10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Kerja Shift
a. Defenisi kerja shift
Menurut International Labor Organization (ILO) tahun 1990
kerja shift adalah metode bekerja yang dilakukan secara bergantian
dalam 24 jam. Kerja shift merupakan salah satu strategi yang
dilakukan perusahaan untuk meningkatkan produksivitas secara
maksimal dan efisien (Marchelia, 2014). Surat Keputusan Menteri
Tenaga
Kerja
dan
transmigrasi
No.Kep.102/MEN/VI/2004
menetapkan waktu kerja normal untuk 6 hari kerja adalah 7 jam/hari
dengan waktu kerja pada hari ke- 5 dan ke- 6 adalah 5 jam/hari.
Waktu kerja normal untuk 5 hari kerja adalah 8 jam/hari dengan
jumlah total keseluruhan jam kerja adalah 40 jam/minggu. Jika jam
kerja lebih dari 40 jam/minggu maka akan dihitung sebagai waktu
kerja lembur.
b. Sistem kerja shift
Sistem kerja shift disetiap instalasi atau perusahaan berbedabeda. Sistem kerja shift yang diterapkan ILO membedakan 3 tipe kerja
shift yaitu discontinue, semicontinue, dan continue. Pengelompokkan
kerja shift menurut William dalam Kodrat (2009) terdiri dari :
10
11
1. Kerja shift permanen/tetap
Kerja shift permanen/tetap adalah pekerjaan yang dilakukan
setiap hari secara menetap baik di waktu siang dan malam.
Pekerja yang bekerja pada siang hari adalah orang-orang yang
bersedia bekerja pada siang hari dan tidur pada malam hari
sedangkan pekerja yang bekerja pada malam hari adalah orangorang yang bersedia bekerja pada malam hari dan tidur pada siang
hari.
2. Kerja shift rotasi
Kerja shift rotasi adalah pekerjaan yang dilakukan secara
bergantian dengan shift yang telah ditetapkan pada waktu pagi,
siang, dan malam. Kerja shift rotasi dapat dilakukan dengan rotasi
lambat dan rotasi cepat. Rotasi lambat adalah pergantian shift
yang dilakukan setiap satu bulan sekali. Rotasi cepat adalah
pergantian shift yang dilakukan kurang dari satu minggu. Kerja
shift yang dilakukan secara bergantian dapat mengganggu irama
sirkadian dibandingkan kerja shift yang dilakukan secara
permanen/tetap. Keadaan tubuh manusia sangat berkaitan erat
dengan irama sirkadian. Irama sirkadian berfungsi sebagai
regulator tubuh untuk mengatur suhu, metabolisme, pencernaan,
tekanan darah, sekresi adrenalin, keadaan bangun dan tidur
(Cluskey, 2013). Fungsi tubuh akan terganggu apabila bekerja
pada shift malam. Irama sirkadian pada setiap individu akan
12
berbeda penyesuaiannya jika mendapatkan jadwal kerja shift
malam. Keadaan normal fungsi tubuh dibedakan menjadi 2 fase
yaitu (Kodrat, 2009) :
a.
Fase ergotropik adalah fase dimana tubuh siap untuk
melakukan segala aktivitas termasuk untuk melakukan
pekerjaan. Fase ini akan terjadi pada pagi dan siang hari.
b.
Fase tropotropik adalah fase dimana semua fungsi tubuh
mengalami penurunan akibat aktivitas yang dilakukan pada
siang hari. Pada fase ini sangat baik untuk tubuh memulihkan
kembali energi yang sudah terpakai. Fase ini sebagian besar
terjadi pada malam hari.
Menurut Nurmianto (2004) dalam melakukan perancangan
kerja shift ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
a. Kurangnya waktu tidur atau istirahat dapat ditekan sekecil
mungkin untuk meminimalkan kelelahan pada pekerja shift.
b. Luangkan waktu untuk selalu berinteraksi di lingkugan sosial
maupun keluarga.
Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan
jadwal kerja shift yaitu :
a. Usia yang dianjurkan untuk melakukan kerja shift berkisar
25-50 tahun.
13
b. Pekerja yang memiliki penyakit perut atau usus dan
memilikiemosi yang tidak stabil sebaiknya tidak dianjurkan
bekerja pada shift malam.
c.
Lamanya shift kerja tidak melebihi 8 jam/hari.
d.
Sistem kerja shift yang menerapkan pergantian shift pada
pukul 06.00-14.00-22.00 sebaiknya diganti pada pukul 07.0015.00-23.00 atau 08.00-16.00-24.00.
e.
Rotasi kerja shift yang dianjurkan adalah rotasi cepat dari
pada rotasi lambat sehingga dapat menghindari kerja shift
malam secara terus-menerus.
f.
