ada berbentuk perlombaan
untuk mendapatkan posisi dengan menggunakan taktik-taktik seperti
persaingan harga, perang iklan, introduksi produk dan meningkatkan
pelayanan atau jaminan terhadap pelanggan. Persaingan terjadi karena
satu atau lebih pesaing merasakan adanya tekanan atau melihat peluang
untuk memperbaiki posisi. Pada kebanyakan industri, gerakan
persaingan oleh satu perusahaan mempunyai pengaruh yang besar
terhadap para pesaingnya. Dengan demikian, dapat mendorong
perlawanan atau usaha untuk menandingi gerakan tersebut, artinya
perusahaan-perusahaan saling ketergantungan satu sama lain (mutually
dependent).
4.
Ancaman dari Produk Pengganti
Semua perusahaan dalam suatu industri bersaing, dalam arti yang luas,
dengan industri-industri yang menghasilkan produk pengganti. Produk
pengganti membatasi laba potensial dari industri dengan menetapkan
harga pagu (ceiling price) yang dapat diberikan oleh perusahaan
industri. Semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan oleh produk
pengganti, maka semakin ketat pembatasan laba industri. Produk
pengganti yang perlu mendapat perhatian besar, yaitu produk-produk
yang mempunyai kecenderungan untuk memiliki harga atau prestasi
yang lebih baik ketimbang produk industri dan dihasilkan oleh industri
yang berlaba tinggi.
28
5.
Ancaman Masuk Pendatang Baru
Pendatang baru pada suatu industri membawa kapasitas baru, keinginan
merebut bagian pasar, serta seringkali juga sumber daya yang besar.
Ancaman masuknya pendatang baru ke dalam industri tergantung pada
rintangan masuk yang ada, digabung dengan reaksi dari para pesaing
yang sudah ada yang dapat diperkirakan oleh pendatang baru. Jika
rintangan atau hambatan ini besar dan atau pendatang baru
memperkirakan akan ada perlawanan yang keras dari pesaing lama,
maka ancaman masuknya pendatang baru akan rendah. Terdapat tujuh
sumber utama rintangan masuk yaitu:
a.
Skala ekonomis, dapat terjadi pada hampir semua fungsi bisnis,
meliputi manufaktur, pembelian, penelitian dan pengembangan,
pemasaran, jaringan pelayanan, distribusi, dan sebagainya.
b.
Diferensiasi produk, artinya perusahaan tertentu mempunyai
identifikasi merek dan kesetiaan pelanggan, yang disebabkan oleh
periklanan, pelayanan terhadap pelanggan, perbedaan produk di
masa yang lampau, atau sekedar karena merupakan perusahaan
pertama yang memasuki industri. Diferensiasi menciptakan
hambatan masuk dengan memaksa pendatang baru mengeluarkan
biaya yang besar untuk mengatasi kesetiaan pelanggan yang ada.
c.
Kebutuhan modal, untuk menanamkan modal yang besar bila akan
memasuki industri, dapat bersaing menciptakan hambatan masuk,
khususnya jika modal tersebut diperuntukkan untuk periklanan
yang tidak dapat kembali lagi atau untuk kegiatan penelitian dan
pengembangan yang penuh risiko.
d.
Biaya beralih pemasok, hambatan masuk tercipta dengan adanya
biaya peralihan pemasok (switching costs) yaitu biaya satu kali
(one time cost) yang harus dikeluarkan pembeli bilamana
berpindah dari produk pemasok tertentu ke produk pemasok
lainnya. Biaya peralihan ini dapat meliputi biaya melatih karyawan,
biaya peralatan pelengkap yang baru, dan waktu untuk menguji
atau menerima sumber baru.
29
e.
Akses ke saluran distribusi, makin terbatasnya saluran distribusi
untuk suatu produk dan makin banyak pesaing yang telah banyak
mengikat saluran ini, jelas akan berat usaha untuk masuk ke dalam
industri.
f.
Biaya yang tidak menguntungkan terlepas dari skala, perusahaan
yang mempunyai keunggulan biaya yang tidak dapat ditiru oleh
pendatang baru yang akan masuk tidak peduli berapapun besarnya
dan berapapun pencapaian skala ekonomis dari pendatang baru
tersebut.
g.