Selama 3 hari mendapatkan jadwal kerja shift malam
berturut-turut harus diimbangi dengan istirahat minimal 24
jam dan memberikan waktu libur minimal 2 hari untuk
mengatur pola tidur pekerja shift.
g.
Menyediakan fasilitas kesehatan dan fasilitas olahraga untuk
pekerja shift agar pekerja shift dapat menerapkan pola hidup
sehat.
h. Menyediakan televisi dan musik yang tidak monoton pada
saat shift malam.
i. Meningkatkan hubungan sosial sesama pekerja shift.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja shift
Adapun
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
menurut Dedy (2012) sebagai berikut :
kerja
shift
14
1. Tipe pekerjaan
Secara garis besar tipe pekerjaan akan mempengaruhi
mental pekerja shift salah satunya pekerjaan yang membutuhkan
kehati-hatian, kesabaran dan tanggung jawab yang besar.
2. Tipe sistem shift
Penerapan sistem kerja shift yang banyak di terapakan pada
instalasi dan perusahaan akan berdampak pada fisik dan mental
pekerja shift. Hal ini disebabkan adanya perubahan irama
sirkadian yang akan berdampak pada metabolisme tubuh pekerja
shift.
3. Tipe pekerja
Pekerja
yang sudah
berusia
lanjut
akan
memiliki
kemampuan yang minimal dalam menyesuaikan irama sirkadian
tubuh ketika terjadi perubahan shift kerja.
d. Dampak kerja shift
Menurut Maurits dan Widodo (2002) kerja shift akan
memberikan dampak pada pekerja shift antara lain :
1. Dampak terhadap kesehatan
a. Perubahan pola tidur berdampak pada kualitas tidur pekerja
shift. Walaupun sudah di ganti dengan tidur pada siang hari,
hal ini tidak selalu efektif untuk mengganti kantuk yang
dirasakan pada malam hari.
15
b. Rasa kantuk dan lelah pada pekerja shift akan meyebabkan
kapasitas kerja menurun.
c. Meningkatkan nafsu makan dan hipertensi pada pekerja shift.
2. Dampak terhadap psikososial
Kerja shift akan berdampak pada kehidupan sosial dan
keluarga. Waktu yang banyak digunakan di tempat kerja akan
mengganggu aktivitas di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Bekerja pada shift malam berpengaruh pada interaksi sosial yang
sering dilakukan pada siang dan sore hari sehingga tidak dapat
berpartisipasi secara aktif di lingkungan sosial.
3. Dampak terhadap kinerja
Keadaan psikologi yang tidak stabil saat bekerja pada shift
malam dapat menurunkan kinerja kerja. Kelelahan akibat kualitas
tidur yang tidak baik dan stres kerja akan mempengaruhi perilaku
pekerja seperti ketidakpuasan terhadap kerja, iritasi, dan
kewaspadaan.
4. Dampak terhadap keselamatan kerja
Beberapa penelitian menyebutkan kerja pada shift malam
meningkatkan
resiko
terjadinya
kecelakaan
kerja
dengan
persentase 0,69%. Tetapi tidak semua penelitian menyebutkan hal
yang demikian. Faktanya kecelakaan kerja cenderung terjadi pada
shift pagi.
16
2. Fisiologi Tidur
a. Pengertian tidur
Tidur merupakan keadaan istirahat tubuh yang terjadi secara
berulang-ulang. Tidur juga didefenisikan sebagai keadaan tidak sadar
dan dapat dibangunkan menggunakan rangsangan. Tidur terbagi
dalam beberapa tahap mulai dari tidur yang sangat ringan sampai
dengan tidur yang sangat dalam. Tidur yang cukup dapat memberikan
kebugaran dan penyembuhan pada sistem tubuh untuk memulai
aktifitas berikutnya (Potter & Perry ,2005; Guyton & Hall, 2014).
b. Pola tidur
Menurut Guyton & Hall (2014) pola tidur terbagi menjadi 2 yaitu
: (1) tidur gelombang lambat karena pada tahap ini gelombang otak
sangat kuat dan frekuensinya sangat rendah dan (2) tidur dengan
pergerakan mata yang cepat (REM sleep) karena pada pola ini mata
bergerak cepat meskipun orang tertidur dan memungkinkan untuk
terjadi nya mimpi.
1. Tidur NREM (Non Rapid Eye Movement)
Tidur ini sering disebut juga tidur gelombang lambat atau
tidur ortodok. Menurut Alexander et al. (2000) tidur NREM terdiri
dari tujuh tingkatan, setiap tingkatan terjadi aktivitas elektrik di
dalam otak yang meningkat secara perlahan dan meningkatkan
gelombang amplitudonya. Tahap tidur ini begitu tenang dan dapat
dihubungkan dengan penurunan tonus pembulu darah perifer dan
17
fungsi-fungsi vegetatif tubuh. Sebagai contoh tekanan darah,
frekuensi pernapasan, dan kecepatan metabolisme basal akan
berkurang 10 - 30%.
Stage 0 (sadar, ditandai dengan aktivitas tegangan rendah
antara 4-25 Hz), Stage 1 (irama alpha antara 8-12 Hz, dilanjutkan
dengan gerakan mata yang lamban), Stage 2 (tidur ringan irama
alpha antara 12-14 Hz, gerakan tubuh mulai berkurang dan di
mulainya mimpi), Stage 3 (tidur gelombang rendah, amplitudo
electroencephalography (EEG) meningkat antara 20 - 49%,
gerakan tubuh terus menurun), Stage 4 (tidur gelombang rendah,
lebih dari 50% dari EEG menunjukkan adanya aktivitas delta,
gerakan tubuh sangat minimal dan terjadi peningkatan hormon
pertumbuhan).
2. Tidur REM (Rapid Eye Movement)
Pola tidur yang kedua adalah tidur REM atau tidur
paradoksikal atau tidur desinkronasi. Tidur REM biasanya
berlangsung 5-30 menit dan biasanya muncul rata-rata setiap 90
menit. Semakin seseorang mengantuk, maka tidur REM
berlangsung sangat singkat dan bahkan tidak ada. Sebaliknya,
semakin seseorang tidur lebih nyenyak sepanjang malamnya,
durasi tidur REM juga semakin lama.
18
Terdapat beberapa hal yang sangat penting pada tidur REM :
a. Tidur REM biasanya disertai mimpi yang aktif dan pergerakan
tubuh yang aktif.
b. Seseorang lebih sukar dibangunkan oleh rangsangan sensorik
selama tidur gelombang lambat, namun orang-orang terbangun
secara spontan di pagi hari sewaktu episode tidur REM.
c. Tonus otot di seluruh tubuh berkurang, hal ini menunjukkan
adanya hambatan yang kuat pada area pengaturan otot di
spinal.
d. Frekuensi denyut janutng dan pernapasan biasanya menjadi
ireguler dan ini merupakan sifat dari keadaan tidur dengan
mimpi.
e. Walaupun ada hambatan yang kuat pada otot-otot peerifer,
masih timbul pergerakan otot yang tidak teratur. Keadaan ini
khususnya mencangkup pergerkan mata yang cepat.
f. Pada tidur REM, otak menjadi sangat aktif dan metabolisme di
seluruh otak meningkat sebanyak 20%. Pada EEG terlihat pola
gelombang otak yang serupa dan terjadi selama keadaan siaga.
Tidur tipe ini disebut tidur paradoksikal karena hal ini bersifat
paradoks, yaitu seseorang dapat tetap tidur walaupun aktivitas
otaknya meningkat.
Ringkasnya, tidur REM merupakan pola tidur saat otak
benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak
19
disalurkan kearah yang sesuai agar orang itu siaga penuh terhadap
keadaan sekelilingnya sehingga orang tersebut benar-benar
tertidur ( Guyton & Hall, 2007).
c. Fungsi tidur
Tidur berfungsi terhadap pemulihan biologis, fisiologi dan
psikologis. Selama kita tidur, tubuh melepaskan hormon pertumbuhan
untuk memperbaiki dan memperbarui sel-sel epitel (Potter & Perry,
2005). Tidur merupakan cara tubuh untuk memperbaiki level normal,
keseimbangan organ dan saraf. Tidur juga membantu dalam proses
metabolisme seperti sintesis protein yang berguna dalam perbaikan sel
tubuh manusia. Tidur juga digunakan sebagai alat ukur psikologi yang
normal, orang yang waktu tidurnya kurang akan cenderung
mengalami peningkatan emosi, sulit berkonsentrasi, dan sulit untuk
berfikir (Kozier & Erbs, 2007).
d. Mekanisme yang mempengaruhi proses tidur
Tidur dipengaruhi oleh beberapa rangsangan (Guyton & Hall,
2014) sebagai berikut :
1. Daerah perangsang tidur yang dapat menimbulkan tidur adalah
nuklei rafe (raphe) yang terletak di separuh bagian bawah pons dan
medula.
2. Perangsangan beberapa area di nukleus traktrus solitarius dapat
menimbulkan tidur. Nukleus ini merupakan daerah terminal di pons
20
dan medulayang dilewati oleh sinyal sensorik viseral yang masuk
melalui nervus vagus dan nervus glossofaringeus.