Kebijakan pemerintah, pemerintah dapat membatasi atau bahkan
menutup kemungkinan masuk ke dalam industri dengan peraturanperaturan yang berlaku.
2.5. Bank
Menurut Kasmir (2005), bank merupakan lembaga keuangan yang
kegiatannya adalah menghimpun dana (funding) dari masyarakat dalam bentuk
simpanan, menyalurkan dana (lending) ke masyarakat dalam bentuk pinjaman
(kredit) kepada masyarakat, dan memberikan jasa (services) bank lainnya.
2.5.1 Bank Konvensional
Menurut Kasmir (2005), bank konvensional adalah suatu lembaga yang
melaksanakan tiga fungsi utama yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan
uang, dan memberikan jasa pengiriman uang. Perbedaan bank konvensional
dengan bank syariah adalah dengan adanya bunga. Secara fiqih, bunga ini
dikategorikan sebagai riba.
2.5.2 Bank Syariah
Sebagaimana halnya dengan bank konvensional, bank syariah juga
mempunyai peran sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan
kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana
(surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit
unit). Bank syariah merupakan bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan
pada bunga. Bank syariah juga dapat diartikan sebagai lembaga keuangan atau
perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan Alqur‟an
dan Hadits Nabi SAW. Bank syariah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk
30
terbinanya kebersamaan dan menanggung resiko usaha serta berbagi hasil usaha
antara shahibul mal (pemilik dana) yang menyimpan uangnya di lembaga selaku
pengelola dana (mudarib), dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa
berstatus peminjam dana atau pengelola usaha (Machmud dan Rukmana, 2010).
Menurut Kasmir (2005), bank syariah merupakan bank yang beroperasi
berdasarkan hukum Islam. Bank ini mengharamkan bunga seperti yang diberikan
bank konvensional. Landasan hukum bank syariah adalah Al-Quran dan Sunnah
Rasul.
2.6. Produk Bank Syariah
Machmud dan Rukmana (2010), menyatakan bahwa pembiayaan dalam
perbankan syariah tidak bersifat menjual uang yang mengandalkan pendapatan
bunga atas pokok pinjaman yang diinvestasikan, tetapi dari pembagian laba yang
diperoleh pengusaha. Pendekatan bank syariah mirip dengan investment banking
dimana secara garis besar, produk adalah mudharabah (trust financing) dan
musyarakah
(patnership
financing),
sedangkan
yang
bersifat
investasi
diimplementasikan dalam bentuk murabahah (jual-beli). Pola konsumsi dan pola
simpanan yang diajarkan oleh Islam memungkinkan umat Islam mempunyai
kelebihan pendapatan yang harus diproduktifkan dalam bentuk investasi. Maka,
bank Islam menawarkan tabungan investasi yang disebut simpanan mudharabah
(simpanan bagi hasil atas usaha bank). Untuk dapat membagihasilkan usaha bank
kepada penyimpan mudharabah, bank syariah menawarkan jasa-jasa perbankan
kepada masyarakat dalam bentuk:
1.
Pembiayaan untuk berbagai kegiatan investasi atas dasar bagi hasil yang
terdiri dari pembiayaan investasi bagi hasil al-mudharabah dan pembiayaan
investasi bagi hasil al-musyarakah. Dari pembiayaan investasi tersebut, bank
akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil usaha.
2.
Pembiayaan untuk berbagai kegiatan perdagangan yang terdiri dari
pembiayaan perdagangan al-murabahah dan al-baiu bithaman ajil. Dari
pembiayaan perdagangan tersebut, bank akan memperoleh pendapatan berupa
mark-up atau margin keuntungan.
3.
Pembiayaan pengadaan barang untuk disewakan atau disewabelikan dalam
bentuk sewa guna usaha yang disebut al-ijaroh dan sewa beli yang disebut al-
31
baiu takjiri. Di Indonesia, al-ijaroh dan al-baiu takjiri tidak dapat dilakukan
oleh bank. Namun demikian, penyewaan fasilitas tempat penyimpanan harta
dapat dikategorikan sebagai al-ijaroh. Dari kegiatan usaha al-ijaroh, bank
akan memperoleh pendapatan berupa sewa.
4.