3. Tidur juga dapat ditimbulkan dari beberapa rangsangan di regio
pada diensefalon yaitu bagian rostral hipotalamus, terutama diarea
suprakiasm, dan di nukleus difus talamus.
e. Irama sirkadian dan metabolisme
Irama sirkadian adalah irama yang berjalan seiring dengan rotasi
bumi. Pusat kontrol irama sirkadian terletak pada bagian ventral
anteriol hipotalamus (Japardi, 2002). Irama sirkadian memiliki peran
penting dalam meregulasi metabolisme didalam tubuh. Hampir semua
mahkluk hidup memiliki irama sirkadian. Jaringan aktif secara
metabolik seperti hati, pankreas, dan organ gastrointestinal diatur
secara spesifik oleh irama sirkadian. Irama sirkadian diatur oleh
suprachiasmatic nuclei (SCN). Disisi lain terdapat bukti yang
mendukung bahwa makan dan siklus puasa tubuh adalah salah satu
output utama dari SCN dalam menyinkronkan dengan jam liver/hati
(Shi & Zheng, 2013).
Makan dan proses metabolik oleh hasil SCN dalam perubahan
siklus selural merupakan umpan balik untuk memodulasi irama
sirkadian. SCN sering disebut master circadian clock of the body
karena berperan aktif dalam mengatur suhu, sekresi hormon, ginjal,
fungsi kardio-pulmoner, neurobihavior dan gantrointestinal. SCN juga
mengatur sleep-wake pada manusia. Pada malam hari SCN akan
21
merangsang pengeluaran hormon melatonin dalam keadaan gelap.
Hormon melatonin berperan dalam mengatur mekanisme tidur.
Hormon ini memiliki aksi hipnotik sebagai pembuka “sleep gate” atau
gerbang tidur (Bailey et al., 2014).
Tidur bermanfaat dalam meregulasi sistem metabolisme didalam
tubuh. Ketika tidur malam terganggu maka akan merubah pola tidur
dan menyebabkan masalah kesehatan (Purwanto, 2008). Perubahan
pola tidur akan menyebabkan aktivitas Hypothalamic Pituitary
Adrenal (HPA) dan sistem saraf simpatis meningkat hal ini akan
merangsang hormon katekolamin dan kortisol sehingga menyebabkan
gangguan pada metabolisme tubuh (Taub & Redeker dalam Suranto,
2014).
3.
Glukosa Darah
a. Pengertian
Glukosa merupakan molekul utama dalam pembentukan energi di
dalam tubuh manusia. Glukosa di dapat dari karbohidrat yang
merupakan sumber energi utama dalam metabolisme tubuh. Berbagai
jenis karbohidrat yang dikonsumsi seperti monosakarida, disakarida,
dan polisakarida akan di konversikan menjadi glukosa di dalam hati
(Irawan, 2007). Glukosa di dalam tubuh akan tersimpan dalam bentuk
glikogen di dalam hati dan otot yang berfungsi sebagai cadangan
22
makanan dan juga tersimpan di dalam plasma darah bentuk glukosa
darah.
Gukosa darah (blood glucose) adalah jumlah atau konsentrasi
kandungan glukosa di dalam sirkulasi darah. Kadar glukosa pada
orang normal akan berlangsung konstan karena pengaturan karbohidrat
yang baik.
Dalam konsumsi sehari-hari, glukosa yang diperlukan berkisar
50-75% dari total kebutuhan energi di dalam tubuh. Mekanisme
metabolisme glukosa terbagi 2 yaitu aerob dan anaerob. Mekanisme
aerob membutuhkan enzim sebagai katalisator di dalam mitokondria
dan membutuhkan oksigen (O2). Sedangkan metabolisme anaerob
berlangsung di dalam sitoplasma (cytoplasm).
b. Kelainan
Kelainan pada glukosa dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Salah satunya adalah insulin. Terjadinya ketidakseimbangan insulin
akan menimbulkan suatu keadaan dimana kadar gula di dalam darah
naik atau turun. Terdapat dua istilah yang mengacu pada kelainan
kadar gula darah yaitu :
1) Hipoglikemi
Suatu keadaan dimana kadar gula darah dibawah keadaan
normal berkisar dibawah 60 mg/dL. Tanda dan gejala seseorang
yang mengalami hipoglikemia adalah merasa lemas, bergemetar,
dan berkeringat dingin.
23
2) Hiperglikemi
Kondisi dimana kadar gula darah berada diatas nilai normal
dan selalu terjadi pada penderita diabetes mellitus. Pada kondisi
tidak berpuasa kadar gula darah > 200 mg/dL, pada saat
berpuasa kadar gula darah > 126 mg/dL.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi glukosa darah
1) Faktor internal
a) Penyakit dan stres
Penyakit dan infeksi virus tertentu secara tidak
langsung dapat menimbulkan kerusakan pada insulin
Tandra (2008) dalam Qurratuaeni (2009).
Stres merupakan suatu keadaan yang mengharuskan
individu berespon terhadap sesuatu atau melakukan
tindakan. Stres terjadi dikarenakan ketidakcocokan antara
tuntunan dengan kemampuan yang dimiliki (Potter & Perry,
2005). Stres dapat meningkatkan kadar gula darah karena
stres akan menstimuli organ endokrin untuk mengeluarkan
ephinefrin. Hormon ephinefrin berpengaruh terhadap proses
glikoneogenesis di dalam hati sehingga melepaskan glukosa
ke dalam aliran darah dalam beberapa menit (Guyton &
Hall, 2014).
b) Obesitas
24
Sesorang bisa dikatakan obesitas jika memiliki berat
badan berlebih minimal 20% dari berat badan ideal. Rumus
untuk menghitung berat badan ideal : (TB dalam cm - 100) 10%. Obesitas menyebabkan kurang sesnsitifnya reseptor
insulin pada sel target diseluruh tubuh. Sehingga jumlah
insulin di dalam aliran darah berkurang dan meningkatkan
kadar gula di dalam darah (Ilyas, 2007).
c) Diet/ asupan makanan
Diet atau asupan makanan adalah salah satu unsur
utama yang berpengaruh besar terhadap kadar gula darah.
Hal ini berhubungan dengan monosakarioda yang diserap,
jumlah karbohidrat yang dikonsumsi, tingkat penyerapan
dan fermentasi kolon (Ilyas, 2007).
Faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam diet
karbohidrat terhadap kenaikan kadar gula darah yaitu
(Pranandji, 2002) :
1.
Kandungan serat dalam makanan
2.
Proses pencernaan
3.
Cara olah makanan
4.
Ada atau tidak nya zat anti nutrien
5.
Waktu makan dengan kecepatan lambat atau cepat
6.
Pengaruh intoleransi glukosa
7.
Pekat atau tidaknya makanan
25
d) Aktivitas fisik
Aktivitas fisik merupakan serangkaian gerakkan yang
bertujuan untuk meningkatkan dan mengeluarkan energi
(Kemenkes, 2010). Aktivitas fisik meningkatkan transport
glukosa melalui Glukose Transporter-4 (GLUT-4) kedalam
membran sel sehingga terjadi peningkatan AMP otot,
insulin akan semakin meningkat dan kadar gula dalam
darah akan berkurang (Ilyas, 2007). Aktivitas fisik selama
10 menit akan meningkatkan kebutuhan glukosa 15 kali dari
jumlah kebutuhan glukosa pada keadaan biasa sehingga
kadar glukosa didalam darah akan menurun (Kemenkes,
2010).
e) Obat-obatan
Obat hipoglikemi akan merangsang sel β pankreas
memproduksi banyak insulin, mengurangi penyerapan gula
didalam usus, dan menurunkan produksi glukosa didalam
hepar (Sudoyo et al., 2009).
2) Faktor eksternal
a) Pendidikan Kesehatan
Salah satu cara untuk meningkatkan derajat kesehatan
pada masyarakat dapat dilakukan dengan pendidikan
kesehatan. Pendidikan kesehatan digunakan sebagai sarana
untuk
pembelajaran
kepada
masyarakat
agar
mau
26
melakukan
tindakan-tindakan
untuk
memelihara
dan
mengatasi masalah-masalah yang berkaitan kesehatan.
Pendidikan kesehatan dapat merubah perilaku masyarakat
untuk menjaga dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan
perilaku masyarakat akan membutuhkan waktu yang lama,
tetapi hasil yang dicapai akan bersifat tahan lama karena hal
ini dipengaruhi kesadaran dari diri sendiri (Notoatmodjo,
2005).
b) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari proses “tau” yang
didapatkan melalui panca indera terhadap objek tertentu dan
merupakan tingkat terendah dalam domain kognitif.
Pengetahuan atau kognitif adalah domain yang utama untuk
terbentuknya perilaku yang baru pada diri individu sehingga
terjadi proses yang berurutan (Rogers, 1994).
c) Sumber informasi
Sumber informasi akan berpengaruh terhadap perilaku
masyarakat. Sumber informasi adalah segala sesuatu yang
menjadi
perantara
dalam
menyampaikan
informasi
(Notoatmodjo, 2005). Semakin banyak sumber infomasi
yang
diperoleh
semakin
banyak
pengetahuan
yang
didapatkan. Informasi yang diperoleh akan mempengaruhi
tindakan
seseorang
dalam
meningkatkan
kualitas
27
kesehatannya dan meingkatkan kesadaran individu untuk
selalu menerapkan pola hidup sehat.
4.
Kadar Gula darah
a. Kadar Gula Darah Puasa
Selama berpuasa tidak ada makanan yang diabsorpsi. Puasa
menyebabkan insulin menurun dan glukagon meningkat sehingga kadar
gula darah puasa dapat dipertahankan dengan proses glikogenolisis hati
untuk menghasilkan glukosa dan pembentukan glukosa dari bahan
bukan karbohidrat di dapat dari proses glukoneogenesis sehingga kadar
glukosa darah dapat dipertahankan (Marks et al., 2000).