Pemberian pinjaman tunai untuk kebajikan (al-qardhul hasan) tanpa
dikenakan biaya apapun kecuali biaya administrasi berupa segala biaya yang
diperlukan untuk sahnya perjanjian hutang seperti bea materai, bea akta
notaris, bea studi kelayakan, dan sebagainya. Dari pemberian pinjaman alqardhul hasan, bank akan menerima kembali biaya-biaya administrasi.
5.
Fasilitas-fasilitas perbankan umumnya yang tidak bertentangan dengan
syariah seperti penitipan dana dalam rekening lancar (current account), dalam
bentuk giro wadi’ah yang diberi bonus dan jasa lainnya untuk memperoleh
balas jasa seperti: pemberian jaminan (al-kafalah), pengalihan tagihan (alhiwalah), pelayanan khusus (al-jualah), pembukaan L/C (al-wakalah), dan
lain-lain. Dari pemakaian fasilitas-fasilitas tersebut, bank akan memperoleh
pendapatan berupa fee.
Dalam bentuk praktik di lapangan, di samping menyediakan modal yang
dibutuhkan masyarakat kecil untuk membeli barang-barang modal (alat kerja),
modal kerja operasional, dan faktor lain yang dibutuhkan untuk membangun satu
unit bisnis kecil, bank syariah idealnya juga harus memberikan pendampingan
manajerial, seperti aspek pemasaran, keuangan, dan produksi bahkan sampai
memfasilitasi jaringan pemasaran (tata niaga) yang lebih efisien yang
menguntungkan usaha kecil dan menengah. Dengan demikian, bank syariah
menjadi partner usaha dalam lingkup yang lebih luas dan terintegrasi.
2.7. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Syafitri (2010), melakukan penelitian mengenai Analisis Strategi
Pemasaran Produk Dana Koperasi Baitul Maal Wa Tamwil Muamalat di
Perumnas Bantarjati Bogor Utara dengan tujuan untuk mengidentifikasi
lingkungan internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan, mengidentifikasi
lingkungan eksternal yang menjadi peluang dan ancaman, serta menyususn
alternatif strategi pemasaran terbaik pada Koperasi BMT Muamalat untuk
meningkatkan volume penjualan produk dana Koperasi BMT Muamalat. Hasil
32
pengolahan data dengan menggunakan matriks IFE dan EFE didapatkan nilai 2,52
untuk faktor internal dan 2,63 untuk faktor eksternal. Pada analisis matriks IE
dapat diketahui posisi Koperasi BMT Muamalat berada pada kuadran V, sehingga
alternatif strategi yang dapat diterapkan adalah strategi penetrasi pasar, strategi
pengembangan produk dan konsolidasi internal (penguatan ke dalam). Untuk hasil
perhitungan QSPM, didapatkan strategi yang menjadi pilihan strategi utama yakni
strategi pengembangan produk dengan nilai total TAS 5,149.
Zahra (2011), melakukan penelitian mengenai Analisis Strategi Pemasaran
Produk Tabungan Muamalat PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk. Cabang Bogor
dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal, menganalisis
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, serta memberikan alternatif strategi
pemasaran yang terbaik pada produk Tabungan Muamalat PT Bank Muamalat
Indonesia, Tbk. Cabang Bogor. Berdasarkan hasil analisis matriks IFE dan EFE,
diketahui bahwa kekuatan utama yang dimiliki PT Bank Muamalat Indonesia,
Tbk. Cabang Bogor adalah Sumber Daya Insani yang berkualitas dan berorientasi
pada pelayanan, sedangkan kelemahan utamanya adalah kerjasama dengan
channelling yang hanya untuk produk tertentu saja. Peluang utama bagi PT Bank
Muamalat Indonesia, Tbk. Cabang Bogor adalah masih luasnya pangsa pasar bank
syariah secara nasional, sedangkan ancaman yang dihadapi adalah semakin
lengkap dan inovatif fitur produk bank pesaing yang dilengkapi dengan teknologi
canggih. Berdasarkan QSPM diperoleh alternatif strategi pemasaran yang tepat
dalam penelitian ini yaitu market penetration strategy.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dari tempat
penelitian. Penelitian ini menganalisis strategi pemasaran pada produk Tabungan
BSM yang berfokus pada PT Bank Syariah Mandiri KCP Lebak-Banten. Tujuan
penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal,
menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, serta menyusun
alternatif strategi pemasaran yang tepat dengan menggunakan martiks IFE, EFE,
IE, SWOT, dan QSPM.
Download