Proses pengaturan glukosa darah merupakan hasil dari proses
anabolik dan katabolik. Anabolik merupakan proses pembentukan
substrat-substrat (glikogen, trigliserol) yang mengandung energi. Proses
ini dikontrol oleh insulin. Katabolisme merupakan pemecahan
karbohidrat, lemak, dan protein menjadi bentuk yang lebih sederhana
yaitu laktat, gliserol, dan asam amino. Proses pembentukan substrat ini
kemudian akan digunakan sebagai energi setelah melalui beberapa
proses kimia. Proses ini terjadi pada saat puasa ketika kebutuhan energi
meningkat. Hormon yang terlibat pada katabolisme yaitu glukagon,
epineprine, norepineprin, kortisol dan hormon pertumbuhan. Aksi
hormon anabolik dan katabolik harus dalam keadaan seimbang.
28
Produksi, pengambilan, dan penggunaan glukosa harus dalam batas
normal untuk semua organ (Guyton & Hall, 2014).
Kadar Gula Darah Puasa (fasting blood plasma glukose) dapat
didefinisikan tidak mengkonsumsi makanan selama 8 jam. Nilai normal
Kadar Gula Darah Puasa (GDP) :
1) Dewasa (serum, plasma) : 70-110 mg/dL; Dewasa (darah lengkap) :
60-100 mg/dL. Nilai glukosa pada darah lengkap sekitar 15% lebih
sedikit daripada nilai glukosa serum karena dilusi yang lebih besar
(Fischbach & Dunning, 2009) (Chernecky & Berger, 2008).
2) Nilai panik : < 40 mg/dL dan > 700 mg/dL.
3) Bayi baru lahir : 30-80 mg/dL.
4) Anak : 60-100 mg/dL.
5) Lansia : 70-120 mg/dL.
Tabel. 2.1 Kadar Gula Darah Puasa
Bukan DM
Belum pasti DM
DM
Kadar Gula Plasma vena
<110 mg/dL
110-125
≥ 126 mg/dL
Darah Puasa
mg/dL
(mg/dL)
Darah kapiler < 90 mg/dL
90-99 mg/dL
≥ 100 mg/Dl
Sumber : PERKENI (2011)
Nilai kritis GDP adalah <40 mg/dL (<2.22 mmol/L) dapat
menyebabkan kerusakan otak pada wanita dan anak-anak, <50 mg/dL
(<2,77 mmol/L) pada laki-laki, >400 mg/dL (>22.2 mmol/L) dapat
menyebabkan koma (Fischbach & Dunning, 2009).
b. Kadar Gula Darah Sewaktu (Random/Casual)
29
Kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) adalah kadar gula darah yang
diambil tidak memperhatikan kapan waktu makan terakhir. GDS dapat
berubah-ubah sepanjang hari sesuai dengan jumlah karbohidrat yang
dikonsumsi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kadar glukosa
darah sesaat tanpa melakukan puasa dan tanpa memperhatikan waktu
makan terakhir. Tes ini dilakukan untuk deteksi awal pada penderita
DM.
Tabel. 2.2 Kadar Gula Darah Sewaktu
Bukan DM
Belum pasti DM
DM
110-199
≥ 200 mg/dL
mg/dL
90-199 mg/dL ≥ 200 mg/Dl
Kadar Gula Plasma vena
< 110 mg/dL
Darah
Sewaktu
Darah kapiler < 90 mg/dL
(mg/dL)
Sumber : PERKENI (2011)
c. Kadar Gula Darah Dua Jam Post Prandial
Tes glukosa plasma 2 jam post prandial digunakan untuk
mengukur kemampuan individu terhadap asupan tinggi karbohidrat 2
jam setelah makan. Tes ini dianjurkan jika kadar gula darah puasa
tinggi atau mengalami peningkatan. Tes ini terdiri dari pengukuran
kadar glukosa plasma 2 jam setelah makan 75 glukosa oral. Bila
glukosa plasma kurang dari 140 mg/dL 2 jam setelah makan maka
dapat disimpulkan bahwa kadar glukosa plasma sudah kembali ke
kadar semula sesudah kenaikan awal. Hal ini dapat menjadi petunjuk
bahwa individu tersebut memiliki metabolisme glukosa normal. Jika
30
kadar gula darah 2 jam post prandial individu tinggi maka dapat
diindikasikan adanya gangguan dalam metabolisme glukosa pada
individu tersebut (Schteingart, 2005).
Nilai normal Kadar Gula Darah 2 Jam Post Prandial menurut
Kee (2007):
1)
Dewasa : serum atau plasma (<140 mg/dL/ 2 jam); darah (<120
mg/dL/ 2 jam).
2)
Lansia : serum (<160 mg/dL/ 2 jam); darah (<140 mg/dL/ 2
jam).
3)
Anak : (<120 mg/dL/ 2 jam).
d. Tes Toleransi Glukosa
Pada penderita diabetes melitus, glukosa di dalam darah akan
cenderung meningkat. Jika penderita mengkonsumsi glukosa secara
oral dengan dosis 75 g maka gula darah akan meningkat lebih tinggi
dari keadaan normal dan akan lebih lambat kembali ke keadaan awal.
Inilah yang disebut tes toleransi glukosa. Tes ini merupakan tes yang
lebih akurat jika tes penyaringan kadar glukosa darah yang lain
hasilnya meragukan. Test ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis
Diabetes mellitus pada individu yang memiliki kadar gula darah
dalam batas normal-tinggi atau sedikit meningkat.
Tes toleransi glukosa terbagi menjadi dua yaitu tes toleransi
glukosa oral dan tes toleransi glukosa intravena. Tes toleransi glukosa
intravena dilakukan jika terjadi gangguan penyerapan atau absopsi
31
setelah operasi pada saluran cerna (Mahendra et al., 2008). Uji
toleransi glukosa intravena lebih sensitif dibandingkan uji toleransi
glukosa
oral
karena
tidak
memerlukan
absopsi
melalui
gastrointestinal. Nilai uji toleransi glukosa oral dan intravena memiliki
perbedaan karena glukosa intravena lebih cepat diserap dibandingkan
glukosa oral. Uji ini tidak boleh dilakukan bila kadar Gula Darah
Puasa (GDP) >200 mg/dL. Diatas usia 60 tahun, kadar gula darah
mengalami peningkatan 10-3- mg/dL dari keadaan normal (Kee,
2007).
Tes toleransi glukosa biasanya dilakukan secara oral. Tes
toleransi glukosa oral dapat dilakukan dengan cara enzimatik.
Beberapa tahap sebelum dilakukan tes toleransi glukosa antara lain
(Mahendra et al., 2008) :
1) Tiga hari sebelum pemeriksaan, orang yang bersangkutan
beraktivitas secara biasa.
2) Malam sebelum pemeriksaan, orang tersebut harus berpuasa
selama 10-12 jam.
3) Darah vena diambil pada area lipatan siku. Darah yang diambil
merupakan darah puasa sehingga hasil yang di dapat adalah kadar
Gula Darah Puasa (GDP).
4) Setalah pengambilan darah puasa, pasien diberi minum 75 g
glukosa yang dilarutkan dalam 250 ml air minum dan harus
diminum sampai habis dalam waktu 5 menit.
32
5) Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah satu jam
dan dua jam sesudah meminum larutan glukosa tersebut. Selama
pemeriksaan, klien dianjurkan untuk tetap beristirahat dan tidak
merokok.
Tabel 2.3 Nilai Normal Test Toleransi Glukosa Oral Dewasa
Waktu
Serum (mg/dL)
Darah (mg/dL)
Puasa
70-110
60-100
<160
<150
½ jam
1 jam
<170
<160
2 jam
<125
<115
3 jam
Kadar puasa
Kadar puasa
Urine : negatif
Sumber : Kee JL. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik edisi 6
tahun 2007
Tabel 2.4 Nilai Normal Test Toleransi Glukosa Intravena Dewasa
Waktu
Serum (mg/dL)
Puasa
70-110
5 menit
<250
<155
½ jam
1 jam
<125
2 jam
Kadar puasa
Urine negatif pada saat puasa dan pada ½ jam, 1 jam dan 2 jam
Sumber : Kee JL. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik edisi 6
tahun 2007
5.
Hubungan shift kerja terhadap kadar Gula Darah Puasa
Irama sirkadian berperan penting dalam siklus tidur dan bangun
harian. Irama sirkadian sangat dipengaruhi oleh lingkungan internal dan
extrenal seperti cahaya, suhu, aktivitas sosial, dan rutinitas kerja. Setiap
individu memiliki jam yang sinkron dengan siklus tidur mereka.
33
Irama sirkadian berfungsi sebagai regulator bagi sistem tubuh
manusia seperti kadar hormon, makan dan minum. Aktivitas otak,
regenerasi sel, dan kegiatan biologi lainnya akan selalu berkaitan dengan
irama sirkadian setiap harinya. Jika terjadi perubahan irama sirkadian
maka akan berdampak pada pola tidur seseorang. Pola tidur yang
terganggu akan menyebabkan perubahan pada fungsi fisiologis tubuh dan
mempengaruhi kesehatan indivdu.
Irama sirkadian dikontrol oleh suatu pacemaker yang terletak pada
bagian ventral anterior dari hipotalamus yaitu suprachiasmatic nuclei
(SCN) (Ganong, 2003). SCN mengirimkan sinyal keseluruh otak, perifer
osilator, dan jaringan untuk meneruskan atau mengkordinasi waktu
internal tubuh setiap hari. Inti ini menerima siklus gelap-terang melalui
jalur saraf khusus yaitu retinohypothalamic fiber yang melintas dari optic
chiams ke SCN (Ganong, 2003).
Mekanisme SCN dalam mengatur dan mempertahankan iramanya
melalui autoregulatory feedbck loop yang mengatur produks gen
sirkadian melalui proses transkripsi, translasi, dan posttranslasi yang
kompleks. Secara spesifik SCN menerima input dari sel ganglion pada
retina yang mengandung fotopigmen yang disebut melanopsin melalui
retino-hypothalamic pathway (RH tract) dan beberapa melalui lateral
geniculate nucleus. Sinyal tersebut kemudian melewati paraventricular
nucleus (PVN), hindbrain, spinal cord, dan superior cervical ganglion
(SCG) menuju ke reseptor noradrenergic (NA) pada kelenjar pineal.
34
Aktivitas ini dipengaruhi oleh N-acetyltransferase (NAT) yang
merupakan enzim pengatur sintesis melatonin dari serotonin. Aktivitas
NAT akan meningkat 30-70 dalam keadaan gelap. Sekresi melatonin
meningkat pada malam hari pada saat 2 jam sebelum tidur normal dan
akan terus meningkat mencapai puncak pada pukul 02.00-04.00 pagi dan
mangalami penurunan sampai ke level rendah pada siang hari (Ganong,
2003).
Setiap hari, SCN akan memproduksi aurosal signal untuk
mempertahankan kesadaran dan menghambat dorongan untuk tidur. Pada
malam hari sebagai respon keadaan gelap terjadi feadback loop pada
SCN dengan pengiriman sinyal untuk memproduksi hormon melatonin
sebagai penghambat dari SCN. Melatonin akan mendorong untuk tidur
karena hormon melatonin memiliki aksi hipnotik sebagai pembuka “sleep
gate” atau gerbang tidur. Hormon ini bekerja dengan menekan wake
promoting signal atau neuronal firing pada SCN. Hormon melatonin juga
berfungsi dalam mengatur wake-sleep cycle melalui mekanisme
termoregulator dengan menurunkan core body temperature (Doghramiji,
2007).
Pada pekerja shift akan mengalami desinkronisasi internal artinya
irama sirkadian tidak benar-benar teratur karena harus menyesuaikan diri
dengan jadwal kerjanya. Irama sirkadian pada setiap individu berbedabeda hal ini diakibatkan adanya pengaruh
(Doghramiji, 2007).
perbedaan faktor genetis
35
Tidur berkaitan dengan kadaan puasa. Pada malam hari terjadi
penurunan leptin, glukosa dan insulin, sedangkan dalam keadaan terjaga
akan berkaitan dengan asupan makan dan peningakatan kadar leptin.
Meningkatnya kadar gula darah dikaitan dengan desinkronisasi irama
sirkadian yang akan memicu regulasi hormon kortisol. Hormon kortisol
akan mempengaruhi metabolisme gula di dalam tubuh antara lain
(Harrington, 2001):
a.
Merangsang proses glukoneogenesis (pembentukan glukosa bukan
dari karbohidrat melainkan dari protein dan beberapa zat lain) oleh
hati meningkatkan jumlah penyimpanan glikogen dalam sel-sel hati.
b.
Hormon kortisol menurunkan kecepatan pemakaian glukosa oleh
sel-sel tubuh dan meningkatkan asam lemak bebas.
Jika hal ini secara terus-menerus terjadi akan menyebabkan
resistensi insulin dan tingginya kadar gula darah pada pekerja shift
karena sekresi hormon kortisol.
36
B. Kerangka Teori
Kerja shift
Perubahan Irama
Sirkadian
Perubahan Pola
Tidur
Kerusakan Sel Beta
Pankreas
Resistensi insulin
Ketidakseimbangan
Kadar Gula Darah
Gambar 2.1 Kerangka teori
Sumber : (Benedict, 2012; Costa, 2003; Harrington, 2001; Handayani, Saftarina,
dan Wintoko 2014)
37
C. Kerangka Konsep
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kadar gula darah :
1. Faktor ektrenal
Pekerja Shift
Kerja shift
Pendidikan
Pengetahuan
Sumber informasi
2. Faktor Internal
Diet
Penyakit dan stres
Obesitas
Aktivitas fisik
Obat
Keterangan
= Variabel yang diteliti
= Variabel yang tidak diteliti
Gambar 2.2 Kerangka konsep
Kadar Gula
Darah Puasa
Download